Anda di halaman 1dari 2

Mazmur dan Haleluya

1. Mazmur a. Kitab Mazmur memainkan peranan penting di dalam ibadah jemaat, baik dalam Perjanjian Lama (PL) maupun jemaat Perjanjian Baru (PB). Nyanyian Mazmur biasanya diselingi di dalam pertemuan ibadah sejak abad pertama. Dan kebiasaan ini diambil alih oleh jemaat dari ibadah sinagoge. Selain itu Mazmur juga dipakai dalam introitus, nyanyian perjamuan, gradual dan nyanyian korban bahkan di dalam ibadah doa tiap-tiap hari, Mazmur juga memainkan peranan penting. Reformasi gereja terutama Calvin berusaha untuk mengajarkan kepada jemaat untuk menyanyikan Mazmur-mazmur Daud karena dianggap sebagai nyanyian gereja yang paling baik. Dalam hal ini Calvin menyuruh Marot dan Beza untuk menyusun mazmur-mazmur itu dalam bentuk sajak. Pemakaian mazmur dalam bentuk sajak masuk ke Indonesia melalui Gereja Hervormd di

Nederland. Persajakan mazmur yang paling terkenal di Indonesia dikerjakan oleh Scroder (1908 : Mazmur dan Thlil). b. Peminmpin-pemimpin gerakan Liturgia umumnya memiliki pendapat yang sama tentang pemakaian mazmur dalam ibadah. Oberman, disamping pembacaan Alkitab kita harus memberikan tempat khusus kepada mazmur-mazmur dalam ibadah. Prof.Wensinck, mazmur harus mendapat tempat tersendiri dalam ibadah Van der Leuw, Kitab Mazmur begitu penting sebagai buku doa gereja sehingga kitab-kitab itu harus mendapat tempat khusu di dalam kebaktian. Menurut Wensinck bahwa Kitab Mazmur bukan saja suatu buku nyanyian, melainkan suatu liturgia. c. Cara pemakaian Mazmur (cara membacakan, menyanyikan atau mengucapkannya sebagai doa) Mazmur-mazmur yang tidak diberi sajak harus dinyanyikan dalam bentuk tidak bersajak. Selama jemaat belum dapat menyanyikan mazmur-mazmur dalam bentuk ini, baiklah pelayan membacakannya, diakhiri dengan Hormat bagi Bapa serta Anak dan Roh Kudus. Pembacaan ini dapat juga dilakukan secara antifonis : pelayan bagian yang pertama dan jemaat bagian yang kedua dari tiap-tiap ayat. d. Cara menyanyikan mazmur-mazmur di gereja-gereja muda, terutama dalam jemaat di Indonesia. Teutscher mengatakan, Mazmur sebaiknya dinyanyikan secara resiatif sebab justru cara ini sangat terkenal di Indonesia. Teutsher berpendapat bahwa jikamana oleh kerjasama antara ahli-ahli music, pendeta-pendeta zending dan pendeta-pendeta Indonesia tercipta suatu terjemahan mazmur dalam bahasa Indonesia modern, karya ini akan cepat sekali diterima oleh anggota-anggota jemaat dan terus diterapkan dalam bahasa-bahasa yang lain di Indonesia.

2.

Haleluya a. Haleluya berasal dari ibadah Yahudi. Haleluya biasanya dinyanyikan pada hari raya Paskah

Dalam Halel besar (Maz 113-118). Dalam PB unsure ini dapat ditemui dalam surat Wahyu 19 : 1 8. Dalam abad-abad pertengahan, haleluya banyak sekali dipakai. Terutama dalam liturgia misa. Pada permulaan reformasi , haleluya dipakai dalam tempatnya yang biasa. Luther menyebutnya sesudah pembacaan surat-surat dan Gradual. b. Pada saat ini, haleluya dipakai oleh kebanyakan gereja sesudah pembacaan Alkitab (Surat-surat). Pelayan berkata,Berbahagialah orang yang mendengar firman Allah dan memeliharanya. Haleluya! dan jemaat menyanyi sebagai jawaban Haleluya! Haleluya! Pada waktu Adven dan Sengsara, haleluya deganti dengan kata hosanna.

3. Catatan Di beberapa tempat di Indonesia sedang dibuat eksperimen dengan pembacaan mazmur dalam terjemahan baru secara antifonis : tiap-tiap ayat dibacakan selang-seling oleh pelayan dan jemaat. Tetapi ada pendapat bahwa pembacaan mazmur tidak cocok untuk pembacaan bersama. Berdasarkan pengalaman ini orang pada umumnya lebih skeptic terhadap usul untuk menyanyikan mazmur-mazmur tidak bersajak secara resiatif (gregorians).. Cara yang paling baik menyanyikan mazmur-mazmur di Indonesia ialah menyanyikan mazmurmazmur dalam bentuk sajak sesuai dengan kebiasaan yang ada pada kita sekarang. Cara ini sangatlah bermanfaat bagi jemaat.