Anda di halaman 1dari 2

MENINGITIS TB S : Gejala prodormal : panas, sakit kepala, tidak ada nafsu makan , ada tanda-tanda meningism, pusing lemah

myalgia, ada ispa, gangguang visual, (fokal neurologis defisit yang tiba-tiba) O : meningeal sign (+), brudzinzki sign(+), gangguan movement. Sesuai kasus A : stage 1 : gejala dan tanda awal yang tidak spesifik, apati, iritabilitas, sakit kepala, lemas, panas, anoreksia, mual muntah, tanpa perubahan level kesadaran. Stage 2 : tanda-tanda meningitis, perubahan level kesadaran, tanpa koma atau delirium, memiliki minor fokal neurologis defisit, ada ganguan nervus cranialis, ada gangguan pergerakan involunter. Stage 3 : Stupor dan coma, neurological defisit yang berat, kejang, abnormal movement Contos assesment : suspect meningitis tb stage ? (tergantung kasus) DD : viral meningitis, meningococcal meningitis, hemophilus meningitis. Planning : a. Planning Diagnosis : 1. lakukan pungsi lumbal menghasilkan likuor yang jernih atau santokhrom. Dapat pula agak keruh, namun pleiositosis tidak pernah melebihi 300-400/ mm3. 2. Analisis CSF dengan pungsi lumbal. : level glukosa (turun), level protein yang meningkat, 3. Pengecetan gram dan Kultur bakteri untuk Mycobacterium tuberculosis (50-80% positiv pada TBM) 4. PCR 5. CBC melihat WBC yang meningkat tanda-tanda infeksi, LED Meningkat 6. Dot-immunibinding assay pengukuran standardsirkulasi antibodi antimycorbial di CSF spesimen untuk diagnosis TBM terdapat antibodi Ig-G terhadap M.tubercolusis 7. Uji tuberkulin : dari jadi + 8. Chest x-ray b. Planning Terapi Diet : Tingkatkan asupan gizi, diet tinggi protein. Medika mentosa : berikan terapi antibiotik : isoniazid, rivampin, pyrazinamide, streptomycin diberikan kurang lebih 6-9 atau 12 bulan ditambah adjuvant kortikosteroid. c. Planing monitoring : Pasien harus di follow up untuk mengetahui adanya kemungkinan TB yang aktif. d. Planing KIE : semua orang yang kontak dengan pasien harus di investigasi. Perbaiki ventilasi rumah, jaga kebersihan lungkungan rumah.

KONJUNGTIFITIS Gejala klinis : mata merah, ada discharge, kelopak mata bengkak, nyeri, penglihatan kabur, sensitif terhadap cahaya, gatal. Perbedaan antara konjungtifitis virus dengan bakteri : Virus : discharge berair, tidak berwarna. Bakteri : discharge lengket dan berwarna kuning atau hijau. Saat bangun tidur tidak bisa membuka mata. Kasus yang tersering konjungtivitis akibat virus. Terapi : virus : tidak perlu anti biotik, gejala sembuh sendiri Bakteri : berikan antibiotik drop, sekret bisa dihilangkan dengan menggunakan larutan garam. Alergi : berikan antihistamin. Non medika mentosa : makan makanan bergizi untuk meiingkatkan daya tahan tubuh. planing diagnostik : tes alergi, untuk menyingkirkan kemungkinan alergi Tes kultur, uuntuk mengetahui penyebabnya virus atau bakteri Planing monitoring : jika sakit berlanjut, pasien dapat kembali kontrol. Planing KIE : menjaga sanitasi perorangan masing-masing keluarga.