BUDAYA SUKU TENGGER

 SEJARAH

Menurut mitos atau legenda yang berkembang di masyarakat suku Tengger, mereka berasal dari keturunan Roro Anteng yang merupakan putri dari Raja Brawijaya dengan Joko Seger putra seorang Brahmana. Nama suku Tengger diambil dari akhiran nama kedua pasang suami istri itu yaitu, “Teng” dari Roro Anteng dan “Ger” dari Joko Seger. Legenda tentang Roro Anteng dan Joko Seger yang berjanji pada Dewa untuk menyerahkan putra bungsu mereka, Raden Kusuma merupakan awal mula terjadinya upacara Kasodo di Tengger. Menurut beberapa ahli sejarah, suku Tengger merupakan penduduk asli orang Jawa yang pada saat itu hidup pada masa kejayaan Majapahit. Saat masuknya Islam di Indonesia (pulau Jawa) saat itu terjadi persinggungan antara Islam dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa, salah satunya adalah Majapahit yang merasa terdesak dengan kedatangan pengaruh Islam, kemudian melarikan diri ke wilayah Bali dan pedalaman di sekitar Gunung Bromo dan Semeru. Mereka yang berdiam di sekitar pedalaman Gunung Bromo ini kemudian mendirikan kampung yang namanya diambil dari akhiran nama pemimpin mereka yaitu Roro Anteng dan Joko Seger.  DESKRIPSI LOKASI

Suku bangsa Tengger berdiam disekitar kawasan di pedalaman gunung Bromo yang terletak di kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Berdasarkan persebaran bahasa dan pola kehidupan sosial masyarakat, daerah persebaran suku Tengger adalah disekitar Probolinggo, Lumajang, (Ranupane kecamatan Senduro), Malang (desa Ngadas kecamatan Poncokusumo), dan Pasuruan. Sementara pusat kebudayaan aslinya adalah di sekitar pedalaman kaki gunung Bromo.

o UPACARA YADNYA KASADA (KASODO) Pada malam ke-14 bulan Kasada Masyarakat Tengger penganut Agama Hindu (Budha Mahayana menurut Parisada Hindu Jawa Timur) berbondong-bondong menuju puncak gunung bromo, dengan membawa ongkek yang berisi sesaji dari berbagai hasil pertanian, ternak, lalu dilemparkan ke kawah gunung bromo sebagai sesaji kepada Dewa Bromo yang dipercayainya bersemayam di Gunung Bromo. Upacara korban ini memohon agar masyarakat Tengger mendapatkan berkah dan diberi keselamatan oleh Sang Hyang Widi. Upacara Kasada diawali dengan pengukuhan sesepuh Tengger dan pementasan sendratari Roro Anteng Joko Seger di panggung terbuka Desa Ngadisari. Kemudian tepat pada pukul 24.00 dini hari diadakan pelantikan dukun dan pemberkatan umat di Pura Luhur Poten Gunung Bromo. Dukun bagi masyarakat Tengger merupakan pemimpin umat dalam bidang keagamaan, yang biasanya memimpin upacara-upacara ritual.

Setelah upacara selesai sekitar pukul 04.00 masyarakat tengger mulai bersiap untuk membawa ongkek/wadah yang berisi sesaji untuk dibawa ke kawah gunung bromo. Pukul 05.00 tepat masyarakat pembawa ongkek mulai menaiki tangga menuju puncak gunung bromo. Ongkek yang berisi sesaji tersebut mulai dilemparkan ke dalam kawah sebagai

Kirab Manten Sodor ( Penari Sodor ). Agem 24 buah 15. Sesaji tersebut berupa buah-buahan. Saat Upacara Karo diharuskan menyembelih satu ekor sapi untuk persembabahan. hasil pertanian serta hasil ternak. jajan pasar ditempatkan diTampah ). Upacara Karo dilaksanakan di Rumah Pak Tinggi (Pak Lurah Desa).  PROSESINYA : 1. Petra lanang / Wadon 16. Satak Selawe 10. 7. Jenang Petak 8. Beras Kuning . selametan Banyu dan Gaga / Tegal / Ladang ) 6. Ayam Panggang utuh . Indung sak Piring 12. SANTI ( melakukan kirim do’a kepada para Sidi Derma. 2. Setelah selesai Prosesi masyarakat Tengger melakukan acara : 5. Sebelum tari Sodor dilakukan terlebih dahulu Mekakat kemudian pembacaan Kerti Joyo ( Pembacaan mantra Karo & memberi sesajen ) 4. Tempat : untuk Tengger Sabrang Kulon ditempatkan di Desa Tosari ). Takir Janur 24 buah 11. Tujuan Upacara Karo adalah untuk menghormati para leluhur.  Ubo Rampe ( sarana dan prasarana ) Upacara Karo : 1. Tumpeng Lenggah 24 buah ( tumpeng duduk 24 buah kecil-kecil) 4. Leme’e Godhong Gedang ( dasarannya daun pisang ) 3. Pras Among Sanding / Tumpeng Tampah ( Tumpeng besar lengkap Isinya Nasi yang dibentuk menyerupai gunung. Rakan Tawang / Rakan Genep 14. BAWAHAN ( Penutupan dilakukan oleh masing – masing Desa ). DEDEREK ( Saling mengunjungi kerumah rumah ). Upacara ini dilaksanakan pada Sasi Karo tanggal 7. Jenang Protoh 7.dikelilingi oleh sayuran . Jambe ayu 9. Galang Rowaan 6. Kembang Boreh 13. Pemandangan yang tak kalah menarik terdapatnya orang-orang didalam kawah dengan membentangkan kain dengan harapan mendapatkan sesaji yang dilemparkan penduduk. putren atau punden-punden dan Hyang Ibu Bumu dan Bapa Kasa. o UPACARA KARO Upacara Karo dilaksanakan setiap Sasi Karo pada tanggal 15. 5. Tari Sodor dilakukan oleh Manten Sodor (putra – putri) berjumlah 12 orang. NYADRAN / NELASIH ( nyekar ke makam ) 8.simbol rasa terima kasih mereka terhadap sang Hyang Widi atas ternak dan pertania yang berlimpah. 3. Kain Putih ( Majangan ) 2. Semua sesaji Karo Upacara dilaksanakan di Rumah Pak Tinggi di bantu warga. Gedang Ayu.00 pagi. Suruh Ayu. TARI SODORAN (Pembuka ) diawali oleh penari Sodor dari sesepuh dinamakan Mblara’i ( mengawali ) dilakukan pada pukul 04. Sebelum Karo dilaksanakan ada sebuah upacara yang harus dilaksanakan yaitu Upacara Ping Pitu.