Anda di halaman 1dari 5

RUMAH SUSUN di SURABAYA ANTARA KUALITAS & PEMERATAAN TEMPAT TINGGAL

Oleh Pungky Kristiawan 211107331 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SURABAYA Januari 2012

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Adanya arus Urbanisasi setiap tahunnya, dimana sebagian besar penduduk desa mencoba mencari peruntungan di Surabaya, berdampak pada membludaknya jumlah penduduk di kota Metropolis Surabaya. Dengan jumlah penduduk lebih dari 3 juta. Dari realita tersebut sebenarnya Surabaya menuju sebagai kota megapolitan ciri-cirinya jumlah penduduk mencapai 5 juta jiwa. Dengan jumlah penduduk yang begitu besar, secara tidak langsung menimbulkan permasalahan-permasalahan baru dalam pemenuhan tempat tinggal. Terbatasnya lahan, dan kemampuan ekonomi, memaksa pemerintah membuat sistem tempat tinggal horizontal atau biasa disebut Rumah Susun. Rumah Susun menjadi salah satu solusi bagi problem perkotaan, terutama terkait dengan pemenuhan kebutuhan tempat tinggal bagi warga. Di Surabaya, saat ini terdapat sembilan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) dan dan sebuah rumah susun hak milik (rusunami). Dan hampir disetiap rusun identik dengan kumuh. Kesan tersebut begitu melekat pada rumah susun (rusun). Jemuran pakaian, tembok retak, atap bocor, dan plafon jebol menjadi pemandangan biasa di rumah susun. Sebagian rusun diSurabaya pun tak luput dari citra tersebut. Padahal, rusunawa dan rusunami berada di pusat kota. Memang, idealnya rusun bagi kalangan menengah ke bawwah itu harus berada ditempat yang strategis. Hal ini dimaksudkan agar akses transportasi bisa lebih mudah. Penekanan selanjutnya, desain bangunan harus sederhana. Sebab pemeliharaan pembangunan berkolerasi dengan kemampuan ekonomi penghuninya. Jika didesain mewah, pemeliharaanya akan membutuhkan biaya yang tinggi. Maka jika pembangunan rusun tersebut tidak sejalan dengan kemampuan dan keinginan para penghuninya, akan mengakibatkan ketidaknyamanan bagi para penghuni rusun. Desain sederhana tersebut tidak berarti harus meninggalkan standar yang ada. Perencanaan keamanan seperti hydrant (gas pemadam kebakaran) tetap harus ada. Kapasitas ketersediaan air juga harus diperhatikan. Faktor keamanan dari kebakaran, tampaknya masih diabaikan sebagian pengelola rusun. Rusun Penjaringan Sari I dan II misalnya, tak memiliki hydrant. Rusun lima lantai yang dihuni 100 lebih kepala keluarga itu tak memiliki mitigasi kebakaran yang memadai. Sangat berbahaya apabila terjadi kebakaran. Belum lagi rendahnya tingkat keamanan dan kesadaran penghuni serta pengelola akan barang-barang pribadi. Hal ini di dasarkan pada tingginya tingkat pencurian kendaraan bermotor di beberapa rusun di Surabaya

1.2 Fokus Kajian

Berdasarkan latar belakang, pengkajian di dalam makalah ini akan difokuskan pada topik-topik berikut :
1) Kondisi Objektif Rusun di Surabaya; 2) Berbagai keluhan penghuni Rusun, terhadap rendahnya kualitas yang ada di

Rusun; 3) Dampak keamanan akibat rendahnya kualitas pengamanan; 4) Ancaman kebakaran , di rusun tanpa hydrant. 1.3 Tujuan Penulisan
1) Menjelaskan kondisi objektif rusun diSurabaya; 2) Mendeskripsikan berbagai keluhan penghuni rumah susun, terhadap kualitas

rumah susun diSurabaya;


3) Menjelaskan dampak rendahnya keamanan di rusun; 4) Menjelaskan ancaman kebakaran, dirusun tanpa hydrant (alat pemadam

kebakaran).

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Kondisi Objektif rusun di Surabaya KUMUH. Kesan tersebut begitu melekat pada rumah susun (rusun). Rumah Susun menjadi salah satu solusi bagi problem perkotaan, terutama terkait dengan pemenuhan kebutuhan tempat tinggal bagi warga. Di Surabaya, saat ini terdapat sembilan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) dan dan sebuah rumah susun hak milik (rusunami). Dan hampir disetiap rusun identik dengan kumuh. Kesan tersebut begitu melekat pada rumah susun (rusun). Jemuran pakaian, tembok retak, atap bocor, dan plafon jebol menjadi pemandangan biasa di rumah susun. Sebagian rusun diSurabaya pun tak luput dari citra tersebut. Padahal, rusunawa dan rusunami berada di pusat kota. Memang, idealnya rusun bagi kalangan menengah ke bawwah itu harus berada ditempat yang strategis. Hal ini dimaksudkan agar akses transportasi bisa lebih mudah. Penekanan selanjutnya, desain bangunan harus sederhana. Sebab pemeliharaan pembangunan berkolerasi dengan kemampuan ekonomi penghuninya. Jika didesain mewah, pemeliharaanya akan membutuhkan biaya yang tinggi. Maka jika pembangunan rusun tersebut tidak sejalan dengan kemampuan dan keinginan para penghuninya, akan mengakibatkan ketidaknyamanan bagi para penghuni rusun. Desain sederhana tersebut tidak berarti harus meninggalkan standar yang ada. Perencanaan keamanan seperti hydrant (gas pemadam kebakaran) tetap harus ada. Kapasitas ketersediaan air juga harus diperhatikan. Namun ada 2 hal yang berbeda anatara RUSUNAWA dan RUSUNAMI selain dalam hal pengelolaan, dimana rusunawa merupaka rumah susun yang di sewakan, sedangkan rusunami merupakan rusun yang telah menjadi hak milik perseorangan. Di Surabaya , salah satu Rusunami adalah rusun Menanggal yang berlokasi di Kelurahan Menanggal, Gayungan. Berbeda dari rusunawa , kepemilikan rusunami menjadi hak penghuni. Tidak ada sewamenyewa, tetapi jual beli. Kalaupun ada yang menyewa itu dilakukan dengan pemilik perorangan. Karena tidak ada pengelola, permasalahan dan keluhan yang dihadapi diselesaikan secara mandiri. Untung rusun yang dibangun tahun 1983 itu cukup kuat sehingga jarang terjadi kerusakan. Meskipun tidak ada keluhan mengenai kerusakan atau fasilitas yang ada, saat ini penghuni rusun Menaggal menghadapi sedikit permasalahan. Sebab, tahun ini mereka harus memperpanjang hak guna bangunan (HGB) rusun yang mereka huni. Salah satu penghuni rusunami Menanggal, Subaidi menjelaskan, penghuni yang sertifikat HGB-nya atas nama sendiri tidak mengalami masalah. Problem muncul ketika seertifikat HGB-nya belum atas nama sendiri. Itu terjadi karena mereka merupakan pemilik kedua atau ketiga. Setelah membeli dari pemilik sebelumnya mereka belum membaliknamakan secara kolektif oleh PPRS.