Anda di halaman 1dari 2

Irigasi merupakan sumber daya yang penting dalam perencanaan usaha tani.

Seperti halnya dengan sumber daya lainnya, ada dua aspek yang perlu diperhatikan dalam perencanaan irigasi yaitu kelayakan dan keuntungannya. Keuntungannya antara lain adalah dapat menyediakan air yang cukup untuk pertumbuhan tanaman selama periode tumbuh. Perencanaan irigasi disusun terutama berdasrakan kondisi-kondisi meteorologi di daerah bersangkutan dan kadar air yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Irigasi permukaan (surface irrigation) merupakan cara aplikasi irigasi yang tua dan paling banyak digunakan. Irigasi permukaan lebih cocok diterapkan pada lahan yang relatif seragam dan datar (slope < 2%) serta tanah dengan kapasitas infiltrasi rendah sampai sedang. Investasi awal yang diperlukan untuk membangun irigasi permukaan biasanya rendah namun efisiensinya relatif rendah karena banyak kehilangan air melalui evaporasi, perkolasi, run off maupun seepage. Beberapa tipe irigasi permukaan yang sering dijumpai adalah sawah/genangan (basin), luapan (border), alur (furrow), dan surjan. Air yang dialirkan ke permukaan lahan sebagian akan mengalir ke sisi lahan yang lain sedangkan sebagian lagi akan meresap ke dalam tanah. Air yang telah mencapai sisi lahan yang lain akan akan meninggalkan lahan sebagai aliran permukaan (surface run off) atau akan tersimpan (storage) apabila lahan diberi tanggul. Selanjutnya air terinfiltrasi ke dalam tanah. Secara skematis profil pemberian air irigasi permukaan Umumnya air dialirkan sampai kebutuhan air tanaman terpenuhi. Setelah pemberian air dihentikan aliran air masih akan berlanjut tetapi tebalnya akan berkurang dimulai dari hulu lahan ke hilir. Jika ketebalan air mencapai nol maka terjadi proses pengeringan atau resesi yang prosesnya juga dimulai dari hulu lahan ke hilir. Proses ini terjadi baik pada pemberian air irigasi genangan, luapan, maupun alur. Fase-fase yang terjadi selama proses irigas berlangsung adalah : 1. Fase awal (advance phase) Air mulai masuk dan mengalir di permukaan tanah dari hulu lahan sampai mencapai hilir lahan. 2. Fase simpanan (storage phase) Fase ini terjadi jika air telah mencapai ujung lahan tetapi aliran air masuk masih ada. 3. Fase deplesi (depletion phase) Fase ini terjadi setelah pemberian air irigasi dihentikan dan tebal air (d) mulai menurun sampai mencapai 0. 4. Fase resesi (recession phase) Setelah tidak ada air di permukaan tanah, tanah mulai mengering. Proses irigasi permukaan tersebut dapat dimodelkan dengan model matematika. Ada beberapa jenis model matematika misalnya hydrodinamic model dan kinematic-wave model. Pada

dasarnya model matematika ini diturunkan dari persamaan kontinyuitas dan persamaan energi pada aliran unsteady di saluran terbuka. Macam-macam irigasi permukaan, antara lain : 1. Irigasi border Pada irigasi border, dalam petakan lahan dibuat pematang sejajar sebagai pengendali lapisan aliran air irigasi yang bergerak ke arah kemiringan lahan. Lahan dibagi menjadi beberapa petakan yang sejajar yang dipisahkan masing-masing oleh pematang rendah, kemiringan biasanya satu arah. Masing-masing petakan (border) diberikan air irigasi secara terpisah. Air irigasi menyebar merata sepanjang kemiringan lahan yang dikendalikan oleh pematang tersebut. 2. Irigasi genangan sawah/basin Lahan dibagi menjadi petakan-petakan kecil yang hampir datar. Pematang sekeliling petakan dibentuk untuk menahan air irigasi supaya tergenang di petakan dan berinfiltrasi. Dalam irigasi padi sawah atau untuk keperluan pencucian garam tanah (leaching) diperlukan tinggi genangan tertentu selama periode tertentu, sehingga pemberian air biasanya kontinu. 3. Irigasi alur (furrow irrigation) Ukuran dan bentuk alur tergantung pada jenis tanaman, alat/mesin pembuat alur yang digunakan, tekstur tanah dan jarak antar baris tanaman. Istilah alur (furrow) adalah parit dangkal antar barisan tanaman dimana air irigasi dialirkan. Dalam bahasa Indonesia dikenal juga istilah guludan yang berarti bagian lahan yang ditanami tanaman antar alur. Pada jarak antar alur yang lebar dimana baris tanaman terdiri dari 2 atau lebih baris tanaman, maka lahan yang ditanami disebut dengan bedengan. Sistem irigasi permukaan (Surface irrigation), khususnya irigasi alur (Furrow irrigation) banyak dipakai untuk tanaman palawija, karena penggunaan air oleh tanaman lebih efektif. Sistem irigasi alur adalah pemberian air di atas lahan melalui alur, alur kecil atau melalui selang atau pipa kecil dan megalirkannya sepanjang alur daalam lahan. Terdapat beberapa keuntungsn menggunakan irigasi furrow. Keuntungannya sesuai untuk semua kondisi lahan, besarnya air yang mengalir dalam lahan akan meresap ke dalam tanah untuk dipergunakan oleh tanaman secara efektif, efisien pemakaian air lebih besar dibandingkan dengan sistem irigasi genangan (basin) dan irigasi galengan (border).