Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Berdasarkan siklus hidupnya, tumbuhan tahunan (perennial plants) adalah tumbuhan yang dapat meneruskan kehidupannya setelah bereproduksi atau menyelesaikan siklus hidupnya dalam jangka waktu lebih daripada dua tahun. Banyak di antaranya berupa pohon, meskipun terdapat pula terna ataupun semak. Untuk mengatasi tantangan lingkungan, tumbuhan tahunan mengembangkan berbagai strategi untuk bertahan hidup, seperti menggugurkan daun, mengubah morfologi, atau menghasilkan senyawa tertentu yang membuat sel-selnya mampu bertahan pada perubahan lingkungan yang ekstrem. Tanaman penghasil minyak adalah tanaman yang organ targetnya dapat diproduksi menjadi minyak. Berbagai macam minyak dapat dihasilkan seperti contoh minyak atsiri, minyak biodesel, minyak nabati dan masih banyak lagi. Dari keseluruhan tanaman pengahasil minyak yang ada, masing-masing tanaman tersebut memilki sifat-sifat yang berbeda, berbeda pola tumbuhnya, berbeda budidayanya, dan juga berbeda syarat tumbuhnya. Dengan melakukan teknik budidaya yang sesuai, maka produksi pangan dapat ditingkatkan.

1.2 Tujuan Tujuan yang ingin diperoleh dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui penggolongan tanaman berdasarkan pola tumbuh, organ target, teknik budidaya, dan syarat tumbuh pada komoditas tanaman pangan (biji-bijian). Dalam hal ini komoditas tanaman pangannya adalah tanaman padi, jagung, dan kedelai.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Tanaman Kelapa Sawit Kelapa sawit (Elaeis sp.) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, dan Sulawesi. 2.1.1. Klasifikasi dan Morfologi Tanaman kelapa sawit (palm oil) dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Ordo Famili : Palmales : Palmae

Sub Famili : Cocoidae Spesies : 1. Elaeis guineensis Jacq (Kelapa sawit Afrika) 2. Elaeis melanococca atau Corozo oleifera (kelapasawit Amerika Latin) Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi. Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip dengan kelapa. Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar.
2

2.1.2. Organ Target Bagian yang paling populer untuk diolah dari kelapa sawit adalah buah. Bagian daging buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng dan berbagai jenis turunannya. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah kolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga diolah menjadi bahan baku margarin. Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Minyak dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya. Buah terdiri dari tiga lapisan: Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin. Mesoskarp, serabut buah Endoskarp, cangkang pelindung inti

Inti sawit (kernel, yang sebetul]]nya adalah biji) merupakan endosperma dan embrio dengan kandungan minyak inti berkualitas tinggi. Kelapa sawit berkembang biak dengan cara generatif. Buah sawit matang pada kondisi tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan bakal akar (radikula). 2.1.3. Pengelompokan Tanaman Berdasarkan Pola Tumbuh Kelapa Sawit merupakan kelompok tanaman indeterminate. Karena kelapa sawit dapat melakukan fase vegetatif dan generatif mencapai 100 tahun tetapi umur ekonomisnya adalah 25 tahun 2.1.4. Syarat Tumbuh Lama penyinaran matahari yang baik untuk kelapa sawit antara 5-7 jam/hari. Tanaman ini memerlukan curah hujan tahunan 1.500-4.000 mm, temperatur optimal 24-28oC. Ketinggian tempat yang ideal untuk sawit antara 1-500 m dpl (di atas permukaan laut). Kelembaban optimum yang ideal untuk tanaman sawit
3

sekitar 80-90% dan kecepatan angin 5-6 km/jam untuk membantu proses penyerbukan.Kelapa sawit dapat tumbuh pada jenis tanah Podzolik,Latosol, Hidromorfik Kelabu, Alluvial atau Regosol, tanah gambut saprik, dataran pantai dan muara sungai. Tingkat keasaman (pH) yang optimum untuk sawit adalah 5,05,5. Kelapa sawit menghendaki tanah yang gembur, subur,datar, berdrainase (beririgasi) baik dan memiliki lapisan solumcukup dalam (80 cm) tanpa lapisan padas. Kemiringan lahan pertanaman kelapa sawit sebaiknya tidak lebih dari 15o.Teknologi Budidaya Teknologi perbanyakan tanaman yang dapat dilakukan pada tanaman kelapa sawit adalah dengan kultur jaringan dan pembibitan untuk perbanyakan secara konvensional. 2.1.5 Teknik Budidaya Pembiakan Secara Kultur Jaringan Pada pembiakan secara kultur jaringan, bahan tanaman kelapa sawit dapat diperoleh dalam bentuk bibit atu klon hasil pembiakan secara kultur jaringan (tissue culture). Pengembangan kelapa sawit sistem kultur jaringan dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan yang terdapat pada bahan tanaman kelapa sawit yang berasal dari biji yang umumnya memiliki keragaman dalam produksi, kualitas minyak, pertumbuhan vegatatif, dan ketahanan terhadap hama penyakit. Bibit kelapa sawit yang diperoleh dengan sistem kultur jaringan ini disebut dengan klon kelapa sawit. Pembuatan bibit klon dengan sistem kultur jaringan menggunakan bahan pembiakan yang berasal dari tanaman hasil persilangan antara Deli Dura dan Pisifera yang memiliki sifat sifat unggul, yakni produksinya tinggi, pertumbuhan vegetatif seragam, kualitas minyak baik, dan toleran terhadap hama dan penyakit. Kriteria pemilihan pohon induk yang akan digunakan sebagai sel-sel pembiakan atau ortet adalah sebagai berikut : 1). Persilangan terpilih harus berproduksi 7 -9 ton minyak sawit/hektar/tahun dan pohon yang dipilih memiliki potensi produksi 9 11 ton minyak/hektar/tahun. 2). Kandungan asam lemak tidak jenuh di atas 54% 3). Bebas penyakit tajuk (crown disease).
4

4). Peninggian pohon berkisar antara 40 55 cm per tahun. Metode pembiakan kultur jaringan yang dilaksanakan oleh PPKS Medan adalah metode CIRAD CP yang dilaksanakan melalui lima tahap kegiatan sebagai berikut. 1. Induksi Kalus Bahan biakan adalah daun kelapa sawit yang manis muda (daun ke 4, ke 5, ke 6 atau ke 7) dan masih aktif. Daun Kelapa sawit tersebut diiris melintang berukuran 1 cm. Dari satu pohon induk dapat diperoleh sebanyak 1.200 bahan biakan atau eksplan. 2. Pembentukan Embrio Waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan embrio dari kalus berbeda - beda, tergantung pada klon yang digunakan. 3. Pembiakan Embrio Embrio muda dipindahkan ke media baru untuk pematangan sekaligus perbanyakannnya. Embrio tersebut dipelihara di dalam ruang pembiakan dengan intensitas cahaya 1.000 gross lux suhu 270C dan kelembaban udara 50% - 60%. Pematangan embrio membutuhkan waktu 2 4 bulan. Kemampuan pembiakan embrio dari setiap klon berbeda, tetapi tidak ada hubungannya dengan jenis persilangan. Pada embrio yang sudah matang (mature) dapat ditumbuhi pupus, embrio juga didapat sebagai stock atau koleksi dalam tabung penyimpanan dengan teknik krioperservasi. 4. Penumbuhan Pupus Embrio yang terpilih untuk penumbuhan pupus dipindahkan ke dalam media baru, dikulturkan di dalam ruang pembiakan dengan intensitas cahaya 1.000 gross lux, suhu 300C, dan kelembaban 50 - 60%. Penumbuhan pupus membutuhkan waktu 2 - 4 bulan. 5. Penumbuhan Akar Pupus yang tumbuh dalam satu kelompok diseleksi untuk penumbuhan akar. Pupus yang mempunyai ukuran lebih dari 6 cm disapih dari kelompoknya dan dimasukkan ke dalam media induksi akar. Pupus yang masih berukuran kecil dipelihara kembali dalam media penumbuhan pupus

Pembiakan Secara Pembibitan Pembibitan klon meliputi pembibitan awal (pre nursery) selama 3 bulan dan pembibitan utama (main nursery) selama 9 bulan. Sebelum pembibitan awal dilakukan, planlet (tanaman baru) perlu melewati fase aklimatisasi, yaitu proses adaptasi planlet dari kondisi laboratorium menjadi kondisi lingkungan alami di luar. Pembibitan Benih kelapa sawit untuk calon bibit harus dihasilkan dan dikecambahkan oleh lembaga resmi yang ditunjuk pemerintah. Proses pengecambahan umumnya dilakukan sebagai berikut. a. Tangkai tandan buah dilepaskan dari spikeletnya. b. Tandan buah diperam selama 3 hari dan sekali-kali disiram air. Pisahkan buah dari tandannya dan peram lagi selama 3 hari. c. Masukkan buah ke mesin pengaduk untuk memisahkan daging buah dari biji. Cuci biji dengan air, lalu rendam dalam air selama 6-7 hari. Ganti air rendaman setiap hari. Selanjutnya rendam biji tadi dalam Dithane M-45 konsentrasi 0,2 % selama 2 menit, lalu keringanginkan. d. Masukkan biji kelapa sawit tersebut ke dalam kaleng pengecambahan dan simpan di dalam ruangan bertemperatur 39oC dengan kelembaban 60-70% selama 60 hari. Setiap 7 hari, benih dikeringanginkan selama 3 menit. e. Setelah 60 hari, rendam benih dalam air sampai kadar air 20-30% dan dikeringanginkan lagi. Masukkan benih ke dalam larutan Dithane M-45 0,2% selama 1-2 menit. Simpan benih di ruangan bertemperatur 270 C. Setelah 10 hari, benih berkecambah pada hari ke-30 tidak digunakan lagi. Persiapan Lahan Tanaman Kelapa sawit sering ditanam pada berbagai kondisi areal sesuai dengan ketersediaan lahan yang akan dibuka menjadi lahan kelapa sawit. Cara membuka untuk tanaman kelapa sawit disesuaikan dengan kondisi lahan yang tersedia. 1. Bukaan baru (new planting) pada hutan primer, hutan sekunder, semak belukar atau areal yang ditumbuhi lalang.

2. Konversi, yaitu penanaman pada areal yang sebelumnya ditanami dengan tanaman perkebunan seperti karet, kelapa atau komoditas tanaman perkebunan lainnya. 3. Bukaan ulangan (replanting), yaitu areal yang sebelumnya juga ditanami kelapa sawit. Persiapan lahan merupakan kegiatan yang sangat penting dan harus dilaksanakan berdasarkan jadwal kegiatan yang sudah ditetapkan. Mengingat areal kebun kelapa sawit yang cukup luas, pembukaan lahan dapat dilakukan sekaligus atau secara bertahap. Namun, yang terpenting adalah keadaan kebun sudah siap dipanen dan dapat memasok buah yang akan diolah ketika pabrik sudah siap berproduksi. Penanaman dan Penyulaman Jenis jenis pekerjaan utama dalam proses penanaman adalah : (a) Pembuatan larikan tanaman atau penempatan pancang, atau ajir tanam, (b). Penanaman tanaman penutup tanah kacangan, dan (c). Penanaman Kelapa sawit. 1. Pengajiran Pada tahap pertama dibuat rancangan larikan (barisan) tanaman serta pancang sebagai titik tanam, dimana bibit kelapa sawit akan ditanam. Pengajiran atau memancang adalah menentukan tempat tempat yang akan ditanam bibit kelapa sawit. Letak ajir (pancang) harus tepat, sehingga terbentuk barisan ajir yang lurus dilihat dari segala arah, dan kelak setiap individu tanaman pun akan lurus teratur serta memperoleh tempat tumbuh yang sama luasnya. Dalam keadaan yang demikian, tanaman mempunyai peluang utnuk tumbuh dan berkembang dalam kondisi yang tidak berbeda. 2. Pembuatan Lubang Tanam Lubang tanam kelapa sawit biasanya dibuat dengan ukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm, tetapi ada juga yang hanya berukuran 50 cm x 40 cm x 40 cm. Pada saat menggali, tanah atas ditaruh di sebelah dan tanah bawah di sebelah selatan lubang. Ajir ditancapkan di samping lubang dan bila lubang telah selesai dibuat, ajir ditancapkan kembali di tengah tengah lubang. Apabila tanaman akan ditanam menurut garis tinggi (kontur) atau dibuat teras melingkari bukit, letak lubang tanaman harus berada paling dekat 1,5 m dari
7

sisi lereng. Untuk penanaman kelapa sawit yang melingkari bukit, biasanya dibuat teras teras terlebih dahulu, baik teras individual maupun teras kolektif. 3. Menanam Kegiatan menanam terdiri dari kegiatan mempersiapkan bibit di Pembibitan utama, Pengangkutan bibit ke lapangan, Menaruh bibit di setiap lubang, persiapan lubang, menanam bibit pada lubang, dan pemeriksaan areal yang sudah ditanami. 4. Tanaman Penutup Tanah Penanaman tanaman penutup tanah biasa dilaksanakan pada perkebunan kelapa sawit. Tanaman penutup tanah adalah tanaman kacangan (Legume cover crops, LCC) yang ditanam untuk menutup tanah yang terbuka di antara kelapa sawit karena belum terbentuk tajuk yang dapat menutup permukaan tanah. Penanaman tanaman kacangan penutup tanah bertujuan untuk memperbaiki sifat sifat fisika, kimia dan biologi tanah, mencegah terjadinya erosi, mempertahankan kelembaban tanah, dan menekan tumbuhan pengganggu (gulma). Penanaman kacangan penutup tanah sebaiknya dilaksanakan segera setelah pembukaan lahan selesai

dilaksanakan. Jenis jenis tanaman kacangan penutup tanah yang umum ditanam di perkebunan kelapa sawit adalah Calopogonium caeruleum, Calopogonium mucunoides, Pueraria javanica, Pueraria phaseoloides, Centrocema pubescens, Psophocarphus palustries, dan Mucuna cochinchinensis.

Penyiangan (pengendalian gulma) Upaya pengendalian gulma telah dilaksanakan dengan menanami tanah di antara tanaman kelapa sawit (gawangan) dengan tanaman kacang penutup tanah dan membuat piringan di sekeliling tiap individu tanaman. Bila pertumbuhan gulma tidak dikendalikan dengan baik, maka berbagai macam gulma dapat tumbuh dengan subur dan mengganggu (menyaingi) pertumbuhan tanaman pokok, menyebabkan keadaan kebun menjadi kotor dan lembab. Pengendalian gulma pada tanaman menghasilkan dimaksudkan
8

untuk

mengurangi

terjadinya

saingan

terhadap

tanaman

pokok,

memudahkan pelaksanaan pemeliharaan, dan mencegah berkembangnya hama dan penyakit tertentu.

Pemupukan Pemupukan tanaman bertujuan untuk menyediakan unsur unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhan generatif, sehingga diperoleh hasil yang optimal. Untuk menentukan dosis pupuk yang tepat, sebaiknya dilaksanakan analisis tanah dan daun terlebih dahulu. Dengan analisis tanah dan daun, maka ketersediaan unsur unsur hara di dalam tanah pada saat itu dapat diketahui dan keadaan hara terakhir yang ada pada tanaman dapat diketahui juga. Berdasarkan hasil analisis dapat ditentukan kebutuhan tanaman terhadap jenis jenis unsur hara secara lebih tepat, sehingga dapat ditetapkan dosis pemupukan yang harus diaplikasikan. Pemberian pupuk pada kelapa sawit diatur dua kali dalam setahun. Pemberian pupuk yang pertama dilakukan pada akhir musim hujan yaitu bulan Maret April dan pemberian pupuk kedua dilakukan pada awal musim hujan yaitu bulan September Oktober.

Pemangkasan Pemangkasan atau disebut juga penunasan adalah pembuangan daun daun tua atau yang tidak produktif pada tanaman kelapa sawit, pada tanaman muda sebaiknya tidak dilakukan pemangkasan, kecuali dengan maksud mengurangi penguapan oleh daun pada saat tanaman akan dipindahkan dari pembibitan ke areal perkebunan. Adapu tujuan pemangkasan adalah sebagai berikut : Memperbaiki sirkulasi udara di sekitar tanaman sehingga dapat membantu proses penyerbukan secara alami Mengurangi penghalangan pembesaran buah dan kehilangan brondolan buah terjepit pada pelepah daun. Membantu dan memudahkan pada waktu panen Mengurangi perkembangan epifir

Agar proses metabolisme tanaman berjalan lancar, terutama proses fotosintesis dan respirasi. Memangkas daun dilaksanakan sesuai dengan umur/tingkat pertumbuhan

tanaman. Macam-macam pemangkasan: 1. Pemangkasan pasir, yaitu pemangkasan yang dilakukan terhadap tanaman yang berumur 16-20 bulan dengan maksud untuk membuang daun-daun kering dan buah- buah pertama yang busuk. Alat yang digunakan adalah jenis linggis bermata lebar dan tajam yang disebut dodos. 2. Pemangkasan produksi, yaitu pemangkasan yang dilakukan pada umur 2028 bulan dengan memotong daun-daun tertentu sebagai persiapan pelaksanaan panen. Daun yang dipangkas adalah songgo dua (yaitu daun yang tumbuhnya saling menumpuk satu sama lain), juga buah-buah yang busuk. Alat yang digunakan adalah dodos seperti pada pemangkasan pasir. 3. Pemangkasan pemeliharaan, adalah pemangkasan yang dilakukan setelah tanaman berproduksi dengan maksud membuang daun-daun songgo dua sehingga setiap saat pada pokok hanya terdapat daun sejumlah 28-54 helai. Sisa daun pada pemangkasan ini harus sependek mungkin, agar tidak mengganggu kegiatan panen.

Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman kelapa sawit dapat diserang oleh berbagai hama dan penyakit tanaman sejak di pembibitan hingga di kebun pertanaman. Hama dan penyakit dapat merusak bibit, tanaman muda yang belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman yang sudah menghasilkan (TM). Beberapa jenis hama dan penyakit dapat menimbulkan kerugian yang besar pada bibit, tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM). Oleh karena itu, pengendalian terhadap hama dan penyakit perlu dilaksanakan secara baik dan benar.

10

Buah sawit

Kecambah

Bibit di PN (tanpa naungan)

Bibit di PN (naungan)

Bibit di MN

Bibit di lapangan

Tahapan Fase Pertumbuhan Bibit Sawit hingga Siap Ditanam di Lapangan


11

2.2 Tanaman Kayu Putih Tumbuhan kayu putih (Melaleuca leucadendra (L). L) merupakan pohon anggota suku jambu-jambuan (Myrtaceae) yang dimanfaatkan sebagai sumber minyak kayu putih (cajuput oil). Namanya diambil dari warna batangnya yang memang putih.merupakan salah satu tumbuhan penghasil minyak atsiri yang mana daun tumbuhan ini mengandung minyak atsiri sekitar 0,5 - 1,5% tergantung efektivitas penyulingan dan kadar minyak yang terkandung terhadap bahan yang disuling. (Lutony, 1994). 2.2.1 Klasifikasi Dan Morfologi Sistematika tumbuhan ini adalah sebagai berikut: Kingdom Divisio Kelas Ordo Family Genus Spesies Morfologi Tumbuhan dari famili Myrtaceae merupakan salah satu sumber minyak atsiri yang memiliki nilai komersial yang cukup tinggi. Beberapa jenis dari famili ini yang terkenal sebagai penghasil minyak atsiri adalah tumbuhan dari marga Eucalyptus dan Melaleuca. Tumbuhan kayu putih (Melaleuca leucadendra (L). L) merupakan tumbuhan perdu yang mempunyai batang pohon kecil dengan banyak anak cabang yang menggantung ke bawah. Daunnya berbentuk lancip dengan tulang daun yang sejajar. Bunga kayu putih berwarna merah, sedangkan kulit batang kayunya berlapis-lapis dengan permukaan terkelupas. Keistimewaan tanaman ini adalah mampu bertahan hidup di tempat yang kering, di tanah yang berair, atau di daerah yang banyak memperoleh guncangan angin atau sentuhan air laut. Tanaman ini tumbuh liar di daerah berhawa panas. Tanaman kayu putih tidak memerlukan syarat tumbuh yang spesifik. Pohon kayu putih dapat mencapai ketinggian 45 kaki. Dari ketinggian antara 5 - 450 m di atas permukaan laut, : Plantae : Spermatophyta : Dicotiledonae : Myrtales : Myrtaceae : Melaleuca : Melaleuca Leucadendra, (L.) L

12

terbukti bahwa tanaman yang satu ini memiliki toleransi yang cukup baik untuk berkembang. (Lutony, 1994).

Gambar morfologi Kayu Putih

2.2.2. Organ Target Bagian yang paling berharga dari tanaman kayu putih untuk keperluan produksi minyak atsiri adalah daunnya. Daun kayu putih terdiri atas dua bagian, yaitu tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamina). Pengelompokan Tanaman Berdasarkan Pola Tumbuh 2.2.3. Pengelompokan Tanaman Berdasarkan Pola Tumbuh Tanaman kayu putih termasuk kedalam kelompok tanaman Indeterminate. Daun kayu putih yang akan disuling minyaknya mulai bisa dipangkas atau dipungut setelah berumur lima tahun. Seterusnya dapat dilakukan setiap enam bulan sekali sampai tanaman berusia 30 tahun. Di beberapa daerah yang subur, tanaman kayu putih telah bisa dipungut daunnya pada usia dua tahun. Setiap pohon kayu putih yang telah berumur lima tahun atau lebih dapat menghasilkan sekitar 50-100 kg daun berikut ranting. 2.2.4. Syarat Tumbuh Tanaman kayu putih tidak mempunyai syarat tumbuh yang spesifik. Dari ketinggian antara 5 450 m diatas permukaan laut, terbukti bahwa tanaman yang satu ini memiliki toleransi yang cukup baik untuk berkembang.

13

2.2.5.Teknik Budidaya Pembuatan Bibit A. Secara Generatif Tahapan yang harus diperhatikan dalam pembuatan bibit secara generatif adalah pengumpulan benih dan kegiatan di persemaian. Pengumpulan Benih Beberapa hal yang pertu diperhatikan untuk mendapatkan benih kayu putih yang baik adalah : Pohon induk terseleksi yang dipilih harus memiliki fenotip dan genotipe unggul seperti sehat, pertajukan rindang, berbuah lebat serta mempunyai kandungan rendemen minyak dan kandungan sineol yang tinggi. Pohon induk dipilih dari sumber benih yang baik, yaitu dari Kebun Benih, atau dari Areal Produksi Benih (APB) ataupun dari pohon yang terseleksi (pohon plus). Memetik buah yang masak dari tangkai buah dan tidak perlu memotong dahan, agar pohon induk tidak terganggu proses reproduksinya. Pemisahan benih (ekstraksi benih) dari buah yang masak sangat mudah, cukup dijemur di bawah sinar matahari dan benih akan lepas dengan sendirinya. Ukuran benih kayu putih sangat halus, sehingga pada waktu pengumpulan benih agar menghindari dari tiupan angin. Persemaian Benih sebelum ditabur sebaiknya dicampur pasir halus yang steril, agar benih tidak menggumpal (menggerombol) mengingat ukuran benih sangat halus. Benih ditabur merata di atas bak tabur, kemudian ditutup dengan sedikit lapisan pasir halus agar benih tidak mudah terbang. Untuk menjaga kelembaban dan tiupan angin, sebaiknya bak tabur ditutup plastik transparan (sungkup). Penyiraman dilakukan dengan menggunakan sprayer halus pada pagi dan sore hari agar media tabur selalu basah (lembab). Setelah pekerjaan penyiraman selesai, plastik ditutup kembali, karena benih akan berkecambah apabila cahaya, oksigen dan air cukup tersedia. Setelah 5

14

hari dibedeng tabur benih mulai berkecambah, dan + 2 minggu siap untuk dipindah ke bedeng sapih. Penyapihan Karakteristik semai kayu putih sangat khas dibandingkan jenis tanaman hutan lainnya sehingga memerlukan perlakuan khusus. Setelah bibit berada selama 2 minggu di bedeng tabur, atau tumbuh daun 2 helai atau lebih dan tinggi lebih dari 1cm, maka bibit segera dipindahkan ke bedeng sapih. Penyapihan sebaiknya menggunakan alat pinset, karena kondisi semai sangat kecil dan peka terhadap gesekan. Dibuat lubang tanam pada media sapih di polybag sedalam panjang akarnya (3-5cm) agar perakaran tidak melipat/patah. Lebih baik dipasang sungkup plastik agar kelembaban lingkungan bibit dapat terjaga dan bibit terlindungi dari gangguan hama pengganggu (burung, belalang, katak, tikus dan sebagainya). Sungkup dapat dibuka setelah semai berumur 8 minggu. Pemeliharaan Penyiraman sampai umur 2 bulan dengan sprayer halus, dilakukan pada pagi dan sore hari. Pada fase in kecambah kayu putih

pertumbuhannya lambat, bahkan tampak seperti berhenti (dorman) berkisar antara 7-8 minggu. Tinggi semai rata-rata masih 1-2cm, sehingga penyiraman perlu dilakukan dengan hati-hati karena sistem perakaran dan batang masih sangat rentan dan mudah patah. Penyiraman dilakukan 2 kali sehari secara rutin pada pagi dan sore. Penyiangan (weeding), yaitu pekeraan pembersihan dari tanaman pengganggu yang ada pada polybag (biasanya dari jenis rumput) dilakukan setiap hari. Penyiangan dilakukan dengan hati-hati karena akan

mengganggu akar kayu putih. Apabila gulmanya lebih besar dari kayu putih, lebih baik batang gulma dipotong/ digunting. Pendangiran, berupa pekerjaan penggemburan permukaan media agar aerasi menjadi baik dan perakaran menjadi sempurna. bersamaan dengan pekerjaan pembersihan gulma. Untuk memacu pertumbuhan bibit dapat dilakukan pemupukan dengan pupuk NPK (I5:15:15), yang dilarutkan dan disemprotkan setiap 2
15

Dilakukan

minggu sekali. Atau pemberian pupuk butiran NPK sebanyak 2-3 butir per polybag setiap 2 minggu sekali. Pemotongan cabang/bakal cabang dan akar yang keluar menembus polybag pada bibit tua yang belum dipindah ke lapangan, dimaksudkan agar percabangan tidak terlalu banyak dan akar bibit tidak rusak pada saat dipindahkan kelapangan B. Secara vegetatif Pembiakan secara vegetatif pada tanaman kayu putih telah dilakukan dengan berbagai macam teknik dengan tujuan untuk mempertahankan sifat induknya. Berikut beberapa teknik pembiakan vegetatif kayu putih yang telah dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (P3BPTH) Yogyakarta. Pembuatan stek pucuk dengan teknik rejuvinasi stek cabang Beberapa hal penting dalam teknik pembuatan stek pucuk dengan teknik rejuvenasi stek cabang yaitu sebagai berikut: Pengambilan cabang dari pohon induk hasil seleksi di hutan tanaman kayu putih dengan cara cabang dipotong dari bagian terbawah sepanjang 40cm dan diameter 2 - 4 cm. Ujung cabang ditutup lilin untuk menghambat kekeringan, selanjutnya cabang direndam dalam air pada bak plastik dengan kedalaman 5cm dan air selalu diganti setiap hari. Penanaman cabang dalam bak berisi pasir ditutup dengan sungkup plastik pada kedalaman 10cm. Perlu diperhatikan bahwa bagian bawah bak di beri lubang, sehingga bak tidak tergenang air. Setelah berumur 1,5 bulan, stek akan menghasilkan trubusan dan dapat diambit stek pucuknya . Materi stek pucuk diambil dari trubusan tersebut dengan cara memotong daunnya dan ditinggalkan sepertiga bagian untuk mengurangi tingkat penguapan. Penanaman stek pucuk pada pot plastik berisi media pasir yang disusun dalam bak stek yang diberi sungkup. Teknik ini disamping biayanya relatif murah dapat menghasilkan presentase tumbuh yang baik yaitu sebesar 57%,.

16

Stek pucuk dari kebun pangkas Langkah yang perlu dilakukan dalam teknik pembuatan stek pucuk dari kebun pangkas adalah: Pemilihan tunas yang tumbuh autotrop (ke atas) pada tanaman kayu putih yang telah dipangkas. Tunas yang baik adalah yang tidak terlalu tua atau terlalu muda, dengan panjang sekitar 30cm. Panjang stek kurang lebih 3-4 ruas ( 10cm) dan dari satu tunas dapat diambil sampai 3 stek. Penanaman stek pucuk dilakukan pada bedeng stek dengan media pasir dan sebelumnya bagian pangkal stek diolesi Rootone F. Bedeng segera ditutup sungkup plastik untuk memelihara kelembaban diatas 80%. Pemeliharaan stek dilakukan dengan penyiraman sesering mungkin dengan sprayer tangan. Setelah 2 bulan, stek siap dipindahkan ke kantong bibit/polybag yang berisi media tanah + pupuk kandang (1:1) untuk memacu pertumbuhan yang lebih baik. Setelah 2-3 bulan di persemaian, bibit telah siap ditanam di lapangan. Stek akar Dipilih bahan tanaman untuk stek dari pohon induk yang baik (sehat). Pemotongan bahan stek sepanjang 15-20cm. Perendaman bahan stek dalam larutan hormon yang telah disiapkan atau mengoleskan bagian pangkal stek dengan hormon dalam bentuk pasta. Penanaman stek pada media yang telah disiapkan dengan jarak tanam yang tidak terlalu lebar (rapat). Stek juga dapat langsung ditanam pada media tanah dalam polybag. Penutupan ruang bedeng stek dengan sungkup plastik trasparan di bawah naungan/paranet untuk menghindari intensitas cahaya yang terlalu tinggi. Penyiraman media stek yang tidak terlalu basah untuk memberikan kelembaban yang optimal secara teratur sesuai dengan kebutuhan Cangkok Membuat bidang cangkok dcngan menyayat atau mengupas kulit cabang sepanjang 5-10cm sehingga kambium terkelupas dan diusahakan agar kayu terlihat kering. Penyayatan dilakukan dengan pisau atau cutter yang tajam dan steril. Membungkus bidang cangkok dengan media yang telah disediakan yang terdiri dari campuran tanah dan pupuk kandang
17

kemudian dibungkus dengan plastik hitam dan masing-masing ujung pembungkus diikat secara kuat dengan tali plastik. Setelah terbentuk akar pada umur 3-4 bulan (dapat dilihat dengan cara membuka pembungkus cangkok), kemudian bagian yang telah dicangkok dipotong pada bagian bawah bidang cangkok dan dipisahkan dari pohon induknya. Hasil cangkok ditempatkan pada tempat yang teduh yang telah disiapkan sebelum ditanam di lapangan. Penanaman tanaman hasil cangkok pada lubang yang telah disiapkan diusahakan cukup dalam dengan jarak tanam rapat (1 x 1 m). Penanaman Pada umumnya kayu putih relatif mudah ditanam, terutama pada jenis tanah grumosol, latosol, maupun regosol. Jarak tanam ideal pada hutan tanaman biasanya menggunakan 2 x 1 m, atau 3 x 1 m, untuk pola tanam tumpangsari. Pengolahan lahan dapat dilakukan dengan dicangkul atau untuk lahan yang topografinya datar dapat diolah dengan traktor. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan sistem cemplongan yaitu tanah yang diolah hanya seluas 1 M2 dari titik tanam. Lubang tanam dapat dibuat dengan berbagai macam ukuran, tetapi yang dianjurkan adalah 30 cm x 30 cm x 30 cm. Lubang tanam dipupuk dengan kompos sebanyak 1-2 kg per lubang untuk memacu pertumbuhan awal tanaman. Pemasangan ajir dengan ukuran 50-80cm agar ajir mudah dilibat dan penanaman menjadi lebih mudah. Pemeliharaan Tanaman kayu putih adalah jenis tanaman Yang tidak memerlukan pemeliharaan Yang intensif. Namun umur 1-2 tahun harus lebih diperhatikan dan dipelihara. setelah berumur 2 tahun tanaman tetap dirawat, tetapi dengan intensitas Yang lebih rendah. Kegiatan pemeliharaan meliputi penyulaman, penyiangan (weeding), pendangiran, pemupukan dan pemangkasan batang. Penyulaman Tanaman kayu putih yang mati di areal penanaman segera disulam agar diperoleh umur tegakan Yang sama dan dalam satuan jumlah pohon Yang seragam. Tanaman Yang memiliki pertumbuban lambat atau tidak sehat
18

segera diganti dengan bibit sulaman Yang baru agar pertumbuhan penanaman seragam dan optimum pertumbuhannya. Selain itu tujuannya adalah untuk efisiensi penggunaan lahan agar lebih optimal. Penyiangan Penyiangan dilakukan untuk membersihkan tanaman dari pengganggu (gulma) agar tidak tejadi kompetisi hara dengan tanaman pokok. Pendangiran Pendangiran merupakan pekerjaan menggemburkan tanah pada sekitar batang pokok. Tujuannya adalah untuk memberikan aerasi tanah yang lebih baik dan sistem perakaran menjadi sehat. Pemupukan Pemberian pupuk lanjutan di lapangan cukup menggunakan pupuk kandang secukupnya atau pupuk organik (NPK atau Urea) dengan dosis 100gr/pohon untuk memacu pertumbuhan perakaran batang maupun daun. Agar lebih efektif dan efesien, pekerjaan ini dilakukan bersamaan dengan pekerjaan pendangiran dan pada saat musim hujan. Pemangkasan batang Kegiatan pemangkasan ini bertujuan untuk permudaan cabang dan memudahkan dalam pemungutan daun. Untuk tegakan yang telah berumur lebih dari 5 tahun sebaiknya dilakukan pemangkasan setinggi 1 m, dan sebaiknya pekerjaan ini dilakukan pada akhir musim kemarau atau menjelang musim hujan.

19

2.3 Tanaman Jarak Pagar Jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan tumbuhan semak berkayu yang banyak ditemukan di daerah tropik. Tumbuhan ini dikenal sangat tahan kekeringan dan mudah diperbanyak dengan stek. Walaupun telah lama dikenal sebagai bahan pengobatan dan racun, saat ini ia makin mendapat perhatian sebagai sumber bahan bakar hayati untuk mesin diesel karena kandungan minyak bijinya. Peran yang agak serupa sudah lama dimainkan oleh kerabatnya, jarak pohon (Ricinus communis), yang bijinya menghasilkan minyak campuran untuk pelumas. Tumbuhan ini dikenal dengan berbagai nama di Indonesia: jarak kosta, jarak budeg (Sunda); jarak gundul, jarak pager (Jawa); kalekhe paghar (Madura); jarak pager (Bali); lulu mau, paku kase, jarak pageh (Nusa Tenggara); kuman nema (Alor); jarak kosta, jarak wolanda, bindalo, bintalo, tondo utomene (Sulawesi); ai huwa kamala, balacai, kadoto (Maluku). 2.3.1 Klasifikasi dan Morfologi Kerajaan Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies Morfologi Berupa perdu besar yang cabang-cabangnya tidak teratur, tingginyadapat mencapai 3 m. Batangnya bergetah yang agak kental. Daunnya lebarlebar,berbentuk jantung, tepinya rata atau agak berlekuk dan tangkainya panjang. Bunganyaberwarna hijau kekuningan, berkelamin tunggal, berumah satu. Baik bunga jantan maupunbunga betina masing-masing tersusun dalam rangkaian berupa cawan. Buah berbentukbulat telur, terbagi dalam tiga ruang, tidak merekah. Pada masing-masing ruang terdapat 1biji yang bentuknya bulat loncong, warnanya hitam. : Plantae : Embryophyta : Spermatopsida : Malpighiales : Euphorbiaceae : Jatropha : J. curcas

20

2.3.2 Organ Target Organ target dari tanaman jarak pagar yaitu buah. Pemanenan dilakukan jika buah telah masak, dicirikan kulit buah berwarna kuning dan kemudian mulai mengering. Cara pemanenan dengan memetik buah yang telah masak dengan tangan atau gunting. Produktivitas per pohon jarak pagar berkisar antara 3.5 4.5 kg biji per tahun.

2.3.3. Pengelompokan Tanaman Berdasarkan Pola Tumbuh Tanaman jarak pagar termasuk kedalam kelompok tanaman Indeterminate. Tanaman ini merupakan tanaman tahunan yang dapat hidup sampai umur 50 tahun. Bunga terbentuk setelah umur 3 4 bulan, sedangkan pembentukan buah mulai pada umur 4 5 bulan.Biasanya buah masak setelah berumur 5 6 bulan. Produksi maksimum baru tercapai pada usia tanam enam tahun, dan akan terus menghasilkan secara ekonomis sampai 20 tahun.

21

2.3.4 Syarat Tumbuh Meskipun termasuk tanaman pionir yang dapat tumbuh disegala tempat, untuk mendapatkan pertumbuhan dan produktivitas yang optimal Jarak Pagar menghendaki persyaratan tumbuh sebagai berikut : Lahan yang dikehendaki adalah Lahan Kering Dataran Rendah Beriklim Kering (LKDRIK) Ketinggian tanah 0 - 500 m diatas permukaan laut Suhu < 20 Curah hujan 300 - 1000 mm / tahun pH tanah 5,5 - 6,5 Kondisi iklim yang tidak mendukung mengakibatkan produktivitas menjadi tidak optimal hal ini terlihat dari tingginya variasi produktivitas antara lakosai satu dengan lokasi lainnya. 2.3.5 Teknologi Budidaya Perbenihan Bibit yang beredar sekarang ini (thn 2006) masih berupa bibit sebar dari populasi terpilih, karena secara resmi pemerintah belum melepas varietas unggul, kemungkinan baru pada tahun 2007 bibit varietas unggul akan tersedia. Tanaman jarak pagar dapat diperbanyak secara generatif (biji) maupun secara vegetatif (stek batang, stek pucuk maupun kultur jaringan) yang masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Bibit asal biji Diambil dari buah yang sudah masak yang berwarna kuning dari pohon induk terpilih, kemudian dikering anginkan sampai buah merekah. Buat media pendederan untuk menyemai biji, biasanya akan berkecambah pada umur 7 - 10 hari. Kecambah dipindah kedalam polibeg, dan dipelihara dibawah naungan selama 2 bulan. Memasuki bulan ketiga naungan dibuang agar bibit mendapat sinar matahari secara penuh. Bibit siap dipindah kelapangan setelah umur 3 bulan Bibit asal stek Stek yang baik berdiameter 2-3 cm, panjang 20-30 cm, berbentuk lurus dan diambil dari tanaman yang telah berumur 4 tahun. Pemeliharan
22

stek dalam polibeg selama 3 bulan, dimana satu bulan terakhir sebelum tanam naungan dibuang agar bibit mendapat sinar matahari secara penuh. Persiapan Tanaman Lokasi penanaman yang baik adalah daerah terbuka yang langsung menerima matahari secara penuh. Hal hal yang diperhatikan adalah pengolahan tanah dapat dilakukan secara mekanis ataupun secara kimiawi. Jarak tanam yang

dianjurkan 2 x 2 m. Pembuatan lubang ukuran 30 x 30 x 30 cm sebulan sebelum tanam. Saat penanaman dianjurkan diberikan pupuk UREA 20 gr, SP36 50 gr dan KCl 10 gr/tanaman Pemeliharaan Pengendalian gulma dilakukan secara intensif terutama pada 4 bulan pertama setelah tanam. Drainase dan aerasi harus baik, karena tanaman jarak pagar peka terhadap drainase yang buruk. Pemangkasan bentuk dilaksanakan setelah tanaman mencapai tinggi 1 m, tujuan pemangkasan adalah untuk mendapatkan percabangan baru. Pemupukan secara umum yang

direkomendasikan untuk 1 Ha/tahun adalah UREA 50 kg, SP36 150 kg dan KCl 30 kg. Lebih diajurkan lagi ditambah dengan pupuk kandang sebanyak 1 -2 kg /tanaman. Panen Pemanenan hanya kepada buah masak yang sudah berwarna kuning, dilakukan dengan menggunakan galah yang ujungnya diberi kantung, sehingga buah terpetik akan jatuh/masuk kedalam kantung. Perlu diingat buah jarak pagar masaknya tidak serempak sehingga pengawasan panen harus ketat untuk mendapatkan biji yang berkualitas. Keterangan :

Produksi Benih A = Buah berwarna kuning, umur 90 hari Produksi Minyak B = Buah kering berwarna coklat kehitaman

23

DAFTAR PUSTAKA

Amrullah. Minyak Atsiri Kayu Putih. Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin Makassar. Diakses dari http://amrullha.wordpress.com pada 18 Maret 2012 Anonim. BUDIDAYA KAYU PUTIH. Diakses dari http://www.dephut.go.id pada 19 Maret 2012. Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertania. 2008. Teknologi Budidaya Kelapa Sawit. ISBN: 978-979-1415-32-3. diunduh dari

lampung.litbang.deptan.go.id pada 17 Maret 2012 Dinas Perkebunan Kalimantan Selatan. Budidaya Jarak Pagar. diakses di http://disbun.kalselprov.go.id pada 17 Maret 2012 I r w a n t o, 2006 Pengambangan Tanaman Jarak (Jatropha curcas L.) Sebagai Sumber Bahan Bakar Alternatif. Diakses dari http://www.kapetseram.com pada 17 Maret 2012. Seputar pertanian. 2011. Cara Budidaya Tanaman Kayu Putih. diunduh di http://tipspetani.blogspot.com pada 17 Maret 2012

24