Anda di halaman 1dari 16

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Jaringan keras gigi terdiri dari enamel, dentin dan sementum. Jaringan keras tersebut pada dasarnya sama dengan jaringan tulang yang sebagian besar terdiri atas zat anorganik. Enamel mengandung zat anorganik tersebut dalam jumlah yang terbesar, sehingga merupakan bagian yang terkeras pada tubuh manusia. Namun karena letaknya paling luar, maka enamel dipengaruhi oleh faktor positif maupun negatif dalam rongga mulut. Faktor yang berpengaruh pada kerusakan enamel salah satunya adalah keasaman makanan dan minuman yang akan menyebabkan keausan enamel yang disebut erosi gigi.12

2.1 Enamel Enamel merupakan jaringan terluar gigi yang menutupi anatomis mahkota gigi dan memiliki ketebalan yang berbeda pada setiap area gigi. Lapisan enamel yang paling tebal terdapat pada permukaan insisal dan oklusal gigi dan semakin menipis hingga ke pertemuan cementoenamel junction. Ketebalan enamel juga berbeda satu gigi dengan yang lainnya. Ketebalan enamel pada insisal ridge insisivus rata-rata 2,5 mm, dan pada cups premolar rata-rata 2,3-2,5 mm sedangkan pada cups molar ratarata 2,5 mm sampai 3 mm.8 Struktur enamel mengandung jutaan enamel rod atau prisma enamel yang memanjang dari arah perbatasan enamel dan dentin ke permukaan enamel, serta satu dengan yang lainnya saling mengikat. Pada potongan melintang nampak seperti keyhole yang terdiri atas kepala dan ekor. Arah prisma ke permukaan tidak lurus

Universitas Sumatera Utara

melainkan bergelombang untuk mempertinggi ketahanan terhadap gaya yang datang. Di bagian kepala prisma terdapat selubung prisma (prisma sheath) yang di dalamnya terdapat kristal hidroksiapatit. Di antara Kristal terdapat celah yang terisi oleh matriks yang sukar diamati, sebab terdiri dari zat berupa gel yang tidak berstruktur. Di antara kristal juga terdapat cross striations yang di bagian terluarnya terdapat striae of retzius.8,12 Komposisi kimia enamel terdiri dari 95-98% bahan anorganik, 1% bahan organik dan air sekitar 4% yang diukur dari beratnya. Secara rinci Williams dan Elliot (1979) menyusun komposisi mineral enamel normal dalam jumlah terbesar yaitu Ca, P, CO2 , Na, Mg, Cl dan K sedangkan dalam jumlah kecil yaitu F, Fe, Zn, Sr, Cu, Mn, Ag. Kalsium dan fosfat merupakan komponen-komponen anorganik yang penting, yang tersusun dalam hidroksiapatit (Ca10(PO4)6(OH)2). Ion fluorida amat esensial pada pembentukan dan perkembangan enamel, sebab dapat menggantikan gugus hidroksil sehingga membentuk fluorapatit (Ca10(PO4)6(F)2). Fluorida tersebut berasal dari lingkungan mulut misalnya saliva sehingga fluorisasi paling banyak terjadi di enamel bagian luar, hal ini amat penting untuk mempertahankan keutuhan enamel sebab fluorapatit lebih sukar larut dibandingkan dengan hidroksiapatit.12 Kandungan mineral yang tinggi membuat enamel mempunyai sifat yang keras, bahkan merupakan jaringan yang paling keras pada tubuh manusia. Kekerasan permukaan luar gigi berbeda-beda tergantung pada lokasinya, dan kekerasannya akan berkurang menuju ke arah dalam, seperti menurut Baud dan Lobjoie (1965) kekerasan enamel makin ke arah dentin makin berkurang. Hal ini disebabkan kandungan mineral anorganik pada dentin dan sementum lebih rendah dari enamel

Universitas Sumatera Utara

(lihat tabel 1).8,13 Meskipun enamel merupakan struktur yang sangat keras dan padat, namun enamel bersifat permeabel terhadap ion-ion dan molekul yang dapat mengalami penetrasi sebagian atau kompleks. Enamel dapat larut ketika berkontak dengan asam, sehingga larutnya sebagian atau keseluruhan mineral enamel akan menurunkan kekerasannya.8,9 Tabel 1. Perbedaan komposisi kimiawi antara enamel, dentin dan sementum.8 Komposisi Anorganik (%) Organik (%) Enamel 95-98 1 Dentin 75 20 Sementum 45-50 50-55

Kekerasan enamel umumnya diukur dengan menggunakan alat Knoop (KHN) dan Vickers (VHN). Rata-rata kekerasan enamel yang diukur berkisar 250 360 VHN. Craig dan Peyton melaporkan kekerasan enamel berkisar dari 340 418 VHN, Collys dkk. melaporkan kekerasan enamel berkisar dari 369 431 VHN sedangkan Wilson dan Love melaporkan 263 327 VHN. Variasi kekerasan enamel terjadi karena faktor gambaran histologi gigi, komposisi kimiawi yang terkandung pada gigi, penyiapan sampel, beban yang digunakan pada pengukuran dan kesalahan membaca (reading error) pada intentional length (IL).14 Enamel merupakan jaringan yang tidak mempunyai kemampuan untuk mengantikan bagian-bagiannya yang rusak, oleh karena begitu erupsi maka terlepaslah ia dari jaringan-jaringan lainnya yang ada dalam gusi. Tetapi ada hal-hal yang memperkuat enamel, yaitu terjadinya perubahan-perubahan susunan kimia

Universitas Sumatera Utara

sehingga enamel akan lebih kuat menghadapi rangsangan-rangsangan yang diterimanya seperti pemberian fluor, saliva yang jenuh akan kalsium dan fosfat yang akan mengurangi kelarutan permukaan enamel.3,8

2.2 Demineralisasi Demineralisasi adalah hilangnya sebagian atau seluruh mineral enamel karena larut dalam asam, semakin rendah pH maka akan meningkatkan ion hidrogen yang akan merusak hidroksiapatit enamel. Demineralisasi dapat disebabkan karies dan non karies. Demineralisasi non karies terdiri dari Atrisi, Abrasi dan Erosi. 1,9 Erosi gigi dan karies gigi mempunyai kesamaan dari jenis kerusakannya, yaitu merupakan demineralisasi jaringan keras gigi yang disebabkan asam. Namun asal asam penyebab erosi berbeda dengan karies. Pada erosi gigi yang menjadi penyebab adalah asam dari makanan-minuman, uap asam yang berasal dari industri serta asam lambung yang secara langsung berkontak dengan gigi tanpa aktivitas bakteri sedangkan karies berasal dari asam yang merupakan hasil fermentasi karbohidrat sisa-sisa makanan oleh bakteri. Perbedaan lainnya juga dapat dilihat dari morfologi dan proses terjadinya erosi dan karies. Erosi terjadi secara merata dipermukaan gigi sedangkan karies lebih terlokalisasi, dengan arah kerusakan ke dalam dan memerlukan waktu yang lebih lama. Pada tahap awal erosi kurang disadari oleh penderita sebab tidak terjadi perubahan warna dan bukan berbentuk lubang.12 Gejala awal erosi adalah suatu bercak putih yang secara mikroanatomi terlihat bulat, licin, mengkilap. Pada tahap lanjut, enamel akan semakin banyak hilang, permukaan gigi

Universitas Sumatera Utara

semakin licin dan mengkilap serta permukaan yang membulat pada elemen gigi menjadi rata.15 Pada saat asam berkontak dengan enamel maka komponen ion hidrogen yang terdapat pada larutan asam tersebut mulai melarutkan kristal enamel. Mula-mula, daerah selubung prisma (prisma sheath) akan melarut dan berlanjut ke inti prisma, membentuk permukaan yang dikenal dengan sarang lebah. Kemudian asam yang tidak berionisasi (anion) akan berdifusi ke dalam daerah interprismatik pada enamel gigi dan melarutkan lebih lanjut mineral pada daerah bagian bawah permukaan enamel. Struktur prisma enamel menjadi irreguler diikuti dengan derajat hilangnya enamel yang bervariasi dari satu tempat ketempat lain.6,16 Menurut Dawes, apabila hidroksiapatit berkontak dengan minuman, reaksi yang terjadi sebagai berikut : 10,17

Presipitation Ca10(PO4)6(OH)2 Solid

Demineralisasi 10 Ca2+ + 6PO43-+2OHSolution

Berdasarkan reaksi di atas, pada proses acidification (berkontak dengan asam) 0H- akan diubah oleh H+ menjadi H20 dan PO43- akan dirubah menjadi HPO42-, yang apabila kontak dengan asam lebih lama maka akan berubah menjadi H2PO4-. Ini akan menyebabkan berkurangnya 0Hdan PO4
3-

pada persamaan di sebelah kanan.

Apabila mencapai tahap akhir, bahan yang solid akan masuk ke dalam larutan. Namun tidak ada perubahan pada Ca2+. Demineralisasi yang terus menerus akan membentuk pori-pori kecil pada enamel yang disebut juga porositas, yang dapat menyebabkan kekerasan enamel menurun.17

Universitas Sumatera Utara

2.2.1 Erosi Gigi Erosi gigi merupakan suatu penyakit kronik yang disebabkan berkontak gigi dengan asam yang berulang-ulang. Asam tersebut dapat berasal dari luar tubuh (ekstrinsik) maupun dari dalam tubuh (intrinsik).1,5,18 Asam intrinsik berasal dari asam lambung yang mencapai rongga mulut dan gigi yang dihasilkan dari gastroesophageal reflux, vomitus dan rumination. Gastroesophageal reflux (GERD) adalah suatu kondisi dimana isi lambung (makanan dan asam lambung) secara tidak sadar sering mengalir kembali ke esofagus setelah itu masuk ke dalam rongga mulut. Gastroesophageal reflux dapat terjadi karena meningkatnya tekanan abdominal, tidak mampunya sphincter esofagus bagian bawah berrelaksasi, meningkatnya produksi asam lambung.1,2,18 Vomitus dapat terjadi secara spontan atau distimulasi sendiri dan dapat berhubungan dengan berbagai masalah medis seperti psikosomatik, metabolik, endokrin, ganguan pada gastrointestinal, diinduksi oleh obat-obatan. Vomitus yang distimulasi sendiri terjadi pada pasien yang menderita anorexia nervosa dan bulimia, sedangkan vomitus yang spontan terdapat pada pada penderita gangguan gastrointestinal seperti ulcus peptikum (tukak lambung) atau gastritis, wanita hamil, efek samping obat, diabetes atau gangguan sistem nervosa.1,18 Rumination adalah kondisi yang tidak umum pada seseorang yang sengaja menstimulasi isi dalam lambungnya dalam jumlah yang sedikit dan mengunyahnya sebelum ditelan kembali.18 Asam ekstrinsik berasal dari makanan, minuman, obat-obatan, lingkungan dan pekerjaan. Obat-obatan yang bersifat asam berkontak langsung dengan gigi saat obat tersebut dikunyah atau ditempatkan di dalam mulut sebelum ditelan, contohnya tablet

Universitas Sumatera Utara

kunyah vitamin C dan aspirin, Obat-obatan yang menyebabkan xerostomia contohnya penggunaan obat methamphetamine, ekstasi, biasanya penderita yang menggunakan obat-obatan ini mengkompensasi keadaan tersebut dengan minuman berkarbonat sehingga dapat menyebabkan erosi gigi yang parah. Obat-obatan inhaler yang digunakan oleh penderita asma dapat berefek langsung pada gigi atau tidak langsung karena menyebabkan xerostomia.1,15,19 Erosi gigi dapat juga disebabkan oleh pekerjaan yang berhubungan dengan asam seperti ditemukaan pada pekerja baterai, ahli laboratorium, pengecap minuman anggur profesional, pekerja pabrik dinamit dan atlet renang.15 Selain asam ekstrinsik di atas, terdapat penyebab erosi yang lebih utama saat ini yang akan dibahas lebih dalam lagi karena berhubungan dengan penelitian ini yaitu Minuman yang bersifat asam.

2.2.2 Minuman Yang Bersifat Asam Minuman yang bersifat asam dianggap sebagai faktor utama terjadinya erosi gigi. Hasil penelitian membuktikan bahwa kadar dan jumlah pelepasan kalsium dari permukaan enamel dipengaruhi oleh pH minuman. Semakin rendah pH suatu minuman semakin tinggi kadar dan jumlah pelepasan kalsium. Hasil penelitian Fathilah dan Zubaidar yang menunjukkan bahwa coca cola yang memiliki pH paling rendah (2,6) adalah minuman yang paling banyak melepaskan kalsium dari permukaan enamel gigi dibanding minuman yang bersifat asam lainnya.17 Pada tabel 2 dapat dilihat daftar minuman yang bersifat asam yang umum dikonsumsi oleh masyarakat. Terdapat beberapa buah dan jus buah, minuman

Universitas Sumatera Utara

berkarbonat dan minuman olahraga yang diketahui mempunyai pH yang sangat rendah. Beberapa penelitian menemukan hubungan yang signifikan antara frekuensi mengkonsumsi minuman yang bersifat asam dengan terjadinya erosi gigi.1 Penelitian-penelitian yang terdahulu menyatakan bahwa erosi gigi tidak hanya tergantung pada pH minuman saja tetapi juga dipengaruhi kandungan titratable acid, jenis asam, kadar asam, kandungan fosfor, kalsium dan fluor dalam minuman. pH dan titratable acid pada minuman ditetapkan untuk mengetahui derajat kejenuhan yang masih diterima oleh mineral gigi dan sampai terlarutnya mineral gigi. Dalam mengevaluasi tingkat erosif minuman yang bersifat asam, titratable acid diperkirakan lebih penting dari level pH karena dapat ditetapkan ion H+ yang tersedia untuk berinteraksi dengan permukaan gigi. Minuman yang memiliki pH yang tinggi, titratable acid yang rendah dan konsentarasi kalsium, fosfat dan fluor yang tinggi akan mengurangi daya potensi erosif suatu minuman.6,20,21 Penelitian yang telah dilakukan untuk membandingkan antara minuman ringan blackcurrent yang ditambahkan kalsium dengan orange drink yang masingmasing disediakan dalam 250 ml dan dikonsumsi 4 kali selama 20 hari. Setelah dilakukan pengukuran kehilangan enamel dengan menggunakan profilometry pada sampel gigi tersebut, hasilnya menunjukkan minuman ringan blackcurrent yang ditambahkan kalsium menyebabkan kehilangan permukaan gigi yang lebih sedikit. 5,6

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2. Nilai pH pada beberapa jenis makanan dan minuman yang mengandung zat asam (Gandara dan Truelove, 1999).1

JENIS MAKANAN/MINUMAN 1. Buah-buahan Apel Aprikot Anggur Peach Plum Jeruk Nenas Lemon, Limau/jus 2. Minuman ringan dan minuman soda Kopi Teh Bir Minuman Anggur Pepsi Coca-cola Nutrisari 3. Bahan makanan Mayonase Cuka Salad Saos tomat 4. Lain-lain Yogurt Acar Tomat Selai buah-buahan

NILAI pH 2,9-3,5 3,5-4,0 3,3-4,5 3,1-4,2 2,8-4,6 2,8-4,0 3,3-4,1 1,8-2,4

2,4-3,3 4,2 4,0-5,0 2,3-3,8 2,7 2,7 2,0-4,0 3,8-4,0 2,4-3,4 3,3 3,7 3,8-4,2 2,5-3,0 3,7-4,7 3,0-4,0

Jenis asam yang terdapat di makanan dan minuman bermacam-macam seperti asam asetat, asam benzoat, asam malat, asam propionat, asam maleat, asam sitrat, asam fosfor, asam tartarat dan lain-lain.22 Keberadaan polybasic acid pada minuman

Universitas Sumatera Utara

sangat penting karena kemampuan mereka untuk mengikat (Chelate) kalsium bahkan pada pH yang tinggi. Penelitian yang dilakukan pada binatang menunjukkan asam fosfor sangat erosif pada pH 2,5-3,3. Asam sitrat, malat dan tartat sangat kuat sifat erosifnya karena sifat asam dan kemampuan mereka dalam mengikat kalsium walaupun pada pH yang tinggi.5,6 Banyak minuman ringan yang beredar mengandung asam seperti asam sitrat, asam cuka dan asam karbonat. Menurut penelitian Elsbury (1952), asam sitrat mengerosi lebih cepat terutama pada pH yang rendah, bahkan pada pH 1,5 dan 2,5. Asam ini dua kali lebih destruktif terhadap enamel daripada asam klorida atau asam nitrat karena afinitasnya yang besar terhadap kalsium.23 Daya adhesion adalah faktor yang dapat dipertimbangkan pada proses erosi. Kemampuan lekat minuman ringan pada enamel gigi, tergantung pada kemampuan thermodinamiknya. Pada penelitian in vitro dilaporkan bahwa mengkonsumsi minuman ringan yang memiliki kemampuan melekat yang rendah pada enamel akan lebih baik, karena semakin mudah saliva untuk menghilangkannya. 3,5,6 Temperatur dan lamanya terpapar juga dapat mempengaruhi erosif suatu minuman. Temperatur minuman dipengaruhi oleh suhu kamar, minuman ketika dalam keadaan dingin pHnya menjadi lebih tinggi sehingga menurunkan efek erosifnya. Lamanya terpapar dengan minuman yang mempunyai pH yang rendah akan membuat semakin lamanya ion H+ berinteraksi dengan permukaan gigi sehingga semakin melarutkan mineral-mineral gigi.5,9 Disamping faktor-faktor di atas, faktor perilaku dan biologi juga berpengaruh terhadap terjadinya erosi gigi. Faktor perilaku yang mempengaruhi terjadinya erosi gigi seperti frekuensi mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung zat

Universitas Sumatera Utara

asam, cara mengkonsumsi, menyikat gigi sedangkan faktor biologi yang penting yaitu fungsi saliva. 3,5,6 Cara seseorang mengkonsumsi makanan ringan yang bersifat asam telah diketahui berpengaruh terhadap berapa lama gigi berkontak dengan serangan asam dan pola kerusakan yang terjadi. Terdapat 6 cara meminum yang diteliti oleh

Johanson dkk. yaitu mengulum, meminum dalam waktu yang singkat, meminum dalam waktu yang lama, meneguk, menghisap. Hasilnya menunjukkan bahwa menghisap dan mengulum dalam mulut sebelum menelannya menyebabkan pH yang paling rendah pada permukaan gigi, sedangkan meneguknya secara langsung hanya menunjukkan penurunan pH yang kecil. 5,6 Penelitian lain juga melaporkan kehilangan struktur gigi yang lebih cepat terjadi apabila setelah terpapar jus buah sitrus dilakukan penyikatan gigi, karena lesi yang disebabkan erosi asam dilaporkan mempunyai zona enamel yang lembut dan tipis sebanyak beberapa mikron kedalamannya dan mudah dipengaruhi secara fisikal.17 Sehingga menyikat gigi segera setelah mengkonsumsi makanan dan minuman yang bersifat asam sangatlah berbahaya. Demineralisasi permukaan gigi pada tahap awal masih dapat reversibel karena masih dapat diperbaiki oleh saliva, tetapi apabila dilakukan penyikatan gigi segera setelah serangan asam akan menyebabkan demineralisasi sebagian pada permukaan gigi sebelum saliva memperbaikinya sehingga menyebabkan hilangnya struktur gigi.5,6 Mekanisme pertahanan saliva selama adanya serangan erosif terdiri dari melarutkan dan membersihkan agen erosif dari mulut, sebagai buffer asam, menjaga tingkat kejenuhan permukaan gigi dengan adanya kalsium dan fosfat dalam saliva,

Universitas Sumatera Utara

pembentukan lapisan pelikel, protein saliva dan glikoprotein yang mempunyai kemampuan melindungi permukaan enamel dari demineralisasi oleh diet asam, terdapatnya kalsium, fosfat dan fluor yang diperlukan untuk remineralisasi. Suatu penelitian melaporkan terjadinya erosi gigi berhubungan dengan aliran saliva yang rendah dengan atau tanpa kapasitas buffer yang rendah. 3,5,6 Pada kondisi medis tertentu dimana fungsi saliva sebagai buffer terhadap serangan asam menurun atau bahkan tidak ada dapat ditemukan pada pasien Sjogren's Syndrome dan terapi radiasi kepala dan leher. Sjogren's Syndrome adalah penyakit autoimun yang menyebabkan inflamasi kronis pada kelenjar saliva dan kelenjar air mata sehingga mengakibatkan kekeringan pada mulut dan mata. Pada penderita yang melakukan terapi radiasi kepala dan leher juga menyebabkan kekeringan mulut yang irreversibel. Pada kedua keadaan ini beresiko tinggi terhadap erosi gigi.1 Kandungan kimiawi pada minuman teh, kopi dan bir berbeda dengan minuman ringan tersebut, Kandungan kimiawi pada teh yaitu senyawa polifenol (flavonol, flavanol, flavone, flavanone, isoflavone, antocyanin) dan sejumlah mineral seperti fluor, fosfor dan kalsium
24

Kandungan kimiawi pada kopi yaitu chlorogenic

dan caffeic acid, dan juga jenis asam lain yaitu malic acid, tannic acid, maleic acid, oleic acid, oxalic acid dan beberapa mineral seperti sodium, fluor, Ferrum25,26 Kandungan kimiawi pada bir yaitu jenis asam seperti asetat, propionate, butirat, succinic, oxalic, butirat, valiric, hexanoic, hexenoic dan beberapa mineral seperti potassium, sodium, Magnesium, kalsium, zinc, fosfat, fluoride dll.27

Universitas Sumatera Utara

2.3 pH Meter Hanna HI 98107 pH meter Hanna 98107 adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur pH suatu larutan. Spesifikasi alat yaitu range pH yang diukur dari 0,0 14,0 resolusi 0,1 ketelitian pH 0,1. Sebelum mengoperasikanya, terlebih dahulu kita melakukan kaliberasi dengan cara pH meter direndam ke dalam larutan buffer (contoh aquadest) lalu stabilkan dengan menggunakan screwdrive agar pHnya 7. Harus diingat bahwa larutan buffer yang digunakan haruslah senantiasa dalam keadaan baru dan bersih. Kenaikan bacaan pH pada pH meter disebabkan karena tidak atau kurang melakukan kaliberasi sebelum mengambil bacaan, elektroda yang kering atau battery yang lemah.21 Untuk menggunakannya, pertama sekali penutupnya dibuka. Lalu digeser ke tombol on dan direndam ke dalam larutan yang akan diuji pHnya tanpa meningkatkan level maximum yang ada pada pH meter. Lalu tunggu sampai pHnya stabil dan lakukan pembacaan pH. Setelah selesai menggunakannya geser ke tombol off lalu cuci dengan air dan disimpan dengan baik.28

Gambar 1. pH Meter Hanna 98107

Universitas Sumatera Utara

2.4 Micro Vickers Hardness Tester Kekerasan merupakan ukuran ketahanan material terhadap deformasi tekan. Deformasi ini dapat berupa kombinasi perilaku elastis dan plastis. Deformasi elastis terjadi pada permukaan yang keras, sedangkan deformasi plastis terjadi pada permukaan yang lunak. Efek deformasi tergantung pada kekerasan permukaan material.29 Ada beberapa cara pengukuran kekerasan yang cukup dikenal dibidang material, diantaranya adalah uji kekerasan gores, uji kekerasan pantul (dinamis) dan uji kekerasan indentasi. Uji kekerasan gores tergantung pada kemampuan gores material yang satu terhadap yang lain. Uji kekerasan pantul mencangkup deformasi dinamis dari permukaan material yang dinyatakan dalam jumlah energi impak yang diserap permukaan logam pada saat penekan jatuh. Uji kekerasan indentasi berupa penjejakan oleh sebuah indentor yang keras ditekankan ke permukaan logam/bahan yang diuji.29 Pengukuran kekerasan indentasi suatu bahan dapat dilakukan dengan beberapa alat yaitu Brinell Hardness test (BHN), Rocwell Hardness test (RHN), Vickers Hardness test (VHN) dan Knoop Hardness test (KHN). Perbedaan keempat alat tersebut salah satunya terletak pada indentornya. Brinell Hardness test (BHN) menggunakan indentor berbentuk baja yang bulat (steel-ball), Rocwell Hardness test (RHN) mengunakan indentor dengan ujung diamond yang conus, Knoop Hardness Test (KHN) menggunakan indentor berbentuk diamond, dan Vickers Hardness test (VHN) menggunakan indentor berbentuk diamond dengan dasar persegi dan sudutsudut diantara permukaan piramid 1360 dengan permukaan yang diuji. Perbedaan ini

Universitas Sumatera Utara

dapat dilihat pada Gambar 3. Pengukuran kekerasan dengan menggunakan Knoop dan Vickers diklasifikasikan kedalam microhardness test sedangkan penggunaan Brinell dan Rockwell diklasifikasikan ke dalam macrohardness test .30,31

Gambar 2. Brinell, Rockwell, Vickers Pengukuran kekerasan dengan Vickers menurut ADA (America Dental Association) digunakan untuk logam emas tuang (dental casting gold) dan juga untuk bahan-bahan yang mempunyai sifat brittle (mudah pecah) sehingga dapat digunakan untuk mengukur kekerasan permukaan gigi. Micro Vickers Hardness Tester adalah pengukuran kekerasan suatu material dengan nilai kekerasan yang kecil dengan indentasi yang lebih kecil. Beban yang digunakan adalah antara 1 1.000 mg.30 Pengukuran kekerasan dengan Micro Vickers dilakukan dengan meletakkan bahan yang mau diuji kekerasannya pada meja Micro Vickers tersebut, lalu indentor Vickers tersebut dikenai pada bahan yang diuji. Setelah indentornya menyentuh bahan yang diuji maka terlihatlah bekas tumbukan berbentuk belah ketupat seperti bentuk indentornya. Kemudian panjang diagonalnya diukur pada mikroskop dengan mikrometer yang ada pada lensa okuler.30,31

Universitas Sumatera Utara

Hasil panjang diagonal kemudian diambil rata-ratanya dan dimasukkan kedalam rumus : HVN = 1,854,4 100 gram d2

Gambar 3. Micro Vickers Hardness Tester

Universitas Sumatera Utara