Anda di halaman 1dari 9

Tugas Demokrasi dan Civil Society Pasca Sarjana Ilmu Politik UNPAD

Genealogi Konsep Civil society dalam Demokrasi Pancasila M. Rolip Saptamaji I. Pengantar Konsep civil society mulai menjadi isu yang sering dibahas selama orde reformasi seiring dengan dibukanya gerbang demokratisasi pasca keruntuhan Orde Baru. Pembahasan mengenai konsep ini seakan tidak dapat terpisah dari pembahasan demokrasi itu sendiri. Konsep civil society, di banyak Negara dijadikan sebagai konsep sentral dalam proses demokratisasi, dalam istilah Samuel Huntington demokrasi gelombang ketiga. Konsep ini kemudian menjadi konsep sakral yang dijadikan sebagai diagnosa terhadap semua permasalahan internal dalam

demokratisasi dengan asumsi bahwa civil society adalah inti demokrasi maka kegagalan dan keberhasilan demokratisasi bergantung pada kualitas civil society. Dengan kata lain, civil society merupakan idealisasi bentuk masyarakat dalam system demokrasi. Secara konseptual, civil society sebagai inti demokrasi dapat ditemukan di masyarakat Indonesia melalui stimulus demokrasi desa dan islam. Pada sila ke-empat Pancasila konsep civil society dapat digali dari konsep permusyawaratan yang merupakan praktik demokrasi yang sudah mengakar pada masyarakat Indonesia. Sayangnya, konsep civil society di Indonesia cenderung diterima begitu saja tanpa mempertanyakan kembali genealoginya. Konsep ini kemudian disejajarkan dengan istilah masyarakat sipil dan masyarakat madani dengan ciri menjunjung tinggi hukum dan pengakuan terhadap hak asasi manusia. Generalisasi ini merupakan upaya ekstrapolasi yang berlebihan bahkan mengarah pada pemiskinan konsep. Kemunculan ormas-ormas religious fanatic dan ormas-ormas chauvinistis seperti FPI dan FBR dan kejadian-kejadian kerusuhan di berbagai tempat memancing perdebatan mengenai konsep Civil Society tentang batasan-batasan dan kategorisasi yang diperlukan untuk menentukan kelompok masyarakat yang seperti apa yang dapat disebut sebagai civil society. Sebelumnya, Civil Society dilihat dalam bentuk organisasi masyarakat, LSM/NGO. ORNOP dan forum-forum komunikasi serta lembaga-lembaga masyarakat. Kejadian yang paling menggemparkan adalah kasus

Tugas Demokrasi dan Civil Society Pasca Sarjana Ilmu Politik UNPAD

kerusuhan di Sampit, Kalimantan yang menurut Georg Van Klinken juga didorong secara tidak langsung oleh kelompok masyarakat adat yaitu LMMDD-KT (Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak Daerah-Kalimantan Timur) yang memiliki agenda sentralisasi birokrasi di tangan Dayak (Klinken,2007;221). Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan bagi konsep civil society pada konteks yang lebih dinamis yaitu konteks society yang terus bergerak. Pada fenomena ini civil society yang awalnya disakralkan menemukan kendala dalam praktik penerapannya. Konsep civil society yang diharapkan mampu menjelaskan kemunculan demokrasi yang kemudian melahirkan kesejahteraan ini di Indonesia dihadapkan pada pertanyaan krusial mengenai masyarakat majemuk di Indonesia. Apakah civil society merupakan prasyarat universal bagi demokratisasi? Apakah konsepsi civil society sesuai dengan anatomi masyarakat Indonesia? Artikel ini mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan melakukan analisa genealogis terhadap konsep civil society dan melihat kesamaan dan perbedaan konseptual dengan konsepsi demokrasi di masyarakat Indonesia yang disarikan oleh Pancasila sebagai ideology negara. Perunutan genealogi ini dilakukan dengan merunut kembali kemunculan konsep civil society secara historis dan kekaburan konseptual yang muncul di Indonesia melalui penyejajaran istilah dengan masyarakat madani. Kemudian, analisa tersebut dipersandingkan dengan konsep permusyawaratan dalam demokrasi pancasila untuk melihat kesamaan dan perbedaannya. II. Genealogi Konsep Civil society Civil society dipahami sebagai panasea bagi semua penyakit demokrasi yang diakibatkan oleh dominasi Negara seperti buruknya partai politik, krisis kepercayaan dan kualitas demokratisasi lainnya. Untuk menyusuri genealogi konsep civil society dapat dilihat dari pendapat beberap ahli mengenai civil society. Mary kaldor menyatakan bahwa civil society merupakan ethical arena dimana kelompok-kelompok yang patuh hukum, menghargai hak sasi manusia, mengembangkan sikap toleran dan anti kekerasan berkumpul (Kaldor,1999). Sedangkan Robert Putnam berpendapat bahwa civil society adalah segala bentuk kehidupan sosial yang terorganisir dan terbuka bagi semua kalangan, menganut prinsip sukarela dan tumbuh secara mandiri dan menjadi inti demokrasi (Putnam,1996).

Tugas Demokrasi dan Civil Society Pasca Sarjana Ilmu Politik UNPAD

Pendapat diatas dapat disimpulkan sebagai definisi dan ciri di dalam civil society yang secara umum digunakan yaitu sebagai bentuk kehidupan masyarakat yang terorganisir dan terbuka, patuh hukum, menghargai hak asasi manusia dan mengembangkan prnsip toleran, damai dan anti kekerasan. Penyimpulan ini kemudian berimplikasi pada penyejajaran konsep civil society dengan konsep masyarakat madani seperti yang dilakukan oleh Rahardjo (1997: 17-24) yang menyatakan bahwa masyarakat madani merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, civil society. Kekurangan dari penyimpulan ini adalah penyingkiran kompleksitas masalah yang terjadi pada sejarah pembentukan konsep civil society masyarakat madani. Pandangan genealogis merupakan upaya penelusuran kembali terhadap sebuah konsep. Genealogi sendiri berasal dari peristilahan dalam ilmu biologi untuk menelusuri jalur keluarga atau keturunan. Secara filosofis, genealogi adalah upaya penelusuran konsep secara hisoris untuk mengetahui pemicu kemunculan dan penyebab kelahiran konsep tersebut. Gagasan mengenai civil society secara genealogis dapat dilihat dari menyurutnya kekuasaan feudal melalui gereja dengan tumbuhnya kelas borjuis eropa dan kemunculan protestanisme. Istilah madani sebenarnya berasal dari bahasa Arab, madaniy. Kata madaniy berakar dari kata kerja madana yang berarti mendiami, tinggal, atau membangun. Kemudian berubah istilah menjadi madaniy yang artinya beradab, orang kota, orang sipil, dan yang bersifat sipil atau perdata. Dengan demikian, istilah madaniy dalam bahasa Arabnya mempunyai banyak arti. Konteks yang melahirkan konsep masyarakat madaniy adalah Piagam Madina pada tahun 622 Masehi, di Negara-Kota Madinah yang ditandai oleh munculnya komunitas politik islam di madina (dalam Latif,2011; 390-391). Piagam tersebut memuat sebuah kontrak sosial NegaraBangsa yang didirikan atas dasar penyatuan seluruh kekuatan masyarakat tanpa membeda-bedakan natara kelompok-kelompok keagamaan yang ada. Konsep masyarakat madani dalam islam menurut seorang sosiolog amerika, Robert N Bellah (dalam Latif, 2011;391) merupakan a better model for modern national community building than might be imagined. Perlu diperhatikan bahwa konteks piagam Madinah tidak dilahirkan di masa damai namun di masa perang melawan bani Quraisy di Mekkah. Piagam ini diusulkan oleh kaum muslimin untuk menyatukan kabilah-kabilah di Madinah untuk menjadi

Tugas Demokrasi dan Civil Society Pasca Sarjana Ilmu Politik UNPAD

sebuah kekuatan politik yang lebih besar. Peristiwa ini juga merupakan penanda historis kebangkitan islam yang sebelumnya hanya dikenal sebagai agama, sekarang juga dikenal sebagai kekuatan politik sehingga lengkaplah karakter Nabi Muhammad S.A.W sebagai nabi dan seorang negarawan. Berbeda dengan konsep masyarakat madani yang berasal dari integrasi komunitas kesukuan, konsep civil society sejatinya merupakan konsep yang dibawa dari eropa mengenai masyarakat demokratis oleh para tokoh Scottish Enlightment seperti Adam ferguson, john Locke, dan John Stuart Mill (Hadiwinata,2005). Konsep yang ditawarkan para tokoh tersebut adalah membentuk masyarakat yang aman, Sejahtera dan pengakuan terhadap Individu. Konsep ini lahir di masa penyusutan kekuasaan feudal dan gereja katolik yang disusul oleh kemunculan masyarakat borjuis yang menguasai perdagangan dan pabrik-pabrik dan munculnya Protestanisme. Civil Society merupakan landasan dasar bagi pembentukan konsep demokrasi liberal di Inggris dan Eropa pada saat itu. Konsep civil society juga terdapat di Negara lainnya seperti jerman dengan konsep Burgerlische Burgoise. Konsepsi civil society diawali oleh Thomas Hobbes dan John Locke yang menggambarkan kondisi pra sosial atau keadaan ilmiah yang diliputi ketidakpastian (Prastowo 2010). Hobbes dalam leviathan mengenalkan konsepsinya dengan menguatkan peran Negara, baginya fungsi normal civil society adalah produksi dan pemerolehan property baik akumulasi modal maupun ekspansi pasar, budaya, seni dan lainnya yang dibutuhkan dalam kehidupan sosial.Fungsi ini menurut Hobbes hanya terjadi jika Negara kuat dan mampu mendukung civil society untuk menjalankan fungsinya. Berbeda dengan Hobbes, John Locke memeiliki konsepsi relasi antara Negara dan civil society yang berkebalikan. Menurut Locke, transisi dari keadaan alamiah ke civil society tidak dimediasi oleh kuat atau tidaknya Negara namun pada relasi mutualis individu yang membentuk Negara itu sendiri. Hubungan Negara dan civil society menurut Locke banyak ditentukan oleh kegiatan ekonomi dan kekuatan pasar. Konsepsi Hobbes mengenai hubungan Negara dan civil society ini kemudian terwujud dalam konsep Negara modern yang bercorak demokrasi liberal yaitu melalui peran Negara sebagai night watchman. Pemahaman ini juga menempatkan civil Gesselschaft dan perancis dengan

Tugas Demokrasi dan Civil Society Pasca Sarjana Ilmu Politik UNPAD

society sebagai sentral dari demokratisasi dalam tradisi liberal dimana civil society diyakini sebagai ruang kebebasan dan persetujuan sedangkan Negara adalah wilayah paksaan dan tekanan sehingga harus dipisahkan secara identitas dengan civil society menjadi political society. Berdasarkan pemaparan diatas, dapat dilihat bahwa penyejajaran konsep masyarakat Madani dengan konsep civil Society adalah generalisasi yang terburuburu. Generalisasi ini juga melupakan konteks historis, kompleksitas masalah dan kandungan substansi dari lahirnya konsep tersebut. Oleh karena itu dalam artikel ini saya berusaha untuk merunut kembali komponen-komponen yang terlupakan itu. Konsepsi lain yang disejajarkan dengan civil society adalah istilah burgerlische gesselschaft dari Jerman. Tidak seperti konsep civil society yang memiliki kekaburan etimologis, konsepsi burgerlische gesselschaft lebih mudah ditentukan batas definisinya. Gesselschaft, yang dalam bahasa Jerman memiliki arti masyarakat namun secara definitive memiliki batas definisi yang jelas. Ferdinand Tonnis membedakan masyarakat atau asosiasi manusia dalam dua kelompok yaitu Gemeinschaft dan Gesselschaft yang di bedakan melalui pola asosiasinya. Gemeinschaft adalah institusi sosial yang sederhana dengan ciri asosiasi dimana individual didalamnya memiliki orientasi pada kebutuhan kelompok dan diatur oleh regulasi bersama secara kolektif. Bertentangan dengan gesselschaft yang merupakan asosiasi dimana para individu di dalamnya berorientasi pada kepentingan individualnya seperti pada masyarakat modern. Dalam kategorisasi sosiologis, gemeinschaft dan gesselschaft sering diasejajarkan dengan paguyuban dan patembayan yang ditandai dari pola hubungan antar anggota masyarakat. Definisi diatas sangat membantu dalam pembongkaran konsep civil society terutama bagi Negara berkembang seperti Indonesia. Konsep civil society dalam masyarakat Indonesia dapat dilihat dari kategorisasi paguyuban dan patembayan dan tidak bisa ditempatkan pada konsepsi yang kabur dalam istilah civil society. Dengan menggunakan lensa kategori sosiologis tersebut dan perspektif genealogis dari civil society tentunya kita tidak akan terburu-buru menempatkan pengertian civil society pada masyarakat madani ataupun konsepsi-konsepsi komunalistik di masyarakat Indonesia. Lensa ini mendorong kita pada pandangan genealogis dari kemunculan konsep civil society dalam demokrasi.

Tugas Demokrasi dan Civil Society Pasca Sarjana Ilmu Politik UNPAD

Konsepsi civil society dalam konteks negara di jerman mendapat kontribusi besar dari Hegel yang mendapat pengaruh besar dari Rosseau. Hegel memahami civil society dengan cara yang berbeda dari John Locke dan Thomas Hobbes. Hegel memandang civil society dalam konteks yang problematic (Rasyid,1997:4). Menurut Hegel, civil society adalah sphere of necessity yang berisi system of needs. Kebebasan bagi Hegel secara esensial adalah politis dan individu hanya bebas sebagai entitas politis. Negara bagi Hegel adalah manifestasi eksternal dari kehendak dan kebebasan manusia. Hegel melihat bahwa civil society cenderung melumpuhkan dirinya sendiri dan secara kontan membutuhkan intervensi negara (Rasyid, 1997:4). Hegel yang mendasarkamn pengamatannya mengenai civil society dalam

Burgerslische Gesselschaft berpendapat bahwa kebebasan mengembangkan aspirasi dan kepentingan yang berbeda menciptakan kerawanan terhadap kohesi masyarakat itu sendiri. Gagasan Hegel lebih mirip dengan gagasan Thomas Hobbes tentang Leviathan namun melalui cara pandang dialektis Hegel menonjolkan universalitas dan supremasi negara sebagai tujuan dari civil society. Lebih tegas lagi, seorang pengikut kritis Hegel, Karl Marx, menolak untuk terjebak dalam perdebatan ayam dan telur mengenai konsep civil society. Marx menolak rekomendasi para pendahulunya mengenai pemisahan antara civil dan political society, Marx menyatakan bahwa pemisahan antar keduanya dalam demokrasi borjuis diletakkan diatas basis persamaan politik tanpa persamaan sosial dan ekonomi (Pontoh, 2011). Pemisahan tersebut menurutnya hanya akan menghasilkan pertarungan kepentingan kepentingan pribadi dan menegaskan kelaskelas di masyarakat. Pada pemaparan diatas didapatkan bahwa secara genealogis, civil society secara konseptual berbeda dengan masyarakat madani ditinjau melalui konteks masyarakat yang melahirkan konsep tersebut. Konsep civil society berakar dari masyarakat borjuis di Eropa yang memiliki corak kepentingan ekonomi dan individualistis sebagaiman konteks kategori sosiologis gesselschaft. Oleh karenaitu idealisasi civil society sebagai masyarakat ideal bagi system demokrasi dapat berjalan sebagaimana konsepnya hanya di masyarakat yang memiliki tradisi liberal dalam nilai-nilai demokrasi liberal juga. III. Konsep Permusyawaratan, Demokrasi Pancasila dan Civil society

Tugas Demokrasi dan Civil Society Pasca Sarjana Ilmu Politik UNPAD

Mengikuti pemahaman Civil society sebagai masyarakat madani dan definisi yang disarikan dari Mary kaldor dan Putnam, secara Konsepsi civil society dalam Demokrasi Pancasila terdapat pada sila ke empat yang berbunyi Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Penjelasan terhadap konsepsi civil society dalam demokrasi pancasila secara lengkap diambil dari konsepsi asali yang melahirkan sila ini terutama pada poin permusyawaratan. Tradisi musyawarah sudah dilakukan oleh masyarakat Indonesia dalam praktek demokrasi desa dan praktek pengambilan keputusan dalam masyarakat muslim (Latif, 2011: 386). Yudi Latif juga menerangkan bahwa terdapat setidaknya tiga stimulus pada pembentukan demokrasi pancasila yaitu stimulus demokrasi desa, stimulus islam dan stimulus barat. Pada konteks permusyawaratan tentu saja masyarakat yang melakukan musyawarah merupakan masyarakat yang terorganisir baik dalam bentuk kelompok, organisasi maupun desa. Musyawarah tersebut dilakukan untuk mengambil suatu putusan yang mengikat ataupun pemecahan masalah. Musyawarah juga dilakukan dalam prinsip toleransi damai dan anti kekerasan. Oleh karena itu civil society secara konseptual telah dilaksanakan oleh masyarakat Indonesia jauh sebelum istilah civil society masuk ke Indonesia. Konsepsi demokrasi di Indonesia yang mendapat stimulus dari demokrasi desa diungkap oleh Hatta dalam lima anasir. Kelima anasir tersebut yaitu rapat, mufakat, gotong royong, hak mengadakan protes bersama dan hak menyingkir dari daerah kekuasaan raja yang dijadikan sebagai pokok yang kuat bagi demokrasi sosial (dalam Latif, 2011: 388). Stimulus islam dalam demokrasi adalah pada transformasi nusantara dari masyarakat yang berformasi feodalistik menuju masyarakat yang lebih egaliter (Latif, 2011: 393). Sedangkan stimulus barat yang paling berpengaruh adalah munculnya konsepsi kebangsaan dan kemunculan ruang public modern di Indonesia sejak akhir abad 19. Ruang public tersebut mampu diaktualisasikan dengan memunculkan berbagai gerakan sosial yang berujung pada pendirian partai politik (Latif, 2011: 399). Stimulus yang didapat oleh demokrasi di indonesia melalui ketiga stimulus tersebut sangat lah tepat dalam konteks plot historis. Namun, civil society sebagai kumpulan manusia berada dalam konteks yang dinamis yang berarti pada setiap

Tugas Demokrasi dan Civil Society Pasca Sarjana Ilmu Politik UNPAD

rentang waktu memilik keunikan pola, tindakan, motivasi dan lainnya. Pada bagian ini, simpulan mengenai genealogi civil society dijadikan sebagai ukuran terhadap konsep permusyawaratan dalam demokrasi pancasila untuk melihat kesamaan dan perbedaannya. Pada konteks genealogis civil society sebagai masyarakat borjuis yang dalam kategori sosiologis ditempatkan sebagai gesselschaft atau patembayan, konteks demokrasi desa tidak dapat dijadikan stimulus pembentuk civil society karena secara kategoris desa masih memiliki ikatan parochial dan parental yang dimiliki oleh kategori gemeinschaft atau paguyuban. Sebaliknya dalam batasan pembongkaran kasta stimulus islam dapat dijadikan stimulus konsep civil society di Indonesia. Namun, pada locus-locus pesantren komunitas islam merupakan komunitas yang memiliki ikatan parochial. Secara genealogis, konsep civil society mendapatkan stimulus besar dari politik etis Belanda yang membangun masyarakat borjuis pribumi meskipun tetap masih memiliki keterikatan cultural patrimonial. Pembentukan organisasi-organisasi gerakan sosial seperti Budi Oetomo memiliki konteks historis yang mirip dengan kemunculan kelas borjuasi di eropa minus kolonialisme. Ketika gerakan sosial tersebut bertransformasi menjadi partai politik terutama yang menentang kolonialisme belanda, konsep kaku civil society tidak dapat digunakan lagi karena gerakan tersebut masuk kedalam dikotomi civil dan uncivil yang digunakan oleh barat untuk melakukan segregasi pada masyarakat jajahan. IV. Kesimpulan Pemahaman civil society sebagai kelompok masyarakat yang taat hokum bukan merupakan generalisasi yang tergesa-gesa dan penyederhanaan yang berlebihan. Pemahaman ini juga membawa kita pada ketidakmampuan menjelaskan gerakan-gerakan sosial yang menghasilkan pergantian kekuasaan ataupun perlawanan terhadap penjajahan. Hal inilah yang disebut sebagai pemiskinan konsep karena pada akhirnya civil society tidak mampu menanggapi perubahan sosial. Demokrasi pancasila mengambil jalan tengah untuk menyatukan perbedaan tersebut dengan tidak menggunakan definisi civil societyan sich dalam pembentukan inti demokrasi. Demokrasi pancasila memadukan realitas masyarakat Indonesia yang

Tugas Demokrasi dan Civil Society Pasca Sarjana Ilmu Politik UNPAD

myaoritas memiliki kategori peguyuban di desa dengan ajaran islam mengenai permusyawaratan dan sosio demokrasi barat yang membawa corak secular namun secara umum demokrasi pancasila melaui konsep permusyawaratannya menolak individualism. Oleh karena itu, konsepsi civil society dalam demokrasi pancasila tidak menggunakan terminilogi demokrasi liberal namun cenderung pada demokrasi sosial.

Daftar Pustaka Buku Gornick, Larry. 2010. Kartun Riwayat Paradaban Jilid III. Kepustakaan Popular Gramedia. Jakarta Hitti, Philip K. 2002. History of The Arab. Serambi Ilmu Semesta. Jakarta Klinken, Gerry Van. 2007. Perang Kota Kecil: Kekerasan Komunal dan Demokratisasi di Indonesia. Yayasan Obor Indonesia dan KITLV. Jakarta Latif, Yudi. 2011. Negara Paripurna. Kompas Gramedia: Historisitas, Rasionalitas dan Aktualitas Pancasila. Jakarta Jurnal Hadiwinata, Bob Sugeng. 2005. Civil Society: Pembangun sekaligus Perusak Demokrasi. Dalam Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol.9, Nomor 1, Juli 2005 Rasyid, M. Ryaas. 1997. Perkembangan Pemikiran tentang Masyarakat Kewargaan, Dalam Jurnal Ilmu Politik Edisi 17 Tahun 1997. Asosiasi Ilmu Politik Indonesia dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta Internet Prastowo. Justinus. Pemikiran Gramsci tentang Negara dan Civil Society . 6 Juli 2008. http://indoprogress.com/2008/07/06/pemikiran-gramsci-tentang-negaradan-civil-society-1/ Pntoh. Coen Husain. Konsepsi Marx tentang civil society. 20 juli 2008 http://indoprogress.blogspot.com/2008/07/konsepsi-marx-tentang-civilsociety.html