Anda di halaman 1dari 33

BAB I PENDAHULUAN Dalam kehidupan sehari - hari , kita akan menemukan berbagai macam perilaku dan emosi seseorang.

Ada yang berperilaku sopan , tidak mudah marah , dan dapat mengendalikan diri dengan baik. Ada pula yang berperilaku tidak memperhatikan sopan santun , mudah marah hanya karena masalah kecil dan emosinya tidak stabil . kalau perilaku dan emosi tersebut menetap pada diri seseorang sejak menjelang dewasa sampai saat ini dan rnerupakan sifat yang khas pada individu tersebut maka dapat dikatakan itulah ciri - ciri kepribadian orang tersebut. Setiap manusia mempunyai ciri kepribadian yang khas untuk dirinya. Tak ada satu orangpun di dunia ini mempunyai ciri kepribadian yang sama dengan ciri kepribadian orang lain. Orang yang menderita gangguan kepribadian mempunyai sifat - sifat kepribadian yang sangat kaku dan sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Akibatnya, dia akan mengalami kerusakan berat dalam hubungan sosialnya atau dalam bidang pekerjaannya , serta dirinya merasa sangat menderita. Orang tersebut jauh lebih mungkin menolak bantuan psikiatrik dan menyangkal masalahnya serta tidak merasa sakit dari apa yang dirasakan oleh masyarakat sebagai gejalanya , mereka seringkali dianggap sebagai tidak bermotivasi untuk pengobatan dan tidak mempan terhadap pemulihan. Dengan demikian sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui tentang gangguan kepribadian. Di sini penulis akan membahas lebih dalam tentang gangguan kepribadian khas melalui definisi, epidemiologi, etiologi, klasifikasi, gambaran klinis, diagnosis, diagnosis banding, perjalanan penyakit dan prognosis serta terapi, dimana gangguan ini lebih sering dijumpai sehari-hari. Sehingga dalam prakteknya kita dapat mengenali, mendiagnosis dan mengobati pasien dengan, gangguan kepribadian ini.

BAB II PEMBAHASAN II.1. Pengertian Kepribadian (1) Terdapat berbagai definisi atau pengertian mengenai kepribadian. Kusumanto Setyonegoro mengatakan : Kepribadian ialah ekspresi keluar dari pengetahuan dan perasaan yang dialami secara subjektif oleh seseorang. Definisi lain mengemukakan bahwa kepribadian ialah pola perilaku yang khas bagi seseorang yang menyebabkan orang itu dapat dikenal dari pola perilakunya itu. Atau kepribadian menunjuk kepada keseluruhan pola pikiran, perasaan, dan perilaku yang sering digunakan oleh seseorang dalam usaha adaptasi yang terusmenerus dalam hidupnya. Jadi kepribadian meliputi segala corak perilaku manusia yang terhimpun di dalam dirinya dan yang digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan dirinya terhadap segala rangsang, baik yang datang dari lingkungannya (dunia luarnya), maupun yang berasal dari dirinya sendiri (dunia dalamnya), sehingga corak perilakunya itu merupakan suatu kesatuan fungsional yang khas bagi manusia itu. Definisi-definisi di atas mengemukakan kepribadian dalam arti kata empiric (lihat dibawah ini), terdapat 3 kelompok pengertian kepribadian, yaitu pengertian popular, falsafat dan empirik. Kepribadian dalam arti kata popular sama dengan kualitas seseorang yang menyebabkan ia disenangi atau tidak disenangi oleh orang lain. Kepribadian dalam arti kata falsafat ialah sesuatu yang rasional (dapat berfikir, mempunyai daya penalaran) dan individual (merupakan kesatuan yang dapat berdiri sendiri, mernpunyai ciri-ciri khas ). Kepribadian itu merupakan inti manusia (yaitu bila kita menjawab pertanyaan dalam falsafah: Apakah manusia itu) yang mengatur dan mengawasi perilakunya secara tidak dapat dilihat oleh orang lain dan yang

mer -upakan penyebab utama segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia. Kepribadian dalam arti kata empiris ialah jumlah perilaku yang dapat diamati dan yang mempunyai ciri-ciri biologik, psikologik, sosiologik, dan moral yang khas baginya, yang dapat membedakannya dari kepribadian yang lain. Akan tetapi harus diingat bahwa jumlah perilaku atau jumlah sifat seseorang tidak sama dengan kepribadiannya yang sebenarnya. Perilaku dan sifat hanya merupakan manifestasi kepribadian orang itu. Dengan mempelajari perilaku atau sifat-sifat kepribadian seseorang maka kita dapat menyelami kepribadian yang sebenarnya. II . 2. Teori Perkembangan Kepribadian Teori Perkembangan Kepribadian berdasarkan Sigmund Freud Psikoanalisa Freud Struktur kepribadian menurut Sigmund Freud Konsep mengenai struktur kepribadian dipostulasikan, oleh Sigmund Freud menjadi tiga segmen psikis, yang mempunyai fungsinya sendirisendiri yaitu : 1. ID ID adalah tempat dorongan naluri (instinct), dibawah sadar dan berada di bawah pengawasan proses primer. Karena itu Id bekerja sesuai dengan prinsip kesenangan (pleasure, principle) tanpa mempedulikan kenyataan. Seorang bayi pada waktu lahir telah mempunyai Id. la tidak mempunyai kemampuan untuk menghambat, mengawasi atau memodifikasi dorongan nalurinya. Karena itu ia sangat bergantung pada ego orang lain di dalam lingkungannya.

Dengan demikian maka Id adalah nama kolektif untuk impuls biologis yang primitif, mewakili bagian pembawaan sejak lahir dari kepribadian. Dorongan fisiologis untuk udara, makanan, minuman, pemeliharaan suhu badan, integrasi fisik dan prokreasi (berkembang biak) dianggap sebagai fungsi dari Id. Rasa rindu, agresif dan kecenderungan berkelahi merupakan dorongan dari Id. Berkaitan dengan dorongan primer tersebut adalah perlindungan terhadap rasa nyeri, penderitaan, marah dan keinginan untuk memuaskan rasa lapar, dahaga dan mencegah mati lemas. 2. EGO Ego lebih teratur organisasinya dan tugasnya ialah menghindari ketidak senangan dan rasa nyeri dengan melawan atau mengatur pelepasan dorongan nalurinya agar sesuai dengan tuntutan dunia luar. Perbedaan dengan Id ialah Ego bekerja sesuai dengan prinsip kenyataan (reality principle) dan mempunyai mekanisme pembelaan, misalnya represi, salah pindah (displacement), penyangkalan (denial), regresi, identifikasi, proyeksi dan seterusnya. Prinsip kenyataan ditandai dengan rasa kenyataan (sense of reality), uji kenyataan (reality testing), dan adaptasi pada kenyataan. Mula-mula bayi itu tidak sanggup membedakan badannya dari dunia luar. Ego terbentuk apabila anak mulal merasa ada perbedaan antara badannya dan dunia luar, yaitu sewaktu ia berumur 1 tahun. Ego berurusan dengan lingkungan melalui persepsi, pikiran, perasaan dan tindakan yang sadar. Ego mengandung aspek evaluasi, pertimbangan, kompromi, cara penyelesaian masalah dan penciptaan pembelaan dari kepribadian. Organisasi ego meliputi fungsi penting seperti persepsi, ingatan, evaluasi dan uji realitas. Sintesis pengalaman, dan bertindak sebagai pencegah antara dunia dalam dan dunia luar, dapat dianggap sebagai alat integrative dan eksekutif.

Jadi merupakan alat untuk memelihara harmoni (keserasian) antara dorongan dari Id, dan kebutuhan dan aspirasi dari superego. Ego yang kuat dan sehat adalah apabila bertindak secara efektif dan rasional terhadap persyaratan realitas dan masyarakat. Orang dengan ego yang berkembang dan matang menunjukkan keluwesan dalam menangani berbagai stress kehidupan tanpa mengambil cara yang tidak luwes, yang membedakan gejala neurosis, psikosis dan gangguan kepribadian. Evaluasi psikososial dapat secara relative bebas dari konflik pada ego yang matang. 3. Super Ego Segmen hipotesis ketiga dari kepribadian adalah super ego yang bertindak sebagai pengamat (observer), pengevaluasi fungsi ego, dan membandingkan dengan standar yang ideal dari perilaku yang diterima dari ouang tua, guru dan orang lain yang penting dalam masa anak yang sedang tumbuh. Super ego mulai nyata pada waktu kompleks Oedipus diselesaikan (3-5 tahun) dan dengan ini identifikasi dengan orang tua dari sex yang sama dipercepat. Upaya untuk menolaknya memberikan kepada superego sifat menolak atau menghalangi. Sekitar usia 4-6 tahun, anak mengarah kepada kekuatan superior darl orang tuanya dengan menerima aturan dan kepatuhan yang absolute. Tetapi apabila ia telah bergaul dengan anak-anak lain dan orang dewasa, ia akan lebih terbuka dan timbul realisme moral. Selama masa latent (umur 5-6 tahun hingga pubertas) dan sesudahnya, anak meneruskan perkembangannya berdasarkan identifikasi sebelumnya, tetapi sekarang melalui identifikasi dengan guru, pahlawan dan orang lain yang dikaguminya. Ajaran norma dan hukuman yang diperoleh dari orang tuanya dimasukkan (secara tidak sadar) kedalam superego (internalisasi) yang selanjutnya akan menilai dan membimbing perilakunya dari dalam, biarpun orang tuanya tidak ada lagi disampingnya. Superego yang terbentuk

pada usia 5-6 tahun membantu ego dalam pengawasan dan pengaturan pelepasan impuls dari Id. II. 3. Gangguan Kepribadian II.3.1. Pengertian Gangguan Kepribadian Gangguan kepribadian adalah kondisi patologik dari ciri kepribadian seseorang yang menjadi tidak fleksibel dan sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan hidup, sehinggga menimbulkan hendaya di dalam fungsi sosial atau pekerjaan atau penderitaan subjektif bagi dirinya. Orang yang menderita gangguan kepribadian mempunyai sifat-sifat kepribadian yang sangat kaku dan sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Akibatnya. dia akan mengalami kerusakan berat dalam hubungan sosialnya atau dalam bidang pekerjaannnya atau dirinya terasa sangat menderita. Gejala-gejala dari orang dengan gangguan kepribadian biasanya alloplastik. Artinya, orang dengan gangguan kepribadian akan berusaha merubah lingkungan untuk disesuaikan dengan keinginannya. Selain itu, gejala-gejalanya juga egosintonik. Artinya, orang dengan gangguan kepribadian dapat menerima dengan baik gejala-gejalanya. Umumnya orang dengarn gangguan kepribadian menolak bantuan secara psikiatrik. Sampai saat ini penyebab gangguan kepribadian belum diketahui dengan pasti. Tetapi, terdapat beberapa faktor diduga mempunyai hubungan yang erat dengan gangguan kepribadian. II.3.2 Meramalkan akibat gangguan kepribadian Biasanya gejala gangguan kepribadian akan menetap seumur hidup tetapi sebagian kecil orang dengan gangguan kepribadian mengalami pengurangan gejala dengan bertambahnya usia.

Orang dengan gangguan kepribadian mempunyai kemungkinan lebih besar akan mengalami kesulitan berupa hal, seperti : Pekerjaan Orang dengan gangguan kepribadian lebih sering mengalami kesulitan dalam pekerjaan dibandingkan populasi umum, mereka mungkin akan sering gantiganti pekerjaaan Penyesuaian diri dalam perkawinan Orang dengan gangguan kepribadian lebih banyak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dalam perkawinannya Hubungan sosial Orang dengan gangguan kepribadian sering mengalami kesulitan berhubungan sosial dalam kehidupan sehari-hari mungkin sering bertengkar dengan tetangga atau teman sekantor. Kecenderungan penyalahgunaan obat/zat Orang dengan gangguan kepribadian lebih banyak yang menyalahkan gunakan obat/zat terutama alkohol Sering berurusan dengan petugas hukum Orang dengan gangguan kepribadian lebih sering berurusan dengan petugas hukum seperti polisi II.3.3. Berbagai Jenis Gangguan Kepribadian Kurt Schneider (1923) membagi gangguan kepribadian menjadi sepuluh jenis menurut sifat yang terganggu paling menonjol. Eugen kahn (1928) membagi gangguan kepribadian menjadi tiga kelompok , yaitu gangguan dorongan , temperamen dan watak. Pembagian gangguan kepribadian menurut DSM-IV dikelompokkan dalatn tiga cluster : Cluster A : - gangguan kepribadian paranoid - gangguan kepribadian schizoid

- gangguan kepribadian skizotipal Cluster B : - gangguan kepribadian antisocial - gangguan kepribadian ambang - gangguan kepribadian histrionik - gangguan kepribadian, narsistik Cluster C : - gangguan kepribadian menghindar - gangguan kepribadian tergantung - gangguan kepribadian anankastik - gangguan kepribadian yang tidak ditentukan Gangguan Kepribadian Paranoid Kepribadian Paranoid ialah suatu gangguan kepribadian dengan sifat curiga yang menonjol. Orang seperti ini mungkin agresif dan setiap orang yang lain dianggap sebagai seorang aggressor terhadapnya, ia harus mempertahankan dirinya. Ia bersikap sebagai pemberontak dan angkuh untuk menahan harga diri, sering ia mengancam orang lain sebagai akibat proyeksi rasa bermusuhannya sendiri. Dengan demikian ia kehilangan teman- teman dan mendapatkan banyak musuh. Dalam kepribadian paranoid kita menemukan secara berlebihan kecenderurgan yang sudah umum, yaitu suka melemparkan tanggung jawab kepada orang lain, menolak apriori sifat-sifat orang lain yang tidak memenuhi ukuran yang telah dibuatnya sendiri. Untuk mempertahankan rasa harga diri, dibuatnya keterangan yang tidak masuk akal tentang kesalahan-kesalahannya, tetapi yang memuaskan emosinya sendiri. Sering diduganya bahwa orang lainlah yang tidak adil, bermusuhan dan agresif. Hypersensitif, banyak curiga, iri hati dan cemburu, merasa diri penting, kecenderungan selalu menyalahkan orang lain dan mencurigai orang lain bermotivasi buruk terhadap dirinya. Ciri-ciri tersebut

menghalangi penderita untuk mendapatkan hubungan interpersonal yang memuaskan. Kriteria Diagnostik Gangguan Paranoid :(3 ) A. Ketidakpercayaan dan kecurigaan yang pervasif kepada orang lain sehingga motif mereka dianggap sebagai berhati dengki, dimulai pada masa dewasa awal dan tampak dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh empat (atau lebih) berikut : 1. Menduga, tanpa dasar yang cukup, bahwa orang lain memanfaatkan, membabayakan, atau menghianati dirinya.
2.

Preokupasi dengan keraguan yang tidak pada tempatnya tentang loyalitas atau kejujuran teman atau rekan kerja. Enggan untuk menceritakan rahasianya kepada orang lain karena rasa takut yang tidak perlu bahwa informasi akan digunakan secara jahat melawan dirinya. Membaca arti merendahkan atau mengancam yang tersembunyi dari ucapan atau kejadian yang biasa. Secara persisten menanggung dendam, yaitu tidak memaafkan kerugian, cedera, atau kelalaian.

3.

4.

5.

6. Merasakan serangan terhadap karakter atau reputasinya yang tidak tampak bagi orang lain dan dengan cepat bereaksi secara marah atau balas menyerang. 7. Memiliki kecurigaan yang berlulang, tanpa pertimbangan, tentang kesetiaan pasangan atau mitra seksual. B. Tidak terjadi semata-mata selama perjalanan skizofrenia, suatu gangguan mood dengan ciri psikotik, atau gangguan psikotik lain dan bukan karena efek fisiologis langsung dari kondisi medis umum. Diagnosa Banding (3)

Gangguan delusional : karena waham yang terpaku tidak ditemukan pada gangguan kepribadian paranoid Skizofrenia paranoid : karena halusinasi dan fikiran formal tidak ditemukan pada gangguan kepribadian paranoid. Gangguan kepribadian ambang : karena pasien paranoid jarang mampu terlibat secara berlebihan dan rusuh dalam persahabatan dengan orang lain seperti pasien ambang. Pasien paranoid tidak memiliki karakter antisosial sepanjang riwayat perilaku antisosial. Gangguan schizoid : adalah menarik dan menjauhkan diri tetapi tidak memiliki gagasan paranoid.

Terapi :
-

Psikoterapi : bila diminta bantuan, maka dalam bimbingan dititik

beratkan pada pengalaman subjektif dalam pribadinya dan pada interaksi dengan dokter.
-

Farmakoterapi : berguna dalam menghadapi

agitasi dan

kecemasan. Pada sebagian besar kasus suatu obat antiansietas seperti diazepam (valium) adalah memadai. Tetapi mungkin perlu untuk menggunakan suatu antipsikotik, seperti thioridazine (mellaril) atau haloperidol (haldol) dalam dosis kecil dan dalam periode singkat untuk menangani agitasi parah atau pikiran yang sangat delusional. Gangguan Kepribadian Skizoid Malu-malu, hypersensitif, menyendiri, menghindarkan hubungan rapat dan kompetitif dan sering sekali eksentrik. Sering melamun dan tidak dapat menyatakan perasaan marah terhadap pengalaman-pengalaman yang mengganggu dirinya biasanya dia beraksi tidak perduli. Kriteria diagnostik untuk kepribadian schizoid (3)

A.

Pola pervasif pelepasan dari hubungan sosial dan rentang pengalaman

emosi yang terbatas dalam lingkungan interpersonal, dimulai pada masa dewasa awal dan ditemukan dalam berbagai korteks, seperti yang dinyatakan oleh empat (atau lebih) berikut: 1. Tidak memiliki minat ataupun menikmati hubungan dekat, termasuk menjadi bagian dari keluarga. 2. Hampir selalu memilih kegiatan secara sendirian.
3.

Memiliki sedikit, jika ada, rasa tertarik untuk melakukan pengalaman

seksual dengan orang lain. 4. Merasakan kesenangan dalam sedikit, jika ada aktifitas. 5. Tidak memiliki teman dekat atau orang yang dipercaya selain sanak saudara derajat pertama. 6. Tampak tidak acuh terhadap pujian atau kritik orang lain. 7. Menunjukkan kedinginan emosi, pelepasan atau pendataran afektivitas. B. Tidak terjadi semata-mata selama perjalanan skizofrenia , gangguan , suatu gangguan mood dengan ciri psikotik , gangguan psikotik lain atau suatu gangguan perkembangan pervasif , dan bukan karena efek fisiologis langsung dari kondisi medis umum. Diagnosis Banding (3) - Berbeda dengan pasien skizofrenia dan gangguan kepribadian skizotipal, pasien dengan gangguan skizoid tidak memiliki sanak saudara skizofrenik, dan mereka mungkin memiliki riwayat pekerjaan yaiig berhasil, jika terisolasi.
-

Secara teoritis, perbedaan utama antara pasien gangguan kepribadian skizotipal dan pasien gangguan kepribadian skizoid adalah bahwa pasien skizotipal menunjukan kemiripan yang lebih banyak dengan pasien

skizofrenik dalam hal keanehan persepsi, pikiran, perilaku dan komunikasi.


-

Pasien gangguan kepribadian menghindar adalah terisolasi tetapi memiliki keinginan kuat untuk berperan serta dalam aktifitas, suatu karakteristik yang tidak ditemukan pada pasien dengan gangguan kepribadian schizoid

Terapi :
-

Psikoterapi : psikoterapi suportif, bimbingan dalam cara hidup, anjuran untuk mengambil bagian dalam kegiatan sosial dan hubungan antar manusia. Farmakologi terapi : farmakologi terapi dengan antipsikotik dosis kecil, antidepresan dan psikostimulan telah efektif pada beberapa pasien.

Gangguan Kepribadian Skizotipal Sering ditemukan pelbagai campuran kecemasan, depresi, dan afek disforik lainnya. Selama periode stres yang berat dapat timbul gejala psikotik yang sepintas. Karena keanehan cara pikirnya orang dengan gangguan kepribadian skizotipal cenderung berkeyakinan eksentrik, seperti keyakinan agama yang aneh-aneh. Kriteria Diagnostik Gangguan Kepribadian Skizotipal (3) A. Pola pervasif deficit sosial dan interpersonal yang ditandai oleh ketidak senangan akut dengan, dan penurunan kapasitas untuk, hubungan erat dan juga oleh peyimpangan kognitif atau persepsi dan perilaku eksentrik, dimulai pada masa dewasa awal dan tampak dalam berbagai konteks , seperti yang ditunjukkan oleh lima (atau lebih) berikut: 1. Gagasan yang menyangkut diri sendiri (ideas of reference) kecuali waham yang menyangkut diri sendiri.

2.

Keyakinan aneh atau pikiran magis yang mempengaruhi perilaku dan tidak konsisten dengan norma cultural (misalnya, percaya takhyul), (superstitiousness), percaya dapat melihat apa yang akan terjadi (clairvoyance), telepati, atau indera keenam, pada anak-anak dan remaja khayalan atau preokupasi yang kacau)

3. Pengalaman persepsi yang tidak lazim, termasuk ilusi tubuh.


4.

Pikiran dan bicara yang aneh (misalnya, samar-samar, sirkumstansialitas, metaforik, terlalu berbelit-belit, atau stereotipik )

5. Kecurigaan atau ide paranoid. 6. Afek yang tidak sesuai atau terbatas. 7. Perilaku atau penampilan yang aneh, eksentrik atau janggal.
8.

Tidak memiliki teman akrab atau orang yang dipercaya selain sanak saudara derajat pertama

9. Kecemasan sosial yang bertebihan yang tidak menghilang dengan keakraban dan cenderung disertai dengan ketakutan paranoid ketimbang pertimbangan negative tentang diri sendiri. B. Tidak terjadi semata- mata selama perjalanan skizofrenia , suatu gangguan mood dengan ciri psikotik lain , atau suatu gangguan perkembangan pervasif Diagnosa Banding ^ Secara teoritis, pasien dengan gangguan kepribadian skizotipal dapat dibedakan dari pasien gangguan kepribadian schizoid dan menghindar oleh adanya keanehan dalam perilaku, pikiran, persepsi, dan komunikasi mereka dan kemungkinan oleh riwayat keluarga yang jelas adanya skizofrenia.

Pasien gangguan kepribadian skizotipal dapat dibedakan dari pasien oleh tidak adanya psikosis. Jika psikosis memang

skizofrenik

ditemukan, gejala tersebut adalah singkat dan terpecah.


^

Pasien gangguan kepribadian paranoid ditandai oleh kecurigaan,

tetapi tidak memiliki perilaku yang aneh seperti pada pasien gangguan kepribadian skizotipal. Terapi :
-

Psikoterapi : pikiran yang aneh dan ganjil dari pasien gangguan kepribadian skizotipal harus ditangani dengan berhati-hati. Beberapa pasien terlibat dalam pemujaan, praktek religius yang aneh, dan okulitis. Ahli terapi tidak boleh menertawakan aktifitas tersebut atau mengadili kepercayaan atau aktifitas mereka.

- Farmakoterapi : medikasi antipsikotik berguna untuk mengatasi gagasan mengenai diri sendiri, waham, dan gejala lain dari gangguan dan dapat digunakan bersama-sama dengan psikoterapi. Hasil yang positif telah dilaporkan dengan haloperidol. Anti depresan digunakan jika ditemukan suatu komponen depresif dari kepribadian. Gangguan Kepribadian Anti Soslal Disini pola tingkah laku berkali-kali berlawanan dengan peraturan masyarakat. Penderita sangat egois, tldak dapat setia kawan, tidak memperdulikan nilai sosial dan tidak bertanggung jawab, kasar, impulsif, tidak bisa merasa bersalah atau belajar dari pengalaman atau hukuman. Bila mengalami frustasi selalu menyalahkan orang lain dan membenarkan diri sendiri. Kriteria Diagnostik Gangguan Kelpribadian Anti Sosial (3)

A. Terdapat pola pervasif tidak menghargai dan melanggar hak orang lain yang terjadi sejak usia 45 tahun , seperti yang ditunjukkan oleh tiga ( atau lebih ) berikut : 1. Gagal untuk mematuhi norma sosial dengan menghormati perilaku sesuai hukum seperti yang ditunjukkan dengan berulang kali melakukan tindakan yang menjadi dasar penahanan. 2. Ketidakjujuran, seperti yang ditunjukkan oleh berulang kali berbohong, menggunakan nama samaran, atau menipu orang lain untuk mendapatkan keuntungan atau menipu orang lain untuk mendapatkan keuntungan atau kesenangan pribadi. 3. Impulsivitas atau tidak dapat merencanakan masa depan 4. Iritabilitas dan agresivitas, seperti yang ditunjukkan oleh perkelahian fisik atau penyerangan yang berulang. 5. Secara sembrono mengabaikan keselamatan diri sendiri atau orang lain.
6.

Terus menerus tidak bertanggung jawab, seperti ditunjukkan oleh kegagalan berulang kali untuk mempertahankan perilaku kerja atau menghormati kewajiban financial. Tidak adanya penyesalan, seperti yang ditunjukkan oleh acuh tak acuh terhadap atau mencari-cari alasan telah disakiti, dianiaya, atau dicuri oleh orang lain

7.

B. Individu sekurang-kurangnya berusia 18 tahun. C. Terdapat tanda-tanda gangguan konduksi dengan onset sebelum usia 15 tahun. D. Terjadinya perilaku antisosial tidak semata-mata selama perjalanan skizofrenia atau suatu episode manik. Diagnosa Banding

Gangguan kepribadian antisosial dapat dibedakan dari perilaku illegal dimana gangguan kepribadian antisocial melibatkan banyak bidang dalam kehidupan seseorang. Dalam mendiagnosis gangguan kepribadian antisosial, klinisi harus

mempertimbangkan efek yang mengganggu dari status sosioekonomi, latar belakang kultural, dan jenis kelamin pada manifestasinya, selain itu diagnosis gangguan kepribadian antisosial tidak diperlukan jika retardasi mental, skizofrenia, atau mania dapat menjelaskan gejala. Terapi
-

Psikoterapi : belum diketahui pengobatan yang optimal tetapi dokter dapat membantu penderita dan keluarganya mengambil keputusan tentang penanganan. Bila perlu dapat diadakan institusionalisasi untuk sementara waktu. Pada umumnya dapat dianjurkan kedua-duanya baik terapi individual maupun terapi kelompok. Kadang-kadang terjadi perbaikan terutama pada umur 30 dan 40 tahun. Perbaikan ini tidak harus disertai dengan penyesuaian diri yang baik. Banyak penderita yang masih terus memperlihatkan kesukaran hubungan antar manusia, iritabilitas, rasa permusuhan terhadap suami atau isteri. Tetangga dan agama. Alasan yang sering diberikan oleh penderita tentang perbaikan ini adalah kematangan, perkawinan, takut dipenjarakan dan tanggung jawab yang bertambah. Farmakoterapi : digunakan untuk menghadapi gejala yang diperkirakan akan timbul seperti kecemasan, penyerangan, dan depresi. Tetapi, karena pasien seringkali merupakan penyalahgunaan zat, obat harus digunakan secara bijaksana. Jika pasien menunjukkan bukti-bukti adanya gangguan defisitatensi hiperaktivitas, psikostimulan, seperti methylphenidate (Ritalin), mungkin digunakan. Harus dilakukan usaha untuk mengubah metabolisme katekolamin dengan obat-obatan dan untuk mengendalikan perilaku impulsif

dengan obat antiepileptik, khususnya jika bentuk gelombang abnormal ditemukan pada EEG. Gangguan Kepribadian Ambang Sering ditemukan sikap melawan terhadap masyarakat dan pandangan pesimistik. Juga sering ada pergantian antara sikap ketergantungan dengan sikap mandiri. Apabila ada periode stres yang berat, kadang-kadang ada gejala psikotik yang lama dan parahnya tidak cukup menegakkan diagnosis tambahan. Kriteria Diagnostik Gangguan Kepribadian Ambang (3) Pola pervasif ketidakstabilan hubungan interpersonal, citra diri, dan afek, dan impulsivitas yang jelas pada dewasa awal dan ditemukan dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh lima (atau lebih) berikut :
1.

Usaha mati-matian untuk menghindari ketinggalan yang nyata atau

khayalan. Catatan tidak termasuk perilaku bunuh diri atau mutilasi dari yang ditemukan dalam criteria 5. 2. Pola hubungan interpersonal yang tidak stabil dan kuat yang ditandai oleh perubahan antara ekstrim-ekstrim idealisasi dan devaluasi. 3. Gangguan identitas : citra diri atau perasaan diri sendiri yang tidak stabil secara jelas dan persisten
4.

lmpulsivitas

pada

sekurangnya

dua

bidang

yang

potensial

membahayakan diri sendiri (misalnya: berbelanja, seks, penyalahgunaan zat, ngebut gila-gilaan, pesta makan). Catatan : tidak termasuk perilaku bunuh diri atau mutilasi diri yang ditemukan dalam criteria 5. 5. Perilaku, isyarat, atau ancaman bunuh diri yang berulang kali, atau perilaku mutilasi diri.

6.

Ketidakstabilan afektif karena reaktivitas mood yang jelas (misalnya,

disforia episodik kuat, iritabilitas atau kecemasan biasanya berlangsung beberapa jam dan jarang lebih dari beberapa hari).
7. 8.

Perasaan kosong yang kronis. Kemarahan yang kuat dan tidak pada tempatnya atau kesulitan dalam

mengendalikan kemarahan (misalnya, sering menunjukkan temper, marah terus menerus, perkelahian fisik berulang kali).
9.

Ide paranoid yang transien dan berhubungan dengan stress, atau

gejala disosiatif yang parah. Diagnosis Banding (3) Pembedaan dari skizofrenia dilakukan berdasarkan tidak adanya episode psikotik, gangguan pikiran, atau tanda skizofrenia klasik lainnya yang berkepanjangan yang dimiliki pasien ambang. Pasien gangguan kepribadian skizotipal menunjukkan pikiran yang sangat aneh, gagasan yang aneh, dan gagasan menyangkut diri sendiri yang rekuren. Pasien gangguan kepribadian paranoid ditandai oleh kecurigaan yang ekstrim. Pada umumnya, pasien gangguan kepribadian ambang menunjukkan perasaan kekosongan yang kronis, impulsivitas, mutilasi diri, episode psikotik singkat, usaha bunuh diri manipulatif, dan biasanya keterlibatan yang menuntut dalam hubungan erat. Terapi Psikoterapi : interaksi dengan anggota staf yang terlatih dari berbagai disiplin dan dibekali dengan terapi kerja, rekreasional, dan kejuruan.
-

Farmakoterapi : antidepresan memperbaiki mood yang terdepresi yang sering ditemukan pada pasien. MAOI adalah efektif dalam memodulasi

perilaku impulsif pada beberapa pasien. Benzodiazepin, khususnya alprazolam, membantu kecemasan dan depresi, tetapi beberapa pasien menunjukkan disinhibisi dengan kelas obat tersebut. Antikonvulsan seperti karbamazepin, padat meningkatkan fungsi global pada beberapa pasien. Obat serotonergik, seperti fluoxetine, adalah membantu pada beberapa kasus. Gangguan Kepribadian Histrionik Labilitas emosi, bereaksi seeara berlebihan, dramtisasi diri sendiri untuk menarik perhataian dan menggoda hati orang lain (dengan sadar atau tidak sadar). Kepribadian ini juga menunjukkan infantilitas, sifat egosentris, sombong dan biasanya disertai banyak tuntutan. Kriteria Diagnostik Gangguan Kepribadian Histrionik Pola pervasif emosionalitas dan mencari perhatian yang berlebihan, dimulai pada masa dewasa muda dan tampak dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh lima ( atau lebih ) berikut :
1.

Tidak merasa nyaman dalam situasi dimana ia tidak merupakan pusat

perhatian. 2. Interaksi dengan orang lain sering ditandai oleh godaan seksual yang tidak pada tempatnya atau perilaku provokatif. 3. Menunjukkan pergeseran emosi yang cepat dan ekspresi emosi yang dangkal.
4.

Secara terus menerus menggunakan penampilan fisik untuk menarik Memiliki gaya bicara yang sangat impresionistik dan tidak memiliki Menunjukkan dramitasi diri, teatrikal, dan ekspresi emosi yang

perhatian kepada dirinya.


5.

perincian.
6.

berlebihan.

7. 8.

Mudah disugesti, yaitu mudah dipengaruhi oleh orang lain atau situasi. Menganggap hubungan menjadi lebih intim ketimbang keadaan

sebenarnya. Diagnosis Banding ( 3 )


-

Perbedaan

antara

gangguan

kepribadian

histrionik

dan

gangguan

kepribadian ambang adalah sukar. Pada gangguan kepribadian ambang, usaha bunuh diri, difusi identitas dan episode psikotik singkat adalah lebih sering. Walaupun kedua kondisi dapat didiagnosis pada pasien yang sama, klinisi harus memisahkan keduanya. Gangguan somatisasi sindroma Briquet dapat terjadi bersama-sama dengan gangguan kepribadian histrionik. Pasien dengan gangguan psikotik singkat dan gangguan disosiatif mungkin perlu mendapatkan diagnosis penyerta gangguan kepribadian histrionik. Terapi
-

Psikoterapi : dokter harus waspada bila pada permulaan pengobatan sudah kelihatan ada perbaikan, karena ini mungkin hanya untuk menyenangkannya. Karena kemampuan komunikasinya kurang, maka yang dibimbing adalah. perilaku yang nyata saja. Farmakoterapi : dapat ditambahkan jika gejala adalah menjadi sasarannya seperti penggunaan antidepresan untuk depresi dan keluhan somatik, obat antiansietas untuk kecernasan dan antipsikotik untuk derealisasi dan ilusi.

Gangguan Kepribadian Narsistik Sering ada afek depresif, sering juga ada perhatian terhadap diri sendiri secara berlebih disertai preokupasi dalam berdandan dan berusaha agar dirinya tetap tampak muda, disertai rasa iri hati kronik dan mendalam

terhadap orang lain. Kadang-kadang ada pula preokupasi dengan rasa nyeri dari berbagai keluhan fisik. Apabila ada kekurangan, kekalahan atau perilaku yang tidak bertanggung jawab dari dirinya, maka orang tersebut sering membenarkan diri dengan rasionalisasi, atau berdusta. Perasaannya sering dipalsukan agar memberi kesan kepada orang lain. Kriteria Diagnostik Gangguan Kepribadian Narsistik (3) Pola perfsif kebesaran (dalam khayalan atau perilaku), membutuhkan kebanggaan, dan tidak ada empati, dimulai pada masa dewasa awal dan tampak dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh lima (atau lebih) berikut :
1.

Memiliki rasa kepentingan diri yang besar (misalnya melebih-

lebihkan bakat dan kemampuannya, mengharap untuk dikenal sebagai seorang yang hebat tapi tidak sepadan). 2. Preokupasi dengan khayalan akan keberhasilan, kekuatan, kecerdasan, kecantikan, atau cinta ideal yang tidak terbatas. 3. Yakin bahwa ia adalah khusus dan unik dan dapat dimengerti hanya oleh atau harus berhubungan dengan orang lain (atau institusi) yang khusus atau memiliki status tinggi. 4. Membutuhkan kebanggaan yang berlebihan 5. Memiliki perasaan bernama besar, yaitu harapan yang tidak beralasan akan perlakuan khusus atau kepatuhan otomatis sesuai harapannya.
6.

Eksploatif secara interpersonal, yaitu mengambil keuntungan dari

orang lain untuk mencapai tujuannya sendiri. 7. Tidak memiliki tempat, tidak mau mengenali atau mengetahui perasaan dan kebutuhan orang lain. 8. Sering cemburu terhadap orang lain dan merasa orang lain juga cemburu kepada dirinya.
9.

Mcmperlihatkan kesombongan, sikap congkak dan sombong.

Diagnosis Banding (3)


-

Gangguan

kepribadian

ambang,

histrionik

dan

antisosial

sering

ditemukan bersama-sama dengan gangguan kepribadian narsistik, yang berarti bahwa diagnosis banding adalah sukar. Pasien dengan gangguan kepribadian narsistik memiliki kecemasan yang lebih keci daripada pasien dengan gangguan kepribadian ambang dan kehidupan mereka cenderung kurang kacau. Usaha bunuh diri juga lebih mungkin berhubungan dengan pasien gangguan kepribadian ambang dibandingkan pasien gangguan kepribadian narsistik.
-

Pasien gangguan kepribadian antisosial memberikan riwayat perilaku impulsif, seringkali disertai dengan penyalahgunaan alkohol atau zat lain, hal tersebut seringkali menyebabkan mereka mendapatkan masalah dengan hukum. Dan pasien gangguan kepribadian histrionic menunjukkan ciri-ciri eksibisionisme dap manipulativitas interpersonal yang mirip dengan pasien gangguan kepribadian narsitik.

Terapi :
-

Psikoterapi : dokter psikiatric seperti otto kernberg dan Heinz kohut menganjurkan pemakaian pendekatan psikoanalitik untuk mendapatkan perubahan, tetapi banyak penelitian yang diperlukan untuk mengabsahkan diagnosis dan untuk menentukan terapi yang terbaik.

Farmakoterapi : lithium telah digunakan pada pasien yang memiliki pergeseran mood sebagai bagian dari gambaran klinis. Karena pasien gangguan kepribadian narsistik mentoleransi penolakan secara buruk dan antara rentan terhadap depresi, suatu anti depresan mungkin juga digunakan.

Gangguan Kepribadian Menghindar Depresi , kecemasan dan kemarahan pada diri sendiri karena gagal untuk membina hubungan sosial. Kriteria Diagnostik Gangguan kepribadian Menghindar. (3) Pola perfasiv hambatan sosial, perasaan tidak cakap, dan kepekaan berlebihan terhadap penilaian negatif, dimulai pada masa dewasa awal dan tampak dalam berbagai koteks, seperti yang ditunjukkan oleh empat (atau lebih) berikut : 1. Mengindari penolakan.
2.

aktivitas

pekerjaan

yang

memerlukan

kontak

interpersonal yang bermakna karena takut akan kritik, celaan dan Tidak mau terlibat dengan orang lain kecuali merasa yakin akan

disenangi. 3. Menunjukkan keterbatasan dalam hubungan intim karena rasa takut dipermalukan atau ditertawai
4. 5.

Preokupasi dengan sedang dikritik atau ditolak dalam situasi sosial Terhambat dalam situasi interpersonal yang baru karena perasaan

tidak ada kuat 6. Memandang diri sendiri tidak layak secara sosial karena merasa dirinya tidak menarik atau lebih rendah dari orang lain. 7. Tidak biasanya enggan untuk mengambil resiko pribadi atau melakukan aktivitas baru karena dapat membuktikan penghinaan Diagnosis Banding (3) - Pasien gangguan kepribadian menghindar menginginkan interaksi sosial, dibandingkan dengan pasien gangguan kepribadian skizoid yang ingin sendirian.

- Pasien gangguan kepribadian menghindar adalah tidak menuntut, tidak mudah marah, atau tidak dapat diramalkan seperti pasien gangguan kepribadian ambang dan histrionic
-

Gangguan kepribadian menghindar dan gangguan kepribadian dependen adalah serupa. Pasien gangguan kepribadian dependen dianggap memiliki ketakutan yang lebih tinggi akan penelantaran atau tidak dicintai dibandingkan pasien gangguan kepribadian menghindar, tetapi gambaran klinisnya mungkin tidak dapat dibedakan.

Terapi :
-

Psikoterapi : latihan ketegasan adalah bentuk terapi perilaku yang dapat mengajarkan pasien untuk mengekspresikan kebutuhan mereka secara terbuka dan untuk meningkatkan harga diri mereka.

- Farmakoterapi : telah digunakan untuk menangani kecemasan dan depresi jika ditemukan sebagai gambaran beta, seperti atenolol (tenormin), untuk mengatasi hiperaktivitas system saraf otonomik, yang cenderung tinggi pada pasien dengan gangguan kepribadian menghindari, khususnya jika mereka menghadapi situasi yang menakutkan . Gangguan Kepribadian Dependen Mudah lelah, kurang bersemangat, kurang minat, terlalu sensitive terhadap stres dan emosi sukar diajak bersenang-senang. Selalu terdapat preokupasi bahwa dirinya akan ditinggalkan, kecuali apabila ia telah berhasil membentuk hubungan yang permanen dengan seseorang yang dapat memuaskan kebutuhan ketergantungannya. Kriteria Diagnostik Gangguan Kepribadian Dependen (3) Kebutuhan yang perpasiv dan berlebihan untuk diasuh, yang menyebarkan perilaku tunduk dan menggantung dan rasa takut akan

perpisahan, dimulai pada masa dewasa awal dan tampak dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh lima (atau lebih) berikut : 1. Memiliki kesulitan dalam mengambil keputusan setiap hari tanpa sejumlah besar nasehat dan penenteraman dari orang lain. 2. Membutuhkan orang lain untuk menerima tanggung jawab dalam sebagian besar bidang utama kehidupannya.
3.

Memiliki kesulitan dalam mengekspresikan ketidaksetujuan pada orang lain. Catatan : tidak termasuk rasa takut yang realistic akan ganti rugi.

4. Memiliki kesulitan dalam memulai proyek atau melakukan hal dengan dirinya sendiri (karena tidak memiliki keyakinan diri dalam pertimbangan atau kemampuan ketimbang tidak memiliki motivasi atau energi ) 5. Berusaha berlebihan untuk mendapatkan asuhan dan dukungan dari orang lain, sampai pada titik secara sukarela melakukan hal yang tidak meyenangkan. 6. Merasa tidak nyaman atau tidak berdaya jika sendirian karena timbulnya rasa takut tidak mampu merawat diri sendiri.
7.

Segera mencari hubungan dengan orang lain sebagai sumber dan dukungan jika hubungan dekatnya berakhir.

pengasuhan

8. Secara tidak realistic terpreokupasi dengan rasa takut ditinggal untuk merawat dirinya sendiri. Diagnosis Banding
-

Ketergantungan adalah faktor yang menonjol pada pasien gangguan kepribadian histrionic dan ambang, tetapi pasien gangguan kepribadian dependen biasanya memiliki hubungan jangka panjang dengan orang pada siapa mereka tergantung, bukannya pada sejumlah orang, dan mereka tidak cenderung manipulatif Pasien gangguan kepribadian schizoid dan skizotipal mungkin tidak dapat dibedakan dari pasien gangguan kepribadian menghindar.

Perilaku ketergantungan dapat terjadi pada pasien dengan agoraphobia, tetapi pasiep agorafobik cenderung memiliki tingkat kecemasan yang jelas atau bahkan panik

Terapi : - Psikoterapi : terapi perilaku, latihan ketegasan, terapi keluarga dan terapi kelompok, semuanya telah digunakan, dengan keberhasilan pada banyak kasus.
-

Farmakoterapi : telah digunakan untuk mengatasi gejala spesifik seperti kecemasan dan depresi, yang sering merupakan gambaran penyerta gangguan kepribadian dependen. Pasien tersebut yang mengalami serangan panik atau yang memiliki tingkat kecemasan perpisahan yang tingga mungkin tertolong oleh imipramine ( Tofranil ). Benzodiazepine dan obat serotonergik juga telah berguna. Jika depresi atau gejala menarik diri pada pasien berespon terhadap

psikostimulan, obat tersebut digunakan. Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif Terlalu menitik beratkan konformitas dan kepatuhan terhadap standar moralitas. Orang-orang dalam kelompok ini bersifat kaku, tidak fleksibel, selalu menekankan kewajiban dan disiplin, sukar bersantai. Perfeksionisme, kaku, pemalu, dan pengawasan diri yang tinggi. Kriteria Diagnostik Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif (3) Pola pervasif preokupasi dengan urutan, perfeksionisme, dan pengendalian mental dan interpersonal, dengan mengorbankan fleksibilitas, keterbukaan, dan efisiensi, dimulai pada masa dewasa awal dan tampak dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh empat (atau lebih) berikut :

1. Terpreokupasi dengan perincian, aturan, daftar, urutan, susunan atau jadwal sampai tingkat dimana aktivitas sesama hilang.
2.

Menunjukkan perfeksionisme yang mengganggu penyelesaian tugas misalnya, tidak mampu menyelesaikan suatu proyek karena tidak memenuhi standarnya sendiri yang terlalu ketat.

3. Secara berlebihan setia kepada pekerjaan dan produktivitas sampai mengabaikan aktivitas waktu luang dan persahabatan (tidak disebabkan oleh kebutuhan ekonomi yang besar) 4. Terlalu berhati-hati, teliti, dan tidak fleksibel tentang masalah moralitas, etika atau nilai-nilai (tidak disebabkan oleh identifikasi kultural atau religius)
5.

Tidak mampu membuang benda-benda yang usang atau tidak berguna walaupun tidak memiliki nilai sentimental.

6. Enggan untuk mendelegasikan tugas atau untuk bekerja dengan orang lain kecuali mereka tunduk dengan tepat caranya mengerjakan hal
7.

Memiliki gaya belanja yang kikir baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain, uang dipandang sebagai sesuatu yang harus ditimbun untuk rencana dimasa depan. Menunjukkan kekacauan dan keras kepala.

8.

Diagnosis Banding Jika ditemukan obsesi atau kompulsi yang rekuren, gangguan obsesifkompulsif harus ditulis dalam aksis l. kemungkinan pembedaan yang paling sukar adalah antara pasien rawat jalan dengan sifat obsesif-kompulsif dan pasien dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif. Diagnosis gangguan kepribadian bermakna dalam efektivitas pekerjaan atau sosialnya. Pada beberapa kasus, gangguan delusional terjadi bersama-sama dengan gangguan kepribadian dan harus dicatat.

Terapi :
-

Psikoterapi : individu ini sama sekali tidalk merasa sakit, abnormal atau menyimpang. la tidak dapat dibawa berobat ke dokter oleh orang-orang di lingkungan yang menderita karenanya, juga karena perilakunya sering berguna dalam masyarakat atau pekerjaan. Bila penderita mengalami gangguan badaniah atau gangguan psikiatrik yang lain sehingga la mengunjungi seorang dokter, maka hubungan penderita dokter ini dapat dijadikan hubungan yang dependen pada dokter dalam jangka panjang dan dengan nasehat serta efek obat apa saja maka paling sedikit keadaannya dan akibat pada lingkungannya dapat dicegah jangan sampai bertambah buruk. Farmakoterapi : Clonazepam (klonopin) adalah suatu benzodiazepine dengan antikonvulsan, pemakaian obat ini telah menurunkan gejala pada pasien dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif parah. Apakah obat ini digunakan pada gangguan kepribadian adalah tidak diketahui. Clomipramine (anafranil) dan obat serotonergik tertentu seperti fluoxetine mungkin berguna jika tanda dan gejala obsesif-kompulsif timbul.

Gangguan Kepribadian Yang Tidak Ditentukan Katagori ini adalah untuk gangguan-gangguan fungsi kepribadian yang tidak memenuhi kriteria untuk gangguan kepribadian spesifik. Contohnya adalah adanya ciri-ciri lebih dari satu gangguan kepribadian spesitik yang tidak memenuhi kriteria lengkap untuk salah satu gangguan kepribadian (kepribadian campuran) tetapi bersama-sama menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam satu atau lebih fungsi penting (misalnya, sosial atau pekerjaan). Kategori ini juga dapat digunakan jika klinis menganggap bahwa suatu gangguan kepribadian spesifik yang tidak dimasukkan kedalam klasifikasi ini adalah sesuai.

Contohnya adalah gangguan kepribadian pasif-agresif dan gangguan kepribadian depresif. Gangguan Kepribadian Pasif - Agresif Orang dengan gangguan kepribadian pasif- agresif ditandai oleh obstruksionisme (senang menghalang-halangi), menunda-nunda, sikap keras kepala dan tidak efisien. Kriteria Riset Gangguan Kepribadian Pasif- Agresif A. Pola perpasif sikap negatifistik dan resistensi pasif terhadap tuntutan akan kinerja yang adekuat , dimulai pada masa dewasa awal dan tampak dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh empat (atau lebih) berikut: 1. Secara pasif menolak memenuhi tugas sosial dan pekerjaan rutin. 2. Mengeluh tidak dimengerti dan tidak dihargai oleh orang lain. 3. Cemberut dan argumentative 4. Tanpa alasan mengkritik dan mencemooh atasan 5. Menunjukkan rasa cemburu dan kebencian terhadap mereka yang tampaknya lebih beruntung.
6.

Suara yang diperkeras dan keluhan terus-menerus atas ketidak beruntungan dirinya

7. Berganti-ganti antara tantangan permusuhan dan perasaan dosa B. Tidak terjadi semata-mata selama episode depresif berat dan tidak diterangkan lebih baik oleh gangguan distimik Diagnosis Banding Gangguan kepribadian pasif-agresif perlu dibedakan dari gangguan kepribadian histrionik dan ambang. Tetapi pasien gangguan kepribadian pasif-

agresif adalah dramatik, afektif dan agresif secara terbuka dibandingkan dengan pasien gangguan kepribadian histrionik dan ambang. Terapi - Psikoterapi : pasien gangguan kepribadian pasif-agresif yang mendapatkan psikoterapi suportif memiliki hasil yang baik. Tetapi psikoterapi untuk pasien dengan gangguan kepribadian pasif-agresif memiliki banyak kekurangan, dalam memenuhi kebutuhan pasien seringkali mendukung patologi mereka, tetapi menolak permintaan mereka adalah menolak mereka. Klinisi harus mengobati kecendrungan bunuh diri terhadap tiap ekspresi kemarahan yang tersembunyi dan bukan sebagai orang yang akan mengobati kehilangan obyek pada gangguan depresif berat. - Farmakoterapi : antidepresan harus diresepkan hanya jika ada indikasi klinis depresi dan kemungkinan bunuh diri. Beberapa pasien berespon terhadap benzodiazepine dan psikostimulan, tergantung pada keadaan klinis. Gangguan Kepribadian Depresif Orang dengan gangguan kepribadian depresif ditandai oleh sifat seumur hidup yang masuk kedalam spektrum depresif. Mereka adalah pesimistik, anhedonik, terikat pada kewajiban, meragukan diri sendiri, dan tidak gembira secara kronis. Gangguan ini baru diklasifikasiakan dalam DSM-IV, tetapi kepribadian .... Pada awal abad ke 20 oleh dokter psikiatrik eropa, seperti Ernst Kretschmer. Diagnosis Banding (3) Gangguan distimik adalah gangguan mood yang ditandai oleh fluktuasi besar dalam mood dibandingkan yang ditemukan pada gangguan

kepribadian depresif. Gangguan kepribadian adalah kronis dan seumur hidup, sedangkan gangguan distimik adalah episodic, dapat terjadi pada setiap waktu, dan biasanya memiliki stressor pencetus. Kepribadian depresif dapat dianggap sebagai spektr u m parah. Pasien gangguan kepribadian menghindar adalah introvert dan tergantung tetapi cenderung lebih merasa cemas daripada depresi, dibandingkan orang dengan kepribadian depresif. Terapi
-

kondisi afektif dimana

gangguan distimik dan gangguan depresif memiliki varian yang lebih

Psikoterapi : merupakan pengobatan terpilih untuk gangguan kepribadian depresif. Pasien berespon terhadap psikoterapi berorientasi tilikan, dan arena tes realitas pasien adalah baik, mereka mampu menggali tilikan kedalam psikodinamika penyakitnya dan memahami efeknya pada hubungan interpersonal mereka. Terapi kognitif membantu pasien mengerti manifestasi kognitif dari perasaan rendah diri dan pesimisme mereka. Jenis psikoterapi lain yang berguna adalah psikoterapi kelompok dan terapi interpersonal. Psikofarmakologi : pemakaian medikasi anti depresan, khususnya obat serotonerik tertentu seperti setraline (Zoloft), 50mg sehari. Beberapa pasien berespon terhadap dosis kecil psikostimulan, seperti amfetamin, 510 mg sehari. Pada semua kasus, obat psikofarmakologis harus dikombinasikan dengan psikoterapi untuk mencapai efek yang maksimal.

BAB III PENUTUP Kepribadian ialah ekspresi keluar mengenai pengetahuan serta perasaan yang dialami secara subjektif oleh seseorang dan ekspresi keluar yang dapat diamati ini, menunjuk pada keseluruhan pola pikiran,. perasaan dan perilaku yang sering digunakan oleh orang itu dalam usaha penyesuaian diri yang terus menerus dalam hidupnya sehingga ia dapat dikenal dari polanya itu. Pematangan kepribadian dipengaruhi oleh faktor keturunan, faktor badaniah, psikologik dan sosial, terutama pada masa kanak-kanak. Gangguan kepribadian menurut DSM-IV dibagi meniadi tiga cluster yaitu:
-

Cluster A : kepribadian paranoid, skizoid dan skizotipal Cluster B : kepribadian antisosial, ambang, histrionik, narsistik. Cluster C : kepribadian menghindar, tergantung, anankastik dan tidak spesifik.

Dalam pengobatan perlu diingat bahwa sifat - sifat gangguan termasuk dalam pola seumur hidup dan penderita tidak motivasi dasar untuk berubah. Terapi dapat memfokus pada aspek kerugian akibat perilaku ini. Selain daripada terapi individu yang berlangsung lama, ada baiknya bila penderita dimasukkan ke dalam terapi kelompok sehingga ia dapat belajar cara-cara baru mengenai hubungan antar manusia.

DAFTAR PUSTAKA 1. Maramis. W.F; Gangguan kepribadian dalam catatan ilmu

kedokteran jiwa ; Airlangga University press ; Surabaya ; 1995 2. Kaplan H.I, M.D and Sadock B.J , M.D; Theories of personality and psychopathology in synopsis of psychiatry , sixth edition ; William and wilkins, Baltimore Usa ; 1991
3.

Direktorat Kesehatan Jiwa, Direktorat Jendral Pelayanan Medik, Departemen Kesehatan RI, Pedoman Penggolongan dari Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia, Edisi III , Jakarta , 1993.