Anda di halaman 1dari 9

AKUNTANSI PAJAK

MATERI KULIAH

KOREKSI FISKAL

Penyusun Oleh:

AFLY YESSIE, SE, Msi

PROGRAM S1 JURUSAN AKUNTANSI

UNIVERSITAS MERCU BUANA


JAKARTA Ta. 2008/2009

2
REKONSILIASI (KOREKSI) FISKAL Rekonsiliasi (koreksi) Fiskal adalah proses penyesuaian atas laba komersial yang berbeda dengan ketentuan fiscal untuk menghasilkan penghasilan neto/laba yang sesuai dengan ketentuan pajak. Perbedaan-perbedaan antara akuntansi dan fiscal tersebut dapat dikelompokkan menjadi beda tetap/permenen (permanent differences) dan beda waktu/sementara (timing differnces) Beda Tetap/Permanen Beda tetap terjasi karena adanya perbedaan pengakuan penghasilan dan biaya menurut akuntansi dengan menurut pajak, yaitu : Adanya penghasilan dan biaya yang diakui menurut komersial namun tidak diakui menurut fiscal atau sebaliknya. Beda tetap mengakibatkan laba/rugi menurut akuntansi (pre tax income) berbeda secara tetap dengan laba kena pajak menurut fiscal (taxable income).

Beda tetap biasanya timbul karena peraturan perpajakan mangharuskan hal-hal berikut dikeluarkan dari perhitungan Penghasilan Kena Pajak : 1. Penghasilan yang telah dikenakan PPh final (Pasal 4 ayat 2 UU PPh) 2. Penghasilan yang bukan objek pajak (Pasal 4 ayat 3 UU PPh) 3. Pengeluaran yang tidak berhubungan langsung dengnan kegiatan usaha, yaitu mendapatkan, menagih, dan memelihara pengahsilan serta pengeluaran yang sifatnya pemakaian penghasilan atau yang jumlahnya melebihi kewajaran (pasal 9 ayat 1 UU PPh) Beda Waktu/ Sementara Beda waktu merupakan perbedaan perlakuan akuntansi dan perpajakan yang sifatnya temporer. Artinya, secara keseluruhan beban atau pendapatan akuntansi maupun perpajakan sebenarnya sama, tetapi berbeda alokasi setiap tahun. Beda waktu biasanya timbul karena perbedaan metode yang dipakai antar pajak dengan akuntansi dalm hal : 1. Akrual dan realisasinya 2. penyusutan dan amortisasi

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afly Yessie, SE, Msi AKUNTANSI PAJAK

3
3. Penilaian persediaan 4. Kompensasi kerugian fiskal Koreksi Positif dan negative dari Rekonsiliasi Fiskal Rekonsiliasi fiscal dilakukan oleh Wajib Pajak yang pembukuannya menggunakan

pendekatan akuntansi komersial, ayng bertujuan mem-ermudah mengisi Surat Pemberiathuan (SPT) Tahunan PPh, dan menyusun laporan keuangan fiscal yang harus dilampirkan pada ssat menyampaikan SPT Tahunan PPh. Koreksi Fiskal dapat berupa koraksi positif dan negative. Koreksi Positif terjadi apabila pendapatan menurut fiscal bertambah. Koreksi positif biasanya dilakukan akibat adanya : 1. Beban yang tidak diakui oleh pajak (non deductible expense) 2. Penyusutan komersial lebih besar dari penusutan fiskal 3. Amortisasi komersial lebih besar dari amortisasi fiscal 4. Penyesuaian fiscal positif lainnya

Koeksi negative terjadi apabila pendapatan menurut fiscal berkurang. Koreksi negatif biasanya dilakukan akibat adanya : 1. Pengahasilan yang tidak termasuk objek pajak 2. Penghasilan yang dikenakan PPh final 3. Penyusutan komersial lebih kecil daripada penysutan fiscal 4. Amortisasi komersial lebih kecil daripada amortisasi fiscal 5. Penghasilan yang ditangguhkan pengakuannya 6. Penyesuaian fiscal negative lainnya PERHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN Dasar yang digunakan untuk menghitung besarnya pajak terutang adalah Penghasilan Kena Pajak (PhKP). Tetap berlandaskan atau bersumber laporan keuangan perusahaan (laporan laba rugi /profit and loss statement) setelah dilakukan koreksi fiskal positif atau negatif dapat diperoleh penghasilan neto setelah koreksi. Khusus untuk Wajib Pajak orang pribadi, dalam mendapatkan Penghasilan Kena Pajak harus terlebih dahulu penghasilan neto setelah koreksi dikurangi dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afly Yessie, SE, Msi AKUNTANSI PAJAK

PPh terutang dihitung dengan mengalikan tarif PPh 17 terhadap Penghasilan Kena Pajak. Sebelum dikalikan tarif PPh, Penghasilan Kena Pajak terlebih dahulu dibulatkan ribuan ke bawah.

PPh Terutang = Penghasilan Kena Pajak x Tarif PPh

1. Penghasilan Kena Pajak Penghasilan Kena Pajak yang digunakan sebagai dasar menghitung PPh tersebut dihitung dengan cara yang berbeda-beda bergantung pada jenis WP. a. WP badan PKP = Penghasilan Neto b. WP orang pribadi yang menyelenggarakan pembukuan PKP = Penghasilan Neto - PTKP c. WP orang pribadi yang menggunakan norma penghitungan PKP = (% Norma Penghitungan Penghasilan Neto x Peredaran Usaha) PTKP d. Bentuk Usaha Tetap PKP = Penghasilan Neto (berdasarkan Pasal 5 UU PPh)

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) hanya ada bagi WP Orang Pribadi. PTKP yang berlaku sejak tahun 1999 adalah berdasarkan Pasal 7 UU PPh Tahun 2000, sedangkan PTKP tahun 2005 ditetapkan berdasarkan KMK 564/KMK.03/2004. Sementara itu, PTKP terbaru yang berlaku mulai tahun 2006 ditetapkan berdasarkan PP 137/PMK.03/2005 dan PER-15/PJ/2006. Berikut merupakan Tabel Perubahan PTKP. Uraian WP Status Kawin Tanggungan (Maksimal 3 orang) 1999 2.880.000 1.440.000 1.440.000 2005 12.000.000 1.200.000 1.200.000 2006 13.200.000 1.200.000 1.200.000

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afly Yessie, SE, Msi AKUNTANSI PAJAK

5
2. Tarif Pajak Sistem penerapan tarif PPh sesuai dengan Pasal 17 UU PPh dibagi menjadi dua, yaitu: WP orang pribadi dalam negeri, WP badan dalam negeri, dan Bentuk Usaha Tetap. a. Tarif PPh 17 untuk WP orang pribadi dalam negeri, yaitu : Lapisan Penghasilan Kena Pajak Sampai dengan Rp 25.000.000 Diatas Rp 25.000.000 s/d Rp 50.000.000 Diatas Rp 50.000.000 s/d Rp 100.000.000 Diatas Rp 100.000.000 s/d Rp 200.000.000 Diatas Rp 200.000.000 5% 10% 15% 25% 35% Tarif Pajak

Tarif yang digunakan dapat mengikuti: 1. Tarif Umum Tarif pajak ini mengikuti tarif pajak yang ditunjukkan dalam Pasal 17 (lapisan tarif) Undang-Undang Pajak Penghasilan. 2. Tarif Khusus Tarif pajak ini mengikuti tarif pajak yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah biasanya ditujkan pada penghasilan tertentu, misalnya bunga deposito yang diikuti pula dengan pengenaannya yang bersifat final. Dasar pengenaan juga disebutkan, misalnya penghasilan bruto. Tentu dalam hal ini tidak mempertimbangkan unsur PTKP. 3. Tarif Sesuai Undang-Undang Tarif ini sebelumnya untuk menjelaskan bahwa selain tarif sesuai Pasal 17 UndangUndang PPh terdapat pula yang disebutkan dalam Pasal 23 Undang PPh

ditetapkan dengan tarif 15%, demikian halnya juga tarif Pasal 26 dalam UndangUndang PPh ditetapkan dengan tarif 20%.

b. Tarif PPh 17 untuk WP badan dalam negeri dan Bentuk Usaha Tetap, yaitu Lapisan Penghasilan Kena Pajak Sampai dengan Rp 50.000.000 Diatas Rp 50.000.000 s/d Rp 100.000.000 Diatas Rp 100.000.000 10% 15% 30% Tarif Pajak

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afly Yessie, SE, Msi AKUNTANSI PAJAK

6
3. Kompensasi Kerugian Kerugian fiskal suatu tahun pajak dapat dikompensasikan dengan penghasilan mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai dengan lima tahun. Perusahaan yang mengoperasikan cabang di luar negeri tidak dapat mengonsolidasi kerugian yang diderita oleh cabang tersebut. Kompensasi kerugian hanya dapat dilakukan oleh WP badan atau WP orang pibadi yang menyelenggarakan pembukuan. Penghasilan Neto Fiskal -/- Kompensasi kerugian Penghasilan Kena Pajak (PKP) XXX XXX XXX

KREDIT PAJAK TAHUN BERJALAN Kredit pajak tahun berjalan dapat terdiri atas: 1. Kredit pajak dalam negeri Untuk WP orang pribadi, kredit pajak dalam negeri dapat terdiri atas PPh yang dipotong/dipungut pihak lain, meliputi PPh 21, 22, 23. Sedangkan untuk WP badan, kredit pajak dalam negerinya dapat terdiri atas PPh pasal 22 atau 23. 2. Kredit pajak luar negeri Pajak yang dibayar atau terutang atas penghasilan dari luar negeri dapat dikreditkan di Indonesia (PPh 24). Pengkreditan PPh 24 dilakuakn di tahun pajak digabungkannya penghasilan tersebut. Namun, kerugian di luar negeri tidak boleh digabungkan. 3. PPh yang dibayar sendiri Pembayaran pajak yang dilakukan oleh WP sendiri berupa angsuran PPh 25 yang dibayar setiap bulan ataupun fiskal luar negeri. KURANG/LEBIH BAYAR SESUAI DENGAN PERATURAN PAJAK SERTA

PENCATATAN DAN PENYAJIANNYA

PPh Terhutang -/- Kredit Pajak PPh Kurang/Lebih Bayar

XXX XXX XXX

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afly Yessie, SE, Msi AKUNTANSI PAJAK

7
Apabila untuk suatu tahun pajak Kredit Pajak < PPh Terutang, timbul PPh Kurang Bayar sebesar selisihnya yang dicatat perusahaan dengan jurnal sebagai berikut: Keterangan PPh Badan PPh 22 dibayar di muka PPh 23 dibayar di muka PPh 24 dibayar di muka PPh 25 dibayar di muka Utang PPh 29 xxx xxx xxx xxx xxx xxx Debit Kredit

PPh Kurang Bayar tersebut harus dilunasi selambat-lambatnya tanggal 25 bulan ketiga setelah tahun pajak berakhir, sebelum SPT Tahunan PPh disampaikan. Jurnal yang dibuat perusahaan pada saat pembayaran PPh Kurang Bayar tersebut adalah : Keterangan Utang PPh 29 Kas xxx Xxx Debit Kredit

PPh Kurang Bayar akan disajikan dalam neraca sebagai utang jangka pendek (current liabilities). Sementara itu, apabila untuk suatu tahun pajak Kredit Pajak> PPh Terutang, timbul PPh Lebih Bayar sebesar selisihnya yang dicatat perusahaan dengan jurnal sebagai berikut : Keterangan PPh Badan PPh 28A PPh 22 dibayar di muka PPh 23 dibayar di muka PPh 24 dibayar di muka PPh 25 dibayar di muka xxx xxx xxx xxx xxx xxx Debit Kredit

PPh

Lebih

Bayar

ini

setelah

dilakukan

pemeriksaan,

dapat

direstitusi

atau

dikompensasikan dengan utang pajak berikutnya. PPh Lebih Bayar disajikan dalam neraca sebagai aset lancar (current asset)

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afly Yessie, SE, Msi AKUNTANSI PAJAK

8
Contoh: PT Aldi mempunyai penghasilan neto fiskal tahun 2006 sebesar Rp 500.000.000. Tahun lalu PT Aldi menderita kerugian sebesar Rp 150.000.000. Pajak yang dapat dikreditkan adalah: PPh 22: Rp 9.000.000 PPh 23: Rp 7.000.000 PPh 24: Rp 5.000.000 Selama tahun 2006 PT Aldi membayar angsuran PPh 25 sebesar Rp 10.000.000 Pertanyaan: 1. Hitunglah besarnya pajak terutang. 2. Berapa besarnya total pajak yang dapat diperhitungkan PT Aldi sebagai kredit pajak? 3. Hitunglah besarnya PPh Kurang/Lebih Bayar. 4. Buatlah jurnal yang dibuat PT Aldi.

Jawaban: 1. Penghasilan neto fiscal -/- Kompensasi kerugian Penghasilan Kena Pajak Pajak Terutang: 10% x Rp 50.000.000 15% x Rp 50.000.000 30% x Rp 250.000.000 Jumlah pajak terutang Rp 5.000.000 Rp 7.500.000 Rp 75.000.000 Rp 87.500.000 Rp 500.000.000 Rp 150.000.000 Rp 350.000.000

2. Kredit Pajak PT Aldi = PPh 22 + PPh 22 + PPh 23 + PPh 24 + PPh 25 = Rp 9.000.000 + Rp 7.000.000 + Rp 5.000.000 + Rp 10.000.000 = Rp 31.000.000

a. PPh Terutang -/- Kredit Pajak PPh Kurang Bayar

Rp 87.500.000 Rp 31.000.000 Rp 56.500.000

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afly Yessie, SE, Msi AKUNTANSI PAJAK

9
b. Jurnal yang dibuat PT Aldi: Keterangan PPh Badan PPh 22 dibayar di muka PPh 23 dibayar di muka PPh 24 dibayar di muka PPh 25 dibayar di muka Utang PPh 29 Debit 87.500.000 9.000.000 7.000.000 5.000.000 10.000.000 56.500.000 Kredit

Jurnal saat pembayaran PPh Kurang Bayar: Keterangan Utang PPh 29 Kas Debit 56.500.000 56.500.000 Kredit

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afly Yessie, SE, Msi AKUNTANSI PAJAK