Anda di halaman 1dari 20

Bab I Pengantar ke Pemahaman Konseling Konseling merupakan suatu proses pelayanan yang melibatkan kemampuan profesioanl pada pemberi

layanan. Sekurangnya konseling

melibatkan orang kedua, penerima layanan, yaitu orang yang sebelumnya merasa atau pun nyata-nyata tidak dapat berbuat banyak dan setelah mendapat layanan dapat melakukan sesuatu. 1. Konseling sebagai helping Konseling pada dasarnya merupakan suatu hubungan helping, helping relationship. Para kaum profesioanl yang ahli dalam bidang

konseling menyebut dirinya sebagai helper. Mereka menganggap dirinya hadir untuk menyediakan layanan helping bagi orang-orang yang inigin atau butuh bantuan.

2. Konseling sebagai ilmu dan seni Konseling memilik sisi ilmu dan sisi seni seklaigus. Sisi ilmu dalam konseling menurut Brammer adalah keterlibatan penelitian dan teori terperinci didalamnya, sedangkan menurut John J. Pietrofosa terletak pada peranan konselor untuk membantu konseli adalah proses keilmuan. Sedangkan sisi artistik konseling menurut Brammer lebih mengacu pada unsur-unsur intuitif dan interpersonal relationship. Sedangkan menurut Pietrofesa, konseling memiliki dimensi-dimensi yang tidak dapat dihitung dan tidak dapat diukur serta terlengkapi dengan sisi artistik yang berasal dari diri konselor sendiri.

3. Konseling dan higiologi Higologi adalah suatu studi tentang masalah-masalah orang normal dan pencegahan terhadap terjadinya kesukaran-kesukaran emosional yang serius. Jadi, konseling lebih dituntut untuk berhubungan dengan higologi dari
1
Pengantar Konseling dan Psikoterapi

pada dengan psikopatologi, khususnya untuk menyediakan layanan bantuan pencegahan, pengembangan, dan terapi psikis.

2
Pengantar Konseling dan Psikoterapi

Bab II Konseling : Hakikat dan Perkembangan 1. Latar belakang : Mengapa Konseling? Kebutuhan akan hubungan bantuan, terutama konseling , pada dasarnya timbul dari diri dan luar diri individu yang melahirkan seperangkat pertanyaan mengenai apakah yang harus diperbuat indvidu. Agar individu mampu menjawab sebanyak mungkin pertanyaan yang menggoda pikiran dan mengganggu tingkah laku, sehingga individu dapat berbuat sesuatu, maka konseling akan tetap diperlukan dan bahkan dengan intensitas keperluan yang lebih pada masa kini dan masa yang akan datang.

2. Apakah itu Konseling? Meskipun dua orang atau lebih mempunyai persepsi dan makna yang sama terhadap konseling, namun masih sukar ditemukan rumusan definisi yang sama tentang konseling. Menurut Pietrosa, Leonard, dan Hoose, definisi konseling megandung unsur-unsur : suatu proses, adanya seseorang yang dipersiapkan secara profesioanal, membantu oarng lain, untuk pemahaman diri, pembuatan keputusan, dan pemecahan masalah, pertemuan dari hati ke hati antarmanusia, serta hasilnya sangat begantung pada kualitas hubungan. Jadi, hampir setiap orang dapat menyusun sendiri rumusan definisi konseling dengan tepat jika berhasil memahami, menguasai dengan baik ciri-ciri khas konseling dan mengisolasi upaya-upaya yang serupa dengan konseling namun bukan konseling.

3. Konseling dan Psikoterapi : Persamaan dan Perbedaannya Persamaannya terletak pada tujuan konseling dan psikoterapi yang sama, yaitu eksplorasi diri, pemahaman diri, dan perubahan tindakan atau perilaku. Perbedaanya adalah :

3
Pengantar Konseling dan Psikoterapi

a. Konseling dan psikoterapi dapat dipandang berbeda dari lingkup pengertiannya. Psikoterapi mengandung makna ganda dimana konseling adalah bagian di dalam psikoterapi tersebut. b. Konseling lebih terfokus pada konseren, ikhwal, masalah,

pengembangan-pendidikan-pencegahan. Sedangkan psikoterapi lebih memfokus pada konseren atau masalah penyembuhan-penyesuaianpengobatan. c. Konseling dijalankan atas pandangan terhadap manusia, sedangkan psikoterapi berdasarkan ilmu atau teori kepribadian dan psikopatologi. d. Konseling dan psikoterapi berbeda cara untuk mencapai tujuan masingmasing.

4. Tipe-tipe Konseling 1. Konseling Krisis Krisis dapat diartikan sebagai suatu keadaan disorganisasi dimana helpi mengalami frustasi dalam upaya mencapai tujuan penting hidup atau mengalami gangguan dalam hidup dan hal tersebut ditanggapi dengan stress. Berdasarkan situasi krisis ini maka konselor perlu menerima situasi dan menciptakan keseimbangan pribadi dan penguasaan diri. Aktivitas-aktivitas konselor dalam menghadapi situasi krisis ini adalah intervensi langsung, dukungan kadar tinggi, dan konseling individual atau referal ke klinik atau lembaga yang layak. 2. Konseling fasilitatif Konseling fasilitatif adalah proses membantu klien menjadikan jelas permasalahannya, selanjutnya bantuan dalam pemahaman dan

penerimaan diri, penemuan rencana tindakan dalam mengatasi masalah, dan akhirnya melaksanakan semua itu atas tanggung jawab sendiri. 3. Konseling preventif Konseling preventif bersifat programatis sebagaimana program yang diperuntukan bagi konseren khusus. Dalam konseling preventif konselor

4
Pengantar Konseling dan Psikoterapi

dapat menyajikan informasi kepada suatu kelompok atau individuindividu mengarah ke program-program relevan baginya. 4. Konseling Developmental Konseling developmental merupakan suatu proses berkelanjutan yang dijalankan dalam seluruh jangka kehidupan individu. Konseling ini memfokus pada membantu para klien mencapai perubahan pribadi yang positif dalam pelbagai tahap kehidupan mereka. Aktivitas konselor yang dapat dilakukan dalam kancah konseling developmental adalah membantu individu memperoleh ketegasan nilai-nilai yang dianutannya, mereview pembuatan keputusan yang dibuatnya, dan konseling individual yang berkenaan dengan pengembangan pribadi dan kerja sama dengan orang lain yang berarti dan penempatan pada lingkungan.

5
Pengantar Konseling dan Psikoterapi

Bab III Konseling : Ekspektasi dan Tujuan

Proses konseling dan hubungan khusus di dalamnya sebagian besar ditentukan oleh sifat ekpektasi klien dengan tujuan konselor pada lain pihak. Kecocokan ekspektasi klien dan tujuan konselor, dan kecocokan ekpektasi dan tujuan antara kedua pihak yang terlibat dalam konseling, banyak menentukan kelancaran proses konseling dan melandasi kelanggengan saling hubungan kedua pihak sampai keduanya sepakat bahwa konseling layak diakhiri. Dalam proses dan praktik-praktik konseling, secara umum

dipertimbangkan ekspektasi dari kedua kelompok subjek yaitu dari nonklien, seperti guru, kepala sekolah, dan orang tua, serta dari klien sendiri. 1. Ekspektasi Nonklien a. Ekspektasi para siswa Para siswa menganggap konselor membantu siswa dalam perencanaan pendidikan dan juga masalah lain yang dihadapi siswa di sekolah, mereka juga manyatakan bahwa konselor memiliki fungsi yang lebih banyak dari pada guru walaupun tidak lebih banyak dibandingkan dengan sesama siswa. b. Ekspektasi guru Para guru mengharapkan konselor berperan serta dalam aktivitas yang membuat pengajaran lebih mudah dan lebih efektif. c. Ekspektasi kepala sekolah Para kepala sekolah berasumsi bahwa konseling hendaknya dapat membuat efesien organisasi sekolah, konseling terutama sebagai pemberi nasihat pendidikan dan jabatan, mengaharapkan konseling dapat memecahkan setiap kesulitan pendidikan dan menyembuhkan setiap penyakit atau kesulitan sosial siswa baik yang riil maupun yang mungkin timbul, serta ada juga ekspektasi bahwa kepala sekolah mengharap sedikit saja atau tidak mengharap apa-apa dari konseling.

6
Pengantar Konseling dan Psikoterapi

d. Ekspektasi orang tua Ekspektasi yang orang tua munculkan adalah konselor berperan sebagai pemberi nasihat. Para orang tua dan guru mengaharapkan konselor membantu siswa-siswi memilih suatu perguruan tinggi, menemukan suatu pekerjaan, dan meningkatkan prestasi sekolah para siswa.

2. Ekspektasi Klien Klien datang untuk mendapatkan bantuan, mengaharap pemecahan masalah dan atau menghilangkan kecemasan. Mayoritas memiliki ekspektasi bahwa konseling dapat menyelesaikan permasalan mereka pada bidang pribadisosial, akademik, dan karier. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, masalah mengenai bentuk-bentuk emsional lebih berkembang secara cepat, sedangkan msalah-masalah tentang pendidikan mengalami penurunan. Ekspektai ini juga dipengaruhi oleh jeis kelamin, klien wanita biasanya mengaharapakn konselor ada penerimaan dan tidak mengururi atau tidak mengahkimi, sedangakn para klien pria mengharapkan konselor lebih direktif, krits, dan analitis.

3. Tujuan Konseli dan Tujuan Konselor a. Tujuan klien Tujuan-tujuan klien bersumber dari ekspektasi klien mengenai masalah mendesak yang sedang dirisaukan klien. Para klien menghadiri konseling dengan ekspektasi dan tujaun-tujuan khas dan beragam. b. Tujuan konselor Tujuan-tujuan konselor berada pada satu garis kontinu dari umum ke khusus. Tujuan itu meliputi tujuan jangka panjang atau tujuan akhir, tujuan perantara atau tujuan proses, serta tujuan jangka pendek atau tujuan khusus konseling. Tujuan umum adalah pantulan falsafah seorang konselor, sementara tujuan proses dan tutjuan kusus akan menuntun kegiatan konselor dengan mempertimbangkan tujuan itu dalam penetapan prosedur dan strategi atau teknik yang tepat bagi penyelesaian tugasnya.

7
Pengantar Konseling dan Psikoterapi

4. Tujuan Konseling : Ragam Statement Tujuan Tujuan konseling yang dikemukakan oleh Shertzer dan Stone yaitu : a. Perubahan tingkah laku b. Kesehatan mental positif c. Pemecahan masalah d. Keefektifan pribadi e. Pembuatan keputusan

5. Tujuan-Tujuan Konseling : Pernyataan-Pernyataan Tujuan dalam Konseling Pernyataan-pernyatan tujuan konseling memeberi arah yang

menuntun proses konseling, juga memungkinkan diketahuinya apakah upaya konseling berhasil ataukah tidak. a. Prinsip-prinsip dasar pendayagunaan tujuan Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip dasar pendayagunaan tujuan dalam konseling, tidak lain adalah kriteria penentuan tujuan dalam konseling. b. Prinsip-prinsip praktis pendayagunaan tujuan 1) Tujuan-tujan konseling dirumuskan dalam kategori tujuan akhir, tujuan proses, dan tujuan sesaat, atau tujuan umum, tujuan sementara, dan tujuan khusus. 2) Tujuan-tujuan konseling ditemukan bersama oleh klien dan konselor dalam hubungan konseling 3) Pertimbangan utama dalam pembuatan rumusan tujuan-tujuan konseling adalah bahwa rumusan tujuan-khusus yang dibuat merupakan keputusan yang paling selamat bagi klien, dan bukannya apa yang dinyatakan klien untuk diperbuatnya. 4) Rumusan tujuan konseling bersifat fleksibel baik pada segi isi suatu tujuan maupun pada struktur dari seperangkat tujuan 5) Rangkaian rumusan tujuan konseling hendaknya dirancang sehingga

8
Pengantar Konseling dan Psikoterapi

konselor dapat mengantisipasi metode dan teknik penilaian atas pencapaiannya.

9
Pengantar Konseling dan Psikoterapi

Bab IV Aspek Psikologis dalam Konseling : Perkembangan dan Masalah Klien 1. Ikhwal perkembangan individual klien Salah satu fokus sorotan untuk dapat memahami individu secara menyeluruh adalah proses perkembangan individual klien. Semua aspek pokok dalam perkembangan individu mempunyai implikasi penting bagi upaya-upaya konseling. a. Prinsip-prinsip perkembangan Berikut ini adalah prinsip-prinsip perkembangan individu : 1) Pertumbuhan mempunyai pola tertentu 2) Pertumbuhan mempunyai urutan-urutan 3) Kecepatan perkembangan bervariasi 4) Pola-pola perkembangan menunjukkan adanya perbedaan individu yang sangat besar 5) Perkembangan merupakan hasil interaksi antara organisme dengan lingkungannya 6) Tubuh cenderung membangun suatu tatanan keseimbangan yang disebut homeostatis 7) Kesiapan harus mempersyarati jenis-jenis belajar tertentu. b. Tahap-tahap dan tugas-tugas perkembangan 1) Tahap-tahap perkembangan. Ini menunjuk pada periodesasi secara teoritik alur perkembangan individu sejak konsepsi sampai mati. Hurlock membagi perkembangan atas 11 tahap, yaitu pranatal, neonatus, bayi, kanak-kanak awal, kanak-kanak akhir, pubertas, remaja awal, remaja akhir, dewasa awal, setengah baya, dan masa tua. 2) Tugas-tugas perkembangan merupakan seperangkat keterampilan, sikap, dan pengetahuan yang perlu dikuasai seseorang individu sejalan dengan taraf petumbuhan dan kematangan yang dicapai serta budaya lingkungannya. Tugas itu adalah tuntutan individual dan pantulan harapan budaya dan yang harus dikuasai seseorang secara runtun
10
Pengantar Konseling dan Psikoterapi

sepanjang perkembangan individu. c. Unsur-unsur dalam perkembangan Unsur-unsr sama dalam rancangan perkembangan dimaksud adalah : 1) Pertumbuhan dan perkembangan individu adalah kontinu 2) Pertumbuhan individu dapat dibagi dalam periode-periode atau tahapan kehidupan guna maksud-maksud deskriptif 3) Individu-individu dalam setiap tahap kehidupan dapat ditandai dengan ciri-ciri umum tertentu 4) Sebagian besar individu dalam budaya tempat mereka hidup menjalani tahapan perkembangan yang sama 5) Masyarakat memiliki tuntutan-tuntutan tertentu terhadap individuindividu anggotanya 6) Tuntutan-tuntutan itu adalah relatif seragam bagi semua anggota masyarakat itu 7) Tuntutan itu berlainan dari tahap ke tahap sesuai dengan perjalanan individu sepanjang proses perkembangannya 8) Krisis perkembangan terjadi manakala individu menghadapi tuntutan untuk menganti tingkah laku yang ada sekarang dan menguasai yang baru 9) Dalam mengahadapi dan menguasai krisis, perkembangan individu bergerak dari suatu tahap matang perkembangan ke tahap matang perkembangan lainnya 10) Tugas muncul secara sangat jelas pada suatu tahap 11) Persiapan guna menghadapi krisis perkembangan, atau tugas-tugas perkembangan, dilakukan dalam tahap kehidupan sebelumnya bagi tahap berikut tempat tugas-tugas itu harus dikuasai 12) Tugas atau krisis perkembangan dapat muncul lagi selama fase berikut dalam bentuk-bentuk lain 13) Krisis dan tugas itu harus dikuasai sebelumnya baru individu berhasil secara penuh maju ke dalam tahap perkembangan berikutnya

11
Pengantar Konseling dan Psikoterapi

14) Dengan pencapaian keberhasilan penuh menghadapi krisis karena mempelajari tugas yang diperlukan, akan menghasilkan persetujuan sosial, kebahagiaan, dan keberhasilan menangani krisis lanjut serta tugas-tugas yang bersangkutan dengannya 15) Kegagalan dalam menguasai suatu tugas atau krisis akan

mengakibatkan ketaksetujuan sosial. d. Implikasi dalam konseling Ikhwal perkembangan individu mempunyai implikasi penting bagi konseling terutama dalam hal-hal : 1) Tujuan konseling dapat difokuskan pada pengoptimalan

perkembangan klien, upaya-upaya memungkinkan klien lebih maju dalam menguasai tugas dan krisis perkembangan 2) Proses konseling, dari segi perkembangan individu, tidak lain dari rangkaian upaya berkelanjutan dalam pemahaman diri, kesadaran potensial pribadi, kesadaran akan tuntutan budaya terhadap diri, serta penemuan cara-cara memanfaatkan kapasitas pribadi sepanjang proses perkembangan. 3) Teknik-teknik pemahaman individu oleh konselor dan teknik-teknik pemahaman diri dan lingkungan oleh klien merupakan hal yang sangat esensial dalam konseling 4) Interview konseling menjadi medium utama pengolahan keterangan secara bersama-sama konselor dan klien, medium pengambil keputusan, dan medium belajar menguasai tugas dan krisis klien. 5) Pengujian realitas tungkah laku yang dipelajari klien dalam interview konseling ke dalam lingkungan riil mutlak perlu dipandu konselor.

2. Citra diri klien Citra diri menunjuk pada pandangan atau pengertian seseorang terhadap dirinya sendiri. Ada kekhasan dari masing-masing orang dalam hal citra diri secara fisik dan citra dirinya secara psikologis, dan hal demikian ini

12
Pengantar Konseling dan Psikoterapi

tidak lepas dari pandangan lingkungan terhadap diri seseorang. a. Dimensi-dimensi citra diri Dimensi pertama citra diri, yaitu diri oleh diri sendiri. Dimensi kedua citra diri, yaitu diri sebagai dilihat oleh orang lain. Dimensi ketiga citra diri yaitu diri idaman, mengacu pada tipe orang yang saya kehendaki tentang diri saya. Bagian lebih khusus citra diri menurut Eisenberg dan Delaney berkenaan dengan apa yang diketahui dan diyakini individu. b. Peranan citra diri Citra diri, secara umum, memberikan gambaran tentang siapa seseorang itu. Citra diri juga merupakan penentu penting dalam tingkah laku. Orang yang sehat citra diri memilki diskripsi sikap pandangan terhadap diri saya baik-baik saja. Sedangkan diskripsi sikap pandangan orang yang tidak sehat citra dirinya saya tidak sehat. c. Perkembangan citra diri Self merupakan produk sosial dan terbentuk dalam proses interaksi sosial, selanjutnya berkembang dan berubah menjadi interaksi sosial itu juga. Salah satu varibel yang mempengaruhi citra diri adalah orang tua, selanjutnya berkembang pada teman-teman sebaya dan individu-individu lain yang berinteraksi sosial secara lebih luas. Variabel lain yang berpengaruh terhadap perkembangan citra diri adalah lingkungan materialistik dan lingkungan nonmaterialistik. Oleh karena itu citra diri itu tumbuh dan berkembang dalam interaksi sosial, maka perubahan dan modifikasinya pun terjadi dalam interaksi sosial yang berlangsung sepanjang hidup seseorang. Akan tetapi dalam interaksi sosial terkontrol (misal pendidikan), perubahan citra diri mengenai bidang atau level tertentu terjadi dalam rentang waktu tidak terlalu panjang. d. Implikasi dalam konseling Implikasi citra diri dalam konseling yaitu : 1) Tujuan konseling dapat difokuskan pada pengembangan citra diri klien

13
Pengantar Konseling dan Psikoterapi

2) Dalam proses konseling konselor harus melihat bagaimana klien melihat diri sendiri dan pengalamannya sendiri, dan membicarakan pengalaman-pengalaman klien. 3) Teknik-teknik umum yang dapat digunakan oleh konselor adalah perubahan lingkungan sebagai hal bermanfaat membantu klien dalam pemodifikasian citra diri kearah yang lebih dikehendaki 4) Seringkali konselor tidak dapat berlaku pasif, namun lebih aktif mendorong klien sehingga klien mau mengendalikan hidup dan tingkah lakunya, mengahadapi lingkungannya, memperkuat rasa percaya dirinya, untuk kemudian mengubah lingkungannya.

3. Kebutuhan klien : Pemenuhannya dan hubungannya dengan citra diri a. Kategori kebutuhan Kebutuhan-kebutuhan dapat digolongkan menjadi kebutuhan fisik dan kebutuhan psikologis. Banyak pendapat mengenai kebutuhan yang dimiliki individu yang pada dasarnya bertitik pada dua pembagian kebutuhan tersebut. b. Pemuasan kebutuhan dan pengaruhnya terhadap medan perseptual Beberapa aspek psikologis yang dapat terpengaruh langsung atas pemuasan pemenuhan kebutuhan adalah medan perseptual, sensivitas, dan ketekunan. c. Pemuasan kebutuhan dan toleransi frustasi Pencegahan atas gejala-gejala yang tak dikehendaki di atas tentu akan jauh lebih efesien ketimbang penyembuhannya. Dua cara utama pencegahan yang dimaksud adalah : 1) Pemuasan kebutuhan 2) Pembinaan toleransi frustasi d. Implikasi dalam konseling Ikhwal kebutuhan juga memiliki implikasi penting dalam konseling. Secara umum ikhwal kebutuhan konsep-konsep yang berkenaan dengan

14
Pengantar Konseling dan Psikoterapi

kebutuhan dapat menjadi landasan operasional konseling. Ini berarti bahwa dalam konseling setidak-tidaknya tersedia : 1) Upaya-upaya pemenuhan kebutuhan individu 2) Upaya-upaya memperkuat ego individu untuk berfungsi sebagai eksekutor 3) Usaha-usaha menimbulkan dan memperkuat toleransi frustasi individu.

15
Pengantar Konseling dan Psikoterapi

Bab V Aspek Psikologis dalam konseling : Pribadi dan Keterampilan Konselor 1. Konselor sebagai pribadi Konseling merupakan suatu proses unik tempat konselor

menawarkan peluang tumbuh bagi konseli. Untuk dapat melaksanakan peranan profesional yang unik sebagaimana tuntutan profesi, konselor profesional mesti memiliki pribadi yang berbeda dengan pribadi-pribadi yang bertugas membantu lainnya. Adapun ciri-ciri pribadi konselor adalah sebagai berikut : a. Kesadaran akan diri dan nilai b. Kesadaran akan pengalaman budaya c. Kemampuan menganalisis kemampuan helper sendiri d. Kemampuan berlayan sebagai teladan dan pemimpin atau orang berpengaruh e. Altruisme f. Penghayatan etik yang kuat g. Tanggung jawab

2. Sikap dan ketrampilan konselor a. Sikap dasar konselor Sikap dasar seorang konselor yaitu : 1) Penerimaan 2) Pemahaman 3) Kesejatian dan keterbukaan b. Ketrampilan dasar konselor Ketrampilan dasar konselor terdiri dari : 1) Kompetensi intelektual 2) Kelincahan karsa-cipta 3) Pengembangan keakraban

16
Pengantar Konseling dan Psikoterapi

3. Keefektifan konselor a. Faktor-faktor pembeda umum 1) Pengalaman 2) Tipe hubungan konseling 3) Faktor-faktor nonintelektif b. Ciri-ciri khusus kemampuan konselor efektif Para helper yang efektif : 1) Sangat terampil mendapatkan keterbukaan 2) Membangkitkan rasa percaya, kredibilitas, dan keyakinan dari orangorang yang mereka bantu 3) Mampu menjangkau wawasan luas, seperti halnya mereka

mendapatkan keterbukaan 4) Berkomunikasi dengan hati-hati dan menghargai orang yang mereka upayakan bantuan 5) Mengakui dan menghargai diri mereka sendiri dan tidak

menyalahgunakan orang-orang yang mereka coba bantu untuk memuaskan kebutuhan pribadi mereka sendiri 6) Mempunyai pengalaman khusus dalam beberapa bidang keahlian yang mempunyai nilai bagi orang-orang tertentu yang akan dibantu 7) Berusaha memahami, bukannya menghakimi tingkah laku orang yang diupayakan dibantu 8) Mampu bernalar secara sistematis dan berfikir dengan pola sistem 9) Berpandangan mutakhir dan memilki wawasan luas terhadap peristiwa-peristiwa yang berkenaan dengan manusia 10) Mampu mengidentifikasikan pola tingkah laku yang merusak diri dan membantu orang-orang lain untuk berubah dari tingkah laku merusak diri ke pola tingkah laku yang secara pribadi lebih memuaskan 11) Sangat terampil membantu orang-orang lain melihat diri sendiri dan merespon secara tidak defensif terhadap pertanyaan siapakah saya?

17
Pengantar Konseling dan Psikoterapi

c. Ciri-ciri khusus perseptual konselor yang baik 1) Para konselor yang baik lebih cendrung berpersepsi : a) Dari kerangka acuan internal ke kerangka acuan eksternal b) Kepada orang daripada benda 2) Para konselor yang baik akan mempersepsi orang lain sebagai : a) Mampu dari pada tak mampu b) Patut percaya dari pada sangsi c) Peramah dari pada tak acuh d) Berguna dari pada sia-sia e) Suka membantu dari pada suka mengganggu f) Termotivasi secara internal dari pada secara eksternal 3) Para konselor yang baik mempersepsi diri sebagai berikut : a) Beridentifikasi pada orang dari pada menghindari orang b) Berguna dari pada sia-sia c) Terpercaya dari pada meragukan 4) Para konselor yang baik mempersepsi tujuan-tujuan mereka sebagai : a) Membebaskan dari pada mengendalikan b) Altruistis dari pada narsistis c) Memperhatikan makna yang luas dari pada yang sempit d) Membuka diri dari pada menutup-nutupi diri e) Melibat dari pada menghindar f) Berorientasi pada proses dari pada berorientasi pada tujuan

d) Konselor yang tidak efektif : pemberdayaan dengan konselor yang intensional Terdapat ciri-ciri tertentu konselor yang tidak efektif jika khusus dilawankan dengan konselor yang intensional. Konselor intensional bersangkutan dengan kelincahan karsa-cipta konselor untuk berbuat secara cepat-tepat dalam aneka kemungkinan perbuatan yang dapat dilakuakan

18
Pengantar Konseling dan Psikoterapi

dalam konseling. Akhirnya perlu ditegaskan bahwa salah satu kunci pokok keefektifan konselor adalah adanya suatu sistem untuk mengorganiasikan dan membimbingan tingkah laku dalam proses konseling dan untuk menggabungkan aneka teori, teknik, dan strategi yang mungkin digali dari berbagai sumber untuk mengembangkan kompetensi profesional sendiri.

19
Pengantar Konseling dan Psikoterapi

DAFTAR PUSTAKA Mappiare AT, Andi. 2004. Pengantar Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

20
Pengantar Konseling dan Psikoterapi