6364

6]6~

Sifat Antirayap Resin Damar Mata Kucing dari Shorea javanica K. et V. Antitermic Properlies of Resin from Shorea javanica K. et V.
Rita Kartika Sari, Wasrin Syafii, Kurnia Sofyan dan Muhammad Hanafi
Abstract This study was undertaken primarily to isolate and identify substances from resin of Shorea javanica K. et. V. that might be responsible to inhibit the termite activity of Coptotennes curvignathus Holmgren. Approximately 500 gram of dried-resin was extracted with acetone solvent. The acetone extract was then fractionated into n-hexane, diethyf ether, ethyl acetate, and insoluble fraction (residue). The no-choice bioassay test was carried-out by treating paper discs with extracts at the concentration of 2.0%,4.0%,6.0%, 8.0%, 10.0%, 12.0% (WIW), and 0.0 % as control. The bioassay test showed that n-hexane and diethyl ether soluble fraction exhibited highest antitermic properties at Lethal Concentration (LC)so value of 1.62% and continuation fraction showed N3 of n-hexane fraction an EE1 of diethyl ether fraction exhibited highest toxicity at LCw value of 1.23 % and 1.65%. Further investigation of the n-hexane soluble fraction by using CC, GC-MS, FTIR, UV-Vis, and NMR led to the isolation and identification of the main compound, namely friedelin, while the diethyl ether soluble fraction contains vulgarol 8; 3,4-Secodamar-4(28)-en-3-0ic acid; (7R,1 OS)-2,6,1 0-Trimethyl-7, 1O-epoxy-2,11-dodecadien; and .junipene (decahydro-4,8,8-trimethyl-1,4methanoazulene) Key words: resin of Shorea javanica K. et. V, antitermic properties, chemical cQfTlpoundsjdenlifi.cati9.n.~ Pendahuluan Dimasa depan diperkirakan suplai kayu akan didominasi oleh jenls-jenis kayu yang berasal darl Hutan Tanaman Industri (HTI). Seperti telah diketahui bahwa kayu dari HTI dan hutan rakyat yang berdaur pendek umumnya mempunyai keawetan alami rendah (Abdurrohim 2000). Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan umur pakai kayu terse but adalah melalui pengawetan kayu. Namun demikian pada saal ini bahan pengawet yang digunakan pada umumnya berupa bahan kimia hasil sintesls yang berpotensi sebagai pence mar lingkungan karena selain bersifat tidak terurai di alam (non-biodegradable) juga bukan merupakan sumberdaya alam yang dapat diperbaharui (non renewable resources). Oleh karena itu perlu diupayakan untuk mengembangkan bahan pengawet alternatif yang ramah lingkungan. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan cara mengembangkan pemanfaatan sumberdaya alam hayati yang memiliki aktifitas insektisida sebagai bahan baku pengawet kayu. Salah satu sumberdaya alarn hayati yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengawet alami adalah resin damar mata kucing yang diperoleh sebagai eksudat dari pohon S. javanica K. et V. Resin ini dapat dikembangkan sebagai bahan baku pengawet alami, karena diduga memiliki aktivitas insektisida yang efektif. Dugaan tersebut didasarkan pada fenomena yang terjadi dl alam bahwa ketika penon tersebut terluka maka akan mengalir resin yang bersifat antiseptik yang melindungi pohon dari serangan harna atau penyakit (Harborne 1996). Hal ini dipertegas oleh beberapa hasil penelltian yang membuktikan bahwa resin yang berasal
c.

dari tumbuhan famili Dipterocarpaceae menunjukkan aktivitas antirayap yang tinggi. Resin dari Dipterocarpus kerii, D. retusus, D. intricatus, D. haseftii dan D. grandifforius diketahui mengandung senyawa bioaktif yang bersifal antirayap Neutermes spp. dan anti-jamur Cladosporium cucumerinum seperti humelene, caryophyllene, caryophylene oxide, a-gu~unene, alloaromadendrene dan calarene (Messer et al. 1990 dan Richardson et al. 1989). Setiawati at al. (2001) juga melaporkan bahwa ekstrak kloroform dan ekstrak petroleum eler dari damar mata kudng memiliki sifat antirayap yang cukup tinggi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sifal-sifat antirayap dari ekstrak resin damar mata kucing terhadap rayap tanah Coptotennes cUfYignathus Holmgren. Disamping itu bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi senyawa bioakHf yang terdapat dalam ekstrak tersebut yang diduga berperan terhadap aktivitas anti~ayap. Bahan dan Metoda Ekstraksi dan Frakslnasl Bertingkat ResIn S. Javanica K.et.V Sebanyak 500 gram resin hasil sadapan diekstraksi dengan 3 x 1 liter aseton, masing-masing selama 24 jam pada suhu kamar, kemudian disaring. Ekstrak asetan yang diperoleh selanjutnya difraksinasi secara bertingkat ke dalam fraksi n-heksana, dietil eter, elil asetat, dan fraksi tak terlaru! (residu). Larutan hasil fraksinasi bertingkat diuapkan pelarutnya menggunakan evaporator pada suhu 3D -- 400C kemudian dikeringkan pada suhu 40 -- 600C lalu ditimbang untuk memperoleh rendemennya.

8

J.llmu & Teknologi Kayu Tropis Vol. 2- No.1- 2004

ei V_ (Rita Kartika Sari. FT-IR. Wasrin Syafii. I Isolation of single compound Identification by UV.et. 2000) AnUiermjc Properties of Resin from Shorea javanica K. 3 x 50 mit evaporation Diethyl ether soluble fraction * I I I Insoluble fraction ethyl acetate 3 x 50 ml. Kumia Sofyan dan Muhammad Hanafi) 9 . Extraction and fractionation of resin S. V * Anti-termite bio-assay test (Ohmura et al.. evaporation Acetone Acetone extract * n-hexane: methanol-water (1:1) 100 mit evaporation .Resin of S.. javanica K. evaporation I Ethyl acetate soluble fraction I Active fraction * * I Further fractionation 1* 2* 3* 4* . I _T n-hexane soluble fraction *1 t I Residue I I Residue diethyl ether. GC-MS and_~_MR Figure 1. javanica ~ 500 9 3 x 1 litre.

Semua fraksi yang diuji menunjukkan kecenderungan yang sama. No.48 6. Kemudian hasil mortalitas diregresikan untuk mendapatkan LCso (Lethal Concentration 50).13%). dimana senyawa-senyawa lersebut dilaporkan memiliki toksisitas yang cukup linggi terhadap rayap Neotermes sp.dan fraksi residu (LCso := 12. FT-IR. namun aseton lebih aman bagi kesehatan dibandingkan ketiga pelarut di atas. Sifat Antirayap Nilai Mortalitas Rayap: Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak aselon resin S . cUNignathus Holmgren sehat dan aktlf (45 ekor rayap pekerja dan 5 ekor rayap prajurit). Meskipun tidak seperti pelarut kloroform.09 62. 8%. Mortalitas rayap dalam perlakuan dikoreksi dengan mortalitas kontrol dan aktifitas setiap contoh uji dinilai semakin besar mortalitas maka akUfitas antirayap semakin tinggi. javanica sebagian besar mengandung senyawasenyawa yang cenderung bersifat non polar.62%).st. Sebera! lebih kurang 0.62%) dan fraksl n-heksana (LCso 1. javanica dan S.34%.13 10 J.27%). Selain itu aseton jug'a dapat melarutkan senyawa-senyawa terpena (Harborne 1996). V Hasil ekstraksi menunjukan bahwa dari 500 gram resin diperoleh ekstrak aseton sebanyak 299. Fraksi yang memiliki sifat antirayap terbesar adalah fraksi dietileter (LCso = 1. Ilmu & Teknologi Kayu Tropis Vol. 1990). yaitu konsentrasi zat ekstraktit yang dapat mematikan 50% rayap.75 28. sedangkan yang terlarut dalam fraksi dietil eter dan fraksi etil asetat hanya masinq-rnaslnq hanya sekitar 13. The acetone extraction yields and their fractionation of resin S. dimana aseton memiliki tokslsltas yang lebih rendah (1000 ppm) dibandingkan pelarut benzena (8 ppm).72 40. 2000). benzena.59 Percentage based on acetone extract (%) 70.58 100. Fractionation yield n-heksana soluble fraction Diethyl-ether soluble fraction Ethyl-acetate soluble fraction Insoluble fraction Acetone extract Weight (gram) 210. Seluruh kertas uji yang mengandung aseton dikeringkan pada suhu kamar selama 1 hari. Hasil fraksinasi menunjukkan bahwa ekstrak aseton resin S.60 9. Setelah pelarutnya menguap. Prosedur ekstraksi. fraksi etil asetat (LCso 8. Hal ini dapat dilihat bahwa sebagian besar dari senyawa yang terdapat dalarn ekstrak aseton terlarut dalam fraksl nheksana yai!u seki!ar 70.34 13. leprosufa dalam pelarut petroleum eter dan kloroform memiliki sifat antirayap yang tinggi. 2004 . 41 berdiameter 25 mm ditambahkan ekstrak uji yang telah dilarutkan dalam aseton dengan konsentrasi 0% (kontrol). Javanica K.javanica dan keempat fraksinya memberikan nilai mortalitas yang beragam. 2.89 4. Hasll dan Pembahasan Hasil Ekstraksi dan Fraksinasi Resin S. 10% dan 12% (w/w). Antifeedant rayap dalam perlakuan juga dikoreksi dengan antifeedant kontrol dan aktifitas dinilai semakin tinggi antireedant maka aktifitas antirayap semakin tinggi (Ohmura et al. traksinasi serta lsolasi dan indentifikasi komponen bioaktif dari traksi leraklif secara skematis ditunjukkan pada Gambar 1. diikuti ekstrak aseton (LCso = 5. dan toluena yang dapat melarutkan resin dengan sempurna.40 19. kertas uji dimasukkan ke dalam botol uji bersama 50 ekor rayap C. yaitu semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang ditambahkan ke dalam contoh uji menghasilkan nilai mortalitas rayap yang semakin besar (Gambar 2).59 gram (62. 4%.00 Percentage based on resinl%) 43. 2%.5 gram kertas uji Whalman No. khususnya fraksi n-heksana dan fraksi dietil eter diduga mengandung senyawa bioaktif yang bersifat racun = = Table 1.70 8.20%). Setiawali et al. Oleh karena itu. Senyawa lunggal yang diperoleh diidentifikasi melalui spektrofotometri UV. javanica . 2000) Isolasi dan Identifikasi Komponen Bioaktif Fraksi yang lelah diketahui mempunyai sitat anlirayap tertinggi selanjutnya difraksinasi dengan kromatografi kolorn dengan silika gel sebagai fasa dlam.Pengujian Sifat Antirayap Pengujian sita! anlirayap ekstrak aseton dan hasil fraksinasinya (eks!rak uji) dilakukan dengan menggunakan uji no-choice bio-assay (Ohmura et a1. 6%. GC-MS. (2001) melaporkan bahwa ekstrak resin dari S.72 299. Indikator yang digunakan untuk mengetahui sifat antirayap adalah nilai mortalltas dan nilai penghambalan aktifitas makan (antifeedant) yang dinilai pada akhir pengamatan. ekslraksi resin tersebut dengan aseton diharapkan dapat mengurangi kelarutan lilin dan lemak.45 5. dan NMR.1.06%). sehingga toksisltas ekstrak aseton meningkat. meskipun petroleum eter dan kloroforrn dapat melarutkan senyawa-senyawa yang tidak toksik seperti lemak dan liIi"!-(1~oughton 1998).60% dan 9. Untuk kontrol hanya menggunakan pelarut aseton. klorofonm (10 ppm) dan toluena (200 ppm) (Reichardt 1988). (Messer et al. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan semen tara bahwa semua fraksi yang diuji.48% (Tabel 1).

§ so- o ::2E t: o 2 4 6 8 10 12 Concentration (%) • As(Asetoo) 0 N-r{N-hEtsa'l) . Ada beberapa kemvngkinan mekanisme kematian rayap yang diakibatkan oleh senyawa bioaktif yang terdapat dalam zat ekstraktif. ekstrak aseton.. baik dengan menggunakan indikator nilai mortalitas rayap maupun nilai antifeedant. proses ganti kulit rayap (Sastrodihardjo .. Analisis Lanjutan Fraksi Aktif Dar. corrected with con trol fin t~feedant Legend: see Fig. (Rita Kartika Sari.68x + 39.. el V.(Residu) Sifat Penghambat Aktifitas Makan (Antlfeedan~: Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak asetan resin S. Apabila protozoa mati maka aktifitas enzim selulase yang dikeluarkan protozoa tersebut terganggu. stilben.-0 --------- • • • 0 • ---- -- 0 o terhadap rayap. Kumia Sofyan dan Muhammad Hanafi) 11 . diketahui bahwa dan 5 fraksi yang diuji terdapat 2 fraksi yang mempunyai sifat antirayap tinggi yaitu fraksi n-heksana dan fraksi dietil eter. javanica and their fraction on antifeedant of subterran termite C. Senyawa bioaktif yang terkandung dalam kedua fraksi tersebut diduga memiliki peranan yang sang at besar dalam meningkatkan sifat antirayap ekstrak kasar aseton dalam mematikan rayap. Semua jenis ekstrak yang diuji menunjukkan pola yang sama. Dari hasil penelitian ini maka dapat dlslmpulka:n ~bailw(df(lk:.100 menghambat 1999). alkaloid dan resin... Sementara itv.. curvignathus Holmg.i pengujian sifat antirayap.a: '" 40 20 0 . Untuk mengetahui komponen-kcmponen aktif yang terdapat di dalam fraksi n-heksana dan fraksi dietil eter. quinon.I . EE{Dietil e!er) • Re.. Berdasarkan hasil identifikasi dengan TLC (Thin Layer Chromatography) terhadap hasH kolom kromatografi menunjukan bahwa dari fraksi n-heksana diperoleh 5 Antilermic Properties of Resin from Shorea javanica K. Fraksi dietil eter memiliki nilai penghambat aktilitas makan tertinggi. Effects of aceton extracts of resin S.l-. 2. diikuti fraksi n-heksana.o i. = ! ..57 yN·h = 6. hal ini dapat menyebabkan rayap tidak memperoleh makanan dan energi yang dibutuhkan sehingga rayap tersebut mati. Kemvngkinan pertama adalah senyawa bioaktif mematikan protozoa yang mervpakan simbion rayap dalam mendekomposisi selulosa di dalam perut rayap.?. 0 !i 0 • 8 • 10 (%) • 12 2 4 6 Concentration Figure 3.'j·~eksana dan fraksi dietil eter mempunyai sifat antirayap yang cukup tinggi dibandingkan fraksi lainnya . fraksi etl! asetat dan residu. Note: yAs = 7. Kemungkinan lain pengaruh zat ekstraktif terhadap kematian rayap dan serangga lainnya adalah sebagai penghambat sintesis protein khususnya dari kelompok tanin.52x + 39. senyawa aktif dari kultur jannqan Cupressus lusitanica mampu menghambat aktifitas enzim ATP·ase yang selanjvtnya dapat menyebabkan rayap tidak memperoleh energi yang dibutvhkan sehingga rayap tersebut mati. sedangkan kelompox terpenoid dapat merusak fungsi sel (integritas membran sel) rayap yang pada akhirnya --0--------------------.46 yEE = 6. javanica and their fraction on mortality of subterran termite C.96 yRes 3. Wasrin Syafii.41 x + 8.39 80 ~ -----------------------.21 yEA = 4. (1999) melaporkan bahwa ~·thujaplicin.. Effects of aceton extracts of resin S..79x + 10. curvignathus Holmg. Yamaguchi et al. maka terhadap kedua fraksi tersebut dHakukan fraksinasi lanjutan dengan menggunakan kolom kromatograli dan silika gel sebagai fasa diam serta campuran n-heksanaetil asetat sebagai rasa gerak dielusi secara gradient (kepolaran dinaikkan secara bertahap).34x + 9.. Selain itu senyawa-senyawa bioaktif tersebut dapat mervsak sistem syaraf rayap yang menyebabkan sistim syaraf tidak berfungsi dan pada akhirnya dapat mematikan rayap. javanica dan keempat fraksinya membefikan nilai penghambat aktifitas makan beragam. dimana semakin tinggi konsentrasi menghasilkan nilai penghambat aktifitas makan rayap yang semakin besar (Gambar 3). 0 A "E 60 -----------0----0--------- A AD. o EA{Ebl ase:at) 100 Figure 2.

cUNignathus Holmg. Data ini juga menunjukkan bahwa semua fraksi yang terkandung dl dalam damar memHikl sifat antirayap Isolasi dan Identifikasi Senyawa Aktif lsolasl dan identifikasi senyawa aktif dilakukan terhadap fra~sl-fi Jksi .99. Dari hasil pengujian yang telah dilakukan diketahui bahwa fraksl N3 yang berasal dari fraksi n-heksana dan fraksi .02x + 7. Sifat Penghambatan Aktifitas Makan (Antifeedant): Penghambatan aktifitas makan (antffeedanQ diindikasikan aleh adanya kehifangan berat kertas uji. EE2. N5. 2"No.gan nilal LCso berturut-lurut 2.16 yN3 = 14. EE3 dan terakhir N4 den. dan direkristafisasi dengan n-heksana : kloroform.fraksi lanjutan yaitu fraksi N1.46 yEE1 = 2. Note: yN1 = 9. 3. dan EE4.36 yEE3 = 9. sedangkan dari fraksi dietif eler diperoleh 4 fraksi Janjulan yaitu fraksl EE1. 100 +Nl o N2 dengan tingkat yang berbeda.~:f8.96 Hasil pengujian menunjukkan bahwa kesembilan fraksi memberikan nllai mortalltas yang beragam. dan N5. Fraksi N3 memiliki aktifilas antirayap tertinggi (LCso = 1. 1) yang berekar dan menandakan senyawa tersebut belum murni.ncmm~J. EE2. o o Concentration (%) 6 Figure 4. OJeh karena itu isolasi dan identifikasi senyawa aktif hanya dilakukan pada fraksi N3 dan fraksi EE1.85x + 11. 4. cUNignathus Holmgren.76 yEE4 = 13.75x + 28. diikuti fraksi EE1 pada ranking kedua (LCso = 1.21%. NiJai Rf biasanya berkisar antara 0. 4% dan 6%.43 yN2 =8. Table 2. dari fraksi N3 diperoleh senyawa utama berbentuk kristal berwarna bening sebanyak 50.56%. lsolasi senyawa aktif dilakukan dengan menggunakan kromatografi kolorn. Rf merupakan perbandingan jarak yang ditempuh suatu senyawa dengan jarak yang ditempuh pelarut dalam lempeng kromatografi lapis tipis (TLC).12% (Gambar 4).1" 2004 . Sifat Antirayap Fraksi Lanjutan Nilai Mortalitas Rayap: Pada pengujian sifa! antirayap ini konsentrasi yang digunakan adalah 2%.7Sx+17.75%.65%) dan selanjutnya aktifitas antirayap berkurang berturut-turut pada Fraksi EE4. 2 18 16 54 Note.3 mg dan mempunyai bercak tunggal dengan Rf 0. wfw) 4 6 Average N1 31 33 27 N2 21 36 24 N3 63 78 65 N4 0 0 15 5 N5 23 27 54 35 54 60 EE1 29 48 31 38 48 39 EE2 EE3 33 25 33 40 EE4 33 40 57 43 antJfeedant values have been corrected with . Penentuan konsen!rasi ini didasarkan pada hasll pengujian sifat anlirayap fraksi n-heksana dan fraksi dieW e!er yang menunjukkan bahwa pada konsenlrasi 6% ke atas menunjukan mortalitas 100% (Gam bar 2).40x + 15. 3.03 yNS = 10. Dari rekristalisasi tersebut dihasilkan senyawa murni DN3-1 12 J.01 ~ 1.83 yN4 = 7.00% dan 6. 4. N3.00x + 32. Effects of further fraction of n-hexane fracton and diethyl ether fraction on mortality of sublerran termite C./2(F(J .67 (eluen n-heksana : etil asetat = 8 . N2.32%. Fraction Consentration (%. Rf merupakan peubah untuk menentukan suatu senyawa dan merupakan ciri terpenling untuk membedakan senyawa-senyawa yang berbeda. N1. IImu & Tekn%gi Kayu Tropis Vol. Apabila kehilangan berat kertas uji kecil maka berarti penghambat aktifitas makannya tinggi. antifeedant control.EE1 dari fraksi dietil eter memiliki sifat antirayap yang sanga! kuat. N2.99 yEE2 = 1O. EE3.29%. Pemurnian senyawa DN3-1 dilakukan pencucian dengan menggunakan metanol. 3.56x + 18.S5x + 11. KesembiJan fraksi lanjutan tersebut bukan merupakan single compounds tetapi merupakan gabungan dari beberapa senyawa yang mempunyai Rf (Retention factor) berdekatan. NUai rata-rata persentase penghambat aktifitas rnakan rayap dapat dilihat pada Tabel 2. Senyawa utarna ini seJanjutnya disebut senyawa DN3·1. N4. Dengan metoda kromatografi kolom.23%). Effects of further fraction of n-hexans fraction and diethyl ether fraction on antifeedant of subterran termite C.t-3ntirayap tinggi.88x + 8.

772 . senyawa golongan triterpen juga dilaporkan memiliki aktivitas biologis. Berdasarkan data di alas diketahui bahwa telah terdapat sebuah ikatan rangkap.075 ppm (singlet). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa senyawa DN3-1 kemungkinan mempunyai jumlah ikatan rangkap/cincin sebanyak 6 buah. Wasrin Syafii. 0. Senyawa DN3-1 tersebut selanjutnya diidentifikasi dengan menggunakan berbagai spektrometer. Triterpen pentasikllk. sedangkan struktur molekulnya dapat dilihat pada Gambar 5. Berdasarkan data dad spektroskopi UV senyawa DN3-1 mengandung gugus keton atau aldehida lerkonjugasi (Pavia et al.212 ppm (singlet). 273. Hasil interpretasi spektroskopl IR senyawa DN3-1 diperkirakan mengandung gugus keton (Pavia et al. 1. maupun NMR senyawa DN3-1 memiliki struktur molekul yang _midp dengan senyawa friedelin yang telah diisolasi dan diidentifikasi oleh Agrawal dan JaIn (1992) karena friedelin merupakan senyawa triterpenoid yang memiliki 8 gugus metil (-CH3). dimana senyawa DN3-1 memiliki titik lebur 2630C 2650C mendekati titik lebur friedelin 2670C . dan 50 buah atom hidrogen.212 ppm sebagai proton dari gugus metif (-CH3) sebanyak delapan puneak yaitu pada 0. 179. identifikasi yang dilakukan terhadap fraksi EE1 adalah dengan membandingkan hasH analisls GC-MS dengan chemical library dalam data base WILEY 275 L.54 mg. 257.772 ppm (doublet). Kemiripan senyawa DN3-1 dengan friedenn ini dipertegas dengan hasH pengukuran titik lebumya. maka diperoleh 4 jenls senyawa utama. Berdasarkan perbandingan pola fragmentasi ion dan dala spektrum 13C NMR. rumus dan berat molekulnya yang terkandung dalarn fraksi EE1 damar. 218. 1996) karen a ·menunjukkan puncak absorbsi yang kuat pada bUangan gelombang 1716 crrr ' dan adanya puncak tambahan yang lernah pada bilangan gelombang 3460 crn-'. Kemilipan ini diperkuat dengan adanya data perbandingan (13C NMR) senyawa DN:3-1 dengan friedelin.Trimethyl-7. 1.929 ppm (singlet).2690C (Buckingham 1992).181 ppm (singlet) dan 1. 1990). dengan 5 buah cincin karbon.275). seperti terlihat pada Tabel 3. rnaka diduga bahwa senyawa DN3-1 adalah senyawa friedelin dengan struktur kimia seperti dapat dilihat pada Gambar 5. HasH analisis baik berdasarkan spektrum UV. Dengan menggunakan pola fragmentasi ion dar. 137. Antitermic Properties of Resin [rom Shorea javanica K. Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa sesquiterpen yang terdapat dalam resin tumbuhan famili Dipterocarpaceae memiliki aklifitas insektisida (Richardson et at. Berdasarkan interpretasi spektroskopi NMR senyawa DN3-1 termasuk ke dalam golongan Iriterpenoid (Pavia et sl. yaitu gugus karbonll. Oleh karena itu. 10.1. 1989. 1996) karena menunjukkan absorbsi maksimal pada panjang gelombang 277 nm dengan nilai absorbsi rendah (0. Sedangkan berdasarkan interpretasi GC-MS melalui penelusuran data base WILEY 275 L senyawa DN3-1 mempunyai pola fragmentasi yang mirip dengan senyawa friedelin (C30HsoO).Adanya kesamaan fragmentasi tersebut pada m/z 109. 10 -epoxy-2. Tabel 4 menunjukkan beberapa senyawa kimia. c-amlrin dan 13-amirin serta turunannya terbukti memiliki kemampuan menolak serangga dan mikroba (Das dan Mahotta 1993 dalarn Harborne 1996) o Friedelin Vulgarol Junipene {7R. eI V. Kumia Sofyan dan Muhammad Hanafi) 13 . 205. IR. 1. 341.025 ppm (singlet). 411) 424 dengan limpahan relatif 100% sarna-sama pada m/z 109.004 ppm (singlet). Sehingga jumlah cincin dapat ditentukan yaitu sebanyak 5 buah. GC-MS. 1. javanica resin (chemica/library WILEY 275 L and Agrawal and Jain 1992). Selain dari 9010ngan sesquiterpen. 1996) karena munculnya puncak-puncak pada pergeseran kirnla 0.11-dodeeadien Figure 5. Dengan demikian senyawa tersebut mempunyai rumus molekul C30HsoO dengan bobot molekul 426.6. Berdasarkan interpretasi speklroskopi 13 C NMR dapat diketahui bahwa senyawa DN3-1 mempunyai 30 buah atom karbon (satu dian tara merupakan gugus karbonU -C=O).1 OS)-2. dan mengandung sebuah gugus keton. Messer et al. Prediction of molecular structure of chemical compound in n-hexane and dielhyl ether fraction of S. (Rita Kartika Sari.sebanyak 17. Dari fraksi EE1 sulit diperoleh senyawa tunggal walaupun sudah dilakukan beberapa kali pemisahan/pemurnian. 246. 163. Hasil analisis GCMS menunjukan bahwa traksi EE1 mengandung sekitar 12 jenls senyawa kimia.961 ppm (single!). 0. masing-masing senyawa yang dibandingkan dengan pustaka. 302.

3.. Dictionary of Natural Product. Prosiding Diskusi Peningkatan Kualitas Kayu. 1992.Table 3. 2000. J.0 36. Ohara.3 37043 59046 35. 3704 59.58% termasuk traksi yang tidak larut (residu). Marel 2000. 3.1 31. Antifeedant Activity of Flavonoids and Related Compounds Againts the Subterranean Termite Coplotennes (onnosanus Shiraki. Vol 24 (1) : 55-56. 2000.23 6. 19. (Terjemahan) Houghton. 30.0 Agrawal and Jain (1992) Table 4. 1996.2 18. Progress in Nuclear Magnetic Resonance Spectroscopy. 6. Metode Fitokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan.1 OS)-2.1 28.et V mengandung JI2. A guide for Students 2. 18.76 32. 15. 3.6 17. 21.61 30AB 39.9 58. Agrawal.M. Dari' ekstrak aseton tersebut. dan 6.K.. 24.07 32. Chapman & Hall. 10Trimethyl-7.1. 20. London. Messer. S. C15H24 204 14 J. 13. Lampman. Note: *) source: Chemical shift_(ppm} Friedelin*) DN3-1 compound 22. Aoyama and S.2004 .14 32. Bogor.4Secodamar-4(28)-en-3-oic acid. 1990.L. London.78 35. Harborne. (7R. ITB Press. 8. Kriz.08 Keslmpulan Resin damar mata kucing hasf sadapan dari Shoree javanica K. D. 9. J. Ed. S.68 38. 1996. 13C-NMR Spectrum of . United States Agency for International Development. Oleanane and Triterpenoids. Introduction to Spectroscopy. 10epoxy-2. and D. Ohmura.9B 42. Doi. M. 7.6. J. J. Jlmu & Teknologj Kayu Tropis Vol.P.2 58. A. Program in Science and Technology Cooperation.6 30.1 53. 14. Chapman & Hall. 28.3 18.92 17.32 28. No.6 32.34% larut dalam n-heksana. sedangkan dari fraKsT -diem eter diperoleh 4 senyawa yang diduga masing-masing adalah vulgarol B.63 18.1 O-epoxy-2.2 39. Richardson.77 31. Manfaat Pengawetan Kayu Perumahan dan Gedung.3 35.00 30. 5. 1998. traksi yang memiliki sifat antirayap tertinggi adalah traksi n-heksana dan dietil eter.48% larut dalam etil asetat. Diantara traksi-fraksi tersebut. 11. Anti·insectan Compounds from he Tropical Tree Family Dipterocarpaceae.J.4-Secodamar4(28}-en-3-oic acid (7R. 27. Pusat Penelitian Hasf Hutan. Wood Sci (2000) 46 :149-153. 26. 16.60% larut dalam dietil eter. 4.10Trimethyl-7.3 41. 13. Daftar Pustaka Abdurrohim.. The chemical compounds of EE1 fraction No.27 41.23 20.5 42.1.8 35.8 42. Raman. Pavia.28 3204 32040 36.8trimethyl.2 18. 22.C. Chemical compound Vulgarol B. . Vol 1 . 17. Carbon number 1. 10.21 42. Meinwald and D.79 6. W. Ex.8 39.9 20.9 14. 23. The comparison of 13C NMR spectrum data of frledelln and DN3-1 compound 1. Buckingham.4Methanoazulene) Molecule Formulas ClsH240 C30Hso04 Moleculew eight 220 474 3. Jain.13% ekstrak yang larut dalam aseton.12 212.8. 11dodecadien. dan junipene.0 29. 1.5 39.00 35.22 53.10S)-2. P.7. 2. 1992. 2.5 35.1 41049 41. 2. 70. 29. AC.63 14. Dari fraksi n-heksana diperoleh senyawa tunggal yang identik dengan senyawa friedelin. Laboratory Handbook for the Fractionation of Natural extracts. Species Index. G. Type of Compound Index. 3. Cornell University. C1sH2602 238 4.7 38. P. 9. Final Report.6. 12. G.26 22. 25.B. S.11dodecadien Junipene (decahydro-4..

Meinwald. Kumia Sofyan dan Muhammad Hanafi) 15 :nt .. S. Wood Science. Faculty of Forestry. 621677.H. 1999. 1999. Sakai.of Organic Chemistry. Husaeni.(2) : 731-747. Hagedorn. 1988. Bogar Agricultural University) Kampus IPB Darmaga. Wasrin Syafii. USA. (Rita Kartika Sari. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. D. Richardson. Wasrin Syafii. Arah Pengembangan dan Strategi Penggunaan Pestisida Nabati. Messer. Germany. Solvents and Solvent Effects in Organic Chemistry. 9 . E. 621256 Muhammad Hanafi Pusat Penelitian Kimia . PO BOX 168. C. 2001. Vol 15. Fujita. Fax.Getah S. Penapisan SenyawaAntirayap dari. Saunders College Reichardt. Vol. Yamaguchi. Indonesian Institute of Sciences) Kawasan PUSPIPTEK Serpong 15310. H. Makalah pada Forum Komunikasi Ilmiah Pemanfaatan Diterima langgal14 Oktober 2003 Pestisida Nabati. and J. A. Publishing. Jurusan Teknologi Hasil Hutan. Dept. Defensive Sesquiterpen from a Dipterocarp (Dipterocarpus kerit) Journal of Chemical Ecology. T. javanica dan S. J. Sastrodihardjo. Antitermic Properties of Resin from Shorea javanica K. el V.. Setiawati. 0251-621285. of Forest Products Technology. 1989.. 45 (2) : 170-173. S.10 Nopember 1999. and K. K. leprosula. Bogor. PurwaUningsih.P. Rita Kartika Sari.C. Bogar 16001 Tel. Bogar. Kurnia Sofyan Laboratorium Kirnla Hasil Hulan. 0251-621285. Greenberg. T. SuleUn Kimia 1 : 101105.Lembaga IImu Pengelahuan Indonesia (LlPI) (Research Centre for Chemistry. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Sogor (Chemistry Laboratory. Biological Activity of Extracts from Cupressus lusitanica Cell Culture.A. VCH Verlags Weinheim.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful