Anda di halaman 1dari 20

Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri

BAB I PENJELASAN UMUM STANDAR KOMPETENSI NASIONAL 1.1. RASIONAL Era globalisasi dalam lingkup perdagangan bebas antar negara membawa dampak ganda, di satu sisi era ini membuka kesempatan kerja sama yang seluas-luasnya antar negara, namun di sisi lain akan terjadi persaingan yang semakin tajam dan ketat. Oleh sebab itu, tantangan utama di masa mendatang adalah meningkatkan daya saing dan keunggulan kompetitif di semua sektor industri dan sektor jasa dengan mengandalkan kemampuan sumber daya manusia (SDM), teknologi dan manajemen. Untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang bermutu sesuai dengan tuntutan kebutuhan pasar kerja atau dunia usaha dan industri di era globalisasi ini, perlu adanya korelasi yang sesuai (link and match) antara dunia usaha/industri dengan lembaga pendidikan dan pelatihan baik pendidikan formal, informal maupun yang dikelola oleh industri itu sendiri. Salah satu bentuk korelasi tersebut adalah pihak dunia usaha/industri harus dapat merumuskan standar kebutuhan kualifikasi SDM yang diinginkan untuk menjamin kesinambungan usaha atau industri tersebut. Sedangkan lembaga pendidikan dan pelatihan akan menggunakan standar tersebut sebagai acuan dalam mengembangkan program dan kurikulum dan pihak birokrat akan menggunakannya sebagai acuan dalam merumuskan kebijakan dalam pengembangan SDM secara makro. Standar kebutuhan kualifikasi SDM tersebut diwujudkan ke dalam Standar Kompetensi Bidang Keahlian yang merupakan refleksi atas kompetensi yang diharapkan dimiliki orang-orang atau seseorang yang akan bekerja di bidang tersebut. Di samping itu standar tersebut harus memiliki ekivalen dan kesetaraan dengan standar-standar relevan yang berlaku pada sektor industri di negara lain bahkan berlaku secara internasional. Sejalan dengan pemikiran di atas, arah kebijakan yang tertuang dalam Renstra Pendidikan Menengah Kejuruan 2005-2009, telah menempatkan sistem sertifikasi kompetensi tamatan SMK sebagai bagian dari sistem standarisasi dan sertifikasi kompetensi/profesi dalam kerangka Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
DEPDIKNAS RI 1

Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri

Badan nasional tersebut telah ditetapkan berdasarkan PP No. 23 tahun 2004 tentang pendirian BNSP dan Penpres No. 92/m tahun 2005 tentang Pengangkatan Anggota BNSP. Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya pada aspek sertifikasi kompetensi/profesi, badan tersebut akan mendelegasikan kewenangannya kepada Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) setelah melalui proses verifikasi dan akreditasi. LSP berwenang melakukan uji kompetensi untuk tujuan sertifikasi kompetensi/profesi berdasarkan standar kompetensi yang telah ditetapkan sebagai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Terkait dengan hal tersebut serta posisi Departemen Pendidikan Nasional sebagai stakeholder Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan sejak 1998 telah berperan aktif dalam penyusunan Standar Kompetensi. Penyusunan Standar Kompetensi antara lain dilaksanakan dalam kerangka program kerjasama antara pemerintah Australia dan Indonesia (IAPSD) dan penyusunan secara mandiri oleh Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan Departemen Pendidikan Nasional. Hingga akhir tahun angaran 2004, telah diselesaikan penyusunan Standar Kompetensi sebanyak 83 (delapan puluh tiga) bidang keahlian. Untuk memenuhi kebutuhan dan kesesuaian dengan spektrum kurikulum SMK sebanyak 110 bidang/program keahlian maka pada tahun anggaran 2005, Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan Departemen Pendidikan Nasional menyusun 14 bidang keahlian yang salah satu di antaranya adalah Standar Kompetensi Bidang Keahlian Otomasi Industri. Sejalan dengan pemikiran di atas sejak tahun 1995 Depdikbud bersama dengan pihak dunia industri dan dunia usaha yang direpresentasikan oleh KADIN Indonesia (DU/DI), telah membentuk Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional (MPKN) Salah satu tugas pokok fungsinya adalah memberikan masukan dalam merumuskan kebijakan pada pengembangan pendidikan menengah kejuruan. Salah satu bentuk masukan tersebut berupa standar kompetensi bidang keahlian, yang dalam pelaksnaaannya dilakukan oleh Kelompok Bidang Keahlian (KBK). Dokumen ini membahas tentang hasil-hasil yang dicapai dalam kegiatan penyusunan standar kompetensi bidang keahlian Otomasi Industri meliputi:

DEPDIKNAS RI

Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri

Naskah Standar Kompetensi Bidang Keahlian Otomasi Industri, meliputi

pembahasan tentang pengertian standar kompetensi, struktur standar kompetensi, format unit kompetensi dan pengembangan standar kompetensi. Kualifikasi Keahlian dari Tenaga Operator/Pelaksana, Tenaga Teknisi dan Ahli, khususnya yang berkaitan dengan pemaketan unit kompetensi dan sertifikasi. 1.2. TUJUAN Tujuan dari jasa konsultasi yang diberikan konsultan adalah untuk memperoleh standar kompetensi bidang keahlian yang memperoleh pengakuan secara nasional. Untuk memperoleh pengakuan tersebut maka penyusunan/penyempurnaan standar: 1. Dikembangkan berdasar pada kebutuhan industri/dunia usaha, dimaknai dengan dilakukannya eksplorasi data primer dan sekunder secara komprehensif 2. Menggunakan acuan dan rujukan dari standar-standar sejenis yang dipergunakan oleh negara lain atau standar internasional, agar di kemudian hari dapat dilakukan proses saling pengakuan 3. Dilakukan bersama dengan perwakilan dari asosiasi profesi, asosiasi industri/usaha secara institusional dan asosiasi lembaga pendidikan dan pelatihan profesi atau para pakar di bidangnya agar memudahkan dalam pencapaian konsensus dan pemberlakuan secara nasional. 1.3. PENGERTIAN Berdasarkan terminologi standar kompetensi terbentuk dari dua suku kata, yaitu standar dan kompetensi. Standar diartikan sebagai ukuran atau patokan yang disepakati sedangkan kompetensi dapat diartikan sebagai kemampuan atau kecakapan melakukan suatu pekerjaan. Kompetensi merupakan penambahan dari kata dasar kompeten yang artinya adalah kemampuan dan kewenangan yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan, yang didasari oleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap sesuai dengan unjuk kerja yang ditetapkan. Didasari dari berbagai referensi yang ada definisi kompetensi ditinjau dari sudut pengembangan SDM meliputi:

DEPDIKNAS RI

Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri

A competency refers to an individual's demonstrated knowledge, skill or

abilities (KSA's) performed to a specific standard. Competencies are observable, behavioral acts that requare a combination of KSA's to execute. They are demonstrated in a job context and as such, are influenced by an organization's culture and work environment. In other words, competencies consist of a combination of knowledge, skill and abilities that are necessary in order to perform a major task or function in the work setting. (JGN consulting Denver, USA)

Competency models that identify the skills, knowledge and characteristics

needed to perform a job (D. Lucia dan R. Lepsinger/Preface xiii) Competency comprises knowledge and skills and the consistent application

of that knowledge and skills to the standard of performance required in employment. (Competency standards Body Canberra, 1994) Competency is combination of knowledge, skills and abilities to perform

them in the job context which are expected by related industries. Dari beberapa definisi di atas dapat dirumuskan bahwa kompetensi diartikan sebagai kemampuan seseorang yang dapat terobservasi mencakup atas pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas dengan standar kinerja (performance) yang ditetapkan. Standar kompetensi bidang keahlian merupakan refleksi atas kompetensi yang diharapkan dimiliki orang-orang atau individu perorangan yang akan bekerja di suatu bidang. Menghadapai arus globalisasi, standar tersebut harus memiliki ekuivalen dan kesetaraan dengan standar-standar yang memiliki relevansi dan berlaku pada sektor industri di negara lain serta dapat berlaku secara internasional. Ditinjau dari sistemnya, Otomasi Industri merupakan integrasi antara sinergi sistem mekanik, elektronik, komputer dan teknologi informasi untuk memperkecil biaya dan meningkatkan produksi. Sedangkan definisi mekatronika menurut Loughborough University adalah: "Mechatronics is a design philosophy that utilizes a synergistic integration of Mechanics, Electronics and Computer Technology (or IT) to produce enhanced products, processes or systems."

DEPDIKNAS RI

Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri

Otomasi, merupakan teknik yang digunakan untuk memperkecil biaya dan meningkatkan kualitas. Otomasi Industri, merupakan teknik yang digunakan oleh industri untuk memperkecil biaya produksi dan meningkatkan kualitas serta kuantitas produksi. Masyarakat Pendidikan/Pelatihan, adalah masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan/pelatihan pada pengembangan kompetensi, baik formal maupun informal untuk bidang-bidang keahlian. Masyarakat Industri, adalah masyarakat yang menggunakan tenaga kerja yang memiliki sertifikat kompetensi sesuai bidang keahliannya. Asosiasi Profesi, adalah lembaga/institusi yang dapat mengeluarkan sertifikat kompetensi untuk bidang-bidang keahlian tertentu di industri. 1.4. STRUKTUR STANDAR KOMPETENSI Struktur Standar kompetensi model Regional Model of Competencies Standards pada setiap standar Kompetensi minimal memuat unsur-unsur sebagai berikut: Kode Unit Judul Unit Deskripsi Unit Elemen Kompetensi Kriteria Unjuk Kerja Batasan Variabel Panduan Penilaian Kompetensi Kunci

KODE UNIT, Kode Unit dimaksudkan untuk mempermudah dalam pengelolaannya. Kode Unit ini terdiri dari beberapa huruf dan angka yang mengacu pada Kepmenakertrans No. Kep-69/Men/III/V/2004 Tentang Perubahan Lampiran Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Kep.227/Men/2003 Tentang Tata Cara Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional.

DEPDIKNAS RI

Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri

JUDUL UNIT, Judul memberikan penjelasan umum tentang pekerjaan yang harus dilakukan di tempat kerja atau menjelaskan suatu pekerjaan yang akan dilakukan. Judul ditulis dengan mengarah pada hasil yang ingin dicapai dan harus ditulis singkat, jelas dan menggunakan kata kerja aktif. DESKRIPSI UNIT, Penjelasan singkat tentang unit tersebut berkaitan dengan pekerjaan yang akan dilakukan. ELEMEN KOMPETENSI, Elemen kompetensi merupakan dasar pembentukan bangunan Unit Kompetensi atau merupakan unsur/aspek utama yang dibutuhkan untuk tercapainya unit kompetensi tersebut. KRITERIA UNJUK KERJA, Pernyataan yang mengidentifikasikan hasil akhir yang perlu dinilai, jika unit kompetensi tersebut telah dicapai. Kriteria Unjuk Kerja (KUK) menunjukan Pengetahuan, Keterampilan dan Etika kerja. KUK dituangkan dalam kalimat pasif yang mengarah pada pembendaan (kata benda). KUK ini merupakan standar unjuk kerja untuk setiap elemen/sub kompetensi. BATASAN VARIABEL Batasan variable berhubungan dengan ruang lingkup, situasi dan kondisi dimana kriteria unjuk kerja diterapkan. Mendefinisikan situasi dari unit dan memberikan informasi lebih jauh tentang tingkat otonomi perlengkapan dan materi yang mungkin digunakan dan mengacu pada syarat-syarat yang ditetapkan, termasuk peraturan dan produk atau jasa yang dihasilkan. PANDUAN PENILAIAN, Acuan penilaian/Indikator kompetensi berhubungan dengan unit kompetensi secara terpadu dan memberikan panduan tentang interpretasi standar dan penilaian terhadap standar kompetensi. Indikator kompetensi dapat memberikan: aspek dari kompetensi yang perlu diberikan tekanan pada saat penilaian;

DEPDIKNAS RI

Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri

penilaian apa yang perlu dilakukan bersamaan; pengetahuan yang diperlukan terkait dan mendukung tercapainya menjelaskan tentang metoda penilaian; kompetensi tersebut;

kompetensi kunci. LEVEL KOMPETENSI, Level kompetensi dimaksudkan sebagai pengelompokan tingkat kemampuan dalam menyelesaikan suatu tugas/pekerjaan berdasar pada tingkat kesulitan dan atau kompleksitas pekerjaan. 1.5. SKEMA DAN FORMAT STANDAR KOMPETENSI 1.5.1 Skema Standar Kompetensi
KUALIFIKASISI
BIDANG KEAHLIAN ATAU PEKERJAAN

KUALIFIKASISI LEVEL KOMPETENSI KUNCI

UNIT-UNIT KOMPETENSI

KUALIFIKASI

ELEMEN KOMPETENSI

KRITERIA UNJUK KERJA

BATASAN VARIABEL PANDUAN PENILAIAN PANDUAN PENILAIAN

Gambar. 1.1 Skema Standar Kompetensi

DEPDIKNAS RI

Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri

1.5.2 Bentuk Format Unit Standar Kompetensi


Kode Unit: Terdiri dari beberapa huruf dan angka yang disepakati oleh para pengembang dan Industri/ Usaha terkait dengan tujuan untuk mempermudah dalam pengelolaan. (merujuk pada Kepmenakertrans No. KEP-227 / MEN / 2003 tanggal 13 Oktober 2003 dan Kepmenakertrans No. 69/MEN// V / 2004 ) XXX . XX 00 . 000 . 00 Sektor Sub sektor Bidang/Grup Nomor Unit Versi Judul Unit: Merupakan fungsi tugas / pekerjaan yang akan dilakukan, dinyatakan sebagai suatu unit kompetensi yang menggambarkan sebagian atau keseluruhan standar kompetensi. Judul unit biasanya menggunakan kalimat aktif yang diawali dengan kata kerja aktif yang dapat terobservasi. Deskripsi Unit: Penjelasan lebih lanjut tentang judul unit yang mendeskripsikan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam mencapai standar kompetensi. Elemen Kompetensi Kriteria Unjuk Kerja Mengidentifikasi tugas-tugas yang harus Menggambarkan kegiatan yang harus dikerjakan untuk mencapai kompetensi dikerjakan untuk memperagakan kompetensi berupa pernyataan yang menunjukkan di setiap elemen, apa yang harus dikerjakan komponen-komponen pendukung unit pada waktu menilai dan apakah syarat-syarat kompetensi. dari elemen dipenuhi. Batasan variabel Ruang lingkup, situasi dan kondisi dimana kriteria unjuk kerja diterapkan. Mendefinisikan situasi dari unit dan memberikan informasi lebih jauh tentang tingkat otonomi perlengkapan dan materi yang mungkin digunakan dan mengacu pada syaratsyarat yang ditetapkan, termasuk peraturan dan produk atau jasa yang dihasilkan. Kondisi unjuk kerja Pelaksanaannya menunjukan hubungan antaa pekerjaan yang dilakukan, mengaitkan pengetahuan dan kebutuhan industri, memfokuskan apa yang dinilai. Merupakan informasi dimana unit tersebut akan diberlakukan, serta memuat ketentuan yang menjadi daasar untuk menentukan parameter Kriteria Unjuk Kerja. [Peraturan, Kebijakan Standar, SOP, Manual, Peralatan dan Bahan yang dibutuhkan] Panduan Penilaian Membantu menginterpretasikan dan menilai unit dengan mengkhususkan petunjuk nyata yang perlu dikumpulkan, untuk memperagakan kompetensi sesuai tingkat keterampilan yang digambarkan dalam kriteria unjuk kerja, yang meliputi: 1. Pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk seseorang dinyatakan kompeten pada tingkatan tertentu. 2. Ruang lingkup pengujian menyatakan dimana, bagaimana dan dengan metode apa pengujian seharusnya dilakukan. 3. Aspek penting dari pengujian menjelaskan hal-hal pokok dari pengujian dan kunci pokok yang perlu dilihat pada waktu pengujian.

DEPDIKNAS RI

Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri

1.6.

KOMPETENSI KUNCI Keterampilan umum yang diperlukan agar kriteria unjuk kerja tercapai pada tingkatan kinerja yang dipersyaratkan untuk peran/ fungsi pada suatu pekerjaan. Komponen kunci meliputi: No. 1 2 3 4 5 6 7 KOMPETENSI KUNCI DALAM UNIT INI Mengumpul kan dan mengorganisasikan informasi Mengkomunikasikan ide dan informasi Merencana kan dan mengatur kegiatan Bekerja sama dengan orang lain dan kelompok Menggunakan ide dan teknik matematika Memecahkan persoalan / masalah Menggunakan teknologi TINGKAT

Kompetensi kunci dibagi dalam tiga tingkatan yaitu: Tingkat 1 harus mampu: 1. melaksanakan proses yang telah ditentukan. 2. menilai mutu berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Tingkat 2 harus mampu: 1. mengelola proses. 2. menentukan kriteria untuk mengevaluasi proses. Tingkat 3 harus mampu: 1. menentukan prinsip-prinsip dan proses. 2. mengevaluasi dan mengubah bentuk proses. 3. menentukan kriteria untuk mengevaluasi proses.

1.7.

KODEFIKASI UNIT KOMPETENSI Sesuai dengan pengelompokkan bidang oleh Majelis Pendidikan Kejuruan Nasional (MPKN) maka bidang keahlian Otomasi Industri masuk ke dalam Kelompok Teknologi dan Industri, sektor Manufaktur.

DEPDIKNAS RI

Standar Kompetensi Nasional Bidang Keahlian Otomasi Industri

Untuk penomoran kode unit dengan mengacu pada Kepmenakertrans No. 69/2004 dan pengelompokkan bidang otomasi industri diperlihatkan pada gambar 3-1. Kode Unit : Terdiri dari kombinasi huruf dan angka yang memiliki arti khusus sebagai berikut: Struktur Kode XXX . XX . 00 . 000 . 00 Arti Angka yang menyatakaan versi standar kompetensi. Kombinasi angka untuk nomor urut unit kompetensi. Angka yang menyatakan pengelompokkan bidang/grup unit komptensi yaitu: 00: Tidak ada grup 01: Kelompok Umum 02: Kelompok Inti 03: Kelompok Pilihan Kombinasi huruf yang menyatakan subsektor, untuk sub sektor bidang Otomasi Industri digunakan OI Kombinasi huruf yang menyatakan sektor bidang keahlian, untuk sektor bidang Manufaktur digunakan MAN Gambar 1.2 Sistem Penomoran Unit Kompetensi Bidang Otomasi Industri

Contoh kode unit: MAN.OI.01.001.01 Artinya unit kompetensi sektor Manufaktur sub sektor Otomasi Industri bidang/grup Kelompok Umum nomor urut 001 versi 01.

DEPDIKNAS RI

10

BAB II PETA UNIT KOMPETENSI

2.1.

OTOMASI INDUSTRI DAN MEKATRONIKA Ditinjau dari sisi teknologi, Otomasi Industri merupakan integrasi antara teknologi mekatronika, teknologi komputer dan teknologi informasi. Sedangkan definisi Mekatronika menurut Loughborough University (United Kingdom) adalah: "Mechatronics is a design philosophy that utilizes a synergistic integration of Mechanics, Electronics and Computer Technology (or IT) to produce enhanced products, processes or systems". Secara lebih spesifik, diagram sistem mekatronika diperlihatkan pada gambar 2.1 yang merupakan integrasi sinergi antara teknologi mekanik (mekanik konvensional/elektromekanik), kontrol, elektronik (analog/ digital) dan teknologi informasi. Contoh sistem mekatronika sederhana adalah mesin pengemasan permen, mesin pengemasan obat dan kosmetik dan mesin-mesin CNC.

System Modelling

Sensor

Simulation

Microcontrollers

Gambar 2.1 Diagram sistem mekatronika

Otomasi Industri menurut Prof. Dr. H. Kirrmann dari Pusat Riset EPFL/ABB Swiss, memiliki hirarki seperti pada gambar 2.2.

Enterprise Manufacturing Execution Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) Group Control Individual Control Field Primary Technology

Gambar 2.2 Hirarki Otomasi Industri Sedangkan level otomasi industri diperlihatkan pada gambar 2.3 dengan penjelasan sebagai berikut: Administrasi (Administration) Perusahaan (Enterprise) : Keuangan, sumber daya manusia, dokumentasi dan perencanaan jangka panjang. : Menentukan target produksi, merencanakan perusahaan dan sumber daya, mengkoordinir lokasi berbeda, mengatur order/pesanan, memprediksi prilaku proses produksi di masa depan khususnya untuk pemeliharaan peralatan, menelusuri indikasi kunci keberhasilan untuk kepentingan optimasi aset. Rekayasa/Produksi (Manufacturing) : Mengatur pelaksanaan, sumber daya, alur kerja, pengawasan kualitas, jadwal produksi, pemeliharaan, menyimpan data pabrik dan produk untuk keperluan proses berikutnya dengan cara yang aman, menelusuri proses produksi dan produk untuk sistem manajemen dan informasi pabrik (plant information and management system-PIMS). Pengawasan : Mengawasi lokasi dan produksi, mengoptimalkan, melaksanakan operasi, visualisasi proses produksi dalam

(Supervision /SCADA)

bentuk SCADA:

panel

displai

(man-machine

interface-MMI),

menyimpan data proses dan membukukan operasi produksi. menampilkan visualisasi proses produksi yang sedang berlangsung, menampilkan dan mencatat setiap kejadian gangguan dan alarm dalam proses produksi,

menampilkan tren grafik/data dan menganalisisnya, menampilkan dokumen (buku pedoman, katalog, data inventori dan pakar sistem), melaksanakan komunikasi dan sinkronisasi data dengan divisi lain.

Kendali Grup/Area (Group/Area Control)

: Mengendalikan suatu proses produksi antara lain mengatur aktivitas beberapa unit kontrol proses produksi dan melakukan penyesuaian parameter operasi (set-point). Kendali Grup umumnya merupakan sistem kontrol terdistribusi (distributed control system-DCS). DCS biasanya mengacu pada suatu infrastruktur perangkat keras dan perangkat lunak untuk melaksanakan otomasi proses produksi yang kadang-kadang dilengkapi juga dengan MMI untuk pengendalian operasi lokal.

Kendali Unit (Unit/Sell Control)

: Mengendalikan bagian dari kendali grup antara lain:

mengukur sampel, melakukan penskalaan, proses dan kalibrasi, mengendalikan operasi, proses, set-points dan parameter

urutan perintah operasi, proteksi dan penyambungan. data (sensor dan aktuator) dan

Field

: Mengakuisisi

mentransmisikan data. Level Field berinteraksi dengan sistem mekanis proses (primary technology) secara tidak langsung.

LEVEL 5 Planning, Statistics, Finaces Administration

Production Planning, Orders, Purchase Workflow, Order Tracking, Resources

Enterprise

(Manufacturing) Execution

Supervisory Control and Data Acquisiton (SCADA)

Group Control

Unit Control 1 Field Sensors and Actuators Primary Technology

Gambar 2.3 Level Otomasi Industri Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Otomasi Industri mencakup semua aspek yang dibutuhkan suatu industri manufaktur, yaitu mulai dari level-0 sampai dengan level-5. Otomasi seperti ini umumnya diterapkan pada industri manufaktur skala besar dengan merk produk seperti, Festo, National Instrument, ABB, Yokogawa, Good Year, Karakatau Steel, National Panasonic, Schneider, dan sebagainya. Sedangkan Mekatronika berada dalam lingkup level-0 dan level-1 yang merupakan bagian dari otomasi industri. Profesi bidang otomasi industri merupakan profesi yang diperlukan oleh industri manufaktur. Industri ini dapat digolongkan menjadi dua, yaitu industri pembuat/vendor sistem otomasi dan industri pemakai sistem otomasi. bidang pekerjaan dari kedua jenis industri ini diperlihatkan pada tabel 2-1. Tabel 2-1: Bidang Pekerjaan Otomasi Industri Bidang-

Bidang Pekerjaan Perancangan Pembuatan Perakitan Instalasi Pengujian (Komisioning) Pengoperasian Pemeliharaan dan Perbaikan 2.2.

Industri Pembuat/Vendor

Industri Pemakai

PENGELOMPOKAN SISTEM OTOMASI INDUSTRI Sistem Otomasi Industri berdasarkan konfigurasi sistem kontrol, fasilitas dan cakupan kerjanya dikelompokkan menjadi: 1. Direct Digital Control (DDC) Pada sistem ini, proses dikontrol langsung oleh kontroler elektronik/komputer. Sistem ini banyak diterapkan pada pabrik pengolahan dengan mesin proses sederhana (mesin pengemasan kosmetik, mesin pengolahan kayu, mesin pengemasan makanan, mesin pengemasan obat dan sebagainya). Pada level otomasi industri menempati Level-1 (Unit Control/Sell). 2. Distributed Control System (DCS) Sistem ini menerapkan kontrol terdistribusi, yaitu setiap proses dikontrol oleh masing-masing local controller. Sedangan masing-masing local controller tersebut dikendalikan oleh main controller atau supervisory computer. Sistem ini telah memanfaatkan teknologi jaringan komputer lokal (sering juga dilengkapi dengan panel MMI untuk memonitor proses) dan banyak dipakai pada pabrik pengolahan dengan jumlah proses yang banyak dalam satu jalur produksi (contoh: pabrik pengolahan bahan kimia, pabrik ban, pabrik baja, pabrik kertas dan sebagainya). Pada level otomasi industri menempati Level-1 (Group Control). 3. Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) System Sistem ini dapat dikatakan sebagai DCS yang dilengkapi dengan fasilitas:
-

Displai visualisasi proses yang sedang berjalan

Displai alarm and kejadian untuk gangguan (alarm log, logbook) Displai tren data (numerik dan grafik) dinamis dan hasil analisisnya

Displai handbook, datasheet, inventory, expert system (documentation) Komunikasi dan sinkronisasi data dengan kantor pusat. Pada level otomasi industri menempati Level-2 (SCADA).

2.3.

PEMETAAN FUNGSI PEKERJAAN BIDANG OTOMASI INDUSTRI Area fungsional pekerjaan di bidang Otomasi Industri dibagi atas:
1.

Pengoperasian yaitu meliputi fungsi pekerjaan mengoperasikan peralatan dan sistem otomasi industri (hard dan software) sesuai spesifikasi operasi yang dipersyaratkan.

2.

Pemeliharaan dan Perbaikan yaitu meliputi fungsi pekerjaan memelihara dan memperbaiki peralatan dan sistem otomasi industri (hard dan software) agar tetap berada pada kondisi sesuai yang dipersyaratkan dari waktu ke waktu.

3.

Perakitan dan Instalasi yaitu meliputi fungsi pekerjaan merakit dan menginstal peralatan dan sistem otomasi industri (hard dan software) sesuai perencanaan. Pengetesan dan Komisioning yaitu meliputi fungsi pekerjaan mengetes, mensetup dan mengevaluasi performa peralatan dan sistem otomasi industri (hard dan software) sesuai yang dipersyaratkan dalam perencanaan..

4.

5.

Perancangan dan Pembuatan yaitu meliputi fungsi merencanakan dan merealisasikan peralatan dan sistem otomasi industri (hard dan software) sesuai spesifikasi yang dipersyaratkan.

Konsepsi dasar yang digunakan dalam pemetaan fungsi pekerjaan di bidang Otomasi Industri dan unit kompetensi terkait diperlihatkan pada gambar 2.4, 2.5, dan 2.6. Hasil pemetaan diperlihatkan pada gambar 2.7a dan 2.7b dengan unit-unit kompetensi disusun untuk sistem kontrol DDC dan DCS atau untuk Otomasi Industri: Level-0 dan Level-1.

OTOM ASI I NDUSTR I

A. INDUSTRI PEMBUAT/ VENDOR 1. Perencanaan (Perancangan) 2. Pembangunan - Perakitan - Instalasi - Pengujian 3. Pengoperasian 4. Pemeliharaan 5. Perbaikan B. INDUSTRI PEMAKAI 1. Pengoperasian 2. Pemeliharaan 3. Perbaikan

Gambar. 2.4 Jenis Pekerjaan di Bidang Otomasi Industri Untuk Kelompok Industri

SS E O O A II D S R I T M T MS N U T I

SS E K LS RK N I TM EI TI A

SS E P E MTK I T M NU A I

SS E E E T O I I T M L KR N K

SS E H R LK I T M I OI D

SS E MK N I TM E AI K

T K O O II F R A I E N L G NO MS

Gambar 2.5 Otomasi Industri Dipandang dari Sistem

O TOM A SI I N D U STR I

Sistem DDC

Industri pemakai diantaranya :

DCS / SCADA

1. Industri kosmetik 2. Industri pengolahan makanan dan minuman 3. Industri obat 4. Industri kemasan plastik 5. Industri pengolahan kayu 6. dsb

Industri pemakai diantaranya : 1. Industri baja 2. Industri kimia 3. Industri pembangkit tenaga listrik 4. Industri ban 5. Industri otomotif 6. Industri permesinan dan mekatronika 7. Industri migas 8. Industri komponen listrik dan elektronik 9. dsb

Gambar 2.6 Jenis Otomasi Industri dan Industri Pemakainya

OTOM ASI I NDUSTRI Area Fungsi 1. Mengatur Sistem Produksi

Area Fungsi 2. Memproduksi Peralatan dan Sistem

Gambar 2.7 Area fungsi Otomasi Industri di Industri Manufaktur

Gambar 2-7a Peta Fungsional Bidang Otomasi Industri sektor Manufaktur untuk kelompok Industri Pemakai (End User)
AREA FUNGSI 1. MENGATUR SISTEM PRODUKSI FUNGSI PEKERJAAN 1.1. Mengoperasikan Sistem UNIT KOMPETENSI Mengoperasikan sistem kelistrikan Mengoperasikan sistem pneumatik Mengoperasikan sistem elektronik Mengoperasikan sistem hidrolik Mengoperasikan sistem robot (handling system) Mengoperasikan sistem informasi Mengoperasikan programmable logic controller, PLC Mengoperasikan peralatan kelistrikan Mengoperasikan peralatan pneumatik Mengoperasikan peralatan elektronik Mengoperasikan peralatan hidrolik Memantau dan memelihara lingkungan pekerjaan Memelihara efektifitas hubungan di tempat kerja Memelihara dan memperbaiki sistem kelistrikan Memelihara dan memperbaiki sistem pneumatik Memelihara dan memperbaiki sistem elektronik Memelihara dan memperbaiki sistem hidrolik Memelihara dan memperbaiki sistem robot (handling system) Memelihara dan memperbaiki sistem informasi Memelihara dan memperbaiki peralatan kelistrikan Memelihara dan memperbaiki peralatan pneumatik Memelihara dan memperbaiki peralatan elektronik Memelihara dan memperbaiki peralatan hidrolik Memelihara dan men-setup sensor Memelihara dan memperbaiki mechanical drive dan mechanical transmission

1.2. Memelihara dan Memperbaiki Sistem

Gambar 2-7b Peta Fungsional Bidang Otomasi Industri sektor Manufaktur untuk kelompok Industri Pembuat (Vendor)

2. MEMPRODUKSI PERALATAN DAN SISTEM

2.1. Merancang Peralatan dan Sistem

2.4.1. 2.4.2. 2.4.3. 2.4.4. 2.4.5. 2.4.6.

Merencanakan rancangan sistem menyeluruh Merancang sistem kelistrikan Merancang sistem pneumatik Merancang sistem elektronik Merancang sistem hidrolik Merancang penepat mekanik Merancang diagram alur program software Menulis program software Merancang sistem informasi Mengoperasikan mesin perkakas konvensional Mengoperasikan permesinan CNC Membuat penepat mekanik Merakit peralatan dan sistem kelistrikan Merakit peralatan dan sistem pneumatik Merakit peralatan dan sistem elektronik Merakit peralatan dan sistem hidrolik Merakit penepat mekanik Menginstal sistem informasi Mengetes sistem otomasi Melaksanakan komisioning sistem otomasi

2.2. Mengembangkan Software Aplikasi2.2.1. 2.2.2. 2.2.3. 2.3. Membuat Elemen Mekanik 2.3.1. 2.3.2. 2.3.3. 2.4.1. 2.4.2. 2.4.3. 2.4.4. 2.4.5. 2.4.6. 2.4.7. 2.4.8.

2.4. Merakit Peralatan dan Sistem