Anda di halaman 1dari 17

SISTEM POLITIK INDONESIA

DI SUSUN OLEH : Ayu Suci Handayani 11168 X AP 1

SMK NEGERI 4 MAKASSAR

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt atas terselesainya makalah ini, selawat dan salam tak lupa kami sanjungkan kepada Nabi.Muhammad Swa. Makalah ini kami susun dengan tujuan agar memudahkan kita dalam proses belajar mengajar, guna menambah wawasan bagi rerkan-rekan sehingga kita semua mampu untuk berfikir agar menjadi lebih maju. Terima kasih kepada Bapak selaku dosen pembimbing kami, terima kasih pula kepada rekanrekan yang telah berpartisipasi sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Akhir kata, tiada gading yang tak retak, demikian pula dengan makalah ini, masih jauh dari ke sempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang dapat membangun tetap kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.

Penulis Ayu suci handayani

BAB 1
SISTEM POLITIK INDONESIA A. Pengertian sistem Politik
1. Pengertian Sistem Sistem adalah suatu kebulatan atau keseluruhan yang kompleks dan terorganisasi. 2. Pengertian Politik Politik berasal dari bahasa yunani yaitu polis yang artinya Negara kota. Istilah politik dalam ketatanegaraan berkaitan dengan tata cara pemerintahan, Politik biasanya menyangkut kegiatan partai politik, tentara dan organisasi kemasyarakatan. Dapat disimpulkan bahwa politik adalah interaksi antara pemerintah dan masyarakat dalam rangka proses pembuatan kebijakan dan keputusan yang mengikat tentang kebaikan bersama masyarakat yang tinggal dalam suatu wilayah tertentu. 3. Pengertian Sistem Politik Menurut Drs. Sukarno, sistem politik adalah sekumpulan pendapat, prinsip, yang membentuk satu kesatuan yang berhubungan satu sama lain untuk mengatur pemerintahan serta melaksanakan dan mempertahankan kekuasaan dengan cara mengatur individu atau kelompok individu satu sama lain atau dengan Negara dan hubungan Negara dengan Negara. 4. Pengertian Sistem Politik di Indonesia Sistem politik Indonesia diartikan sebagai kumpulan atau keseluruhan berbagai kegiatan dalam Negara Indonesia yang berkaitan dengan kepentingan umum termasuk proses penentuan tujuan, Politik adalah semua lembaga-lembaga negara yang tersebut di dalam konstitusi negara ( termasuk fungsi legislatif, eksekutif, dan yudikatif ). Dalam Penyusunan keputusan-keputusan kebijaksanaan diperlukan adanya kekuatan yang seimbang dan terjalinnya kerjasama yang baik antara suprastruktur dan infrastruktur politik sehingga memudahkan terwujudnya cita-cita dan tujuan-tujuan masyarakat/Negara. Dalam hal ini yang dimaksud suprastruktur politik adalah Lembaga-Lembaga Negara. Lembaga-lembaga tersebut di Indonesia diatur dalam UUD 1945 yakni MPR, DPR, DPD, Presiden dan Wakil Presiden,

B. Proses Politik Di Indonesia


Sejarah Sistem politik Indonesia dilihat dari proses politiknya bisa dilihat dari masa-masa berikut ini:

- Masa prakolonial - Masa kolonial (penjajahan) - Masa Demokrasi Liberal - Masa Demokrasi terpimpin - Masa Demokrasi Pancasila - Masa Reformasi Masing-masing masa tersebut kemudian dianalisis secara sistematis dari aspek : - Penyaluran tuntutan - Pemeliharaan nilai - Kapabilitas - Integrasi vertikal - Integrasi horizontal - Gaya politik - Kepemimpinan - Partisipasi massa - Keterlibatan militer - Aparat negara - Stabilitas Bila diuraikan kembali maka diperoleh analisis sebagai berikut : 1. Masa prakolonial (Kerajaan - Penyaluran tuntutan rendah dan terpenuhi - Pemeliharaan nilai disesuikan dengan penguasa - Kapabilitas SDA melimpah - Integrasi vertikal atas bawah - Integrasi horizontal nampak hanya sesama penguasa kerajaan - Gaya politik kerajaan - Kepemimpinan raja, pangeran dan keluarga kerajaan - Partisipasi massa sangat rendah - Keterlibatan militer sangat kuat karena berkaitan dengan perang - Aparat negara loyal kepada kerajaan dan raja yang memerintah - Stabilitas stabil dimasa aman dan instabil dimasa perang 2. Masa kolonial (penjajahan) - Penyaluran tuntutan rendah dan tidak terpenuhi - Pemeliharaan nilai sering terjadi pelanggaran ham - Kapabilitas melimpah tapi dikeruk bagi kepentingan penjajah - Integrasi vertikal atas bawah tidak harmonis - Integrasi horizontal harmonis dengan sesama penjajah atau elit pribumi - Gaya politik penjajahan, politik belah bambu (memecah belah) - Kepemimpinan dari penjajah dan elit pribumi yang diperalat - Partisipasi massa sangat rendah bahkan tidak ada - Keterlibatan militer sangat besar - Aparat negara loyal kepada penjajah

- Stabilitas stabil tapi dalam kondisi mudah pecah

3. Masa Demokrasi Liberal - Penyaluran tuntutan tinggi tapi sistem belum memadani - Pemeliharaan nilai penghargaan HAM tinggi - Kapabilitas baru sebagian yang dipergunakan, kebanyakan masih potensial - Integrasi vertikal dua arah, atas bawah dan bawah atas - Integrasi horizontal- disintegrasi, muncul solidarity makers dan administrator - Gaya politik ideologis - Kepemimpinan angkatan sumpah pemuda tahun 1928 - Partisipasi massa sangat tinggi, bahkan muncul kudeta - Keterlibatan militer militer dikuasai oleh sipil - Aparat negara loyak kepada kepentingan kelompok atau partai - Stabilitas - instabilitas 4. Masa Demokrasi terpimpin - Penyaluran tuntutan tinggi tapi tidak tersalurkan karena adanya Front nas - Pemeliharaan nilai Penghormatan HAM rendah - Kapabilitas abstrak, distributif dan simbolik, ekonomi tidak maju - Integrasi vertikal atas bawah - Integrasi horizontal berperan solidarity makers, - Gaya politik ideolog, nasakom - Kepemimpinan tokoh kharismatik dan paternalistik - Partisipasi massa dibatasi - Keterlibatan militer militer masuk ke pemerintahan - Aparat negara loyal kepada negara - Stabilitas - stabil 5. Masa Demokrasi Pancasila - Penyaluran tuntutan awalnya seimbang kemudian tidak terpenuhi karena fusi - Pemeliharaan nilai terjadi Pelanggaran HAM tapi ada pengakuan HAM - Kapabilitas sistem terbuka - Integrasi vertikal atas bawah - Integrasi horizontal nampak - Gaya politik intelek, pragmatik, konsep pembangunan - Kepemimpinan teknokrat dan ABRI - Partisipasi massa awalnya bebas terbatas, kemudian lebih banyak dibatasi - Keterlibatan militer merajalela dengan konsep dwifungsi ABRI - Aparat negara loyal kepada pemerintah (Golkar) - Stabilitas stabil 6. Masa Reformasi - Penyaluran tuntutan tinggi dan terpenuh -Pemeliharaan nilai Penghormatan HAM tinggi - Kapabilitas disesuaikan dengan Otonomi daerah

- Integrasi vertikal dua arah, atas bawah dan bawah atas - Integrasi horizontal nampak, muncul kebebasan (euforia) - Gaya politik pragmatik - Kepemimpinan sipil, purnawiranan, politisi - Partisipasi massa tinggi - Keterlibatan militer dibatasi - Aparat negara harus loyal kepada negara bukan pemerintah - Stabilitas instabil

C. Sejarah Sistem Politik di Indonesia


Sejarah Sistem Politik Indonesia bisa dilihat dari proses politik yang terjadi di dalamnya. Namun dalam menguraikannya tidak cukup sekedar melihat sejarah Bangsa Indonesia tapi diperlukan analisis sistem agar lebih efektif. Dalam proses politik biasanya di dalamnya terdapat interaksi fungsional yaitu proses aliran yang berputar menjaga eksistensinya. Sistem politik merupakan sistem yang terbuka, karena sistem ini dikelilingi oleh lingkungan yang memiliki tantangan dan tekanan. Dalam melakukan analisis sistem bisa dengan pendekatan satu segi pandangan saja seperti dari sistem kepartaian, tetapi juga tidak bisa dilihat dari pendekatan tradisional dengan melakukan proyeksi sejarah yang hanya berupa pemotretan sekilas. Pendekatan yang harus dilakukan dengan pendekatan integratif yaitu pendekatan sistem, pelaku-saranan-tujuan dan pengambilan keputusan Kapabilitas sistem adalah kemampuan sistem untuk menghadapi kenyataan dan tantangan. Pandangan mengenai keberhasilan dalam menghadapi tantangan ini berbeda diantara para pakar politik. Ahli politik zaman klasik seperti Aristoteles dan Plato dan diikuti oleh teoritisi liberal abad ke-18 dan 19 melihat prestasi politik diukur dari sudut moral. Sedangkan pada masa modern sekarang ahli politik melihatnya dari tingkat prestasi (performance level) yaitu seberapa besar pengaruh lingkungan dalam masyarakat, lingkungan luar masyarakat dan lingkungan internasional. Pengaruh ini akan memunculkan perubahan politik. Adapun pelaku perubahan politik bisa dari elit politik, atau dari kelompok infrastruktur politik dan dari lingkungan internasional. Perubahan ini besaran maupun isi aliran berupa input dan output. Proes mengkonversi input menjadi output dilakukan oleh penjaga gawang (gatekeeper). Terdapat 5 kapabilitas yang menjadi penilaian prestasi sebuah sistem politik : 1. Kapabilitas Ekstraktif, yaitu kemampuan Sumber daya alam dan sumber daya manusia. Kemampuan SDA biasanya masih bersifat potensial sampai kemudian digunakan secara maksimal oleh pemerintah. Seperti pengelolaan minyak tanah, pertambangan yang ketika datang para penanam modal domestik itu akan memberikan pemasukan bagi pemerintah berupa pajak. Pajak inilah yang kemudian menghidupkan negara. 2. Kapabilitas Distributif. SDA yang dimiliki oleh masyarakat dan negara diolah sedemikian rupa untuk dapat didistribusikan secara merata, misalkan seperti sembako yang diharuskan dapat

merata distribusinya keseluruh masyarakat. Demikian pula dengan pajak sebagai pemasukan negara itu harus kembali didistribusikan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. 3. Kapabilitas Regulatif (pengaturan). Dalam menyelenggaran pengawasan tingkah laku individu dan kelompok maka dibutuhkan adanya pengaturan. Regulasi individu sering memunculkan benturan pendapat. Seperti ketika pemerintah membutuhkan maka kemudian regulasi diperketat, hal ini mengakibatkan keterlibatan masyarakat terkekang. 4. Kapabilitas simbolik, artinya kemampuan pemerintah dalam berkreasi dan secara selektif membuat kebijakan yang akan diterima oleh rakyat. Semakin diterima kebijakan yang dibuat pemerintah maka semakin baik kapabilitas simbolik sistem. Kapabilitas responsif, dalam proses politik terdapat hubungan antara input dan output, output berupa kebijakan pemerintah sejauh mana dipengaruhi oleh masukan atau adanya partisipasi masyarakat sebagai inputnya akan menjadi ukuran kapabilitas responsif. kapabilitas dalam negeri dan internasional. Sebuah negara tidak bisa sendirian hidup dalam dunia yang mengglobal saat ini, bahkan sekarang banyak negara yang memiliki kapabilitas ekstraktif berupa perdagangan internasional. Minimal dalam kapabilitas internasional ini negara kaya atau berkuasa (superpower) memberikan hibah (grants) dan pinjaman (loan) kepada negara-negara berkembang.

5.

D. Perbedaan sistem politik di berbagai Negara


1. Sistem Politik Di Negara Komunis Bercirikan pemerintahan yang sentralistik, peniadaan hak milk pribadi, peniadaan hak-haak sipil dan politik, tidak adanya mekanisme pemilu yang terbuka, tidak adanya oposisi, serta terdapat pembatasan terhadap arus informasi dan kebebasan berpendapat 2. Sistem Politik Di Negara Liberal Bercirikan adanya kebebasan berpikir bagi tiap individu atau kelompok, pembatasan kekuasaan, khususnya dari pemerintah dan agama, penegakan hukum; pertukaran gagasan yang bebas, sistem pemerintahan yang transparan yang didalamnya terdapat jaminan hak-hak kaum minoritas. 3. Sistem Politik Demokrasi Di Indonesia Sistem politik yang didasarkan pada nilai, prinsip, prosedur, dan kelembagaan yang demokratis. Adapun sendi-sendi pokok dari sistem politik demokrasi di Indonesia adalah : 1. Ide kedaulatan rakyat 2. Negara berdasarkan atas hukum 3. Bentuk Republik 4. Pemerintahan berdasarkan konstitusi 5. Pemerintahan yang bertanggung jawab 6. Sistem Pemilihan langsung 7. Sistem pemerintahan presidensiil

1 Sistem Politik Indonesia PENDEKATAN DALAM ANALISIS SISTEM POLITIK Analisis Sistem Politik Menurut David Easton Pendekatan sistem politik pada mulanya terbentuk dengan mengacu pada pendekatan yang terdapat dalam ilmu eksakta. Adapun untuk membedakan sistem politik dengan sistem yang lain maka dapat dilihat dari definisi politik itu sendiri. Sebagai suatu sistem, sistem politik memiliki ciri-ciri tertentu. Perbedaan pendapat mulai muncul ketika harus menentukan batas antara sistem politik dengan sistem lain yangterdapat dalam lingkungan sistem politik. Namun demikian, batas akan dapat dilihat apabila kita dapat memahami tindakan politik sebagaisebuah tindakan yang ingin berkaitan dengan pembuatan keputusan yang menyangkut publik . Input, Output, dan Lingkungan dalam Sistem Politik Input dalam sistem politik dibedakan menjadi dua, yaitu tuntutan dan dukungan. Input yang berupa tuntutan muncul sebagaikonsekuensi dari kelangkaan atas berbagai sumber-sumber yang langka dalam masyarakat (kebutuhan). Input tidak akan sampai (masuk)secara baik dalam sistem politik jika tidak terorganisir secara baik. Oleh sebab itu komunikasi politik menjadi bagian penting dalam hal ini.Terdapat perbedaan tipe komunikasi politik di negara yang demokratis dengan negara yang nondemokratis. Tipe komunikas i politik ini pula yang nantinya akan membedakan besarnya peranan dari organisasi politik. Output merupakan keputusan otoritatif ( yang mengikat) dalam menjawab dan memenuhi input yang masuk. Output seringdimanfaatkan sebagai mekanisme dukungan dalam rangka memenuhi tuntutan-tuntutan yang muncul. Pendekatan Struktural Fungsional Gabriel Almond Pendekatan struktural fungsional merupakan alat analisis dalam mempelajari sistem politik, pada awalnya adalah pengembangan dari teoristruktural fungsional dalam sosiologi. Dalam pendekatan ini, sistem politik merupakan kumpulan dari peranan-peranan yang saling berinteraksi. Menurut Almond, sistem politik adalah sistem interaksi yang terdapat dalam semua masyarakat yang bebas dan merdeka yangmelaksanakan fungsi-fungsi integrasi dan

adaptasi (baik dalam masyarakat ataupun berhadap-hadapan dengan masyarakat lainnya). Semuasistem politik memiliki persamaan karena sifat universalitas dari struktur dan fungsi politik. Mengenai fungsi politik ini, Almondmembaginya dalam dua jenis, fungsi input dan output. Analisis Struktural Fungsional dalam Sistem Politik Menurut Gabriel Almond , dalam setiap sistem politik terdapat enam struktur atau lembaga politik, yaitu kelompok kepentingan, partai politik, badan legislatif, badan eksekutif, birokrasi, dan badan peradilan. Dengan melihat keenam struktur dalam setiap sistem politik,kita dapat membandingkan suatu sistem politik dengan sistem politik yang lain. Hanya saja, perbandingan keenam struktur tersebut tidak terlalu membantu kita apabila tidak disertai dengan penelusuran dan pemahaman yang lebih jauh dari bekerjanya sistem politik tersebut.Suatu analisis struktur menunjukkan jumlah partai politik, dewan yang terdapat dalam parlemen, sistem pemerintahan terpusat atau federal, bagaimana eksekutif, legislatif, dan yudikatif diorganisir dan secara formal dihubungkan satu dengan yang lain. Adapun analisis fungsionalmenunjukkan bagaimana lembaga-lembaga dan organisasi -organisasi tersebut berinteraksi untuk menghasilkan danmelaksanakan suatu kebijakan. SOSIALISASI, BUDAYA POLITIK DI INDONESIA, DAN EKONOMI POLITIK INDONESIA Sosialisasi Politik di Indonesia Dalam kegiatan belajar ini ada tiga hal yang dikemukakan. Pertama, mengenai pengertian sosialisasi politik. Kedua, mengenai prosessosialisasi politik di Indonesia, dan ketiga, mengenai agen-agen sosialisasi politik yang berperan dalam penyebaran nilai-nilai politik kedalam masyarakat.Pada bagian pertama dijelaskan mengenai proses sosialisasi secara umum, kemudian juga dibahas tahapan psikologi politik, dan jugatahapan sosialisasi politik. Setelah pembahasan sosialisasi politik di Indonesia juga dibahas mengenai agen-agen sosialisasi politik

Budaya Politik di Indonesia


Klasifikasi budaya politik oleh Gabriel A. Almond dan G. Bingham Powell, terdiri atas budaya politik parokial, budaya politik subjek/kaula, dan budaya politik partisipan. Sedangkan budaya politik menurut Austin Ranney dibedakan atas orientasi kognitif dan preferensi politik .Ada beberapa unsur yang berpengaruh atau melibatkan diri dalam proses pembentukan budaya politik nasional,yaitu sebagai berikut. 1. Unsur sub-budaya politik yang berbentuk budaya politik asal.2. Aneka rupa sub-budaya politik yang berasal dari luar lingkungan tempat budaya politik asal itu berada.3. Budaya politik nasional itu sendiri. Tahapan perkembangan budaya politik nasional menurut Sjamsuddin, antara lain sebagai berikut (Rahman, 1998:58). 1. Budaya politik nasional yang tengah berada dalam proses pembentukannya.2. Budaya politik nasional yang sedang mengalami proses pematangan. Dalam tahapan ini, pada dasarnya budaya politik nasional sudahada, tetapi masih belum matang.3. Budaya politik nasional yang sudah mapan, yaitu budaya politik yang telah diakui keberadaannya secara nasional.4. Ada dua sudut pandang untuk melihat budaya politik yang dikaitkan dengan struktur nasional, yaitu secara

vertikal maupun horizontal.Terakhir ada tiga kelompok yang mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap sistem politik Indonesia, yaitu kelompok agama,kelompok suku bangsa, dan kelompok ras. Ekonomi Politik Ilmu ekonomi politik mempelajari tentang hubungan timbal balik antara transaksi ekonomi dengan perilaku politik. Para ahli ekonomi politik melihat bahwa dalam hubungan antara negara dan pasar terdapat struktur atau anatomi, nilai-nilai, kebutuhan, dan kepentingan yang bervariasi, yang pada gilirannya dapat menimbulkan interaksi yang beragam antara negara dengan pasar. Penjelasan singkat di atas padadasarnya memberikan gambaran bahwa pembagian sistem ekonomi ke dalam kapitalisme dan sosialisme merupakan penyederhanaanmasalah (simplifikasi). Dalam praktiknya, sejumlah negara tertentu sulit untuk dapat dimasukkan ke dalam kategori kapitalisme maupunsosialisme. Di sinilah letak pentingnya studi tentang ekonomi politik, untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh mengenai hubunganantara ekonomi dengan politik. Dinamika Ekonomi Politik di Indonesia Dinamika hubungan antara negara dengan pasar sejak Indonesia berdiri hingga era reformasi diwarnai oleh fluktuasi penguatan perannegara. Negara sempat memiliki pengaruh dominan di dalam sistem politik pada masa Demokrasi Terpimpin dan juga pada masa boomminyak semasa kepemimpinan Orde Baru. Di luar periode tersebut, pasar mampu mendorong negara membuat kebijakan yangmemungkinkan akumulasi kapital yang cenderung lebih banyak menguntungkan para pemilik modal (investor). Kekuatan pasar yang luar biasa dalam menghadapi negara dapat ditemukan dalam kasus krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 hingga1998. PARTISIPASI POLITIK DAN PEMILIHAN UMUM DI INDONESIA Partisipasi Politik Partisipasi politik oleh para sarjana di negara Barat sering hanya dipandang sebagai kegiatan yang dilakukan untuk memberikan input bagi pengambil kebijakan menuruti aturan main yang berlaku. Definisi yang demikian membuat partisipasi politik di negara-negara berkembangsulit dikategorikan sebagai bentuk partisipasi politik. Untuk mengatasi hal tersebut, Huntington mencoba mengatasi dengan mengatakan bahwa partisipasi yang tergolong negatif di mata para sarjana di negara-negara berkembang pada dasarnya termasuk pula bentuk partisipasi politik. Kecenderungan mobilisasi di masyarakat negara-negara berkembang menjadi ciri khas yang melekat karena karakteristiknya yangkhas selain tidak bekerjanya sistem politik secara baik untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat memberikan input tanpa takutdiintimidasi oleh pemerintah.

Perkembangan Partisipasi Politik di Indonesia


Partisipasi politik dipengaruhi oleh karakteristik masyarakat di suatu negara. Masyarakat Indonesia yang memiliki karakteristik, seperti pendidikan rendah, ekonomi kurang baik dan kurang memiliki akses informasi membuat pola partisipasinya cenderung

dimobilisasi.Karakteristik tersebut belum mendorong masyarakat untuk membangun suatu pola partisipasi yang mandiri. Sejak merdeka, elite-elite partai cenderung menggunakan cara-cara mobilisasi ataupun penetrasi ke masyarakat untuk mendukung partai politik tertentu. Demokrasi parlementer yang dinilai memiliki ruang publik dan kebebasan politik yang memadai juga ditandai dengan intervensi elite lokal maupun pusat untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat.

PARTAI POLITIK, KELOMPOK KEPENTINGAN, DAN KELOMPOK PENEKANAN DALAM SISTEMPOLITIK INDONESIA
Partai Politik, Kelompok Kepentingan, dan Kelompok Partai politik merupakan struktur atau lembaga yang menyalurkan dan mengartikulasikan berbagai kepentingan (tuntutan dan aspirasi) yang berasal dari lingkungan masyarakat Indonesia ke dalam sistem politik. Kepentingan dan aspirasi yang diajukan partai politik tersebutmerupakan energi bagi sistem politik untuk membuat pelbagai kebijaksanaan. Jika partai politik ikut dalam Pemilu untuk merebut ataumempertahankan kekuasaan terutama dalam kaitannya dengan kekuasaan legislatif maka lain halnya dengan kelompok kepentingan dankelompok penekan. Kedua aktor politik ini berada di luar sistem politik dan juga tidak bisa mengikuti pemilu. Walaupun demikian,kelompok ini tidak bisa dipandang remeh dalam mempengaruhi proses pembuatan undang-undang dan juga pembuatan kebijakan.2. Partai Politik, Kelompok Kepentingan, dan Kelompok Penekanan dalam Sistem Politik Indonesia Peranan partai politik di masa Demokrasi Pancasila tetap sama seperti pada masa Demokrasi Terpimpin. Partai politik hanya memiliki peranan yang kecil dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini misalnya dapat dilihat dari sedikitnya anggota partai politik dalamlembaga legislatif maupun lembaga eksekutif. Bahkan pada Kabinet Pembangunan III sudah tidak ada lagi menteri yang berasal dari partai politik. Militer dan birokrat merupakan kelompok yang mendominasi jabatan menteri.Faktor-faktor yang menyebabkan turunnya peranan partai politik pada masa Demokrasi Pancasila adalah pendekatan ekonomi yang dipiliholeh Rezim Soeharto, diberlakukannya beberapa peraturan yang menyangkut kehidupan kepartaian, menguatnya peranan Golkar, dan jugakonflik internal dalam tubuh partai politik. Sistem Politik Indonesia terdapat 5 kapabilitas yang menjadi penilaian prestasi sebuah sistem politik : 1. Kapabilitas Ekstraktif, yaitu kemampuan Sumber daya alam dan sumber daya manusia. Kemampuan SDA biasanya masihbersifat potensial sampai kemudian digunakan secara maksimal oleh pemerintah. Seperti pengelolaan minyak tanah,pertambangan yang ketika datang para penanam modal domestik itu akan memberikan pemasukan bagi pemerintah berupapajak. Pajak inilah yang kemudian menghidupkan negara. 2. Kapabilitas Distributif. SDA yang dimiliki oleh masyarakat dan negara diolah sedemikian rupa untuk dapat didistribusikansecara merata, misalkan seperti sembako yang diharuskan dapat merata distribusinya keseluruh masyarakat. Demikian puladengan pajak sebagai pemasukan negara itu harus kembali didistribusikan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah.

3. Kapabilitas Regulatif (pengaturan). Dalam menyelenggaran pengawasan tingkah laku individu dan kelompok makadibutuhkan adanya pengaturan. Regulasi individu sering memunculkan benturan pendapat. Seperti ketika pemerintahmembutuhkan maka kemudian regulasi diperketat, hal ini mengakibatkan keterlibatan masyarakat terkekang. 4. kapabilitas simbolik, artinya kemampuan pemerintah dalam berkreasi dan secara selektif membuat kebijakan yang akanditerima oleh rakyat. Semakin diterima kebijakan yang dibuat pemerintah maka semakin baik kapabilitas simbolik sistem. 5. kapabilitas responsif, dalam proses politik terdapat hubungan antara input dan output, output berupa kebijakan pemerintahsejauh mana dipengaruhi oleh masukan atau adanya partisipasi masyarakat sebagai inputnya akan menjadi ukuran kapabilitasresponsif. Pengertian Kapabilitas Sistem Politik : Adalah Kemapuan system politik dalam bidang ekstraktif, distributive, regulative,simbolik, responsive dan dalam negari dan internasional untuk mencapai tujuan nasional sebagai mana termaktub dalampembukaan UUD45 Definisi sistem politik Secara Umum : Ilmu yang mengakaji tentang hubungan kekuasaan , baik sesama warga negara , antar warga negara maupun hubungansesama negara STRUKTUR POLITIK Politik adalah Alokasi nilai-nilai yang bersifat otoritatif yang dipengaruhi oleh distribusi serta penggunaan kekuasaan.Kekuasaan berarti kapasitas dalam menggunakan wewenang, hak dan kekuatan fisik.Ketika berbicara struktur politik maka yang akan diperbincangkan adalah tentang mesin politik sebagai lembaga yang dipakaiuntuk mencapai tujuan. Berdasarkan jenisnya mesin politik terbagi dua yaitu: 1.Mesin politik Informal - Pengelompokan atas persamaan sosial ekonomi- Golongan petani merupakan kelompok mayoritas (silent majority)- Golongan buruh- Golongan Intelegensia merupakan kelompok vocal majority- Persamaan jenis tujuan seperti golongan agama, militer, usahawan, atau seniman- Kenyataan kehidupan politik rakyat seperti partai politik, tokoh politik, golongan kepentingan dan golongan penekan. 2.Mesin politik formal Mesin politik formal berupa lembaga yang resmi mengatur pemerintahan yaitu yang tergabung dalam trias politika :- Legislatif - Eksekutif - Yudikatif Sistem Politik Demokrasi di Indonesia adalah Bangsa Indonesia sejak dulu sudah mempraktikkan ide ten-tang demokrasi walau bukan tingkat kenegaraan, masih tingkatdesa. Disebut demokrasi desa.Contoh pelaksanaan demokrasi desa pemilihan kepala desa dan rembug desa. Inilah demokrasiasli.Demokrasi desa mempunyai 5 ciri.Rapat, mufakat, gotong royong, hak mengadakan protes bersama dan hak menyingkir dari kekuasaan raja absolutMempergunakan pendekatan kontekstual, demokrasi di Indonesia adalah demokrasi Pancasila. Demokrasi Pancasila ini oleh karena Pancasila sebagai ideology negara, pandangan hidup bangsa Indonesia, dasar negaraIndonesia dan sebagai identitas nasional Indonesia. Sebagai ideology nasional, Pancasila sebagai cita-cita ma-syarakat dansebagai pedoman membuat keputusan politik. Sebagai pemersatu masyarakat yang menjadi prosedur penyelesaian konflik.Nilai-nilai demokrasi yang terjabar dari nilai-nilai Pancasila sbb: 1. Kedaulatan rakyat 2. republik 3. Negara berdasar atas hukum 4. Pemerintahan yang konstitusional 5. Sistem perwakilan

6. Prinsip musyawarah 7. Prinsip ketuhanan Perbedaan Sistem Politik Indonesia dengan Sistem Politik di Indonesia: Sistem Politik Indonesia adalah sistem politik yang berlaku di indonesia, sedangkan Sistem Politik Indonesia adalah sistempolitik yang pernah dianut oleh Indonesia yang berdasarkan nilai budaya indonesia yang bersifat turun temurun dan juga bisadiadopsi dari nilai budaya asing yang positif bagi pembangunan sistem politik indonesia Menurut Almond, Sistem Politik adalah interaksi yang terjadi dalam masyarakat yang merdeka yang menjalankan fungsiintegrasi dan adaptasi. Menurut Rober A. Dahl, Sistem politik adalah pola yang tetap dari hubungan hubungan antara manusia yang melibatkansampai dengan tingkat tertentu, control, pengaruh, kekuasaan, ataupun wewenang. Sistem politik adalah mekanisme seperangkat fungsi atau peranan dalam struktur politik dalam hubungan satu sama lain yanhmenunjukan suatu proses yang langsung memandang dimensi waktu (melampaui masa kini dan masa yang akan datang). Lingkungan Internal sistem politik : -Linngkungan Fisik , Kondisi Geografis wilayah yang luas yang menentukan strategi politik dan meliter- dan sumber kekayaan alam ( hutan . laut ) Perbedaan Sistem Politik di berbagai Negara: 1.Sistem Politik di Negara Komunis : Bentuk pemerintahannya yang ssentralistik, peniadaan hak milik pribadi, peniagaanhak- hak sipil dan politik tidak adanya mekanisme politik yang terbuka, tidak adanya oposisi , serta terdapat pembatasanterhadap arus informasi dan kebebasan berpendapat . 2. Sistem Politik di Negara Liberal : Bercirikan kebebasan berfikir bagi tiap individu atau kelompok , pembatasankekuasaaan , khususnya dari pemerintahan dan agama, penegak hukum, petukaran gagasan yang bebas , sistempemerintahan yang transparan yang didalamnya terdapat jaminan hak-hak kaum minoritas. 3. Sistem Politik indonesia berdasarkan nilai- nilai kedaulatan rakyat, Negara berdasrkan hukum, bentuk republik,pemerintah berdasarkan konstitusi, yang bertanggung jawab,melakukan sistem pemilihan lansung dan dengan sistem pemerintahan yang presidentil. Pendekatan sistem politik menurut Almond dan Powell: Pendekatan Tradisional . sistem politik yang memandang lembaga pemerintahan , kekuasaan dan keyakinan politiksebagai dasar analisi sistem politik Pendekatan prilaku : pendekatan ini sangat dipengaruhi oleh sistem analisis perilaku. Dalam arti kata analisisnyalebih didasrakan pada pernyataan , sikap dan prilaku individu , organisasi dan lembaga pemerintah yang sedang berjalan . Pendekatan Pasca perilaku; pendekatan ini yang memiliki anggapan manusia makluk yang kreatif, pendekatan iniadalah kelakuan struktural fungsional dan analisa sistem dalam menekuni mencari ilmu pengetahuan yang emperis , kurangmemeprhatikan faktor- faktor lingkungan .

Peran serta masyarakat dalam politik adalah terciptanya masyarakat politik yang Kritis Partisipatif dengan ciri-ciri a. Meningkatnya respon masyarakat terhadapkebijakan pemerintahb. Adanya partisipasi rakyat dalam mendukung atau menolak suatu kebijakan politikc. Meningkatnya partisipasi rakyat dalam berbagai kehiatan organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan kelompok-kelompok penekan .

JENIS-JENIS KELOMPOK KEPENTINGAN MENURUT GABRIE L A. ALMOND


1.Kelompok Anomic , kelompok yang terbentuk antara unsure-unsur dalam masyarakat secara spotan dan hanya seketika,tdk memiliki nilai dan norma-morna yang mengatur, kelompok yang sering tumpang tindih dengan bentuk partisipasipolitik konvensional. 2. Kelompok Non Assosiasional, kelompok masyarakat awam dan tidak terorganisir dengan rapid an kegiatan bersifattemporer. 3. Kelompok Institusional, kelompok yang memiliki struktur visi, misi tugas, serta sebagai artikulasi kepentingan . 4. Kelompok Assosiasiona,kelompok ini terbentuk dari masyarakat dengan fungsi untuk mengartikulasi kepentingananggotanya kepada pemerintah atau pemerintah pemilik modal . SALURAN ARTIKULASI KEPENTINGAN 1.Demontrasi dan Tindakan kepentingan 2. Hubungan Pribadi 3. Perwakilan Lansung 4. Saluran Formal dan Institusional lainnya Tujuan Didirikan Lembaga Interest Group ( Kelompok Kepentingan ) 1.Untuk melindungi anggota dan kelompoknya dari adanya dominasi dan penyelewengan oleh pemerintah dan negara . 2.Untuk menjadi wadah pemberdayaan bagi masyarakat dalam kehidupannya. 3.Untuk menjadi wadah pengawasan dan pengamatan terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi pemerintah dan Negara . 4.Untuk menjadi wadah kajian dan analisis bagi aspek pembangunan nasional dalam semua bidang kehidupan . Klasifikasi Interest Group ( Kelompok Kepentingan ) menurut organisasi masyarakat ditinjau dari segi agama, socialbudaya, kemasyarakatan, kepemudaan profesi, kewanitaan , pendidikan :

1.organisasi kemasyarakatan . contohnya : MKGR, Kosgoro,soksi . 2.organisasi kemasyarakatan berdasarkan agama . contohnya : NU, Muhammadiah,Parmusi,KWI. 3.organisasi kemasyarakatan berdasarkan kepemudaan . contohnya : KNPI,PII,HMI . 4.organisasi kemasyarakatan berdasarkan sosial kedaerahan . 5.organisasi kemasyarakatan berdasarkan profesi . contohnya : aliansi jurnalistik indonesia,PERHUMAS,PWI,FRI .

BAB II
Penutup
1. KESIMPULAN Sejarah Sistem Politik Indonesia bisa dilihat dari proses politik yang terjadi di dalamnya. Namun dalam menguraikannya tidak cukup sekedar melihat sejarah Bangsa Indonesia tapi diperlukan analisis sistem agar lebih efektif. Dalam melakukan analisis sistem bisa dengan pendekatan satu segi pandangan saja seperti dari sistem kepartaian. Kapabilitas sistem adalah kemampuan sistem untuk menghadapi kenyataan dan tantangan. Pandangan mengenai keberhasilan dalam menghadapi tantangan ini berbeda diantara para pakar politik. 2. KRITIK DAN SARAN Bagi para pembaca dan rekan-rekan yang lainnya, jika ingin menambah wawasan dan ingin mengetahui lebih jauh, maka penulis mengharapkan dengan rendah hati agar lebih membaca buku-buku ilmiah dan buku-buku lainnya yang berkaitan dengan judul SISTEM POLITIK INDONESIA . Kritik dan saran yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan Makalah kami. Jadikanlah makalah ini sebagai sarana yang dapat mendorong para mahasiswa/i berfikir aktif dan kreatif.

DAFTAR PUSTAKA

Mata pelajaran SMK yang disajikan oleh Penulis, mengasisteni Mirnawati, Yayu Ramadani . Berisi ringkasan materi dan informasi sistem politik indonesia . Name: Ayu suci handayani Location: Makassar,sulawesi selatan, Indonesia Staf Pengajar SMK NEGERI 4 MAKASSAR sejak tahun 2012. di kutip dan di edit seperlunya dari internet pada tanggal 29 APRIL 2012.