Anda di halaman 1dari 4

Kajian Etika dan Moral

PARIWISATA INDONESIA DALAM KAJIAN ETIKA DAN MORAL

PIPIN NOVIATI SADIKIN

2012

Pariwisata dan rekreasi bukan hal baru bagi masyarakat Indonesia. Mereka bahkan memiliki tujuan favorit untuk dikunjungi, baik ke daerah pantai, gunung, kota atau pun desa lain. Pariwisata atau rekreasi sebenarnya merupakan pemanfaatan waktu luang. Masyarakat Indonesia melakukannya dan menikmati perjalanan itu bersama seluruh keluarga, sehingga kegiatan ini dianggap sebagai momen yang istimewa. Berkaitan dengan itu, kekayaan alam Indonesia pun merupakan asset bangsa sebagai daerah tujuan wisata bagi wisatawan asing dan lokal. Dalam pengertian umum, rekreasi dilakukan terbatas dan berakhir hanya pada kepuasan kegiatan itu sendiri. Sedangkan, pariwisata adalah perjalanan yang

dilakukan dan berakhir dengan didapatnya keuntungan ekonomis, interpretasi mengenai tempat tujuan wisata, serta pengalaman yang baru selama melakukan perjalanan. Di Indonesia, sebetulnya pariwisata dan rekreasi membawa manfaat ekonomi dan sosial langsung bagi masyarakat di tempat tujuan wisata. Akan tetapi, kegiatan ini juga tidak terlepas dari dampak negatif yang terlihat nyata seperti kerusakan lingkungan karena pencemaran dan gangguan ekologis lainnya, mudahnya akses kepada minuman keras dan obat-obatan, terbukanya kesempatan prostitusi, berkembangnya paham dan gaya hidup McDonalisasi, serta terjadinya konflik sosial dan ekonomi antar masyarakat karena banyaknya pengunjung. Penyebabnya ditengarai adalah kurangnya kreativitas dalam pengemasan

wisata, kurangnya pemahaman pariwisata berkelanjutan dan bertanggung jawab, tidak adanya kesadaran untuk melindungi lingkungan dan diri sendiri karena yang dipikirkan kepentingan ekonomi semata, serta lunturnya etika dan moral. Dunia pariwisata Indonesia pun tumbuh karena pengaruh luar. Penduduk lokal tidak punya pengalaman tentang konsep pariwisata yang bertanggung jawab dan beretika moral, sementara para pemangku kepentingan hanya memikirkan pendapatan daerah. Kecenderungan pariwisata saat ini adalah backpacker dimana wisatawan bepergian berbekal seadanya agar lebih menyatu dengan kebudayaan lokal. Sementara, ekowisata masih memandang pasarnya adalah wisatawan kelas atas yang mempunyai uang dan berpendidikan. Meskipun demikian, kedua jenis wisatawan tersebut mempunyai preferensi wisata yang berbasis alam (nature) dan budaya. Sebenarnya, hal ini menjadi tantangan dan peluang bagi masyarakat

pariwisata Indonesia untuk memperbaiki kinerja pariwisata / rekreasi nasional. Di Jogjakarta, pemerintah daerah tidak berlimpah kekayaannya karena upaya pariwisata, tetapi masyarakat Jogjakarta bahkan lebih sejahtera. Tentu, pariwisata / rekreasi Jogjakarta dikemas sedemikian rupa dan masyarakat local tetap memiliki jati diri.
Pipin Noviati Sadikin - Pariwisata Indonesia, Dalam Kajian Etika dan Moral

pg. 2

Di Taman Nasional Gunung Rinjani, masyarakat setempat juga berperan aktif dalam menyelenggarakan ekowisata petualangan berupa Adventure

and Trekking

Package. Mereka menyewakan tenda-tenda dan menyediakan bahan makanan dari


kebunnya sendiri, serta jasa porter bagi wisatawan yang berangkat naik gunung. Mereka justru lebih menghargai lingkungan alamnya, agar senantiasa tetap terjaga dan memberikan manfaat ekonomi dan social bagi kehidupan mereka. Dalam keyakinan umat Islam juga dikenal pariwisata, dalam artian pariwisata reliji. Ketika masyarakat mengambil paket berangkat Umroh dan Haji, ini berarti mereka melakukan perjalanan selama waktu tertentu, dan ketika pulang membawa interpretasi dan pengalaman batin tertentu bagi dirinya. Pariwisata atau rekreasi sebetulnya memungkinkan menjadi model pembangunan berkelanjutan yang bisa bergerak di level akar rumput. Artinya, pendapatan dari wisatawan bisa langsung diterima dan dinikmati oleh masyarakat. Manfaat lain pariwisata, bisa berupa devisa negara, industri yang bersih, terbentuknya identitas lokal, terjalinnya persahabatan antar bangsa, terciptanya kelestarian alam dan budaya, penyerapan tenaga kerja sehingga meminimalisir pengangguran, kriminalitas, premanisme dan bahkan pengiriman TKI keluar negeri. Beberapa saat yang lalu nilai-nilai local menjadi focus dalam sosialisasi Kode Etik Pariwisata Dunia (Global Code of Ethics for Tourism) oleh anggotaWorld

Committee on Tourism Ethics-United Nation World Tourism Organization, sebuah


organisasi pariwisata di bawah bendera PBB. Oleh karena itu, pariwisata juga

selayaknya berpihak kepada budaya dan masyarakat setempat, termasuk penduduk asli. Kode etik ini juga mengatur bahwa para pelaku usaha pariwisata atau investor harus melakukan studi terlebih dahulu tentang dampak dari kegiatan yang direncanakan di sekitar lokasi wisata serta memberitahukan dampak positif maupun negatifnya secara terbuka kepada masyarakat setempat. Perubahan kecenderungan pariwisata secara global membawa para wisatawan ke arah bentuk baru pariwisata, yaitu Ekowisata yang lebih mengutamakan kelestarian alam dan lingkungan, penataan ruang, keutuhan budaya masyarakat setempat dan berkelanjutan. Perubahan paradigma ini terwadahi dalam bentuk ekowisata yang lebih bertanggung jawab terhadap alam dan lingkungan, memberikan manfaat ekonomi, dan juga mempertahankan kebudayaan lokal. Ekowisata diharapkan menjamin keberlanjutan kesejahteraan masyarakat. Pengelolaan ekowisata pun menjadi penting karena bermakna untuk meminimalkan dampak-dampak negatif dan mengoptimalkan manfaat positif. ***

Pipin Noviati Sadikin - Pariwisata Indonesia, Dalam Kajian Etika dan Moral

pg. 3

DaftarPustaka

http://www.matarama.co.id/news/nilai-lokal-jadi-fokus-kode-etikpariwisata.html http://bagiastraketut.blogspot.com/2011/12/etika-pariwisata.html http://geoenviron.blogspot.com/2011/12/sekilas-ekowisata-berbasismasyarakat.html http://nemu.wordpress.com/2008/07/29/definisi-ekowisata-dan-prinsipprinsipnya-2/ http://saveforest.webs.com/konsep_ekowisata.pdf

Pipin Noviati Sadikin - Pariwisata Indonesia, Dalam Kajian Etika dan Moral

pg. 4