Anda di halaman 1dari 19

Pemeriksaan Koefisien Fenol [2012]

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengawasan terhadap mikroorganisme penyebab penyakit telah menjadi pemikiran para ahli semenjak penyakit-penyakit mulai dikenal. Berbagai macam substansi telah dicoba untuk memilih yang paling tepat guna menghilangkan pencemaran oleh jasad renik terhadap benda-benda baik hidup ataupun mati. Bahan anti mikroba yang ditemukan memiliki keefektifan yang bermacam-macam, dan pengunaannya pun ditujukan terhadap hal-hal yang berbeda-beda pula. Salah satu jenis anti mikroba dikenal sebagai disinfektan, merupakan suatu zat (biasanya kimia) yang dipakai untuk maksud disinfeksi pada bahan-bahan tak bernyawa. Fenol adalah salah satu contoh disinfektan yang efektif dalam membunuh kuman. Pada konsentrasi rendah, daya bunuhnya disebabkan karena fenol mempresipitasikan protein secara aktif, dan selain itu juga merusak membran sel dengan menurunkan tegangan permukaannya. Dengan persetujuan para ahli dan peneliti, fenol dijadikan standar pembanding untuk menentukan aktivitas sesuatu disinfektan. Zat-zat antimikroba yang dipergunakan untuk disinfeksi harus diuji keefektifannya. Cara menentukan daya sterilisasi zat-zat tersebut adalah dengan melakukan tes koefisien fenol. Uji ini dilakukan untuk

membandingkan aktivitas suatu produk (desinfektan) dengan daya bunuh fenol dalam kondisi tes yang sama. Berbagai pengenceran fenol dan produk yang dicoba dicampur dengan suatu volume tertentu biakan Salmonella thyphosa atau Staphylococcus aureus.

Pemeriksaan Koefisien Fenol [2012]


1.2. Rumusan Masalah Apa sasaran utama dari pemeriksaan koefisien fenol pada desinfektan yang diuji? Bagaimanakah prinsip pengujian koefisien fenol? Bagaimana kemampuan bahan kimia desinfektan yang diuji dalam membunuh bakteri?

1.3. Tujuan Untuk mengetahui sasaran utama dari pemeriksaan koefisien fenol pada desinfektan yang diuji. Untuk mengetahui prinsip pengujian koefisien fenol. Untuk mengetahui kemampuan bahan kimia desinfektan yang diuji dalam membunuh bakteri.

1.4. Manfaat Adapun manfaat dari praktikum ini adalah: Manfaat teoretis Dari pemeriksaan koefisien fenol yaitu dapat mengetahui efektivitas atau kemampuan bahan kimia desinfektan atau antiseptik dalam menghentikan aktivitas dan membunuh mikroorganisme. Manfaat praktis: Dari pemeriksaan koefisien fenol yaitu dapat membantu dalam memilih dan menggunakan desinfektan yang sesuai secara efisien dan tepat guna dalam mengurangi dan menghambat pertumbuhan bakteri patogen.

Pemeriksaan Koefisien Fenol [2012]


BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Koefisien Fenol Fenol merupakan zat pembaku daya antiseptik obat lain sehingga daya antiseptik dinyatakan dengn koefisien fenol. Koefisien fenol merupakan sebuah nilai aktivitas germisidal suatu antiseptik dibandingkan dengan efektivitas germisidal fenol. Aktivitas germisidal adalah kemampuan suatu senyawa antiseptik untuk membunuh mikroorganisme dalam jangka waktu tertentu. Fenol merupakan salah satu germisidal kuat yang telah digunakan dalam jangka waktu panjang. Efektivitas senyawa antiseptik sangat dipengaruhi oleh konsentrasi dan lama paparannya. Semakin tinggi konsentrasi dan semakin lama paparan akan meningkatkan. efektivitas senyawa antiseptik. Koefisien fenol yang kurang dari 1 menunjukkan bahwa bahan entimikrobial tersebut kurang efektif dibanding dengan fenol. Dan sebaliknya, jika koeisien fenol lebih dari 1 maka bahan mikrobial tersebut lebih efektif jika dibandingkan dengan fenol. (Campbell, 2004) Koefisien fenol adalah perbandingan ukuran keampuhan suatu bahan antimikrobial dibandingkan dengan fenol. Fenol dijadikan pembanding karena fenol sering digunakan untuk mamtikan mikroorganisme. Koefisien fenol yang kurang dari 1 menunjukkan bahwa bahan antimikrobial tersebut kurang efektif dibandingkan fenol. Sebaliknya, apabila koefisien fenol lebih dari 1 artinya bahan mikrobial tersebut lebih ampuh daripada fenol. (Anonim,2011) Koefisien fenol adalah perbandingan ukuran keampuhan suatu bahan antimikrobial dibandingkan dengan fenol sebagai standar. Fenol dijadikan pembanding karena fenol sering digunakan untuk mematikan mikroorganisme. Koefisien fenol yang kurang dari 1 menunjukkan bahwa bahan antimikrobial tersebut kurang efektif dibandingkan fenol. Sebaliknya, apabila koefisien fenol lebih dari 1 artinya bahan mikrobial tersebut lebih ampuh daripada fenol. Koefisien fenol ditentukan dengan cara membagi pengenceran tertinggi dari fenol yang mematikan mikroorganisme dalam sepuluh menit tetapi tidak mematikannya dalam lima menit terhadap pengenceran tertinggi bahan antimikrobial yang mematikan mikroorganisme dalam sepuluh menit tetapi tidak dalam lima menit (Lay BW, 1994)

Pemeriksaan Koefisien Fenol [2012]


Koefisien fenol ditentukan dengan cara membagi pengenceran tertinggi dari fenol yang mematikan mikroorganisme dalam 10 menit tetapi tidak mematikan dalam 5 menit terhadap pengencaran tertinggi bahan mikrobial Zat-zat antimikroba yang dipergunakan untuk disinfeksi harus diuji keefektifannua. Cara untuk menentukan daya sterilisasi zat-zat tersebut adalah dengan melakukan tes koefisien fenol. Uji ini dilakukan untuk membandingkan aktivitas suatu produk (desinfektan) dengan daya bunuh fenol dalam kondisi tes yang sama. Berbagai pengenceran fenol dan produk yang dicoba dicampur dengan suatu volume tertentu biakan Salmonella thyphosa atau Staphylococcus aureus. (Rismana, 2008) 2.2. Desinfektan Desinfektan didefinisikan sebagai bahan kimia atau pengaruh fisika yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan virus, juga untuk membunuh atau menurunkan jumlah

mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya. Sedangkan antiseptik didefinisikan sebagai bahan kimia yang dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan jasad renik seperti bakteri, jamur dan lain-lain pada jaringan hidup. Bahan desinfektan dapat digunakan untuk proses desinfeksi tangan, lantai, ruangan, peralatan dan pakaian.Desinfeksi adalah membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dengan bahan kimia atau secara fisik, hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadi infeksi dengan jalam membunuh mikroorganisme patogen. Disinfektan yang tidak berbahaya bagi permukaan tubuh dapat digunakan dan bahan ini dinamakan antiseptik. Antiseptik adalah zat yang dapat menghambat atau menghancurkan mikroorganisme pada jaringan hidup, sedang desinfeksi digunakan pada benda mati. Desinfektan dapat pula digunakan sebagai antiseptik atau sebaliknya tergantung dari toksisitasnya. Desinfektan didefinisikan sebagai bahan kimia atau pengaruh fisika yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan virus, juga untuk membunuh atau menurunkan jumlah mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya. Sedangkan antiseptik didefinisikan sebagai bahan kimia yang dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan jasad renik seperti bakteri, jamur dan lain-lain pada

Pemeriksaan Koefisien Fenol [2012]


jaringan hidup. Bahan desinfektan dapat digunakan untuk proses desinfeksi tangan, lantai, ruangan, peralatan dan pakaian. Macam-macam desinfektan yang digunakan: (anonim,2009) 1. Alkohol Etil alkohol atau propil alkohol pada air digunakan untuk mendesinfeksi kulit. Alkohol yang dicampur dengan aldehid digunakan dalam bidang kedokteran gigi unguk mendesinfeksi permukaan, namun ADA tidak menganjurkkan pemakaian alkohol untuk mendesinfeksi permukaan oleh karena cepat menguap tanpa meninggalkan efek sisa. 2. Aldehid Glutaraldehid merupakan salah satu desinfektan yang populer pada kedokteran gigi, baik tunggal maupun dalam bentuk kombinasi. Aldehid merupakan desinfektan yang kuat. Glutaraldehid 2% dapat dipakai untuk mendesinfeksi alat-alat yang tidak dapat disterilkan, diulas dengan kasa steril kemudian diulas kembali dengan kasa steril yang dibasahi dengan akuades, karena glutaraldehid yang tersisa pada instrumen dapat mengiritasi kulit/mukosa, operator harus memakai masker, kacamata pelindung dan sarung tangan heavy duty. Larutan glutaraldehid 2% efektif terhadap bakteri vegetatif seperti M. tuberculosis, fungi, dan virus akan mati dalam waktu 1020 menit, sedang spora baru alan mati setelah 10 jam. 3. Biguanid Klorheksidin merupakan contoh dari biguanid yang digunakan secara luas dalam bidang kedokteran gigi sebagai antiseptik dan kontrok plak, misalnya 0,4% larutan pada detergen digunakan pada surgical scrub (Hibiscrub), 0,2% klorheksidin glukonat pada larutan air digunakan sebagai bahan antiplak (Corsodyl) dan pada konsentrasi lebih tinggi 2% digunakan sebagai desinfeksi geligi tiruan. Zat ini sangat aktif terhadap bakteri Gram (+) maupun Gram (-). Efektivitasnya pada rongga mulut terutama disebabkan oleh absorpsinya pada hidroksiapatit dan salivary mucus. 4. Senyawa halogen. Hipoklorit dan povidon-iodin adalah zat oksidasi dan melepaskan ion halide. Walaupun murah dan efektif, zat ini dapat

Pemeriksaan Koefisien Fenol [2012]


menyebabkan karat pada logam dan cepat diinaktifkan oleh bahan organik (misalnya Chloros, Domestos, dan Betadine). 5. Fenol Larutan jernih, tidak mengiritasi kulit dan dapat digunakan untuk membersihkan alat yang terkontaminasi oleh karena tidak dapat dirusak oleh zat organik. Zat ini bersifat virusidal dan sporosidal yang lemah. Namun karena sebagian besar bakteri dapat dibunuh oleh zat ini, banyak digunakan di rumah sakit dan laboratorium. 6. Klorsilenol Klorsilenol merupakan larutan yang tidak mengiritasi dan banyak digunakan sebagai antiseptik, aktifitasnya rendah terhadap banyak bakteri dan penggunaannya terbatas sebagai desinfektan (misalnya Dettol). Faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan antiseptik atau desinfektan yang digunakan untuk menghambat atau membunuh mikroorganisme adalah (Sarleset. al., 1956) 1. Jenis organisme yang digunakan. 2. Jumlah mikroorganisme yang digunakan. 3. Umur dan sejarah dari mikroorganisme. 4. Jaringan atau unsur-unsur yang ada dalam mikrorganisme. 5. Jenis racun dari zat kimia (jika diambil secara internal). 6. Waktu bagi zat kimia untuk bekerja dan konsentrasi yang dipakai. 7. Temperatur pada zat kimia dan pada jaringan atau unsur-unsur yang terlibat. 2.3. Nutrient Agar Nutrient Agar merupakan media serba guna (universal). Digunakan untuk subkultur, pemeliharaan kuman maupun untuk mengecek kemurnian kultur yang didapat dari plate. Media ini merupakan media sederhana yang dibuat dari ekstrak beef, pepton, dan agar. NA merupakan salah satu media yang umum digunakan dalam prosedur bakteriologi seperti uji biasa dari air, produk pangan, untuk membawa stok kultur, untuk pertumbuhan sampel pada uji bakteri, dan untuk mengisolasi organisme dalam kultur murni. Syarat- syarat media: (Anonim, 2009)
6

Pemeriksaan Koefisien Fenol [2012]


a. Media harus mengandung semua nutrisi yang mudah digunakan oleh mikroba b. Media harus mempunyai tekanan osmosa, tegangan permukaan dan pH yang sesuai dengan pertumbuhannya c. Media tidak mengandung zat penghambat kecuali yang sengaja ditambahkan pada media selektif atau one-purpose media d. Media harus steril.

Pemeriksaan Koefisien Fenol [2012]


BAB III METODE

3.1. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum bakteriologi ini dilaksanakan pada hari selasa, tanggal 8 mei 2012, bertempat laboratorium bakteriologi Jurusan Analis Kesehatan, Politeknik Kesehatan Denpasar.

3.2. Alat dan Bahan Alat: Gelas ukur Tabung reaksi Api Bunsen Pipet ukur Ose/Sengkelit Incubator Rak tabung Petridish Pipet ukur

Media/Reagen : Nutrient agar Aquades steril

Bahan Desinfektan/bahan kimia Fenol Bakteri

Pemeriksaan Koefisien Fenol [2012]


3.3. Langkah Kerja 3.3.1 Persiapan Pengenceran fenol dibuat dengan konsentrasi sebagai berikut : a. 0,1 : 8 Artinya : 1 ml fenol ditambah 7,9 ml aquades steril di dalam tabung reaksi. b. 0,1 : 9 Artinya : 1 ml fenol ditambah 8,9 ml aquades steril di dalam tabung reaksi. c. 0,1 : 10 Artinya : 1 ml fenol ditambah 9,9 ml aquades steril di dalam tabung reaksi. Pengenceran desinfektan dibuat dengan konsentrasi sebagai berikut : a. 0,1 : 10 Artinya : 1 ml desinfektan ditambah 9,9 ml aquades steril di dalam tabung reaksi. b. 0,1 : 15 Artinya : 1 ml desinfektan ditambah 14,9 ml aquades steril di dalam tabung reaksi. c. 0,1 : 20 Artinya : 1 ml desinfektan ditambah 19,9 ml aquades steril di dalam tabung reaksi. d. 0,1 : 25 Artinya : 1 ml desinfektan ditambah 24,9 ml aquades steril di dalam tabung reaksi. Formulasi bakteri dibuat dengan cara koloni bakteri ditambahkan dengan aquades steril secukupnya dan dibuat sesuai dengan kebutuhan

Pemeriksaan Koefisien Fenol [2012]


3.3.2 Pemeriksaan Koefisien Fenol Formulasi bakteri masing-masing dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi pengenceran fenol dan pengenceran desinfektan (dengan perhitungan waktu agar tidak lebih dari 5 menit) dengan volume 0,1 ml Petridish yang berisi Nutrient Agar (NA) masing-masing diberi kode pengenceran untuk fenol dan desinfektan Setelah 5 menit, setiap pengenceran ditanam pada Nutrient Agar (NA) padat dengan digoreskan menggunakan ose Setelah 10 menit, setiap pengenceran ditanam pada Nutrient Agar (NA) padat dengan digoreskan menggunakan ose Setelah 15 menit, setiap pengenceran ditanam pada Nutrient Agar (NA) padat dengan digoreskan menggunakan ose Setelah semua ditanam, kemudian diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam Dilihat masing-masing waktu dan pengenceran tentang pertumbuhan bakterinya Nilai koefisien fenol dihitung dengan menggunakan rumus :

10

Pemeriksaan Koefisien Fenol [2012]


BAB IV PEMBAHASAN

4.1. Data Hasil Pengamatan NO 1. PENGENCERAN 5 Menit FENOL a. 0,1 : 8 LAMA KONTAK 10 Menit 15 Menit

(+) b. 0,1 : 9

(-)

(-)

(+) c. 0,1 : 10

(-)

(-)

(+) 2. DESINFEKTAN a. 0,1 : 10

(-)

(-)

(+)

(-)

(-)

11

Pemeriksaan Koefisien Fenol [2012]

b. 0,1 : 15

(+) c. 0,1 : 20

(-)

(-)

(+)

(+)

(-)

4.2. Perhitungan Diketahui : Pengenceran tertinggi desinfektan yang mematikan pada menit ke-10, tetapi tidak mematikan pada menit ke-5 = pengenceran 0,1 : 15 Pengenceran tertinggi fenol yang mematikan pada menit ke-10, tetapi tidak mematikan pada menit ke-5 = pengenceran 0,1 : 9 Ditanya Jawab : KF = .? :
ke-10, tetapi tidak mematikan pada menit ke-5 Pengenceran tertinggi fenol yang mematikan pada menit ke-10, tetapi tidak mematikan pada menit ke-5

KF = Pengenceran tertinggi desinfektan yang mematikan pada menit

KF =

= 1,6667

12

Pemeriksaan Koefisien Fenol [2012]


4.3 Pembahasan Pada praktikum ini dilakukan penentuan koefisien fenol. Praktikum ini bertujuan untuk menentukan daya hambat suatu sediaan yang berpotensi sebagai antiseptika atau desinfektan, dengan membandingkan terhadap standar fenol (koefisien fenol). Desinfektan ialah zat yang digunakan untuk mencegah infeksi dengan mematikan mikroba, misalnya sterilisasi. Sterilisasi ditujukan untuk membunuh semua mikroorganisme. Obat ini dapat bersifat bakterisid atau bakteriostatik. Berdasarkan sifat kimia, antiseptik digolongkan dalam golongan fenol, alkohol, aldehid asam, halogen, peroksidan dan logam berat. Yang termasuk golongan fenol adalah fenol, timol, resolsinol dan heksaklorofen. Fenol merupakan zat pembaku daya antiseptik obat lain sehingga daya antiseptik dinyatakan dengan koefisien fenol. Prinsip kerja uji koefisien fenol adalah pertumbuhan bakteri uji pada media yang sesuai setelah bakteri tersebut kontak dengan disinfektan dalam waktu 5, 10, dan 15 menit, Pada penentuan koefisien fenol pada desinfektan, langkah pertama yang dilakukan adalah pembuatan larutan pengenceran fenol dengan berbagai konsentrasi. Disiapkan 3 buah tabung reaksi steril yang masing-masing tabung reaksi berisi aquadest steril sebanyak 8 ml, 9 ml, dan 10 ml. Setelah itu dimasukkan fenol sebanyak 0,1 ml pada setiap tabung. Langkah selanjutnya adalah pembuatan larutan pengenceran desinfektan. Dalam pembuatan larutan pengenceran desinfektan, disiapkan 3 buah tabung reaksi steril yang telah berisi aquadest steril 10 ml, 15 ml, dan 20 ml, kemudian ditambahkan 0,1 ml desinfektan. Kemudian dilakukan pembuatan formulasi kuman. Kuman yang digunakan adalah kuman Salmonella sp. yang tumbuh pada media MCA. Koloni diambil beberapa ose, kemudian dimasukkan pada tabung reaksi yang berisi aquadest steril sebanyak 5 ml dan dihomogenkan. Tabung yang telah berisi pengenceran fenol dan pengenceran desinfektan ditambahkan suspensi bakteri Salmonella sp. sebanyak 0,5 ml pada setiap tabung.

13

Pemeriksaan Koefisien Fenol [2012]


Pada saat menambahkan suspensi bakteri, digunakan pipet volume dan harus dalam keadaan aseptis untuk mencegah kontaminasi dari luar sehingga hasil yang didapat menjadi lebih akurat. Bakteri yang telah dimasukkan ke dalam tabung yang berisi pengenceran fenol dan pengenceran desifektan tadi kemudian diinokulasi pada media Nutrient Agar. Nutrient Agar (NA) adalah media yang baik untuk pertumbuhan bakteri (penyimpanan kuman-kuman/bakteri). Media ini berfungsi untuk menumbuhkan mikroba, isolasi, memperbanyak jumlah, menguji sifat-sifat fisiologi dan perhitungan jumlah mikroba. NA juga digunakan untuk pertumbuhan mayoritas dari mikroorganisme yang tidak selektif, dalam artian mikroorganisme heterotrof. Media ini merupakan media sederhana yang dibuat dari ekstrak beef, pepton, dan agar. NA merupakan salah satu media yang umum digunakan dalam prosedur bakteriologi seperti uji biasa dari air, produk pangan, untuk membawa stok kultur, untuk pertumbuhan sampel pada uji bakteri, dan untuk mengisolasi organisme dalam kultur murni. Inokulasi adalah pekerjaan memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Untuk

melakukan penanaman bakteri (inokulasi) terlebih dahulu diusahakan agar semua alat yang ada dalam hubungannya dengan medium agar tetap steril, hal ini agar menghindari terjadinya kontaminasi. Penanaman pada media Nutrient Agar pada praktikum ini dilakukan dengan metode cawan gores. Metode cawan gores ( Steak Plate) bertujuan untuk mengisolasi mikroorganisme dari campurannya atau meremajakan kultur ke dalam medium baru. Cara penanaman bakteri dengan metode gores adalah kawat terlebih dahulu dipijarkan sedangkan sisanya tungkai cukup dilewatkan nyala api saja setelah dingin kembali kawat itu disentuhkan lagi dalam nyala api. Setelah difiksasi, ditunggu beberapa saat sebelum mengambil bakteri, agar suhu ose tidak terlalu panas dan bakteri tidak mati. Tetapi perlu diingat juga bahwa ose tidak boleh terlalu lama didiamkan agar ose tidak terkontaminasi dengan bakteri dari udara. Kemudian digoreskan ose ke permukaan media agar dengan pola lurus atau zigzag secara hati-hati tanpa ditekan sehingga tidak merusak permukaan agar.

14

Pemeriksaan Koefisien Fenol [2012]


Di antara garis-garis goresan akan terdapat sel-sel yang cukup terpisah sehingga dapat tumbuh menjadi koloni. Proses penggoresan ini dilakukan secara bertahap pada masing-masing media yaitu dalam waktu 5 menit, 10 menit dan 15 menit. Kemudian diinkubasi dalam inkubator selama 18-24 jam pada suhu 37C. Proses inkubasi dilakukan pada suhu tersebut karena suhu 37C merupakan suhu bakteri Salmonella dapat tumbuh secara optimal. Setelah diinkubasi diamati ada tidaknya koloni bakteri yang tumbuh. Hasil yang didapat dari percobaan kali ini adalah pada pengenceran fenol 0,1 : 8, pada waktu 5 menit tumbuh koloni, sedangkan pada waktu 10 dan 15 menit tidak tumbuh koloni. Pengenceran fenol 0,1 : 9, pada waktu 5 menit tumbuh koloni, sedangkan pada waktu 10 dan 15 menit tidak tumbuh koloni. Pengenceran fenol 0,1: 10, pada waktu 5 menit dan 10 menit tumbuh koloni, sedangkan pada waktu 15 menit tidak tumbuh koloni. Jika dibandingkan dengan desinfektan, pengenceran desinfektan 0,1 : 10, pada waktu 5 menit tumbuh koloni, sedangkan pada waktu 10 dan 15 menit tidak tumbuh koloni. Pengenceran desinfektan 0,1 : 15, pada waktu 5 menit tumbuh koloni, sedangkan pada waktu 10 dan 15 menit tidak tumbuh koloni. Pengenceran desinfektan 0,1: 20, pada waktu 5 menit dan 10 menit tumbuh koloni, sedangkan pada waktu 15 menit tidak tumbuh koloni. Hasil positif pada desinfektan menandakan bahwa kemungkinan desinfektan tersebut tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri pada rentang waktu tersebut. Bakteri yang digunakan pada uji dengan fenol dan desinfektan lain yang akan dibandingkan kekuatannya dengan fenol adalah sama. Proses penanaman bakteri yang dilakukan juga sama. Dan pada kondisi yang sama, maka dapat dibandingkan keefektifan suatu desinfektan dengan fenol, sehingga diperoleh suatu hasil perbandingan berupa pecahan yang disebut koefisien fenol. Nilai tersebut didapat berdasarkan rumus :

koefesien fenol =

15

Pemeriksaan Koefisien Fenol [2012]


Berdasarkan hasil perhitungan perbandingan keefektifan suatu desinfektan dengan fenol, maka koefisien fenol desinfektan pada praktikum ini didapatkan 1,6667. Desinfektan ini dapat dikatakan memiliki kemampuan yang baik dalam membunuh bakteri, dimana standar baku koefisien fenol yang baik yakni 1. Kesalahan-kesalahan pada praktikum penentuan koefisien fenol

kemungkinan disebabkan karena beberapa faktor, diantaranya adalah : Terlalu banyak berbicara pada pengerjaan sehingga banyak bakteri droplet. Beaker gelas yang digunakan sebagai tempat desinfektan tidak steril. Pada saat memfiksasi ose, untuk mengambil bakteri ose yang dicelupkan kedalam suspense bakteri masih panas, sehingga menyebabkan bakteri uji mati karena suhu terlalu tinggi. Jika bakteri sudah terlebih dahulu mati sebelum dimasukkan ke dalam media agar, maka yang terjadi adalah tidak terdapat bakteri uji pada media agar tersebut. Pada saat percobaan, pengerjaan dilakukan kurang aseptis, sehingga dapat menyebabkan kontaminan masuk kedalam tabung uji. Akibatnya,

dapatmempengaruhi hasil pengamatan. Pada saat percobaan, waktu kontak bakteri dengan desinfektan tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Kegagalan yang terjadi dalam praktikum ini mungkin juga disebabkan oleh pengerjaan tabung Uji Disinfektan secara paralel yang saat itu dimaksudkan untuk mempersingkat waktu pengerjaan. Pengerjaan secara paralel tersebut telah mengakibatkan ketidakakuratan dan ketidaktelitian perhitungan waktu yang diperlukan.

16

Pemeriksaan Koefisien Fenol [2012]


BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan Berdasarkan praktikum yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa : Sasaran utama dari pemeriksaan koefisien fenol pada desinfektan yang diuji ini adalah untuk mengetahui kemampuan desinfektan dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Prinsip kerja uji koefisien fenol adalah pertumbuhan bakteri uji pada media yang sesuai setelah bakteri tersebut kontak dengan disinfektan dalam waktu 5, 10, dan 15 menit. Desinfektan yang diperiksa pada praktikum ini diketahui memiliki kemampuan yang baik dalam membunuh kuman karena koefisien fenol desinfektan yang diuji adalah 1,6667. Hal ini dapat diketahui dari standar baku koefisien fenol yang baik yakni 1. 5.2. Saran Pada saat melakukan pengujian mikrobiologi sebaiknya dilakukan dengan cara aseptis baik penggunaan alat, media, dan penyiapan sampel, untuk meminimalkan kontaminasi agar hasil dari pengujian benar-benar akurat.

17

Pemeriksaan Koefisien Fenol [2012]


DAFTAR PUSTAKA Djide, NM, Sartini. (2005). Penuntun Praktikum Mikrobiologi Farmasi Terapan. Makassar : Jurusan Farmasi UNHAS Anonim.2012.Desinfektan.http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Disinfektan& oldid=5304494 (Diakses : 12 Mei 2012) Anonim,2009.Koefisien fenol.http://www.scribd.com/doc/92495850/KOEFISIENFENOL (Diakses : 12 Mei 2012) Signaterdadie,2009.Desinfektan.http://signaterdadie.wordpress.com/2009/10/08/d esinfektan/ (Diakses : 12 Mei 2012) Anonim.2012.pendahuluan.http://ometurlapzoelfiach.blogspot.com/2012/04/babi-pendahuluan-i.html (Diakses : 12 Mei 2012) Jawetz, E., J. L. Melnick, & L. N. Ornston. 1987. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 20,diterjemahkan oleh Edi Nugroho & RF Maulany. EGC. Jakarta Sarles, W. B., W. C. Frazier, J. B. Wilson, S.G. Knighl. 1956. Microbiology General and Applied . Second edition. Harper & Brothers. New York

18

Pemeriksaan Koefisien Fenol [2012]


LEMBAR PENGESAHAN

Denpasar, 15 Mei 2012

Dosen Pembimbing,

(Burhannuddin, S.Si)

Penanggung Jawab Mata Kuliah,

(Nyoman Mastra, S.KM., S.Pd., M.Si)

19