Anda di halaman 1dari 5

Lingkar pinggang KOMPAS.

com - Umumnya berat badan ideal seseorang tercapai di masa remaja, dan perlahan akan bertambah sejalan bertambahnya usia. Fakta lain yang agak menyebalkan, karena tubuh ternyata mampu menyimpan lemak dalam jumlah tidak terbatas. Jadi, seberapa banyak pun lemak yang masuk, tubuh siap menampung. Lemak yang berlebih, biasanya menumpuk di sekitar perut. So pasti, bukan pemandangan yang mengasyikkan. "Kenaikan berat badan terjadi bila kita mengonsumsi lebih banyak kalori daripada jumlah yang dibutuhkan setiap hari. Kelebihan kalori inilah yang tersimpan dalam tubuh dan menjadi lemak," kata dr Samuel Oentoro, selaku ahli gizi klinik. Menurutnya, faktor pemicu kegemukan adalah faktor genetik atau keturunan. Selain itu, faktor lingkungan pun memberi pengaruh bagi kegemukan, ini menyangkut perilaku dan pola gaya hidup. Dan faktor psikis juga ikut ambil bagian. "Misalnya orang yang sedang mengalami stres dan melampiaskan emosi dengan makan tanpa batas," tambahnya. Cara mengukur Jumlah lemak tubuh yang normal untuk pria dewasa berkisar 10-20% dari berat badannya, dan untuk perempuan dewasa sekitar 25%. Untuk mengetahui dengan cepat apakah Anda menyimpan lemak berlebih, cobalah mencubit daging di perut Anda tepat di atas pusar. Bila jarak antara ibu jari dengan telunjuk lebih dari 2,5 cm, maka Anda termasuk obesitas. Atau, untuk menentukan apakah Anda mengalami besar di sekitar perut, ukur lingkar pinggang dengan mencari titik tertinggi di tulang pinggang, lalu ukur lebarnya. Seorang pria yang berlingkar pinggang lebih dari 102 cm (Indonesia 90 cm) dan perempuan lebih dari 88 cm (Indonesia 80 cm), menunjukkan faktor risiko tinggi kena penyakit. Apalagi, bila IMT-nya (Indeks Masa Tubuh) adalah 25 atau lebih. Di sekitar perut inilah, lokasi dari sebagian besar lemak yang tersimpan pada tubuh. Orang yang besar di bagian pinggang dan perut sering disebut obesitas tipe "apel", sedangkan pada tipe "pir" lemak berkumpul di bawah pinggang, sekitar pinggul dan paha. Dengan lemak berkumpul di sekitar pinggang, obesitas tipe "apel" berisiko lebih tinggi terkena hipertensi dan penyakit lainnya seperti diabetes, jantung koroner, dan stroke. Hal ini dimungkinkan karena lemak di rongga perut lebih mudah diuraikan, sehingga menumpuk di arteri. Lemak yang menumpuk di rongga perut ternyata lebih berbahaya daripada lemak di bagian bokong atau paha. Pasalnya, lemak di perut memiliki sel-sel lemak yang lebih besar, sehingga terjadi penumpukan lemak yang berlebihan di jaringan adiposa, dan akhirnya menghasilkan protein berbahaya.

Tidak ada seorang pun yang mau jadi obesitas! pernyataan ini sangat relevan dengan realita yang ada di masyarakat modern saat ini, termasuk Indonesia. Obesitas telah menjadi suatu epidemi global di seluruh dunia, dan disebut sebagai The New World Syndrome. Organisasi kesehatan dunia WHO mengatakannya sebagai suatu worldwide epidemic, angka kejadiannya terus meningkat dimana-mana. Pada umumnya Obesitas dapat dibagi atas dua kelompok besar, yaitu Obesitas tipe Android dan Obesitas tipe Gynoid. 1. Obesitas tipe Android Badan berbentuk gendut seperti gentong atau buah apel, perut membuncit kedepan, banyak didapatkan pada kaum pria, sehingga disebut pula obesitas tipe pria atau male type obesity. Tipe ini cenderung mengakibatkan penyakit jantung koroner, diabetes, dan stroke. Nama lain obesitas tipe ini adalah obesitas tipe sentral (central obesity), abdominal obesity, atau visceral obesity. Disebut obesitas viseral karena penimbunan lemak terjadi di dalam rongga perut (abdomen), tepatnya di sekitar omentum usus (viseral). Lemak viseral yang berlebihan ini memperoleh suplai darah dari pembuluh darah omentum, dan mengeluarkan banyak bahan kimia dan hormone ke dalam peredaran darah. Banyaknya lemak yang tertimbun dalam rongga perut mencerminkan makin lebarnya lingkaran pinggang (waist circumference) orang itu. 2. Obesitas tipe Gynoid Banyak dijumpai pada kaum wanita, terutama yang telah masuk masa menopause, panggul dan pantatnya besar, dari jauh tampak seperti buah pir. Tipe ini dinamakan juga obesitas tipe wanita atau female-type obesity. Nama lain tipe ini adalah obesitas tipe perifer (peripheral obesity), atau gluteal obesity (dari kata gluteus yang berarti pantat). Adapun cara menentukan derajat obesitas yang paling sering dipakai adalah dengan mengukur Body Mass Index atau BMI, yaitu dengan mengukur tinggi badan (dalam meter) dan berat badan (dalam kilogram), kemudian membagi berat badan dengan kuadrat dari tinggi badan. Lihat Rumus dibawah ini: BMI = Berat Badan / ((Tinggi Badan (m)) x (Tinggi Badan (m))) Contoh seseorang dengan berat badan 70 kg dan tinggi badan 160 cm, maka didapatkan BMI = 70 / (1.6 x 1.6) = 27.3 (Gemuk) Menurut WHO, BMI orang normal adalah 18,5 24,9. BMI kurang dari 18,5 dikatakan kurus. Sedangkan BMI 25 keatas disebut obesitas, yang dibagi pula dalam obesitas derajat satu (BMI 25 29,9), obesitas derajat dua (BMI 30 39,9), dan obesitas derajat tiga atau morbid / severe obesity (BMI 40 atau lebih). Untuk lebih rincinya, berikut adalah table klasifikasi obesitas menurut WHO dan umum: KLASIFIKASI BMI OBESITAS WHO POPULER / UMUM Underweight Kurus

(kg/m2) < 18,5

Healthy weight Obesitas derajat 1 Obesitas derajat 2 Obesitas derajat 3

Normal Overweight / Gemuk Obesitas Obesitas Morbid / Berat

18,5 24,9 25 29,9 30 39,9 > 40

Berat badan yang sehat, normal, atau ideal (Healthy Weight) adalah berat badan yang bukan Underweight, bukan pula Overweight (Kegemukan) atau obesitas, berarti BMI 20 25, lingkar pinggang dibawah 88 cm untuk wanita dan di bawah 102 cm untuk pria.

Surabaya - Waspadai lingkar pinggang tubuh lebih dari 90 cm, karena memicu obesitas dan terancam diabetes mellitus (DM). Bagi kaum pria di Indonesia, lingkar pinggang lebih dari 90 cm dan kaum hawa lebih dari 80 cm. "Semakin besar lingkar pinggang semakin besar risiko diabetes mellitus (kencing manis)," kata Ketua Pusat Diabetes dan Nutrisi RSU dr Soetomo Surabaya Prof Dr dr Askandar Tjokroprawiro SpPD K-EMD, Rabu (5/10/2011). Dengan deteksi sejak awal dengan cara mengkontrol kadar gula darah serta insulin dalam tubuh, memudahkan penanganan diebetes yang memang tidak bisa disembuhkan, tapi dapat diukur kadar gulanya. Rata-rata penderita baru mengetahui terserang diabetes setelah timbul komplikasi, misalnya jantung koroner atau luka di kaki. "Kalau dari awal sudah diketahui, bisa dikontrol kadar gulanya, sehingga penderitanya dapat hidup layak," terangnya. Ia menambahkan, polda hidup yang tidak sehat dan sering mengkonsumsi makanan junk food, dapat menimbulkan obesitas dan berpotensi terserang DM. Serangan kencing manis ini bukan kalangan usia 50 tahun ke atas. Dewasa dan remaja yang pola hidupnya tidak sehat dan jarang berolahraga, juga bisa terkena DM tipe II. Askandar memprediksi, setiap tahun sekitar 40 ribu penderita diabetes berobat dan kontrol di RSU dr Soetomo. "Jarang berolahraga, sering konsumsi makan tidak sehat rentan diabetes," jelasnya.

TEMPO.CO , Jakarta:Tidak ada salahnya mengukur lingkar pinggang dan berat badan. Sebab bagian tubuh ini ternyata dapat memberikan peringatan awal bagi seseorang kapan harus mulai melakukan diet guna menghindari sindrom metabolisme penyebab diabetes dan juga jantung koroner. "Pada perempuan biasanya sudah harus waspada bila memiliki lingkar pinggang di atas 88 cm dan pada pria di atas 102 cm," ujar Profesor Sidartawaan Soegondo, Presiden Asosiasi Diabetes Indonesia, sekaligus Pakar Endokrinologi dan Metabolisme dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dalam acara "Bahaya Mengkonsumsi Gula Tambahan" di Hotel Borobudur, Selasa 28 Februari 2012. Selain lingkar pinggang, jumlah indeks massa tubuh juga harus diperhatikan guna mewaspadai gejala diabetes atau penyakit lain akibat sindrom metabolisme. Menurut Dokter Spesialis Pediatri dan Endokrinologi FK UI, RSCM, Dr. Aman B. Pulungan SpA(K), jika indeks massa tubuh melebihi presentin di atas 85, ada baiknya segera memeriksakan diri ke dokter. "Apalagi yang memiliki keturunan diabetes, di sini gen juga ikut mempengaruhi," ujar Dokter Aman. Menurut Badan Kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dunia akan mengalami masalah obesitas yang parah bila tak ada upaya penanggulangannya. Pada tahun 2015 lebih dari sepertiga penduduk dunia diperkirakan mengalami obesitas. Bahkan tahun 2020 penyakit akibat pola diet yang salah akan menyumbang angka kematian di hampir tiga perempat kematian penduduk dunia. Antara lain diperkirakan 71 persen akibat jantung iskemik, 75 persen akibat stroke, dan 70 persen karena diabetes. Karena itu tidak ada salahnya anda mengukur lingkar pinggang dan memperhitungkan indeks masa tubuh anda. Tinggalkan berbagai macam makanan yang mengandung gula tambahan, dan kembali pada pola hidup sehat yang menggunakan banyak energi, seperti berjalan kaki dan kembali menggunakan tangga.