Anda di halaman 1dari 57

PENDAHULUAN

Suku Minangkabau merupakan penduduk asli yang menempati provinsi Sumatera Barat dan sekitarnya. Kebudayaan mereka adalah bersifat keibuan (matrilineal), dengan harta dan tanah diwariskan dari ibu kepada anak perempuan, sementara urusan ugama dan politik merupakan urusan kaum lelaki (walaupun setengah wanita turut memainkan peranan penting dalam bidang ini). Suku Minangkabau menjunjung tinggi penghormatan terhadap seorang perempuan. Terdapat banyak adat yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya baik yang behubungan dengan garis keturunan, harta pusaka maupun adat yang berhubungan dengan sopan santun dan tingkah laku. Di seluruh Indonesia dan bahkan di mancanegara, masakan khas suku ini, populer dengan sebutan masakan Padang sangatlah terkenal.

ASAL USUL NAMA MINANGKABAU

Ada banyak pendapat yang bermunculan tentang asal-usul nama yang minangkabau. dikemukakan Pendapat-pendapat

tersebut ada yang berasal dari orang-orang yang memiliki ilmu di bidang sejarah dan ada yang bersumber dari orang-orang yang sekedar pendapat tanpa argumentasi yang kuat, artinya tanpa didukung oleh nilai-nilai sejarah dan akibatnya juga kurang didukung oleh masyarakat. Beberapa pendapat yang cukup kuat dan didukung oleh bukti-bukti sejarah adalah sebagai berikut. A. Pendapat Sultan Muhammad Zain Menurut pendapatnya bahwa Minangkabau berasal dari Binanga Kanvar yang artinya Muara Kampar. Keterangan ini bertambah kuat oleh karena Chaw Yu Kua yang dalam abad ke 13 pernah datang berkunjung ke Muara Kampar dimana ia menerangkan bahwa di sana didapatinya satu-satunya daerah yang paling ramai dan makmur di pusat Sumatera. B. Pendapat M. Said Pendapat dari M. Said ini didasarkan pada prasasti Padang Roco tahun 1286 di dekat sungai Langsat di hulu sungai Batang Hari. Pada prasasti ini ditemukan kata-kata swarna bumi dan bhumi melayu. Tidak satupun dari prasasti-prasasti yang ditemui yang berisikan kata-kata Minangkabau. Sedangkan tempat prasasti ditemukan termasuk daerah Minangkabau sekarang. Oleh sebab itu M. Said berkeyakinan bahwa ketika ekspedisi pamalayu, nama Minangkabau belum ada. Menurut penelitian ahli sejarah seperti M. Yamin dan C.C Berg, ekspedisi Pamalayu bukanlah agresi militer, melainkan suatu kegiatan diplomatik dalam usaha mengadakan aliansi untuk menghadapi Khubilai Khan. Itulah sebabnya prasasti Padang Roco isinya juga menunjukkan kegembiraan.
2

Tidak mustahil antara pihak tamu dengan tuan rumah diadakan pesta untuk menyenangkan hati kedua belah pihak. Pada peristiwa inilah salah satu acaranya diadakan arena pertarungan kerbau antara tuan rumah dengan pihak tamu. Rupanya kemenangan berada pada pihak tuan rumah. Suatu pertanyaan timbul apakah cerita-cerita mengenai perlagaan kerbau yang kebanyakkan dianggap dongeng tidak mempunyai hubungan dengan kedatangan misi pamalayu ini. Menurut ukuran sekarang terlalu kecil peristiwa pertarungan kerbau ini untuk menguji kalah menang yang mempertaruhkan peristiwa dan status negara. Tetapi dari peristiwa ini nama Minangkabau lahir bukanlah mustahil. C. Pendapat Prof. DR. RM. NG. Poerbacaraka Pendapat yang dikemukakannya dikaitkan dengan prasasti yang terdapat di Palembang yaitu Prasasti Kedukan Bukit. Pada prasasti ini terdapat sepuluh baris kalimat yang berangka tahun 605 (saka) atau 683 Masehi. Kesimpulan dari isi prasasti tersebut adalah Yang Dipertuan Hyang berangkat kari Minanga Tamwan naik perahu membawa bala tentara. Sebagian melalui jalan darat. Menurut Poerbacaraka kata tamwan pada prasasti itu sama dengan bahasa jawa kuno yaitu temwan, bahasa jawa sekarang temon, bahasa indonesianya pertemuan. Pertemuan disini yaitu pertemuan dua buah sungai yang sama besarnya. Sungai yang dimaksud itu ialah sungai Kampar Kiri dan Kampar Kanan. Besar kemungkinan kemudian dinamakan Minanga Kamwar yaitu Minanga Kembar. Bagi orang Sumatera Barat disebut Minanga Kanwa yang lama kelamaan diucapkan Minangkabau. Juga dikemukakannya bahwa dengan pertemuan kampar kiri dan kampar kanan disinilah terletak pusat agama Budha Mahayana, yaitu Muara Takus. D. Pendapat Prof. Dr. Muhammad Hussein Nainar Menurut keterangan, guru besar pada Universitas Madras ini, sebutan Minangkabau berasal dari Menon Khabu yang artinya Tanah Pangkal

atau Tanah Permai. Disini beliau tidak menjelaskan alasan atas pendapatnya tersebut. E. Pendapat Thambo Tambo merupakan salah satu sumber sejarah yang menjadi acuan dalam mengkaji dan mempelajari budaya minangkabau lebih dalam. Tambo ini berbentuk kitab kuno yang berisikan sejarah dan adat-istiadat yang pernah dijalankan pada zaman dahulu diminangkabau. Tambo ini menjadi dasar bagi orang-orang minangkabau untuk mempelajari dan menerapkan ajaranajaran budayanya saat ini. Dari beberapa tambo yang ditemui seperti Tambo Pariangan dan Tambo Sawah Tangah yang tidak diketahui penulisannya maupun tambo yang dikenal penulisannya, pada dasarnya mempunyai kesamaan sejarah lahirnya nama Minangkabau. Salah satu di antaranya transkipsi Tambo Pariangan nama Minangkabau diceritakannya sebagai berikut :tidak berapa lama di antaranya datang lagi raja itu membawa seekor kerbau besar yang tanduknya sepanjang delapan depa. Maka raja itu bertaruh atau bertanding, seandainya kalah kerbau kami, maka ambilah isi perahu ini. Maka dijawablah oleh raja, kemudian minta janji selama tujuh hari. Keesokan harinya dicarilah seekor anak kerbau yang sedang erat menyusu, lalu dipisahkan dari induknya. Anak kerbau tadi dibuatkan tanduk dari besi, yang bercabang dua yang panjangnya enam depa. Setelah sampai janji itu maka dipasanglah tanduk palsu itu dikepala anak kerbau yang disangka induknya tadi. Melihat kerbau besar tersebut, maka berlarilah anak kerbau itu menuju kepada kerbau besar yang dipisahkan dari induknya sendiri untuk menyusu karena demikian haus dan laparnya. Lalu anak kerbau itu berbuat seperti menyusu sehingga tanduk palsunya masuk perut kerbau besar itu dan akhirnya iduk kerbau itu mati. Maka mufakatlah seluruh rakyat akan menamakan negeri itu Minangkabau". Atas kemenangan pertarungan kerbau yang diungkapkan oleh tambo tersebut juga diungkapkan dalam bentuk talibun yang artinya karena tanduk besi tanduk terjela, mati dipadang koto ranah, tua dengan muda sangat heran, datangnya karena tidak dihimbau, karena cerdik nenek kita lantaran

menyambung digelanggang tanah, diperoleh tuah kemujuran, timbullah nama Minangkabau. Pendapat dari tambo ini merupakan pendapat yang umum di Minangkabau. Walaupun banyak pendapat yang lain seperti yang telah dikemukakan di atas tetapi pendapat tersebut tidak didukung oleh orang Minangkabau sendiri. Lain halnya pendapat tambo berikut ini: a. Sampai sekarang di arena tempat pertarungan kerbau tersebut masih diperoleh nama-nama tempat yang tidak berubah dari dahulu sampai sekarang. Nagari tempat pertarungan ini sekarang masih bernama nagari Minangkabau (lebih kurang 4 km dari kota Batusangkar). Di nagari Minangkabau tempat gelanggang pertarungan kerbau ini sekarang masih tetap bernama Parak Bagak (kebun berani). Di tempat inilah kerbau yang kecil tersebut memperlihatkan keberaniannya. Disamping itu juga ada nama Sawah Siambek dimana kerbau yang kalah itu lari dan kemudian dihambat bersama-sama. b. Pendapat yang dikemukakan tambo didukung oleh masyarakat Minangkabau dari dahulu sampai sekarang dan tidak sama halnya dengan pendapat-pendapat lainnya.
c. Asal nama Minangkabau karena menang kerbau juga ditemui dalam

Hikayat Raja - Raja Pasai seperti yang dikemukakan oleh Drs. Zuber Usman dalam bukunya Kesusasteraan Lama Indonesia. Dalam buku hikayat raja-raja Pasai itu dikemukakan bahwa raja majapahit telah menyuruh Patih Gajah Mada pergi menaklukkan Pulau Perca dengan membawa seekor kerbau keramat yang akan diadu dengan kerbau Patih Sewatang. Dalam pertarungan ini Patih Sewatang mencari anak kerbau yang sedang kuat menyusu. Setelah sekian lama tidak menyusu kepada induknya baru dibawa ke arena pertarungan. Karena haus dan kepalanya diberi minang (taji yang tajam) ketika pertarungan terjadi anak kerbau tersebut menyeruduk kerbau Majapahit tadi. Dalam pertarungan ini kerbau Patih Sewatang yang menang. Berdasarkan kepada tambo, mungkin ada yang bertanya mengapa tidak disebut manang kabau tetapi Minangkabau. Jawabnya karena kemenangan
5

itu lantaran anak kerbau tadi memakai minang yaitu taji yang tajam dan runcing sehingga merobek perut lawannya. Asal nama Minangkabau lantaran kemenangan seperti yang dikemukakan tambo juga ada pesan-pesan tersirat yang disampaikan kepada kita dan generasi selanjutnya bahwa sifat diplomatis haruslah dipergunakan dalam menghadapi sesuatu masalah. Pertentangan fisik harus dihindarkan seandainya masih ada alternatif lainnya. Disamping itu juga secara tidak langsung memberi inspirasi kepada kita sekarang untuk meniru dan meneladani cara berbuat dan berfikir seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang Minangkabau pada masa dahulu. Dimana dibiasakan menggunakan otak sebelum menggunakan otot. Diplomasi adalah langkah yang terbaik dalam menyelesaikan suatu pertikaian dengan diplomasi musyawarah, berunding dan lain-lain, resiko yang lebih berat dapat dihindari. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa nama Minangkabau yang bersumber dari kemenangan kerbau tidak diragukan lagi kebenarannya. Disamping itu juga dapat disimpulkan bahwa pemakaian nama Minangkabau dipergunakan untuk nama sebuah nagari dekat kota Batusangkar. Untuk suku bangsa Minangkabau dan wilayah kebudayaan Minangkabau, nama Minangkabau yang berasal dari cerita adu kerbau inilah yang kita yakini kebenarannya. Sedangkan nama-nama yang dikemukakan oleh para ahli sejarah lainnya, kita terima juga sebagai pelengkap perbendaharaan kita dalam menggali sejarah Minangkabau selanjutnya.

ASAL USUL ORANG MINANGKABAU


Nenek moyang suku bangsa Minangkabau berasal dari percampuran antara bangsa Melayu Tua yang telah datang pada zaman Neolitikum dengan bangsa Deutro Melayu (Melayu Muda) yang melakukan migrasi dari daratan China Selatan ke pulau Sumatera sekitar 2.500-2.000 tahun yang lalu(zaman Perunggu). Kedua bangsa ini adalah serumpun dengan bangsa Astronesia. Kelompok pengembara Astronesia yang meninggalkan kampung halamannya di bagian Hindia, menuju ke selatan mencari daerah baru untuk kehidupan mereka. Dalam rangka pencarian tanah baru itu, setelah mereka mendarat di pantai timur Sumatera, bergerak ke arah pedalaman pulau Sumatera sampai ke sekitar gunung Merapi. Karena di sana mereka telah mendapatkan tanah subur di lereng gunung Merapi, mereka menetap dan membangun negeri pertama yaitu Pariangan Padang Panjang. Diperkirakan kelompok masyarakat ini masuk dari arah Timur pulau Sumatera, menyusuri aliran sungai Kampar hingga tiba di dataran tinggi Luhak nan Tigo (darek). Kemudian dari Luhak nan Tigo inilah suku Minang menyebar ke daerah pesisir (pasisie) di pantai barat pulau Sumatera, yang terbentang dari Barus di utara hingga Kerinci di selatan. Selain berasal dari Luhak nan Tigo, masyarakat pesisir juga banyak yang berasal dari India Selatan dan Persia dimana migrasi masyarakat tersebut terjadi Portugis ketika pantai barat Sumatera menjadi pelabuhan alternatif perdagangan selain Malaka ketika kerajaan tersebut jatuh ke tangan

POPULASI
Populasi orang minangkabau di dunia cukup besar, dan sebagian besar mereka berada di rantau. Minang perantauan merupakan istilah untuk suku Minangkabau yang hidup di luar provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Etos merantau orang Minangkabau sangatlah tinggi, bahkan diperkirakan tertinggi di Indonesia. Dari hasil studi yang pernah dilakukan oleh Mohctar Naim, 1973 (Merantau, Minangkabau Voluntary Migration, University of Singapore), pada tahun 1961 terdapat sekitar 32 % orang Minang yang berdomisili di luar Sumatera Barat, tetapi pada tahun 1971, jumlah itu meningkat menjadi 44 %. Berarti hampir separuh orang Minang berada di luar Sumatra Barat. Melihat data tersebut, maka berarti ada perubahan cukup besar pada etos merantau orang Minangkabau dibanding suku lainnya di Indonesia. Sebab menurut sensus tahun 1930, perantau tertinggi di Indonesia adalah orang Bawean (35,9 %), kemudian suku Batak (14,3 %), lalu Banjar (14,2 %), sedangkan suku Minang hanya sebesar 10,5 %. Saat ini diperkirakan jumlah Minang perantauan bisa mencapai 70 %, bahkan lebih. Hal ini berdasarkan penelitian acak, yang menyebutkan setiap keluarga di ranah Minang, dua pertiga saudaranya hidup di perantauan. Kini wanita Minangkabau pun sudah lazim merantau. Tidak hanya karena alasan ikut suami, tapi juga karena ingin berdagang, meniti karier dan melanjutkan pendidikan. Merantau pada etnis Minang telah berlangsung cukup lama. Migrasi besarbesaran pertama terjadi pada abad ke-15, dimana banyak keluarga Minang yang berpindah ke Negeri Sembilan, Malaysia. Kemudian gelombang migrasi berikutnya terjadi pada abad ke-19, yaitu ketika Minangkabau mendapatkan hak privelese untuk mendiami kawasan kerajaan Riau-Lingga. Pada masa penjajahan Belanda, migrasi besar-besaran terjadi pada tahun 1920, ketika perkebunan tembakau di Deli, Sumatera Timur dikembangkan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Pada masa kemerdekaan, Minang Perantauan banyak mendiami kota-kota besar di pulau Jawa. Kini, Minang Perantauan hampir tersebar di seluruh dunia.
8

IDENTIFIKASI GEOGRAFI
Sumatera Barat berada di bagian barat tengah Pulau Sumatera dengan luas 42.297,30 km . Provinsi ini memiliki dataran rendah di pantai barat, serta dataran tinggi vulkanik yang dibentuk Bukit Barisan yang membentang dari barat laut ke tenggara. Kepulauan Mentawai yang terletak di Samudera Hindia termasuk dalam provinsi ini. Garis pantai Sumatera Barat seluruhnya bersentuhan dengan Samudera Hindia sepanjang 375 km. Minangkabau adalah suatu lingkungan adat yang terletak dalam daerah geografis administratif Sumatera Barat dan juga menjangkau ke sebagian barat daerah geografis administratif provinsi Riau, dan ke sebagian barat daerah administratif provinsi Jambi. Pada mulanya, yang masuk wilayah sosial kultural Minangkabau hanyalah tiga luhak (sekarang jadi daerah tingkat II) yaitu Luhak Agam, Luhak Tanah Datar, dan Luhak Lima Puluh Kota yang disebut Minangkabau asli. Akan tetapi dalam perkembangannya wilayah Minangkabau meluas sampai ke luar tiga luhak tersebut yang disebut Daerah Rantau. Rantau luhak Agam meliputi pesisir barat sejak Pariaman sampai Air Bangis, Lubuk Sikaping dan Pasaman; Rantau Luhak Lima Puluh Kota meliputi Bangkinang, Lembah Kampar Kiri dan Kampar Kanan dan Rokan; rantau Luhak Tanah Datar meliputi Kubung Tiga Belas, pesisir barat dari Padang sampai Indra Pura, Kerinci dan Muara Labuh. Wilayah Minangkabau asli ditambah Daerah Rantau itulah yang secara geografis meliputi seluruh wilayah propinsi Sumatera Barat dan sebagian wilayah propinsi Riau dan Jambi. Danau-danau yang berada di Sumatera Barat adalah Maninjau (99,5 km), Singkarak (130,1 km), Diatas (31,5 km), Dibawah (Dibaruh) (14,0 km), Talang (5,0 km) Beberapa sungai besar di pulau Sumatera yang berhulu di provinsi ini, yaitu Sungai Siak, Sungai Rokan, Sungai Inderagiri (disebut sebagai Batang Kuantan di bagian hulunya), Sungai Kampar dan Batang Hari. Semua sungai ini bermuara di pantai timur Sumatera, di provinsi Riau atau Jambi. Sungaisungai yang bermuara di pantai barat pendek-pendek. Beberapa di
9

antaranya adalah Batang Anai, Batang Arau, dan Batang Tarusan. Gununggunung di Sumatera Barat adalah Marapi (2.891 m), Sago (2.271 m), Singgalang (2.877 m), Tandikat (2.438 m), Talakmau (2.912 m), Talang (2.572 m).

10

KEANEKARAGAMAN HAYATI
Mengingat keadaan geografis Minangkabau yang memiliki dataran rendah dan tinggi, daerah ini dipastikan memiliki keanekaragaman hayati yang tidak sedikit. Di dalam hutan tropis di Sumatera Barat dapat dijumpai berbagai spesies langka, misalnya: Rafflesia arnoldii (bunga terbesar di dunia), Harimau Sumatra, siamang, tapir, rusa, beruang, dan berbagai jenis burung dan kupu-kupu. Di provinsi ini terdapat dua taman nasional , yaitu Taman Nasional Siberut yang terdapat di Pulau Siberut (Kabupaten Mentawai) dan Taman Nasional Kerinci Seblat. Taman Nasional terakhir ini wilayahnya membentang di empat provinsi, antara lain Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu dan Sumatra Selatan. Selain kedua Taman Nasional tersebut masih ada beberapa cagar alam lainnya: Cagar Alam Rimbo Panti, Cagar Alam Lembah Anai, Cagar Alam Batang Palupuh, Cagar Alam Lembah Harau, dan Cagar Alam Beringin Sakti. Kekayaan perut bumi Sumatra Barat juga tak kalah dengan daerah lain di Indonesia. Mereka memiliki beberapa sumber daya alam, antara lain batu bara, batu besi, batu galena, timah hitam, seng, manganase, emas, dan batu kapur.

11

BAHASA
Bahasa Minangkabau mempunyai perkataan yang serupa dengan bahasa Melayu tetapi berbeda dari segi sebutan dan juga tata bahasa hingga menjadikannya unik dari bahasa Melayu. Bahasa yang digunakan dalam keseharian ialah bahasa daerah yang meliputi :

Bahasa Minangkabau

Bahasa Minangkabau memiliki beberapa dialek, seperti dialek Bukittinggi, dialek Pariaman, dialek Pesisir Selatan dan dialek Payakumbuh.

Bahasa Batak

Dialek yang digunakan berupa dialek Mandailing, yang biasanya digunakan suku Batak Mandailing di daerah Pasaman, yaitu daerah di sekitar perbatasan Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Bahasa Mentawai Bahasa Mentawai yang digunakan oleh penduduk yang bertempat tinggal di daerah Mentawai yang berupa kepulauan dan terletak beberapa puluh kilometer lepas pantai Sumatra Barat.

12

AGAMA
Kebanyakkan orang apabila diberitahu bahwa masyarakat Minang

merupakan penganut Islam yang kuat merasa bingung kerana anggapan mereka ialah sebuah masyarakat yang mengikut sistem saka (matriarchal) akan sering berselisih dengan fahaman Islam yang lebih patriarchal. Namun sebenarnya, terdapat banyak persamaan di antara fahaman Islam dan Minangkabau (lebih lagi pada masa kini) sehingga menjadi sukar untuk orang Minang membedakan satu daripada lain. Seperti contoh: Fahaman Islam: Menimba ilmu adalah wajib.

Fahaman Minangkabau: Anak-anak lelaki mesti meninggalkan rumah mereka untuk tinggal dan belajar di surau (langgar, mesjid). Fahaman Islam: Mengembara adalah digalakkan untuk mempelajari

dari tamadun-tamadun yang kekal dan binasa untuk meningkatkan iman kepada Allah. Fahaman Minangkabau: Remaja mesti marantau (meninggalkan

kampung halaman) untuk menimba ilmu dan bertemu dengan orang dari berbagai tempat untuk mencapai kebijaksanaan, dan untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Falsafah marantau juga berarti melatih orang minang untuk hidup mandiri, karena ketika seorang pemuda minang berniat marantau meninggalkan kampungnya, ia hanya membawa bekal seadanya. Fahaman Islam: Tiada wanita yang boleh dipaksa untuk menikah

dengan lelaki yang dia tidak disukainya Fahaman Minangkabau: Wanita menentukan dengan siapa mereka ingin menikah. Fahaman Islam: Ibu berhak dihormati 3 kali lebih dari bapak.

13

Fahaman Minangkabau: Bundo Kanduang adalah pemimpin/pengambil keputusan di Rumah Gadang. Ciri-ciri Islam begitu mendalam dalam adat Minang sehingga mereka yang tidak mengamalkan Islam dianggap telah keluar dari masyarakat Minang. Mayoritas penduduk Sumatra Barat beragama Islam. Selain itu ada juga yang beragama Kristen di Kepulauan Mentawai, serta Hindu dan Buddha yang pada umumnya adalah para pendatang.

14

SUKU-SUKU DALAM ETNIK MINANGKABAU


Dalam etnik Minangkabau terdapat banyak klan, yang oleh orang Minang sendiri disebut dengan istilah suku. Beberapa suku besar dalam etnik Minangkabau adalah suku Piliang, Bodi Caniago, Tanjuang, Koto, Sikumbang, Malayu, dan Jambak. Selain itu terdapat pula suku pecahan dari suku-suku utama tersebut. Kadang beberapa keluarga dari suku yang sama, tinggal dalam suatu rumah yang disebut Rumah Gadang. Di masa awal Minangkabau, hanya ada empat suku dari dua lareh atau kelarasan (laras). Suku-suku tersebut adalah :

Suku Koto Suku Piliang Suku Bodi Suku Chaniago Dan dua kelarasan itu adalah :

1. 2.

Lareh Koto Piliang, yang digagas oleh Datuk Ketumanggungan Lareh Bodi Caniago, digagas oleh Datuk Perpatih Nan Sebatang Perbedaan antara dua kelarasan itu adalah:

Lareh Koto Piliang menganut sistem budaya Aristokrasi Militeristik Lareh Bodi Caniago menganut sistem budaya Demokrasi Sosialis Dalam masa selanjutnya, muncullah satu kelarasan baru bernama Lareh Nan Panjang, diprakarsai oleh Datuk Sakalok Dunia Nan Bamego-mego. Sekarang, suku-suku dalam Minangkabau berkembang terus dan sudah mencapai ratusan suku, yang terkadang sudah sulit untuk dicari persamaannya dengan suku induk. Di antara suku-suku tersebut adalah:

Suku Tanjung Suku Sikumbang Suku Sipisang


15

Suku Bendang Suku Melayu (Minang) Suku Guci Suku Panai Suku Jambak Suku Kutianyie Suku Kampai Suku Payobada Suku Pitopang Suku Mandailiang Suku Mandaliko Suku Sumagek Suku Dalimo Suku Simabua Suku Salo Suku Singkuan Selain dikenal sebagai pedagang, masyarakat Minang juga berjaya melahirkan beberapa penyair, penulis, negarawan, ahli fikir dan ulama. Ini mungkin terjadi karena budaya Minang yang memberatkan penimbaan ilmu pengetahuan. Sebagai penganut agama Islam yang kuat, masyarakat Minang cenderung untuk menggabungkan ciri-ciri Islam dalam masyarakat yang modern. Selain itu, peranan yang dimainkan oleh para cendekiawan bersama dengan masyarakat menjadikan Tanah Minangkabau, yaitu Sumatera Barat sebagai sebuah kuasa utama dalam pergerakan kemerdekaan di Indonesia.

16

UPACARA-UPACARA ADAT MINANGKABAU


Batagak Panghulu Batagak panghulu adalah upacara pengangkatan panghulu. Sebelum upacara peresmiannya, syarat-syarat berikut harus dipenuhi:
Baniah, yaitu menentukan calon penghulu baru. Dituah cilakoi, yaitu diperbincangkan baik buruknya calon dalam

sebuah rapat.
Panyarahan baniah, yaitu penyerahan calon penghulu baru. Manakok ari, yaitu perencanaan kapan acara peresmiannya akan

dilangsungkan. Peresmian pengangkatan panghulu dilaksanakan dengan upacara adat. Upacara ini disebut malewakan gala. Hari pertama adalah batagak gadang, yakni upacara peresmian di rumah gadang yang dihadiri urang nan ampek jinih dan pemuka masyarakat. Panghulu baru menyampaikan pidato. Lalu panghulu tertua memasangkan deta dan menyisipkan sebilah keris tanda serah terima jabatan. Akhirnya panghulu baru diambil sumpahnya, dan ditutup dengan doa. Hari kedua adalah hari perjamuan. Hari berikutnya panghulu baru diarak ke rumah bakonya diringi bunyi-bunyian. Batagak Rumah

Batagak rumah adalah upacara mendirikan rumah gadang. Kegiatannya sebagai berikut. Mufakat Awal Upacara batagak rumah dimulai dengan permufakatan orang sekaum, membicarakan letak rumah yang tepat, ukurannya, serta kapan waktu mengerjakannya. Hasil mufakat disampaikan pada panghulu suku, lalu panghulu suku ini menyampaikan rencana mereka pada panghulu sukusuku yang lain. Maelo Kayu Maelo kayu yaitu kegiatan untuk menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan, umumnya kayu-kayu. Penebangan dan pemotongan kayu

17

dilakukan secara gotong royong. Kayu yang dijadikan tiang utama direndam dulu dalam lumpur atau air yang terus berganti. Tujuannya agar kayu-kayu itu awet dan sulit dimakan rayap. Mancatat Tiang Tuo Mancatak tiang tuo yaitu pekerjaan pertama dalam membuat rumah. Bahan-bahan yang akan digunakan diolah lebih lanjut. Batagak Tiang Acara ini dilakukan setelah bahan-bahan siap diolah. Pertama, tiangtiang ditegakkan dengan bergotong royong. Tiang rumah gadang tidak ditanamkan di tanah, tetapi hanya diletakkan di atas batu layah (gepeng). Karena itulah rumah gadang jarang rusak bila terjadi gempa atau angin badai.

Manaiakkan kudo-kudo Manaiak-I Rumah

Ini adalah melanjutkan pembangunan rumah setelah tiang-tiang didirikan. Manaiak-i rumah adalah acara terakhir dari upacara batagak rumah, dilakukan setelah rumah selesai. Pada acara ini diadakan perjamuan tanda terima kasih pada semua pihak dan doa syukur pada Allah SWT. Upacara Perkawinan
Pinang Maminang

Acara ini diprakarsai pihak perempuan. Bila calon suami untuk si gadis sudah ditemukan, dimulailah perundingan para kerabat untuk membicarakan calon itu. Pinangan dilakukan oleh utusan yang dipimpin mamak si gadis. Jika pinangan diterima, perkawinan bisa dilangsungkan.

Batimbang Tando

Batimbang tando adalah upacara pertunangan. Saat itu dilakukan pertukaran tanda bahwa mereka telah berjanji menjodohkan anak kamanakan mereka. Setelah pertunangan barulah dimulai perundingan pernikahan.

Malam Bainai

18

Bainai adalah memerahkan kuku pengantin dengan daun pacar/inai yang telah dilumatkan. Yang diinai adalah keduapuluh kuku jari. Acara ini dilaksanakan di rumah anak daro (pengantin wanita) beberapa hari sebelum hari pernikahan. Acara ini semata-mata dihadiri perempuan dari kedua belah pihak.

Pernikahan

Pernikahan dilakukan pada hari yang dianggap paling baik, biasanya Kamis malam atau Jumat. Acara pernikahan diadakan di rumah anak daro atau di masjid.

Basandiang dan Perjamuan

Basandiang adalah duduknya kedua pengantin di pelaminan untuk disaksikan tamu-tamu yang hadir pada pesta perjamuan. Kedua pengantin memakai pakaian adat Minangkabau. Acara biasanya dipusatkan di rumah anak daro, jadi segala keperluan dan persiapan dilakukan oleh pihak perempuan.

Manjalang

Manjalang merupakan acara berkunjung. Acara ini dilaksanakan di rumah marapulai (pengantin laki-laki). Para kerabat menanti anak daro yang datang manjalang. Kedua pengantin diiringi kerabat anak daro dan perempuan yang menjujung jamba, yaitu semacam dulang berisi nasi, lauk pauk, dsb.

Upacara Turun Mandi

Upacara turun mandi dimaksudkan untuk menghormati keturunan yang baru lahir dan berbagi kebahagiaan dengan masyarakat bahwa di kaum tersebut telah lahir keturunan baru. Upacara ini dilaksanakan di rumah orang tua si anak saat anak tersebut berumur tiga bulan. Di sini, si anak dimandikan oleh bakonya. Selain itu juga ada perjamuan.

Upacara Kekah kekah (akikah) merupakan syariat agama Islam. Ini

Upacara

dimaksudkan sebagai upacara syukuran atas titipan Allah SWT berupa anak kepada kedua orang tuanya. Waktu pelaksanaannya bermacammacam. Upacara dilaksanakan di rumah ibu si anak atau di rumah
19

bakonya. Acara dimulai dengan pembukaan. Lalu seekor kambing disembelih, dibersihkan, lalu dimasak. Acara dilanjutkan dengan doa, lalu makan bersama.

Upacara Sunat Rasul

Sunat Rasul juga merupakan syariat Islam, tanda pendewasaan bagi seorang anak. Upacara biasanya diselenggarakan waktu si anak berumur 8 sampai 12 tahun, bertempat di rumah ibu si anak atau rumah keluarga terdekat ibu si anak. Acara dimulai dengan pembukaan, lalu si anak disunat, selanjutnya doa.

Upacara Tamaik Kaji

Tamaik kaji (khatam Quran) diadakan bila seorang anak yang telah mengaji di surau sebelumnya tamat membaca Al-Quran. Acara diadakan di rumah ibu si anak atau di surau/masjid tempat anak itu mengaji. Si anak disuruh membaca Al-Quran di hadapan seluruh orang yang hadir, dilanjutkan dengan makan bersama. Acara ini biasa pula dilakukan beramai-ramai.

Upacara Kematian

Pergi melayat (taziah) ke rumah orang yang meninggal merupakan adat bagi orang Minangkabau. Tidak hanya karena dianjurkan ajaran Islam, tapi juga karena hubungan kemasyarakatan yang sangat akrab membuat mereka malu bila tidak datang melayat. Upacara kematian dimaksudkan sebagai upacara penghormatan terakhir pada almarhum/ah. Umumnya upacara kematian lebih mengutamakan hal-hal yang wajib dilaksanakan menurut syariat Islam, yakni penyelenggaraan jenazah. Pada acara ini juga diiringi pidato/pasambahan adat. Selanjutnya ada pula acara peringatan, seperti peringatan tujuh hati (manujuah hari), peringatan duo puluah satu hari, peringatan hari ke-40, lalu peringatan pada hari yang ke-100 (manyaratuih hari).

20

SENI MINANG KABAU


Teater Randai Keindahan Orang Minang Randai adalah keindahan. Adalah derai air mata. Adalah harapan dan adalah keagungan cinta. Tapi juga kekejaman. Randai adalah simpul khayalan anak Minangkabau yang bisa mewakili generasi ke generasi. Paut memaut rasa cinta, paut memaut kebencian, kekerasan, yang kuat mengalahkan yang lemah. Namun, pada akhirnya yang benar juga yang akan menang. Randai adalah pesan. Pesan bertutur dalam dendang yang disampaikan lewat kesenian tradisional Minangkabau. Jika ada pertunjukan yang paling mengagumkan sepanjang sejarah tradisional Minangkabau, maka itu pastilah randai. Usianya membentang panjang berabadabad. Menurut informasi, randai pada awalnya dimainkan di halaman surau, sebagai perintang-rintang waktu bagi para pemuda. Pemuda yang sesungguhnya sudah punya rasa cinta, memendamnya dalam-dalam di dada, tapi mereka tuangkan dalam kesenian berupa randai. Dulu, di surau itu, habis mengaji, usai belajar adat, pemuda-pemuda belajar silat. Waktu rehat, mereka memperagakan gerakannya. Kemudian, karena mereka senang bergaul sesamanya, lantas mereka membuat gerakan `rantai satu pesilat dan pesilat lain tidak putus. Karena tak putus, otomatis gerakannya menjadi melingkar. Begitulah, akhirnya, randai sampai sekarang dimainkan dalam gerakan melingkar. Teater Minangkabau ini lantas tak lagi dimainkan di surau tapi di tempat-tempat keramaian. Randai adalah perpaduan dari sastra, musik, seni suara, seni tari, teater dan pencak silat. Selain itu, juga memuat komedi, dan seni dekorasi. Dalam pesan cerita pastilah ada sejarah, ada kisah dalam tambo. Pada umumnya lakon randai dipungut dari cerita rakyat Minangkabau. Rambun Pamenan, sebuah randai dari Sungayang, Tanah Datar, misalnya, berkisah tentang seorang anak muda yang mencari
21

ibundanya. Sang ibu ditawan oleh Harimau Tambun Tulang, tukang samun paling kesohor di Bukit Tambun Tulang. Harimau Tambun Tulang, perampok yang makan masak mentah, jatuh cinta pada seorang wanita. Itulah ibu Rambun Pamenan. Kisah akhirnya dapat ditebak, si anak menemukan ibunya dalam penjara batu dengan tangan dirantai. Tidak saja bisa membawa ibunya pulang, tapi ia berhasil membunuh Harimau Tambun Tulang. Di Padang sendiri, misalnya di Pauh, ada grup randai Tungku Tigo Sajarangan yang diasuh oleh Rusydi Pandeka Sutan. Sebuah kisah bertajuk Kasiah Putuih Dandam Tak Sudah, misalnya. Cerita bergulir, mengisahkan anak gadis (Sari Banilai) menolak keinginan orang tuanya (Datuk Tumanggung Tuo) yang hendak menikahkannya dengan bako kemenakan Datuk Tumanggung Tuo bernama Malendo Alam. Terjadi konflik hebat di situ. Konflik memang senantiasa tersangkut pada kisah cinta, sesuatu yang memang mengasyikkan untuk ditonton, sebab dituturkan dalam bahasa Minang sehari-hari. Di Padang saja hari ini, menurut Sekretaris Dewan Kesenian Padang (DKP), Ery Mefri, terdapat 70 grup randai. Sejak 2001, randai telah menjadi agenda khusus DKP. Malah seluruh SLTP di Padang diwajibkan memiliki satu cerita randai dan satu grup randai. Sementara di Sumbar, menurut Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto, salah seorang ahli dan pelestari randai, sedikitnya terdapat 300 grup kesenian randai. Beberapa di antara grup randai tersebut sudah tampil di luar negeri. Misalnya, Grup Palito Nyalo, tampil dalam Pesta Gendang Nusantara di Malaka, Malaysia, 11-16 April 2002. Akhir tahun 2002, ada pula tawaran dari Brunei Darussalam untuk menampilkan kesenian randai. Musra yang akrab disapa Mak Katik, malah mendapat kehormatan diundang sebagai dosen tamu di University of Manoa, Hawaii, selama enam bulan dan bersama mahasiswa mementaskan randai dengan cerita

22

Umbuik Mudo yang dialihbahasakan ke bahasa Inggris. Profesor di sana menilai kesenian randai tak kalah hebat dan mengagumkan. Kekagumannya sama besar dengan kekagumam pada karya Williams Shakespeare, kata Mak Katik, mengutip Dr Christine Pauka, yang tesisnya tentang randai. Pertunjukan randai dibawakan dengan durasi satu sampai tiga jam. Bahkan ada yang lima jam. Pola permainannya, para pemain akan membentuk gerakan melingkar. Mereka bergerak dalam ayunan silat yang indah. Semua pemain laki-laki. Namun, di antara mereka ada yang didandani seperti wanita. Ia akan menyanyi dan berdendang, sekaligus berperan sebagai pemain wanita. Namun, kemudian pemain wanita tidak lagi diambilalih laki-laki, tapi diserahkan pada wanita. Irama dalam dendang tidak lagi didominasi oleh irama tradisi, tapi banyak yang mencomot irama lagu-lagu dangdut, melayu bahkan pop. Randai memodernisir dirinya sendiri, kata sastrawan Yusrizal KW. Dalam sebuah randai ada pemain galombang. Pemain ini melakukan gerakgerak gelombang yang bersumber dari bunga-bunga silat. Menurut Rusydi N, penilik kebudayaan di Padang, biasanya pemain galombang dipilih tubuhnya yang atletis. Selain pemain galombang, juga ada pemain naskah. Andalan pemain ini adalah vokalnya yang rancak, karena ia akan berbicara lantang menyampaikan narasi demi narasi yang menjadi ruh cerita randai. Berikut juga ada pemain musik/dendang. Menurut Rusydi, pemain musik memang harus orang yang berbakat, sebab merekalah yang akan memainkan talempong, gendang, serunai, saluang, puput batang padi, bansi, rabab dan lainnya. Selain itu, keberhasilan sebuah randai juga ditentukan oleh tukang dendang. Tukang dendang (penyanyi) yang tidak piawai, otomatis akan membuat randai kehilangan darah, sebagus apapun cerita yang dibawakannya. Sebaiknya tukang dendang punya suara yang bergetar, beranak dan
23

mendayu

panjang.

Ada juga pemain pasambahan, orang yang akan bertindak berbicara atau berdialog dalam petatah-petitih Minangkabau. Pemain ini akan memberi bobot dan pesan moral lewat kiasan yang ia sampaikan. Biasanya, randai memang sarat dengan pesan-pesan seperti itu. Randai juga hadir ke pentas dengan pemain silat. Bukan saja diperlukan dalam gerakan bersama yang membuat lingkaran di pentas, tapi akan ada perkelahian antara jagoan pada suatu tempat. Dan itu memerlukan silat. Tapi pada posisi pemain manapun seseorang dipercaya, biasanya pemain randai akan berperan sebagai raja, permaisuri, putri raja, anak muda, dubalang, hulubalang, serta dilengkapi peran lainnya. Siapa akan memerankan apa, diantur oleh sutradara atau tuo randai. Jika hari ini kita menontotn randai, maka hal itu, menurut sastrawan Yusrizal KW, merupakan hasil dari suatu proses akulturasi yang panjang antara tradisi kesenian Minangkabau dengan bentuk-bentuk sandiwara modern seperti tonil, yang mulai dikenal masyarakat Minangkabau sejak awal abad ke-20. Seni Rebab dan Etos Kerja Di dalam masyarakat Pesisir Selatan ada terdapat beberapa istilah, seperti rabab, barabab, dan tukang rabab. Rabab adalah alat musik gesek, seperti biola. Barabab adalah bercerita sambil diiringi musik biola. Sedangkan tukang rabab adalah orang yang memainkan alat musik rabab itu sendiri. Jenis kesenian rabab ini awalnya hidup dalam masyarakat Pesisir Selatan. Setelah itu, barulah berkembang ke daerah sekitarnya. Oleh sebab itulah, kesenian rabab sering disebut dengan Rabab Pasisie. Maksudnya adalah rabab yang sering dimainkan masyarakat Pesisir Selatan. Walaupun bentuk kesenian rabab ini juga memiliki kesamaan dengan rebab yang dimainkan masyarakat Pariaman, tetapi jenis biola dan unsur yang dimiliki biolanya juga berbeda dengan biola yang dimiliki pada kesenian masyarakat Pesisir Selatan. Rabab yang dimainkan dalam kesenian masyarakat Pariaman sebagian onderdilnya menggunakan tempurung

24

(Batok) kelapa. Rababnya pun lebih dikenal dengan sebutan 'Rabab Pariaman'. Selain itu, bunyi yang dihasilkannya juga berbeda. Rabab Pesisie suaranya agak lebih nyaring daripada rabab Pariaman. Bila dilakukan pengamatan secara cermat, kesenian rebab yang dimainkan oleh masyarakat Pesisir Selatan memiliki kontribusi positif terhadap peningkatan perekonomian masyarakat Pesisir Selatan. Rebab memiliki fungsi yang sama dengan seni Minangkabau lainnya. Misalnya memiliki fungsi sebagai hiburan dan pendidikan. Masyarakat disamping terhibur mendengarkan rebab juga memperoleh pendidikan langsung terutama melalui amanat cerita yang disampaikan. Selain itu, kesenian rebab juga memiliki kekuatan untuk mendorong semangat kerja masyarakat. Hal ini sesuai juga dengan pernyataan Jakob Sumardjo (1998) dalam bukunya "Sastra dan Massa" bahwa seni sastra sebagai milik masyarakat selalu dipelihara oleh masyarakat tersebut. Contohnya, hal yang sering dilakukan masyarakat Kecamatan Batang Kapas dalam mengolah lahan pertaniannya. Mereka selalu bekerja secara bersama-sama dan sering memutar kaset rebab untuk membangkitkan semangat kerja. Berdasarkan realitas yang ditemukan ternyata pemutaran kaset rebab dalam aktifitas tersebut mampu membangkitkan semangat bekerja mereka. Mereka dengan gelak dan senang hati melakukan pekerjaannya. Dengan demikian rasa letih bekerja sedikit hilang. Segala pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik. Pekerjaan berat menjadi ringan. Hal ini juga secara tidak langsung akan memacu peningkatan perekonomian masyarakat, terutama masyarakat Pesisir Selatan. Silek-Seni Beladiri Minangkabau Silek adalah nama Minangkabau untuk seni beladiri yang ditempat lain dikenal dengan Silat. Sistem matrilineal yang dianut membuat anak laki-laki setelah akil balik harus tinggal di surau dan silat

25

adalah salah satu dasar pendidikan penting yang harus dipelajari oleh anak laki-laki disamping pendidikan agama islam. Silek merupakan unsur penting dalam tradisi dan adat masyarakat Minangkabau yang merupakan ekspresi etnis Minang. Silek sudah merasuk dalam setiap kehidupan sehari-hari dan muncul sebagai unsur penting dalam cerita rakyat, legenda, pepatah dan tradisi lisan di Minangkabau. Ada banyak jenis aliran beladiri silek di Sumatera Barat dan dapat dikatagorikan dalam sebelas aliran silek yang berhasil didata antara lain : Silek Tuo Silek Sitaralak Silek Harimau Silek Pauh Silek Sungai Patai Silek Luncua Silek Gulo-Gulo Tareh Silek Baru Silek Ulu Ambek Menurut Hiltrud Cordes hanya sepuluh pertama saja yang dapat digolongkan sebagai aliran beladiri silek tetapi silek Ulu Ambek banyak terdapat pada pesisir Pariaman. Jenis beladiri silek diatas ditemukan dibanyak tempat di Sumatera Barat meskipun banyak jenis lain yang lebih lokal bahkan ada yang hanya terdapat dalam suatu kampung saja dan untuk yang terakhir ini lebih tepat rasanya untuk disebut perguruan silek daripada aliran yang sebagian besar menamakan aliran sileknya dengan nama kampung asal aliran silek itu berasal dan tidak mengasosiasikan diri mereka dengan salah satu aliran diatas, malah beberapa menamakan diri dengan nama yang unik seperti Harimau Lalok, Gajah Badorong, Kuciang Bagaluik atau Puti Mandi.

26

Silek biasanya dilakukan ditempat yang disebut sasaran, sebuah tempat terbuka atau kosong dan luas yang dekat dengan rumah guru silek. Latihan beladiri silek dilaksanakan pada saat menjelang malam setelah sholat magrib dan berlangsung selama 2-3 jam meskipun kadang sampai tengah malam. Latihan beladiri silek juga dilakukan dengan pencahayaan seadanya seperti cahaya bulan, obor atau lampu minyak tanah. Hal ini dilakukan untuk melatih ketajaman penglihatan dan juga sebagai latihan intuisi. Kadang-kadang latihan silek ini juga dihadiri oleh penghulu desa dan diiringi oleh nyanyian, talempong ataupun saluang. Pakaian silek adalah galembong (celana hitam), taluak balango dan destar. Latihan beladiri silek tidak dilakukan pemanasan seperti aliran beladiri di asia pada umumnya. Dua orang dengan ukuran fisik dan kemampuan tehnik yang sama bermain silek dalam sasaran dengan pengawasan yang ketat dari sang guru dan disaksikan oleh murid-murid yang lain. Permainan silek (demikian sebutan untuk sesi latihan) berlangsung setelah peserta memberi hormat pada guru dan kemudian pada lawan mainnya, setelah permainan usai penghormatan berlangsung sebaliknya. Suasana latihan biasanya santai dan jauh dari kesan formal dimana latihan fisik yang keras bukan prioritas tertinggi. Waktu rata-rata yang diperlukan untuk menamatkan pendidikan dasar silek adalah 6-8 bulan dan untuk memiliki dasar silek yang baik seorang murid harus belajar secara teratur selama 2-3 tahun. Sedangkan untuk dapat menjadi master atau pendekar dalam beladiri silek diperlukan latihan selama 15 tahun. Dalam latihan beladiri silek, murid berbaris ataupun membentuk lingkaran dan meniru gerakan dari guru ataupun murid senior. Guru biasanya memberi aba-aba dengan suara atau tepukan tangan untuk menandakan perubahan gerakan yang disebut tapuak. Setelah cukup mahir dengan tehnik dasar, murid disarankan untuk berlatih dengan murid lain yang berbeda ukuran fisik hingga mampu beradaptasi dengan berbagai postur, gerakan dan tingkatan tehnik.
27

Strategi dasar dari silek ini adalah garak-garik yang dapat diartikan sebagai aksi dan reaksi yang seimbang. Garak-garik dapat dianalogikan seperti permainan catur dimana masing-masing memiliki beberapa pilihan jurus dan harus memilih jurus yang paling efektif untuk dilaksanakan. Masing-masing harus mengantisipasi semua kemungkinan gerakan dari lawan dan mampu memanipulasi lawan untuk mengambil langkah sehingga lawan memiliki lebih sedikit pilihan jurus dan pada akhirnya tidak memiliki jurus lagi untuk dilancarkan. Tetapi tidak seperti catur, dalam beladiri silek waktu adalah hal yang penting, setiap langkah dan jurus harus dilancarkan secara cepat, tepat dan penuh kejutan sehingga lawan gagal mengantisipasinya. Semakin ahli para pemain semakin lama permainan ini berakhir.

Apabila seorang murid telah cukup mahir dalam tehnik maupun fisik serta mampu mendapat kepercayaan dari sang guru maka ia akan mendapat latihan pribadi khusus dari sang guru. Dalam proses mengajarkan pengetahuan khusus ini, murid disumpah untuk menggunakan ilmu beladiri ini untuk kebaikan. Latihan tingkat lanjut lain berupa mengirim murid kedalam hutan untuk meditasi, menaklukkan rasa takut dan bertahan hidup selama beberapa hari dihutan. Latihan yang kurang berbahaya adalah dengan mengirim murid untuk latih tanding dengan perguruan silat lain. Beberapa karakter dari silek membuatnya dapat dilaksanakan seperti tarian karena itu silek sering diiringi oleh musik dan lagu dimana para pemain musik mencocokkan irama musik dengan gerakan para pendekar silek.

Sebuah karakter unik dari silek adalah barisan melingkar (galombang) yang dipakai saat latihan pada beberapa aliran silek. Setiap peserta latihan melaksanakan gerakan secara simultan sehingga memberikan

28

kesan seperti tarian. Maka tidaklah mengherankan bila seni beladiri silek merupakan asal dari banyak seni tari dan seni teater di Minangkabau seperti randai, tari ratak, tari persembahan dan tari tanduk (tari tanduak). Tari Piring Tari Piring termasuk salah satu tari tradisional khas Minangkabau yang berumur ratusan tahun. Tarian tersebut berasal dari Solok, Sumatra Barat. Awalnya, tari ini dilakukan sebagai ritual guna mengucapkan rasa syukur masyarakat setempat kepada dewa-dewa karena mendapatkan hasil panen yang melimpah ruah. Ritual dilakukan oleh beberapa gadis cantik dengan membawa sesaji dalam bentuk makanan yang diletakkan di dalam piring. Para gadis tersebut didandani dengan pakaian yang bagus lalu mereka membawa makanan dalam piring sembari melangkah dengan gerakan yang dinamis. Setelah Islam masuk ke Minangkabau, tradisi Tari Piring tetap dilangsungkan. Akan tetapi, tari tersebut hanya ditampilkan sebagai sarana hiburan bagi masyarakat banyak pada acara-acara keramaian (pesta), seperti: pesta adat, pesta pernikahan, dan lain-lain. Beberapa tahun terakhir ini, pemerintah Sumatra Barat mengambil satu kebijakan untuk menjadikan Tari Piring sebagai salah satu aset untuk menarik para wisatawan berkunjung ke Sumatra Barat. Di luar Sumatra Barat, Tari Piring pernah dipentaskan di beberapa tempat di Indonesia, seperti Jakarta, Medan, Pekanbaru, dan kota-kota besar lainnya, bahkan di beberapa negara di Asia dan Eropa, seperti Malaysia, Singapura, dan Serbia. Pementasan tersebut dilakukan pada festival kebudayaan dan promosi budaya dalam rangka memperkenalkan keanekaragaman budaya Nusantara di mancanegara. Tari Piring merupakan tarian yang istimewa. Tarian ini dimainkan dengan menggunakan piring sebagai media utama. Para penari Tari Piring memainkan piring dengan cekatan tanpa terlepas dari genggaman sembari bergoyang dengan gerakan yang mengalir lembut dan teratur.

29

Di samping itu, para penari juga sering melakukan tarian di atas pecahan kaca. Mereka menari, melompat-lompat, dan berguling-guling sembari membawa piring di atas pecahan kaca. Uniknya, para penari tersebut tidak terluka sedikitpun dan piring yang mereka bawa tidak jatuh. Dalam Tari Piring ada beberapa variasi gerakan yang bisa dimainkan, di antaranya tupai bagaluik (tupai bergelut), bagalombang (bergelombang), dan aka malilik. Selama pementasan, Tari Piring diiringi oleh musik tradisional Minangkabau, seperti talempong, bansi, dan lain-lain. Para pemain musik menjadi pemandu para penari untuk melakukan gerak tari. Di awal tarian, irama musik terdengar mengalir lembut dan teratur, kemudian lama-kelamaan alunan musik berubah menjadi lebih cepat. Kombinasi musik yang cepat dengan gerak penari yang begitu lincah membuat pesona Tari Piring begitu menakjubkan. Setiap kecamatan dan kabupaten yang ada di Sumatra Barat memiliki grup kesenian Tari Piring. Biasanya, grup tersebut selalu siap tampil untuk menghibur masyarakat pada acara-acara besar yang ada di masing-masing kecamatan atau kabupaten di Sumatra Barat. Bagi para wisatawan yang ingin melihat Tari Piring bisa datang ke kota-kota yang ada di Sumatra Barat. Untuk Kota Padang, misalnya, cukup dengan satu kali naik mobil dari Bandara Ketaping ke Kota Padang, para wisatawan sudah bisa sampai di lokasi untuk menyaksikan Tari Piring. Bagi para wisatawan yang tidak ingin bersusah payah datang Ke Sumatra Barat, bisa juga mengundang grup Tari Piring untuk tampil di tempat yang diinginkan. Tentunya dengan biaya yang lebih besar.

Pandai Sikek

30

Bila kita menyebut Pandai Sikek, biasanya yang teringat adalah songket. Betul, tempat ini memang sudah identik dengan songket. Padahal, orang Pandai Sikek sendiri tak menyebutnya songket tetapi tenun. Pasalnya, yang dimaksud adalah benang katun dan benang emas yang ditenun dengan tangan, di atas alat yang bernama panta sehingga menjadi kain, kain balapak atau kain bacatua yang dipakai pai baralek, yaitu pada pesta perkawinan. Bila mengamati sejarah, tak ada waktu yang pasti kapan tenun songket mulai dikembangkan di Minangkabau atau di Pandai Sikek. Namun kepandaian menenun sudah dibawa nenek moyang kita bangsa Austronesia atau yang disebut juga Malayo-Polynesia. Pada 1347 Adityawarman memindahkan pusat kerajaan dan kebudayaan Melayu dari Darmasyraya ke Pagaruyung, dan kawasan di sekitar gunung Merapi dan Gunung Singgalang yang pada waktu itu terdiri: Luhak nan Tigo dan Rantaunya yang Tujuh Jurai, menjadi terkenal sebagai Alam Minangkabau. Beberapa pusat pemerintahan yang tersebar di Pariangan, Sungai Tarok, Limo Kaum, Pagaruyung, Batipuh, Sumanik, Saruaso, Buo, Biaro, Payakumbuh, dan lain-lain. Daerah Batipuh, sebagai salah satu pusat pemerintahan, kedudukan Tuan Gadang Batipuh sebagai Harimau Campo Koto Piliang, diduga menjadi salah satu daerah yang amat penting pada masa kejayaan Minangkabau dahulu. Bersamaan itu, masyarakatnya mandapat kesempatan yang lebih banyak pula untuk melakukan kegiatan ekonomi dan budaya termasuk keterampilan tenun. Gadis-gadis menenun kain sarung dan tingkuluk dengan benang emas untuk dipakai ketika mereka menikah, dan perempuan lainnya menenun kain untuk dijual. Menurut pengamatan Adyan Anwar dari Rumah Tenun Pusako, Pandai Sikek, adat istiadat di Minangkabau mendorong kegiatan bertenun ini lebih jauh lagi karena pada setiap kesempatan upacara adat, kain

31

tenun selalu wajib dipakai dan dihadirkan. Kata-kata adat dinukilkan di dalam nama-nama motif hingga menjadi buah bibir dan diucapkan setiap saat. Kain tenun menjadi pakaian raja-raja, datuk-datuk dan puti-puti. Di masa inilah, Turki Usmani dan Asia Tengah mencapai kejayaan. Pada puncak kebesaran Dinasti Mongol di India, Sultan Akbar (1556-1605) sangat memajukan seni dan ilmu pengetahuan, Dinasti Ming dan Manchu berkuasa mantap di Cina. Saat itulah, pertukaran perdagangan dan budaya sangat pesat dan melibatkan Minangkabau sebagai kawasan yang menjadi lintasan perdagangan dan juga negeri yang mempunyai komoditi dagang dan penting, yaitu rempah-rempah dan emas. Seni menenun kain dengan sutra dan benang emas di Sumaterabersamaan dengan suji dan sulamanpun mencapai puncak kemajuan dan menemukan ciri khasnya tersendiri. Hampir semua pelosok Minangkabau, dari Luhak sampai ke rantau, mempunyai pusat-pusat kerajinan tenun, suji dan sulaman. Masingmasih mengembangkan corak dan ciri-cirinya sendiri, hal yang sangat dikuasai oleh para pedagang barang antik dan kolektor. Beberapa nagari yang terkenal sekali dengan kain tenunnya dan sangat produktif pada masa itu adalah Koto Gadang, Sungayang, dan Pitalah di Batipuh, dan nagari yang melanjutkan tradisi warisan menenun hari ini adalah nagari yang termasuk Batipuh Sapuluh Koto juga yaitu Pandai Sikek. Motif-motif kain tenun Pandai Sikek selalu diambil dari contoh kain-kain tua yang masih tersimpan dengan baik dan sering dipakai sebagai pakaian pada upacara-upacara adat dan untuk fungsi lain dalam lingkup upacara adat, misalnya sebagai tando dan dipajang juga pada waktu batagak rumah. Motif-motif tenun Pandai Sikek diyakini sebagai motif asli pada kain-kain tenunan perempuan-perempuan Pandai Sikek pada zaman lampau,

32

yang namanya sebagian masih diingat oleh beberapa orang tua yang hidup sekarang. Selain itu, Pandai Sikek - sebagai center of excellence di bidang tenun songket waktu itu - tentu wanita-wanitanya ada mengerjakan tenun pesanan dari daerah-daerah lain. Sebut saja dari Pitalah di Batipuah, Koto Gadang di Agam dan dari Sungayang. Mereka membuat dengan corak benang dan motif yang spesifik dengan daerah tersebut. Ini dikenal sampai sekarang sebagai motif-motif Sungayang, motif Koto Gadang dan lain-lain.

Alat Musik

Rebana

Saluang

Talempong

Minangkabau memiliki alat musik khas. Alat musik ini biasanya digunakan untuk mengiringi tari-tarian. Alat musik tiup: saluang, bansi, pupuk batang padi, sarunai, pupuk tanduak. Alat musik pukul: talempong, canang, tambur, rabano, indang, gandang, adok. Alat musik gesek: rabab.

Selain terkenal sebagai orang pedagang, masyarakat Minang juga berjaya melahirkan beberapa penyair, penulis, negarawan, ahli fikir dan para ulama. Ini mungkin terjadi karena budaya mereka yang memberatkan penimbaan ilmu pengetahuan.

33

KARYA SASTRA MINANGKABAU


Karya sastra Minangkabau adalah karya seni yang menggunakan bahasa Minangkabau sebagai mediumnya. Isinya membicarakan tentang manusia dan kemanusiaan, tentang hidup dan kehidupan masyarakat dan budaya Minangkabau. Ciri umum karya sastra Minangkabau: Minangkabau. Menggunakan bahasa Minangkabau. Berlatarbelakang budaya Minangkabau. Berbicara tentang manusia dan kemanusiaan

34

masyarakat Minangkabau.

Berbicara

tentang

hidup

dan

kehidupan

Diwarnai oleh kesenian Minangkabau.

Di dalam berbagai karya sastra Minangkabau akan sangat banyak ditemukan kata-kata adat. Ragam kata-kata adat itu misalnya: Kato petatah Yaitu kata-kata yang mengandung patokan hukum atau norma-norma yang bisa menjadi tuntunan kehidupan. Contoh : hiduik dikanduang adat Kato petiti Yaitu kata-kata yang bisa menjadi jembatan atau jalan yang bisa ditempuh dengan lebih baik untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Kato petiti digunakan untuk menjelaskan kato petatah. Contoh : adaik hiduik tolongmanolong,adaik mati janguak-manjanguak adaik lai bari-mambari, adaik tidak basalang tenggang karajo baiak baimbauan, karajo buruak bahambauan anjuran ataupun larangan. Contoh : anak dipangku, kamanakan dibimbiang (anjuran) gadang jan malendo, cadiak jan manjua (larangan) Contoh : bakato marandah-randah,mandi di ilia-ilia lamak dek awak, katuju dek urang mungkin terjadi. Contoh : Pameo Yaitu kalimat yang jika dilihat artinya tampak berlawanan, bahkan tidak Pituah Yaitu kalimat yang mengandung ajaran nasihat yang bijaksana. Mamangan Yaitu kalimat yang mengandung arti sebagai pegangan hidup, sebagai

35

duduak surang basampik-sampik, duduak basamo balapang-lapang Contoh : ndeh, kuciang ko, banyak bana makan, manangkok mancik indak amuah! sastra. Pantun yaitu terdiri dari sampiran dan isi Talibun yaitu pantun yang terdiri dari 12 baris Seloka yaitu pantun 4 baris yang terdiri dari beberapa untai Gurindam yaitu saripati kata yang tersusun dalam 2 dan 4 baris Prosa Tambo yaitu sejarah yang dituangkan dalam bahasa sastra Minangkabau Kaba yaitu cerita-cerita yang mengandung nilai moral Puisi Pasambahan adat yaitu teks pidato yang menggunakan gaya bahasa Kieh Yaitu kata-kata kiasan yang berisi sindiran.

KERAJINAN TANGAN

Kain Songket Sulaman Ukiran kayu menukang emas dan perak

36

MAKANAN

Rendang Padang

Sate Padang

Soto

Rendang Sambal Balado Samba Lado Tanak Palai Es Tebak Gulai Itik Gulai Kepala Ikan Kakap Merah Sate Padang Keripik Balado Keripik Sanjai
Dakak-dakak

RUMAH ADAT

37

Rumah adat Sumatra Barat disebut Rumah Gadang. Rumah adat asli setiap tiangnya tidaklah tegak lurus atau horizontal tapi mempunyai kemiringan. Ini disebabkan oleh orang dahulu yang datang dari laut hanya tahu bagai mana membuat kapal. Rancangan kapal inilah yang ditiru dalam membuat rumah. Rumah adat jugat tidak memakai paku tapi memakai pasak kayu. Ini disebabkan daerah Sumatera Barat rawan terhadap gempa, baik vulkanik maupun tektonik. Jika dipasak dengan kayu setiap ada gempa akan semakin kuat mengikatnya.

SENJATA TRADISIONAL

Senjata tradisional Sumatra Barat adalah Keris. Keris biasanya dipakai oleh kaum laki-laki dan diletakkan di sebelah depan, saat sekarang hanya dipakai bagi mempelai pria. Berbagai jenis tombak, pedang panjang, sumpit juga dipakai oleh raja-raja Minangkabau dalam menjaga diri mereka.

38

PARIWISATA

39

Istana Pagaruyung

Jam Gadang

Malin Kundang

Di propinsi ini bisa kita temui hampir semua jenis objek wisata alam seperti laut, pantai, danau, gunung dan ngarai, selain objek wisata budaya. Akomodasi hotel sudah mulai banyak mulai dari kelas melati sampai bintang empat. Agen tour & travel di bawah keanggotaan ASITA Sumatera Barat sudah lebih dari 100 buah. Untuk melengkapi fasilitas penunjang pariwisata, pemerintah juga menyediakan kereta wisata yang beroperasi pada jam-jam tertentu. Objek-objek wisata yang menarik dan banyak dikunjungi wisatawan ialah:

Danau Maninjau Danau Singkarak Danau Diatas dan Dibawah Lembah Anai, Padang Panjang Panorama Ngarai Sianok, Bukittinggi Benteng Fort de Kock, Bukittinggi Jam Gadang, Bukittinggi Pantai Air Manis, Padang Pantai Muaro, Padang Pantai Caroline, Padang Istana Pagarruyung, Batusangkar Harau, Payakumbuh Gunuang Merah Putih, Sulit Air

PERBENTURAN ADAT DAN ISLAM


Perbenturan yang berarti antara adat Minangkabu dengan Islam terjadi di bidang sosial, khususnya yang menyangkut sistem kekerabatan yang menentukan bentuk perkawinan, kediaman, dan pergaulan. Dalam sistem kekerabatan, adat Minangkabau bersifat matrilineal (menurut garis ibu), sedangkan Islam bersifat patrilineal (menurut garis bapak). Dalam menentukan tempat tinggal suami-istri, adat Minangkabau menganut sistem

40

matrilokal (suami tinggal di rumah istri), sedangkan dalam Islam bersifat patrilokal (istri tinggal di rumah suami). Dalam adat Minangkabau, yang berkuasa dan bertanggung jawab dalam sebuah rumah tangga adalah ibu yang didampingi oleh mamak (saudara laki-laki ibu), sedangkan ayah hanya sebagai tamu. Sedangkan dalam Islam pemegang kekuasaan dan penanggung jawab dalam rumah tangga adalah ayah atau suami. Penyesuaian antara adat dalam Islam dalam aspek yang disebutkan di atas berlangsung lama dan pelan-pelan dalam tiga tahap: 1. Adat dan syara berjalan sendiri-sendiri tanpa saling mempengaruhi. Dalam bidang aqidah dan ibadah masyarakat Minangkabau mengikuti Islam, dalam bidang sosial, adat masih diikuti. Tahap ini dinyatakan dalam ucapan Adat basandi alua jo patuik, syara basandi dalil. 2. Adat dan syara sama-sama saling membutuhkan tanpa menggeser kedudukan masing-masing. Tahap ini tercermin dalam pepatah adat bsandi syara, syara basandi adat. 3. Adat hanya boleh diikuti dan diberlakukan bila bersesuaian dengan ajaran agama Islam. Tahap ini yang merupakan tahap terakhir tergambar dalam rumusan adat basandi syara, syara basandi kitabullah, syara mangato, adat mamakai. Masalah warisan yang turun kepada pihak perempuan ditentang oleh beberapa orang. Misalnya Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, pelopor dan guru para pembaharu ajaran Islam di Minangkabau terkenal sebagai penentang keras sistem kewarisan adat Minangkabau. Hamka juga dikenal sebagai ulama yang kritis terhadap adat Minangkabau. Dalam keunikan adat Minangkabau, perempuan menempati kedudukan istimewa. Sistem matrilineal, matrilokal dan sistem kewarisan menjadi bukti keistimewaan kedudukan kaum perempuan. Sekalipun kaum ibu memiliki kedudukan yang istimewa dalam rumah tangga dan juga harta pusaka, akan tetapi dia tidak dapat bertindak sewenang-wenang terhadap rumah dan harta pusaka itu, karena kaum laki-laki seperti saudara laki-laki yang disebut mamak mempunyai hak pengawasan, apalagi dalam melakukan hubungan

41

perdata dengan pihak lain, tidak dapat terlaksana tanpa seizin mamak. Semua tindakan terhadap harta pusaka, baik ke dalam maupun ke luar haruslah berdasarkan mufakat seluruh anggota laki-laki dan perempuan.

SISTEM KEKERABATAN
Berbeda dengan kebanyakan suku di Indonesia, masyarakat Minangkabau memakai sistem kekerabatan matrilineal. Para ahli antropologi sependapat bahwa garis-garis keturunan matrilineal merupakan yang tertua dari bentuk garis keturunan lainnya. Dalam sistem kekerabatan matrilinial terdapat 3 unsur yang paling dominan yaitu Garis keturunan "menurut garis ibu"

42

Perkawinan harus dengan kelompok lain diluar kelompok sendiri Ibu memegang peranan yang sentral dalam pendidikan,

yang sekarang dikenal dengan istilah Eksogami matrilinial. pengamanan kekayaan dan kesejahteraan keluarga. Sampai saat ini masyarakat Minangkabau masih bertahan dengan garis keturunan ibu dan tidak mengalami evolusi. Disamping itu garis keturunan ibu di Minangkabau erat kaitannya dengan sistem kewarisan sako dan pusako. Seandainya garis keturunan mengalami perubahan maka akan terjadi suatu perubahan dari sendi-sendi adat Minangkabau sendiri. Oleh karena itu, bagi orang Minangkabau garis keturunan bukan hanya sekedar menentukan garis keturunan anak-anaknya melainkan erat sekali hubungannya dengan adatnya. Sebenarnya garis keturunan yang ditarik dari garis wanita bukan hanya terdapat di Minangkabau saja, melainkan juga di daerah lain pada sejumlah besar suku-suku primitif di Melanesia, Afrika Utara, Afrika Tengah, dan beberapa suku bangsa di India. Dalam keunikan adat Minangkabau, perempuan menempati kedudukan istimewa. Sistem matrilineal, matrilokal dan sistem kewarisan menjadi bukti keistimewaan kedudukan kaum perempuan. Sekalipun kaum ibu memiliki kedudukan yang istimewa dalam rumah tangga dan juga harta pusaka, akan tetapi dia tidak dapat bertindak sewenang-wenang terhadap rumah dan harta pusaka itu, karena kaum laki-laki seperti saudara laki-laki yang disebut mamak mempunyai hak pengawasan, apalagi dalam melakukan hubungan perdata dengan pihak lain, tidak dapat terlaksana tanpa seizin mamak. Semua tindakan terhadap harta pusaka, baik ke dalam maupun ke luar haruslah berdasarkan mufakat seluruh anggota laki-laki dan perempuan. Perbenturan yang berarti antara adat Minangkabu dengan Islam terjadi di bidang sosial, khususnya yang menyangkut sistem kekerabatan yang menentukan bentuk perkawinan, kediaman, dan pergaulan. Dalam sistem kekerabatan, adat Minangkabau bersifat matrilineal (menurut garis ibu), sedangkan Islam bersifat patrilineal (menurut garis bapak). Dalam
43

menentukan tempat tinggal suami-istri, adat Minangkabau menganut sistem matrilokal (suami tinggal di rumah istri), sedangkan dalam Islam bersifat patrilokal (istri tinggal di rumah suami). Dalam adat Minangkabau, yang berkuasa dan bertanggung jawab dalam sebuah rumah tangga adalah ibu yang didampingi oleh mamak (saudara laki-laki ibu), sedangkan ayah hanya sebagai tamu. Sedangkan dalam Islam pemegang kekuasaan dan penanggung jawab dalam rumah tangga adalah ayah atau suami.

SISTEM KEMASYARAKATAN
Garis keturunan dan kelompok-kelompok masyarakat Minangkabau yang menjadi inti dari sistem kekerabatan matrilineal ini adalah paruik. Setelah masuk islam di Minangkabau disebut kaum. Kelompok sosial lainnya yang merupakan pecahan dari paruik adalah jurai. Interaksi sosial yang terjadi antara seseorang, atau seseorang dengan kelompoknya, secara umum dapat dilihat pada sebuah kaum. Pada masa dahulu mereka pada mulanya tinggal dalam sebuah rumah gadang. Bahkan pada masa dahulu didiami oleh berpuluh-puluh orang. Ikatan batin sesama

44

anggota kaum besar sekali dan hal ini bukan hanya didasarkan atas pertalian darah saja, tetapi juga di luar faktor tersebut ikut mendukungnya. Secara garis besar faktor-faktor yang mengikat kaum ini adalah sebagai berikut : 1. Orang Sekaum Seketurunan Walaupun di Minangkabau ada anggapan orang yang sesuku juga bertali darah, bila diperhatikan betul asal usul keturunannya agak sulit dibuktikan. Lain halnya dengan orang yang sekaum. Walaupun orang yang sekaum itu sudah puluhan orang dan bahkan sampai ratusan, membuktikan mereka seketurunan masih bisa dicari. Ini biasanya dilakukan untuk menguji ranji atau silsilah keturunan mereka. 2. Orang Yang Sekaum Sehina Semalu Anggota yang melanggar adat akan mencemarkan nama seluruh anggota kaum dan yang paling terpukul adalah mamak kaum dan kepala waris yang diangkat sebagai pemimpin kaumnya. Karena perasaan sehina semalu-cukup mendalam, seluruh anggota selalu mengajak agar jangan terjadi hal-hal yang tidak diharapkan dari anggota kaumnya. Rasa sehina semalu ini, adat mengatakan : malu tak dapek dibagi, suku tak dapek dianjak (malu tak dapat dibagi, suku tidak dapat dianjak), artinya malu seorang malu bersama. Mamak atau wanita-wanita yang sudah dewasa selalu mengawasi rumah gadangnya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diingini. 3. Orang Yang Sekaum Sepandam Sepekuburan Untuk menunjukkan orang yang sekaum maka sebuah kaum mempunyai pandam tempat berkubur khusus bagi anggora kaumnya. Jadi yang dimakamkan di satu pandam adalah orang yang seketurunan atau sekaum. Untuk mengatakan seseorang itu sekaum, ia merupakan orang asal dalam kampung itu kemudian kaum keluarganya dapat menunjukkan pandamnya. Di dalam adat dikatakan orang yang sekaum

45

itu sepandam sepekuburan dengan pengertian satu pandam tempat berkubur. 4. Orang Yang Sekaum Seberat Seringan Orang yang sekaum seberat seringan sesakit sesenang sebagaimana yang dikemukakan dalam adat kaba baik baimbauan, kaba buruk bahambauan (kabar baik dihimbaukan, kabar buruk berhamburan). Artinya bila ada sesuatu yang baik untuk dilaksanakan seperti perkawinan, berdoa dan lain-lain maka kepada sanak saudara hendaklah diberitahukan agar mereka datang untuk menghadiri acara yang akan dilaksanakan. Tetapi sebaliknya semua sanak famili akan berdatangan, jika mendengarkan kabar buruk dari salah seorang anggota keluarganya tanpa dihimbaukan sebagai contohnya seperti ada kematian atau mala petaka lain yang menimpa. 5. Orang Yang Sekaum Seharta Sepusaka Adat Minangkabau tidak mengenal harta perseorangan. Harta

merupakan warisan dari anggota kaum secara turun temurun. Harta pusaka kaum merupakan kunci yang kokoh sebagai alat pemersatu dan tetap berpegang kepada prinsip harato salingka kaum, adat salingka nagari (harta selingkar kaum, adat selingkar nagari). Selanjutnya garis kekerabatan yang berkaitan dengan kaum ini adalah jurai. Sebuah kaum merupakan kumpulan dari jurai dan tiap jurai tidak sama jumlah anggotanya. Setiap jurai membuat rumah gadang pula, tetapi rumah gadang asal tetap dipelihara bersama sebagai rumah pusaka kaum. Pimpinan tiap jurai ini disebut tungganai atau mamak rumah. Anggota suatu jurai merupakan satu kaum. Pecahan dari jurai disebut samande (seibu) yaitu ibu dengan anak-anaknya, sedangkan suami atau orang sumando tidak termasuk orang samande. Orang yang samande diberi ganggam bauntuk, pagang bamasieng (genggam yang sudah diperuntukan dan masing-masing sudah diberi

46

pegangan), artinya masing-masing orang yang samande mempunyai bagian atas harta pusaka milik kaumnya. Tetapi mereka hanya diberi hak untuk memungut hasil dan tidak boleh digadaikan apalagi untuk menjual bila tidak semufakat anggota kaum.

ADAT PERKAWINAN
Dalam adat Minangkabau tidak dibenarkan orang yang sekaum menikah meskipun mereka sudah berkembang menjadi ratusan orang. Walaupun agama Islam sudah merupakan panutan bagi masyarakat Minangkabau, namun perkawinan sesama anggota kaum masih dilarang oleh adat, hal ini mengingat keselamatan hubungan sosial dan kerusakan turunan. Oleh karena itu sampai sekarang masyarakat Minangkabau masih tetap kawin dengan orang di luar sukunya (exogami).

47

Beberapa hal yang perlu dikemukakan yang berkaitan dengan perkawinan ini adalah sebagai berikut: 1. Inisiatif datang dari pihak keluarga perempuan Lazimnya pada masa dahulu di minangkabau, si gadis tidak dinyatakan terlebih dahulu apakah ia mau kawin atau tidak, atau calon suaminya disukai atau tidak. Mamak dengan ayah kemenakannya melakukan pendekatan terlebih dahulu. Setelah itu baru dibawa kepada anggota kaum yang pantas untuk berunding atau bermusyawarah bersama-sama. Dalam hal ini orang sumando mengajukan calonnya pula. Setelah dapat kata sepakat barulah diutus utusan untuk menjajaki keluarga laki-laki yang bakal diharapkan menjadi junjungan kemenakannya. Perkawinan yang dilakukan atas musyawarah seluruh anggota kaum dan antara dua kaum sangat diharapkan dalam adat, karena pada pada dasarnya perkawinan bukan hanya mempertemukan seorang gadis dengan seorang laki-laki, melainkan mempertemukan dua keluarga besar. Seandainya terjadi hal-hal yang tidak diingkan, seperti pertengkaran suami istri, perceraian dan lain-lain, maka seluruh anggota keluarga merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikannya dan menanggung segala resikonya.

2. Calon menantu cenderung dicari dari keluarga terdekat. Merupakan ciri khas juga pada masa dahulu calon suami atau istri mencari hubungan keluarga terdekat, seperti pulang kebako, atau pulang ke anak mamak. Hal ini lain tidak agar hubungan keluarga itu jangan sampai putus dan berkesinambungan pada generasi selanjutnya. Secara tersirat ada juga dengan alasan agar harta pusaka dapat dimanfaatkan bersama antara anak dan kemenakan. Hubungan perkawinan keluarga terdekat ini dalam adat dikatakan juga kuah tatumpah kanasi, siriah
48

pulang ka gagangnyo (kuah tertumpah ke nasi, sirih pulang ke gagangnya). Malah pada zaman dahulu perkawinan dalam lingkungan sangat diharuskan, dan bila terjadi seorang laki-laki kawin di luar nagarinya akan diberi sangsi dalam pergaulan masyarakat adat. Tujuan lainnya adalah untuk memperkokoh hubungan kekerabatan sesama warga nagari. Sangat tidak disenangi apabila seorang pemuda telah berhasil dalam kehidupannya dengan baik, lantas dia kawin diluar kampung atau nagarinya, hal ini dikatakan ibarat mamaga karambia condong (memagar kelapa condong), buahnyo jatuah kaparak urang (buah jatuh kekebun orang). Keberhasilan seseorang individu dianggap tidak terlepas dari peranan anggota kaum, kampung dan nagari. Oleh sebab itu sudah sepantasnya jangan orang lain yang mendapat untungnya. 3. Setelah perkawinan suami tinggal di rumah isteri Berkaitan dengan sistim kekerabatan matrilineal, setelah perkawinan si suamilah yang tinggal di rumah istrinya. Dalam istilah antropologi budaya disebut matrilokal. 4. Tali kekerabatan setelah perkawinan Sebagai rentetan dari hasil perkawinan menimbulkan tali kerabat tali kerabat antara keluarga istri dengan keluarga rumah gadang suami dan sebaliknya, hubungan tersebut, yaitu: a. Tali kerabat induak bako anak pisang, Saudara-saudara perempuan dari seorang bapak, adalah induak bako dari anak-anaknya. Sedangkan anak-anak dari seorang bapak merupakan anak pisang dari saudara-saudara perempuan bapaknya. Anak-anak perempuan dari saudara-saudara perempuan bapak adalah bakonya. b. Tali kekerabatan sumando dan pasumandan. Bagi seluruh anggota rumah gadang istri, suaminya, menjadi urang sumando (orang

49

semenda)

seseorang

istri

bagi

keluarga

suaminya

menjadi

pasumandan. c. Tali kekerabatan ipar, bisan dan menantu. Bagi seorang suami,

saudara-saudara perempuan istrinya menjadi bisannya. Sedangkan saudara-saudara laki-laki dari istrinya adalah menjadi iparnya. Sebaliknya, saudara-saudara perempuan suaminya adalah merupakan bisannya, dan saudara laki-laki suaminya menjadi iparnya. Dalam kehidupan sehari-hari orang Minangkabau menyebut ipar, bisan ini dengan ipa bisan dan kadang-kadang disambung saja jadi pabisan. Bagi orang Minangkabau menantu dibedakan atas dua bagian. Pertama menantu sepanjang syarak. Bagi seorang suami istri dan saudara lakilakinya, istri-istri atau suami-suami anaknya merupakan menantu sepanjang syarak. Yang kedua, menantu sepanjang adat, maksudnya bagi seorang mamak beserta istri dan saudara-saudara laki-lakinya, istri atau suami kemenakan merupakan menantu sepanjang adat. .4. Peranan Ibu Dan Bapak dalam Keluarga Dalam proses sosialisasi seorang individu dalam rumah gadang banyak ditentukan oleh peranan ibu dan mamak. Sedangkan ayahnya lebih berperan di tengah-tengah paruiknya. Pengertian ibu dalam hal ini bukan berarti ibu dari anak-anaknya melainkan sebagai sebutan dari semua wanita yang sudah berkeluarga dalam sebuah rumah gadang. Sedangkan untuk wanita keseluruhan orang Minangkabau menyebut perempuan. Perempuan Minangkabau sangat dihormati. Ini dapat dilihat dimana garis keturunan ditarik dari garis ibu, rumah tempat kediaman diperuntukkan bagi wanita, hasil sawah ladang juga untuk wanita dan lain-lain. Setelah mulai besar, anggota seluruh rumah gadang adalah keluarga dan merupakan suatu kelompok yang mempunyai kepentingan yang

50

sama pula terhadap dunia luar yaitu dari orang-orang rumah gadang lainnya. Anak-anak perempuan yang meningkat gadis selalu berada disamping ibunya dan perempuan-perempuan yang sudah dewasa di dalam rumah gadang. Dia diajari memasak membantu ibunya di dapur, mengurus rumah tangga, menjahit dan menyulam. Dalam sistem keturunan matrilineal, ayah bukanlah anggota dari garis keturunan anak-anaknya. Dia dipandang sebagai tamu dan diperlakukan sebagai tamu dalam keluarga, yang tujuannya terutama memberi keturunan. Seorang suami di rumah gadang istrinya sebagai seorang sumando. Namun demikian bukanlah berarti laki-laki tersebut hilang kemerdekaannya. Ia tetap merdeka seperti biasa sebelum kawin dan boleh beristri dua, tiga sampai empat, tanpa dapat dihalangi oleh istrinya. Dia boleh menceraikan istrinya, jika dia atau keluarganya tidak senang dengan kelakuan istrinya. Sebaliknya istri dapat pula meminta cerai dari suaminya jika dia tidak cinta lagi kepada suaminya atau bilamana pihak keluarganya tidak senang melihat kelakuan menantunya atau kelakuan salah seorang keluarga menantunya. Bila diperhatikan pula, ungkapan-ungkapan adat memperlihatkan bahwa seorang ayah di dalam kaum istrinya tidak mempunyai kekuasaan apaapa dalam keluarga istrinya, termasuk terhadap anak-anaknya sebagaimana dikatakan sedalam-dalam payo, sahinggo dado itiak, saelok-elok urang sumando sahingga pintu biliak (sedalam-dalam paya, sehingga dada itik, sebaik-baik orang semenda sehingga pintu bilik). Dikatakan juga, suami ibarat abu di ateh tunggua (abu di atas tunggul), datang angin, semuanya berterbangan. Ada beberapa hal yang mendukung mengapa peranan ayah begitu kecil sekali terhadap anak/istri dan kaum keluarga istrinya waktu itu. Kehidupan waktu itu masih bersifat rural agraris yaitu kehidupan petani sebagai sumber penghidupan. Penduduk yang masih jarang, harta yang masih luas dan memungkinkan seorang ayah tidak perlu memikirkan

51

kehidupan sosial ekonominya. Disamping itu seorang ayah tidak perlu memikirkan tentang biaya pendidikan anak-anaknya karena sekolah formal waktu itu tidak ada. Secara tradisional seorang anak meniru pekerjaan mamaknya. Dalam proses selanjutnya terjadi perubahan peranan ayah terhadap anak dan istrinya karena berbagai faktor sesuai dengan perkembangan sejarah. Munculnya keinginan merantau dari orang Minangkabau, masuknya pengaruh islam dan pendidikan modern telah membawa perubahan-perubahan cara berfikir dalam hidup berkeluarga dan dalam tanggung jawab terhadap anak istrinya. Pergeseran peranan mamak kepada ayah mulai terjadi setelah mantapnya agama islam menjadi panutan masyarakat Minangkabau. Agama islam secara tegas menyatakan bahwa kepala keluarga adalah ayah. Dalam permulaan abad ke XIX pengaruh barat, terutama melalui jalur pendidikan ikut juga memperkuat kedudukan dan peranan ayah ditengah-tengah anak istrinya. Namun demikian bukan berarti bergesernya sistem kekerabatan matrilineal kepada patrilineal.

PEMBAGIAN ADAT MINANGKABAU


Di dalam adat Minangkabau, terdapat beberapa kekhasan. Kekhasan ini terutama disebabkan karena masyarakat Minang sudah menganut sistem garis keturunan menurut Ibu (matrilinial). Kekhasan lain yang sangat penting ialah bahwa adat Minang merata dipakai oleh setiap orang di seluruh pelosok nagari dan tidak menjadi adat para
52

bangsawan dan raja-raja saja. Setiap individu terikat dan terlibat dengan adat, hampir semua laki-laki dewasa menyandang gelar adat dan semua hubungan kekerabatan diatur secara adat. Pada tataran konseptional, adat Minang terbagi pada empat kategori: a. Adat Yang Sebenarnya Adat Sebelum Islam masuk, Adat Minangkabau bersendi alur dan patut. Sesudah Islam masuk terjadi perubahan : Adat bersendi syarak dan syarak bersendi Kitabullah. Berhubung dengan bergantinya adat maka ada yang mengatakan bahwa Adat yang sebenar adat itu ialah Al Quran dan Hadis. b. Adat Yang Teradat Dengan kata lain yang dimaksud dengan Adat yang teradat ialah peraturan-peraturan yang lahir oleh musyawarah dan mufakat atau telah menjadi konsensus masyarakat yang memakainya. c. Adat Yang Diadatkan Yang dimaksud dengan adat yang diadatkan ialah adat yang telah dijadikan Undang-undang atau hukum yang berlaku. Dalam Undangundang atau hukum yang berlaku ada yang mengatur hubungan manusia dengan Nagari. Di dalam Adat yang diadatkan diatur hubungan manusia dengan manusia. Misalnya soal pewarisan, etika, moral dan nilai-nilai. Contoh undang-undang dalam adat yang diadatkan antara lain Undang-undang Luhak, undang-undang Rantau, undang-undang Nan 20 dan Nan 8 mengenai jenis kejahatan dan Nan 12. d. Adat Istiadat Adat istiadat ialah kebiasaan yang berlaku ditengah masyarakat umum. Ia besar karena diambak dan ia tinggi karena dianjung. Yang termasuk
53

dalam Adat istiadat ini ialah hal-hal yang bersifat seremoni, misalnya mengenai upacara perkawinan. Juga termasuk dalam Adat istiadat tingkah laku dalam pergaulan yang bila dilakukan akan dianggap baik. Secara legalistik atau kelembagaan, adat Minang dapat dirangkum seperti dibawah ini: Cupak nan Duo Cupak adalah alat takaran. Masih banyak alat takar lain, seperti gantang, taraju, bungka. Maksud alat-alat ini adalah simbol lembaga hukum yang menjadi acuan bagi masayarakat dalam menjalankan dan mengembangkan adatnya. Sebagaimana masyarakat yang sederhana mungkin dapat melaksanakan perdagangan dengan ukuran kira-kira, misalnya menjual beras sekarung, jagung seonggok dan seterusnya, maka masyarakat yang teratur mangharuskan adanya takaran yang pasti, seperti liter, kilogram dan sebagainya. Maka cupak dan gantang, bungka nan piawai, serta taraju nan tak paliang, adalah lambang kateraturan yang diciptakan dengan lembaga adat. Cupak nan duo dibagi menjadi dua, yaitu: 1. Cupak Usali 2. Cupak Buatan. Cupak Usali adalah adat yang baku dan permanen sedang Cupak Buatan adalah adat yang ditetapkan oleh Orang Cerdik Pandai dan Ninik Mamak di nagari-nagari untuk merespon situasi dan perubahan zaman. Undang nan ampek Nenek moyang orang Minangkabau sudah menetapkan Undang-undang yang menjadi dasar pemerintahan adat zaman dahulu. Undang-undang tersebut meliputi:

54

1. Undang-undang Luhak dan Rantau Undang-undang Luhak dan Rantau menyatakan bahwa di daerah Luhak berlaku pemerintahan oleh Penghulu sedang di daerah Rantau berlaku pemerintahan oleh Raja-raja. 2. Undang-undang Nagari Undang-undang Nagari menentukan syarat-syarat pembentukan suatu Nagari. Nagari boleh dibentuk jika sudah terdapat sekurangnya empat suku, yang masing-masing suku itu harus terdiri dari beberapa paruik. 3. Undang-undang dalam Nagari Undang-undang penduduk Nagari. 4. Undang-undang nan Duopuluh Undang-undang nan Duopuluh adalah undang-undang pidana. Empat undang-undang inilah pegangan para penghulu dalam dalam Nagari mengatur hak dan kewajiban

menjalankan pemerintahan di nagari-nagari..

PENUTUP
Kebudayaan Minangkabau merupakan bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia yang memiliki nilai yang sangat luhur bersama dengan kebudayaan bangsa Indonesia lainnya. Oleh kerenanya, sudah layak apabila kita mengetahui serta memahami kebudayaan Minangkabau agar tercapai pemahaman yang tepat mengenai kebudayaan Minang. Hendaknya patut digaris bawahi bahwa kata memahami merupakan sesuatu yang amat penting untuk dapat memperoleh pandangan yang benar dan jelas
55

mengenai kebudayaan Minang itu sendiri. Oleh karena itu, sesungguhnya tidaklah cukup apabila kita ingin memahami kebudayaan Minang dalam waktu yang singkat, tetapi diperlukan waktu yang cukup lama dan mendalam. Meskipun demikian, hal itu tidak menyurutkan usaha kami untuk menyediakan berbagai pengetahuan seputar kebudayaan Minang. Secara khusus pula makalah ini kami buat untuk teman-teman di lingkungan Kampus STAN yang memiliki latar belakang bukan dari Minangkabau untuk menambah pengetahuan sekaligus sebagai bekal bagi teman-teman di lingkungan kerja nanti, supaya kita dapat berkomunikasi lintas budaya. Dan akhirnya, sesungguhnya makalah ini jauh dari lengkap dan mendalam mengenai kebudayaan Minang. Kami meminta maaf apabila di dalam makalah ini ada pernyataan yang kurang berkenan di hati temanteman. Terima kasih.

Daftar Pustaka :
http://id.wikipedia.org http://titianserantau.com http://nampak-tilas.blogspot.com http://www.antara-sumbar.com

56

http://infopadang.blogspot.com http://chefhendrimuchlis.blogspot.com http://palantaminang.wordpress.com/ http://primadonal.wordpress.com

57