Anda di halaman 1dari 9

TES GARPU TALA Tes garpu tala adalah suatu tes untuk mengevaluasi fungsi pendengaran individu secara

kualitatif dengan menggunakan alat berupa seperangkat garpu tala frekuensi rendah sampai tinggi 128 HZ-2048 Hz. Satu perangkat garpu tala memberikan skala pendengaran dari frekuensi rendah hingga tinggi akan memudahkan survei kepekaan pendengaran. Cara menggunakan garpu tala yaitu garpu tala di pegang pada tangkainya, dan salah satu tangan garpu tala dipukul pada permukaan yang berpegas seperti punggung tangan atau siku. Perhatikan jangan memukulkan garpu tala pada ujung meja atau benda keras lainnya karena akan menghasilkan nada berlebihan, yang adakalanya kedengaran dari jarak yang cukup jauh dari garpu tala dan bahkan dapat menyebabkan perubahan menetap pada pola getar garpu tala Ada 6 jenis tes garpu tala , yaitu: 1. Tes batas atas dan batas bawah 2. Tes Rinne 3. Tes Weber 4. Tes Schwabach 5. Tes Bing 6. Tes Stenger Tes-tes ini memiliki tujuan khusus yang berbeda dan saling melengkapi.

1. TES BATAS ATAS BATAS BAWAH

Tujuan : Menentukan frekuensi garpu tala yang dapat didengar penderita melewati hantaran udara bila dibunyikan pada intensitas ambang normal.

Cara Pemeriksaan : Semua garpu tala (dapat dimulai dari frekuensi terendah berurutan sampai frekuensi tertinggi atau sebaliknya) dibunyikan satu persatu, dengan cara dipegang tangkainya kemudian kedua ujung kakinya dibunyikan dengan lunak (dipetik dengan ujung jari kuku, didengarkan terlebih dahulu oleh pemeriksa sampai bunyi hampir hilang untuk mencapa intensitas bunyi yang terendah bagi orang normal/nilai ambang normal), kemudian diperdengarkan pada penderita dengan meletakkan garpu tala di dekat MAE pada jarak 1-2 cm dalam posisi tegak dan 2 kaki pada garis yang menghubungkan MAE kanan dan kiri.

Gambar. Garpu tala dari frekuensi terendah tertinggi

Interpretasi : Normal : mendengar garpu tala pada semua frekuensi Tuli Konduksi : batas bawah naik (frekunsi rendah tak terdengar) Tuli sensori neural : batas atas turun (frekuensi tinggi tak terdengar)

Kesalahan terjadi bila garpu tala dibunyikan terlalu keras sehingga tidak dapat mendeteksi pada frekuensi mana penderita tak mendengar.

2. TES RINNE

Tujuan : Membandingkan hantaran udara dan hantaran tulang pada satu telinga penderita.

Cara Pemeriksaan : Bunyikan garpu tala frekuensi 512 Hz, letakkan tangkainya tegak lurus pada planum mastoid penderita (posterior dari MAE) sampai penderita tak mendengar, kemudian cepat pindahkan ke depan MAE penderita. Apabila penderita masih mendengar garpu tala di depan MAE disebut Rinne positif. Bila tidak mendengar disebut Rinne negatif. - Bunyikan garpu tala frekuensi 512 Hz, kemudian dipancangkan pada planum mastoid, kemudian segera dipindahkan di dpan MAE, kemudian penderita ditanya

mana yang terdengar lebih keras. Bila lebih keras di depan disebut rinne positif, bila lebih keras di belakang disebut rinne negatif.

Gambar. Tes Rinne

Gambar. Skema penjalaran bunyi pada tes Rinne

Interpretasi : Normal/ Tuli Sensorineural : Rinne positif

Artinya konduksi udara lebih panjang atau lebih keras dibanding dengan konduksi tulang. Tuli konduksi : Rinne negatif Artinya konduksi tulang lebih panjang atau lebih keras dibanding dengan konduksi udara.

Kadang-kadang terjadi false Rinne (pseudo positif atau pseudo negatif) terjadi bila stimulus bunyi di tangkap oleh telinga yang tidak di tes, hal ini dapat terjadi bila telinga yang tidak tes pendengarannya jauh lebih baik daripada yang di tes.

Kesalahan pada pemeriksaan ini dapat terjadi bila : Garpu tala diletakkan dengan baik pada mastoid atau miring, terkena rambut,

jaringan lemak tebal sehingga penderita tidak mendengar atau getaran terhenti karena kaki garpu tala tersentuh aurikulum, ataupun pemeriksa tidak meletakkan garpu tala tegak lurus. Penderita terlambat memberi isyarat waktu garpu tala sudah tak terdengar lagi, sehingga waktu di pindahkan di depan MAE getaran garpu tala sudah berhenti.

3. TES WEBER

Tujuan : Membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga penderita. Tes ini sangat bermanfaat pada kasus-kasus gangguan unilateral, namun dapat meragukan bila terdapat gangguan koduktif maupun sensorineural (campuran), atau bila hanya menggunakan penala frekuensi tunggal.

Cara Pemeriksaan : Garpu tala frekuensi 512 Hz dibunyikan, kemudian tangkainya diletakkan tegak lurus di garis median, biasanya di dahi (dapat pula pada vertex, dagu atau pada gigi insisivus) dengan kedua kaki pada garis horisontal. Penderita diminta untuk menunjukkan telinga mana yang tidak mendengar atau mendengar lebih keras . Bila mendengar pada satu telinga disebut laterisasi ke sisi telinga tersebut. Bila kedua telinga tak mendengar atau sama-sama mendengar berarti tak ada laterisasi.

Gambar. Tes Weber

Gambar. Skema penjalaran bunyi pada tes Weber

Interpretasi : Normal : Tidak ada lateralisasi. Getaran dirasakan sama pada kedua sisi dan demikian pula suara juga terdengar diantara telinga. Tuli konduksi : Mendengar lebih keras di telinga yang sakit. Hal ini dikarenakan energi getaran yang kurang baik di transmisikan dari koklea sampai telinga tengah sehingga suara sulit menjangkau koklea. Tuli sensorineural : Mendengar lebih keras pada telinga yang sehat

Karena menilai kedua telinga sekaligus maka kemungkinannya dapat lebih dari satu. Contoh : lateralisasi ke kanan, telinga kiri normal, dapat diinterpretasikan : Tuli konduksi kanan, telinga kiri normal Tuli konduksi kanan dan kiri, tgetapi kanan lebih berat

Tuli sensorineural kiri, telinga kanan normal Tuli sensorineural kanan dcan kiri, tetapi kiri lebih berat Tuli konduksi kanan dan sensori neural kiri.

4. TES SCHWABACH

Tujuan : Membandingkan hantaran lewat tulang antara penderita dengan pemeriksa

Cara pemeriksaan : Garpu tala frekuensi 512 Hz dibunyikan kemudian tangkainya diletakkan tegak lurus pada planum mastoid pemeriksa, bila pemeriksa sudah tidak mendengar, secepatnya garpu tala dipindahkan ke mastoid penderita. Bila penderita masih mendengar maka schwabach memanjang, tetapi bila penderita tidak mendengar, terdapat 2 kemungkinan yaitu Schwabah memendek atau normal. Untuk membedakan kedua kemungkinan ini maka tes dibalik, yaitu tes pada penderita dulu baru ke pemeriksa. Garpu tala 512 dibunyikan kemudian diletakkan tegak lurus pada mastoid penderita, bila penderita sudah tidak mendengar maka secepatnya garpu tala dipindahkan pada mastoid pemeriksa, bila pemeriksa tidak mendengar berarti sam-sama normal, bila pemeriksa masih masih mendengar berarti schwabach penderita memendek.

Gambar. Tes Schwabach

Interpretasi : Normal : Schwabach normal. Bila pasien dan pemeriksa sama-samamendengarnya. Tuli konduksi : Schwabach memanjang. Bila pasien masih bisa mendengar bunyi. Tuli sensorineural : Schwabach memendek. Bila pemeriksa masi dapat mendengar.

Kesalahan terjadi bila : Garpu tala tidak di letakkan dengan benar, kakinya tersentuh sehingga bunyi menghilang Isyarat hilangnya bunyi tidak segera diberikan oleh penderita.

5. TES BING (Tes Oklusi)

Tes Bing adalah aplikasi dari apa yang disebut sebagai efek oklusi, dimana garpu tala terdengar lebih keras bila telinga normal ditutup. Bila liang telinga ditutup dan dibuka bergantian saat penala yang bergetar ditempelkan pada mastoid, maka telinga normal akan menangkap bunyi yang mengeras dan melemah (bing positif).

Cara pemeriksaan : Tragus telinga yang diperiksa ditekan sampai menutup liang telinga, sehingga terdapat tuli konduktif kira-kira 30 dB. Garpu tala digetarkan dan diletakkan pada pertengahan kepala (seperti pada tes Weber).

Interpretasi : Bila terdapat lateralisasi ke telinga yang ditutup, berarti telinga tersebut normal. Bila bunyi pada telinga yang ditutup tidak bertambah keras, berarti telinga tersebut menderita tuli konduktif.

6. TES STENGER

Tes ini digunakan pada pemeriksaan tuli anorganik (simulasi atau pura-pura tuli).

Cara pemeriksaan : Menggunakan prinsip masking.

Misalnya pada seseorang yang berpura-pura tuli pada telinga kiri. Dua buah garpu tala yang identik digetarkan dan masing-masing diletakkan di depan telinga kiri dan kanan, dengan cara tidak kelihatan oleh yang diperiksa. Garpu tala pertama digetarkan dan diletakkan di depan telinga kanan (yang normal) sehingga jelas terdengar. Kemudian garpu tala yang kedua digetarkan lebih keras dan diletakkan di depan telinga kiri (yang pura-pura tuli).

Interpretasi : Apabila kedua telinga normal karena efek masking, hanya telinga kiri yang mendengar bunyi; jadi telinga kanan tidak akan mendengar bunyi. Tetapi bila telinga kiri tuli, telinga kanan tetap mendengar bunyi.

KESIMPULAN Tes garpu tala adalah suatu tes untuk mengevaluasi fungsi pendengaran individu secara kualitatif. Frekuensi yang dipakai untuk tes garis pendengaran digunakan garpu tala dengan frekuensi 128 Hz, 256 Hz, 152 Hz, 1024 Hz, dan 2048 Hz. Frekuensi yang sering digunakan untuk tes garpu tala terutama pada tes Rinne, tes Weber, tes Schwabach adalah 512 Hz, karena mewakili frekuensi percakapan normal. Tes Weber dan tes Rinne adalah tes garpu tala yang penting untuk mendiagnosis atau mengkonfirmasi ketulian, tapi hanya tes Rinne yang dapat mendiagnosis jenis ketuliannya, sedangkan tes weber hanya mendeteksi perbedaan antara kedua telinga. Namun bila jenis ketuliannya sudah ditegakkan misalnya tuli konduktif, tes Weber lah yang lebih sensitif untuk mendeteksi tingkat keparahannya dibandingkan tes rinne. Berdasarkan tes-tes garpu tala yang dapat dilakukan, disimpulkan seperti pada tabel berikut:

TES Batas Atas Batas Bawah Rinne Weber Schwabach

TULI KONDUKSI Normal Naik Negatif Lateralisasi ke sisi sakit Memanjang

TULI SENSORINEURAL Menurun Normal Positif; False Positif/Negatif Lateralisasi ke sisi sehat Memendek

Bing

Negatif

Positif

Referensi ancurrr... bisa menyusul besok saja kah? Gak sanggup ma. Bukuku ada di mobil.

Referensi :

a. Bull TR. ENT Examination in Color Atlas ENT Diagnosis. 2nd edition. New York : Thieme Stuttgart. 2002.p.10-15. b. Onerci T M. Diagnosis in Otorhinolaryngology. 1st edition. Berlin : Springer. 2009.p.2-7. c. Petrus A. Pemeriksaan Telinga dalam Penyakit Telinga, Hidung, dan Tenggorokan. 1st edition. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2005.p.3-10. d. Boies Lawrence R, Adams George L, Higler Peter A. Telinga dalam Buku Ajar Penyakit THT. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta: 1997.p.27-49. e. Sherwood Lauralee. Telinga; Pendengaran dan Keseimbangan dalam Fisiologi Manusia Dari Sel Ke Sistem. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta : 2006.p.17688. f. Guyton AC, Hall JE. Sensasi Pendengaran dalam Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 9th edition. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1997.p.827-38. g. Thibodeau GA, Patton KT. Sense Organ in Anatomy & Physiology. 5th edition. USA : Mosby. 1999.p.456-65.