Anda di halaman 1dari 3

HAK ASASI MANUSIA DAN LINGKUNGAN HIDUP HAM diperluas dengan memasukkan juga hak atas lingkungan yang

sehat dan baik (the rights to healthful and deccen environement) diusulkan Renecassin tahun 1974. Usulan tersebut dilator belakangi oleh banyaknya persoalan linghungan (khususnya limbah industri) yang sangat merugikan perikehidupan masyarakat. Pada Stockholm Comfrence on the Environment Programe. Dalam komfrensi tersebut lahir gagasan untuk mengaitkan anatara rights to development. Kemudian dikenal dengan DECLARATION THE RIGHTS ON DEVELOPMENT and RIGHTS TO THE ENVIROMENT. Deklarasi ini menegaskan bahwa ada keterkaitan yang sangat erat antara hak terhadap lingkungan yang baik dan sehat dan hak pembangunan, seperti hak untuk hidup dalam kondisi yang layak dan hak hidup dalam suatu lingkungan yang memiliki kualitas yang memungkinkan manusia hidup sejahtera dan bermartabat. Di Indonesia pengakuan mengenai hak atas lingkungan hidup yang sehat dan baik mula-mula diatur dalam UU No. 4 / 1982 tentang ketentuan-ketentuan pokok lingkungan hidup yang diganti dengan UU No. 23 / 1997 tentang pemgelolaan lingkungan hidup. Pada tahun 1998 secara eksplisit hak atas lingkungan hidup yang sehat dan baik diakui dalam UU No. 39/1999 tetang HAK ASASI MANUSIA. Perlindungan lingkungan sangat penting untuk menjaga HAM atas lingkungan yang sehat dan baik karena pelanggaran atas ketentuan perlindungan akan juga melanggar berbagai HAM seperti : right to health, rights to food, right safe and healthy working condition. HAM DALAM PRSPEKTIF ISLAM (DEKLARASI KAIRO) Dalam perspektif Islam, HAM diletakan sebagai hurumat (kemuliaan, kelapangan, penghormatan). Dengan pengertian ini pada hakikatnya manusia didudukkan sebagai makhluk yang dimuliakan tuhan. Manusia dalam kemuliannya ditandai dengan kewajiban untuk mengabdi kepada tuhan dan berhubungan baik dengan sesamanya serta memelihara kewajiban dan tanggung jawab secara vertikal dan horizontal. Manusia dalam Islam bukanlah pemilik hak asasi melainkan yang dititipi hak asasi untuk ditegakkan bersama-sama manusia lainnya. Fundamental HAM dalam Islam telah dirumuskan Nabi Muhammad SAW dalam Piagam Madinah. Nilai yang hidup dalam HAM versi islam sebagaimana ditegaskan dalam piagam Madinah tersebut adalah : pengakuan adanya hak hidup, hak kemerdekaan, hak persamaan, hak keadilan, hak perlindungan hukum, hak perlindungan dari kezaliman penguasa, hak perlindungan dari penyiksaan hak untuk berlindung, hak untuk melaksanakan kerja sama dalam kehidupan sosial, hak minoritas, hak kebebasan berpikir dan berbicara, serta hak ekonomi. Mayoritas negara-negara Islam adalah tergolong kedalam barisan negara-negara dunia ketiga yang banyak merasakan perlakuan ketidakadilan negara-negara barat dengan atas nama HAM. Dalam pandanga negara-negara Islam, HAM Barat tidak sesuai dengan pandangan ajaran Islam yang telah ditetapkan Allah SWT. Maka negara-negara Islam yang tergabung dalam Organization of Islamic Comfrence (OIC/OKI) pada tanggal 5 agustus 1990 mengeluarkan deklarasi tentang kemanusiaan sesuai syariat Islam. Konsep HAM hasil rumusan negaranegara OKI dikenal dengan sebutan DEKLARASI KAIRO ini berisi 24 pasal tentang HAM berdasarkan AL-Quran dan Sunnah yang dalam penerapannya dan reslitasnya memiliki beberapa persamaan dengan peryataan semesta hak-hak asasi manusia (The Universal Declaration of Human Rights) yang dideklarasikan oleh PBB tahun 1948. PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA Pelanggaran HAM pada dasarnya dapat terjadi dengan dua cara : 1. VIOLENCE BY ACTION Pelanggara yang dilakukan negara secara aktif dengan tindakan yang bersifat langsung sehingga menimbulkan pelanggaran HAM. 2. VIOLENCE BY OMISSION. Pelanggaran HAM yang timbul akibat kelalaian negara, disini negara tidak bertindak atau lalai untuk melindungi dan menjamin HAM setiap warganya. Secara yuridis, pelanggaran HAM ini terbagi dua perlanggaran HAM BERAT dan HAM RINGAN. 1. Pelanggaran HAM yang berat adalah pembunuhan massal (genocide), pembunuhan sewenangwenang (arbitrary) atau diluar putusan pengadilan (extra judicial killing), penyiksaan , penghilangan orang secara paksa, perbudakan, atau diskriminasi yang dilakukan secara sistematis (systematic discrimination). (pasal 104 ayat (1) UU No.39/1999).

Pelangaran hak asasi manusia yang berat meliputi : a. Kejahatan Genocide adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnik, kelompok agama, dengan cara : Membunuh anggota kelompok. Mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggotaanggota kelompok. Menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagainya. Memaksakan tidakan - tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran didalam kelompok. Memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain.

b.Kejahatan Terhadap Kemanusiaan adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian
dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil yang berupa : Pembunuhan. Pemusnahan. Perbudakan. Pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa. Perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara sewenangwenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan hukum internasional. Penyiksaaan. Perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasan seksual lain yang setara. Penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politiuk, ras, kebangsaan, etnis, budsaya, agama, jenis kelamin atau alasan lain yang telah diakui universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional. Penghilangan orang secara paksa. Kejahatan apartheid. 2. Pelanggaran HAM adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja maupun tidak sengaja atau kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi, dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin undang-undang ini, dan tidak mendapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.

KOMISI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA (KOMNAS HAM) KOMNAS HAM adalah lembaga mandiri yang kedudukannya setingkat dengan lembaga negara lainnya yang berfungsi untuk melaksanakan pengkajian, penelitian, penyuluhan, pemantauan, dan mediasi hak asasi manusia. TUJUAN KOMNAS HAM antara lain : 1. Mengembangkan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan hak asasi manusia sesuai dengan Pancasila, UUD 1945 dan Piagam PBB, serta Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. 2. Meningkatkan perlindungan dan penegakan hak asasi manusia guna berkembangnya pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan kemampuannya berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan. KOMNAS HAM Mengklasifikasikan Pelanggaran HAM dalam : 1. Penangkapan dan penahanan sewenang-wenang atau penahanan illegal.

2. 3. 4. 5. 6.

Penghilangan secara paksa. Penyiksaan dan perbuatan kejam. Pembunuhan diluar proses pengadilan. Hak memperoleh keadilan. lain-lain (intimidasi, tindak kekerasan ).

PENGADILAN HAM Dalam rangka penegakan HAM, Komnas HAM melakukan pemanggilan saksi dan pihak kejaksaan yang melakukan penuntutan di pengadilan HAM. Menurut pasal 104 UU HAM, untuk mengadili pelanggaran hak asasi manusia yang berat, dibentuk pengadilan HAM dilingkungan perdilan umum yaitu pengadilan negeri dan pengadilan tinggi,

Peristiwa yang terjadi di Indonesia yang diduga dapat dikelompokkan sebagai pelanggaran HAM, Adnan Buyung Nasution (1998) mengelompokkan periode dan tipe palanggaran HAM pada masa Presiden Soeharto dalam empat kelompok yaitu : 1. Crimes Against Humanity yang temasuk didalamnya adalah kasus Timor-Timor, Papua dan Tanjung Priok. 2. Crimes Against Integrity of Person didalamnya termasuk penahanan terhadap aktivis-aktivis politik, penghilangkan orang, penembakan miterius, dan peristiwa 27 Juli 1996. 3. Pelanggaran terhadap HAK SIPIL dan POLITIK, yang berupa : pembatasan kebebasan berserikat dan berkumpul yang secara sistematik dilanggar, pembatasan-pembatasan terhadap kebebasan mengeluarkan pendapat dan adanya kebijakan serta lembaga extra judicial yang berfungsi di luar keharusan kehakiman. 4. Pelanggaran terhadap Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya yang berupa pelanggaran hak masyarakat adat, ppelanggaran hak lingkungan dan kemiskinan structural serta proses pemiskinan.