Anda di halaman 1dari 14

Menagkap karbondioksida dengan alat bantu

ACHMAD NURYANTO 41611010009

Batuan Periodotit
Peridotit adalah batuan beku ultra basa Plutonik,

yang terjadi dari hasil pembekuan magma berkomposisi Ultra basa pada kedalaman tertentu dari permukaan bumi. merupakan Suatu batuan ultramafic yang memiliki butiran kasar dengan suatu tenunan crystallkine, merupakan karakteristik dari kerak samudra bagian bawah dan pembentukan jenis batuan dengan prinsip theupper mantel. Mineral penyusun Peridotite sebagian besar terdiri olivine dan pyroxene.

Kegunaan : sebagai batu setengah permata sebagai

bahan untuk perhiasan dan abrasif (ampelas). Pembentukan nikel dari hasil pelapukan peridotit. Peridote merupakan variasi permata olivine terbaik yang kita kenal

Penelitian tentang sebuah jenis batuan

yang banyak ditemukan di Oman menunjukkan bahwa batuan tersebut bisa digunakan untuk menyapu bersih milyaran ton karbon dioksida setiap tahun tanpa harus ditambang, menurut beberapa ilmuwan di Amerika Serikat .

Peter Keleman dan Jurg Matter, di

Columbia University, US, mengatakan bahwa batuan peridotit (yang sebagian besar tersusun atas mineral silikat olivin dan piroksen) bereaksi secara alami dengan CO2 dan membebaskannya dalam bentuk karbonat jauh lebih cepat dari yang diduga, berdasarkan kajian penarikhan (dating studies) 14C.

Dengan mempercepat reaksi ini dengan

panas dan dengan memaksa CO2 masuk ke dalam batuan melalui lubang-lubang yang telah dibor, para peneliti ini memperkirakan bahwa batuan perodotit Oman sendiri bisa menangkap milyaran ton CO2 dalam waktu setahun sebuah proporsi signifikan dari 30 milyar ton CO2 yang diemisikan setiap tahun di dunia oleh aktivitas manusia.

Periodotit juga ditemukan di pulau-pulau

Pasifik Papua Nugini dan Caledonia, serta di California.

Gambar periodotit :

Batuan peridotit di Oman bisa menangkap lebih dari

satu milyar ton karbon dioksida setahun

Ide penangkapan CO2 dalam bentuk karbonat di dalam batuan bukanlah hal yang

baru sama sekali. Tetapi penangkapan CO2 secara alami tidak berlangsung sangat cepat, dan kebanyakan skema yang ada memerlukan energi untuk menambang batuan dan menyebarkannya pada sebuah permukaan, atau membawanya ke sebuah pabrik pembangkit daya.

Salah satu pendekatan yang digunakan adalah

pemanasan pendahuluan peridotit dan menginjeksikan CO2 murni atau campuran cairan yang kaya CO2. Karena reaksi antara silikat dan CO2 untuk membentuk karbonat bersifat eksotermis, maka reaksi ini akan menjaga suhu batuan mendekati suhu optimum 200C, sehingga memaksimalkan laju reaksi. Tetapi CO2 harus dipompakan dengan cepat ke dalam batuan agar dapat mengimbangi laju reaksi yang meningkat.

Ini bisa menimbulkan masalah, karena

pemurnian CO2 dari gas cerobong pabrik sangat intensif energi, papar Mercedes Maroto-Valer, yang meneliti sekuestrasi karbon di Nottingham Universitys center untuk penangkapan dan penyimpanan karbon.

Meskipun pendekatan ini akan dibatasi

oleh suplai CO2 terlarut dengan jumlah sekitar 10.000 ton CO2 per km3 batuan, namun biayanya bisa jauh lebih rendah, karena air yang bersirkulasi akan berfungsi mentransport CO2.

Para peneliti ini sangat berhati-hati

dengan usulan tersebut. Model-model yang lebih rinci dan tes lapangan akan diperlukan untuk mengevaluasinya, kata mereka.

Wasalamualikum wr.wb