Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH ORTHODONTI II

ANALISA MODEL SEBAGAI DIAGNOSIS ORTODONTI

OLEH VIDYAVATI A/P KRISHNAN KUMARAN 080600130

ANALISA MODEL
PENGERTIAN Analisa model adalah teknik dan cara mendiagnosa, menentukan posisi, ruangan, ukuran rahang yang digunakan oleh dokter gigi terutama ortodontis dengan cara mencetak gigi pasien terlebih dulu, seterusnya dibikinkan model dari cetakan negatif ke studi model yang diperbuat dari bahan gyps yang mirip dengan bentuk struktur anatomis gigi pasien yang dicetak. TUJUAN Suatu bentuk oklusi gigi dan bentuk rahang dapat dianalisa dengan banyak cara, analisa radiografi, pemeriksaan klinis, analisa fotografi dan analisa model. Dalam pemeriksaan arcus dentalis secara visual, bukan hanya besarnya arcus ataupun lebar gigi yang diamati, tapi bagi seorang ortodontis, yang terpentingnya adalah tahap crowding dan ruangan yang terdapat pada lengkung rahang. Berbanding analisa dengan cara lain, ortodontis mampu mengamati rahang dan gigi pasien dengan 3 dimensi, serta membuat berbagi penukuran yang sesuai prosedur perawatan.

BENTUK LENGKUNG Bentuk lengkung rahang normal manusia adalah berbentuk parabola . Secara kasar, bentuk lengkung dapat ditentukan dengan 2 cara menurut Barber, dan Morress dan Reed. Lengkung rahang menurut Barber: Suatu garis lengkung imaginer yang menghubungkan sederetan gigi pada rahang atas dan bawah. Lengkung rahang menurut Morrees &Reed: Lengkung yang dibentuk oleh susunan mahkota gigi yang tumbuh tanpa sebarang malposisi.

Bentuk lengkung rahang normal maksila berdasarkan kontak palatal mahkota gigi.

Bentuk lengkung rahang mandibula dengan gigi anterior yang berjejal.

Garis imaginer lengkung rahang melalui titik titik tonjol bukal molar 1, singulum pada gigi incisivus, dan berlanjut ke tonjol bukal molar 1 sisi lengkung yang lain.

Analisa model Rahang Atas Secara garis besar, dapat diamati bagian palatum, beserta batas palatum molle dan durum, posisi dan kedudukan gigi sepanjang garis lengkung rahang, frenulum lingualis dan vestibulum bukalis. i) Dari pandangan sagital: 1. Kurva spee Garis oklusi pada maksila yang dimulai dari tonjol kaninus ke tonjol bukal gigi geligi posterior. Pada maksila dari tonjol bukal, garis lurus dan semakin melengkung kearah supra dari garis oklusi.

Teknik penentuan kurva spee

2. Kedalaman palatum Pada model rahang atas, bila dipotong secara sagital tepat pada tengah palatum dapat diukur kedalaman palatum pasien. 3. Inklinasi Dari pandangan ini, hanya inklinasi pada gigi anterior dapat diamati. Proklinasi (inklinasi ke labial) dan retroklinasi (inklinasi ke palatal)

ii) Dari pandangan transversal 1. Posisi gigi Kelainan posisi gigi dapat diamati dari pandangan ini adalah labio versi (gigi ke labial), palato versi (gigi ke palatum). 2. Lengkung rahang Dari pandangan transversal, bentuk lengkung rahang dapat ditentukan. Maka saiz maksila boleh ditentukan dengan pengukuran lebar lengkung rahang. iii) Dari pandangan Vertikal 1. Kurva Wilson Garis imaginer yang menyentuh sepanjang kontak oklusal dari tonjol bukal molar 1 salah satu sisi ke sisi yang lain. Pada maksila berbentuk konveks. Melengkung kearah supra garis oklusal. 2. Posisi gigi Dari pandangan vertikal dapat diamati kasus gigi yang buko versi, palato versi, supra dan infra versi. 3. kedalaman palatum Jika model rahang dipotong pada tengah lengkung rahang secara vertikal, kedalaman palatum dapat diukur.

Analisa model Rahang Bawah Secara garis besar, dapat diamati bagian sublingual frenulum lingualis, frenulum labialis, vestibulum labialis dan gigi-gigi mandibula masing masing. i) Dari pandangan sagital: 1. Kurva spee Garis oklusi pada mandibula yang dimulai dari tonjol kaninus ke tonjol bukal gigi geligi posterior. Pada mandibula dari tonjol bukal, garis lurus dan semakin melengkung kearah supra dari garis oklusi.

2. Inklinasi - Dari pandangan ini, hanya inklinasi pada gigi anterior dapat diamati. Proklinasi (inklinasi ke labial) dan retroklinasi (inklinasi ke lingual)

ii) Dari pandangan transversal 1. Posisi gigi Kelainan posisi gigi dapat diamati dari pandangan ini adalah labio versi (gigi ke labial), dan linguo versi (gigi ke lingual). 2. Lengkung rahang Dari pandangan transversal, bentuk lengkung rahang dapat ditentukan. Maka saiz mandibula boleh ditentukan dengan pengukuran lebar lengkung rahang.

iii) Dari pandangan Vertikal 1. Kurva Wilson Garis imaginer yang menyentuh sepanjang kontak oklusal dari tonjol bukal molar 1 salah satu sisi ke sisi yang lain. Pada mandibula berbentuk konkaf. Melengkung kearah supra garis oklusal.

Curve of Wilson pada mandibula

2. Posisi gigi Dari pandangan vertikal dapat diamati kasus gigi yang buko versi, linguo versi, supra dan infra versi.

ANALISA GIGI GELIGI BERCAMPUR


Tujuan analisis gigi geligi campuran adalah untuk mengevaluasi jumlah ruangan yang tersedia pada lengkung rahang untuk digantikan oleh gigi permanen dan untuk penyesuaian oklusi yang diperlukan. Terdapat banyak metode analisi geligi campuran. secara umum, analisis geligi campuran terbagi dalam tiga kelompok, yaitu analisi yang mengatakan bahwa ukuran geligi tetap yang belum erupsi dapat diperkirakan berdasarkan gambaran radiografis, kelompok yang kedua mengatakan bahwa ukuran gigi kaninus dan premolar dapar diperkira berdasarkan ukuran gigigigi permanen yang telah erupsi ke dalam rongga mulut, dan yang ke tiga adalah kombinasi kedua metode tersebut. a) Analisa Roentgen Foto Metode ini memerlukan gambaran radiografi yang jelas dan tidak mengalami distorsi. Distorsi gambaran radiografi pada umumnya lebih sedikit terjadi pada foto periapikal dibandingkan dengan foto panoramik. Namun, meskipun menggunakan film tunggal, seringkali sulit untuk menghindari distorsi terutama pada gigi yang panjang seperti kaninus sehingga pada akhirnya akan mengurangi tingkat akurasi. Dapat menentukan ukuran gigi yang belum erupsi dengan mengukur gigi yang erupsi pada roentgen foto dan pada model

b) Analisa Moyers Moyers memperkenalkan suatu analisis dengan dasar pemikiran bahwa berdasarkan studi yang dilakukan beberapa ahli, terdapat hubungan antara ukuran kelompok gigi pada satu bagian dengan bagian lainnya. Seseorang dengan ukuran gigi yang besar pada salah satuu bagian dari mulut cenderung mempunyai gigi-gigi yang besar pula pada tempat lain. Ia digunakan untuk menentukan ruangan untuk gigi kaninus,Premolar 1 dan Premolar 2. Syarat untuk analisa ini adalah keempat gigi insisivus bawah harus sudah erupsi.

Analisa Moyer lebih banyak dianjurkan karena: Kesalahan sistematik yang minimal Rentang dari kesalahan tersebut diketahui Panilaian klinis yang tidak rumit dan hemat waktu Tidak membutuhkan perlengkapan khusus dan gambaran radiografi Dapat digunakan pada kedua rahang Prosedur analisa ini adalah pertamanya ukur dan jumlah mesio-distal keempat insisivus bawah. Kemudian prediksi jumlah mesio distal kaninus dan Premolar melalui tabel probabiliti dengan derajat kepercayaan 75 % (A). Seterusnya ukur ruang yang ada pada regio kaninus dan Premolar. Diukur distal insisivus lateral sampai ke mesial molar satu permanen (B). Ruang yang ada dibandingkan dengan ruang yang diperkirakan pada tabel probabiliti (B-A) :Ruang cukup dan Diskrepans.

Tabel probabilitas Moyer

c) Analisa Barendonk Diukur jumlah lebar mesio distal keempat gigi insisivus rahang atas untuk estimasi gigi kaninus,Premolar 1 dan Premolar2 pada rahang atas SI OK (Stuttzone). Kemudian diukur jumlah lebar mesio distal keempat gigi insisivus rahang bawah untuk estimasi gigi kaninus ,Premolar 1 dan Premolar 2 rahang bawah SI UK (Stuttzone).

SI OK : Jlh lebar m-d keempat gigi I RA SI UK : Jlh lebar m-d keempat gigi I RB Stutzzone : Jlh lebar m-d gigi C,P1,P2 Zahnhogen : Panjang lengkung gigi

d) Rumus Regresi Diperkenalkan oleh Ballard dan Wylie dimana ukuran mesio distal gigi sangat penting sebagai pengukur dalam analisa kasus gigi yang berjejal maupun diastema

e) Rumus Tonn

ANALISA GIGI GELIGI PERMANEN


Keparahan suatu maloklusi sangat penting untuk dinilai dan ditentukan dari berbagai sudut pandang. Untuk itu, telah diperkenalkan bermacam-macam teknik analisis. Berikut ini adalah beberapadi antaranya yang umum digunakan. a) Analisa Bolton Bolton mempelajari pengaruh perbedaan ukuran gigi rahang bawah terhadap ukuran gigi rahang atas dengan keadaan oklusinya. Rasio yang diperoleh membantu dalam mempertimbangkan hubungan overbite dan overjet yang mungkin akan tercapai setelah perawatan selesai, pengaruh pencabutan pada oklusi posterior dan hubungan insisif serta oklusi yang tidak tepat karena ukuran gigi yang tidak sesuai. Tujuan dari analisa Bolton adalah: i. ii. iii. Memperkirakan relasi overbite dan overjet yang terjadi setelah perawatan Mengidentifikasi kelainan oklusi yang terjadi yang disebabkan perbedaan ukuran gigi Menentukan efek pencabutan pada oklusi di posterior dan anterior

Membandingkan ukuran geligi rahang atas dengan ukuran geligi rahang bawah.Terdapat dua pengukuran yaitu rasio anterior (6 gigi anterior) rasio total (12 gigi). Jika: rasio anterior > 77,2% dan rasio total > 91,3%Maka ukuran geligi Maksila benar dan Mandibula terlalu besar dibandingkan seharusnya Gunakan ukuran gigi maksila yang benar tersebut untuk melihat ukuran gigi Mandibulayang seharusnya pada tabel Bolton. Ukur gigi mandibula dari Pasien Kurangi dengan ukuran gigi mandibula dari table Hasil pengurangan ini merupakan selisih kelebihan ukuran gigi mandibula.

Jika: rasio anterior < 77,2% dan rasio total < 91,3 %Maka ukuran geligi mandibula benar, ukuran geligi maksila terlalu besar dibandingkan seharusnya Gunakan ukuran gigi mandibula yang benar tersebut untuk melihat ukuran gigi maksila yang seharusnya pada tabel Bolton. Ukur gigi maksila dari Pasien Kurangi dengan ukuran gigi maksila dari tabel Hasil pengurangan ini merupakan selisih kelebihan ukuran gigi maksila.

b) Analisa Pont Analisa Pont diperkenalkan pada tahum 1990. Ia merupakan sebuah sistem dimana pengukuran dari empat gigi seri (incisivus) RA secara otomatis membentuk lengkungan lebar di daerah premolar dan molar Membedakan antara lebar lengkung gigi bagian anterior dengan posterior. Analisa pont membantu kita untuk mendapatkan: Untuk menentukan menentukan apakah lengkung gigi yang sempit atau normal Untuk menentukan menentukan kebutuhan untuk ekspansi lengkungan lateral menentukan berapa banyak perluasan mungkin di daerah premolar dan molar Cara pemakaian rumus Pont: 1. Mengukur lebar mesio distal keempat insisivus rahang atas. 2. Mengukur jarak transversal gigi premolar atas kanan dan kiri pada distal pit lebar lengkung di regio premolar diukur dari pit paling distal pada P1 kanan dan kiri manakala untuk mandibula lebar lengkung di regio premolar diukur dari titik kontak P1 dan P2 kanan dan kiri. 3. Mengukur jarak transversal gigi-gigi molar pertama atas kanan dan kiri pada Untuk maksila lebar lengkung di regio molar diukur dari fisur bukal pada M1 kanan dan kiri manakala untuk mandibula lebar lengkung di regio molar diukur dari ujung cusp mesiobukal M1 kanan dan kiri.

Menentukan lebar mesio distal insisivus

menentukan jarak premolar dan molar

c) Analisa Howes Dalam analisa howes dikatakan bahwa gigi yang crowding disebabkan kekurangan lebar lengkung bukan panjang lengkung Penentuan total tooth material (T.T.M) Lebar mesio-distal untuk semua gigi mesial ke Molar dua permanen diukur dengan bantuan dividers dan semua nilai dijumlahkan. Nilai ini disebut dengan Total Tooth Material. Penentuan diameter premolar (P.M.D) Diameter premolar merujuk kepada lebar lengkung dari puncak cusp bukal premolar 1 kepada puncak cusp bukal gigi premolar 1 bertentangan/berlawanan Penentuan lebar lengkung premolar basal (P.M.B.A.W) Pengukuran lebar dari fossa kaninus pada satu sisi ke sisi yang lain memberi lebar lengkung rahang pada basis apikal antara tulang basal dan processus alveolaris. Jika fossa kaninus tidak jelas, pengukuran dibuat dari suatu titik 8mm dibawah crest interdental papilla, distal kepada kaninus. Dilakukan perbandingan antara P.M.B.A.W dan P.M.D yaitu jika P.M.B.A.W lebih dari pada P.M.D maka merupakan suatu indikasi bahwa mungkin terjadi ekspansi lengkung dan jika P.M.B.A.W adalah kurang dari P.M.D maka ekspansi mungkin tidak akan terjadi. Menurut Howes Ratio (%) diantara lebar basis apikal pada regio premolar dan total tooth material disebut premolar basal arch width percentage. P.M.B.A.W % = P.M.B.A.W x 100 T.T.M a. Jika nilai P.M.B.A.W adalah 37% atau kurang -> indikasi untuk ekstraksi b. Jika nilai P.M.B.A.W adalah 44% atau lebih -> kasus boleh dirawat tanpa ekstrasi gigi c. Jika nilai P.M.B.A.W adalah 37-44% -> kasus ini diunjuk sebagai kasus borderline

Menentukan jumlah bahan gigi (TTM )

Menentukan diameter premolar ( pmd)

d) Analisa Keshling Set-Up Diagnostic setup adalah teknik untuk menggambarkan bagaimana mengatasi masalah ruang dalam tiga dimensi yaitu dengan melepaskan gigi dari tulang basal model dan menempatkannya kembali ke dalam kedudukan yang lebih baik.Diagnostik set-up ini dibuat dari suatu model (studi model) yang telah ditrim dan dipolish.Kegunaan Diagnostik Set-up adalah: Berguna untuk visualisasi dan menilai efek gerakan kompleks gigi dan ektraksi pada oklusal

Pasien boleh dimotivasi dengan stimulasi berbagai prosedur yang benar pada model Saiz gigi, penyimpangan panjang lengkung boleh dilihat melalui set-up oleh suatu prosedur yang berguna Prosedur pembuatannya adalah seperti berikut: I. II. III. IV. Model dipotong dengan menggunakan gergaji (fretsaw blade) untuk mengasingkan gigi secara individual Potongan horizontal dibuat 3mm apikal ke margin gingiva Potongan vertikal dibuat untuk mengasingkan gigi dari model Kemudian gigi individu ditempatkan pada wax merah(malam) mengikuti posisi yang dikehendaki

e) Analisa Lundstrom Teknik yang diperkenalkan oleh Lundstrom dengan cara membagi lengkung gigi menjadi enam segmen berupa garis lurus untuk setiap dua gigi termasuk gigi molar pertama permanen. Setelah dilakukan pengukuran dan pencatatan pada keenam segmen selanjutnya dijumlahkan. Nilai ini dibandingkan dengan ukuran mesial distal 12 gigi mulai molar pertama permanen kiri hingga kanan. Selisih keduanya menunjukkan keadaan ruangan yang tersisa

Gambar : Teknik pengukuran panjang lengkung rahang menurut Lundstorm

KESIMPULAN
Ada berbagai jenis analisis model studi yang kita kenal, baik untuk gigi geligi tetap maupun geligi bercampur. Analisis tersebut dapat dilakukan secara manual maupun komputerisasi dan masing-masing teknik mempunyai kelebihan serta kekurangannya. Ketepatan hasil analisis bergantung pada keakuratan model studi, validitas alat ukur, keakuratan pengukuran, penguasaan teknik analisis, pemilihan teknik analisis yang sesuai dan penggunaan table sesuai dengan kelompok sampel.

DAFTAR PUSTAKA
1. http://ayu-dani91.blogspot.com/2011/06/analisis-pengukuran-ruang.html 2. https://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:QZEd036QdCEJ:repository.usu .ac.id/bitstream/123456789/23539/4/Chapter%2520II.pdf+&hl=id&gl=id&pid =bl&srcid=ADGEESg4umJu9DxQkjqjvRFnhmArIS8A_ug8Ww_Spk8AUXQt Id6YwFdJ2K0MT7lIOAUmD6eITs9wBslJbULQVUbTdx3_yDJQnuuxBd1tP Wrx_aC8wZFQDvwyedGBoSxHKvyJ8McBqmOj&sig=AHIEtbRI3zqVkOIB 0CmehA5ddCtRK8m6Vw 3. OKLUSI, MALOKLUSI &ETIOLOGI MALOKLUSI TJUT ROSTINA 4. contemporary orthodontics William R.Proffit edisi keempat 5. http://www.scribd.com/annatil/d/47885463-PROSEDUR-DIAGNOSISORTODONTI-edit