P. 1
Agama Dan Budaya

Agama Dan Budaya

|Views: 212|Likes:
Dipublikasikan oleh Restu Kurniawan

More info:

Published by: Restu Kurniawan on May 15, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/27/2015

pdf

text

original

Agama dan Budaya (akulturasi budaya

)
Untuk Memenuhi Mata Kuliah Ilmu Budaya Dasar Dosen Pembimbing : Ni’matuzzuhroh, M.Si

Oleh Zainal Asrory NIM :07140061

JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH FAKULTAS TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG 2008

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim Segala puji bagi Allah atas limpahan Rahmat, Taufiq, serta Hidayah Nya sehingga tugas makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah banyak memberikan inspirasi kepada penulis sehingga terselesaikanlah tugas makalah ini. walaupun masih banyak kekurangan, sebagaimana kata pepatah “tiada gading yang tak retak”, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan oleh penyusun. Ucapan terimakasih kepada semua pihak yang dengan keikhlasan membantu dalam proses penyelesaian makalah ini. Kami ucapkan terimakasih kepada Ibu Ni’matuzzuhroh, M.Si selaku dosen mata kuliah Ilmu Budaya Dasar (IBD). Semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi pembaca. Amin…… Malang, 08 Mei 2008

Penyusun

DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar isi Bab I Pendahuluan 1. Latar Belakang 2. Rumusan Masalah 3. Tujuan Penulisan Bab II Konsepsi Teori 1. Pengertian Agama 2. Agama dan Budaya 3. Agama dan Budaya Indonesia 4. Proses masuknya Islam Ke Indonesia 5. Pertemuan Islam dan budaya Nusantara Bab III Studi Kasus Bab IV Analisa dan kesimpulan Kajian Pustaka

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejak abad ke-1 Hijriah atau abad ke-7 Masehi, kawasan Asia Tenggara mulai berkenalanan dengan “tradisi” Islam, meskipun frekuensinya tidak terlalu besar. Pengenalan ini berlangsung sejalan dengan munculnya para saudagar Muslim di beberapa tempat di Asia Tenggara. Bukti tertua adanya “komunitas” Muslim di Asia Tenggara adalah dua buah makam yang bertarikh sekitar abad ke-5 Hijriah/ke-11 Masehi di Pandurangga (kini Panrang, Viet Nam) dan di Leran (Gresik, Indonesia). Kehadiran Islam secara lebih nyata di Indonesia terjadi pada sekitar abad ke-13 Masehi, yaitu dengan adanya makam dari Sultan Malik as-Saleh yang mangkat pada bulan Ramadhan 696 Hijriah/1297 Masehi. Ini berarti bahwa pada abad ke-13 Masehi di Nusantara sudah ada institusi kerajaan yang bercorak Islam. Para saudagar Muslim sudah melakukan aktivitas dagangnya sejak abad ke-7 Masehi. Beberapa kerajaan Hindu dan Buddha di Nusantara sudah melakukan hubungan dagang dan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan Islam di Timur Tengah. Bukti-bukti arkeologis yang mendukung ke arah itu ditemukan di Laut Jawa dekat Cirebon. Di antara komoditi perdagangan yang asalnya dari Timur Tengah ditemukan indikator “keIslaman” yang berupa sebuah cetakan tangkup (mould) yang bertulisan asma‘ul husnah. Meskipun sebagian besar masyarakat Indonesia menganut paham Sunni, namun pada prakteknya saat ini di Sumatra dan Jawa menganut paham Syi‘ah. Data arkeologis menunjukkan bahwa Islam yang masuk ke Nusantara berasal dari Persia melalui Gujarat, kemudian dibawa oleh para saudagar ke Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Semenanjung Tanah Melayu.

yaitu kemampuan menyerap sambil mengadakan seleksi dan pengolahan aktif terhadap pengaruh kebudayaan asing. atau setidak-tidaknya merupakan interpretasi yang melekat ketat pada ajaran dasar. aktivitas serta tindakan manusia. Dalam istilah lain proses akulturasi antara Islam dan Budaya local ini kemudian melahirkan apa yang dikenal dengan local genius. sedangkan Islam sebagai realitas budaya disebut dengan little tradition (tradisi kecil) atau local tradition (tradisi local) atau juga Islamicate. Tradisi local ini mencakup unsurunsur yang terkandung di dalam pengertian budaya yang meliputi konsep atau norma.kawasan-kawasan yang berada di bawah pengaruh Islam (great tradition). bidang-bidang yang “Islamik”. mempunyai kemampuan mengintegrasi unsur budaya luar ke dalam budaya asliu. dan Islam sebagai realitas budaya. paling tidak ada dua hal yang perlu diperjelas: Islam sebagai konsespsi sosial budaya. sehingga dapat dicapai suatu ciptaan baru yang unik. yang tidak terdapat di wilayah bangsa yang membawa pengaruh budayanya. Islam sebagai konsepsi budaya ini oleh para ahli sering disebut dengan great tradition (tradisi besar). Dalam ruang yang lebih kecil doktrin ini tercakup dalam konsepsi keimanan dan syariah-hukum Islam yang menjadi inspirasi pola pikir dan pola bertindak umat Islam. Islamicate) adalah realm of influence. Tradisi-tradisi ini seringkali juga disebut dengan center (pusat) yang dikontraskan dengan peri-feri (pinggiran). Tradisi besar (Islam) adalah doktrin-doktrin original Islam yang permanen. yang dipengaruhi Islam. dan memilkiki kemampuanmengendalikan dan memberikan arah pada perkembangan budaya selanjutnya. Karena Islam sebagai agama memang banyak memberikan norma-norma aturan tentang kehidupan dibandingkan dengan agama-agama lain. Bila dilihat kaitan Islam dengan budaya. Pada sisi lain local genius memiliki karakteristik antara lain: mampu bertahan terhadap budaya luar. Tradisi kecil (tradisi local.Sejak awal perkembangannya. mempunyai kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar. . dan berupa karya-karya yang dihasilkan masyarakat. Islam di Indonesia telah menerima akomodasi budaya.

tidak otomatis hilang dengan kehadiran Islam. Tujuan Penulisan. B. Perkembangan ini kemudian melahirkan “akulturasi budaya”. Dalam konteks inilah Islam sebagai agama sekaligus telah menjadi budaya masyarakat Indonesia. maupun segenap aktivitas masyarakat Indonesia. antara budaya local dan Islam. Di sisi lain budaya-budaya local yang ada di masyarakat. • • • • • Mengetahui kapan masuknya Islam ke Indonesia Mengetahui bagaimana proses masuknya Islam di Indonesia Mengetahui implikasi masuknya Islam terhadap perubahan budaya di Indonesia Mengetahui proses asimilasi Islam dengan masyarakat Indonesia Mengetahui proses terjadinya akulturasi antara Islam dan budaya Nusantara. .Sebagai suatu norma. Rumusan Masalah • • • • • Kapan Islam masuk ke Indonesia? Bagaimana proses masuknya Islam di Indonesia? Bagaimana implikasi masuknya Islam terhadap budaya di Indonesia? Bagaimana proses asimilasi Islam dengan masyarakat Indonesia? Bagaimana proses terjadinya akulturasi antara Islam dan budaya Nusantara? C. ajaran Islam telah menjadi pola anutan masyarakat. aturan. Budayabudaya local ini sebagian terus dikembangkan dengan mendapat warna-warna Islam.

dan alam sekitarnya tidak kacau. Kedua kata itu jika dihubungkan berarti sesuatu yang tidak kacau. Ketidak kacauan itu disebabkan oleh penerapan peraturan agama tentang moralitas.nilai-nilai kehidupan yang perlu dipegang. Dalam pengertian religio termuat peraturan tentang kebaktian bagaimana manusia mengutuhkan hubungannya dengan 1 realitas tertinggi (vertikal) dalam penyembahan dan hubungannya secara horizontal. Karena itu menurut Hinduisme. ia harus atau terdesak secara batiniah untuk merespons. Agama Islam disebut Din dan Al-Din. 1984 : 4). Pengertian Agama Kata agama berasal dari bahasa Sansekerta dari kata a berarti tidak dan gama berarti kacau. yang berakar pada kata religare yang berarti mengikat. Pengertian itu jugalah yang terdapat dalam kata religion (bahasa Inggris) yang berasal dari kata religio (bahasa Latin). Islam juga mengadopsi kata agama.BAB II KONSEPSI TEORI A.Dalam kaitan ini ada juga yang mengartikan religare dalam arti melihat kembali kebelakang kepada hal-hal yang berkaitan dengan perbuatan tuhan yang harus diresponnya untuk menjadi pedoman dalam hidupnya. agama sebagai kata benda berfungsi memelihara integritas dari seseorang atau sekelompok orang agar hubungannya dengan realitas tertinggi. Secara fenomenologis. sebagai terjemahan dari kata Al-Din seperti yang dimaksudkan dalam Al-Qur’an surat 3 : 19 ( Zainul Arifin Abbas. agama Islam dapat . Jadi fungsi agama dalam pengertian ini memelihara integritas dari seorang atau sekelompok orang agar hubungannya dengan Tuhan. sesama manusia dan alam sekitarnya. dimaknai dan diberlakukan. sebagai lembaga Ilahi untuk memimpin manusia untuk mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat. Agama itu timbul sebagai jawaban manusia atas penampakan realitas tertinggi secara misterius yang menakutkan tapi sekaligus mempesonakan Dalam pertemuan itu manusia tidak berdiam diri. sesamanya.

Komaruddin Hidayat seperti yang dikutip oleh muhammad Wahyuni Nifis (Andito ed. 1998:47) lebih memandang agama sebagai kata kerja. B. Bodhisatwa dalam Buddhisme Mahayana. terhadap manusia dan terhadap alam semesta raya serta isinya”.dipandang sebagai Corpus syari’at yang diwajibkan oleh Tuhan yang harus dipatuhinya. Sijabat telah merumuskan agama sebagai berikut: “Agama adalah keprihatinan maha luhur dari manusia yang terungkap selaku jawabannya terhadap panggilan dari yang Maha Kuasa dan Maha Kekal. yaitu sebagai sikap keberagamaan atau kesolehan hidup berdasarkan nilai-nilai ke Tuhanan. Allah subhana wata’ala dalam Islam. Uraian Sijabat ini menekankan agama sebagai hasil refleksi manusia terhadap panggilan yang Maha Kuasa dan Maha Kekal. tapi keduanya sama-sama memandang sebagai suatu sistem keyakinan untuk mendapatkan keselamatan disini dan diseberang sana. Dengan agama orang mencapai realitas yang tertinggi. sebagai Yahweh yang diterjemahkan “Tuhan Allah” (Ulangan 6:3) dalam agama Kristen. Agama dan Budaya . Keprihatinan yang maha luhur itu diungkapkan dalam hidup manusia. alam semesta raya dengan segala isinya. Cara pandang ini membuat agama berkonotasi kata benda sebab agama dipandang sebagai himpunan doktrin. pribadi atau kelompok terhadap Tuhan. Walaupun kedua pandangan itu berbeda sebab ada yang memandang agama sebagai kata benda dan sebagai kata kerja. Pandangan itu mengatakan bahwa agama adalah suatu gerakan dari atas atau wahyu yang ditanggapi oleh manusia yang berada dibawah. karena melalui syari’at itu hubungan manusia dengan Allah menjadi utuh. Brahman dalam Hinduisme. Hasilnya diungkap dalam hidup manusia yang terwujud dalam hubungannya dengan realitas tertinggi.

Tindakan-tindakan yang dipelajari antara lain cara makan. minum. budaya dan beberapa kondisi yang objektif. berpakaian. Faktor kondisi yang objektif menyebabkan terjadinya budaya agama yang berbedabeda walaupun agama yang mengilhaminya adalah sama. bahwa wahyu membentuk suatu struktur psikologis dalam benak manusia yang membentuk pandangan hidupnya. tindakan dan hasil kerja manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar. yaitu faktor geografis. Yojachem Wach berkata tentang pengaruh agama terhadap budaya manusia yang immaterial bahwa mitologis hubungan kolektif tergantung pada pemikiran terhadap Tuhan. bertani. berbicara. ethos kerja dan pandangan hidup. ukiran. yang menjadi sarana individu atau kelompok individu yang mengarahkan tingkah laku mereka. Demikian juga ada perbedaan antara Hinduisme di Bali dengan Hinduisme di India.Budaya menurut Koentjaraningrat adalah keseluruhan sistem. Tapi kebudayaan tidak saja terdapat dalam soal teknis tapi dalam gagasan yang terdapat dalam fikiran yang kemudian terwujud dalam seni. Budaya agama tersebut akan terus tumbuh dan . bangunan. Jadi budaya juga mempengaruhi agama. Lebih tegas dikatakan Geertz. 3 Dapatlah disimpulkan bahwa budaya yang digerakkan agama timbul dari proses interaksi manusia dengan kitab yang diyakini sebagai hasil daya kreatif pemeluk suatu agama tapi dikondisikan oleh konteks hidup pelakunya. tetapi juga dalam bentuk seni suara. Buddhisme di Thailan dengan yang ada di Indonesia. Tetapi juga wahyu bukan saja menghasilkan budaya immaterial. tatanan masyarakat. menghayati dan membayangkan Tuhan. Oleh karena itu agama Kristen yang tumbuh di Sumatera Utara di Tanah Batak dengan yang di Maluku tidak begitu sama sebab masing-masing mempunyai cara-cara pengungkapannya yang berbeda-beda. Interaksi sosial dan keagamaan berpola kepada bagaimana mereka memikirkan Tuhan. gagasan. Ada juga nuansa yang membedakan Islam yang tumbuh dalam masyarakat dimana pengaruh Hinduisme adalah kuatdengan yang tidak. 2 Jadi budaya diperoleh melalui belajar. bertukang. berrelasi dalam masyarakat adalah budaya.

yang telah mewariskan nilai-nilai yang menjauhi ketamakan dan keserakahan. Lapisan ketiga adaalah agama Buddha. Solidaritas itu diungkapkan dalam kalimat Tat Twam Asi. . C. Agama dan budaya Indonesia Jika kita teliti budaya Indonesia. 4 Lapisan pertama adalah agama pribumi yang memiliki ritus-ritus yang berkaitan dengan penyembahan roh nenek moyang yang telah tiada atau lebih setingkat yaitu Dewadewa suku seperti sombaon di Tanah Batak. Oleh karena itu maka ritus mereka berkaitan dengan tari-tarian dan seni ukiran. Kaharingan di Kalimantan. Lapisan itu diwakili oleh budaya agama pribumi. struktur masyarakat. Jadi ada pluraisme budaya berdasarkan kriteria agama. agama Merapu di Sumba. seni bangunan. maka tidak dapat tidak budaya itu terdiri dari 5 lapisan. Bersama dengan itu timbul nilai pengendalian diri dan mawas diridengan menjalani 8 tata jalan keutamaan. aku adalah engkau. Hal ini terjadi karena manusia sebagai homoreligiosus merupakan insan yang berbudidaya dan dapat berkreasi dalam kebebasan menciptakan pelbagai objek realitas dan tata nilai baru berdasarkan inspirasi agama. Lapisan kedua dalah Hinduisme. Buddha. Berhubungan dengan ritus agama suku adalah berkaitan dengan para leluhur menyebabkan terdapat solidaritas keluarga yang sangat tinggi.berkembang sejalan dengan perkembangan kesejarahan dalam kondisi objektif dari kehidupan penganutnya (Andito. adat istiadat dan lain-lain.Tapi hal pokok bagi semua agama adalah bahwa agama berfungsi sebagai alat pengatur dan sekaligus membudayakannya dalam arti mengungkapkan apa yang ia percaya dalam bentuk-bentuk budaya yaitu dalam bentuk etis. Hindu. yang telah meninggalkan peradapan yang menekankan pembebasan rohani agar atman bersatu dengan Brahman maka dengan itu ada solidaritas mencari pembebasan bersama dari penindasan sosial untuk menuju kesejahteraan yang utuh.1998:282).ed. Maka dari agama pribumi bangsa Indonesia mewarisi kesenian dan estetika yang tinggi dan nilai-nilai kekeluargaan yang sangat luhur. Islam dan Kristen.

kepekaan terhadap mana yang baik dan mana yang jahat dan melakukan yang baik dan menjauhi yang jahat (amar makruf nahi munkar) berdampak pada pertumbuhan akhlak yang mulia. Masjid ini tanpa kubah. Budaya Kristen telah mempelopori pendidikan. ketaatan melakukan shalat dalam lima waktu. berbeda dengan masjid Arab umumnya yang beratap landai. Atap tiga susun itu menyimbolkan Iman. semua kelompok agama di Indonesia telah mengembangkan budaya agama untuk mensejahterakannya tanpa memandang perbedaan agama.Lapisan keempat adalah agama Islam yang telah menyumbangkan kepekaan terhadap tata tertib kehidupan melalui syari’ah. Kasih bukan suatu cetusan emosional tapi sebagai tindakan konkrit yaitu memperlakukan sesama seperti diri sendiri. Agama ini menekankan nilai kasih dalam hubungan antar manusia. Tuntutan kasih yang dikemukakan melebihi arti kasih dalam kebudayaan sebab kasih ini tidak menuntutbalasan yaitukasih tanpa syarat. Dipandang dari segi budaya. seni bernyanyi. Atas dasar kasih maka gereja-gereja telah mempelopori pendirian Panti Asuhan. benar-benar has Indonesia yang mengutamakan keselarasan dengan alam. suku dan ras. Lapisan kelima adalah agama Kristen. sedang budaya Islam antara lain telah mewariskan Masjid Agung Demak (1428) di Gelagah Wangi Jawa Tengah. 5 . Inilah hal-hal yang disumbangkan Islam dalam pembentukan budaya bangsa. Masjid ini beratap tiga susun yang khas Indonesia. Islam dan Ihsan. rumah sakit.Masjid Al-Aqsa Menara Kudus di Banten bermenaar dalam bentuk perpaduan antara Islam dan Hindu. Disamping pengembangan budaya immaterial tersebut agama-agama juga telah berhasil mengembangkan budaya material seperti candi-candi dan bihara-bihara di Jawa tengah. Masjid Rao-rao di Batu Sangkar merupakan perpaduan berbagai corak kesenian dengan hiasan-hiasan mendekati gaya India sedang atapnya dibuat dengan motif rumah Minangkabau. sekolah-sekolah dan pelayanan terhadap orang miskin. baik Katholik maupun Protestan. sebagai peninggalan budaya Hindu dan Buddha.

Tujuannya agar dalam kehidupan pluralisme keagamaan perlu dikembangkan religious literacy. Karena buta terhadap agama lain maka orang sering tertutup dan fanatik tanpa menh\ghiraukan bahwa ada yang baik dari agama lain. Kalau orang melek agama. Para pengkhotbah dapat berkhotbah dengan kesejukan dan keselarasan tanpa bertendensi menyerang dan menjelekkan agama lain. tapi karena hasil-hasil itu bukan dari golonganku. Dari segi budaya. Sikap melek agama ini membebaskan umat beragama dari sikap tingkah laku curiga antara satu dengan yang lain. untuk itu kita perlu: 1 Mengembangkan religius literacy.Kenyataan adanya legacy tersebut membuktikan bahwa agama-agama di Indonesia telah membuat manusia makin berbudaya sedang budaya adalah usaha manusia untuk menjadi manusia. maka kita merasa tidak perlu mensyukurinya. Cita-cita ini barulah dapat diwujudkan apabila setiap golongan agama menghargai legacy tersebut Tetapi yang sering terjadi adalah sebaliknya sebab kita tidak sadar tentang nilai aset itu bagi bagi pengembangan budaya Indonesia. bagaimana kita dapat menghargai monumen-monumen budaya itu sebagai milik bangsa. jika ada yang berpenderian apa yang diluar kita adalah jahat dan patut dicurigai. Karena ketidak sadaran itu maka kita melecehkan suatu golongan agama sebagai golongan yang tidak pernah berbuat apa-apa. maka orang dapat memahami ketulusan orang yang beragama dalam penyerahan diri kepada Allah dalam kesungguhan. Kalau pada waktu zaman lampau agama-agama bekerja sendiri-sendiri maka dalam zaman milenium ke 3 ini agama-agama perlu bersama-sama memelihara dan mengembangkan aset bangsa tersebut. Pengembangan religious literacy sama dengan pemberantasan buta huruf dalam pendidikan. Kitaakui bahwa selama ini penganut agama buta huruf terhadap agama diluar yang dianutnya. Kalaupun besar nilainya. . Lebih buruk lagi. yaitu sikap terbuka terhadap agama lain yaitu dengan jalan melek agama. Persoalan kita. Jadi perlu diadakan upaya pemberantasan buta agama. sebab agamaagama itu telah memberikan sesuatu bagi kita sebagai warisan yang perlu dipelihara. agama-agama di Indonesia adalah aset bangsa.

Proses masuknya Islam Ke Indonesia Berbicara tentang Islamisasi di Nusantara. Berdasarkan legacy yang tersebut sebelumnya.2. Masalah yang kita hadapi yang paling berat adalah masalah korupsi. Islamisasi di Nusantara erat kaitannya dengan sejarah Islam yang hingga kini penulisannya belum “lengkap” dan sifatnya masih parsial. Keadaan seperti ini jauh-jauh hari sudah disinyalir oleh Presiden Soekarno yang menyatakan bahwa sikap ulama Indonesia kurang atau bahkan tidak memiliki pengertian perlunya penulisan sejarah. bahwa setiap agama mempunyai modal dasar dalam menghadapi masalmasalah tersebut. Islam seperti apa yang masuk dan bagaimana bentuknya yang sekarang? Pertanyaan pertama dan kedua dapat dijawab secara teoritis melalui bukti-bukti arkeologi mutakhir yang sampai kepada kita. D. sedangkan pertanyaan berikutnya dapat dijawab melalui kacamata budaya yang masih dapat disaksikan di beberapa tempat di Nusantara. Agaknya setiap kelompok agama di Indonesia sudah waktunya bersama-sama membicarakan masalah-masalah bangsa dan penanggulangannya. seperti di Aceh. Di . Telah kita ungkapkan sebelumnya tentang legacy spiritual dari setiap agama di Indonesia. Legacy itu dapat menjadi wacana bersama menghadapi krisis-krisis Indonesia yang multi dimensi ini. pertanyaan kita adalah bilamana Islam masuk ke Nusantara dan siapa yang membawa atau menyebarkannya. Mengembangkan legacy spiritual dari agama-agama. Barus (pantai barat Sumatra Utara) dan Gresik (Jawa Timur). tetapi belum pernah ada suatu wacana bersama-sama untuk melahirkan suatu pendapat bersama yang bersifat operasional. supremasi hukum dan keadilan sosial. Hingga saat ini tidak ada satupun bukti tertulis yang secara tersurat menyatakan bahwa Islam masuk di Nusantara pada tahun atau abad sekian dan yang membawa masuk adalah si Nasruddin (misalnya). Pertanyaan kemudian. yang ditemukan di beberapa tempat di Nusantara. Kajian mengenai dugaan masuknya Islam di Nusantara hingga saat ini baru didasarkan atas bukti tertulis dari nisan kubur serta beberapa naskah yang menuliskan para pedagang Islam.

namun ada kesamaan bahwa Islam masuk ke Nusantara melalui “perantaraan” kaum saudagar.samping sikap ulama Indonesia tersebut. Ada yang berteori bahwa Islam datang dari Arab. dan rempah-rempah. Pada masa abad ke-7-10 Masehi. kemenyan. Berdasarkan ciri-ciri fisiknya. Śrīwijaya pernah menjadi pusat pengajaran agama Buddha. Dari tempat asalnya mereka membawa barangbarang kaca. para pedagang. Mereka berniaga sambil menyebarkan syi‘ar Islam. Persia. kapal yang tenggelam tersebut berasal dari sekitar abad ke-10 Masehi. Para saudagar dari tempat-tempat tersebut membawa dan mengambil komoditi perdagangan dari dan ke Nusantara. kuat dugaan bahwa Islam masuk ke Nusantara juga dibawa oleh para saudagar. Sebagian . Dari Nusantara mereka membawa hasil-hasil hutan yang laku dijual di pasaran. termasuk penyebaran agama Hindu dan Buddha. sektar tahun 2004 di perairan laut Jawa sebelah utara Cirebon ditemukan runtuhan sebuah kapal yang diduga tenggelam karena kelebihan muatan. Kendala itu antara lain kurangnya data atau sumber-sumber tertulis. Persia. Sebelum Islam ada. Berdasarkan pertanggalan keramik dan teknologi pembuatannya. dan bhiksu menyebarkan budaya India di Nusantara. dapat diduga bahwa barang-barang muatan kapal tersebut berasal dari daerah Timur Tengah. ada beberapa pendapat dengan argumennya masing-masing. bahkan ada yang menyatakan dari Tiongkok. Baru-baru ini. Mengenai darimana Islam masuk Nusantara. India. pendeta. Kemudian sesampainya di Nusantara. seperti kapur barus. Meskipun pendapat mengenai asalnya Islam berbeda-beda. dan Tiongkok. kain sutra/brokat. India. batu-batu mulia dan barang-barang perunggu. Tidak ada satupun pendapat yang pasti mengenai kapan masuknya Islam di Nusantara jika mengingat hubungan kerajaan-kerajaan di Nusantara dengan Timur Tengah. Dengan demikian. Muatannya bermacam-macam yang berasal dari berbagai tempat di luar Nusantara. barulah disebarkan oleh ulama-ulama lokal atau para wali seperti di Tanah Jawa ada Wali Songo. Hal ini sesuai dengan Hadist: “Sampaikanlah dari saya ini walau hanya satu ayat”. dan Tiongkok sudah berlangsung lama. keramik. India. serta luasnya geografis Indonesia sehingga untuk mengintegrasikan data dari berbagai daerah juga sulit. masih ada kendala lain untuk menuliskan sejarah.

Kedua tradisi tersebut bermazhab Syafi‘i. disebabkan karena dorongan pertumbuhan dan perkembangan imporium-imporium besar di ujung barat dan ujung timur benua Asia. Kedua emporium itu mungkin yang mendorong majunya pelayaran dan perdagangan Asia. Dari data tersebut kemudian akan ditarik pada budaya Islam di Nusantara dalam konteks kekinian. Data untuk bahan kajian berasal dari artefak-artefak yang ditemukan dari kapal yang tenggelam di perairan Cirebon serta data lain yang ditemukan dari hasil penelitian arkeologi. Nama Persia yang sekarang disebut Iran. ujung tongkat pendeta. Dalam tulisan singkat ini. 1. Pelayaran dan Perdagangan Sumber-sumber tertulis (sejarah) yang merupakan catatan harian dari orang-orang Tionghoa. Emporium ini merupakan kerajaan maritim yang menitik beratkan pada pengembangan pelayaran dan perdagangan. Di ujung timur Asia terdapat kekaisaran Tiongkok di bawah kekuasaan Dinasti T‘ang (618-907 Masehi). wajra. saya hendak mengungkapkan tentang salah satu cara masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara pada satu kurun waktu sekitar abad ke-10 Masehi. Pada masa kini. menurut catatan harian Tionghoa adalah Po-sse . dan Persia menginformasikan pada kita bahwa tumbuh dan berkembangnya pelayaran dan perdagangan melalui laut antara Teluk Persia dengan Tiongkok sejak abad ke-7 Masehi atau abad ke-1 Hijriah. Benda-benda ini merupakan alat-alat upacara yang dimiliki oleh kelompok pemeluk agama Buddha. genta.besar merupakan barang dagangan. dan sebagaian lagi merupakan barang-barang untuk upacara keagamaan atau benda-benda keagamaan. Namun tidak tertutup kemungkinan ada juga yang menganut tradisi Syi‘ah. India. tetapi jangan dilupakan peranan Śrīwijaya sebagai sebuah emporium yang menguasai Selat Melaka pada abad ke-7-11 Masehi. dan arca mungkin dari India. Di ujung barat terdapat emporium Muslim di bawah kekuasaan Khalifah Bani Umayyah (660-749 Masehi) kemudian Bani Abbasiyah (750-870 Masehi). Muatan kapal yang tenggelam di perairan Cirebon dapat menunjukkan asalnya. Timbul dan berkembangnya suatu aliran atau mazhab tertentu dapat tergantung darimana asalnya aliran tersebut. sebagian masyarakat yang beragama Islam di Indonesia menganut tradisi Suni. Arab.

6 Hubungan pelayaran dan perdagangan antara bangsa Arab. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya beberapa surat dari Mahārāja Śrīwijaya yang dikirimkan melalui utusan kepada Khalifah Umar ibn ‘Abd. Bukti-bukti arkeologis yang mengindikasikan kehadiran pedagang Po-sse di Kehadiran orang-orang Po-ssu bersama-sama dengan orang-orang Ta-shih di bandarbandar sepanjang tepian Selat Melaka. pantai barat Sumatera. jambangan dll di Situs Barus (pantai barat Sumatera Utara) dan situssitus di pantai timur Jambi (Muara Jambi. Orang Zoroaster dikenal oleh orang Arab sebagai orang Majus yang merupakan mayoritas penduduk Iran setelah peng Islaman. Tetapi pada tahun 720 Masehi kembali lagi ke Kanton karena kebanyakan dari kapal-kapal tersebut mengalami kerusakan. Barang-barang tersebut merupakan komoditi penting yang didatangkan dari Persia atau Timur Tengah dengan . Kemudian pada tahun 717 Masehi diberitakan pula tentang kapal-kapal India yang berlayar dari Srilanka ke Śrīwijaya dengan diiringi 35 kapal Po-sse. dan pantai timur Semenanjung Tanah Melayu sampai ke pesisir Laut Tiongkok Selatan diketahui sejak abad ke-7 Masehi atau abad ke-1 Hijriah. yaitu ke Fo-shih (Śrīwijaya). botol. Po-sse dapat juga dimaksudkan dengan orang-orang Persia yaitu orang-orang Zoroaster yang berbicara dalam bahasa Persi –orang-orang Muslim asli Iran—yang dapat pula digolongkan pada orang-orang yang disebut Ta-shih atau orangorang Arab. Al-Aziz (717-720 Masehi). Muara Sabak. Catatan harian itu mengindikasikan kehadiran orang-orang Persia di bandar-bandar di pesisir laut Tiongkok Selatan dan Nusantara. Mereka dikenal sebagai pedagang dan pelaut ulung. Sebuah catatan harian Tionghoa yang meceriterakan perjalanan pendeta Buddha I-tsing tahun 671 Masehi dengan menumpang kapal Po-sse dari Kanton ke arah selatan. Nusantara (Śrīwijaya dan Mālayu) adalah ditemukannya artefak dari gelas dan kaca berbentuk vas. dan sering pula diceriterakan sama-sama dengan sebutan Ta-shih atau Ta-shih K‘uo yang biasa diidentifikasikan dengan Arab. Isi surat tersebut antara lain tentang pemberian hadiah sebagai tanda persahabatan.atau Po-ssu yang biasa diidentifikasikan atau dikaitkan dengan kapal-kapal Persia. Lambur). Persia. dan Śrīwijaya rupa-rupanya dibarengi dengan hubungan persahabatan di antara kerajaan-kerajaan di kawasan yang berhubungan dagang.

Hasil hutan yang sangat digemari pada masa itu adalah kemenyan dan kapur barus. yaitu Qadi Sharif Amir Sayyid dari Shiraz dan Taj ad-Din dari Isfahan. Kish. tinggal dan menetap pula orang-orang Persia. Kufah. Tingginya intensitas hubungan perdagangan antara Persia dan kerajaan di Nusantara demikian tinggi. Kehadiran kerajaan Islam ini semakin mempererat hubungan antara Sumatera dan negara-negara di Arab dan Persia. Menurut kitab Sejarah Melayu. Dari proses islamisasi ini pada abad ke-13 Masehi kemudian muncul kerajaan Islam Samudera Pasai dengan sultannya yang pertama adalah Malik as-Saleh yang mangkat pada tahun 1297 Masehi. Di tempat ini timbul juga kontak . Dari Nusantara para pedagang tersebut membawa hasil bumi dan hasil hutan. Musqat. Basra. pada masa yang kemudian menimbulkan proses islamisasi. Beberapa ratus tahun sebelum Kesultanan Samudera Pasai. Hikayat Raja-raja Pasai. dan catatan harian Marco Polo yang singgah di Peurlak tahun 1292 Masehi. di wilayah Aceh sudah ada kerajaan yang bercorak Islam. yaitu Kerajaan Peurlak. Pada pertengahan abad ke-14 Masehi Ibn Batuta singgah di Pasai yang pada waktu itu diperintah oleh Sultan Malik al-Zahir. Dalam catatan hariannya disebutkan bahwa Sultan adalah seorang penganut Islam yang taat dan ia dikelilingi oleh para ulama dan dua orang Persia yang terkenal. dan Oman. Wasit. Kerajaan ini berdiri pada tahun 225 Hijriah atau 845 Masehi dengan rajanya Sultan Sayid Maulana Abdal-Aziz Syah keturunan Arab-Quraisy yang berpaham Syi‘ah. al-Ubulla.pelabuhan-pelabuhannya antara lain Siraf. Tidak mustahil di beberapa tempat yang dikunjungi pedagang Persia. tetapi juga di Asia Tenggara. Ahli-ahli tasawwuf atau kaum sufi yang datang ke Samudera Pasai dan juga ke Melaka dimana para sultan menyukai ajaran “manusia sempurna/Insan al-Kamil” mungkin sekali dari Persia. Samudera Pasai bukan hanya kerajaan Islam pertama di Nusantara. Hubungan pelayaran dan perdagangan yang kemudian dilanjutkan dengan hubungan politik.

budaya antar dua budaya yang berbeda. maupun yang bukan (intangible). sebuah benda berbentuk cumi-cumi (sotong) dari kristal. cetakan tangkup (mould) dari batu . seperti di Sumatera dan Jawa. Tinggalan budaya tersebut masih dapat ditemukan di berbagai tempat di Nusantara. bangsa Persia sedikit banyak telah berjasa dalam penyebaran dan pengembangan Islam di Nusantara. ada beberapa jenis benda yang mungkin tidak termasuk dalam barang komoditi. sejalan dengan urusan perdagangan menyebar pula agama Islam. kemudian memicu/merangsang bukan saja hubungan dagang tetapi juga berbagai bentuk hubungan dan pertukaran keagamaan. dan tidak mustahil ada juga penganut Islam Syi‘ah. dan kebudayaan. Hal ini dapat dideteksi dari adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan yang biasa dilakukan oleh kaum Syi‘ah. terutama di nusantara sebelah barat. sosial. Beberapa jenis barang tersebut adalah sebuah benda berbentuk tanduk yang dibuat dari logam berlapis emas. politik. Meskipun menganut mazhab yang berbeda dengan mayoritas penduduk Indonesia (Sunnah wal Jamaah mazhab Syafi‘i).1 Kargo Cirebon Di antara runtuhan kapal yang tenggelam di perairan Cirebon. Hal ini terbukti dengan tinggalan budayanya baik yang berupa kebendaan (tangible). 2. Tinggalan Budaya Pada sekitar abad ke-7 Masehi para pedagang Muslim dari Timur Tengah dan Persia giat melakukan aktivitas perdagangan. tetapi juga hubungan politik dan kebudayaan. bukan hubungan perdagangan semata. 2. Sebenarnya sejak abad-abad pertama terjadinya perdagangan internasional melalui laut. Berdasarkan suatu keyakinan bahwa setiap insan dalam pandangan Islam termasuk pedagang Muslim mempunyai kewajiban untuk menyampaikan ajaran Islam kepada siapapun sesuai dengan cara yang baik dan persuasif. Berawal dari pengislaman daerah pesisir Anak Benua India.

maka kalimat itu mengandung asma‘ul husna. Bidang segi empat yang bertulisan tersebut ada dua buah . Ibn Khordadhbeh. Kalau diterjemahkan secara harfiah. Semua itu dapat diketahui dari bendabenda yang disandangnya. Cetakan tangkup yang dibuat dari batusabun (soapstone) berbentuk empat persegi panjang (4. serta benda-benda perunggu yang berfungsi sebagai alat-alat upacara agama Buddha/Hindu. Orang-orang di dalam sebuah kapal merupakan satu komunitas tersendiri. Bentuk tulisan ini diduga berasal dari sekitar abad ke-9-10 Masehi yang dikembangkan di daerah Kufah pada masa pemerintahan kekhalifahan Bani Abassiyah (750-870 Masehi). seorang pejabat yang dilantik khalifah Dinasti Abassiyah pada sekitar abad ke-9 Masehi. dan ada juga penumpang biasa. Pada salah satu sisinya terdapat kalimat yang ditulis dalam aksara Arab bergaya kufik: “al-malk lillah. Sebagai seorang pejabat yang dilantik oleh Khalifah tentunya mempunyai tanda legitimasi dan atribut lain yang dibawa dan disandangnya. Buku ini berisi tentang semua pos-pos pergantian dan jumlah pajak di setiap tempat yang dikunjunginya. Dialah yang memegang kendali di kapal. dan penumpang. adalah seorang pedagang yang pernah berkunjung ke Zabag (Śrīwijaya). Ada golongan pedagang. al-wahid. al-qahhar” yang berarti “Semua kekuasaan itu milik Allah yang Maha Esa dan Maha Perkasa” dalam dua buah bingkai empat persegi. kelasi.7 cm).sabun (soapstone). Semuanya itu dipimpin oleh seorang nakhoda.2 x 6. Demikian juga penumpang kapal yang terdiri dari bermacam status sosial dan profesi. mungkin ada bangsawan dan pendeta/bhiksu. tepatnya merupakan sifat yang dimiliki mausuf (Allah) yang memiliki kekuasan. Melihat gaya tulisan kufik yang dipakai tampaknya masih kaku jika dibandingkan dengan gaya tulisan kufik pada batu nisan Malik as-Saleh (wafat 1297 Masehi) dari Samudra Pasai (Aceh). Sebuah cetakan (mould) dengan ciri-ciri antara lain tulisan digoreskan pada bidang segi empat dalam bentuk negatif. Dia menulis sebuah buku yang berjudul Kitab al-masalik wa-l-mamalik (Buku tentang Jalan-jalan dan Kerajan-kerajaan). ada nakhoda.

Saya belum dapat memastikan fungsi dari benda yang dicetak tersebut. Kalau ditelaah dari stempel yang beraksara Arab tersebut. Dalam pelayarannya ke arah timur (mungkin ke Kambangputih. Kalimat-kalimat tersebut dikelilingi bingkai empat persegi dengan hiasan titik-titik seperti umumnya terdapat pada mata-uang logam. Bagian yang membentuk corong berukuran lebar 1-3 mm. Tuban) di perairan Cirebon . kemudian permukaan lainnya lebih tinggi dari permukaan atas dua bidang segiempat. Dua tonjolan bulat yang ada pada permukaan benda tersebut. Memang dalam keyakinan Islam tidak dikenal jimat. Hasil dari logam yang dicor tersebut berupa lempengan tipis dengan kalimatkalimat asma‘ul husna yang timbul. Bagian yang berlubangnya seharusnya terdapat pada bagian tangkupan yang hilang.5 mm. Garis berpotongan tersebut mempunyai ukuran lebar 1 mm. Pada titik pertemuan kemudian melebar membentuk corong. merupakan semacam pasak pengunci agar tidak bergerak ketika proses pengecoran. Bagian yang memanjang. Apabila diperhatikan dengan seksama. tetapi bagian yang satunya tidak ditemukan. tetapi dalam kenyataannya sebagian umat Islam memandangnya sebagai jimat yang bertulisan asma‘ul husna. Dari bagian sisi bawah (dilihat dari bentuk tulisan/aksara) dari bidang segi empat tersebut terdapat garis yang bertemu pada satu titik. diduga kapal yang berasal dari pelabuhan Kufah atau Basra yang sekarang termasuk wilayah Republik Irak.dibentuk dengan cara “dikorek” sedalam kurang dari 0.5 mm. Tempat memasukan cairan pada bagian yang membentuk corong. kapal asing yang tenggelam bersama kargonya di perairan Cirebon. dapat dipotong dan dapat pula tidak. Seharusnya ada sepasang yang saling menangkup. seperti emas dan perak. Garis-garis yang bersilang dan bertemu pada satu bentuk corong merupakan tempat mengalirnya cairan logam yang memenuhi bidang segiempat. Ini berarti bahwa kapal bersama kargonya berasal dari sekitar abad ke-10 Masehi. dan dalam kurang dari 0. Di bagian atas bidang segiempat terdapat garis yang dibentuk dengan cara dikorek. Di bagian bawah bidang empat persegi. Berdasarkan perbandingan yang diketahui. benda semacam ini berfungsi sebagai jimat dengan tulisan asma‘ul husna. benda ini merupakan semacam cetakan untuk logam mulia. terdapat dua buah tonjolan yang bergaristengah sekitar 5 mm. dan tinggi sekitar 3 mm.

Berdasarkan perbandingan dengan benda yang sama dan menjadi koleksi Museum Nasional. artefak tersebut manfaatnya sangat besar bagi sejarah kebudayaan Indonesia. pegangan ini terasa tidak nyaman. benda tersebut merupakan hulu sebuah pedang. Cirinya tampak pada sebuah lubang empat persegi panjang pada bagian pangkalnya. Mungkin saja senjata tajam dengan gagangnya dari emas berhiasan ukiran ini berfungsi sebagai simbol status dari pemiliknya. Hulu pedang koleksi Museum Nasional tersebut ditemukan di Cirebon dan berasal dari sekitar abad ke-8-9 Masehi.tertimpa musibah dan tenggelam bersama kargonya. Artefak yang berbentuk tanduk pada bagian yang lurus berukuran panjang sekitar 10 cm. Bagian yang melengkung diberi hiasan berupa ukir-ukiran sulur daun. Bagian ruang nakhoda masih tampak utuh (tidak terlalu porak poranda). dan ada pula yang berasal dari Tiongkok. khususnya sejarah masuknya Islam di Indonesia. Hampir seluruh artefak yang diangkut tersebut bukan produk salah satu kerajaan di Nusantara. Bagian pangkalnya berbentuk segi delapan dengan garis tengah 4 cm. teori . Dilihat dari posisinya di dasar laut. Bagian pangkalnya berbentuk helaian teratai. Lubang empat persegi panjang ini berfungsi sebagai tempat untuk memasukan bilah senjata tajam pada pegangan. Berdasarkan sumber-sumber tertulis para sejarahwan berteori bahwa masuknya Islam di Indonesia dibawa oleh kaum pedagang Islam. Dengan ditemukannya artefak-artefak yang berasal dari negeri-negeri yang beragama Islam dalam konteksnya dengan barang dagangan. Ada kemungkinan lain artefak ini berfungsi sebagai hulu pedang (pendek). Meskipun demikian. sedangkan bagian bawah melekat pada jari-jari tangan. Pada foto tampak samar-samar lubang yang memanjang dari ujung ke bagian tengah. Bagian untuk memasukan bilah senjata berdenah bulat panjang. Ada yang berasal dari Timur Tengah dan India. Apabila difungsikan sebagaimana layaknya pedang. Benda lain yang diduga merupakan hulu pisau atau senjata tajam adalah benda dari kristal yang berbentuk seperti cumi-cumi (sotong). kapal ini tenggelam karena kelebihan muatan. Bagian atas (lihat foto) ditempatkan melekat pada telapak tangan.

Cetakan beraksara Arab dengan menyebutkan nama-nama Allah. Ada dua hal yang dapat dicermati pada batu nisan ini dan merupakan indikator Persia. Aksara yang dipahatkan pada batu nisan merupakan aksara shulus yang cirinya berbentuk segitiga pada bagian ujung. Dari Śrīwijaya yang salah satu pelabuhannya adalah Barus (Fansur). 2. Salah satu di antaranya adalah Kesultanan Samudera Pasai yang lahir pada sekitar abad ke-13 Masehi dengan sultannya yang pertama adalah Sultan Malik as-Saleh (mangkat 1297 Masehi). . para pedagang Persia dan Timur Tengah membawa kapur barus. dunia ini tidaklah kekal. dan India sebagai bahan wangi-wangian. dan getah damar. Gaya aksara jenis ini berkembang di Persia sebagai suatu karyaseni kaligrafi. dan mangkuk. piala. Komoditi perdagangan ini sangat digemari di Timur Tengah.tersebut semakin mendekati kebenaran. Persia.2 Jejak Persia Hubungan perdagangan antara Persia dan Nusantara (pada waktu itu dengan Śrīwijaya) berlangsung pada sekitar abad ke-7 Masehi. Pada waktu itu komoditi perdagangan dari Persia berupa barang-barang yang terbuat dari kaca atau gelas yang dikenal dengan sebutan Persian Glass. Berdasarkan hasil penelitian tersebut. misalnya “Sesungguhnya dunia ini fana. Pelabuhan tempat barang tersebut dikapalkan antara lain dari Siraf yang letaknya di pantai timur teluk Persia. Barus berhasil menemukan sejumlah besar temuan barang-barang kaca Persia dalam bentuk pecahan dan utuhan. Benda-benda ini berbentuk vas. karaf. benda-benda itu mungkin sekarang di tempat asalnya sudah tidak diproduksi lagi. Jejak adanya kerajaan ini dapat ditelusuri dari tinggalan budayanya yang berupa batu nisan Sultan Malik as-Saleh. Masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara melahirkan kerajaan yang bercorak Islam. Persian Glass ditemukan di situs-situs arkeologi yang diduga merupakan bekas pelabuhan kuna. Sebuah penelitian arkeologis di Situs Labo Tua. sesungguhnya dunia ini ibarat sarang laba-laba”. kemenyan. merupakan bukti kuat bahwa Islam masuk melalui “perantara” para pedagang Islam. Kalimat yang dipahatkan bernafaskan sufi.

Kudus di Kudus dsb. yaitu Sunan Gunung Jati. Sunan Ampel. namun di kalangan masyarakat di beberapa tempat di Nusantara masih ditemukan jejakjejak Syi‘ah yang semula dikenal pusatnya di Persia (Iran). merupakan satu-satunya syair bahasa Persia yang ditemukan di Asia Tenggara. Sunan Kudus. Wali Sanga jumlahnya ada sembilan orang. Muria di lereng Gunung Muria. Masjid yang dibangun adalah Masjid Demak dan Masjid Kudus. Sunan Muria. Sunan Kalijaga. Sunan Bonang. mempunyai kekuatan batin yang berlebih. dan Sunan Kudus. Di Timur Tengah dan di Persia. Sunan Muria. yaitu Sunan Kalijaga. 2. banyak ditemukan tinggalan makam para Wali dan masjid tinggalannya. Kebanyakan dari gelar-gelar ini diambil dari nama tempat mereka dimakamkan.3 Wali Sanga dan Tasawwuf Wali Sanga di tanah Jawa dikenal sebagai sembilan orang Wali-Ullah yang dianggap sebagai penyiar-penyiar terkemuka agama Islam. misalnya Gunung Jati di dekat Cirebon.Indikator Persia lain ditemukan pada batu nisan Na‘ina Husam al-Din berupa kutipan syair yang ditulis penyair kenamaan Persia. Syaikh Muslih al-din Sa‘di (1193-1292 Masehi). Sunan Drajat. dan mempunyai ilmu yang tinggi. terutama dalam hal . Mereka ini sengaja dengan giat menyebarkan dan mengajarkan pokok-pokok ajaran Islam. Batu nisan ini bentuknya indah dengan hiasan pohon yang distilir (disamarkan) dan hiasan-hiasan kaligrafi yang berisikan kutipan syair Persia dan kutipan al‘Quran II: 256 ayat Kursi. Di daerah sekitar kaki selatan Gunung Muria. Waktu penduduk tanah Jawa masih berkepercayaan lama yang percaya dengan hal-hal gaib. Drajat dekat Tuban. Dalam masa hidupnya mereka menyebarkan agama Islam di daerah tempatnya bermukim. Ditulis dalam bahasa Persia dengan aksara Arab. para wali tersebut dipercaya mempunyai kekuatan gaib. penganut Sunnah wal Jamaah dan penganut Syi‘ah tidak sepaham. Walaupun di Indonesia dikenal mazhab Syafi‘i dan menganut Sunnah wal Jamaah. dan Syekh Siti Jenar. Karena itulah mereka itu dipercaya sebagai pembawa dan penyiar agama Islam ahli dalam tasawwuf. Di wilayahnya itu mereka juga membangun masjid sebagai tempat beribadah. Sunan Giri.

Asyura di Jawa dalam sistem pertanggalan Jawa berubah menjadi bulan Suro. terutama pada dasar hukum ijma. Ratusan umat Islam Syi‘ah memenuhi Masjid al-Amanah untuk melakukan nasyid. Pada akhir upacara tabot ini kemudian dilarung di laut lepas. sedangkan Ijma dan Qiyash (= perumpamaan) tidak perlu. doa . dan hitam. Pengalengan. Asyura diistilahkan dengan Bulan Asan Usen. Di Makassar Asyura dimaknai sebagai perayaan kemenangan Islam pada zaman Nabi Muhammad SAW. misalnya:Perayaan Tabot. diarak ke pantai. Runtuhnya kesultanan Syi‘ah tidak menyurutkan ajaran yang “terlanjur” berkembang di masyarakat. Karena itulah yang kaum Syi‘ah menganggap al-Qur‘an dan Hadist saja yang menjadi dasar hukum agama Islam. hidup Husein”. namun di beberapa tempat tradisi yang biasa dilakukan umat Syi‘ah masih dapat ditemukan. Dengan adanya Ijma. Pariaman. diiringi teriakan “Hayya Husein hayya Husein” yang artinya “Hidup Husein. dan secara kontinyu dilakukan oleh kelompok masyarakat tersebut. Peringatan Hari Arbain dirayakan juga di Desa Marga Mukti. dimungkinkan yang bukan keturunan Nabi Muhammad SAW dapat menjadi Khalifah. putih. Dapat dikemukakan sebagai contoh tentang tradisi Syi‘ah. sehingga masyarakat merayakannya dengan sukacita. Jawa Barat.sumber hukum Islam (ijma= kesepakatan para alim ulama). Dalam aliran ini sudah dimulai politisasi agama. Peringatan Asyura belakangan dikenal dengan istilah “Kasan Kusen”. Di Aceh. Di Indonesia penganut Syi‘ah jumlahnya tidak banyak (sekitar 1 juta). Benda yang disebut tabot melambangkan keranda mayat. sebutan untuk bulan Muharram (bulan wafatnya Husein). Mereka membuat bubur tujuh warna dari warna dasar merah. peringatan Hari Arbain atau hari wafatnya Husein bin Ali (cucu Nabi Muhammad) oleh kaum Syiah dalam bentuk perayaan tabot (tabut). dan Aceh. Berbagai ritual Syi‘ah menjelma menjadi tradisi yang masih ditemukan di beberapa daerah di Nusatara. Kaum Syi‘ah menganggap bahwa yang berhak menjadi Khalifah adalah yang masih keturunan Nabi Muhammad SAW. Tabot dibuat dari batang pisang yang dihiasi bunga aneka warna. Perayaan Tabot masih dilakukan masyarakat pada setiap tanggal 10 Muharram di Bengkulu.

Dalam bahasa Melayu menjadi Hikayat Amir Hamzah. dan menusuk-nusuk tubuh dengan benda tajam. Kisah roman ini ditulis oleh Hamzah Fansuri.Kesusasteraan dan Bahasa Karya-karya sastra bentuk prosa dari Persia sampai pula pengaruhnya kepada kesusasteraan Indonesia. menyiramkan air keras (HCl) ke tubuhnya.persembahan kepada Imam Husein. perbedaannya terletak pada tokohtokoh pemerannya. Debus. dan wayang gedog diciptakan oleh Sunan Giri. Kedah. biasanya ditampilkan pula dalam pertunjukan wayang golek yang konon diciptakan oleh Sunan Kudus. seorang ulama Melayu penganut tasawwuf. mukjizat-mukjizat seperti makan beling. Kitab Menak pada dasarnya serupa dengan kitab Panji. Penganut Rifa‘iyah dengan debus-nya terdapat di Aceh.A. merupakan kisah roman melegenda berdasarkan tokoh Hamza ibn Abd. dan Maluku bahkan sampai masyarakat Melayu di Tanjung Harapan Afrika Selatan. . misalnya kitab Rengganis yang banyak digemari oleh masyarakat Sasak di Lombok dan Palembang. wayang kulit diciptakan oleh Sunan Kalijaga.Hikayat Amir Hamzah. Tarekat ini pandangannya lebih fanatik dengan ciri-ciri melakukan penyiksaan diri. anak-anak Khalifah Ali. E. berjalan di atas bara api. mengisahkan pertempuran Hassan dan Husein.W. seorang penasehat spiritual Sultan Iskandar Muda. Ditulis dan diterjemahkan dalam bahasa Melayu pada sekitar abad ke-15 Masehi. Tarekat ini didirikan oleh Ahmad al-Rifa‘i yang wafat pada tahun 1182 Masehi. misalnya kitab Menak yang ditulis dalam bahasa dan aksara Jawa yang semula ceritera dari Persia. Hasil kesusastraan lain yang mendapat pengaruh Syi‘ah adalah Kissah Muhammad Hanafiah. paman Nabi Muhammad S. Banten. Al-Mutalib. di medan perang Karbala. Adalah pertunjukan yang hubungannya erat dengan tarekat Rifa‘iyah. doa untuk keluarga Ali bin Abi Thalib. dan ziarah Arbain. Ceritera Menak jumlahnya tidak sedikit. Perak.Mir‘at alMu‘minin (Cerminan jiwa insan setia) yang ditulis oleh Shamsuddin as-Sumatrani. murid dan penerus Hamzah Fansuri. Ceritera-ceritera Menak dalam arti Hikayat Amir Hamzah. Cirebon.

yang dipengaruhi Islam. Bila dilihat kaitan Islam dengan budaya. Karena Islam sebagai agama memang banyak memberikan norma-norma aturan tentang kehidupan dibandingkan dengan agama-agama lain. Islam di Indonesia telah menerima akomodasi budaya. dan di Nusantara disadur menjadi Hikayat Bayan Budiman. misalnya nakhoda. Bayan Budiman.Hamzah Fansuri adalah tokoh terpenting dalam perkembangan Islam dan tasawwuf di Nusantara. bandar. terutama yang berhubungan dengan pelayaran dan perdagangan berasal dari kata-kata Persia. Di Persia ceritera itu menjadi Tuti-namĕ. Tradisi-tradisi ini seringkali juga disebut dengan center (pusat) yang dikontraskan dengan peri-feri (pinggiran). atau setidaktidaknya merupakan interpretasi yang melekat ketat pada ajaran dasar. Dalam ruang yang lebih kecil doktrin ini tercakup dalam konsepsi keimanan dan syariah-hukum Islam yang menjadi inspirasi pola pikir dan pola bertindak umat Islam. cerita yang didongengkan oleh seekor burung nuri ini berasal dari ceritera India Śukasaptati. dan Islam sebagai realitas budaya. Ia juga berjasa dalam membawa bahasa dan sastra Melayu ke tingkat baru yang lebih maju. Beberapa kosa kata. Pertemuan Islam dan Budaya Nusantara Sejak awal perkembangannya. dan gelar penguasa (raja atau sultan) dengan sebutan Shah atau Syah. yang isinya memuat pula dongeng-dongeng dari pañcatantra. Islam sebagai konsepsi budaya ini oleh para ahli sering disebut dengan great tradition (tradisi besar). paling tidak ada dua hal yang perlu diperjelas: Islam sebagai konsespsi sosial budaya. . bidang-bidang yang “Islamik”. F. 7 Tradisi besar (Islam) adalah doktrin-doktrin original Islam yang permanen. Ia adalah orang pertama yang menuliskan seluruh aspek fundamental doktrin sufi ke dalam bahasa Melayu. Pengaruh Persia dalam hal bahasa juga ada. shahbandar. sedangkan Islam sebagai realitas budaya disebut dengan little tradition (tradisi kecil) atau local tradition (tradisi local) atau juga Islamicate.

Di sisi lain budaya-budaya local yang ada di masyarakat. Dalam konteks inilah Islam sebagai agama sekaligus telah menjadi budaya masyarakat Indonesia. melainkan justru memperkayanya. yang tidak terdapat di wilayah bangsa yang membawa pengaruh budayanya. Dengan kata lain kedatangan Islam di nusantara dalam taraf-taraf tertentu memberikan andil yang cukup besar dalam pengembangan budaya local.tidak hanya dalam bidang seni.40. aturan. Wayang merupakan kesenian tradisional suku Jawa yang berasal dari agama Hindu India. . Islamicate) adalah realm of influence. aktivitas serta tindakan manusia.7. sehingga dapat dicapai suatu ciptaan baru yang unik. mempunyai kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar. mempunyai kemampuan mengintegrasi unsur budaya luar ke dalam budaya asli. tetapi juga di dalam bidang-bidang lain di dalam masyarakat Jawa. dan 1000 hari) di kalangan suku Jawa. yaitu kemampuan menyerap sambil mengadakan seleksi dan pengolahan aktif terhadap pengaruh kebudayaan asing. dan memiliki kemampuan mengendalikan dan memberikan arah pada perkembangan budaya selanjutnya. Tingkeban (nujuh Hari). Tradisi local ini mencakup unsur-unsur yang terkandung di dalam pengertian budaya yang meliputi konsep atau norma. Budaya-budaya local ini sebagian terus dikembangkan dengan mendapat warna-warna Islam. Dalam istilah lain proses akulturasi antara Islam dan Budaya local ini kemudian melahirkan apa yang dikenal dengan local genius. yaitu memberikan warna nilai-nilai Islam di dalamnya. 8 Sebagai suatu norma.kawasan-kawasan yang berada di bawah pengaruh Islam (great tradition). Dalam bidang seni.100.Tradisi kecil (tradisi local. antara budaya local dan Islam. dan berupa karya-karya yang dihasilkan masyarakat. tidak otomatis hilang dengan kehadiran Islam. Proses Islamisasi tidak menghapuskan kesenian ini. juga dijumpai proses akulturasi seperti dalam kesenian wayang di Jawa. Budaya-budaya local yang kemudian berakulturasi dengan Islam antara lain acara slametan (3. Perkembangan ini kemudian melahirkan “akulturasi budaya”. maupun segenap aktivitas masyarakat Indonesia. Pada sisi lain local genius memiliki karakteristik antara lain: mampu bertahan terhadap budaya luar. ajaran Islam telah menjadi pola anutan masyarakat.

9 Dalam perkembangan selanjutnya sebagaimana diceritakan dalam Babad Banten. Penguasa Islam di berbagai belahan nusantara telah menjalin hubungan dagang dengan bangsa Cina. Yogyakarta dan Surakarta. Aspek akulturasi budaya local dengan Islam juga dapat dilihat dalam budaya Sunda adalah dalam bidang seni vokal yang disebut seni beluk. Namun sebaliknya. Perancis dan sebagainya. Bahkan adanya resimen non-muslim yang ikut mengawal penguasa Banten. Ibukota Kerajaan Banten dan Cirebon kemudian berperan sebagai pusat kegiatan perdagangan internasional dengan ciri-ciri metropolitan di mana penduduk kota tidak hanya terdiri dari penduduk setempat. Dalam seni beluk sering dibacakan jenis . Para penguasa muslim di Banten misalnya telah memperlihatkan sikap toleransi yang besar kepada penganut agama lain. berbatu tebal.Lucazs Cardeel. Dalam bidang kerukunan. dan sebagainya benar-benar menunjukkan ciri-ciri arsitektur local. Banten kemudian berkembang menjadi sebuah kota. Misalnya dengan mengizinkan pendirian vihara dan gereja di sekitar pemukiman Cina dan Eropa. juga dapat dilisaksikan di kawasan-kawasan lain di nusantara. Penghargaan atau perlakuan yang baik tanpa membeda-bedakan latar belakang agama oleh penguasa dan masyarakat Banten terhadap umat beragama lain pada masa itu. dan kampung untuk orang Eropa seperti Inggris.Pada sisi lain. terutama dalam aspek perdagangan. antara lain Pakoja. bertiang saka. tetapi juga terdapat perkampungan-perkampunan orang-orang asing. Demikian juga dua jenis pintu gerbang bentar dan paduraksa sebagai ambang masuk masjid di Keraton Kaibon. sebagaimana di Cirebon. Pecinan. secara fisik akulturasi budaya yang bersifat material dapat dilihat misalnya: bentuk masjid Agung Banten yang beratap tumpang. “wajah asing” pun tampak sangat jelas di kompleks Masjid Agung Banten. Kraton Banten sendiri dilengkapi dengan struktur-struktur yang mencirikan prototype kraton yang bercorak Islam di Jawa. dan pendirian menara berbentuk mercu suar dihubungkan dengan nama seorang Cina: Cek-ban Cut. yakni melalui pendirian bangunan Tiamah dikaitkan dengan arsitektur buronan Portugis. Sementara esensi Islam terletak pada “ruh” fungsi masjidnya. India dan lain sebagainya sekalipun di antara mereka berbeda keyakinan. Islam di daerah Banten pada masa lalu tetap memberikan perlakuan yang sama terhadap umat beragama lain.

selesai panen padi dan peringatan hari-hari besar nasional.cirita (wawacan) tentang ketauladanan dan sikap keagamaan yang tinggi dari si tokoh. sebagaimana dinyatakan dalam sumbersumber primer Islam (misalnya Q. terutama berkenaan dengan aspek teologis (aqidah). dan daerah-daerah lainnya. Khusus di daerah Sumatera Utara.S al-Kafirun:6. tepung tawar. khitanan. Dalam masalah teologis ini Islam menarik garis demarkasi secara tegas. seperti Sumatera Barat.S. Islam tampil dengan wajah yang sangat eksklusif.al-Hujarat:13) dan sebagaimana pula yang telah dipraktikkan dalam sejarah awal pembentukan masyarakat Islam. Seringkali wawacan dari seni beluk ini berasal dari unsur budaya local pra-Islam kemudian dipadukan dengan unsur Islam seperti pada wawacan Ugin yang mengisahkan manusia yang memiliki kualitas kepribadian yang tinggi. G. Penegasan Islam ini termaktub di dalam Alquran surah Al-Ikhlas. Gambaran ideal tentang kerukunan antara umat Islam dan non-Islam sebagaimana yang dicontohkan nabi dan yang kemudian menjadi model bagi tata laku kehidupan . Akulturasi Islam dengan budaya-budaya local nusantara sebagaimana yang terjadi di Jawa didapati juga di daerah-daearah lain di luar Jawa. Aceh. Inilah doktrin sentral Islam yang kemudian disebut dengan tauhid. Karena Islam juga sangat menekankan inklusivisme. Q. Sumatera Utara. upacara selamatan syukuran lainnnya seperti kehamilan ke-7 bulan (nujuh bulan atau tingkeban). misalnya memperingati kelahiran bayi ke-4. pengakuan kemahakuasaan dan kemutlakan Tuhan serta penegasan bahwa Muhammad nabi terakhir yang diutus Tuhan bagi umat manusia di muka bumi.hari (cukuran). Kalimantan. dan surah Al-Kafirun yang tercermin dalam dua kalimah sahadah. Seni beluk kini biasa disajikan pada acaraacara selamatan atau tasyakuran. Makasar. dan Marpangir. berbeda halnya dengan wilayah-wilayah lainnya. Klaim-klaim eksklusif Islam sebagaimana tercermin dalam doktrin teologis tersebut tidak berarti umat Islam menjadi umat yang eksklusif yang menafikan pluralisme. proses akulurasi ini antara lain dapat dilihat dalam acara-acara seperti upah-upah. Eksklusivisme Islam menuju Inklusivisme Jika dalam wilayah non-teologis atau sosial kemasyarakatan Islam begitu sangat akomodatif terhadap budaya local.

Prinsip persamaan. Situasi dan kondisi yang istimewa tersebut juga dialami oleh kaum Nasrani. Sebagian mereka kemudian memeluk agama Islam. Harkat dan martabat kaumYahudipun kemudian terangkat dari sekedar klien kesukuan menjadi warga negara yang sah sebagaimana yang dialami oleh kaum muslimin. Tidak ada perbedaan perlakuan antara keduanya.bermasyarakat dan bernegara ini secara original dapat dilihat dalam butir-butir “Piagam Madinah”. Dalam bingkai negara Madinah inilah kaum Yahudi dapat menjalankan ajaran agamanya sesuai dengan ajaran Taurat. sebagaimana halnya yang dialami oleh kaum Yahudi. Praktik kerukunan sebagaimana yang dicontohkan nabi Muhammad diteruskan oleh para sahabat nabi sebagaimana yang dilakukan Umar bin Khattab ketika melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah Bizantium Kristen. Dalam piagam ini hak-hak penganut agama Yahudi untuk hidup berdampingan secara damai dengan umat Islam dinyataan secara tegas. negara Madinah juga menjamin dan memikul tanggung jawab tentang ke-Yahudian itu. mayoritas penduduk di dalam entitas politik Muslim adalah penganut Kisten. Delegasi mereka ini diterima dengan baik oleh Nabi. terutama pasca “futuhat” Makkah. Perlakuan negara Madinah yang demikian adil tanpa diskriminasi. sementara yang lain tetap pada keyakinan agamanya di dalam kerangka negara Islam. Nabi kemudian mengukuhkan posisi mereka sebagai ummah yang khas. Posisi demikian ini tidak pernah dimiliki kaum Yahudi sejak invasi Babilonia pada 586 SM. Umar mengadakan perjanjian dengan uskup setempat yang berisi tentang jaminan Islam akan eksistensi Kristen di dalam kekuasaan Islam11. Situasi demikian tidak mereka dapati . Ketika wilayah ini ditaklukkan. Tidak hanya itu. khususnya terhadap komunitas Yahudi ini mengantarkan peradaban Yahudi dengan berbagai aspeknya mencapai masa “keemasannya” di bawah pemerintahan Islam. Bahkan pada abad-abad pertama hijriah. keadilan dan kebebasan yang diberikan oleh penguasa Islam kepada umat-umat lain ini yang kemudian menyebabkan umat Kristen tumbuh dan berkembang secara luas. Kaum Kristen Najran Yaman mendatangi Nabi untuk memperjelas posisi mereka vis-à-vis negara Islam.

Dalam tahapan perkembangan kebudayaan Islam dengan segenap aspeknya hampir selalu berpijak pada akar kerukunan. Karena sejak abad IX M telah mulai tampak benih-benih ketidakharmonisan itu. Para teolog muslim misalnya mempelajari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru untuk menyanggah Ketuhaan Yesus. Dialog-dialog tersebut umumnya dilaksanakan di istana-istana para penguasa muslim. dan penyalipan Yesus. seperti di anak Benua India. Di wilayah ini para penganut. Hubungan antara Islam dan Kristen selama masa tersebut memang tidak selalu berjalan dalam keadaan ko-eksistensi damai. sekalipun saling pengertian dan kerukunan timbal balik tidak berkembang sebagaimana yang diharapkan. kaum Nasrani mempelajari Islam hanya untuk membuktikan bahwa Islam hanyalah agama bidat dan anti Kristus. Sementara di pihak lain. Hindu dan Budha mendapat hak yang sama sebagaimana yang diperoleh kaum Yahudi dan Nasrani.pada masa-masa sebelumnya seperti pada masa kekuasaan Roma Kristen maupun Bizantium Yunani. Hal ini disebabkan antara lain perkembangan sosial . Hal ini membuktikan bahwa prinsip toleransi atau kerukunan tetap menjadi pegangan bagi para penguasa muslim. Perkembangan sains dan teknologi pada masa Abbasiyah yang melahirkan berbagai cabang ilmu pengetahuan diawali dengan keterlibatan ahli-ahli dari non Islam yang diawali dengan proses penterjemahan besarbesaran seperti dari Nasrani dan Persia. serta menuduh kaum Nasrani telah menyelewengkan kitab sucinya. Bahkan perkembangan peradaban Islam yang mencapai puncaknya pada masa Abbasiyah antara lain disebabkan oleh pengembangan teologi kerukunan ini. Hal ini disebabkan masih adanya prasangka-prasangka negatif dari masing-masing pihak. Sementara itu dialog-dialog ataupun tukar fikiran antara kaum Nasrani dengan umat Islam sebagaimana dicatat Annemarie Schimmel juga sudah mulai berjalan. Prinsip prinsip luhur kerukunan tersebut juga dapat dijumpai pada hampir di wilayah-wilayah kekuasaan Islam lainnya. masyarakat tetap berada pada keyakinan semula. Sukar dibayangkan bahwa kemajuan ilmu dan peradaban Islam tanpa peran serta dari penganut umat beragama lain. Ketika kekuasaan Islam berakhir.

perbedaan lain yang menempatkan Islam sebagai ajaran eksklusif adalah ajaran Islam tentang larangan memakan hewan tertentu. Demikian pula doktrin tentang kerasulan Muhammad. sehingga sulit untuk disatukan. Kedua agama ini masing-masing tidak mengakui adanya keselamatan di luar agamanya. sementara Islam justru menganjurkannya sebagai binatang kurban.(Q.politik di dalam kekuasaan Islam sendiri yang telah memperlihatkan perpecahan. Misalnya perbedaan antara Islam dan Kristen tentang Ketuhanan Yesus. Perbedaan doktinal antara Kristen dan Islam tidak selalu mudah untuk didamaikan. Selain perbedaan-perbedaan doctrinal secara teologis. melainkan adanya saling memahami dan saling .(Q. Sementara umat Kristiani penyaliban Yesus sebagai sesuatu keyakinan yang sudah final. Umat Islam meyakini bahwa Muhammad sebagai Nabi terakhir. Inilah beberapa prinsip fundamental yang membedakan keduanya.S. agama dan budaya harus dapat menjadi instrumen bagi pengembangan kebudayaan dan budaya seharusnya dapat berjalan seiring dalam rangka memperkuat kerukunan antar umat beragama Jadi kerukunan beragama bukanlah berarti penyatuan konsep-konsep teologis sentral dari masing-masing agama. Pihak Islam umumnya meyakini bahwa tidak ada penyaliban terhadapYesus (nabi Isa). terutama Kristen larangan tentang memakan hewan tertentu (babi dan anjing) tidak ada. Dengan demikian. Ketidakstabilan dalam bidang politik ini pada gilirannya mengganggu hubungan IslamKristen. Perbedaan merupakan realitas kehidupan manusia yang sengaja diciptakan Tuhan agar umat manusia berlomba-lomba menjadi yang terbaik.al-Maidah:3).bahkan mungkin dianggap sebagai sesuatu yang musykil. Sementara dalam agama lain.Ajaran ini bagi Islam tidak bisa ditawar-tawar lagi sebagai hal yang mutlak yang harus dipatuhi.49:13) Karena jika Tuhan berkehendak. khususnya tentang penyalibannya. Di pihak lain agama Hindu (India) ada larangan untuk memakan hewan tertentu. akan tetapi umat Kristen tidak mengakui hal ini. tentu ia akan menjadikan umat manusia menjadi satu umat saja tanpa perbedaan satu sama lain. misalnya binatang sapi.S.

Hal inilah yang dilakukan umat Islam pada masa itu sehingga melahirkan kebudayaan yang sangat tinggi yang dikenal dengan zaman keemasan Islam yang mencapai puncaknya pada masa Abbasiyah. Kerukunan dalam arti penyatuan hanya bisa dimungkinkan pada wilayah-wilayah non teologis. BAB III STUDI KASUS Keragaman budaya menjadi salah satu ciri utama yang dimiliki masyarakat Indonesia. Di setiap penjuru nusantara ini. Ketidaksamaan itu kini tidak lagi memonopoli perkotaan besar yang biasanya menjadi tempat bermuaranya berbagai macam budaya dan agama.pengertian terhadap adanya perbedaan-perbedaan doctrinal mendasar itu. keragaman itu tetap ada. bahkan nampak semakin bertambah. Dari zaman ketika kerajaan-kerajaan masih hadir menghidupi ruang sejarah negeri ini hingga era modern seperti kini. seperti sosial budaya dengan segenap unsur-unsur di dalamnya. telah diisi dengan berbagai rupa-rupa yang berbeda begitulah Indonesia . Kerukunan dalam makna inilah yang disebut dengan akulturasi budaya.

namun setidaknya Islam Jawa memiliki karakteristik tertentu di antara yang lain. Seorang tokoh keramat bagi masyarakat setempat. Di akar budaya yang dimiliki oleh golongan ini.perjalanan panjang sebagai sebuah bangsa yang majemuk. meskipun hal ini tidak mutlak dapat dijadikan pijakan. Nuansa kedua unsure ini begitu kental. dan priyayi. Bahkan dalam pertemuan antara Islam dan budaya Jawa dalam diri mereka terlihat begitu mesra. Proses asimilasi atau akulturasi sering nampak dalam gerak-gerak praktis nuansa kehidupan yang ada di dalamnya. Gerusan-gerusan yang mungkin dapat dikatakan sebagai sinkretisme budaya ini berjalan pelan dan akhirnya menjadi sinergi. Yang kemungkinan bisa muncul adalah intersubjektifitas dari sebuah fenomena. dan lagi-lagi itu membawa kebenarannya sendiri. Meskipun banyak mendapat kritik. Contoh menarik adalah peringatan tahun baru 1429 hijriah beberapa waktu lalu di daerah Sragen. Dengan sampling masyarakat Islam Mojokuto. dalam beberapa hal saya piker Gertz memang benar. Keunikan Islam Jawa menurut tesis Gertz menurut saya terletak pada gerak spritualitas yang dilakukan oleh Golongan Abangan. Baik unsure Islam maupun Jawa. santri. membekaskan sebuah citraan pada diri tubuh multikultur ini. Gertz berkesimpulan bahwa Islam Jawa memiliki tiga strata dalam praktiknya. abangan. bercampur memunculkan satu tradisi baru yang tidak meninggalkan akar rumput yang dimilikinya. Sejarah pasti budaya memohon berkah di tempat ini masih nampak kabur. Bukankah studi antropologi memang tidak pernah menyatakan adanya objektifitas dalam hasil yang diperoleh. Sebut saja misalnya budaya Islam Jawa. Gerak hidup Islam di Jawa memiliki keunikan tersendiri disbanding dengan Islam lainnya di negeri ini. kekerasan budaya tidaklah nampak begitu menonjol. Bahkan Gertz seorang antropolog terkenal dunia sampai melakukan studi penelitian dalam waktu cukup lama untuk membaca wajah Islam di Jawa. Acara menarik itu dilakukan di komplek makam Pangeran Samudera. Yang jelas budaya ini ada sebagai bentuk akulturasi budaya Jawa dan Islam. Indonesia merupakan salah satu tempat bersinggungan berbagai macam budaya dan agama. . Jawa Tengah. terlihat ada saling mengerti. Begitulah kiranya Gertz yang mampu membaca Islam Jawa dari sudut pandang yang tak tentu sama dengan kita.

Tujuh air ini ditempatkan di tujuh tong yang berbeda. Di waduk yang juga dianggap keramat ini. Kegiatan rutin yang dilakukan setiap pergantian tahun baru Jawa maupun Islam yang memang diperingati berbarengan Pergantian selambu makam ini menjadi menarik karena serangkaian ceremonial yang ada di dalamnya. . disinilah bentuk akulturasi itu muncul. kain inipun segera dibawa kembali ke komplek makam. Ketika selambu telah selesai dibasahi dengan air Waduk ini. Tetesan air itu biasanya digunakan untuk mengusap wajah atau bagian tubuh lainnya. Acara diakhiri dengan do’a yang bernafaskan Islam. Setelah selambu menyelubungi makam selama setahun dibuka. Ritual semacam ini yang sebelum kedatangan Islam diisi dengan do’a-do’a Hindu atau Budha. selambu tadi dicelupkan. satu lambing penyucian diri seperti halnya tubuh manusia yang perlu dibersihkan. Biasanya para warga yang mengharapkan berkah. setelah Islam dating diganti dengan do’a-do’a yang bersumber dari kitab suci Islam. Air yang digunakan untuk membilas selambu ini. Ketika sampai kembali ke komplek makam. segera berebut tetesan air selambu yang baru saja direndam tadi. acara berikut dilanjutkan dengan ritual pembilasan. Dan secara bergantian ketujuh tong tadi menjadi tempat pembilasan selambu. adalah air yang berasal dari tujuh mata air disekitar komplek makam Pangeran Samudera.Acara itu sendiri merupakan ritual pergantian selambu yang menyelubungi makam Pangeran Samudera. acara dilanjutkan ke Waduk Kedung Ombo.

seperti mesjid Agung Demak. tetapi kemudian muncul mesjid. yang bentuk dasarnya sudah dikenal pada masa sebelumnya sebagaimana tampak pada beberapa relief candi. seperti menara di Masjid Menara di Kudus. mengembangkan ragam hias flora dan geometris.BAB IV ANALISIS DAN KESIMPULAN Masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia membawa perubahan-perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. karenanya tercipta nisan. dan juga cungkub. sehingga terjadi pula kesinambungan-kesinambungan yang inovatif sifatnya. Nisan makam-makam tertua di Jawa. Demikian pula menara mesjid tempat muazin menyerukan azan. System kasta di dalam masyarakat dihapus. seperti makam Fatimah bin Maimun dan Makam Malik Ibrahim. dan hiasan relief diganti dengan tempelan piring porselin. pada sisi lain budaya tidak dapat dikotak-kotakkan. Bangunan makam Islam merupakan hal baru di Indnesia kala itu. Candi dan petirtaan tidak dibangun lagi. sebagaimana tampak dari gaya . surau. Bagian kepalanya berupa bangunan terbuka. Para seniman ukir kemudian menekuni pembuatan kaligrafi. menurut penelitian merupakan benda yang diimpr dalam bentuk jadi. bahkan pada abad XVII M Sultan Agung memunculkan kalender Caka dan Hijriah. tetapi detailnya berbeda. arca dewa-dewa serta bentuk-bentuk zoomorphic tidak lagi dibuat. dan makam. serta melahirkan ragam hias stiliran. dalam berbagai bentuk karya seni. Masjid dan cunggup makam mengambil bentuk atap tumpang. jirat. Bentuk dasarnya tidak jauh berbeda dari candi gaya Jawa Timur yang langsing dan tinggi. relung-relungnya dangkal karena tidak berisi arca. Akan tetapi. Kota-kota mempunyai komponen dan tata ruang baru.

Tidak dipungkiri bahwa selama itu tentu terjadi ketegangan serta konflik. Prasejarah. serta pemukiman penduduk yang juga diatur berkelompok-kelompok sesuai dengan jenis pekerjaan. dan Islam (kemudian juga kebudayaan Barat) terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Factor pendukung terjadinya akulturasi adalah kesetaraan serta kelenturan kebudayaan pemberi dan penerima. Di dalam proses itu terjadi percampuran unsure-unsur kedua kebudayaan yang bertemu tersebut. Salah satu contohnya adalah bangunan mesjid. kraton. Di civic centre kota-kota tersebut ada alun-alun. Rupanya proses seperti diuraikan di atas berulang kali terjadi di Indonesia. Akulturasi juga memicu kreativitas seniman. patra. sehingga tercipta hasil-hasil budaya baru yang sebelumnya belum pernah ada. dsb. Bahkan di pemakaman raja-raja Binamu di Jeneponto (Sulawesi Selatan) di atas jirat ada patung orang yang dimakamkan. dan status social. suatu kebudayaan memang lazim mengalami perubahan dan perkembangan. dalam hal ini kebudayaan Islam dan pra-Islam. Akan tetapi hal tersebut adalah bagian dari proses menuju akulturasi. Namun. dan bertahap. Mula-mula unsureunsurnya masih dapat dikenali dengan mudah. Pertemuan dan akulturasi antara kebudayaan Hindu-Budha. dan pasar yang ditata menurut pola tertentu. Oleh karena itu. terutama kota kerajaan di jawa. tetapi lama-kelamaan akan muncul sifatsifat baru yang tidak ada dalam kebudayaan induknya. asal. Pada tata kota. misalnya lengkung kurawal. Hubungan antara para pendukung dua kebudayaan yang berbeda dalam waktu yang lama mengakibatkan terjadinya akulturasi. yang mencerminkan adanya pihak pemberi dan penerima.tulisan Arab pada prasastinya dan jenis ornamentasi yang digunakan. juga way of life baru. Di dalam perjalanannya. Perubahan itu terjadi karena ada kontak dengan kebudayaan lain. Di sekelilingnya terdapat bangunan-bangunan lain. nisan makam-makam berikutnya dibuat di Indonesia oleh seniman-seniman setempat. corak kebudayaan di suatu daerah berbeda-beda dari jaman ke jaman. termasuk ketika Islam masuk dan berkembang di Indonesia. juga dapat dilihat adanya perubahan dan kesinambungan. atau dengan kata lain karena ada kekuatan dari luar. masjid agung. Hal ini antara lain tampak dari ragam hias yang digunakan. . Ini adalah suatu hal yang tidak pernah terjadi di tempat lain.

agama. dan kesusasteraan. Keadaan seperti ini sudah “tercipta” sejak masa awal kedatangan Islam di Nusantara. kemudian berdampak pada pemikiran keagamaan terutama sufisme atau tasawwuf dengan tarekat-tarekatnya. terutama karena kurangnya kepedulian dan pengertian masyarakat Indonesia sendiri. harus dilakukan pengelolaan yang terintegrasi atas warisan-warisan budaya Indonesia. tetapi tanpa meninggalkan kearifan-kearifan yang sudah dihasilkan. Selain itu berdampak juga pada unsur-unsur kebudayaan. seperti arkeologi dan sejarah. Namun. Para penyiar . Supaya mata rantai-mata rantai tersebut tetap kelihatan nyata. Hasil akulturasi juga memperlihatkan adanya mata rantai-mata rantai dalam perkembangan kebudayaan Indonesia. tetap dengan cirri-ciri tersendiri. Semua ini memerlukan penelitian dari berbagai disiplin ilmu-ilmu humaniora dan sosial. Di Tanah Air umat Islam dari berbagai aliran dapat hidup rukun. Ada satu hal yang patut kita syukuri dalam kehidupan beragama di Tanah Air Indonesia. Dalam hal budaya materi memang harus dilakukan pengembangan-pengembangan sesuai dengan kemajuan teknologi. antropologi. Hasil akulturasi menunjukkan bahwa Islam memperkaya kebudayaan yang sudah ada dengan menunjukkan kesinambungan. Dalam susastra dan bahasa beberapa karya sastra yang berbau Sufi dan kosa kata Persia diadopsi pada karya sastra Melayu dan kosa kata dalam bahasa Indonesia.Setelah mengetahui bahwa terjadi akulturasi dan perubahan sehingga terbentuk kebudayaan Indonesia-Islam. supaya tidak terjadi stagnasi. Dari hubungan perdagangan ini. linguistik. Mungkin masih banyak lagi unsur kebudayaan lainnya yang belum terekam dalam kehidupan bangsa Indonesia yang mendapat pengaruh Persia. Beberapa tradisi Syi‘ah dan tarekatnya masih tetap dipelihara oleh kelompok masyarakat tertentu di Indonesia. sosiologi. maka perlu dipikirkan bagaimana pengembangannya pada masa kini dan masa mendatang. Hal ini perlu dikemukakan dan ditekankan. Hubungan perdagangan antara kerajaan-kerajaan di Nusantara dengan Persia (Iran) diduga sudah berlangsung sejak abad ke-7 Masehi atau abad ke-1 Hijriah. mengingat banyak warisan budaya yang terancam keberadaannya.

Pustaka Jaya: Jakarta Geertz. Menemukan Peradaban Islam: Arkeologi dan Islam di Indonesia: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional: Jakarta Koentjaraningrat. Sejarah Peradaban Islam. Sejarah Umat Islam IV. 1998. 2006. kita lihat bagaimana Libanon. dan Afghanistan sampai hancur-hancuran sebagai akibat pertikaian sesama umat Islam yang mungkin disebabkan karena adu domba pihak lain. Clifford. Ng. DAFTAR PUSTAKA • • Poerbatjaraka. Yayasan Pembangunan: Jakarta Azyumardi Azra. Masalah dan Pemikiran. Kanisius: Yogyakarta Andito. Penelitian Agama. 1999. misalnya Wali Sanga menyampaikan syiar Islam dengan cara menggunakan sarana wayang. Konteks Berteologi di Indonesia: Pengalaman Islam. Irak. Pengertian Local Genius dan Relevansinya Dalam Modernisasi.agama melakukan penyampaian dengan cara persuasif dan menyesuaikan dengan budaya setempat. 1982. Tidak ada sedikitpun unsur pemaksaan. Raja Grafindo Persada: Jakarta Hamka. Atas Nama Agama. Sementara itu di belahan dunia lain. Wacana Agama Dalam Dialog Bebas Konflik. 1952. 71 . Kebudayaan dan Agama. Riwayat Indonesia I. hal. Penelitian Agama. Pustaka Hidayah: Bandung Mulyono Sumardi. “Kepribadian Budaya Bangsa (local genius)”. Paramadina: Jakarta Hasan Muarif Ambary. 1992. 1975. 1986. Pokok-Pokok Antropologi Sosial. 1998. Masalah dan Pemikiran. 1980. Penerbitan Universitas: Jakarta Soerjanto Poespowardoyo. Bulan Bintang: Jakarta • • • • • • • • 1 Mulyono Sumardi. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta Badri Yatim. R.

209. Atas Nama Agama. 28 9 Hasan Muarif Ambary.2 Koentjaraningrat. 1992. Konteks Berteologi di Indonesia: Pengalaman Islam. hal. Menemukan Peradaban Islam: Arkeologi dan Islam di Indonesia. hlm. 77-79 5 Tule. hlm. 13. 1952. kepribadian budaya bangsa (local genius). 31-32 7 Azyumardi Azra. Riwayat Indonesia I. 13 4 Andito. Pengantar Ilmu Antropologi. hal. ed Agama-agama. Ng. hlm. Philipus. hlm. 6 Poerbatjaraka. Pengertian Local Genius dan Relevansinya dalam modernisasi. 8 Soejanto Poespowardojo. hlm. 1998. 159. R. Kebudayaan dan Agama. . Wacana Agama Dalam Dialog Bebas Konflik. Wilhelmus Julie. 170 3 Geertz. Clifford. Kerabat Dalam Semesta. hlm.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->