Anda di halaman 1dari 1

opini

Surahman Hidayat
Anggota DPR RI Fraksi PKS

REPUBLIKA

Halaman >> Senin > 15 Februari 2010

Melindungi Agama

>> tajuk <<

khir-akhir ini, umat beragama di Indonesia umumnya dan umat Muslim khususnya disibukkan dengan gugatan terhadap Undang-Undang Perlindungan Agama di Mahkamah Konstitusi yang diajukan oleh sebagian Lembaga Swadaya Masyarakat. Penetapan Presiden Nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama yang kemudian menjadi UndangUndang Nomor 5 Tahun 1969 itu digugat oleh mereka karena dianggap melanggar hak asasi manusia sehingga tidak konstitusional. Perlu disepakati tentang apa yang konstitusional dan yang tidak. Definisi yang tidak boleh ditolak bahwa setiap yang dimuat dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 adalah konstitusional, baik dalam batang tubuh maupun dalam pembukaannya, yang tidak boleh diubah sama sekali. Turunannya kemudian bahwa apa yang diatur dengan undang-undang atas perintah UUD 1945 adalah konstitusional. Demikian halnya yang diatur dalam undang-undang sepanjang sesuai dengan jiwa dan makna konotatif ketentuan dalam UUD 1945. Muatan UUD Negara Republik Indonesia (NRI) 1945

dapat dikategorisasi kepada tiga hal. Pertama, konstitusional dan final secara politis dan agama, yaitu isi pembukaan yang tidak boleh diubah, baik dengan konsensus politik maupun dalam keyakinan agama. 1) Bahwa kemerdekaan NKRI dicapai dan diproklamasikan melalui perjuangan kemerdekaan sebagai ikhtiar manusia adalah Atas Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa. 2) Bahwa NRI disusun sebagai negara yang berkedaulatan rakyat (melalui permusyawaratan perwakilan) dengan berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama dari Pancasila. Kedua, konstitusional dan final secara politis, yaitu isi Pembukaan UUD NRI 1945 yang disepakati secara politik untuk tidak akan diubah (diamendemen). Dengan demikian, ada lima perkara yang disepakati untuk tidak diubah. 1) Sumpah Pemuda. 2) Proklamasi Kemerdekaan NRI pada 17 Agustus 1945. 3) Pembukaan UUD NRI 1945. 4) Pancasila. 5) Bhinneka Tunggal Ika. 6) NKRI. Ketiga, konstitusional, tapi belum final dalam pengertian masih terbuka untuk diubah oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, yaitu yang dimuat dalam batang tubuh UUD NRI 1945. Kita nukil satu paragraf dari pembukaan tersebut, yaitu paragrap ketiga. Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini

kemerdekaannya. Suatu korelasi logis adalah atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, rakyat dan bangsa Indonesia berjuang mencapai kemerdekaan Indonesia yangAlhamdulillahdiprokl amasikan pada bulan suci Ramadhan dan hari Jumat oleh Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia. Proklamasi 17 Agustus 1945 itu dimaksudkan supaya terwujud suatu kehidupan kebangsaan yang bebas. Bebas dalam mencapai keinginan luhur yang diformulasikan dalam tujuan nasional, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Tentu saja, juga bebas dalam mensyukuri rahmat Allah Yang Maha Kuasa dengan pengamalan keberagamaan yang benar dan legal. Adalah logis dan wajar apabila bangsa dan negara Indonesia sungguh-sungguh dalam menganut serta mempertahankan ajaran/konsepsi tentang dasar Ketuhanan Yang Maha Esa dan untuk mensyukuri rahmat Allah yang dikaruniakan kepada bangsa Indonesia. Itu adalah konstitusional serta final, baik secara politis sehingga tidak boleh diamendemen maupun secara agama tidak boleh dirusak/dinodai atau digantikan. Sikap menghormati serta melindungi agama itu dilakukan oleh Orde Lama dengan ditandatanganinya Penetapan

Presiden RI Nomor 1/PNPS/1965 oleh Soekarno pada 27 Januari 1965. Kemudian, dilanjutkan oleh Orde Baru dengan menambah poin keputusan politik, yaitu melarang ajaran ateisme di Indonesia. Orde Reformasi tentu sepenuhnya mendukung. Sebab, hakikat reformasi adalah menegaskan komitmen dengan nilai-nilai kebenaran dan mengoreksi hal-hal yang menyimpang dengan kembali ke jalan yang benar. Setiap kebebasan yang menyimpang dari semangat berketuhanan Yang Maha Esa dan mensyukuri rahmat Allah Yang Maha Kuasa adalah kebebasan yang anarkis. Kebebasan untuk menentang ajaran Tuhan dalam agama adalah kebebasan syaitani/iblisi yang punya watak membangkang. Sedangkan, kebebasan yang dilakukan tidak selaras dengan kesyukuran atas rahmat Allah Yang Maha Kuasa adalah kebebasan syahwati yang hedonistik. Dengan demikian, upaya segelintir orang melalui LSM untuk menolak perlindungan bagi ajaran agama di Indonesia adalah lebih buruk dari keburukan Orde Lama dan lebih sesat dari penyimpangan Orde Baru serta di luar koridor Orde Reformasi. Maka, hanya ada satu sikap dan pilihan untuknya, yaitu menolak dengan satu kata serta mengenyahkannya jauh-jauh dari ranah kehidupan berkebangsaan kita yang religius berketuhanan Yang Maha Esa serta mensyukuri rahmat Allah Yang Maha Kuasa.

Tak Kunjung Usai


Setiap musim hujan kita sering merasa was-was: banjir, longsor, dan pohon tumbang. Hujan yang terus-menerus mengguyur Bogor dan Jakarta pada Jumat dan Sabtu pekan lalu menimbulkan banjir di permukiman di sejumlah titik di sepanjang Sungai Ciliwung, kali yang membelah Jakarta. Hal itu merupakan peristiwa rutin dan kita menganggapnya biasa saja. Seolah sudah menjadi sesuatu yang harus diterima apa adanya. Seolah di sana tak ada tanggung jawab dan tak ada jalan keluar. Pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) belum juga tuntas. Pengerukan sungai tak dilakukan dengan sebaik-baiknya. Perawatan gorong-gorong dan saluran air masih belum optimal. Masih ada pembiaran terhadap warga yang membangun rumah di bantaran sungai. Aktivitas pembangunan gedung dan permukiman tak diimbangi dengan perhitungan dampak arah larian air kala hujan. Pembangunan sumur resapan tak menjadi prioritas untuk digalakkan. Pengembangan taman, hutan kota, dan ruang terbuka hijau tak terlihat digencarkan. Gaung pembangunan waduk, situ, ataupun embung-embung baru di Jakarta dan wilayah hulu tak lagi terdengar. Kampanye untuk hidup bersih dan tak membuang sampah sembarangan hanya sayup-sayup. Semua itu telah menyumbang hadirnya banjir. Guyuran hujan akhir pekan lalu juga memunculkan hal baru. Sejumlah titik di Bogor terendam air, bahkan menimbulkan korban jiwa. Hal itu pun terjadi di wilayah yang menjadi titik konservasi air, yakni Cisarua dan Mega Mendung. Di wilayah Jambu Dua, Kedung Halang, dan Tonjong juga terjadi banjir. Hal ini tentu harus lebih diwaspadai lagi. Artinya, titik-titik buangan dan penampungan air, seperti sungai, situ, cekungan, kebun, dan semacamnya tak lagi mampu mewadahi air hujan. Hal ini bukan hanya menimbulkan bencana di saat hujan, melainkan juga di musim kemarau nanti. Air tak lagi diserap tanah, tapi langsung dibuang ke laut. Sehingga, di saat hujan menimbulkan banjir, di saat kemarau menimbulkan kekeringan. Semua itu terjadi akibat kebijakan pemerintah yang tak memperhatikan aspek konservasi air. Semua dibiarkan saja. Wilayah hulu di Bogor, Cianjur, dan Sukabumi dibiarkan berkembang secara liar. Sudah saatnya pemerintah memperbaiki situ-situ yang sudah ada, membangun situ-situ baru, membangun hutan-hutan mini di banyak titik, memperluas hutanhutan lindung, juga membangun waduk-waduk dengan membendung sungai. Dengan demikian, air hujan tak langsung lari dan menimbulkan bah. Selain itu, juga menjadi cadangan air di kala kemarau. Jika kita perhatikan, sebagian besar situ yang ada saat ini adalah situ yang dibuat pemerintah kolonial Belanda. Di sejumlah titik yang lebak dibendung sehingga air tertampung. Belanda melakukan itu karena trauma dengan banjir yang melanda Batavia setelah bukit-bukit di Bogor, Cianjur, dan Sukabumi disulap menjadi perkebunan teh. Belanda juga membangun sejumlah sungai buatan agar air tak menerjang permukiman. Dengan perkembangan zaman, situ-situ itu sudah tak mampu lagi menampung larian air hujan. Apalagi, perilaku para developer cenderung menggunakan teknik cut and fill, memangkas bukit dan menimbun yang lebak. Kontur tanah diubah. Permukiman yang mereka bangun memang selamat dari banjir, namun wilayah sekitarnya diterjang banjir bandang. Sudah saatnya kita bersungguh-sungguh dalam pengembangan wilayah yang ramah lingkungan.

Indonesia Hasn't Changed


Hernawan Bagaskoro Abid
mahasiswa magister Undip ut my plans for such a trip keep getting delayed. I'm chronically busy, and traveling with young children is always difficult. And, too, perhaps I am worried about what I will find there--that the land of my childhood will no longer match my memories. As much as the world has shrunk, with its direct flights and cell phone coverage and CNN and Internet cafs, Indonesia feels more distant now than it did thirty years ago. 'I fear it's becoming a land of strangers.' --Barack Obama: The Audacity of Hope-Pekan ini, beberapa media baik cetak maupun elektronik melansir sebuah berita tentang rencana kunjungan Presiden Amerika, Barack Obama, ke Indonesia. Berita ini tentu saja bukan sekadar kabar burung karena secara resmi telah diumumkan oleh pihak Gedung Putih, bahwa Indonesia, bersama dengan Australia, akan menjadi negara tujuan kunjungan Obama di Asia-Pasifik. Kalau tidak ada aral melintang, kunjungan ini semakin mengukuhkan arti penting Indonesia di mata pemerintahan Obama karena sebelum Obama ke Indonesia, sang Menteri Luar Negeri Hillary Clinton telah mendahuluinya mengunjungi Indonesia pada 2009 yang lalu. Pihak Washington belum memberikan tanggal pasti kunjungan Obama, akan tetapi sudah mengonfirmasikan bahwa kedatangan Presiden AS ke44 tersebut akan dilakukan

...B

pada paruh kedua Maret 2010. Rencananya, Obama akan bertemu dengan Presiden Yudhoyono untuk membahas beberapa kerja sama di bidang keamanan dan kesejahteraan. Berbeda dengan kunjungan Obama ke Uni-Eropa sebelumnya, kali ini Obama turut mambawa serta Sasha dan Malia, dua orang putrinya bersama sang 'first lady' Michelle Obama. Obama sendiri merencanakan untuk mengunjungi bekas rumah tempat ia tinggal dulu di daerah Menteng Dalam pada periode antara 1967 hingga 1971. Dalam bukunya yang berjudul The Audacity of Hope ..., Obama menulis tentang pengalamannya tinggal di Indonesia dalam beberapa paragraf yang cukup panjang. Ia menulis bahwa Indonesia pada saat itu adalah negara yang dikuasai oleh jenderal-jenderal militer dan para birokrat yang korup. Soeharto yang saat itu memimpin Indonesia disebutnya mampu secara makro, dengan bantuan AS dan dunia, untuk mengangkat perekonomiannya menjadi salah satu yang terbaik di Asia, walaupun bantuan AS dan dunia tersebut dikontrol sepenuhnya oleh keluarga Soeharto dan segelintir pengusaha, sehingga tidak pernah benar-benar 'memakmurkan' rakyat kebanyakan. Soeharto saat itu disebut 'harsly repressive' oleh Obama. Penangkapan dan penyiksaan terhadap para penentangnya adalah hal yang biasa, tidak ada kebebasan pers, dan pemilu hanya formalitas. Soeharto menghadapi perbedaan pendapat dengan moncong senapan, bukan dengan cara-cara demokratis. Bahkan, perilaku Soeharto disebut Obama mirip dengan perilaku Saddam Hussein, walaupun kekaleman dan ketenang-

an Soeharto menyebabkan hal tersebut tak pernah menjadi perhatian dunia. Obama sangat ingin berkunjung ke Indonesia. Ia menulis di bukunya bahwa ia rindu berjalan-jalan di sekeliling sawah, pemandangan pagi di belakang gunung berapi, suara muazin melantunkan azan di malam hari dan suara-suara gamelan di jalan. Ia ingin membagi masa-masa indahnya di Indonesia kepada istri dan dua orang anaknya. Akan tetapi, ia takut bahwa Indonesia tak akan pernah sama lagi seperti dulu. Ia takut Indonesia akan jauh terasa lebih asing dibandingkan 30 tahun yang lalu. Menteng yang sekarang tentu saja bukan Menteng yang didiami Obama dulu. Gedunggedung megah perkantoran dan swalayan telah menjadikan Jakarta benar-benar berbedapersis seperti yang ditakutkan Obama30 tahun yang lalu. Apalagi, kalau ia mengunjungi bekas sekolahnya dulu di SD 01 Menteng, yang telah memiliki fasilitas pendidikan komplet ala metropolitan lengkap dengan perangkat komputernya. Tentu saja, akan sulit menemukan sawah di sana, apalagi suara gamelan. Apalagi jika Obama mendapati patung dirinya di Taman Menteng, entah apa yang akan dikatakannya. Ya, Jakarta telah berubah jauhdalam artian positif. Tapi, beribu-ribu kilometer dari Jakarta, di pedalaman Kepulauan Mentawai di Sumatra Barat, di Lebong-Bengkulu, Belu-Nusa Tenggara Barat, hingga Yahukimo di Papua, Indonesia seakan berada di setting film karya Steven Spielberg, Jurassic Park. Sebuah tempat di mana waktu berjalan statis, tak bergerak ke manamana. Tempat di mana para

makhluk raksasa bernama Dinosaurus hidup 'mesra' dengan alam tanpa pernah merasa takut diintai oleh infotainment. Tempat di mana Tyranosaurus bebas 'memangsa' saurus-saurus kecil lainnya tanpa takut akan terjerat pelanggaran HAD (Hak Asasi Dinosaurus). Sebuah lingkungan di mana Facebook dan Twitter tak dikenal. Tempat di mana segala kebijakan yang dilakukan oleh penerus Soeharto di Jakarta tak ada artinya. Tempat di mana pertumbuhan ekonomi sebesar empat koma sekian persen tak berarti apa-apa. Tempat di mana tak ada yang peduli dengan enam koma tujuh triliun yang digelontorkan untuk sebuah bank yang saya tak yakin namanya pernah didengar di sana. Di bagian-bagian lain dari Indonesia nun jauh dari Jakarta itulah Indonesia tetaplah Indonesia 30 tahun yang lalu. Di sanalah Obama masih bisa melihat bentangan pegunungan di pagi hari atau sawah-sawah dan hutan yang belum dijamah kontraktor dan pengusaha properti ibu kota. Di sanalah Obama akan melihat cermin sejarah Amerika pada masa Perang Saudara antara Utara dan Selatan 150 tahun yang lalu, di mana negara-negara bagian Utara adalah surga kulit putih dan negara-negara bagian di Selatan adalah neraka bagi para budak berkulit hitam. Di mana Utara bersinonim dengan kesejahteraan, sedangkan Selatan identik dengan kesengsaraan. Indonesia bukanlah Jakarta, dan Jakarta bukanlah gambaran Indonesia. Indonesia masih tetap tempat yang sama seperti 30 tahun yang lalu. Well, Indonesia hasn't change that much Mr President.

>> suarapublika <<


SMAN 13 BANDUNG Reuni
Kami dari panitia silaturahim alumni SMAN 13 Bandung lulusan 1990, melalui surat pembaca ini, bermaksud untuk mengundang kawan-kawan alumni untuk bersilaturahim. Insya Allah, silaturahim akan diselenggarakan pada hari Ahad, 14 Maret 2010. Acara tersebut bertempat di Hotel Preanger, Bandung, pukul 09.00 WIB sampai selesai. Besar harapan kami, pembaca Republika yang kebetulan alumni SMA 13 lulusan 1990 untuk hadir dalam acara tersebut. Untuk kepentingan registrasi dan pendaftaran, kawan-kawan alumni bisa menghubungi Siti Yatinawati (022-91914477 dan 0817434322) atau Rima Mulya (085220195039). Pendaftaran dan registrasi kami tunggu paling lambat akhir Februari, tepatnya 28 Februari 2010.

Siti Yatinawati Jl Situ Emuh No 13 Bandung

JALAN SETIABUDI JAKARTA Rusak Parah


Saya adalah seorang siswa SMAN 3 Jakarta dan juga pengguna Jalan Setiabudi Raya. Saya ingin menyampaikan keluhan pada perbaikan jalan Setiabudi Raya. Sebelum saya menjadi siswa di SMAN 3 Jakarta, tepatnya ketika pendaftaran ulang di SMAN 3 Jakarta, saya dan ibu saya melewati Jalan Setiabudi Raya dengan santai karena teduh, sejuk, dan nyaman. Namun, sudah satu setengah tahun ajaran, saya dan teman-teman saya tidak lagi merasakan hal tersebut. Hal ini disebabkan perbaikan jalan yang entah siapa yang mengoordinasinya. Parahnya, pohon-pohon besar yang selama ini menghalangi cahaya matahari dan hujan sudah lenyap ditebang. Ketika melintasi Jalan Setiabudi Raya, ada rasa tidak menyenangkan dan memberatkan hati karena seperti berjalan di gurun pasir yang panas dan sangat berpolusi. Saya meminta siapa pun yang merasa mengoordinasi perbaikan jalan tersebut untuk segera memperbaikinya dan menumbuhkan kembali pohon-pohon yang sudah lenyap.

Indra Dwi Prastiawan Jl Petojo Sabangan I No 26, RT 04 RW 05 Jakarta 10160

REPUBLIKA
MAHAKA MEDIA
Semua naskah yang dikirim ke Redaksi dan diterbitkan menjadi milik HU Republika. Semua wartawan HU Republika dibekali tanda pengenal dan tidak menerima maupun meminta imbalan dari siapa pun. Semua isi artikel/tulisan yang berasal dari luar, sepenuhnya tanggung jawab penulis yang bersangkutan. (Semua isi artikel/tulisan yang terdapat di suplemen daerah, menjadi tanggung jawab Kepala Perwakilan Daerah bersangkutan.

HARIAN UMUM

Pemimpin Redaksi: Ikhwanul Kiram Mashuri. Wakil Pemimpin Redaksi: Nasihin Masha. Redaktur Pelaksana: Agung Pragitya Vazza. Kepala Newsroom: Arys Hilman. Kepala Republika Online: Irfan Junaidi. Redaktur Senior: Anif Punto Utomo. Wakil Redaktur Pelaksana: Elba Damhuri, Selamat Ginting, S Kumara Dewatasari. Asisten Redaktur Pelaksana: Nurul S Hamami, Subroto, Rakhmat Hadi Sucipto, M Irwan Ariefyanto, Nina Chairani Ibrahim, Bidramnanta. Staf Redaksi: Ahmadun Y Herfanda, Alwi Shahab, Agus Yulianto Budi Utomo, Burhanuddin Bella, C Purwatiningsih, Damanhuri Zuhri, Darmawan Sepriyossa, Djoko Suceno, Darmawan,Edi Setyoko, Eko Widiyatno,Endro Cahyono, Firkah Fansuri, Harun Husein, Heri Purwata, Heri Ruslan, Irwan Kelana, Johar Arief, Joko Sadewo, Khoirul Azwar, Maghfiroh Yenny, Muhammad Subarkah, M Ghufron,Natalia Endah Hapsari, M Asadi, Neni Ridarineni, Nur Hasan Murtiaji, Priyantono Oemar, Purwadi Tjitrawijata, Siwi Tri Puji Budiwiyati, Stevy Maradona,Sunarwoto, Syahruddin El-Fikri, Taufiqurrahman Bachdari, Teguh Indra, Teguh Setiawan, Wachidah Handasah, Yeyen Rostiyani, Yusuf Assidiq. Andri Saubani, Anjar Fahmihar to, Budi Rahardjo, Cepi Setiadi, Desi Susilawati, Dewi Mardiani, Dian Metha Ariyanti, Didi Pur wadi, Dyah Ratna Meta Novia, EH Ismail, Endro Yuwanto, Fernan Rahadi, Ferry Kisihandi, Indah Wulanningsih, Indira Rezkisari, Irianto Pandu Wibowo, Lukmanul Hakim, M Bahrul Ilmi, M Ikhsan Shiddieqy, Mansyur Faqih, Mohammad Akbar, M Anis Fathoni, Mohamad Amin Madani, Mohammad Syakir, Nidia Zuraya, Palupi Annisa Auliani, Prima Restri Ludfiani, R Hiru Muhammad, Rachmat Santosa Basarah, Rahmat Budi Harto, Ratna Puspita, Reiny Dwinanda, Rosyid Nurul Hakim, Rusdy Nurdiansyah, Susie Evidia Yuvidianti, Teguh Firmansyah,Wardianto, Wulan Tunjung Palupi, Yogi Ardhi Cahyadi, Yoebal Ganesha Rasyid,Yogie Respati, Zaky Al Hamzah. Kepala Desain: Sarjono. Kepala Perwakilan Jawa Barat: Maman Sudiaman. Kepala Perwakilan DIY & Jawa Tengah: Indra Wisnu Wardhana. Kepala Perwakilan Jawa Timur: Asep Nurzaman. Nian Poloan (Medan), Maspril Aries (Palembang), Ahmad Baraas (Bali), Andi Nur Aminah (Makassar). Sekretaris Redaksi: Fachrul Ratzi.

Penerbit: PT. Republika Media Mandiri. Alamat Redaksi: Jl. Warung Buncit Raya No. 37, Jakarta 12510, Alamat Surat: PO Box 1006/JKS-Jakarta 12010. Tel: 021-780.3747 (Hunting), Fax: 021-780.0649 (Seluruh Bagian). Fax Redaksi: 021-798.3623, E-mail: sekretariat@republika.co.id. Bagian Iklan: Jl. Warung Buncit Raya No. 37, Jakarta 12510. Tel: 021-794.4693, Fax: 021-798.1169. Alamat Perwakilan Iklan: Jl. Gajahmada No. 95, Jakar ta 11140. Tel: 021633.6410. Fax: 021-633.7470. Sirkulasi dan Langganan: Tel: 021-791.98441, Fax: 021-791.98442. Online: http://www.republika.co.id. Alamat Perwakilan: Bandung: Jl. LL RE Martadinata No. 126 Tel: 022-420.7671, 420.7672, 420.7675, Fax: 022-426.2829, Yogyakarta: Jl. Perahu No. 4, Kota Baru, Tel: 0274-544.972, 566028, Fax: 0274541.582, Surabaya: Jl. Barata Jaya No. 51, Tel: 031-501.7409, Fax: 031-504.5072. Direktur Utama: Erick Thohir. Wakil Direktur Utama: Daniel Wewengkang. Direktur Operasional: Tommy Tamtomo. Direktur Keuangan: Rachmat Yuliwinoto. GM Keuangan: Didik Irianto. GM Marketing dan Sales: Ismed Adrian. Manager Iklan: Yulianingsih. Manager Produksi: Nurrokhim. Manager Sirkulasi: Dedik Supardiono. Manager Keuangan: Hery Setiawan. Harga Langganan: Rp. 69.000 per bulan, harga eceran Pulau Jawa Rp 2.900. Harga Eceran Luar Jawa: Rp. 3.500 per eksemplar (tambah ongkos kirim). Rekening Bank a.n PT Republika Media Mandiri: Bank BSM, Cab. Warung Buncit, No. Rek. 0030113448 ( Bank Mandiri, Cab. Warung Buncit, No. Rek. 1270004240642 ( Bank Lippo, Cab. Warung Buncit, No. Rek. 727.30.028988 ( Bank BCA, Cab. Graha Inti Fauzi, No. Rek. 375.305.666.8. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers: SK Menpen No. 283/SK/MENPEN/SIUPP/A.7/1992, Anggota Serikat Penerbit Surat Kabar: Anggota SPS No. 163/1993/11/A/2002.