Anda di halaman 1dari 10

Judul Buku Penulis Penerbit

: INTERNATIONAL RELATIONS, The Key Concepts : Martin Griffiths, Terry OCallaghan dan Steven C. Roach : Routledge

Tahun Terbit : 2008 Artikel : Critical Theory, hal. 59

Dalam buku ini penulis hanya menerangkan teori kritis secara umum dan tokoh-tokoh teori kritis secara sederhana namun cukup memetakan gambaran yang cukup baik. Berangkat melalui kronologi dan mulai menyimpulkan satu persatu dari pandangan-pandangan para teoritisi HI khusunya teori kritis critical theory. Isi artikel tersebut kurang lebih seperti yang akan dijabarakan berikut ini : Critical Theory / Teori kritis Teori kritis (critical theory) mengacu pada suatu analisis mendasar marxisme mengenai teori dan praktis hubungan internasional, dan pertama kali muncul pada tahun 1937 sebagai sebuah karya penelitian Frankfurt Institute of Social Research yang meneliti mengenai fasisme dan otoriterisme dengan alasan-alasan kritis. Para pemikir-pemikir teori kritis seperti Max Horkheimer, Theodor Adorno, dan Herbert Marcuse sebenarnya menginspirasi pandangan Jurgens Habermas mengenai hubungan intersubjektif dalam demokrasi.Habermas menekankan sebuah kebutuhan masyarakat mengenai teori kebenaran didalam dunia yang bersifat emansipasi (bebas) di segala kepentingan manusia. Ia berasumsi bahwa apa yang benar adalah apa yang dianggap dan disepakati benar oleh masyarakat. Namun konsep ini akan menghilangkan esensi dari kebenaran itu sendiri. Robert Cox juga setuju bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dan kepentingan, dan dia juga menekankan pada refleksifitas yaitu bahwa sebuah teori harus dapat diuji kebenarannya. Cox membedakan dua perspektif teori berdasarkan tujuannya. Yang pertama adalah problem solving theory, yaitu teori yang digunakan untuk memecahkan suatu masalah yang kontekstual. Kedua adalah Critical Theory (teori kritis) yang digunakan untuk mencari asumsi dasar teori dan proses perumusan teorinya. Untuk itu dibutuhkan sebuah pilihan yang memungkinkan. Cox sebagai teoritisi hubungan internasional menggambarkan secara umum aplikasi teori kritis dalam hubungan internasional, yaitu critical theory mempertanyakan peraturan dunia yang dominan dengan menggunakan reflektifitas aturan tersebut. Kemudia juga teori kritis mempertannyakan sumber dan legitimasi dari suatu institusi politik dan sosial dan juga termasuk perubahan-perubahan mereka. Sejarah adalah sebuah perubahan yang kontiniu atau secara terus menerus. Dan teori kritis mencoba untuk menentukan elemen mana yang universal untuk digunakan dalam aturan dunia dan mana yang tentunya menyatukan sejarah.

Berbeda dengan Cox, Andrew Linklater yang percaya bahwa manusia itu bersifat baik, menginginkan untuk membentuk bentuk baru hubungan internasional yang mempu menyamaratakan semua orang secara keseluruhan. Menurutnya teori kristis bertugas untuk memfasilitasi masuknya nilai-nilai moral dan komunitas politiknya dalam dunia internasional. Teori kritis juga menydiakan jalan untuk terciptanya toleransi dalam hubungan politik internasional dan menyadari dengan sepenuh hati atas perbedaan dan benturan budaya. Hal ini sangat memungkinkan karena para teoritisi kritis ini percaya bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk itu. Buku ini cukup berguna untuk menerangkan dan menjelaskan istilah-istilah yang dipelajari dalam ilmu hubungan internasional. Karena buku ini seperti halnya ensiklopedia ilmu hubungan internasional, mencakup hampir semua istilah dan teori yang menyangkut HI terdapat dibuku ini. Namun kekurangan nya adalah penjelasan dari setiap istilahnya terlalu secara umum dan masih kurang mendalam. Sehingga dibutuhkan studi pustaka lebih lanjut untuk dapat mengerti dan mendalami sebuah teori hubungan internasional.

Judul Buku Penulis Penerbit

: INTERNATIONAL RELATIONS THE BASICS : Peter Sutch and Juanita Elias : Routledge

Tahun Terbit : 2007 Artikel : Critical Theory, pada BAB 6 Criticizing World Politics, hal.115

Buku ini cukup menerangkan apa itu teori kritis dan mengapa teori kritis terlahir. Isi dari artikel dalam buku ini adalah kurang lebih menekankan teori kritis yang mempertanyakan mengapa teori-teori seperti kapitalis bisa diterima di dunia? Dan teori-teori Realisme yang seakan-akan mendekati kebenaran yang hakiki? Berikut sedikit kutipan dari artikel tersebut. Critical Theory/teori kritis Teori kritis secara umum menekankan pada emansipasi politik yang membawa pada perubahan mendasar dari suatu kelompok kecil didalam masyarakat dengan menghapus struktur sosial yang hierarki. Banyak para pemikir teori kritis menggunakan dasar pemikiran karl marx, seorang pemikir yang membagi dunia menjadi dua golongan yaitu proletar dan borjuis diamana dia selalu menekankan nasip proletar di dalam sistem kapitalis. Namun sebenarnya ide ini termasuk teori post-positivism karena dia memikirkan mengapa teori itu salah dan proses dari pembuatan teori itu juga difikirkan.

Teori kritis mempertanyakan mengenai pembentukan sosial dari sebuah pengetahuan. Karena itu Cox menyimpulakan bahwa teori yang paling benar itu adalah teori yang menurut masyarakat secara keseluruhan benar. Namun masyarakat disini bisa diatur sedemikianrupa dan dipengaruhi oleh suatu kekuatan/kekuasaan yang besar. Cox pernah menulis bahwa sebenarnya Teori selalu diperuntukan untuk seseorang dan tujuan tertentu. Artinya pelaku yang merumuskan teori sendiri pastinya memiliki kepentingan tersendiri dalam dirinya. Cox juga berasumsi bahwa teori dapat dianggap sangat benar seperti halnya kebenaran yang hakiki secara politis tidak sadar teori itu menguntungkan pihak yang paling kuat. Critical theory juga mempertanyakan mengenai mengapa realisme dalam hubungan internasional selalu menitik beratkan pada dominant power. Realisme merupakan teori HI yang seakan-akan paling dekat dengan kebenaran yang paling hakiki jika dilihat secara rasional. Jika teori realisme mengatakan bahwa setiap Negara harus meningkatkan kekuatan nasionalnya agar dapat hidup di dunia yang anarki, maka teori ini akan menguntungkan Negara-negara yang memilik industri senjata maju, seperti Amerika Serikat. Banyak pula pemikir teori kritis terinspirasi oleh pemikir marxis asal Italia Antonio Gramsci. Yang menerangkan konsep pemikirannya mengenai hegemoni. Gramsci berangkat dari pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti kenapa ide kapitalis bisa diterima di dunia? Hal ini yang disebut olehnya sebagai hegemoni. Teori kritis (critical theory) di buku ini lebih menerangkan lebih baik dari buku pertama diatas karena memang penyampaiannya lebih mudah dimengerti dan ditambah lagi dengan contohcontoh pertanyaan mendasar teori kritis terhadap pola/struktur global saat ini. Buku ini cukup baik dijadikan referensi bahan bacaan khususnya untuk studi hubungan internasional. Namun demikian untuk memahami teori ini secara lebih mendalam masih harus dilakukan studi pustaka lebih jauh lagi.

Judul Buku Penulis Penerbit

: FIFTY KEY THINKERS IN INTERNATIONAL RELATIONS : Martin Griffiths : Routledge

Tahun Terbit : 1999 Artikel : Critical Theory, hal.107-144

Buku ini menyediakan beberapa pemikir-pemikir teori kritis seperti Robert Cox, John Burtonm, Johan Galtung, dan Andrew Linklater. Masing-masing nama para pemikir ini dijelaskan satu persatu mengenai latar belkang hingga ke pemikiran-pemikirannya. Sehingga sangat baik untuk digunakan sebagai bahan referensi penelitian mengenai ilmu hubungan internasional. Selain

lengkap buku ini juga seperti halnya biografi dari seorang pemikir atau lebih mengenai teori kritis beserta karya-karyanya. Robert Cox dengan pemikirannya yang membedakan mana yang disebut problem Solving theory dan mana yang critical theory secara jelas tertulis dalam buku ini. Manfaatnya adalah ketika membaca dan mencari tahu sebuah teori, pembaca akan ditawarkan beberapa pandangan baik yang sesuai antara satu dengan yang lain maupun dengan yang berbeda-beda mengenai hal yang sama. Dalam hal ini pemikir-pemikir teori kritis pada umumnya memang datang dari pemikir-pemikir marxisme seperti Galtung, dan Lenin. Akan tetapi pemikir teori kritis yang berangkat dari pemahaman liberal juga ada seperti Andrew Linklater. Jadi jika melakukan sebuah analisa pembaca dapat memilih mana pandangan yang sesuai untuk dijadikan pisau analisa, bahkan pandangan-pandangan tersebut dapat dibuat sebuah perbandingan dalam tujuan pengujian teori mana yang baik.

Critical Theory memiliki 2 aliran utama, yakni Frankfurt School dan Gramsci. Frankfurt School berkembang dari Gramsci yang berfokus pada hubungan produksi. Frankfurt School adalah sebuah pemikiran yang berkembang di Frankfurt, Jerman pada tahun 1980. Frankfurt school ini juga dikenal sebagai Institute of Social Research, yang mendobrak kemapanan social dan politik yang pada saat itu mendominasi dan tidak dapat diubah. Critical theory ini sendiri berakar dari pemikiran Kant, Hegel, dan Marx yang memiliki pendapat pentingnya emansipasi pada masa enlightment. Namun, critical theory yang diusung oleh Frankfurt school ini merupakan perspektif yang dipelopori oleh Max Wokheimer yang kemudian dilanjutkan oleh Jurgen Habermas. Pada tahun 1980, yang merupakan Hubungan Internasional mulai berkembang, Critical Theory mulai muncul. Critical Theory lahir sebagai sebuah kritikan dari teori-teori tradisional yang tidak mencerminkan adanya keadilan dalam struktur masyarakat yang terjadi. Mereka berpendapat bahwa masyarakat seharusnya memiliki pengetahuan dan pendidikan yang membuat merea paham akan yang terjadi di sekitarnya agar masyarakat mampu menjadi otonom. Setelah runtuhnya tembok Berlin yang terjadi sekitar tahun 1990. Teori kritis ini diakui sebagai teori alternative bagi disiplin ilmu Hubungan Internasional. Selama tahun-tahun itu, para pemikir seperti Andrew Linklater, Robert W. Cox dan Richard Ashley mencoba untuk mengaplikasikan teori-teori dan gagasan-gagasan dari Frankfurt School kepada teori hubungan internasional. Memang, teori-teori kritis ini telah ada jauh sebelum tahun 1970, namun karena perkembangan yang sedikit terlambat dari Hubungan Internasional menyebabkan teori-teori baru selain Realisme dan Liberalisme diadopsi Bagi teori kritis, tidak ada politik dunia atau ekonomi global yang berjalan sesuai dengan hukum social yang kekal. Hubungan Internasinal harus memfokuskan diri pada emansipasi politik. Sehingga tidak ada keterkekangan dan ketergantungan yang

dimana negara adalah actor utama atas ketidakbebasan dari warganegara dan individu. Emansipasi politik dalam Hubungan Internasional ini sangat terbentuk denga pendapat Ashley yang mendefinisikan emansipasi adalah kebebasan dari ketidaktahuan dan kebebasan dari hubungan yang mendominasi. Serta menurut Linklater, struktur manusia itu sangat mengekang, terlebih adanya campur tangan negara di dalam. Teori kritis meyakini akan self-determining yang dimana masingmasing individu mampu memutuskan masa depannya sendiri tanpa dihalang-halangi oleh negara. Karena itu, negara bukanlah actor utama bagi teori kritis karena negara terlalu focus pada power dan bagaimana untuk mencapainya. Namun teori kritis menginginkan untuk focus pada mindset masing-masing individu. Karena memiliki Historical Dialectic, teori kritis mengajak kita untuk lebih kritis dan tidak hanya mau menerima mentah-mentah segala sesuatu yang terjadi. Seperti yang diungkapkan oleh Cox yang mengatakan bahwa teori hanya berlaku pada suatu kondisi dan tujuan tertentu. Teori tidak dapat diaplikasikan pada segala aspek. Jadi, teori kritis sangat menjunjung tinggi emansipasi, yang dimana hal ini berbasis pada teori Marxisme. Berangkat dari teori kritis inilah, perspektif-perspektif baru bertemakan emansipatoris bermunculan, seperti perspektif-perspektif feminism, environmentalisme, post-positivisme, dan lain-lain. Dalam Hubungan Internasional, teori kritis berusaha mencari pengetahuan untuk membebaskan kemanusiaan dari struktur politik dan hegemoni dunia yang menekan dikendalikan oleh kekuatan yang hegemon. Mereka berupaya untuk mendobrak dominasi global negara-negara kaya di belahan bumi utara. Mereka berupaya untuk menggunakan pengetahuannya untuk meningkatkan emansipasi manusia dari struktur social global yang ada. Perhatian teori kritis yang terlalu berpusat pada pemikiran dan cenderung kearah relativitas membuat teori kritis tidak menjadi mainstream di teori Hubungan Internasional. Teori kritis hanya memikirkan tentang pemikiran belaka, sehingga teori kritis tidak mampu berkontribusi pada pembuatan kebijakan atas isu-isu yang terjadi. Memang, teori kritis ini dinilai kurang terkenal dibanding dengan mainstream lain karena hanya melihat pada sector domestic dan kurang melihat ke ranah internasional. Namun, semakin berkembangnya isu-isu baru dalam hubungan internasional, kita semakin melihat bahwa teori kritis ternyata mampu menjawab isu-isu accros border ini.

Referensi:

Jackson, Robert & Sorensen, Georg. (2009). Pengantar Hubungan Internasional. Jogjakarta: Pustaka Pelajar. http://debate.uvm.edu/NFL/rostrumlib/cxhernandez1098.pdf diakses pada 13 April 2012, pukul 17:51 WIB Linklater, Andrew, The Evolving Spheres of International Justice, International Affairs (Royal Institute of International Affairs, 1944 -), Vol. 75, No. 3, (Jul., 1999).

Critical Theory Critical Theory telah berpengaruh dalam Hubungan Internasional sejak pertengahan 1980an. Penamaancritical kadang-kadang diterapkan pada beberapa pendekatan termasuk feminisme dan postmodernisme, dalam bab ini "teori kritis" mengacu khusus untuk sekolah yang memiliki akar intelektualnya dari Marxisme (Jill Steans and Lloyd Pettiford & Thomas Diez, 2005) Teori Kritis adalah sebutan untuk orientasi tertentu yang bersumber dari Hegel dan Marx, diestimasikan oleh Horkheimer dan sejawatnya di Institut Penelitian Sosial di Frankfurt School dan Jurgen Habermas (Chris Brown, 1994). Critical Theory dan Structuralisme hampir memiliki banyak kesamaan, misalkan, konsep Critical Theory dalam tatanan dunia dan institusi sedangkan structuralism menguraikan accounts dari Marxism. Walaupun begitu, Critical Theory tetap berbeda dalam beberapa aspek penting dari Strukturalisme dan menjamin perlakuan yang berbeda(Jill Steans and Lloyd Pettiford & Thomas Diez, 2005). Teori Kritis ini kemudian berani untuk menanyakan penyebab dari selalu gagalnya teori-teori sebelumnya dalam kehidupan nyata. Tujuan Critical Theory adalah restrukturisasi teori sosial dan politik yang melibatkan kedua pendekatan positivis dalam ilmu sosial dan pengusulan alternatif. Taylor mengatakan, tantangan positivisme adalah dalam hal interpretas dan menggambarkan hermeneutika, tetapi teori yang paling berpengaruh dalam Critical Theory adalah Jurgen Habermas yang karyanya tumbuh dari institu Penelitian Sosial di Frankfurt. Institu Frankfurt awalnya menginspirasi pikirannya dari teori Marxis, namun pasca 1933 teori tersebut mengalami pesimisme tentang prospek perubahan sosial yang semakin progresif. Habermas telah membangun Frankfurt Critical Theory dan lambat laun menghilangkan budaya Marxis. (Chris Brown, 1994). Timbul beberapa pemikir yang epistemologis, ontologis dan pertanyaan normative, seperti Richard Ashley, Robert W. Cox, Andrew Linklater, John Maclean and Mark Hoffman dibawahcritical social theory. Pada tahun 1990an muncullah generasi critical international theorist seperti Karin Fierke, Stephen Gill, Kimberly Hutchings, Mark Neufeld, and Richard Shapcitt. Critical international theory lebih mendalam daripada eklektik dalam sumber intelektualnya, namun sekarang makin meluas dengan berkembangnya perspektif theoritical pada metode dan argumen Aristotelean, Foucaulitian, Gadarmerian, Hegelian, and Wittgensteinian (Richard Devetak,2001)

Teori Kritis berusaha untuk mematahkan pemikiran teori lama dengan cara melihat sisi lain dengan cara pandang yang berbeda. Contohnya pada kepesimisan kaum realism dimana mereka menganggap bahwa dunia tidak akan perna damai selama negara masih menjadi aktor utama dalam hubungan internasional. Pernyataan tersebut kemudian dikritik oleh teori kritis bahwa perdamaian mungkin saja terbentuk meskipun tidak absolut, hal tersebut ditinjau mulai bersatunya kebanyakan Negara di dunia melalui kerja sama antar Negara di dunia melalui kerja sama antar Negara. Namun karena pada dasarnya teori ini berawal dari pemikiran marxisme, maka pembebasan yang diproyekkan oleh teori ini lebih merupakan pendasaran dan pemerdekaan dalam seluruh bidang manusia atas praktis kapitalis. (Andrew Linklater, 1996) Ciri-ciri Teori Kritis, yaitu yang pertama, adalah kritis terhadap masyarakat ; kedua, teori kritik berpikir secara histris ; ketiga, teori kritis tidak menutup menutup diri darri kemungkinan jatuhnya teori dalam suatu bentuk ideologis yang dimiliki oleh struktur dasar masyarakat ; keempat teori kritis tidak memisahkan antara teori dan praktek. Dari ciri-ciri tersebut dapat dilihat bahwa Teori Kritis lebih fleksibel jika dibandingkan dengan teori-teori sebelumnya. Teori ini berkembang berdasarkan masyarakat disamping juga tetap memperhatikan sisi historis suatu permasalahan. Menurut Teori Kritis bahwa sebuah teori atau ilmu yang bebas nilai adalah palsu. Teori harus memiliki kekuatan, nilai dan kebebasan untuk mengkritik dirinya sendiri dan menghindari kemungkinan untuk menjadi ideologi (Majalah Filsafat Drikarya, 1997). Teori internasional kritis ciptaan Linklater mengakui bahwa penilaian menyeluruh prospek emansipatori harus meliputi tekanan yang berusaha menentang emansipasi atau menghalangi realisasinya. Dalam neo-realisme sebuah kasusu diciptakan untuk menghalangi realisasinya. Dalam neo-realisme sebuah kasus diciptakan untuk menjelaskan pemunculan kembali dan pengulangan perang dan kekuasaan politik pada basis anarki internasional. Berkisar pada perjuangan Negara dalam memperoleh kekuasaan, keamanan dan kendali atas keadaan anarki, neo-realsime menyimpulkan bahwa transformasi politik global yang damai benar-benar tidak mungkin terjadi. Neo-realisme gagal memahami yang tidak bisa lepas dalam kehidupan sosial dan politik dan kontribusinya terhadap tatanan hal-hal yang ada dengan mengakui tatanan tersebut sebagai kerangka kerjanya (Scott Burchill and Andrew Linklater, 1996) Menurut Linklater, rasionalisme menguraikan neo-realisme karena rasionalisme menyoroti komitmen praktis Negara terhadap konsensus dan tatanan tanpa meremehkan pentingnya kepentingan teknisnya dalam kekuasaan dan pengaruh. Hanya teori kritis yang bisa mengoreksi kekurangan-kekurangan yang ada dalam rasionalisme tersebut, tetapi Linklater dengan hati-hati menyimpulkan bahwa rasionalisme menandai adanya tahap yang krusial dalam perkembangan teori internasional kritis. (Scott Burchill and Andrew Linklater, 1996) Bisa dilihat bahwa teori-teori internasional kritis membuat alasan yang kuat untuk memperhatikan lebih dekat hubungan antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai ini. Salah satu kontribusi utamanya adalah menyikap kepentingan yang mengantarkan realisme dan neorealisme serta implikasi politik praktis yang berawal dari hal ini, terutama pertanyaan-pertanyaan mengenai sejarah dan perubahan politik. Semua ini didasari oleh kepentingan ekspilit dalam menantang dan menghilangkan ketidak leluasaan yang dihasilkan sosial terhadap kebebasan manusia, yang dengan demikian memberikan kontribusi kepada perubahan hubungan internasional yang memungkinkan. (Scott Burchill and Andrew Linklater, 1996)

Kepentingan emansipatoris dari teori kritis adalah berkaitan dengan mengamankan dari kendala, di dominasi oleh hubungan, dan kodisi dari komunikasi yang menyimpang dan mengerti bahwa manusia mempunyai kapasitas untuk masa depan mereka dengan banyak keinginan dan kesadaran. Hal ini berlawanan dengan teori pemecahan masalah yang lebih menerima apa yang biasa Linklater katakan kekekalan tesis. Teori kritis berkomitmen untuk memperluas organisasi, adil, dan demokrasi dalam organisasi politik luar negeri untuk seluruh umat manusia. (Richard Devetak,2001) Reference : Brown, Chris, 1994. Critical theory and postmodernism in international relations, in; A.J.R. Groom & Margot Light (eds.), Contemporary International Relations: A Guide to Theory. Pinter, pp. 56-68. -Devetak, Richard, 2001. Critical Theory, in; Scott Burchill, et al, Theories of International Relations, Palgrave, pp. 155-180. -Linklater, Andrew, 1996. The achievements of critical theory, in; Steve Smith, Ken Booth & Marysia Zalewski (eds.) International Theory: Positivism and Beyond, Cambridge University Press, pp. 279-300. -Steans, Jill and Pettiford, Lloyd & Diez, Thomas, 2005. Introduction to International Relations, Perspectives & Themes, 2nd edition, Pearson & Longman, Chap. 4, pp. 103-128.

Critical Theory Perkembangan studi ilmu hubungan internasional (HI) todak terlepas dari perdebatan dan proses saling berdialog atau disebut dialektik. Adalah critical theory yang mulai berpengaruh dalam studi HI sejak tahun 1980an yang membawa warna baru dalam HI. Critical theory pada mulanyaa bukanlah perspektif HI murni namun berasal dari ilmu sosial yang berakar dari pemikiran Marxis. Untuk itu dalam tulisan ini akan dibahas origin, asumsi dasarnya, argument, tema utama dan kritik terhadap perspektif ini. Seperti yang sudah disebutkan, critical theory berakar dari pemikiran Marx, Weber dan tokoh sosial lainnya. Untuk alas an ini, critical theory sering disebut sebagai open Marxism atau marxist humanism. Karena berangkat dari pemikiran Marx, critica theory mengedepankan emansipatori atau pembebasan. Critical theory juga diilhami oleh masa enlightment dimana manusia mulai memiliki kesadaran untuk menentukan sejarahnya sendiri. Sering timbul kerancuan mengenai istilah critical theory. Dalam bidang filsafat dan sejarah, critical theory dibagi menjadi dua. Yang pertama, segala pemikiran yang mengedepankan pada emansipatori seperti feminisme, post-kolonial dan Critical Theory-Frankfurt School. Untuk aliran yang satu ini akan disebutkan menggunakan huruf kecil, yakni critical theory. Yang kedua, adalah perspektif yang berkembang dalam HI yang juga dikenal dengan Frankfurt School of thought atau yang akan disebut dengan huruf besar Critical Theory (CT), yang akan kita bahas.

Kemunculan CT diawali dengan berkembangnya Frankfurt School of thought tahun 1920an1930an. Tokoh-tokohnya yang terkenal seperti Habermas dan Gramsci. Teori ini disebut teori kritis karena menggunakan kapasitas manusia dalam hal mengkritik melalui pandangan individu itu terhadap dunia, berdasar pengetahuan yang dimiliki individu itu. Teori kritis menempatkan masyarakat sebagai objek analisanya dengan fokusnya pada emansipasi dalam hubungan sosial. CT memiliki asumsi dasar yang cukup terpengaruh oleh pemikiran Marxis antara lain, yang pertama, bahwa human nature tidak tetap dan esensial, sifat manusia ditentukan oleh kondisi sosial pada masa itu. Hal ini berbeda dengan teori tradisional lain seperti realisme dan liberalisme yang menganggap sifat dasar manusia baik atau buruk. Yang kedua, setiap individu dapat dikelompokkan dalam kelompok yang tercirikan yang memiliki kepentingan yang kongkret. Yang ketiga, tidak ada fakta tentang dunia, nilai yang kita percaya mempengaruhi penilaian dan penjelasan kita terhadap dunia. CT berasumsi bahwa proses kognitif dipengaruhi oleh nilai, ideologi dan kepentingan yang berkembang dalam kondisi sosialnya. Karena sifat manusia dipengaruhi kondisi sosial, maka proses kognitif manusia dalam melihat suatu fenomena pun pasti dipengaruhi nilai, ideologi dan kepentingan tertentu. Hal ini sebagai kritik bagi revolusi Behavioralisme yang terjadi dalam studi HI antara 1960an-1970an yang mana menganggap bahwa ilmu sosial dapat diperlakukan sama seperti sains, sehingga perilaku dalam ilmu sosial dapat diprediksi. CT menekankan bahwa ilmu sosialtermasuk HI di dalamnya adalah tidak bebas nilai. Yang keempat, pengetahuan sangat erat hubungannnya dengan kepentingan manusia untuk emansipasi,. Yang kelima, mengesampingkan perbedaanseperti ras, gender, etnissemua manusia berbagi kepentingan untuk mencapai pembebasan (emansipasi), dan teori kritis sebagai doktrin universal mengenai hal ini (Steans and Pettiford, 2005 dengan beberapa ulasan dari penulis). Ada beberapa tema yang dibahas dalam CT yang pertama, bahwa negara mendukung kapitalisme global. Negara oleh CT, dianggap tidak mewakili kepentingan rakyatnya. Yang kedua, emansipasi atau pembebasan. Pembebasan disini dimaksudkan dengan pembebasan dari segala bentuk dominasi, seperti misalnya dominasi kelas the have terhadap the have not dalam sistem kapitalis. Habermas menawarkan solusi bagi emansipatori ini dengan diadakannya open dialog, dengan prinsip discourse ethic yang bertujuan untuk memberikan pengertian antar komunitas politik. Ada beberapa kritik terhadap teori ini. Yang pertama, Gramsci, sebagai salah satu pemikirnya dianggap terlalu berfokus kelas-kelas dalam bidang ekonomi. Namun, hal ini telah berhasil diseimbangkan oleh para pemikir lain dari critical theory seperti misalnya masalah gender, lingkungan dan lai sebagainya. Kritik yang kedua, terhadap solusi yang ditawarkan oleh Habermas, yakni open dialog, dimana dalam dialog terbuka tersebut tentunya sulit untuk menyatukan pemikiran karena adanya kesenjangan antar partisipan. Setiap kelompok pasti membawa kepentingannya masing-masing dan kelompok the have pasti akan mendominasi yang mengakibatkan suara dari the have nottidak atau kurang didengar. Demikian sedikit ulasan tentang Critical Theory dalam Hubungan Internasional.

Daftar pustaka:

Brown, Chris, 1994. Critical theory and postmodernism in international relations, in; A.J.R. Groom & Margot Light (eds.), Contemporary International Relations: A Guide to Theory. Pinter, pp. 56-68. Devetak, Richard, 2001. Critical Theory, in; Scott Burchill, et al, Theories of International Relations, Palgrave, pp. 155-180. Linklater, Andrew, 1996. The achievements of critical theory, in; Steve Smith, Ken Booth & Marysia Zalewski (eds.) International Theory: Positivism and Beyond, Cambridge University Press, pp. 279-300. Linklater, Andrew. 2007. Critical Theory, in Martin Griffiths, International Relations Theory for Twenty-First Century, Routledge, pp. 47-59 Steans, Jill and Pettiford, Lloyd & Diez, Thomas, 2005. Introduction to International Relations, Perspectives & Themes, 2nd edition, Pearson & Longman, Chap. 4, pp. 103128.

Anda mungkin juga menyukai