Anda di halaman 1dari 6

SURAT PERMOHONAN PERKARA

Registrasi Nomor 87/PUU -X/2012 Tentang Kewenangan Jaksa sebagai penyidik

Surabaya, 20 Februari 2012

Yang Mulia Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Jl. Medan Merdeka Barat No.6 Jakarta 10110

Hal : Permohonan pengujian Pasal 30 ayat (1) huruf d juncto Pasal 1 huruf d Undang Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia terhadap Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Dengan hormat, Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Asifathur Rahman

Tempat tanggal lahir : Surabaya, 26 Oktober 1956 Agama Pekerjaan Kewarganegaraan Alamat Lengkap : Islam : Swasta : Indonesia : Jalan Bratang Gede IIF / 58 Surabaya

Untuk selanjutnya disebut sebagai Pemohon ;

Pemohon dengan ini mengajukan permohonan pengujian Pasal 30 ayat (1) huruf d juncto Pasal 1 huruf d Undang Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia (Bukti P-1) terhadap Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (Bukti P-2). Sebelum melanjutkan pada uraian tentang permohonan beserta alasan alasannya, Pemohon ingin lebih dahulu menguraikan tentang Kewenangan Mahkamah Konstitusi dan legal standing Pemohon sebagai berikut :

I.

Kewenangan Mahkamah Konstitusi


Pemohon dalam permohonan sebagaimana dimaksud menjelaskan, bahwa ketentuan yang mengatur kewenangan Mahkamah Konstitusi untuk menguji Undang Undang dibawah Undang Undang Dasar adalah : 1. Pasal 24 ayat 2 UUD 1945 Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan Badan Peradilan yang di bawahnya dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. 2. Pasal 24C ayat 1 UUD 1945 Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang Undang terhadap Undang Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. 3. Pasal 10 ayat 1 huruf a Undang Undang Nomor 24 Tahun 2003 sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi Menguji Undang Undang terhadap Undang Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.

II.

Kedudukan hukum Pemohon

1. Bahwa Pasal 51 ayat (1) UU MK menyatakan, Pemohon adalah pihak yang menganggap hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya Undang Undang, yaitu : a. perorangan warga negara Indonesia; b. kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam Undang Undang; c. badan hukum publik atau privat, atau; d. lembaga negara. Penjelasan Pasal 51 ayat (1) UU MK menyatakan, Yang dimaksud dengan "hak konstitusional" adalah hak hak yang diatur dalam UUD 1945; 2. Pemohon menjelaskan dalam permohonannya adalah perorangan warga negara Indonesia yang merasa dirugikan hak hak konstitusionalnya atas berlakunya ketentuan Pasal 30 ayat 1 huruf d dan penjelasan Pasal 1 huruf d Undang Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia.

III.

NORMA-NORMA YANG DIAJUKAN UNTUK DIUJI


A. NORMA MATERIIL Norma yang diujikan adalah: 1. Pasal 30 ayat 1 huruf d (1) Di bidang pidana, Kejaksaan mempunyai tugas dan wewenang : d. melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan Undang Undang;

B. NORMA UUD NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 Norma yang menjadi penguji, yaitu : Pasal 28D ayat (1) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.

Pasal 28J ayat (2) Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan Undang Undang dengan semata mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.

IV.

Alasan-alasan Pemohon Dengan diterapkan UU ae quo Bertentangan Dengan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, karena :
1. Pemohon adalah tersangka kasus korupsi. 2. Bahwa Pasal 30 ayat (1) huruf d dan Penjelasan Pasal 30 ayat (1) huruf d Undang Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia jika dihubungkan dengan KUHAP tugas dan kewenangan jaksa sebatas menjadi Penuntut umum bukan mengambil alih kewenangan sebagai penyidik yang merupakan kewenangan kepolisian dan pejabat pegawai negeri sipil yang diberi wewenang khusus oleh Undang Undang untuk melakukan penyidikan. 3. Pemohon mendalilkan jika tindak pidana korupsi ditangani oleh jaksa hasilnya tidak akan maksimal karena jaksa tidak memiliki keahlian dan pendidikan khusus sebagai penyidik, sehingga dalam pelaksanaan kewenangannya tidak

mempertimbangkan bukti permulaan, tidak dilakukan permintaan lembaga auditor untuk menghitung kerugian Negara terlebih dahulu sebelum ditetapkan sebagai tersangka, pemeriksaan didahului dengan permeriksaan terhadap tersangka baru terhadap saksi dan melakukan penyitaan terhadap barang bukti tanpa ada ijin dari ketua pengadilan negeri. 4. Bahwa jika Jaksa memiliki kewenangan sebagai penyidik akibatnya terhadap suatu perkara proses penyidikan dan penuntutan akan dilakukan oleh orang yang sama. Hal ini menyebabkan banyak berkas perkara yang tidak melalui tahap koreksi dan penelitian, langsung dinyatakan lengkap karena kewenangan sebagai penyidik dan penuntut umum dilakukan oleh jabatan yang sama yaitu Jaksa.

5. Bahwa Pasal 30 ayat (1) huruf d dan Penjelasan Pasal 30 ayat (1) huruf d Undang Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia berpotensi menjadi preseden buruk sehingga menghilangkan hak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat bagi orang yang ditetapkan secara semena-ena menjadi tersangka dan juga bertentangan dengan prinsip pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28D ayat (1) dan Pasal 28J ayat (2) UUD Tahun 1945.

V.

Pokok Permohonan
Adapun pokok-pokok Permohonan Pemohon kepada Mahkamah Konstitusi dalam pengujian undang-undang pada Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor

06/PMK/2005 tentang Pedoman Beracara Dalam Perkara Pengujian Undang-Undang adalah sebagai berikut : 1. Pengujian Formil Pasal 4 ayat (3) Pengujian formil adalah pengujian UU yang berkenaan dengan proses pembentukan UU dan hal-hal lain yang tidak termasuk pengujian materiil. 2. Pengujian Materiil Pasal 4 ayat (2) Pengujian materiil adalah pengujian UU yang berkenaan dengan materi muatan dalam ayat, pasal, dan/atau bagian UU yang dianggap bertentangan dengan UUD 1945.

VI.

PETITUM
Berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, mohon kepada Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia untuk menjatuhkan putusan sebagai berikut : 1. Menerima dan mengabulkan permohonan pengujian Pasal 30 ayat (1) huruf d dan Penjelasan Pasal 30 ayat (1) huruf d UU Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Menyatakan Pasal 30 ayat (1) huruf d dan Penjelasan Pasal 30 ayat (1) huruf d UU Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia, tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat dengan segala akibat hukumnya, 3. Menyatakan bahwa Kejaksaan telah melampaui kewenangannya karena telah bertindak diluar kewenangannya sebagai Penuntut Umum dan atau menyatakan bahwa Penyidikan yang dilakukan oleh Kejaksaan tinggi Maluku terhadap diri Pemohon adalah tidak sah karena telah melampaui

kewenangannya bukan selaku Penuntut Umum, tetapi selaku Penyidik. 4. Memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya. Atau apabila Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi berpendapat lain, Apabila Majelis Hakim Konstitusi berpendapat lain, mohon keadilan yang seadil adilnya (ex aequo et bono).

Hormat Pemohon, ( Asifathur Rahman )