Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pelaksanaaan pembangunan di sektor ekonomi salah satunya adalah dengan kegiatan industri. Kegiatan industri disamping bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan, ternyata juga menghasilkan limbah sebagai pencemar lingkungan. Limbah ini dapat mencemari ekosistem dan lingkungan hidup manusia,salah satunya terhadap tanah. Salah satu daerah di Jawa Barat yang mengalami pencemaran lahan karena industri adalah kecamatan Rancaekek yang terletak Kawasan industri tekstil disepanjang jalan di Kabupaten Bandung.

raya Rancaekek-Cicalengka,

dikembangkan sejak tahun 1978 (Suganda et al. : 2002), dan dibangun pada lahan pesawahan. Pembuangan limbah ke tanah apabila melebihi kemampuan tanah dalam mencerna limbah akan mengakibatkan pencemaran tanah. Jenis limbah yang potensial merusak lingkungan hidup adalah limbah yang termasuk dalam Bahan Beracun Berbahaya (B3) yang didalamnya terdapat logam-logam berat. Menurut Arnold (1990) & Subowo et al (1995) dalamCharlena (2004), logam berat adalah unsur logam yang mempunyai massa jenis lebih besar dari 5 g/cm3, misalnya besi (Fe) (Charlena, 2004). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Suganda et al. (2002) dalam laporan Reklamasi Lahan Tercemar di Kecamatan Rancaekek (Badan

Pengendalian Hidup Kabupaten Bandung, 2003:15), tanah di Rancaekek telah mengalami pencemaran oleh logam berat. Tanah pada lahan sawah di Rancaekek mengandung Fe, Cu, Zn, Pb, Cd, Cr dan Ni. Allah berfirman dalam Qs. Ar-Rum 41 :

Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar(Qs. Ar-Rum/30:41). Walaupun unsur hara mikro (Mn, Cu, Zn, Mo, B, Cl dan Fe) lebih sedikit dibutuhkan oleh tanaman bila dibandingkan dengan unsur hara makro, namun unsur hara mikro tersebut tetap diperlukan oleh tanaman. (Lahuddin, 2007). Dari uraian diatas, dapat kita ketahui bahwa kelebihan unsur logam berat dalam tanah sangatlah berbahaya. Dengan demikian, perlu dilakukan suatu tindakan evaluasi lahan yang tercemar guna mengetahui tingkat pencemaran yang terjadi di suatu kawasan industri. Perlunya mengetahui kadar dan tingkat pencemaran logam berat besi (Fe3+) dalam tanah di daerah sekitar kawasan industri Rancaekek. 1.2 Rumusan Masalah Dari latar belakang tersebut, dapat dirumuskan permasalahan yaitu bagaimana tingkat pencemaran tanah oleh logam berat besi (Fe3+) di Kecamatan Rancaekek? 1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan kadar dan sebaran tingkat kontaminasi/pencemaran logam berat besi (Fe3+) dalam tanah di sekitar kawasan industri Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. 1.4 Batasan Masalah 1. Sampel tanah yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanah pada di sekitar kawasan industri Kecamatan Rancaekek dengan 3 titik sampel. 2. Metode analisis kadar unsur logam besi (Fe3+) yang digunakan adalah metoda Spektrofotometri Visible. 3. Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan yang signifikan kadar logam besi (Fe3+) sesuai dengan 6 titik sampel, yaitu titik A, B, C, D, E, dan F.

1.5 Manfaat Penelitian 1. Sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah dalam penetapan kebijakan mengenai pengelolaan dan pembangan limbah. 2. Sebagai bahan masukan kepada pihak pengelola industri di Rancaekek supaya lebih memperhatikan sarana dan prosedur pengelolaan limbah.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Logam Berat Logam berat adalah unsur-unsur kimia dengan bobot jenis lebih besar dari 5 gr/cm3, terletak di sudut kanan bawah sistem periodik, mempunyai afinitas yang tinggi terhadap unsur S dan biasanya bernomor atom 22 sampai 92 dari perioda 4 sampai 7. Sebagian logam berat seperti timbal (Pb), kadmium (Cd), dan merkuri (Hg) merupakan zat pencemar yang berbahaya. Logam berat besi (Fe) juga dapat berbahaya jika terakumulasi dalam jumlah yang banyak. Afinitas yang tinggi terhadap unsur S menyebabkan logam ini menyerang ikatan belerang dalam enzim, sehingga enzim bersangkutan menjadi tak aktif. Gugus karboksilat (-COOH) dan amina (-NH2) juga bereaksi dengan logam berat. Kadmium, timbal, dan tembaga terikat pada sel-sel membran yang menghambat proses transpormasi melalui dinding sel. Logam berat juga mengendapkan senyawa fosfat biologis atau mengkatalis penguraiannya (Manahan, 1977). Menurut Kementrian Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup (1990) sifat toksisitas logam berat dapat dikelompokan ke dalam 3 kelompok, yaitu : a. Bersifat toksik tinggi yang terdiri dari atas unsur-unsur Hg, Cd, Pb, Cu, dan Zn. b. Bersifat toksik sedang terdiri dari unsur-unsur Cr, Ni, dan Co. c. Bersifat tosik rendah terdiri atas unsur Mn dan Fe. Adanya logam berat di perairan, berbahaya baik secara langsung terhadap kehidupan organisme, maupun efeknya secara tidak langsung terhadap kesehatan manusia. Hal ini berkaitan dengan sifat-sifat logam berat ( PPLH-IPB, 1997; Sutamihardja dkk, 1982) yaitu : 1. Sulit didegradasi, sehingga mudah terakumulasi dalam lingkungan perairan dan keberadaannya secara alami sulit terurai (dihilangkan).

2. Dapat terakumulasi dalam organisme termasuk kerang dan ikan, dan akan membahayakan kesehatan manusia yang mengkomsumsi organisme tersebut. 3. Mudah terakumulasi di sedimen, sehingga konsentrasinya selalu lebih tinggi dari konsentrasi logam dalam air. Disamping itu, sedimen mudah tersuspensi karena pergerakan masa air yang akan melarutkan kembali logam yang dikandungnya ke dalam air, sehingga sedimen menjadi sumber pencemar potensial dalam skala waktu tertentu. Logam berat masih termasuk golongan logam-logam dengan kriteriakriteria yang sama dengan logam-logam yang lain. Perbedaannya terletak dari pengaruh yang dihasilkan bila logam berat ini berikatan dan atau masuk kedalam tubuh organisme hidup. Sebagai contoh, bila unsur logam besi (Fe) masuk dalam tubuh, meski dalam jumlah agak berlebihan biasanya tidaklah menimbulkan pengaruh yang buruk terhadap tubuh karena unsur besi (Fe) dibutuhkan dalam darah untuk mengikat oksigen. Sedangkan unsur logam berat baik itu logam berat beracun yang dipentingkan seperti tembaga (Cu), bila masuk ke dalam tubuh dalam jumlah berlebihan akan menimbulkan pengaruh-pengaruh buruk terhadap fungsi fisiologis tubuh. 2.1.1. Sifat Kimia Logam Berat Logam berat didefinisikan sebagai unsur-unsur logam dengan kerapatan jenis lebih dari 5 g/cm3 dengan unsur-unsur seperti Cd, Co, Cu, Fe, Pb, Mo, Nidan Zn (Jones, 1997). Sifat kimia logam berat yang diteliti disajikan selengkapnya pada Tabel 1.

Tabel 1. Sifat Kimia Logam Berat yang Diteliti

2.1.2. Sumber Kontaminasi dan Pencemaran Logam Berat dalam Tanah Pencemaran yang disebabkan oleh logam berat dalam tanah merupakan masalah lingkungan yang sangat berbahaya. Jika dibandingkan dengan udara dan air, tanah mempunyai kemampuan perbaikan yang sangat rendah. Padahal lebih dari 99 % dari pencemaran lingkungan terbentuk di dalam tanah dan partikel- partikel sedimen (Violante et al., 2001) Istilah kontaminasi tanah merujuk pada kisaran kadar logam berat yang terukur dalam tanah yang belum atau tidak akan segera memberikan pengaruh negatif pada pertumbuhan dan

perkembangan tanaman atau komponen lingkungan lainnya. Sementara itu istilah pencemaran tanah merujuk pada kisaran kadar logam berat yang terukur dalam tanah yang telah menyebabkan pengaruh negatif pada beberapa atau seluruh komponen lingkungan (Lacatusu, 1998). Sumber antropogenik utama logam berat dalam tanah dan lingkunganadalah: (1) pertambangan dan peleburan mineral logam; (2) bahan pertanian dan hortikultura; (3) lumpur limbah; (4) emisi kendaraan bermotor; (5) industri logam manufaktur, penggunaan dan pembuangan komoditas berbahan logam; (6) elektronika; (7) industri kimia dan manufaktur lainnya; dan (8) pembuangan limbah (Alloway, 1995). 2.1.3. Bentuk-bentuk Kimia dan Karakteristik Logam Berat dalam Tanah Perubahan bentuk kimia logam berat dapat terjadi sebagai akibat dari perubahan kondisi kimia-fisik tanah seperti reaksi tanah, kapasitas tukar kation, kadar bahan organik dan kondisi reduksi oksidasi tanah. Logam berat dalam tanah biasanya terdapat (1) sebagai bagian dari bahaninduk tanah atau mineral tanah; (2) diipresipitasi dengan senyawa lainnya dalam tanah; (3) dijerap pada lapisan pertukaran oksida atau hidroksida logam, mineral liat dan bahan organik; (4) dalam larutan tanah dalam bentuk cairan atau dikompleks dengan ligan-ligan organik atau

anorganik; dan (5) berada dalam mikroorganisme, tumbuhan atau binatang (Schmitt dan Sticher, 1991). Czurda et al. (1996) menambahkan bahwa logam berat dalam tanah dapat dijumpai (1) sebagai ion bebas atau dikompleks dalam pori air; (2) dijerap atau dapat dipertukarkan pada kompleks jerapan tanah, terutama oleh Fe dan Mnoksida dan hidroksida, mineral fiat dan bahan organik; (3) dipresipitasi sebagai senyawa kimia (hidroksida, karbonat dan sulfida); (4) ko-presipitasi oleh oksida dan hidroksida Fe dan Mn, dalam karbonat sulfida dan mineral fosfat; (5) dikompleks oleh bahan organik; (6) residu, terselimuti di luar sistem tanah dan sisa-sisa lapukan mineral (khususnya silikat). Kebanyakan logam berat (kecuali metalloid, As, Sb, Se, Mo dan V) merupakan kation dalam larutan tanah. Daya serap tanah terhadap kation-kation tersebut tergantung jumlah muatan negatif pada permukaan koloid tanah. Dalam banyak kasus, beberapa kation terjerap secara selektif oleh bahan penyerap (adsorbent). Hal ini ditentukan oleh valensi dan tingkat hidrasi kation. Makin tinggi valensi, maka kekuatan kation untuk menggantikan semakin tinggi, sedangkan makin tinggi tingkat hidrasi, maka kekuatan kation logam berat untuk menggantikan makin rendah. Serapan logam berat dalam tanah bukan suatu fenomena yang sederhana, karena lebih dari satu jenis logam berat biasanya berada dalam larutan tanah sebagai hasil pembentukan kompleks organik dan anorganik. Tingkat mobilitas, aktifitas, dan keragaman logam berat dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu: pH, temperatur, potensial redoks, kapasitas tukar kation dari fase padatan, kompetisi dengan ion-ion logam, pengkelatan oleh anion, komposisi danjumlah larutan tanah. Tan (1991) menjelaskan bahwa pengaruh pengkelatan terhadap mobilitaslogam disebabkan oleh perubahan ion. Setelah pengkelatan, kation dikelilingioleh ligan-ligan pengkelat sehingga kation tersebut dapat ditransformasikan ke dalam bentuk anion. Anion akan ditolak

oleh koloid bermuatan negatif. Olehkarena itu, mereka akan tetap mobil. Pengkelatan meningkatkan mobilitas ionlogam dan

ketersediaannya bagi tanaman. Senyawa-senyawa humat juga efektif dalam mengikat hara-hara mikro, seperti Fe, Cu, Zn, dan Mn. Dalam tanah-tanah masam, hara-hara mikro ini terdapat dalam jumlah besar dan menyebabkan masalah keracunan pada tanaman. Dengan memberikan humus pada tanahmasam, sebagian hara mikro yang berlebih tersebut terambil dari larutan melalui pembentukan kompleks dengan senyawa-senyawa humat. Pada suatu saat mereka dapat dilepaskan lagi kepada tanaman dalam jumlah yang lebih kecil sesuai dengan yang diperlukan. Dengan cara ini, kelat bertindak sebagai agen pengatur. Dari sudut pandang lingkungan atau ekologi, pengkomplekan ionion logam berat oleh senyawa-senyawa humat dapat secara sementara mengurangi bahaya keracunan bagi manusia, hewan, dan tanaman. Komposisi lapisan permukaan dari profil tanah sangat penting untuk mengevaluasi mobilitas logam berat dalarn suatu lingkungan. Secara umum, diketahui akumulasi maksimum logam berat terjadi pada kedalaman < 10-15 cm dari profil tanah (Diatta et al., 2003) 2.2. Perilaku Logam Berat dalam Tanah 2.2.1. Hubungan Logam Berat dengan Reaksi Tanah Reaksi tanah merupakan faktor pengontrol penting perilaku kimia logam-logam dan berbagai proses penting lainnya di dalam tanah. Soepardi (1983) menyatakan bahwa pH tanah mempengaruhi serapan unsur hara dan pertumbuhan tanaman melalui pengaruh langsungnya terhadap tersedianya unsur hara dan adanya unsur-unsur beracun. Hal ini menunjukkan bahwa pH tanah merupakanfaktor penting untuk

menentukan ketersediaan unsur-unsur esensial dan non esensial bagi tanaman. Kation logam dalam keadaan masam sangat larut dan tersedia bagi tanaman. Dalam tanah masam secara relatif logam berat dijumpai dalam jumlah banyak dan dapat bersifat meracun bagi tanaman.

Dengan naiknya pH, bentuk kation logam berubah menjadi bentukbentuk hidroksida atau oksida. Hal ini terjadi karena naiknya pH tanah dan meningkatnya muatan negatif permukaan mineral fiat yang bermuatan tidak tetap. Kenaikan pH tersebut mengubah ion-ion logam menjadi senyawa yang mengendap (Lindsay, 1979). Pada umumnya kation-kation logam berat lebih mudah bergerak dalam kondisi masam dan peningkatan pH oleh pengapuran menurunkan ketersediaan logam berat (Alloway, 1995). Pengaruh logam berat terhadap pertumbuhan tanaman.Mobilitas dan ketersediaan logam berat tergantung pada cara dan kekuatan fiksasi logam berat oleh komponen tanah

khususnya oleh fraksi fiat (Czurda et al, 1996). Tan (1991) menyatakan bahwa larutan tanah mengandung suatu campuran kation. Semua kation tersebut akan dapat tertarik ke permukaan liat. Kation-kation yang berbeda mempunyai kemampuan yang berbeda untuk menukar kation yang diserap. Jumlah yang diserap sexing tidak setara dengan yang ditukarkan. Ion-ion divalen diikat lebih kuat daripada ion-ion monovalen, sehingga akan lebih sulit untuk dipertukarkan.

2.2.2. Hubungan Logam Berat dengan Bahan Organik Tanah Logam berat dalam tanah dapat berada dalam bentuk ion atau berikatan dengan mineral maupun bahan organik tanah. Menurut Soepardi (1983) keberadaan logam-logam berat berkaitan erat dengan kadar bahan organik di dalam tanah. Adanya bahan organik tanah akan menyebabkan pengkelatankation-kation logam. Proses-proses yang terjadi di dalam tanah sebagian besar dilakukan oleh penyusun tanah yang jumlahnya relatif sedikit, yaitu liat dan humus. Bentuk koloidal, baik fiat maupun bahan organik, merupakan pusat kegiatan dalam tanah dimana terjadi reaksi-reaksi pertukaran ion. Alloway (1995) menambahkan bahwa bahan organik dalam tanah selain menyumbangkan sebagian KTK juga menyerap logam berat dalam bentuk kompleks.

2.3. Toksisitas Logam Berat 2.3.1. Toksisitas Logam Berat terhadap Tanaman Kemampuan tanaman dalam mengakumulasikan logam berat dan kontaminan lainnya bervariasi dengan kondisi alami spesies tanaman dan kontaminan logam (Naidu et al., 2003). Gejala pencemaran Cr pada tanaman sayuran dan buah-buahan adalah terjadinya nekrosis dan peningkatan kadar Cr pada daun. Gejala ini ditemukan pada tanaman di sekitar pabrik pelapisan Cr yang

menghasilkan krom heksavalen (Lepp, 1981). Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah logam berat yang dapat diserap oleh tanaman adalah: (a) Kadar logam berat dalam larutan tanah, (b) Pergerakan ion logam berat dari dalam tanah ke lapisan akar, (c) Pergerakan logam berat dari permukaan akar ke dalam akar tanaman, dan (d) Pergerakan logam berat dari jaringan akar ke pucuk tanaman. Penyerapan logam oleh akar tanaman bisa dengan proses pasif dan aktif (Alloway, 1995).

2.3.2. Toksisitas Logam Berat terhadap Tubuh Manusia Secara umum partikel pencemar udara dapat merusak

lingkungan, tanaman, hewan, dan manusia. Pada umumnya udara yang telah tercemar dapat menimbulkan berbagai macam penyakit saluran pemapasan atau pneumokiosis (Wardhana, 2001). Zat-zat pencemar dalam lingkungan dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui tiga cars utama, yaitu melalui saluran pernapasan, saluran makanan, dan melalui kulit. Cara masuknya zat-zat ini merupakan faktor penting dalam menentukan tingkat bahayanya terhadap tubuh manusia. Pengaruh bahaya zat-zat kimia pencemar ini terhadap tubuh manusia adalah dapat menekan atau menstimulir metabolisme dan

10

fungsi organ. Bila zat-zat ini jumlahnyasedikit pada umumnya akan menstimulir fungsi organ, sedangkan yang dosisnya tinggi dapat menghancurkan aktifitasnya. Beberapa organ tubuh yang dapat terserang penyakit akibat masuknya zat-zat toksik adalah hidung, sinus, larynx, percabangan bronchial, paru-pare, ginjal, otak, hati dan otototot. Penceinar-pencemar juga diekskresikan melalui keringat, air mats, saliva dan air susu, terutama bahan-bahan yang larut dalam lemaic Pencemar-pencemar dapat juga dibuang oleh jaringan pengikat yang ada dalam rambut dan kuku (Arka el al., 2001). Keberadaan unsur logam Seng (Zn), Besi (Fe) dan Tembaga (Cu) di dalam tanah larutan tanah mengandung berbagai zat terlarut berbentuk ion, baik kation maupun anion. Kation yang umum terdapat dalam larutan tanah ialah H+, Al3+, Fe3+ (dalam suasana aerob), Fe2+ (dalam suasana anaerob), Na+, K+, Ca+, Mg2+, Mn2+, dan NH4+. Anion yang umum dijumpai ialah SiO44- dari asam monosilikat. NO3-, ortofosfat primer H2PO4- atau ortofosfat sekunder HPO42- dan SO42-. Larutan tanah juga mengandung partikel-partikel koloid terdespersi berupa koloid anorganik (lempung) dan koloid organik (karbohidrat, asam amino, protein, bakteri, dan algae). Gas-gas yang terlarut dalam larutan tanah ialah CO2, dan O2 (Tan, 1994). Walaupun tanah telah terkontaminasi bahan pencemar anorganik dalam jumlah yang cukup besar, tetapi kemungkinan masalah yang timbul berasal dari beberapa unsur saja. Unsur yang bersifat meracuni tanaman atau menurunkan produksi jika konsentrasinya tinggi yakni termasuk seng, tembaga dan kadmium. Namun dalam konsentrasi yang rendah, beberapa unsur mikro tersebut bermanfaat untuk tanaman ataupun ternak (Hanafiah, 2005). Kebanyakan senyawa organik hilang dari dalam tanah melalui proses volatilisasi atau terurai melalui proses dekomposisi dan hasil peruraian tersebut dapat berlaku sebagai bahan pencemar (Hanafiah, 2005).

11

2.4. Logam Berat Besi (Fe3+) Besi adalah logam yang paling banyak dan paling beragam

penggunaannya. Hal itu karena beberapa hal, diantaranya:Kelimpahan besi di kulit bumi cukup besar Pengolahannya relatif mudah dan murah dan Besi mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan dan mudah dimodifikasiSalah satu kelemahan besi adalah mudah mengalami korosi. Korosi menimbulkan banyak kerugian karena mengurangi umur pakai berbagai barang atau bangunan yang menggunakan besi atau baja. Sebenarnya korosi dapat dicegah dengan mengubah besi menjadi baja tahan karat (stainless steel), akan tetapi proses ini terlalu mahal untuk kebanyakan penggunaan besi. Korosi besi memerlukan oksigen dan air. Berbagai jenis logam contohnya Zink dan Magnesium dapat melindungi besi dari korosi. Cara-cara pencegahan korosi besi yang akan dibahas berikut ini didasarkan pada dua sifat tersebut. Logam murni besi sangat reaktif secara kimiawi dan mudah terkorosi, khususnya di udara yang lembab atau ketika terdapat peningkatan suhu. Memiliki 4 bentuk allotroik ferit, yakni alfa, beta, gamma dan omega dengan suhu transisi 700, 928, dan 1530oC. Bentuk alfa bersifat magnetik, tapi ketika berubah menjadi beta, sifat magnetnya menghilang meski pola geometris molekul tidak berubah. Hubungan antara bentuk-bentuk ini sangat aneh. Besi pig adalah alloy dengan 3% karbon dan sedikit tambahan sulfur, silikon, mangan dan fosfor. Besi bersifat keras, rapuh, dan umumnya mudah dicampur, dan digunakan untuk menghasilkan alloy lainnya, termasuk baja. Besi tempa yang mengandung kurang dari 0.1% karbon, sangat kuat, dapat dibentuk, tidak mudah campur dan biasanya memiliki struktur berserat. Baja karbon adalah alloy besi dengan sedikit Mn, S, P, dan Si. Alloy baja adalah baja karbon dnegan tambahan seperti nikel, khrom, vanadium dan lainlain. Besi relatif murah, mudah didapat, sangat berguna dan merupakan logam yang sangat penting.

12

2.5. Spektrofotometri Visible Spektrofotometri visible disebut juga spektrofotometri sinar tampak. Yang dimaksud sinar tampak adalah sinar yang dapat dilihat oleh mata manusia. Cahaya yang dapat dilihat oleh mata manusia adalah cahaya dengan panjang gelombang 400-800 nm dan memiliki energi sebesar 299149 kJ/mol. Elektron pada keadaan normal atau berada pada kulit atom dengan energi terendah disebut keadaan dasar (ground-state). Energi yang dimiliki sinar tampak mampu membuat elektron tereksitasi dari keadaan dasar menuju kulit atom yang memiliki energi lebih tinggi atau menuju keadaan tereksitasi. Cahaya yang diserap oleh suatu zat berbeda dengan cahaya yang ditangkap oleh mata manusia. Cahaya yang tampak atau cahaya yang dilihat dalam kehidupan sehari-hari disebut warna komplementer. Misalnya suatu zat akan berwarna orange bila menyerap warna biru dari spektrum sinar tampak dan suatu zat akan berwarna hitam bila menyerap semua warna yang terdapat pada spektrum sinar tampak. Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel berikut : Panjang gelombang (nm) 400 435 435 480 480 490 490 500 500 560 560 580 580 595 595 610 610 800 Warna warna yang diserap Ungu Biru Biru kehijauan Hijau kebiruan Hijau Hijau kekuningan Kuning Jingga Merah Warna komplementer (warna yang terlihat) Hijau kekuningan Kuning Jingga Merah Ungu kemerahan Ungu Biru Biru kehijauan Hijau kebiruan

Pada spektrofotometer sinar tampak, sumber cahaya biasanya menggunakan lampu tungsten yang sering disebut lampu wolfram. Wolfram merupakan salah satu unsur kimia, dalam tabel periodik unsur wolfram termasuk golongan unsur

13

transisi tepatnya golongan VIB atau golongan 6 dengan simbol W dan nomor atom 74. Wolfram digunakan sebagai lampu pada spektrofotometri tidak terlepas dari sifatnya yang memiliki titik didih yang sangat tinggi yakni 5930 C.

Gambar 2. Spektrofotometer Visible Jenis spektronic-20 yang bekerja pada rentang panjang gelombang sinar tanpak. Gambar atas merupakan spectronic-20 lama yang sudah jarang bahkan mungkin tidak diproduksi lagi. Sedangkan gambar kedua adalah spectronic-20 terbaru. Panjang gelombang yang digunakan untuk melakukan analisis adalah panjang gelombang dimana suatu zat memberikan penyerapan paling tinggi yang disebut maks. Hal ini disebabkan jika pengukuran dilakukan pada panjang gelombang yang sama, maka data yang diperoleh makin akurat atau kesalahan yang muncul makin kecil. Berdasarkan hukum Beer absorbansi akan berbanding lurus dengan konsentrasi, karena b atau l harganya 1 cm dapat diabaikan dan merupakan suatu tetapan. Artinya konsentrasi makin tinggi maka absorbansi yang dihasilkan makin

14

tinggi, begitupun sebaliknya konsentrasi makin rendah absorbansi yang dihasilkan makin rendah. (Hukum Lamber-Beer dan syarat peralatan yang digunakan agar terpenuhi hukum Lambert-Beer). Hubungan antara absorbansi terhadap konsentrasi akan linear (AC) apabila nilai absorbansi larutan antara 0,2-0,8 (0,2 A 0,8) atau sering disebut sebagai daerah berlaku hukum Lambert-Beer. Jika absorbansi yang diperoleh lebih besar maka hubungan absorbansi tidak linear lagi. Kurva kalibarasi hubungan antara absorbansi versus konsentrasi dapat dilihat pada Gambar.

Gambar Kurva hubungan absorbansi vs konsentrasi Faktor-faktor yang menyebabkan absorbansi vs konsentrasi tidak linear: 1. Adanya serapan oleh pelarut. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan blangko, yaitu larutan yang berisi selain komponen yang akan dianalisis termasuk zat pembentuk warna. 2. Serapan oleh kuvet. Kuvet yang ada biasanya dari bahan gelas atau kuarsa, namun kuvet dari kuarsa memiliki kualitas yang lebih baik. 3. Kesalahan fotometrik normal pada pengukuran dengan absorbansi sangat rendah atau sangat tinggi, hal ini dapat diatur dengan pengaturan konsentrasi, sesuai dengan kisaran sensitivitas dari alat yang digunakan (melalui pengenceran atau pemekatan). Zat yang dapat dianalisis menggunakan spektrofotometri sinar tampak adalah zat dalam bentuk larutan dan zat tersebut harus tampak berwarna, sehingga analisis yang didasarkan pada pembentukan larutan berwarna disebut juga metode kolorimetri.

15

Jika tidak berwarna maka larutan tersebut harus dijadikan berwarna dengan cara memberi reagen tertentu yang spesifik. Dikatakan spesifik karena hanya bereaksi dengan spesi yang akan dianalisis. Reagen ini disebut reagen pembentuk warna (chromogenik reagent). Berikut adalah sifat-sifat yang harus dimiliki oleh reagen pembentuk warna: 1. Kestabilan dalam larutan. Pereaksi-pereaksi yang berubah sifatnya dalam waktu beberapa jam, dapat menyebabkan timbulnya semacam cendawan bila disimpan. Oleh sebab itu harus dibuat baru dan kurva kalibarasi yang baru harus dibuat saat setiap kali analisis. 2. 3. Pembentukan warna yang dianalisis harus cepat. Reaksi dengan komponen yang dianalisa harus berlangsung secara stoikiometrik. 4. Pereaksi tidak boleh menyerap cahaya dalam spektrum dimana dilakukan pengukuran. 5. Pereaksi harus selektif dan spesifik (khas) untuk komponen yang dianalisa, sehingga warna yang terjadi benar-benar merupakan ukuran bagi komponen tersebut saja. 6. Tidak boleh ada gangguan-gangguan dari komponen-komponen lain dalam larutan yang dapat mengubah zat pereaksi atau komponen komponen yang dianalisa menjadi suatu bentuk atau kompleks yang tidak berwarna, sehingga pembentukan warna yang dikehandaki tidak sempurna. 7. Pereaksi yang dipakai harus dapat menimbulkan hasil reaksi berwarna yang dikehendaki dengan komponen yang dianalisa, dalam pelarut yang dipakai. Setelah ditambahkan reagen atau zat pembentuk warna maka larutan tersebut harus memiliki lima sifat di bawah ini: 1. Kestabilan warna yang cukup lama guna memungkinkan pengukuran absorbansi dengan teliti. Ketidakstabilan, yang mengakibatkan menyusutnya warna larutan (fading), disebabkan oleh oksidasi oleh udara, penguraian secara fotokimia, pengaruh keasaman, suhu dan jenis pelarut. Namun kadangkadang dengan mengubah kondisi larutan dapat diperoleh kestabilan yang lebih baik.

16

2.

Warna larutan yang akan diukur harus mempunyai intensitas yang cukup tinggi (warna harus cukup tua) yang berarti bahwa absortivitas molarnya () besar. Hal ini dapat dikontrol dengan mengubah pelarutnya. Dalam hal ini dengan memilih pereaksi yang memiliki kepekaan yang cukup tinggi.

3.

Warna larutan yang diukur sebaiknya bebas daripada pengaruh variasi-variasi kecil kecil dalam nilai pH, suhu maupun kondisis-kondisi yang lain.

4. 5.

Hasil reaksi yang berwarna ini harus larut dalam pelarut yang dipakai. Sistem yang berwarna ini harus memenuhi Hukum Lambert-Beer.

2.5.1. Menentukan konsentrasi sampel dengan cara kurva kalibrasi Konsentrasi sampel dalam suatu larutan dapat ditentukan dengan rumus yang diturunkan dari hukum lambert beer (A= a . b . c atau A = . b . c). Namun ada cara lain yang dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi suatu spesi yang ada dalam suatu larutan yakni dengan cara kurva kalibarasi. Cara ini sebenarnya masih tetap bertumpu pada hukum Lambert-Beer yakni absorbansi berbanding lurus dengan konsentrasi. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam penentuan konsentrasi zat dengan kurva kalibarasi: 1. Maching kuvet : mencari dua buah kuvet yang memiliki absorbansi atau transmitansi sama atau hampir sama. Dua buah kuvet inilah yang akan digunakan untuk analisis, satu untuk blanko, satu untuk sampel. Dalam melakukan analisis Maching kuvet harus dilakukan agar kesalahannya makin kecil. 2. Membuat larutan standar pada berbagai konsentrasi. Larutan standar yaitu larutan yang konsentrasinya telah diketahui secara pasti. Konsentrasi larutan standar dibuat dari yang lebih kecil sampai lebih besar dari konsentrasi analit yang diperkirakan. 3. Ambilah salah satu larutan standar, kemudian ukur pada berbagai panjang gelombang. Hal ini dilakukan untuk mengetahui pada panjang gelombang berapa, absorbansi yang dihasilkan paling besar. Panjang gelombang yang

17

menghasilkan absorbansi paling besar atau paling tinggi disebut panjang gelombang maksimum (lmaks). 4. Ukurlah absorbansi semua larutan standar yang telah dibuat pada panjang gelombang maksimum. 5. Catat absorbansi yang dihasilkan dari semua larutan standar, kemudian alurkan pada grafik absorbansi vs konsentrasi sehingga diperoleh suatu kurva yang disebutkurva kalibarasi. Dari hukum Lambart-Beer jika absorbansi yang dihasilkan berkisar antara 0,2-0,8 maka grafik akan berbentuk garis lurus, namun hal ini tidak dapat dipastikan. Misalkan absorbansi yang dihasilkan dari larutan standar yang telah dibuat adalah Absorbansi konsentrasi 0,2 2 ppm 0,3 4 ppm 0,4 6 ppm 0,5 8 ppm 0,6 10 ppm 0,7 12 ppm 0,8 14 ppm 0,9 16 ppm

Grafiknya adalah

6.

Ukurlah absorbansi larutan yang belum diketahui konsentrasinya. Setelah diperoleh absorbansinya, masukan nilai tersebut pada grafik yang diperoleh pada langkah 5. Misalkan absorbansi yang diperoleh 0,6. Maka jika ditarik garis lurus konsentrasi sampel akan sama dengan konsentrasi larutan standar 10 ppm. Maka grafiknya sebagai berikut:

18

Selain dengan cara diatas konsentrasi sampel dapat dihitung dengan persamaan regresi linear:

persamaan di atas dapat dihitung dengan bantuan kalkulator. Setelah diperoleh persamaan di atas, absorbansi sampel yang diperoleh dimasukan sebagai nila y sehingga diperoleh nila x. Nilai x yang diperoleh merupakan konsentrasi sampel yang dianalisis.

2.6. Analisis Unsur Logam Besi (Fe) dengan metode Spektrofotometri Visible Analisis dengan spektrofotometri Visible diawali dengan penentuan panjang gelombang maksimum (max). Hal ini sangat penting dilakukan dalam analisis secara spektrofotometri Visible karena pada panjang gelombang maksimum dihasilkan absorbansi tertinggi yang menunjukkan kepekaan suatu pengukuran sehingga dapat digunakan untuk analisis suatu larutan dengan konsentrasi rendah.Penggunaan larutan HNO3 bertujuan agar kompleks yang terbentuk stabil. Kompleks Fe-SCN stabil dalam larutan asam nitrat (Noroozifar, dkk. 2004 : 109). Panjang gelombang cahaya UV dan sinar tampak jauh lebih pendek daripada panjang gelombang radiasi infra merah. Satuan yang akakn digunakan untuk memberikan panjang gelombang ini adalah nanometer (1 nm = 10-7 cm). spectrum tampak terentang dari sekitar 400 nm (ungu) sampai 700 nm (merah), sedangkan spectrum ultraviolet terentang dari 100 sampai 400 nm. Baik radiasi UV maupun radiasi cahaya tampak berenergi lebih tinggi daripada radiasi infra merah. Arbsorpsi cahaya ultraviolet atau cahaya tampak mengakibatkan transisi

19

electron, yaitu promosi elktron-elektron dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah ke orbital keadaan tereksitasi berenergi lebih tinggi. Panjang gelombang cahaya UV atau cahaya tampak tergantung pada mudahnya promosi electron. Molekul-moleku yang memerlukan lebih bayak energy untuk promosi electron akan menyerap panjang gelombang yang lebih pendek. Molekul yang memerlukan energy lebih sedikit akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih panjang (Fessenden, 1982 : 436-437). Senyawa kompleks adalah senyawa yang terbentuk karena penggabungan dua atau lebih senyawa sederhana, yang masing-masingnya dapat berdiri sendiri. Ikatan kovalen antara ion logam pusat dan ligan membedakan senyawa kompleks koordinasi sebagai golongan tersendiri senyawa kimia yang mempunyai susunan dan bangun tertentu. Jumlah ikatan pada senyawa kompleks diantara atomatomnya lebih dari pada yang diharapkan dari segi valensinya, seperti Cu(NH3)43+ termasuk kation atau Fe(SCN)n3-n yang termasuk jenis anion. Ion CN- disebut ligan. Ligan berupa molekul organik yang dapat membentuk kompleks. Kebanyakan atom ligan memberikan sepasang elektron bebas kepada ion meskipun ada beberapa molekul yang menggunakan elektron . Pada umumnya ion ligan transisi deret I, bilangan koordinasi 6 dan deret kedua dan ketiga bilangan koordinasinya 8. Bila ligan besar maka nilangan koordinasinya turun (Surdia,1993 : 29).

20

BAB III METODOLODI PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian Sampel tanah diambil dari Kawasan Industri Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Selanjutnya analisis keberadaan unsur logam Besi (Fe) yang terdapat pada masing-masing sampel tanah dengan metode

Spektrofotometri. Analisis dilakukan di Laboratorium Kimia Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.

3. 2 Alat dan Bahan yang digunakan 3. 2.1 Alat Adapun alat-alat yang digunakan yaitu alat-alat gelas yang biasa dipakai di Laboratorium, Kertas Saring Whatman AE 200 sebagai alat penyaring, Spektrofotometer, Hotplate, Meteran, Bor tanah dan plastik.

3.2.2 Bahan Adapun bahan-bahan yang digunakan yaitu Semua bahan kimia yang digunakan diantaranya Asam Nitrat pekat (HNO3), E.Merck, Asam Klorida pekat, HClp E.Merck, Besi(III)Klorida (FeCl3) dan Aquades.

3.3 Prosedur Penelitian 3.3.1 Pengambilan sampel tanah Tanah digali hingga kedalaman 10 cm kemudian diambil dari 6 titik dan dijadikan 3 sampel yang memiliki karakteristtik yang sama. Titik A + Titik B = Sampel 1 Titik C + Titik D = Sampel 2 Titik E + Titik F = Sampel 3

21

3.3.2 Preparasi Sampel 1. Sampel tanah dari masing-masing titik sampel diambil sebanyak 500gram kemudian dicampurkan berdasarkan karakteristik tanah. Sampel tersebut kemudian dikeringkan dengan panas matahari. 2. Sampel yang telah benar-benar kering diambil sebanyak 500 gram dan digerus hingga halus dan diayak . 3. Dari hasil ayakan, sampel diambil sebanyak 3 gram dan dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL dan dilarutkan dengan aquades hingga setengah dari volume labu. 4. Kemudian ditambahkan 10 mL campuran HCl dan HNO3 dengan perbandingan 3:1. 5. Campuran dipanaskan di atas hot plate selama 10 menit hingga terbentuk filtrat jernih 6. Filtrat dipisahkan dengan cara menyaring menggunakan kertas saring Whatman AE 200. 7. Kedalam filtrat ditambahkan aquades secukupnya hingga tanda batas. 8. Prosedur 1 sampai 5 diulangi untuk sampel tanah pada titik yang lain.

3.4 Preparasi Larutan Induk Standar Larutan induk besi (Fe) 1000 ppm 1. Ditimbang sebanyak 1 gram FeCl3 dan dimasukkan ke dalam labu ukur 1000 mL dan dilarutkan dengan aquades hingga setengah dari volume labu. 2. Kemudian ditambahkan 2 mL campuran, HCl dan HNO3 dengan perbandingan 3:1. 3. Larutan dihomogenkan secara berulang, kemudian ditambahkan aquades hingga tanda batas. A. Metode Perbandingan Mol 1. Campurkan Fe3+, KSCN, dan HNO3, kemudian encerkan dengan aquades. 2. Buat 10 ml campuran sebanyak 5 buah dengan variasi volume tertentu.

22

3. Masing-masing campuran dalam variasi volume tertentu tertentu diaduk hingga homogen dan diberi label. 4. Masing-masing pereaksi (SCN-). 5. Ditentukan rumus kompleksnya dari grafik yang telah didapatkan. campuran dalam variasi volume tertentu diukur absorbansinya pada = 480nm kemudian dibuat grafik A vs mol fraksi

B. Metode Variasi Kontinu 1. Buat 10mL campuran ion Fe3+, HNO3, dan aquades sebanyak 5 buah dengan variasi volume tertentu. 2. Masing-masing campuran dalam variasi volume tertentu tertentu diaduk hingga homogen dan diberi label. 3. Masing-masing campuran dalam variasi volume tertentu diukur absorbansinya pada = 480nm kemudian dibuat grafik A vs fraksi mol salah satu pereaksi. 4. Ditentukan rumus kompleksnya dari grafik yang telah didapatkan.

3..5 Preparasi Kurva Kalibrasi Larutan Standard Kurva Kalibrasi besi (Fe) 1. Disiapkan sebanyak 6 (enam) buah labu ukur 100 mL. 2. Masing-masing labu diisi dengan 0; 0,5; 1,0; 1,5; 2,0 dan 2,5 mL larutan induk besi 1000 ppm. 3. Kedalam masing-masing labu kemudian ditambahkan aquades hingga setengah dari volume labu. 4. Larutan dihomogenkan secara berulang, kemudian ditambahkan aquades hingga tanda batas. 5. Absorbansi masing-masing larutan standard diukur dengan menggunakan Spektrofotometer. 6. Kurva kalibrasi dibuat dengan memplot konsentrasi (sumbu X) terhadap Absorbansi (sumbu Y).

23

24

25

Rancangan Biaya

1. Bahan No. 1 Uraian Whatman AE 200 Jumlah 1 dus Biaya/ Satuan Rp. 100.000 Biaya Rp. 100.000

(Sigma Aldrich) 2 3 4 5 H3PO4 (Sigma Aldrich) CuSO4.5H2O ZnO (Seng Oksida) Asam (HNO3) 6 7 8 Asam Klorida pekat Besi(III)Klorida Aquades 1L 100 gram 5L Rp. 800.000 Rp. 660.000 Rp. 50.000 Rp. 500.000 Rp. 660.000 Rp.50.000 = Rp. 2.597.360 Nitrat pekat 1L 100 gram 100 gram 1L 93,10 SGD/1L Rp. 5.000/kg Rp. 580.000 Rp. 800.000 93.10 SGD Rp. 50.000 Rp. 580.000 Rp. 500.000

Jumlah Biaya :

[(279,30SGD x Rp. 7200) + 1.940.000]

3. Lain-Lain Pengeluaran No. 1 2 Uraian Kertas (A4) Tinta Printer Jumlah 1 rim 1 hitam/refill 3 warna/refill 3 4 Jilid Pencarian Sumber dan Literatur Jumlah Biaya : 5 eksemplar Perpustakaan, Internet Rp 385.000 Biaya /Satuan Rp. 40.000/rim Rp. 45.000/botol Rp. 50.000/botol Rp. 10.000/eksemplar Rp. 100.000 Jumlah Rp. 40.000 Rp. 45.000 Rp. 150.000 Rp. 50.000 Rp. 100.000

26

Total : Rp. 3.392.360 (Tiga juta stiga ratus sembilan puluh dua ribu tiga ratus enam puluh rupiah)

DAFTAR PUSTAKA

27

Alloway, B.J. 1995. Heavy Metals in Soils. 2ded. Blackie Academic &Professional. London, Glasgow, Weinheim, New York, Tokyo, Melbourne, Madras. Charlena. 2004. Pencemaran Logam Berat Timbal (Pb) dan Cadmium (Cd) pada SayurSayuran. http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/09145/charlena.pdf.Diakses tanggal 5 Mei 2012. Czurda, K., K.E. Roehl, and J-F. Wagner. 1996. Transfer of Heavy Metals in Soils Diagnosis and Risk Assessment. Dept. of Geology. University ofTrier. Diatta, J.B., W. Guzebisz, and K. Apolinarska. 2003. A study of soil pollution by heavy metals in the city podznan (Poland) using Dandelion (taraxacum officinale WEB) as a bioindicator. Electronic Journal of Polish Agricultural Universities Vol. 6 Issue 2 SeriesEnvironmentalDevelopment. Department of Agricultural Chemistry, PodznanAgricultural University. Poland.

Jones, J.B.Jr. 1997. Trace Element. St. Lucie Press, Boca Raton, Florida. Lacatusu, R. 1998. Appraising Levels of Soil Contamination and Pollution with Heavy Metals. In H.J. heineke, W. Eckelmann, A.J. Thomasson, R.J.A. Jones, L. Montanarella and B. Buckley (eds). Land Information system : Development for Planning The Sustainable Use of Land Resources. EUR 17729 EN 546pp. 1998. European Soil Bureau Res. Report No.4. Office for Offcial Publications of The European Communities, Luxemburg. Lepp, N.W. 1981. Effect of Heavy Metal Pollution. Vol 2. Effect of Heavy Metal on Plant. Polytechnic. Liverpool UK. Applied Science Publ. London and New Jersey. Lindsay, W.L. 1979. Chemical Equilibria in Soils. John Wiley & Sons. New York Setyorini, D., T. Prihatini, dan U. Kurnia. 2002. Pollution of Soil by Agricultural and Industrial Waste. Centre for Soil and Agroclimate Research and Development. Bogor.

http://wanibesak.wordpress.com/2011/07/04/spektrofotometri-sinar-tampak-visible/

28