Anda di halaman 1dari 90

PRAKTEK PENDIDIKAN MACRO DAN MICRO TEACHING Disunsun Dalam Rangka Memenuhi Tugas Mata Kulia Praktek Pendidikan

MATERI I : I ASKEB III (NIFAS) Konsep dasar nifas a. Tujuan asuhan masa nifas b. Peran dan Tanggung jawab bidan dalam masa nifas MATERI II a. Tahapan masa nifas b. Kebijakan program Nasional masa nifas c. Perubahan fisioligis, psikologis masa nifas Praktek Klinik : Perawatan Payudara

Disusun Oleh : NURIL MASRUCHAH NIM : 2011 02 0500

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA PROGRAM STUDI D IV BIDAN PENDIDIK JOMBANG 2012

RENCANA PELAKSANAAN PRAKTEK KEPENDIDIKAN ( MACRO TEACHING )

Disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Praktek pendidikan

Disusun Oleh : NURIL MASRUCHAH NIM : 2011 02 0500

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA PROGRAM STUDI D IV BIDAN PENDIDIK JOMBANG 2012

LEMBAR PERSETUJUAN Laporan rencana pembelajaran ini telah diperiksa dan disetujui oleh :

Mengetahui

Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. Soelijah Hadi.M.Kes.MM NPP : 010 201 002

Istiadah Fatmawati,SST NPP : .

Ka, Prodi D IV Bidan Pendidik

Semi Naim, S.S.T.M.Kes NPP : 010 305 020

Mengetahui, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Jombang

Dra.Hj.Soelijah Hadi, MKes. MM NPP : 010 201 001

KATA PENGANTAR

Kami panjatkan puji syukur kepada tuhan yang maha esa, dengan rahmat dan karuniaNya saya dapat menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Rencana pembelajaran ini saya sunsun dan saya ajukan sebagai pemenuhan tugas PKK D- IV pendidik di stikes husada jombang Dalam kesempatan ini saya menyampaikan banyak terima kasi atas bimbingan semua pihak sehingga tugas peraktek kebidanan ini dapat terselesaikan, untuk itu saya mengucapkan terima kasi kepada : 1. Dra. Soelijah hadi,M.Kes, MM., selaku ketua STIKES Husada Jombang 2. Semi naim, SST, MM. Kes, selaku ketua program studi D- IV Bidan Pendidik sekolah tinggi ilmu kesehatan Husada Jombang 3. Dra. Soelijah hadi,M.Kes, MM.,selaku pembimbing praktek kebidanan 4. Istiadah Fatmawati, SST selaku dosen pamong. Demikian sehingga dapat digunakan sebagai panduan dalam memberikan bimbingan secara optimal kepada para mahasiswa setudi D- IV kebidanan, sesuai dengan tarjet kopentensi yang harus di capai

Jombang, .. 2012

Penyusun

PEMBELAJARAN 1 ASKEB III (NIFAS) KONSEP DASAR NIFAS

SILABUS ASKEB III (NIFAS) KONSEP DASAR NIFAS

DISUSUN DALAM RANGKA MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH PRAKTEK PENDIDIKAN SILABUS

Disusun Oleh : NURIL MASRUCHAH NIM : 2011 02 0500

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA PROGRAM STUDI D IV BIDAN PENDIDIK JOMBANG 2012

SILABUS

Mata Kuliah Kode MK / SKS Tingkat / Semerter Alokasi Waktu

: ASKEB III ( Nifas ) : Bd. 303 /2 SKS : 2 / III : 2 X 50 menit

A. DISKRIPSI MATA KULIAH Mata kuliah ini memberikan kemampuan untuk melaksanakan asuhan pada nifas dengan pendekatan manajemen kebidanan di dasari konsep, sikap, dan keterampilan dengan pokok bahasan: Konsep dasar masa nifas, respon orang tua terhadap bayi bayi baru lahir, proses adaptasi, fisiologi dan psikologi masa nifas, kebutuhan dasar masa nifas, kebutuhan dasar masa nifas, melaksanakan asuhan kebidanan pada masa nifas melaksanakan kunjungan rumah pada ibu masa nifas, deteksi dini komplikasi masa nifas dan pendokumentasiannya.

B. TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Menjelaskan konsep dasar masa nifas 2. Menjelaskan proses laktasi dan menyusui 3. Menjelaskan respon orang tua terhadap bayi baru lahir 4. Menjelaskan perubahan fisiologis 5. Menjelaskan proses adaptasi fisiologis dan psikologis ibu dalam masa nifas 6. Mengidentifikasi kebutuhan dasar ibu masa nifas 7. Melaksanakan asuhan kebidanan pada masa nifas

8. Melaksanakan program tindak lanjut asuhan masa nifas 9. Menjelaskan cara deteksi dini komplikasi pada masa nifas dan penangannya 10. Mendokumentasikan hasil asuhan masa post partum

C. PROSES PEMBELAJARAN T : Dilaksanakan di kelas dengan menggunakan ceramah, seminar dan penugasan P : Dilaksanakan di kelas, laboratorium (baik di kampus maupun dilahan praktek) dengan menggunakan metoda simulasi, demonstrasi, role play dan bed side teaching.

D. Evaluasi Teori 1. UTS 2. UAS Praktek 1. Tugas : 15% 2. Latihan: 20% : 10% : 15%

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) ASKEB III (NIFAS) KONSEP DASAR NIFAS

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Kuliah Kode MK / SKS Tingkat / Semerter Pertemuan ke Alokasi Waktu Standart Kompetensi

: ASKEB III ( Nifas ) : Bd. 303 /2 SKS : 2 / III :3 : 2 x 50 menit :Mahasiswa mampu memahami konsep dasar masa nifas

Kompetensi Dasar

:Pada akhir perkuliahan mahasiswa mampu menjelaskan konsep dasar masa nifas.

Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan

: Pengertian masa nifas. :

1. Tujuan asuhan masa nifas 2. Peran dan tanggung jawab bidan dalam masa nifas. Kegiatan Belajar Tahap : Kegiatan Mahasiswa 1. Menjawab salam 2. Memperhatikan 3. Memperhatikan Media dan Alat Pengajar Slide power point

Kegiatan Pengajaran

Pendahuluan 1. Mengucap salam 10 menit 2. Memperkenalkan diri 3. Menjelaskan materi yang akan di sampaikan 4. Menjelaskan tujuan pembelajaran : asuhan masa nifas, peran dan tanggung jawab bidan dalam masa nifas.

4. Memperhatikan

Penyajian (80 menit)

1. Menjelaskan 1. Memperhatikan tujuan asuhan masa nifas 2. Menjelaskan Peran 2. Memperhatikan dan tanggung jawab bidan dalam masa nifas. 3. Mempersilakan 3. Memperhatikan, salah satu menguraikan hasil mahasiswa untuk pembelajaran yang mengulas kembali di dapat dari inti dari materi dosen. Dan yang telah mengajukan disampaikan dan pertanyaan mengajukan pertanyaan

Penutup (10 1. Menyimpulkan 1. Memperhatikan menit) hasil materi yang telah di berikan 2. Memberikan 2. Menjawab pertanyaan pertanyaan 3. Mengucapkan 3. Menjawab salam salam

Evaluasi Prosedur Jenis Bentuk

: : Tes akhir perkuliahan : Lisan : Subyektif

Pertanyaan : Pertanyaan tes tulis dan lisan : 1. Jelaskan definisi masa nifas ? 2. Jelaskan tujuan asuhan masa nifas ? 3. Jelaskan peran dan tanggung jawab bidan dalam masa nifas ?

Jawab : 1. Definisi masa nifas Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu setelah melahirkan (Pusdiknakes, 2003:003). Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu. (Abdul Bari,2000:122). Masa nifas merupakan masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran yang meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil yang normal. (F.Gary cunningham,Mac Donald,1995:281). Masa nifas adalah masa setelah seorang ibu melahirkan bayi yang dipergunakan untuk memulihkan kesehatannya kembali yang umumnya memerlukan waktu 6- 12 minggu. ( Ibrahim C, 1998). 2. Tujuan asuhan masa nifas Tujuan dari pemberian asuhan pada masa nifas untuk : Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis. Melaksanakan skrinning secara komprehensif, deteksi dini, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, cara dan manfaat menyusui, pemberian imunisasi serta perawatan bayi sehari-hari. Memberikan pelayanan keluarga berencana.

Mendapatkan kesehatan emosi

3. Peran dan tanggung jawab bidan dalam masa nifas Bidan memiliki peranan yang sangat penting dalam pemberian asuhan post partum. Adapun peran dan tanggung jawab dalam masa nifas antara lain : Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa nifas sesuai dengan kebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan fisik dan psikologis selama masa nifas. Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi serta keluarga. Mendorong ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan rasa nyaman. Membuat kebijakan, perencana program kesehatan yang berkaitan ibu dan anak dan mampu melakukan kegiatan administrasi. Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan. Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara mencegah perdarahan, mengenali tanda-tanda bahaya, menjaga gizi yang baik, serta mempraktekkan kebersihan yang aman. Melakukan manajemen asuhan dengan cara mengumpulkan data, menetapkan diagnosa dan rencana tindakan serta melaksanakannya untuk mempercepat proses pemulihan, mencegah komplikasi dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama priode nifas. Memberikan asuhan secara professional.

HAND OUT ASKEB III (NIFAS) KONSEP DASAR NIFAS

HAND OUT KONSEP DASAR MASA NIFAS

Tujuan pembelajaran Mahasiswa setelah mengikuti mata kuliah ini dapat :

1. Menjelaskan pengertian masa nifas 2. Menjelaskan tujuan asuhan masa nifas 3. Menjelaskan peran dan tanggungjawab bidan dalam masa nifas 4. Menjelaskan tahapan masa nifas 5. Mengetahui kebijakan program nasional masa nifas

Pengertian Masa Nifas

1. Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu setelah melahirkan (Pusdiknakes, 2003:003). 2. Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kirakira 6 minggu. (Abdul Bari,2000:122). 3. Masa nifas merupakan masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran yang meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil yang normal. (F.Gary cunningham,Mac Donald,1995:281). 4. Masa nifas adalah masa setelah seorang ibu melahirkan bayi yang dipergunakan untuk memulihkan kesehatannya kembali yang umumnya memerlukan waktu 6- 12 minggu. ( Ibrahim C, 1998).

Tujuan Asuhan Masa Nifas

Tujuan dari pemberian asuhan pada masa nifas untuk :

1. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis. 2. Melaksanakan skrinning secara komprehensif, deteksi dini, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi. 3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, cara dan manfaat menyusui, pemberian imunisasi serta perawatan bayi sehari-hari. 4. Memberikan pelayanan keluarga berencana. 5. Mendapatkan kesehatan emosi.

Peran dan Tanggung Jawab Bidan dalam Masa Nifas.

Bidan memiliki peranan yang sangat penting dalam pemberian asuhan post partum. Adapun peran dan tanggung jawab dalam masa nifas antara lain :

1. Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa nifas sesuai dengan kebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan fisik dan psikologis selama masa nifas. 2. Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi serta keluarga. 3. Mendorong ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan rasa nyaman. 4. Membuat kebijakan, perencana program kesehatan yang berkaitan ibu dan anak dan mampu melakukan kegiatan administrasi. 5. Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan.

6. Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara mencegah perdarahan, mengenali tanda-tanda bahaya, menjaga gizi yang baik, serta mempraktekkan kebersihan yang aman. 7. Melakukan manajemen asuhan dengan cara mengumpulkan data, menetapkan diagnosa dan rencana tindakan serta melaksanakannya untuk mempercepat proses pemulihan, mencegah komplikasi dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama priode nifas. 8. Memberikan asuhan secara professional.

POWER POINT ASKEB III (NIFAS) KONSEP DASAR NIFAS

PEMBELAJARAN 2 ASKEB III (NIFAS) KONSEP DASAR NIFAS

SILABUS ASKEB III (NIFAS) KONSEP DASAR NIFAS

DISUSUN DALAM RANGKA MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH PRAKTEK PENDIDIKAN SILABUS

Disusun Oleh : NURIL MASRUCHAH NIM : 2011 02 0500

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA PROGRAM STUDI D IV BIDAN PENDIDIK JOMBANG 2012

SILABUS ASKEB III (NIFAS) KONSEP DASAR NIFAS

DISUSUN DALAM RANGKA MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH PRAKTEK PENDIDIKAN SILABUS

Disusun Oleh : NURIL MASRUCHAH NIM : 2011 02 0500

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA PROGRAM STUDI D IV BIDAN PENDIDIK JOMBANG 2012

SILABUS

Mata Kuliah Kode MK / SKS Tingkat / Semerter Alokasi Waktu

: ASKEB III ( Nifas ) : Bd. 303 /2 SKS : 2 / III : 2 X 50 menit

A. DISKRIPSI MATA KULIAH Mata kuliah ini memberikan kemampuan untuk melaksanakan asuhan pada nifas dengan pendekatan manajemen kebidanan di dasari konsep, sikap, dan keterampilan dengan pokok bahasan: Konsep dasar masa nifas, respon orang tua terhadap bayi bayi baru lahir, proses adaptasi, fisiologi dan psikologi masa nifas, kebutuhan dasar masa nifas, kebutuhan dasar masa nifas, melaksanakan asuhan kebidanan pada masa nifas melaksanakan kunjungan rumah pada ibu masa nifas, deteksi dini komplikasi masa nifas dan pendokumentasiannya.

B. TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Menjelaskan konsep dasar masa nifas 2. Menjelaskan proses laktasi dan menyusui 3. Menjelaskan respon orang tua terhadap bayi baru lahir 4. Menjelaskan perubahan fisiologis 5. Menjelaskan proses adaptasi fisiologis dan psikologis ibu dalam masa nifas 6. Mengidentifikasi kebutuhan dasar ibu masa nifas

7. Melaksanakan asuhan kebidanan pada masa nifas 8. Melaksanakan program tindak lanjut asuhan masa nifas 9. Menjelaskan cara deteksi dini komplikasi pada masa nifas dan penangannya 10. Mendokumentasikan hasil asuhan masa post partum

C. PROSES PEMBELAJARAN T : Dilaksanakan di kelas dengan menggunakan ceramah, seminar dan penugasan P : Dilaksanakan di kelas, laboratorium (baik di kampus maupun dilahan praktek) dengan menggunakan metoda simulasi, demonstrasi, role play dan bed side teaching.

D. Evaluasi Teori 3. UTS 4. UAS Praktek 3. Tugas : 15% 4. Latihan: 20% : 10% : 15%

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) ASKEB III (NIFAS) KONSEP DASAR NIFAS

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Kuliah Kode MK / SKS Tingkat / Semerter Pertemuan ke Alokasi Waktu Standart Kompetensi

: ASKEB III ( Nifas ) : Bd. 303 /2 SKS : 2 / III :3 : 2 jam :Mahasiswa mampu memahami konsep dasar masa nifas

Kompetensi Dasar

:Pada akhir perkuliahan mahasiswa mampu menjelaskan konsep dasar masa nifas

Pokok Bahasan Sub Pokok Bahasan 1. Tahapan masa nifas

: Menjelaskan konsep dasar ibu nifas :

2. Kebijakan program Nasional masa nifas Kegiatan Belajar Tahap : Kegiatan Mahasiswa 1. Menjawab salam 2. Memperhatikan 3. Memperhatikan Media dan Alat Pengajar Slide power point

Kegiatan Pengajaran

Pendahuluan 1. Mengucap salam 10 menit 2. Memperkenalkan diri 3. Menjelaskan materi yang akan di sampaikan 4. Menjelaskan tujuan pembelajaran : Tahapan masa nifas, kebijakan program Nasional masa nifas, perubahan

4. Memperhatikan

fisiologis psikologis nifas Penyajian (60 menit)

dan masa

1. Menjelaskan 1. Memperhatikan Tahapan masa nifas 2. Menjelaskan 2. Memperhatikan, Kebijakan program mengajukan Nasional masa pertanyaan nifas 3. Mempersilakan 3. Menguraikan hasil salah satu penangkapan mahasiswa untuk materi dan mengulas kembali ngejukan inti dari materi pertanyaan yang telah disampaikan dan mengajukan pertanyaan

Penutup (20 menit) 1. Menyimpulkan 1. Memperhatikan hasil materi yang telah di berikan 2. Memberikan 2. Menjawab pertanyaan pertanyaan 3. Mengucapkan 3. Menjawab salam salam

Evaluasi Prosedur Jenis Bentuk

: : Tes akhir perkuliahan : Lisan : Subyektif

Pertanyaan : Pertanyaan tes tulis dan lisan : 1. Jelaskan Tahapan masa nifas? 2. Jelaskan kebijakan program Nasional masa nifas ?

Jawaban : 1. Tahapan masa nifas Masa nifas terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu : Puerperium dini Suatu masa kepulihan dimana ibu diperbolehkan untuk berdiri dan berjalan-jalan. Puerperium intermedial Suatu masa dimana kepulihan dari organ-organ reproduksi selama kurang lebih enam minggu. Remote puerperium Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat kembali dlam keadaan sempurna terutama ibu bila ibu selama hamil atau waktu persalinan mengalami komplikasi. 2. Kebijakan program nasional masa nifas Kebijakan program nasional pada masa nifas yaitu paling sedikit empat kali melakukan kunjungan pada masa nifas, dengan tujuan untuk : 1. Menilai kondisi kesehatan ibu dan bayi. 2. Melakukan pencegahan terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya gangguan kesehatan ibu nifas dan bayinya. 3. Mendeteksi adanya komplikasi atau masalah yang terjadi pada masa nifas. 4. Menangani komplikasi atau masalah yang timbul dan mengganggu kesehatan ibu nifas maupun bayinya.

HAND OUT ASKEB III (NIFAS) KONSEP DASAR NIFAS

Tahapan Masa Nifas


Masa nifas terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu : 1. Puerperium dini Suatu masa kepulihan dimana ibu diperbolehkan untuk berdiri dan berjalan-jalan. 2. Puerperium intermedial Suatu masa dimana kepulihan dari organ-organ reproduksi selama kurang lebih enam minggu. 3. Remote puerperium Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat kembali dlam keadaan sempurna terutama ibu bila ibu selama hamil atau waktu persalinan mengalami komplikasi.

Kebijakan Program Nasional Masa Nifas

Kebijakan program nasional pada masa nifas yaitu paling sedikit empat kali melakukan kunjungan pada masa nifas, dengan tujuan untuk :

1. Menilai kondisi kesehatan ibu dan bayi. 2. Melakukan pencegahan terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya gangguan kesehatan ibu nifas dan bayinya. 3. Mendeteksi adanya komplikasi atau masalah yang terjadi pada masa nifas. 4. Menangani komplikasi atau masalah yang timbul dan mengganggu kesehatan ibu nifas maupun bayinya.

Asuhan yang diberikan sewaktu melakukan kunjungan masa nifas:

Kunjungan

Waktu

Asuhan Mencegah perdarahan masa nifas oleh karena atonia uteri. Mendeteksi dan perawatan penyebab lain perdarahan serta melakukan rujukan bila perdarahan berlanjut. Memberikan konseling pada ibu dan keluarga tentang cara mencegah perdarahan yang disebabkan atonia uteri.

6-8 jam post partum

Pemberian ASI awal. Mengajarkan cara mempererat hubungan antara ibu dan bayi baru lahir. Menjaga bayi tetap sehat melalui pencegahan hipotermi. Setelah bidan melakukan pertolongan persalinan, maka bidan harus menjaga ibu dan bayi untuk 2 jam pertama setelah kelahiran atau sampai keadaan ibu dan bayi baru lahir dalam keadaan baik. Memastikan involusi uterus barjalan dengan normal, uterus berkontraksi dengan baik, tinggi fundus uteri di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi dan perdarahan.

II

6 hari post Memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup. partum Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi dan cukup cairan. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan benar serta tidak ada tanda-tanda kesulitan menyusui. Memberikan konseling tentang perawatan bayi baru lahir. 2 minggu Asuhan pada 2 minggu post partum sama dengan asuhan post yang diberikan pada kunjungan 6 hari post partum. partum 6 minggu Menanyakan penyulit-penyulit yang dialami ibu selama masa nifas. post partum Memberikan konseling KB secara dini.

III

IV

Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Kardiovaskuler Volume darah normal yang diperlukan plasenta dan pembuluh darah uterin, meningkat selama kehamilan. Diuresis terjadi akibat adanya penurunan

hormon estrogen, yang dengan cepat mengurangi volume plasma menjadi normal kembali. Meskipun kadar estrogen menurun selama nifas, namun kadarnya masih tetap tinggi daripada normal. Plasma darah tidak banyak mengandung cairan sehingga daya koagulasi meningkat. Aliran ini terjadi dalam 2-4 jam pertama setelah kelahiran bayi. Selama masa ini ibu mengeluarkan banyak sekali jumlah urin. Hilangnya progesteron membantu mengurangi retensi cairan yang melekat dengan meningkatnya vaskuler pada jaringan tersebut selama kehamilan bersama-sama dengan trauma selama persalinan. Kehilangan darah pada persalinan per vaginam sekitar 300-400 cc, sedangkan kehilangan darah dengan persalinan seksio sesarea menjadi dua kali lipat. Perubahan yang terjadi terdiri dari volume darah dan hemokonsentrasi. Pada persalinan per vaginam, hemokonsentrasi akan naik dan pada persalinan seksio sesarea, hemokonsentrasi cenderung stabil dan kembali normal setelah 4-6 minggu. Pasca melahirkan, shunt akan hilang dengan tiba-tiba. Volume darah ibu relatif akan bertambah. Keadaan ini akan menimbulkan dekompensasi kordis pada penderita vitum cordia. Hal ini dapat diatasi dengan mekanisme kompensasi dengan timbulnya hemokonsentrasi sehingga volume darah kembali seperti sediakala. Pada umumnya, hal ini terjadi pada hari ketiga sampai kelima post patum.

Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Hematologi

Pada minggu-minggu terakhir kehamilan, kadar fibrinogen dan plasma serta faktor-faktor pembekuan darah meningkat. Pada hari pertama post partum, kadar fibrinogen dan plasma akan sedikit menurun tetapi darah lebih mengental dengan peningkatan viskositas sehingga meningkatkan faktor pembekuan darah. Leukositosis adalah meningkatnya jumlah sel-sel darah putih sebanyak 15.000 selama persalinan. Jumlah leukosit akan tetap tinggi selama beberapa hari pertama masa post partum. Jumlah sel darah putih akan tetap bisa naik lagi sampai 25.000 hingga 30.000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita tersebut mengalami persalinan lama. Pada awal post partum, jumlah hemoglobin, hematokrit dan eritrosit sangat bervariasi. Hal ini disebabkan volume darah, volume plasenta dan tingkat volume darah yang berubah-ubah. Tingkatan ini dipengaruhi oleh status gizi dan hidarasi dari wanita tersebut. Jika hematokrit pada hari pertama atau kedua lebih rendah dari titik 2 persen atau lebih tinggi daripada saat memasuki persalinan awal, maka pasien dianggap telah kehilangan darah yang cukup banyak. Titik 2 persen kurang lebih sama dengan kehilangan darah 500 ml darah. Penurunan volume dan peningkatan sel darah pada kehamilan

diasosiasikan dengan peningkatan hematokrit dan hemoglobin pada hari ke 3-7

post

partum

dan

akan

normal

dalam

4-5

minggu

post

partum.

Jumlah kehilangan darah selama masa persalinan kurang lebih 200-500 ml, minggu pertama post partum berkisar 500-800 ml dan selama sisa masa nifas berkisar 500 ml. Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Pencernaan Sistem gastrointestinal selama kehamilan dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya tingginya kadar progesteron yang dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan kolestrol darah, dan melambatkan kontraksi otot-otot polos. Pasca melahirkan, kadar progesteron juga mulai menurun. Namun demikian, faal usus memerlukan waktu 3-4 hari untuk kembali normal. Beberapa hal yang berkaitan dengan perubahan pada sistem pencernaan, antara lain: 1. Nafsu makan. 2. Motilitas. 3. Pengosongan usus.

1. Nafsu Makan Pasca melahirkan, biasanya ibu merasa lapar sehingga diperbolehkan untuk mengkonsumsi makanan. Pemulihan nafsu makan diperlukan waktu 34 hari sebelum faal usus kembali normal. Meskipun kadar progesteron menurun setelah melahirkan, asupan makanan juga mengalami penurunan selama satu atau dua hari. 2. Motilitas Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anastesia bisa memperlambat pengembalian tonus dan motilitas ke keadaan normal. 3. Pengosongan Usus Pasca melahirkan, ibu sering mengalami konstipasi. Hal ini disebabkan tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan awal masa pascapartum, diare sebelum persalinan, enema sebelum melahirkan, kurang makan, dehidrasi, hemoroid ataupun laserasi jalan lahir. Sistem pencernaan pada masa nifas membutuhkan waktu untuk kembali normal. Beberapa cara agar ibu dapat buang air besar kembali teratur, antara lain: 1. Pemberian diet / makanan yang mengandung serat. 2. Pemberian cairan yang cukup. 3. Pengetahuan tentang pola eliminasi pasca melahirkan. 4. Pengetahuan tentang perawatan luka jalan lahir. 5. Bila usaha di atas tidak berhasil dapat dilakukan pemberian huknah atau obat yang lain.

Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Perkemihan Pada masa hamil, perubahan hormonal yaitu kadar steroid tinggi yang berperan meningkatkan fungsi ginjal. Begitu sebaliknya, pada pasca melahirkan kadar steroid menurun sehingga menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan. Urin dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12 36 jam sesudah melahirkan Hal yang berkaitan dengan fungsi sistem perkemihan, antara lain: 1. Hemostatis internal. 2. Keseimbangan asam basa tubuh. 3. Pengeluaran sisa metabolisme. Hemostatis internal. Tubuh, terdiri dari air dan unsur-unsur yang larut di dalamnya, dan 70% dari cairan tubuh terletak di dalam sel-sel, yang disebut dengan cairan intraselular. Cairan ekstraselular terbagi dalam plasma darah, dan langsung diberikan untuk sel-sel yang disebut cairan interstisial. Beberapa hal yang berkaitan dengan cairan tubuh antara lain edema dan dehidrasi. Edema adalah tertimbunnya cairan dalam jaringan akibat gangguan keseimbangan cairan dalam tubuh. Dehidrasi adalah kekurangan cairan atau volume air yang terjadi pada tubuh karena pengeluaran berlebihan dan tidak diganti. Keseimbangan asam basa tubuh. Keasaman dalam tubuh disebut PH. Batas normal PH cairan tubuh adalah 7,35-7,40. Bila PH >7,4 disebut alkalosis dan jika PH < 7,35 disebut asidosis.

Pengeluaran sisa metabolisme, racun dan zat toksin ginjal. Zat toksin ginjal mengekskresi hasil akhir dari metabolisme protein yang mengandung nitrogen terutama urea, asam urat dan kreatinin. Ibu post partum dianjurkan segera buang air kecil, agar tidak mengganggu proses involusi uteri dan ibu merasa nyaman. Namun demikian, pasca melahirkan ibu merasa sulit buang air kecil. Hal yang menyebabkan kesulitan buang air kecil pada ibu post partum, antara lain: 1. Adanya odema trigonium yang menimbulkan obstruksi sehingga terjadi retensi urin. 2. Diaforesis yaitu mekanisme tubuh untuk mengurangi cairan yang teretansi dalam tubuh, terjadi selama 2 hari setelah melahirkan. 3. Depresi dari sfingter uretra oleh karena penekanan kepala janin dan spasme oleh iritasi muskulus sfingter ani selama persalinan, sehingga menyebabkan miksi. Setelah plasenta dilahirkan, kadar hormon estrogen akan menurun, hilangnya peningkatan tekanan vena pada tingkat bawah, dan hilangnya peningkatan volume darah akibat kehamilan, hal ini merupakan mekanisme tubuh untuk mengatasi kelebihan cairan. Keadaan ini disebut dengan diuresis pasca partum. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam tempo 6 minggu. Kehilangan cairan melalui keringat dan peningkatan jumlah urin menyebabkan penurunan berat badan sekitar 2,5 kg selama masa pasca partum. Pengeluaran kelebihan cairan yang tertimbun selama hamil kadang-kadang disebut kebalikan

metabolisme air pada masa hamil (reversal of the water metabolisme of pregnancy). Rortveit dkk (2003) menyatakan bahwa resiko inkontinensia urine pada pasien dengan persalinan pervaginam sekitar 70% lebih tinggi dibandingkan resiko serupa pada persalinan dengan Sectio Caesar. Sepuluh persen pasien pasca persalinan menderita inkontinensia (biasanya stres inkontinensia) yang kadangkadang menetap sampai beberapa minggu pasca persalinan. Untuk mempercepat penyembuhan keadaan ini dapat dilakukan latihan pada otot dasar panggul. Bila wanita pasca persalinan tidak dapat berkemih dalam waktu 4 jam pasca persalinan mungkin ada masalah dan sebaiknya segera dipasang dower kateter selama 24 jam. Bila kemudian keluhan tak dapat berkemih dalam waktu 4 jam, lakukan kateterisasi dan bila jumlah residu > 200 ml maka kemungkinan ada gangguan proses urinasinya. Maka kateter tetap terpasang dan dibuka 4 jam kemudian , bila volume urine < 200 ml, kateter dibuka dan pasien diharapkan dapat berkemih seperti biasa.

Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Muskuloskeletal Perubahan sistem muskuloskeletal terjadi pada saat umur kehamilan semakin bertambah. Adaptasi muskuloskelatal ini mencakup: peningkatan berat badan, bergesernya pusat akibat pembesaran rahim, relaksasi dan mobilitas. Namun demikian, pada saat post partum sistem muskuloskeletal akan berangsurangsur pulih kembali. Ambulasi dini dilakukan segera setelah melahirkan, untuk membantu mencegah komplikasi dan mempercepat involusi uteri.

Adaptasi sistem muskuloskeletal pada masa nifas, meliputi: 1. Dinding perut dan peritoneum. 2. Kulit abdomen. 3. Striae. 4. Perubahan ligamen. 5. Simpisis pubis. Dinding perut dan peritoneum. Dinding perut akan longgar pasca persalinan. Keadaan ini akan pulih kembali dalam 6 minggu. Pada wanita yang asthenis terjadi diastasis dari otot-otot rectus abdominis, sehingga sebagian dari dinding perut di garis tengah hanya terdiri dari peritoneum, fasia tipis dan kulit. Kulit abdomen. Selama masa kehamilan, kulit abdomen akan melebar, melonggar dan mengendur hingga berbulan-bulan. Otot-otot dari dinding abdomen dapat kembali normal kembali dalam beberapa minggu pasca melahirkan dengan latihan post natal. Striae. Striae adalah suatu perubahan warna seperti jaringan parut pada dinding abdomen. Striae pada dinding abdomen tidak dapat menghilang sempurna melainkan membentuk garis lurus yang samar. Tingkat diastasis muskulus rektus abdominis pada ibu post partum dapat dikaji melalui keadaan umum, aktivitas, paritas dan jarak kehamilan, sehingga dapat membantu menentukan lama pengembalian tonus otot menjadi normal.

Perubahan ligamen. Setelah janin lahir, ligamen-ligamen, diafragma pelvis dan fasia yang meregang sewaktu kehamilan dan partus berangsur-angsur menciut kembali seperti sediakala. Tidak jarang ligamentum rotundum menjadi kendor yang mengakibatkan letak uterus menjadi retrofleksi. Simpisis pubis. Pemisahan simpisis pubis jarang terjadi. Namun demikian, hal ini dapat menyebabkan morbiditas maternal. Gejala dari pemisahan simpisis pubis antara lain: nyeri tekan pada pubis disertai peningkatan nyeri saat bergerak di tempat tidur ataupun waktu berjalan. Pemisahan simpisis dapat dipalpasi. Gejala ini dapat menghilang setelah beberapa minggu atau bulan pasca melahirkan, bahkan ada yang menetap. Beberapa gejala sistem muskuloskeletal yang timbul pada masa pasca partum antara lain: 1. Nyeri punggung bawah. 2. Sakit kepala dan nyeri leher. 3. Nyeri pelvis posterior. 4. Disfungsi simpisis pubis. 5. Diastasis rekti. 6. Osteoporosis akibat kehamilan. 7. Disfungsi rongga panggul.

Nyeri punggung bawah. Nyeri punggung merupakan gejala pasca partum jangka panjang yang sering terjadi. Hal ini disebabkan adanya ketegangan postural pada sistem muskuloskeletal akibat posisi saat persalinan. Penanganan: Selama kehamilan, wanita yang mengeluh nyeri punggung sebaiknya dirujuk pada fisioterapi untuk mendapatkan perawatan. Anjuran perawatan punggung, posisi istirahat, dan aktifitas hidup sehari-hari penting diberikan. Pereda nyeri elektroterapeutik dikontraindikasikan selama kehamilan, namun mandi dengan air hangat dapat menberikan rasa nyaman pada pasien. Sakit kepala dan nyeri leher. Pada minggu pertama dan tiga bulan setelah melahirkan, sakit kepala dan migrain bisa terjadi. Gejala ini dapat mempengaruhi aktifitas dan

ketidaknyamanan pada ibu post partum. Sakit kepala dan nyeri leher yang jangka panjang dapat timbul akibat setelah pemberian anestasi umum. Nyeri pelvis posterior. Nyeri pelvis posterior ditunjukan untuk rasa nyeri dan disfungsi area sendi sakroiliaka. Gejala ini timbul sebelum nyeri punggung bawah dan disfungsi simfisis pubis yang ditandai nyeri di atas sendi sakroiliaka pada bagian otot penumpu berat badan serta timbul pada saat membalikan tubuh di tempat tidur. Nyeri ini dapat menyebar ke bokong dan paha posterior.

Penanganan: pemakaian ikat (sabuk) sakroiliaka penyokong dapat membantu untuk mengistirahatkan pelvis. Mengatur posisi yang nyaman saat istirahat maupun bekerja, serta mengurangi aktifitas dan posisi yang dapat memacu rasa nyeri.

Disfungsi simfisis pubis. Merupakan istilah yang menggambarkan gangguan fungsi sendi simfisis pubis dan nyeri yang dirasakan di sekitar area sendi. Fungsi sendi simfisis pubis adalah menyempurnakan cincin tulang pelvis dan memindahkan berat badan melalui pada posisis tegak. Bila sendi ini tidak menjalankan fungsi semestinya, akan terdapat fungsi/stabilitas pelvis yang abnormal, diperburuk dengan terjadinya perubahan mekanis, yang dapat mrmpengaruhi gaya berjalan suatu gerakan lembut pada sendi simfisis pubis untuk menumpu berat badan dan disertai rasa nyeri yang hebat. Penanganan: tirah baring selama mungkin; pemberian pereda nyeri; perawatan ibu dan bayi yang lengkap; rujuk ke ahli fisioterapi untuk latihan abdomen yang tepat; latihan meningkatkan sirkulasi; mobilisasi secara bertahap; pemberian bantuan yang sesuai. Diastasis rekti. Diastasis rekti adalah pemisahan otot rektus abdominis lebih dari 2,5 cm pada tepat setinggi umbilikus (Noble, 1995) sebagai akibat pengaruh hormon terhadap linea alba serta akibat perenggangan mekanis dinding abdomen. Kasus ini sering terjadi pada multi paritas, bayi besar, poli hidramnion, kelemahan otot abdomen dan postur yang salah. Selain itu, juga disebabkan gangguan kolagen yang lebih ke arah keturunan, sehingga ibu dan anak mengalami diastasis. Penanganan: melakukan pemeriksaan rektus untuk mengkaji lebar celah antara otot rektus; memasang penyangga tubigrip (berlapis dua jika perlu), dari area xifoid sternum sampai di bawah panggul; latihan transversus dan pelvis dasar sesering mungkin, pada semua posisi, kecuali posisi telungkup-lutut; memastikan

tidak melakukan latihan sit-up atau curl-up; mengatur ulang kegiatan seharihari, menindaklanjuti pengkajian oleh ahli fisioterapi selama diperlukan. Osteoporosis akibat kehamilan. Osteoporosis timbul pada trimester ketiga atau pasca natal. Gejala ini ditandai dengan nyeri, fraktur tulang belakang dan panggul, serta adanya hendaya (tidak dapat berjalan), ketidakmampuan mengangkat atau menyusui bayi pasca natal, berkurangnya tinggi badan, postur tubuh yang buruk. . Disfungsi dasar panggul. Disfungsi dasar panggul, meliputi : 1. Inkontinensia urin. 2. Inkontinensia alvi. 3. Prolaps. Inkontinensia urin. Inkontinensia urin adalah keluhan rembesan urin yang tidak disadari. Masalah berkemih yang paling umum dalam kehamilan dan pasca partum adalah inkontinensia stres . Terapi : selama masa antenatal, ibu harus diberi pendidikan mengenai dan dianjurkan untuk mempraktikan latihan otot dasar panggul dan transversus sesering mungkin, memfiksasi otot ini serta otot transversus selam melakukan aktivitas yang berat. Selama masa pasca natal, ibu harus dianjurkan untuk mempraktikan latihan dasar panggul dan transversus segera setelah persalinan. Bagi ibu yang tetap menderita gejala ini disarankan untuk dirujuk ke ahli fisioterapi yang akan mengkaji keefektifan otot dasar panggul dan memberi saran tentang program retraining yang meliputi biofeedback dan stimulasi.

Inkontinensia alvi. Inkontinensia alvi disebabkan oleh robeknya atau merenggangnya sfingter anal atau kerusakan yang nyata pada suplai saraf dasar panggul selama persalinan (Snooks et al, 1985). Penanganan : rujuk ke ahli fisioterapi untuk mendapatkan perawatan khusus. Prolaps. Prolaps genetalia dikaitkan dengan persalinan per vagina yang dapat menyebabkan peregangan dan kerusakan pada fasia dan persarafan pelvis. Prolaps uterus adalah penurunan uterus. Sistokel adalah prolaps kandung kemih dalam vagina, sedangkan rektokel adalah prolaps rektum kedalam vagina (Thakar & Stanton, 2002). Gejala yang dirasakan wanita yang menderita prolaps uterus antara lain: merasakan ada sesuatu yang turun ke bawah (saat berdiri), nyeri punggung dan sensasi tarikan yang kuat. Penanganan: prolaps ringan dapat diatasi dengan latihan dasar panggul. Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Sistem Reproduksi Perubahan alat-alat genital baik interna maupun eksterna kembali seperti semula seperti sebelum hamil disebut involusi. Bidan dapat membantu ibu untuk mengatasi dan memahami perubahan-perubahan seperti: 1. Involusi uterus. 2. Involusi tempat plasenta. 3. Perubahan ligamen. 4. Perubahan serviks. 5. Lochia.

6. Perubahan vulva, vagina dan perineum. Involusi Uterus Involusi uterus atau pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil. Proses involusi uterus adalah sebagai berikut: 1. Iskemia Miometrium Hal ini disebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang terus menerus dari uterus setelah pengeluaran plasenta sehingga membuat uterus menjadi relatif anemi dan menyebabkan serat otot atrofi. 2. Atrofi jaringan Atrofi jaringan terjadi sebagai reaksi penghentian hormon esterogen saat pelepasan plasenta. 3. Autolysis Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di dalam otot uterus. Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah mengendur hingga panjangnya 10 kali panjang sebelum hamil dan lebarnya 5 kali lebar sebelum hamil yang terjadi selama kehamilan. Hal ini disebabkan karena penurunan hormon estrogen dan progesteron. 4. Efek Oksitosin Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot uterus sehingga akan menekan pembuluh darah yang mengakibatkan berkurangnya suplai darah ke uterus. Proses ini membantu untuk mengurangi situs atau tempat implantasi plasenta serta mengurangi perdarahan. Ukuran uterus pada masa nifas akan mengecil seperti sebelum hamil. Perubahanperubahan normal pada uterus selama postpartum adalah sebagai berikut:

Involusi Uteri Plasenta lahir

Tinggi Fundus Uteri Setinggi pusat

Berat Uterus Diameter Uterus 1000 gram 12,5 cm

7 hari (minggu 1)

Pertengahan simpisis 14 hari (minggu 2) Tidak teraba 6 minggu Normal

pusat

dan 500 gram 350 gram 60 gram

7,5 cm 5 cm 2,5 cm

Dibawah ini dapat dilihat perubahan tinggi fundus uteri pada masa nifas.

Gambar. Tinggi fundus uteri pada masa nifas Involusi Tempat Plasenta Uterus pada bekas implantasi plasenta merupakan luka yang kasar dan menonjol ke dalam kavum uteri. Segera setelah plasenta lahir, dengan cepat luka mengecil, pada akhir minggu ke-2 hanya sebesar 3-4 cm dan pada akhir nifas 1-2 cm. Penyembuhan luka bekas plasenta khas sekali. Pada permulaan nifas bekas plasenta mengandung banyak pembuluh darah besar yang tersumbat oleh thrombus. Luka bekas plasenta tidak meninggalkan parut. Hal ini disebabkan karena diikuti pertumbuhan endometrium baru di bawah permukaan luka. Regenerasi endometrium terjadi di tempat implantasi plasenta selama sekitar 6 minggu. Pertumbuhan kelenjar endometrium ini berlangsung di dalam decidua basalis. Pertumbuhan kelenjar ini mengikis pembuluh darah yang membeku pada tempat implantasi plasenta hingga terkelupas dan tak dipakai lagi pada pembuangan lokia.

Perubahan Ligamen Setelah bayi lahir, ligamen dan diafragma pelvis fasia yang meregang sewaktu kehamilan dan saat melahirkan, kembali seperti sedia kala. Perubahan ligamen yang dapat terjadi pasca melahirkan antara lain: ligamentum rotundum menjadi kendor yang mengakibatkan letak uterus menjadi retrofleksi; ligamen, fasia, jaringan penunjang alat genetalia menjadi agak kendor. Perubahan pada Serviks Segera setelah melahirkan, serviks menjadi lembek, kendor, terkulai dan berbentuk seperti corong. Hal ini disebabkan korpus uteri berkontraksi, sedangkan serviks tidak berkontraksi, sehingga perbatasan antara korpus dan serviks uteri berbentuk cincin. Warna serviks merah kehitam-hitaman karena penuh pembuluh darah. Segera setelah bayi dilahirkan, tangan pemeriksa masih dapat dimasukan 23 jari dan setelah 1 minggu hanya 1 jari saja yang dapat masuk. Oleh karena hiperpalpasi dan retraksi serviks, robekan serviks dapat sembuh. Namun demikian, selesai involusi, ostium eksternum tidak sama waktu sebelum hamil. Pada umumnya ostium eksternum lebih besar, tetap ada retak-retak dan robekan-robekan pada pinggirnya, terutama pada pinggir sampingnya. Lokia Akibat involusi uteri, lapisan luar desidua yang mengelilingi situs plasenta akan menjadi nekrotik. Desidua yang mati akan keluar bersama dengan sisa cairan. Percampuran antara darah dan desidua inilah yang dinamakan lokia. Lokia adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas dan mempunyai reaksi basa/alkalis yang membuat organisme berkembang lebih cepat dari pada kondisi asam yang ada pada vagina normal.

Lokia mempunyai bau yang amis (anyir) meskipun tidak terlalu menyengat dan volumenya berbeda-beda pada setiap wanita. Lokia mengalami perubahan karena proses involusi. Pengeluaran lokia dapat dibagi menjadi lokia rubra, sanguilenta, serosa dan alba. Perbedaan masing-masing lokia dapat dilihat sebagai berikut: Lokia Rubra Waktu 1-3 hari Warna Ciri-ciri Merah kehitaman Terdiri dari sel desidua, verniks caseosa, rambut lanugo, sisa mekoneum dan sisa darah Putih bercampur Sisa darah bercampur lendir merah Kekuningan/ Lebih sedikit darah dan lebih kecoklatan banyak serum, juga terdiri dari leukosit dan robekan laserasi plasenta Putih Mengandung leukosit, selaput lendir serviks dan serabut jaringan yang mati.

Sanguilenta Serosa

3-7 hari 7-14 hari

Alba

>14 hari

Umumnya jumlah lochia lebih sedikit bila wanita postpartum dalam posisi berbaring daripada berdiri. Hal ini terjadi akibat pembuangan bersatu di vagina bagian atas saat wanita dalam posisi berbaring dan kemudian akan mengalir keluar saat berdiri. Total jumlah rata-rata pengeluaran lokia sekitar 240 hingga 270 ml.

Perubahan Pada Vulva, Vagina dan Perineum Selama proses persalinan vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan, setelah beberapa hari persalinan kedua organ ini kembali dalam keadaan kendor. Rugae timbul kembali pada minggu ke tiga. Himen tampak sebagai tonjolan kecil dan dalam proses pembentukan berubah menjadi karankulae mitiformis yang khas bagi wanita multipara. Ukuran vagina akan selalu lebih besar dibandingkan keadaan saat sebelum persalinan pertama.

Perubahan pada perineum pasca melahirkan terjadi pada saat perineum mengalami robekan. Robekan jalan lahir dapat terjadi secara spontan ataupun dilakukan episiotomi dengan indikasi tertentu. Meskipun demikian, latihan otot perineum dapat mengembalikan tonus tersebut dan dapat mengencangkan vagina hingga tingkat tertentu. Hal ini dapat dilakukan pada akhir puerperium dengan latihan harian. Perubahan Fisiologis Masa Nifas Pada Tanda-Tanda Vital Pada masa nifas, tanda-tanda vital yang harus dikaji antara lain: 1. Suhu badan. 2. Nadi. 3. Tekanan darah. 4. Pernafasan. Suhu badan. Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,2 derajat Celcius. Pasca melahirkan, suhu tubuh dapat naik kurang lebih 0,5 derajat Celcius dari keadaan normal. Kenaikan suhu badan ini akibat dari kerja keras sewaktu melahirkan, kehilangan cairan maupun kelelahan. Kurang lebih pada hari ke-4 post partum, suhu badan akan naik lagi. Hal ini diakibatkan ada pembentukan ASI, kemungkinan payudara membengkak, maupun kemungkinan infeksi pada endometrium, mastitis, traktus genetalis ataupun sistem lain. Apabila kenaikan suhu di atas 38 derajat celcius, waspada terhadap infeksi post partum.

Nadi.

Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 kali per menit. Pasca melahirkan, denyut nadi dapat menjadi bradikardi maupun lebih cepat. Denyut nadi yang melebihi 100 kali per menit, harus waspada kemungkinan infeksi atau perdarahan post partum. Tekanan darah. Tekanan darah adalah tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri ketika darah dipompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah normal manusia adalah sistolik antara 90-120 mmHg dan diastolik 60-80 mmHg. Pasca melahirkan pada kasus normal, tekanan darah biasanya tidak berubah. Perubahan tekanan darah menjadi lebih rendah pasca melahirkan dapat diakibatkan oleh perdarahan. Sedangkan tekanan darah tinggi pada post partum merupakan tanda terjadinya pre eklamsia post partum. Namun demikian, hal tersebut sangat jarang terjadi. Pernafasan. Frekuensi pernafasan normal pada orang dewasa adalah 16-24 kali per menit. Pada ibu post partum umumnya pernafasan lambat atau normal. Hal ini dikarenakan ibu dalam keadaan pemulihan atau dalam kondisi istirahat. Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut nadi. Bila suhu nadi tidak normal, pernafasan juga akan mengikutinya, kecuali apabila ada gangguan khusus pada saluran nafas. Bila pernafasan pada masa post partum menjadi lebih cepat, kemungkinan ada tanda-tanda syok.

Kebutuhan Dasar Ibu Nifas: Senam Nifas

Organ-organ tubuh wanita akan kembali seperti semula sekitar 6 minggu. Oleh karena itu, ibu akan berusaha memulihkan dan mengencangkan bentuk tubuhnya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara latihan senam nifas. Senam nifas adalah senam yang dilakukan sejak hari pertama melahirkan sampai dengan hari ke sepuluh. Beberapa faktor yang menentukan kesiapan ibu untuk memulai senam nifas antara lain: 1. Tingkat kebugaran tubuh ibu 2. Riwayat persalinan 3. Kemudahan bayi dalam pemberian asuhan 4. Kesulitan adaptasi post partum Tujuan senam nifas adalah sebagai berikut: 1. Membantu mempercepat pemulihan kondisi ibu 2. Mempercepat proses involusio uteri 3. Membantu memulihkan dan mengencangkan otot panggul, perut dan perineum 4. Memperlancar pengeluaran lochea 5. Membantu mengurangi rasa sakit

6. Merelaksasikan otot-otot yang menunjang proses kehamilan dan persalinan 7. Mengurangi kelainan dan komplikasi masa nifas Manfaat senam nifas antara lain: 1. Membantu memperbaiki sirkulasi darah 2. Memperbaiki sikap tubuh dan punggung pasca persalinan 3. Memperbaiki otot tonus, pelvis dan peregangan otot abdomen 4. Memperbaiki dan memperkuat otot panggul 5. Membantu ibu lebih relaks dan segar pasca melahirkan Senam nifas dilakukan pada saat ibu benar-benar pulih dan tidak ada komplikasi atau penyulit masa nifas atau diantara waktu makan. Sebelum melakukan senam nifas, persiapan yang dapat dilakukan adalah: 1. Mengenakan baju yang nyaman untuk olahraga 2. Minum banyak air putih 3. Dapat dilakukan di tempat tidur 4. Dapat diiringi musik 5. Perhatikan keadaan ibu

Kebutuhan Dasar Ibu Nifas: Ambulasi

Setelah bersalin, ibu akan merasa lelah. Oleh karena itu, ibu harus istirahat. Mobilisasi yang dilakukan tergantung pada komplikasi persalinan, nifas dan sembuhnya luka. Ambulasi dini (early ambulation) adalah mobilisasi segera setelah ibu melahirkan dengan membimbing ibu untuk bangun dari tempat tidurnya. Ibu post partum diperbolehkan bangun dari tempat tidurnya 24-48 jam setelah melahirkan. Anjurkan ibu untuk memulai mobilisasi dengan miring kanan/kiri, duduk kemudian berjalan. Keuntungan ambulasi dini adalah: 1. Ibu merasa lebih sehat dan kuat 2. Fungsi usus, sirkulasi, paru-paru dan perkemihan lebih baik 3. Memungkinkan untuk mengajarkan perawatan bayi pada ibu 4. Mencegah trombosis pada pembuluh tungkai 5. Sesuai dengan keadaan Indonesia (sosial ekonomis). Menurut penelitian mobilisasi dini tidak berpengaruh buruk, tidak menyebabkan perdarahan abnormal, tidak mempengaruhi penyembuhan luka episiotomi maupun luka di perut, serta tidak memperbesar kemungkinan prolapsus uteri.

Early ambulation tidak dianjurkan pada ibu post partum dengan penyulit, seperti anemia, penyakit jantung, penyakit paru-paru, demam, dan sebagainya.

Kebutuhan Dasar Ibu Nifas: Seksual

Hubungan seksual aman dilakukan begitu darah berhenti. Namun demikian hubungan seksual dilakukan tergantung suami istri tersebut. Selama periode nifas, hubungan seksual juga dapat berkurang. Hal yang dapat menyebabkan pola seksual selama nifas berkurang antara lain: 1. Gangguan/ketidaknyamanan fisik 2. Kelelahan 3. Ketidakseimbangan hormon 4. Kecemasan berlebihan Program KB sebaiknya dilakukan ibu setelah nifas selesai atau 40 hari (6 minggu), dengan tujuan menjaga kesehatan ibu. Pada saat melakukan hubungan seksual sebaiknya perhatikan waktu, penggunaan kontrasepsi, dispareuni, kenikmatan dan kepuasan pasangan suami istri. Beberapa cara yang dapat mengatasi kemesraan suami istri setelah periode nifas antara lain:

1. Hindari menyebut ayah dan ibu 2. Mencari pengasuh bayi 3. Membantu kesibukan istri 4. Menyempatkan berkencan 5. Meyakinkan diri 6. Bersikap terbuka 7. Konsultasi dengan ahlinya

Kebutuhan Dasar Ibu Nifas: Istirahat

Ibu nifas memerlukan istirahat yang cukup, istirahat tidur yang dibutuhkan ibu nifas sekitar 8 jam pada malam hari dan 1 jam pada siang hari. Hal-hal yang dapat dilakukan ibu dalam memenuhi kebutuhan istirahatnya antara lain: 1. Anjurkan ibu untuk cukup istirahat 2. Sarankan ibu untuk melakukan kegiatan rumah tangga secara perlahan 3. Tidur siang atau istirahat saat bayi tidur Kurang istirahat dapat menyebabkan: 1. Jumlah ASI berkurang 2. Memperlambat proses involusio uteri

3. Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan dalam merawat bayi sendiri

Kebutuhan Dasar Ibu Nifas: Kebersihan Diri

Kebersihan diri berguna untuk mengurangi infeksi dan meningkatkan perasaan nyaman. Kebersihan diri meliputi kebersihan tubuh, pakaian, tempat tidur maupun lingkungan. Beberapa hal yang dapat dilakukan ibu post partum dalam menjaga kebersihan diri, adalah sebagai berikut: 1. Mandi teratur minimal 2 kali sehari 2. Mengganti pakaian dan alas tempat tidur 3. Menjaga lingkungan sekitar tempat tinggal 4. Melakukan perawatan perineum 5. Mengganti pembalut minimal 2 kali sehari 6. Mencuci tangan setiap membersihkan daerah genetalia

Kebutuhan Dasar Ibu Nifas: Eliminasi Miksi Buang air kecil sendiri sebaiknya dilakukan secepatnya. Miksi normal bila dapat BAK spontan setiap 3-4 jam. Kesulitan BAK dapat disebabkan karena

springter uretra tertekan oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi muskulo spingter ani selama persalinan, atau dikarenakan oedem kandung kemih selama persalinan. Lakukan kateterisasi apabila kandung kemih penuh dan sulit berkemih. Defekasi Ibu diharapkan dapat BAB sekitar 3-4 hari post partum. Apabila mengalami kesulitan BAB/obstipasi, lakukan diet teratur; cukup cairan; konsumsi makanan berserat; olahraga; berikan obat rangsangan per oral/per rektal atau lakukan klisma bilamana perlu.

Kebutuhan Dasar Ibu Nifas: Nutrisi dan Cairan

Ibu nifas memerlukan nutrisi dan cairan untuk pemulihan kondisi kesehatan setelah melahirkan, cadangan tenaga serta untuk memenuhi produksi air susu. Ibu nifas dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan akan gizi sebagai berikut: 1. Mengkonsumsi makanan tambahan, kurang lebih 500 kalori tiap hari 2. Makan dengan diet gizi seimbang untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral 3. Minum sedikitnya 3 liter setiap hari 4. Mengkonsumsi tablet besi selama 40 hari post partum 5. Mengkonsumsi vitamin A 200.000 intra unit

Zat-zat yang dibutuhkan ibu pasca persalinan antara lain: 1. Kalori 2. Protein 3. Kalsium dan vitamin D 4. Magnesium 5. Sayuran hijau dan buah 6. Karbohidrat kompleks 7. Lemak 8. Garam 9. Cairan 10. Vitamin 11. Zinc 12. DHA Kalori Kebutuhan kalori pada masa menyusui sekitar 400-500 kalori. Wanita dewasa memerlukan 1800 kalori per hari. Sebaiknya ibu nifas jangan mengurangi kebutuhan kalori, karena akan mengganggu proses metabolisme tubuh dan menyebabkan ASI rusak. Protein Kebutuhan protein yang dibutuhkan adalah 3 porsi per hari. Satu protein setara dengan tiga gelas susu, dua butir telur, lima putih telur, 120 gram keju, 1 gelas yoghurt, 120-140 gram ikan/daging/unggas, 200-240 gram tahu atau 5-6 sendok selai kacang.

Kalsium dan vitamin D Kalsium dan vitamin D berguna untuk pembentukan tulang dan gigi. Kebutuhan kalsium dan vitamin D didapat dari minum susu rendah kalori atau berjemur di pagi hari. Konsumsi kalsium pada masa menyusui meningkat menjadi 5 porsi per hari. Satu setara dengan 50-60 gram keju, satu cangkir susu krim, 160 gram ikan salmon, 120 gram ikan sarden, atau 280 gram tahu kalsium. Magnesium Magnesium dibutuhkan sel tubuh untuk membantu gerak otot, fungsi syaraf dan memperkuat tulang. Kebutuhan megnesium didapat pada gandum dan kacangkacangan. Sayuran hijau dan buah Kebutuhan yang diperlukan sedikitnya tiga porsi sehari. satu porsi setara dengan 1/8 semangka, 1/4 mangga, cangkir brokoli, wortel, -1/2 cangkir sayuran hijau yang telah dimasak, satu tomat. Karbohidrat kompleks Selama menyusui, kebutuhan karbohidrat kompleks diperlukan enam porsi per hari. Satu porsi setara dengan cangkir nasi, cangkir jagung pipil, satu porsi sereal atau oat, satu iris roti dari bijian utuh, kue muffin dari bijian utuh, 2-6 biskuit kering atau crackers, cangkir kacang-kacangan, 2/3 cangkir kacang koro, atau 40 gram mi/pasta dari bijian utuh. Lemak Rata-rata kebutuhan lemak dewasa adalah 41/2 porsi lemak (14 gram perporsi) perharinya. Satu porsi lemak sama dengan 80 gram keju, tiga sendok makan kacang tanah atau kenari, empat sendok makan krim, secangkir es krim, buah

alpukat, dua sendok makan selai kacang, 120-140 gram daging tanpa lemak, sembilan kentang goreng, dua iris cake, satu sendok makan mayones atau mentega, atau dua sendok makan saus salad. Garam Selama periode nifas, hindari konsumsi garam berlebihan. Hindari makanan asin seperti kacang asin, keripik kentang atau acar. Cairan Konsumsi cairan sebanyak 8 gelas per hari. Minum sedikitnya 3 liter tiap hari. Kebutuhan akan cairan diperoleh dari air putih, sari buah, susu dan sup. Vitamin Kebutuhan vitamin selama menyusui sangat dibutuhkan. Vitamin yang diperlukan antara lain: 1. Vitamin A yang berguna bagi kesehatan kulit, kelenjar serta mata. Vitamin A terdapat dalam telur, hati dan keju. Jumlah yang dibutuhkan adalah 1,300 mcg. 2. Vitamin B6 membantu penyerapan protein dan meningkatkan fungsi syaraf. Asupan vitamin B6 sebanyak 2,0 mg per hari. Vitamin B6 dapat ditemui di daging, hati, padi-padian, kacang polong dan kentang. 3. Vitamin E berfungsi sebagai antioksidan, meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh. Terdapat dalam makanan berserat, kacang-kacangan, minyak nabati dan gandum. Zinc (Seng) Berfungsi untuk kekebalan tubuh, penyembuhan luka dan pertumbuhan. Kebutuhan Zinc didapat dalam daging, telur dan gandum. Enzim dalam

pencernaan dan metabolisme memerlukan seng. Kebutuhan seng setiap hari sekitar 12 mg. Sumber seng terdapat pada seafood, hati dan daging. DHA DHA penting untuk perkembangan daya lihat dan mental bayi. Asupan DHA berpengaruh langsung pada kandungan dalam ASI. Sumber DHA ada pada telur, otak, hati dan ikan.

Adaptasi Psikologis Ibu Masa Nifas

Proses adaptasi psikologi sudah terjadi selama kehamilan, menjelang proses kelahiran maupun setelah persalinan. Pada periode tersebut, kecemasan seorang wanita dapat bertambah. Pengalaman yang unik dialami oleh ibu setelah persalinan. Masa nifas merupakan masa yang rentan dan terbuka untuk bimbingan dan pembelajaran. Perubahan peran seorang ibu memerlukan adaptasi. Tanggung jawab ibu mulai bertambah. Hal-hal yang dapat membantu ibu dalam beradaptasi pada masa nifas adalah sebagai berikut: 1. Fungsi menjadi orang tua 2. Respon dan dukungan dari keluarga 3. Riwayat dan pengalaman kehamilan serta persalinan

4. Harapan, keinginan dan aspirasi saat hamil dan melahirkan Fase-fase yang akan dialami oleh ibu pada masa nifas antara lain: 1. Fase taking in 2. Fase taking hold 3. Fase letting go Fase Taking In Fase ini merupakan periode ketergantungan, yang berlangsung dari hari pertama sampai hari ke dua setelah melahirkan. Ibu terfokus pada dirinya sendiri, sehingga cenderung pasif terhadap lingkungannya. Ketidaknyamanan yang dialami antara lain rasa mules, nyeri pada luka jahitan, kurang tidur, kelelahan. Hal yang perlu diperhatikan pada fase ini adalah istirahat cukup, komunikasi yang baik dan asupan nutrisi. Gangguan psikologis yang dapat dialami oleh ibu pada fase ini adalah: 1. Kekecewaan pada bayinya 2. Ketidaknyamanan sebagai akibat perubahan fisik yang dialami 3. Rasa bersalah karena belum bisa menyusui bayinya 4. Kritikan suami atau keluarga tentang perawatan bayinya Fase Taking Hold Fase ini berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Ibu merasa khawatir akan ketidakmampuan dan rasa tanggung jawab dalam perawatan bayinya. Perasaan ibu lebih sensitif sehingga mudah tersinggung. Hal yang perlu diperhatikan adalah komunikasi yang baik, dukungan dan pemberian

penyuluhan/pendidikan kesehatan tentang perawatan diri dan bayinya. Tugas bidan antara lain: mengajarkan cara perawatan bayi, cara menyusui yang benar,

cara perawatan luka jahitan, senam nifas, pendidikan kesehatan gizi, istirahat, kebersihan diri dan lain-lain. Fase Letting Go Fase ini merupakan fase menerima tanggungjawab akan peran barunya. Fase ini berlangsung 10 hari setelah melahirkan. Ibu sudah mulai dapat menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya. Terjadi peningkatan akan perawatan diri dan bayinya. Ibu merasa percaya diri akan peran barunya, lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan dirinya dan bayinya. Dukungan suami dan keluarga dapat membantu merawat bayi. Kebutuhan akan istirahat masih diperlukan ibu untuk menjaga kondisi fisiknya. Hal-hal yang harus dipenuhi selama nihas adalah sebagai berikut: 1. Fisik.Istirahat, asupan gizi, lingkungan bersih 2. Psikologi.Dukungan dari keluarga sangat diperlukan 3. Sosial.Perhatian, rasa kasih sayang, menghibur ibu saat sedih dan menemani saat ibu merasa kesepian 4. Psikososial.

Infeksi Masa Nifas

Pengertian Infeksi Nifas Infeksi nifas adalah semua peradangan yang disebabkan oleh kuman yang masuk ke dalam organ genital pada saat persalinan dan masa nifas. Infeksi nifas adalah infeksi bakteri pada traktus genitalia yang terjadi setelah melahirkan, ditandai dengan kenaikan suhu sampai 38 derajat Celsius atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca persalinan, dengan mengecualikan 24 jam pertama (Joint Committee on Maternal Welfare, AS). Insidensi Infeksi Nifas Infeksi nifas terjadi 1-3 %. Infeksi jalan lahir 25-55 % dari semua kasus infeksi. Penyebab Infeksi Nifas Infeksi nifas dapat disebabkan oleh masuknya kuman ke dalam organ kandungan maupun kuman dari luar yang sering menyebabkan infeksi. Berdasarkan masuknya kuman ke dalam organ kandungan terbagi menjadi: 1. Ektogen (kuman datang dari luar) 2. Autogen (kuman dari tempat lain) 3. Endogen (kuman dari jalan lahir sendiri) Selain itu, infeksi nifas dapat disebabkan oleh: 1. Streptococcus Haemolyticus Aerobic

2. Staphylococcus Aerus 3. Escheria Coli 4. Clostridium Welchii Streptococcus Haemolyticus Aerobic Streptococcus Haemolyticus Aerobic merupakan penyebab infeksi yang paling berat. Infeksi ini bersifat eksogen (misal dari penderita lain, alat yang tidak steril, tangan penolong, infeksi tenggorokan orang lain). Staphylococcus Aerus Cara masuk Staphylococcus Aerus secara eksogen, merupakan penyebab infeksi sedang. Sering ditemukan di rumah sakit dan dalam tenggorokan orang-orang yang nampak sehat. Escheria Coli Escheria Coli berasal dari kandung kemih atau rektum. Escheria Coli dapat menyebabkan infeksi terbatas pada perineum, vulva dan endometrium. Kuman ini merupakan penyebab dari infeksi traktus urinarius. Clostridium Welchii Clostridium Welchii bersifat anaerob dan jarang ditemukan akan tetapi sangat berbahaya. Infeksi ini lebih sering terjadi pada abortus kriminalis dan persalinan ditolong dukun. Patofisiologi Infeksi Nifas Tempat yang baik sebagai tempat tumbuhnya kuman adalah di daerah bekas insersio (pelekatan) plasenta. Insersio plasenta merupakan sebuah luka dengan diameter 4 cm, permukaan tidak rata, berbenjol-benjol karena banyaknya vena

yang ditutupi oleh trombus. Selain itu, kuman dapat masuk melalui servik, vulva, vagina dan perineum. Cara Terjadi Infeksi Infeksi nifas dapat terjadi karena: 1. Manipulasi penolong yang tidak steril atau pemeriksaan dalam berulangulang. 2. Alat-alat tidak steril/ suci hama. 3. Infeksi droplet, sarung tangan dan alat-alat yang terkontaminasi. 4. Infeksi nosokomial rumah sakit. 5. Infeksi intrapartum. 6. Hubungan seksual akhir kehamilan yang menyebabkan ketuban pecah dini. Faktor Predisposisi Infeksi Nifas Faktor predisposisi infeksi nifas antara lain: 1. Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan tubuh, seperti perdarahan banyak, pre eklampsia, malnutrisi, anemia, infeksi lain (pneumonia, penyakit jantung, dsb). 2. Persalinan dengan masalah seperti partus/persalinan lama dengan ketuban pecah dini, korioamnionitis, persalinan traumatik, proses pencegahan infeksi yang kurang baik dan manipulasi yang berlebihan. 3. Tindakan obstetrik operatif baik per vaginam maupun per abdominal. 4. Tertinggalnya sisa plasenta, selaput ketuban dan bekuan darah dalam rongga rahim. 5. Episiotomi atau laserasi jalan lahir.

Tanda dan Gejala Infeksi Nifas Tanda dan gejala yang timbul pada infeksi nifas antara lain demam, sakit di daerah infeksi, warna kemerahan, fungsi organ terganggu. Gambaran klinis infeksi nifas adalah sebagai berikut: 1. Infeksi lokal 2. Infeksi umum Infeksi lokal Warna kulit berubah, timbul nanah, bengkak pada luka, lokia bercampur nanah, mobilitas terbatas, suhu badan meningkat. Infeksi umum Sakit dan lemah, suhu badan meningkat, tekanan darah menurun, nadi meningkat, pernafasan meningkat dan sesak, kesadaran gelisah sampai menurun bahkan koma, gangguan involusi uteri, lokia berbau, bernanah dan kotor. Klasifikasi Infeksi Nifas Penyebaran infeksi nifas terbagi menjadi 2 golongan yaitu: 1. Infeksi terbatas pada perineum, vulva, vagina, serviks dan endometrium. 2. Infeksi yang penyebarannya melalui vena-vena (pembuluh darah). 3. Infeksi yang penyebarannya melalui limfe. 4. Infeksi yang penyebarannya melalui permukaan endometrium. Infeksi pada perineum, vulva, vagina, serviks dan endometrium Penyebaran infeksi nifas pada perineum, vulva, vagina, serviks dan endometrium meliputi: 1. Vulvitis 2. Vaginitis

3. Servisitis 4. Endometritis Vulvitis Vulvitis adalah infeksi pada vulva. Vulvitis pada ibu pasca melahirkan terjadi di bekas sayatan episiotomi atau luka perineum. Tepi luka berwarna merah dan bengkak, jahitan mudah lepas, luka yang terbuka menjadi ulkus dan mengeluarkan nanah. Vaginitis Vaginitis merupakan infeksi pada daerah vagina. Vaginitis pada ibu pasca melahirkan terjadi secara langsung pada luka vagina atau luka perineum. Permukaan mukosa bengkak dan kemerahan, terjadi ulkus dan getah mengandung nanah dari daerah ulkus. Servisitis Infeksi yang sering terjadi pada daerah servik, tapi tidak menimbulkan banyak gejala. Luka serviks yang dalam dan meluas dan langsung ke dasar ligamentum latum dapat menyebabkan infeksi yang menjalar ke parametrium. Endometritis Endometritis paling sering terjadi. Biasanya demam mulai 48 jam postpartum dan bersifat naik turun. Kumankuman memasuki endometrium (biasanya pada luka insersio plasenta) dalam waktu singkat dan menyebar ke seluruh endometrium. Pada infeksi setempat, radang terbatas pada endometrium. Jaringan desidua bersama bekuan darah menjadi nekrosis dan mengeluarkan getah berbau yang terdiri atas keping-keping nekrotis dan cairan. Pada infeksi yang lebih berat batas endometrium dapat dilampaui dan terjadilah penjalaran.

Infeksi nifas yang penyebarannya melalui pembuluh darah Infeksi nifas yang penyebarannya melalui pembuluh darah adalah Septikemia, Piemia dan Tromboflebitis pelvica. Infeksi ini merupakan infeksi umum yang disebabkan oleh kuman patogen Streptococcus Hemolitikus Golongan A. Infeksi ini sangat berbahaya dan merupakan 50% dari semua kematian karena infeksi nifas. Septikemia Septikemia adalah keadaan dimana kuman-kuman atau toksinnya langsung masuk ke dalam peredaran darah dan menyebabkan infeksi. Gejala klinik septikemia lebih akut antara lain: kelihatan sudah sakit dan lemah sejak awal; keadaan umum jelek, menggigil, nadi cepat 140 160 x per menit atau lebih; suhu meningkat antara 39-40 derajat Celcius; tekanan darah turun, keadaan umum memburuk; sesak nafas, kesadaran turun, gelisah. Piemia Piemia dimulai dengan tromflebitis vena-vena pada daerah perlukaan lalu lepas menjadi embolus-embolus kecil yang dibawa ke peredaran darah, kemudian terjadi infeksi dan abses pada organ-organ yang diserangnya. Gejala klinik piemia antara lain: rasa sakit pada daerah tromboflebitis, setelah ada penyebaran trombus terjadi gejala umum diatas; hasil laboratorium menunjukkan leukositosis; lokia berbau, bernanah, involusi jelek. Tromboflebitis Radang pada vena terdiri dari tromboflebitis pelvis dan tromboflebitis femoralis. Tromboflebitis pelvis yang sering meradang adalah pada vena ovarika, terjadi karena mengalirkan darah dan luka bekas plasenta di daerah fundus uteri.

Sedangkan tromboflebitis femoralis dapat menjadi tromboflebitis vena safena magna atau peradangan vena femoralis sendiri, penjalaran tromboflebitis vena uterin, dan akibat parametritis. Tromboflebitis vena femoralis disebabkan aliran darah lambat pada lipat paha karena tertekan ligamentum inguinale dan kadar fibrinogen meningkat pada masa nifas. Infeksi nifas yang penyebaran melalui jalan limfe Infeksi nifas yang penyebarannya melalui jalan limfe antara lain peritonitis dan parametritis (Sellulitis Pelvika). Peritonitis Peritonitis menyerang pada daerah pelvis (pelvio peritonitis). Gejala klinik antara lain: demam, nyeri perut bawah, keadaan umum baik. Sedangkan peritonitis umum gejalanya: suhu meningkat, nadi cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri, terdapat abses pada cavum douglas, defense musculair, fasies hypocratica. Peritonitis umum dapat menyebabkan kematian 33% dari seluruh kamatian karena infeksi. Parametritis (sellulitis pelvika) Gejala klinik parametritis adalah: nyeri saaat dilakukan periksa dalam, demam tinggi menetap, nadi cepat, perut nyeri, sebelah/kedua belah bagian bawah terjadi pembentukkan infiltrat yang dapat teraba selama periksa dalam. Infiltrat terkadang menjadi abses. Infeksi nifas yang penyebaran melalui permukaan endometrium Infeksi nifas yang penyebaran melalui permukaan endometrium adalah salfingitis dan ooforitis. Gejala salfingitis dan ooforitis hampir sama dengan pelvio peritonitis.

Pencegahan Infeksi Nifas Infeksi nifas dapat timbul selama kehamilan, persalinan dan masa nifas, sehingga pencegahannya berbeda. Selama kehamilan Pencegahan infeksi selama kehamilan, antara lain: 1. Perbaikan gizi. 2. Hubungan seksual pada umur kehamilan tua sebaiknya tidak dilakukan. Selama persalinan Pencegahan infeksi selama persalinan adalah sebagai berikut: 1. Membatasi masuknya kuman-kuman ke dalam jalan lahir. 2. Membatasi perlukaan jalan lahir. 3. Mencegah perdarahan banyak. 4. Menghindari persalinan lama. 5. Menjaga sterilitas ruang bersalin dan alat yang digunakan. Selama nifas Pencegahan infeksi selama nifas antara lain: 1. Perawatan luka post partum dengan teknik aseptik. 2. Semua alat dan kain yang berhubungan dengan daerah genital harus suci hama. 3. Penderita dengan infeksi nifas sebaiknya diisolasi dalam ruangan khusus, tidak bercampur dengan ibu nifas yang sehat. 4. Membatasi tamu yang berkunjung. 5. Mobilisasi dini.

Pengobatan Infeksi Nifas Pengobatan infeksi pada masa nifas antara lain: 1. Sebaiknya segera dilakukan kultur dari sekret vagina dan servik, luka operasi dan darah, serta uji kepekaan untuk mendapatkan antibiotika yang tepat. 2. Memberikan dosis yang cukup dan adekuat. 3. Memberi antibiotika spektrum luas sambil menunggu hasil laboratorium. 4. Pengobatan mempertinggi daya tahan tubuh seperti infus, transfusi darah, makanan yang mengandung zat-zat yang diperlukan tubuh, serta perawatan lainnya sesuai komplikasi yang dijumpai. Pengobatan Kemoterapi dan Antibiotika Infeksi Nifas Infeksi nifas dapat diobati dengan cara sebagai berikut: 1. Pemberian Sulfonamid Trisulfa merupakan kombinasi dari sulfadizin 185 gr, sulfamerazin 130 gr, dan sulfatiozol 185 gr. Dosis 2 gr diikuti 1 gr 4-6 jam kemudian peroral. 2. Pemberian Penisilin Penisilin-prokain 1,2 sampai 2,4 juta satuan IM, penisilin G 500.000 satuan setiap 6 jam atau metsilin 1 gr setiap 6 jam IM ditambah ampisilin kapsul 4250 gr peroral. 3. Tetrasiklin, eritromisin dan kloramfenikol. 4. Hindari pemberian politerapi antibiotika berlebihan. 5. Lakukan evaluasi penyakit dan pemeriksaan laboratorium. Anatomi dan Fisiologi Payudara Sep 23, 2009 2 Comments by lusa

Payudara (mammae, susu) adalah kelenjar yang terletak di bawah kulit, di atas otot dada. Fungsi dari payudara adalah memproduksi susu untuk nutrisi bayi. Manusia mempunyai sepasang kelenjar payudara, yang beratnya kurang lebih 200 gram, saat hamil 600 gram dan saat menyusui 800 gram.

Pada payudara terdapat tiga bagian utama, yaitu : 1. Korpus (badan), yaitu bagian yang membesar. 2. Areola, yaitu bagian yang kehitaman di tengah. 3. Papilla atau puting, yaitu bagian yang menonjol di puncak payudara.

Gambar 1. Anatomi payudara Korpus Alveolus, yaitu unit terkecil yang memproduksi susu. Bagian dari alveolus adalah sel Aciner, jaringan lemak, sel plasma, sel otot polos dan pembuluh darah. Lobulus, yaitu kumpulan dari alveolus. Lobus, yaitu beberapa lobulus yang berkumpul menjadi 15-20 lobus pada tiap payudara.

ASI dsalurkan dari alveolus ke dalam saluran kecil (duktulus), kemudian beberapa duktulus bergabung membentuk saluran yang lebih besar (duktus laktiferus). Areola Sinus laktiferus, yaitu saluran di bawah areola yang besar melebar, akhirnya memusat ke dalam puting dan bermuara ke luar. Di dalam dinding alveolus maupun saluran-saluran terdapat otot polos yang bila berkontraksi dapat memompa ASI keluar. Papilla Bentuk puting ada empat, yaitu bentuk yang normal, pendek/ datar, panjang dan terbenam (inverted).

Gambar 2. Bentuk puting susu normal

Gambar 3. Bentuk puting susu pendek

Gambar 4. Bentuk puting susu panjang

Gambar 5. Bentuk puting susu terbenam/ terbalik

Fisiologi Laktasi Laktasi atau menyusui mempunyai dua pengertian, yaitu produksi ASI (prolaktin) dan pengeluaran ASI (oksitosin). Produksi ASI (Prolaktin) Pembentukan payudara dimulai sejak embrio berusia 18-19 minggu, dan berakhir ketika mulai menstruasi. Hormon yang berperan adalah hormon esterogen dan progesteron yang membantu maturasi alveoli. Sedangkan hormon prolaktin berfungsi untuk produksi ASI.

Gambar 1. Proses produksi ASI/ refleks prolaktin Selama kehamilan hormon prolaktin dari plasenta meningkat tetapi ASI belum keluar karena pengaruh hormon estrogen yang masih tinggi. Kadar estrogen dan progesteron akan menurun pada saat hari kedua atau ketiga pasca persalinan, sehingga terjadi sekresi ASI. Pada proses laktasi terdapat dua reflek yang berperan, yaitu refleks prolaktin dan refleks aliran yang timbul akibat perangsangan puting susu dikarenakan isapan bayi. 1. Refleks prolaktin 2. Refleks aliran (let down reflek) Refleks Prolaktin Akhir kehamilan hormon prolaktin memegang peranan untuk membuat kolostrum, tetapi jumlah kolostrum terbatas dikarenakan aktivitas prolaktin dihambat oleh estrogen dan progesteron yang masih tinggi. Pasca persalinan, yaitu saat lepasnya plasenta dan berkurangnya fungsi korpus luteum maka estrogen dan progesteron juga berkurang. Hisapan bayi akan merangsang puting susu dan kalang payudara, karena ujung-ujung saraf sensoris yang berfungsi sebagai reseptor mekanik.

Rangsangan ini dilanjutkan ke hipotalamus melalui medulla spinalis hipotalamus dan akan menekan pengeluaran faktor penghambat sekresi prolaktin dan sebaliknya merangsang pengeluaran faktor pemacu sekresi prolaktin.

Faktor pemacu sekresi prolaktin akan merangsang hipofise anterior sehingga keluar prolaktin. Hormon ini merangsang sel-sel alveoli yang berfungsi untuk membuat air susu. Kadar prolaktin pada ibu menyusui akan menjadi normal 3 bulan setelah melahirkan sampai penyapihan anak dan pada saat tersebut tidak akan ada peningkatan prolaktin walau ada isapan bayi, namun pengeluaran air susu tetap berlangsung. Pada ibu nifas yang tidak menyusui, kadar prolaktin akan menjadi normal pada minggu ke 2 3. Sedangkan pada ibu menyusui prolaktin akan meningkat dalam keadaan seperti: stress atau pengaruh psikis, anastesi, operasi dan rangsangan puting susu Refleks Aliran (Let Down Reflek) Bersamaan dengan pembentukan prolaktin oleh hipofise anterior, rangsangan yang berasal dari isapan bayi dilanjutkan ke hipofise posterior (neurohipofise) yang kemudian dikeluarkan oksitosin. Melalui aliran darah, hormon ini menuju uterus sehingga menimbulkan kontraksi. Kontraksi dari sel akan memeras air susu yang telah terbuat, keluar dari alveoli dan masuk ke sistem duktus dan selanjutnya mengalir melalui duktus lactiferus masuk ke mulut bayi. Faktor-faktor yang meningkatkan let down adalah: melihat bayi, mendengarkan suara bayi, mencium bayi, memikirkan untuk menyusui bayi.

Faktor-faktor yang menghambat reflek let down adalah stress, seperti: keadaan bingung/ pikiran kacau, takut dan cemas. Refleks yang penting dalam mekanisme hisapan bayi 1. Refleks menangkap (rooting refleks) 2. Refleks menghisap 3. Refleks menelan

Refleks Menangkap (Rooting Refleks) Timbul saat bayi baru lahir tersentuh pipinya, dan bayi akan menoleh ke arah sentuhan. Bibir bayi dirangsang dengan papilla mamae, maka bayi akan membuka mulut dan berusaha menangkap puting susu. Refleks Menghisap (Sucking Refleks) Refleks ini timbul apabila langit-langit mulut bayi tersentuh oleh puting. Agar puting mencapai palatum, maka sebagian besar areola masuk ke dalam mulut bayi. Dengan demikian sinus laktiferus yang berada di bawah areola, tertekan antara gusi, lidah dan palatum sehingga ASI keluar. Refleks Menelan (Swallowing Refleks) Refleks ini timbul apabila mulut bayi terisi oleh ASI, maka ia akan menelannya. Pengeluaran ASI (Oksitosin) Apabila bayi disusui, maka gerakan menghisap yang berirama akan menghasilkan rangsangan saraf yang terdapat pada glandula pituitaria posterior, sehingga keluar hormon oksitosin. Hal ini menyebabkan sel-sel miopitel di sekitar alveoli akan

berkontraksi dan mendorong ASI masuk dalam pembuluh ampula. Pengeluaran oksitosin selain dipengaruhi oleh isapan bayi, juga oleh reseptor yang terletak pada duktus. Bila duktus melebar, maka secara reflektoris oksitosin dikeluarkan oleh hipofisis.

Gambar 2. Proses pengaliran ASI/ refleks oksitosin

Referensi :

Saifudin, Abdul Bari Dkk, 2000, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bidan Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. borneo-ufi.blog.friendster.com/2008/07/konsep-nifas-eklamsi-forceps/ diunduh 1 September 2009: 20.00 WIB. Ibrahim, Christin S, 1993, Perawatan Keebidanan (Perawatan Nifas), Bharata Niaga Media Jakarta masanifas.blogspot.com/ diunduh 1 September 2009: 20.10 WIB. Pusdiknakes, 2003. Asuhan Kebidanan Post Partum. Jakarta: Pusdiknakes. Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika. Suherni, 2008. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya.

yoana-widyasari.blogspot.com/2009/04/satuan-acara-pengajaran-s.html diunduh 1 September 2009: 20.05 WIB.

POWER POINT ASKEB III (NIFAS) KONSEP DASAR NIFAS

PRAKTEK KLINIK ASKEB III (NIFAS) PERAWATAN PAYUDARA

SILABUS PRAKTEK KLINIK ASKEB III (NIFAS) PERAWATAN PAYUDARA

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) PRAKTEK KLINIK ASKEB III (NIFAS) PERAWATAN PAYUDARA

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Kuliah Kode MK / SKS Tingkat / Semerter Pertemuan ke Alokasi Waktu Standart Kompetensi

: ASKEB III ( Nifas ) : Bd. 303 /2 SKS : 2 / III :3 : 2 x 50 menit :Mahasiswa mampu melakukan praktek

perawatan payudara pada ibu masa nifas Kompetensi Dasar :Pada akhir perkuliahan mahasiswa mampu melakukan praktek perawatan payudara pada ibu masa nifas Pokok Bahasan Kegiatan Belajar Tahap :Praktek perawatan : Kegiatan Mahasiswa 1. Menjawab salam 2. Memperhatikan 3. Membantu menyiapkan kelas 4. Memperhatikan Media dan Alat Pengajar Phantom ibu Alatalat perawatan payudara

Kegiatan Pengajaran

Pendahuluan 1. Mengucap salam 10 menit 2. Memperkenalkan diri 3. Menyiapkan kelas untuk proses pembelajaran 4. Menjelaskan materi yang akan di sampaikan

Penyajian (60 menit)

1. Mendemokan 1. Memperhatikan perawatan payudara pada phantom ibu 2. Memberi 2. Bertanya dan kesempatan pada mempraktekkan mahasiswa untuk perawatan

bertanya dan melakukan praktek perawatan payudara

payudara

Penutup (20 1. Menyimpulkan 1. Memperhatikan menit) hasil materi yang telah di berikan 2. Memberikan 2. Menjawab pertanyaan pertanyaan 3. Mengucapkan salam 3. Menjawab salam

CHEK LIST PRAKTEK KLINIK ASKEB III (NIFAS) PERAWATAN PAYUDARA