Anda di halaman 1dari 75

SISTEM RESPIRASI oleh : KELOMPOK 2 anggota :

Abdullah Melyng pedongan Agus Riani P M. Denny Adityawarman Alpina Hutabarat M. Nafarin Nor Baskoro Kun Cahyo Nabila Zulfa Desika Pusparini Onky Dharma Putra Ediansyah Puji Gunawan Frisdina Ali Quadita Prisceilla Cindy S. Haikal Regina Estee Heru Siringo-ringo Riska Mutiara Ananda Isma Enggarini Roswinda Kezia Eunike G Tri Putra Dinata Khairunnisa lit Widya Nur Fitriani

ANATOMI SISTEM RESPIRASI

C. KOMPOSISI UDARA PERNAPASAN

Udara yang dihirup atau dihembuskan mengandung N, O, dan CO dengan kadar tertentu. Tabel persentase kandungan senyawa/ unsur pada udara pernafasan. Macam Gas Sebelum masuk paru-paru Sesudah masuk paru-paru 1. Nitrogen 79,80% 79,80% 2. Oksigen 20,90% 14,60% 3. Karbondioksida 0,03 % 5,60%

D. SALURAN PERNAPASAN
1. Rongga hidung

Udara yang masuk rongga hidung akan


mengalami tiga perlakuan yaitu: Penyesuaian suhu udara dengan suhu badan Penyaringan oleh rambut hidung dan selaput lendir Pengaturan kelembaban udara

Udara memasuki dan meninggalkan sistem respirasi melalui

hidung, yang tersusun atas tulang dan kartilago yang ditutupi kulit. Di dalam lubang hidung terdapat rambut-rambut yang membantu mencegah debu masuk. Kedua kavitalis nasalis terdapat dalam tengkorak, dipisahkan oleh septum nasi, yang merupakan lempeng tulang yang terbuat dari tulang etmodialis dan vomer. Mukosa hidung adalah epitel bersilia dengan sel goblet yang memproduksi mokus. Daerah permukaan mukosa nasal meninggi oleh konka, tulang seperti papan pada dinding lateral masing-masing kavitas nasalis. Udara yang melewati kavitas nasalis dihangatkan dan dilembabkan, sehingga udara yang mencapai paru akan hangat dan lembab. Bakteri dan partikel dari polusi udara terperangkap oleh mukus menuju faring.

external nose
Radix

Dorsum

Apex

Nares

m.nasales

septum nasi

Os nasale cartilago nasi lat Cart. Alae majoris Os . maxillaris Cart. Alae minoris Cart. Sept nasi

Arterialisasi:
- cabang-cabang A. facialis - cab-cab a. opthalmica

Persarafan:
- cab-cab n. opthalmicus

- cab-cab n. maxillaris

CAVUM NASI

CAVUM NASI
karena ada septum nasi:

2 bagian.

n.olfactorius

Tiap bag oleh concha nasale 3 meatus:

Meatus nasi sup. Meatus nasi medial Meatus nasi inf

limen nasi
vestibulum nasi

Pembagian cavum nasi (berdasar mukosa dan fungsinya) :


- Vestibulum nasi - Regio respiratorius (byk pem. drh dan goblet) - Reg.olfactoria (daerah pembauan) sel

HUBUNGAN CAVUM NASI DENGAN SINUS PARANASALES

Meatus Nasi Superior:


( Sinus Ethmoidalis Posterior )

Meatus Nasi medius Meatus Nasi Inferior

(Sinus Maxilaris,Frontalis,Spenoidalis & sinus Ethmoidalis Ant )


:

( Ductus Naso Lacrimales. gld lacrimal.. orbita )

Arterialisasi Cavum Nasi:

1. A. Labialis superior 2. A. Ethmoidalis Anterior/Posterior


3. A. Sphenopalatina
4. A. Palatinus mayus

Persarafan:
1. Special Sensoris N. I ( Olfactorius ) 2. General Sensoris - N. Ethmoidalis anterior(cab n. opthalmicus )

- N.Palatino mayus, N. Nasopalatina


,N. Alveolaris. Sup.Ant (cab.n.maxillaris) 3. Special Motoris N. Intermedius N. ( VII )

SINUS PARANASALIS
Rongga sekitar cavum nasi : 1. Sinus Maxillaris 2. Sinus Frontalis 3. Sinus Ethmoidalis Anterior 4. Sinus Sphenoidalis bermuara pada meatus nasi medius

5. Sinus Ethmoidalis Posterior bermuara pd meatus nasi superior

2. FARING

Faring adalah ujung dari tenggorokan dan


kerongkongan, di faring ini merupakan persimpangan saluran pencernaan dan saluran pernapasan. Faring adalah suatu pipa muskular di belakang rongga hidung dan mulut dan didepan vertebra servikalis. Untuk memudahkan penjelasan, faring bisa dibagi menjadi tiga bagian: nasofaring, orofaring, dan laringofaring. Bagian yang paling tinggi, yaitu nasofaring, berada dibelakang kavitas nasalis.

Palatum molle terangkat pada saat menelan untuk menutup nasofaring dan mencegah makanan atau saliva naik bukan turun. Nasofaring adalah suatu jalan hanya untuk udara, tetapi bagian sisanya, yaitu faring, berfungsi untuk jalan udara dan makanan, meskipun tidak pada saat yang bersamaan. Orofaring berada di belakang mulut; mukosanya berupa epitel gepeng bertingkat, merupakan kelanjutan rongga mulut. Pada dinding lateralnya terdapat tonsila palatina, juga noduli limfodei. Laringofaring adalah bagian paling bawah faring. Bagian anteriornya membuka menuju esofagus. Konstraksi dinding muskuler orofaring dan laringofaring adalah bagian dalam refleks menelan.

Nasopharynx oropharynx laryngopharynx

larynx

1. Nasopharynx (epipharynx)

terdapat torus tubarius dan tonsilla tubarius

2. Oropharynx ( Mesopharinx) :
terdapat plica glossoepiglotica medial, lateral vallecule epiglotica, tonsilla pharynx

3. Laryngopharynx (Hypopharynx ) :
terdapat Aditus laringis, reccessus piriformis

Musculus Pharynx
1. Lapisan dalam (Longitudinal) m. stylopharynx m. palatopharynx

m. salpingopharynx
2. Lapisan luar (Circular/constri) m. constrictor pharynx superior, medius, inferior

INERVASI & VASCULARISASI PHARYNX


Inervasi Sensoris :

Nasopharynx : N.maxillaris
Oropharynx / Laryngopharynx : N.Glossopharynx + N.Vagus

Inervasi Motoris :
N. Glossopharynx dan N.Vagus Vascularisasi :

1. cab. A. Pharyngica ascenden 2. cab. A. Thyroidea superior

3. LARING
Pada pangkal tenggorok tersusun atas katup pangkal
tenggorok (epiglotis), tulang rawan dan gelang tulang rawan. Pada saat kita menelan makanan, epiglottis menutup saluran pernapasan dan saat bernapas epiglotis menutup saluran pencernaan. Di dalam jakun terdapat pita suara yang akan bergetar apabila udara melewatinya (contoh pada waktu berbicara). Laring biasanya juga disebut kotak suara, suatu istilah yang mengacu pada salah satu fungsinya, yaitu berbicara. Fungsi lain laring adalah sebagai jalan udara antara faring dan trakea. Jalur udara harus dijaga terbuka setiap waktu, sehingga laring tersusun atas 9 lempeng kartilago yang dihubungkan oleh ligamen.

Nasopharynx oropharynx laryngopharynx

larynx

LARYNX
Mulai dr ADITUS LARYNGIS - - RING CARTILAGO trachea ADITUS LARYNGIS : Epiglotis, plica ariglotica, tuberculum, cuneiform dan tuberculum corniculate, incissura, inter ary-taenoidea. CARTILAGO LARYNX : 1.Epiglotis, thyroid, cricoid 2.Arytaenoid, coneiform, corniculatum LIGAMENT / MEMBRAN : Lig. thyrohyoid, lig.cricothyroid lig. vocale, lig.ventriculare,dsb. MUSCULI - EXTRINSIX ( Menggerakkan larynx ) : - Levator ( ke atas ) : M.thyrohyoid, m.stylohyoid, m. mylohyoid, m. digastricus,m.palatophary m. stylopharinx - Depresor ( ke bawah ) : m. omohyoid, m.sternohyoid, m. sternothyroid MUSCULI INTRINSIX ( membuka menutup larynx ) : - m. cricothyroid, m. cricoarytaenoid lat. post, m. arytaenoid tranversa obliqua, m. vocalis m.thyroarytaenoid. VASCULARISASI : A.Laryngeal superior, A.Laryngeal inferior, Cab. a,thyroidea sup/inf

INERVASI SENSORIK : N. Laryngeus internus ( cab. N.laryngeus superior N.X ) INERVASI MOTORIK : - N. laryngica externus ( cab. larynx superior ) inervasi m. cricothyroid

- N.recurent laryngis N.X


- Inervasi hampir semua otot

STRUKTUR PADA LARYNX


1.vestibulum laryngis 2.ventriculus laryngis 3.rima ventricularis 4.rima glottidis

5.cavitas infraglotidis

4. TENGGOROKAN ( TRAKEA )
Tersusun atas tulang rawan yang berbentuk cincin. Dinding bagian dalam dilapisi selaput lendir yang sel-selnya berambut getar yang fungsinya menahan dan mengeluarkan kotoran yang masuk bersama udara. Trakea memiliki panjang kurang lebih 10-13 cm dan menghubungkan laring sampai bronkus primarius. Dinding trakea terdiri dari 16 sampai 20 lempeng kartilago dengan bentuk menyerupai huruf C.

5. CABANG TENGGOROKAN ( Bronkus )


Percabangan dari tenggorokan ke arah kanan dan kiri yang menuju paru-paru. Bagian ini tersusun atas tulang rawan. Bronchus bercabang-cabang lagi membentuk pembuluh halus yang disebut Bronchiolus. Bronchiolus berakhir pada gelembung paru-paru yang disebut alveolus. Di dalam alveolus terjadi pertukaran gas yaitu memasukkan O dan pelepasan Cabang yang lebih kecil adalah bronkiolus. Tidak ada kartilago pada dinding bronkiolus. Hal ini menjadi penting secara klinis pada kasus asma.Bronkiolus berakhir pada sebaran alveoli, suatu kantung udara di paru-paru.

5. Paru Paru ( PULMO )


Letaknya di dalam rongga dada, diatas diafragma. Jumlahnya dua buah. Bagian kanan terdiri atas tiga gelambir dan bagian kiri dua gelambir. Paru-paru dibungkus selaput paru-paru (pleura). Membran pleura adalah suatu membran serosa pada rongga toraks. Pleura parietal melapis rongga itoraks, dan pleura viseral terdapat pada permukaan paru-paru. Diantara membran pleura tersebut terdapat cairan serosa, yang mencegah friksi dan menjaga kedua membran tetap bersama selama pernapasan.

Unit fungsional paru-paru adalah suatu kantung udara yang disebut Alveoli. Suatu sel pipih alveolar tipe 1 yang menyusun dinding alveoli adalah selapis epitel gepeng. Dalam ruang diantara sebaran alveoli terdapat jaringan ikat elastis, yang penting untuk ekshalasi. Ada berjuta-juta alveoli dalam masing-masing paru, dan masing-masing alveolus dikelilingi oleh suatu jalinan kapiler purmonal. Masing-masing alveolus dilapisi lapisan tipis cairan jaringan, yang sangat penting untuk difusi gas.

E. KAPASITAS PARU-PARU
Kapasitas paru-paru tergantung pada besar kecilnya paru-paru, kekuatan bernafas dan cara melakukan pernafasan. Kemampuan paru-paru menampung udara disebut volume paruparu. Udara pernafasan (udara tidal) Udara yang keluar masuk paru-paru pada waktu melakukan pernafasan. Besarnya 500 ml. Udara komplementer Udara yang masih dapat masuk ke paru-paru setelah pernafasan biasa 1.500 ml. Udara suplementer Udara yang masih dapat dikeluarkan dari paru-paru setelah menghembuskan nafas secara biasa. Besarnya 1.500 ml.

Udara residu

Udara sisa yang masih terdapat dalam paru-paru, setelah melakukan ekspirasi sekuat-kuatnya. Besarnya 1.000 ml. Kapasitas total Jumlah udara yang dapat ditampung oleh paru-paru, besarnya 5.000 ml. Kapasitas vital Jumlah udara yang dapat keluar/masuk paru-paru setelah kita menghembuskan/ menarik nafas sekuatkuatnya. Besarnya 4.000 ml. Kapasitas vital= udara komplementer + udara suplementer + udara residu

RUMUS
KI = VT + VCI KRF = VCE + VR.

KV = VCI + VT + VCE.
KI=500ml +3000ml KRF=1000ml+1000ml KV=3000ml+500ml+
1000ml

F. MEKANISME ATAU TAHAPAN PERNAPASAN PADA MANUSIA

Ventilasi adalah istilah untuk pergerakan udara


dari dan keluar alveoli. Dua aspek ventilasi adalah inhalasi dan ekshalasi yang dijalankan oleh sistem saraf dan otot-otot pernapasan. Proses pernapasan meliputi fase inspirasi dan ekspirasi.

S. RESPIRATORI + SIRKULATORI

Inhalasi atau Penghirupan


Fase ketika udara dari luar tubuh menuju ke organ pernapasan. Ex. udara dari luar tubuh masuk ke dalam paru-paru.

Ekshalasi
Ketika karbondioksida di paru-paru dikeluar kan ke luar tubuh.

S. RESPIRATORI + SIRKULATORI

Respirasi Internal
Pertukaran gas oksigen dengan karbon dioksida antara pembuluh kapiler masuk atau meninggalkan sel-sel jaringan

Respirasi Eksternal
Pertukaran oksigen dan karbondioksida antara alveoli paru-paru menuju atau meninggalkan pembuluh darah. Oksigen yang masuk sel digunakan untuk metabolisme sel pembentukan energi (Respirasi sel) sisa produk karbon dioksida.

TAHAPAN RESPIRASI
Fase inhalasi disebut juga inspirasi adalah proses menarik
napas (memasukkan udara pernapasan). Impuls motorik dari medula berjalan sepanjang nervus frenikus menuju diafragma dan sepanjang nervus interkostalis menuju muskuli interkostale eksterni. Diafragma berkontraksi, bergerak ke bawah, dan mengembangkan rongga dada dari atas ke bawah. Muskuli interkostales eksterni menarik iga ke atas dan keluar, yang mengembangkan rongga dada dari sisi ke sisi dan depan ke belakang. Saat rongga dada mengembang, pleura parietal turut mengembang. Tekananintrapleural menjadi lebih negatif karena kerja pengisapan yang dihasilkan diantara membran pleura. Namun, adhesi (perlekatan) yang dihasilkan oleh cairan serosa, memungkinkan pleura viseral turut mengembang dan hal ini juga mengembangkan paru.

Saat paru-paru mengembang, tekanan


intrapulmonal akan turun drastis dibawah tekanan atmosfer, dan udara memasuki hidung dan melalui jalan napas menuju alveoli. Udara terus masuk sampai tekanan intrapulmonal sama dengan tekanan atmosfer. Ini adalah inhalasi normal. Tentu saja inhalasi bisa dilanjutkan melebihi normal, yang merupakan pernapasan dalam. Pernapasan ini memerlukan suatu kontraksi otot-otot pernapasan yang lebih kuat untuk mengembangkan paru lebih lanjut, sehingga udara yang masuk lebih banyak.

Fase ekshalsi disebut juga ekspirasi adalah proses

mengeluarkan napas (mengeluarkan udara pernapasan). Dimulai ketika impuls motorik dari medula menurun dan diafragma serta muskuli interkostales eksterni berelaksasi. Setelah rongga dada menjadi lebih kecil, paru akan terkompresi dan jaringan ikat elastis yang teregang selama inhalasi akan mengerut dan mengompresi alveoli. Ketika tekanan intrapulmonal meningkat diatas tekanan atmosfe, udara dipaksa keluar dari paru sampai kedua tekanan menjadi sama lagi. Ekshalasi normal adalah proses pasif, yang bergantung pada besar elastisitas normal paru sehat. Dengan kata lain, pada keadaan normal, kita harus mengeluarkan energi untuk inhalasi, tetapi tidak untuk ekshalasi. Namun, kita dapat melakukan ekshalasi normal dan mengeluarkan lebih banyak udara, ketika berbocara,menyanyi dsb. Ekshalasi kuat juga merupakan proses aktif yang membutuhkan konstraksi otot-otot lain. Komtraksi muskuli interkostales interni menarik iga ke bawah dan membawa lebih banyak udara keluar dari paru. Kontraksi otot-otot abdomen, seperti muskulus rektus abdominus mengompresi organ-organ abdominal dan menekan diafragma ke atas, yang juga membawa udara keluar dari paruparu.

G. PROSES MASUK DAN KELUARNYA PERNAPASAN


Dalam mengambil nafas ke dalam tubuh dan membuang napas ke udara dilakukan dengan dua cara pernapasan, yaitu :

Respirasi / Pernapasan Dada

- Otot antar tulang rusuk luar berkontraksi atau mengerut - Tulang rusuk terangkat ke atas - Rongga dada membesar yang mengakibatkan tekanan udara dalam dada kecil sehingga udara masuk ke dalam badan. Respirasi / Pernapasan Perut - Otot difragma pada perut mengalami kontraksi - Diafragma datar - Volume rongga dada menjadi besar yang mengakibatkan tekanan udara pada dada mengecil sehingga udara pasuk ke paru-paru.

H. Pengaturan saraf pada Respirasi



Pusat pernapasan terletak di medulla dan pons, yang merupakan bagian otak. Medulla merupakan pusat inspirasi dan ekspirasi. Pusat inspirasi secara otomatis membangkitkan implus dalam irama ritmis. Implus ini berjalan sepanjang saraf menuju otot repirasi untuk merangsang kontraksinya. Hasilnya adalah inhalasi. Saat paru-paru terinflasi, baroreseptor di jaringan paru mendeteksi peregangan ini dan membangkitkan implus sensorik menuju medula, implus ini mulai mendepresi pusat inspirasi. Ini disebut refleks inflasi HeringBauer, yang membantu mencegah paru yang berlebihan. Ketika pusat inspirasi terdepresi, terjadilah penurunan implus yang menuju otot pernapasan, yang akan berelaksasi untuk menimbulkan ekshalasi. Kemudian pusat inspirasi akan aktif kembali untuk memulai siklus pernapasan lain. Ketika dibutuhkan ekshalasi yang lebih kuat, seperti ketika melakukan latihan, pusat inspirasi mengaktifkan pusat ekspirasi, yang membangkitkan implus menuju muskuli interkostale interni dan muskuli abdominis.

I. Pengaturan Kimiawi RESPIRASI Pengaturan kimiawi mengacu pada efek pernapasan

terhadap Ph darah, kadar oksigen dan karbondioksida dalam darah. Kemoreseptor yang mendeteksi perubahan dalam gas darah dan PH terlepas di korpus karotikus dan aortikus dan di dalam medulla itu sendiri. Penurunan kadar oksigen darah (Hipoksia) dideteksi oleh kemoreseptor di korpus karotikus dan aortikus. Implus sensorik dibangkitkan oleh reseptor tersebut lalu menjalar sepanjang nervus glosofaringeus dan nervus vagus menuju medula, yang berespons dengan meningkat kedalaman atau frekuensi prespirasi (atau keduanya). Respons ini akan membawa lebih banyak udara memasuki paru-paru sehingga lebih banyak oksigen dapat berdifusi ke darah untuk memperbaiki keadaan hipoksia.

Karbondioksida akan menjadi masalah jika


jumlahnya berlebihan dalam darah, karena CO2 menurunkan pH ketika bereaksi dengan air untuk membentuk asam karbonat (suatu sumber ion H+ ). Artinya, kelebihan CO2 menyebabkan tubuh atau cairan tubuh lain menjadi kurang alkalis (atau lebih asam). Medula berisi kemoreseptor yang sangat sensitive terhadap perubahan pH, khususnya penurunan pH. Jika akumulasi CO2 menurunkan pH darah ini tidak untuk tujuan inhalasi, tetapi lebih untuk ekshalasi lebih banyak CO2 guna meningkatkan pH kembali ke normal.

J. Respirasi Keseimbangan Asam Basa

Respirasi memengaruhi pH cairan tubuh karena


repirasi mengatur jumlah karbon dioksida dalam cairan tersebut. CO2 bereaksi dengan air untuk membentuk asam karbonat (H2CO3) yang terionisasi menjadi ion H+ ion HCO3-. Semakin banyak ion hidrogen yang terdapat pada cairan tubuh, semakin turun pH, dan semakin sedikit ion hidrogen, pH semakin meningkat ketidakseimbangan pH, atau system ini bisa menolong mengoreksi ketidakseimbangan Ph yang disebabkan oleh penyebab lain.

Sistem respirasi dapat menjadi penyebab

K. Kelainan-Kelainan pada Sistem Pernapasan

Asfiksi ,yaitu kelainan atau gangguan dalam

pengangkutan oksigen ke jaringan atau gangguan penggunaan oksigen oleh jaringan. Penyebabnya dapat terletak di paru-paru, di pembuluh darah, atau dalam jaringan tubuh. Misalnya: seseorang yang tenggelam, alveolusnya terisi air; orang yang menderita pneumonia, alveolusnya terisi cairan limfa; serta orang yang keracunan karbon monoksida dan asam sianida, Hbnya tercemar oleh zat racun tersebut. Keracunan karbon monoksida dan asam sianida terjadi karena kedua zat ini memiliki afinitas terhadap hemoglobin lebih besar daripada oksigen.

Penyempitan atau penyumbatan saluran napas


,dapat disebabkan oleh pembengkakan kelenjar limfa, misalnya polip (di hidung) dan amandel (di tekak), yang menyebabkan penyempitan saluran pernapasan sehingga menimbulkan kesan wajah bodoh dan sering disebut wajah adenoid. Penyempitan ini dapat pula terjadi karena saluran pernapasannya yang menyempit akibat alergi, misalnya pada asma bronkiale.

Anthrakosis ,yaitu kelainan pada alat pernapasan yang Bronkitis ,terjadi karena peradangan bronkus. Pleuritis ,yaitu peradangan selaput (pleura) karena
pleura mengalami penambahan cairan intrapleura, akibatnya timbul rasa nyeri saat bernapas.

disebabkan oleh masuknya debu tambang. Jika yang masuk debu silikat, disebut silicosis.

Tuberkulosis (TBC) , yaitu penyakit paru-paru karena Pneumonia atau logensteking ,yaitu penyakit radang
Mycobacterium tuberculosis, tandanya terbentuk bintikbintik kecil pada dinding alveolus. paruparu yang disebabkan Diplococcus pneumoniae.

Penyakit diphteri ,misalnya diphteri tekak,

tenggorokan, dan diphteri hidung. Penyakit ini biasa menyerang saluran pernapasan anak bagian atas. Kuman penyebabnya Corynebacterium diphteriae. Kuman diphteri tersebut mengeluarkan racun dan bila racun ini beredar bersama darah, akan merusak selaput jantung. Faringitis ,yaitu infeksi pada faring oleh bakteri dan virus. Gejalanya adalah kerongkongan terasa nyeri saat menelan. Tonsilitis ,yaitu radang karena infeksi oleh bakteri tertentu pada tonsil. Gejalanya yaitu tenggorokan sakit, sulit menelan, suhu tubuh naik, demam, dan otot-otot terasa sakit.

Kanker paru-paru ,biasa diderita oleh perokok. Kanker ini


disebabkan oleh adanya tumor ganas yang terbentuk di dalam epitel bronkiolus. Asma ,yaitu gangguan pada rongga saluran pernapasan yang diakibatkan oleh berkontraksinya otot polos pada trakea. Hal ini akan mengakibatkan penderita sukar bernapas. Influenza ,disebabkan oleh virus yang menimbulkan radang pada selaput mukosa di saluran pernapasan. Emfisema ,yaitu suatu penyakit yang terjadi karena ketidaknormalan (abnormalitas) susunan dan fungsi alveolus. Akibatnya, terjadi inefisiensi pengikatan O2 sehingga pernapasan menjadi sulit.

KESIMPULAN

Respirasi merupakan proses pengambilan oksigen ke paru-paru, pengikatan O oleh darah dan diangkut menuju sel untuk oksidasi atau pembakaran sari-sari makanan dan menghasilkan energy, serta pengeluaran CO, dari paru-paru Respirasi dibedakan menjadi dua yaitu respirasi luar dan respirasi dalam Saluran pernapasan dimulai dari rongga hidung - faring - laring tenggorokan - cabang tenggorokan - paru-paru.

Mekanisme pernapan dibedakan menjadi dua, yaitu proses menarik napas yang disebut inhalasi.dan proses mengeluarkan napas yang disebut ekshalasi.Pernapasan dibedakan menjadi dua yaitu pernapasan dada dan perut.
Kelainan-kelainan pada sistem pernapasan yaitu : asfiksi, penyempitan saluran pernapasan, anthrakosis, bronkhitis, Pleuritis, Tuberkulosis (TBC) , Pneumonia atau logensteking, Penyakit dipteri, Faringtis, Tonsilitis, Kanker Paru-paru, Asma, Influenza, Emfisema.

Pertanyaan (Ayo Bertanya!!) - Nisvi : bagaimana - Septi: bagaimana


penyempitan saluran pernafasan dapat penyebabkan muka bodoh?? proses terjadinya sinusitis?

Diana: berasal dari mna kah lendir saat influensa dan bagaimana cara menghentikannya?

Eka: ketidak normalan seperti apa yg mnyerang fungsi alveolus sehingga menyebabkan penyakit Emfisema

Sambungan - Ibeth: berasal dari - AYOOO PULANG


manakah kuman yang menyebabkan diphteri? AJA GINNN!!!!!!!

Erna: mengapa ekhalasi normal merupakan pasif, ekhalasi kuat merupakan aktif??