Anda di halaman 1dari 14

Uji Efektifitas Ekstrak Rumput Teki (Cyperus rotundus) sebagai Permen Obat Alternatif Pereda Nyeri Sariawan (Rizal

Koen A.*, Roksun N., Fintha F. F. Rasullah, Talitha Rahma N., dan Laily Hanifa) *Mahasiswa Jurusan Biologi FMIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Kampus ITS Sukolilo Surabaya Jawa Timur ABSTRAK Masyarakat di Indonesia khususnya masyarakat di daerah Kulon Progo Jogjakarta dan Jemur Sari Surabaya, telah menggunakan jamu rebusan rimpang rumput teki sebagai pereda nyeri sariawan. Penggunaan jamu ini belum teruji ilmiah secara eksperimental. Sehingga perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui hasil pengujian efektifitas ekstrak rumput teki sebagai obat alternatif pereda nyeri sariawan secara in-vitro. Serta mengetahui teknik pembuatan permen ekstrak rumput teki. Hasil uji efektifitas ekstrak rumput teki yang terbaik diperoleh pada ekstrak bagian rimpang rumput teki dengan konsentrasi berkisar antara 90% hingga 100% dengan hasil uji farmakologi yang tidak menyebabkan kelainan pada organ dalam mencit (Mus musculus). Dibuktikan pula melalui studi literatur bahwa ekstrak rumput teki tidak menyebabkan toksisitas dan kematian. Pembuatan permen ekstrak rumput teki dapat digunakan bagian rimpang rumput teki dikarenakan kandungan antibiotik yang lebih tinggi dibandingkan bagian yang lain sehingga lebih efektif apabila diolah sebagai permen obat alternatif pereda nyeri sariawan. Dosis yang paling efektif sebagai permen obat alternatif pereda nyeri sariawan adalah dosis C (9 gram/butir) dikarenakan menunjukkan nilai 2,45 (Ho ditolak). Kata kunci : efektifitas, rumput teki (Cyperus rotundus), sariawan, dan permen. ABSTRACT Communities in Indonesia, especially people in the region Kulon Progo Jogjakarta and Jemur Sari Surabaya, has been using herbal decoction of nut-grass tubers as a pain reliever sprue. The use of these herbs have not been scientifically tested experimentally. So need to do research to find out the results of testing the effectiveness of nut-grass extract as an alternative medicine pain relief sprue in vitro. And to know the technique of making candy nut-grass extract. Effectiveness test results are the best nut-grass extract obtained in the tubers of nut-grass extract with concentrations ranging between 90% to 100% with the results of pharmacological tests which did not cause abnormalities in the organs in mice (Mus musculus). Also demonstrated through the study of literature that nut-grass extracts did not cause toxicity and death. Making candy can be used nut-grass extract the nut-grass tubers due to higher antibiotic content than the others so it is more effective when treated as a candy alternative medicine pain of canker sores. The most effective dose as a candy alternative medicine is a dose of pain reliever sprue C (9 g / grain) because of demonstrating the value 2.45 (Ho is rejected). Keyword : effectivity, Cyperus rotundus, stomatitis, and candy.

PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara kepulauan yang dilalui dengan garis katulistiwa sehingga memiliki iklim tropis. Kondisi iklim ini mendukung keanekaragaman spesies hewan dan tumbuhan. Tumbuhan di alam menduduki peranan terpenting dalam kehidupan hewan maupun manusia. Contohnya hampir semua tumbuhan dapat dimanfaatkan sebagai obat. Diantara sekian banyak tumbuhan ada beberapa spesies yang dapat digunakan sebagai bahan obat tradisional. Pada bagian tumbuhan seperti akar, batang, daun, dan biji memiliki senyawa kimia yang berbeda. Senyawa kimia inilah yang dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional (Gunawan, 1998). Kini penggunaan dan permintaan terhadap tumbuhan obat tradisional semakin bertambah sehingga, penelitian kearah obat tradisional semakin meningkat. Hal ini disebabkan karena efek samping obat tradisional yang lebih kecil dari pada obat modern (Sastromidjoyo, 1997). Tumbuhan obat merupakan jenis tumbuhan yang dipercaya masyarakat mempunyai khasiat dan telah digunakan sebagai bahan baku obat tradisional. Obat tradisional digunakan untuk berbagai macam tujuan seperti, menjaga kesegaran dan kesehatan tubuh secara keseluruhan, menyembuhkan penyakit tertentu, mengatur kehamilan dan kosmetik (Liu, 1999 dalam Asih, 2009). Perkembangan pemanfaatan bahan alam sebagai obat tradisional dengan penggunaan yang lebih baik, diperlukan suatu penelitian lebih mendalam tentang kandungan kimia bahan alam tersebut dan pembuktian khasiatnya secara klinis. Agar penggunaan obat tradisional tidak hanya 2

berdasarkan pengalaman saja, tetapi dapat dipertanggung jawabkan manfaat dan keamanannya yang didukung oleh data ilmiah (Tambong, 1997 dalam Ahmad, 2004). Salah satu dari sekian banyak tumbuhan obat yang digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional adalah rumput teki (Cyperus rotundus) yang tergolong famili Cyperaceae (Sunardi, 1996). Seluruh bagian dari rumput teki (Cyperus rotundus) pada dasarnya bisa dijadikan sebagai obat. Baik pada daun, batang, maupun pada rimpang. Rimpang rumput teki (Cyperus rotundus) mengandung alkaloid, sineol, pinen, siperon, rotunol, siperenon, tanin, siperol, serta flavonoid. Senyawa-senyawa tersebut pada umumnya berfungsi sebagai anti bakteri, anti tumor, anti kanker, dan anti alergi. Beberapa diantaranya dapat merusak membran sel bakteri dan mengerutkan dinding/membran sel bakteri. Sehinga dapat menggangu permeabilitas sel bakteri, hingga pertumbuhan bakteri akan terhambat atau mati (Apriel, 2010). Sariawan merupakan bahasa awam untuk berbagai macam lesi/benjolan yang timbul di rongga mulut. Namun biasanya jenis sariawan yang sering timbul seharihari pada rongga mulut kita disebut (dalam istilah kedokteran gigi) Stomatitis Aftosa Rekuren. Gejalanya berupa rasa sakit atau rasa terbakar satu sampai dua hari yang kemudian bisa timbul luka (ulser) di rongga mulut. Rasa sakit dan rasa panas pada sariawan ini membuat kita susah makan dan minum. Sehingga kadang pasien dengan sariawan datang ke dokter gigi dalam keadaan lemas. Sariawan sering menyerang siapa saja. Tidak mengenal umur maupun jenis kelamin. Sariawan bisa terjadi karena kebiasaan merokok, kekurangan nutrisi berupa vitamin dan

mineral, bahkan karena bakteri dan fungi (Qimindra, 2008). Biasanya daerah yang paling sering timbul Sariawan ini adalah di mukosa pipi bagian dalam, bibir bagian dalam, lidah serta di langit-langit (Anonim, 2008). Masyarakat di Indonesia khususnya masyarakat di daerah Kulon Progo Jogjakarta dan Jemur Sari Surabaya, telah menggunakan jamu cem-ceman (rebusan) rimpang rumput teki sebagai pereda nyeri sariawan. Penggunaan jamu ini belum teruji ilmiah secara eksperimental. Sehingga kami ingin mengangkat topik ini apakah dalam rumput teki (Cyperus rotundus) terdapat senyawa kimia yang berpotensi untuk pereda nyeri (analgesik) sariawan atau tidak, serta menguji seberapa besar efektifitas dari senyawa kimia tersebut yang berpotensi meredakan nyeri sariawan dan memberikan suatu inovasi terbaru dalam pengemasan hasil eksperimental yang lebih praktis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil pengujian efektifitas ekstrak rumput teki sebagai obat alternatif pereda nyeri sariawan secara invitro. Serta mengetahui teknik pembuatan permen ekstrak rumput teki. METODOLOGI Alat dan bahan Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tabung reaksi beserta rak tabung reaksi, pipet tetes dan mikro pipet, kertas saring, cawan petri dan penutupnya, jarum ose, bunsen, korek api, kompor listrik, magnetic strirer, Erlenmeyer, gelas beaker, gelas ukur, penjepit, pengaduk/spatula, pisau, blender, hand tally counter, toples kaca, penggaris, timbangan analitik, panci, wajan, spatula kayu besar, papan bedah, set peralatan bedah, cutton bud, jarum pentul, jarum 3

spet tumpul, loyan, plastik, kertas label, kantung plastic, kompor gas, kemasan permen, gunting, inkubator, autoklaf, timbangan digital, timbangan tepung dan sentrifuge. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rumput teki (Cyperus rotundus), aquades, tepung ketan, tepung maizena, garam, mentega, gula, asam sitrat, natrium benzoate, kalium sorbet, tepung ketan, media Sabouraud Dextrose Agar padat dan cair, media Tryptic Soy Agar padat dan cair, mencit (Mus musculus), probandus sariawan, isolate Streptococus viridans, isolate Candida albicans, alkohol 70%, NaCl 0,9%, tissue, kapas, ethanol 96%, kloramfenikol, dan kloroform. Persiapan bahan cuplikan rumput teki (Cyperus rotundus) Bahan cuplikan utama yang digunakan pada penelitian ini adalah berupa rumput teki (Cyperus rotundus). Rumput teki (Cyperus rotundus) diambil dari daerah Jemur Sari Surabaya. Cuplikan rumput teki (Cyperus rotundus) tersebut diambil kira-kira 5 kg sebagai persediaan pada pengujian selanjutnya. Kemudian dilakukan pemilahan antara batang dan rimpang dari rumput teki (Cyperus rotundus). Dilakukan pula penimbangan dari hasil pemilahan antara batang dan rimpang dari rumput teki (Cyperus rotundus) tiap 10 gram agar memudahkan dalam preparasi bahan cuplikan batang dan rimpang rumput teki (Cyperus rotundus) pada metode selanjutnya. Pembuatan ekstrak rumput teki (Cyperus rotundus) Diambil cuplikan batang dan rimpang rumput teki (Cyperus rotundus) masing-masing 500 gr. Dibersihkan dengan air mengalir hingga bersih.

Dipotong kecil-kecil dan dikeringkan pada suhu kamar selama 10 hari. Kemudian dimasukkan kedalam toples kaca bening dan direndam dengan etanol 96% dengan batas 3cm diatas batas permukaan cuplikan rumput teki. Selanjutnya diaduk dan ditutup rapat dengan tutup toples. Didiamkan selama 3x24 jam sambil dilakukan pengadukan setiap harinya. Dilakukan penyaringan untuk dipisahkan antara ampas dan filtratnya. Filtrat yang didapatkan dilakukan proses sentrifuge untuk diambil supernatannya agar selanjutnya dibuat larutan uji dengan berbagai konsentrasi yakni 100%, 90%, 80%, 70%, 60%, 50%, 40%, 30%, 20% dan 10% (masing-masing 10 ml). Pengambilan apusan patogen sariawan Probandus sariawan mengisi lembar persetujuan sebagai probandus yang setuju akan dilakukannya pengambilan apusan sariawan. Pengambilan apusan sariawan dilakukan dengan menggunakan cutton bud yang telah steril pada permukaan sariawan secara berulang-ulang sebanyak tiga kali dan diputar hingga merata diujung cutton bud. Apusan yang telah diambil dimasukkan kedalam NaCl 0,9%. Kemudian tabung NaCl 0,9% yang berisi hasil apusan sariawan dibawa ke laboratorium untuk dilakukan kultur patogen sariawan. Pengkulturan patogen sariawan Patogen sariawan yang berada dalam tabung dengan NaCl 0,9% diambil sebanyak 1 ml dan dimasukkan kedalam erlenmeyer berisi aquades steril sebanyak 99 ml. Dalam hal ini akan dilakukan pengkulturan dua jenis patogen sariawan yakni fungi dan bakteri. Pada kultur patogen sariawan berupa fungi dilakukan 4

pada media Sabouraud Dextrose Agar yang padat dengan metode tuang. Sedangkan pada kultur patogen sariawan berupa bakteri dilakukan pada media Tryptic Soy Agar yang padat dengan metode tuang. Pada kultur patogen sariawan berupa fungi dilakukan pengkulturan dengan faktor pengenceran 10-2, 10-3, 10-4, dan 10-5. Sedangkan pada kultur patogen sariawan berupa bakteri dilakukan pengkulturan dengan faktor pengenceran 10-4, 10-5, 10-6, dan 10-7. Selanjutnya diinkubasi pada suhu ruang selama 24 jam. Enumerasi patogen sariawan Setelah kultur patogen sariawan berumur 24 jam, maka dapat dilakukan enumerasi atau perhitungan jumlah koloni patogen yang terbentuk pada tiap cawan petri melalui metode Total Plate Count menggunakan menggunakan bantuan alat hitung berupa hand tally counter. Dicari nilai mikroorganisme yang mendekati 105 mikroorganisme per ml pada tiap jenis kultur patogen sariawan (fungi dan bakteri). Uji konsentrasi ekstrak rumput teki (Cyperus rotundus) sebagai antibiotik Dilakukan pengkulturan patogen sariawan (masing-masing 10 cawan petri) selama 24 jam berdasarkan empat isolat patogen sariawan yakni, bakteri dan fungi pada pengenceran yang sesuai mendekati nilai mikroorganisme 105 mikroorganisme per ml, isolat Streptococus viridans, serta isolat Candida albicans. Setelah 24 jam, diletakkan 2 kertas cakram dengan diameter 1 cm pada sisi yang berbeda dan agak berjauhan dan diteteskan ekstrak rumput teki berdasarkan konsentrasinya tepat diatas kertas cakram (1 sisi ekstrak batang dan sisi lainnya ekstrak rimpang)

pada tiap-tiap cawan petri dan diinkubasi selama 7 hari. Selanjutnya diukur zona bening disekitar kertas cakram pada tiaptiap cawan petri. Zona bening terluas adalah keberhasilan maksimal populasi mikroorganisme yang terhambat. Uji dilusi tabung ekstrak rumput teki (Cyperus rotundus) pada patogen sariawan. Sebanyak 10 tabung reaksi diisi dengan media kultur berwujud cair sesuai masing-masing suspensi patogen sebanyak 2 ml dan ditambahkan 0,5 ml suspensi patogen berdasarkan empat isolat patogen sariawan yakni, bakteri dan fungi pada pengenceran yang sesuai mendekati nilai mikroorganisme 105 mikroorganisme per ml, isolat Streptococus viridans, serta isolat Candida albicans. Masing-masing tabung reaksi diisi dengan larutan uji ekstrak rumput teki (baik ekstrak batang dan ekstrak rimpang) sesuai konsentrasi yakni, 100%, 90%, 80%, 70%, 60%, 50%, 40%, 30%, 20% dan 10% (masing-masing sebanyak 2,5 ml). Diinkubasi selama 24 jam pada suhu ruang. Dilakukan penyaringan dengan kertas saring yang telah ditimbang dan residu yang didapat dikeringkan dalam oven dengan suhu 105C. Selanjutnya kertas saring yang terdapat residu ditimbang. Selisih berat kertas saring awal dan akhir dinyatakan sebagai berat kering sel. Uji farmakologi Dilakukan pencekokan ekstrak rumput teki pada 10 ekor mencit (Mus musculus) sebagai hewan uji menggunakan spet dengan jarum tumpul selama 2 minggu (rutin tiap hari) dengan konsentrasi 100%, 90%, 80%, 70%, 60%, 50%, 40%, 30%, 20% dan 10% (masingmasing sebanyak 1 ml). Setelah 5

pencekokkan dilakukan hingga 2 minggu, dilakukanlah pembedahan terhadap seluruh mencit (Mus musculus) untuk selanjutnya diamati kelainan organ dalamnya. Uji toksikologi Hanya dilakukan melalui studi literatur. Sehingga ketika terdapat literatur yang menyatakan bahwa ekstrak rumput teki tidak menyebabkan toksisitas hingga kematian, maka ekstrak rumput teki (Cyperus rotundus) aman untuk dikonsumsi pada batasan tertentu. Uji efek dosis ekstrak rumput teki (Cyperus rotundus) secara invitro Teki dengan berat berbeda (3 gram, 6 gram, dan 9 gram), diekstrak menggunakan konsentrasi maksimal yang terbaik hasil dari uji farmakologi dan toksikologi. Ekstrak tersebut kemudian dicekokkan ke tiga hewan uji berupa mencit (Mus musculus) menggunakan spet dengan jarum tumpul (masing-masing sebanyak 1 ml) dan satu mencit sebagai kontrol. Pemberian ekstrak dengan dosis yang berbeda diberi jarak masing-masing 6 jam. Kemudian diamati efek yang terjadi pada mencit. Empat ekor mencit uji tersebut dipelihara selama satu minggu. Tiap hari mencit ditimbang menggunakan neraca analitik selama 6 hari. Kemudian pada hari ketujuh dilakukan pembedahan dan pengamatan morfologi pada organ dalam tubuh mencit. Perubahan morfologi menunjukkan pengaruh efek ekstrak pada mencit, dan indikasi bahwa uji organoleptik pada manusia (invivo) boleh atau tidak boleh dilaksanakan. Jika tidak ada perubahan berat badan secara signifikan maupun perubahan morfologi, maka uji organoleptik secara invivo pada manusia boleh dilaksanakan.

Uji Organoleptik Permen obat yang telah dibuat dan dikemas diujikan kepada 30 panelis penderita sariawan. Pengujian pertama dengan permen obat dosis terendah (3 gram/butir). Ditunggu 2 jam, kemudian dimati efek yang terjadi. Skala data yang dibutuhkan adalah skala data nominal dengan kemungkinan nyeri/tidak nyeri akibat menderita sariawan. Jika tidak nyeri, maka pengujian dihentikan dan jika masih nyeri, maka dilanjutkan pengujian dosis selanjutnya (6 gram/butir). Pengamatan dilakukan dengan cara yang sama dengan sebelumnya, dan dilanjutkan dosis yang selanjutnya (9 gram/butir). Uji hipotesis proporsi Dilakuakan uji hipotesis, dengan hipotesis awal: Permen obat maksimal dosis 9 gram ekstrak teki/butir, bisa meredakan nyeri sariawan paling tidak 75%. Setelah dilakukan uji organoleptik dan diketahui jumlah panelis yang tidak mengalami nyeri sariwan, peneliti menentukan tingkat signifikansi () yang berani ditanggung oleh peneliti. Kemudian dilakukan statistik uji dengan rumus: T= T a

n =jumlah sampel yang diuji (pengulangan) Po = ekspektasi sukses Qo = estimasi gagal Setelah uji statistik, ditentukan daerah penolakan dengan daerah kritis (critical region) nya:

Bila value yang ditunjukan di luar CR, maka Ho diterima dan H1 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian permen ekstrak rumput teki terbukti tidak efektif untuk mengurangi rasa nyeri pada sariawan. Sedangkan Bila value yang ditunjukan di dalam CR, maka Ho ditolak dan H1 diterima. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian permen ekstrak rumput teki terbukti efektif untuk mengurangi rasa nyeri pada sariawan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil enumerasi patogen sariawan Enumerasi dilakukan dengan metode Total Plate Count menggunakan menggunakan bantuan alat hitung berupa hand tally counter.

= Statistik uji = banyaknya sukses dalam sampel

Tabel 1. Data enumerasi pathogen sariawan dengan metode Total Plate Count

Mikroorganisme

Faktor Pengenceran 10-4 10-5

Jumlah Koloni 138 92 67 43

Mikroorganisme per ml 1380000 9200000 67000000 430000000

Bakteri

10-6 10-7

10-2 10-3 Fungi 10-4 10-5 Selanjutnya pencarian jumlah mikroorganisme dengan nilai yang paling mendekati 105 mikroorganisme per ml didapatkan pada bakteri adalah pada faktor pengenceran 10-4 dengan jumlah koloni sebanyak 138 sedangkan pada fungi adalah pada faktor pengenceran 10-3 dengan jumlah koloni sebanyak 88 (dapat dilihat pada Tabel 1.). Nilai mikroorganisme yang paling mendekati 105 mikroorganisme per ml merupakan jumlah mikroorganisme yang paling efektif untuk digunakan berbagai metode pengujian dikarenakan jumlah capaian mikroorganisme per ml tidaklah terlalu sedikit dan tidak pula terlalu banyak sehingga pengamatan pada metode selanjutnya dapat berjalan secara optimal. Uji konsentrasi ekstrak rumput teki (Cyperus rotundus) sebagai antibiotik Pada pengujian ini digunakan empat macam isolate patogen sariawan yakni: bakteri dan fungi pada pengenceran yang sesuai mendekati nilai 5 mikroorganisme 10 mikroorganisme per ml, isolat Streptococus viridans, serta isolat Candida albicans. Untuk bakteri dan fungi pada pengenceran yang sesuai mendekati nilai mikroorganisme 105 mikroorganisme per ml digunakan bakteri dengan pengenceran 10-4 sedangkan fungi yang digunakan dengan pengenceran 10-3. Isolat Streptococus viridans, serta isolat Candida albicans didapatkan dengan beli sebagai pembanding bakteri dan fungi 7

102 88 62 39

10200 88000 620000 3900000

yang telah dikultur secara langsung melalui probandus penderita sariawan.


2.5

diameter zona bening (cm)

2 1.5 1 0.5 0 Konsentrasi ekstrak batang rumput teki (%) bakteri pada pengenceran 10-4 fungi pada pengenceran 10-3 Streptococus viridans Candida albicans 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10

Gambar 1. Grafik hasil pengujian konsentrasi ekstrak batang rumput teki sebagai antibiotik dengan metode kertas cakram.

Dari sajian grafik hasil pengujian konsentrasi ekstrak batang rumput teki pada Gambar 1. terlihat bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak batang rumput teki yang diujikan maka semakin tinggi pula nilai diameter zona bening yang terbentuk. Hal ini berarti pada konsentrasi maksimal yaitu 100% menunjukkan hasil yang maksimal dalam menghambat pertumbuhan mikrobia dengan capaian nilai diameter zona bening antara 2 cm hingga 2,3 cm.

3 diameter zona bening (cm) 2.5 2 1.5 1 0.5 0 Konsentrasi ekstrak umbi rumput teki (%) bakteri pada pengenceran 10-4 fungi pada pengenceran 10-3 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10

Pada pengujian ini masih sama seperti halnya uji konsentrasi ekstrak rumput teki (Cyperus rotundus) sebagai antibiotik yaitu digunakan empat macam isolate patogen sariawan yakni: bakteri dan fungi pada pengenceran yang sesuai mendekati nilai mikroorganisme 105 mikroorganisme per ml digunakan bakteri dengan pengenceran 10-4 sedangkan fungi yang digunakan dengan pengenceran 10-3. Isolat Streptococus viridans, serta isolat Candida albicans didapatkan dengan beli sebagai pembanding bakteri dan fungi yang telah dikultur secara langsung melalui probandus penderita sariawan.
90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 100

Candida albicans Gambar 2. Grafik hasil pengujian konsentrasi ekstrak rimpang rumput teki sebagai antibiotik dengan metode kertas cakram.

Tidak jauh berbeda pada sajian grafik hasil pengujian konsentrasi ekstrak rimpang rumput teki pada Gambar 2. terlihat bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak batang rumput teki yang diujikan maka semakin tinggi pula nilai diameter zona bening yang terbentuk. Hal ini berarti pada konsentrasi maksimal yaitu 100% menunjukkan hasil yang maksimal pula dalam menghambat pertumbuhan mikrobia dengan capaian nilai diameter zona bening antara 2,3 cm hingga 2,6 cm. Indikasi capaian ini memperlihatkan bahwa hasil ekstrak rimpang rumput teki lebih efektif dalam sifat antibiotik dibandingkan dengan hasil ekstrak batang rumput teki. Uji dilusi tabung ekstrak rumput teki (Cyperus rotundus) pada patogen sariawan.

Berat kering mikroorganisme (10-4 gr)

Streptococus viridans

90

80

70

60

50

40

30

20

Konsentrasi ekstrak batang rumput teki (%) bakteri pada pengenceran 10-4 fungi pada pengenceran 10-3 Streptococus viridans Candida albicans

Gambar 3. Grafik hasil pengujian konsentrasi ekstrak batang rumput teki untuk mengetahui berat kering mikroorganisme melalui uji dilusi tabung.

Pada grafik hasil pengujian konsentrasi ekstrak batang rumput teki untuk mengetahui berat kering mikroorganisme melalui uji dilusi tabung pada Gambar 3. menjelaskan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak batang 8

10

rumput teki yang diberikan, maka berat kering yang dicapai mikroorganisme semakin rendah. Hal ini berarti bahwa konsentrasi maksimal yaitu 100% menunjukkan hasil yang maksimal pula dalam menghambat pertumbuhan mikrobia dengan capaian nilai berat kering mikroorganisme antara 2,9 hingga 4,0 dengan satuan 10-4 gram.
80 70 60 50 40 30 20 10 0 100

dalam menghambat pertumbuhan mikrobia dengan capaian nilai berat kering mikroorganisme antara 1,5 hingga 3,0 dengan satuan 10-4 gram. Indikasi capaian ini memperlihatkan bahwa hasil ekstrak rimpang rumput teki lebih efektif dalam sifat menekan pertumbuhan koloni mikrobia dibandingkan dengan hasil ekstrak batang rumput teki. Uji farmakologi pada mencit (Mus musculus) Setelah dilakukan pencekokan ekstrak rumput teki pada 10 ekor mencit (Mus musculus) sebagai hewan uji menggunakan spet dengan jarum tumpul selama 2 minggu (rutin tiap hari) dengan konsentrasi 100%, 90%, 80%, 70%, 60%, 50%, 40%, 30%, 20% dan 10% (masingmasing sebanyak 1 ml). Belum terlihat tanda-tanda kejanggalan perilaku mencit (Mus musculus) selama masa pemeliharaan hingga tiba saatnya dilakukan pembedahan. Setelah pencekokkan dilakukan hingga 2 minggu, pembedahan dilakukan terhadap seluruh mencit (Mus musculus) untuk diamati apakah terdapat kelainan organ dalam akibat pengkonsumsian ekstrak rumput teki yang rutin. Hasil pembedahan pada mencit (Mus musculus) yang dicekoki ekstrak rumput teki hingga konsentrasi 100% tidak menunjukkan adanya kelainan/kecacatan organ dalam yang signifikan baik organ dalam pada viscerum thorakalis yang terdiri atas jantung dan paru-paru, serta pada viscerum abdominis yang terdiri dari lambung, hati, pankreas, ginjal, usus halus, usus besar dan genitalia internal. Sehingga dalam hal ini konsentrasi 100% pada ekstrak rumput teki belum dapat dikategorikan dalam senyawa yang berbahaya bagi organ dalam tubuh. 9

Berat kering mikroorganisme (10-4 gr)

40

90

80

70

60

50

30

20

Konsentrasi ekstrak umbi rumput teki (%)

bakteri pada pengenceran 10-4 fungi pada pengenceran 10-3 Streptococus viridans Candida albicans Gambar 4. Grafik hasil pengujian konsentrasi ekstrak rimpang rumput teki untuk mengetahui berat kering mikroorganisme melalui uji dilusi tabung.

Selanjutnya pada grafik hasil pengujian konsentrasi ekstrak rimpang rumput teki untuk mengetahui berat kering mikroorganisme melalui uji dilusi tabung pada Gambar 4. menjelaskan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak batang rumput teki yang diberikan, maka berat kering yang dicapai mikroorganisme semakin rendah. Hal ini berarti bahwa konsentrasi maksimal yaitu 100% menunjukkan hasil yang maksimal pula

10

Berat (gram)

Uji toksikologi Pada uji toksikologi ini hanya dilakukan studi literatur. Telah didapatkan literatur jurnal dengan judul Efek Antidislipidemia dan Uji Keamanan Ekstrak Etanol Rimpang Rumput Teki (Cyperus rotundus) pada Tikus Jantan oleh Insanu, dkk. (2006), yang menjelaskan bahwa dengan parameter darah, kadar biokimia darah, berat organ, dan pengamatan mikroskopik organ mampu menerangkan bahwa ekstrak ethanol rimpang rumput teki pada penggunaan tunggal dosis 50 mg/kg bb sampai dengan 15 g/kg bb tidak menimbulkan kematian. Penggunaan berulang dosis 2 g/kg bb selama 8 minggu tidak menimbulkan toksisitas. Selama penggunaan ekstrak rumput teki dalam kadar yang tepat (dalam hal ini adalah sesuai dalam range pada literatur), maka tingkat toksisitas pada rumput teki dapat dihindari. Uji efek dosis permen ekstrak rumput teki secara In vitro Dikarenakan telah terbukti ekstrak rimpang rumput teki lebih efektif dibandingkan dengan ekstrak batang rumput teki maka metode selanjutnya akan digunakan ekstrak rimpang rumput teki. Pada percobaan ini digunakan tiga mencit uji untuk uji efek dosis dan satu mencit uji sebagai kontrol. Setelah pencekokakan tiga mencit dengan tiga dosis berbeda (3 gram, 6 gram, 9 gram) masing-masing berjarak 6 jam, mencit tidak menunjukkan gejala klinis akibat ekstrak yang diberikan ditunjukkan dengan tidak berubahnya geliat mencit. Tapi hal ini tidak cukup membuktikan bahwa pemberian ekstrak tidak berbahaya. Untuk itu dilakukan pemeliharaan mencit dan penimbangan 10

berat badannya selama enam hari berturutturut. Hasil penimbangan mencit selama enam hari berturut-turut dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Data berat mencit sesuai pemberian dosis ekstrak rimpang rumput teki Berat mencit 3 gram 23.21 gr 23.01 gr 23.44 gr 23.51 gr 22.89 gr 22.77 gr 6 gram 25.31 gr 25.22 gr 25.10 gr 25.02 gr 25.10 gr 24.88 gr 9 gram 28.77 gr 28.35 gr 28.29 gr 28.13 gr 27.60 gr 27.54 gr Kontrol 27.18 gr 27.26 gr 27.67 gr 28.06 gr 28.11 gr 27.89 gr

Hari Ke1 2 3 4 5 6

35 30 25 20 15 10 5 0 1 2 3 4 5 6 hari ke3 gram 9 gram 6 gram Kontrol

Gambar 5. Grafik berat mencit sesuai pemberian dosis ekstrak rimpang rumput teki.

Dari grafik berat mencit sesuai pemberian dosis ekstrak rimpang rumput teki pada Gambar 5. dapat dilihat bahwa tidak terjadinya perubahan yang sangat drastis terhadap berat mencit sebagai hewan uji. Hal ini mengindikasikan bahwa ekstrak rimpang rumput teki tidak menyebabkan fluktuasi berat badan secara

nyata pada seluruh dosis yang diujikan yakni 3 gram, 6 gram dan 9 gram. Setelah hari ketujuh dilakukan pengamatan morfologi organ dalam pada mencit dengan cara pembedahan. Didapatkan bahwa pada morfologi sistem pencernaan yang diwakili oleh usus dan sistem urogenital pada ketiga mencit sehat dan tidak mengalami efek cacat yang ditimbulkan dari pengujian ekstrak rumput teki. Hasil pembedahan terhadap pengujian dosis ekstrak rimpang rumput teki ini dapat dilihat pada Gambar 6.

Mencit I Dengan dosis 3 gram

usus genitalia

Mencit II Dengan dosis 6 gram genitalia Mencit III Dengan dosis 9 gram

usus

Uji organoleptik ini dilakukan pada 30 orang probandus penderita sariawan sebagai panelis. Dosis yang diberikan ada tiga yaitu 3gr/biji, 6 gr/biji, dan 9 gr/biji. Perlakuan awal dilakukan dengan pemberian dosis 3 gr/biji dan diamati perkembangannya selama dua jam dan diambil datanya (meredakan nyeri atau tidak). Apabila dalam selang waktu dua jam tersebut tidak mengalami peredaan nyeri maka dilakukan uji berikutnya dengan dosis 6gr/biji dan diamati perkembangannya selama dua jam selanjutnya. Jika masih belum ada perubahan dilanjutkan dengan dosis terakhir 9 gr/biji serta diamati perkembangan dan diambil data sembuh atau tidak. Diperoleh data dari uji organoleptic ini bahwa dari 30 panelis yang mengalami efek perubahan nyeri sebanyak 22 orang dan yang tidak mengalami efek perubahan nyeri sebanyak 8 orang. Dimana dari 22 orang yang tidak nyeri, sebanyak 4 orang tidak nyeri pada dosis 3 gr/biji, 9 orang tidak nyeri pada dosis 6 gr/biji, dan 9 orang tidak nyeri dengan dosis 9gr/biji. Uji Hipotesis Proporsi Setelah dilakukan uji organoleptik, langkah selanjutnya adalah uji hipotesis. Berikut hasil uji hipotesis dari ketiga dosis yang dilakukan: a. Dosis A (3 gram/butir) n = 30 P = 50%=0,5 x =4 Ho : P = Po H1 : P > Po = 5%, Z95% = 1,645 Uji Hipotesis: T =

usus genitalia

Mencit kontrol usus genitalia

Gambar 6. Hasil pembedahan mencit terhadap pengujian dosis ekstrak rimpang rumput teki

Uji Organoleptik 11

= -4,02

P = 50%=0,5 x = 22 Ho : P = Po H1 : P > Po = 5%, Z95% = 1,645 0 1,645 Uji Hipotesis: T =

-4,02

Uji hipotesis dosis A, menunjukkan value -4,02, yaitu berada di luar daerah penolakan yang berarti Ho diterima dan H1 ditolak. Dosis A tidak bisa menyembuhkan dismenhorea primer paling tidak 50% (Dosis A tidak efektif) b. Dosis B (6 gram/butir) n = 30 P = 50%=0,5 x = 13 Ho : P = Po H1 : P > Po = 5%, Z95% = 1,645 Uji Hipotesis: T =

= 2,54

1,645

2,54

= -0,73

Uji hipotesis dosis C, menunjukkan value 2,54, yaitu berada di dalam daerah penolakan yang berarti Ho ditolak dan H1 diterima. Dosis C bisa menyembuhkan dismenhorea primer paling tidak 50% (Dosis C efektif). Dari ketiga dosis yang diberikan, terbukti bahwa dosis yang paling efektif untuk pereda nyeri dismenhorea primer pada wanita usia reproduktif adalah dosis C (9 gram/butir). KESIMPULAN Hasil uji efektifitas ekstrak rumput teki yang terbaik diperoleh pada ekstrak bagian rimpang rumput teki dengan konsentrasi berkisar antara 90% hingga 100% dengan hasil uji farmakologi yang tidak menyebabkan kelainan pada organ dalam mencit (Mus musculus). Dibuktikan pula melalui studi literatur bahwa ekstrak rumput teki tidak menyebabkan toksisitas dan kematian. Pembuatan permen ekstrak rumput teki dapat digunakan bagian rimpang rumput teki dikarenakan kandungan antibiotik yang lebih tinggi 12

1,645 -0,73 0 Uji hipotesis dosis B, menunjukkan value -0,73, yaitu berada di luar daerah penolakan yang berarti Ho diterima dan H1 ditolak. Dosis B tidak bisa menyembuhkan dismenhorea primer paling tidak 50% (Dosis B tidak efektif) c. Dosis C (9 gram/butir) n = 30

dibandingkan bagian yang lain sehingga lebih efektif apabila diolah sebagai permen obat alternatif pereda nyeri sariawan. Dosis yang paling efektif sebagai permen obat alternatif pereda nyeri sariawan adalah dosis C (9 gram/butir) dikarenakan menunjukkan nilai 2,45 (Ho ditolak). DAFTAR PUSTAKA Ahmad, Nurjana Husain. 2004. Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Flavonoid pada Tumbuhan Kunir Putih dari Ekstrak Metanol Fraksi n-Heksan (Curcuma Zedoaria (Berg) Roscoe). Skripsi: UNG. Gorontalo. Anonim. 2008. Sariawan. Disadur dari www.kesehatangigi.com. Senin 2 April 2012 (20.00 WIB). Apriel. 2010. Manfaat Tanin & Senyawa Fenol. Disadur dari www.medicalera.com. Senin 2 April 2012 (20.30 WIB). Asih, Astiti I.A.R. 2009. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Isoflavon dari Kacang Kedelai (Glycine max). Disadur dari www.akademik.

unsri.ac.id. Selasa 3 April 2012 (15.00 WIB). Gunawan, Didik. 1998. Tumbuhan Obat Indonesia. PPOT UGM. Yogyakarta. Hartati, Sri. 2008; Uji antifiretik infusa herba teki (kyllinga brevifolia (Rottb). Hassk) pada kelinci putih jantan Galur Zealand. Fakultas Farmasi, Universitas Muhamadiyah Surakarta; Surakarta 9 (online). Disadur dari www.asiamaya.com. Selasa 3 April 2012 (15.00 WIB). Insanu, Muhamad, dkk. 2006. Efek Antidislipidemia dan Uji keamanan Ekstrak Etanol Rimpang Rumput Teki (Cyperus rotundus) pada Tikus Jantan. Tesis: Sekolah Farmasi ITB. Bandung. Qimindra, Fajar Rudi. 2008. Penyebab Sariawan dan Cara Pengobatannya. Disadur dari www.fajarqimi.com. Senin 2 April 2012 (19.00 WIB). Sastromidjoyo, Seno. 1997. Obat Asli Indonesia. Dian Rakyat. Jakarta. Sudarnadi, Ir Hartono. 1996. Tumbuhan Monokotil. Swadaya. Jakarta.

13

Lampiran data diameter zona bening (cm)


Konsentrasi ekstrak rumput teki (%) Isolat 100 bakteri pada pengenceran 10-4 fungi pada pengenceran 10 Streptococus viridans Candida albicans
-3

batang 90 2.0 2.1 1.9 2.0 80 2.0 2.1 1.8 1.9 70 1.7 1.8 1.5 1.9 60 1.6 1.6 1.3 1.6 50 1.4 1.3 1.2 1.4 40 1.2 1.1 0.9 1.2 30 0.9 0.9 0.6 1.1 20 0.5 0.7 0.5 0.8 10 0.3 0.5 0.3 0.5 100 2.3 2.5 2.3 2.6 90 2.2 2.3 2.2 2.5 80 1.9 2.1 1.8 2.2 70 1.8 1.8 1.8 2.1

rimpang 60 1.6 1.7 1.5 1.8 50 1.5 1.4 1.2 1.6 40 1.2 1.2 1.0 1.4 30 1.1 0.9 0.8 1.1 20 0.7 0.8 0.7 0.8 10 0.5 0.6 0.6 0.6

2.1 2.3 2.0 2.2

Lampiran data berat kering mikroorganisme (10-4 gr)


Konsentrasi ekstrak rumput teki (%) Isolat 100 bakteri pada pengenceran 10-4 fungi pada pengenceran 10 Streptococus viridans Candida albicans
-3

batang 90 39 30 42 37 80 46 34 47 38 70 46 35 53 40 60 48 37 56 42 50 49 44 58 44 40 54 49 66 48 30 68 52 70 51 20 61 57 75 52 10 68 59 81 55 100 20 15 31 17 90 22 19 36 20 80 28 23 39 24 70 32 29 44 28

rimpang 60 38 33 47 31 50 45 38 53 36 40 62 43 58 42 30 65 46 60 47 20 69 52 67 49 10 70 55 75 54

35 28 40 33

14