Anda di halaman 1dari 8

PENDEKATAN POSITIVISTIK

Makalah Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Filsafat Ilmu Dosen Pengampu: Dra. Hj Ermi Suhasti S.MSI

Disusun Oleh:
FASMAWI SABAN S NURUL KHASANAH MAYASARI UTHBECT NUROKHMAN

JURUSAN ILMU HUKUM, FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA

YOGYAKARTA 2012

BAB I PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG Dalam dunia penelitian pendidikan, terkadang sering terjadi perbedaan pendapat antara filosofis berkaitan dengan pendekatan-pendekatan yang dianggap paling sesuai untuk menjelaskan fenomena kependidikan. Perbedaan itu biasanya melibatkan 2 kubu utama yaitu kubu positivistik-empirik dan kubu interpretif. Perbedaan mendasar itu terwujud secara khusus dengan munculnya istilah-istilah yang menggambarkan ketidakakuran diantara dua kubu tersebut, seperti timbulnya dikotomi istilah : kuantitatif versus kualitatif, rasionalistik versus naturalistik, serta objektif versus subjektif (Candy,1989). Pada sisi lain,kaum positivistik kuantitatif, yang mendapat banyak inspirasi dari para filsuf positivisme ilmu alam di Jerman pada tahun 1920an, mengemukakan bahwa penelitian sosial maupun pendidikan harus mengikuti prinsip-prinsip ilmu alam yang bersifat empirik (Walker,1985). Mereka beranggapan bahwa segenap fenomena penelitian dan sosial dapat dirumuskan dalam prinsip-prinsip objektif empirik dan dapat dijelaskan menurut hukumhukum kausalitas deterministik seperti fakta dalam gejala-gejala alam. Pada sudut pandang yang lain, kubu interpretif menyangkal keras asumsi-asumsi dasar penelitian yang diajukan oleh kaum positivistik. Kaum interpretif berpendapat bahwa dasar utama penelitian tidak bertolak dari sudut pandang peneliti ataupun objektivitas empirik gejala, tapi lebih jauh adalah pada cara-cara subjek penelitian atau partisipan penelitian memberi definisi secara subjektif pada suatu fenomena pendidikan atau sosial.

BAB II PEMBAHASAN 1. Pengertian Positivistik adalah filsafat yang menyatakan keutamaan observasi dalam menilai kebenaran pernyataan atau fakta dan berpendapat bahwa argumentasi metafisik dan subjektif yang tidak didasarkan pada data yang dapat diamati adalah tidak bermakna.(Seels&Barbara, 2002). Penganut filsafat positivistik berpendapat bahwa keberadaan sesuatu merupakan besaran yang dapat diukur. Peneliti adalah pengamat yang objektif atas suatu peristiwa yang terjadi di dunia. Mereka percaya bahwa variabel yang mereka teliti, merupakan suatu yang telah ada di dunia. 2. Teori Dalam Pendekatan Positivistik a. Teori Pendekatan Impiris Kata ini berasal dari kata Yunani empeirikos, artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Dan bila dikembalikan kepada kata Yunaninya, pengalaman yang dimaksud ialah pengalaman inderawi. ` Dengan inderanya, manusia bisa mengatasi taraf hubungan yang semata-mata fisik

dan masuk ke dalam medan intensional, walaupun masih sangat sederhana. Indera menghubungkan manusia dengan hal-hal konkret-material. Pengetahuan inderawi bersifat parsial. Itu disebabkan oleh adanya perbedaan antara indera yang satu dengan yang lainnya, berhubungan dengan sifat khas fisiologis indera dan dengan objek yang dapat ditangkap sesuai dengannya. Masing masing indera menangkap aspek yang berbeda mengenai barang atau makhluk yang menjadi objeknya. Jadi

pengetahuan inderawi berada menurut perbedaan indera dan terbatas pada sensibilitas organorgan tertentu.. John Locke (1632-1704), bapak empiris Britania mengemukakan teori tabula rasa (sejenis buku catatan kosong). Maksudnya ialah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, lantas ia memiliki pengetahuan. Mula-mula tangkapan indera yang masuk itu sederhana, lama kelamaan menjadi kompleks, lalu tersusunlah pengetahuan berarti. Jadi bagaimanapun kompleks pengetahuan manusia, ia selalu dapat dicari ujungnya pada pengalaman indera. Sesuatu yang tidak dapat diamati dengan indera bukanlah pengetahun yang benar. Jadi pengalaman indera itulah sumber pengetahuan yang benar. b. Teori Penalaran Induksi Penalaran Induksi adalah penalaran dengan kesimpulan yang wilayahnya lebih luas daripada premisnya, sehingga merupakan cara berpikir dengan menarik simpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yangt bersifat individual. Keuntungan dari cara berpikir ini adalah mengkondisi berlanjutnya penalaran, dan sangat ekonomis.

Contok induksi : Jika seorang-orang akan melakukan penelitian dengan menggunkan metode induksi, maka harus melalui tahapan-tahapan berikut: 1. 2. Perumusana masalah: masalah yang hendak dicarikan penjelasan ilmiahnya. Pengajuan hipotesis:mengajukan penjelasan yang masih bersifat sementara untuk diuji lebih lanjut melalui verifikasi 3. Pengambilan sample:pengumpulan data dari beberapa fakta particular yang dianggap bisa mewakili keseluruhan untuk keperluan penelitian lebih lanjut

4.

Verifikasi:pengamatan disertai pengukuran statistic untuk memberi landasan bagai hipotesa

5.

Tesis: hipotesis yang telah terbukti kebenarannya.

c. Teori Aposteriori Proses pikir yang dikembangkan manusia semakin memberikan pemahaman dan pengertian, apa yang merupakan obyek pengetahuan ilmiah. Pendalaman dilakukan sebagai upaya mencapai sebab pertama [the first causes], ataupun sebab terakhir [the last causes]. Dari pengembaraan pikir inilah ditemukan dua model yang mewakili kelompok ilmu. Aposteriori berasal dari kata latin post yang maknanya sesudah, oleh karenanya segala ungkapan ilmu baru terjadi ketika seorang-orang melakukan pengamatan melalui inderanya. Jadi, aposteriori merupakan hasil / kesimpulan yang ditarik dari pengalaman, melalui penalaran induksi, sebagai hasil dari data yang empirik yaitu merupakan kelompok ilmu yang mementingkan pengamatan dan penelitian. 3. Tingkatan Cara Berfikir Positivistik Tingkatan Teologi (Etat Theologique). Pada tingkatan ini manusia belum bisa memahami hal-hal yang berkaitan dengan sebab akibat. Segala kejadian dialam semesta merupakan akibat dari suatu perbuatan Tuhan dan manusia hanya bersifat pasrah, dan yang dapat dilakukan adalah memohon pada Tuhan agar dijauhkan dari berbagai bencana. Tahapan ini terdiri dari tiga tahapan lagi yang berevolusi yakni dari tahap animisme, tahap politeisme, sampai dengan tahap monoteisme. Tingkatan Metafisik (Etat Metaphisique). Pada dasarnya tingkatan ini merupakan suatu variasi dari cara berfikir teologis, dimana Tuhan atau Dewa-dewa diganti dengan kekuatan-kekuatan abstrak misalnya dengan istilah kekuatan alam. Dalam tahapan ini

manusia mulai menemukan keberanian dan merasa bahwa kekuatan yang menimbulkan bencana dapat dicegah dengan memberikan berbagai sajian-sajian sebagai penolak bala/bencana. Tingkatan Positif (Etat Positive). Pada tahapan ini manusia sudah menemukan pengetahuan yang cukup untuk menguasai alam. Jika pada tahapan pertama manusia selalu dihinggapi rasa khawatir berhadapan dengan alam semesta, pada tahap kedua manusia mencoba mempengaruhi kekuatan yang mengatur alam semesta, maka pada tahapan positif manusia lebih percaya diri, dengan ditemukannya hukum-hukum alam, dengan bekal itu manusia mampu menundukan/mengatur (pernyataan ini mengindikasikan adanya pemisahan antara subyek yang mengetahui dengan obyek yang diketahui) alam serta memanfaatkannya untuk kepentingan manusia, tahapan ini merupakan tahapan dimana manusia dalam hidupnya lebih mengandalkan pada ilmu pengetahuan.

BAB III PENUTUP Kesimpulan Pendekatan positivistik lebih mengutamakan kemampuan pengamatan langsung, sistem ini digunakan untuk segala ilmu, baik untuk logika serta ilmu jiwa, maupun kesusilaan dan juga dapat di artikan bahwa positivistik adalah aliran positif yang dibuat oleh penguasa. Tingkatan dalam pendekatan postivistik antara lain : Tingkatan Teologi, yang menerangkan segala-galanya dengan pengaruh dan sebab-sebab yang melebihi kodrat Tingkatan Metafisika, yang hendak menerangkan segala sesuatunya melalui abstraksi Tingkatan Positif, yang hanya menghiraukan yang sungguh-sungguh serta sebab-akibat yang sudah tertentukan.

DAFTAR PUSTAKA

Bakhtiar Amsal, Filsafat Ilmu, Jakarta:RajaGrafindo Persada, 2004, edisi revisi

Bakker Anton, Charris Zubair Ahmad, Metedologi Penelitian Filsafat, (Yogyakarta, Kanisius, 1994), cet.IV

Poedjawijatna,Pembimbing ke Arah Alam Filsafat, Jakarta : PT Rineka Cipta,1997

http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/01/aposteriori-apriori.html (Akses tanggal 1 Maret 2012, 13.00 pm)

http://yennioktarinitp2008.blogspot.com/2008/11/bab-ii-pembahasan-2.html (Akses tanggal 1 Maret 2012 , 13.45 pm)