Anda di halaman 1dari 21

LABORATORIUM PENGANTAR TEKNIK KIMIA

MODUL 8b-9

PENGENALAN ANALISIS INSTRUMENTAL DAN TEGANGAN PERMUKAAN

Nama praktikan NRP praktikan Nama partner NRP partner Nama asisten Tanggal percobaan Tanggal pengumpulan Shift

: Hillman Wira Suhardji : 6210002 : Cornelius Steven : 6210082 : Lia : 3 Mei 2012 : 6 mei 2012 : Siang

LABORATORIUM PENGANTAR TEKNIK KIMIA JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN BANDUNG 2012

BAB I TUJUAN PERCOBAAN

1. Mempelajari analisis instrumental menggunakan viscometer, rheometer dan refraktometer 2. Memahami pinsip percobaan tegangan permukaan 3. Menentukan besar tegangan permukaan suatu larutan 4. Menentukan tegangan permukaan air dan larutan sabun

BAB II HASIL PERCOBAAN

1. Rheometer No 1 2 Bahan Pati 5 % Pati 7,5 % Viskositas (mPa.s) 453 2748 Tegangan Permukaan ( mN/m) 3,3763 3,3783

2. Tegangan Permukaan Ketinggian Cairan Dalam Pipa Kapiler (cm) Diamater = 1 mm Air IPA IPA (duplo) 0,1 1,3 1,3 Diamater 2 mm 0,2 0,5 0,6 Tegangan Permukaan (N/m) Diamater = 1 mm 0,00426 0,805072 0,805072 Diamater 2 mm 0.009273 2,183466 2,030952

Bahan

BAB III PEMBAHASAN

* Viskositas Viskositas merupakan ukuran kekentalan fluida yang menyatakan besar kecilnya gesekan di dalam fluida. Makin besar viskositas suatu fluida, maka makin sulit suatu fluida mengalir dan makin sulit suatu benda bergerak di dalam fluida tersebut. Di dalam zat cair, viskositas dihasilkan oleh gaya kohesi antara molekul zat cair. Sedangkan dalam gas, viskositas timbul sebagai akibat tumbukan antara molekul gas. Viskositas zat cair dapat ditentukan secara kuantitatif dengan besaran yang disebut koefisien viskositas. Satuan SI untuk koefisien viskositas adalah Ns/m2 atau pascal sekon (Pa s). Ketika kita berbicara viskositas, kita sebenarnya berbicara tentang fluida sejati. Fluida ideal tidak mempunyai koefisien viskositas. Apabila suatu benda bergerak dengan kelajuan v dalam suatu fluida kental yang koefisien viskositasnya, maka benda tersebut akan mengalami gaya gesekan fluida , dengan k adalah konstanta yang bergantung pada bentuk geometris benda. Nilai viskositas dipengaruhi oleh suhu, tekanan, kohesi dan laju perpindahan momentum molekularnya. Viskositas zat cair cenderung menurun dengan bertambahnya temperatur. Hal ini disebabkan oleh gaya-gaya kohesi antarmolekul dalam zat cair bila dipanaskan akan mengalami penurunan sehingga nilai viskositas akan menurun. Berbeda dengan viskositas zat cair, viskositas dalam gas dipengaruhi oleh gaya tumbukan antar molekul-molekul dalam gas. Viskositas gas akan meningkat dengan naiknya temperatur. Viskositas juga dipengaruhi oleh konsentrasi zat fluida, semakin besar konsentrasinya suatu bahan, maka nilai viskositasnya semakin besar. Struktur molekul suatu cairan juga mempengaruhi nilai viskositas. Untuk struktur molekul yang kecil dan sederhana, molekul tersebut dapat mengalir dengan cepat, contohnya air. Jika molekulnya besar dan kompleks, zat tersebut akan mengalir dengan lambat, contohnya oli. Adanya koloid juga dapat memperbesar nilai viskositas, sedangkan adanya elektrolit akan sedikit menurunkan viskositas cairan. Untuk mengukur viskositas suatu fluida, digunakan alat bernama viskometer. Terdapat beberapa viskometer yang umum digunakan, yaitu: 1. Viskometer Hoppler

Berdasarkan hukum Stokes pada kecepatan bola maksimum, terjadi keseimbangan sehingga gaya gesek = gaya berat gaya Archimides. Prinsip kerjanya adalah menggelindingkan bola ( yang terbuat dari kaca ) melalui tabung gelas yang hampir tikal berisi zat cair yang diselidiki. Kecepatan jatuhnya bola merupakan fungsi dari harga resiprok sampel. 2. Viskometer Cup dan Bob Prinsip kerjanya sample digeser dalam ruangan antara dinding luar dari bob dan dinding dalam dari cup dimana bob masuk persis ditengah-tengah. Kelemahan viscometer ini adalah terjadinya aliran sumbat yang disebabkan geseran yang tinggi disepanjang keliling bagian tube sehingga menyebabkan penueunan konsentrasi. Penurunan konsentrasi ini menyebabkab bagian tengah zat yang ditekan keluar memadat. Hal ini disebut dengan aliran sumbat. 3. Viskometer Cone dan Plate Cara pemakaiannya adalah sampel ditempatkan ditengah-tengah papan, kemudian dinaikkan hingga posisi dibawah kerucut. Kerucut digerakkan oleh motor dengan bermacam kecapatan dan sampelnya digeser didalam ruang sempit antara papan yang diam dan kemudian kerucut yang berputar (Moechtar,1990). 4. Viskometer Bola Jatuh (Falling Sphere) Hukum Stokes adalah dasar dari viskometer bola jatuh, di mana fluida stasioner dalam tabung gelas yang vertikal. Sebuah bola dengan ukuran yang dikenal dan kepadatan yang diperbolehkan turun melalui cairan. Jika benar dipilih, bola itu mencapai kecepatan terminal, yang dapat diukur dengan waktu yang dibutuhkan untuk melalui dua tanda pada tabung. Penginderaan elektronik dapat digunakan untuk cairan yang buram. Untuk mengetahui kecepatan terminal, ukuran dan kepadatan bola, dan densitas cairan, hukum Stokes dapat digunakan untuk menghitung viskositas fluida. Serangkaian bantalan bola baja dengan diameter yang berbeda biasanya digunakan dalam percobaan klasik untuk meningkatkan akurasi perhitungan. Percobaan lain menggunakan gliserin sebagai fluida, dan teknik ini digunakan industri untuk memeriksa viskositas cairan yang digunakan dalam proses. Ini mencakup berbagai minyak, dan cairan polimer sebagai solusi.

* Viscometer Viskometer adalah alat yang berfungsi untuk menyatakan berapa daya tahan dari aliran yang diberikan oleh suatu cairan. Kebanyakan viscometer mengukur kecepatan dari suatu cairan mengalir melalui pipa gelas (gelas kapiler), bila cairan itu mengalir cepat maka viskositas cairan itu rendah (misalnya cair) dan bila cairan itu mengalir lambat maka dikatakan viskositasnya tinggi (misalnya madu). Viskositas dapat diukur dengan mengukur laju aliran cairan yang melalui tabung berbentuk silinder. Ini merupakan salah satu cara yang paling mudah dan dapat digunakan baik untuk cairan maupun gas. Dalam praktikum kali ini digunakan viskotester (viscometer VT). Prinsip kerja dari viskometer VT-03E/VT-04E adalah menentukan berapa gaya yang diperlukan untuk memutar silinder konsentris pada kecepatan sudut tertentu yang didasarkan atas kemampuan berputarnya rotor dalam larutan sampel yang ditampilkan dalam nilai viskositas pada layar dengan membaca skala nilai yang sesuai dengan nomor rotor yang digunakan. Viskotester ini dirancang untuk mengukur viskositas yang mempunyai rentang yang sangat besar. Alat ini sangat berguna untuk mengukur senyawa senyawa yang ada di dunia industry seperti minyak, cat dan perekat. Prosedur kerja viscometer VT adalah pertama tama, menyiapkan larutan larutan yang akan diukur viskositasnya, dalam praktikum ini digunakan larutan gliserol, pati 2,5% , pati 5%, pati 7,5% dan larutan gula. Viskometer ditempatkan dalam statif, kemudian rotor dipasang di bagian bawah viscometer. Pemasangan rotor dilakukan dengan memutar rotor searah jarum jam sampai skala pada layar bergerak ke kanan. Sebelum pengukuran viskositas dimulai, harus dipastikan bahwa level gauge ( pengukur keseimbangan alat viscometer ) harus berada di tengah, yang artinya viscometer telah seimbang, untuk menghindari terjadinya error pada saat pengukuran. Kemudian larutan yang akan diukur viskositasnya ditempatkan di bawah viskotester, lalu alat tersebut diturunkan mendekati larutan ( di gelas kimia ) sampai tanda batas yang ada pada setiap rotor. Setelah itu, nyalakan viskotesternya dan diperoleh viskositasnya.

Pada pengukuran viskositas ini adakalanya viscometer tidak menunjukan angka kekentalan, hal ini terjadi karena penggunaan rotor yang kurang tepat. Viskotester ini mempunyai berbagai macam rotor yang dapat digunakan untuk pengukuran viskositas. Jenis jenis rotor itu adalah : 1. VT-03 15 mPa.s 300 mPa.s * Rotor nomor 4 : 1,5 mPa.s 33 mPa.s * Rotor nomor 5 : 15 mPa.s 150 mPa.s * Rotor nomor 3 : 50 mPa.s 100 mPa.s 2. VT-04 0,3 dPa.s 4000 dPa.s * Rotor nomor 3 : 0,3 dPa.s 13 dPa.s * Rotor nomor 1 : 3 dPa.s 150 dPa.s * Rotor nomor 2 : 100 dPa.s 4000 dPa.s

Pertama tama rotor yang kita gunakan untuk mengukur viskositas suatu larutan digunakan rotor nomor 5, bils skala tidak bergerak ( jarum tetap berada dalam posisinya ), berarti viskositas larutan tidak cocok dengan rentang viskositas ( terlalu encer ) yang dapat diukur dengan rotor tersebut, sehingga harus diganti dengan rotor lain sampai didapatkan nilai viskositasnya. Sedangkan jika jarum menunjukan harga maksimum berarti larutan tersebut terlalu pekat untuk rotor tersebut, sehingga harus diganti dengan rotor lainnya. Dari percobaan ini dapat bahwa :

1. Viskositas pati 5% = 2,3 dPa.s 2. Viskositas pati 7,5% = 10 dPa.s

Dari percobaan ini terdapat penyimpangan, dimana larutan yang encer harusnya mempunyai viskositas yang lebih kecil daripada larutan yang lebih pekat. Hal ini dapat terjadi karena ketidakhomogenan larutan, oleh karena itu sebelum dilakukan pengukuran harus dikocok lebih dahulu larutannya, kedua dapat disebabkan oleh pembacaan viskositas yang kurang tepat.

* Rheometer Rheometer merupakan alat yang digunakan untuk menentukan viskositas dan rheologi suatu larutan. Rheologi berasal dari bahasa Yunani yaitu rheo dan logos. Rheo berarti mengalir, dan logos berarti ilmu. Rheologi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan aliran cairan dan deformasi dari padatan. Rheologi mempelajari hubungan antara tekanan gesek (shearing stress) dengan kecepatan geser (shearing rate) pada cairan, atau hubungan antara strain dan stress pada benda padat. Rheologi berasal dari bahasa Yunani yaitu rheo dan logos. Rheo berarti mengalir, dan logos berarti ilmu. Rheologi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan aliran cairan dan deformasi dari padatan. Rheologi mempelajari hubungan antara tekanan gesek (shearing stress) dengan kecepatan geser (shearing rate) pada cairan, atau hubungan antara strain dan stress pada benda padat. Prinsip kerja rheometer adalah berdasarkan pengaruh gaya pengadukan. Rheometer mengukur tegangan geser dari cairan yang akan diukur viskositasnya. Cairan ditempatkan ke dalam suatu wadah dan spindle ( alat untuk mengaduk ) berputar pada kecepatan tertentu, hal tersebut menentukan tingkat kemampuan geser dalam wadah. Cairan cenderung menyeret putaran silinder, dan torsi putaran spindle dapat diukur, yang dapat dikonversi menjadi tegangan geser, kekuatan atau kemampuan berputarnya spindle dalam larutan sampel ditampilkan dalam viskositas pada layar rheometer. Cara penggunaan rheometer adalah pertama start up computer lalu rheometer dinyalakan dengna menekan tombol ON di bagian belakang alat. Setelah semua komponen siap untuk digunakan, tekan tombol 1 (yes) yaitu memilih pengukuran dengan menggunakan instrument computer, adapun pilihan lainnya (tombol 2) untuk pengukuran secara manual di alat rheometer

itu sendiri. Kemudian aktifkan program rheocalc, di sebelah kiri atas terdapat kolom spindle yang akan digunakan. Karena kita ingin menggunakan spindle nomor 2, maka plih rv 2. Sebelum spindle dipasang, alat harus dikalibrasi dahulu dengan meng-autozero kan alat. Selama proses zeroing, spindle tidak boleh dipasang. Setelah proses zeroing selesai, spindle yang akan digunakan dipasang dengan memutar spindle ke arah jarum jam pada tempat spindle diletakkan. Kemudian rheometer diturunkan sampai spindle tercelup dalam larutan hingga tanda batas. Selanjutnya tentukan kecepatan putar spindle dengan mengisikan angka pada table di kanan atas layar computer, biasanya digunakan 100-200 rpm. Setelah semua siap, klik tombol hijau (tanda start putaran spindle), tunggu hingga harga viskositas konstan, harga viskositas yang konstan itulah yang merupakan harga kekentalan larutan tersebut. Apabila viskositas telah didapat, klik tombol merah untuk memberhentikan putaran spindle, selanjutnya rheometer dinaikkan dan spindle dilepas dengan memutar berlawanan arah dengan jarum jam. Alat dibersihkan dengan menggunakan tissue agar tidak bergores. Selanjutnya untuk pengukuran viskositas larutan lainnya dilakukan dengan prosedur yang sama. Pemilihan spindle bergantung dari sifat kekentalan larutan tersebut, semakin encer larutannya, spindle yang digunakan adalah yang luas permukaannya semakin besar ( rv kecil ). Sebenarnya cara yang paling baik untuk menentukan spindle yang akan digunakan yaitu dengan mencoba satu per satu spindle yang ada. Spindel yang terbaik adalah spindle yang memberikan viskositas setengah dari viskositas maksimumnya. Dari hasil percobaan diperoleh viskositas : 1. Viskositas pati 5% = 453 cP 2. Viskositas pati 7,5% = 2748 cP

Dalam pengukuran viskositas larutan sampel, pengukuran menggunakan rheometer lebih teliti dibandingkan pengukuran menggunakan viscometer. Hal ini disebabkan pada rheometer, hasil pengukuran viskositas berupa angka pasti yang tertera pada monitor, sedangkan pada viscometer, hasil pengukuran viskositas dinyatakan dalam suatu nilai yang diestimasi dari banyak nilai sepanjang rentang tertentu yang kurang tepat angkanya. Nilai yang diestimasi tsb menghasilkan % error lebih besar dibandingkan dengan rheometer.

Jika hasil pengukuran dari rheometer dan viscometer dibandingkan, secara keseluruhan nilai yang dihasilkan berbeda. Hal ini dapat terjadi karena : -Pengukuran dengan viscometer yang kurang tepat -Terjadi kesalahan dalam penggunaan rheometer -Sumber energi dari viscometer adalah baterai, jika baterai tsb sudah lemah maka akan mempengaruhi hasil pengukuran -Larutan sampel yang digunakan tidak homogeny

* Refraktometer Refraktometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar/ konsentrasi bahan terlarut. Prinsip kerja dari refraktometer sesuai dengan namanya adalah memanfaatkan refraksi cahaya (pembiasan cahaya). Indeks bias adalah perbandingan kecepatan cahaya dalam udara

dengan kecepatan cahaya dalam zat tersebut. Indeks bias berfungsi untuk identifikasi zat kemurnian, suhu pengukuran dilakukan pada suhu ruangan dan suhu tersebut harus benar-benar diatur dan dipertahankan karena sangat mempengaruhi indeks bias. Faktor-faktor penting yang harus diperhitungkan pada semua pengukuran refraksi ialah temperatur cairan dan jarak gelombang cahaya yang dipergunakan untuk mengukur n. Pengaruh temperatur terhadap indeks bias gelas adalah sangat kecil, tetapi cukup besar terhadap cairan dan terhadap kebanyakan bahan plastik yang perlu diketahui indeksnya. Karena pada suhu tinggi kerapatan optik suatu zat itu berkurang, indeks biasnya akan berkurang. Perubahan per oC berkisar antara 5.10-5 sampai 5.10-4. Pengukuran yang seksama sampai desimal yang ke-4 hanya berarti apabila suhu diketahui dengan seksama pula. Refraktometer terdiri atas 3 bagian, yaitu sampel, prisma dan papan skala. Bila sampel merupakan larutan dengan konsentrasi rendah, maka sudut refraksi akan lebar dikarenkan perbedaan refraksi dari prisma ke sampel besar, maka pada papan skala sinar akan jatuh pada skala rendah. Bila sampel merupakan larutan pekat/konsentrasi tinggi, maka sudut refraksi akan kecil dan sinar akan jatuh pada skala besar. Cara kerja refraktometer adalah pertama, siapkan sampel yang akan dibuat, dalam percobaan ini menggunakan campuran etanol dan air pada berbagai volume etanol terlarut. Kemudian ambil sampel dengan pipet plastic, lalu disebarkan dalam permukaan kaca refraktometer sampai merata. Prisma kemudian ditutup, refraktometer dibalik dan diarahkan ke cahaya. Ketika dilihat akan tampak berbagai skala skala yang tampak, skala yang ada paling kanan merupakan skala untuk perkiraan indeks bias 1, sebelah nya untuk perkiraan indeks bias 2 dan begitu seterusnya. Dari percobaan didapat berbagai indeks bias : Etanol (ml) 10 8 6 4 2 0 Air (ml) 0 2 4 6 8 10 Indeks bias 1 1,337 1,34 1,339 1,335 1,333

Tujuan pengukuran refraktometer adalah sebenarnya untuk menentukan konsentrasi larutan, bukan indeks biasnya, oleh Karena itu perlu dibuat kurva standar terlebih dahulu ( indeks bias vs konsentrasi )

Etanol (ml) 10 8 6 4 2 0

Air (ml) 0 2 4 6 8 10

Indeks bias 1 1.337 1.34 1.339 1.335 1.333

Konsentrasi (% v/v)
100 80 60 40 20 0

Konsentrasi (% v/v)
1.5 y = -0.0024x + 1.3993

Indeks bias

1 0.5 0 0 50 100 150 Series1 Linear (Series1)

Konsentrasi (%v/v)

Dari kurva diatas dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi maka indeks bias akan makin naik, hal tersebut sesuai teori bahwa pada konsentrasi tinggi, maka sinar akan jatuh pada skala yang tinggi, sementara pada konsentrasi rendah maka, sinar jatuh pada skala yang kecil.

* Tegangan Permukaan Tegangan permukaan adalah suatu kemampuan atau kecenderungan zat cair menuju keadaan yang luas pemukaannya lebih kecil, seperti contoh yaitu permukaan datar, atau bulat seperti bola. Dengan sifat tersebut zat cair mampu untuk menahan benda-benda kecil di permukaannya. Seperti silet, berat dari silet menyebabkan permukaan zait cair sedikit melengkung kebawah dimana silet itu berada. Lengkungan itu memperluas permukaan zat cair

namun zat cair dengan tegangan permukaannya berusaha mempertahankan luas permukaannya sekecil mungkin. Tegangan permukaan merupakan fenomena menarik yang terjadi pada zat cair (fluida) yang berada dalam keadaan diam (statis). Pada percobaan untuk menentukan tegangan permukaan digunakan alat pipa kapiler. Metode pipa kapiler yaitu mengukur tegangan permukaan zat cair dan sudut kelengkungannya dengan menggunakan pipa berdiamater. Pipa dicelupakan ke dalam permukaan zat cair maka zat cair tersebut akan naik sampai ketinggian tertentu. Dalam percobaan ini digunakan air dan IPA sebagai sampelnya. Setelah dilakukan percobaan didapatkan nilai tegangan permukaan setiap cairan dalam berbagai diameter pipa kapiler yang bervariasi

Bahan Air IPA IPA (duplo)

Ketinggian Cairan Dalam Pipa Kapiler (cm) Diamater = 1 mm 0,1 1,3 1,3 Diamater 2 mm 0,2 0,5 0,6

Tegangan Permukaan (N/m) Diamater = 1 mm 0,00426 0,805072 0,805072 Diamater 2 mm 0.009273 2,183466 2,030952

Faktor yang Mempengaruhi Tegangan Permukaan adalah : 1. Suhu Tegangan permukaan menurun dengan meningkatnya suhu, karena meningkatnya energi kinetik molekul. 2. Zat terlarut (Solut) Keberadaan zat terlarut dalam suatu cairan akan mempengaruhi tegangan permukaan. Penambahan zat terlarut akan meningkatkan viskositas larutan, sehingga tegangan permukaan akan bertambah besar. Tetapi apabila zat yang berada dipermukaan caiaran membentuk lapisan monomolekular, maka akan menurunkan tegangan permukaan. Zat tersebut biasa disebut dengan surfaktan. 3. Surfaktan

Surfaktan (surface active agents), zat yang dapat mengaktifkan permukaan, karena cenderung untuk terkonsentrasi pada permukaan atau antar muka. Surfaktan mempunyai orientasi yang jelas sehingga cenderung pada rantai lurus. Sabun merupakan salah satu contoh dari surfaktan. 4. Konsentrasi zat terlarut Konsentrasi zat terlarut (solut) suatu larutan biner mempunyai pengaruh terhadap sifat-sifat larutan termasuk tegangan muka dan adsorbsi pada permukaan larutan. Telah diamati bahwa solut yang ditambahkan kedalam larutan akan menurunkan tegangan muka, karena mempunyai konsentrasi dipermukaan yang lebih besar daripada didalam larutan.Sebaliknya solut yang penambahannya kedalam larutan menaikkan tegangan muka mempunyai konsentrasi dipermukaan yang lebih kecil daripada didalam larutan.

BAB IV KESIMPULAN

1. Pada pengukuran dengan viscometer, rotor yang lebih kecil digunakan untuk mengukur viskositas larutan yang encer 2. Pada rheometer, spindle yang lebih kecil digunakan untuk mengukur viskositas larutan yang encer 3. Pada refraktometer, semakin besar konsentrasi larutan maka indeks biasnya semakin besar 4. Semakin besar diameter pipa kapiler maka, nilai tegangan permukaannya semakin besar 5. Nilai tegangan permukaan air pada diameter 1 mm pipa kapiler yaitu 0.061459 N/m, sementara pada diameter 3 mm pipa kapiler yaitu 0.08425 N/m 6. Nilai tegangan permukaan IPA pada diameter 1 mm pipa kapiler yaitu 0.01946 N/m, sementara pada diameter 3 mm pipa kapiler yaitu 0.020101 N/m

DAFTAR PUSTAKA

1. Data Literatur Density isopropyl alcohol = 0.785 g/cm3 Temp: 20 C Density isopropyl alcohol = 0.782 g/cm3 Temp: 25 C http://answers.yahoo.com/question/index?qid=20090823072919AA5cGDy

2. http://erviaudina.wordpress.com/2011/02/28/viskositas/ 3.https://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:BCEVDoy2tnkJ:www.spectrolab.co.uk/filedlpdf .php%3Ffile%3D./mrc/pdf/viscosity.pdf+&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESjQeBqy7N_bci BMIhecTm3FfZ1LD49VQuQIX-WEc2oD431m7XrpF_AUND0X2YMOZVgdR1hhGbKnY2OBDAGhVgdPLVDx2aQLbBuaSgvrPla 9OgM5aY5Dg0ozenpHCneQYenFenB&sig=AHIEtbTM8lhVE9qKFoSzPdlCINmTxgSp5A 4. http://che-mus.blogspot.com/2011/03/viskositas-dan-viskometer.html 5. http://www.slideshare.net/EvaMuslimahFarmasi/rheologi-9862169 6. http://www.scribd.com/doc/23908478/Untitled 7. http://www.wisegeek.com/what-is-a-rheometer.htm 8. http://www.gammadot.com/index.htm?Theory/What_is_a_Rheometer.htm~mainFrame 9. http://udin-reskiwahyudi.blogspot.com/2011/10/refraktometer.html 10. http://www.scribd.com/doc/34668676/Laporan-Tegangan-Permukaan 11. http://en.netlog.com/dewi_komalasari/blog/blogid=3757731 12. http://ogysogay.blogspot.com/2011/05/laporan-tegangan-permukaan.html

LAMPIRAN A DATA PERCOBAAN

1. Viscometer No 1 2 Bahan Pati 5 % Pati 7,5 % Viskositas 18 mPa.s 21 dPa.s

2. Rheometer No 3 4 Bahan Pati 5 % Pati 7,5 % Spindel 3 5 Viskositas (cP) 453 dPa.s 2748 dPa.s

3. Refraktometer Etanol (ml) 10 8 6 4 2 0 Air (ml) 0 2 4 6 8 10 Indeks bias 1 1,337 1,34 1,339 1,335 1,333

4. Tegangan Permukaan Temperatur ruangan = 27oC Bahan Air IPA IPA(duplo) Ketinggian Cairan Dalam Pipa Kapiler Diamater pipa kapiler 1 mm Diamater pipa kapiler 2 mm 0,1 cm 0,2 cm 1,3 cm 0,5 cm 1,3 cm 0,6 cm

LAMPIRAN B HASIL ANTARA

No 1 2

Bahan Pati 5 % Pati 7,5 %

Viskositas (mPa.s) 46.8 1872

Mr (gr/mol) 162 162

n 6 6

Ln A

B -1.23111 -1.23111

3,3763 3,3783

3.379004 29.34153 3.379004 29.34153

Bahan Air IPA IPA (duplo)

Ketinggian Cairan Dalam Pipa Kapiler (cm) Diamater = 1 mm 0,1 1,3 1,3 Diamater 3 mm 0,2 0,5 0,6

Tegangan Permukaan (N/m) Diamater = 1 mm 0,00426 0,805072 0,805072 Diamater 2 mm 0.009273 2,183466 2,030952

LAMPIRAN C GRAFIK

Konsentrasi (% v/v)
1.6 1.4 1.2 1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 0 50 100 150 Series1 Linear (Series1) y = -0.0024x + 1.3993

Indeks bias

Konsentrasi (%v/v)

LAMPIRAN D CONTOH PERHITUNGAN

1. Rheometer

* Larutan pati 5 % (n=6) Mr pati = 162 gr/mol = 453 cP = 453 mPa.s Ln A = 3,6314-1,558*10-3*MW Ln A = 3,6314-1,558*10-3*162 A = 29,3415 B = -0,1253-6,826*10-3*MW B = -0,1253-6,826*10-3*162 B = -1,22311 Ln = Ln A + B/ Ln = Ln 29,3415 + (-1,22311)/453 = 3,3763 mN/m

2. Tegangan Permukaan air saat 27oC = 996,52 kg/m3 Rumus : = .g.r.(h+r/3) asumsi dimana sudut kontak antara permukaan cairan dan permukaan kaca sama dengan 0o

*Air ( diameter pipa kapiler 1 mm)

rumus 1 : = .g.r.h

= .996,52 kg/m3.9,8 m2/s. (1/2*10-3m).0,1*10-2m = 0,002441 N/m rumus 2 : = .g.r.(h+r/3) 0,002441 N/m = .996,52 kg/m3.9,8 m2/s. (r).(0,1*10-2m + r/3) r = 4,3641 x 10-4m berbeda dengan r asli

pakai rumus 2 = .g.r.h = .996,52 kg/m3.9,8 m2/s. (4,3641* 10-4m).0,1*10-2m = 0,00426 N/m

* Jika didapat r berbeda dengan r asli, maka dipakai rumus ke 2 *