Anda di halaman 1dari 7

Bab 2 Diferensiasi Numerik

Permasalahan yang melibatkan diferensiasi numerik jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan permasalahan integrasi numerik. Dalam pemodelan deterministik biasanya fenomena alam dinyatakan dalam persamaan diferensial, sehingga menghendaki solusi dalam bentuk integrasi. Dalam bidang analitik, suatu fungsi dapat diturunkan atau mempunyai turunan, jika fungsi tersebut bersifat kontinu. Dalam bidang numerik, suatu fungsi, baik bersifat kontinu ataupun diskrit dapat diturunkan, jika tidak menghasilkan pembagian dengan nol ataupun pembagian, padamana penyebutnya kecil sekali, sehingga hasil pembagian akan mempunyai harga yang sangat besar melebihi bilangan yang mampu diakomodir oleh komputer. Pada saat tersebut komputer akan mengalami kesalahan numerik (overflow).

2.1. Teori Diferensiasi Numerik Fungsi analitik f(x) dan fungsi pendekatan p(x) mempunyai hubungan sebagai berikut:

(2-1) e(x) adalah error atau perbedaan antara f(x) dan p(x). Dalam diferensiasi numerik, perbedaan ini akan mempunyai harga yang cukup signifikan, sehingga hasil diferensiasi numerik mungkin tidak akurat, seperti dinyatakan sebagai berikut: (2-2) Untuk x0 = a dan x1 = a + h, maka turunan pertama numerik berdasar perbedaan kedepan atau 'forward difference' dapat dinyatakan sebagai berikut:

(2-3) Untuk a = 1/2(x0 + x1), sehingga x0 = a - h dan x1 = a + h, maka turunan pertama numerik berdasar perbedaan tengah atau 'central difference' dapat dinyatakan sebagai berikut:

(2-4) Untuk x0 = a, x1= a + h dan x2 = a + 2h, maka turunan pertama numerik berdasar perbedaan kedepan atau 'forward difference' dapat dinyatakan sebagai berikut: (2-5) Untuk x0 = a, x1= a + h dan x2 = a + 2h, maka turunan kedua numerik berdasar perbedaan kedepan atau 'forward difference' dapat dinyatakan sebagai berikut :

(2-6) Secara teoritik dapat diperoleh rumus turunan numerik dengan orde lebih dari dua, namun demikian pada kesempatan ini turunan numerik dibatasi sampai dengan orde dua saja, karena permasalahan dalam bidang ilmu-ilmu kebumian dan rekayasa mineral paling banyak menyangkut turunan sampai dengan orde dua. Rumusan yang dinyatakan dalam beberapa persamaan di atas hanya berlaku untuk turunan numerik bagi fungsi dengan interval variabel bebas yang konstan. Seringkali interval variabel bebas fungsi kontinu ataupun diskrit tidak konstan, maka turunan pertama numerik dapat dilakukan berdasar rumusan berikut:

(2-7) Turunan numerik yang lebih tinggi dapat diperoleh dengan cara menurunkan hasil turunan numerik pertama sekali lagi berdasar rumus yang dinyatakan dalam persamaan (2-7). Ilustrasi: Berikut ini akan diberikan ilustrasi sederhana tentang turunan numerik berdasar rumus yang dinyatakan dalam persamaan (2-7).

2.2. Contoh Kasus Diferensiasi Numerik - Karakterisasi Lubang Bukaan Berdasar Pengukuran Konvergen Permasalahan: Pengukuran konvergen dalam lubang bukaan (cavern) menghasilkan respons lubang bukaan berupa kurva perpindahan kumulatif partikel massa batuan terhadap waktu seperti ditunjukkan pada Gambar 2.1. Dari hasil pengukuran konvergen tersebut diminta melakukan karakterisasi lubang bukaan.

Gambar 2.1: Grafik Perpindahan Kumulatif Partikel Massa Batuan Terhadap Waktu Hasil Pengukuran Konvergen (Sumber: Made Astawa Rai et al)

Formulasi masalah: Permasalahan ini menyangkut mekanika partikel massa batuan. Dari Grafik Perpindahan Kumulatif (cd) dapat diperoleh perpindahan pada interval waktu tertentu (d). Kecepatan (v) serta percepatan (a) dapat diperoleh dengan cara menurunkan perpindahan masing-masing sekali dan dua kali. Energi yang dilakukan oleh partikel massa batuan persatuan massa (w) diperoleh dengan perkalian antara (a)x(d). Dari energi dapat diperoleh energi kumulatif persatuan massa (cW). Perhitungan yang melibatkan diferensiasi numerik dilakukan dalam tabel berikut ini:

Analisis (Karakterisasi Perilaku Massa Batuan di Sekitar Lubang Bukaan): perpindahan partikel massa batuan mempunyai perioda dominan mulai saat pembukaan lubang (ekskavasi) sampai dengan 15 jam sesudahnya. Setelah itu perpindahan partikel massa batuan mengalami penurunan dan praktis tidak mengalami perpindahan mulai jam ke 300 (12.5 hari) setelah ekskavasi. Perilaku ini dapat diamati pada kurva perpindahan (nonkumulatif) serta kurva kecepatan partikel massa batuan terhadap waktu. Jadi respons partikel massa batuan akibat gangguan berupa ekskavasi membutuhkan waktu kurang lebih 300 jam untuk kembali kepada kesetimbangan yang baru. Respons dominan diantara interval waktu antara 0 - 15 jam pertama. Dengan memperhatikan kurva energi yang dilakukan partikel massa batuan terhadap waktu, dapat diinterpretasikan, bahwa massa batuan mengalami keruntuhan lokal pada jam ke 15 setelah ekskavasi. Hal itu ditunjukkan dengan pergantian energi dari maksimum menjadi minimum di sekitar jam ke 15. Hal ini dapat diasosiasikan dengan terbentuknya pelepasan tegangan atau stress release. Ciri-ciri keruntuhan material ditunjukkan dengan peristiwa ini. Keruntuhan massa batuan di sekitar lubang bukaan diwujudkan dengan terbentuknya zona plastis (plastic zone) di sekitar lubang bukaan pada batuan elastis dan terbentuknya zona pengkekaran (fractured zone) di sekitar lubangbukaan pada batuan getas (brittle).