Anda di halaman 1dari 25

BAB I GAMBARAN UMUM SAP BERBASIS AKRUAL

a. Pendahuluan Sesuai dengan amanat Undang Undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Pemerintah telah menetapkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Standar Akuntansi Pemerintahan tersebut menganut basis kas menuju akrual (cash toward accrual) yaitu menggunakan basis kas untuk pengakuan transaksi pendapatan, belanja dan pembiayaan, dan basis akrual untuk pengakuan aset, kewajiban, dan ekuitas dana. Namun, penerapan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2005 masih bersifat sementara sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 36 ayat (1) Undang Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang menyatakan bahwa selama pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual belum dilaksanakan, digunakan pengakuan dan pengukuran berbasis kas. Pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual menurut Pasal 36 ayat (1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 dilaksanakan paling lambat lima tahun. Oleh karena itu, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2005 perlu diganti. Diterbitkannya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan yang menganut basis akrual secara penuh, yang menggantikan Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Kas Menuju Akrual menurut PP Nomor 24 Tahun 2005 tersebut akan dimulai pada tahun 2015. Dengan demikian pada saat ini merupakan masa persiapan dan peralihan bagi instansi pemerintah untuk melakukan perubahan penggunaan basis akuntansi dalam pencatatan dan pelaporan keuangan sesuai dengan ketentuan Undang Undang Keuangan Negara.

b. Pengertian Akuntansi berbasis akrual adalah suatu basis akuntansi di mana transaksi ekonomi dan peristiwa lainnya diakui, dicatat, dan disajikan dalam laporan keuangan pada saat terjadinya transaksi tersebut, tanpa memperhatikan waktu kas atau setara kas diterima atau dibayarkan. Dalam akuntansi berbasis akrual, waktu pencatatan (recording) sesuai dengan saat terjadinya arus sumber daya, sehingga dapat menyediakan informasi yang paling komprehensif karena seluruh arus sumber daya dicatat. Secara lebih mendalam, Study #14 IFAC Public Sector Committee (2002) menyatakan bahwa pelaporan berbasis akrual bermanfaat dalam mengevaluasi kinerja pemerintah terkait biaya jasa layanan, efisiensi, dan pencapaian tujuan. Dengan pelaporan berbasis akrual, pengguna dapat mengidentifikasi pemerintah posisi keuangan kegiatannya pemerintah sesuai dan

perubahannya,

bagaimana

mendanai

dengan

kemampuan pendanaannya sehingga dapat diukur kapasitas pemerintah yang sebenarnya. Akuntansi pemerintah berbasis akrual juga memungkinkan pemerintah untuk mengidentifikasi kesempatan dalam menggunakan sumber daya masa depan dan mewujudkan pengelolaan yang baik atas sumber daya tersebut. Peraturan Pemerintah Nomor 71 2010 pasal 1 ayat (8) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan SAP Berbasis Akrual adalah SAP yang mengakui pendapatan, beban, aset, utang, dan ekuitas dalam pelaporan finansial berbasis akrual, serta mengakui pendapatan, belanja, dan pembiayaan dalam pelaporan pelaksanaan anggaran berdasarkan basis yang ditetapkan dalam APBN atau APBD.

c. Tujuan penggunaan basis akrual: meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaporan) meningkatkan pengendalian fiskal, manajemen aset meningkatkan akuntabilitas dalam program penyediaan barang dan jasa oleh pemerintah informasi yang lebih lengkap bagi pemerintah untuk.pengambilan keputusan mereformasi sistem anggaran belanja (penganggaran, akuntansi dan

transparansi yang lebih luas atas biaya pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah

d. Manfaat basis akrual: gambaran yang utuh atas posisi keuangan pemerintah informasi yang sebenarnya kewajiban pemerintah lebih familiar pada lebih banyak orang dan lebih komprehensif dalam penyajian informasinya standar yang dapat diterima umum memperkuat pengelolaan dan pengembangan anggaran, khususnya melalui pengakuan dan pengendalian asset dan kewajiban pemerintah sesuai Statistik Keuangan Pemerintah (GFS) yang dipraktekkan secara internasional

e. Alasan penggunaan basis akrual: Akuntansi berbasis kas tidak menghasilkan informasi yang cukup misal transaksi non kas untuk pengambilan keputusan ekonomi misalnya informasi tentang hutang dan piutang, sehingga penggunaan basis akrual sangat disarankan Akuntansi berbasis akrual menyediakan informasi yang tepat untuk

menggambarkan biaya operasi yang sebenarnya (full costs of operation) Akuntansi berbasis akrual dapat menghasilkan informasi yang dapat diandalkan dalam informasi aset dan kewajiban. Akuntansi berbasis akrual yang menghasilkan informasi keuangan yang komprehensif, misalnya penghapusan hutang yang tidak ada pengaruhnya di laporan berbasis kas.

BAB II PERBEDAAN SAP BERBASIS AKRUAL DENGAN SAP BERBASIS KAS MENUJU AKRUAL (CASH TOWARD ACCRUAL)

Jika dibandingkan dengan akuntansi pemerintah berbasis kas menuju akrual, akuntansi berbasis akrual sebenarnya tidak banyak berbeda. Pengaruh perlakuan akrual dalam akuntansi berbasis kas menuju akrual sudah banyak diakomodasi di dalam laporan keuangan terutama neraca yang disusun sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Hal tersebut tercermin dengan keberadaan pos piutang, aset tetap, dan hutang. Ketika basis akrual digunakan sepenuhnya untuk menggambarkan

berlangsungnya esensi transaksi atau kejadian, maka kelebihan yang diperoleh adalah tergambarkannya informasi operasi atau kegiatan. Dalam sektor komersial, gambaran perkembangan operasi atau kegiatan ini dituangkan dalam Laporan Laba Rugi. Sedangkan dalam akuntansi pemerintah, laporan sejenis ini diciptakan dalam bentuk Laporan Operasional atau Laporan Surplus/Defisit. Dengan demikian, perbedaan kongkrit yang paling memerlukan perhatian adalah jenis/komponen laporan keuangan. Perbedaan mendasar SAP Kas menuju Akrual (PP Nomor 24 Tahun 2005) dengan SAP Akrual (PP Nomor 71 Tahun 2010) terletak pada PSAP 12 mengenai Laporan Operasional. Entitas pemerintah melaporkan secara transparan besarnya sumber daya ekonomi yang didapatkan, dan besarnya beban yang ditanggung untuk menjalankan kegiatan pemerintahan. Surplus/defisit operasional merupakan penambah atau pengurang ekuitas/kekayaan bersih entitas pemerintahan bersangkutan. Perbandingan lebih rinci antara SAP berbasis Kas Menuju Akrual (Cash toward Accrual) dengan SAP berbasis Akrual dapat diuraikan sebagai berikut:
KETERANGAN NO 1 Penyusutan Aset Tetap KERANGKA KONSEPTUAL Tidak diuraikan dalam Aset yang digunakan pemerintah, kerangka konseptual kecuali beberapa aset tertentu seperti tanah, mempunyai masa manfaat dan kapasitas yang terbatas. Seiring dengan penurunan kapasitas dan manfaat dari suatu aset (Par 16) CASH TOWARD ACCRUAL ACCRUAL

KETERANGAN NO 2 3 Entitas Akuntansi Entitas Pelaporan

CASH TOWARD ACCRUAL Belum ada uraian mengenai Entitas Akuntansi Pemerintah Pusat; Pemerintah Daerah; Satuan organisasi di lingkungan Pemerintah Pusat/Daerah atau organisasi lainnya yang diwajibkan menyajikan LK menurut peraturan Per-UUan (Par 19) Pelaporan diperlukan untuk kepentingan: - Akuntabilitas; - Manajemen; - Transparansi; dan - Keseimbangan antar generasi (Par 22) Laporan Keuangan Pokok : LRA Neraca LAK CaLK (Par 25) Laporan yang Bersifat optional - Laporan Kinerja Keuangan (LKK) - Laporan Perubahan Ekuitas (LPE) (par 26) Basis kas untuk pengakuan pendapatan, belanja dan pembiayaan dalam LRA Basis akrual untuk pengakuan aset, kewajiban, dan ekuitas dalam Neraca (Par 39)

ACCRUAL Terdapat uraian mengenai Entitas Akuntansi Selain sebagaimana disebutkan pada CTA, ditegaskan pula bahwa entitas pelaporan termasuk kementerian negara atau lembaga di lingkungan pemerintah pusat (Par 22)

Peranan Laporan Keuangan

Komponen Laporan Keuangan

Pelaporan diperlukan untuk kepentingan: - Akuntabilitas; - Manajemen; - Transparansi; dan - Keseimbangan antar generasi - Evaluasi Kinerja (Par 25) Keuangan Pokok : LRA Laporan Perubahan SAL Neraca Laporan Operasional (LO) LAK Laporan Perubahan Ekuitas (LPE) CaLK (Par 28)

Basis Akuntansi

Unsur Laporan Keuangan

a. LRA -Pendapatan -Belanja -Transfer -Pembiayaan b. Neraca Aset Kewajiban Ekuitas Dana (Ekuitas dana lancar, investasi dan dana cadangan) (Par 57-77)

Basis akrual untuk pengakuan pendapatan-LO, beban, aset, kewajiban, dan ekuitas (Par 42) Dalam hal anggaran disusun dan dilaksanakan berdasar basis kas, maka LRA disusun berdasarkan basis kas. Bilamana anggaran disusun dan dilaksanakan berdasarkan basis akrual, maka LRA disusun berdasarkan basis akrual. (Par 44) Laporan Pelaksanaan Anggaran a. LRA -Pendapatan-LRA -Belanja -Transfer -Pembiayaan b. Laporan Perubahan SAL Laporan Finansial 1). Neraca - Aset - Kewajiban - Ekuitas (Par 60-83)

KETERANGAN NO

CASH TOWARD ACCRUAL c. Laporan Kinerja Keuangan Laporan realisasi pendapatan (basis akrual) & belanja (basis akrual) bersifat OPTIONAL d. Laporan Perubahan Ekuitas (LPE) Kenaikan dan penurunan ekuitas tahun pelaporan dibandingkan tahun sebelumnya - bersifat OPTIONAL e. Laporan Arus Kas -Penerimaan Kas -Pengeluaran Kas f. CaLK Pengakuan Pendapatan (Par 88) Pendapatan menurut basis akrual diakui pada saat timbulnya hak atas pendapatan tersebut atau ada aliran masuk sumber daya ekonomi. Pendapatan menurut basis kas diakui pada saat kas diterima di Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau oleh entitas pelaporan. Pengakuan Belanja (Par 89) Belanja menurut basis akrual diakui pada saat timbulnya kewajiban atau pada saat diperoleh manfaat. Belanja menurut basis kas diakui pada saat terjadinya pengeluaran dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau entitas pelaporan

ACCRUAL 2). Laporan Operasional (LO) - Pendapatan-LO - Beban - Transfer - Pos Luar Biasa

c. Laporan Perubahan Ekuitas (LPE) Kenaikan dan penurunan ekuitas tahun pelaporan dibandingkan tahun sebelumnya

d. Laporan Arus Kas -Penerimaan Kas -Pengeluaran Kas e. CaLK

Pengakuan Unsur Laporan Keuangan

Pengakuan Pendapatan (Par 95) Pendapatan-LO diakui pada saat timbulnya hak atas pendapatan tersebut atau ada aliran masuk sumber daya ekonomi. Pendapatan-LRA diakui pada saat kas diterima di Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau oleh entitas pelaporan Pengakuan Belanja dan Beban (Par96-97) Beban diakui pada saat timbulnya kewajiban, terjadinya konsumsi aset, atau terjadinya penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa. Belanja diakui berdasarkan terjadinya pengeluaran dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau entitas pelaporan

KETERANGAN NO 9 Pengukuran Unsur Laporan Keuangan

CASH TOWARD ACCRUAL Menggunakan nilai perolehan Historis. Aset dicatat sebesar pengeluaran kas dan setara kas atau sebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aset tersebut Kewajiban dicatat sebesar nilai nominal(Par 90)

ACCRUAL Menggunakan nilai perolehan Historis. Aset dicatat sebesar pengeluaran/ penggunaan sumber daya ekonomi atau sebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aset tersebut

Basis Akuntansi

Kewajiban dicatat sebesar nilai wajar sumber daya ekonomi yang digunakan pemerintah untuk memenuhi kewajiban yang bersangkutan. (Par 98) PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN Basis akuntansi yang Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintah yaitu digunakan dalam laporan keuangan pemerintah yaitu basis akrual basis kas untuk pengakuan (Par 5) pos-pos pendapatan, belanja, dan pembiayaan dan basis akrual untuk pengakuan pospos aset, kewajiban, dan ekuitas dana.(Par 5) Penggunaan sepenuhnya basis akrual bersifat optional (Par 6)

Definisi

Pendapatan: adalah semua penerimaan Rekening Kas Umum Negara/Daerah yang menambah ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah, dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah. (Par 8) Belanja: semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah. (Par 8)

Pendapatan-LRA: semua penerimaan Rekening Kas Umum Negara/Daerah yang menambah Saldo Anggaran Lebih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah, dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah. Pendapatan-LO: hak pemerintah pusat/daerah yang diakui sebagai penambah ekuitas dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan dan tidak perlu dibayar kembali.(Par 8) Belanja: semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah yang mengurangi Saldo Anggaran Lebih dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah.

Beban: penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa dalam periode pelaporan yang menurunkan ekuitas,

KETERANGAN NO

CASH TOWARD ACCRUAL

ACCRUAL yang dapat berupa pengeluaran atau konsumsi aset atau timbulnya kewajiban. (Par 8)

Surplus/Defisit: selisih lebih/kurang antara pendapatan dan belanja selama satu periode pelaporan.

Penyusutan adalah penyesuaian nilai sehubungan dengan penurunan kapasitas dan manfaat dari suatu aset (Par 8) Tidak ada

Surplus/Defisit-LRA:selisih lebih/kurang antara pendapatan-LRA dan belanja selama satu periode pelaporan. Surplus/Defisit-LO: selisih antara pendapatan-LO dan beban selama satu periode pelaporan, setelah diperhitungkan surplus/ defisit dari kegiatan non operasional dan pos luar biasa. Penyusutan adalah alokasi yang sistematis atas nilai suatu aset tetap yang dapat disusutkan (depreciable assets) selama masa manfaat aset yang bersangkutan. (Par 8) Pos luar biasa: pendapatan luar biasa/ beban luar biasa yg terjadi karena kejadian atau transaksi yg bukan merupakan operasi biasa, tidak diharapkan sering atau rutin terjadi, dan berada di luar kendali atau pengaruh entitas bersangkutan. Saldo Anggaran Lebih adalah gunggungan saldo yang berasal dari akumulasi SiLPA/SiKPA tahun-tahun anggaran sebelumnya dan tahun berjalan serta penyesuaian lain yang diperkenankan (Par 8) -Aset; -Kewajiban; -Ekuitas; -Pendapatan-LRA; -Belanja; -Transfer; -Pembiayaan; -Saldo anggaran lebih -Pendapatan-LO; -Beban; dan -Arus kas. (Par 11)

Tidak ada

Informasi Laporan Keuangan

Laporan keuangan menyediakan informasi mengenai entitas pelaporan dalam hal: -Aset; -Kewajiban; -Ekuitas dana; -Pendapatan; -Belanja; -Transfer; -Pembiayaan; dan -Arus kas. (Par 11) Laporan Keuangan Pokok LRA Neraca LAK CaLK (Par 14)

Komponen Laporan Keuangan

Laporan Keuangan Pokok 1. Laporan Pelaksanaan Anggaran LRA Laporan Perubahan SAL

KETERANGAN NO -

CASH TOWARD ACCRUAL Laporan yang bersifat optional -Laporan Kinerja Keuangan (LKK) -Laporan Perubahan Ekuitas (LPE) (par 20) Setiap entitas pelaporan menyajikan komponenkomponen laporan keuangan tersebut kecuali: LAK yang hanya disajikan oleh unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan (Par 15) 2. 3.

ACCRUAL Laporan Finansial Neraca Laporan Operasional (LO) LAK Laporan Perubahan Ekuitas(LPE) CaLK (Par 14)

Setiap entitas pelaporan menyajikan komponen-komponen laporan keuangan tersebut kecuali : LAK yang hanya disajikan oleh entitas yang mempunyai fungsi perbendaharaan umum; Laporan Perubahan SAL yang hanya disajikan oleh Bendahara Umum Negara dan entitas pelaporan yang menyusun laporan keuangan konsolidasiannya. (Par 15) Entitas pelaporan pemerintah pusat juga menyajikan Saldo Anggaran Lebih pemerintah yang mencakup Saldo Anggaran Lebih tahun sebelumnya, penggunaan Saldo Anggaran Lebih, Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran (SiLPA/SiKPA) tahun berjalan, dan penyesuaian lain yang diperkenankan (Par 18) Entitas pelaporan menyajikan kekayaan bersih pemerintah yang mencakup ekuitas awal, surplus/defisit periode bersangkutan, dan dampak kumulatif akibat perubahan kebijakan dan kesalahan mendasar (Par 22)

LAPORAN PERUBAHAN SAL

Tidak ada laporan tersendiri

Laporan Perubahan SAL menyajikan secara komparatif dengan periode sebelumnya pos-pos berikut: a. Saldo Anggaran Lebih awal; b. Penggunaan Saldo Anggaran Lebih; c. Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran tahun berjalan; d. Koreksi Kesalahan Pembukuan tahun Sebelumnya; dan e. Lain-lain; f. Saldo Anggaran Lebih Akhir. Hanya Ekuitas, yaitu kekayaan bersih pemerintah yang merupakan selisih antara aset dan kewajiban pemerintah pada tanggal laporan.

NERACA

Ekuitas Dana terbagi: Ekuitas Dana Lancar: selisih antara aset lancar dan kewajiban jangka pendek,

KETERANGAN NO

CASH TOWARD ACCRUAL

ACCRUAL Saldo ekuitas di Neraca berasal dari saldo akhir ekuitas pada Laporan Perubahan Ekuitas (Par 84-85)

termasuk sisa lebih pembiayaan anggaran/saldo anggaran lebih Ekuitas Dana Investasi: mencerminkan kekayaan pemerintah yang tertanam dalam investasi jangka panjang, aset tetap, dan aset lainnya, dikurangi dengan kewajiban jangka panjang Ekuitas Dana Cadangan: mencerminkan kekayaan pemerintah yang dicadangkan untuk tujuan tertentu sesuai dengan peraturan perundangundangan. (Par 78-81) LAPORAN ARUS KAS Disajikan oleh unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan (Par 15) Arus masuk dan keluar kas diklasifikasikan berdasarkan aktivitas operasi, investasi aset non keuangan, pembiayaan, dan non anggaran (Par 86) LAPORAN KINERJA Bersifat optional KEUANGAN Disusun oleh entitas pelaporan yang menyajikan laporan berbasis akrual Sekurang-kurangnya menyajikan pos-pos : a) Pendapatan dari kegiatan operasional; b) Beban berdasarkan klasifikasi fungsional dan klasifikasi ekonomi; c) Surplus atau defisit. (Par 20 & 86) LAPORAN OPERASIONAL TIDAK ADA

Disajikan oleh unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan umum (Par 15) Arus masuk dan keluar kas diklasifikasikan berdasarkan aktivitas operasi, investasi, pendanaan, dan transitoris (Par 90)

TIDAK ADA

10

Merupakan Laporan Keuangan Pokok Menyajikan pos-pos sebagai berikut: a) Pendapatan-LO dari kegiatan operasional; b) Beban dari kegiatan operasional ; c) Surplus/defisit dari Kegiatan Non Operasional, bila ada; d) Pos luar biasa, bila ada; e) Surplus/defisit-LO. (Par 14 & 92)

10

KETERANGAN NO 11 LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS

CASH TOWARD ACCRUAL

ACCRUAL

Bersifat optional Merupakan Laporan Keuangan Pokok Sekurang-kurangnya Sekurang-kurangnya menyajikan posmenyajikan pos-pos: pos: a) Sisa Lebih/Kurang a) Ekuitas awal; Pembiayaan Anggaran; b) Surplus/defisit-LO pada periode b) Setiap pos pendapatan dan bersangkutan; belanja beserta totalnya c) Koreksi-koreksi yang langsung seperti diisyaratkan dalam menambah/mengurangi ekuitas, standar-standa lainnya, yang misalnya: koreksi kesalahan diakui secara langsung dalam mendasar dari persediaan yang ekuitas; terjadi pada periode-periode e) Efek kumulatif atas sebelumnya dan perubahan nilai perubahan kebijakan aset tetap karena revaluasi aset akuntansi dan koreksi tetap. kesalahan yang mendasar d) Ekuitas akhir. (Par 14 & 101) diatur dalam suatu standar terpisah . (Par 20 & 95) Disajikan secara sistematis. Setiap pos dalam LRA, Neraca, LAK harus mempunyai referensi silang dengan informasi terkait dalam Catatan atas Laporan Keuangan. CaLK meliputi penjelasan atau daftar terinci atau analisis atas nilai suatu pos yang disajikan dalam LRA, Neraca, dan LAK Disajikan secara sistematis. Setiap pos dalam LRA, Laporan Perubahan SAL, Neraca, LO, LAK, dan LPE harus mempunyai referensi silang dengan informasi terkait dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan atau daftar terinci atau analisis atas nilai suatu pos yang disajikan dalam LRA, Laporan Perubahan SAL, Neraca, LO, LAK, dan LPE.(Par 105 & 106)

12

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

LAPORAN REALISASI ANGGARAN BERBASIS KAS BASIS AKUNTANSI LRA berbasis Kas, dengan LRA berbasis Kas, dengan prinsip prinsip penyajian sama. penyajian sama. DEFINSI Saldo Anggaran Lebih adalah gunggungan saldo yang berasal dari akumulasi SiLPA/SiKPA tahun-tahun anggaran sebelumnya dan tahun berjalan serta penyesuaian lain yang diperkenankan (Par 7) Pengecualian asas bruto - Dalam hal besaran pengurang terhadap pendapatan-LRA bruto (biaya) bersifat variabel terhadap pendapatan dimaksud dan tidak dapat dianggarkan terlebih dahulu dikarenakan proses belum selesai, maka asas bruto dapat dikecualikan. (Par 25)

3 4

AKUNTANSI PENDAPATAN AKUNTANSI PENDAPATAN-LRA

Pengecualian asas bruto Tidak ada pengecualian. -

11

KETERANGAN NO 5 AKUNTANSI SILPA/SIKPA

CASH TOWARD ACCRUAL SILPA/SIKPA pada akhir periode pelaporan dipindahkan ke Neraca Ekuitas Dana Lancar Penjabaran mata uang asing ke dalam mata uang rupiah menggunakan kurs tengah bank sentral pada tanggal a) transaksi (Par 62)

ACCRUAL SILPA/SIKPA pada akhir periode pelaporan dipindahkan ke Laporan Perubahan SAL. (Par 62) Penjabaran mata uang asing ke dalam mata uang rupiah, tergantung pada kondisi berikut: Dalam hal tersedia dana dalam mata uang asing yang sama dengan yang digunakan dalam transaksi, maka penjabaran ke dalam mata uang rupiah berdasarkan kurs tengah bank sentral pada tanggal transaksi. (Par 64) Dalam hal tidak tersedia dana dalam mata uang asing yang digunakan dalam transaksi dan mata uang asing tersebut dibeli dengan rupiah, maka transaksi dalam mata uang asing tersebut dicatat dalam rupiah berdasarkan kurs transaksi, yaitu sebesar rupiah yang digunakan untuk memperoleh valuta asing tersebut. (Par 65) Dalam hal tidak tersedia dana dalam mata uang asing yang digunakan untuk bertransaksi dan mata uang asing tersebut dibeli dengan mata uang asing lainnya, maka: Transaksi mata uang asing ke mata uang asing lainnya dijabarkan dengan menggunakan kurs transaksi; Transaksi dalam mata uang asing lainnya tersebut dicatat dalam rupiah berdasarkan kurs tengah bank sentral pada tanggal transaksi. (Par 66) -

TRANSAKSI DALAM MATA UANG ASING

b)

c)

(a)

(b)

TRANSAKSI PENDAPATAN, BELANJA, DAN PEMBIAYAAN BERBENTUK BARANG DAN JASA

Transaksi pendapatan, belanja, & pembiayaan dalam bentuk barang dan jasa harus dilaporkan dalam Laporan Realisasi Anggaran dengan cara menaksir nilai barang dan jasa tersebut pada tanggal transaksi. Contoh transaksi berwujud barang dan jasa adalah hibah dalam wujud barang, barang rampasan, dan jasa konsultansi

12

KETERANGAN NO 1 Diperlukan / tidak

CASH TOWARD ACCRUAL LAPORAN ARUS KAS Diperlukan, karena merupakan laporan pertanggungjawaban dari unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan berdasarkan aktivitas operasi, investasi aset non keuangan, pembiayaan dan non anggaran (par 14, PP 24/2005) Definisi aktivitas operasi, investasi aset non keuangan, pembiayaan dan non anggaran dalam bagian definisi Tidak ada

ACCRUAL

Tetap diperlukan, karena merupakan laporan pertanggungjawaban dari unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan umum berdasarkan aktivitas operasi, investasi, pendanaan dan transitoris (par 15, PP 71/2010)

Pengklasifikasian LA

Definisi

Definisi aktivitas operasi, investasi, pendanaan dan transitoris dalam paragraf PSAP

Penegasan penyajian kas dan setara kas dalam arus kas

Penegasan : Kas dan setara kas harus disajikan dalam laporan arus kas (par 9, PP 71/2010) (Pemerintah Pusat) Kenaikan/Penurunan Kas S.Awal Kas di BUN+Kas di B.Pengel S.Akhir Kas di BUN+Kas di B.Pengel S.Akhir Kas di B.Pener S.Akhir Kas

Format LAK

(Pemerintah Pusat) Kenaikan/Penurunan Kas S.Awal Kas di BUN S.Akhir Kas di BUN S.Akhir Kas di B.Pengel S.Akhir Kas di B.Pener S.Akhir Kas

Tujuan Penyajian CaLK

Isi CaLK

Kebijakan akuntansi

Struktur Penjelasan CaLK

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Tidak Ada Untuk meningkatkan transparansi dan pemahaman yang lebih baik (par 2, PP 71/2010) meliputi penjelasan/daftar meliputi penjelasan/ terinci/analisis atas suatu pos daftar terinci/analisis atas suatu pos dalam LRA, Neraca dan LAK dalam LRA, Laporan Perubahan SAL, (par 12, PP 24/2005) Neraca, LO, LAK dan Laporan Perubahan Ekuitas (par 13, PP 71/2010) Diantara Kebijakan-kebijakan Diantara Kebijakan-kebijakan akuntansi yang perlu akuntansi yang perlu dipertimbangkan dipertimbangkan untuk untuk disajikan adalah : Pengakuan pendapatan-LRA disajikan adalah : Pengakuan pendapatan Pengakuan pendapatan-LO Pengakuan belanja Pengakuan Belanja Pengakuan Beban (par 50, PP 24/2005) (par 46, PP 71/2010) Tidak Ada Struktur penjelasan CaLK atas setiap komponen laporan keuangan disebutkan dalam paragraf PSAP

13

KETERANGAN NO 5 Pengungkapan Informasi

CASH TOWARD ACCRUAL Pengungkapan informasi utk pos-pos aset & kewajiban yang timbul sehubungan dg penerapan basis akrual atas pendapatan & belanja dan rekonsiliasinya dg penerapan basis kas (par 58 s.d. 61 PP 24/2005) Tidak ada

ACCRUAL

Catatan atas Persediaan

AKUNTANSI PERSEDIAAN Pada akhir periode akuntansi, Pada akhir periode akuntansi catatan persediaan dicatat persediaan disesuaikan dengan hasil berdasarkan hasil inventarisasi fisik inventarisasi fisik (par 14, PP 71/2010) (par 16, PP 24/2005) Nilai pembelian yang digunakan adalah biaya perolehan persediaan yang terakhir diperoleh (par 20, PP 24/2005) Persediaan dapat dinilai dengan menggunakan : Metode sistematis (FIFO atau rata-rata tertimbang) Harga pembelian terakhir (par 17 PP 71/2010) Terdapat bagian yang mengatur mengenai beban persediaan : Dicatat sebesar pemakaian persediaan -Dalam rangka penyajian LO -Pengukuran persediaan secara perpetual dan periodik (par 22 s.d. 25, PP 71/2010)

Penilaian Persediaan

Beban Persediaan

Tidak ada -

Diskonto atau Premi

Pengakuan Hasil Investasi

AKUNTANSI INVESTASI Tidak Ada Paragraf 34 : Diskonto atau premi pada pembelian investasi diamortisasi selama periode dari pembelian sampai saat jatuh tempo sehingga hasil yang konstan diperoleh dari investasi tersebut. Paragraf 35 : Diskonto atau premi yang diamortisasi tersebut dikreditkan atau didebetkan pada pendapatan bunga, sehingga merupakan penambahan atau pengurangan dari nilai tercatat investasi (carrying value) tersebut. Hasil investasi berupa dividen Idem tunai yang diperoleh dari penyertaan modal pemerintah yang pencatatannya menggunakan metode biaya, dicatat sebagai pendapatan hasil investasi.

14

KETERANGAN NO

CASH TOWARD ACCRUAL Sedangkan apabila menggunakan metode ekuitas, bagian laba yang diperoleh oleh pemerintah akan dicatat mengurangi nilai investasi pemerintah dan tidak dicacat sebagai pendapatan hasil investasi. Kecuali untuk dividen dalam bentuk saham yang diterima akan menambah nilai investasi pemerintah dan ekuitas dana yang diinvestasikan dengan jumlah yang sama.

ACCRUAL Sedangkan apabila menggunakan metode ekuitas, bagian laba berupa dividen tunai yang diperoleh oleh pemerintah dicatat sebagai pendapatan hasil investasi dan mengurangi nilai investasi pemerintah. Dividen dalam bentuk saham yang diterima tidak akan menambah nilai investasi pemerintah.

Penyajian sebagai keuntungan/rugi atas selisih pelepasan investasi dalam laporan operasional (par 41 s.d. 42, PP 71/2010) AKUNTANSI AKTIVA TETAP perolehan tersebut diakui sebagai Perolehan aset tetap perolehan tersebut diakui pendapatan operasional yang memenuhi kriteria sebagai pendapatan perolehan aset donasi pemerintah dan belanja (par 48, PP 71/2010) modal dalam jumlah yang sama dalam LRA (par 49) AKUNTANSI KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN Tujuan mengatur perlakuan mengatur perlakuan akuntansi untuk akuntansi untuk konstruksi konstruksi dalam pengerjaan. dalam pengerjaan dengan metode nilai historis. Ruang Lingkup Masalah utama akuntansi untuk KDP adalah jumlah biaya yang diakui sebagai asset yang harus dicatat sampai dengan konstruksi tersebut selesai dikerjakan Idem

Tidak ada

15

KETERANGAN NO 3 Definisi -

CASH TOWARD ACCRUAL

ACCRUAL Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat serta dapat diukur dalam satuan uang termasuk sumber daya non keuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumbersumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya

Definisi

Aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk digunakan, atau dimaksudkan untuk digunakan, dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum AKUNTANSI KEWAJIBAN Amortisasi adalah alokasi Idem sistematis dari premium atau diskonto selama umur utang pemerintah Nilai Nominal adalah nilai kewajiban pemerintah pada saat pertama kali transaksi berlangsung seperti nilai yang tertera pada lembar surat utang pemerintah. Aliran ekonomi setelahnya, seperti transaksi pembayaran, perubahan penilaian dikarenakan perubahan kurs valuta asing, dan perubahan lainnya selain perubahan nilai pasar, diperhitungkan dengan menyesuaikan nilai tercatat kewajiban tersebut Setiap entitas pelaporan mengungkapkan setiap pos kewajiban yang mencakup jumlah-jumlah yang diharapkan akan diselesaikan dalam waktu 12 (dua belas) bulan dan lebih dari 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan. Nilai Nominal adalah nilai kewajiban pemerintah pada saat pertama kali transaksi berlangsung seperti nilai yang tertera pada lembar surat utang pemerintah.

Klasifikasi Kewajiban

Setiap entitas pelaporan mengungkapkan setiap pos kewajiban yang mencakup jumlah-jumlah yang diharapkan akan diselesaikan setelah tanggal pelaporan.

16

KETERANGAN NO 3 Pengakuan Kewajiban

CASH TOWARD ACCRUAL Kewajiban diakui pada saat dana pinjaman diterima dan/atau pada saat kewajiban timbul.

ACCRUAL Kewajiban diakui pada saat dana pinjaman diterima oleh pemerintah atau dikeluarkan oleh kreditur sesuai dengan kesepakatan, dan/atau pada saat kewajiban timbul. Utang Transfer adalah kewajiban suatu entitas pelaporan untuk melakukan pembayaran kepada entitas lain sebagai akibat ketentuan perundang-undangan. Utang transfer diakui dan dinilai sesuai dengan peraturan yang berlaku Pada setiap tanggal neraca pos utang pemerintah dalam mata uang asing dilaporkan ke dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tengah bank sentral pada tanggal neraca.

Pengukuran Kewajiban

Belum ada pengukuran untuk utang transfer

Perubahan Valuta Asing

Pada setiap tanggal neraca pos kewajiban moneter dalam mata uang asing dilaporkan ke dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tengah bank sentral pada tanggal neraca. Selisih penjabaran pos kewajiban moneter dalam mata uang asing antara tanggal transaksi dan tanggal neraca dicatat sebagai kenaikan atau penurunan ekuitas dana periode berjalan.

idem

Penyelesaian Kewajiban Sebelum Jatuh Tempo

Untuk sekuritas utang pemerintah yang diselesaikan sebelum jatuh tempo karena adanya fitur untuk ditarik oleh penerbit (call feature) dari sekuritas tersebut atau karena memenuhi persyaratan untuk penyelesaian oleh permintaan pemegangnya maka perbedaan antara harga perolehan kembali dan nilai tercatat netonya harus diungkapkan pada Catatan atas Laporan Keuangan sebagai bagian dari pos kewajiban yang berkaitan.

Untuk sekuritas utang pemerintah yang diselesaikan sebelum jatuh tempo karena adanya fitur untuk ditarik oleh penerbit (call feature) dari sekuritas tersebut atau karena memenuhi persyaratan untuk penyelesaian oleh permintaan pemegangnya maka selisih antara harga perolehan kembali dan nilai tercatat netonya harus disajikan pada Laporan Operasional dan diungkapkan pada Catatan atas Laporan Keuangan sebagai bagian dari pos kewajiban yang berkaitan.

Apabila harga perolehan kembali adalah sama dengan

Apabila harga perolehan kembali adalah sama dengan nilai tercatat

17

KETERANGAN NO

CASH TOWARD ACCRUAL nilai tercatat (carrying value) maka penyelesaian kewajiban sebelum jatuh tempo dianggap sebagai penyelesaian utang secara normal, yaitu dengan menyesuaikan jumlah kewajiban dan ekuitas dana yang berhubungan. Apabila harga perolehan kembali tidak sama dengan nilai tercatat (carrying value) maka, selain penyesuaian jumlah kewajiban dan ekuitas dana yang terkait, jumlah perbedaan yang ada juga diungkapkan pada Catatan atas Laporan Keuangan

ACCRUAL (carrying value) maka penyelesaian kewajiban sebelum jatuh tempo dianggap sebagai penyelesaian utang secara normal, yaitu dengan menyesuaikan jumlah kewajiban dan aset yang berhubungan.

Restrukturisasi Utang

Apabila harga perolehan kembali tidak sama dengan nilai tercatat (carrying value) maka, selain penyesuaian jumlah kewajiban dan aset yang terkait, jumlah perbedaan yang ada juga disajikan dalam Laporan Operasional pada pos Surplus/Defisit dari Kegiatan Non Operasional dan diungkapkan pada Catatan atas Laporan Keuangan Penjelasan mengenai bentuk Restrukturisasi dapat berupa: restrukturisasi terdapat di (a) Pembiayaan kembali yaitu mengganti bagian definisi utang lama termasuk tunggakan dengan utang baru; atau (b) Penjadwalan ulang atau modifikasi persyaratan utang yaitu mengubah persyaratan dan kondisi kontrak perjanjian yang ada. Biaya-biaya yang berhubungan dengan utang pemerintah adalah biaya bunga dan biaya lainnya yang timbul dalam kaitan dengan peminjaman dana. (a) Biaya-biaya dimaksud meliputi: Bunga atas penggunaan (b) dana pinjaman, baik pinjaman jangka pendek (c) maupun jangka panjang; Amortisasi diskonto atau (d) premium yang terkait dengan pinjaman, Amortisasi biaya yang terkait dengan perolehan (e) pinjaman seperti biaya konsultan, ahli hukum, commitment fee, dan sebagainya . Perbedaan nilai tukar pada pinjaman dengan mata uang asing sejauh hal tersebut Biaya-biaya yang berhubungan dengan utang pemerintah adalah biaya bunga dan biaya lainnya yang timbul dalam kaitan dengan peminjaman dana. Biaya-biaya dimaksud meliputi: Bunga dan provisi atas penggunaan dana pinjaman, baik pinjaman jangka pendek maupun jangka panjang; Commitment fee atas dana pinjaman yang belum ditarik, Amortisasi diskonto atau premium yang terkait dengan pinjaman, Amortisasi kapitalisasi biaya yang terkait dengan perolehan pinjaman seperti biaya konsultan, ahli hukum, dan sebagainya Perbedaan nilai tukar pada pinjaman dengan mata uang asing sejauh hal tersebut diperlakukan sebagai penyesuaian atas biaya bunga.

Biaya-biaya yang berhubungan dengan Utang Pemerintah

(a)

(b)

(c)

(d)

18

KETERANGAN NO

CASH TOWARD ACCRUAL diperlakukan sebagai penyesuaian atas biaya bunga.

ACCRUAL

Koreksi Kesalahan Tidak berulang Terjadi pada periode berjalan Mempengaruhi maupun tidak mempengaruhi posisi kas Koreksi Kesalahan Tidak berulang Terjadi pada periodeperiode sebelumnya Mempengaruhi posisi kas Laporan keuangan periode tersebut belum terbit Koreksi Kesalahan Atas Belanja Tidak berulang Terjadi pada periode sebelumnya Mempengaruhi posisi kas (menambah/menguran g saldo kas) Laporan keuangan sudah terbit Koreksi Kesalahan Atas Perolehan Aset Selain Kas Tidak berulang Terjadi pada periode sebelumnya Mempengaruhi posisi kas (menambah/mengura ng posisi kas) Laporan keuangan periode tersebut sudah terbit. Koreksi Kesalahan Atas Beban Tidak berulang Terjadi pada periode sebelumnya Mempengaruhi posisi kas dan tidak

KOREKSI KESALAHAN Pembetulan pada akun yang Pembetulan pada akun yang bersangkutan dalam periode bersangkutan dalam periode berjalan berjalan baik akun pendapatan-LRA atau akun belanja maupun akun pendapatan-LO atau akun beban

Pembetulan pada akun pendapatan atau akun belanja periode yang bersangkutan

Pembetulan pada akun pendapatanLRA atau akun belanja maupun akun pendapatan-LO atau akun beban periode yang bersangkutan

Pembetulan pada akun pendapatan lain-lain

Menambah posisi kas : Pembetulan pada akun pendapatan lain-lain-LRA Mengurangi Kas : pembetulan pada akun Saldo Anggaran Lebih

Belum diatur

Pembetulan pada akun kas dan akun aset yang bersangkutan

Belum diatur

Pengurangan Beban : Pembetulan pada akun pendapatan lain-lain-LO Penambahan Beban : pembetulan pada akun Ekuitas

19

KETERANGAN NO mempengaruhi posisi aset selain kas Laporan keuangan periode tersebut sudah terbit Koreksi Kesalahan Atas Pendapatan- LRA Tidak berulang Terjadi pada periode sebelumnya Mempengaruhi posisi kas (menambah/mengurang saldo kas) Laporan keuangan sudah terbit. Koreksi Kesalahan Atas Penerimaan Pendapatan - LO Tidak berulang Terjadi pada periode sebelumnya Mempengaruhi posisi kas (menambah/menguran g saldo kas) Laporan keuangan sudah terbit. Koreksi Kesalahan Atas Penerimaan & Pengeluaran Pembiayaan Tidak berulang Terjadi pada periode sebelumnya Mempengaruhi posisi kas (menambah/menguran g saldo kas) Laporan keuangan sudah terbit. Koreksi Kesalahan Atas Pencatatan Kewajiban Koreksi Kesalahan Tidak berulang Terjadi pada periodeperiode sebelumnya Tidak mempengaruhi posisi kas Sebelum maupun setelah laporan keuangan terbit

CASH TOWARD ACCRUAL

ACCRUAL

Pembetulan pada akun Ekuitas Dana Lancar Dalam PP 24 tidak dibedakan penerimaan pendapatan-LRA dan pendapatan-LO

Pembetulan pada akun kas dan akun Saldo Anggaran Lebih

Pembetulan pada akun Ekuitas Dana Lancar

Pembetulan pada akun Kas dan akun Ekuitas

Dalam PP 24 tidak dibedakan penerimaan pendapatan-LRA dan pendapatan-LO

Belum diatur

Pembetulan pada akun kas dan akun Saldo Anggaran Lebih

9 10

Belum diatur Pembetulan pada akun-akun neraca terkait pada periode kesalahan ditemukan

Pembetulan pada akun kas dan kewajiban yang bersangkutan Pembetulan pada akun-akun neraca terkait pada periode kesalahan ditemukan

20

BAB III IMPLEMENTASI SAP BERBASIS AKRUAL

a. Tantangan Akuntansi Berbasis Akrual Keberhasilan perubahan akuntansi pemerintahan sehingga dapat menghasilkan laporan keuangan yang lebih transparan dan lebih akuntabel memerlukan upaya dan kerja sama dari berbagai pihak. Jika penerapan akuntansi berbasis kas menuju akrual saja masih banyak menghadapi hambatan, lebih-lebih lagi jika pemerintah akan menerapkan akuntansi berbasis akrual. Beberapa tantangan dalam implementasi akuntansi pemerintahan berbasis akrual adalah: 1. Sistem Akuntansi dan IT Based System Melihat kompleksitas implementasi akuntansi berbasis akrual, dapat dipastikan bahwa penerapan akuntansi berbasis akrual di lingkungan pemerintahan

memerlukan sistem akuntansi dan IT based system yang lebih rumit. 2. Implementasi Sistem Pengendalian Intern Pembangunan dan implementasi sistem pengendalian intern yang efektif diperlukan untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Hal tersebut telah diamanatkan oleh Undang-Undang No 1 tahun 2004 yang menyatakan Dalam rangka meningkatkan kinerja, transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara, Presiden selaku Kepala Pemerintah mengatur dan menyelenggarakan Sistem Pengendalian Intern di lingkungan pemerintah secara menyeluruh. SPI ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Untuk melaksanakan hal tersebut Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengedalian Intern Pemerintah (SPIP). Untuk itu diperlukan sosialisasi dan upaya implementasi yang melibatkan seluruh tingkatan dalam instansi pemerintah agar SPIP tersebut dapat menjadi bagian yang menyatu dengan operasional pada seluruh unit kerja pemerintahan.

21

3. Komitmen dari pimpinan Dukungan yang kuat dari pimpinan merupakan kunci keberhasilan dari suatu perubahan. Salah satu penyebab kelemahan penyusunan Laporan Keuangan pada beberapa Kementerian/Lembaga adalah lemahnya komitmen pimpinan satuan kerja khususnya SKPD penerima dana Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan. 4. Tersedianya SDM yang kompeten Laporan keuangan diwajibkan untuk disusun secara tertib dan disampaikan masingmasing oleh pemerintah pusat dan daerah kepada BPK selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Selanjutnya, selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir, laporan keuangan yang telah diperiksa oleh BPK tadi diserahkan oleh Pemerintah Pusat kepada DPR dan oleh Pemerintah Daerah kepada DPRD. Penyiapan dan penyusunan laporan keuangan tersebut memerlukan SDM yang menguasai akuntansi pemerintahan. Pada saat ini kebutuhan tersebut sangat terasa, apalagi menjelang penerapan akuntansi pemerintahan berbasis akrual. Untuk itu, pemerintah pusat dan daerah perlu secara serius menyusun perencanaan SDM di bidang akuntansi

pemerintahan. Termasuk di dalamnya memberikan sistem insentif dan remunerasi yang memadai untuk mencegah timbulnya praktik KKN oleh SDM yang terkait dengan akuntansi pemerintahan. Di samping itu, peran dari perguruan tinggi dan organisasi profesi tidak kalah pentingnya untuk memenuhi kebutuhan akan SDM yang kompeten di bidang akuntansi pemerintahan. 5. Resistensi terhadap perubahan Sebagaimana layaknya untuk setiap perubahan, bisa jadi ada pihak internal yang sudah terbiasa dengan sistem yang lama dan enggan untuk mengikuti perubahan. Untuk itu, perlu disusun berbagai kebijakan dan dilakukan berbagai sosialisasi sehingga penerapan akuntansi pemerintahan berbasis akrual dapat berjalan dengan baik.

22

b. Langkah Penerapan Basis Akrual Terdapat beberapa langkah yang harus diperhatikan dan dilaksanakan dalam rangka mengimplementasikan Standar Akuntansi Pemerintahan Basis Akrual, di antaranya: Kehati-hatian menerapkan basis akrual Terdapat dua model utama dalam menerapkan akrual basis yakni model big bang dan model bertahap. Pendekatan model big bang seperti yang telah dicontohkan oleh negara Selandia Baru untuk seluruh unit pemerintahan -dilakukan dalam jangka waktu yang sangat singkat. Keuntungan pendekatan ini adalah mendukung terjadinya perubahan budaya organisasi, cepat mencapai tujuan, dan dapat menghindari risiko kepentingan, meskipun mengandung kelemahan, seperti beban kerja menjadi tinggi, tidak ada waktu untuk menyelesaikan masalah yang mungkin timbul, dan komitmen politik yang mungkin bisa berubah. Kesuksesan penerapan di Selandia Baru karena tiga faktor yang mendukung yakni adanya krisis fiskal, dukungan dari para politisi dan adanya reformasi birokrasi yang memberikan fleksibiltas kepada SDM. Alternatif lain yakni pendekatan bertahap, seperti yang dicontohkan oleh pemerintah federal Amerika Serikat. Keuntungan pendekatan ini adalah dapat diketahuinya permasalahan yang mungkin timbul dan cara penyelesaiannya selama masa transisi, basis kas masih dapat dilakukan secara paralel untuk mengurangi resiko kegagalan. Sedangkan kelemahannya adalah akan membutuhkan banyak sumberdaya manusia karena menerapkan dua basis secara paralel, perubahan budaya organisasi tidak terjadi, dan hilangnya momentum penerapan akrual basis. Komitmen politik merupakan kunci penting Komitmen politik dalam penerapan basis akrual menjadi sangat esensial, sehingga komitmen politik ini diperlukan untuk menghilangkan adanya kepentingan yang tidak sejalan. Adanya komitmen politik yang kuat dari pengambil keputusan baik eksekutif maupun legislatif akan menentukan keberhasilan implementasi SAP basis akrual. Komitmen tersebut terwujud dalam bentuk peraturan perundangan, kebijakan dan dukungan anggaran yang menunjang implementasi SAP basis akrual tersebut.

23

Tujuan akrual harus dikomunikasikan Hasil dan manfaat yang ingin dicapai dengan penerapan basis akrual harus secara intens dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang bersangkutan melalui proses sosialisasi yang dapat menumbuhkan pemahaman dan kesadaran pihak-pihak terkait sehingga menimbulkan dukungan dalam implementasinya. Perlunya tenaga akuntan yang andal. Tenaga akuntan yang profesional akan sangat diperlukan untuk rekruitmen dan pelatihan yang cukup. Kekurangan tenaga akuntan akan menyebabkan penundaan penerapan akrual basis pada akuntansi pemerintah. Sistem informasi akuntansi harus memadai Informasi akuntansi berbasis kas merupakan titik penting dalam pergantian basis ke akrual. Jika suatu negara belum memiliki sistem akuntansi berbasis kas yang dapat diandalkan, maka negara tersebut terlebih dahulu berkonsentrasi pada peningkatan sistem dan proses yang telah ada, sebelum mempertimbangkan perpindahan ke akuntansi akrual Badan audit tertinggi harus memiliki sumberdaya yang tepat Badan Audit (di Indonesia BPK) memegang kunci yang sangat penting dalam penerapan basis akrual. BPK sudah mulai berperan dalam proses penyusunan standard dan nantinya menjadi pihak yang akan menilai implementasi SAP basis akrual tersebut yang tercermin pada laporan keuangan yang disajikan oleh Pemerintah. Penerapan basis akrual harus merupakan bagian dari reformasi birokrasi Penerapan basis akrual tidak boleh hanya dilihat sebagai masalah teknik akuntansi saja, tetapi penerapan ini membutuhkan perubahan budaya organisasi dan harus merupakan bagian dari reformasi birokrasi secara menyeluruh. Informasi yang dihasilkan dengan basis akrual akan menjadi berharga dan sukses apabila

informasi yang dihasilkan digunakan untuk dasar membuat kebijakan publik yang semakin baik. Perubahan ini tidak secara otomatis terjadi, tapi perlu secara aktif dipromosikan secara kontinyu.

24

BAB IV SIMPULAN

Implementasi Standar Akuntansi Pemerintahan berbasis Akrual merupakan pelaksanaan amanat Undang Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Namun mengingat kesiapan berbagai perangkat yang ada pada unit kerja di seluruh tingkatan pemerintahan, maka pelaksanaannya dilakukan secara bertahap yaitu dengan penerapan SAP berbasis Kas Menuju Akrual berdasarkan PP Nomor 24 Tahun 2005 dan selanjutnya akan dilaksanakan SAP berbasi Akrual secara penuh sesuai PP Nomor 71 Tahun 2010 mulai tahun 2015. Apabila diperbandingkan antara SAP Kas menuju Akrual (PP Nomor 24 Tahun 2005) dengan SAP Akrual (PP Nomor 71 Tahun 2010) terdapat beberapa perbedaan. Perbedaan yang paling memerlukan perhatian adalah pada jenis/komponen laporan keuangan, khususnya mengenai Laporan Operasional. Entitas pemerintah melaporkan secara transparan besarnya sumber daya ekonomi yang didapatkan, dan besarnya beban yang ditanggung untuk menjalankan kegiatan pemerintahan. Surplus/defisit operasional merupakan penambah atau pengurang ekuitas/kekayaan bersih entitas pemerintahan bersangkutan. Dalam mengimplementasikan SAP Akrual terdapat beberapa tantangan yang memerlukan perhatian bagi seluruh pihak yang terkait agar implemntasinya dapat berjalan dengan baik dan dapat mencapai tujuan serta manfaat yang diharapkan. Diperlukan langkah-langkah yang penuh dengan kehati-hatian disertai dengan komitmen politik yang tinggi dari pengambil kebijakan dan persiapan yang matang agar proses perubahan tersebut dapat berjalan sesuai dengan harapan untuk mewujudkan pengelolaan keuangan Negara yang akuntabel.

25