Anda di halaman 1dari 17

BEBAN (EXPENSES)

Oleh: Mutiara Puspa Widyowati (090810301003) Eunike Ria Kristina Choirun Nissyah R. Remirda Eva R. (090810301059) (090810301171) (090810301255)

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS JEMBER 2012

Biaya (Expenses) 1

1. DEFINISI BEBAN Dalam SFAC no 6, FASB mendefinisikan beban adalah aliran keluar atau pemakaian aktiva dan timbulnya hutang selama satu periode yang berasal dari penjualan atau produksi barang, atau penyerahan jasa atau pelaksanaan kegiatan yang lain yang merupakan kegiatan utama suatu entitas. Sedangkan menurut IAI mendefinisikan beban adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk arus keluar atau berkurangnya aktiva atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak menyangkut pembagian kepada penanam modal (paragraf 70b). FASB dan IAI memiliki sudut pandang yang berbeda dalam

mendefinisikan beban. IAI mendefinisikan biaya dari sudut pandang peristiwa moneter seperti penurunan aktiva, kenaikan hutang atau ekuitas. Sedangkan FASB memiliki sudut pandang sebagai berikut: 1. Tidak menunjukkan dengan jelas peristiwa moneter dan fisik. FASB lebih menekankan pada peristiwa fisik yaitu penjualan barang atau produk yang dihasilkan. 2. Pemakaian aktiva harus menunjukkan suatu kos yang dinyatakan keluar sebagai biaya. 3. Apabila dilihat dari sudut pandang tradisional definisi yang dikemukakan FASB menunjukkan bahwa beban hanya dihasilkan dari pemakaian aktiva untuk tujuan menghasilkan pendapatan pada periode yang berjalan. IAI dan FASB membedakan kos menjadi beban dan rugi, sedangkan IAI tidak. IAI dan FASB memang mempertimbangkan pendapatan dalam

mengklasifikasi apakah kos tersebut termasuk ke dalam beban ataukah rugi. Apabila kos tersebut tidak menghasilkan pendapatan, baik secara langsung maupun tidak langsung, maka kos tersebut akan dianggap sebagai rugi (misalnya pemberian donasi, pembayaran pajak, dan lain-lain). Sedangkan IAI membedakan kos hanya dari kadaluarsanya. Kos yang sudah kadaluarsa akan dialui sebagai beban, sedangkan yang belum sebagai aset. Perbedaan tersebut dijelaskan oleh gambar di bawah ini.

Biaya (Expenses) 2

Menurut IASB dan FASB Cost

Menurut IAI Kos / Biaya

Beban (expenses)

Rugi (losses) (Tidak menghasilkan pendapatan)

Beban

(Ketika sudah kadaluarsa)

(kos yang sudah kadaluarsa dan menghasilkan pendapatan)

Menurut Suwardjono dinyatakan bahwa ada beberapa karakteristik penting yang melekat pada makna beban: 1. Aliran keluar/penurunan aset Untuk menyatakan timbulnya beban, transaksi atau kejadian harus terjadi dalam penurunan aset / yang menimbulkan aliran keluar aset. Aset yang dimaksud adalah semua aset perusahaan. Jadi konsumsi atau pemakaiannya diartikan bahwa manfaat ekonomi aset itu telah habis karena melekat pada barang atau jasa yang telah diserahkan dari kesatuan aset tersebut, sehingga perusahaan sudah tidak menguasai lagi manfaat tersebut. 2. Operasi utama atau sentral Dinyatakan oleh Suwardjono dalam Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan bahwa tidak semua penurunan atau konsumsi aset membentuk biaya, untuk itu biaya konsumsi harus berkaitan dengan kegiatan utama. Yang dimaksud kegiatan utama adalah kegiatan penciptaan pendapatan (laba) yang direpresentasi dalam kegiatan memproduksi barang. Sehingga biaya adalah penurunan aset yang berkaitan dengan operasi dan bukan dengan investasi dan pendanaan.

Biaya (Expenses) 3

3.

Kenaikan kewajiban Terdapat suatu keadaan dimana perusahaan telah memanfaatkan barang dan jasa namun sebelumnya tidak mengakuinya sebagai aset atau belum mengakui kewajiban atas penggunaan barang dan jasa yang dikuasai pihak lain. Hal tersebut menimbulkan keharusan perusahaan untuk membayar atau melakukan pengorbanan ekonomik di masa datang sehingga timbul kewajiban. Misalnya jasa pengiriman barang yang belum dibayar oleh perusahaan namun jasa pengirimannya telah dinikmati perusahaan dan menimbulkan pendapatan. Dengan demikian beban (untuk pengiriman) harus timbul dengan kenaikan kewajiban.

4.

Penurunan ekuitas Dalam operasi sentral perusahaan, dengan adanya penurunan aset atau kenaikan kewajiban akan mengubah ekuitas atau menurunkan ekuitas. Namun, penurunan ekuitas merupakan karakteristik pendukung karena tidak setiap penurunan aset mengakibatkan penurunan ekuitas. Misalnya

pembagian deviden yang menyebabkan penurunan aset tetapi tidak disebut sebagai beban. 5. Diukur atau dikaitkan dengan kos Dalam hal ini beban timbul dari adanya kos yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk memperoleh aset. Beban diukur berdasarkan jumlah kos dari aset yang telah dimanfaatkan selama periode berjalan. 6. Bukan berasal dari transaksi dengan pemilik Berdasarkan prinsip kesatuan usaha, maka harus ada pemisahan antara beban yang dihasilkan oleh perusahaan dan pemilik. Beban yang diakui dalam laporan keuangan merupakan beban yang berasal dari transaksi perusahaan, bukan pemilik. 7. Untuk menghasilkan pendapatan Beban merupakan pengorbanan perusahaan dari barang atau jasa yang telah dikonsumsi perusahaan untuk memperoleh pendapatan.

Biaya (Expenses) 4

1.1 Kos dan Beban Untuk memanfaatkan perubahan aset nilai. entitas memerlukan nilai kos dan beban sebagai

merepresentasikan

Perubahan

diartikan

perngorbanan yang dilakukan untuk mendapatkan jasa. Jika tidak ada kos maka tidak ada beban. Secara konseptual menurut prinsip keberlangsungan usaha (going concern), penggunaan akan barang dan jasa (aset) perusahaan ditujukan untuk jangka panjang sehinggan kos dari aset tersebut mengalami dua tahap yaitu pengakuan dan pembebanan. Hal tersebut berarti kos diakui sebagai aset kemudian diakui sebagai beban untuk periode manfaat aset tersebut digunakan. Dengan landasan konsep dasar kontinuitas usaha serta upaya dan hasil, masalah teoritis dalam tahap pembebanan adalah pemecahan aliran kos yang telah diakui sebagai aset menjadi bagian yang merupakan biaya perioda berjalan dalam rangka penentuan biaya periodik dan bagian yang baru akan menjadi biaya dalam perioda-perioda berikutnya. (Suwardjono, Edisi Ketiga:397) Selain itu terdapat pula definisi mengenai hubungan kos dan beban menurut American Accounting Association (AAA) pada tahun 1957 sebagai: beban adalah biaya yang telah kadaluarsa, secara langsung maupun tidak langsung pada periode fiskal, dari aliran barang atau jasa ke pasar dan operasi yang berhubungan

1.2

Beban dan Rugi Menurut definisi, yang dimasukkan dalam beban hanya perubahan

perubahan yang tidak menguntungkan saja yang terjadi dalam proses memperoleh pendapatan. Kebalikannya adalah bahwa aktiva yang habis atau menurunnya aktiva dimana kejadian ini tidak berkaitan dengan proses penyediaan barang dan jasa bagi pelanggan atau klien seharusnya dikelompokkan sebagai kerugian dan tidak dikelompokkan sebagai beban. Kerugian dan beban merupakan perubahan

Biaya (Expenses) 5

yang relevan dalam perhitungan laba bersih bagi pemegang saham dan perusahaan. Menurut Suwardjono (Edisi Ketiga, Hlm. 9) terdapat tiga kata kunci pada pengertian rugi yaitu penurunan ekuitas, bukan merupakan transaksi ke pemilik, dan transaksi periferal atau insidental. Dalam hal ini yang membedakan biaya dan rugi adalah mengenai transaksi periferal atau insidental atau di luar kendali manajemen. Berbeda dengan beban yang timbul akibat dari kendali manajemen yaitu aktivitas penggunaan aset (barang dan jasa). Namun, dari definisi yang terdapat dalam Konsep Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, IAI (1994) tidak memisahkan biaya dengan rugi. Jadi semua potensi jasa baik yang digunakan secara langsung ataupun tidak langsung untuk memperoleh pendapatan disebut dengan biaya. IAI (1994) bahkan secara spesifik menyebutkan hal tersebut seperti yang tertulis pada paragraf 78 berikut ini : kerugian termasuk dalam kelompok beban. Pada dasarnya pembedaan antara beban dan rugi hanya untuk kepentingan pengungkapan seperti pada pendapatan dan untung.

2. PENGAKUAN BEBAN Berdasarkan KDPPLK paragraf 94, beban diakui dalam laporan laba rugi kalau penurunan manfaat ekonomi masa depan yang berkaitan dengan penurunan aktiva atau peningkatan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur dengan andal. Ini berarti pengakuan beban terjadi bersamaan dengan pengakuan kenaikan kewajiban atau penurunan aktiva (misalnya, akrual hak karyawan atau penyusunan aktiva tetap). Beban diakui dalam laporan laba rugi atas dasar hubungan langsung antara biaya yang timbul dan pos penghasilan tertentu yang diperoleh (matching of cost with revenue). Misalnya, berbagai komponen beban yang membentuk beban pokok penjualan (cost or expense of goods sold) diakui pada saat yang sama sebagai penghasilan yang diperoleh dari penjualan barang. Kalau manfaat ekonomi diharapkan timbul selama periode akuntansi dan hubungannya dengan penghasilan hanya dapat ditentukan secara luas atau tak langsung, beban diakui dalam laporan laba rugi atas dasar prosedur alokasi yang
Biaya (Expenses) 6

rasional dan sistematis. Hal ini sering diperlukan dalam pengakuan beban yang berkaitan dengan penggunaan aktiva seperti aktiva tetap, goodwill, paten, merk dagang. Dalam kasus semacam itu, beban ini disebut penyusutan atau amortisasi. Prosedur alokasi ini dimaksudkan untuk mengakui beban dalam periode akuntansi yang menikmati manfaat ekonomi aktiva yang bersangkutan. Pengakuan beban menurut kerangka kerja IASB terdiri dari dua kriteria utama yaitu : 1. Terdapat kemungkinan adanya keuntungan yang akan mengalir ke perusahaan. Tingkat kemungkinan tersebut memang merupakan konsep yang tidak mutlak. Hal tersebut tergantung pada ketersediaan bukti ketika laporan keuangan akan disusun atau dipersiapkan. 2. Memiliki nilai yang dapat diukur dan reliabel. Dengan demikian untuk akun-akun yang menggunakan estimasi, diperlukan bukti-bukti yang mendukung validitas estimasi tersebut. Beban harus diakui dalam laporan laba rugi ketika penurunan keuntungan ekonomi di masa depan berhubungan dengan penurunan aset atau peningkatan kewajiban dapat diukur secara reliabel. Semua kos dapat ditangguhkan pembebanannya apabila kos tersebut memenuhi kriteria sebagai aktiva yaitu: Memenuhi definisi aktiva (memiliki manfaat ekonomi masa mendatang, dikuasai oleh perusahaan, dan berasal dari transaksi masa lalu). Ada kemungkinan yang cukup bahwa manfaat ekonomi masa mendatang yang melekat pada aktiva dapat dinikmati oleh entitas yang menguasai. Besarnya manfaat dapat diukur dengan cukup andal.

Beban juga dapat timbul dalam laporan laba rugi pada saat timbul kewajiban tanpa adanya pengakuan aktiva. Misalnya adanya hutang garansi produk.

Biaya (Expenses) 7

3. PENGUKURAN BEBAN Dalam mengukur beban dalam satu periode akuntansi, dibutuhkan berbagai keputusan atau pertimbangan untuk menentukan bagaimana beban tersebut akan dialokasikan pada periode-periode selanjutnya yang menunjukkan adanya pendapatan. Dalam hal tersebut, terdapat berbagai standar akuntansi yang dapat digunakan sebagai acuan atau pedoman. Misalnya, IAS 16/AASB 116 yang menyatakan bahwa nilai-nilai aset yang dapat di depresiasi dapat diukur dengan beberapa cara setelah pengakuannya (seperti model biaya perolehan atau model penilaian) dan beberapa pilihan alternatif untuk depresiasi (seperti metode garis lurus, nilai menurun dan jumlah unit). Sejalan dengan penilaian aktiva, biaya dapat diukur atas dasar jumlah rupiah yang digunakan untuk penilaian aktiva dan hutang. Oleh karena itu, pengukuran biaya dapat didasarkan pada: Kos Historis Kos historis merupakan jumlah rupiah kas atau setaranya yang dikorbankan untuk memperoleh aktiva. Pengukuran beban atas dasar kos historis dapat digunakan untuk jenis aktiva seperti gedung, peralatan, dan sebagainya. Kos Pengganti / Kos Masukan Terkini (Replacement Cost / Curent Input Cost) Kos masukkan terkini menunjukkan jumlah rupiah harga pertukaran yang harus dikorbankan sekarang oleh suatu entitas untuk memperoleh aktiva yang sejenis dalam kondisi yang sama. Contohnya, penilaian untuk persediaan. Setara Kas (Cash Equivalent) Setara kas adalah jumlah rupiah kas yang dapat direalisir dengan cara menjual setiap jenis aktiva di pasar bebas dalam kondisi perusahaan normal. Meskipun pada prakteknya metode pengukuran yang masih banyak digunakan adalah historical cost, namun dengan mulai diadopsinya IFRS di Indonesia, maka pengukuran yang sesuai standar adalah dengan menggunakan

Biaya (Expenses) 8

metode fair value. Dengan demikian, untuk pencatatan beban sebagai akibat dari depresiasi (penyusutan), nilai yang dicantumkan dalam beban adalah nilai selisih antara nilai wajar dengan nilai buku (apabila nilai wajar lebih kecil dari nilai bukunya).

3.1 Alokasi Beban Salah satu cara untuk mengukur beban adalah dengan mengalokasikan beban-beban tersebut ke periode-periode dimana beban tersebut dinikmati. Hal ini biasanya disebut dengan matching concept. Konsep tersebut memperlakukan kos dengan mengalokasikan kos yang sudah kadaluarsa (beban) ke periode-periode dimana beban tersebut terjadi. Namun, pengalokasian tersebut hanya bersifat estimasi. Dalam akuntansi, pencocokan antara beban dan pendapatan merupakan fungsi utama, namun hal tersebut tetap saja sulit untuk dilakukan karena berhubungan dengan penilaian akuntan tersebut. Akuntan harus mengidentifikasi mana aset yang telah digunakan (kadaluarsa) dan jumlah yang harus ditulis sebagai tandingan pendapatan pada periode tersebut. Matching Concept adalah hal yang paling penting dalam akuntansi biaya historis. Kos yang sudah kadaluarsa akan menjadi beban dan disajikan dalam laporan laba rugi, sedangkan kos yang belum kadaluarsa akan dicatat sebagai aset dan disajikan dalam laporan posisi keuangan. Untuk mengatasi masalah penentuan dan pengukuran kos menjadi beban, terdapat tiga metode dari matching kos yang sering digunakan, yaitu:
Masuk

Keluar

MATCHING Kos Aktiva Biaya


- hub. Sebab akibat - alokasi sistematis - pembebanan segera

Konsep Matching

Biaya (Expenses) 9

a) Hubungan Sebab dan Akibat Penggunaan barang dan jasa oleh perusahaan harus menghasilkan pendapatan pada periode tersebut. Hubungan antara beban dan pendapatan harus merupakan hubungan sebab akibat pada perusahaan tersebut. Maksudnya, pendapatan timbul karena adanya outflow berupa beban. Dengan demikian pendapatan merupakan akibat dari adanya beban. Sesuai dengan prinsip pengakuan pendapatan, tidak ada kos penjualan jika tidak ada pendapatan. Misalnya, pada perusahaan konstruksi yang menerima kontrak jangka panjang. Perusahaan tidak akan mengakui biaya yang dikeluarkan untuk membangun proyek dalam kontrak sebagai kos ataupun beban sebelum pendapatan diakui, melainkan diakui sebagai aset. Apabila pendapatan telah diakui maka kos atau beban pun akan diakui. Namun dalam prakteknya hal tersebut susah untuk dilaksanakan. Misalnya, pendapatan sebesar Rp 100.000 dihasilkan dari beban Rp 60.000. Dari jumlah beban tersebut, Rp 15.000 merupakan beban gaji. Bila menggunakan konsep sebab akibat beban berupa gaji sebesar Rp 15.000 tersebut dapat menghasilkan pendapatan sebesar Rp 25.000 dari total pendapatan tersebut. Namun pada kenyataannya hal tersebut tidak dapat dinilai dan tidak dapat dibuktikan secara pasti.

b) Alokasi yang Sistematis dan Rasional Tidak semua beban dapat dialokasikan dengan menggunakan konsep sebab dan akibat. Sebagai salah satu alternatif, alokasi yang sistematis dan rasional dapat digunakan. Tujuannya yaitu untuk mengakui beban dalam periode akuntansi dimana pada periode tersebut beban itu dimanfaatkan atau telah kadaluarsa. Jadi, beban dialokasikan pada periode dimana beban tersebut dikonsumsi, bukan berdasar produk yang dihasilkan. Menurut IAS 16/AASB 116, depresiasi adalah alokasi yang sistematis dari jumlah yang dapat didepresiasi dari sebuah aset selama umur ekonomisnya. Depresiasi merupakan salah satu contoh dari proses alokasi.

Biaya (Expenses) 10

Namun masalahnya, apakah depresiasi merupakan suatu prosedur, atau kejiadian yang sebenarnya/nyata? Telah diketahui sebelumnya bahwa depresiasi merupakan kejadian moneter yang disebabkan oleh kejadian fisik. Jadi depresiasi merupakan fenomena yang terjadi, dan beban yang dicatat merupakan efek moneternya. Berbagai cara untuk mengukur depresiasi dapat dipilih oleh akuntans sesuai dengan standar yang ditentukan, selama cara yang digunakan rasional dan sistematik, maka cara tersebut dapat diterima. Satu kelemahan dari alokasi kos adalah bergantung pada estimasi dan asumsi penyusunnya yang mungkin bersifat subyektif. Namun, alasan lain yang mendukung dasar alokasi ini yaitu: Banyak jenis beban yang berkaitan secara tidak langsung dengan pendapatan periode berjalan sehingga akan lebih tepat jika dialokasikan berdasar periode yang menikmati beban tersebut. Dalam banyak hal, tidak mudah menghubungkan beban-beban tertentu dengan pendapatan. Misalnya beban perawatan medis pegawai. Apabila terdapat beban yang tidak dapat dikaitkan dengan manfaat ekonomi di periode berjalan ataupun periode selanjutnya, maka tidak ada alasan penundaan pencatatan beban tersebut. Beban untuk kegiatan atau kejadian yang sifatnya normal dan berulangulang serta jumlahnya relatif konstan, maka pengalokasian beban tersebut tidak menggambarkan penandingan yang sempurna karena beban tersebut sebenarnya berkaitan dengan periode sebelum atau sesudahnya. Namun hal tersebut tidak mempengaruhi laba secara material. Seringkali suatu beban terdiri dari berbagai komponen beban lainnya (misalnya beban penjualan yang terdiri dari beban angkut, potongan penjualan, dan lain-lain) dan sulit untuk menelusuri dampak pendapatan dari masing-masing beban tersebut. Namun pengalokasian beban tersebut pada periode berjalan tetap harus dicatat.

Biaya (Expenses) 11

c) Pengakuan Sesegera Mungkin Merupakan konsep yang mengakui dan mengukur kos yang dikeluarkan sesegera mungkin sebagai beban karena tidak adanya manfaat ekonomi yang dapat diukur secara reliabel. Contohnya yaitu biaya iklan (advertising expenses) dan biaya penelitian (research expenditure). Biaya iklan segera diakui sebagai beban karena manfaat ekonomi dari pengeluaran tersebut tidak dapat diukur secara reliabel. Meningkatnya konsumen yang membeli produk perusahaan bisa saja berasal dari pengaruh iklan pada periode sebelumnya sehingga efek keuntungan dari adanya iklan pada periode berjalan tidak dapat diukur dengan andal. Begitupula dengan biaya penelitian yang manfaat ekonominya juga tidak dapat diukur secara reliabel. Berbeda dengan biaya pengembangan (development expenditure) yang dapat diestimasi nilai manfaat

ekonominya sehingga dapat dikapitalisasi sebagai aset, biaya penelitian belum tentu menghasilkan keuntungan di masa mendatang sehingga tidak sesuai dengan kritera aset. Oleh karena itu biaya iklan dan penelitian harus dicatat sebagai beban.

3.2 Kritik untuk Konsep Alokasi Terdapat kritik pada praktik akuntansi saat ini yang sebagian besar didasarkan pada alokasi. Menurut Thomas dalam buku Teori Akuntansi (Godfrey, 1994) alokasi tersebut secara teoritis tidak tepat. Terdapat tiga krtiteria untuk menyesuaikan alokasi yaitu : Aditivitas Apabila alokasi diambil dari total nilai, maka jumlah dari pengalokasian tersebut harus sama dari total nilai sebelum alokasi, tidak kurang tidak lebih. Misalnya, alokasi beban penyusutan kendaraan tiap tahun maka jumlah alokasi untuk setiap tahun tersebut harus sama dengan nilai kendaraan sebelum alokasi. Tidak ambigu

Biaya (Expenses) 12

Pengalokasian harus dilakukan dengan cara yang jelas sesuai dengan metode yang dipilih. Pertahanan Akuntan yang telah memilih suatu metode akuntansi harus dapat menyediakan pernyataan yang meyakinkan pilihannya dan

mempertahankannya dari kemungkinan adanya metode alternatif lainnya. Dari ketiga kriteria tersebut dalam pratik nyata hampir tidak mungkin metode alokasi yang digunakan oleh perusahaan dapat memenuhi ketiga kriteria tersebut. Seringkali perusahaan menggunakan metode yang berbeda-beda sesuai dengan tujuan perusahaan. Akuntan beranggapan bahwa konsep alokasi sangatlah penting. Hal tersebut dikarenakan input yang diperoleh perusahaan dapat memberikan manfaat ekonomi pada periode berjalan dan periode selanjutnya. Jadi, konsep alokasi dibutuhkan untuk menunjukkan penggunaan input tersebut pada periode berjalan. Namun, dari alokasi tersebut akuntan tidak dapat menunjukkan aliran kas atau pendapatan yang didapat oleh perusahaan. Misalnya, untuk alokasi beban penyusutan kendaraan yang menunjukkan penggunaan kendaraan sebesar alokasi tersebut selama periode berjalan. Namun, tidak terdapat bukti bahwa perusahaan mengkonsumsi kendaraan sebesar nilai alokasi tersebut. Selain itu, akuntan beranggapan laporan keuangan lebih berguna bagi pembaca dengan adanya alokasi beban. Namun, pada kenyataannya alokasi tersebut tidak mencerminkan nilai yang sebenarnya pada laporan keuangan. Pada kenyataannya penggunaan konsep alokasi pada umumnya untuk menghindari beban yang timbul dari penggunaan jasa appraisal dalam penyusunan laporan keuangan.

3.3 Dukungan untuk Konsep Alokasi Salah satu alasan yang sangat kuat yang dapat mendukung metode alokasi adalah objektifitasnya. Alokasi memang merupakan jalan tengah yang tidak mutlak benar, namun metode tersebut mengalokasikan nilai yang memang terjadi (harga perolehan) ke dalam periode-periode yang diestimasikan telah

Biaya (Expenses) 13

mengkonsumsi kos tersebut. Dengan demikian meskipun prinsip alokasi cenderung masih menggunakan estimasi, namun yang dialokasikan tetap berdasarkan transaksi yang memang terjadi dan terdapat bukti transaksi yang menguatkan objektivitasnya. Selain itu, metode alokasi juga merupakan salah satu jalan keluar untuk kos-kos yang sulit untuk dicari pasarnya sehingga sangat sulit untuk menggunakan nilai wajar (fair value).

TANTANGAN UNTUK PENYUSUN STANDAR AKUNTANSI

4.1 Penandingan Tugas untuk pembuat standar adalah membuat aturan agar laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi menyajikan informasi yang relevan dan representatif. Dalam hal ini, konsep penandingan tidak dapat digunakan untuk mengakui item-item pada laporan posisi keuangan yang tidak memenuhi kriteria aset dan kewajiban. Misalnya hal tersebut terjadi pada goodwill, tenaga kerja, dan kekayaan intelektual

4.2 Konservatisme Pada konsep kondervatisme, terjadi asimetri informasi mengenai pengakuan beban dan laba. Konsep ini mengharuskan untuk mengakui adanya beban sesegera mungkin apabila ada kemungkinan beban tersebut akan terjadi. Namun dalam prinsip ini pengakuan laba tidak akan dicatat hingga laba atau pendapatan tersebut benar-benar terjadi. Konsep tersebut didasarkan oleh asumsi skeptis akuntan atau kehati-hatian. Namun justru akhirnya konsep tersebut menghasilkan informasi yang tidak relevan. Konsep konservatisme ini tidak berfokus pada bukti transaksi, tetapi lebih pada ketakutan menyajikan nilai bersih aset dan laba terlalu tinggi. Dengan demikian informasi yang mengandung penyimpangan konservatisme bukanlah merupakan informasi yang netral. Oleh karena itu penyusun standar kini telah merevisi peraturan dan menghilangkan konsep penandingan (matching concept) dan konsep konservatisme ini.

Biaya (Expenses) 14

4.3 Masalah Untuk Auditor Pengakuan dan pengukuran beban haruslah sesuai dengan definisi dan kriteria beban itu sendiri. Tidak berlakunya lagi konsep penandingan dan konsep konservatisme harus dipahami betul oleh auditor. Auditor harus memahami secara mendalam mengenai definisi dan kriteria beban karena hal tersebut merupakan pedoman untuk menentukan apakah perusahaan yang diaudit telah mencatat transaksi sesuai standar yang telah ditentukan atau tidak. Kapitalisasi kos perusahaan menjadi aset merupakan masalah yang cukup rentan dan biasanya material. Apabila perusahaan mengakui kos sebagai aset padahal transaksi atau kejadian tersebut tidak memenuhi kriteria aset, maka bisa terjadi pencatatan aset yang terlalu tinggi. Misalnya perusahaan WorldCom yang bergerak di bidang penyedia telepon jarak jauh dan jasa internet. WorldCom bangkrut karena menkapitalisasi beban operasi yang tidak tepat. WorldCom membayar perusahaan lain untuk mendapatkan hak dalam mengakses jaringan perusahaan tersebut. Biaya sebesar US$ 3.8 Milyar yang digunakan sebagai biaya membayar ke perusahaan lain tersebut kemudian dianggap sebagai investasi modal karena dianggap memiliki manfaat ekonomi yang besar bagi perusahaan. Pembayaran kos tersebut mencerminkan aliran keluar aset yang harus ditandingkan dengan pendapatan yang dihasilkan dari penempatan jasa telepon dan internet kepada konsumen di periode yang sama. Hal tersebut mengakibatkan pencatatan laba yang terlalu tinggi. Selain itu auditor juga harus teliti dalam menganalisa pencatatan beban yang terlalu rendah. Hal ini biasanya terjadi agar laba perusahaan terlihat tinggi. Contoh kasus yang terjadi yaitu pengakuan aset hasil akuisisi oleh perusahaan yang dicatat terlau rendah. Dengan demikian beban penyusutan untuk periodeperiode selanjutnya pun akan lebih rendah sehingga laba akan terlihat lebih besar. Praktek pencatatan biaya sekaligus yang terlalu tinggi yang timbul karena akuisisi atau restrukturisasi dikenal sebagai akuntansi big bath. Selain itu terdapat pula praktek yang dikenal sebagai cookie-jar yang menghitung beban masa depan yang diekspektasi perusahaan sekaligus pada saat akuisisi.

Biaya (Expenses) 15

Masalah lain yang memerlukan ketelitian auditor adalah pencatatan beban lainnya yang menggunakan estimasi, seperti persediaan yang usang, jaminan, kerugian dalam perkara hukum, pembebanan piutang ragu-ragu dan kontrak pembangunan yang dalam pengerjaan. Auditor harus menganalisa kewajaran atas estimasi yang digunakan tersebut serta adanya bukti-bukti yang mendukung.

Biaya (Expenses) 16

DAFTAR PUSTAKA

Chairiri, Anis dan Imam Ghozali. 2001. Teori Akuntansi Edisi Pertama. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro

Godfrey, J., et.al. 1994. Accounting Theory 7th Edition. Sydney: John Wiley and Sons

Ikatan Akuntansi Indonesia. 2004. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat

Suwardjono. 2010. Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Yogyakarta: BPFE

Biaya (Expenses) 17