Anda di halaman 1dari 7

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN OSTEOPOROSIS

1. PENGKAJIAN

Promosi kesehatan, identifikasi individu dengan risiko mengalami osteoporosis dan penemuan masalah yang berhubungan dengan osteoporosis membentuk dasar bagi pengkajian keperawatan.

Wawancara meliputi pertanyaan mengenai terjadinya osteoporosis dalam keluarga, fraktur sebelumnya, konsumsi kalsium diet harian, pola latihan, awitan menopause dan penggunaan kortikoseteoroid selain asupan alkohol, rokok dan kafein. Setiap sengaja yang dialami pasien, seperti nyeri pingang, konstipasi atau ganggua citra diri harus digali.

Pemeriksaan fisik kadang menemukan adanya patah tulang kifosis vertebrata torakalis atau pemendekan tinggi badan. Masalah mobilitas dan pernapasan dapat terjadi akibat perubahan postur dan kelemahan otot. Konstipasi dapat terjadi akibat inaktivitas.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Kurang pengetahuan mengenai proses osteoporosis dan program terapi 2. Nyeri yang berhubungan dengan fraktur dan spasme otot 3. Konstipasi yang berhubungan dengan imobilitasi atau terjadinya ileus (obstruksi usus) 4. Risiko terhadap cedera : fraktur, yang berhubungan dengan tulang osteoporotik

TUJUAN sasaran umum pasien dapat meliputi pengetahuan mengenai osteoporosis dan program tindakan, pengurangan nyeri, perbaikan pengosongan usus dan tidak ada fraktur tambahan.

3. INTERVENSI & IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Memahami Osteoporosis dan Program Tindakan. 1. Ajarkan pada klien tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya oeteoporosis. 2. Anjurkan diet atau suplemen kalsium yang memadai. 3. Timbang Berat badan secara teratur dan modifikasi gaya hidup seperti Pengurangan kafein, sigaret dan alkohol, hal ini dapat membantu mempertahankan massa tulang. 4. Anjurkan Latihan aktivitas fisik yang mana merupakan kunci utama untuk menumbuhkan tulang dengan kepadatan tinggi yang tahan terhadap terjadinya oestoeporosis. 5. Anjurkan pada lansia untuk tetap membutuhkan kalsium, vitamin D, sinar matahari dan latihan yang memadai untuk meminimalkan efek oesteoporosis.

6. Berikan Pendidikan pasien mengenai efek samping penggunaan obat. Karena nyeri lambung dan distensi abdomen merupakan efek samping yang sering terjadi pada suplemen kalsium, maka pasien sebaiknya meminum suplemen kalsium bersama makanan untuk mengurangi terjadinya efek samping tersebut. Selain itu, asupan cairan yang memadai dapat menurunkan risiko pembentukan batu ginjal. 7. Bila diresepkan HRT, pasien harus diajar mengenai pentingnya skrining berkala terhadap kanker payudara dan endometrium.

Meredakan Nyeri 1. Peredaaan nyeri punggung dapat dilakukan dengan istirahat di tempat tidur dengan posisi telentang atau miring ke samping selama beberapa hari. 2. Kasur harus padat dan tidak lentur. 3. Fleksi lutut dapat meningkatkan rasa nyaman dengan merelaksasi otot. 4. Kompres panas intermiten dan pijatan punggung memperbaiki relaksasi otot. 5. Pasien diminta untuk menggerakkan batang tubuh sebagai satu unit dan hindari gerakan memuntir. 6. Postur yang bagus dianjurkan dan mekanika tubuh harus diajarkan. Ketika pasien dibantu turun dari tempat tidur, 7. pasang korset lumbosakral untuk menyokong dan imobilisasi sementara, meskipun alat serupa kadang terasa tidak nyaman dan kurang bisa ditoleransi oleh kebanyakan lansia. 8. Bila pasien sudah dapat menghabiskan lebih banyak waktunya di luar tempat tidur perlu dianjurkan untuk sering istirahat baring untuk mengurangi rasa tak nyaman dan mengurangi stres akibat postur abnormal pada otot yang melemah. 9. opioid oral mungkin diperlukan untuk hari-hari pertama setelah awitan nyeri punggung. Setelah beberapa hari, analgetika non opoid dapat mengurangi nyeri.

Memperbaiki Pengosongan Usus. Konstipasi merupakan masalah yang berkaitan dengan imobilitas, pengobatan dan lansia. 1. Berikan diet tinggi serat. 2. Berikan tambahan cairan dan gunakan pelunak tinja sesuai ketentuan dapat membantu atau meminimalkan konstipasi. 3. Pantau asupan pasien, bising usus dan aktivitas usus karena bila terjadi kolaps vertebra pada T10L2, maka pasien dapat mengalami ileus.

Mencegah Cedera. 1. Anjurkan melakukan Aktivitas fisik secara teratur hal ini sangat penting untuk memperkuat otot, mencegah atrofi dan memperlambat demineralisasi tulang progresif.

2. Ajarkan Latihan isometrik, latihan ini dapat digunakan untuk memperkuat otot batang tubuh. 3. Anjurkan untuk Berjalan, mekanika tubuh yang baik, dan postur yang baik. 4. Hindari Membungkuk mendadak, melenggok dan mengangkat beban lama. 5. Lakukan aktivitas pembebanan berat badan Sebaiknya dilakukan di luar rumah di bawah sinar matahari, karena sangat diperlukan untuk memperbaiki kemampuan tubuh menghasilkan vitamin D.

Pertimbangan Gerontologik. 1. Lansia sering jatuh sebagai akibat dari bahaya lingkungan, gangguan neuromuskular, penurunan sensor dan respons kardiovaskuler dan respons terhadap pengobatan. Bahaya harus diidentifikasi dan dihilangkan. Supervisi dan bantuan harus selalu tersedia. 2. Pasien dan keluarganya perlu dilibatkan dalam perencanaan asuhan berkeseimbangan dan program penanganan pencegahan. 3. Lingkungan rumah harus dikaji mengenai adanya potensial bahaya (mis. Permadani yang terlipat, ruangan yang berantakan, mainan di lantai, binatang piaraan dibawah kaki) dan diciptakan lingkungan yang aman (mis. Anak tangga dengan penerangan yang memadai dengan pegangan yang kokoh, pegangan di kamar mandi, alas kaki dengan ukuran pas). 4. EVALUASI a) Mendapatkan pengetahuan mengenai oesteoporosis dan program penanganannya. o o o o o o o o Menyebutkan hubungan asupan kalsium dan latihan terhadap massa tulang Mengkonsumsi kalsium diet dalam jumlah yang mencukupi Meningkatkan tingkat latihan Gunakan terapi hormon yang diresepkan Menjalani prosedur skrining sesuai anjuran

b) Mendapatkan peredaan nyeri Mengalami redanya nyeri saat beristirahat Mengalami ketidaknyamanan minimal selama aktivitas kehidupan sehari-hari Menunjukkan berkurangnya nyei tekan pada tempat fraktur

c) Menunjukkan pengosongan usus yang normal o o o o o o o Bising usus aktif Gerakan usus teratur

d) Tidak mengalami fraktur baru Mempertahankan postur yang bagus Mempegunakan mekanika tubuh yang baik Mengkonsumsi diet seimbang tinggi kalsium dan vitamin D Rajin menjalankan latihan pembedahan berat badan (berjalan-jalan setiap hari) Istirahat dengan berbaring beberapa kali sehari

o o o

Berpartisipasi dalam aktivitas di luar rumah Menciptakan lingkungan rumah yang aman Menerima bantuan dan supervisi sesuai kebutuhan.

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN TUMOR TULANG

A. Pengkajian
1. Beri saran kepada pasien untuk membicarakan masalah dan perjalanan gejala. Perhatikan pemahaman pasien dan keluarga tentang penyakit dan proses penyakit, koping terhadap masalah, dan penatalaksanaan nyeri. 2. Palpasi massa dengan lembut saat melakukan pemeriksaan fisik. Perhatikan ukuran dan pembengkakan jaringan lunak yang berkaitan, nyeri, dan nyeri tekan. 3. Kaji status neuromuskuler dan rentang gerak ekstremitas. 4. Evaluasi mobilitas dan kemampuan untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Kurang pengetahuan b/d proses penyakit dan program terapeutik 2. Nyeri b/d proses patologik dan pembedahan 3. Resiko terhadap cidera: fraktur patologik b/d tumor 4. Ketidakefektifan koping individu b/d rasa takut tentang ketidaktahuan, persepsi tentang proses penyakit dan system pendukung tidak adekuat 5. Gangguan harga diri b/d hilangnya bagian tubuh atau perubahan kinerja peran.

C. Rencana Keperawatan
1. Dx 1 : Kurang pengetahuan b/d proses penyakit dan program terapeutik Tujuan : pasien memahami proses penyakit dan program terapi Kriteria Hasil : Pengetahuan yang tepat mengenai proses penyakit dan menggambarkan program pengobatannya.

Intervensi : 1. Kenali tingkat pengetahuan pasien saat ini tentang kanker atau tumor R/ Data akan memberikan dasar untuk penyuluhan dan menghindari adanya duplikasi 2. Gambarkan proses penyakit tumor sesuai dengan kebutuhan R/ Membantu pasien dalam memahami proses penyakit 3. Berikan informasi mengenai terapi dan atau pilihan pengobatan yang potensial terjadi dan atau keuntungan dari setiap terapi tersebut

R/ Membantu pasien dalam membuat keputusan pengobatan 4. Gunakan brosur, gambar, video tape dalam penyuluhan pasien atau keluarga R/ Alat visual memberikan penguatan pada instruksi yang diberikan 5. Anjurkan pasien untuk menyampaikan pilihannya atau mendapatkan pilihan kedua sesuai kebutuhan R/ Meningkatkan advokasi pasien dalam pelayanan medis 6. Instruksikan pasien untuk melaporkan tanda dan gejala pada pemberi pelayanan kesehatan; member nomor telepon yang penting R/ Meningkatkan keamanan dalam upaya penyembuhan

2. Dx 2 : Nyeri b/d proses patologis dan pembedahan Kriteria hasil : nyeri tidak ada atau terkontrol Intervensi : 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif R/ Memberikan informasi untuk membuat perencanaan 2. Kaji adanya nyeri fantom, adanya perasaan terbakar, kram atau kaku dimana anggota tubuh tersebut berada R/ Meningkatkan identifikasi nyeri fantom dan memberikan informasi untuk membuat perencanaan 3. Berikan analgesik sesuai kebutuhan untuk nyeri R/ Meningkatkan rasa nyaman dan meningkatkan mobilisasi

3. Dx 3 : Resiko terhadap cidera: fraktur patologik b/d tumor Kriteria Hasil : tidak adanya cidera akibat tumor yang dialami pasien Intervensi : 1. Sangga tulang yang sakit dan tangani dengan lembut selama pemberien asuhan keperawatan R/ Tumor tulang akan melemahkan tulang sampai ke titik dimana aktivitas normal atau perubahan posisi dapat mengakibatkan fraktur 2. Gunakan sanggahan eksternal (mis. Splint) untuk perlindungan tambahan R/ Penyangga luar (mis. bidai) dapat dipakai untuk perlindungan tambahan 3. Ikuti pembatasan penahanan berat badan yang dianjurkan R/ Adanya pembatasan akan membantu klien dalam penahanan berat badan yang tidak mampu ditahan oleh tulang yang sakit 4. Ajarkan bagaimana cara untuk menggunakan alat ambulatory dengan aman dan bagaimana untuk menguatkan ekstremitas yang tidak sakit R/ Penggunaan alat ambulatory dengan aman mampu menguatkan ekstremitas yang sehat

4. Dx 4 : Ketidakefektifan koping individu b/d rasa takut tentang ketidaktahuan, persepsi tentang proses penyakit dan system pendukung tidak adekuat Kriteria Hasil : Ansietas, kekhawatiran, dan kelemahan menurun pada tingkat yang dapat diatasi: mendemonstrasikan kemandirian yang meningkat dalam aktivitas dan proses pengambilan keputusan

Intervensi : 1. Gunakan pendekatan yang tenang dan berikan satu suasana lingkungan yang dapat diterima R/ Membantu pasien dalam membangun kepercayaan kepada tenaga kesehatan 2. Evaluasi kemampuan pasien dalam pembuatan keputusan R/ Membantu pengkajian terhadap kemandirian dalam pengambilan keputusan 3. Kaji sikap harapan yang realistis R/ Meningkatkan kedamaian diri 4. Dukung penggunaan mekanisme pertahanan diri yang sesuai R/ Meningkatkan kemampuan untuk menguasai masalah 5. Nilai kebutuhan atau keinginan pasien terhadap dukungan social R/ Memenuhi kebutuhan pasien 6. Kenalkan pasien pada seseorang atau kelompok yang telah memiliki pengalaman penyakit yang sama R/ Memberikan informasi dan dukunagn dari orang lain dengan pengalaman yang sama 7. Berikan sumber-sumber spiritual jika diperlukan R/ Untuk memenuhi kebutuhan spiritual pasien

5. Dx 5 : Gangguan harga diri b/d hilangnya bagian tubuh atau perubahan kinerja peran. Kriteria Hasil : harga diri klien meningkat Intervensi : 1. Dukung keluarga dalam mengupayakan melewati penyesuaian yang harus dilakukan; kenali perubahan dalam citra diri akibat pembedahan dan kemungkinan amputasi R/ Kemandirian versus ketergantungan merupakan isu pada pasien yang menderita keganasan. Gaya hidup akan berubah secara dramatis, paling tidak sementara 2. Berikan kepastian yang realistis tentang masa depan dan perjalanan kembali aktivitas yang berhubungan dengan peran; beri dorongan untuk perawatan mandiri dan sosialisasi R/ Peyakinan yang masuk akal mengenai masa depan dan penyesuaian aktivitas yang berhubungan dengan peran harus dilakukan untuk memandirikan pasien 3. Libatkan pasien dan keluarga sepanjang pengobatan untuk meningkatkan rasa tetap memiliki control dalam kehidupan seseorang R/ Keterlibatan pasien dan keluarganya sepanjang terapi dapat mendorong kepercayaan diri, pengembalian konsep diri, dan perasaan dapat mengontrol hidupnya sendiri

D. Evaluasi 1. Klien mampu menerangkan proses penyakit dan program terapi a) Menerangkan proses patologik b) Menentukan program sasaran terapeutik c) Mencari penjelasan informasi

2. Mampu mengontrol nyeri a) Memanfaatkan teknik pengontrolan nyeri termasuk obat yang diberikan

b) Tidak mengalami nyeri atau mengalami pengurangan nyeri saat istirahat, selama menjalankan aktifitas hidup sehari-hari atau tempat operasi

3. Tidak mengalami patah tulang patologik a) Menghindari stress pada tulang yang lemah b) Mempergunakan alat bantu dengan aman c) Memperkuat ekstremitas yang sehat

4. Memperlihatkan pola penyelesain masalah yang efektif a) Mengemukakan persaannya dengan kata-kata b) Mengidentifikasi ketakutan dan kemampannya c) Membuat keputusan d) Meminta bantuan bila perlu

5. Memperlihatkan konsep diri positif a) Mengidentifikasi tanggung jawab rumah tangga dan keluarga yang mampu ditanggungnya b) Memperlihatkan kepercayaan diri pada kemampuannya c) Memperlihatkan penerimaan citra diri d) Memperlihatkan kemandirian dalam aktivitas hidup

6. Memperlihatkan tiadanya komplikasi a) Memperlihatkan penyembuhan luka b) Tidak mengalam kerusakan kulit c) Mempertahankan atau meningkatkan berat badan d) Tidak mengalami infeksi e) Mengatasi efek samping terapi f) Melaporkan gejala toksisitas obat atau komlikasi pembedahan

7. Berpartisipasi dalam perawatan kesehatan berkelanjutan di rumah a) Mamatuhi regimen yang ditentukan (misalnya; menelan setiap obat yang diresepkan, tetap mejalankan terapi fisik dan okupasi) b) Menyetujui perlunya superfisi kesehatan jangka panjang c) Rajin memenuhi janji perawatan kesehatan tindak lanjut d) Melaporkan bila ada gejala atau komplikasi

Anda mungkin juga menyukai