Anda di halaman 1dari 3

BAB 2 Dasar Teori

2.1 Prinsip Dasar Lumpur pemboran menurut definisi API adalah fluida sirkulasi yang digunakan dalam pemboran dan memiliki peranan yang penting dalam proses pengeboran itu sendiri. Lumpur pemboran terbagi menjadi : 1. Fresh water mud 2. Oil base mud 3. Gaseous drilling mud 2.2. Jenis Lumpur Pemboran Menurut jenis fluida yang digunakan untuk melarutkan material clay hingga membentuk fasekoloid maka lumpur pengeboran dibagi menjadi : a) Fresh water mud: merupakan lumpur dengan air tawar (Kadar garam 10000 ppm = 1% berat garam )sebagai fasa kontinyu 65% berat bobot dan clay sebagai pembentuk mud itu sendiri. b) Salt water mud: Lumpur ini digunakan untuk membor garam massive (salt dome) atau salt stringer(lapisan formasi garam) dan kadang-kadang bila ada aliran garam yang terbor. Filtrasi loss dan mud cake pada lumpur ini sangat besar bila tidak ditambah koloid organik, pH lumpur dibawah 8, karena itu perlu pengawet untuk menahan fermentasi strach bila pH naik, fermentasi tertahan oleh basa suspensi dan dapat diperbaiki dengan mengganti bentonite dengan attapulgite. c) Oil basae mud: lumpur yang terbuat dari minyak ssebagai fasa kontinu dan attapulgite sebagai pengganti bentonite memiliki kadar air dibawah 3-5% volume untuk mengontrol viscositas, menaikkan gel strength, efek kontainasi, untuk menaikkan gel strength perlu ditambahkan zat kimia. Manfaat oil base mud adalah pada completion dan workover sumur. Kegunaan lain adalah untuk melepaskan drill pipe yang terjepit dan mempermudah pemasangan casing dan liner. d) Gaseous drilling mud: adalah lumpur yang dibuat dengan udara atau gas sebagai fasa kontinu dan air sebagai fasa dispersant dibawah 5% volume total, lumpur ini digunakan pada pemboran yang memiliki kondisi air yang sangat minim dan serta pemboran pada jenis batuan keras dan bertemperatur tinggi. Jenis lumpur Udara kering/ Gas Aerated mud kegunaan Lumpur berbahan dasar udara Membor formasi keras Membor formasi loss Lumpur berbahan dasar air Kelebihan/Kekurangan -Meningkatkan laju penembusan -Kerusakan formasi yang kecil

Spud mud yang murah Tanpa sistem pemberat Kondisi basa untuk sistem yang lebih rumit Lignite/Lignosulfonate (dispersed) Kontrol filtrasi loss sangat toleran terhadap kontaminasi Dapat dipakai pada berat berbeda Membor formasi shale yang Reaktif

Merupakan sistim serbaguna Produk siap pakai Sistim dasar

Mudah untuk dirawat Mengurangi laju penembusan

Inhibitive (garam) Polimer

Mengontrol reaksi kimia pada shale Memperbaiki laju penembusan lumpur berbahan dasar minyak Membor batuan shale yang sensitif terhadap air Membor formasi aquifier Mengurangi potensi pipa terjepit Lingkungan yang korosif Temperatur bdasar sumur yang tinggi Sistem lumpur yang inhabit Memperbaiki laju penembusan Formasi yang stabil Mengurangi torsi dan drag Masalah lingkungan Harga yang tinggi Masalah saat Logging/cementing

Minyak disel dan Minyak sintetis

Jenis lumpur

kegunaan Lumpur berbahan dasar udara

Kelebihan/Kekurangan

Udara kering/ Gas uap Busa Aerated mud

Membor formasi keras Membor formasi loss

Meningkatkan laju penembusan Kerusakan formasi yang kecil Gas yang menerus / deteksi minyak

Lumpur berbahan dasar air Native gel Bentonite Bentonite/ chemical Spud mud yang murah Tanpa sistem pemberat Kondisi basa untuk sistem yang lebih rumit Merupakan sistim serbaguna Produk siap pakai Sistim dasar

Lignite/ Lignosulfonate (dispersed)

Kontrol filtrasi loss sangat toleran terhadap kontaminasi Dapat dipakai pada berat berbeda

Mudah untuk dirawat Mengurangi laju penembusan

2.3. Kegunaan lumpur pemboran