Anda di halaman 1dari 11

Sistem-sistem utama dari rig pengeboran (drilling rig) terdiri dari : 1. Sistem pengkerekan (hoisting system) 2.

Sistem pemutaran (rotating system) 3. Sistem sirkulasi (circulating system) 4. Sistem tenaga (power system) 5. Sistem pencegahan peluapan (blowout prevention system) 1. Sistem pengkerekan (hoisting system) Sistem ini mendukung sistem pemutaran dalam melakukan pengeboran, dengan menyediakan peralatan dan area yang sesuai untuk mengangkat (lifting), menurunkan (lowering) serta menggantung (suspending) beban yang sangat besar yang diperlukan untuk sistem pemutaran. 2. Sistem pemutaran (rotating system) Sistem ini memutar batang bor (drill stem) dan mata bor (drill bit) untuk membuat lubang sumur (well bore) di dalam bumi hingga memasuki formasi yang potensial untuk berproduksi. 3. Sistem sirkulasi (circulating system) Sistem ini mendukung sistem pemutaran dengan menyediakan peralatan, material dan area kerja untuk menyiapkan, memelihara, dan memperbaiki kelangsungan dari sistem sirkulasi dan operasi pengeboran berputar. Fluida untuk pengeboran dikenal dengan nama lumpur. Pengantar Lumpur Pengeboran

Secara umum lumpur pengeboran memiliki empat komponen atau fasa : 1. 2. 3. 4. fasa cair (air atau minyak) padatan reaktif yang bereaksi dengan air membentuk koloid padatan inert yaitu yang tidak bereaksi fasa kimia

Fasa cair :

minyak atau air (tawar atau asin) 75% lumpur pengeboran menggunakan air apabila kandungan minyak lebih dari 95% maka disebut oil based apabila kandungan minyak 50-70% dalam fasa kontinu, lumpur disebut invert-emulsion

Padatan Reaktif :

koloid air tawar (Bentonite) atau air asin (attapulgite) jumlah barrel lumpur yang dihasilkan dari satu ton clay agar viskositas 15 cp disebut yield Bentonite rata-rata memiliki yield 100.

Padatan Inert :

Barite (BaSO4) atau galena (bijih besi) untuk menaikkan densitas lumpur berasal juga dari formasi yang dibor dan terbawa lumpur. Padatan ini perlu dibuang secepat mungkin karena dapat menyebabkan abrasi dan kerusakan pompa

Fasa Kimia :

digunakan untuk mengontrol sifat-sifat lumpur seperti dispersi, flokulasi, menurunkan viscositas, mengurangi water loss contohnya untuk menurunkan viscositas adalah surfactant untuk menaikkan viscositas adalah CMC, Starch dan beberapa senyawa polymer

Kick dan Pengendalian Sumur (Well Control)

Tekanan formasi pada satu kedalaman adalah setimbang atau sedikit lebih ditahan oleh tekanan hidrostatik dari lumpur pengeboran. Apapun dari formasi tidak keluar dari tempatnya. Akan tetapi bila tekanan formasi sudah mengalahkan tekanan hidrostatik dari lumpur maka apapun yang ada didalam batuan dapat keluar ke lubang sumur. Pada tahap ini, kick masih dapat dikendalikan. Tidak perlu panik, hanya saja perlu sedikit kuatir. Manakala blowout, tidak terdeteksi hingga saatnya sudah terlambat, cairan kick sudah keluar dari lubang dan sumur tidak dapat lagi dikendalikan. Peralatan dan teknik terkini seharusnya sudah bisa mencegah blowout, tapi nyatanya tetap bisa terjadi. Berikut ini adalah penyebab dari terjadinya kick : 1. kepadatan dari cairan pengeboran terlampau rendah 2. gagal untuk mengisi lubang secukupnya. Perhatikan, terlebih pada saat trips. 3. menurunnya tekanan hidrostatik ketika pipa dicabut swabbing effect 4. menurunnya tekanan hidrostatik dikarenakan cairan pengeboran masuk ke formasi atau yang dsebut sebagai loss of circulation. 5. mengebor memasuki daerah permeabel yang memiliki tekanan yang abnormal Sifat-sifat fisik dari suatu kick: ketika cairan formasi memasuki lubang sumur dengan kelajuan yang bergantung pada permeabilitas dari formasi, sepanjang zone permeabel tersebut menjadi terekspos sehingga terbentuk perbedaan tekanan antara formasi dengan lubang sumur. Cairan kick tadi memasuki kolom lumpur, gas yang tadinya sedikit begitu mengalir akan mengalami ekspansi. Ekspansi gelembung gas ini akan mengotori sebagian besar dari kolom lumpur sedemikian hingga mengurangi tekanan hidrostatik yang pada gilirannya mengakibatkan semakin banyaknya cairan formasi yang mengalir keluar. Jika tidak diperiksa, cairan formasi akan menendang lumpur,

hingga meniadakan sama sekali tekanan hidrostatik. Manakala sudah tidak ada lagi yang menahan cairan formasi maka sudah terjadi blowout. Bagaimana cara mendeteksi blowout? Apabila lumpur yang kembali dari lubang, lebih laju daripada lumpur yang masuk ke lubang (flow out > flow in), waspadalah. Selagi mengebor, perhatikan setiap kenaikan laju alir yang melalui jalur kembalinya lumpur atau setiap kenaikan yang tidak diharapkan pada level kolam lumpur. Jangan menunggu hingga kolam lumpur tumpah atau lumpur keluar dari kelly bushing. Bila itu terjadi maka sudah terlambat. Banyaknya kick = penambahan pada kolam lumpur (pit) Ketika mencabut pipa, tambahkan lumpur secukupnya untuk menggantikan volume pipa yang dicabut. Setelah mendeteksi kick, apa yang harus dilakukan Naikkan kelly, matikan pompa dan tutup BOP. Pompakan lumpur berat untuk kick mud.

Pengantar kepada Operasi Pengeboran

Pengeboran dilakukan dengan gaya putar dan gaya tekan (atau compression, yang dikenal dengan weight on bit WOB). Weight on bit diberikan oleh rangkaian pengeboran itu sendiri yaitu sepertiga bagian dari bawah. Dua pertiga bagian yang atas mengalami tension. Titik pertemuan antara dua bagian tadi mengalami dua gaya yang berbeda sehingga disebut titik netral. Langkah-langkah untuk mengebor sumur minyak/gas: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. menyelesaikan survei seismik, mengumpulkan informasi dan data-data yang diperlukan menyewa lahan atau mendapatkan konsesi menghitung cadangan atau mengestimasi dari data terbaik yang ada jika cadangan yang diestimasikan menunjukkan payout, lanjut dengan sumur tersebut mendapat ijin dari otoritas konservasi/nasional menyiapkan program pengeboran dan komplesi. mendapatkan tawaran untuk footage, kerja harian atau kombinasi dari kontraktor pengeboran yang sudah diseleksi berdasarkan program pengeboran 8. jika diperlukan, ubah program untuk sesuai dengan perlengkapan kontraktor yang dipilih 9. membangun jalan, lokasi/platform, dan kelengkapan kelautan yang dibutuhkan untuk mencapai lokasi 10. mengumpulkan semua personel untuk rapat sebelum dilakukan pengeboran (pre-spud meeting) 11. jika diperlukan mengubah program lebih lanjut

12. mengebor sumur 13. memindahkan kontraktor ketika workover unit hendak menyelesaikan sumur 14. menyelesaikan sumur 15. memasang fasilitas permukaan 16. analisis operasi dengan personel terkait. Jenis lumpur pengeboran : 1. 2. 3. 4. 5. water base mud oil base mud copolymer mud lognosulfonat mud KCl mud

Aliran lumpur pengeboran selama sirkulasi adalah sebagai berikut:


steel tanks mud pumps high pressure connection drillstring bit nozzle bit annulus permukaan (perlengkapan pembuangan kontaminan) tank penyedot

Komponen utama dari sistem lumpur adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4.


pompa-pompa lumpur kolam-kolam lumpur peralatan pencampuran lumpur pembuang kontaminan shale shaker (pemisah mekanis) desander desilter degasser centrifugal

Drilling Rig - - General Layout & System

Pada posting kali ini saya akan membahas 5 sistim utama yang ada pada drilling rig. Kelima sistim utama pada rig tersebut adalah : 1. The Power System : Sistim pembangkit listrik, mensuplai daya listrik yang dibutuhkan seluruh aktifitas operasional rig. 2. The Rotating System : Sistim rotasi, memberikan rotasi (putaran/plintiran : gw paling demen ama nih kata "plintiran" hahaha buat mlintir pipa biar nancepnya mantep) dan torsi pada drill string dan drill bit agar bisa menembus batuan. sistem lama masih menggunakan kelly dan rotating table, namun jaman sekarang sudah digantikan dengan top drive. (kita akan bahas lebih dalam posting berikutnya) 3. The Hoisting System : Sistim pengangkatan (kerekan), memberikan kemampuan untuk mengangkat drill string dan tentunya juga menurunkan. 4. The Circulating System : Sistim sirkulasi, mensirkulasikan drilling fluid (mud) dari pit ke bit dan kembali ke pit untuk mengangkat cutting yang merupakan hasil pengeboran. 5. The Blow Out Prevention System : sistem pencegahan blow out, berfungsi menyegel sumur yang dibor apabila ada tekanan berlebihan, menjaga kestabilan tekanan dalam sumur yang dibor. General Layout Drilling Rig

Old Style Drilling Rig : Layout ini masih menggunakan kelly so its a little bit old style, soalnya sekarang kebanyakan rig pada rotating systemnya sudah menggunakan top drive dan bahkan automated robotic drilling system.

Today's Drilling Rig : mungkin belum banyak rig yang menggunakan automated atau robotic drilling rig, namun penggunaan top drive sekarang ini sudah menjamur dan generasi Kelly sudah jarang digunakan lagi. Dibawah ini contoh fully automated robotic rig.

Pada posting kali ini saya akan membahas 5 sistim utama yang ada pada drilling rig. Kelima sistim utama pada rig tersebut adalah : 1. The Power System : Sistim pembangkit listrik, mensuplai daya listrik yang dibutuhkan seluruh aktifitas operasional rig. 2. The Rotating System : Sistim rotasi, memberikan rotasi (putaran/plintiran : gw paling demen ama nih kata "plintiran" hahaha buat mlintir pipa biar nancepnya mantep) dan torsi pada drill string dan drill bit agar bisa menembus batuan. sistem lama masih menggunakan kelly dan rotating table, namun jaman sekarang sudah digantikan dengan top drive. (kita akan bahas lebih dalam posting berikutnya) 3. The Hoisting System : Sistim pengangkatan (kerekan), memberikan kemampuan untuk mengangkat drill string dan tentunya juga menurunkan. 4. The Circulating System : Sistim sirkulasi, mensirkulasikan drilling fluid (mud) dari pit ke bit dan kembali ke pit untuk mengangkat cutting yang merupakan hasil pengeboran. 5. The Blow Out Prevention System : sistem pencegahan blow out, berfungsi menyegel sumur yang dibor apabila ada tekanan berlebihan, menjaga kestabilan tekanan dalam sumur yang dibor. General Layout Drilling Rig

Old Style Drilling Rig : Layout ini masih menggunakan kelly so its a little bit old style, soalnya sekarang kebanyakan rig pada rotating systemnya sudah menggunakan top drive dan bahkan automated robotic drilling system.

Today's Drilling Rig : mungkin belum banyak rig yang menggunakan automated atau robotic drilling rig, namun penggunaan top drive sekarang ini sudah menjamur dan generasi Kelly sudah jarang digunakan lagi. Dibawah ini contoh fully automated robotic rig.

Rig Pemboran

Rig Pemboran Rig pengeboran adalah suatu bangunan dengan peralatan untuk melakukan pengeboran ke dalam reservoir bawah tanah untuk memperoleh air, minyak, atau gas bumi, atau deposit mineral bawah tanah. Rig pengeboran bisa berada di atas tanah (on shore) atau di atas laut/lepas pantai (off shore) tergantung kebutuhan pemakaianya. Walaupun rig lepas pantai dapat melakukan pengeboran hingga ke dasar laut untuk mencari mineral-mineral, teknologi dan keekonomian tambang bawah laut belum dapat dilakukan secara komersial. Oleh karena itu, istilah "rig" mengacu pada kumpulan peralatan yang digunakan untuk melakukan pengeboran pada permukaan kerak Bumi untuk mengambil contoh minyak, air, atau mineral. Rig pengeboran minyak dan gas bumi dapat digunakan tidak hanya untuk mengidentifikasi sifat geologis dari reservoir tetapi juga untuk membuat lubang yang memungkinkan pengambilan kandungan minyak atau gas bumi dari reservoir tersebut. Rig pengeboran dapat berukuran: Kecil dan mudah dipindahkan, seperti yang digunakan dalam pengeboran eksplorasi mineral

Besar, mampu melakukan pengeboran hingga ribuan meter ke dalam kerak Bumi. Pompa lumpur yang besar digunakan untuk melakukan sirkulasi lumpur pengeboran melalui mata bor dan casing (selubung), untuk mendinginkan sekaligus mengambil "bagian tanah yang terpotong" selama sumur dibor. Katrol di rig dapat mengangkat ratusan ton pipa. Peralatan lain dapat mendorong asam atau pasir ke dalam reservoir untuk mengambil contoh minyak dan mineral; akomodasi untuk kru yang bisa berjumlah ratusan. Rig lepas pantai dapat beroperasi ratusan hingga ribuan kilometer dari pinggir pantai. Komponen rig dapat digolongkan menjadi lima bagian besar : Hoisting system : fungsi utamanya menurunkan dan menaikkan tubular (pipa pemboran, peralatan completion atau pipa produksi) masuk-keluar lubang sumur. Menara rig (mast atau derrick) termasuk dalam sistem ini. Rotary system : berfungsi untuk memutarkan pipa-pipa tersebut di dalam sumur. Pada pemboran konvensional, pipa pemboran (drill strings) memutar mata-bor (dr

ill bit) untuk menggali sumur. Circulation system : untuk mensirkulasikan fluida pemboran keluar masuk sumur dan menjaga agar properti lumpur seperti yang diinginkan. Sistem ini meliputi (1) pompa tekanan tinggi untuk memompakan lumpur keluar masuk-sumur dan pompa tekanan rendah untuk mensirkulasikannya di permukaan, (2) peralatan untuk mengkondisikan lumpur: shale shaker berfungsi untuk memisahkan solid hasil pemboran (cutting) dari lumpur; desander untuk memisahkan pasir; degasser untuk mengeluarkan gas, desilter untuk memisahkan partikel solid berukuran kecil, dsb. Blowout prevention system : peralatan untuk mencegah blowout (meledaknya sumur di

permukaan akibat tekanan tingg (valve) dan dipasang di kepala sumur (wellhead).

i dari dalam

sumur). Yang utama adalah BOP (Blow Out Preventer) yang tersusun atas berbagai katup Power system : yaitu sumber tenaga untuk menggerakan semua sistem di atas dan juga untuk suplai listrik. Sebagai sumber tenaga, biasanya digunakan mesin diesel berkapasitas besar.