Anda di halaman 1dari 51

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pembangunan sumber daya manusia tidak terlepas dari upaya kesehatan khususnya upaya untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Rencana Strategi Nasional Indonesia Making Pregnancy Safer (MPS) di Indonesia 2001-2010 disebutkan bahwa dalam konteks Rencana

Pembangunan Menuju Indonesia Sehat 2011, misi MPS adalah Kehamilan dan persalinan di Indonesia berlangsung aman serta bayi dilahirkan hidup dan sehat. Misi MPS adalah menurunkan kesakitan serta kematian maternal dan neonatal melalui pemantapan sistem kesehatan untuk menjamin akses terhadap intervensi yang berdasarkan bukti ilmiah yang berkualitas, memberdayakan wanita, keluarga dan masyarakat melalui kegiatan yang mempromosikan kesehatan ibu dan bayi baru lahir serta menjamin agar kesehatan maternal dan neonatal dipromosikan dan dilestarikan sebagai prioritas program pembangunan nasional (Prawirohardjo, 2002). Berdasarkan SDKI survei terakhir tahun 2007 AKI Indonesia sebesar 228 per 100.000 Kelahiran Hidup, meskipun demikian angka tersebut masih tinggi di Asia. Sementara target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) ada sebesar 226 per 100.000 Kelahiran Hidup. Penyebab tingginya angka kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan. eklamsia. aborsi yang tidak aman dan sepsis. Penyebab kematian ibu, sesuai dengan hasil penelitian berbagai pihak paling banyak adalah akibat

pendarahan dan penyebab tidak langsung lainnya adalah terlambat mengenali tanda bahaya karena tidak mengetahui kehamilannya dalam resiko yang cukup tinggi, terlambat mendapatkan pelayanan. Penyebab kematian ibu maupun penyebab kematian bayi dapat dicegah dengan melakukan pemeliharaan dan pengawasan antenatal sedini mungkin dengan cara teratur oleh tenaga kesehatan disamping pertolongan persalinan yang benar serta pelayanan masa nifas yang baik (Depkes RI, 2001). Keterkaitan nasib ibu dan bayi yang menggambarkan suatu kesatuan yang dimulai pada masa kehamilan, persalinan, sampai dengan awal kehidupan pertama bayi yang sangat membutuhkan perhatian yang cukup besar (Prawirohardjo, 2002). Angka kematian ibu melahirkan di Provinsi Lampung masih terbilang tinggi. Dari catatan Dinas Kesehatan. jumlahnya berada di angka 228 orang per 100 ribu orang kelahiran hidup. Angka kematian ibu di Kabupaten Pringsewu menurut Dinkes Kabupaten Pringsewu tahun 2011 berjumlah 10 orang, menurut data Rekamedik RSUD Pringsewu tahun 2011 sebanyak 5 orang. Faktor yang menyebabkan kematian ibu melahirkan seara langsung adalah perdarahan postpartum yang disebabkan oleh atonia uteri, sedangkan penyebab kematian secara tidak langsung adalah umur dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun merupakan umur berisiko untuk hamil dan melahirkan. Bagi ibu yang berumur < 20 tahun dikarenakan organ-organ reproduksinya belum siap untuk menerima kehamilan, hal ini perlu untuk menunda kehamilannya.

Sedangkan bagi ibu yang berumur > 35 tahun perlu untuk mengakhiri kehamilan karena organ-organ reproduksinya sudah berkurang

kemampuannya dan keelastisannya dalam menerima kehamilan dan proses persalinan. (Manuaba, 2001). Adapun faktor presdiposisi perdarahan post partum yang lainnya menurut WHO Tahun 1989 : a. Sebelum kehamilan 1. Primi gravida. 2. Paritas > 4. 3. Anemia. 4. Kelainan pembekuan darah 5. Malnutrisi. b. Selama kehamilan 1. Plasenta previa 2. Kehamilan kembar 3. Hidramion 4. Eklamsia 5. IUVD c. Selama persalinan 1. Partus lama 2. Persalinan dengan forceps 3. Seksio sesarea 4. Pertolongan persalinan

5. Induksi persalinan Penulis merasa tertarik untuk mengetahui sejauh mana hubungan paritas dan umur terhadap kejadian perdarahan postpartum, sehingga dengan penulis mengangkat judul Hubungan Paritas dan umur ibu dengan perdarahan post partum di RSUD Pringsewu Tahun 2012

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah yang dapat di ambil adalah: Apakah ada Hubungan Paritas dan umur ibu dengan perdarahan post partum di RSUD Pringsewu ?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Diketahuinya hubungan paritas dan umur ibu dengan perdarahan Postpartum di RSUD Pringsewu tahun 2012.

2. Tujuan Khusus a. Diketahuinya distribusi frekuensi perdarahan ibu post partum di RSUD Pringsewu tahun 2012. b. Diketahuinya distribusi frekuensi umur ibu post partum di RSUD Pringsewu tahun 2012. c. Diketahuinya distribusi frekuensi paritas ibu post partum di RSUD Pringsewu tahun 2012. d. Diketahuinya hubungan umur ibu dengan perdarahan post partum di RSUD Pringsewu tahun 2012.

e. Diketahuinya hubungan paritas ibu dengan perdarahan post partum di RSUD Pringsewu tahun 2012.

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti Sebagai pengalaman baru di bidang metodologi penelitian dan pembelajaran bidang kesehatan ibu.

2. Bagi RSUD Pringsewu Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan informasi untuk meningkatkan mutu pelayanan di RSUD Pringsewu dalam upaya mencegah dan menangani kejadian perdarahan postpartum.

3. Bagi Institusi Pendidikan Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan kajian dan dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi adik tingkat dalam melakukan penelitian selanjutnya terutama bidang kesehatan ibu.

E. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini dilakukan di Ruang Kebidanan RSUD Pringsewu tahun 2012, jenis penelitian analitik dengan pendataan cross sektional. Penelitian umur ibu dan paritas sebagai obyek penelitian dan subyek penelitiannya adalah perdarahan post partum dengan menggunakan chi-squere untuk mengetahui hubungan umur ibu dan paritas dengan kejadian post partum.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teoritis 1. Postpartum Postpartum atau masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat kandungan kembali seperti keadaan sebelumnya. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Prawirohardjo. 2002). Masa nifas adalah masa setelah partus selesai, dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu (Maryunani, 2009). Masa nifas (puerperium) adalah masa 6 minggu setelah bayi lahir sampai organ-organ reproduksi kembali kekeadaan normal sebelum hamil (Bobak. 2004). Masa nifas (puerperium) adalah masa setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu. Masa nifas adalah masa setelah lahirnya plasenta dan berakhir setelah alat kandungan kembali ke keadaan sebelum hamil (Maryunani, 2009).

2. Pembagian atau Periode Masa Nifas Nifas dibagi dalam 3 periode: a. Puerperium dini, yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama Islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.

b.

Puerperium intermedial, yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genitalis yang lamanya 6-8 minggu.

c.

Remode puerperium, waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.

3. Perubahan Fisiologis Pada Masa Nifas atau Involusi Alat Kandungan pada Masa Nifas Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil (involusi) sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil a. b. Bayi lahir fundus uteri setinggi pusat dengan berat uterus 1000 gr. Akhir kala III persalinan tinggi fundus uteri teraba 2 jari bawah Pusat dengan berat uterus 750 gr. c. Satu minggu post partum tinggi fundus uteri teraba pertengan Pusat simpisis dengan berat uterus 500 gr. d. Dua minggu post partum tinggi fundus uteri tidak teraba diatas simpisis dengan berat uterus 350 gr. Enam minggu postpartum fundus uteri bertambah kecil dengan berat uterus 50 gr (Prawirohardjo, 2002). Lochea adalah cairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan vagina dalam masa nifas. Macam-macam lochea menurut Siti Saleha, 2008: a. Lochea rubra (Cruenta ): berwarna merah karena berisi darah segar dan sisa sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, lanugo dan mekonium

selama 2 hari pasca persalinan, lochea inilah yang akan keluar selama 2-3 hari post partum. b. Lochea sanguilenta: berwarna merah kuning berisi darah dan lender yang ke luar pada hari ke 3 sampai ke 7 pasca persalinan. c. Lochea serosa: di mulai dengan persi yang lebih pucat dari lochea rubra. Lochea ini berbentuk serum dan berwarna merah jambu kemudian menjadi kuning, cairan tidak berdarah lagi pada hari ke 7 sampai hari ke 14 pasca persalinan. d. Lochea alba, di mulai dari hari ke 14 kemudian makin lama makin sedikit hingga sama sekali berhenti sampai satu atau dua minggu berikutnya. Serviks mengalami involusi bersama-sama uterus. Setelah persalinan, ostium eksterna dapat dimasuki oleh 2 hingga 3 jari tangan, setelah 6 minggu persalinan serviks menutup (Prawirohardjo, 2002). Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama proses melahirkan bayi, dan dalam beberapa hari pertama sesudah proses tersebut, kedua organ ini tetap berada dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu vulva dan vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali sementara labia manjadi lebih menonjol. (Manuaba, 2001). Segera setelah melahirkan. perineum menjadi kendur karena sebelumnya teregang oleh tekanan kepala bayi yang bergerak maju. Pada post natal hari ke 5, perineum sudah mendapatkan kembali sebagian besar

tonusnya sekalipun tetap lebih kendur dari pada keadaan sebelum melahirkan (Prawirohardjo, 2002). Luka jalan lahir seperti episiotomi yang telah di jahit, luka pada vagina dan servick. Dan apabila tidak disertai infeksi akan sembuh 6-7 hari (Prawirohardjo, 2002). Ligamen, diafragma pelvis, serta fasia yang menegang sewaktu kehamilan dan partus berangsur-angsur kembali seperti semula. Legamentum Rofundum dapat mengendor sehingga pada hari ke-2 pasca persalinan harus dilakukan latihan senam. Otot-otot dinding perut akan bennvolusi pada 6-7 minggu pasca persalinan. Dinding vagina yang tegang akan kembali seperti sebelumnya. Kira-kira setelah 3 minggu tidak luas akan sembuh primer (Angsar, 1999).

4. Sistem Perkemihan Pelvis ginjal dan ureter yang teregang dan berdilatasi selama masa kehamilan kembali normal pada akhir minggu ke empat setelah melahirkan. Kurang lebih 40% wanita nifas mengalami proteinuria yang non patologis sejak pasca persalinan sampai dua hari post partum agar dapat di kendalikan. Oleh karena itu contoh spesimen di ambil melalui katerisasi agar tidak terkontaminasi dengan lochea non patologis. Hal ini dapat di tunjukan hanya bila tidak ada tanda dan gejala infeksi saluran kemih. Diuresi yang normal di mulai segera setelah bersalin sampai hari ke lima, jumlah urine yang keluar dapat melebihi 3000 ml per hari. Hal ini di

10

perkirakan merupakan salah satu cara untuk menghilangkan peningkatan cairan ekstraseluler yang merupakan bagian normal dan kehamilan. Kandung kemih pada puerperium mempunyai kapasitas yang meningkat secara relatif, oleh karena ltu distensi yang berlebihan, urine yang berlebihan, dan pengosongan yang tidak sempurna harus di waspadai dengan seksama. Ureter dan pelvis renalis yang mengalami distensi akan kembali normal pada 2-8 minggu setelah persalinan (Saleha, 2008).

5. Perawatan Pasca Persalinan Karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, tidur terlentang selama 8 jam pasca persalinan. Kemudian boleh minng-miring kekanan dan kekiri untuk mencegah terjadinya trombosis dan tromboemboli. Pada han ke 2 diperbolehkan duduk, hari ke 3 jalan-jalan, dan hari ke 4 atau 5 sudah diperbolehkan pulang. Mobilisasi diatas mempunyai variasi, bergantung pada komplikasi persalinan, nifas dan sembuhnya luka-luka. Makanan harus bermutu, bergizi, dan cukup kalori. Sebaiknya makan makanan yang mengandong protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan buah-buahan, minum sedikitnya 3 liter air setiap hari, pil zat besi harus di minum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca persalinan,minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bias memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI (Admin, 2009). Hendaknya kencing dapat dilakukan sendiri secepatnya. Kadangkadang wanita mengalami sulit kencing, karena sfingter uretra ditekan oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi m.sphincer ani selama persalinan.

11

Bila kandungan kemih penuh dan wanita sulit kencing, sebaiknya dilakukan kateterisasi. Buang air besar harus dilakukan 3-4 hari pasca persalinan. Bila masih sulit buang air besar dan terjadi obstipasi apalagi berak keras dapat diberikan obat laksans per oral atau per rectal, jika masih belum bisa dilakukan klisma.

6. Perawatan Payudara (mammae) Perawatan mamma telah dimulai sejak wanita hamil supaya puting susu lemas tidak keras dan kering sebagai persiapan untuk menyusui bayinya. Bila bayi meninggal, laktasi harus dihentikan dengan cara : a. b. Pembalutan mammae sampai tertekan. Pemberian obat estrogen untuk supresi LH seperti tablet lynoral dan Parlodel. Dianjurkan sekali supaya ibu menyusukan bayinya karena sangat baik untuk kesehatan bayinya. Untuk menghadapi masa laktasi (menyusukan) sejak dari kehamilan telah terjadi perubahan-perubahan pada kelenjar mamma yaitu : a. Proliferasi jaringan pada kelenjar-kelenjar, alveoli dan janngan lemak bertambah. b. Keluaran cairan susu jolong dari duktus laktiferus disebut colostrum, berwarna kuning putih susu. c. d. Hipervaskularisasi pada permukaan dan bagian dalam. Dimana vena-vena berdilatasi sehingga tampak jelas.

12

Setelah persalinan, pengaruh supresiastrogen dan progesteron hilang. Maka timbul pengaruh hormon laktogenik (LH) atau prolaktin yang akan merangsang air susu. Disamping itu, pengaruh oksitosin menyebabkan mio-epitel kelenjar susu berkontraksi sehingga air susu keluar. Produksi akan banyak sesudah 2-3 hari pasca persalin. Bayi mulai disusui dan isapan pada putting susu merupakan rangsangan psikis yang secara reflektoris mengakibatkan oksitosin dikeluarkan oleh hipofisis. Produksi Air Susu Ibu (ASI) akan lebih banyak. Sebagai efek positif adlah involusi uteri akan lebih sempurna. Di samping ASI merupakan makanan utama bayi yang tidak ada bandingannya, menyusukan bayi sangat baik untuk menciptakan rasa kasih saying antara ibu dan bayinya. Ibu dan bayi di tempatkan dalam satu kamar (rooming in) keuntungan dari rooming in: a. Mudah menyusukan bayi. b. Agar setiap saat selalu ada kontak antara ibu dan bayi, c. Sedini mungkin ibu telah belajar mengurus bayinya (Mochtar, 2002).

7. Adaptasi Psikologis pada Masa Nifas Periode masa nifas merupakan waktu untuk terjadi stres, terutama ibu primipara. a. Fungsi yang mempengaruhi untuk sukses dan lancarnya masa transisi menjadi orang tua. b. Respon dan support dari keluarga dan teman dekat. c. Riwayat pengalaman hamil dan melahirklan yang lalu.

13

d. Harapan atau keinginan dan aspirasi ibu saat hamil dan melahirkan.

8. Perdarahan Postpartum Perdarahan postpartum adalah perdarahan lebih dari 500 cc yang terjadi setelah bayi lahir pervaginam atau lebih dari 1.000 mL setelah persalinan abdominal. Kondisi dalam persalinan menyebabkan kesulitan untuk menentukan jumlah perdarahan yang terjadi, maka batasan jumlah perdarahan disebutkan sebagai perdarahan yang lebih dari normal dimana telah menyebabkan perubahan tanda vital, antara lain pasien mengeluh lemah, limbung, berkeringat dingin, menggigil, hiperpnea, tekanan darah sistolik < 90 mrnHg, denyut nadi > 100 x/menit, kadar Hb < 8 g/dl (Prawirohardjo, 2008). Perdarahan postpartum adalah perdarahan yang lebih dari normal >500 cc dimana telah menyebabkan perubahan tanda-tanda vital (pasien mengeluh lemah, limbung, berkeringat dingin, menggigil, sistolik <90 mmhg, nadi lebih dari 100X per menit. kadar Hb <8 gr%) (Prawirohardjo, 2008). Perdarahan post partum dibagi menjadi 2: a. Perdarahan Post Partum Dim / Perdarahan Post Partum Primer (early postpartum hemorrhage) Perdarahan post partum dini adalah perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama setelah kala III. Penyebab utama perdarahan postpartum primer adalah atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta dan robekan jalan lahir terbanyak dalam 2 jam pertama.

14

b. Perdarahan pada Masa Nifas / Perdarahan Post Partum Sekunder (late postpartum hemorrhage). Perdarahan postpartum sekunder adalah perdarahan yang terjadi setelah anak lahir biasanya hari ke 5-15 postpartum. Penyebab utamanya robekan jalan lahir dan sisa plasenta (Manuaba.2001).

9. Etiologi Perdarahan Post Partum Atonia uteri adalah kegagalan serabut-serabut otot miometrium uterus untuk berkontraksi dan memendek. Hal ini merupakan penyebab perdarahan post partum yang paling penting dan biasa terjadi segera setelah bayi lahir hingga 4 jam setelah persalinan. Atonia uteri dapat menyebabkan perdarahan hebat dan dapat mengarah pada terjadinya syok hipovolemik (Saifuddin, 2002). Faktor terjadinya atonia uteri: a. Umur terlalu muda atau tua b. Paritas c. Partus lama d. Uterus telalu regang dan besar e. Kelainan pada uterus f. Malnutrisi

Tujuan pengobatan atonia uteri: a. Tujuan pengobatan adalah untuk menimbulkan kontraksi uterus. Pertama dapat di berikan obat-obatan yang dapat menimbulkan

15

kontraksi uterus seperti oksitosin, metergin (secara intra vena atau intramuskuler). Di samping itu juga dapat dapat di lakukan masase uterus melalui dinding abdomen. b. Bila dengan cara tersebut di atas belum berhasil juga dan perdarahan terus berlangsung dapat di lakukan kompresi bimanual internal. Sebelumnya kandung kemih harus di kosongkan luka jalan lahir atau robekan jalan lahir: robekan jalan lahir merupakan penyebab kedua tersering dari perdarahan post partum. Robekan dapat terjadi bersamaan dorongan atonia uteri. Perdarahan post partum dengan uterus yang berkontraksi baik biasanya disebabkan oleh robekan servik dan vagina (Saifuddin. 2002). Retensio plasenta adalah tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga atau lebih dari 30 menit setelah bayi lahir. Hampir sebagian besar gangguan pelepasan plasenta disebabkan oleh gangguan kontraksi uterus Retensio plasenta terdiri dari beberapa jenis, antara lain : a. Plasenta adhesiva adalah implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta sehingga menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis. b. Plasenta akreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai sebagian lapisan miometrium. c. Plasenta inkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai atau melewati lapisan miometrium.

16

d. Plasenta perkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan miometrium hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus. e. Plasenta inkarserata adalah tertahannya plasenta di dalam kavum uteri, disebabkan oleh konstriksi ostium uteri (Saifuddin, 2002). Sisa plasenta dan selaput ketuban adalah tertinggalnya sisa-sisa plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah) (Herawati, 2007). Penemuan secara dini, hanya dimungkinkan dengan melakukan pemeriksaan kelengkapan plsenta setelah dilahirkan pada kasus sisa plasenta dengan perdarahan pasca persalinan lanjut, sebagian besar pasienpasien akan kembali lagi ke tempat bersalin dengan keluhan perdarahan setelah 6-10 hari pulang ke rumah. Pengobatannya diberikan antibiotic (ampisilin dosis awal 1 g per IV dilanjutkan dengan 3 X 1 gram oral dikombinasi dengan metronidazol l gram supositoria dilanjutkan 3 X 500 mg oral. Bila kadar Hb < 8 gram % berilah tranfusi darah. Bila kadar Hb > 8 % berikan sulfas ferosus 600 mg/hari selama 10 hari (Prawirohardjo, 2008:181).

10. Pemeriksaan Fisik Pucat dapat disertai tanda-tanda syok, tekanan darah rendah, denyut nadi cepat, kecil, ekstremitas dingin serta tampak darah keluar melalui vagina terus menerus.

17

a.

Pemeriksaan Obstetri Mungkin kontraksi usus lembek, uterus membesar bila ada atonia uteri. Bila kontraksi uterus baik, perdarahan mungkin karena luka jalan lahir.

b.

Pemeriksaan ginekologi Dilakukan dalam keadaan baik atau telah diperbaiki, dapat diketahui kontraksi uterus, luka jalan lahir dan retensi sisa plasenta.

11. Penatalaksanaan Pasien dengan perdarahan post partum harus ditangani dalam 2 komponen, yaitu: a. Resusitasi dan penanganan perdarahan obstetri serta kemungkinan syok hipovolemik. b. Identifikasi dan penanganan penyebab perdarahan post partum.

12. Resusitasi Cairan Pengangkatan kaki dapat meningkatkan aliran darah balik vena sehingga dapat memberi waktu untuk menegakkan diagnosis dan menangani penyebab perdarahan. Perlu dilakukan pemberian oksigen dan akses intravena. Selama persalinan perlu dipasang peling tidak 1 jalur intravena pada wanita dengan resiko perdarahan post partum, dan di pertimbangkan jalur kedua pada pasien dengan resiko sangat tinggi. NaCl atau cairan Ringer Laktat melalui akses intravena perifer. NaCl merupakan cairan yang cocok pada saat persalinan karena biaya yang

18

ringan dan kompatibilitasnya dengan sebagian besar obat dan transfusi darah. Resiko terjadinya asidosis hiperkloremik sangat rendah dalam hubungan dengan perdarahan post partum. Bila dibutuhkan cairan knstaloid dalam jumlah banyak (>10 L), dapat dipertimbangkan pengunaan cairan Ringer Laktat. Cairan yang mengandung dekstrosa. seperti D 5% tidak memiliki peran pada penanganan perdarahan post partum. Perlu diingat bahwa kehilangan I L darah perlu penggantian 4-5 L kristaloid, karena sebagian besar cairan infus tidak tertahan di ruang intravasluler, tetapi terjadi pergeseran ke ruang interstisial. Pergeseran ini bersamaan dengan penggunaan oksitosin dapat menyebabkan edema perifer pada hari-hari setelah perdarahan post partum. Ginjal normal dengan mudah

mengekskresi kelebihan cairan. Perdarahan post partum lebih dari 1.500 ml pada wanita hamil yang normal dapat ditangani cukup dengan infus kristaloid jika penyebab perdarahan dapat tertangani. Kehilanagn darah yang banyak. biasanya membutuhkan penambahan transfusi sel darah merah. Cairan koloid dalam jumlah besar (1.000 - 1.500 mL/hari) dapat menyebabkan efek yang buruk pada hemostasis. Tidak ada cairan koloid yang terbukti lebih baik dibandingkan NaCl, dan karena harga serta resiko terjadinya efek yang tidak diharapkan pada pemberian koloid, maka cairan kristaloid tetap direkomendasikan (Admin. 2009).

19

13. Transfusi Darah Transfusi darah perlu diberikan bila perdarahan masih terus berlanjut dan diperkirakan akan melebihi 2.000 mL atau keadaan klinis pasien menunjukkan tanda-tanda syok walaupun telah dilakukan resusitasi cepat. PRC digunakan dengan komponen darah lain dan diberikan jika terdapat indikasi. Para klinisi harus memperhatikan darah transfusi. berkaitan dengan waktu, tipe dan jumlah produk darah yang tersedia dalam keadaan gawat. Tujuan transfusi adalah memasukkan 2-4 unit PRC untuk menggantikan pembawa oksigen yang hilang dan untuk mengembalikan volume sirkulasi. PRC bersifat sangat kental yang dapat menurunkan jumlah tetesan infus. Masalah ini dapat diatasi dengan menambahkan 100 mL NaCl pada masing-masing unit. Jangan menggunakan cairan Ringer Laktat untuk tujuan ini karena kalsium yang dikandungnya dapat malan (Admin, 2009).

14. Pengobatan Perdarahan Kala Uri a. Memberikan oksitosin b. Mengeluarkan placenta menurut cara credee(l-2 kali) c. Mengeluarkan placenta dengan tangan. pengeluaran placenta dengan tangan segera setelah janin lahir di lakukan bila : 1) Meny angka akan terjadi perdarahan postpartum. 2) Perdarahan banyak lebih dari 500 cc. 3) Retensio placenta yang lalu.

20

4) Melakukan tindakan obstetric dalam narkossa. 5) Riwayat perdarahan postpartum pada persalinan.

15. Predisposisi HPP (WHO 1989) a. Sebelum Kehamilan 1. Primi Gravida Adalah seorang wanita yang pernah melahirkan untuk pertama kalinya (Mochtar: 2002 : 92). Adalah wanita yang telah melahirkan seorang anak. yang cukup besar untuk hidup di dunia luar matur/prematur (Bagion Obstetri dan ginekologi fakultas kedokteran Universitas Padjajaran). Dari definisi diatas maka dapat disimpulkan primi gravida adalah wanita yang melahirkan untuk pertama kalinya. (http://wikimedya.blogspot.com)

2. Paritas > 4 / Granda multipara Prinsip dasar grandamultipara menurut a. Grande multipara adalah kehamilan lebih dari 4 kali b. Grande multipara termasuk dalma kehamilan bahaya yang lebih besar pada waktu kehamilan maupun persalinan bila

dibandingkan dengan ibu hamil normal. c. Ibu hamil dengan resiko tinggi memiliki bahaya yang lebih besar pada waktu kehamilan maupun persalinan bila dibandingkan dengan ibu hamil normal.

21

d. Kehamilan resiko tinggi dapat dicegah bila gejalanya ditemukan sedini mungkin sehingga dapat dilakukan tindakan perbaikan. e. Grande multipara memiliki komplikasi dalam kehamilan dan persalinan. (http://grandemultipara.com) 3. Anemia Anemia adalah saat jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin dalam sel darah merah berada dibawah normal. (http ://id.wikipedia.org)

4. Malnutrisi Adalah suatu keadaan dimana tubuh mengalami gangguang adalam penggunaan zat gizi untuk pertumbuhan perkembangan dan aktivitas. Malnutnsi dapat disebabkan oleh kurangnya asupan makanan maupun adanya gangguan terhadap absorbsi, pencernaan dan penggunaan zat gizi dalam tubuh. (http://dokterblog.wordpress.com)

5. Selama Kehamilan 1. Plasenta previa Adalah plasenta yang berimplantasi atau tertanam pada sgmen bawah rahim dan menutupi sebagian atasu seluruh ostium utri internum. Angka kejadian plasenta previa adalah 0,4-0,6% dan keseluruhan persalinan. Pada awal kehamilan, plasenta mulai

22

terbentuk,

berbentuk

bundar.

berupa

organ

datar

yang

bertanggung jawab menyediakan oksigen dan nutrisi untuk pertumbuhan bayi dan membuang produk sampah dari darah bayi. Plasenta melekat pada dinding uterus dan pada tali pusat bayi, yang membentuk hubungan penting antara ibu dan bayi. (http://www.bidankita.com)

2. Kehamilan kembar Adalah suatu kehamilan dengan dua janin atau lebih. Sering disebut juga sebagai kehamilan kembar (twin pregnacy) sebenarnya istilah ini lebih tepat untuk kehamilan dengan dua janin.

3. Hidramion Adalah meningkatnya air ketuban melebihi 2000 cc. Normalnya, air ketuban makin meningkat jumlahnya sehingga mencapai 800 - 1000 cc, pada usia hamil bayi atern. Hidramnion dapat berkembang meningkat apabila terjadi peningkatan air ketuban dalam waktu 14 hari. Hidramnion juga dapat

menimbulkan gejala pada ibu hamil yang meliputi dipnea (Sesak nafas), kaki tungkai bawah membengkak. perut membesar, dan tampak mengkilat (http://painlesslabor.wordpress.com).

23

4. Eklamsia Adalah kelainan akut pada wanita hamil. dalam persalinan atau masa nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang (bukan timbul akibat kelainan neurologik) dan/atau koma dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejala-gejala pre eklampsia. (http ://kuliahbidan. wordpress.com)

5. Selama Persalinan a. Partus lama Fase lebih dari 8 jam, persalinan berlangsung 12 jam atau lebih bayi belum lahir, dilatasi serviks dikanan garis waspada pada persalinan fase aktif. Penilaian Klinik : Pada prinsipnya persalinan lama dapat disebabkan oleh : His tidak efisien (adekuat) Faktor janin (malpresentasi, malosisi, janin besar). Faktor jalan lahir (panggul sempit, kelainan serviks, vagina, tumor). Tanda dan Gejala Klinis Pembukaan serviks tidak membuka (kurang dari 3 cm) tidak didapatkan kontraksi uterus Pembukaan serviks tidak melewati 3 cm sesudah 8 jam in partu. Pembukaan serviks melewati garis waspada patograf. Frekuensi dan lamanya kontraksi kurang dari 3 kontraksi per 0 menit dan kurang dari 40 detik Diagnosis Belum inpartu Prolonged latent phase Kontraksi uterus tidak edukat Disproporsi sefalopelvik Obstruksi Malprestasi

24

Secondary arrest of dilatation atau arrest of descent Secondary arrest of dilalation dan bagian terendah dengan kaput, terdapat moulase hebat, edema serviks, tanda rapture uteri imminens, fetal dan matemal distress Kelainan presentasi (selain vertex) Pembukaan serviks lengkap, ibu ingin mengendap, tetapi tak ada kemajuan penurunan b. Secsio sesarea

Kala II (prolonged second stage)

Secsio sesarea atau bedah sesar adalah sebuah operasi dimana bayi melalui pembedahan/potongan (irisan) di perut ibu dan rahim (http ://jevuska.com)

c. Induksi persalinan Adalah suatu upaya stimulasi mulainya proses persalinan (tidak ada tanda-tanda persalinan, distimulasi menjadi ada).

16. Hubungan Karakteristik Ibu dengan Perdarahan Postpartum a. Umur Umur adalah lamanya seorang individu mengalami kehidupan srejak lahir sampai saat ini. Penelitian umur di lakukan dengan hitunagan tahun (Chaniago. 2002). Umur merupakan salah satu variabel dari model demografi yang digunakan sebagai hasil ukuran mutlak atau indikator psiologis yang berbeda (Notoatmodjo. 2003). Pada usia kurang dari 20 tahun penyakit kehamilan lebih tinggi di banding waktu reproduksi sehat, yaitu usia 20-35 tahun. Keadaan pada kehamilan remaja di sebabkan belum matangnya alat reproduksi untuk

25

hamil, sehingga menyebabkan persalinan premature atau BBLR. Sebaiknya semakin tua usia ibu melahirkan kondisi dan keelastisan otot-otot ibu semakin berkurang (Manuaba, 2001). Maka pengolongan umur dalam penelitian adalah : Bukan Resiko tinggi bila umur 20 tahun sampai dengan 35 tahun Kesiapan kandungan akan terjadinya kehamilan sangat di pengaruhi oleh faktor usia ibu. Pada usia 20-35 tahun adalah usia paling sehat bagi ibu untuk mengalami kehamilan. Resiko tinggi bila umur <20 tahun atau > 35 tahun. Resiko tinggi bila ibu dengan usia < 20 tahun adalah kesiapan organ reprodusi untuk mengalami kehamilan dan persalinan belum memadai. sehingga akan berisiko megalami perdarahan. Dilain pihak bila usia ibu > 30 tahun organ reproduksi ibu sudah mulai mengalami penurunan fungsi fisiologi. Umur dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun merupakan umur berisiko untuk hamil dan melahirkan. Bagi ibu yang berumur < 20 tahun dikarenakan organ-organ reproduksinya belum siap untuk menerima kehamilan, hal ini perlu untuk menunda kehamilannya. Sedangkan bagi ibu yang berumur > 35 tahun perlu untuk mengakhiri kehamilan karena organ-organ reproduksinya sudah berkurang

kemampuannya dan keelastisannya dalam menerima kehamilan dan proses persalinan (Manuaba. 2001).

26

b. Paritas Definisi paritas menurut Bobak (2005 : 104) paritas adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan jalan hidup bukan jumlah janin yang di lahirkan. Paritas adalah wanita yang pernah melahirkan satu keturunan lebih atau lebih yang mampu hidup tanpa memandang apakah anak tersebut hidup pada saat lahir (Kumala, 1999). Pada paritas yang tinggi kejadian perdarahan postpartum semakin besar, lebih banyak di jumpai pada multigravida terutama jarak antara kehamilan-kehamilan tersebut pendek disebabkan kurang siapnya alat reproduksi mengalami kehamilan kembali (Manuaba, 2001). Penggolongan paritas pada penelitian adalah : 1) Primipara jika staus persalinan adalah 1 persalinan Kehamilan primipara tidak berisiko megalami perdarahan post partum karena organ reproduksi masih dalam keadaan kesehatan tertinggi. Pada umumnya komplikasi persalinan dan nifas tidak terjadi pada primigravida kecuali dipengaruhi faktor keturunan dan kelainan bawaan. 2) Multipara jika status persalinan > 2 persalinan 3) Pada multipara resiko perdarahan post partum lebih tinggi dibandingkan primipara, hal ini disebabkan kemungkinan penurunan fisiologi organ reproduksi setelah kehamilan pertama. Risiko akan

27

menjadi lebih tinggi bila interval antar kehamilan kurang dan 2 tahun. 4) Grandemultipara status persalinan > 4 persalinan Pada grandemultipara perdarahan post partum sangat tinggi dibandingkan dengan multipara, karena pada grandemultipara penurunan organ-organ reproduksi tambak lebih jelas dibandingkan dengan multipara.

B. Penelitian Terkait Penelitian : Cahyani (2007) Judul : Hubungan antara Perdarahan

Postpartum di RSUD DR. H. Aloe Asaboe Gorontalo Tahun 2007. Dari 1310 kasus yang usia < 20 tahun terdapat 31,15%, usia 20-35 tahun terdapat 33,51% dan usia > 35 tahun terdapat 35,34%. Dari hasil uji statistik chi square dengan = 0,005 X2hitung = 5,768 > X2tabel = 5,591, maka Ho ditolak artinya ada hubungan antara usia dengan perdarahan postpartum di RSUD DR. H. Aloe Asaboe Gorontalo 2007. Penelitian : Prahardina, Vira (200) dengan judul : Hubungan Antara Perdarahan Postpartum dengan Paritas di RSUD Sukoharjo. Dari penelitian didapatkan etiologi perdarahan postpartum terbesar adalah retensio plasenta yaitu sebanyak 19 pasien (41.3%) kemudian laserasi traktus genetalia sebanyak 17 pasien (37%) dan atonia uteri sebanyak 10 pasien (21.7%). Data dianalisis dengan uji Chi kuadrat dengan menggunakan SPSS 16 for Windows. Diperoleh X = 4,423 dan nilai p value = 0,035 maka secara statistik dapat disimpulkan terdapat hubungan yang bermakna antara

28

perdarahan postpartum dengan paritas. Dan Ratio Prevalensi (RP) = 1,590 hal ini berarti multipara memiliki faktor resiko 1,590 kali lebih besar untuk terkena perdarahan postpartum dibanding primipara. Sehingga semakin tinggi paritas semakin besar resiko terjadinya perdarahan postpartum.

C. Kerangka Teori Gambar 2.1 Kerangka Teori Menurut Prawirohardjo (2001)


a. Faktor Langsung - Atonia - Sisa Plasenta - Rensio Plasenta - Luka Jalan Lahir b. Faktor Tidak Langsung - Umur - Paritas

a. Sebelum Kehamilan - Paritas - Anemia - Kelainan Pembekuan Darah - Malnutrisi b. Selama Kehamilan - Plasenta Previa - Kehamilan Kembar - Hidromion - Eklamsia c. Selama Persalinan - Partus Lama - Seksio Sesarea - Induksi Persalinan

Perdarahan Post Partum

Sumber : Prawiroharjo (2001); WHO (1989)

29

D. Kerangka Konsep Gambar : 2.2 Kerangka Konsep Hubungan Ibu Postpartum dengan Perdarahan di RSUD Pringsewu Variabel Independen Faktor Tidak Langsung 1. Umur 2. Paritas E. Hipotesis Ha: 1. Ada hubungan antara paritas dengan perdarahan postpartum di RSUD Pringsewu tahun 2012 2. Ada hubungan antara umur dengan perdarahan postpartum di RSUD Pringsewu tahun 2012 Ho: 1. Tidak ada hubungan antara paritas dengan perdarahan postpartum di RSUD Pringsewu tahun 2012 2. Tidak ada hubungan antara umur dengan perdarahan postpartum di RSUD Pringsewu tahun 2012 Variabel Dependen Perdarahan Post Partum

30

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Jenis Penelitian ini adalah kuantitatif.

B. Waktu Dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di ruang kebidanan Rumah Sakit Umum Daerah Pringsewu pada tanggal 15 Januari 2012 sampai dengan 19 Februari 2012.

C. Rancangan Penelitian Rancangan penelitian adalah analitik dengan pendekatan cross sectional.

D. Subyek Penelitian 1. Populasi Populasi penelitian ini yaitu seluruh ibu bersalin di RSUD Pringsewu tahun 2011 Periode Januari sampai dengan Desember 2011 berjumlah 218 responden.

2. Sampel Dalam penelitian ini tidak dicantumkan pengambilan sampel melainkan semua populasi dijadikan target penelitian (total population). Sampel yang diambil adalah semua ibu bersalin normal di RSUD Pringsewu periode Januari sampai dengan Desember 2011 berjumlah 218 responden.

30

31

E. Variabel Penelitian 1. Variabel independen Dalam penelitian ini variabel independenya adalah paritas dan umur ibu postpartum.

2. Variabel dependen Dalam penelitian ini variabel dependennya adalah perdarahan postpartum.

F. Definisi Operasional Variabel Dan Pengukuran Variabel


No 1. Variable Dependen Perdarahan Postpartum Definisi Operasional Darah yang keluar >500cc dari jalan lahir dalam 24 jam pertama setelah anak lahir Rentang waktu yang telah di jalani sejak dari lahir hingga ulang tahun terakhir yang dinyatakan dalam tahun di lihat dari rekam medic Jumlah anak yang pernah dilahirkan baik lahir hidup ataupun mati sampai saat kehamilan terakhir Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur - 0 Tidak Perdarahan, jika <500cc - 1 Perdarahan. jika 500cc - 0 Tidak Resiko tinggi umur (20-35 tahun) - 1 resiko tinggi umur (20< dan >35 tahun) Skala Ukur Ordinal

Dokumentasi Observasi rekam medik Rekam Medik

2.

Independen Umur

Dokumentasi Observasi rekam medik Rekam Medik

Ordinal

3.

Independen Paritas

Dokumentasi Observasi rekam medik Rekam Medik

- 0 Primipara jika jumlah paritas = 1 persalinan - 1 Multipara jika paritas 2 persalinan

Ordinal

32

G. Pengumpulan Data 1. Alat Ukur Alat pengumpulan data adalah lembar observasi rekam medik dengan melihat buku rekam medik RSUD Pringsewu tahun 2011. Sumber yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dengan melihat rekam medik RSUD Pringsewu pada Januari sampai dengan Desember 2011.

2. Cara Ukur Proses pengukuran data di lakukan melalui langkah - langkah sebagai berikut: a. Setelah daftar nomor indeks terkumpul di buat formulir untuk mengisi data menurut variabel-variabel yang di perlukan. b. Data diambil dari rekam medik dengan melakukan pengambilan secara keseluruhan responden. c. Kemudian dilakukan pemisahan sesuai dengan variabel-variabel yang akan di teliti untuk di analisis yaitu : 1) Variabel perdarahan Katagori perdarahan yaitu perdarahan jika jumlah darah 500 cc dengan kode 1 dan tidak perdarahan jika jumlah darah < 500 cc dengan kode 0 2) Variabel Umur Katagori umur yaitu resiko tinggi jika umur ibu < 20 tahun atau > 35 tahun dengan kode 1 dan bukan resiko tinggi bila umur 20-35 tahun dengan kode 0.

33

3) Variabel Paritas Katagori paritas multipara adalah jika status persalian 2 dengan kode 1 dan primipara bila status persalinan = 1 dengan kode 1.

H. Pengolahan Data Data yang di peroleh kemudian diolah melalui tahapan - tahapan sebagai berikut: 1. Editing Yaitu pemeriksaan dan menyesuaikan data dengan rencana semula seperti apa yang dnngginkan. 2. Coding Yaitu untuk memberi tanda pada data yang telah diolah untuk mempermudah mengadakan tabulasi : 0 1 0 1 0 1 : Tidak perdarahan jika < 500 cc : Perdarahan. jika 500 cc : Bukan resiko tinggi umur (20 - 35 tahun) : Resiko tinggi umur (< 20 dan > 35 tahun) : Primipara jika jumlah paritas = 1 : Multipara jika paritas 2 persalinan

3. Processing Yaitu data yang sudah di beri kode kemudian di masukan ke dalam komputer.

34

4. Cleaning Yaitu merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah dimasukkan apakah ada kesalahan atau tidak?

I. Analisa Data Data yang diperoleh kemudian dianalisa dengan melakukan penyeleksian data sesuai dengan kriteria yang ada. Langkah - langkah analisa data yang dilakukan peneliti adalah : 1. Analisis Univariat Di maksud untuk mengetahui distribusi frekuensi dan proporsi variablevariabel yang di amati, baik variabel dependent maupun variabel independent.

2. Analisis Bivariat Yaitu menilai adanya hubungan antara paritas dan umur terhadap kejadian perdarahan dengan memasukkan data dalam tabel silang. Uji statistik yang digunakan untuk membuktikan hipotesis adalah chi-squere dengan : 0.05. Jika p value < 0.05 berarti Ho ditolak, ada hubungan yang signifikan secara statistik antara kedua variabel. Tetapi jika p value > 0,05 berarti Ho diterima, tidak ada hubungan yang signifikan secara statistik antara kedua variabel.

35

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Rumah Sakit Umum Pringsewu Rumah Sakit Umum Pringsewu didirikan pada tahun 1939 oleh pemerintah kolonial Belanda. Awalnya RSUD Pringsewu adalah rumah sakit misi yang melayani masyarakat umum dan anggota misionaris dan pemerintahan Belanda. RSUD Pringsewu didirikan diatas tanah 980 m3 dan saat ini berkapasitas 150 tempat tidur dan di lengkapi dengan ruang operasi, UGD 24 jam, lima ruang rawat inap dan 7 poli rawat jalan. Saat ini Rumah Sakit Umum Pringsewu mempunyai 348 pegawai yang terdiri dari 224, paramedic, 42 medis, dan 80 staf lainnya. Ruang kebidanan memiliki 3 ruang perawatan yaitu ruang partus dan nifas, dan ruang perinatologi. Berikut data khusus ruang kebidanan : a. Ruang Bersalin dan ruang nifas memiliki 21 tempat tidur yaitu 3 di kamar bersalin dan 18 diruang nifas. Jumlah pegawai di ruang bersalin dan nifas adalah 18 orang yang terdiri dari 4 cleaning servis dan 14 bidan. b. Ruang perinatologi memiliki kapasitas 10 tempat tidur untuk bayi dengan jumlah pegawai 11 orang yang terdiri dari 4 cleaning servis, 2 bidan dan 6 perawat. c. Khusus untuk pasien ibu bersalin dapat menempati pavilium asri dan alamanda, dengan catatan pre op dan post op 1 hari di ruang kebidanan.

35

36

B. Analisa Univariat a. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kejadian Perdarahan Post Partum Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kejadian Postpartum di RSUD Pringsewu Tahun 2012 Kejadian Perdarahan Postpartum Perdarahan Tidak Perdarahan Jumlah Jumlah 68 150 218 Presentase (%) 31,2 68,8 100,0

Berdasarkan tabel 4.1 diatas, dapat dilihat bahwa sebagian kecil ibu mengalami perdarahan postpartum 68 responden (31,2 %) dan sebagian besar ibu tidak mengalami perdarahan postpartum 150 responden 68,8 %).

b. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur Ibu Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur Ibu di RSUD Pringsewu Tahun 2012 Paritas Resti Tidak Resit Jumlah Jumlah 152 66 218 Persentase (%) 69,7 30,3 100,0

Berdasarkan tabel 4.2 diatas, dapat dilihat bahwa sebagian besar ibu bersalin dengan umur resiko tinggi dalam persalinan 152 resonden 69,7%) dan sebagian kecil ibu dengan umur tidak resiko tinggi 66 responden (30,3%).

37

c. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Paritas Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Paritas di RSUD Pringsewu Tahun 2012 Paritas Multipara Primipara Jumlah Jumlah 150 68 218 Persentase (%) 68,8 31,2 100,0

Berdasarkan tabel 4.3 diatas, dapat dilihat bahwa sebagian besar ibu dengan paritas multipara 150 responden (68,2 %) dan sebagian ibu dengan paritas primipara 68 responden (31,2 %)

C. Analisa Bivariat a. Hubungan Paritas dengan Kejadian Perdarahan Postpartum di RSUD Pringsewu Tahun 2012 Tabel 4.4 Hubungan Paritas dengan Kejadian Perdarahan Postpartum Di RSUD Pringsewu Tahun 2012 Kejadian Perdarahan Postpartum Tidak Perdarahan Perdarahan N % N % 59 39,3 91 60,7 9 13,2 59 86,8 31,2 150 68,8

Paritas

Jumlah N 150 68 218 % 68,8 31,2 100

P value

OR Ci 95%

Multipara Primipara Jumlah

0,000

4,25
(1,960-9,218)

Berdasarkan Tabel 4.4 diatas bahwa proporsi ibu bersalin paritas multipara dengan mengalami perdarahan postpartum sebesar 59 responden (39,3%) dari 150 responden (68.8%) yang multipara, sedangkan proporsi

38

ibu bersalin primipara dengan mangalami perdarahan postpartum sebesar 9 responden (13,2%) dari 68 responden (31,2%) yang primipara. Hasil analisis dengan menggunakan uji chi square diperoleh p value = 0.000 < = 0,05 dengan demikian hipotesis nol ditolak. Hal ini berarti ada hubungan yang sangat bermakna antara paritas dengan kejadian perdarahan postpartum di RSUD Pringsewu Tahun 2011. Hasil analisis juga menemukan OR = 4,25 yang berarti ibu dengan multipara lebih tinggi mengalami perdarahan postpartum dibandingkan dengan ibu dengan primipara.

b. Hubungan Umur dengan Kejadian Postpartum di RSUD Pringsewu Tahun 2012 Tabel 4.5 Hubungan Umur dengan Kejadian Perdarahan Postpartum Di RSUD Pringsewu Tahun 2012 Kejadian Perdarahan Postpartum Umur Tidak Perdarahan Perdarahan N % N % Resti 61 40,1 91 59,9 Tidak Resti 7 10,6 59 89,4 Jumlah 68 31,2 150 68,8

Jumlah N 152 66 218 % 69,7 30,3 100

P value OR Ci 95%

0,000

5,650
(2,420-13,192)

Berdasarkan Tabel 4.5 diatas bahwa proporsi ibu bersalin yang berumur resti dengan mengalami perdarahan postpartum sebesar 61 responden (40,1%) dari 152 responden (69,7%) yang resti, sedangkan proporsi ibu bersalin berumur tidak resti dengan mangalami perdarahan

39

postpartum sebesar 7 responden (10.6%) dari 66 responden (30.3%) yang tidak resti. Hasil analisis dengan menggunakan uji chi square diperoleh p value = 0,000 < = 0,05 dengan demikian hipotesis nol ditolak. Hal ini berarti ada hubungan yang sangat bermakna antara umur ibu dengan kejadian menemukan OR = 5,65 yang berarti ibu dengan umur resti berpeluang 6 kali lebih tinggi mengalami perdarahan postpartum dibandingkan dengan ibu dengan umur tidak resti.

D. Pembahasan 1. Gambaran Kejadian Perdarahan Postpartum di RSUD Pringsewu Tahun 2011 Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di RSUD Pringsewu Tahun 2011 menunjukkan bahwa sebagian kecil ibu mengalami perdarahan postpartum 68 (31,2%) dan sebagian besar ibu tidak mengalami perdarahan postpartum 150 (68,8%). Berbeda dengan kejadian perdarahan postpartum yang ada di RSUD Kota Agung Kab. Tanggamus Tahun 2011 yang berjumlah 80 ibu bersalin dengan perdarahan 8 (10%). RSUD Pringsewu memiliki jumlah pasien ibu bersalin yang mengalami perdarahan postpartum lebih banyak dibandingkan RSUD Kota Agung karena di RSUD Pringsewu menerima rujukan pasien dengan resiko perdarahan lebih banyak. Pasien tersebut berasal dari 4 kabupaten yaitu: Pringsewu, Pesawaran, Tanggamus, dan Lampung Tengah.

40

2. Gambaran Paritas Ibu Bersalin di RSUD Pringsewu tahun 2011 Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di RSUD Pringsewu tahun 2011 menunjukkan bahwa sebagian besar ibu dengan paritas multipara 150 (68,8%) dan sebagian kecil ibu dengan paritas primipara 68 (31,2%). Menurut teori menyebutkan bahwa paritas merupakan wanita yang pernah melahirkan satu keturunan lebih atau lebih tanpa memandang apakah anak tersebut hidup atau mati pada saat lahir. Pada paritas yang tinggi kejadian perdarahan postpartum semakin tinggi. Menurut Farrer (2001) hal utama yang mereka takutkan menjelang persalinan adalah rasa sakit waktu melahirkan, berapa lama langsungnya kesakitan. Seorang ibu hamil mungkin khawatir kalau dirinya tidak akan mampu menyelesaikan proses persalinan dengan baik atau akan mengalami kegagalan dalam menghadapi tantangan kelahiran anak yang alami. Persalinan merupakan suatu kejadian yang diwarnai oleh berbagai macam pengalaman psikis seorang wanita yang akan melahirkan.peristiwa yang di sertai kesakitan jasmaniah dan ketidak pastian di saat melahirkan bayi itu secara silmutan dan menimbulkan banyak ketegangan ketakutan. kecemasan dan emosi yang lain. Menghadapi masa persalinan merupakan suatu kondisi konkrit yang mengancam diri ibu hamil yang menyebabkan perasaan tegang. kuatir, dan takut. Untuk itu, ibu hamil berusaha untuk dapat berhasil dalam menghadapi situasi tersebut sebaik-baiknya sampai masa persalinan tiba. Adanya perubahan fisiologis yang menimbulkan

41

ketidakstabilan

kondisi

psikologis

selama

hamil

menumbuhkan

kekhawatiran yang terus menerus dalam menghadapi kelahiran bayi pada wanita hamil pertama. Menurut peneliti pengalaman ibu sangat mempengaruhi pengetahuan ibu tentang kehamiilan dan persalinan. Perbedaan paritas tentunya akan berpengaruh terhadap perilaku ibu terhadap perawatan kehamilan dan persalinan serta sikap terhadap pelayanan terutama kehamilan dengan jarak kehamilan kurang dan 2 tahun dan paritas lebih dari 3. Berdasarkan hasil penelitian dan teori maka perlu bimbingan dan pengawasan mengenai upaya pencegahan terjadinya perdarahan postpartum dari petugas kesehatan terutama pada ibu dengan paritas primipara karena dari segi pengalaman masih kurang.

3. Gambaran Umur Ibu Bersalin di RSUD Pringsewu Tahun 2011 Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di RSUD Pringsewu tahun 2011 menunjukkan bahwa sebagian besar ibu bersalin dengan umur resiko tinggi dalam persalinan 152 (69,7%) dan sebagian kecil ibu dengan umur tidak resiko tinggi dalam 66 (30.3%). Menurut peneliti, karakteristik umur ibu dalam menghadapi kehamilan dan persalinan sangat menentukan kualitas kehamilan dan persalinan itu sendiri. Usia yang sehat memungkinkan organ reproduksi yang siap untuk menjalankan fungsinya secara baik sehingga akan berpengaruh pada kesehatan bayi dan ibu pada proses persalinan. Berdasarkan hasil penelitian dan teori maka upaya yang perlu dilakukan pada ibu bersalin

42

dengan umur beresiko tinggi yaitu dengan penyuluhan dan pengawasan dari petugas kesehatan mengenai persiapan menghadapi persalinan dan juga masa nifas sehingga ibu dianjurkan untuk menjaga kesehatan dengan baik

4. Hubungan Paritas dengan Kejadian Perdarahan Postpartum di RSUD Pringsewu Tahun 2011 Hasil penelitian dengan menggunakan uji chi square menghasilkan nilai p value = 0,000 < = 0,005 yang berarti ada hubungan antara paritas dengan kejadian perdarahan postprartum di RSUD Pringsewu Tahun 2011. Hasil analisis juga menemukan OR = 4,25 yang berarti ibu dengan multipara berpeluang 4 kali lebih tinggi mengalami perdarahan postpartum dibandingkan dengan ibu dengan primipara. Hasil ini sejalan dengan teori menurut (Saifuddin, 2002). bahwa atonia uteri dapat menyebabkan perdarahan hebat dan dapat mengarah pada terjadinya syok hipovolemik. Sedangkan penyebab dari atonia uteri salah satu diantaranya yaitu paritas. Hasil ini juga sejalan dengan penelitian Prahardina, Vira (2009) yang menghasikan nilai p value = 0,035 < = 0,005 yang berarti terdapat hubungan yang sangat bermakna antara perdarahan postpartum dengan paritas, dengan nilai OR = 1,590 hal ini berarti multipara memiliki faktor resiko 1,590 kali lebih besar untuk terkena perdarahan postpartum dibanding primipara. Sehingga semakin tinggi paritas semakin besar resiko terjadinya perdarahan postpartum.

43

Menurut peneliti resiko perdarahan postpartum sangat dimungkinkan terjadi pada paritas multipara disebabkan oleh penurunan fungsi organ reproduksi. Hal ini bisa disebabkan oleh jarak memberikan perhatian dan bimbingan dari petugas kesehatan, dan sebaiknya dianjurkan pada ibu dengan paritas multipara dapat mengatur jumlah anak melalui program Keluarga Berencana.

5. Hubungan Umur dengan Kejadian Perdarahan Postpartum di RSUD Pringsewu Tahun 2011 Hasil penelitian dengan menggunakan uji chi square diperoleh p value = 0,000 < = 0,05 yang berarti ada hubungan yang sangat bermakna antara umur dengan kejadian perdarahan postpartum di RSUD Pringsewu Tahun 2011. Hasil analisis juga menemukan OR = 5,65 yang berarti ibu dengan usia resti berpeluang 5 kali lebih tinggi mengalami perdarahan postpartum dibandingkan dengan ibu dengan usia yang tidak resti. Hasil penelitian ini sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa pada usia kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun penyakit kehamilan lebih tinggi. Pada kehamilan tua kondisi ibu dan keelastisan otot-otot semakin berkurang (Manuaba, 2001). Hasil penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Cahyani (2007) dengan menggunakan teknik hitung uji chi square yang menghasilkan nilai X2hitung = 5,768 > X2tabel = 5,768 yang berarti ada hubungan antara usia dengan perdarahan postpartum di RSUD DR. H. Aloe Asaboe Gorontalo 2007.

44

Menurut peneliti wanita yang melahirkan anak pada usia dibawah 20 tahun atau lebih dari 35 tahun merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan pasca persalinan yang dapat mengakibatkan kematian maternal. Hal ini dikarenakan pada usia dibawah 20 tahun fungsi reproduksi seorang wanita belum berkembang dengan sempurna, sedangkan pada usia diatas 35 tahun fungsi reporduksi seorang wanita sudah mengalami penurunan dibandingkan fungsi reproduksi normal sehingga kemungkinan untuk terjadinya komplikasi pascapersalinan terutama perdarahan akan lebih besar. Perdarahan pasca persalinan yang mengakibatkan kematian maternalpada wanita hamil yang melahirkan pada usia di bawah 20 tahun dan di atas 35 tahun 2-6 kali lebih tinggi daripada perdarahan pascapersalinan yang terjadi pada usia 20-35 tahun. Kasus keguguran atau komplikasi kehamilan jauh lebih tinggi pada ibu di atas usia 35 tahun. Hal ini terjadi karena proses penuaan pada tubuh sang calon ibu membuat pertumbuhan janin terhambat, timbulnya penyakit kencing manis, darah tinggi, serta meningkatnya risiko sakit atau kematian si calon ibu saat persalinan. Pengawasan dan petugas kesehatan dan sangat dianjurkan pada kelompok umur ini dapat memanfaatkan pelayanan antenatal care yang memenuhi standar semasa ibu hamil. Kunjungan pemeriksaan kehamilan selain untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan janin, juga sangat penting dalam mendeteksi adanya gangguan yang dapat

45

menghambat atau mengancam kesehatan ibu dan janin sehingga dapat dilakukan upaya pencegahan terhadap kejadian perdarahan postpartum.

46

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan penelitian yang berjudul Hubungan Paritas dan Umur Ibu dengan Kejadian Perdarahan Postpartum di RSUD Pringsewu Tahun 2012, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: a. Distribusi frekuensi kejadian perdarahan postpartum di RSUD Pringsewu tahun 2012 yaitu 68 responden (31,2%) dan ibu tidak mengalami perdarahan postpartum 150 (68,8%). b. Distribusi frekuensi ibu bersalin dengan paritas multipara di RSUD Pringsewu tahun 2012 yaitu 150 responden (68.8%) dan ibu dengan paritas primipara 68 responden (31,2%). c. Distribusi frekuensi ibu bersalin dengan umur yang beresiko tinggi dalam persalinan di RSUD Pringsewu tahun 2012 yaitu 152 responden (69,7%) dan ibu dengan umur tidak beresiko tinggi 66 responden (30,3%). d. Ada hubungan yang bermakna antara paritas dengan kejadian perdarahan postpartum di RSUD Pringsewu tahun 2012 yang ditunjukkan dengan nilai p value = 0,000 e. Ada hubungan yang sangat bermakna antara umur dengan kejadian perdarahan postpartum di RSUD Pringsewu tahun 2012 yang ditunjukkan dengan nilai p value = 0,000.

46

47

B. Saran Berdasarkan hasil dan analisis data dalam penelitian ini maka saran yang dapat diberikan adalah: a. Bagi Ibu Hamil dan Bersalin Diharapkan menjaga kondisi kesehatannya dengan baik dan

dianjurkan melakukan antenatal care sesuai standar, dan memperhatikan umur ibu dalam merencanakan kehamilan karena kehamilan pada usia resti lebih banyak kemungkinan untuk mendapatkan gangguan dan penyulit selama selama masa hamil, bersalin, dan nifas sehingga dianjurkan mengikuti program Keluarga Berencana.

b. Bagi Petugas Kesehatan Bagi petugas kesehatan khususnya pihak RSUD Pringsewu dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan kepada ibu bersalin agar memperhatikan usia dan paritas ibu bersalin dalam melakukan penanganan terhadap persalinan dengan lebih memperhatikan kepada ibu yang berumur resti atau multipara karena mempunyai resiko lebih tinggi untuk mengalami gangguan dan penyulit pada saat proses persalinan dan postpartum.

c. Bagi Institusi Pendidikan Agar meningkatkan kualitas dalam kegiatan pembelajaran mengenai dunia keperawatan agar wawasan, pengetahuan, dan keterampilam mahasiswa keperawatan bertambah dan menjadi bekal bagi kinerja

48

perawat yang berkualitas di masa mendatang. serta hasil penelitian ini dapat memberikan masukan bagi peneliti selanjutnya dengan desain dan variabel yang berbeda.

49

DAFTAR PUSTAKA
Admin 2009. http: www,anggrekidea. blogspot. com,obsetri fisiologi dan patologi Angsar. M. D. 1999. Perlukaan Alat Genetalia dalam Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Arikunto. 2004. Proedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta Bobak. dkk. 2004. Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC Cahyani, Hubungan antara perdarahan postpartum di RSUD DR. H. Aloe Asaboe Gorontalo Tahun 2007. Skripsi, POLTEKES Gorontalo. 2007. Chaniago, Arman Y.S. 2002. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Cetakan V. Bandung : CV Pustaka Setia. Departemen Kesehatan RI. 2001. Perpustakaan Departemen Kesehatan. Tersedia http://www.Litbang.Depkes.go.id Dinkes Kabupaten Tanggamus. 2009. Profil Kesehatan Kabupaten Tanggamus Tahun 2008. Kuningan: Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan Herawati, 2007. Kematian Ibu Menurut WHO. Imp w ww .bascomword.co.id. Diakses tanggal 10 januari Kumala. 1999. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Jakarta : EGC Manuaba. 2001. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC Maryunani. A. 2009. Asuhan Pada Masa Ibu Nifas. Jakarta: Trans infomedia Mochtar. R. 2002. Sinopsis Obstetri: Obsietri Fsiologi dan Patologi. Jakarta, PT Rineka Cipta Notoatmodjo, S. 2003. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipla Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta: Salemba Prahardina, Vira, Hubungan antara Perdarahan Postpartum dengan Paritas di RSUD Sukoharjo. Skripsi, Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2009

50

Prawirohardjo. S., 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal & Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan, Jakarta : Yayasan Bina Pustaka RSUD Pringsewu. 2009-2010. Data Obstetri RSUD Majalengka Tahun 20092010. Pringsewu: RSUD Pringsewu Saifuddin. A.B. 2002. Perdarahan Setelah Bayi Lahir dalam Buku Action Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Saleha, S. 2008. Asuhan Kebidanan Masa Nifas, Penerbit salemba medika Sugiono, 2004. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitalif dan R & D. Bandung: Alfabet Untoro, 2008. KB Turunkan Angka Kematian Ibu. http.Koran.Detail.Spt Jakarta: EGC http://wikimedya.blogspot.com, diakses pada tanggal 07 Februari 2012 http://grandemultipara.com, diakses pada tanggal 07 Februari 2012 http ://id.wikipedia.org, diakses pada tanggal 07 Februari 2012 http://dokterblog.wordpress.com, diakses pada tanggal 07 Februari 2012 http://www.bidankita.com, diakses pada tanggal 07 Februari 2012 http://painlesslabor.wordpress.com, diakses pada tanggal 07 Februari 2012 http ://kuliahbidan. wordpress.com, diakses pada tanggal 07 Februari 2012

51

LAMPIRAN