Anda di halaman 1dari 582

PENDEKAR LAKNAT

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Rabu, 21 September 2011 Pendekar Laknat Judul Lama : Pendekar 3 Jaman Saduran : SD Liong Jilid 1 Pusar bumi. MENGAPA? MENGAPA? MENGAPA? Demikian pertanyaan yang selalu menghuni dalam benak Siau-liong, jejaka berumur 16 tahun yang sedang belajar pada Tabib-sakti-jenggot-naga Kongsin To. Mengapa gurunya melarang ia untuk menuntut balas atas kematian ayahnya....? Kata gurunya, larangan itu adalah pesan terakhir dari ayahnya, pada saat hendak menghembuskan napas terakhir. Mengapa mendiang ayahnya berpesan begitu? Dan mengapa pula gurunya melarang ia berkeliaran ke balik gunung? Sudah 10 tahun lamanya, pertanyaan itu mencengkam pikirannya, tanpa penyelesaian. 2 Saat itu gurunya sedang pergi memetik daun obat kelain tempat. Sebelumnya, Siau-liong telah dipesan supaya jangan berkeliaran ke balik gunung dan supaya tiap hari giat berlatih silat saja. Entah bagaimana saat itu, timbullah keinginan Siau-liong untuk mengetahui apakah dibalik rahasia dari larangan gurunya itu. Tentang kematian ayahnya, menurut keterangan gurunya, telah dibunuh oleh To Hun-ki, ketua partai Kong tong-pay. Tong Gun-liong, demikian nama ayah Siau-liong, adalah murid kesayangan To Hun-ki. Demikian keterangan sekedar yang diberikan gurunya Siauliong, mengenai kematian ayahnya. Tetapi mengapa ayah Siau-liong sampai dibunuh oleh gurunya sendiri, Kongsun Sinto tak tahu. Diam-diam Siau-liong, berjanji dalam hati, kelak akan menyelidiki rahasia pembunuhan ayahnya itu sampai jelas. Rupanya memang sudah menjadi sifat manusia. Makin dilarang makin ingin tahu. Dan pada usia menjenjang dewasa itu, darah Siau-liong memang panas-panasnya. Serentak ia memutuskan untuk meninjau tempat dibalik gunung itu. Ternyata jalan di bagian belakang gunung yang didiami itu, merupakan sebuah jalan buntu. Terputus oleh sebuah jurang yang curam.

Setelah puas meninjau keadaan sekeliling tempat itu, karena hari sudah sore, iapun pulang. Pada keesokan harinya, barulah ia datang lagi dan mulai melakukan penyelidikan. Disitu terdapat sebuah mulut gua. Bentuknya macam kerucut, atas sempit bawah lebar. Ketika mengamati, ia terkejut. 3 Di atas mulut gua terdapat tiga buah ukiran huruf: "Lembah penasaran" Kini Siau-liong menyadari apa sebab gurunya melarangnya kesitu. Tetapi Siau-liong makin tertarik. Adakah gua itu dihuni orang? Ia hendak memasuki gua itu. Tiba diambang mulut gua, sehembus angin dingin meniup sehingga ia menggigil. Teringat akan pesan gurunya, ia bergegas hendak keluar. Tetapi ia tertegun ketika melihat kedua sisi pintu gua terdapat beberapa ukiran huruf, berbunyi: "Laut dendam, sukar ditimbuni. Siapa masuk tentu mati". Sesaat ia gemetar tetapi pada lain saat bangkitlah kepanasan hatinya. Sombong dan kejam benar orang itu. Demikian anggapannya. Sekonyong-konyong ia dikejutkan oleh gelak tawa yang menggeledek. Serentak angin kuat menabur Siau-liong sehingga anak itu terhuyung beberapa langkah ke belakang. Buru-buru ia berusaha untuk menenangkan darahnya yang mendebur keras. Setelah tenang ia memandang kemuka. Ah, ternyata gua itu mempunyai penghuni. Setombak di atas mulut gua, terdapat sebuah lubang besar. Ditengah lubang duduk seorang tua aneh tengah tertawa. Tangannya mencekal sekerat daging yang masih berlumur darah. Tampak ia menikmati daging itu dengan lahapnya.... 4 Orang aneh itu berbangkit dan menghampiri kepintu gua. Siau-liong makin menggigil. Perwujutan orang itu amat menyeramkan sekali. Manusia tetapi menyerupai iblis. Iblis tetapi ternyata manusia. Mungkin di dunia tiada manusia yang lebih seram dari dia. Dan Walaupun berdiri, tetapi orang aneh itu hanya setinggi orang biasa sedang duduk. Pahanya pendek sekali tetapi telapak kakinya amat lebar. sepasang tangannya menjulur ke bawah sampai hampir mencapai lutut. Dadanya bidang, leher pendek dan kepala besar. Sepasang matanya berkilat-kilat tajam hampir tertutup oleh rambutnya yang kusut masai. "Uh, sial, lebih baik pulang saja," gerutu Siau-liong seraya hendak ayunkan langkah. Tiba-tiba orang aneh itu menampar dan setiup angin keras melanda Siau-liong sehingga ia terdampar ke belakang lagi.

Punggungnya terasa sakit. Sebelum ia sempat berdiri tegak, orang aneh itu sudah melayang kehadapannya. Ha. ha. ha' Seorang penghuni baru lagi! Sekali Raja Akhirat datang, jangan harap dapat minta tempo. Budak, lihatlah tanganku!" Orang aneh itu julurkan sepasang tangannya. Bermula warnanya putih tetapi segera berobah merah lalu didorongkan. Setiup angin berbau anyir, menghambur ke arah Siau-liong. Siau-liong menghindar ke samping. Dess.... tiba-tiba batu yang berada di belakang, mendesus seperti hangus terbakar api dan pecah berantakan. 5 "Heh, heh.... orang aneh itu tertawa mengekeh. Lalu lepaskan empat buah pukulan lagi. Siau-liong terpaksa mundur dan tanpa disadari ia telah masuk ke dalam lingkungan batu-batu yang berserakan. Dar, dar, dar, delapan buah pukulan dilepaskan orang aneh itu lagi. Untunglah Siau-liong dapat menghindari. Tetapi batubatu yang tak menentu bentuknya itu pecah berhamburan ke segenap penjuru! Jelas orang aneh itu memang tak bermaksud menghancurkan Siau-liong. Setiap kali tentu memberi kesempatan supaya anak itu dapat menghindar. Siau-liong menyadari juga hal itu. Tetapi lama kelamaan, marah ia. Diam-diam ia kerahkan tenaga-dalam, siap mengadu kekerasan. Rupanya orang aneh itu mengetahui maksud Siau-liong. Diluar dugaan, ia berhenti memukul dan tertawa memanjang.... Siau-liong makin marah. Tetapi ketika memandang ke muka, ia terkejut, Celaka, mati aku sekarang!" Ternyata dalam pandangannya, orang aneh itu telah pecah menjadi empat orang yang berdiri diempat penjuru. Tangannya yang merah, mengacung ke atas dalam sikap hendak memukul. Tetapi anak itu sudah bertekad mengadu jiwa. Dihantamnya orang aneh itu. Hai.... ia ter-longong2. Hampir ia tak percaya apa yang dilihatnya. Hantamannya itu mengenai segunduk batu besar dan batu itu pecah berantakan. Dan orang aneh itupun lenyap. 6 Sebelum tahu apa yang terjadi, tahu-tahu bahunya sebelah kanan terasa panas sekali. Cepat ia mengendap lalu berputar mundur ke belakang. Ah. kiranya orang aneh itu sudah berada di belakang! "Budak, engkau adalah calon setan. Kematianmu sudah hampir tiba. Tetapi rupanya engkau masih penasaran kalau

belum mengadu pukulan!" seru orang aneh itu tertawa menyeringai. Lalu pe-lahan2 ulurkan tangan kiri. Telapak tangannya yang berwarna hitam, menimbulkan rasa ngeri. Siau-liong menggigil. Tetapi Kenekatannya pun bangkit. Dess.... ia menghantam. Tetapi pukulannya itu seperti jatuh ke dalam laut. Hilang lenyap dayanya. Siau-liong terkejut. Tiba-tiba setiup angin keras melanda dirinya. Angin itu ternyata berasal-asal dari refleksi pukulannya tadi. Uh, uh, uh.... mulutnya mendesus ketika tubuhnya, terpental beberapa langkah ke belakang. "Bluk", ia jatuh terduduk dan muntah darah. Orang aneh itu tertawa mengukuk, Budak, mengapa engkau tak berguna sekali? Hayo, bangunlah!" Siau-liong membulatkan tekad. Kalau mati, ia harus mati secara kesatria. "Wut", sekali tangannya menekan tanah, ia melenting ke udara. Hai.... ia merasa tentu menderita luka tetapi mengapa sedikitpun tak merasa sakit? Orang aneh itu maju menghampiri dan Siau-liong terpaksa mundur. Tetapi saat itu ia sudah terdesak sampai di tepi telaga yang terbentang di belakang lembah itu. "LAUT PENASARAN" 7 Demikian bunyi tiga huruf yang terbentang di tepi telaga itu. Siau-liong terbeliak kaget. Teringat ia akan kata-kata orang aneh itu, Laut Penasaran, sukar ditimbuni.... "Adakah dia hendak lemparkan aku ke dalam telaga ini?" pikirnya. Orang aneh itu tertawa mengekeh, Hai, budak, engkau ingin mati atau tidak?" Menyadari bahwa dirinya takkan terluput dari kematian, semangat Siau-liong malah menyala. Dia tak takut mati. Dengan berani ia menatap orang aneh itu, serunya, Setan tua, engkau ingin mati atau tidak?" Jawaban Siau-liong itu membuat si orang aneh tertawa gelak-gelak, Bagus, bagus, tepat sekali jawabanmu itu!" Siau-liong terkesiap. "Budak, engkau berbakat hebat sekali. Jika tidak. engkau tentu sudah mampus termakan pukulanku tadi.... seru orang aneh pula, "pukulanku Bu-kek-sin-kang tadi, mengandung tenaga keras campur lunak. Jika engkau bukan seorang perjaka tulen, jangan harap engkau mampu menerimanya!" "Aku benci semua manusia di dunia!" seru orang itu lagi, tetapi hari ini aku benar-benar bingung. Betapapun halnya engkau tak boleh merusak peraturan lembah ini. Ya, engkau harus mati satu kali!" Melihat sinar mata orang aneh itu agak ramah, nyali Siauliong makin bertambah. Serunya, Setan tua, aku benci kepada orang yang telah membunuh ayahku! Katakanlah, bukankah engkau juga harus ku benci "

8 "Jangan bermulut tajam!" hardik orang aneh itu, kusuka akan perangaimu yang baik. Engkau dengar tidak? Aku hanya menyuruhmu mati satu kali saja!" "Setan tua, masakan aku dapat mati beberapa kali?" teriak Siau-liong. "Bagus! Engkau memanggil aku setan tua dan kupanggilmu budak kecil. Kita sama-sama tidak merugikan," kata orang aneh itu, budak kecil, sudah tentu orang hanya mati satu kali saja." "Sekali mati, habislah riwayatnya!" seru Siau-liong. "Belum tentu," sahut si orang aneh, "mungkin masih mempunyai kesempatan hidup lagi!" "Aku tak mengerti ucapanmu." Siau-liong kurang senang. Sejenak orang aneh itu merenung, lalu berkata, Pertama, engkau harus terjun ke dalam Laut Penasaran itu. Bukan untuk menimbuni karena kupercaya engkau dapat muncul kembali. Kedua, akan kuberimu ilmu pukulan Bu-kek-sin-kang. Dan ketiga, engkau tak boleh menanyakan diriku siapa. Dan jangan menceritakan diriku kepada siapapun juga, bahkan kepada gurumu!" "Locianpwe," karena melihat orangtua aneh itu ternyata tidak buas, maka Siau-liongpun berganti dengan menyebut locianpwe, "yang pertama aku dapat menerima. Tetapi yang kedua, aku tak sanggup!" Orang aneh itu kerutkan kening lalu tertawa lebar, Hm, sekarang engkau berganti nada. Memang tak salah penilaianku bahwa engkau ini seorang anak muda yang berguna. Kusenang akan kejujuranmu. Kutahu si tua Kongsun 9 itu gurumu. Maka engkau segan berguru pada lain orang. Jangan kuatir, akupun tak ingin mengambil murid engkau. Melainkan hendak memberimu sebuah ilmu pukulan sakti!" "Tetapi itu berarti suatu ikatan guru dan murid. Ah, tak mau!" Siau-liong menolak. "Bagus, aku suka akan kekerasan kepalamu!" seru si orang aneh, aku sendiri seorang yang keras kepala. Sekarang bertemu dengan seorang budak yang keras kepala. Apakah ini bukan jodoh namanya." Orang aneh itu sebenarnya seorang momok durjana yang terkenal. Ia membunuh jiwa manusia seperti memitas nyamuk-nyamuk saja. Tetapi anehnya, berhadapan dengan seorang anak yang berani, cerdik dan berbakat bagus, seketika timbullah rasa suka. "Baiklah," katanya, kita tinggalkan dulu syarat kedua itu. Sekarang kita laksanakan syarat yang pertama!" Entah bagaimana, Siau-liong berganti kesan kepada orang aneh itu. Segera ia hendak membuka baju.

Tetapi orang aneh itu cepat mencegahnya, Tunggu dulu Akan kusaluri tenaga dalam dulu kepadamu. Jika tidak, jangan harap engkau dapat muncul ke daratan lagi!" "Tidak." Siau-liong menolak, beritahukan saja apa yang harus kulakukan dalam telaga itu. Segera aku hendak mencebur kesana." "Budak, engkau ingin mati tidak?" tegur orang aneh itu dengan mata memberingas. 10 "Setan tua, engkau benar-benar menusuk perasaanku. Lebih baik aku mati dari pada dihina." "Jangan tergesa-gesa," kata orang aneh itu, "Laut itu merupakan mulut sebuah gunung berapi yang sudah padam. Lahar yang membeku selama ratusan tahun, telah memancarkan sumber air yang luar biasa dinginnya. Orang pasti kaku seketika apabila menyilam disitu. "Aku?" "Banyak perjaka tetapi jarang yang tubuhnya mengandung hawa Tun-yang seperti engkau. Bagimu, tidaklah sukar untuk menghadapi tempat semacam itu. Tetapi dengan kepandaian yang engkau miliki sekarang ini, jangan harap engkau mampu ke dasar bumi untuk mengambil pusaka yang tak ada tandingannya di dunia persilatan!" "Pusaka?" "Berpuluh tahun aku bersembunyi disini, hanyalah karena hendak menunggu pusaka itu. Sejenis binatang bersisik, mirip dengan Kilin (warak) dan naga. Aku sendiri belum jelas. Binatang itu telah menerima sari sinar matahari dan rembulan, ditambah pula dengan menghisap hawa Im dan Yang dalam kerak bumi. Apabila muncul, binatang itu memancarkan sinar pelangi yang menyilaukan, Tetapi dia gesit sekali hingga aku selalu gagal menangkapnya!" "Benarkah?" Siau-liong menegas. "Benar! Apa engkau pernah melihat juga?" "Sepuluh hari yang lalu, kulihatnya sinar kemilau itu memancar dari kawah gunung!" 11 Orang aneh itu menghela napas, Ah, saat itu dia terlalu cepat sekali. Begitu muncul terus lenyap lagi. Ah, jika aku berhasil memperoleh mustika dalam mulutnya, di dunia tentu tiada yang dapat menandingi aku lagi. Akan kutumpas semua manusia yang kubenci!" "Ah, lebih baik kalau engkau jangan menemukannya!" "Mengapa?" orang aneh itu heran. "Aku tak mau mencarinya " sahut Siau-liong. "Heh, engkau lupa?" orang aneh itu menggeram buas. "Lupa apa?" "Siapa masuk lembah ini harus mati!"

Siau-liong tertawa, Sama sekali tidak lupa. Tetapi lebih baik aku yang mati seorang daripada menelan banyak korban." "Engkau seorang budak kecil tetapi nyalimu besar sekali. Baiklah. aku mengalah. Turunlah ke dalam laut itu. Berhasil mendapatkan mustika itu atau tidak, aku takkan menyesalimu. Nah, bagaimana?" Siau-liong setuju. Orang aneh itu segera menyuruhnya duduk bersila Kemudian ia lekatkan tangannya kepunggung Siau-liong. Seketika itu Siau-liong rasakan sekujur tubuhnya dijalari hawa hangat. Makin lama makin panas sampai mandi keringat. Tiba-tiba orang aneh itu menyepak pinggangnya. Huak.... Siau-liong muntah darah dan pingsan. 12 Orang aneh itu cepat mengurut dan menyalurkan hawa murni ke tubuh Siau-liong. Lebih kurang sejam lamanya, baru ia berhenti. Tubuhnya mandi keringat, napas terengah-engah. Duduklah ia bersemedhi. Ketika sadar, Siau-liong terkejut melihat keadaan orang aneh itu. Tak lama kemudian orang aneh itupan membuka mata. Ia tampak lelah. "Seumur hidup, baru kali ini aku melakukan kebaikan. Sejak saat ini, matipun aku takkan penasaran," ujar orang itu pelahan. "Cianpwe, engkau mengapa?" Siau-liong heran. "Sekarang pergilah engkau mengambil mustika itu. Walaupun berhasil mendapatkan, tetapi akupun bukan tokoh yang tiada tandingannya di dunia " Mendadak timbul rasa iba dihati Siau-liong. Serunya rawan, Cianpwe, apakah maksud ucapanmu itu?" "Tadi telah kusalurkan hawa-sakti ke dalam tubuh sehingga jalan-darah Tok-djinmu terbuka. Tak kepalang tanggung, kuberimu ilmu sakti Bu-kek-sin-kang juga." Siau-liong terbeliak kaget. Sesaat ia termenung-menung. Baru saat itu ia menemukan peribadi yang sesungguhnya dari orang aneh itu. Ternyata baik dan luhur budi. Serta-merta ia berlutut memberi hormat, Suhu, Siau-liong akan mencari mustika itu." Orang aneh itu mengangguk puas. 13 Siau-liong segera loncat ke dalam Laut Penasaran, "blung" ia menggigil. Andaikata ia belum mendapat saluran tenagasakti orang aneh itu, pasti ia akan mati kedinginan. Air dalam telaga yang dinamakan Laut Penasaran itu, memang luar biasa dinginnya. Pertama-tama matanya tertumbuk akan suatu pemandangan yang ngeri. Berpuluh tengkorak manusia

berserakan di dalam telaga.... Adakah mereka mati sendiri atau dilempar kesitu oleh si orang aneh? Telaga itu hanya dua tiga puluh tombak lebarnya. Tetapi amat dalam sekali. Makin ke bawah, makin sempit, Kira-kira 100 tombak dalamnya, terdapat sebuah gua. Aneh! Gua itu kering tiada airnya sama sekali.... Siau-liong menghampiri gua itu. Hawanya dingin sekali dan terdapat penerangannya pula. Beberapa tumbuh-tumbuhan terdapat hidup digua itu. Menilik susunannya. tentulah ditanam orang. Jenis tanaman yang tumbuh disitu, jarang terdapat di dunia. Daunnya ada yang biru ke-hijau2an seperti batu kumala. Batangnya seperti jenggot naga dan bentuk daunnya menyerupai ekor burung cenderawasih. Bunganya seperti butir2 mutiara.... Tampak sebuah cekung berisi air jernih. Penuh dengan benda-benda warna merah zamrud yang tak henti-hentinya lalu lalang kian kemari. Siau-liong teruskan langkah kemuka. Tak berapa jauh, ia tiba disebuah gua lagi. ia makin terkejut. Dalam gua itu penuh dengan lentera yang ber-gerak2 naik turun, mendekat dan menjauh. Siau-liong menyambar lentera yang kebetulan menghampiri ke arahnya. Tetapi selalu luput. 14 Lentera-lentera itu bagaikan jinak-jinak merpati. Dihampiri, menjauh. Dijauhi, mendekat.... Gua makin menanjak ke atas. Setelah berjalan agak lama, ia memperhitungkan, tentu sudah berada diluar Lembah Penasaran. Tiba-tiba suasana terang benderang. Ia tiba di sebuah ruangan yang terang. Begitu masuk ia terbeliak kaget. Di atas sebuah ranjang batu duduk bersemedhi sesosok tengkorak. Lehernya terlingkar seutas rantai perak dengan sebuah tongpay (lencana) berukir tengkorak bersemedhi. Pada dinding di belakang tengkorak itu terdapat empat buah huruf: Ilmu pukulan Thay-siang-ciang. Dibawahnya tertera lima buah gurat2 lukisan. Kemudian ditengah ruangan, tampak sebuah tambur batu yang besar. Permukaan tambur batu penuh dengan guratan huruf yang bersembunyi: "Barang siapa masuk kemari, tanda berjodoh. Selain tongpay dan ilmu pukulan Thay-siang ciang, pun di atas permukaan batu ini tumbuh sebiji buah Im-yang-som. Dapat menambah panjang umur dan tenaga-sakti. Buah itu tak boleh dibiarkan sampai masak. Harus cepat dimakan. Dan hanya diperuntukkan orang yang benar-benar berjodoh". Terlintas dalam benak Siau-liong. Andaikata tak berhasil memperoleh mustika. asal mendapat buah ajaib itu, iapun

dapat menolong memulihkan tenaga si orang aneh.... 15 Tambur batu tak kurang dari seribu kati beratnya. Dengan kerahkan tenaga, ia mendorong. Terdengar bunyi gemuruh menggetarkan bumi dan tiba-tiba pintu gua itu tertutup rapat. Ternyata tambur batu itu merupakan alat penutup dan pembuka pintu gua. Dibawah tambur terdapat pula beberapa tulisan: "Pintu gua telah tertutup. Tetapi jangan takut. Gua ini penuh persedian makanan. Yakinkanlah ilmu pukulan Thaysiangciang sampai sempurna, tentu dapat membuka lantai batu ini dan dapatkan buah Im-yang-som. Setelah makan, tenagamu tentu bertambah sakti. Hancurkan pintu gua dan engkau pasti akan menjagoi dunia" Siau-liong gelisah sekali. Sampai beberapa lamakah ia harus tinggal dalam gua situ? Tetapi apa daya. Satu-satunya jalan, ia harus menurut apa yang tertera dalam tulisan itu. 360 hari lamanya, Siau-liong tinggal dalam gua. Tak disangkanya bahwa walaupun hanya terdiri dari lima jurus, tetapi ternyata ilmu pukulan Thay-siang-ciang itu memerlukan waktu setahun untuk meyakinkan. Untung sebelumnya ia sudah mendapat saluran tenaga sakti Bu-kek-sin-kang dari orang aneh itu. Kalau tidak, entah berapa tahun lagi ia baru berhasil mempelajarinya. Kini ia meningkat 16 tahun umurnya. Bertubuh tinggi besar, sehat dan kuat. Pada hari terakhir setelah mengerahkan tenaga sakti Bu-kek-sin-kang, ia melenting dan lontarkan pukulan Thay-lo-kim-kong. "Pyur", amblonglah lantai batu yang menutupi buah ajaib itu. Lubang dibawah lantai hanya beberapa meter dalamnya. Tampak sebuah benda menyerupai pohon Sian-jin-ciang atau Telapak Dewa. Daunnya hanya dua helai, berwarna biru 16 kehijau-hijauan. Pada batang pohon terdapat dua biji buah sebesar telur burung. Satu merah, satu putih. Buah itu memancarkan sinar gemilang dan bau yang harum sekali. Buah yang merah mengandung tenaga Yang dan buah yang putih tenaga Im. Hanya ditempat yang disaluri air pusar bumi, barulah buah itu dapat tumbuh. Segera dipetiknya terus dimakan. Seketika ia rasakan tubuhnya hangat dan semangat segar. Kemudian ia duduk bersemedhi menyalurkan darah. Beberapa waktu kemudian, ia loncat bangun dan menghantam pintu gua. Dar.... pintu jebol dan terbukalah sebuah lubang. Girangnya bukan kepalang. "Suhu!" serta-merta ia berlutut memberi hormat kepada tengkorak yang duduk di ranjang batu itu. Setelah itu baru ia menerobos keluar. Ia terkejut ketika

melihat seekor makhluk yang berkemilau dan menyiarkan bau luar biasa wanginya. Cepat ia memburu keluar. Seekor binatang yang agak lebih kecil dari kuda, bersisik dan bertanduk satu, menyerupai binatang Kilin, tengah muncul dan menyadap bulir-bulir mutiara dalam air. "Wut". Siau-liong cepat ayunkan tubuh kepunggung. Tetapi binatang itupun luar biasa gesitnya. Secepat kilat binatang itupun menyusup ke dalam pusar bumi.... Siau-liong terus mengejar sampai disebuah tempat yang dindingnya gilang gemilang. Tetapi hampir setengah hari ia ber-putar2 menjelajahi sekeliling tempat itu, tetap tak dapat menemukan binatang aneh tadi. 17 Ia memutuskan harus dapat memperoleh binatang itu. Kalau gagal, orang aneh yang telah melepas budi kepadanya itu tentu tetap sengsara. Mati atau hidup, binatang itu harus dapat ditangkapnya. Dengan kerahkan tenaga ia mulai menghantam. Dinding yang mengkilap macam es hancur berantakan, tetapi sebelum ia memukul lagi, tiba-tiba binatang aneh itu muncul terus menyerbunya. Siau-liong cepat menghindar seraya menyambar tanduk binatang itu. Binatang itu berontak sekuatkuatnya. Kedua kakinya melentik-lentik tubuh orang. Terpaksa Siau-liong lepaskan tanduk dan berputar menyambar ekor binatang itu. Tetapi sekali kibas, ekor itu menghilang dan tahu2 binatang itu menyepakkan kaki ke belakang kepunggung lawan. Pertempuran seorang manusia dengan seekor binatang aneh dalam kerak bumi, telah berlangsung seru sekali. Binatang itu memiliki tanduk dan gigi yang runcing. Begitu pula kaki dan ekornya. Merupakan senjata yang berbahaya. Sekali kena, orang tentu hancur tubuhnya. Tiba-tiba Siau-liong mendapat akal. Cara bertempur semacam itu, tak mungkin ia dapat menundukkan lawan. Ia berganti siasat. Tiba-tiba ia menyelundup ke bawah perut binatang lalu menjepit perut binatang itu dengan kedua kakinya. Binatang itu terkejut dan meronta melepaskan diri. Tetapi tak mampu. Akhirnya binatang itu gulinglan diri ke tanah. Tetapi Siau-liong tak mau kalah pintar. Dengan gunakan jurus Ikan-melenting-ke udara, ia melambung ke udara terus hendak menginjak binatang itu. Tetapi ternyata binatang itu 18 luar biasa gesit dan cekatannya. Sesaat kemudian Siau-liong lepaskan cekalannya, secepat itu pula ia menggeliat bangun dan menyusup ke dalam ruang es.... Siau-liong mengejarnya. Lorong makin lama makin sulit

dilalui. Naik turun, berkeluk-keluk. Dan ketika ia hampir berhasil menyusul, tiba-tiba binatang itu kibaskan ekor menyabat dinding ruang. Pyur....!" dinding hancur dan Siau-liong terpaksa hentikan larinya. Tiba-tiba binatang itu mengangakan mulut Sebutir benda merah meluncur keluar. Warnanya gilang gemilang indah sekali! Itulah mustika yang dikatakan si orang aneh tempo hari. Siau-liong putar otak untuk merancang siasat. Tiba-tiba serangkum angin panas dan mustika itu melayang ke arahnya. Siau-liong menyongsong dengan jurus Thay-lo-kim-kang. Hendak disambarnya mustika itu tetapi ternyata benda itu seolah-olah mempunyai mata. Hantaman Siau-liong bahkan menambah kedahsyatan mustika itu yang melaju pesat sekali ke arah Siau-liong. Siau-liong cepat mengganti dengan jadi pukulan. Setelah mustika itu agak pelahan, ia loncat kesamping. "Bum.... sebuah tiang ruangan hancur terkena pukuluan Siau-liong. Langit ruangan berhamburan gugur dan binatang aneh itupun loncat ke belakang. Dan ketika Siau-liong menukik turun, mustika menyambarnya lagi. Siau-liong menggeram dan menamparnya. "Bum", mustika mengendap ke bawah menghantam lantai. Lantai hancur berlubang dan mustika itu 19 membal ke atas dan melanda Siau-liong yang saat itu masih berada di udara. Sudah tentu Siau-liong sukar menghindar. Cepat ia menghantam dengan jurus ilmu pukulan Thay-siangciang. Mustika itu jatuh membentur lantai lagi dan membal ke atas lagi. Celaka sekali binatang aneh itu. Karena mustika beberapa kali kena hantaman Siau-liong, binatang itupun meringkikringkik kesakitan. Cepat ia menyedot kembali mustikanya dan menyelinap keluar. Terjadi kejar mengejar yang tegang. Tetapi akhirnya Siauliong ketinggalan berpuluh tombak dibelakang. Binatang aneh itu lari ke Laut Penasaran. "Blung.... baru Siau-liong muncul dipermukaan telaga, sesosok tubuh meluncur jatuh ke dalam telaga. Siau-liong terkejut karena air berobah merah warnanya. Ah, tentu seorang persilatan dijadikan korban penimbunan Laut Penasaran' Tetapi Siau-liong tak dapat menghiraukan nasib orang itu karena dari arah Lembah Penasaran terdengar jeritan seram. Rupanya di Lembah Penasaran terdjadi pertempuran dahsyat. "Blung"........ lagi sesosok tubuh terlempar jatuh ke dalam laut. Mayatnya meluncur ke dasar air. Setelah pandang matanya biasa mengadapi cahaya

matahari, barulah Siau-liong dapat melihat jelas. Dalam lembah tampak tiga empat puluh jago2 silat tengah mengepung binatang itu. Diantaranya terdapat paderi, imam dan jago-jago silat. Mereka tengah bersiap menunggu 20 kesempatan untuk menyergap binatang aneh itu, Dua orang yang tak dapat mengendalikan nafsu, segera loncat menerjang. Tetapi binatang aneh itu segera merangsangnya sehingga mereka terlempar ke dalam Laut Penasaran. Binatang itu segera meliar di dalam lembah. Puluhan jago silat itu tengah mengepung dengan senjata masing-masing. Seluruh perhatian mereka tercurah pada binatang aneh itu sehingga tak mengetahui kehadiran Siau-liong. Tiba-tiba binatang itu lari ke dinding karang gunung. Beberapa jago silat segera gunakan ilmu Cicak merayap atau Pik-hou-kang. Punggung dilekatkan pada dinding karang lalu meluncur ke atas dan taburkan senjata rahasia kemata binatang aneh itu. Tetapi binatang itu tak mengacuhkan. Semua senjata rahasia, terpental dan jatuh ke dalam air. Dua orang yang hebat ilmu meringankan tubuh atau ginkang, mereka melambung ke udara dan coba membacok ekor binatang itu Tetapi binatang itu teramat gesit. Sekali menggeliat ia dapat lolos dari kepungan. Kedua jago silat yang loncat ke udara untuk membacok ekor binatang itu. Tetapi luput.... Terpaksa mereka meluncur turun ke bumi lagi. Begitu tiba di tanah, binatang aneh itu sudah menanduknya. " "Blung.... salah seorang terpelanting jatuh ke dalam telaga Penasaran lagi. Rupanya binatang itu masih belum puas. Ia menyerang lagi pada seorang lain. Siau-liong cepat loncat dari permukaan air seraya menghantam. Karena pernah dikalahkan, rupanya binatang itu jeri. Ia hendak melarikan diri tetapi kalah cepat dengan Siau-liong yang sudah loncat di punggungnya dan memeluknya erat-erat. 21 Gemparlah tokoh2 yang berada dalam lembah situ. Mereka mengira kalau siluman air, tetapi ternyata hanya seorang pemuda. Mereka datang ke Lembah Penasaran, bukan berombongan, melainkan perseorangan dan tak kenal satu sama lain. Mereka datang untuk memburu binatang aneh yang memiliki mustika. Melihat Siau-liong menguasai binatang itu, timbullah kekuatiran mereka. Pemuda itu harus dihancurkan! Delapan jago silat segera menyerbu Siau-liong dengan senjata dan pukulan. Karena sedang memeluk binatang itu, terpaksa Siau-liong harus menderita luka2 berdarah akibat serangan itu. Anehnya, binatang itu mempunyai perasaan

kasihan terhadap Siau-liong. Tak mau ia meronta. Siau-liong mengira kedelapan penyerangnya itu tentu salah turun tangan. Yang di arah si binatang tetapi mengenai dirinya. Maka ia memberi isyarat agar mereka berhati-hati jangan sampai menyerang dirinya lagi. Sudah tentu mereka tak mau menghiraukan. Bagaikan delapan ekor harimau, mereka menyerang Siau-liong. "Wut.... tiba-tiba binatang aneh itu sapukan ekornya sehingga beberapa penyerang itu loncat mundur. Masih ada beberapa orang yang berhasil menyusup, dapat memberi beberapa tusukan kepada Siau-liong. Darah makin deras, sakitnya bukan kepalang. Namun ia seorang anak yang keras hati. Bukan melepaskan sebaliknya ia malah memeluk tubuh binatang itu makin 22 kencang. Mulutnya menggigit tanduk. Rupanya binatang itu marah. Ia hendak membela Siau-liong. Dengan beringas, diterjangnya kawanan penyerangnya itu. Siau-liong marah juga. Ia kerahkan tenaga-sakti Bu-keksinkang. Begitu mengangkat tangan telapaknya yang berwarna merah. Seketika menjeritlah sekalian jago2 itu, Bukeksin-kang! Bu-kek-sin-kang.... Siau-liong terkejut sendiri. Ia tak menduga kalau pukulannya begitu dahsyat. Sembilan sosok tubuh kecemplung ke dalam telaga! Siau-liong kesima. Bukankah ketika bertempur dengan binatang aneh tadi, ia belum memiliki pukulan sedahsyat itu? Memang hal itu terjadi diluar pengetahuannya. Ketika menghadapi serbuan jago-jago silat tadi, ia terpaksa menelungkup memeluk binatang itu erat-erat. Untuk menjaga keseimbangan tubuh, mulutnya menggigit tanduk binatang itu. Tanpa disadari, ia telah menghisap darah kepala binatang itu. Darah itu disebut Ceng-hiat. Merupakan obat luar biasa yang terdapat di dunia. Khasiatnya dapat menambah tenagadalam. Setelah sekalian penyerangnya lari, Siau-liong teringat sesuatu. Cepat2 ia meluncur turun dari punggung binatang itu. Binatang aneh itupun segera meluncur ke dalam Laut Penasaran lagi. Kiranya Siau-liong teringat akan Koay suhu atau orang aneh yang secara tak resmi telah menjadi gurunya. Ia bergegas lari ke gua tempat kediaman orang aneh itu. 23 Tetapi ketika melintasi gunduk2 batu yang bertebaran di halaman gua, ia terkejut menyaksikan pemandangan yang mengerikan. Batu-batu berlumuran darah, disana-sini bertebaran kerat2 kecil daging manusia dan sesosok tubuh membujur di atas tanah.... "Suhu!" Siau-liong menjerit serentak. Ia bersimpuh

dihadapan mayat itu yang ternyata memang si orang aneh yang disebut Siau-liong sebagai Koay suhu. Siau-liong menangis tersedu-sedu. Hatinya pilu sekali. Jika Koay suhu tak menyalurkan tenaga sakti Bu-kek-sin-kang kepadanya, dia tentu tak sampai kehabisan tenaga dan musuh tentu tak mungkin dapat membunuhnya. Dengan demikian walaupun dia yang bukan turun tangan membunuh tetapi secara tak langsung, dialah yang menyebabkan kematian orang aneh itu. Puas menangis, Siau-liong memeriksa keadaan mayat Koay suhu. Pada bagian dadanya hancur, berlubang besar sampai kepunggung. Hanya pukulan sakti atau cengkeraman maut Ngo-ci-tongjoang yang mampu meninggalkan luka semacam itu! "Hm, sudah mengasingkan diri dalam gua yang terpencil seperti ini, ternyata orang masih mengejar dan membunuhnya secara ganas. Sungguh tak dapat dimaafkan perbuatan itu, Siau-liong menggeram. Dan rasa sesalnya karena membunuh beberapa orang tadi lenyap seketika. Ia mengubur jenazah Koay suhu baik2. Setelah memberi hormat terakhir dihadapan kuburan Koay suhu, ia ayunkan langkah dengan tekad yang bulat. Ia pasti akan menuntut balas atas kematian Koay suhu. 24 Lebih dulu ia menuju kegua kediaman Koay suhu untuk mengemasi barang2 peninggalan suhu itu. Di atas tempat tidur batu, terdapat dua buah topeng terbuat daripada kulit manusia. Ketika hendak mengambilnya, tiba-tiba ia melihat pada kedua samping dinding, terdapat beberapa guratan huruf yang berbunyi, Anak! Seumur hidup baru satu kali ini aku melakukan kebaikan menurunkan tenaga sakti Bu-kek-sin-kang kepadamu. Tetapipun juga mencelakakan dirimu. Karena engkau tentu takkan kembali lagi. Adakah memang Tuhan tak mengijinkan aku berbuat kebaikan....? Nak, kulihat wajahmu bukan orang yang bernasib malang. Tetapi, ah, hampir setahun kuhanya kutunggu, mayatmu tak terapung dipermukaan air. Tetapi kutetap percaya engkau takkan mati. Dalam beberapa hari ini sudah mondar-mandir disekeliling tempat ini. Maut rupanya sudah menjenguk di guaku.... Kemudian Siau-liong membaca tulisan didinding sebelah kiri, Nak, aku mempunyai firasat bahwa kematianku sudah datang. Jika aku mati, engkau harus melakukan tiga buah pesanku ini: Pertama: jangan mengatakan tentang diriku kepada siapapun juga. Dan engkau pun telah menyanggupi. Kedua: Bunuhlah semua orang yang kubenci dan engkau benci! Ketiga: Besok tahun muka pada malam Tiong-Chiu,

pergilah ke-gunung Bu-san, mewakili aku dalam pertempuran. Si tua Kongsun beberapa kali tampak dipuncak gunung, rupanya dia mencarimu.... Sampai disitu, tulisan tak lanjut. Rupanya musuh sudah datang dan orang aneh itu terpaksa harus hentikan tulisannya. Berderai-derai air mata Siau-liong membanjir karena mengenang budi orang aneh itu. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh 25 suara letupan dahsyat. Lembah terasa tergelar keras. Siauliong terkejut sekali ketika memandang keluar gua. Lembah telah berobah menjadi lautan api. Ledakan dahsyat susul menyusul memekakkan telinga. Segera ia lari keluar. Ternyata tokoh persilatan yang gagal menangkap binatang aneh tadi telah menumpahkan kemarahannya. Dari puncak lembah mereka lontarkan potongan batang pohon untuk umpan api. Potongan kayu itu makin lama makin dekat pada gua. Siau-liong terkejut jika mulut gua sampai tertutup api, tak mungkin ia dapat keluar lagi. Cepat ia bertindak. Menyambar sehelai baju peninggalan Koay suhu, ia terus menerjang keluar. Sekali loncat ia hinggap pada sebatang pohon. Dengan baju, ia menghalau api. Kemudian ia melayang ke atas sebuah cekung karang lalu untuk yang terakhir kalinya, ia melayang kepuncak lembah.... Jago2 persilatan yang berada di atas puncak lembah, terkejut melihat anak itu dapat menerobos dari lautan api. Mereka hentikan lontaran kayu dan berganti menghujani anak itu dan senjata rahasia. Siau-liong sedang melayang ke atas. Tak mungkin ia dapat menghindari serangan itu. Dalam gugupnya ia putar baju Koysuhu laksana kitiran. Diluar dugaan, putaran baju itu menimbulkan tenaga yang dapat menampar jatuh ber-puluh2 buah senjata rahasia. Ia marah sekali kepada mereka. Selekas kakinya menginjak tepi puncak, ia lemparkan baju dan lontarkan sebuah pukulan yang dilambari tenaga sakti Bu-kek-sin-kang. Melihat telapak tangan anak itu merah membara, sekalian orang menjerit kaget dan lari tunggang langgang. Enam orang 26 yang terlambat lari, menjerit ngeri dan rubuh tak bernyawa. Sisanya lari ke dalam hutan. Siau-liong menanggalkan kedok muka. Ia menghela napas. Ia menyesal telah membunuh orang. Tetapi ia tak dapat berbuat lain karena kemarahannya atas tindakan tokoh-tokoh persilatan yang begitu ganas. Setelah beberapa saat termenung-menung, akhirnya ia pulang ketempat kediamannya. Hampir setahun, ia tak berjumpa dengan Kongsun Sin-tho. Ia merasa rindu kepada

suhunya itu. "Suhu!" serta-merta ia karena tak mengindahkan berseru penuh rasa menyesal nasihat suhunya supaya jangan berjalan2 ke belakang gunung. Tetapi alangkah kejutnya ketika didapatinya gua itu kosong. Masih ada menyangka tentulah suhunya sedang keluar untuk mencarinya. Tiba-tiba ia melihat beberapa guratan huruf pada dinding gua. Jelas itu tulisan suhunya yang berbunyi, Liong-ji, aku sudah pulang beberapa bulan. Sia-sia kucarimu ke-mana2. Lebih cemas pula hatiku karena dewasa ini dunia persilatan telah timbul desas-desus bahwa ibumu telah muncul kembali. Dunia persilatan terancam pertumpahan darah lagi. Kuputuskan turun gunung mencarimu, sekalian untuk mencari ibumu. Berhasil atau tidak, setengah tahun kemudian aku pasti kembali kesini" Dari tanggal yang tertera dibawahnya, jelas bahwa kepergian Kongsun sin-to itu baru lebih 10 hari yang lalu. Siau-liong berkemas-kemas untuk mencari suhunya. 27 Keesokan harinya, ia menuju kemakam ayahnya untuk minta diri. Tengah ia berlutut mengucapkan doa, tiba-tiba didengarnya suara orang berbicara. Gunung Hong-san jarang dikunjungi orang. Dan peristiwa berdarah kemarin, menyebabkan Siau-liong harus berhati-hati terhadap orang. Cepat ia menyembunyikan diri. Tak berapa lama muncullah empat orang tua dari dalam hutan. Salah seorang berkata, Menurut pendapat kalian, yang manakah sesungguhnya Bu-tek Gong-mo itu? Lelaki tua yang dibunuh Soh-beng-kiu-su atau orang yang muncul dari Laut Penasaran?" Mendengar itu, Siau-liong hampir menjerit. Kiranya orang aneh yang menurunkan tenaga sakti Bu-kek-sin-kang itu adalah BU-KEK-GONG-MO atau pendekar LAKNAT yang termasyhur. Dan yang membunuhnya adalah Soh-beng Ki-su.' "Mungkin kedua-duanya, mungkin bukan semua," sahut kawannya. "Maksudmu?" orang pertama yang bicara itu menegas. "Memang lelaki tua yang dibunuh itu mirip dengan Pendekar Laknat. Tetapi anehnya dia tak memiliki ilmu sakti Bu-kek-sin-kang. Sedang yang muncul dari dalam laut itu, gerak-geriknya tidak menyerupai Pendekar Laknat tetapi dapat melepaskan pukulan Bu-kek-sin-kang. Maka kesimpulanku, keduanya mungkin Pendekar Laknat tetapi mungkin bukan semua," jawab orang yang kedua. Dari pembicaraan itu dapatlah Siau-liong menarik kesimpulan bahwa tokoh-tokoh yang datang ke Lembah Penasaran itu belum tahu pasti tentang mati-hidupnya Pendekar Laknat.

28 Mengintai dari cela2 tempat persembunyiannya, Siau-liong terperanjat. Keempat orang tua itu tengah berdiri tegak dihadapan makam ayahnya. "Uh, mengapa mereka tegak didepan makam ayah? Apakah mereka itu sahabat2 ayah?" tanya Siau-liong dalam hati. Dugaan anak itu memang tepat. Keempat lelaki tua itu memang paman guru dari Tong Gun-liong, ayah Siau-liong. Yang paling tua bergelar Tang Siau-seng. Kedua, Se Ki-su. Ketiga, Lam Kek-ong. Mereka dikenal sebagai Kong-tong Su-lo atau empat tokoh tua dari partay Kong-tong-pay. Mereka tegak berdiri dimakam Tong Gun-liong dengan dengan penuh pertanyaan. Mengapa Tong Gun-liong, murid kemenakan mereka mati. Siapakah pembunuhnya dan siapa pulalah yang membuatkan batu nisan disitu? Apakah Siauliong, putera Tong Gun-liong itu, masih hidup? Isteri Tong Gun-liong yang bergelar Coa-sik Se-si atau sicantik Se-si yang berbisa, muncul kembali di dunia persilatan. Apabila wanita itu mengetahui suaminya telah dibunuh orang dan dikubur dipuncak Hong-san, tentulah ia akan makin mendendam kepada partay Kong-tong-pay. Tiba-tiba keempat jago tua itu berpaling dan tersiraplah darah mereka seketika. Beberapa langkah di belakang mereka, tegak seorang tua yang berwajah buruk amat menyeramkan sekali. Rambutnya memanjang sampai kebahu. Sepasang alis menggumpal lebat sekali. Hidung merah, sepasang matanya menonjol keluar. Mulut merekah darah. Berpakaian jubah berlengan besar yang compang-camping. 29 Walaupun hanya setombak di belakang keempat jago2 tua itu, namun mereka sama sekali tak mengetahui kedatangan orang aneh itu. Inilah yang mengejutkan Kong-tong Su-lo! "Siapakah nama tuan-tuan!" tiba-tiba orang berwajah buruk itu sambil memberi hormat. Tokoh kesatu dari Kong-tong-pay, Tang Siau-seng sejenak berusaha menenangkan diri lalu menyahut dengan tertawa nyaring, Kami yang rendah Kong-tong Su-lo dan siapakah tuan ini?" Tubuh orang berwajah buruk itu menggigil. Kedua tangan yang diangkat untuk memberi hormat tadi, dilepaskan ke bawah. Seketika serangkum angin tajam menyambar keempat jago Kong-tong. Kong-tong Su-lo terkejut melihat orang berwajah buruk itu bersikap bermusuhan. Mereka siap sedia untuk beramai-ramai menghadapinya. Tiba-tiba kepalan tangan orang yang berwajah buruk yang sudah siap dilontarkan itu ditarik kembali. Berputar tubuh ia meraung-raung dan lari menuruni gunung!

Keempat Kong-tong Su-lo terkejut heran. Siapakah gerangan orang berwajah buruk itu? Mengapa orang aneh itu hendak menerjang mereka? Tak mungkin keempat jago tua itu tak mampu mengetahui rahasia orang aneh itu. Karena setitikpun mereka tentu tak menyangka bahwa orang berwajah buruk itu ternyata hanya seorang bocah yang baru berumur 15 tahun. Ya, memang benar. Siau-lionglah yang menyaru sebagai orang tua berwajah seram itu.... 30 Karena melihat keempat orang tua itu lama sekali tegak dihadapan makam ayahnya, Siau-liong ingin tahu siapakah mereka itu. Ia segera mengenakan kedok dan pakaian peninggalan Koay-suhunya lalu melangkah keluar. Dikala mendapat jawaban bahwa mereka adalah Kong-tong Su-lo, seketika meluaplah amarah Siau-liong. Sedianya ia sudah mengerahkan tenaga-sakti Bu-kek-sinkang hendak menghabiskan mereka. Tetapi tiba-tiba matanya tertumbuk pada gunduk tanah makam ayahnya.... Seketika ia teringat akan pesan ayahnya yang disampaikan oleh Kong-sun Sin-tho. Terpaksa ia batalkan pukulannya. Untuk melampiaskan nafsu kemarahan yang telah membakar rongga dadanya, ia meraung-raung lari menuruni gunung.... : Mengapa ayahnya melarang ia menuntut balas kepada musuh yang telah membinasakanya? Tentu tersembunyi suatu rahasia dibalik larangan ayahnya itu. Ia memutuskan untuk turun gunung dan mengembara di dunia persilatan. Ia hendak mencari ibunya. Ia hendak meminta penjelasan kepada ibunya. Iapun hendak mencari Kong-tong Sin-tho, guru berbudi yang telah merawat dan mendidiknya selama belasan tahun. Ya, hanya dengan demikian baru ia dapat memecahkan rasa dendam kegelisahan yang selalu mencengkam hatinya. ---ooo0dw0ooo--GUNUNG HONGSAN terletak dihulu sungai Kim-set-kiang. Ombak sungai itu deras sekali sehingga tiada tukang perahu yang berani mengusahakan penyeberangan. Maka daerah perairan disitu jarang dikunjungi orang. 31 Berhari-hari Siau-liong menyusur tepi sungai. Jika lelah ia duduk di tepi sungai. Dikala ter-menung2 memandang deras arus sungai, pikirannya melayang. Ia teringat akan nasibnya, terkenang akan kehidupan manusia. Kehidupan tak ubah seperti arus sungai. Mengalir, terus mengalir tanpa mengetahui apa yang akan dihadapinya.... Apabila tiba pada lamunan itu maka berkesanlah ia pada suatu kesimpulan. Tanpa rintangan, air takkan mengerahkan kekuatannya. Tanpa aral rintangan, manusia takkan kuat lahirbatinnya.

Kesimpulan itu merupakan pelajaran berharga bagi Siauliong. Tiba-tiba ia mendengar derap kaki orang. Kemudian sesosok tubuh yang roboh ke tanah dan suara erang kesakilan. Datangnya dari dalam hutan tak jauh dari tempatnya. Cepat-cepat ia loncat bangun dan lari ke dalam hutan itu. Tak berapa lama ia melihat seorang gadis menggeletak di tanah. Disisinya terdapat sebilah pedang, Siau-liong cepat menghampiri. Baru saja ia menjemput pedang dan mengangkat tubuh gadis itu, tiba-tiba terdengar derap kaki orang berlari menghampiri. Ia duga mereka tentulah musuhmusuh yang hendak mengejar gadis itu. Tanpa ayal, ia membawa lari gadis itu. Kira-kira sepuluh li jauhnya, ia melihat sebuah biara kecil. Gadis itu pucat wajahnya dan pejamkan mata. Siau-liong tahu bahwa ia tentu menderita luka berat. Harus ditolong secepatnya. Cepat-cepat ia lari kebiara kecil itu. Ruang depan biara sempit sekali. Terpaksa Siau-liong menuju keruang belakang. Tetapi disitu pun tak cukup untuk 32 tempat orang dua. Apa boleh buat, Siau liohg letakkan gadis itu dipangkuannya. Selama ikut pada Kong-sun Sin-tho, selain ilmu silat.... Siau-liong pun mendapat pelajaran tentang ilmu pengobatan. Menurut pemeriksaannya, jalan darah gadis itu sudah tak normal lagi. Ia membekal pil mujarab tetapi ia kuatir pil itu tak dapat menyembuhkan si nona. Jalan satu-satunya untuk menyembuhkan nona itu. Penyaluran itu harus dilakukan empat kali. Setiap kali memerlukan waktu empat jam. Selama pengobatan berlangsung, tak boleh diganggu orang. Sedikit saja terganggu, nona itu pasti akan cacad seumur hidup. Bahkan bisa juga, keduanya mati semua! Demi menolong jiwa nona itu, Siau-Iiong tak menghiraukan segala resiko. Ia mengambil 9 butir pil, disusupkan kemulut si nona. Karena mulut nona itu terkancing, terpaksa Siau-liong tempelkan bibirnya kemulut si nona lalu meniup pil itu. Setelah berhasil memasukkan pil kemulut si nona, Siauliong mulai mengurut seluruh jalan darah ditubuh si nona. Untunglah dalam usianya yang sudah menjenjang kedewasaan itu, Siau-liong belum mengerti tentang hubungan wanita dan pria. Pokok, ia sungguh-sungguh dan wajar. Tak berapa lama, nona itu sadar. Ia menggeliat dan merintih pelahan. "Jangan takut, harap nona kerahkan semangat, Kubantu mengobati luka nona," buru-buru Siau-liong memberi penjelasan. Saat itu si nona masih letih sekali. Ia tak dapat bicara melainkan mendengus. Dan Siau-liong segera lekatkan kedua tangannya pada perut nona itu. Ia mulai menyalurkan tenaga

murni ke tubuh nona itu. 33 Karena peredaran darah nona itu tidak normal, maka Siauliong harus bekerja keras. Dua jam lamanya, baru ia berhasil dapat menggabungkan darah nona itu dengan tenaga murninya dan berhasillah ia mengembalikan peredaran darah si nona. Tiba-tiba nona itu menjerit, suatu tanda bahwa perasaannya sudah hidup kembali. Siau-liong makin memperkeras penyalurannya. Dua jam lagi barulah ia hentikan penyaluran. Saat itu hari mulai petang. Keadaan si nona bertambah baik. "Siapakah nama nona yang mulia?" kini Siau-liong mulai mengajak bicara. Dengan suara lemah, nona itu menyahut, Namaku Tiau Bok-kun, tuan siapa.... Siau-liong menyadari bahwa kini ibunya sudah muncul kembali di dunia persilatan. Jika ia memberitahukan namanya yang asli, dikuatirkan kesulitan yang tak diinginkan. Maka ia menjawab sekenanya, Namaku Kongsun Liong, panggil saja aku Siau-liong?" Dikala mereka asyik bercakap-cakap, tiba-tiba terdengar derap langkah orang berhenti dimuka biara. Siau-liong terkejut.... Ia memandang kepintu dengan penuh perhatian. Tak berapa lama, muncullah lima orang tua. yang empat, Siau-liong mengenali sebagai Kong-tong Su-lo. Tetapi yang seorang, ia tak tahu. Rupanya kelima orang itu habis melakukan pertempuran seru. Napas mereka terengah-engah, dahinya penuh keringat. Begitu masuk, mereka terus duduk bersemedhi. Rupanya 34 mereka hendak memulangkan tenaga untuk menghadapi musuh lagi. Saat itu hari makin malam. Siau-liong terkejut. Didapatinya peredaran darah nona itu yang sudah mulai berjalan normal. Tentulah nona itu terganggu pikirannya karena kedatangar kelima orang itu. Apabila dibiarkan jiwa nona itu pasti terancam. Buru-buru Siau-liong memberi isyarat supaya nona itu tenangkan pikiran. Sedang iapun segera menyalurkan tenaga murni lagi. Sejam kemudian, kelima orang tua itupun membuka mata. Dalam ruang yang gelap, tampak sinar mata mereka itu memancar tajam sekali. "Suheng, Tang Gun-liong yang terlempar ke dalam lembah Hok-liong-koh, tentu mati atau terluka berat. Tetapi entah siapa yang menolongnya dan membawanya kegunung Hongsan. Kini dia telah meninggal dan dikubur dipuncak Hong-san dan Siau-liong anaknya itu, entah berada dimana," kata Tang Siu-seng, jago kesatu dari Kong-tong Su-lo.

Orang tua kelima yang tak dikenal Siau-liong itu, kedengaran menjawab, Kalau Gun-liong sudah mati, anaknya tentu sudah mati juga." Karena Tang Siu-seng memanggil orang itu dengan sebutan suheng, Siau-liong menduga orang itu tentulah suhu dari ayahnya yang bernama Toh Hun-ki gelar Kian-thian-ihsoh! Dari nadanya, jelas bahwa Kian-thian-ih-soh Toh Hun-ki sama sekali tak berduka atas kematian Tang Gun-liong dan lenyapnya Siau-liong. Padahal Tang Gun-liong adalah murid pewarisnya. Seharusnya Toh Hun-ki menyelidiki atau sekurang-kurangnya berduka atas kematian sang murid. 35 Sesungguhnya Toh Hun ki bukan jahat. Adalah karena ia fanatik sekali terhadap gengsi maka ia meminta kematian Tang Gun-liong dan melukai isteri muridnya itu. Kong-tong-pay termasuk salah sebuah partai persilatan yang besar. Tyoa-sek Se-si Ki Ih, isteri Tang Gun-liong itu, berasal dari seberang laut. Wanita itu gemar membunuh sehingga menimbulkan bentrokan dengan partai-partai persilatan lain. Dan sebelum resmi menikah dengan Tang Gun-liong, ia sudah melahirkan anak. Sebagai ketua Kongtongpay, Toh Hun-ki malu terhadap perbuatan muridnya. Terpaksa ia membunuh Tang Gun-liong dan melukai isterinya. Siapa tahu, tindakan itu telah menimbulkan salah faham besar. Karena tak tahu persoalannya, sudah tentu Siau-liong mendendam sekali atas kematian ayahnya, Tetapi karena ayahnya telah memesan supaya ia jangan menuntut balas, Siau-liong tak mau meminta bertanggungan jawab partai Kong-tong-pay. Selang dua jam lamanya, Siau-liong hentikan penyaluran tenaga dalam. Ia menduga nona Tiau Bok-kun itu tentu hendak dibunuh Toh Hun-ki dan Su-lo dari Kong tong-pay. Ia tak tahu apa persoalannya tetapi yang jelas tokoh-tokoh Kong-tong-pay itu bertindak kejam terhadap seorang nona. Seketika meluaplah kemarahan Siau-liong terhadap partai itu. Hutang jiwa, bayar jiwa. Demikian ketetapan hatinya. Tetapi karena amarahnya meluap. darahnya bergolak keras. Maka sampai beberapa saat ia belum dapat melanjutkan pengobatannya kepada nona itu. Memandang kepintu muka, Siau-liong terkesiap kaget. Entah kapan, tahu-tahu diambang pintu muncul seorang lelaki bertubuh kurus kering. Raut wajahnya seperti muka kuda, 36 memelihara kuncir. Pakaiannya mirip paderi bukan paderi, orang biasa bukan orang biasa. Punggungnya menyanggul sebuah senjata. "Ho, ho," orang itu tertawa meloroh, Toh tua, lekas

serahkan barang yang hendak engkau jual itu. Ingat dibawah tangan Ki-su tiada makhluk yang bernyawa lagi!" Kian-thian-it-soh Toh Hun-ki tetap duduk tenang. "Setan tua, bukankah engkau Soh-beng Ki-su? Kalau engkau menghendaki jiwa, disini tersedia lima lembar. Tetapi kalau menginginkan barang penjualan, jangan mimpi!" Soh-beng Ki-su atau Pertapa pencabut nyawa tertawa kering, Jika tak mengingat engkau seorang ketua partai persilatan, tentu sudah kucabut nyawamu. Kalau tak mau menyerahkan barang itu, jangan salahkan aku seorang ganas!" Soh-beng Ki-su inilah yang telah membunuh Koay suhu atau Bu-kek-gong-mo. Siau-liong hendak menerjang keluar dan menghajar orang itu. Tetapi karena ia sedang menenangkan darahnya yang bergolak, terpaksa ia tahan sabar. Toh Hun-ki keempat Su-lo serempak bersiap-siap. Mereka merencanakan barisan Ngo-heng-tin untuk menghadapi tokoh ganas itu. Ngo-heng-tin, merupakan barisan yang rapat ketat, dahsyat dan sukar diduga gerak perobahannya. Di dalam menyerang, pun menjaga. Dalam bertahan, juga menyerang. Tetapi Toh Hun-ki dan keempat Su-lo bergerak, Soh-beng Ki-su sudah mendahului melesat dan mencengkeram Toh Hun 37 ki. Tetapi diapun kenal akan kehebatan barisan itu. Tiba-tiba cengkeramannya ditarik tengah jalan karena dia harus melindungi diri dari serangan kelima musuh, Dengan demikian, pertempuran berjalan seru dan dahsyat. Biara kecil itu seolah-olah tergetar karena angin pukulan mereka. Siau-liong terkejut ketika Tiau Bok-kun terdengar mengerang. Cepat-cepat didekapnya mulut si nona itu. Tetapi terlambat. Tokoh-tokoh yang bertempur telah mendengarnya. Soh-beng Ki-su loncat keluar dari kepungan, Ia tertawa aneh, Bagus Budak perempuan itu ternyata berada disini. Jika kalian tetap tak mau menyerahkan, tentu dia segera kubunuh. Mendapat separoh dulu, baru kita bicara lagi." Dengan menggerung keras, kelima tokoh Kong-tong-pay itu loncat berbaris dimuka biara, menghadang Soh-beng Ki-su. Tetapi dengan bertempur cara berhadap-hadapan itu, posisi kelima tokoh Kong-tong-pay itu lebih tak menguntungkan. Soh-beng Ki-su perdengarkan ketawanya yang mirip dengan burung hantu merintih-rintih ditengah malam. Tibatiba ia mengangkat kedua tinjunya. Tulang-tulang jarinya yang panjang runcing, mirip dengan cakar burung garuda. Sesaat terdengar suara mendesis-desis. Jari-jarinya seperti mengeluarkan asap dingin. Ternyata tokoh aneh itu telah mengerahkan ilmu tenaga dalam Pek-kut-kang. Secepat kilat ia menghantam kelima musuhnya.

"Dess.... kelima tokoh Kong-tong-pay serempak memukul untuk menangkis. Terjadi benturan tenaga dalam dan hasilnya segera dapat diketahui siapa yang lebih unggul. Soh-beng Kisu tetap tenang tetapi kelima jago Kong-tong-pay itu mengerang tertahan. Jelas mereka menderita tekanan yang hebat. 38 Tring, tring.... terdengar senjata berdering-dering. Kelima jago Kong-tong-pay telah mencabut pedangnya. "Bagus, bagus, hayo majulah semua!" Soh-beng Ki-su tertawa meringkik. Iapun mencabut senjata yang berada dipunggung. Orangnya aneh, senjatapun aneh. Mirip dengan cempuling, mirip pula dengan pisau terbang. Sekali dikibaskan, senjata meluncur ke udara. Dan sekali tangannya mengacung, senjata itupun meluncur kembali ke dalam tangannya. Pertempuran dengan senjata segera berlangsung seru. Untung mereka bertempur diluar, andaikata di dalam tentulah biara kecil itu akan ambruk. Saat itu hari mulai terang tanah. Karena sudah dua jam, Siau-liong hentikan penyaluran tenaga dalamnya. Ia menghela napas panjang Keadaan Tiau Bok-kun sudah banyak kemajuan. Ia hendak mengangkat kepala tetapi Siau-liong mencegahnya dan minta nona itu beristirahat lagi. "Toh tua, diruang depan ini sempit sekali. Hayo kita bertempur diluar saja.... Jika kalian menang, budak perempuan itu boleh kalian ambil separoh. Tetapi kalau kalah, hm, hm, lima lembar jiwamu pun menjadi milikku!" seru Sohbeng Ki-su. Kelima tokoh-tokoh Kong-tong-pay itu segera mengikuti Soh-beng Ki-su keluar. Karena masih memerlukan empat jam lagi, maka Siau-liong segera mulai menyalurkan tenaga dalam lagi. Karena sudah dapat menerima penyaluran, Tiau Bok-kun pun segera menyalurkannnya keseluruh tubuh. Dari sinar matahari yang menyusup dicelah-celah dinding. barulah Siau-liong melihat jelas muka gadis itu. Seorang nona yang memiliki wajah cantik dan riang. 39 Tiau Bok-kunpun sempat juga untuk memandang penolongnya. Seorang pemuda yang gagah dan jujur. Tibatiba sepasang pipi gadis itu kemerah-merahan dan cepat palingkan muka. "In-jin." beberapa saat kemudian Tiau Bok-kun dapat berseru pelahan. In-jin artinya orang yang melepas budi. "Nona Tiau," sahut Siau-liong. Hanya dua patah kata terluncur dari mulut kedua mudamudi itu. Namun sudah melebihi ribuan kata-kata yang penuh arti....

Setiba diluar, Soh-beng Ki-su bertempur lagi dengan kelima tokoh Kong-tong-pay. Gemerincing senjata beradu, mengejutkan kedua anak muda itu. Ia memandang keluar. Tampak kelima pedang bercampur-baur dengan sinar cempuling. Diam-diam Siau-liong menyesalkan cara bertempur dari kelima orang itu. Jelas kelima tokoh Kong-tong-pay itu kalah tinggi tenaga dalamnya dengan Soh-beng Ki-su, mengapa mereka berani mengadu kekerasan? Tiba-tiba Siau-liong teringat sesuatu dan bertanialah ia kepada Tiau Bok-kun, Benda apakah yang dikatakan oleh Soh-beng Ki-su itu?" Sekonyong-konyong nona itu mencekal tangan kiri Siauliong lalu dilekatkan kedada, ujar-nya, Rabahlah Giok-pwe ini.'" Ternyata nona itu menyimpan sebuah Giok-pwe atau Lencana-kumala didadanya. Menjamah dada si nona, jengahlah muka Siau-liong. Buru-buru ia menarik tangannya. "Untuk apakah benda itu?" tanyanya. 40 "Entahlah, aku sendiri tak mengerti. Tetapi yang jelas, separoh bagian kusimpan dan yang separoh bagian ada pada Toh Hun-ki. Maka mereka hendak merebut milikku ini!" "Kalau begitu, siapapun dari mereka yang menang, tak menguntungkan engkau?" Tiau Bok-kun hanya mendengus. "Siapakah yang melukai engkau?" tanya Siau-liong pula. "Soh-beng Ki-su.... Alangkah inginnya Siau-liong saat itu keluar untuk membunuh Soh-beng Ki-su, orang yang telah membunuh Koay suhu dan melukai nona itu. Tetapi ia tak dapat meninggalkan si nona begitu saja. Ia memandang keluar. Tokoh-tokoh itu masih bertempur gigih sekali. Tetapi jarak tempat pertempuran makin menjauh dari biara. "Mudah-mudahan mereka bertempur terus saja," diamdiam Siau-liong mengharap. Kini untuk yang terakhir, ia harus memberi penyaluran tenaga dalam lagi. Ketika memandang Tiau-Bok-kun, ia heran. Wajah nona itu tampak merah. Pada hal tadi sewaktu diberi penyaluran tenaga-dalam, wajahnya tak sedemikian merahnya. "Bagaimana lukamu?" tanya cemas. Tiau Bok-kun mendesis pelahan. Mengapa engkau, nona Tiau?" tanya Siau-liong. 41 Nona itu makin merah wajahnya dan tersipu-sipu tundukan kepala. "Kita.... laksana air bertemu telaga. Ini.... serunya pelahan dan tak lanjut.

"Ini bagaimana?" desak Siau-liong. Setelah lukanya berangsur baik, kesadaran nona itupun mulai kembali lagi. Duduk merapat dengan seorang pemuda yang tak dikenal, mau tak mau sebagai seorang gadis yang masih suci, Tiau Bok-kun merasa malu sekali. "Besok saja kuterangkan," sahut nona itu. "Tetapi apakah yang hendak engkau katakan?" Siau-liong mendesak lagi. Buru-buru Tiau Bok-kun melengos. Setelah cukup beristirahat, Siau-liongpun menyalurkan tenaga dalam lagi ke tubuh si nona. Penyaluran itu merupakan pengobatan yang terakhir. Karenanya merupakan detik-detik berbahaya. Tiba-tiba tokoh-tokoh yang bertempur tadi, terdengar diluar pintu biara lagi. Dengan pendengarannya yang tajam, Siauliong dapat memperhitungkan mereka tentu dapat bertempur sampai dua jam lagi. Tetapi ia menyadari bahwa setiap saat, pertempuran akan mengalami perobahan. Maka iapun tingkatkan kewaspadaan untuk menghadapi segala kemungkinan. Selama pertempuran berjalan seru, Tiau Bok-kun pun makin bertambah baik keadaannya. Wajahnya mulai berseri makin segar laksana kuntum mekar dihari pagi. 42 Tiba-tiba Siau-liong dikejutkan oleh sebuah jeritan ngeri. Ketika memandang keluar, dilihatnya sinar pedang mulai kacau-balau. Jelas bahwa tokoh-tokoh Kong-tong-pay itu sudah mulai terancam bahaya. Asal salah satu ada yang rubuh maka berantakan barisan mereka. Tring.... terdengar gemerincing senjata beradu keras. Serempak dengan letikan bunga api, sebuah pedang telah terpental jatuh ke dalam biara. Dari keempat Su-lo, yang dua jakni Lam-kek-sian dan Pakkekong sudah duduk bersemedhi di tanah. Tentulah mereka terluka. Yang masih bertahan tinggal dua orang Su-lo dan Toh Hun-ki. Dalam pada itu, Siau-liong masih memerlukan setengah jam lagi untuk menyalurkan tenaga dalam. Asal setengah jam itu dapat berlangsung tanpa gangguan, Tiau Bok kun pasti akan sembuh sama sekali. Tetapi kalau sampai terganggu, siasia sajalah jerih payahnya selama enam belas jam itu. Tiba-tiba terdengar sebuah jeritan ngeri lagi! "Celaka! Kong-tong-pay tinggal seorang saja.... Tentu tak dapat bertahan lagi," diam-diam Siau-liong mengeluh. Tempo amat berharga sekali. Buru-buru ia kerahkan seluruh tenaga dalam untuk mempercepat penyaluran tenaga dalamnya. Tetapi alangkah kejutnya ketika ia mendengar Sohbeng Ki-su tertawa nyaring.... Pada lain saat terdengarlah suara senjata jatuh bergerontangan disusul dengan suara orang menahan

kesakitan. 43 "Celaka, habislah sudah jerih payahku selama sehari semalam," Siau-liong mengeluh. Kiranya suara orang itu berasal dari Toh Hun-ki. Pedangnya terlepas dan dadanya menerima sebuah pukulan maka rubuhlah ketua Kong-tong-pay itu di tanah.... Melihat itu dengan teriakan mendengkung-dengkung macam katak, jari tangan Soh-beng Ki-su yang tajam mencengkeram Tohl Hun-ki.... Pada detik-detik maut hendak merenggut jiwa ketua Kangtongpay itu, sekonyong-konyong terdengar suara bentakan nyaring, Bangsat tua, lihat senjataku!" "Hai, apakah engkau bukan Coa-sik Se-si....!" Soh-beng Kisu berteriak kaget. Mendengar itu terkejutlah Siau-liong. Ingin sekali ia memanggil ibunya itu tetapi karena sedang mengobati si nona terpaksa ia tahankan hati. Memang pendatang itu adalah Ki Ih atau yang digelari orang sebagai Coa-sik Se-si (si cantik Se-si yang berbisa). "Ah, kiranya engkau belum pikun, Seharusnya engkau tahu bahwa kelima bangsat tua dari Kong-tong-pay itu adalah musuhku besar. Mengapa engkau berani lancang hendak membunuhnya? Biarkan mereka beristirahat memulihkan tenaga dulu baru nanti kujadikan setan2 tanpa kepala! Nah, selagi mereka beristirahat, marilah kita isi kekosongan ini untuk membereskan perhitungan kita tempo dahulu!" "Bagus, memang aku belum puas hanya mencabut lima Perempuan siluman, lihat seranganku!" seru Soh-beng Ki-su. 44 Sinar pedang berhamburan, angin menderu-deru. Pertempuran kali ini lebih dahsyat dari tadi, Kedua tokoh itu makin lama kian jauh dari biara dan akhirnya tiada kedengaran suaranya lagi. Saat itu Siau-liong berhasil menyelesaikan penyaluran tenaga dalam yang terakhir. Bergegas-gegas ia memberi pil kepada nona itu, Minumlah dan setelah beristirahat beberapa waktu, tenagamu tentu pulih.... Sampai jumpa lagi, selamat tinggal.... "In-jin....!" Tiau Bok-kun memanggil. Tetapi pemuda itu sudah lenyap. Berlinang-linang airmata nona itu. Ingin ia menyusul In-jin atau Penolongnya itu, tetapi tenaganya masih belum mengijinkan. Begitu keluar dari biara, Siau-liong tak menghiraukan kelima tokoh Kong-tong-pay yang masih duduk bersemedhi itu. Ia lari menuju ke arah tempat ibunya. Tetapi seratus li telah ditempuh, tetap ia tak berhasil menemukan ibunya dan Soh-beng Ki-su.

Dua hari lamanya Siau-liong berkeliran mencari ibunya. Karena lupa makan lupa tidur dan habis menyalurkan tenaga dalam kepada si nona, Siau-liong merasa letih sekali, Maka ketika tiba di kota Siok-ciu, ia segera mencari sebuah rumah makan. Rencananya, setelah makan ia hendak membeli pakaian baru. Suasana dalam kota terang-benderang, rumah dihias dengan lampu tenglong warna-warni. Jalan penuh orang pesiar. Ah, tiba-tiba ia teringat bahwa malam itu adalah malam Tiong-ciu atau pertengahan musim rontok. Rembulan purnama-sidhi. Rumah2 mengadakan sesaji dengan kuweh Tiong-jiu-pia. Tengah ia berjalan, serombongan anak2 laki 45 segera mengerumuni, menyoraki dan melempari tali serta menggodanya. Siok-ciu termasuk wilayah Su-jwan. Menurut adat kebiasaan daerah itu, pada malam Tiong-ciu anak-anak diberi kebebasan untuk bersuka-ria bahkan berkelahi. Mereka menggunakan tali dan bandringan. Benda itu berat tetapi tak melukai. Siau-liong menyambar seutas tali yang dilempar seorang anak. Anak itu segera menarik sekuat-kuatnya tetapi sampai mukanya merah padam dan menangis, tetap tak mampu. Karena hendak lekas-lekas melanjutkan perjalanan, Siau-liong lepaskan tali itu. Uh, uh.... bocah itu pontang-panting jatuh terjerembab. Kepalanya benjul terbentur tanah dan menangislah ia gerung-gerung. Melihat itu kawanan anak-anak nakal segera mengepung Siau-liong. Siau-liong jengkel. Kalau didiamkan mereka makin liar. Siau-liong tak mau cari perkara. Ia diam saja dan akhirnya anak2 itu kesal sendiri. Pada saat itu Siau-liong menyiak dua anak lalu menerobos keluar. Walaupun tak menggunakan tenaga tetapi gerakan Siau-liong itu membuat kedua anak terpelanting jatuh. Hu, hu, huuu.... menangislah mereka. "Tangkap penjahat! Tangkap penjahat!" hiruk-pikuk kawanan anak nakal itu berteriak-teriak sambil mengejar. Tetapi Siau-liong sudah jauh. Ia terhindar dari gangguan anak2 nakal tetapi ia gagal membeli makanan dan pakaian. Saat itu ia duduk disebuah batu dalam hutan. Sambil melepaskan lelah, ia mengusapusap lencana Tengkorak didadanya dengan menyeringai. 46 Lencana itu berasal dari leher Tengkorak yang berada dalam gua tempo hari. Siau-liong termenung-menung memikirkan nasibnya. Jika lain orang pada malam purnama itu duduk menikmati kuweh Tiong-ciu-pia, adalah dia duduk seorang diri dalam hutan!

Tetapi perutnya merintih-rintih minta isi. Memandang jauh kemuka, tampak dikaki gunung sebuah bangunan besar yang terang-benderang penerangannya. Segera ia menuju kesana. Tiba ditempat itu ia terkejut dan ragu2 memasuki. Papan nama yang tergantung pada pintu rumah itu bertuliskan Tayhudsi atau gereja Buddha besar. Pada kedua samping titian dihalaman gereja itu tampak empat orang lelaki berdiri tegak tanpa baju. Pada leher mereka melingkar kalung Lencana Tengkorak. Melihat mereka tak berbaju, hilanglah rasa malu Siau-liong yang bajunya compang camping. Tanpa banyak pikir, ia segera naik ketitian.... Sebenarnya keempat penjaga itu tentu melihatnya tetapi entah bagaimana mereka diam saja. Dan Siau-liong pun juga tak mempedulikan mereka. Ia terus melangkah ke dalam pintu. Di belakang pintu ternyata merupakan sebuah halaman luas. Ujung halaman terdapat sebuah bangunan gedung besar. Beratus-ratus orang memenuhi halaman dan gedung. Rupanya disitu sedang diselenggarakan perjamuan besar. Yang mengherankan Siau-liong ialah semua orang yang hadir disitu sama tidak mengenakan baju dan sama berkalung 47 lencana tengkorak. Pada umumnya mereka bertubuh kurus kering, celana kumal dan baunya busuk. Siau-liong tak menghiraukan siapa mereka. Paling penting ia hendak ikut duduk menyantap hidangan. Tiba-tiba dua lelaki pincang muncul. Dengan mencekal tongkat, mereka menghampiri Siau-liong. Muka mereka kotor, rambut kusut masai dan tubuh kurus sekali. Hanya kedua matanya yang bersinar tajam. Yang seorang kakinya kiri yang pincang. Yang seorang, kakinya kanan yang pincang. "Budak, darimana engkau?" tegur mereka. Siau-liong terkesiap. Tak tahu ia siapa mereka dan tempat apa itu. Dengan singkat ia menyahut, Hong-san!" Kedua lelaki pincang itu tertegun. Mata mereka berkilatkilat memandang Siau-liong, tanyanya pula, Hendak kemana?" "Mencari.... , " baru Siau-liong hendak mengatakan 'Mencari ibu', ia merasa kelepasan omong dan cepat mengganti dengan ucapan, Menuju ketempat tujuan." Kedua lelaki pincang itu terkesiap heran. Pertanyaan pertama, dijawab salah. Tetapi pertanyaan kedua dijawab betul. "Dari mana engkau mendapat petunjuk?" tanya mereka. "Dari dalam laut!" "Kapan susou-ya datang?" tanya mereka lagi. 48

Siau-liong sebal mendengar pertanyaan yang2 tiada artinya itu. Cepat ia menukas, Entah! Aku lapar, jangan bertanya lagi!" "Silahkan!" diluar dugaan kedua lelaki pincang itu berputar tubuh dan berjalan lebih dulu. Pucuk dicinta ulam tiba. Perut lapar, malah diundang makan. Demikian anggapan Siau-liong. Segera ia mengikuti kedua lelaki pincang itu menuju ke dalam gedung besar. Semua hadirin diam saja. Beratus-ratus mata mencurah ke arah Siau-liong. Tiba diujung ruangan kedua lelaki pincang itu berlutut didepan seorang tua yang rambut dan alisnya sudah putih semua. Jenggotnya yang berkilat-kilat seperti perak, menjulai sampai keperut. Tetapi wajahnya masih segar seperti kanak-kanak. "Seorang budak liar telah menyelundup dengan menyamar sebagai anggauta kita. Harap bapak ketua memeriksanya," kata lelaki yang pincang kaki kiri. Orang tua yang disebut bapak ketua atau pangcu itu, mendengus. Kedua lelaki pincang bangun dan berdiri disampingnya. Mata orang tua itu berkilat-kilat menatap Siau-liong. Akan tetapi ketika pandang matanya tertumbuk pada lencana Tengkorak yang melingkar dileher Siau-liong, ia terbeliak kaget! Serentak berbangkitlah ia pelahan-lahan. Dengan mencekal sebatang tongkat kumala hijau, ia menghampiri Siau-liong. Pemuda itu terkesiap. Orang tua itu ditaksir sudah 80 tahun umurnya tetapi masih gagah.... Tetapi mengapa sikapnya seperti bermusuhan? 49 Begitu dekat, orang tua itu segera putar tongkatnya. Seketika tubuh Siau-liong dikurung oleh ribuan sinar hijau kemilau. Seluruh hadirin terkejut. Mereka tak mengerti mengapa bapak ketua tiba-tiba menyerang seorang bocah liar dengan jurus sakti Ciong-lo-ban-jio? Semula Siau-liong terkejut. Tetapi diam-diam ia merasa agak paham juga tentang jurus serangan itu. Dalam taburan hujan sinar tongkat, ia dapat mengetahui dimana letak kelemahannya. Maka bergeraklah ia dengan langkah yang aneh dan tahu2 ia sudah menerobos keluar dari lingkaran sinar tongkat. Pak tua itu tertegun sejenak. Tetapi pada lain saat ia lancarkan lagi dua buah serangan dahsyat. Tetapi lagi-lagi Siau-liong dapat meloloskan diri. Kini sekalian hadirin benar-benar terperanjat. Setelah tiga kali serangannya gagal, tiba-tiba pak tua itu membungkuk badan memberi hormat kepada Siau-liong. Kemudian mempersilahkannya masuk ke dalam ruangan besar.

Tiba-tiba orang tua itu mengacungkan tongkat kumala ke atas dan serempak sekalian hadirin berlutut dengan khidmat. "Cousu-ya telah datang! Dirgahayu! Dirgahayu!" teriak orang tua itu dengan nyaring. "Dirgahayu! Semoga panjang usia!" bergemuruhlah ruang gedung dan halaman menyambut pernyataan pak tua itu. Tiba-tiba pak tua itu berlutut di tanah. Suasana hening seketika. Tiada seorangpun yang berani mengangkat muka. 50 Sambil mencekal tongkat kumaia dengan kedua tangan, pak tua itu berseru pula, Ketua partai Kay-pang dari Kanglam, Pengemis-jenggot-perak To Kiu-kong serta seluruh anak murid, mohon maaf karena tak mengetahui akan kunjungan causu-ya!" Diperlakukan sedemikian hormat dan disebut-sebut sebagai causu-ya atau kakek guru, bukan kepalang kejut Siau-liong. Masakan dirinya dianggap sebagai causu dari Kay-pang atau partai kaum pengemis! Namun sia-sialah Siau-liong hendak memberi penjelasan. Mereka tentu tak percaya. Apa boleh buat, terpaksa ia berseru, Bangunlah! Bangunlah!" Pengemis-jenggot-perak To Kiu-kong ternyata ketua partai Kay-pang cabang Kanglam Dia memberi hormat lalu bangun. Ia mengumumkan kepada hadirin bahwa Cousu-ya dari partai Kay-pang yang sudah berpuluh tahun tak muncul, sekarang berkunjung kesitu. Seketika terdengar sambutan para hadirin, bersorak dengan gegap gempita.... Tetapi diam-diam mereka kurang yakin. Benarkah sousu-ya dari partai Kay-pang yang disohorkan sakti itu hanya seorang pemuda yang baru berumur belasan tahun? Perjamuan berjalan terus. Pengemis-jenggot-perak duduk menemani Siau-liong. Kedua pengemis pincang tadipun diperkenalkan kepada Siau-liong. Yang pincang kakinya kiri bernama Tio Thou bergelar Thiat-koay-co atau Tongkat-besikiri. Sedang yang pincang kakinya kanan bernama Li Ji gelar Thiat-koay-yu atau Tongkat-besi-kanan. Keduanya menjabat pengurus besar partai Kay-pang wilayah Kanglam. 51 Selesai perjamuan, To Kiu-kong menuturkan keadaan dan pergolakan dunia persilatan selama ini. Terutama hal perkembangan partai Kay-pang. Kay-pang termasuk Ceng-pay atau partai golongan Putih. Merupakan sebuah partai yang kemasyhurannya sejajar dengan lain-lain partai persilatan. Kay-pang didirikan oleh Kiu-ci-sin-kay atau Pengemis-saktijarisembilan Ang Jit-kong pada akhir ahala Song. Tetapi kemudian partai itu pecah menjadi dua. Yang satu didaerah

selatan dan menamakan diri sebagai Kanglam Kay-pang. Yang satu didaerah utara dengan nama Kangpak Kay-pang. Kedua partay Kay-pang itu bentrok dan saling bermusuhan. Akhirnya dicapai persetujuan, mengajukan calon ketua. Tiap tiga tahun bertemu dipuncak Lok-gan-hong gunung Hoasan, untuk bertanding memperebutkan kedudukan ketua Kay-pang dari Kanglam dan Kangpak. Yang kalah harus tunduk pada perintahnya. Tokoh pertama yang menjabat sebagai ketua Kanglam Kaypang adalah Song Thian-kun bergelar Ko-lo-sin-kay atau Pengemis Tengkorak-sakti. Dalam pertandingan di Hoasan, dia berhasil mengalahkan calon dari Kangpak Kay-pang yang bernama Yong Jim. Gelar Tengkorak-sakti itu diberikan kepada Song Thian-kun karena tubuhnya yang kurus kering seperti tulang terbungkus kulit. Setelah menjabat ketua umum kedua golongan partay Kay-pang itu, ia membuat lencana tengkorak sebagai tanda pengenal diri. Lencana pengenal itu diperuntukkan apabila ia mengeluarkan pengumuman, memanggil rapat, memanggil seorang pengurus partai dan lain-lain yang menyangkut kepentingan organisasi Kay-pang. 52 Berkat kesaktiannya, Song Thian-kun telah berhasil tiga kali mengalahkan calon dari Kangpak Kay-pang. Dengan begitu, ia dapat menjabat sebagai ketua umum selama 9 tahun. Pada tahun kedua dalam jabatannya yang ketiga kali sebagai ketua umum partai Kay-pang, di dunia persilatan muncullah lima orang durjana besar. Dunia persilatan menggelari mereka dengan istilah singkat: Thian, Te, Liong, Hou dan Bu-kek-gong-mo. Mereka berlima memusuhi partai2 persilatan yang ternama. "Huh, partai2 persilatan yang membanggakan diri sebagai golongan Putih itu tak lain tak bukan hanya gerombolan manusia2 busuk!" demikian ejekan yang dilontarkan kelima durjana itu. Pada saat partai2 besar sedang kewalahan menghadapi gangguan keempat durjana Thian, Te, Liong, Hou, tiba-tiba muncul pula Bu-kek-gong-mo atau si Pendekar Laknat! Pendekar Laknat ini lebih gila lagi. Dia gemar membunuh. Jiwa manusia dianggap seperti jiwa ayam saja. Oleh karena tak mampu mengatasi, akhirnya partai2 besar itu tak mampu bertindak lagi. Mereka menutup diri, masing-masing menjaga keselamatan tempatnya sendiri2. Hanya Pengemis Tengkorak-sakti Song Thay-kun satusatunya tokoh yang berani menentang kawanan durjana ganas itu. Ia mencari Pendekar Laknat dan bertempur selama tiga hari tiga malam. Tetapi tetap tak ada yang menang dan kalah. Keunggulan Pendekar Laknat terletak pada ilmu tenagasakti

Bu-kek-sin-kang. Sedang keistimewaan Pengemis 53 tengkorak-sakti pada ilmu pukulan Thay-siang-ciang yang sakti. Akhirnya karena agak lengah, Pengemis Tengkorak-sakti tersapu oleh sebuah pukulan Pendekar Laknat. Tetapi durjana itupun terhunjam sebuah hantaman dari Pengemis Tengkoraksakti. Kedua-duanya sama-sama terluka parah! Sejak itu Pengemis Tengkorak-sakti Song Thay-kun melenyapkan diri.... Sedang Pendekar Laknat kabarnya pun dikeroyok oleh keempat durjana Thian, Te, Liong, Hou. Tetapi keempat durjana itu gagal membunuh Pendekar Laknat. Mereka menderita luka dan menyembunyikan diri. Demi mengenangkan jasa Pengemis Tengkorak-sakti. Song Thay-kun, partai Kay-pang wilayah Kanglam telah menyempurnakan susunan organisasinya. Menurut tinggi rendahnya kedudukan, Setiap anggauta mengenakan lencana Tengkorak yang bentuknya berlainan. Menentukan sandi2 pertanyaan rahasia untuk menghadapi orang yang tak dikenal. Sandi pertanyaan itu diajukan kedua pengemis pincang tadi ketika menyambul Siau-liong. Dan pada saat melihat anak itu berkalung lencana tengkorak, To Kiu-kong segera mengenalinya, sebagai benda keramat peninggalan Pengemis Tengkorak-sakti Song Thay-kun. Kemudian untuk menguji benarkah anak itu murid pewaris dari Song Thay-kun maka To Kiu-kong telah gunakan jurus Ciong-lo-ban-jio menyerangnya........ Lenyapnya Pengemis Tengkorak-sakti Song Thay-kun dari dunia persilatan, ikut hilang pula ilmu pukulan sakti Thaysiangciang yang menjadi kebanggaan partai Kay-pang di Kanglam. Kini hanya tinggal ilmu tongkat Ji-thau-ciang hwat saja yang turun temurun diajarkan dikalangan anak murid Kay-pang. 54 Jurus Ciong-lo-ban-jio atau Ribuan-gajah-menginjak, merupakan jurus yang paling istimewa dalam ilmu tongkat Jithauciang-hwat atau Pengemis-minta-tongkat. Tetapi jurus itu masih kalah unggul dengan jurus Thay-siang-bu-kek, salah satu jurus dari pukulan sakti Thay-siang-ciang. Maka tadi begitu diserang, Siau-liong segera tahu gerakan lawan dan terus gunakan jurus Thay-siang-bu-kek. Dengan mudah ia dapat menghindari ketiga buah serangan To Kiukong. Pada saat itulah Pengemis-jenggot-perak To Kiu-kong baru benar-benar memastikan bahwa Siau-liong adalah pewaris dari cousu-ya Kay-pang. Dengan begitu berarti Pengemis Tengkorak-sakti Song-thay-kun muncul kembali. Girang To Kiu-kong sukar dilukiskan! Tahun ini Hoasan akan dilangsungkan pertandingan untuk

merebut kedudukan Ketua Umum Kay-pang. Maka berkumpullah seluruh tokoh-tokoh penting dari murid2 Kaypang didaerah Kanglam. Mereka hendak merundingkan dan menentukan jago yang hendak diajukan ke Hoasan. Untuk menghadang penyelundupan orang luar maka setiap anggauta yang datang harus buka baju dan mengenakan kalung berlencana tengkorak. Demikian To Kiu-kong mengakhiri penuturannya. Saat itu Siau-liong benar-benar tercengkam oleh berbagai perasaan. Heran, terkejut, girang, sedih, cemas campur-aduk memenuhi rongga kalbunya. Dia menjadi pewaris dari Pengemis Tengkorak-sakti Song Thian-kun. Tetapi pun menjadi murid dari Koay suhu atau si 55 Pendekar Laknat. Padahal kedua tokoh itu semasa hidupnya, saling bermusuhan. Diapun ternyata putera dari si wanita cantik Ki Ih yang dimusuhi oleh partay-partai persilatan. Lalu sebagai pewaris Pengemis Tengkorak sakti Song Thay-kun, dia dianggap sebagai ketua partai Kay-pang daerah Kanglam. Ia bersahabat dengan partai2 persilatan dan bermusuhan dengan partai Kaypang daerah Kangpak. Tetapi sebagai murid dari Pendekar Laknat dan putera dari Ki Ih, ia harus memusuhi semua manusia di dunia! Ah, bagaimanakah ia harus bertindak....? Kepada orang2 Kay-pang, ia mengaku bernama Kongsun Liong. Ia menuturkan juga pengalamannya masuk ke dalam perut bumi dan memperoleh ilmu pukulan sakti Thay-siangciang.... Hanya mengenai pertemuannya dengan Koay suhu si Pendekar Laknat, ia tak menceritakan kepada mereka. Kini sekalian anggauta Kay-pang menyadari bahwa ketua mereka yang sakti Pengemis Tengkorak-sakti Song Thian-kun sudah meninggal. Dan percaya pula bahwa pemuda itu memang benar-benar menerima ilmu warisan dari Song Thaykun. Dengan demikian partai Kay-pang daerah Kang-lam akan jaya kembali. Mereka telah memperoleh pengganti ketua yang baru! Sejak ber-tahun2 belum pernah pesta pertemuan anggauta Kay-pang wilayah Kanglam, semeriah dan segembira seperti saat itu. Hiruk-pikuk kegembiraan berkumandang jauh sampai diluar biara.... Sekonyong-konyong dari luar pintu biara terdengar sebuah tertawa gemercik. Sebuah nada yang berciri khas tersendiri. 56 "Ah, dia datang," To Tiu-kong tertawa. "Siapa?" tanya Siau-liong. "Salah seorang anggauta pengurus besar partai kita Siaukay To Tay-tong."

Siau-kay atau Pengemis tertawa Tio Tay-tong melangkah masuk dan memberi hormat kepada To Kiu-kong lalu tiba-tiba berseru, Dunia kacau! Dunia kacau balau." "Memang kuduga engkau membawa berita luar biasa. Hayo, cepat beri hormat kepada cousu-ya dulu!" seru To Kuikong. Memandang Siau-liong, Pengemis-tertawa itu terbeliak. Tetapi ketika melihat lencana tengkorak didada Siau-liong, cepat ia berlutut memberi hormat. Siau-liong merasa kikuk. Ia minta jangan dipanggil Cousuya atau kakek guru. Tetapi To Kiu-kong mengatakan bahwa sebutan itu memang diberikan kepada mendiang Pengemis Tengkorak-sakti. Karena Siau-liong dianggap sebagai penggantinya maka harus menerima sebutan itu. Kemudian To Kiu-kong minta penjelasan kepada Pengemistertawa, Apa maksudmu. mengatakan dunia kacau-balau tadi?" Pengemis-tertawa Tio Tay-tong tertawa nyaring sekali, sahutnya, Dengan munculnya Cousu-ya, pasti akan lebih ramai lagi!" "Lekas katakanlah!" tukas To Kiu-kong. 57 "Semua dedongkot2 persilatan sama muncul lagi. Dunia persilatan pasti akan dilanda banjir darah pula! Bukankah dunia kacau-balau?" seru Pengemis-tertawa itu. Sekalian orang terperanjat. Bahkan ada yang menggigil gemetar. "Konon kabarnya si Cantik-beracun Ki Ih muncul didaerah Siok-ciu. Kelima durjana besar pada jaman 20-an tahun berselang yakni Thian, Te, Liong, Hou dan Pendekar Laknat muncul lagi. Kay-se Thian-mo dan Te-gak Lo-sat kabarnya tampakkan diri digunung Thian-san. Keng-san Siat-liong dan Hou-pik Kau-hun, unjuk diri di Se-pak. Lalu Pendekar Laknat timbul digunung Hoa-san. Menurut kabar, begitu muncul Pendekar Laknat dengan dua kali pukulan saja telah menghancurkan belasan tokoh2 lihay. Coba katakanlah, apakah dunia takkan kacau-balau?" "Hongsan? Bukankah Cousu-ya juga datang dari gunung itu? Apakah cousu-ya mengetahui hal itu?" tanya To Kiu-kong kepada Siau-liong. "Hal ini.... karena hampir setahun aku berada dibawah gunung maka tak pernah kudengar apa2," jawab Siau-liong. Suasana perjamuan yang gembira-ria, mendadak berobah menjadi tegang regang, cemas gelisah. Tengah sekalian orang gelisah, tiba-tiba di udara menggema lagi sebuah tertawa gelak2 yang amat nyaring. Sekalian orang terkejut. Mereka memandang kesekeliling penjuru tetapi tak tampak suatu apa. Siau-liong dan beberapa tokoh Kay-pang segera melangkah keluar.

58 Dibawah sinar bulan purnama, tampak seorang aneh berdiri di atas puncak rumah. Orang itu mengenakan pakaian warna biru. Mukanya ditutup kain selubung hitam. Siau-liong cepat loncat kewuwungan disusul To Kiu-kong, Pengemis-tertawa, Tongkat-besi-kiri Tio Thau, Tongkat-besikanan Li Ji dan lain-lain. Siau-liong terkejut melihat pendatang yang serba misterius itu. Pada saat ia hendak menegur, tiba-tiba orang aneh itu sudah lancarkan dua buah pukulan kepadanya. Tangan kiri memukul dengan jurus Toh-beng-han-kong atau Sinar-dinginmerenggutnyawa. Tangan kanan menghantam dengan jurus Kian-gun-it-biat atau pukulan Panglebur-jagad! Siau-liong terpaksa mundur selangkah, Melihat serangan itu begitu hebat, ia duga orang itu tentu bukan tokoh sembarangan. Ingin ia menyapa tetapi kembali orang itu menyerangnya lagi. Dua buah tangannya susul menyusul melontarkan hantaman dengan jurus yang aneh dan dahsyat. Dalam sekejab saja, sembilan buah pukulan berantai dan enam buah tendangan, telah diserangkan. Siau-liong tak sempat bertanya lagi. Ia mengkal sekali kepada keberandalan orang itu. Segera ia balas menyerang dengan ilmu pukulan Gun-go-ciang ajaran gurunya Kongsun Sin-to yang terdiri dari 36 jurus. Namun orang misterius itu memiliki kelincahan yang mengagumkan sekali. Jurus2 pukulannya sangat aneh, penuh perobahan yang sukar diduga. Baru lebih kurang sejam dinobatkan sebagai ketua Kaypang, Siau-liong sudah mendapat ujian berat. Diam-diam ia mengagumi kesaktian orang itu. 59 Tetapi diam-diam ia malu terhadap anak buah Kay-pang karena sudah bertempur 100 jurus masih belum dapat mengalahkan lawan. Rasa malu itu membangkitkan kemarahan Siau-liong.... ---ooo0dw0ooo--Jilid 02 Kilat Lawan Tengkorak TO KIU-KONG terkesiap. Dahulu ilmu pukulan Thay-siangciang yang dimainkan mendiang Pengemis Tengkorak, tidaklah sedahsyat yang dilancarkan Siau-liong saat itu. Tetapi kesaktian orang berkerudung itupun bukan olaholah. Memang pada saat menghadapi taburan Thay-lo-kimkongciang, ia terhuyung-huyung mundur sampai tiga langkah. Tetapi setelah itu, ia loncat menerjang maju lagi. Siau-liong marah. Cepat ia melambung ke udara. Setelah berputar-putar, ia menukik dan siap lancarkan jurus kedua: Siu-lo-pan-cha.

Ketika melihat sepasang telapak tangan Siau-liong berkilat2 merah, To Kiu-kong dan kawan-kawannya memekik kaget: Bu-kek-sin-kang! Sebenarnya Siau-liong tak mau menggunakan ilmu pukulan Bu-kek-sin-kang itu. Karena hal itu akan mengakibatkan dirinya diketahui orang. Tetapi karena musuh terlampau sakti, terpaksa ia mengeluarkan pukulan tenaga-sakti itu. To Kiu-kong terkejut. Ia duga orang berkerudung itu tentu hancur. Tetapi diluar dugaan orang misterius itu malah 60 tertawa melengking menghindar kesamping dan menyongsong pukulan Siau-liong dari samping. Dess.... kembali terjadi benturan antara tenaga-sakti keras lawan tenaga-sakti lunak. Dan pukulan Siau-liong itupun buyar.... Siau-liong makin heran. Alangkah hebatnya kepandaian orang itu! Diam-diam Siau-liong seperti pernah mengenal ketawa dan gerak-gerik orang itu. Tetapi entah dimana, ia lupa. Dan yang terutama membuat Siau-liong terpukau ialah tenaga-lunak yang dimiliki orang itu. Benar-benar ia belum pernah menyaksikan. To Kiu-kong dan rombongannya terkejut karena melihat Siau-liong tertegun diam. Tetapi sebelum mereka bertindak, orang aneh itu sudah buang diri berjumpalitan beberapa tombak ke belakang. Kemudian dengan tiga kali locatan, ia sudah lolos. Siau-liong cepat mengejar. To Kiu-kong gelagapan. Sungguh berbahaya membiarkan ketua mereka mengejar seorang diri. Segera ia ajak anak buahnya menyusul. Tetapi walaupun menyusup hutan melintasi gunung, mereka tak dapat menemukan ketua mereka dan orang aneh itu. Tiba-tiba dari arah tenggara terdengar suitan nyaring. To Kiu-kong dan anak buahnya segera menuju kesana. Mereka tiba di sebuah kuil kecil dipinggir kaki gunung. Sekelilingnya penuh pohon cemara dan hutan bambu. Rakyat menamakan Thing-si-poh atau kuil Penyimpan Peti-mati. Suitan tadi jelas berasal dari kuil itu. Saat itu rembulan sudah condong kebarat. Suasana disekeliling kuil, amat seram. Bahkan seorang jago sakti seperti To Kiu-kong, diam-diam pun menggigil dalam hati. 61 Tetapi rasa seram itu segera lenyap ketika menyadari bahwa suitan nyaring tadi jelas tentu dari jago silat yang memiliki lwekang sakti. To Kiu-kong segera menghampiri kuil itu. Dan ketika mengintai ke dalam kuil, hampir saja To Kiukong dan anak buahnya terkejut pingsan.... Soh-beng Ki-su yang berwajah seperti mayat, tengah berputar-putar diantara peti mati karena hendak menerkam si dara cantik Tiau Bokkun!

Dalam ruang kuil itu terdapat tak kurang dari 200 buah peti mati. Tiau Bok-kun termasyhur memiliki ilmu meringankan tubuh yang sakti. Karena itu kaum persilatan menyanjungnya dengan gelar Dewi Kilat. Entah bagaimana mulanya Tiau Bok-kun dikejar-kejar Sohbeng Ki-su dalam kuil situ. Untung berkat ginkangnya yang sakti, nona itu dapat berlincahan menyelundup diantara selasela peti-mati sehingga Soh beng Ki-su meraung-raung seperti singa kelaparan. Seharusnya To Kiu kong tak dapat berpeluk tangan mengawasi nona itu diancam Soh-beng Ki-su yang termasyhur sebagai Hwat-giam-lo-ong atau Giam-lo-ong hidup (Raja Akhirat). Tetapi ketua Kay-pang itupun menyadari bahwa jika sekali pukul tak dapat membinasakan Soh-beng Ki-su, akibatnya berbahaya. Kay-pang tentu akan tambah mendapat seorang musuh yang ganas. Tampak Soh-beng Ki-su mengamuk sekali. Kesepuluh jarinya yang runcing macam cakar garuda, mendesis-desis mengeluarkan asap Pek-kut-kang atau ilmu sakti Tulang-putih mulai dilancarkan! Dibawah taburan ilmu-sakti Pek-kut-kang itulah dahulu Tiau Bok-kun pernah menderita luka. Untung pada waktu itu ia ketemu dan ditolong Siau-liong. 62 Seketika pucatlah wajah Tiau Bok-kun. Cress.... tiba-tiba Soh beng Ki-su mencengkeram. Dan serempak dengan itu, To Kiu-kong dan Pengemis Tertawa segera hendak loncat menerjang untuk menolong Tiau Bokkun. Tetapi, uh.... terpaksa mereka hentikan gerakannya.' Ternyata cengkeraman Soh-beng Ki-su itu tidak ditujukan pada Tiau Bok-kun tetapi kesebuah peti-mati yang berada di samping kanannya. Krak.... kayu penutup peti hancur lebur beterbangan keempat penjuru.... Kiranya tujuan Soh-beng Ki-su hanya hendak memamerkan betapa dahsyat tenaga cengkeramannya itu agar si nona menyerah saja. Demikian dugaan To Kiu-kong. Tetapi ternyata dugaan itu meleset. Setelah menghancurkan tutup peti, jari Soh-beng Ki-su tetap memancarkan aliran tenaga-sakti ke dalam peti. Tibatiba mayat dalam peti itu pun bangun. Dalam kuil di tengah hutan dengan berisi 200 buah peti mati, sudah cukup membuat nyali copot. Apalagi sesosok mayat dapat bangun dan duduk. To Kiu-kong dan Pengemis Tertawa hampir jatuh kelenger.... Karena takutnya Tiau Bok-kun menjerit. Tetapi karena Sohbeng Ki-su menghadang dimuka, terpaksa ia menyelinap mundur ke belakang dua buah peti mati. Soh-beng Ki-su mengangkat tangan dan tengkorak itupun berdiri lalu loncat keluar dari peti matinya.

Hai! Adakah Soh-beng Ki-su memiliki ilmu sihir? 63 Tidak! Ilmu itu disebut tenaga-sakti Pek-kut-kang atau ilmu Tulang Putih. Ilmu tersebut didasarkan pada latihan menyedot hawa phosporus mayat-mayat yang sudah menjadi tengkorak. Dengan latihan itu dapatlah Soh beng Ki-su menggerakkan mayat dan diperintah menurut sekehendak hatinya. Antara lain disuruh bersilat dan menyerang orang! Berturut-turut Soh-beng Ki-su menghidupkan tengkorak2 lalu diperintahkannya mengepung Tiau Bok-kun. Diantara mayat2 yang dihidupkan itu, terdapat beberapa kerangka tengkorak yang masih belum hancur dagingnya. Selain ujutnya mengerikan, pun baunya bukan alang kepalang.... Tiau Bok-kun menggigil. Gerahamnya berkerenyut keras. Sambil kepalkan tinju dan memegang pedang erat-erat, ia bersiap-siap. Setelah menghidupkan tengkorak2 itu, Soh-beng Ki-su pun segera berseru memberi perintah. Sesosok tengkorak segera mainkan kedua tulang tangannya menyerang Tiau Bok-kun. Nona itu tak gentar. Ia mainkan pedangnya dalam jurus Angin-puyuh. Tetapi pada saat sepasang tulang lengan tengkorak itu akan tertabas, tiba-tiba Soh-beng Ki-su gerakkan tangan kiri dan berseru memberi komando, Si-heng pianyap.... Tengkorak disebelah kiri yang kerat dagingnya masih melekat, segera menyerang Tiau Bok-kun. Bau busuk berhamburan memenuhi ruang. Hebat dan ngeri sekali! Dibawah perintah gerakan tangan Soh-beng Ki-su, tengkorak yang masih berdaging itu dapat menyerang dengan ilmu pukulan Pek-kut-kang yang hebat. Nona itu tak keburu menangkis. Untung ia memiliki ginkang yang hebat dan otak yang tajam, Sekonyong konyog ia 64 bertekuk tubuh ke belakang sampai punggung mendatar dengan tanah. Pedang dilintangkan untuk menjaga tubuh. Kemudian dengan menjaga tubuh. Kemudian dengan sebuah gerakan yang luar biasa, ia melenting kemuka dan menerobos kepungan, melalui celah dua sosok tengkorak. Tetapi usaha nona itu tak banyak menolong. Hanya beberapa detik ia dapat bernapas legah atau ia terkejut karena dapatkan dibelakangnya itu merupakan dinding kuil. Tak mungkin ia dapat loncat mundur lagi. Sedang kelima tengkorak itu hanya dengan dua tiga kali loncatan, sudah berjajar menghadang Tiau Bok-kun. Walaupun tengkoraktengkorak itu sudah tak bermata lagi tetapi muka mereka yang tertuju kepada si nona, tak ubah seperti orang yang dapat melihat. Pada saat Tiau Bok-kun sedang terpojok, Soh beng Ki-su pun giat menghancurkan tutup beberapa peti-mati lagi.

Berpuluh-puluh tengkorak loncat keluar dari peti masingmasing. Ada yang mukanya hancur tetapi hidungnya complong tetapi mulut masih melekat dengan jenggot yang memanjang lebat. Pendek kata, barang siapa menyaksikan pemandangan saat itu, tentu akan pingsan atau mati kaku! Berpuluh-puluh mayat dan tengkorak yang tak keruan ujutnya itu, berkerumun mengepung Tiau Bok-kun. Betapapun hebat ilmu ginkang nona itu, namun kiranya tak mungkin ia mampu lolos dari kepungan barisan Si-mo-tin atau barisan Tengk-rak itu. To Kiu-kong dan Pengemis Tertawa mempunyai rencana sama. Satu2nya jalan untuk menolong si nona. hanyalah dengan meringkus Soh-beng Ki-su. 65 Namun keduanya menyadari bahwa sekalipun keduanya maju serempak, belum tentu dapat mengalahkan Soh-beng Kisu. To Kiu-kong dan Pengemis Tertawa benar-benar tersiksa batinnya. Tidak menolong, tak sampai hati. Namun menolong pun belum tentu berhasil. Dan kegagalan itu berakibat besar bagi partai Kay-pang. Namun dapatkah mereka hanya berpeluk tangan saja? Ah, perbuatan itu berlawanan dengan jiwa seorang ksatrya! Tetapi sebelum keduanya bertindak, tiba-tiba lima sosok bayangan melayang masuk dari atas tembok dan berjajar di belakang Soh-beng Ki-su. Mereka bukan lain adalah ketua Kong tong-pay To Hun-ki dan keempat Kong-tong Su-lo. Serentak Soh-beng Ki-su berputar tubuh, Oho, disurga terbentang jalan lebar, kamu malah pilih masuk ke Neraka. Bangsat tua, serahkan jiwamu!" Soh-beng Ki-su atau Pertapa Pencabut-nyawa itu gerakkan sepasang jari tangannya yang runcing. 8eketika ribuan cakar putih berhamburan ke arah kelima tokoh partai Kong-tong-pay itu. Kui-ing-tong-tong atau Bayangan-setan-lalu-lalang, demikian jurus yang dimainkan pertapa gila itu. Tiau Bok-kun tak mau men-sia2kan kesempatan sebagus itu. Pada saat Soh-beng Ki-su sibuk menghadapi kelima tokoh Kong-tong-pay, nona itu segera mainkan pedang dalam jurus Sip-hong-sip-u atau Sepuluh-angin-sepuluh-hujan untuk membobol kepungan barisan tengkorak yang tak berkomando. Tetapi gerak gerik nona itu tak luput dari pengawasan sipertapa ganas. Seperti tumbuh mata pada punggungnya, 66 Soh-beng Ki-su segera memberi perintah kepada barisan Tengkorak, Cui-si-kui-gok." Mendengar perintah Cui-si-kui-gok atau Mayat hancur-iblismenangis itu, barisan Tengkorak segera menyerbu Tiau Bokkun lagi. Dan anehnya, tengkorak yang mempelopori penyerangan itu dapat menghindar apabila Tiau Bok-kun

menabasnya. Mereka tetap merangsang maju. Tiau Bok-kun makin gugup. Ia mainkan jurus Hong-u-putthou atau tak-tembus-hujan-angin untuk melindungi diri.... Dalam pada itu To Hun-ki dan keempat Su-lo, dengan susah payah dapat menghindari serangan pertapa ganas itu. Tetapi belum sempat balas menyerang, Soh-beng Ki-su sudah menyerangnya sambil memberi komando kepada barisan Tengkorak. Tetapi karena perhatiannya agak terpecah dalam memberi komando dan menyerang sendiri, mala berkuranglah kedahsyatan serangan barisan Tengkorak maupun Soh-beng Ki-su sendiri. Dengan begitu Tiau Bok-kun dapat bertahan beberapa saat. Seperti telah dituturkan dibagian muka, pada saat menghadapi siwanita cantik Ki Ih, Soh-beng Ki-su terpaksa mundur dan melarikan diri ke dalam kuil itu. Sebenarnya ia hendak mempersiapkan barisan Tengkorak untuk membunuh wanita itu. Tetapi tak ter-duga2, Tiau--Bok-kun melangkah masuk. Melihat itu iapun terus menerkam si nona.... Mendiang ayah nona itu telah meninggalkan sebuah Giokpwe atau Pending Kumala. Nona itu tak menyangka sama sekali bahwa Giok-pwe itu ternyata sebuah tempat penyimpanan pusaka. To Hun-ki sudah memperoleh separoh bagian. Jika ia dapat merebut separoh bagian yang menjadi milik Tiau Bok-kun, tentulah ia dapat menemukan tempat penyimpanan pusaka itu. Apabila berhasil, bukan saja wanita 67 cantik Ki Ih, bahkan kelima durjana yang termasyhur itu, pun dapat ditundukkan. Demi membangun pamor kejayaan Kong-tong-pay dan nasib dunia persilatan maka To Hun-ki berusaha keras untuk memperoleh Giok-pwe itu.... Apabila benda itu sampai jatuh ketangan si Pertapa Pencabut-nyawa, akibatnya ngeri sekali. Soh-beng Ki-su seperti harimau tumbuh sayap. Tetapi Tiau Bok-kun pun mati2an mempertahankan peninggalan orangtuanya. Maka terjadilah peristiwa kejar mengejar yang seru itu. Pertempuran antara Tiau Bok-kun lawan barisan Tengkorak dan kelima tokoh Kong-tong-pay lawan Pertapa Pencabutnyawa, telah berlangsung sampai beberapa puluh jurus To Hun-ki tak mungkin menang dan Tiau Bok-kun pun tak mungkin lari. Adakah To Hun-ki tak menyadari kedudukaannya? Tidak! To Hun-ki tahu bahwa ia tak mungkin menang. Tetapi ia tetap bertempur karena supaya dapat memberi kesempatan Tiau Bok-kun lolos. Apabila nona itu lolos, kelak ia tentu masih mempunyai kesempatan untuk merebut Giokpwe. Untuk memberi kesempatan lari kepada si nona, To Hun-ki memancing lawan supaya bertanding diluar kuil. Tetapi pertapa ganas itu tak mau disiasati. Ia tertawa mengekeh dan

tetap merangsang kelima tokoh Kong-tong-pay. To Hun-ki teringat tempo bertempur seorang diri melawan pertapa itu, ia dapat bertahan sampai 30 jurus. Segera ia mengambil keputusan. Keempat Su-lo disuruh membantu si nona meloloskan diri dari kepungan barisan Tengkorak. Sedang Soh-beng Ki-su hendak dihadapinya sendiri. 68 Tetapi berhadapan dengan manusia licin macam Soh beng Ki-su, To Hun-ki benar-benar mati kutu. Sebelum sempat menjalankan rencananya, Soh-beng Ki-su sudah mendesak kelima tokoh Kong-tong-pay itu dengan gencar dan menggiring mereka ke dalam barisan Tengkorak. Melihat suasana pertempuran, To Kiu-kong dan Pengemis Tertawa tak dapat tinggal diam lagi. Tetapi sebelum mereka bertindak, lagi2 muncul pula seorang wanita baju putih, memakai kerudung warna hitam dan mencekal sebatang pedang San-tiam-kaim. "Ki Ih si Ular cantik!" serentak sekalian orang berteriak kaget dalam hati. Hanya Tiau Bok-kun yang tak kenal siapa wanita aneh itu. Belum wanita itu berdiri tegak, pedangnya sudah menghambur ke arah barisan Tengkorak. Dua tiga sosok tengkorak, hancur berantakan.... Soh-beng Ki-su cepat mencabut senjatanya yang berbentuk piau atau passer untuk menyambut. Sepuluh tahun yang lalu, ilmu pedang San-tiam-kiam atau Pedang Kilat dari Ki Ih sudah termasyhur. Kini setelah berselang 10 tahun, tentulah jauh lebih hebat lagi. Ilmu pedang itu selalu berlawanan geraknya dengan ilmu pedang biasa. Gerakan yang kosong ternyata gerakan sesungguhnya dan gerakan yang tampak sungguh kiranya kosong. Gelombang sinar pedang dan deru angin yang dahsyat makin menguasai sinar senjata Soh-beng Ki-su. Namun pertapa itu bukanlah lawan yang empuk. Dengan ilmu Pekkutkang, ia dapat memberi perintah kepada barisan Tengkorak supaya memecah diri dalam kelompok kecil untuk 69 mengurung setiap lawan Dengan mendapat bantuan barisan Tengkorak itu, Soh-beng Ki-su dapat memperbaiki kedudukannya yang terdesak. Ki Ih memang lihay tetapi betapa pun ia seorang wanita. Berhadapan dengan tengkorak2 yang amat menyeramkan, hatinya ngeri juga sehingga mengakibatkan permainan pedangnya agak lamban. Melihat permainan pedang Ki Ih tak begitu mantap lagi, Soh-beng Ki-su segera pergencar serangannya dan berhasil menguasai permainan lawan. Ki Ih terdesak tetapi di sana, Tiau Bok-kun dan kelima

tokoh Kong-tong-pay berhasil merubuhkan tujuh delapan sosok tengkorak. Soh-beng Ki-su mulai cemas Kalau Tiau Bokkun sampai lolos, berantakanlah rencananya. Memikirkan hal itu, perhatiannya agak terpecah. Keadaan itu tak lepas dari pengamatan Ki Ih. Dengan beberapa serangan dapatlah ia merobah kedudukannya. Dari yang diserang menjadi penyerang. Soh-beng Ki-su benar-benar gelisah. Buru-buru ia bolangbalingkan cakarnya ke arah deretan peti mati. Tak kurang dari 30 buah peti mati hancur tutupnya dan mayat2 di dalamnya segera berloncatan keluar menyerbu musuh. Pertapa Pencabut-nyawa itu tertawa seram dan barisan Tengkorak lalu meraung-raung, menangis macam iblis merintih-rintih.... Dengan munculnya barisan bantuan itu, Ki Ih dan rombongan Kong-tong-pay terdesak lagi. Mereka lebih banyak bertahan daripada menyerang.... 70 Sekonyong konyong terdengar suara tertawa menggeledek. Dikala sekalian orang terkesiap, sesosok tubuh dalam jubah gerombyongan, melayang masuk ke dalam ruang. Gerakannya gesit dan tak mengeluarkan suara apa-apa.... Sekalian orang terkejut dan yang paling terperanjat sendiri adalah Soh-beng Ki-su. Hampir ia tak percaya pada apa yang dilihatnya. "Ah, tak mungkin.' Bukankah dia sudah kuhantam mati di lembah gunung Hongsan? Mustahil orang mati dapat hidup kembali." bantahnya dalam hati. "Siapakah engkau, hai!" tegurnya bengis untuk menenangkan getar hatinya. Wut.... orang aneh itu menjawab dengan kebutkan lengan jubahnya.... Secercah sinar merah berkilat dan dua tiga puluh tengkorak segera hancur menjadi abu.... "Pendekar Laknat!" seru Soh-beng Ki-su terkejut. "Hm, benar Memang orang yang kau bunuh itu tidak mati!" sahut orang aneh itu. "Lalu siapa yang mati itu?" Orang aneh itu tertegun sejenak, sahutnya, seorang tua yang tak berdosa!" Soh-beng Ki-su makin gentar. Akhirnya ia berseru kalap, Mau apa engkau kemari?" Orang aneh itu tertawa nyaring. Ruang kuil bergetaran. 71 "Aku hendak menuntut balas atas kematian orang tua itu!" katanya seraya mendorong dengan kedua tangannya. Segulung hawa panas melanda dan hancurlah sisa-sisa barisan Tengkorak.... Tiau Bok-kun tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Cepat

ia menyelinap keluar. To Hun-ki dan keempat Su-lo mengikuti lolos. Melihat ketua Kong-tong-pay kabur, Ki Ih cepat mengejar.... To Kiu-kong dan Pengemis Tertawa yang menyaksikan di atas tembok kuil, diam-diam merasa heran. Rasanya dahulu Pendekar Laknat itu tidak sedemikian tinggi besar. Namun kalau menilik ilmu pukulan Bu-kek-sin-kang yang dilancarkan itu, memang benar Pendekar Laknat. Memang hal itu dapat dimengerti karena kedua tokoh pengemis itu tentu tak dapat membayangkan bahwa Pendekar Laknat yang muncul saat itu bukan lain adalah Siau-liong sendiri. Itulah yang kedua kalinya ia menyamar sebagai Pendekar Laknat. Dan untuk yang kedua kalinya pula berjumpa dengan ibunya. Sayang ia tak tahu bahwa wanita berkerudung muka adalah Ki Ih, ibunya sendiri. Tetapi andaikata tahu, pun ia tentu tak leluasa bicara karena masih menyamar sebagai Pendekar Laknat.... Setelah mereka pergi, barulah Siau-liong terkesiap. Ia curiga akan gerak-gerik wanita berkerudung tadi. Cepat ia memutuskan, bunuh dulu Pertapa Pencabut-nyawa itu, baru mengejar wanita berkerudung yang diduga tentulah ibunya. Diserangnya Soh-beng Ki-su dengan jurus Sin-liong-thaysan atau Naga-sakti-gunung-Thaysan. Tetapi Pertapa itu bukan tokoh lemah. Tak mau ia gunakan senjata melainkan 72 dengan tangannya yang mirip cakar burung garuda. Ia menakar pukulan lawan dengan sepuluh jari yang disaluri tenaga-sakti Pek-kut-kang atau Tulang-putih. Siau-liong masih belum dapat menguasai lwekang Bu-keksinkang. Ia hanya tahu menggunakan tenaga-sakti itu dengan cara keras. Akibatnya ia menderita. Ia terhuyung-huyung mundur sampai empat langkah. Darahnya bergolak keras. Soh-beng Ki-su juga terserut mundur selangkah. Hanya penderitaannya lebih kecil dari lawan. Setelah tenangkan diri, Siau-liong mengatur siasat. Tubuhnya bergerak ke kanan kiri lalu tangannya mengendap ke bawah. Tiba-tiba tangannya dibalikkan menampar kekiri. Ah, ternyata dia lancarkan jurus pukulan Membalik-langit. Dari delapan penjuru, melandalah angin lwekang-panas ke arah Soh beng Ki-su.... Soh-beng Ki-su cepat menyurut mundur. Ia tahu bahwa ilmu pukulan Pek-kut-kang tak berguna terhadap Pendekar Laknat. Segera ia gunakan jurus Yang-kek-im-seng atau Hawa-positip-berganti Negatip. Jurus itu merupakan salah satu jurus hebat dari ilmu pukulan Thay-im-ki-bun-sip pat-hoan yang terdiri dari delapan belas jurus. Terdengar letupan keras ketika dua buah pukulan yang berlawanan sifatnya itu, saling berbentur....

Tamparan dari sebelah kiri tak berhasil, Siau-liong cepat mengganti dengan tamparan sebelah kanan. Gejolak angin menghambur lebih dahsyat. Memang tamparan kiri itu berbeda sifatnya dengan tamparan kekanan. Lebih mantap dan lebih berat. 73 Tetapi Soh-beng Ki-su tetap gunakan salah sebuah jurus dari ilmu Thay-im-ki bun-sip-pat-hoan untuk menghalau serangan pemuda itu. Siau-liong marah. Ia rangkapkan kedua tangan lalu mendorong kemuka. Itulah yang disebut pukulan To-sia-sanho atau Menjungkir-balikkan-gunung-dan-sungai. Perobahannya paling banyak dan perbawanya paling dahsyat. Tetapi Soh-beng Ki-su dapat tetap menangkis. Akhirnya tersadarlah Siau-liong. Hanya diimbangi dengan ilmu pukulan Thay-siang-ciang ajaran mendiang Pengemis Tengkorak Song Thian-kun. Barulah pukulan lwekang-sakti Bu-kek-sin-kang itu benar-benar dapat mengembang kedahsyatannya. Tetapi, ah, jika ia gunakan pukulan Thay-siang-ciang, tentulah dirinya akan dikenal To Kiu-kong dan Pengemis Tertawa yang bersembunyi diluar kuil. Padahal ia tak menghendaki hal itu. Karena keseganan itu maka walaupun sudah bertempur berpuluh jurus, tetap ia tak mampu mengalahkan Soh-beng Ki-su. Namun ia tak mau memberi ampun kepada musuh yang telah membunuh Koay suhu atau Pengemis Tengkorak itu. Akhirnya ia mendapat akal. Sengaja ia pura-pura kalah dan mundur, ketika ia mundur sampai diambang pintu, Soh-beng Ki-su menghunjamnya dengan sepasang pukulan dahsyat dan Siau-liong membiarkan dirinya dilanda angin pukulan lawan. Begitu malayang turun diluar kuil, cepat ia kebutkan lengan jubah ke arah To Kiu-kong dan Pengemis Tertawa. Sudah tentu kedua tokoh pengemis itu terkejut bukan kepalang Jika tak cepat lari, tentulah tubuh mereka hangus dilanda lwekang panas Bu-kek-sin-kang. Sekali loncat kedua tokoh itu kaburlah. Tepat pada saat mereka lari, terdengarlah jeritan ngeri dan rubuhnya tembok kuil. Tetapi tokoh-tokoh pengemis itu tak berani berpaling muka. Mereka lari terbiritbirit. 74 Siasat Siau-liong berhasil. Setelah dapat menghalau kedua tokoh Kay-pang itu, ia segera lepaskan pukulan Thay-siangciang disertai lwekang Bu-kek sin-kang. Jurus yang dipilih Siau-liong adalah jurus Siu-lo-pan-cha. Jurus yang paling dahsyat dan tepat untuk menghancurkan segala macam iblis laknat termasuk seorang durjana besar seperti Soh-beng Kisu. Pertapa itu menjerit ngeri. Ia terluka parah Tembok kuil yang berada dibelakangnya ambruk. Tetapi sebagai rase tua, walaupun dalam keadaan terluka, ia masih dapat menggunakan tipu siasat. Darah yang hendak menyembur

dari mulut ditekan sekuatnya. Dan ia masih tetap melayani serangan Siau-liong dengan tenang. Begitu memperoleh kesempatan, tiba-tiba ia semburkan darahnya kemuka lawan. Siau-liong terkejut. Setitikpun ia tak menyangka akan menerima serangan yang begitu luar biasa. Darah yang disemburkan mulut Soh-beng Ki-su itu jauh lebih berbahaya dari segala macam senjata rahasia. Jika kena, muka Siau-liong tentu hancur lebur! Cepat pemuda itu loncat menghindar.... Serempak dengan itu, Soh-beng Ki-su pun lotos keluar dari reruntuhan tembok. Siau-liong mengejarnya. Menilik sudah terluka parah tentu Soh-beng Ki-su tak dapat lolos. Tetapi dasar belum takdirnya mati. Setelah melintas lamping gunung, pertapa itu menyusup ke dalam hutan. Berkat malam gelap dan hutan lebat, pertapa itu dapat melenyapkan diri. Siau-liong terpaksa hentikan pengejarannya. 75 Ia berjalan lesu. Tiba-tiba ia teringat waktu menolong Tiau Bok-kun dalam biara, diluar biara ia mendengar Soh-beng Kisu berteriak, Hai, Ki Ih, perlu apa engkau berkerudung muka.... "Hai!" serentak Siau-liong tersadar bahwa wanita berkerudung muka tadi tentulah ibunya. Tetapi, ah.... kembali ia menghilangkan kesempatan baik untuk menemui ibunya itu. Segera ia lari mencari wanita berkerudung tadi. Tetapi ia kehilangan arah dan tak tahu jalan keluar dari pegunungan situ. Akhirnya ia lari ke arah timur. Tak berapa lama ia berhadapan dengan sebuah karang buntu. Jauh dibawah karang itu, terhampar sebuah jalan yang merentang ke dalam hutan. Terpaksa ia menuruni karang yang curam itu.... Pada saat tiba di bawah, dari dalam hutan disebelah muka, terdengar suara senjata beradu. Cepat ia lari memburu. Betapa kejutnya ketika melihat Ki Ih sedang dikeroyok To Hun-ki dan rombongan To Kiu-kong yang berjumlah sembilan orang. Ki Ih berhasil mengejar Toh Hun-ki dan keempat Su-lo dari Kong-tong-pay. Sebenarnya ia dapat membunuh musuh2 suaminya itu. Sayang To Hun-ki dan ketiga tokoh Pengemis muncul. Kay-pang memang baik hubungannya dengan partai2 persilatan. Dan Ki Ih memang tak disuka orang. Selain berasal dari seberang lautan, pun wanita itu banyak mengikat permusuhan dengan kaum persilatan di Tiong-goan. To Kiu-kong, Pengemis Tertawa, si Pincang kiri Tio Thau dan sipincang kanan Li Ji, segera bantu menyerang Ki Ih. Kedudukan segera berobah. Ki Ih yang semula menang angin, kini berbalik terdesak. 76

Namun wanita sakti itu tak mau menyerah mentah2. Ia mainkan pedangnya lebih gencar. Salah sebuah jurus ilmu Pedang Kilat yang disebut Guruh-dan-halilintar-menyambar, segera memburu kesembilan pengeroyoknya. Mereka jeri dan terpaksa mundur. Kesempatan itu digunakan Ki Ih untuk menabur 9 buah senjatan rahasia Hwe-hun-tui ke arah To Hun-ki dan keempat Su-lo. Hwe-hun-tui atau Gumpalan-awan-api, merupakan senjata rahasia yang telah mengangkat nama Ki Ih. Apabila kelima orang itu binasa, mudahlah ia membereskan keempat tokoh pengemis. To Kiu-kong terkejut tetapi tak keburu menolong kelima tokoh Kong-tong-pay. Pada saat maut hendak merenggut jiwa tokoh2 Kong-tong-pay itu, tiba-tiba Siau-liong muncul dalam penyamaran sebagai Pendekar Laknat. Sambil loncat ke udara, ia kebutkan kedua lengan bajunya. Dua buah gelombang sinar merah melanda dan sembilan buah senjata rahasia Hwe-huntui itupun hancur lebur. Sesuai dengan namanya, senjata-rahasia Gumpalan-awanapi itu memancarkan hawa panas. Hanya tenaga-sakti Bu-keksinkang yang bersifat panas, dapat menghancurkan senjata rahasia itu. Dan selamatiah jiwa kelima tokoh Kong-tong-pay! Sekalian orang terkejut. Selain tak menduga akan kemunculan Pendekar Laknat, pun mereka heran, mengapa tokoh gila itu membantu orang2 Kong-tong-pay. Dan Ki Ih pun tak kurang kagetnya. Menghadapi sembilan musuh tadi, ia sudah kewalahan. Apa lagi ditambah dengan seorang Pendekar Laknat. Cepat wanita itu melarikan diri. 77 Pada saat meluncur turun ke bumi, Siau-liong berputar diri dan lepaskan pukulan dahsyat ke arah sembilan jago pengeroyok itu! Gila! Bukankah tadi Pendekar Laknat menghancurkan senjata rahasia dari Ki Ih? Mengapa sekarang ia berbalik menyerang ke sembilan tokoh2 yang mengeroyok wanita itu? Kesembilan jago itu menghindar ke samping lalu menyerang Siau-liong. Tetapi Siau-liong lebih cepat. Segera ia lancarkan pukulan yang kedua yakni To-sia-san-ho atau Membalikkan gunung dan sungai. Kesembilan jago itu terpental mundur sampai empat langkah. Mereka berputar diri terus lari masuk ke hutan Kiranya Siau-liong memang bermaksud hendak menghalau kesembilan orang itu. Kemudian ia akan menghadap ibunya dan minta maaf. Ia hendak menjelaskan bahwa dia adalah puteranya yang terpisah selama 16 tahun itu! Tetapi ketika berpaling, alangkah kejutnya. Ki Ih siwanita berkerudung, sudah lenyap! Siau-liong terpukau. Enam belas tahun lamanya ia berpisah dari ibunya. Dua kali ia mendapat kesempatan berjumpa tetapi

dua kali itu pula ia tak berhasil bicara dengan ibunya. Air mata pemuda itu berlinang-linang. Akhirnya ia duduk bersemedhi memulangkan tenaga. Ketika membuka mata, ia terkejut. Di hutan jauh disebelah muka, tampak berkelebat sesosok tubuh wanita. Menduga kalau ibunya, cepat ia loncat dan lari menghampiri.... Ah, hampir ia berteriak girang ketika bayangan itu benar Ki Ih. Tetapi pada lain kejab ia tertegun ketika menyadari bahwa saat itu dirinya masih menyamar sebagai Pendekar Laknat. Tak mungkin ibunya akan percaya! 78 Hanya beberapa detik ia tertegun. wanita itupun sudah lenyap lagi dari pandangan. Cepat Siau-liong mengejar tetapi tak berhasil. Akhirnya ia membuka kedok dan pakaian penyamarannya. Lalu ia duduk melepaskan lelah di tepi sungai. "Ma, apakah engkau tahu bahwa puteramu Siau-liong masih hidup dan sekarang sudah begini besar? Ah, mama, betapalah rindu hatiku kepada-mu.... dalam termenung mengenangkan nasib, ia menangis meratapi ibunya. Kemudian ia bertanya pada dirinya, Mama, apakah engkau setuju atas tindakanku? Ma, jika engkau mengetahui maksudku, tentulah engkau dapat menyetujui.... hai!" tiba-tiba ia memekik kaget. Matanya yang tengah memandang permukaan air, tiba-tiba tertumbuk pada wajah seorang gadis. Cepat ia berpaling ke belakang dan ah.... sicantik Tiau Bok-kun. "Nona Tiau!" serunya tersipu-sipu menghapus air mata. Tetapi gadis itu diam saja. Siau-liong mengulang lagi tegurannya namun tiada penyahutan. Siau liong memandangnya lekat2. Dan terpukaulah ia.... Nona itu benar-benar menyerupai Tiau Bok-kun tetapi bukan Tiau Bok-kun! "Siapa engkau?" akhirnya nona itu menegur. Siau-liong terkesiap Nada nona itu wajar tetapi galak. Ia tak puas atas sikap si nona yang tak sopan itu. "Apa pedulimu aku siapa? " sahutnya. 79 "Siapa yang panggil Tiau Bok-kun itu?" "Aku salah sangka." muka Siau-liong merah. "Dan mengapa engkau menangis?" "Karena aku suka menangis!" sahut Siau-liong dengan nada yang tak kurang getas. Dara itu hendak mencabut pedang tetapi tak jadi. Sambil tertawa mengikik ia menggagah dimuka Siau-liong, Ih, jangan marah, bung. Aku memang tak dapat bicara halus tetapi aku ingin berkenalan dengan engkau. Keberatan?" "Engkau terlalu bengis, aku tak suka berkenalan."

Hm, jika menolak, lebih baik kita berkelahi. "Boleh saja akupun tidak takut!" Baru Siau-liong berkata begitu, si nona galak sudah merangsang dengan kedua tangannya ke arah dada dan perut Siau-liong. Siau-liong merasa serba salah. Berkelahi dengan seorang anak perempuan, sesungguhnya ia malu. Tetapi kalau diam saja, dara itu menyerang dengan liar. Terpaksa ia menghindar saja.... Dua jurus kemudian, timbullah pikirannya untuk lolos. Ia anggap tak berguna berkelahi dengan seorang anak perempuan yang tak dikenal. Setelah berhasil memaksa dara itu mundur, Siau-liong terus melarikan diri. Ia menuju ke tepi sungai. Tetapi ketika berpaling, ah.... nona itu tetap mengejarnya Siau-liong loncat 80 ke sebuah perahu sampan, terus meluncur ke tengah menuju kota Siok-ciu. Astaga.... dara itupun loncat ke sebuah perahu dan mengejar. Ia memiliki lwekang yang hebat sehingga perahunya dapat meluncur pesat. Tetapi betapapun halnya, Siau-liong tetap menang cepat. Begitu tiba di pantai, ia terus masuk kota dan mencari sebuah rumah penginapan. Habis makan, ia terus masuk tidur. Menjelang mahgrib, baru ia bangun. Tepat pada saat itu, dua orang pelayan masuk membawa seperangkat pakaian dan senampan hidangan. "Tuan, nona yang bertempat di kamar sebelah depan, mengirim pakaian ini untuk tuan," kata pelayan itu. Siau-liong mendengus. Ia malu kalau mengatakan tak kenal dengan nona itu.... Setelah pelayan pergi, ia bimbang sendiri. Menerima pemberian itu atau tidak. Ia mengintai di jendela. Kamar disebelah depan, tampak sepi. Ia duduk kembali, memandang hidangan itu. Ah, mungkin nona itu salah faham. Jelas ia tak kenal padanya. Akhirnya ia berbangkit dan melangkah keluar. Tetapi baru menyingkap tirai pintu, sesosok tubuh menerobos masuk. Karena tak keburu menarik pulang tangannya, tersentuhlah ia pada dua buah benda yang lunak.... Tersipu-sipu ia menyurut kesamping pintu. Seorang dara melangkah masuk dengan berisak tangis Siau-liong tercengang. Itulah nona yang mengejarnya tadi. Engkau menghina aku! Engkau menghina aku!" sambil menangis, kedua tangan nona itu mencakari dada Siau-liong. 81 Siau-liong biarkan saja agar nona itu jangan semakin kalap. Tetapi ia hampir geli karena dadanya seperti di kitik-kitik. Tiba-tiba tangan nona itu menusuk jalan darah didadanya. Siau-liong terkejut tetapi diam saja. Nona itu menjerit kaget

dan menarik pulang tangannya sambil mendekap tangan kiri dengan tangan kanannya. Setan, jahat benar engkau!" nona itu meninju dada Siauliong. Ternyata dalam diam tadi, Siau-liong kerahkan lwekang Bukeksin-kang kedadanya. Itulah sebabnya si nona menjerit kesakitan. Jika tak lekas menarik pulang, tentu tangan nona itu akan cacad. Sambil tertawa, Siau-liong menyurut mundur dan memberi hormat, Harap jangan marah dan maafkan kesalahanku!" Huh, mengapa tak mempersilahkan aku masuk!" Hidangan itu adalah pemberian nona, silahkan nona menyantapnya " kata Siau-liong. Bukankah engkau menerimanya?" Tanpa jasa apa2, tak pantas menerima hadiah, aku.... Ah, apa artinya hidangan semacam itu?" tukas si nona. Siau-liong tetap menolak. Tetapi nona itupun tetap memaksanya. Ia terus melangkah masuk, duduk dan suruh Siau-liong duduk juga lalu diajak makan. 82 Sambli makan mereka ber-cakap2. Nona itu mengatakan bahwa ia berasal dari seberang lautan. Namanya Pek Ciang-wi atau Mawar Putih. Memang ia gemar berpakaian serba putih. Lebih lanjut ia menerangkan bahwa gurunya berpesan. Apabila di daerah Tiong-goan supaya mencari seorang sahabat yang baik Ketika berjumpa dengan Siau-liong, ia anggap pemuda itu seorang baik yang tepat dijadikan sahabat. Maka makin Siau-liong jual mahal, nona itu makin mengejarnya.... Atas pertanyaan Siau-liong, si nona memberi jawaban yang indah, Rumahku diseberang lautan, dibawah gunung Dewa. Gunung itu terletak di atas angin. Eh, apa perlumu mengetahui nama tempat itu!" Dan ketika Siau-liong menanyakan tentang gurunya, nona itu gelengkan kepala. Siau-liong tak mau mendesak. Ia sendiripun tak mau mengatakan tentang gurunya kepada lain orang. Ketika pertama kali bertemu, Siau-liong tak senang melihat tingkah si nona yang liar itu. Tetapi entah bagaimana, kini ia merasa tak marah dengan cara2 liar nona itu. Mungkin hal itu disebabkan, karena ia putera dari Ki Ih yang juga berasal dari seberang lautan. Kepada si nona, Siau-liong mengaku bernama Kongsun Liong dan minta nona itu memanggilnya Siau-liong. Mawar Putih terkesiap. Dipandangnya pemuda itu lekat2, dari ujung kaki sampai ke atas kepala. Ia geleng2 kepala dan berseru lembut, Siau-liong.... Panggilan itu amat menyentuh hati Siau-liong. Dalam sikap kewajaran, kejujuran dan keliarannya, Mawar Putih memiliki 83

sifat ke Ibuan yang mesra Untuk pertama kali dalam hidupnya, Siau-liong rasakan indahnya kehidupan.... Mereka makan dan minum dengan gembira. Habis makan, Mawar Putih suruh Siau-liong berganti pakaian yang dikirimkan tadi. Setelah ganti pakaian baru, Siau-liong tampak lebih cakap dan gagah. Nona itu tertawa gembira. Mereka menuju ke kebun belakang, menikmati kolam yang menghias taman. "Siau-liong!" Nona Pek!" Nona itu menggeliat, Ih, janggal benar panggilanmu itu," Habis?" "Panggil saja Mawar Putih" Mawar.... Putih," suara Siau-liong agak sember. Ia tak dapat melanjutkan kata2nya karena saat itu si nona sandarkan tubuh kedadanya. Siau-liong seorang perjaka yang belum pernah bergaul sedemikian mesranya dengan gadis. Sejak kecil, ia hanya bergaul dengan pohon2 hijau dan burung2 hutan. Sudah tentu ia ter-longong2 melihat tingkah Mawar Putih. Ketika hidungnya terbaur hawa harum dari tubuh si dara, semangat Siau-liong serasa melayang-layang.... Tiba-tiba terdengar derap langkah orang bergegas datang. Keduanya cepat meluruskan duduknya dan memperhatikan pendatang itu. Ah, ternyata pelayan hotel. 84 "Tuan, ada tetamu mencari tuan!" katanya. Siau-liong cepat kembali kekamarnya. Ia terkejut melihat beberapa anak buah Kay-pang berkerumun diserambi kamarnya. Mereka tampak tegang. "Cousu-ya datang!" anak buah Kay-pang serempak berseru ketika Siau-liong muncul. Mawar Putih terperanjat. Ia tak menyangka bahwa pemuda yang bernama Kongsun Liong itu ternyata seorang ketua partai Kay-pang. To Kiu-kong muncul dari kamar Siau-liong dan mempersilahkan Siau-liong berdua masuk. Siau-liong terkejut ketika melihat Tiau Bok-kun berbaring ditempat tidurnya dalam keadaan pingsan. Bajunya koyak2 dan berlumuran darah. Untunglah nona itu tak begitu parah lukanya. Siau-liong segera minumkan beberapa butir pil kemulut nona itu. Melihat Siau-liong begitu memperhatikan Tiau Bok-kun, serentak timbullah rasa tak senang dalam hati Mawar Putih. Ia duga nona itu tentulah yang dipanggil Siau-liong ketika berjumpa di tepi sungai tadi pagi. Setelah memeriksa luka Tiau Bok-kun tak berbahaya. Siauliong meminta keterangan kepada To Kiu-kong. Kiranya setelah melarikan diri dari serangan Siau-liong

sebagai Pendekar Laknat, To Kiu-kong dan rombongan To Hun-ki lalu berpisah. Menjelang malam, To Kiu-kong mendapat laporan dari anak buah Kay-pang, bahwa Siau-liong tinggal dirumah penginapan 85 Gun-hian-can To Kiu-kong diminta Toh Hun-ki supaya suka mengundang Kongsun Liong agar membantu partai Kongtongpay menghadapi Soh-beng Ki-su, Ki Ih dan Pendekar Laknat. Dalam rangka membasmi durjana itu, pertama harus mendapatkan Pending Kumala yang berada ditangan Tiau Bok-kun. Pending Kumala itu merupakan kunci untuk memperoleh tempat penyimpanan pusaka sakti yang dapat menyelamatkan dunia persilatan dari kehancuran. Malam itu juga To Kiu-kong berserta beberapa jago Kaypang berangkat mencari Siau-liong ke Siok-ciu. Tetapi ditengah jalan mereka berpapasan dengan Soh-beng Ki-su yang berhasil melukai Tiau Bok-kun dan merebut Pending Kumala. To Kiu-kong dan kawan2 segera menyerang pertapa itu. Tetapi pertapa itu keliwat sakti bagi mereka. Soh-beng Ki-su berhasil lolos dan To Kiu-kong hanya dapat menolong Tiau Bok-kun. Pada saat masih dapat ditanya, Tiau Bok-kun menyebut2 nama Kongsun Liong maka To Kiu-kong segera membawanya kerumah penginapan itu. Mana To Hun-ki sekarang?" tanya Siau-liong Di biara Ji-long-bio di gunung Pit-ka-san," To Kiu-kong menerangkan. Karena tak dipedulikan, Mawar Putih merasa terhina. Pada saat Siau-liong tengah merenung, diam-diam nona itu menyelinap keluar. Setelah To Kiu-kong dan anak buahnya minta diri, barulah Siau-liong mengetahui kalau Mawar Putih lenyap. Tetapi ia tak menghiraukan. Ia lebih mementingkan 86 untuk mengurut jalan-darah Tiau Bok-kun. Tak berapa lama nona itupun tersadar. Tetapi sebelum nona itu tersadar benar-benar, Siau-liong mengambil pakaiannya yang lama lalu menyelinap pergi.... -ooo0dw0oooGunung Pit-ka-san terletak dihulu sungai Kim-sat-kiang. Gunung itu mempunyai tiga buah puncak. Kedua puncak di kanan kiri, dapat dicapai orang. Tetapi puncak ditengah, lurus melandai seperti sebuah tiang penyanggah langit. Empat penjuru dikelilingi jurang yang curam. Jika tak memiliki ilmu ginkang yang tinggi, tak mungkin dapat mencapai puncak itu. Di puncak tersebut terdapat sebidang tanah datar seluas sepuluh tombak. Di belakang tanah datar, didirikan sebuah

biara yang disebut Ji-liong-bio. Kepala biara Liau Liau taysu, seorang paderi dari partai Go-bi-pay. Pada saat mengurut Tiau Bok-kun, pikiran Siau-liong menimang. Setelah mendapat separoh Pending Kumala yang dimiki nona itu, Soh-beng Ki-su tentu akan mencari To Hun-ki untuk mendapatkan Pending Kumala yang separoh bagian lagi. Maka ia harus cepat2 mendahului ke Pit-ka-Soh-beng Kisu pasti akan datang kesitu. Kembali Siau-liong menyaru sebagai Pendekar Laknat. Tiba di kaki gunung, tampak biara Ji-liong-bio terang benderang, penuh orang. Ia menyembunyikan diri. Tak berapa lama, muncul beberapa orang. Berkelompok kecil terdiri dari dua tiga orang, kemudian rombongan dari tujuh delapan orang. Mereka adalah jago2 silat yang sakti. Hal itu terbukti dari gerakan mereka yang amat tangkas ketika berloncatan mendaki puncak. 87 Beberapa saat kemudian, dari puncak terdengar suara orang bertempur seru. Siau-liong terkejut. Apakah To Hun-ki dan orang2 Kong-tong-pay diserang musuh? Siapakah musuh itu? Karena tertarik perhatiannya, Siau-liong hendak menghampiri puncak. Saat itu rembulan remang. Sekeliling penjuru gelap pekat. Ia gunakan gerak Burung-hongmenghadapmatahari. Dalam tiga empat kali melambung, ia dapat mencapai separoh bagian puncak gunung itu. Tetapi pada saat ia hendak melayang ke atas lagi, tiba-tiba ia diserang gelombang angin yang hebat. Dan seketika itu juga ia meluncur ke bawah lagi. Ia amat terkejut dan berusaha menyambar dahan pohon yang tumbuh disana sini. Tetapi tak berhasil. Minilik kepandaian yang dimiliki saat itu, tak mungkin ia harus menderita kecelakaan semacam itu. Benar, memang itu bukan kecelakaan, tetapi sebuah serangan gelap dari seseorang yang berada di puncak. Meluncur dari ketinggian 60-an tombak, tentu hancur lebur. Tetapi untunglah Siau-liong sudah memiliki ginkang yang disebut Naga-melingkar-18 putaran. Ia berputar-putar dan melayang ke karang buntung disisi kanan puncak. Dengan meminjam tenaga tekanan pada dahan pohon, ia melambung lagi ke atas puncak. Setelah memperhitungkan telah mencapai ketinggian yang diduga menjadi tempat persembunyian penyerang gelap tadi, ia terus melayang ke karang di sebelah kiri. Ia hendak mencari penyerang itu. Ternyata penyerang gelap itu adalah Soh-beng Ki-su sendiri. Tepat yang diduga Siau-liong, Soh-beng Ki-su mencari Toh Hun-ki. Dan ia lebih dulu tiba di gunung Pit-ka-san. Tetapi ketika melihat di biara Ji-liong-bio berlangsung pertempuran, ia batalkan rencananya. Pada waktu ia melayang turun sampai

88 di tengah gunung, ia melihat Pendekar Laknat bergegas mendaki ke atas. Segera ia lontarkan pukulan dahsyat. Setelah Siau-liong tenggelam ke bawah, ia melarikan diri. Itulah sebabnya maka Siau-liong tak dapat menemukan Soh-beng Ki-su. Akhirnya pemuda itu lanjutkan pendakiannya lagi ke atas puncak. Ia bersembunyi dibalik gunduk karang. Ketika melongok pertempuran di tanah datar, kejutnya bukan kepalang. Kiranya lebih dari enam lelaki dan wanita, tegak berjajar di depan biara. Dan yang bertempur di lapangan datar adalah Ki Ih lawan keempat Kong-tong Su-lo serta Liau Liau taysu bersama empat orang muridnya. Siau-liong duga ibunya tentu hendak mencari balas kepada Toh Hun-kin dan keempat Sulo. Diam-diam ia bangga dan girang mempunyai seorang ibu yang setia kepada suaminya. Ki Ih memang sakti. Menghadapi keroyokan belasan jago2 sakti. ia tak gentar, Ilmu pedang Kilat, dimainkan laksana ular naga bergeliatan di permukaan laut. Cepat bagaikan kilat menyambar dan gesit seperti ular menyusup ke dalam liang. Tetapi Siau-liong tetap mencemaskan keselamatan ibunya. Ternyata rombongan paderi yang berjajar diluar biara itu terdiri dari jago2 persilatan yang ternama. Antara lain, Ki Ceng siansu ketua Go-bi-pay. It Kiau ketua Tiam-jong-pay, tokoh Kun-lun Sam-cu dari Kun-lun-pay. Thian-san It-soh dari Thiansanpay, paderi2 sakti dari Siau-lim-pay serta tokoh2 Bu-tongpay dan Hoa-san-pay. Dalam menghadapi kelima Durjana dan Ki Ih, partai2 persilatan itu telah mengirim jagonya yang tangguh, mencari pusaka yang telah tersiar luas di dunia persilatan. Hanya 89 dengan memperoleh pusaka itulah kelima durjana dan Ki Ih dapat diberantas. Saat itu mereka berhadapan dengan Ki Ih. Mengingat Ki Ih itu seorang wanita, jago2 itu sama pegang gengsi. Mereka tak mau mengeroyok melainkan mengajukan beberapa jago saja. Siau-liong bingung bagaimana harus bertindak. Jika muncul sebagai Pendekar Laknat, berpuluh jago persilatan tentu akan menyerangnya. Selain sukar menolong ibunya, ia sendiri terancam bahaya. Kalau muncul sebagai ketua partai Kay-pang, ia tentu harus memusuhi ibunya, karena Kay-pang bersahabat baik dengan partai2 persilatan. Sedang ia belum dapat memutuskan tindakan apa yang akan diambil, keadaan Ki Ih makin payah. Tiba-tiba To Hun-ki mendesak dan menyabat pinggang wanita itu dengan cepat dan tak terduga-duga. Siau-liong terkejut sekali dan hampir berteriak. Untung sebelum membuka mulut, dengan jurus

Kilat-membelah-halilintar, Ki Ih dapat menghapus serangan maut itu. Siau-liong kucurkan keringat dingin. Belum sempat ia menghela napas, tiba-tiba Ki Ih terancam bahaya lagi. Karena sedang menghindari serangan To Hun-ki, ke 9 tokoh2 lawannya segera menyerbu. Ki Ih alihkan perhatiannya untuk menghalau serangan orang2 itu tetapi sudah terlambat. Kini ia dikuasai oleh kesembilan musuh itu dan tak mampu melancarkan serangan balasan. Walaupun tak dapat diketahui perobahan muka wanita itu karena ditutup kain kerudung, namun dari tubuhnya yang menggigil, teranglah kalau keadaannya makin payah. Ada tanda2 ia hendak meloloskan diri. 90 Toh Hun-ki dan kawan2nya tahu juga rencana wanita itu. Mereka mendesak lebih gencar sehingga tubuh wanita seperti tertabur sinar pedang. Keempat Su-lo dari Kong-tong-pay tak henti2nya tertawa mengejek. Pada lain saat Ki Ih menjerit keras. Bahunya kiri terpapas pedang Toh Hun-ki. Darah membasahi lengan bajunya.... Wanita itu kerahkan seluruh semangat. Sekaligus ia lancarkan tiga jurus serangan pedang yang dahsyat, khusus ditujukan pada lawan yang membelakangi jurang. Hendak ia desak orang itu supaya menyurut mundur dan jatuh ke dalam jurang! Tetapi kalau orang itu tahu bahaya dan hanya menghindar.... Ki Ih hendak menggunakan kesempatan itu untuk loncat ke dalam jurang. Ia lebih suka mati di dasar jurang daripada mati ditangan musuh-musuh yang dibencinya itu! Dalam sekejab mata saja, 300 jurus telah berlangsung. Berkat kenekadannya, dapatlah Ki Ih mendekati tepi karang. Dua tiga jurus lagi, ia tentu dapat menghalau musuh yang menghadang dimuka dan akan terbukalah kesempatan untuk lolos. Tetapi untuk mencapai tujuan itu bukanlah hal yang mudah. Tiga ratus jurus tadi benar-benar telah menghabiskan tenaganya. Tubuhnya bersimbah keringat. Ia paksakan diri mengerahkan sisa tenaga yang masih dimilikinya. Tetapi ternyata tenaganya sudah habis Pedangnya mulai lambat, tubuh berguncang-guncang dan pandang matanya pun berbinar-binar. Pada lain saat terdengarlah jeritan ngeri campur gelak tawa mengejek. Toh Hun-ki mendahului kawankawannya menusuk dada wanita itu. 91 Pada detik maut hendak merenggut jiwa Ki Ih, sekonyongkonyong sesosok tubuh dalam jubah hitam melayang di udara. Dan serempak dengan itu segelombang sinar merah melanda dan tahu2 senjata kesepuluh tokoh yang mengeroyok Ki Ih

itu, jatuh berhamburan ke tanah.... Siau-liong melayang turun dan memandang kesekeliling. Melihat Pendekar Laknat muncul, Ki Ih segera sarungkan pedang dan duduk bersemedhi memulangkan tenaga. Tahu bahwa ibunya tak terluka, Siau-liong tak mau mengganggunya. Kini ia menghadapi berpuluh jago silat yang saat itu sama menghunus senjata dan menghampiri. "Hai, setan Laknat, engkau menolong aku tetapi mengapa menolong wanita ganas itu!" tegur Toh Hun-ki. Diam-diam Siau-liong girang. Ia hendak mengulur waktu. Maka tertawalah ia senyaring-nyaringnya. "Toh tua salah engkau Seharus memanggil aku Pendekar Laknat yang gila. Gila, ya memang gila! Apakah engkau perlu tahu alasanku?" serunya. Siau-liong tertawa lagi, Aku dapat menolong, pun dapat membunuhmu. Aku dapat menolong Ki Ih, tetapi dapat membunuhnya juga. Bukan sigila Pendekar Laknat kalau tidak bertindak segila. ini!" Tiba-tiba ia berputar tubuh dan "bum.... empat orang murid Liau Liau taysu yang menyerang dari belakang, telah disongsong dengan sebuah pukulan. Tubuh keempat orang itu terlempar ke dalam jurang. 92 Sekalian orang terkejut melihat kesaktian Pendekar Laknat yang jauh lebih sakti dari 20 tahun berselang. Liau Liau taysu walaupun marah, tetapi tak dapat berbuat apa2. "Pendekar Laknat mengapa engkau mengganas orang secara begitu kejam? Apakah engkau yakin mampu turun dari gunung Pit-ka-san ini?" bentak Toh Hun-ki, ketua Kong-tongpay. Siau-liong tertawa dingin, Menyerang secara gelap, apakah kalian anggap benar? Aku bebas datang dan pergi. Apakah engkau yakin merintangi aku? Hm, jangan gegabah!" Tokoh2 yang pernah berjumpa dengan Pendekar Laknat pada 20 tahun yang lalu, diam-diam heran. Mengapa sekarang nada tertawa momok itu sedemikian menggerincing dan jauh sekali bedanya dengan tertawa Pendekar Laknat yang dulu? Sikap dan kata2nya juga tak seliar dahulu. "Suheng, jangan termakan siasatnya yang hendak mengulur waktu!" tiba-tiba keempat Sulo dari Kong-tong-pay berseru kepada Toh Hun-ki. Bersama Liau Liau taysu, keempat Su-lo itu segera maju menyerang. Toh Hun-ki cepat mencegah keempat Su-lo tetapi tak keburu merintangi Liau Liau taysu. Karena marah kehilangan empat orang muridnya, Liau Liau taysu menyerang dengan cepat sekali. Namun Siau-liong acuh tak acuh. Tak mau ia melayani serangan paderi itu dengan sungguh2. Tetapi Liau Liau taysu makin kalap. serangan pertama luput, ia susuli lagi dengan serangan kedua yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga.

Sesungguhnya tadi Siau-liong gunakan tenaga dalam untuk menyedot serangan Liau Liau taysu. Pada saat paderi itu 93 menyerang yang kedua kali, saat itu juga Siau-liong pentalkan kembali sedotan tenaga-dalamnya. Seketika terdengar letupan keras Liau Liau taysu terhuyung beberapa langkah. Mulutnya menyembur darah dan jatuhlah ia terduduk di tanah. Wajahnya pucat lesi. Buru-buru ia pejamkan mata untuk mengatur peredaran darahnya. Menyaksikan peristiwa itu, Toh Hun-ki dan rombongannya terlongong-longong. Dan pada saat itulah Ki Ih loncat bangun dan terus lari lenyap dalam kegelapan malam! Siau-liong terkejut Diam-diam ia siap untuk memberi bantuan kepada ibunya apabila musuh hendak merintangi. Tetapi ia pun merasa kecewa sekali. Kesempatan untuk berjumpa dengan ibunya, kembali hilang. Kini ia tumpahkan kemarahannya kepada orang2 itu. Sambil kerahkan tenaga dalam, ia maju menghampiri mereka. Toh Hun-ki, ketua Kong-tong-pay, menginsyafi bahwa saat itu akan meletus pertempuran maut. Suatu pertempuran yang akan menggoncangkan dan berakibat besar dalam dunia persilatan, Ia ambil posisi ditengah.... Tokoh2 yang lain pun serentak berbaris dibelakangnya. Tahu betapa penting arti pertempuran itu, Toh Hun-ki tak berani bertindak gegabah. Setelah dahulu mendesak murid kesayangannya, Tong Gun-liong supaya bunuh diri, ketua Kong-tong-pay itu amat menyesal. Karena kematian Tong Gun-liong itu telah membangkitkan kemarahan sicantik Ki Ih. Jika saat itu tambah lagi seorang Pendekar Laknat, ah.... partai Kong-tong-pay tentu hancur....! Diam-diam ketua Kong-tong-pay itu sudah menyiapkan rencana, serunya, Pendekar Laknat. apakah kemunculanmu sekarang ini hendak mengganas.... membunuh.... dan menjagal orang?"' 94 Siau-liong tak menyahut. Ia kehilangan faham bagaimana hendak menyelesaikan dendam kematian ayahnya serta pesan mendiang Koay suhu. Kesempatan itu tak disia-siakan Toh Hun-ki. Ketua Kongtongpay itu melanjutkan pula, Semua ketua partai persilatan dan para tiang-lo yang berada disini, mempersilahkan saudara turun gunung." Habis berkata ketua Kong-tong-pay itu memberi hormat dengan membungkukkan tubuh. Sekalian tokoh pun mengikuti tindakannya. Detik2 itu amat tegang sekali. Sekalian tokoh tak tahu apakah tawaran berdamai itu akan disambut baik oleh Pendekar Laknat.

Sekonyong-konyong Siau-liong bersuit nyaring lalu melenting tinggi ke udara. Berjumpalitan dua kali lalu meluncur turun terus meluncur ke bawah gunung. Dalam sekejab, ia lenyap dalam kegelapan. Siau-liong hendak menyusul ibunya. Tetapi wanita itu sudah lenyap. Dalam beberapa kejab saja, ia sudah lari belasan li. Tiba-tiba tampak tiga sosok bayangn hitam terapung-apung di permukaan sungai Kim-sat-kiang. Ketika dekat, kejut Siau-liong bukan kepalang. Ketiga sosok bayangan hitam itu adalah Tiau Bok-kun yang tengah diserang Soh-beng Ki-su, si Pertapa pencabut nyawa. Dan yang seorang lagi, bukan lain Ki Ih, ibu Siau-liong. Kiranya setelah sadar, Tiau Bok-kun masih perlu bersemedhi memulihkan tenaga Setelah sembuh, ia segera keluar mencari jongos penginapan. Dari keterangan pelayan 95 itu, barulah ia mengetahui bahwa yang menolongnya adalah Siau-liong. Tetapi ia heran, mengapa Siau-liong tinggalkan dirinya dalam rumah penginapan situ? Kemudian setelah mendengar keterangan sipelayan bahwa Siau-liong bersama seorang nona yang menginap di kamar sebelah, seketika timbullah rasa cemburu dalam hati Tiau Bokkun. Ah, Siau-liong telah melupakan dirinya karena terpikat seorang gadis lain! Segera Tiau Bok-kun lari menuju ke sungai Kim-sat-kiang. Ia tidak mencari Siau-liong dan merebutnya lagi dari tangan gadis itu. Dengan ilmu lari cepat, Tiau Bok-kun tiba di kaki gunung Pit-ka-san. Tepat pada saat itu, Soh-beng Ki-su pun turun dari gunung. Dan bertemulah keduanya. Walaupun sadar bahwa tak dapat menandingi Soh-beng Kisu, namun Tiau Bok-kun tetap hendak merebut kembali separoh bagian dari Pending Kumala yang dirampas pertapa itu. Setelah dua tiga kali bertempur dengan Soh-beng Ki-su, Tiau Bok-kun sudah mempunyai pengalaman. Ia harus mengembangkan kelebihannya dalam ilmu ginkang, untuk menutupi kekurangannya dalam tenaga dalam. Kebalikannya Soh-beng Ki-su tak bersemangat untuk bertempur. Ia kuatir akan dikejar Pendekar Laknat atau Ki Ih. Tetapi karena tak bersemangat, kebalikannya ia sukar untuk meloloskan diri. Dan memang yang dicemaskan itu, ternyata terbukti. Saat itu muncullah Ki Ih yang terus menyerangnya. Dengan demikian Soh-beng Ki-su makin kelabakan. Sesaat membayangkan kemungkinan munculnya Pendekar Laknat, semangat Soh-beng Ki-su makin kacau. Ia terus menerus main mundur saja. 96 Siasat main mundur itu dimaksud untuk menjauhkan diri

dari Pit-ka-san serta menghindari Pendekar Laknat. Tetapi diluar dugaan, karena lari tanpa tujuan, Siau-liong malah memergoki mereka. Siau-liong amat girang sekali. Wanita yang satu, adalah ibunya sendiri. Dan yang menjadi lawannya adalah musuh besar Siau-liong. Diam-diam ia membulatkan tekad untuk meringkus pertapa itu. Segera ia mencari alat untuk meluncur di air. Ia berhasil memperoleh dua keping kayu. Dengan berdiri di atas keping kayu itu, ia meluncur ketempat pertempuran. Melihat kemunculan orang yang paling ditakuti, serasa terbanglah semangat Soh-beng Ki-su Satu-satunya jalan yang paling selamat, hanyalah melarikan diri. Saat itu Siau-liong hanya terpisah tiga empat tombak. Ia sudah siapkan pukulan maut. Pertapa itu pasti hancur lebur. Tetapi se-konyong2 ketiga orang yang bertempur itu bubar dan lari, Ki Ih meluncur ke tepi sungai. Ibu." diam-diam Siau-liong menjerit kaget. Diantara dua pillhan: ibu atau musuh, ternyata ia memilih ibu. Dan segeralah ia melesat mengejar Ki Ih. Tetapi wanita itu terkejut karena Pendekar Laknat mengejarnya. Ia batalkan lari ke tepi sungai dan berputar arah, menuju ke tengah sungai lagi, Ia berasal dari Seberang Laut, kepandaiannya berjalan di atas air, amat mengagumkan. Dipermukaan laut yang berombak besar, ia dapat berlari-lari seperti di tanah datar. Apalagi hanya permukaan sebuah sungai. 97 Tetapi Siau-liong pun ngotot. Ia tak mau lepaskan kesempatan untuk menemui ibunya itu. Ki Ih menggunakan dahan pohon, sedang Siau-liong memakai keping kayu. Yang satu seorang wanita berkerudung muka. Yang seorang, seorang tua buruk muka. Mereka saling berkejaran di atas permukaan bengawan Kim-sat-kiang. Akhirnya melihat pengejarnya makin dekat, Ki Ih berputar tubuh dan menyerang dengan ilmu Pedang Kilat. Siau-liong terkejut. Betapapun ia tak berani melawan ibunya sendiri. Tetapi serangan Pedang Kilat itu benar-benar luar biasa cepatnya. Terpaksa ia apungkan tubuh melayang melampaui kepala ibunya. Tetapi dengan tindakan itu, keping papan yang dibuat pijakan tadi, terdampar air dan tenggelam. Untung Siau-liong masih dapat gunakan ilmu meringankan tubuh ketika ia meluncur ke pe-mukaan air, sehingga ia tak sampai tenggelam. Tetapi ketika memandang kemuka, ternyata ibunya sudah meluncur jauh. Tiba-tiba ia melihat keping papan-pinjakannya tadi dibawa arus. Cepat ia memburu dan memakainya lagi. Ketika hendak mengejar, ibunyapun sudah melarikan diri.

Tetapi wanita itu tak mau lari jauh. Ia berdiri dengan sebelah kaki pada dahan kayu sehingga dapat meluncur pesat. Ia tetap mondar-mandir di sepanjang permukaan sungai karena kuatir akan keselamatan Tiau Bok-kun. Kalau nona itu kalah ia segera membantunya. Kepandaian berjalan di atas air, Siau-liong kalah jauh dengan ibunya. Diam-diam Siau-liong kagum melihat ibunya dapat meluncur dengan sebelah kaki. 98 Pemuda itu lupa bahwa saat itu ia masih dalam penyamaran sebagai Pendekar Laknat sehingga ibunya melarikan diri. Siau-liong meniru menginjak papan kayu dengan sebelah kaki mengejar. Seharusnya Soh-beng Ki-su melarikan diri. Tetapi ternyata ia masih bertempur dengan Tiau Bok-kun. Terang dia tentu mempunyai rencana. Tepat pada saat Ki Ih berhasil lolos dari sergapan Siauliong, tiba-tiba Tiau Bok-kun menjerit. Bahu nona itu kena ditutuk oleh Soh-beng Ki-su Dan secepat rubuh, tubuh nona itu terus disambar dan dibawa lari oleh pertapa itu. Mendengar jeritan itu, Siau-liong berpaling. Ketika melihat apa yang terjadi, ia lepaskan ibunya dan terus mengejar Sohbeng Ki-su. Tetapi ketika tiba di daratan, ternyata Soh-beng Ki-su sudah hampir mencapai daerah gunung. Cepat Siauliong mengejar terus. Soh-beng Ki-su benar-benar seorang tua yang licin. Ia gunakan siasat menyusup kesana, menyelinap kemari sehingga Siau-liong kehilangan jejak. Entah sudah berselang berapa lama mereka berkejaran itu, tahu2 saat itu matahari sudah mulai condong kebarat lagi. Karena mengepit tubuh orang, akhirnya letih juga Soh-beng Ki-su sehingga larinya pun kurang cepat. Melihat itu Siau-liong percepat larinya. Saat itu Siau-liong sudah hampir berhasil menyusul tetapi tiba-tiba Soh-beng Ki-su melesat ke dalam gerumbul dan lenyap! 99 Siau-liong gunakan jurus Naga-melingkar-delapan-kali untuk berloncatan di udara dan melayang ketempat Soh-beng Ki-su lenyap tadi. Ternyata di dekat situ terdapat sebuah saluran air seluas dua li. Saluran sungai itu menjurus loncatan diantara gugusan batu yang bertaburan disepanjang saluran. Dan saat itu hampir mencapai ujung terakhir. Siau liong girang karena ujung saluran itu buntu. Cepat ia apungkan tubuh ke atas segunduk batu besar. Tetapi ia terkejut ketika tiba-tiba batu itu bergerak.... Cepat ia loncat kembali ketempatnya tadi.

Batu besar itu berguguran, menghamburkan tanah lumpur ke udara. Setelah lumpur lenyap, kejut Siau-liong bukan alang kepalang. Ternyata batu yang diinjaknya tadi adalah kepala seekor ular besar. Binatang itu mengangkat kepalanya ke atas lalu menyerang Siau-liong. Tetapi Siau-liong dapat menghindari. Setelah dua tiga kali serangannya tak berhasil, ular itu marah dan menyemburkan segumpal asap beracun.... Siau-liong menjerit kaget. Sambil salurkan tenaga dalam Bu-kek-sin-kang ketelapak tangan, ia berjumpalitan dengan gerak Naga-berputar-18-kali, lepaskan hantaman lalu meluncur ke atas sebatang pohon disebelah kiri. Tetapi pukulan sakti Bu-kek-sin-kang tak mampu menghalau uap beracun yang tetap melayang ketempat Siauliong. Siau-liong makin kaget. Tak mungkin ia dapat menghindar kelain tempat lagi. Akhirnya ia nekad, apungkan tubuh melayang ke atas badan ular raksasa. Tetapi tiba-tiba sisik ular itu bertebaran menyerangnya. Setiap helai sisik, merupakan seperti sebatang badik tipis. 100 Untunglah Siau-liong dapat menghalau sisik maut itu. Kemudian ia berjumpalitan menyerang punggung ular. Rupanya ular itu jeri juga. Sambil menyerang dengan kepala dan ekor, binatang itu siap2 melarikan diri. Kejut Siau-liong makin besar. Ternyata ular raksasa itu bukan ular sesungguhnya tetapi sebuah ular tiruan yang digerakkan dengan alat. Setelah mengetahui rahasianya, Siau-liong segera lancarkan serangan hebat dengan tangan kanan dan kiri. Terdengar ledakan dahsyat dan ular itu pun hancur berkepingkeping. Siau-liong menghela napas longgar. Memandang kesekeliling, hanya karang dan batu2 berserakan yang menabur seluruh permukaan sungai itu. Tetapi ketika memperhatikan dengan seksama ternyata batu2 itu seperti diatur orang dengan rapi. Siau-liong termenung. Ia harus menolong Tiau Bok-kun tetapi keadaan tempat disitu amatlah misterius dan berbahaya. Tiba-tiba entah darimana, air meluap dan mengalir deras sekali dan cepat merendam batu2 dipermukaannya. Sungai meluap, bukan soal. Tetapi ia kuatir batu2 itu merupakan alat rahasia yang berbahaya. Akhirnya ia gunakan gerak Naga-berputar-18-kali melayang kekarang sebelah muka. Tetapi baru kaki menginjak karang itu, ia segera mengeluh, Celaka!" Batu karang menonjol itu menyurut ke dalam dan berbareng itu dari kedua samping, berhamburanlah panah beracun serta bermacam senjata rahasia. 101 Untunglah Siau-liong tak gugup. Ia gunakan ilmu berat

tubuh Cian-kin-tui, meluncur kepermukaan air dibawah. Tetapi segera ia menyadari bahwa ilmu kepandaianya meringankan tubuh, belum mencapai tingkat dapat berjalan di atas air. Namun ia tak putus asa. Cepat ia dapat menemukan akal. Ratusan batang anak panah dan lain-lain senjata rahasia yang terapung di atas air itu, dapat digunakan sebagai alat berjalan di air. Dan ternyata memang benar. Dengan menginjak di atas ratusan batang anak panah, dapatlah ia meluncur kemulut saluran sungai. Tiba di ujung saluran, cepat ia loncat kekarang sebelah samping. Karena ujung saluran itu meluncur ke bawah, merupakan suatu air terjun yang berpuluh tombak tingginya. "Pertapa itu tentu mengambil jalan kecil ini, pikirnya sambil mengamati jalan kecil yang terdapat dikarang situ. Sejenak meragu. ia terus melangkah maju. Berjalan beberapa langkah, terdengar gumpalan karang berguguran jatuh. Setelah tenangkan diri, ia lanjutkan langkah lagi. Dan sampai sekian lama, ia tak mendapat gangguan suatu apa lagi. Ujung penghabisan dari jalan itu. merupakan sebuah lembah. Disitu terdapat sebuah pintu raksasa dari batu yang penuh guratan hurup Jun atau musim Semi. Ia tak menyadari bahwa saat itu ia tengah berada di lembah Ban-jun koh atau lembah Musim-semi. " Siau -liong tak menghiraukah suatu apa. Ia terus maju. Ah, serasa ia memasuki sebuah dunia baru. Dunia yang beralam keindahan musim Semi. Penuh bunga2 mekar, rumput2 hijau dan alam nan segar berseri. Hembusan angin sepoi mengantar bau bunga, membuat semangat Siau-liong sedap segar. Lembah Musim-semi itu merupakan akibat dari gempa bumi sehingga karang dan batu2 merekah, jaluran air malang melintang bagaikan jaring labah-labah. 102 Siau-liong amat gembira. Setelah membuka baju luarnya yang basah, ia menyusur jalan kecil ditengah padang bunga. Tiba-tiba ia mendengar orang menyanyi lagu 'Keindahan alam dan Kehidupan' Ia terkejut dan cepat memandang kesekeliling. Tetapi tak menemukan apa2. Ia berhenti. Jelas suara nyanyian itu berasal dari seorang wanita. Kembali terdengar nyanyian itu mengalun. Nadanya melengking tinggi macam orang merintih. Siau-liong terkesiap. Sekonyong-konyong muncul seekor burung kakak tua besar. Dan hampir saja Siau-liong melonjak kaget ketika burung itu dapat berseru seperti manusia, Ada tamu! Ada tetamu....!" Belum Siau-liong mengambil suatu tindakan tiba-tiba muncul seekor burung gagak hitam terbang melayang di udara dan berbunyi beberapa kali. Siau-liong tersirap dan seketika ingat bahwa saat itu ia

sedang mengejar Soh-beng Ki-su. Cepat2 ia ayunkan langkah lagi. Tetapi jalan disebelah depan penuh dengan lingkaran saluran air kecil yang melingkar-lingkar seperti jaring labah-labah. Hutanpun makin lebat sehingga ia kehilangan arah. Tiba-tiba burung kakak tua tadi me-lonjak2 di atas dahan pohon lalu melayang kemuka dengan pelahan. Seketika timbullah pikiran Siau-liong. Jika burung itu dapat bicara, tentulah burung piaraan orang. Ia memutuskan untuk mengikuti arah terbangnya kakak tua itu. 103 Ternyata pemandangan dalam lembah itu makin lama makin mengagumkan. Penuh dengan pohon-pohon bunga dan rumput2 hijau serta desir air mengalir disaluran. Angin pun menebarkan bau yang harum. Setelah dua kali membelok tikungan dan melintasi beberapa hutan, tiba-tiba kakak tua itu terbang cepat, masuk ke dalam hutan lebat. Siau-liong tertegun. Saat itu ia tiba dimuka sebuah lembah yang sempit. Sebuah batu besar penggunduk ditengah mulut lembah. Mirip dengan pintu. Tengah ia bersangsi, tiba-tiba dendang nyanyian itu kembali terdengar melantang dari dalam lembah. Masakan nyanyian itu suara burung kakak-tua?" diamdiam ia meragu setelah mendengar jelas lagu yang dinyanyikan. Ia terus maju memasuki mulut lembah. Tetapi apa yang terbentang dihadapannya, benar-benar membuatnya terkejut bukan kepalang. Di dalam lembah itu ternyata merupakan sebuah tanah datar yang seluas sepuluh tombak. Ditengahnya terdapat sebuah empang. Di atas empang tertutup oleh asap putih menyerupai awan. Dalam kabut putih itu samar-samar tampak 20 lebih wanita cantik yang rambutnya terurai kebahu. Mereka tengah bermain-main dalam empang itu. Seorang dara yang tengah bersandar pada sebatang pohon liu tengah berdendang lagu. Kiranya nyanyian tadi, adalah dara itu yang mendendangkan. Siau-liong ter-longong2 mengawasi pemandangan disitu. 104 Kongcu datang!" tiba-tiba seorang gadis cantik berpakaian kuning berteriak. Rombongan dara yang tengah bermain-main diempang itu serentak tertegun. Cepat mereka pencarkan diri dalam dua rombongan dan tegak dengan khidmat. Tak berapa lama dari dalam hutan muncul delapan gadis dengan membawa semacam selendang. Mereka menghampiri empang dan berdiri dalam dua rombongan.

Sesaat kemudian muncullah seorang wanita yang amat cantik, dalam pakaian yang gilang-gemilang. Serentak barisan gadis-gadis itupun berdiri memberi hormat. Sejenak wanita cantik itu memandang kesekeliling lalu bertanya, Mana Siau-jui!" Seorang bujang yang mengawal disamping, segera berteriak, Siau-jui' Siau-jui....!" Dari arah hutan terdengar suara penyahutan. Dan seekor burung kakak tua segera terbang melayang hinggap di atas bahu wanita cantik itu. Ah, kiranya burung kakak tua yang diikuti Siau-liong tadi. Sambil tertawa wanita itu mengelus-elus kepala kakak tua lalu menyerahkan kepada seorang bujang. Kemudian ia membuka pakaian hendak mandi. "Jangan! Jangan mandi ada orang asing!" tiba-tiba kakak tua itu berbunyi nyaring. 105 Nona cantik itu tertegun. Ia tak jadi membuka pakaian. Dan Siau-liong pun terkejut. Cepat ia bersembunyi tetapi terlambat. Dua orang bujang menjerit kaget. "Mundur!" bentak nona cantik seraya loncat kemulut lembah. Karena sudah kepergok, terpaksa Siau-liong unjuk diri sekali. Ia memberi hormat dan menjelaskan, Karena tersesat jalan. aku keliru masuk kemari. Harap nona maafkan!" Sicantik terkejut mundur selangkah. Ditatapnya Siau-liong dengan tajam. Rambut Siau-liong yang kusut masai terurai kebahu, mata besar, hidung dan mulut lebar serta muka kotor, membuat sicantik tertawa. "Nona menertawakan aku.... Lama sekali nona cantik itu tertawa. Kemudian berseru, Kalau tak salah tuan tentulah Pendekar Laknat yang termasyhur diseluruh jagad itu?" Siau-liong terkesiap. Ia menyadari bahwa saat itu ia masih menyamar sebagai Pendekar Laknat. Maka ia mengiakan. Nona itu juga tertegun. Rupanya ia heran melihat perobahan sikap dan ucapan Pendekar Laknat. Rupanya Siau-liong menyadari. Buru-buru ia berganti dengan nada parau seperti orang tua, Jika tak salah, nona tentulah pemilik lembah Musim-semi ini." Sicantik tertawa mengikikik, Engkau menduga tepat. Konon kabarnya lo-cianpwe disohorkan congkak, angkuh dan ganas. Tetapi kenyataannya lo-cianpwe seorang yang amat ramah!" 106 Dipanggil 'lo-cianpwe' Siau-liong terpaksa hanya meringis lalu tertawa gelak2. Sicantik memainkan biji matanya yang indah beberapa

jenak, lalu berkata pula, Kabarnya lo-cianpwe sudah mengasingkan diri digunung selama 20 tahun. Entah mengapa lo-cianpwe mendadak mengunjungi lembah yang sunyi ini.... Siau-liong hendak menyahut tetapi nona itu cepat mendahului lagi, Sungguh suatu kehormatan besar sekali locianpwe sudi berkunjung kemari. Silahkan masuk ke dalam lembah. Kami hendak menghormat dengan mempersembahkan minuman sekedarnya!" Nona itu lalu menyisih kesamping mempersilahkan tetamunya. Siau-liong terpaksa masuk ke dalam lembah. Ia mempunyai dua alasan. Pertama, kemungkinan Soh-beng Kisu tentu mempunyai hubungan dengan nona itu. Kedua, ia ingin tahu apakah sebenarnya yang disebut lembah Musimsemi itu! Ternyata ditengah hutan terdapat sebuah jalan yang bersih, menuju kesebuah bangunan gedung besar dan megah. Pintunya bercat warna emas dan dihias dengan ukir-ukiran yang indah. Empat orang bujang cepat menyambut kedatangan si nona dengan hormat. Si nona suruh mereka pergi. Kemudian ia mengajak Siau-liong masuk dan duduk dimeja yang penuh hidangan dan minuman. Tak lama, terdengar bunyi tetabuhan harpa yang merdu. Siau-liong terkesiap. Tiba-tiba nona itu berbangkit mengangsurkan secangkir teh wangi kepada Siau-liong, Silahkan minum." 107 Siau-liong tertawa menyambut tetapi ia letakkan lagi dimeja. Lengan baju si nona bergetar dan setiup hawa wangi menabur hidung Siau-liong. Seketika bergeloralah darah Siauliong, nafsu berkobar. Berpaling ke arah pemilik lembah, didapatinya si nona tengah menyungging senyum manis, mata mengicupkan sinar kecabulan.... Saat itu hampir Siau-liong tak kuat menahan diri lagi. Ia hendak memeluk nona cantik itu. Tetapi sekonyong-konyong ia terkesiap ketika telinganya serasa mendengar bentakan, Jangan!" Cepat ia tenangkan pikiran, katanya: Aku sudah tua, mungkin tak dapat memenuhi harapan nona!" - Diam-diam ia pancarkan tenaga - sakti Bu-kek-sin-kang ke arah nona itu. Nona itu terkejut dan terhuyung mundur sampai 5-6 langkah. Kuperlakukan engkau sebagai seorang cianpwe, tetapi engkau.... Ha, ha," Siau-liong menukas tertawa, "Jangan banyak omong. Aku akan pergi!" Pada saat Siau-liong melangkah muncullah 20 orang gadis dengan menghunus pedang. Siau-liong tertawa, Jika nona tahu siapa diriku, mengapa suruh anak2 perempuan mengantar jiwa?"

Nona cantik itu menghela napas dan suruh gadis2 itu menyingkir. Kemudian ia berkata kepada Siau-liong, Jika locianpwe hendak pergi, silahkanlah.... tiba-tiba nadanya berobah rawan. Rupanya kita tak dapal keluar dari lembah ini!" 108 "Mengapa?" Siau-liong terkejut. Kembali nona itu menghela napas, Ah, apakah lo-cianpwe tak tahu? Seluruh tahun lembah ini beriklim hangat seperti musim Semi. Sumber air disini mendidih panas. Hal ini akibat dari hawa panas dari kerak bumi. Dan tanah lembah ini mengandung tambang belirang. Kami yang sejak kecil hidup disini. memiliki jasmani yang beda dengan orang kebanyakan. Apabila kami keluar dari lembah ini, dalam waktu setahun saja, semua ilmu kepandaian kami tentu lenyap dan kami pun mati!" Siau-liong tergerak hatinya. Apakah kalian hendak tinggalkan lembah ini?" tanyanya. Nona itu kerutkan dahi, Sebagai wanita persilatan, kami ingin mencari pengalaman dan melakukan dharma kebaikan. Sudah tentu kami ingin sekali keluar dari tempat ini," Siau-liong mengangguk, Lalu dengan cara bagaimana kalian hendak keluar dari lembah ini?" Tiba-tiba nona itu berlutut dan bercucuran air mata, Justeru itulah kami hendak minta lo-cianpwe menolong." "Ah, tetapi aku seorang tiada berguna," Siau-liong tersipusipu. Nona itu menangis, Lo-cianpwe seorang sakti tiada tanding. Jika tak mau memberi pertolongan, lebih baik kami mati saja!" Nanti dulu," buru-buru Siau-liong mencegah, asal dapat saja, aku tentu mau membantu!" 109 "Asal lo-cianpwe mau, tentu dapat menolong kami," nona itu tertawa. Ia memberi hormat, berbangkit lalu duduk didepan meja. Siau-liong-pun terpaksa duduk lagi. Kami telah mendapat bantuan Soh-beng Ki-su untuk mencari peta pusaka. Dengan peta pusaka itu kami akan menemukan penyimpanan pusaka. Diantaranya terdapat semacam pil Hian-ki-tan yang berkhasiat membikin tulang2 kita seperti baru tumbuh lagi. Dengan begitu dapatlah kami memiliki jasmani seperti orang biasa. Separoh bagian dari peta itu berhasil direbut Soh-beng Ki-su. Tetapi yang separoh bagian masih berada pada lo-cianpwe. Maka sudilah locianpwe memberikan kepada kami, sesuai dengan kesediaan lo-cianpwe hendak menolong kami tadi!" Siau-liong terkejut ketika mendengar kata2 si nona. Ternyata dugaannya benar. Soh-beng Kisu bersembunyi dalam lembah situ. Tetapi dia seorang pemuda yang berhati welasasih.

Ia kasihan kepada nasib gadis2 itu. "Tetapi benda itu tak berada padaku. Desas-desus dalam dunia persilatan itu tidak benar.... katanya. Seketika berobahlah wajah si nona. Ia tertawa sinis, Benar, memang separoh dari Pending Kumala itu berada ditangan ketua Kong-tong-pay.... Tetapi lo-cianpwe sudah berulang kali menempurnya. Menilik kesaktian lo-cianpwe, tentulah peta itu sudah ditangan lo-cianpwe.... nona itu berhenti sejenak lalu berkata lagi, Apabila kedua peta disatukan, tentulah mudah mencari pusaka itu. Terus terang, pusaka itu disimpan dalam gunung ini. Aku hanya menghendaki pil Hian-ki-tan saja. Lain-lain kuserahkan kepada lo-cianpwe semua!" "Tetapi benda itu benar-benar tak berada padaku. Jika tak percaya, terserah!" 110 Tetapi nona itu makin ngotot Sudah 20 tahun lo-cianpwe mengasingkan diri. Jika bukan karena pusaka itu, tak mungkin lo-cianpwe akan muncul lagi!" Saat itu barulah Siau-liong menyadari kalau Giok-pwe atau Pending Kumala merupakan penyebab dari kehebohan besar. Dan teringat jugalah ia akan kata2 Pengemis Tertawa dalam rapat Kay-pang di biara tempo hari. Pengemis itu mengatakan bahwa dunia kacau-balau. Keempat durjana Thian, Te, Liong dan Hou bermunculan di dunia persilatan. Tentulah mereka juga terpikat oleh peta pusaka itu. Siau-liong tertegun. Lalu apakah tujuan lo-cianpwe mengejar Soh-beng Ki-su itu?" tanya nona itu pula. Untuk menolong nona Tiau Bok-kun!" Bukan untuk menolong Pending Kumalanya?" nona itu menyindir. Siau-liong mengkal sekali, sahutnya, Ya, anggaplah begitu karena benda itu warisan keluarganya." Nona itu tertawa mengejek. Tiba-tiba wajahnya berobah bengis lalu membentak, Rusa tua, sudah kuketahui kelicikanmu." Siau-liong terkesiap. Wanita memang aneh. Beberapa saat berselang masih merengek-merengek menyebut lo-cianpwe. Sekarang berbalik memaki-maki! 111 "Tak perlu bersilat lidah menutupi maksudmu. Aku adalah seorang pembohong besar. Tak mungkin engkau dapat mengelabuhi aku" Maka tiba-tiba nona itu menghambur ejek. "Memang kenyataan begitu, apakah yang harus kukatakan? Jika tak percaya. akan kuserahkan separoh Giok-pwe yang berada pada Toh Hun-ki tetapi nona harus melepaskan nona Tiau!"

Nona cantik itu tertegun. Ia heran mengapa sekarang Pendekar Laknat berubah menjadi manusia yang menjunjung budi kebaikan? Tetapi ia tak mudah percaya, serunya, Kalau engkau hendak menolong Tiau Bok-kun, apakah engkau mau menemuinya? Dia berada disini!" Sebelum Siau-liong menjawab, nona itu sudah bertepuk tangan tiga kali. Dinding ruang yang semula merupakan batu marmar hijau, tiba-tiba berderak-derak merekah dan terbukalah sebuah pintu. Seorang nenek tinggi besar, memapah keluar seorang gadis yang rambutnya kusut masai. Siau-liong terkejut. Gadis itu adalah Tiau Bok-kun. Menilik wajah dan semangatnya yang sayu lunglai, tentulah gadis itu telah ditutuk jalan darahnya. Serentak Siau-liong hendak menghampiri. Tetapi nona pemilik lembah mengancamnya, Selangkah lagi engkau berani maju, nona itu tentu kuhancurkan!" Siau-liong tertegun. Serahkan!" nona itu tertawa. Apa yang harus kuserahkan?" Siau-liong heran. 112 Jangan pura-pura! Serahkan Giok-pwe itu ." Apakah nona tak percaya kepadaku?" tanya Siau-liong. "Mengapa aku harus percaya?" Siau-liong mendengus, Ho, kiranya engkau juga pembohong" Nona itu tertawa ejek, Tadi berbohong sekarang, tukar menukar Separoh Giok-pwe itu dapat ditukar dengan jiwa nona Tiau ini. Bagaimana kehendakmu " Sejenak Siau-liong kehilangan faham. Akhirnya ia tertawa, Aha, kita sama2 bermain sandiwara. Engkau menipu aku, aku menipumu. Aku hendak menipu Giok-pwemu, engkau hendak menipu Giok-pweku.... Sekarang baru engkau bicara benar!" dengus nona itu. Siau-liong gelengkan kepala, Soal ini tiada sangkut pautnya dengan nasib nona Tiau. Menurut hematku, baiklah kita bertaruh. Siapa'yang menang, akan memperoleh kedua potong Giok-pwe itu. Setuju?" Nona itu merenung. Memang benar. Membunuh Tiau Bokkun pun tiada sangkut pautnya dengan kepentingan Pendekar Laknat. Rusa tua, katakanlah bagaimana pertaruhan itu?" katanya. Seorang lelaki takkan berkelahi dengan orang perempuan. Orang tua takkan menghina orang muda. Baiklah kita bertaruh dalam soal kepandaian masing-masing dan tidak saling bertempur." 113 Caranya? tanya si nona.

Pendekar Laknat mengusulkan untuk mengadu kepandaian melempar gundu ke dalam mangkuk. Nona itu terpaksa menyadari karena ia merasa tak menang dengan momok itu. Nona itu menyediakan 4 biji benda bundar dan sebuah mangkuk. Setelah menaruh benda2 itu di atas meja, Siau-liong mempersilahkan si nona yang melempar lebih dulu. Diam-diam nona itu tertawa dalam hati. Ia yakin tentu akan menang. Dengan gaya yang indah, ia lemparkan keempat gundu itu ke dalam mangkuk. Gundu ber-putar2 dan melingkar2 membentuk sepasang huruf ji (dua). Menang!" teriak si nona. Nanti dulu, aku belum," seru Siau-liong terus mengambil gundu dan dilemparkan ke dalam mangkuk Gundu berputarputar kemudian berhenti dalam bentuk huruf Liok (enam) Ha, ha, akulah yang menang!" serunya. Tidak, tidak! Gunduku dapat berputar lebih cepat." teriak si nona. Tetapi gunduku dapat membentuk jumlah yang lebih banyak!" sahut Siau-liong. Baiklah, engkau yang menang. Tetapi masih dua kali lagi bertanding," akhirnya nona itu mengakui. Ia menjeput gundu lalu dilemparkan lagi. Gundu2 itu berhenti berjajar-jajar rapi di tengah mangkuk. Nona itu tertawa bangga. 114 Jangan tertawa dulu," tukas Siau-liong seraya menjemput gundu lalu dilemparkan ke udara. "Klotek".... gundu2 itu berhamburan jatuh dan serentak berhenti ditengah mangkuk. Engkau kalah lagi!" serunya. Tiba-tiba nona itu menuding muka Siau-liong dan memaki, Ho, bagus benar muslihatmu, rubah tua! Engkau sengaja menantang pertandingan bermain gundu ini supaya aku kalah. Tidak! Jika tak mau menyerahkan separoh Giok-pwe itu, jangan harap engkau dapat keluar dari lembah ini!" Siau-liong tertawa mengejek. Jika dengan kepandaian, engkau mampu mengalahkan aku, tentu takkan ingkar. Tetapi caramu tidak jujur. Kalau menang, engkau meminta Giok-pwe. Tetapi kalau kalah, engkau cari alasan ini itu. Memang kalau aku sudah mati disini, tentu tak dapat keluar. Tetapi untuk membunuh Pendekar Laknat, lebih sukar daripada mendaki tangga kelangit!" Nona itu marah dan malu. Wajahnya sebentar pucat sebentar merah padam. Serentak ia mencabut pedang. Dengan jurus Bianglala-menutup-matahari. ia menusuk dada Siau-liong. Siau-liong mengendap dan menyurut mundur, Rombongan gadis yang terdiri dari 20 orang itu pun serentak pecah diri membentuk sebuah barisan. Kemudian mereka menghunus

pedang dan maju menghampiri Siau-liong. Karena tak mencelakai gadis2 itu, Siau-liong menyurut mundur. 115 Serangan pertama gagal, gadis pemilik lembah menyusuli lagi dengan serangan kedua dalam jurus Ular-putih-menyulur lidah. Ia menusuk dada Siau-liong sekuat-kuatnya. Saat itu Siau-liong sudah mundur kira2 terpisah dua meter dari tempat Tiau Bok-kun. Dengan gesit, ia mengisar dan menendang tangan si nona. Nona itu cepat merobah gerakan pedangnya. Tetapi diluar dugaan, tendangan Siau-liong itu hanya ancaman kosong. Begitu si nona menghindar, secepat kilat pemuda itu berputar diri kesamping sinenek tua dan menutuk punggungnya. Dan serempak dengan gerakan menutuk itu, tangan kiri pun menyambar bahu Tiau Bok-kun. Ia hendak menerobos keluar dari kepungan. Tubuh tua yang licin!" nona pemilik lembah memekik seraya menyerang dan memberi isyarat agar barisan gadis itu pun ikut menyerbu. Dalam keadaan seperti itu, terpaksa Siau-liong harus membela diri. Sebuah ayunan tangan kiri, membuat tiga orang gadis tersurut mundur, muntah darah dan terkapar di tanah Siau-liong terkejut. Ia menyadari bahwa pukulan yang diayunkan itu adalah ajaran pengemis Tengkorak-sakti Song Thay-kun. Pukulan Thay-siang-ciang yang amat sakti! Ha, ha, jangan mengantar jiwa sia-sia!" serunya memberi peringatan. Pada saat si nona pemilik lembah tertegun, Siau-liong lepaskan lagi sebuah pukulan. Nona itu terkejut dan cepat loncat menghindar. Kesempatan itu tak disia-siakan Siau-liong. Dengan gerak Harimau-buas-tinggalkan-gunung, sambil mengepit tubuh Tiau Bok-kun, ia loncat keluar pintu. 116 Tetapi pintupun tertutup. Siau-liong menghantamnya dengan pukulan Bu-kek-sin-kang. "Bum.... terdengar ledakan keras tetapi pintu itu tak kurang suatu apa. Siau-liong heran. Dalam pada itu rombongan gadis yang dipimpin nona cantik tadi pun tiba. Tetapi agaknya nona pemilik lembah itu gentar terhadap Pendekar Laknat. Ia tak berani segera menyerang melainkan memaki-maki dari kejauhan. Siau-liong cepat memutuskan. Kalau tak dapat menembus pintu muka mengapa ia tak mau coba menerjang pintu belakang? Sambil mendukung Tiau Bok-kun, ia loncat melayang keruang besar. Ternyata di belakang ruang itu, merupakan sebuah hutan lebat. Siau-liong menerobos ke dalam hutan. Ia kira, ujung hutan itu tentu merupakan jalan belakang keluar

dari lembah. Tetapi ternyata, hutan itu gelap sekali. Melintas kian kemari, ia tetap hanya berputar-putar dalam hutan itu saja. Siau-liong gelisah. Ia memandang kesekeliling dengan seksama. Sejauh mata memandang, hanya pohon2 bunga yang tampak. Jarak pohon itu satu dengan lain hampir sama, sukar dibedakan. Sejenak tertegun, mulailah Siau-liong berjalan lagi dengan pelahan. Setiap tiga batang pohon diberinya tanda. Setelah lebih 40 pohon, ia telah mencapai dua li jauhnya. Tetapi ah.... ternyata ia balik lagi pada jalan semula atau pohon pertama yang telah diberinya tanda tadi. Akhirnya ia menghela napas, meletakkan Tiau Bok-kun lalu bersandar pada pohon. Nona itu masih meram, tiga buah jalan darahnya ditutuk orang. Sekalipun sudah ditolong Siau-liong 117 tetapi nona itu tetap belum sadar. Terpaksa Siau-liong mengurutnya. Beberapa waktu kemudian barulah nona itu menguak dan tersadar. Begitu melihat Siau-liong, nona itu menjerit dan meronta hendak lari. Nona Tiau, mengapa engkau ini?" tegur Siau-liong. Dengan wajah pucat, nona itu menyurut mundur, Engkau.... engkau bukan pendekar Lak.... Jangan kuatir, aku takkan mencelakaimu!" buru-buru Siauliong menukas setelah menyadari dirinya masih sebagai Pendekar Laknat. Tiau Bok-kun berhenti, memandang kesekeliling penjuru. Dengan tertawa, Siau-liong duduk dan berkata, Silahkan duduk, nona." Dengan ragu2 nona, itu ikut duduk. Tiba-tiba ia teringat, serunya, Tadi aku seperti ditutuk oleh Soh-beng Ki-su.... locianpwekah yang menolong?" Diam-diam Siau-liong geli. Sahutnya, Benar, memang aku yang menolongmu. Tetapi saat ini kita masih terbenam dalam barisan musuh. Entah kita dapat atau tidak keluar dari lembah ini!" Buru-buru Tiau Bok-kun menghaturkan terima kasih, ujarnya, Ah, kiranya lo-cianpwe seorang yang berbudi luhur. Desas-desus dalam dunia persilatan itu ternyata tidak benar!" Desas desus bagaimana?" 118 "Kabarnya 20 tahun yang lalu lo-cianpwe amat ganas gemar membunuh, congkak, dingin, tak suka bersahabat dan kejam sekali.... "Adakah aku sesuai dengan desas-desus itu?" Tiau Bok-kun tertawa kecil dan tundukkan kepala Ku.... rasa tidak sesuai. Lo-cianpwe seorang baik. Aku tak percaya

segala omongan orang itu!" Diam-diam Siau-liong merasa bahagia. Selebat hutan dalam lembah Musim-semi, hatinya terasa pekat sekali hingga tak dapat berkata-kata. Setelah beberapa saat, Tiau Bok-kun rasakan tenaganya pulih kembali. Melihat Pendekar Laknat diam saja, ia bertanya, Lo-cianpwe, apakah kita tak berangkat lagi?" "Mungkin kita terpaksa bermalam disini," Siau-liong tertawa hambar. Tiau Bok-kun terbeliak. Ia heran mengapa seorang tokoh yang sedemikian sakti, tak berdaya keluar dari hutan itu. Sekonyong-konyong terdengar suara ketawa keras. Dan melengkinglah teriakan garang dari nona pemilik lembah, Rubah tua, sepandai-pandai tupai melompat, sesekali tergelincir juga. Betapapun saktimu, tetapi kali ini jangan harap engkau mampu keluar dari lembah ini!" Tiau Bok-kun berpaling memandang keseluruh penjuru, Tetapi ia tak dapat menentukan arah datangnya suara itu. Siau-liong murka. Dengan menggembor keras ia menghamburkan lima buah pukulan Bu-kek-sin-kang keempat 119 penjuru, Pohon2 berderak-derak putus dahannya. Ranting dan daun bertebaran. "Ibiis tua! Pohon berjumlah 2000 batang. Kecuali engkau mampu menghantam habis, barulah engkau mampu keluar dari lembah ini. Tetapi masih ada pula Pagar Harimau, Pagar Singa, Pari Beracun dan lain-lain.... tiba-tiba terdengar lengking suara mirip hantu merintih. Tiau Bok-kun pucat, Siau-liong pun tertegun. Itulah suara Soh-beng Ki-su, manusia yang dibencinya. Tetapi apa daya. Ia hanya termenung. Saat itu hari mulai petang. Tiba-tiba segumpal kabut tipis bertebaran melayang-layang. Makin lama makin tebal, baunya mengandung belirang. Jelas bukan kabut sewajarnya melainkan ditaburkan orang. "Lo-cianpwe, mereka melepas api!" seru Tiau Bok-kun makin cemas. Tetapi Siau-liong tertawa tenang, Api tak jadi soal, tetapi ini....- ia tak dapat melanjutkan kata-katanya karena batuk2 terserang bau belirang. Tiau Bok-kun pun ikut batuk2. "Iblis tua! Jangan lama2, lekaslah engkau ke Neraka!" seru Soh-beng Ki-su pula. Siau-liong tertawa nyaring, serunya, Ha, tahukah engkau bahwa separoh Giok-pwe itu berada dalam tanganku?" "Bagus, setelah engkau mati, tentu dapat kita ambil!" seru Soh-beng Ki-su dan nona pemilik lembah. 120 Siau-liong tertawa mengejek, Ho, di dunia tak ada hal

yang seenak bayanganmu itu! Jika aku mati, tentu lebih dulu Giok-pwe itu akan kuhancurkan.... Kata2 Siau-liong itu ternyata membawa pengaruh. Sohbeng Ki-su dan si nona pemilik lembah berdiam diri. Tetapi dalam pada itu kabut pun mulai menipis dan akhirnya lenyap sama sekali. Andaikata Siau-liong tak menggunakan siasat tadi, tentulah ia dan Tiau Bok-kun sudah binasa. Hari makin malam. Hutan makin gelap gulita. Tiba-liba Tiau Bok-kun terhuyung-huyung dan berbargkit, Lo-cianpwe.... "Nona Tiau, mengapa engkau!" Siau-liong terkejut. Tiau Bok-kun rubuh ,.... ---ooo0dw0ooo--Jilid 03 Disimpang Jalan Siau-liong terkejut tetapi gadis itu sudah rubuh. Buru-buru ia menolongnya.... Dahi nona itu mengerut gelap, kaki tangan lunglai dan bibirnya gemetar. Siau-liong menyadari bahwa kabut belirang tadi tentu mengandung racun.... Karena ia sudah mendapat saluran tenaga murni dari Koay-suhu simanusia dari gua dan minum darah makhluk aneh serta makan buah Im-yang-som maka ia memiliki daya tahan yang kebal terhadap kabut beracun itu. 121 Beda dengan Tiau Bok-kun yang lebih rendah kepandaiannya sehingga tak tahan diserang kabut itu. Sejak kecil ikut pada gurunya, tabib sakti Kongsun Liong, Siau-liong pun faham akan ilmu pengobatah. Karena tak membekal obat, tak dapat ia menyembuhkan nora itu. Akhirnya ia hanya dapat melakukan cara mengurut untuk menekan racun dalam tubuh gadis itu supaya jangan mengembang luas. Tak berapa lama Tiau Bok-kun tersadar. Memandang Siauliong, nona itu mengeluh, Lo-cianpwe, aku benci.... "Siapa?" Tiau Bok-kun menghela napas panjang, Aku benci diriku yang bernasib malang ini.... Siau-liong tertawa lalu menghela napas. Lo-cianpwe," kata nona itu pula, dengan kepandaian yang sakti engkau tentu dapat keluar dari lembah ini. Janganlah karena diriku, engkau akan mendapat kesusahan.... Siau-liong tertawa, Orang menjuluki diriku Pendekar Laknat. Kegemaranku mengurus hal2 yang tak adil. Sekali campur tangan, tak pernah aku mundur lagi." Tiau Bok-kun gelengkan kepala, Nasibku memang malang. Hidupku selalu dirundung kesusahan dan keputus-asaan. Andaikata dapat keluar dari lembah ini, bagiku pun tiada manfaatnya hidup di dunia!" Sejenak berhenti, nona itu berkata pula, Lo-cianpwe,

apakah engkau mau meluluskan sebuah permintaanku?" 122 Siau liong buru-buru mengiakan. Sesaat tampak Tiau Bok-kun meragu tetapi akhirnya ia berkata juga, Ada seorang pemuda gagah bernama Kongsun Liong. Adakah lo-cianpwe kenal padanya?" Jantung Siau-liong mendebur keras. Cepat ia menyahut, Dia adalah ketua partai Kay-pang yang termasyhur. Masakan aku tak kenal?" Tiau Bok-kun menghela napas. "Tolonglah lo-cianpwe suka menyerahkan suratku ini kepadanya. Katakan . ,.... katakanlah, bahwa aku sudah meninggal dunia. Budi pertolongannya kepadaku, terpaksa kelak pada penitisan yang akan datang, baru dapat kubalas!" Habis berkata nona itu menangis tersedu-sedu. Siau-liong terpaksa ikut mengucurkan air mata. Untunglah karena gelap, tiada yang mengetahui keadaannya saat itu. Sesungguhnya sudah berulang kali Siau-liong hendak menyingkap kedoknya agar Tiau Bok-kun terkejut girang. Tetapi setiap kali, ia batalkan niatnya. Kini baru ia mengetahui betapa besar cinta Tiau Bok-kun kepadanya.... Pikiran Siau-liong mulai melayang-layang jauh.... Dari keterangan gurunya, yakni tabib sakti Kongsun Sintho, Siau-liong mengetahui bahwa pembunuh ayahnya adalah ketua Kong-tong-pay yang bernama Toh Hun-ki serta keempat tokoh tua dan partai itu. Dan Toh Hun-ki itu sesungguhnya adalah guru dari ayah Siau-liong. 123 Selama ini beberapa kali ia mempunyai kesempatan untuk membunuh musuh ayahnya itu. Tetapi setiap kali teringat akan pesan gurunya bahwa mendiang ayahnya meninggalkan pesan supaya jangan membalas sakit hati itu. Terpaksa Siauliong lepaskan musuhnya. Mengenai ibunya, Siau-liong sudah beberapa kali berjumpa tetapi setiap kali tentu kehilangan kesempatan untuk bicara. Kemudian pikiran Siau-liong melayang jauh pada manusia aneh Pendekar Laknat yang memberinya ilmu kesaktian, Menurut pesan Pendekar Laknat, ia harus membenci semua manusia di dunia. Apabila ia tak dapat memenuhi pesan itu, sekurang-kurangnya ia harus dapat membunuh Soh-beng Kisu, pertapa yang berhutang darah Pendekar Laknat. Kemudian masih ada seorang lagi yakni Kolo-sin-kay atau Pengemis Tengkorak Song Thay-kun. Walaupun tokoh itu hanya berupa tengkorak tetapi dari petunjuknialah ia dapat mempelajari ilmu pukulan Thay-siang-ciang-hwat yang sakti, makan buah Im-yang-som dan minum darah ular naga. Dan kini setelah dirinya dinobatkan sebagai Cousu-ya atau

ketua dari partai Kay -pang, demi membalas budi Pengemis Tengkorak, ia harus berusaha keras untuk mengharumkan nama baik partai itu. Peristiwa2 itu melalu-lalang dibenak Siau-liong. Ia menginsyafi, betapa berat beban yang terletak pada bahunya. Kini ia telah memiliki berbagai kepandaian sakti. Tetapi sejauh itu, satu pun dari beban2 itu belum ada yang berhasil ia laksanakan. Bagaimana yang akan terjadi, masih gelap baginya. 124 Ah.... tugas kewajiban masih menumpuk. Mengapa ia harus menjerumuskan diri dalam jerat asmara? Demikian ia melamun. Tengah ia terbenam dalam lamunan itu, tiba-tiba sebuah suara halus mendesing di udara dan menyambar belakangnya. Siau-liong terkejut, Cepat ia mengunakan dua buah jari tangan untuk menjepit senjata gelap itu- Ah, kejutnya bukan kepalang ketika pendapatkan bahwa yang dijepit itu bukan senjata rahasia, melainkan hanya secarik lipatan kertas.... Hebat! Hanya ahli menutuk jalan darah dari jauh, yang mampu menjentikkan surat itu kepadanya. Cepat ia berbangkit dan memandang keseluruh penjuru. Tetapi kecuali derak halus dari ranting dan daun2 tertiup angin malam, tiada tampak suatu apa lagi. Terpaksa ia duduk kembali serta diam-diam menghela napas, Ah, memang benar, di atas gunung masih terdapat langit yang tinggi, Yang sakti masih ada yang lebih sakti lagi. Kesaktian orang itu tak dibawah kepandaianku.... Tiau Bok-kun hanya terlongong-longong memandang Siauliong. Tetapi pemuda itu tak sempat lagi memberi keterangan karena ia terus membuka surat lipatan itu. Dan membacanya: Ilmu silat tiada batasnya. Harus faham tenaga luardalam, ilmu pukulan dan senjata, mengetahui barisan Patkwakiu-kiong, Ki-bun-ngo-heng, ilmu pengobatan, perbintangan dan pemakaian racun, barulah dia dapat menguasai dunia persilatan. Kepandaianmu tinggi tetapi kurang pengalaman dan kurang cermat hingga terjebak dalam barisan pohon bunga. Ingat dan hati-hatilah! Dunia persilatan itu penuh tipu muslihat yang ganas.... 125 Siau-liong terkejut. Jelas orang itu memberi peringatan kepadanya. Walaupun nadanya congkak tetapi maksudnya baik. Siau-liong lanjutkan membaca lagi, Soh-beng Ki-su adalah murid dari si Iblis penakluk-dunia. Dan nona pemilik Lembah Semi itu anak perempuan dari Dewi Neraka. Iblis Penakluk dunia dan Dewi Neraka, merupakan sepasang suami isteri yang selalu kumpul-cerai. Saat ini mereka masuk ke dalam lembah. Lekas tinggalkan tempat ini!"

Karena tiada tanda siapa penulisnya, Siau-liong bingung. "Lo-cianpwe, apakah surat itu.... baru Tiau Bok-kun bertanya, Siau-liong cepat menukas, Ah, dari seorang sahabat pada 40 tahun yang lalu!" Tepat Siau-liong mengucap begitu, tiba-tiba dari belakang terdengar orang tertawa dingin dan pada lain saat sesosok bayangan hitam loncat menyelinap ke dalam gerumbul. Siau-liong terkejut. Kiranya orang itu bukan lain adalah orang berpakaian hitam yang pernah bertempur dengannya tempo hari. Cepat ia mengajak Tiau Bok-kun pergi. Tetapi nona menolak, Silahkan lo-cianpwe pergi sendiri, jangan pedulikan diriku." Siau-liong tak mau banyak bicara. Cepat ia menyambar Tiau Bok-kun terus dibawa lari mengejar orang berpakaian hitam tadi. Orang itu menyusup ke kanan dan ke kiri. Kira2 dua li jauhnya, dia sudah berhasil keluar dari barisan pohon bunga. Mau tak mau Siau-liong harus mengagumi orang itu. Diamdiam ia memutuskan hendak menyingkap rahasia sibaju hitam itu. Sekali enjot tubuh, ia menubruk orang itu seraya membentak, Siapakah sesungguhnya saudara ini!" 126 Tetapi rupanya orang misterius itu sudah memperhitungkan hal itu. Pada saat Siau-liong bergerak, iapun sudah melambung ke udara dan dengan gerak Burung-waletmenembusawan, ia melayang ke balik sebuah batu besar. Diluar daerah barisan pohon bunga itu, merupakan sebuah tanah lapang. Dan tak jauh disebelah muka, merupakan sebuah lamping gunung yang melandai curam. Karena mengepit tubuh Tiau Bok-kun, gerakan Siau-liong kurang leluasa. Pada saat ia hendak layangkan diri mengejar orang aneh itu, tiba-tiba tampak beberapa orang ter-huyung2 lari di atas lamping gunung. Cepat sekali mereka sudah mendekati ketempat Siau-liong. Walaupun malam gelap tetapi Siau-liong dapat mengetahui bahwa kawanan orang yang datang itu adalah ketua Kong tong-pay yakni Toh Hun-ki bersama keempat tetua Kong-tongpay atau Kong-tong-su-lo. Menilik pakaian dan keadaan mereka, rupanya mereka kalah bertempur dan sedang dikejar musuh. Mereka lari pontang-panting menuju barisan pohon bunga.... Dalam keadaan ketakutan mereka tak melihat Siau-liong. Melihat rombongan orang Kong-tong-pay, Tiau Bok-kun tampak jeri. Ia menjerit pelahan dan cepat bersembunyi di belakang Siau-liong. Mendengar jeritan itu, rombongan Toh Hun-ki berhenti. Mereka tertegun melihat Siau-liong dalam penyamaran sebagai Pendekar Laknat, berada diluar hutan. Geraham Siau-liong berderuk-deruk menahan kemarahan. Tak pernah sedetikpun ia melupakan dendam kematian

ayahnya. Diam-diam ia sudah kerahkan tenaga sakti Bu keksinkang. Tetapi pada lain kilas, terngiang pula pesan mendiang ayahnya bahwa ia tak boleh menuntut balas. 127 Apalagi melihat keadaan Toh Hun-ki saat itu, pemuda Siauliong tak sampai hati turun tangan. "Pendekar Laknat....!" seru Tok Hun-ki. Siau-liong melirik ke arah orang itu. Tampak pakaiannya berlubang beberapa beberapa tusukan senjata. Tubuh penuh bintik2 noda darah, rambut kusut masai terurai kedada. Sedang keempat Kong-tong su-lo dibelakangnya dengan kepala menunduk. "Menyerang orang yang sedang terluka, bukanlah laku seorang ksatrya Aku masih dapat mencari lain kesempatan untuk membalas dendam padanya," diam-diam Siau-liong menimang dalam hati. Dan tenaga sakti Bu-kek-sin kang pun diredakan. "Kali ini kuampuni jiwa kalian. Tetapi kalau bertemu lagi, jangan harap kalian mendapat kemurahan seperti saat ini lagi!" serunya. Walaupun heran atas tindakan Pendekar Laknat, tetapi Toh Hun-ki tak mau membuang waktu lagi. Ia menghaturkan terima kasih dan terus lari menuju ke dalam hutan. "Hai, apakah kalian benar-benar hendak mencari kematian!" tiba-tiba Siau-liong berseru seraya ayunkan pukulan. Serangkum angin menderu menghadang lari rombongan orang2 Kong-tong-pay itu. Toh Hun-ki terkejut. Ia kira Pendekar Laknat merubah keputusan. "Hutan itu merupakan barisan pohon bunga dari Lembah Semi. Aku sendiri tadi hampir celaka, apa lagi kalian!" seru Siau-liong dengan tertawa dingin. 128 Toh Hun-ki berhenti dan memandang ke arah hutan. Ia berterima kasih sekali atas peringatan momok itu. Sebagai seorang ketua sebuah partai persilatan, ia berilmu tinggi dan berpengalaman luas. Apa yang dikatakan Pendekar Laknat itu memang benar. Diam-diam ia malu pada dirinya sendiri dan timbullah rasa mengindahkan kepada momok itu. Beberapa saat kemudian, belasan orang bersenjata muncul. Mereka hendak mengejar rombongan Toh Hun-ki. Tetapi terkejut ketika melihat Pendekar Laknat berada disitu. Mereka tak berani sembarangan bertindak dan hanya pecah diri mengepung. Siau-liong tertawa. Ternyata kawanan pengejar itu adalah Soh-beng Ki-su dan gadis pemilik Lembah Semi sendiri bersama anak buahnya. Adalah karena Pendekar Laknat menggunakan siasat untuk

menghancurkan separoh dari Giok-pwe yang berada ditangannya, maka Soh-beng Ki-su dan gadis pemilik lembah itu terpaksa hentikan serangannya dengan kabut beracun. Giok-pwe itu adalah benda milik Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka. Lebih baik mereka tunggu kedatangan guru dan ibu guru itu. Soh-beng Ki-su dan gadis pemilik Lembah Semi mengetahui bahwa guru dan ibu guru mereka itu sukar diraba sepak terjangnya. Tetapi mereka yakin dalam beberapa hari ini, kedua tokoh itu tentu akan kambali ke dalam lembah lagi. Kedatangan Toh Hun-ki dan keempat Su-lo itu tak lain hendak mengikuti Siau-liong yang tengah mengejar Soh-beng Ki-su.... Ketua Kong-tong-pay itu tak pernah melepaskan hasratnya untuk mendapatkan separoh Giok-pwe yang 129 dirampas Soh-beng Ki-su dari Tangan Tiau Bok-kun Yang separoh bagian sudah berada ditangannya. Apabila berhasil mendapat yang separoh dari tangan Soh-beng Ki-su, akan lengkaplah peta untuk mencari kitab pusaka berisi ilmu kesaktian yang tiada taranya di dunia. Dengan demikian partai Kong-tong-pay pasti dapat mengangkat diri dan menguasai dunia persilatan. Dengan harapan itulah maka Toh Hun-ki memberanikan diri untuk memasuki sarang harimau atau Lembah Semi-abadi yang amat berbahaya itu. Tetapi gerak-gerik Soh-beng Ki-su dan Siau-liong cepat sekali. Mereka menghilang dari pandangan Toh Hun-ki. Dan ketua Kong-tong-pay itu kehilangan arah akhirnya tersesat ke belakang lembah. Disitu mereka dipergoki Soh-beng Ki-su dan wanita pemilik Lembah Semi-abadi terus diserang. Toh Hun-ki adalah ketua partai Kong-tong-pay dan keempat Su-lo itu merupakan jago-jago sakti dari partai tersebut. Tetapi Soh-beng Ki su dan wanita pemilik Lembah Semi-abadi adalah murid dari Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka yang termasyhur. Ilmu Pek-kut-kang (tulang putih) dari Soh-beng Ki-su dan ilmu Yong-kut-kang (pelelah tulang) dari wanita pemilik lembah, memerupakan ilmu sakti yang ganas sekali. Maka tak berapa lama, Toh Hun-ki dan keempat Su-lo itu dapat dilukai dan melarikan diri. Soh-beng-ki-su dan si nona pemilik lembah memimpin anak buahnya mengejar. Pada saat rombongan Toh Hun-ki dapat digiring memasuki barisan pohon bunga, tiba-tiba Pendekar Laknat menolong. "Setan tua, rupanya umurmu memang panjang!" seru nona pemilik lembah seraya tertawa mengejek Siau-liong. 130 Siau-liong marah sekali. Soh-beng-ki-su adalah pembunuh dari Koay suhu. Sepak terjang pertapa itupun amat ganas

Nona pemilik Lembah Semi, cabul dan ganas. Jika kedua manusia itu tak dilenyapkan. dunia persilatan tentu menderita. Siau-liong tertawa keras seraya melangkah maju. Karena sudah beberapa kali menderita pil pahit dari Pendekar Laknat, Soh-beng Ki-su gentar dan cepat kerahkan tenaga-sakti Pekkutkang. Dari jari pertapa itu meluncur sinar putih menyerang Siau-liong. Pemuda itu tak mengacuhkan. Ia tetap tertawa nyaring. Nadanya menyerupai singa mengaum. Melihat itu, Son beng Ki-su makin ketakutan. Ia perhebat lagi tenaga sakti Pek-kutkang sampai beberapa bagian. Sesungguhnya dalam tertawa tadi, diam-diam Siau-liong pun sudah kerahkan tenaga sakti Bu-kek-sin-kang. Pada saat sinar putih Pek-kut-kang tiba, Siau-liong menggembor keras dan lepaskan pukulan Tay-lo-kim-kong, sebuah jurus dari ilmu pukulan Tay siang-ciang yang amat dahsyat. Terdengar suara menggelegar keras ketika kedua jenis tenaga-sakti itu saling beradu. Hasilnya segera dapat diketahui. Sinar putih Pek-kut-kang berantakan lenyap dan Soh-beng Ki-su pun ter-huyung2 ke belakang beberapa langkah.... Ia terluka. "Serahkan jiwamu, jahanam!" Siau-liong maju menghampiri dan hendak meaghantamnya lagi. Tetapi si nona pemilik lembah segera mengajak anak buahnya menyerbu. Siau-liong hanya membenci Soh-beng Ki-su dan nona pemilik lembah itu. Ia tak mau mengorbankan banyak jiwa yang tak berdosa. Belasan anak buah yang terdiri dari lelaki 131 dan perempuan itu, se-olah2 tak mengacuhkan pukulan Siauliong. Mereka seperti manusia2 patung yang tak bernyawa. Siau-liong tak sampai hati dan terpaksa menarik pulang pukulannya. Setelah hantamkan tangan kiri ke arah nona pemilik lembah Siau-liong pun enjot tubuh melambung melampaui kepala orang2 itu lalu melayang ke arah Soh-beng Ki-su. Soh-beng Ki-su yang sudah menderita luka itu makin ketakutan. Wajahnya pucat sekekita. Siau-liong tak peduli dan terus hendak menghantamnya. "Tahan!" tiba-tiba dari samping terdengar suara orang membentak dan serangkum angin bertenaga lunak mendampar punggungnya. Siau-liong terkejut seraya cepat loncat menghindar. Ketika bepaling, tampaklah sepasang kakek-nenek berdiri setombak jauhnya. Kedatangan kedua orang itu sama sekali tak bersuara. Siau-liong terkesiap. Kedua kakek-nenek itu sudah lanjut usianya. Dahi mereka penuh berhias keriput tetapi mukanya masih berseri segar. Sepasang matanya bersinar tajam.

Yang lelaki bertubuh jangkung tetapi punggungnya bungkuk. Jenggotnya menjulai panjang sampai kelutut. Rambutnya yang putih terurai lepas pada kedua bahu. Alisnya pun panjang sehingga hampir bersambung satu sama lain. Hidung bengkok macam burung kukuk beluk. Mulutnya aneh, karena bibir bagian atas lebar tetapi yang bawah kecil 132 sehingga tampak baris giginya yang putih. Sepintas pandang menyerupai orang hutan. Sedang yang perempuan, bertubuh pendek kecil. Tingginya hanya sebatas perut sikakek. Alisnya tebal, mata besar dan hidung membiak lebar, menaungi mulutnya yang besar. Nenek itu mencekal sebatang tongkat Liong-thau-ciang atau tongkat Kepala naga. Tongkat lebih tinggi dari orangnya. Siau-liong tertegun melihat keadaan kedua manusia aneh itu. Suhu." tiba-tiba Soh-beng Ki-su berteriak girang seraya lari menghampiri dan berlutut dihadapan kakek yang mirip orang hutan itu. Ayah, ibu....!" nona pemilik lembah pun berseru dan lari terus memeluk dada wanita kate. Sambil membelai rambut puterinya dengan mesra, nenek kate itu menghibur, Jangan takut, anakku. Ibumu tentu akan menghimpas penasaranmu!" Kemudian nenek itu melangkah maju. Saat itu barulah Siau-liong menyadari akan surat peringatan dari orang baju hitam yang mengatakan bahwa kedua momok suami isteri itu sudah datang ke dalam lembah. Tak salah lagi, mereka tentulah suami-isteri Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka. Nenek Dewi Neraka berhenti lima langkah di hadapan Siauliong dan memandangnya dengan berapi2. Tiba-tiba Dewi Neraka tertawa mengekeh. "Heh, heh, setan tua Bu-kek, mengapa 20 tahun tak ketemu, engkau sekarang bertambah tinggi.... tegurnya. 133 Siau-liong teringat bahwa kedua suami-isteri durjana itu adalah musuh bebuyutan dari Koay suhu atau Pendekar Laknat. Beberapa kali Koay suhu kalah oleh kedua momok itu. Diam-diam ia menimang. Walaupun sekarang ia sudah memiliki tenaga-sakti dari Koay suhu dan faham ilmu pukulan Thay-siang-ciang dari Pengemis Tengkorak, tetapi kedua momok itu tentulah juga sudah jauh lebih maju dalam ilmu kesaktiannya. Maka Siau-liong tak berani memandang rendah. Sambil kerahkan tenaga sakti, ia tertawa nyaring. Sekalipun berpisah hanya tiga hari tetapi harus meneliti lagi. Selama 20 tahun ini aku telah berhasil mempelajari semacam ilmu ajaib. Tubuhku dapat kupanjang-surutkan, kurus-gemuk kan menurut sekehendak hatiku. Pula aku dapat

memperpanjang umurku sampai seribu tahun!" sahut Siauliong. Dewi Neraka terperanjat. Tetapi cepat ia tenang kembali Ujarnya, Hanya sayang makin tua engkau makin tak kenal malu. Buktinya, mengapa engkau tak malu menghina kedua muridku ini?" Nenek itu mengguncangkan tongkatnya seperti hendak menyerang. Tetapi Iblis Penakluk-dunia cepat loncat mencegah.... Lalu berkata kepada Siau-liong, Setan tua Bukek, kuucapkan selamat engkau masih tetap awet muda dan tambah tinggi!" 'Ho, tak perlu memuji!" Siau-liong tertawa tawar. Iblis Penakluk dunia dan Dewi Neraka saling berpAndangan. Agaknya mereka curiga atas sikap dan kata2 Siau-liong. 134 Iblis Penakluk dunia kerutkan alis, tertawa sinis, Dua puluh tahun tak ketemu, engkau banyak berubah. Kabarnya engkau punya sebuah ilmu baru lagi?" "Ilmu jenis Bubuk-makan-kayu saja, masakan pantas dibanggakan," Siau-liong tertawa. Sambil mengurut jenggot, Iblis Penakluk dunia berkata pula, Isteriku telah mengundang seluruh ksatrya dunia persilatan supaya datang kelembah sini untuk mengadu kepandaian. Rupanya engkau merupakan tetamu paling terhormat dari isteriku!" "Jika isterimu yang mengundang, tiada alasan aku tak datang," sahut Siau-liong. Iblis itu tertawa sinis, Dapat atau tidaknya engkau hadir, tergantung bagaimana hasil peyakinanmu selama 20 tahun ini. Mungkin sejak saat ini, dunia akan kehilangan seorang momok yang disebut Pendekar Laknat!" Tiba-tiba iblis tua itu menutup kata-kata dengan dorongkan kedua tangannya ke arah Siau-liong. Siau-liong memang sudah menduga kemungkinan itu. Iapun sudah siap sedia. Cepat ia dorongkan kedua tangannya menyongsong. Dahulu iblis Penakluk-dUnia termasyhur dengan pukulan sakti Thay-krk-bu-wi-kangnya. Setelah memperdalam lagi selama 20 tahun, sudah tentu tenaga saktinya makin sempurna. Dess.... terdengar ledakan keras. Debu dan batu seluas beberapa meter, berhamburan keempat penjuru.... Tenaga sakti Bu-kek-sin-kang dan ilmu pukulan Thay-siangciang yang dilancarkan Siau-liong berlandas kekerasan 135 dahsyat. Sedang tenaga sakti Thay-kek-bu-wi-kang dari iblis Penakluk dunia mengutamakan tenaga lunak. Keduanya paling menggunakan delapan bagian tenaganya. Kesudahannya, mereka sama2 terkejut. Ternyata tenaga sakti

keduanya sama2 lenyap, Tiada yang kalah dan menang. Iblis Penakluk dunia paksakan tertawa, Setan tua Bu-kek, dalam 20 tahun ini, hebat sekali kemajuanmu!" Dalam berkata-kata itu, iblis Penakluk-dunia tetap pancarkan tenaga sakti ke arah tangannya dan menyerang. "Bagus, bagus." seru Siau-liong seraya balikkan kedua tangannya menyambut. Mereka saling adu tenaga dalam melalui sepasang tangan masing-masing. Sampai sepeminum teh lamanya, keduanya tetap tak bergerak. Tiba-tiba iblis Penakluk-dunia menggembor keras. Ia deliki mata. Tulang2 tubuhnya berderak-derak dan ia tambahkan lagi penyaluran tenaga dalamnya untuk mendesak Siau-liong. Tampaknya Siau-liong tak kuat bertahan. Kedua lengannya pun sudah menjuntai ke bawah dan tubuhnya mulai condong ke belakang. Toh Hun-ki dan keempat Su-lo serta Tiau Bok-kun menyaksikan pertempuran maut itu dengan berdebar-debar. Mereka mencemaskan keadaan Siau-liong. Jika Siau-liong kalah, merekapun takkan lolos dari tangan maut siiblis Penakluk-dunia. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara tertawa Siau-liong. Tubuh Pendekar Laknat itu tegak kembali dan bahkan dapat mendesak lawan ke belakang. 136 Sepeminum teh lamanya, wajah iblis yang semula merah segar, mulai tampak pucat lesi. Keningnya basah dengan keringat. Jelas tokoh itu hampir kehabisan tenaga. Karena mengenakan kedok penyamaran sebagai Pendekar Laknat, maka perobahan air muka Siau-liong tak terlihat. Tetapi jelas, diapun berjuang mati-matian untuk bertahan. Sekonyong-konyong terdengar getaran menggelegar dan tahu2 iblis Penakluk dunia serta Siau-liong sama2 menyurut mundur sampai tujuh langkah.... Debu dan pasir berhamburan hebat. Kedua musuh itu tegak berdiri tak kurang suatu apa. Beberapa saat kemudian, barulah iblis Penakluk dunia berseru, Setan tua Bu-kek, dua puluh tahun berselang, engkau menghalangi cita-citaku menguasai dunia persilatan. Kini 20 tahun kemudian, engkau tetap merupakan penghalangku yang utama.... Ia berhenti sejenak. lalu, Tetapi keadaan sekarang berbeda dengan dulu. Asal engkau berani datang menghadiri pertempuran di dalam lembah, aku sudah sedia cara untuk menguburmu!" Siau-liong tertawa nyaring, Dalam hidupku tak pernah kutakut pada manusia siapa saja. Aku tentu datang." Tiba-tiba tubuh iblis Penakluk dunia condong kemuka seperti mau rubuh tetapi segera tegak lagi.... Setelah tertawa

terkekeh-kekeh beberapa saat, ia ajak Dewi Neraka dan puteri serta muridnya masuk ke dalam lembah. Tak berapa lama mereka lenyap dari pandangan. Saat itu hampir menjelang tengah malam. 137 Siau-liong memandang rembulan cekung. Ia menghela napas dalam. "Lo-cianpwe.... Tiau Bok-kun lari menghampiri. "Pendekar.... Laknat," Toh Hun-ki pun bersama keempat Su-lo menghampiri kemuka Siau-liong. Siau-liong tak mengacuhkan. Ia duduk di tanah pejamkan mata. Toh Hun-ki, Tiau Bok-kun dan keempat Su-lo tak berani mengganggu. Mereka tahu Pendekar Laknat seorang manusia aneh. Sukar diraba sepak terjangnya. Walaupun tadi telah menolong tetapi belum tentu dia tak berpaling halauan. Beberapa waktu kemudian, tiba-tiba Siau-liong mengangkat kepala dan muntah darah. "Lo-cianpwe, apakah engkau terluka.... Tiau Bok-kun berseru cemas. Siau-liong mengiakan, Ya, tetapi si iblis dunia itupun lebih berat dari aku!" Toh Hun-ki buru-buru mengambil dua butir pil merah lalu diberikan kepadanya, Pil buatan partai Kong-tong-pay ini. mempunyai khasiat mengembalikan ketenangan darah dan hawa murni.... Plak.... tiba-tiba Siau-liong menampar jatuh pil itu dan membentak, Siapa sudi makan pil pemberianmu" Toh Hun-ki tersentak kaget. Bersama keempat Su-lo, ia mundur beberapa langkah. Ia duga momok itu tentu sedang kumat gilanya. 138 Tiau Bok-kun pun mengira demikian. Ia juga mundur dua langkah. Tak berapa lama terdengar Siau-liong menghela napas pula. Mendengar itu Toh Hun-ki memberi hormat seraya menghaturkan terima kasih, Pemberian pil tadi berdasarkan rasa terima kasih kami yang tak terhingga kepada saudara." "Pergi kau!" bentak Siau-liong, aku tak butuh terima kasihmu. Jika saat ini kalian tak terluka, mungkin kalian sudah jadi mayat!" "Silahkan saudara berkata apa saja. Tetapi karena merasa menerima budi, aku tak dapat tinggalkan saudara dalam keadaan terluka," sahut Toh Hun-ki, terus duduk di tanah diikuti keempat Su-lo. Siau-liong pejamkan mata. Beberapa saat kemudian ia membentak bengis, Toh Hun ki!" Ketua Kong-tong-pay itu mengiakan.

"Aku hendak minta engkau menyelidiki berita seseorang.... "Asal tenagaku mampu, tentu akan kulaksanakan," sahut Toh Hun-ki. Siau-liong mengangguk, katanya, Apakah pada 10 tahun yang lalu engkau kenal akan seorang lelaki yang bernama Tong Gun-liong?" Toh Hun-ki terbeliak. 139 Tong Gun-liong dikubur di gunung Hongsan. Dan ternyata Pendekar Laknat bersembunyi dibalik gunung itu. Mungkinkah mayat Tong Gun-liong itu Pendekar Laknat yang menguburnya? Demikian Toh Hun-ki mulai membayang kecemasan. Tetapi Pendekar Laknat seorang iblis yang gila dan pendendam. Dia tak punya seorang sahabat pun juga. Tak mungkin dia mempunyai hubungan apa2 dengan Tong Gunliong. Mustahil dia mau mengubur mayat Tong Gun-liong. "Lekas bilang, kenal atau tidak!" Siau-liong mengulang pertanyaannya. "Tong Gun-liong adalah muridku.... Toh Hun-ki tergagap lalu menghela napas. Sambil menghitung jari tangan, ia berkata pula, Tetapi pada belasan tahun berselang, dia telah binasa di lembah Hok-liong-koh di gunung Hongsan." "Mengapa?" Siau-liong tahankan air matanya. Toh Hun-ki menghela napas panjang, Memang kelalaianku sendiri sehingga tak mengetahui bahwa Tong Gun-liong diamdiam telah jatuh cinta kepada Ki Ih. Dari hubungan gelap, mereka melahirkan seorang anak lelaki dan.... Toh Hun-ki terpaksa hentikan keterangannya karena mendadak Siau-liong menggembor keras dan muntah darah. "Lanjutkan!" teriak Siau-liong. Terpaksa Toh Hun-ki bercerita lagi, Demi menjaga peraturan perguruan, kuputuskan tak mengakui pernikahan itu. Tetapi diluar dugaan Ki Ih marah dan mengamuk Kongtongpay.... 140 Ia berhenti sejenak untuk mengenangkan peristiwa itu lalu melanjutkan, Pada saat itu, salju mulai turun dengan deras. Jalanan gunung penuh bertutupkan salju. Dalam kebingungan, Gun-liong membawa anaknya yang baru berumur belum cukup 100 hari itu melarikan diri. Tetapi dia tergelincir jatuh ke bawah karang yang curam dan binasa. Ki Ih menyusul lari dan tak ketahuan beritanya lagi.... "Kemunculan Ki Ih kedaerah Tiong-goan itu, tentu mencari balas pada kalian, bukan?" tukas Siau-liong. "Benar," sahut Toh Hun-ki. Serentak ia teringat akan peristiwa digunung Tay-lian-san tempo hari. Bersama tokoh2 Kay-parg, rombongan Toh Hun-ki berhasil mengepung dan

melukai Ki Ih. Tetapi tiba-tiba pada saat itu Pendekar Laknat muncul menolong Ki Ih. Diam-diam Toh Hun-ki menatap Siauliong dengan rasa heran. Siau-liong menggeram, Jika putera Tong Gun-liong masih hidup, pantaskah dia menuntut balas kepadamu?" Toh Hun-ki mengangguk, Sudah tentu.... Tiba-tiba Siau-liong tengadahkan kepala tertawa keras, Toh Hun-ki, engkau telah membunuh jiwa seseorang. Apakah engkau tak menyesal atas peristiwa 16 tahun yang lalu itu?" Ketua Kong Tong-pay menghela napas, Sebagai guru dan murid, sudah tentu aku bersedih. Tetapi dalam kedudukan sebagai seorang ketua perguruan yang menjaga ketertiban peraturan, aku tak menyesal sama sekali!" Nada jawaban itu mengunjuk kewibawaan sebagai seorang ketua partai persilatan yang termasyhur. 141 Siau-liong merenung diam. Setelah menghela napas, ia berpaling ke arah Tiau Bok-kun, Nona Tiau itu menderita terkena racun. Saat ini aku tak sempat merawatnya.... "Serahkan kepadaku yang mengobatinya," cepat Toh Hunki menanggapi. "Tidak! Aku dapat merawat diriku sendiri.... mereka.... mungkin akan membunuhku!" cepat2 Tiau Bok-kun berseru. Siau-liong tertawa hambar, Mereka tak dapat dan tak mungkin berani berbuat begitu.... berpaling kepada Toh Hunki, Siau-liong berkata lebih jauh, Asal kalian mengantar nona itu kekota Siok-ciu dan dapat menyembuhkan lukanya, barulah kuanggap kalian telah membalas budiku tadi.... habis berkata Siau-liong terus berbangkit dan melangkah pergi. Tiba-tiba berhamburan air mata Tiau Bok-kun, serunya, Lo-cianpwe.... Siau-liong berhenti dan menanyakan. "Apakah lukamu tak mengapa?" tanya nona itu penuh cemas. Siau-liong paksakan tertawa, Mati hidup sudah suratan takdir. Harap nona jangan kuatir.... berkata sampai disitu, meluaplah rasa haru dalam hati Siau-liong sehingga air matanya hampir mencucur keluar. Buru-buru ia berpaling muka dan berjalan lagi. "Harap tunggu dulu, aku masih hendak bicara kepada saudara," baru beberapa langkah Siau-liong berjalan, Toh Hun-ki sudah menghadangnya. Siau-liong tertegun. 142 Toh Hun-ki mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari kain warna biru, katanya, Bungkusan ini berisi separoh bagian dari Giok-pwe, sebuah pusaka yang menjadi milik Kong-tongpay.... Ia berhenti sejenak, melirik ke arah Tiau Bok kun, lalu

melanjutkan pula, Dan yang separoh bagian adalah milik nona Tiau itu.... Tetapi sayang telah dirampas Soh-beng Ki-su. Saat ini tentu sudah diserahkan kepada gurunya siibiis Penakluk dunia. Apabila kedua Giok-pwe dipersatukan, akan merupakan sebuah peta rahasia penyimpanan pusaka yang selama ini dikejar-kejar oleh kaum persilatan.... -" Kembali ia berhenti sejenak lagi lalu meneruskan, Pusaka itu merupakan simpanan harta karun dan kitab pusaka yang tak ternilai harganya." "Semut mati karena manisan, manusia karena harta. Aku tak ingin sama sekali pada harta dunia!" Siau-liong tertawa hina. "Aku sendiri juga tak mementingkan harta," buru-buru Toh Hun-ki menerangkan, "tetapi dalam tempat penyimpanan pusaka itu, terdapat sebuah kitab. Konon kitab itu adalah karya dari Tio Sam-hong cousu. Jika berhasil memperolehnya, tentu akan mendapat kesaktian yang hebat dan dapat membasmi kawanan durjana, membantu mengamankan dunia persilatan.... Ketua Kong-tong-pay itu berhenti sejenak, memandang Siau-liong lalu berkata pula, Terus terang aku tak mampu mendapatkan separoh bagian dari Giok-pwe yang dirampas Soh-beng Ki-su itu. Maka hendak kuhaturkan separoh bagian giok-pwe itu kepadamu.... 143 "Sebagai pembalas budi?" tukas Siau-liong. "Aku hidup untuk kepentingan umat manusia dan bekerja demi amanat sesama kaum persilatan. Kumohon engkau muncul lagi dalam dunia persilatan untuk menyelamatkan bencana darah!" habis berkata ia angsurkan bungkusan berisi separoh Giok-pwe itu kepada Siau-liong. Tetapi Siau-liong tak mau tergesa2 menyambuti. Katanya tertawa, Apakah engkau percaya kepadaku? Mengapa engkau yakin aku takkan mencelakai dunia persilatan?" Sambil menatap Siau-liong, Toh Hun-ki tertawa nyaring, Mataku tak buta. Kupercaya penuh engkau pasti takkan mengecewakan tugas suci dunia persilatan ini!" Namun Siau-liong masih bersangsi. Jika menerima pemberian Toh Hun ki, musuh besarnya yang membunuh ayahnya, kelak ia tentu sulit untuk membalas dendam Tetapi ucapan Toh Hun-ki itu memang menarik perhatiannya. Ia tak menghiraukan segala harta karun. Hanya kalau, kitab pusaka itu sampai jatuh ketangan manusia2 durjana, tentulah dunia persilatan akan terancam bencana kehancuran! ya, Setelah meragu beberapa saat, akhirnya ia menerima juga pemberian itu. "Semoga anda diberkahi keselamatan dan selamat jalan!" serasa lapanglah dada Toh Hun-ki setelah Siau-liong mau menerima. Ia memberi hormat lalu memanggul Tiau Bok-kun

yang masih pingsan dan terus pergi. Keempat Su-lo mengiring dibelakang. Siau-liong tegak termenung-menung. Hatinya pepat sekali. Ingin ia tumpahkan air mata untuk melonggarkan kesesakan dadanya. Beberapa kali berjumpa dengan Toh Hun-ki tetapi 144 setiap kali tentu tak dapat membalas dendam. Dan beberapa kali bersua dengan ibunya tetapi tentu terpisah lagi.... Ia merasa kalau kepandaiannya sekarang sudah tinggi. Siapa tahu dalam pertempuran dengan iblis Penakluk dunia, ia telah menderita luka berat. Dan teringat pula ia akan manusia aneh baju hitam. Jika orang itu tidak muncul memberi bantuan. kemungkinan saat itu ia sudah mati dalam kurungan barisan pohon bunga. Siau-liong memandang ke balik batu besar. Setelah tak melihat suatu apa, ia berjalan menuruni lamping gunung. Melintasi lamping gunung itu, tibalah ia disebuah tanah datar. Sebuah anak sungai mengalir keluar gunung.... Ia menurutkan aliran sungai kecil itu. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba ia teringat. Buru-buru ia membuka kedok muka sebagai Pendekar Laknat dan jubah hitamnya. Saat itu, ia menjadi Kongsun Liong lagi, ketua partai Kay-pang.... Lebih kurang dua jam lamanya, fajar mulai tiba. Yang tampak diempat penjuru hanya jajaran gunung. Ternyata ia tersesat jalan dan tak dapat keluar dari daerah belantara. Luka dalam tubuhnya mulai bekerja. Hampir ia tak kuat menahan tubuhnya yang terhuyung-huyung itu. Beberapa kali hampir rubuh. Tiba-tiba ia ia melihat sebuah biara pada jarak 10 tombak disebelah muka. Dengan langkah terhuyung ia menuju biara itu. Ternyata sebuah biara yang rusak. Pada papan yang tergantung di atas pintu terdapat tulisan Ke-beng-si atau biara Ayam-berkokok. 145 Biara itu penuh dengan sarang gelagasi. Tembok bengkah2 dan area2 berserakan diujung ruang. Keadaannya mengenaskan sekali. Siau-liong harus lekas2 menyalurkan darah untuk mengobati luka dalamnya. Kalau terlambat ia pasti akan cacad selama-lamanya. Tetapi Siau-liong meragu. Biara itu hanya terpisah sepuluhan li dari lembah Semi. Kedua suami isteri durjana itu setiap saat tentu dapat mencarinya kesitu. Apabila musuh mengetahui tempat persembunyiannya, tentu celakalah ia. Dalam kegelisahan tiba-tiba Siau-liong melihat sebuah tempat yang tepat untuk bersembunyi. Ialah diruang samping. Separoh wuwungan ruang samping itu rubuh. Tetapi separoh bagian belakangnya masih utuh. Tertutup oleh runtuhan

tembok dan wuwungan, dibagian belakang ruang itu terdapat sebuah lubang berbentuk segi tiga. Setelah yakin orang tentu sukar menduga tempat itu dipakai tempat bersembunyi, ia segera menyusup, menutup liang itu dengan keping papan dan tembok bengkah. Setelah rapat, ia mulai duduk bersemedhi menyalurkan darah. Berkat dasar tenaga dalamnya yang kokoh ditambah pula minum darah naga dipusar bumi serta buah som, dalam waktu sejam saja, darahnya yang bergolak itu dapat ditenangkan. Cepat sekali delapan jam telah lewat. Empat jam lagi, lukanja tentu sembuh. Saat itu hari petang. Angin reda dan turunlah hujan. Tak berapa lama tiba-tiba ia mendengar langkah kaki yang halus masuk ke dalam ruang situ. Ia duga tentulah pemburu yang meneduh. Selekas hujan berhenti, orang itu tentu pergi. Diluar dugaan, setelah mondar-mandir beberapa saat, orang itu berseru kaget dan terus menuju keruang samping 146 Langkah kaki orang itu makin lama makin dekat dan masuk ke dalam ruang samping. Siau-liong terkejut sekali. Saat itu penyaluran tenaga dalamnya sedang mencapai puncak ketegangan. Dalam keadaan seperti itu, cukup seorang biasa saja, sekali dorong tentu dapat merubuhkan Siau-liong. Dia akan cacad bahkan bisa mati. Akhirnya ia menyerah pada nasib. Jika memang ditakdirkan mati, apa boleh buat. Dengan kebulatan pikiran itu, ia mulai tenang dan menjalankan penyaluran darah lagi. Pendatarg itu agaknya tertegun lalu tertawa pelahan seraya menghampiri ke tempat Siau-liong. Siau-liong pun merasa bahwa orang itu telah berada dibelakangnya. Tring.... orang itu mencabut pedang. Seketika terdengar keping-keping papan dan tembok berhamburan tertabas pedang. "Habislah riwayatku.... diam-diam Siau-liong mengeluh.... Saat itu ia tak dapat berbuat apa2. Ia hanya pasrah nasib saja, Tetapi heran. Sampai sekian saat belum juga terjadi sesuatu. Rupanya orang itu batalkan maksudnya membunuh. Lebih kurang sepeminum teh lamanya, Siau-liong mendengar orang itu menyarungkan pedang kembali. Dan menyusul terdengar suara celana wanita berteliku duduk tak jauh dari tempatnya. Ketegangan Siau-liong mereda. Jelas pendatang itu tiada bermaksud jahat kepadanya. Selang empat jam kemudian, selesailah penyaluran Siauliong. Lukanya hampir sembuh sama sekali. Begitu membuka mata, pertama-tama ia ingin mengatahui siapakah gerangan pendatang itu. 147 Cepat ia berpaling dan.... astaga! Orang itu sudah lenyap.

Setelah menghela napas panjang, ia berbangkit. Ternyata hujan sudah berhenti. Ruang penuh air, tubuhnya pun penuh kotoran debu. Tiba-tiba hidungnya terbaur daging bakar yang wangi. Buru-buru ia berpaling Dimeja sembahyang tampak seonggok api yang belum padam. Di atas api terdapat segumpal daging rusa. Karena sehari suntuk tak makan, air liurnya pun menitik keluar. Ketika hendak mengambil daging rusa itu, tiba-tiba sesosok tubuh langsing menerobos masuk. Girang Siau-liong bukan kepalang. Orang itu bukan lain Pek Ciang-wi atau si Mawar Putih. Dara itu tengah membawa sebuah tempat dupa yang diisi air. Buru-buru Siau-liong menghampiri dan menyambutinya, Ah, kiranya engkau.... "Sudah sembuh?" tanya dara itu. Siau-liong mengiakan. "Mengapa engkau terluka?" Siau-liong tergugu tak dapat menerangkan. Waktu bertempur dengan iblis Penakluk dunia, ia menyamar sebagai Pendekar Laknat. Tetapi sekarang ia sudah kembali menjadi Kongsun Liong lagi. Sulit ia menuturkan peristiwa itu. Karena tak biasa bohong, merah padamlah muka pemuda itu. Untung dara itu tak mau mendesaknya. Sambil menuding ujung hidung Siau-liong, ia berkata, Sungguh besar nian nyalimu. Jika semalam yang datang bukan aku tentu jiwamu sudah melayang!" 148 Siau-liong tertawa meringis. Buru-buru ia alihkan pembicaraan menanyakan tentang daging rusa bakar. "Bagaimana?" Mawar Putih tersenyum manis. "Sungguh harum sekali Tak kira engkau pandai sekali masak," Siau-liong memuji. Rupanya dara itu senang hatinya. Ia segera ajak Siau-liong duduk dimuka meja dan menikmati daging rusa bakar. Siauliong makan dengan lahap. Selesai makan, haripun sudah fajar. Mawar Putih memandang Siau-liong lalu memandang dirinya sendiri. kemudian tertawa geli, Ah, engkau ketua Kaypang, sudah tentu seorang pengemis tua. Tetapi aku.... Kiranya karena menemani Siau-liong makan dan mengobrol sampai setengah malam, muka dan pakaian si dara berlumuran kotoran. "Makan daging bakar dan minum air kotor sekalipun bukan pengemis tetapi tentu bangsa manusia liar.... Siau-liong tertawa. Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan buru-buru berpaling. Mawar Putih pun tertawa. Tiba-tiba ia juga hentikan tertawanya dan menghela napas panjang. Sudah tentu Siau-liong heran, tegurnya, Mengapa engkau tiba-tiba bermuram durja?"

Sejenak menatap Siau-liong, dara itu gelengkan kepala, Ah, aku teringat kalau suhuku sudah datang. Belasan tahun aku tak pernah berpisah dengan beliau. Sekarang tak tahu bilakah aku dapat berjumpa lagi dengan suhu.... 149 Wajah dara itu makin rawan, katanya lebih lanjut, Sejak kecil aku sudah sebatang kara. Adalah suhuku yang merawat dan memelihara diriku sampai besar. Kami tinggal di sebuah pulau kecil. Karena tak bercocok tanam, sejak kecil aku membantu suhu berburu dan mencari ikan. Cara membakar daging tadi, pun aku belajar dari suhu." "Mengapa engkau tinggalkan suhumu dan seorang diri.... "Aku hendak membalas dendam untuk suhu!" tukas Mawar Putih geram. Siau-liong terbeliak memandang dara itu, tanyanya, Mengapa nona tak datang bersama suhu nona? Apakah beliau tega.... "Suhu sedang sakit.... sahut Mawar Putih dengan nada sumbang. Dua butir air mata menitik dari sudut matanya, "suhu mengatakan bahwa penyakit yang diindapkannya itu tak mungkin sembuh. Yang beliau selalu ingat adalah dendam darahnya. Karena suhu sudah mewariskan seluruh kepandaiannya kepadaku, maka sudah selayaknya aku yang membalaskan dendam itu. Akan kubawa kepala orang itu kehadapan suhu!" Siau-liong tertarik perhatiannya. Tetapi ia tak dapat menemukan kata-kata untuk menghibur dara itu. Lebih-lebih ketika mengetahui bahwa tujuan dara itu menyangkut juga asal-usul dirinya. Rasa haru Siau-liong makin meluap. Iapun kucurkan beberapa titik air mata. "Eh, mengapa engkau juga menangis?" Mawar Putih hentikan sedunya dan tertawa menegur. 150 Siau-liong tertegun. Ia heran mengapa secepat itu si dara sudah mengganti tangis dengan senyum tawa. Terpaksa iapun ikut tertawa. "Siapakah musuhmu?" tanyanya. Dengan geram Mawar Putih menyahut, Ketua partai Kongtongpay To Hun-ki bersama keempat Su-lo!" Siau-liong termangu. Mengapa terjadi peristiwa yang begitu kebetulan sekali! Toh Hun-ki adalah musuhnya besar karena telah membunuh ayahnya. Mengapa musuh besar si dara itu juga To Hun-ki? "Apakah suhumu seorang pria atau wanita?" tanyanya agak ragu. Sudah tentu wanita!" Mengapa suhumu bermusuhan dengan Toh Hun-ki?" Dara itu kicupkan gundu matanya, Pertanyaanmu terlalu

jauh! Apakah engkau hendak mengetahui peristiwa itu sejelasnya? Apa perlumu?" Siau-liong menghela napas, Ah, terus terang saja, Toh Hun-ki itu juga musuhku besar!" Mawar Putih terbeliak dan menatapnya. Beberapa jenak kemudian, ia berkata, Sungguh kebetulan sekali. Kita dapat bekerja sama." Siau-liong mendengus dan merenung. Kemunculan Ki Ih kedunia persilatan lagi untuk mencari balas kepada Kongtongpay, setiap orang persilatan sudah mengetahui semua. Apalagi ia sendiripun sudah menyaksikan wanita sakti itu. 151 Walau pun setiap kali belum berhasil menerangkan kepada wanita itu, namun ia percaya bahwa wanita sakti itu tentulah Coa-sik Se-si Ki Ih. Tetapi aneh sekali! Mengapa Mawar Putih mengatakan bahwa suhunya sedang sakit dirumah? Kalau begitu, jelas guru Mawar Putih ini tentu bukan Ki Ih. Habis kalau bukan Ki Ih, siapakah sesungguhnya guru dara itu? Mengapa ia juga mempunyai dendam sakit hati kepada Kong-tong-pay. "Nona, aku hendak bertanya kepadamu!" "Silahkan!" "Siapakak nama suhumu itu.... Mawar Putih terdiam sejenak baru menjawab, Tiada gunanya kuberitahukan nama suhuku. Beliau bernama Aminah si Boneka-cantik dari Persia!" "Apa?" Siau-liong menegas kejut. "Aminah Pasilia!" "Nama yang aneh dan sukar diingat serta tak sedap didengar," kata Siau-liong. Mawar Putih deliki mata, Apa? Engkau berani menghina nama suhuku?" Dara itu terus berbangkit hendak pergi. Siau-liong menyesal dan buru-buru minta maaf. Saat itu hari sudah terang tanah. Cuaca cerah. Mawar Putih melangkah pe-lahan2 sambil kerutkan alis, berkata, Sekarang 152 hendak kemanakah kita ini? Kita tak dapat terus tinggal dibiara bobrok ini!" Sesaat Siau-liong pun tak dapat menentukan arah tujuannya. Dia hendak membalas dendam. Hendak mencari ibunya. Hendak mengangkat nama Koay suhu dalam dunia persilatan. Hendak mengembangkan kewibawaan partai pengemis. Hendak merebut separoh bagian dari Giok-pwe yang berada ditangan Soh-beng Ki-su. Hendak mencari orang baju hitam yang misterius di dalam Lembah Semi.... Banyak nian pekerjaan yang direncanakan tetapi ia bingung untuk memulai yang mana dulu. Tiba-tiba ia teringat akan

Tiau Bok-kun. Sikap dan tingkah laku nona itu penuh dengan kehalusan yang mesra sehingga ia tersentuh dengan suatu perasaan. Perasaan yang selama ini belum pernah dialaminya. Benar racun dalam tubuh nona itu sudah dapat disumbatnya tetapi jika tak diobati tepat pada waktunya, nona itu tetap terancam bahaya cacat. Adakah Toh Hun-ki pegang janji untuk membawa si nona ke Siok-ciu mencari obat? Andaikata Toh Hun-ki benar-benar pegang janji, tetapi seorang nona yang sebatang kara tentu berbahaya sekali meegembara di dunia persilatan. Misalnya, jika bertermu dengan tokoh sejahat Soh-beng Ki-su, bukankah sukar untuk membayangkan nasib nona itu? Lama merenung tiba-tiba ia menertawakan dirinya sendiri. Ia baru kenal dengan nona itu, mengapa ia mewajibkan diri untuk memikirkan nasib nona itu? Bukankah di dunia terdapat banyak sekali nona yang bernasib begitu? Apakah ia harus memikirkan nasib mereka semua? 153 Namun betapapun juga, tetap ia merasa masih terlekat dengan beban kewajiban itu. Selama belum terlaksana, ia merasa masih belum himpas. "Aku hendak ke Siok-siu, apakah engkau.... "Baik, aku menurut kemana saja engkau pergi!" tukas Mawar Putih terus mendahului melangkah keluar. Siau-liong terpaksa mengikuti. Karena tak kenal jalan mereka hanya menurutkan aliran anak sungai itu menuruni lamping gunung. Pada saat melintasi dua buah puncak, pada gerumbul pohon disebelah muka. tampak beberapa sosok tubuh tengah lari menyongsongnya. Buru-buru Siau-liong menarik Mawar Putih bersembunyi dibalik batu besar. Cepat sekali orang2 itu sudah tiba dua tombak jauhnya dari tempat Siau-liong. Yang dimuka sendiri, mengenakan jubah biru, jenggot panjang sampai kedada, mencekal sebatang tongkat Kumala Hijau. Ah, itulah si Jenggot-perak To Kiukong, ketua partay Kay-pang. Dibelakangnya mengiring Pengemis-tertawa Tio Tay-tong dan si Pincang kiri Tio Tau serta Pincang kanan Li Ki. Siau-liong cepat loncat keluar, Kiu-kong. lama kita tak berjumpa!" To Kiu-kong dan rombongannya terkejut. Tetapi mereka girang bukan kepalang setelah mengetahui siapa penghadangnya itu. Serta-merta mereka berlutut memberi hormat, Cousu-ya." 154 Siau-liong mengangkat bangun To Kiu-kong dan suruh yang lain-lain berdiri. Partai kita dapat berdiri tegak dalam pergolakan dunia

persilatan adalah karena selama ini sekalian anak murid taat pada disiplin partai. Maka kumohon cousu-ya jangan keliwat merendah diri," kata To Kiu-kong. Sesungguhnya Siau-liong merasa sungkan menerima penghormatan yang berlebih-lebihan dari To Kiu-kong serta tokoh2 Kay-pang yang lain. Mereka jauh lebih tua dari dirinya. Dan sekalipun sudah diangkat sebagai ketua, namun Siauliong tak mengerti tentang peraturan partai itu. Ia hanya manda tersenyum mendengar ucapan To Kiu-kong itu. Kemudian To Kiu-kong menerangkan bahwa selama beberapa hari ini, ia bersama rombongan, berusaha mencari Siau-liong. Sungguh tak diduga kalau mereka akan bertemu disitu. Siau-liong terpaksa merangkai cerita tentang dirinya selama beberapa hari itu. Untunglah To Kiu-kong tak menanya lebih jauh. Dewasa ini dunia persilatan telah dilanda bahaya. Tokohtokoh sakti dari berbagai partai persilatan berbondongbondong datang ke Jwan-lam.... Berhenti sejenak, ketua Kaypang itu melanjutkan pula, Iblis Penakluk dunia, Dewi Neraka pun kabarnya telah berada dalam lembah Semi digunung Tayliangsan. Partai2 persilatan telah menerima surat undangan dari kedua suami isteri momok itu supaya pada pertengahan musim rontok, datang kelembah Semi guna mengadu kepandaian. Aku sendiripun telah menerima undangan itu juga.... ia mengeluarkan sebuah sampul lalu diserahkan kepada Siau-liong. 155 Siau-liong menyambuti. Dilihatnya undangan itu hanya selembar sutera pesegi sebesar sapu tangan, diberi tulisan berbunyi: Untuk merayakan malam Tiong-jiu yang indah, kami undang saudara suka menghadiri perjamuan yang kami selenggarakan dilembah Semi dengan acara: MENGADU KEPANDAIAN DENGAN MENDAPAT HADIAH GIOK-PWE. Bila terlambat atau tidak datang, terpaksa akan kami larang saudara bergerak di dunia persilatan. Tertanda: Iblis Penakluk Dunia Dewi Neraka. "Hal ini sudah kuketahui," Siau-liong tertawa dingin seraya mengembalikan surat itu. Pada hematku," kata To Kiu-kong, "tujuan dari kedua momok itu tak lain adalah hendak merebut separoh bagian dari Giok-pwe, Dan kedua kalinya, mereka hendak menjaring semua tokoh2 persilatan, menghancurkannya lalu menguasai dunia persilatan. Asal salah satu dari rencana itu berhasil, tentulah dunia persilatan akan terancam bahaya banjir darah. Iblis dan durjana akan menguasai dunia persilatan!" Siau-liong tertawa, Orang kuno mengatakan bahwa 'Kejahatan selalu kalah dengan Kebenaran'. Sekalipun ganas

sekali rencana kedua momok itu, tetapi tak mungkin mereka berhasil menentang seluruh dunia persilatan!" To Kiu-kong amat mengindahkan sekali kepada Siau-liong yang dianggapnya sebagai kakek guru Kay-pang. Ia hanya mengiakan saja. Masih ada sebuah hal lagi yang hendak kulaporkan kepada Cousu-ya," kata To Kiu-kong. 156 Katakanlah," seru Siau-liong. "Beberapa hari yang lalu, Toh Hun-ki ketua Kong-tong-pay telah dijebak oleh Soh-beng Ki-su. Tetapi entah bagaimana ketua Kong-tong-pay itu telah ditolong oleh Pendekar Laknat. Sungguh mengherankan sekali mengapa sekarang Pendekar Laknat berbeda sekali dengan 20 tahun yang lalu. Perangainya berobah jauh lebih baik.... -" To Kiu - kong berhenti sejenak lalu melanjutkan, Kabarnya Pendekar Laknat sudah bertempur dengan Iblis Penakluk dunia. Keduanya sama2 terluka parah." Sesungguhnya peristiwa itu telah diketabui Siau-liong tetapi ia tak leluasa menerangkan. Ia hanya menanyakan adakah To Kiu-kong hendak memberi laporan lain lagi. "Ya, mengenai nona Tiau Bok-kun," Kata To Kiu-kong, "nona itupun ditolong Pendekar Laknat dilembah Semi.... Sekarang sedang diantar Toh Hun-ki berobat ke Siok-ciu.... Kemudian ketua Kay-pang itu menerangkan lebih lanjut bahwa racun ditubuh nona itu sudah dapat dikeluarkan dan ia telah suruh anak buah Kay-pang untuk menjaga dan merawat nona itu dirumah penginapan. Tahukah engkau kemana perginya Toh Hun-ki, tiba-tiba Mawar Putih menyelutuk. To Kiu-kong tergugu. Setelah memandang ke arah Siauliong, ia menyahut, Aku dan Toh Hun-ki bergantian meninggalkan Siokciu. Kemungkinan saat ini dia sedang menuju kepuncak Ngo-siong-nia!" Kemudian ketua Kay-pang itu memberi laporan lebih lanjut, Saat ini dalam kota Siok-ciu telah berkumpul banyak sekali 157 tokoh2 persilatan. Karena kuatir didengar orang, maka ketua Bu-tong-pay It Heng totiang, tokoh ketiga Kun-lun sam-cu dari partai Kun-cun-pay dan rombongan lain, bergegas menuju kepuncak Ngo-siong-nia. Mereka hendak mengatur rencana untuk menghadapi iblis Penakluk dunia dan Dewi Neraka.... Mawar Putih menyeringai lalu mendengus, Tak perlu mengoceh begitu banyak! Dimana puncak Ngo-siong-nia itu?" To Kiu-kong kerutkan dahi. Ia heran mengapa dara itu begitu bengis. Tetapi karena si dara kawan cousu-ya mereka, terpaksa To Kiu-kong bersabar. Sahutnya, Kira2 dua puluh li dari sini, terdapat sebuah puncak gunung yang penuh

ditumbuhi pohon Siong-pik!" Diam-diam Siau-liong tahu kalau Mawar Putih tentu salah faham kepadanya. Tetapi dihadapan tokoh2 Kay-pang, ia tak leluasa memberi penjelasan. Maka iapun diam saja atas sikap kasar dari dara itu terhadap To Kiu-kong. Walaupun sudah berulang kali ia memberi isyarat, tetapi si dara tetap tak mengacuhkan. Demikian pun Pengemis Tertawa dan si Pincang-kanan dan si Pincang-kiri. Mereka diam-diam heran mengapa cousu-ya mereka selalu galang-gulung dengan beberapa gadis yang tak keruan. "Mari kesana!" Mawar Putih terus menarik lengan Siauliong. Siau-liong tertawa, Eh, apakah nona hendak pergi.... Mawar Putih deliki mata, Sudah tentu kepuncak Ngosiongnia untuk mencari To Hun-ki! Bukankah engkau mengatakan bahwa engkau pun mempunyai dendam sakit hati tak mau hidup bersama manusia itu?" 158 Sesaat Siau-liong tak dapat menjawab. Memang pada akhirnya kelak ia tentu akan membunuh Toh Hun-ki dan keempat Su-lo itu. Tetapi bukan pada saat itu ia harus menuju ke Ngo-siong-nia dan membunuh mereka. Melihat Siau-liong ragu2, Mawar Putih tertawa mengejek, Hm, agaknya aku telah keliru menilai orang. Lekas pergilah engkau ke Siok-cu menjenguk gadis kekasihmu itu!" Habis berkata dara itu terus berputar tubuh dan hendak melangkah. Nona Pek! nona Pek....!" seru Siau-liong gugup. Tetapi tak dipedulikan Mawar Putih. Dara itu bahkan terus gunakan ilmu lari cepat menuju ketimur. Siau-liong bimbang, mengejar atau membiarkannya. Selagi dia masih belum mengambil keputusan, gadis itu sudah lenyap dari pandangan mata. To Kiu-kong dan rombongannya terbeliak heran tetapi tak berani bertanya. Dan lama sekali Siau-liong masih memandang ke arah bayangan Mawar Putih. To Kiu-kong saling berpandangan dengan Pengemis Tertawa, lalu berbatuk-batuk, ujarnya, Adakah nona itu dengan cousu-ya.... Siau-liong tersadar. Cepat ia menukas tertawa, Tak ada hubungan dan sebelumnya pun tak kenal.... Kemudian ia alihkan pembicaraan dengan menanyakan tujuan To Kiu-kong dan kawan-kawan. 159 To Kiu-kong tertegun lalu menyahut dengan serius, Tadi telah kulaporkan kepada cousu-ya bahwa It Hang totiang ketua Bu-tong-pay telah mengajak beberapa tokoh persilatan mengadakan pertemuan rahasia dipuncak Ngo-siong-nia.

Mereka hendak merundingkan rencana menghadapi kedua durjana iblis Penakluk dunia dan Dewi Neraka. Karena tak dapat menemukan cousu-ya maka aku terpaksa melancangi untuk menerima undangan itu. Beruntung disini kami dapat menjumpai cousu-ya." Siau-liong kerutkan dahi, ujarnya, Apakah Toh Hun-ki dan rombongannya juga hadir ke-sana." To Kiu-kong mengangguk, Rasanya saat ini tentu sudah tiba disana." Siau-liong terkejut, serunya, Kalau begitu kita harus cepat2 kesana, kalau tidak.... ia tak lanjutkan kata2nya. Rupanya ia merasa kurang leluasa. To Kiu-kong seorang yang banyak pengalaman. Ia hanya tersenyum, Tak mungkin dapat mendahului kita tiba dipuncak itu.... ia memandang Siau-liong lalu melanjutkan pula, Puncak Ngo-siang-nia itu amat berbahaya sekali. Sekelilingnya lembah2 yang disebut Lembah Sembilanlingkaran. Jika tak faham, tentu tersesat. Apa lagi saat ini disekitar lembah itu telah dijaga ketat oleh murid2 Go-bi-pay dan anak buah Kay-pang.... Siau liong mengangguk. Tetapi diam-diam ia gelisah karena menguatirkan keselamatan si dara. Demikianlah mereka segera menuju ke puncak Ngo-siong-nia. Sesungguhnya jarak dua puluh li itu dapat ditempuh dalam waktu setengah jam saja. Tetapi karena jalanan sukar dan To Kiu-kong tak henti-hentinya memberi petunjuk keadaan 160 tempat itu kepada Siau-liong, maka mereka berjalan agak lambat. Kurang lebih sejam barulah mereka tiba di puncak itu. Memang apa yang dikatakan To Kiu-kong benar. Keadaan puncak amat berbahaya dan sulit- sekali jalanannya. Jika tak faham pasti tersesat. Pula pada setiap tikung dan tempat yang berbahaya tentu dijaga oleh anak buah Kaypang serta imam jubah kelabu. To Kiu-kong faham benar dengan keadaan tempat itu. Sepanjang jalan tak henti2nya ia menerima hormat dari anak buah Kay-pang yang ditugaskan berjaga disitu. Bermula Siau-liong mengira bahwa di atas puncak tentu terdapat biara atau kuil. Tetapi ternyata dugaannya itu keliru. Puncak gunung merupakan sebuah hutan lebat. Setiba di tepi hutan, To Kiu-kong segera bersuit nyaring. Beberapa puncak pohon siong tampak bergerak-gerak dan sesaat kemudian beberapa sosok tubuh meluncur turun. Mereka segera berjajar menghadang To Kiu-kong. ---ooo0dw0ooo---Pertemuan dalam hutanTernyata yang turun dari puncak pohon itu empat orang imam yang masing-masing mencekal golok kwat-to. Salah seorang yang dimuka adalah seorang imam tua, berjenggot

panjang menghunus sebatang pedang. Setelah memberi salam dengan anggukan kepala imam tua itu berseru kepada To Kiu-kong, Ketua kami dan beberapa cianpwe sudah lama menunggu kedatangan. Selekas saudara tiba, pertemuan segera dimulai. Tetapi.... ia beralih memandang Siau-liong lalu berkata, Pertemuan ini 161 menyangkut kepentingan dunia persilatan. Ketua kami telah memberi perintah, yang tak menerima undangan tak diperbolehkan hadir. Saudara ini.... To Kiu-kong cepat maju selangkah dan memberi hormat, tukasnya, Adalah cousu-ya kami.... Kemudian ia memberi keterangan kepada Siau-liong: Saudara2 ini adalah anak murid dari It Hang totiang ketua Butongpay dan Ki Ceng siansu ketua Go-bi-pay. Karena belum kenal pada cousu-ya maka meminta keterangan." "Tak apalah," kata Siau-liong. Imam tua itu terkesiap. Setelah saling bertukar pandang dengan ketiga kawannya lalu memandang lagi kepada Siauliong, kemudian mundur beberapa langkah, Silahkan!" To Kiu-kong mempersilahkan Siau-liong berjalan dimuka, ia dan Pengemis Tertawa mengiring dibelakangnya. Hutan itu seluas berpuluh tombak dan amat lebat sekali sehingga sesuai dijadikan tempat perundingan rahasia. Menyusup sejauh 10-an tombak, tiba-tiba pemandangan disitu tampak terang. Ternyata sebelumnya, berpuluh-puluh batang pohon telah ditabas sehingga tersedia sebuah tanah lapang yang cukup luas. Ditengah tanah lapang itu tampak hadir 30-an orang lebih. Terdiri dari paderi, imam dan orang biasa. Pada umumnya mereka sudah berusia 50 tahun ke atas. Sikapnya angker. Imam tua yang duduk ditengah-tengah, berjenggot putih menjulai kedada dan punggung menyanggul sebatang kebut 162 pertapaan segera berbangkit menyambut kedatangan To Kiukong. "Atas nama sekalian hadirin, kuucapkan selamat datang!" ia terus tersipu-sipu menyongsong. To Kiu-kong segera memperkenalkan diri Siau-liong, sebagai coucu-ya dari partai Kay-pang. Aku yang rendah bernama Kongsun Liong," Siau-liong memperkenalkan diri. Ternyata imam yang sikap dan wajahnya berperbawa seperti seorang dewa itu adalah It Hang totiang, penyelenggara dari pertemuan. Ketua Bu-tong-pay itu terkesiap lalu memaksa diri bersenyum, ujarnya, Kalau begitu saudara tentulah ahli waris dari Pengemis Tengkorak Song locianpwe?" Siau-liong mengiakan. It Hang menatap wajah Siau-liong dengan penuh

keheranan lalu menyisih kesamping mempersilahkan To Kiukong dan rombongan masuk. Sekalian tokoh yang hadir disitu tampak duduk diam. Tetapi seluruh pandang mata mereka tercurah pada diri Siau-liong. Rata2 mereka sudah berumur setengah abad. Hanya Siauliong seorang saja yang masih muda. Agaknya Siau-liong pun merasakan kekakuan suasana disitu. Tetapi karena menyadari bahwa saat itu dirinya sebagai ketua Kay-pang, terpaksa ia menekan perasaannya. Setelah masuk, iapun terus duduk diantara mereka. 163 Ternyata yang hadir disitu adalah tokoh2 ternama, antara lain: Ketua Siau-lim-si, Gong taysu. Ki Ceng siansu ketua Gobipay, Ciang Bu-seng ketua partai Tiam-jong-pay, It-bi-cu, Sam-kicu, Bu-wi-cu tiga serangkai dari partai Kun-lun. Lam Leng lojin dari partai Thian-san-pay. Tan I-hong pemimpin Jitokkau. Cu Kong-leng ketua Tong-thing-pang. Toh Hun-ki dan keempat Su-lo dari partai Kong tong-pay. Ditambah lagi dengan It Hang to-tiang ketua Bu-tong-pay dan anak buah Kay-pang serta beberapa tokoh persilatan yang berilmu tinggi. Benar-benar merupakan suatu pertemuan yang megah dan hebat. Setelah rombongan To Kiu-kong duduk, It Hang totiang segera membuka pertemuan, "Dewasa ini suasana dunia kacau, dunia persilatan timbul berbagai peristiwa. Beberapa durjana muncul kembali. Dimana-mana terjadi pembunuhan berdarah. Merupakan suatu bencana yang sejak berpuluhpuluh tahun baru timbul kembali.... Tiba-tiba diantara hadirin terdengar orang batuk2, serunya, Harap toheng suka menunggu sebentar. Aku hendak mohon sedikit penjelasan tentang sebuah hal." Ternyata yang bicara itu adalah Lam Leng tojin yang terkenal sebagai Thian-san it-soh atau orang tua dari gunung Thian-san. Tubuhnya kurus kecil, sepasang matanya berkilatkilat penuh perbawa. Dan memelihara jenggot seperti jenggot kambing. Tingginya kurang dari satu setengah meter, tetapi nada suaranya bergema nyaring sekali. It Hang totiang hentikan pidatonya lalu mempersilahkan orang tua dari gunung Thiansan itu mengajukan pertanyaan. Lam Leng lojin memberi hormat lalu berseru. "Sungguh suatu tindakan yang amat terpuji dari totiang untuk 164 mengundang sekalian tokoh2 persilatan berunding untuk menghadapi ancaman yang akan menimpa keselamatan dunia persilatan. Pertemuan ini bersifat rahasia, Oleh karena itu, sekalian orang yang hadir harus diketahui asal-usulnya dengan jelas. Kita harus menyadari bahwa kedua durjana itu, licin dan banyak tipu muslihatnya. Apabila pertemuan ini sampai bocor,

pasti akan mengakibatkan kebinasaan pada dunia persilatan. Dalam hal ini kumohon totiang suka waspada!" Habis berkata orang pendek kurus dari Thia-san itu memandang ke arah Siau-liong lalu duduk kembali. Walaupun tak jelas menyebut nama tetapi isyarat mata Lam Leng lojin itu segera dapat ditangkap. Seluruh hadirin memandang ke arah Siau-liong. Siau-liong pun tahu hal itu. Tetapi karena orang tak terangterangan menyinggung dirinya pula ia tak mau cari perkara, terpaksa ia diam saja. It Hang totiang mengangguk pelahan. "Lam-heng benar, tetapi aku sudah mengadakan persiapan. Sekalipun ada orang luar yang menyelundup, dia pasti tak mampu lolos dari pengamatan para kawan2 dan tak mungkin keluar dari puncak Ngo-siong-nia ini.... Habis berkata pimpinan pertemuan itu tertawa dingin dan sejenak memandang ke arah Siau-liong lalu berkata pelahanlahan, Sekarang yang penting adalah untuk menentukan suatu rencana.... Sambil mengurut-urut jenggotnya yang panjang, ia memandang lagi kesekeliling hadirin kemudian menghela napas. 165 "Thicin dan Te kedua momok itu, mempunyai anak buah yang besar dan tersebar luas. Mereka telah mengirim undangan kepada seluruh kaum persilatan untuk menghadiri pertandingan adu silat dilembah Semi. Jelas, maksud mereka tentulah hendak menjaring seluruh kaum persilatan untuk dibinasakan. Jika kita memenuhi undangannya kelembah Semi dan datang pada pertengahan bulan Delapan, tentulah kita termakan perangkap mereka.... Tiba-tiba terdengar suara nyaring dari seorang imam tua baju kuning yang serentak berbangkit dari tempat duduknya, Menurut pendapat loni, lebih baik saat ini juga kita serbu lembah itu!" Nadanya nyaring din garang sekali. Empat imam yang duduk dibelakangnya, sama duduk pejamkan mata dengan khidmat. Kiranya paderi yang membuka suara itu adalah Ti Gong taysu, ketua Siau-lim-si. It Hang totiang menyahut, Pendapatku memang sesuai sekali dengan saran taysu. Dalam ilmu perang dikatakan bahwa siasat ilmu menggunakan tentara yang hebat ialah dapat melakukan serangan secara tepat dan cepat. Menyerang musuh selagi musuh tak menyangka dan tak bersiap. Betapapun ilmu kesaktian yang demiliki kedua momok itu, namun sukar kiranya untuk menghadapi kekuatan kita beramai-ramai Sejenak ketua Bu-tong-pay itu berhenti dan memandang ke arah ketua Tiam-jong-pay dan ketua Tongthingpang. kemudian melanjutkan lagi dengan pelahan-lahan,

Apalagi saudara Shin dan Cu, mahir dalam ilmu barisan Patkwa kiu-kiong, Ngo-heng-tin dan lain-lain perkakas rahasia. Kita mempunyai pegangan kuat untuk memenangkan pertempuran. Hanya saja.... Kembali ia kerutkan alis, sejenak berhenti lalu berkata pula, Kabarnya kedua durjana Liong dan Hou juga tiba didaerah 166 selatan sini. Pendekar Laknat sudah beberapa kali menampakkan diri. Apabila ketiga momok itu benar-benar muncul dan berserikat dengan kedua momok Thian dan Te (Iblis Penakluk dunia dan Dewi Neraka), ah, kita pasti terancam bahaya!" Seketika heninglah suasana. Sekalian hadirin terdiam. Memang yang dikatakan It Hang totiang itu benar. Jika saat itu mereka menyerbu ke Lembah Semi, tentu masih dapat menghadapi Iblis Penakluk dunia dan Dewi Naraka. Tetapi apabila kelima momok itu bersatu, tentu tak mungkin dikalahkan. Toh Hun-ki ketua Kong-tong-pay segera berbangkit. Setelah memberi hormat kepada para hadirin, ia segera berpaling menghadap It Hang totiang.... "Masih ada sebuah hal yang hendak kupersembahkan kepada totiang dan saudara sekalian!" serunya. "Silahkan," kata It Hang totiang. Toh Hun-ki tersenyum, serunya, Jika saudara2 tak lupa, tentulah masih ingat akan peristiwa 20 tahun yang lampau. Pada masa itu kelima Durjana muncul dan mengaduk dunia persilatan. Dunia persilatan seolah-olah banjir darah dan korban banyak berjatuhan. Kelima durjana itu terdiri dari Iblis Penakluk dunia dengan isterinya Dewi Neraka, si Naga dan si Harimau serta Pendekar Laknat.... Ia berhenti sejenak untuk mencari kesan, kemudian melanjutkan, Tentang Pendekar Laknat, walaupun disohorkan ganas dan kejam tetapi sepak terjangnya tidaklah seganas suami isteri Penakluk-dunia dan Dawi Neraka serta kedua Naga dan Harimau. Kebanyakan yang mati ditangan Pendekar Laknat itu adalah tokoh2 yang jahat dan tak berbudi. Dan pula 167 dalam pertempuran dahsyat dilembah Lok-gan-koh pada 20 tahun yang lalu itu, jika Pendekar Laknat tak beralih haluan memusuhi suami-isteri Penakluk dunia dan Dewi Neraka, tentulah 72 tokoh2 sakti yang dikerahkan Tjeng Hi totiang ketua Kun-lun-pay untuk mengepung kelima durjana itu, tentulah mereka habis binasa semua. Ya, apabila saat itu Pendekar Laknat tak menyerang dan menghalau suami isteri Iblis Penakluk dunia dan Dewi Neraka, tentulah saat ini dunia persilatan sudah dikuasai oleh kedua suami isteri durjana itu....

Kembali Toh Hun-ki berhenti untuk menyelidiki suasana hadirin. "Oleh karena itu," ia melanjutkan pula, "menurut hematku, Pendekar Laknat bukan seorang momok yang ganas tetapi sesungguhnya adalah seorang ksatrya yang penuh dengan jiwa perwira dan budi luhur.... "Adakah maksud saudara Toh hendak mengagungkan nama Pendekar Laknat karena perbuatannya yang lalu itu?" tiba-tiba ketua Siau-lim-si, Ti Gong taysu berseru dengan nada dan wajah membesi. Toh Hun-ki tertawa hambar, sahutnya, Bukan melainkan itu saja, tetapi baru2 ini memang aku telah mengalami suatu peristiwa yang berharga untuk bukti.... Kemudian ketua Kong-tong-pay itu segera menuturkan tentang peristiwa yang dialaminya ketika masuk ke Lembah Semi. "Demi jiwa raga dan kehormatanku, kujamin bahwa Pendekar Laknat itu bukanlah momok ganas seperti 20 tahun berselang. Bukan saja tak mengganggu dunia persilatan pun jika kita tak dapat mengajaknya dalam persekutuan, tentu akan menambah kekuatan kita. Paling tidak, kita takkan dimusuhinya." 168 Ti Gong taysu menggerung seperti singa lapar, Benarbenar ucapan yang sembrono! Bersahabat dengan Pendekar Laknat untuk mendapatkan bantuannya menghadapi para momok durjana itu, benar-benar suatu langkah yang tak dapat diterima oleh pikiran yang sehat." Ketua Siau-lim-si itu terus melangkah kehadapan It Hang totiang lalu berseru, Entah bagaimana dengan pendapat totiang, tetapi aku menolak sekeras-kerasnya!" Sambil mengurut jenggotnya yang panjang, ketua Bu-tongpay It Hang totiang menyahut, Pendekar Laknat adalah momok ganas yang tergolong aliran jahat. Betapapun perbuatannya selama ini namun tetap tak dapat kita jadikan sahabat, Namun jika apa yang dikatakan Toh Hun-ki lohiapsu itu benar, tak apalah kita singkirkan ketakutan terhadap momok itu dengan tak saling mengganggu. Setelah nanti urusan Lembah Semi selesai, kita masih dapat bersahabat dengannya untuk membersihkan kejahatan di dunia persilatan. Hal itu tentu akan merupakan suatu berkah bagi kita semua.... Tiba-tiba wajah ketua Bu-tong-pay itu berobah sunyi dan berkatalah ia dengan sarat, Tetapi yang jelas dewasa ini kelima durjana itu mempunyai kekuatan besar. Sejak memendam diri selama 20 tahun itu, entah mereka sudah berapa menambah kesaktiannya. Entah mereka akan bersekutu atau tidak, kita belum dapat memperhitungkan. Oleh karena itu, kuharap para saudara sekalian, suka bersatu hati untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang

timbul dari kelima durjana itu!" Ti Gong taysu tertawa nyaring, serunya, Sudah tentu kita akan bertindak begitu. Lebih baik pecah sebagai ratna dari pada hidup bercermin bangkai. Rasanya kekuatiran saudara 169 itu berlebih-lebihan. Adakah diantara kita yang hadir ini terdapat orang yang takut mati?" Habis berkata, ketua Siau-lim-si itu sapukan pandang matanya ke arah hadirin. Ti Gong taysu memang terkenal berwatak keras. Sekalipun sejak kecil sudah masuk gereja dan sudah berumur 60 tahun lebih, serta menduduki jabatan yang tertinggi dalam gereja Siau-lim-si, namun perangai masih belum banyak berubah. Sedikit2 dia lekas naik darah. Oleh karena sudah mengetahui watak paderi Siau-lim-si itu, maka Toh Hun-ki pun tak mau melayani. Ia ganda tertawa saja dan tak menghiraukan Ti Gong.... Karena sekalian hadirin tiada yang buka suara maka Ti Hang totiang segera bertepuk tangan tiga kali dan berseru nyaring, Kalau begitu kita putuskan malam ini juga kita menuju ke Lembah Semi. Tengah malam kita serbu lembah itu.... wajahnya berobah gelap dan berkata lagi ia dengan suara yang serius, Hidup matinya dunia persilatan, ditentukan dalam pertempuran di lembah nanti Sekonyong-koyong Lam Leng tojin melengking dan loncat ke udara lalu melayang turun di hadapan It Hang totiang. "Tunggu sebentar," katanya sambil memberi hormat, "hendaknya janganlah totiang melupakan suatu hal yang amat penting sekali.... Sambil menunjuk ke arah Siau-liong orang tua dari Thiansan itu berkata pula, Asal-usul dirinya masih belum diketahui jelas. Lawankah atau kawan? Andaikata dia itu mata2 yang dikirim kemari oleh kedua suami isteri durjana itu, bukankah kita bakal hancur dalam penyerbuan ke Lembah Semi malam nanti?" 170 Belum It Hang memberi suatu pernyataan, Ti Gong taysu sudah melangkah kemuka Siau-liong dan membentak dengan suara menggeledek, Siau-sicu, menilik umurnya yang masih begitu muda, masakan engkau ini menjadi ketua dari partai Kay-pang?" Saat itu sebenarnya Siau-liong masih terbenam dalam renungan. Ia mendapat kesan bahwa sikap Toh Hun-ki dalam pidatonya membela Pendekar Laknat, menunjukkan peribadinya yang ksatrya sebagai seorang ketua partai persilatan. Siau-liong bimbang. Toh Hun-ki itu adalah pembunuh ayahnya yang harus dibalas. Namun kalau membunuhnya, Siau-liong merasa telah bertindak tak layak terhadap seorang tokoh yang berjiwa luhur.

Tengah ia mengalami pertentangan batin, tiba-tiba Ti Gong melangkah dihadapannya dan membentak dengan kata2 yang kasar. Siau-liong marah. Tetapi sebelum ia menjawab, To Kiukong yang berada di sisinya sudah mendahului berbangkit. Sambil memberi hormat, berkatalah tokoh Kay-pang itu, Mengapa taysu mengajukan pertanyaan semacam itu? Sejak pimpinan Kaypang masih dipegang oleh Pengemis Tengkorak Song Thay-kun cousu hingga sampai sekarang, partai Kaypang telah mendapat sambutan dan penghargaan dari semua partai persilatan besar. Masakan aku keliru mengenal cousu kami sendiri?" Dengan ucapan itu, secara halus To Kiu-kong telah memberi dampratan kepada Ti Gong. Saat itu si Pincangkanan dan si Pincang kiripun berdiri dikedua samping To Kiukong, memandang Ti Gong dengan marah. Ti Gong mendengus. Karena malu ia menjadi marah. Tetapi pada saat hendak bertindak, It Hang totiang dan Lam Leng lojin cepat menghampiri. 171 Lam Leng lojin tertawa mengekeh, melerai ditengah To Kiukong dan Ti Gong taysu, ujarnya kepada To Kiu-kong, Pertemuan dipuncak ini bersifat rahasia dan bertujuan untuk menyelamatkan dunia persilatan dari keganasan kelima durjana itu. Jika pertemuan ini sampai bocor, akibatnya tentu suatu bencana bagi dunia persilatan. Adalah demi menjaga keselamatan dan pengamanan pertemuan ini maka beberapa saudara telah mengajukan pertanyaan kepada ketua saudara. Dalam hal itu hendaknya saudara jangan salah faham." Mendengar itu, Siau-liong serentak berbangkit. Serunya dengan tertawa tawar, Oleh karena baru saja muncul di dunia persilatan, sudah tentu saudara belum kenal padaku. Entah dengan cara bagaimanakah agar saudara dapat mempercayai diriku itu?" Lam Leng tojin berpaling ke arah It Hang totiang, ujarnya, Adakah maksud totiang.... Ternyata orang tua dari gunung Thian-san itu sendiri pun merasa sukar untuk memecahkan persoalan saat itu. Jika To Kiu-kong menerangkan bahwa pemuda itu adalah cousu dari Kay-pang, sudah tentu harus dipercaya. Kecurigaan bahwa pemuda itu menjadi mata2 yang dikirim suami isteri Iblis Penakluk dunia dan Dewi Neraka, memang sukar diselidiki. Oleh karena tak dapat memecahkan persoalan, Lam Leng lojin tumpahkan beban itu kepada It Hang totiang sebagai pimpinan pertemuan. Menyadari kedudukannya sebagai seorang penanggung jawab, It Hang pun segera maju selangkah dan menatap Siuliong dengan tajam. "Pertama kuminta sicu suka menuturkan tentang pergalaman sicu dikala menerima warisan ilmu dari mendiang

Song Thian-kun," katanya. 172 Siau-liong tak senang hati. Permintaan itu merupakan suatu penyelidikan terhadap dirinya. Namun demi mengingat akan sekalian hadirin, terpaksa ia tekan amarahnya dan menuturkan semua peristiwa yang dialaminya ketika berjumpa dengan tengkorak Song Thay-kun dalam pusar bumi. Setelah mendentarkan sampai selesai, It Hang merenung sejenak lalu berpaling ke arah To Kiu-kong, Sebagai seorang ketua, saudara telah memerintahkan anak murid untuk mengangkat Kong-sun Liong sicu sebagai cousu Kay-pang. Adakah hal saudara dasarkan atas lencana Tengkorak yang terkalung didada pemuda itu?" Sahut To Kiu-kong, Sudah tentu bukan hanya berdasar lencana itu saja. Aku telah menguji kepandaian dan dapatkan bahwa cousu kami ini memang telah memiliki ilmu pukulan Thay-siang-ciang dari mendiang Song cousu kami." Pertama, It Hang totiang memandang kesekeliling hadirin, lalu ia gelengkan kepala. Keterangan saudara tentang penemuan ilmu sakti Thay-siang-ciang itu, masih harus diuji kebenarannya." katanya kepada Siu-liong, "pada hematku, Laut Penasaran dipusar bumi gunung Hongsan itu merupakan tempat yang amat panas dan amat dingin. Sebelum engkau keiuar dari tempat itu dan sebelum mendapat petunjuk dari Pengemis Tengkorak, bukankah kepandaian saudara belum berapa tinggi. Dengan kepandaian yang saudara miliki saat itu, sukar rasanya saudara mampu keiuar lagi dari Laut Penasaran. Dan lagi, mengapa saudara dapat menemukan tempat musnahnya Pengemis Tengkorak?" Adalah karena terpancang oleh pesan mendiang Pendekar Laknat, terpaksa Siau-liong tak dapat memberi keterangan. Diam-diam ia memuji ketajaman It Hang totiang untuk cara penyelidikan yang dilakukan itu. 173 Ia tergagap tak dapat menyahut sampai beberapa saat. It Hang totiang tertawa dingin lalu memandang lagi kepada To Kiu-kong, serunya, Menilik gelagat, asal usul ketua saudara ini, tentu berbelit-belit!" To Kiu-kong kerutkan sepasang alis, ujarnya, "Sebelum menghilang, mendiang Song cousu kami telah berulang kali memberi petunjuk bahwa ciri pengenal dirinya adalah lencana Tengkorak dan ilmu pukulan sakti Thay-siang-ciang. Barang siapa memiliki kedua hal itu, dialah ahli warisnya. Oleh karena itu aku pun mentaati pesan mendiang Song cousu dan tak menanyakan lebih lanjut tentang diri cousu kami yang sekarang ini." " Lam Leng lojin tertawa mengekeh dan menyelutuk, Andaikata Pengemis Tengkorak tidak meninggal dalam Laut

Penasaran tetapi menderita penyakit dilain tempat dan berjumpa dengan anak itu. Lalu anak itu memaksanya supaya memberi ajaran ilmu Thay-siang-ciang kemudian merampas lencana itu, adakah saudara juga tetap hendak menobatkannya menjadi ketua Kay-pang?" "Hal itu tak mungkin terjadi!" To Kiu-kong mendengus. It Hang totiang tertawa, Taruhlah apa yang dituturkan Kongsun sicu itu benar semua. Tetapi karena Pengemis Tengkorak sudah meninggal maka sukar untuk meminta keterangan kepadanya. Ya, kalau pemuda itu seorang pemuda jujur, itu sih tak mengapa. Tetapi kalau dia salah seorang anak buah kedua suami isteri durjana, adakah saudara juga tetap mengangkatnya sebagai ketua?" Bermula To Kiu-kong memang marah. Tetapi demi mendengar pertanyaan It Hang totiang, tiba-tiba wajahnya 174 menampilkan rasa curiga. Ia mengakui, sebelumnya ia tak pernah dapat memikirkan sepanjang yang ditanyakan It Hang totiang itu. Dan Siau-liong yang merasa dirinya dipaksa sebagai anak buah suami isteri durjana, amat marah sekali. Dengan lantang berserulah ia kepada It Hang, Dengan sepenuh hati aku datang kemari untuk ikut serta saudara menghadapi para durjana. Tetapi mengapa saudara mencurigai dan menuduh aku sebagai mata2 musuh?" Sahut It Hang totiang dengan nyaring, Terus terang saja, tokoh persilatan yang masuk ke dalam Laut Penasaran dan dapat keluar lagi dengan selamat, belum pernah terdapat. Kecuali dia itu memiliki kepandaian yang dipunyai oleh kelima durjana itu menjadi satu. Maka.... Ia berhenti sejenak memandang sekalian hadirin, Maaf, memang aku sendiri pun curiga terhadap dirimu, jangan2 mempunyai hubungan dengan suami isteri durjana itu. Kecuali engkau dapat menuturkan dengan sejujurnya pengalaman selama masuk ke dalam Laut Penasaran!" Siau-liong tak mengira ia akan didesak sedemikian rupa oleh It Hang totiang. Betapapun juga, ia sudah bersumpah untuk mematuhi pesan Koay suhu (Pendekar Laknat) untuk tak menceritakan diri tokoh aneh itu kepada siapapun juga. "Karena saudara mencurigai diriku," serunya dengan tertawa dingin, akupun tak dapat berbuat apa2. Nah aku akan mohon diri!" habis berkata ia terus melangkah pergi. Hai, hendak kemana engkau." Ti Gong tay-su menggerung keras seraya loncat menghadang. 175 Dalam pada itu It Hang segera memberi penjelasan kepada To Kiu-kong. Ia duga Siau-liong itu tentu anak buah suami isteri durjana, Maka terpaksa tak diperbolehkan pergi dari situ.

To Kiu-kong tergoyah pikirannya. Mengapa cousu mereka (Siau-liong) tak mau menceritakan pengalamannya? Sekilas ia dapat menerima alasan yang dikemukakan It Hang totiang. Dan diam sajalah ia, bahkan menundukan kepala tak mau mencegah Ti Gong taysu. Sesungguhnya sekalian tokoh2 yang hadir di situ sudah mengepung Siau-liong. Demi It Hang telah membuka kedok pemuda itu dan pemuda itu terus hendak pergi, segera mereka mencabut senjata dan siap menyerang. Karena murkanya wajah Siau-liong sampai pucat. Kemudian sambil tertawa dingin, ia berseru, Bagiku mati hidup, kalah menang bukanlah soal, hanya saja.... ia berganti nada rawan dan lanjutkan kata2nya, Hanya sayang, dengan saling bunuh membunuh ini, apakah tidak patut disayangkan?" Dengan murka sekali Ti Gong taysu membentak bengis, Anak siluman, serahkan jiwamu, jangan banyak tingkah." Wuut.... sebuah pukulan segera dilayangkan kepada Siauliong. Yang diarah bagian dadanya. Ilmu pukulan Thay-siang-ciang dari Pengemis Tengkorak, pada masa itu telah menggetarkan seluruh dunia persilatan. Lepas dari asal usul Siau-liong, tetapi tentulah pemuda itu faham akan pukulan Thay-siang-ciang yang hebat sehingga tokoh seperti To Kiu-kong sampai dapat percaya penuh dan mengangkatnya sebagai ketua Kay-pang. Dan Ti Gong pun menyadari hal itu, Ia tak berani memandang rendah. Sekali turun tangan, ia gunakan jurus Raja Pa-ong-mendoronggunung. Salah sebuah jurus dari ilmu simpanan Kim-kongTiraikasih Website http://kangzusi.com/ 176 ciang gereja Siau-lim-si. Dilayangkan oleh seorang tokoh semacam Ti Gong taysu, pukulan itu kuasa membelah batu gunung dahsyatnya. Melihat betapa kasar paderi itu, marahlah Siau-liong. Diapun segera gunakan jurus Toa-lo-kim-kong untuk menyongsong. Sesungguhnya ilmu pukulan Thay-siang-ciang warisan mendiang Song Thay-kun itu juga bersumber pada ilmu kesaktian aliran gereja. Serupa dengan Tat-mo-kim-kongciang yang dilancarkan Ti Gong taysu, pukulan Thay-siangciang yang dimainkan Siau-liong itu juga termasuk ilmu tenaga dalam yang keras. Darr.... terdengar ledakan keras, disusul dengan debu dan angin yang bertebaran menderu2 keempat penjuru. Ti Gong taysu tergetar. Ia rasakan pukulan anak muda itu hebat sekali. Suatu pukulan yang mengandung tenaga dalam Lunak-keras. Apabila ilmu tenaga dalam yang bersifat keras itu diyakinkan sampai pada tataran yang tinggi, maka berobahlah perbawanya menjadi Semu-lunak, atau yang disebut dengan istilah Kong-kek-seng-ji (apabila Keras mencapai klimaks tertinggi, timbullah lunak)

Mau tak mau ketua Siau-lim si itu terkejut sekali.... Tetapi sebelum ia sempat berbuat sesuatu, seketika ia rasakan darahnya bergolak keras dan tergempurlah kuda2 kakinya. Ia terhuyung-huyung lima langkah ke belakang baru dapat berdiri dengan tegak lagi. Ketika memandang kemuka, dilihat pemuda lawannya itu masih tegak berdiri ditempatnya dengan gagahnya. 177 Maafkan, lo-siansu," seru Siau-liong sambil memberi hormat. Malu Ti Gong taysu bukan kepalang. Dan rasa malu itu menimbulkan kemarahan yang hebat. Semula ia anggap, sekali pukul pemuda itu tentu akan terkapar rubuh. Tetapi diluar dugaan dia sendiri yang haius menderita terkena tangkisan pemuda itu.... Ti Gong taysu adalah ketua Siau-H\limm-si yang amat tinggi kedudukannya dan harum namanya dalam dunia persilatan Tetapi saat itu disaksikan oleh ber-puluh2 tokoh persilatan terkenal, ia harus menderita kekalahan dari seorang pemuda yang tak terkenal. Dengan menggerung laksana harimau kelaparan, ketua Siau-lim-si itu hendak menyerang lagi. Tetapi It Hang totiang cepat mencegahnya, Taysu, ijinkanlah aku yang akan meminta pelajaran dari Kong-sun sicu itu!" Sebagai ketua Bu-tong-pay yang berilmu tinggi tahulah It Hang akan kesaktian yang dimiliki pemuda itu. Sebagai seorang pimpinan pertemuan, ia harus mengambil alih tanggung jawab untuk menyelesaikan diri pemuda itu. Cepat ketua Bu-tong-pay itu mencabut kebut dan dengan melangkah pelahan-lahan ia menghampiri kemuka Siau-liong. Ti Gong taysu sudah menerima pelajaran ilmu pukulan saudara," katanya sambil mengurut jenggot, sekarang aku yang tua dan tak berguna ini, ingin juga mendapat pelajaran saudara dalam ilmu senjata.... Bu-tong-pay terkenal sebagai partai persilatan yang mengutamakan ilmu permainan pedang. Rupanya ketua Butongpay itu tak mau adu pukulan tetapi hendak menantang 178 pertempuran senjata. Ia yakin akan kehebatan ilmu pedang partainya. Silahkan saudara mencabut senjata dan segeralah menyerang dulu." seru It Hang. Diluar dugaan Siau-liong hanya mendengus, Silahkan totiang menggunakan kebut, aku yang rendah tetap hendak melayani dengan tangan kosong saja.... -sejenak memandang ke arah hadirin, ia melanjutkan pula, Sejak aku turun kedunia persilatan, sekalipun aku memiliki pedang pusaka, tetapi belum pernah selama ini kugunakan. Dan pada

saat ini, aku pun tetap takkan melanggar pantangan itu!" Suatu ucapan yang angkuh dan besar sekali! Sekalian tokoh2 yang hadir disitu terbeliak, kaget. Mereka, sejumlah tak kurang dari 20 tokoh2 ternama, merasa dianggap sepi oleh pemuda tak terkenal itu. It Hang marah sekali. Tetapi ia tetap tenang dan tersenyum simpul, ujarnya, Baiklah, karena sicu menghendaki sendiri, harap hati2!" Ia menutup kata2nya dengan gerakan kebut pertapaan dalam jurus Memukul-lonceng-emas. Kebut dimainkan setengah lingkaran di udara lalu tiba-tiba berganti dengan gerak Angin-meniup-siluman-lari, untuk menghantam kepala Siau-long. Jurus yang dimainkan ketua Bu-tong-pay itu amatlah anehnya dan digerakkan dengan kecepatan yang luar biasa sehingga membuat Siau-liong terbeliak kaget. Kebut pertapaan itu dibuat daripada bahan anyaman ratusan lembar kawat baja. Sepintas pandang menyerupai 179 kebut ekor kuda. tetapi ketika dimainkan oleh It Hang, kebut itu berobah. menjadi sebuah senjata yang melempang lurus. Dan karena It Hang telah pancarkan sembilan bagian tenaga dalamnya, maka beratus-ratus lembar kawat baja itu tegak lurus dengan tajamnya. Melihat sekali turun tangan, ketua Bu-tong-pay itu sudah gunakan jurus yang ganas, terpaksa Siau-liong pun harus melayani. Jurus Raja-langit-mendorong-pagoda, salah sebuah jurus dari ilmu pukulan sakti Thay-siang-bu-kek, segera dilancarkan. Kedua tangannya didorong kemuka. Tangan kanan memukul, tangan kiri ditebarkan untuk mencengkeram kebut lawan. Setitik pun tak terlinlas dalam benak It Hang totiang bahwa pemuda itu memiliki ilmu pukulan Thay-siang-ciang yang sedemikian tingginya. Dibanding dengan tataran yang dicapai oleh Pengemis Tengkorak Song Thay-kun, pemuda itu ternyata lebih unggul. Seketika ketua Bu-tong-pay itu rasakan lengan kanannya tergetar dan kebut yang dicekalnya itu terlanda oleh suatu tenaga membal yang luar biasa dahsyatnya. Hampir saja kebut itu terlepas dari cekalannya. Belum hilang kejutnya, It Hang rasakan tangan kanan pemuda yang diluruskan kemuka dada itu, mengandung hamburan tenaga sakti yang amat maut. It Hang totiang terkejut sekali dan buru-buru menyurut mundur dua langkah.... ---ooo0dw0ooo--180 Jilid 04

Harimau Iblis Dalam dua jurus saja, Siau-liong sudah berhasil mengalahkan dua orang tokoh sakti. Ti Gong taysu dan It Hang totiang sehingga sekalian tokoh2 yang hadir terkejut bukan kepalang! Diam-diam It Hang totiang menimang. Saat itu jika tak beramai-ramai turun tangan, dikuatirkan tak ada yang mampu mengalahkan pemuda itu. Ah, diam-diam ia menghela napas. Demi menyelamatkan dunia persilatan, terpaksa harus meninggalkan tata-susila dunia persilatan. Pada saat ketua Bu-tong-pay itu hendak memberi komando, sekonyong-konyong dari arah hutan terdengar suara orang tertawa nyaring. Nadanya menusuk ketelinga sekalian orang. Sekalian tokoh terperanjat! It Hang terbeliak. Cepat ia memandang kesekeliling penjuru. Tetapi empat keliling hutan itu hanya pohon2 yang lebat belaka. tiada tampak bayangan seseorangpun juga.... Ketua Bu-tong-pay itu benar-benar terpesona. Pada hal penjagaan di tempat pertemuan itu sudah diatur sedemikian ketat sekali. Setiap tiga langkah sebuah pos kecil dan setiap lima langkah sebuah pos. 181 Sedemikian ketat dan rapat penjagaan itu diatur sehingga jangankan orang sedang lalat atau nyamuk pun tak mungkin lolos dari pengamatan! Tetapi yang jelas, orang misterius itu dapat menembus masuk dibawah hidung penjagaan yang sedemikan ketat itu. Suatu hal yang benar-benar membuat ketua Bu-tong-pay itu terlongong-longong kehilangan faham.... Setelah berhenti tertawa, orang misterius itu berseru nyaring, Hidung kerbau It Hang, keledai gundul Ti Gong, Tan Ih-hong, Sin Bu-seng, si Tua Lam Leng.... ha, ha! Hari ini kalian mengadakan pertemuan besar....!" Dari puncak sebatang pohon tinggi yang tumbuh disebelah kiri, melayang turun sesosok tubuh manusia. Gerakannya mirip dengan seekor bururg garuda yang menukik dari udara. Tetapi setiba di bumi, gerakannya amat ringan laksana kapas jatuh di tanah.... Seorang tua yang tinggi besar dan mengenakan pakaian hitam putih yang menyolok, tegak berdiri memandang sekalian hadirin dengan mata berkilat kilat tajam. Umurnya lebih dari 70 tahun, kepalanya gundul, wajahnya ke-merah2an segar sehingga tampaknya baru berumur lebih kurang 50-an tahun. Kembali orang tua itu tertawa nyaring, Ho, perlu apa kalian berada disini....?" Dan tanpa menunggu penyahutan, ia berpaling memandang Siau-liong, Apakah untuk menghina

anak kecil itu?" Sekalian orang tak dapat menjawab. Suasana hening lelap. Kekalahan Ti Gong taysu dan It Hang totiang amat 182 menggoncangken perasaan mereka sehingga tak tahu apa yang harus mereka lakukan. Pada saat itu kebetulan Lam Leng lojin berdiri paling dekat dengan orang misterius itu. Orang tua dari Thian-san itu paksakan diri tertawa. "Kalau tak salah, saudara tentulah.... Belum Lam Leng lojin menyelesaikan kata2nya, orang aneh itu sudah membentaknya, Apa? Dua puluh tahun tak bertemu engkau sudah tak kenal lagi padaku?" "Ah, saudara masih bersemangat seperti dulu. Mataku belum rabun, sudah tentu takkan lupa. Hanya saja....- Lam Leng lojin tertawa tawar lalu berkata pula, Dalam saat dan suasana seperti sekarang ini, kemunculan saudara di dunia persilatan, apakah tak.... "Engkau tak berhak bertanya!" orang itu cepat membentaknya seraya terus menghampiri Siau-liong. Sekalian hadirin kebanyakan tokoh2 silat tua dan ternama. Pada masa 20 tahun yang lalu, ketika kelima durjana muncul mengacau dunia persilatan, merekapun ikut serta. Sudah tentu mereka tahu siapa pendatang yang aneh itu. Kiranya orang aneh itu adalah salah seorang tokoh dari Lima Durjana, yakni Harimau maut pencabut nyawa! Lam Leng lojin dan Ti Gong taysu cepat maju menghadang dan membentak, Berhenti!" Harimau-maut berhenti, tertawa nyaring lalu tiba-tiba hantamkan kedua tangannya kedada penghadangnya. Ti Gong taysu dan Lam Leng lojin memperhitung, si Harimau-maut tentu tak berani mengganas karena 183 menghadapi sekian banyak tokoh2 persilatan. Tetapi ternyata dugaan itu meleset. Ternyata Harimau maut masih seganas pada 20 tahun berselang. Tanpa berkata suatu apa, dia sudah melancarkan serangan yang dahsyat. Ti Gong dan Lam Leng terkejut sekali. Kedua tokoh itu cepat menangkis. Ti Gong menggunakan Air-terjun-membelah-gunung, salah sebuah jurus dari ilmu pukulan Tat-mo-kim-kong-ciang. Sedang Lam Leng mengeluarkan Membalik awan menjungkir hujan. Keduanya menyongsong dari samping dengan sepenuh tenaga. Ketika terjadi benturan, terdengarlah suara letupan yang dahsyat. Tubuh Harimau-maut agak menggigil. Tertawa nyaring, ia tetap tak mengacuhkan apa2 dan terus menghampiri kemuka Siau-liong. Ti Gong taysu dan Lam Leng lojin tersurut mundur sampai tiga langkah baru dapat berdiri tegak. Wajah kedua tokah itu

pucat lesi, tubuh berguncang-guncang mau rubuh. Ti Gong taysu terengah-engah, tiba-tiba ia mutah darah. Jelas ia telah menderita luka dalam yang parah. Empat orang paderi Siau-lim-si pengikutnya, cepat2 lari memapah Ti Gong keluar gelanggang. Sekalipun saat itu tak tampak tanda suatu apa, tetapi ditilik dari tubuhnya yang berguncangan itu. jelas Lam Leng lojin juga menderita luka dalam yang berat. Ia berjalan hendak menuju ketepi gelanggang. Tetapi baru empat langkah, ia jatuh terduduk ditengah gelanggang. It Hang totiang kerutkan dahi. Ia tampak gugup menyaksikan peristiwa itu. Buru-buru ia memberi perintah 184 agar semua anak murid Kay-pang dan Go-bi-pay yang menjaga di puncak gunung itu serta anak buah lain-lain partai, segera siapkan senjata dan mengepung rapat hutan itu. Harimau-maut dan Siau-liong harus dibunuh dibawah hujan anak panah dan senjata rahasia. Disamping itu, It Hang mengajak seluruh hadirin untuk beramai-ramai menyerang musuh. ia tak mau memegang tatasusila dunia persilatan lagi. Yang penting momok Harimaumaut harus dilenyapkan! Setelah menyaksikan bagaimana dalam sebuah pukulan saja, Harimau-maut dapat melukai Ti Gong dan Lam Leng, sekalian hadirin tergetar nyalinya. Mereka tak berani lagi menghadang momok itu. Kemudian setelah mendapat isyarat dari It Hang, merekapun segera mencabut senjata masing-masing siap sedia menghadapi si momok. Tetapi Harimau-maut tak mengacuhkan sikap orang2 itu. Seolah-olah tak terjadi suatu apa dengan langkah lebar ia menuju kehadapan Siau-liong, menatap lekat2 pemuda itu lalu bertanya dengan tertawa, Buyung, mengapa mereka menghina engkau?" Siau-liong hanya mendengus tak mau menyahut. Dalam hati pemuda itu, terbit pertentangan sendiri. Ia tak mau bentrok dengan tokoh2 partai persilatan. Tetapi karena didesak sedemikian rupa, terpaksa ia harus mengadu pukulan dengan Ti Gong dan It Hang. Ia menyadari bahwa bentrokan dengan ketua Siau-lim-si dan Bu-tong-pay itu berarti akan memperdalam salah faham sekalian tokoh terhadap dirinya. Itulah sebabnya ia termenung-menung diam. 185 Kemunculan mendadak dari Harimau-maut itu telah mengalihkan perhatian sekalian orang. Turut pengetahuan Siau-liong, Naga-keparat dari gunung Kengsan dan Harimauiblis itu dahulu ketika muncul, telah menimbulkan banyak

peristiwa2 berdarah di dunia persilatan. Tetapi menurut penilaian yang adil, sepak terjang kedua momok itu tidak termasuk golongan Hitam juga bukan golongan Putih. Melainkan ditengah-tengah. Mereka bertindak menurut sekehendak hati sendiri. Dalam hal itu, memang tindakan mereka lebih banyak bersifat jahat. Dan lagi mereka pernah berserikat dengan Iblis Penakluk dunia serta Dewi Neraka untuk menghancurkan dunia persilatan. Dengan begitu, kaum persilatan mempunyai kesan tak baik dan membenci kedua momok itu. Siau-liong masih melanjutkan renungannya. Memang tak sukar baginya untuk tinggalkan tempat situ. Tetapi ia kuatir, tindakan begitu akan lebih memperdalam tuduhan orang bahwa ia adalah kaki tangan Iblis Penakluk dunia dan Dewi Neraka. Tetapi jika ia tetap berada disitu, tentulah akan bentrok dengan Harimau iblis (Harimau-maut) Celakanya, ia terpancang tak dapat mengeluarkan ilmu sakti Bu-kek-sinkang dan hanya dapat menggunakan ilmu pukulan Thaysiangciang. Entah apakah dengan ilmu pukulan itu ia dapat mengalahkan Harimau iblis atau tidak. Ia tak yakin Hai!" tiba-tiba pikirannya mengilas, "mengapa aku tak pergi dulu dari sini, lalu muncul lagi sebagai Pendekar Laknat? Bukankah dengan langkah itu ia akan terhindar bertempur dengan Harimau-iblis dan sekaligus dapat membuktikan nama 186 baik Pendekar Laknat itu memang nyata. Ah, bukankah ia dapat 'sekali dayung dua tepian'?" Segera ia bendak laksanakan rencananya itu. Tetapi pada saat ia hendak gunakan gerak Naga-berputar-18 kali, Harimau-iblis yang habis melukai dua orang, sudah menghampiri ketempatnya. Sekalipun Siau-liong marah melihat sikap dan ucapan Harimau-iblis yang sombong tetapi ia masih dapat berpikir dengan kepala dingin. Ia tak tahu bahwa ia dapat mengalahkan momok itu dengan ilmu pukulan Thay-siangciang saja. Maka terpaksa ia tekan kemarahannya dan tak mengacuhkan pertanyan momok itu. Tetapi bukannya marah kebalikannya Harimau-iblis malah tertawa gelak2, Buyung, jangan takut. Kalau ada kesulitan, bilang saja. Nanti aku yang menyelesaikan. Jangan takut mereka berjumlah banyak.... - tiba-tiba ia berputar tubuh memandang sekalian orang, kemudian berkata lagi:.... Mereka itu tak berarti apa2 bagiku. Aku paling benci kalau yang Kuat menindas yang Lemah, mengandalkan jumlah banyak mau menindas orang!" Siau-liong tertawa dingin, serunya sinis, Bagaimana engkau itu, aku takut kepada mereka?"

Harimau Iblis tertegun dan menyurut selangkah. Ditatapnya pemuda itu dengan tajam. Tiba-tiba ia tertawa keras. Nadanya seperti harimau meraung-raung. Lama baru ia hentikan tertawanya yang aneh itu. "Bagus! Punya perbawa gaib dan nyali besar Sesuai sekali dengan watakku. Kita harus menjadi sahabat baik.... serunya. Kemudian ia memandang lagi kesekeliling, lalu berkata lagi, Kemunculanku di dunia persilatan sekarang ini rasanya 187 takkan sia2 karena dapat mengikat persahabatan dengan engkau. Hayo, kita pergi kekota Siokciu minum arak!" Terus saja Harimau Iblis menarik bahu Siau-liong hendak diajak pergi. Aku tak mau bermusuhan dengan saudara, jangan mengujuk kekasaran!" teriak Siau-liong seraya mengeliat untuk menghindar. Sudah tentu Harimau Iblis tak mau melepas anak itu. Dengan menguak aneh, ia berputar membayangi Siau-liong dan secepat kilat menyambar pergelangan tangan pemuda itu. bentaknya, Budak, mengapa engkau tak tahu diri!" Siau-liong mendengus tetapi ia tak mau menghindar lagi dan membiarkan tangannya dicekal orang. Cerdik juga anak itu. Karena tak leluasa menggunakan Bukeksin-kang dalam pukulan, ia gunakan siasat lain. Maka dibiarkan saja tangannya dicekal tetapi diam-diam ia salurkan tenaga sakti Bu-kek-sin-kang. Dalam mata Harimau Iblis, Siau-liong itu dianggap sebagai pemuda yang belum hilang bau pupuknya. Ia yakin, sekali sambar tentu dapat mencekalnya. Maka ia tak bersiap apaapa. Tetapi alangkah kejutnya ketika jari menyentuh tangan Siau-liong, seketika ia rasakan di jarinya dipancar oleh serangkum hawa panas. Sakitnya seperti terkena hantaman. Terpaksa ia mundur beberapa langkah. It Hang totiang bermula cemas sekali kalau pemuda itu mau bersekutu dengan Harimau Iblis. Tetapi ketika melihat Siau-liong tak mengacuhkan tawaran Harimau Iblis dan tibaTiraikasih Website http://kangzusi.com/ 188 tiba momok itu tersentak mundur beberapa langkah, terkejutlah sekalian orang. Kini seluruh mata hadirin tertumpah pada Siau-liong dan Harimau Iblis. Dengan ilmu pukulan Thay-siang-ciang yang sakti, tentulah Siau-liong dapat mengimbangi Harimau Iblis. Dan apabila kedua orang itu bertempur seru, siapapun yang kalah dan menang, bagi sekalian tokoh yang hadir disitu, merupakan suatu keuntungan. Syukur kedua-duanya sama2 terluka parah.... Harimau Iblis terkejut sekali karena lengannya kesemutan. Cepat ia salurkan tenaga dalam.... Setelah sembuh, ia maju

lagi dan meraung marah, Ho, aku salah lihat! Apakah nama ilmumu itu?" Membengiskan matanya, momok itu membentak keras:Bilang lekas, siapa gurumu!" "Apakah engkau berhak bertanya?" sahut Siau-liong dengan hambar. Bukan kepalang marah Harimau Iblis. Mukanya membiru gelap dan gerahamnya bergemerutukan lalu meraung sekuatkuatnya, Aku tak berhak bertanya? Ho, hari ini aku akan mengadu jiwa dengan engkau." Habis berseru, terus hendak mencengkeram bahu. Siauliong sudah bersiap untuk mengadu kepandaian dengan momok itu. Tiba-tiba momok itu hentikan gerakannya lalu tertawa keras. "Buyung, siapakah namamu!?" serunya. Siau-liong pun tertawa dingin, sahutnya, Namaku Kongsun Liong!" 189 Momok itu merenung sejenak lalu berkata seorang diri, Kongsu Liong, Kong.... sun.... Liong.... sebenarnya nama yang tak terkenal, tetapi mengapa.... ia kerutkan alis seperti lengah berpikir. Tiba-tiba ia tertawa nyaring, serunya, Buyung, sekalipun engkau tak mau mengatakan nama guru pun tetapi akupun dapat menebak. Ilmu tenaga sakti yang luar biasa itu, cukup kukenal.... kembali ia tundukkan kepala merenung. Diam-diam Siau-liong terkejut. Ia kuatir Harimau Iblis akan mengenal tenaga sakti Bu-kek-sin-kang Itu. Apabila hal itu sampai diketahui Harimau Iblis dan didengar oleh sekian banyak tokoh-tokoh persilatan, tentulah merugikan nana baik Pendekar Laknat dan juga tak menguntungkan bagi hari depannya sendiri. Untuk mencegah hal itu, terpaksa ia maju selangkah dan berseru, Iblis tua, terimalah sebuah pukulan. Mungkin engkau baru dapat memikir dengan berhasil!" Wut.... jurus Tay-lo-kim-kong segera dilontarkan ke arah momok itu. Setelah menderita kesakitan tadi, Harimau Iblis tak berani memandang rendah pada pemuda itu lagi. Cepat ia gunakan jurus Menurut-aliran air-mendorong-perahu untuk menangkis. Jurus itu adalah salah sebuah jurus yang amat ganas dari ilmu pukulan Hou-pik-sin-ciang atau pukulan sakti Harimaumaut. Kerasnya bukan alang kepalang. Dar.... terdengar letupan keras dan bahu kedua orang itu sama tergetar. 190 Seketika berobahlah wajah Harimau Iblis. Pukulan yang dilancarkan Siau-liong itu jauh bedanya dengan tenaga sakti yang dipancarkan pada pergelangan tangannya tadi. Benarbenar

ia tak habis mengerti. Setelah saling menarik pulang tangannya, kembali Harimau Iblis berseru, Buyung, rupanya paling sedikit engkau mempunyai dua orang guru sakti. Pukulanmu yang ini lain sekali dari yang tadi. Aku tak mungkin salah lihat, lekas bilanglah.... "Silahkan engkau mengeluarkan seluruh kepandaianmu, tak perlu bertanya ini itu!" bentak Siau-liong dan menyusul lagi dengan sebuah pukulan lagi ke arah dada. Harimau Iblis tertawa nyaring lalu menyongsong dengan jurus Harimau-hitam-mengorek hati. Siau-liong tak menduga sama sekali bahwa gerakan tangan dari momok itu dapat dirobah menjadi genggaman tinju. Seketika ia rasakan dadanya seperti dilanda oleh sebuah batu raksasa sehingga jantung serasa pecah dan hampir saja ia rubuh.... Tujuan Harimau Iblis itu hendak menghancur leburkan tubuh Siau-liong. Tetapi karena tinjunya tak cukup besar, terpaksa ia hanya mengaarah dada ana kmuda itu. Ia berhasil tetapi iapun terkena pukulan Siau-liong. Ia rasakan tulang belulangnya serasa copot dan mata berbinar-binar gelap. Dua kali adu pukulan itu, membuat Harimau Iblis benar memuncak kemarahannya. Meraunglah ia dengan sekuatkuatnya, Sungguh tak kira dalam kemunculanku di dunia persilatan kali ini, aku akan berjumpa dengan seorang manusia yang seganas engkau.... 191 Ia bolang-balingkan tangannya kanan dan berseru pula, Dengan pukulanku ini, kita akan menentukan siapa hidup siapa mati!" Siau-liong tertawa dingin saja. Tetapi diam-diam ia sudah menyalurkan tenaga saktinya sampai sepuluh bagian. Selekas Harimau Iblis memukul, iapun cepat menghantam dengan pukulan sakti Thay-siang-ciang. Harimau Iblis sudah memutuskan untuk mengakhiri pertempuran itu. Maka pukulannya dilancarkan dengan tenaga penuh, Terdengar ledakan keras disusul dengan pasir dan debu berhamburan. Dalam libatan asap debu yang lebat, tampak kedua jago itu sama2 terhuyung-huyung sampai lima enam langkah lalu rubuh.... Karena tak mau mengeluarkan tenaga-sakti Bu-kek-sinkang, Siau-liong hanya gunakan pukulan sakti Thay-siangciang. Ternyata kekuatannya berimbang dengan pukulan sakti Harimau-iblis. Isi dada kedua orang itu terasa bergolak hebat, darah berhamburan sungsang sumbal. Begitu jatuh, keduanya segera pejamkan mata untuk menenangkan darahnya. Melihat kesudahan itu girang It Hang totiang bukan kepalang. Pikirnya, Mereka ibarat ikan masuk jaring. Kalau tak menggunakan kesempatan ini untuk melenyapkan mereka,

tak mungkin dapat menyelamatkan dunia persilatan.... Ketua Bu-tong-pay itu segera menghampiri ketempat Harimau Iblis. Tetapi sebelum dekat, tiba-tiba Harimau Iblis dua membuka mata, Hidung kerbau, walaupun aku harus mati tetapi tak nanti mati di tanganmu!" It Hang totiang tertegun. Tetapi pada lain saat ia tertawa, Iblis tua, asal kuayunkan tangan jiwamu pasti melayang!" 192 Belum tentu!" dengus Harimau Iblis. It Hang terkesiap. Timbullah keraguannya adakah momok itu benar-benar terluka parah. Sebagai ketua Bu-tong-pay yang ternama dan saat itu menjadi pimpinan berpuluh-puluh tokoh persilatan, jika membunuh seorang lawan yang sedang menderita luka dan tak dapat melawan, sekalipun yang dibunuhnya itu seorang durjana besar, tetapi perbuatan itu tetap akan tercelah dan namanya cemar. Ketua Bu-tong-pay itu berpaling ke arah Siau-liong. Dilihatnya pemuda itu juga duduk menyalurkan napas. Tetapi wajahnya merah segar seperti orang sehat saja. To Kiu-kong, Pengemis Tertawa Tio Tay-tong, sepasang pengemis Pincang sama menghampiri ketempat Siau-liong. Mereka memandang Siau-liong dengan cemas. Ti Gong taysu dan Lam Leng lojin, setelah melakukan penyaluran napas, saat itu sudah tak kurang suatu dan berdiri lagi. Tetapi sikap mereka tampak putus asa dan malu. Kekalahan yang diderita dari Siau-liong tadi, amat memalukan kedua tokoh itu. Sedang sekalian tokoh2, tegak berdiam diri disekeliling tempat itu. It Hang totiang tampak bingung. Akhirnya ia memanggil 20-an jago panah untuk mengepung Harimau Iblis dan Siau-liong. Rupanya It Hang tak mau mengambil resiko kehilangan nama baik. Ia akan menunggu lain orang turun tangan untuk membunuh Harimau Iblis dan Siau-liong. Sekonyong-konyong dari luar hutan terdengar suara seruling berbunyi. Seruling itu adalah untuk alat menyampaikan berita. Setelah Harimau Iblis berhasil menyusup dari penjagaan yang ketat, It Hang perintahkan 193 semua penjaga di pos2 menuju ke puncak dan berpencaran menjaga diempat penjuru hutan. Seruling pertandaan itu menandakan bahwa ada musuh yang tiba didekat hutan. Selekas bunyi seruling berhenti, terdengarlah gemerincing suara senjata beradu. Tentulah musuh itu sedang bertempur dengan para penjaga hutan situ. Kemudian tak berselang beberapa waktu, terdengarlah jeritan ngeri. Tentulah beberapa penjaga telah dirubuhkan orang itu. Ketika memandang ke arah datangnya pertandaan seruling,

sekalian tokoh2 persilatan melihat seorang wanita bertubuh semampai dan mukanya berkudung kain hitam, tengah lari menerobos masuk ke dalam hutan. Wanita itu mencekal sebatang pedang yacg berkilat-kilat. Sejenak memandang ke arah sekalian tokoh persilatan disitu, tiba-tiba wanita ini terus menyerang Toh Hun-ki, ketua Kongtongpay. Sekalian tokoh terperanjat sekali ketika mengetahui bahwa wanita itu bukan lain ialah Dewi Ular Ki Ih. Toh Hun-ki menghindar kesamping, mencabut pedang lalu menempur wanita itu. Melihat serangan yang dilancarkan Ki Ih dahsyat dan berbahaya, terpaksa keempat Su-lo dari Kong-tong-pay pun sama mencabut pedang dan terus menyerang Siau-liong. It Hang tetap merasa sungkan terjun kegelanggang pertempuran. Tetapi ia tetap gelisah karena tahu bahwa wanita itu mempunyai dendam darah terhadap Kong-tongpay. Tentu mereka akan bertempur mati-matian dan melupakan masalah penyelesaian Harimau Iblis serta Siau liong. 194 Benar sekali pun Harimau Iblis dan Siau-liong apabila terjaga tentu akan dihujani anak panah oleh kawanan jago tembak, namun sukar diduga terjadinya lain-lain perobahan. Dalam menyalurkan napas itu, tak pernah Siau-liong lepaskan perhatiannya kepada orang2 yang mengepungnya itu. Sesungguhnya ia hanya menderita luka ringan yang tak membahayakan. Ketika mengetahui yang mengamuk penjaga2 pos itu ternyata Ki Ih, ia kaget dan girang sekali. Buru-buru ia menyalurkan pernapasan lagi. Setelah merasa sembuh, tanpa menghiraukan barisan panah yang masih siap membidik, tiba-tiba ia melambung ke udara dan melayang ke arah tempat Ki Ih bertempur dengan Toh Hun-ki. Tetapi para pengepung itu adalah jago2 pilihan dari setiap partai. Mereka bermata tajam dan tangkas bergerak. Begitu melihat Siau -liong loncat ke atas, mereka segera menghujani anak-panah. Cres, cres.... karena terburu-buru hendak mendapatkan ibunya, Siau-liong tak menghiraukan keselamatan dirinya sendiri. Ia lengah dan lengan kanannya terkena dua batang anak panah. Dengan geram, dicabutnya anak panah itu lalu ia balas menghantam dengan pukulan Thay-siang-ciang. Terdengar beberapa kali jeritan ngeri disusul dengan rubuhnya 7-8 sosok tubuh dari anak buah barisan pemanah itu. It Hang terkejut. Cepat ia loncat mengejar diikuti Kun-lun Sam-cu, Shin Bu-seng ketua Tiam-jong-pay, Tan I-hong ketua Ji-tok-kau Ti Gong taysu dan Lam Leng lojin.

195 Bagus! Kali ini bakal berlangsung pertunjukan yang ramai!" tiba-tiba Harimau Iblis tertawa terbahak-bahak. Sekalian tokoh terkejut. Ada beberapa yang lari menghampiri momok itu. Lebih kurang 200 anak murid dari Gobi-pay, Kay-pang dan partai2 lain yang bertugas menjaga hutan itu segeran lepaskan anak panah dan serentak keadaan menjadi kacau balau. Siau-liong lepaskan beberapa kali pukulan lagi. Setelah dapat mengundurkan It Hang totiang dan rombongannya, ia segera dapat mendekati ketempat Ki Ih. Wanita itu bertempur dengan gagah. Serangannya makin lama makin dahsyat. Walau pun ia takkan kalah dengan To Hun-ki dan keempat Su-lo, tetapipun sukar merebut kemenangan. Serentak Siau-liong menggembor keras terus loncat menerjang kepungan To Hun-ki dan tegak disamping ibunya. Betapalah kejutnya ketika mengetahui bahwa sesungguhnya ibunya itu sudah menderita luka2. Sekujur tubuhnya berlumuran bintik-bintik darah. Hati Siau-liong seperti disayat. Setelah lepaskan tiga buah pukulan ke arah To Hun-ki, ia segera menyambar Ki Ih dengan gunakan gerak Naga-berputar-18 lingkaran, ia loncat menerobos hujan anakn panah dan lari keluar hutan, lalu menuruni puncak bukit. Lapat2 ia mendengar suara Ti Gong taysu, ketua Siau-lim-si yang menegur To Kiu-kong, 0-mitohud Bagaimana asal-usul ketuamu yang sebenarnya? Mengapa ia mempunyai hubungan dengan Ki Ih-" 196 Menyusul terdengar suara tertawa keras dari si Harimau Iblis. Dan beberapa saat kemudian terdengar hiruk pikuk suara orang bertempur. Tentulah Harimau Iblis sudah mulai bertempur dengan lawanan orang gagah. Tetapi Siau-liong tak menghiraukan. Yang penting ia harus menyelamatkan ibunya. Beberapa penjaga yang coba hedak merintangi larinya, dapat dihantam kocar-kacir. Dan beberapa loncatan berhasilah ia menerobos keluar dari hutan. Dia lari sepembawa kakinya. Hatinya penuh dengan rasa sedih dan gembira. Akhirnya ia bertemu juga dengan ibu kandungnya. Dengan demikian rindu dendam dari ibu dan anak yang sudah terpisah belasan tahun itu, akan terpenuhi. Memang ia marah sekali terhadap kecongkakan It Hang totiang, Ti Gong taysu dan orang2 yang menuduh dengan membabi-buta itu. Ia merasa kecewa dan putus asa terhadap sikap mereka. Rasanya tak sudi lagi ia campur tangan tentang kemunculan beberapa momok yang hendak menghancurkan dunia persilatan itu.

Pikirnya, Setelah menghimpaskan dendam sakit hati, ia hendak mengajak ibunya mencari tempat yang sunyi dan hidup dengan tenang. Ia ingin membaktikan hidupnya untuk membalas budi." Walaupun lembah Kiu-hui-koh itu amat pelik dan berbelitbelit jalannya, tetapi berkat petunjuk yang telah diterimanya dari To Kiu-kong, dapatlah ia keluar. Sejak dipondong oleh Siau-liong, Ki Ih diam saja. Sepatah pun tak berkata. Rupanya ia membiarkan dirinya dibawa anak itu ber-lari2an. 197 Saat itu sudah lewat tengah hari. Siau-liong kendorkan larinya. Tiba-tiba dilihatnya tak jauh di atas lereng gunung, terdapat sebuah pondok dari atap rumbia. Ia mutuskan untuk beristirahat dulu agar ibunya dapat mengasoh. Maka segeralah ia menuju ke pondok itu. Pondok itu ternyata sepi2 saja. Berulang kali mengetuk pintu, barulah terdengar langkah orang berjalan dengan pelahan. Ternyata yang membukakan pintu adalah seorang wanita berumur 40-an tahun. Mengenakan baju pendek warna hitam. Sepasang matanya ber-kilat2 tajam. Siau-liong tertegun. Ia heran mengapa ditempat yang sesunyi itu terdapat seorang wanita yang mengenakan dandanan seperti itu? Tetapi ia duga tentulah wanita itu keluarga pemburu. Bagi kaum pemburu, mengenakan pakaian serba ringkas, sudahlah umum. Ia segera menyatakan maksud kedatangannya.... Perempuan baju hitam itu tampak tenang2 saja, memandang Siau-liong yang memondong seorang wanita berlumuran darah pakaiannya. Tanpa bertanya apa2 lagi, perempuan itupun mengangguk dan mempersilahkan Siauliong masuk. Perkakas perabot dalam pondok itu amat sederhana sekali Kecuali balai2 kayu dan meja kursi, tiada terdapat lain-lain perkakas lagi. Setelah membawa tetamunya masuk ke dalam bilik, tanpa mengucap apa-apa, perempuan itupun melangkah keluar, menuju ke belakang. 198 Sejenak meragu, Siau-liong lalu letakkan ibunya di atas balai. Hatinya amat sedih, beberapa butir airmata menitik keluar. Belum berumur 100 hari ia sudah terpisah dari ibunya. Kemudian setelah dewasa, ia selalu terkenang akan ibunya itu. Ia amat rindu akan kasih seorang ibu. Dan saat itu, harapannya telah terkabul. Sekalipun ia belum pernah melihat

wajah ibunya tetapi ia tahu bahwa ibunya itu wanita yang bernama Dewi Ular Ki Ih, wanita yang saat itu terbaring dihadapannya. Setelah luapan haru kesedihannya reda, mulailah ia memeriksa luka ibunya. Ternyata beberapa luka yang diderita ibunya itu hanya luka luar yang tak berarti. Tiba-tiba ia terkesiap. Ibunya jelas tak terluka berat. Tetapi mengapa tampak seperti orang yang tak sadarkan diri? Belum sempat ia memperoleh jawaban, tiba-tiba perempuan pemilik pondok itu masuk dengan membawa sepanci air panas. Tersipu-sipu Siau-liong menyambuti.... Ia membasuh luka ibunya. Pemilik pondok memberinya sebotol pujer warna kuning, ujarnya, Puyer ini dapat menghentikan perdarahan. Dalam beberapa jam saja luka itu tentu sudah sembuh." Sambil menyambuti, Siau-liong bertanya, Adakah cianpwe ini termasuk keluarga pemburu. Dalam rumah ini....?" Oleh karena pemilik rumah itu seorang wanita yang sudah setengah umur, demi menghormatnya, Siau-liong menggunakan sebutan 'cian pwe' kepadanya. 199 Pemilik pondok itu geleng2 kepala, Aku hanya sementara waktu saja menetap disini." Siau-liong heran tetapi ia sungkan untuk mendesak lebih lanjut. Tiba-tiba terdengar sebuah seruan yang bernada penuh kemesraan, Mah.... Sesosok tubuh menerobos masuk dan muncullah seorang dara berwajah segar. Pakaiannya berwarna hijau, umurnya diantara 15-16 tahun. Ia terkejut melihat keadaan dalam bilik. Dipandangnya Siau-liong dan Ki Ih. yang berbaring di atas balai2 itu, lalu lari ke dalam ruang belakang. Perempuan baju hitam itu hanya tertawa tawar lalu menyuruh Siau-liong lekas melumurkan puyer keluka ibunya. Habis itu ia keluar menuju ke belakang. Siau-liong tertegun sejenak lalu melumurkan obat itu keluka ibunya, juga luka pada lengannya sendiri yang terkena anak panah itu. Setelah membalut, ia segera menyingkap sutera hitam yang nenutupi wajah Ki Ih. Rasa kegirangan yang meluap-luap akan bertemu dengan ibunya yang sudah berpisah hampir 20-an tahun telah menyebabkan Siau-liong amat terangsang hatinya. Sambil membuka kain kerudung, serentak mulutnya pun berseru dengan gemetar, Mah.... apakah engkau tak kenal dengan putera kandungmu sendiri....?" Sekonyong-konyong terdengar suara ketawa mengikik, Hi, hi, hi, siapa yang engkau panggil mamah itu?"

200 Siau-liong terkejut seperti mendengar halilintar berbunyi ditengah hari. Dan ketika memandang kewajah ibunya, ah.... hampir ia pingsan! Ternyata yang terbungkus dalam kain kerudung hitam itu sebuah wajah yang cantik berseri dari si dara seberang lautan. Mawar Putih! Setelah terlongong-longong beberapa saat, Siau-liong menjadi kalap. Diterkamnya bahu si dara itu, bentaknya, Kiranya engkau! Mengapa engkau menyaru sebagai ibuku? Engkau.... Rindu dendam yang terpendam selama belasan tahun, dan saat itu dikiranya akan terlaksana, ternyata hancur berantakan bagai awan dihembus angin.... Keadaan Siau-liong saat itu seperti orang gila. Matanya melotot, wajah merah padam dan tangan dikepal sekeraskerasnya. Seolah-olah ia hendak menelan dara itu. Melihat keadaan Siau-liong sedemikian itu Mawar Putih agak ketakutan. Ia menyurut mundur seraya berseru, Apakah engkau gila? Siapa yang menyaru jadi ibumu?" Dengan geram Siau-liong menatap dara itu, serunya, Dalam dunia persilatan siapakah yang tak tahu bahwa engkau ini adalah Dewi Ular Ki Ih? Pakaian yang engkau kenakan dan ilmu Pedang-kilat serta senjata rahasia Hwe-huntui serta tindakanmu memusuhi Toh Hun-ki untuk membalas sakit hati. Tiada seorangpun yang menyangsikan engkau tentu Ki Ih.... Ia berhenti sejenak lalu melanjutkan dengan makin geram, Hm, makanya engkau mengenakan kerudung hitam menutup 201 wajahmu, kiranya.... ah! Engkau.... telah membikin sengsara hatiku!" Mawar Putih tertawa dingin, sahutnya, Dalam hal apa aku mencelakai dirimu? Apa yang kusenang pakai, kupakai saja. Mau senang mengenakan kain kerudung, pun siapa yang melarang?" Habis berkata dara itu terus loncat turun dari balai2, lalu berkata pula, Ilmuku Pedang Kilat dan senjata rahasia Hwehuntui itu adalah ajaran guruku. Aku hendak membunuh Toh Hun-ki, pun juga demi membalaskan sakit hati guruku!" Siau-liong terlongong tak dapat menjawab. Mawar Putih memandang sejenak kepada pemuda itu lalu menyeringaikan hidung, mendengus; "Semalam aku tak jadi membunuhmu di dalam biara dan pagi ini engkau telah menolong aku dari puncak Ngo-song-nia. Dengan begitu kita tak punya hutang piutang lagi dan anggaplah seperti kita belum pernah kenal mengenal." Habis berkata dara itu terus melangkah keluar. Saat itu ketegangan Siau-liong sudah mulai sirap. Cepat ia

mengejar dan menghadang si dara, ujarnya, Nona engkau.... Mawar Putih deliki mata, Aku mau pergi! Mengapa engkau menghadang aku!" Siau-liong merah mukanya. Terpaksa ia tahan kemarahannya, Tadi aku telah berlaku kasar, harap maafkan. Tetapi aku hendak mohon bertanya kepadamu tentang beberapa hal yang penting." 202 Sejenak dara itu keliarkan biji matanya. Tampaknya ia geli melihat keadaan Siau-liong yang tak ubah seperti monyet mencium terasi. Tetapi ia berusaha sekuatnya untuk menahan rasa geli itu. Maka dengan sengaja, ia pura-pura membentak dengan garang, Lekas katakan! Aku tak punya tempo melayanimu." Siau-liong menghela napas, ujarnya, Ibu kandungku itu bernama Ki Ih. Sejak aku dilahirkan belum seratus hari, keluargaku telah tertimpah bencana. Ayahku meninggal secara mengenaskan dan ibu tercerai-berai entah kemana.... "Uh, riwayatmu benar-benar membuat orang terharu," kata Mawar Putih sambil menyengir. Siau-liong melanjutkan lagi, Setiap nona hendak membunuh Toh Hun-ki, tentu nona berganti dandanan, mengenakan kerudung hitam dan memainkan ilmu pedang kilat serta senjata rahasia Hwe-hun-ti. Dengan begitu semua orang persilatan menganggap nona itu adalah ibuku yang muncul kembali ke dalam dunia persilatan lagi.... Mawar Putih kerutkan dahi tak menyahut. Menilik tindakan2 nona itu," kata Siau-liong pula, "aku berani memastikan bahwa gurumu itu tentulah ibuku sendiri. Maukah nona memberitahukan nama sebenarnya dari guru nona itu?" Mawar Putih hunjamkan kakinya ke tanah, berseru, Bukankah telah kukatakan bahwa guruku itu bernama. Aminah Pattalia. Selama ini belum pernah orang memanggil guruku dengan nama lain!" 203 Siau-liong menghela napas, tanyanya pula, Pernahkah gurumu itu mengatakan kalau mempunyai dendam sakit hati dengan Kong-tong-pay?" Mawar Putih gelengkan kepala, Guruku tak mau mengatakan dan akupun tak pernah bertanya. Cukup bahwa memang dendam permusuhan itu, memang ada Kalau tidak masakan guruku siang malam tak pernah melupakannya." Siau-liong sudah mulai percaya bahwa guru dari dara itu tentulah ibunya sendiri Uewi Ular Ki Ih. Maka ia terus lancarkan pertanyaan untuk mendapatkan bukti2 yarg lebih jelas. Setelah termenung sejenak, ia bertanya pula, Sebelum

pergi ke Tionggoan sini, apakah gurumu tak mengatakan apa2 lagi." Mawar Putih merenung. Tiba-tiba ia berseru, Eh, berapakah umurmu sekarang?" "Enam belas tahun!" Tiba-tiba Mawar Putih bertepuk tangan, serunya, Ah, mungkin benar Memang guruku pernah suruh aku menyelidiki tentang seseorang.... Jika memang masih hidup orang itu berumua 16 tahun.... Ia berhenti sejenak menatap wajah Siau-liong sampai beberapa kali, lalu berkata, Wajahmu memang mirip dengan suhuku. Tetapi orang yang akan kucari itu seharusnya bernama Tong Siau-liong bukan Kongsun Liong.... "Ah.... Siau-liong banting2 kakinya, "sebenarnya namaku adalah Tong Siau-liong. Sejak dipungut sebagai murid dari Tabib sakti Kongsun Sin-to, aku mengganti she dengan Kongsun agar orang jangan mengetahui asal-usulku.... 204 Mawar Putih tertawa dingin, Ih, benar-benar suatu pertemuan yang tak ter-sangka2! Jika tak berkelahi tentu tak bertemu!" Siau-liong benar tak mengerti mengapa dara itu selalu bersikap dingin. Sudah kenal sampai sedemikian jauh dan diam-diam Siau-liong tahu bahwa dara itu jatuh hati kepadanya, tetapi ia bersikap dingin. Bahkan saat itu setelah mengetahui bahwa guru dara itu adalah ibunya, suatu hal yang seharusnya akan menambah erat hubungan mereka berdua. Tetapi mengapa sikap dara tetap begitu dingin? Tetapi ia tak sempat lagi mencari tahu sebabnya. Serentak ia menjurah dihadapan dara itu dan berseru, Nona.... "Bilanglah, Mengapa ak-uk ak-uk seperti orang ketulangan?" seru Mawar Putih. "Sudilah nona membawa aku menemui ibu. Atau cukup nona memberitabukan letak pulau kediamannya, aku tentu dapat mencari kesana!" Masih dengan nada dingin, Mawar Putih berkata, Sudah tentu! Asal engkau benar-benar putera dari guruku, tentu akan kubawamu kesana. Tetapi.... tiba-tiba ia berganti dengan nada dengusan hidung, Aku tak dapat begitu saja mempercayai keteranganmu tadi!" Siau-liong terkejut mundur selangkah, serunya, Dengan cara bagaimanakah nona akan dapat mempercayai?" Kecuali engkau dapat membawa kemari batang kepala dari Toh Hun-ki dan keempat Su-lo dari Kong-tong-pay itu!" Siau-liong kerutkan alis, Tetapi ibu menderita sakit.... 205 "Di dunia ini tiada obat yang dapat menyembuhkan penyakit guruku kecuali kelima butir kepala orang Kong-tongpay

itu....!" tukas Mawar Putih. Ditatapnya wajah pemuda itu beberapa saat kemudian ia menghela napas. "Sudah tentu karena bertemu dengan putera yang dirindukan siang malam, guruku tentu amat gembira sekali. Tetapi, aku sudah terlanjur bersumpah dihadapan guru. Tak membawa kelima butir kepala orang itu, aku takkan pulang!" Diam-diam Siau-liong malu dalam hati. Mawar Putih hanya seorang murid, namun dengan mati-matian tetap berusaha untuk membalaskan sakit hati gurunya. Adakah dia, sebagai seorang putera, kalah dengan tindakan dara itu? Tetapi ia teringat akan pesan mendiang ayahnya supaya jangan melakukan pembalasan itu. Ah, yang manakah harus ia turut? Pesan ayahnya atau keinginan ibunya? Dan lagi Toh Hun-ki itu ternyata seorang tokoh tua yang penuh keperwiraan dan luhur budinya, bingung ia untuk menentukan pilihan. Melihat pemuda itu termenung-menung saja, Mawar Putih menertawakan, Agaknya engkau tak mempunyai pikiran untuk membalas sakit hati. Sesungguhnya akupun tak memerlukan bantuanmu. Lambat atau laun, aku tentu dapat membunuh orang Kong-tong-pay Itu. Hanya saja.... Tiba-tiba ia berputar tubuh dan terus menelungkupi balai2 dan menangis, Engkaupun jangan harap dapat berjumpa dengan ibumu! Beliau tentu tak sudi mempunyai seorang putera seperti engkau. Aku.... aku pun tak dapat membawamu kesana. Siau-liong serba sulit. Sesaat tak dapat ia berkata apa2. 206 Krakkk.... tiba-tiba pintu terbuka dan dara baju hijau masuk membawa sebuah penampan. Sekilas melirik Siau-liong dan Mawar Putih, ia tertawa menyengir, ujarnya, Silahkan saudara berdua makan!" Siau-liong menghaturkan terima kasih. Sedang Mawar Putih cepat mengusap air matanya. Ternyata penampan itu berisi beberapa masakan dan nasi putih. Sambil menghidangkan makanan di atas meja, dara baju hijau itu tersenyum, Ibu mengatakan bahwa di - hutan sini tak dapat menyediakan hidangan yang lezat. Sekedar makanan kasar dan teh yang tawar ini, harap saudara jangan menolak." Habis berkata dara itu terus melangkah keluar. Karena sehari suntuk tak makan, Mawar Putih yang masih belum hilang sifat kekanak-kanakannya, segera menghampiri kemeja dan mengajak Siau-liong makan. Selesai makan hari pun sudah hampir petang Siau-liong gelisah. Beberapa kali, ia mengajak bicara tetapi Mawar Putih tak mengacuhkan. Ia enak2 tidur di atas balai2. Nyonya rumah tak muncul lagi. Hanya si dara baju hijau yang datang membawa sebuah lempat lilin lalu mengemasi perabot makan dimeja lain keluar lagi.

Masih belum dapat terpikirkan Siau-liong siapakah sesungguhnya kedua ibu dan anak dalam pondok itu. Tetapi ia percaya mereka tentulah keluarga persilatan yang mengasingkan diri. Hari makin malam. Dibawah penerangan lilin yang bergoyang gontai sinarnya, Mawar Putih tidur dengan nyenyaknya. 207 Siau-liong makin gelisah. Akhirnya ia duduk dikursi bersemedhi. Entah berapa lama, iapun terlena tidur. Tiba-tiba setiup angin pegunungan berhambus dari jendela, menyadarkan Siau-liong dari tidurnya. Dilihatnya Mawar Putih masih tidur nyenyak. Diam-diam Siau-liong bercekat hatinya. Mengapa ia sampai tidur juga. Apabila kedua ibu dan anak pemilik pondok itu kaum.... Tetapi ia menghela napas lega ketika yang terdengar disekeliling penjuru hanya bunyi belalang dan tenggoret. Diam-diam ia menertawakan dirinya yang banyak curiga. Sekalipun orang mengatakan bahwa dunia persilatan itu kotor, keji dan penuh kejahatan, tetapi tak seharusnya ia mengukur pemilik pondok yang telah memberikan tempat bermalam dan hidangan itu, sedemikian rendahnya. Melongok kelangit, ia perkirakan sudah menjelang tengah malam. Ia berbangkit dan mondar-mandir diruangan. Tiba-tiba ia kepalkan tinju dan menghela napas panjang. Rupanya ia telah mengambil keputusan. Cepat ia menghampiri meja, mengambil pena-dan tinta bak lalu menulis: "Adik Mawar, Aku sudah memutuskan untuk mengambil kepala Toh Hun-ki dan keempat Su-lo Kong-tong-pay. Dalam waktu tiga hari tentu sudah selesai. Tunggulah dirumah penginapan Siok-ciu." Setelah meragu sejenak, ia menulis namanya "Tong Siauliong" dibalik kertas itu lalu ditaruh disamping Mawar Putih. Kemudian ia memadamkan lilin lalu melangkah keluar. Ia gunakan ilmu lari cepat menuju kepuncak Ngo-siong-nia. 208 Ia tak tahu adakah Toh Hun-ki dan rombongannya masih berada dipuncak itu. Lebih kurang sejam lamanya, tibalah ia dihutan pohon siong dari puncak Ngo-siong-nia lagi. Tetapi dilapangan dalam hutan itu sudah sepi. Yang tampak hanya dua batang golok kwat-to serta beberapa tetes noda darah. Ia duga pertempuran antara momok Harimau Iblis lawan rombongan orang gagah yang dipimpin It Hang totiang tentu berlangsung dahsyat sekali. Entah siapa yang menang dan entah kemana perginya mereka itu. Terpaksa ia menuruni puncak itu lagi. Tiba-tiba ia teringat bahwa It Hang totiang hendak merencanakan untuk menyerbu

ke Lembah Semi pada malam hari. Adakah mereka sedang melaksanakan rencananya itu? Ya, kecuali jejak itu, tak ada lain hal yang dapat ia ikuti. Maka setelah merenung beberapa saat, ia segera menuju ke Lembah Semi. Sekalipun ia masih ingat akan jalanan dari belakang lembah tetapi ia masih gentar menghadapi barisan pohon bunga yang amat berbahaya. Ia tak berani mencobanya dan terpaksa mengambil jalan dari mulut lembah. Jalanan masuk ke mulut lembah itu penuh ditaburi dengan batu yang aneh2 bentuknya. Dengan hati2 sekali ia menyusur maju. Dia sudah mengambil keputusan untuk membunuh Toh Hun-ki dan keempat Su-lo agar selekasnya ia dapat bertemu dengan ibunya Sekalipun mendiang ayahnya sudah memberi pesan. Namun dalam menjatuhkan pilihan, akhirnya ia memilih untuk menuruti kehendak ibunya yang masih hidup. 209 Juga dalam penyerbuannya ke Lembah Semi itu juga mengandung tujuan yang mulia. Sepasang suami-isteri momok Iblis Penakluk dunia dan Dewi Neraka, merupakan bahaya yang mengancam keselamatan dunia persilatan. Jika ia dapat melenyapkan mereka, sekalipun ia juga membunuh Toh Hun-ki dan keempat Su-lo, tetapi tetap ia berjasa juga kepada dunia persilatan. Dengan jasa untuk menebus kesalahan. Rasanya arwah ayahnya yang mengasoh di alam baka tentu dapat memaafkan perbuatannya itu. Tiba di mulut lembah, ia tersirap kaget. Beberapa sosok tubuh terkapar di tanah. Diantaranya terdapat dua orang paderi, tiga orang imam dan lima atau enam orang pengemis. Ditilik dari darah pada luka mereka yang sudah membeku, tentulah mereka sudah berapa lama matinya. Saat itu sudah lewat tengah malam. Dari kenyataan beberapa mayat itu, teranglah kalau It Hang totiang tentu melaksanakan rencananya menyerbu Lembah Semi. Ia pasang telinga mendengarkan keadaan. Tetapi dalam lembah tampak sunyi senyap Timbullah keheranannya, Adakah para tokoh2 pemimpin partai itu juga sudah menjadi korban keganasan Iblis Penakluk dunia?" Diam-diam Siau-liong menaruh perindahan terhadap It Hang totiang dan rombongan orang gagah. Serentak timbullah perhatiannya untuk memikirkan keselamatan mereka. Ah, tujuannya kelembah situ adalah untuk membunuh Toh Hun-ki dan keempat Su-lo. Tetapi iapun mencemaskan juga nasib tokoh2 persilatan itu. Akhirnya ia memutuskan. Tak peduli apapun yang terjadi, ia harus menyerbu Lembah Semi untuk membasmi penjahat2 Iblis Penakluk-dunia, Dewi Neraka, Soh-beng Kisu dan nona pemilik lembah itu.

210 Segera ia melangkah masuk ke dalam lembah. Saat itu ia sudah tiba dialiran sungai dimana dahulu ia telah bertempur dengan ular besar yang ternyata hanya ular buatan manusia belaka. Ular yang sudah dihantamnya remuk itu sudah tak ada lagi. Yang dihadapinya hanyalah sebuah anak sungai biasa. Tak sulit baginya untuk melintasi. Tetapi belum ia bergerak, tiba-tiba dari arah muka, terdengar orang tertawa gelak2, Aha, bapak dapat meramal dengan tepat sekali. Benar memang ada orang yang datang mengantar jiwa!" Menyusul muncullah dua sosok tubuh dari balik batu besar. Karena malam gelap tak dapat dilihat bagaimana wajah mereka. Tetapi Siau-liong tak ragu lagi. kedua orang itu tentulah anak buah Iblis Penakluk-dunia. "Eh, mengapa yang datang hanya seorang?" kata salah seorang dari mereka, seraya ayunkan tangannya. Sebertik api biru meluncur ke udara. Rupanya suatu pertandaan untuk memberi laporan ke dalam lembah. Siau-liong cepat loncat hendak membekuk kedua orang itu. Tetapi mereka dapat bergerak amat lincah. Mereka loncat kelain batu. Dengan gunakan sikap Ayam-emas-berdiri-satukaki, orang itu ber-putar2. Seketika terdengarlah suara menggelegar yang dahsyat. Terpaksa Siau-liong berhenti untuk memperhatikan perobahan yang akan terjadi. Batu-batu yang tampaknya datar-datar itu, tiba-tiba terangkat naik sampai setombak tingginya. Bagian bawah bagian batu itu merupakan senjata golok yang ujungnya amat runcing dan kedua belah matanya sangat tajam. 211 Kedua orang berpakaian hitam itu loncat kemuka dan berpencaran hinggap di atas batu besar. Kembali mereka berputar tubuh dan batu2 disitu serta tanah, lenyap seketika. Pada saat kedua orang itu loncat lagi kelain tempat, tempat yang ditinggal itu muncul berpuluh-puluh ekor binatang beracun. Rupanya binatang2 itu sudah kelaparan sekali. Mereka saling gigit menggigit dan bunuh membunuh sendiri. Pada saat kedua orang baju hitam itu loncat kelain batu, tempat yang ditinggalkan itu memancarkan air beracun setinggi dua tombak. Demikian berturut-turut kedua orang itu telah berloncatan pindah dari satu kelain tempat. Rupanya mereka setiap kali menggerakkan alat-alat rahasia. Sampai pada yang terakhir, kedua belah dinding karang lembah itu meluncurka berpuluh batang anak panah beracun. Seolah-olah jalanan lembah itu penuh dengan maut. Tak mungkin orang dapat melintasinya. Walaupun hal itu tak mengejutkan hati Siau-liong, namun diam-diam ia mengagumi juga kelihayan pemilik lembah yang

telah memasang alat-alat rahasia sedemikian ketat dan maut. Siau-liong tak menghiraukan kesemua itu. Sambil menggerung keras, ia apungkan diri melayang ke dalam lembah. Tiba-tiba dari arah belakang terdengar lengking jeritan. Ketika Siau-liong berpaling ia mengeluh kaget, "Celaka....!" Kiranya yang menjerit itu adalah Mawar Putih dalam penyamarannya sebagai Ki Ih. Terpaksa Siau-liong melayang kembali kesamping dara itu. Mengapa engkau.... 212 "Mengapa engkau tak mengajak aku!" tukas Mawar Putih. "Aku tak menghendaki engkau ikut aku menempuh bahaya!" sahut Siau-liong. Mawar Putih mendengus, Engkau anggap aku seorang yang temak hidup takut mati!" Siau-liong tersipu tundukkan kepala, tak dapat menyahut. Mawar Putih memandang Siau-liong lalu ter-tawa menyeringai. Tiba-tiba ia lemparkan sebuah bungkusan kepadanya, Terimalah!" Ketika menyambuti, bukan main kejut Siau-liong. Ternyata bungkusan itu berisi pakaian dan kedok muka Pendekar Laknat. Ah.... tentulah waktu ia tidur, Mawar Putih telah mengambilnya. Diam-diam ia menyesali dirinya yang begitu lalai. "Nona.... katanya tersendat-sendat. Mawar Putih cibirkan bibir tertawa, Seharusnya dulu2 engkau sudah memberitahu kepadaku!" Siau-liong tak menyahut. Diam-diam ia menimbang masuk ke lembah Semi dalam penyamaran sebagai Pendekar Laknat, memang lebih baik. Cepat ia berganti dandanan sebagai momok itu. Mawar Putih tertawa geli melihat pemuda yang cakap itu tiba-tiba berobah meujadi seorang momok tua yang menyeramkan. Siau-liong sendiripun geli. 213 Saat itu kedua orang baju hitam tadi sudah lenyap. Sambil memandang ke arah lembah, Siau-liong kerutkan dahi, Lembah penuh dengan alat rahasia? yang amat berbahaya. Harap engkau tunggu dulu Setelah kuhancurkan alat-alat itu, barulah akan kubawamu kesana!" "Tidak! Engkau tentu hendak tinggalkan aku!" Mawar Putih menolak. "Aku tak bermaksud begitu, harap engkau.... "Kalau begitu hayo kita bersama-sama menyerbu!" tukas Mawar Putih terus melangkah ke dalam lembah. Siau-liong cemas. Benar dara itu sudah mendapat warisan ilmu silat dari ibunya. Tetapi jika hendak melintasi lembah

yang penuh dengan perkakas rahasia itu, kiranya tak mungkin dapat. Tetapi nona itu keras wataknya, kemanja-manjaan, sehingga ia tak dapat berbuat apa2 untuk mencegahnya. Apa boleh buat. Akhirnya ia memutuskan sebuah rencana. Disambirnya tubuh dara itu lain dibawanya loncat ke dalam lembah.... --ooo0dw0ooo-LEMBAH MAUT Siau-liong melayang ke atas batu besar yang ditempat kedua orang baju hitam tadi. Ia hendak menyelidiki perobahan yang terjadi disitu. 214 Sesungguh dengan gerak Naga-melingkar-18 kali, dapatlah Siau-liong melayang lebih jauh dan tak perlu untuk menyelidiki keadaan dulu. Tepat pada saat kakinya hendak menginjak batu, tiba-tiba ia mengeluh kaget. Ternyata batu itu seperti lenyap dan tubuhnyapun meluncur ke bawah, jatuh keujung tiga batang golok. Untung sebelumnya ia sudah berjaga-jaga. Cepat ia tamparkan tangannya ke udara dan dengan meminjam tenaga tamparan itu, ia melambung lagi ke atas. Pada perjalanan kedua, binatang2 beracun itu tak mampu mencelakai Siau-liong yang melambung tinggi hingga ia dapat melintasi dengan selamat. Juga kedua belah karang yang menyemburkan anak panah dan senjata rahasia beracun itu Siau-liong sudah bersiap. Jubah Pendekar Laknat yang gerombyongan itu dapat digunakan untuk menampar rintangan itu. Perkakas rahasia yang disiapkan dalam lembah oleh kedua suami isteri Iblis Penakluk dunia dan Dewi Neraka itu, sebenarnya untuk menjaring seluruh tokoh persilatan. Lapisan yang ketiga terdiri dari air mancur yang mengandung racun. Selain racunnya ganas, pun airnya mancur tinggi sekali. Sekali terkena, daging dan tulang2 akan luluh menjadi cairan. Tengah Siau-liong menimang-nimang untuk cara yang hendak dilakukan dalam melintasi rintangan ketiga itu, tibatiba ia memandang ke bawah dan dilihatnya binatang2 beracun itu bergeliatan menjulur ke atas. 215 Ia terkejut girang dan serentak tertawa keras, serunya, Budak liar, nasibmu memang belum ditakdirkan mati. Ada jalan!" Dalam kepitan Siau-liong, Mawar Putih merasa aman. Ia heran mengapa Siau-liong berseru begitu. Iapun cepat dapat menanggapi dan berseru, Laknat tua, nyonyamu ini tak pernah takut pada kematian!"

Siau-liong sengaja menggunakan siasat untuk membingungkan hati anak buah lembah yang bersembunyi disekitar tempat itu. Mereka tentu. terkejut dan pangling mengapa kedua momok itu dapat datang ber-sama2 kelembah mereka. Disamping itu Siau-liong mendapat akal. Asal tak terluka, binatang2 berbisa itu tak berbahaya Maka ia memutuskan untuk menggunakan suatu cara yang amat luar biasa tetapi amat berbahaya sekali. Tiba-tiba ia melayang turun ke bawah dan tepat menginjak di atas punggung seekor kadal besar. Begitu menginjak iapun menyerempaki dengan sebuah hantaman ke atas. Dengan tenaga pijakan dan pukulan itu, tubuhnya segera melambung tinggi ke udara. Mawar Putih terkejut menyaksikan keberanian Siau-liong menempuh cara yang sedemikian berbahaya itu. Andaikata ia tak menyaru sebagai Ki Ih, tentu ia sudah menjerit ngeri. Pada saat tubuh Siau-liong hendak meluncur turun, tibatiba ia lontarkan tubuh si dara kemuka. Mawar Putih pun bergeliatan menggunakan gerak Burung-walet-menerobossangkar. Indah dan luwes sekali tubuh dara itu bergeliatan melayang di atas semburan air beracun. 216 Anak buah Lembah Semi yang menyaksikan dari puncak gunung, terlongong-longong seperti melihat sebuah pertunjukan akrobat yang luar biasa mendebarkan. Mawar Putih dimuka dan Siau-liong dibelakang. Laksana dua ekor burung walet, kedua anak muda itu meluncur di udara, melampaui semburan air beracun. Setelah kedua pemuda itu hampir selesai melintasi rintangan itu, barulah anak buah Lembah Semi tersadar. Buruburu mereka segera menggelundungkan balok dan batu serta menaburkan senjata rahasia. Siau-liong terkejut Betapapun lihaynya, tetapi diserang dari atas dan bawah secara begitu ganas, tentulah akan celaka juga. Siau-liong cepat gunakan tenaga sakti Bu-kek-sin-kang untuk menghantam serangan dari atas puncak itu. Kemudian ia menggeliat menyusul disamping Mawar Putih. Sungguh berbahaya," keluh si dara ketika melihat anak panah dan senjata rahasia berseliweran disampingnya. Tetapi dibawah lindungan Siau-liong, dara itu tetap aman. Seketika timbullah nyalinya lagi. Pada saat hanya tinggal dua tiga tombak lagi ia akan dapat melintasi rintangan itu, dan serangan senjata rahasia dari atas pun sudah mulai reda, tiba-tiba ia tersirap kaget. Ternyata Mawar Putih sudah mulai habis tenaganya sehingga tubuhnya mulai meluncur ke bawah. Dalam kejutnya, Siau-liong bersuit nyaring lalu menukik ke

bawah untuk menyambar si dara. Untunglah si dara segera tersadar. Dengan kerahkan seluruh tenaga, dara itu bergeliat meluncur kemuka lagi sampai dua tiga tombak. 217 Pada saat Mawar Putih hendak terhindar dari pancuran air racun, tiba-tiba sebuah batu besar melayang turun dari atas puncak. Tepat batu itu akan jatuh di kepala si dara. Saat itu Mawar Putih sudah kehabisan tenaga. Sekalipun ia tahu akan ancaman bahaya itu, tetap ia tak mampu menghindar lagi. Jika terhantam batu itu, kepalanya pasti hancur lebur jatuh ke bawah, sudah tentu Siau-liong gugup sekali. Dalam saat-saat yang tak menyempatkan ia berpikir lagi, ia nekat meluncur dan membentur batu itu dengan kepalanya. Pyur.... terdengar letupan dan hancurlah batu itu berhamburan jatuh ke bawah. Berhasil menghancurkan batu, cepat sekali Siau-liong sudah menyambar tubuh Mawar Putih terus dibawa melayang. Anak buah Lembah Semi yang menyaksikan kesaktian Pendekar Laknat, sama leletkan lidah. Kemudian mereka segera lepaskan api pertandaan untuk memberi isyarat bahaya kepada kawan2nya dalam lembah. Saat itu ia harus menghadapi lapisan keempat yang merupakan Lautan api. Ilmu meringankan tubuh Naga-berputar-18-lingkaran, sudah menghabiskan tenaganya. Jika ia tak berhenti dulu disebuah batu, tentulah ia dan si dara akan terancam bahaya tercebur dalam lautan api. Dalam perhitungannya, ia mssih sanggup untuk melampaui rintangan keempat Lautan api itu Tetapi apabila lorong lembah itu masih jauh, dan ia tak menemukan tempat beristirahat, tentu akan habislah tenaganya. 218 Namun ibarat orang naik dipunggung harimau, Siau-liong sudah tak dapat mundur lagi. Akhirnya ia berhasil melintasi rintangan keempat itu dan tiba dibagian lorong sungai yang datar. baru saja ia meletakkan tubuh si dara ke tanah, tiba-tiba terdengar ledakan bergemuruh dahsyat, seperti sebuah cempa bumi. Ledakan itu berasal dari bunyi sebuah genderang. Entah darimana tempatnya. Dung.... dung.... Bunyi genderang itu menggetarkan seluruh isi lembah. Jantung Mawar Putih pun serasa terlepas keluar. Buru-buru ia sandarkan diri pada tubuh Siau-liong. Siau-liong kerahkan tenaga sakti untuk menolak serangan bunyi genderang maut itu. Ia bersiap-siap menunggu apa saja yang hendak dilakukan orang2 Lembah Semi itu.

Genderang berhenti serentak. Sebagai gantinya, angin menderu, batu dan pasir beterbangan dan airpun bergolakgolak ke atas udara. Siau-liong dan Mawar Putih merasa bahwa yang diinjaknya saat itu bukanlah tanah, melainkan gumpalan ombak laut. Siau-liong menyadari bahwa gelombang yang menggoncangkan bumi itu adalah sebuah tenaga sakti aneh Ki-bun-tun-kang yang menggunakan entah berapa puluh anak buah Lembah Semi. Dipersatukan menjadi tenaga-sakti Thaykekbu-wi-kang dan Thay-im-ki-bun-kang. Hantaman dari arus tenaga sakti itulah yang membuat bumi bergoncang seolaholah ditimpa gempa. 219 Siau-liong memeluk Mawar Putih untuk memberi saluran tenaga sakti Bu-kek-sin-kang. Kemudian ia kembangkan tenaga sakti lunak untuk menahan arus serangan itu. Pertempuran adu tenaga sakti berlangsung beberapa waktu. Pelahan-lahan kabut dan pasir terdampar ke belakang dan tanah yang dipijaknya itu pun menjadi tanah biasa lagi. Tetapi gumpalan kabut itu berhenti pada jarak beberapa langkah. Seperti ada suatu tenaga lain yang menghentikan buyarnya kabut itu. Kembali terjadi pertempuran hebat adu tenaga sakti. Kabut tak dapat mundur tetapi pun tak dapat melayang maju lagi. Setelah berlangsung beberapa waktu. tiba-tiba terdengar letupan keras. Kabut itu berhamburan lenyap dan keadaan dalam sungai itupun tampak seperti biasa lagi. Mawar Putih kagum atas kesaktian Siau-liong. Dipandangnya anak muda itu dengan tersenyum tawa. Kemudian keduanya bergandengan tangan melangkah maju. Mereka merasa sebagai sepasang muda mudi yang berjalan dengan mesra. Tetapi bagi pandangan mata berpuluh anak buah Lembah Semi yang bersembunyi di sekeliling tempat itu, kedua pemuda itu adalah seorang lelaki tua berwajah buruk dengan seorang wanita yang berkerudung muka. Baru melangkah dua tiga tindak, tiba-tiba keduanya mendengar genderang bertalu tiga kali. Suaranya amat dahsyat sekali. Seketika pemandangan yang terbentang dihadapan, berobah sama sekali. Sekeliling penjuru penuh dengan gunung es dan karang es. Ada yang menjulang tinggi macam tiang penyangga langit. Ada yang berkilat-kilat menyilaukan mata, atasnya datar tetapi 220 bagian-bagian bawah runcing dan salju yang menutup gunung itu mencair dan mengalir turun seperti banjir. Kesemuanya itu merupakan pemandangan yang ngeri. Siau-liong tetap memeluk Mawar Putih dan membantu si dara dengan penyaluran tenaga sakti. Ia tahu bahwa

pemandangan di muka itu hanya pemandangan buatan yang diciptakan oleh Iblis Penakluk dunia dan Dewi Neraka. Kembali ia gunakan tenaga sakti Bu-kek-sin-kang yang bersifat panas untuk menghancurkan gunung es itu. Tak berapa lama gunung2 dan karang es itu meleleh dan mengalir menjadi air ke dalam sungai. Pemandangan dalam lembah itu kembali pula seperti semula. Pada saat Siau-liong dan Mawar Putih saling berpandangan dengan heran, tiba-tiba muncullah nona pemilik lembah diiring 20 orang dara cantik. "Aku disuruh mewakili ayah dan ibu untuk menyambut kedatangan saudara berdua!" kata nona itu dengan memberi hormat. Siau-liong hanya menyahut singkat. Kemudian nona pemilik lembah itu mengibaskan tangan. Ia dan ke 20 pengiringnya itu segera melenyapkan diri dibalik jajaran batu2 besar. Siau-liong menimbang. Karena nona pemilik lembah itu sudah keluar menyambut sendiri, tentulah sudah tak ada lagi rintangan alat-alat rahasia. Segera ia ajak Mawar Putih melangkah kemuka. Setelah keluar dari lembah, membelok kesebelah kiri dan menyusur jalan. Membelok sekali lagi, tibalah mereka di pintu batu yang atasnya tergantung dua buah papan bertuliskan: 221 "Dunia persilatan tergabung satu Lembah Semi mengubur orang gagah." Ditengah kedua papan itu terdapat sebuah papan lagi yang bertulis, Pesiar ke lembah sambil menghadiri pertandingan besar adu kesaktian." Siau-liong heran. Saat itu masih lama dengan hari pertandingan yang akan dilangsungkan pada pertengahan musim rontok. Tetapi mengapa persiapan telah dilakukan sedemikian rupa. Ah, tentulah Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka sudah memperhitungkan kemungkinan It Hang totiang akan menyerbu sebelum hari pertandingan itu. Maka ia sudah mengadakan persiapan lebih dulu. Tengah Siau-liong mencemaskan keselamatan It Hang totiang dan rombongan orang gagah, tiba-tiba pintu gerbang itu terbuka dan entah darimana datang, muncullah nona pemilik lembah beserta ke 20 dara pengiringnya tadi. Mereka menyambut Siau-liong dan mempersilahkan masuk. Siau-liong mendengus. Sambil menarik tangan Mawar Putih, ia melangkah masuk. Tertawa nyaring lalu membentak keras, Undangan adu kepandaian, ditetapkan pada nanti hari Tiong-jiu tetapi mengapa.... Nona pemilik lembah itu tertawa mengekeh, Perhitungan manusia sering meleset. Maka serempak dengan mengirim

undangan, ayah dan ibu terus mempersiapkan segala sesuatu.... ia berhenti sejenak memandang kepada Siau-liong dan Mawar Putih lalu berkata pula, Seluruh orang gagah 222 dalam dunia persilatan sudah terjaring. Kini hanya kurang kalian berdua saja!" Habis berkata ia terus menarik sebuah kain sutera merah yang menutup sebilah papan dari batu kumala merah. Papan batu itu setinggi satu tombak tetapi tak terdapat suatu tulisan apa2. Dengan ter-tawa2 nona itu mengambil pit atau pena lalu menulis di atas papan kumala itu. Kesan2 Pesiar ke Lembah Semi Walaupun hanya sebuah pit, tetapi ketika dituliskan, tak ubah seperti ujung pisau yarg tajam. Tulisan itu terukir pada batu pualam sedalam dua tiga dim. Dan setelah diletakkan lagi, pit itu tetap lurus seperti belum dipakai. Siau-liong mendongkol sekali. Diambilnya pena itu lalu dicorat-coretkan di atas meja sehingga ujung pit yang terbuat daripada bulu, menjadi kacau balau. Setelah itu pit dicelupkan ke dalam tinta bak. Mawar Putih heran melihat tingkah laku pemuda itu. Seperti yang dilakukan nona pemilik lembah tadi, adalah mudah. Ia menyalurkan tenaga dalamnya keujung pit sehingga pit itu berobah sekeras pisau. Tetapi mengapa Siauliong mencelupkan ujung pit ke dalam tinta. Bukankah pit itu akan lemas karena basah. Dan kalau basah, bukankah akan sukar disaluri tenaga dalam? Pada saat itu Siau-liong sudah siap menulis. Ujung pit yang kalut tadi, saat itu lurus lagi. Maka mulailah ia menulis: 223 "Pendekar Ksatrya Muncul di dunia Membasmi kejahatan Mengamankan persilatan." Nona pemilik lembah itu terbeliak kaget. Tulisan Pendekar Laknat Siau-liong itu menggoreskan tulisannya sampai setengah inci ke dalam papan batu. Tulisannya berwarna hitam jelas sekali. Habis menulis, Siau-liong tertawa gelak2. Ia lemparkan pit itu ke arah pintu batu. "Bluk", pit jatuh tepat ditengah-tengah pintu. Kembali pemilik lembah terbeliak kaget menyaksikan kepandaian Siau-liong yang dianggapnya Pendekar Laknat itu. Kemudian Siau-liong gunakan jarinya untuk menggurat dibawah tulisannya tadi: Kesan dari Pendekar Ksatria. Dengan mengganti nama dari Bu-kek-gong-ma atau Pendekar Laknat dengan Bu-kek-sin-kun atau Pendekar

Ksatrya itu, jelaslah sudah maksud Siau-liong. Ia menyatakan bahwa Pendekar Laknat sekarang bukan lagi seorang momok ganas seperti dahulu melainkan seorang Ksatrya yang hendak membela kebenaran, menegakkan keadilan, membasmi kejahatan dan melenyapkan kelaliman. Pemilik lembah segera melangkah ke dalam. Siau-liong menggandeng Mawar Putih mengikuti dari belakang. Sepanjang jalan yang dilalui, alam, pemandangannya amat indah sekali. Sedikit pun tiada tanda2 bahwa lembah seindah itu merupakan suatu tempat penjagalan manusia yang ganas.... 224 Setelah dua tiga kali membelok, tibalah mereka diruang besar yang menyerupai sebuah paseban istana. Iblis Penakluk dunia dan Dewi Neraka sudah menunggu disitu. Melihat Pendekar Laknat datang bersama Ki Ih, mereka menyeringai sinis. Didepan meja yang berada disebelah mukanya, telah disiapkan berpuluh gelas emas. Siau-liong tahu bahwa iblis itu hendak mengadakan adu minum arak. Tetapi heran, mengapa menyediakan sekian banyak cawan? Apakah gunanya? Tiba-tiba terdengar suara tertawa aneh yang menyeramkan. Dewi Neraka segera mengangkat poci arak lalu dengan gerak yang istimewa, arak itu memancur keluar ke arah berpuluh cawan. Dalam beberapa kejab saja, berpuluhpuluh cawan itu sudah penuh semua. Kemudian Dewi Neraka itu unjukkan kepandaian lebih jauh. Ia ngangakan mulutnya dan arak dalam berpuluh cawan itu meluncur keluar, masuk ke dalam mulut wanita itu lagi. Walaupun kepandaian menekan dengan tangan dan menyedot dengan mulut, bukanlah suatu kepandaian yang mengherankan tetapi karena Dewi Neraka dapat mengisi dan menyedot arak dari sekian puluh cawan besar kecil, diam-diam Siau-liong kagum juga. Siau-liong sejenak memandang ke arah Mawar, memberi senyuman lalu melangkah maju dengan tenang. Iblis Penakluk dunia dan Dewi Neraka menunggu dengan penuh perhatian. Dengan kedua tangan Siau-liong mencekal poci arak itu. Seketika dari poci itu meluncur keluar 10 buah pancuran kecil. 225 Kesepuluh pancuran itu memancur ke atas lalu berhamburan jatuh ke dalam berpuluh-puluh cawan arak. Setetes pun tiada yang menumpah kemeja. Sudah tentu pertunjukkan itu mengejutkan Dewi Neraka dan Iblis Penakluk-dunia. Namun mereka berusaha untuk bersikap tenang2 saja. Siau-liong duduk bersila. Sekali ngangakan mulut, ia

menyedot arak dari lima cawan. Sekaligus, lima cawan berisi arak itu telah disedotnya habis. Kemudian diulanginya lagi. Tiap kali ia selalu menyedot lima cawan arak. Pada waktu pertunjukan itu berlangsung hingga semua cawan telah habis disedotnya, tiada seorang pun yang berani bernapas. Setelah itu giliran Iblis Penakluk dunia. Iblis itu mengangkat sebuah poci arak yang besar. Begitu besar hingga lebih tepat kalau disebut bejana atau guci. Setelah guci besar itu dicekal, ia gunakan ilmu tenaga dalam yang paling sukar diyakinkan yakni sifat MELEKAT. Cawan2 arak besar itu segera saling melekat rapat. Sekali menunduk, berpuluh cawan arak itu segera penuh dengan arak. Dan sekali iblis itu lekatkan bibirnya pada sebuah cawan yang paling besar, arak pun segera meluncur ke dalam mulutnya.... Sepintas pandang memang cara minum itu, tiadalah yang mengherankan.... Tetapi ketika diperhatikan dengan seksama, orang tentu akan terperanjat. Kiranya arak yang diminum dari cawan besar itu, tak pernah habis. Tetapi berpuluh cawan besar kecil yang melekat pada cawan besar itu, isinya meluap ke atas dan mencurah 226 kecawan sebelahnya dan cawan itu pun meluap menumpah kelain cawan. Dengan luapan secara berantai dari satu kelain cawan itu, akhirnya menumpah kecawan besar yang diminum Iblis Penakluk dunia itu. Itulah sebabnya mengapa arak dalam cawan besar itu tak habis-habisnya. Kemudian Iblis Penakluk-dunia membuka mulut menghadap ke atas. Sekali ia mengangkat cawan besar itu, maka meluncurlah air ke udara sampai satu tombak tingginya. Air itu meluncur turun tepat masuk ke dalam mulut Iblis Penaklukdunia! Selesai minum, iblis itu segera gunakan tenaga sakti untuk menjajar puluhan cawan di tanah. Jaraknya dengan Siau-liong lebih kurang dua meter. Cawan kecil terletak paling depan dekat Siau-liong sedang cawan besar paling belakang, kira2 setombak jauhnya dari pemuda itu. Jika Siau-liong hendak mengambil cawan besar itu, tentulah ia harus berbangkit. Suatu hal yang mengurangkan perbawanya. Siau-liong tak mau unjuk kelemahan. Iapun gunakan tenaga sakti untuk menyedot jajaran cawan itu. Bagaikan seekor ular, jajaran cawan yang masih melekat satu sama lain itu, bergerak-gerak menghampiri ketempatnya. Menyaksikan kesaktian Pendekar Laknat dalam ilmu tenaga dalam untuk menyedot itu, diam-diam Iblis Penakluk dunia cucurkan keringat dingin. Ia tak kira kalau Pendekar Laknat saat ini telah mencapai tataran ilmu tenaga dalam yang sedemikian hebatnya.

Dalam pada itu, setelah menarik jajaran cawan, Siau-liong segera mengangkat naik. Serempak berpuluh cawan besar kecil itu naik mendatar ke atas tanah. Lalu ia menuangkan 227 arak memenuhi semua cawan. Sekali ia memijat cawan yang paling muka, maka arak dan cawan besar kecil itu, satu demi satu meluncur ke dalam mulut Siau-liong. Habis minum, ia menarik jajaran cawan yang melekat itu terus ditaburkan ke arah dinding ruang yang terbuat dari batu marmar. Crek. crek.... berturut- turut cawan2 itu menyusup ke dalam dinding, tepat membentuk beberapa huruf yang berbunyi: "Kesan Pendekar Ksatrya dalam pertandingan minum arak." Siau-liong berbangkit, membersihkan pakaiannya lalu tertawa nyaring.... Iblis Penakluk dunia tak dapat berbuat apa2 kecuali tertawa dingin. Ia segera berbangkit dan melangkah keluar. Siau-liong dan Mawar Putih mengikutinya. Setelah membelok dua tiga buah tikungan, tibalah mereka disebuah hutan aneh. Dikata aneh karena hutan itu terdapat papan nama yang berbunyi: Hutan Nafsu! Dalam Hutan Nafsu itu terdapat tak kurang dari 200 batang pohon yang daunnya bergemerlapan seperti kumala dan dahan2 berwarna emas. Setiap batang pohon, tergantung 10 buah Giok-pwe seperti kepunyaan nona Tiau Bok-kun. Baik bentuk dan ukiran kembangannya, menyerupai sekali. Kemungkinan nona itu pernah datang kesitu, lalu lencananya Giok-pwe ditiru dan dibuat sebanyak-banyaknya. Pada tepi hutan itu terpancang sebuah papan kayu yang bertuliskan: 228 "Pada setiap pohon wangi Harus membedakan tulen palsu Giok-pwe dipersembahkan Tentu takkan mengecewakan. Namun bila tak berhasil Adalah kesalahanmu sendiri. Dirimu terbakar api Tulang belulang mendjadi abu." Didepan papan itu terdapat sebuah meja dan dimeja itu terletak sebuah Kim-ting atau Bejana-emas yang penuh dengan segenggam kayu cendana. Siau-liong memperhitungkan. Jika menyalakan kayu cendana itu, paling banyak hanya berlangsung sampai sepenanak nasi. Dalam waktu sepertanak nasi itu untuk membedakan mana Giok-pwe yang tulen dan mana yang palsu, sungguh tak mungkin dapat! Dilain ujung dari hutan itu, tampak sebuah lubang sedalam satu tombak. Lubang itu penuh dengan kayu bakar dan ranting kering serta bahan bakar lainnya. Sedang sekeliling Hutan Nafsu itu penuh dijaga oleh anak

buah Lembah Semi yang ketat sekali. Sekali kedua suami isteri momok itu memberi isyarat, mereka tentu akan segera menyerbu. Pada saat Siau-liong merenungkan cara yang akan diambilnya, tiba-tiba Mawar Putih menggamit lengannya dan berbisik, Tolol, semua itu palsu!" Siau-liong tertegun. Tetapi cepat ia dapat menyadari. Giokpwe yang asli harganya sama dengan sebuah kota. Setiap orang persilatan sama mengiler untuk mendapatkan benda itu. Tak mungkin kedua suami-isteri momok itu mau menggantungnya pada pohon dan suruh orang mencarinya. Merasa dirinya ditipu, marahlah Siau-liong. Sekali ayunkan tangan, bejana di atas meja itu hancur berantakan. 229 Melihat itu Dewi Neraka marah sekali. Sambil bersuit nyaring, ia loncat keluar menyerang seraya membentak, Iblis Laknat, engkau mencari mati sendiri!" Gerakan tongkat itu menimbulkan deru angin dahsyat yang melanda Siau-liong. Siau-iiong tenang-tenang menangkis dengan tangan. Dewi Neraka makin marah. Serangannya yang dahsyat itu dapat dihalau secara tepat oleh lawan. Tiba-tiba ia enjot tubuhnya melayang ke atas sebatang pohon. Sambil menginjak daun puncak pohon itu, ia menyambari Siau-liong, Hai, Pendekar Laknat, selama 20 tahun ini, sudah berapa tingginya kesaktianmu. Hayo, kita adu kepandiaan di puncak pohon ini!" Siau-liong sejenak berpaling memberi senyuman kepada Mawar Putih. Maksudnya minta nona itu jangan kuatir. Mawar Putih mengangguk. Sekali menjejak tanah, tubuh Siau-liong meluncur ke udara lalu hinggap di puncak pohon berdiri dengan sebelah kaki. Dewi Neraka diam-diam terkejut menyaksikan ilmu meringankan Pendekar Laknat yang sedemikian hebatnya. Ia tentu akan lebih kaget lagi apabila mengetahui bahwa sesungguhnya momok Pendekar laknat yang berdiri dihadapannya itu hanya seorang pemuda belasan tahun umurnya. Dewi Neraka mulai beraksi. Segera ia gunakan tenaga sakti Thay-im-ki-bun-kang yang diyakinkan selama berpuluh tahun untuk memutar tongkatnya. Taburan tongkat itu menghamburkan suatu angin tenaga dalam yang merontokkan daun-daun kumala bertebaran mengelilingi tubuhnya. Tebaran 230 daun2 kumala itu menimbulkun suara tajam macam suitan yang nyaring. Sapintas pandang menyerupai ribuan batang golok terbang yang ber-kilat2 menyeramkan. Tangan kanan memainkan tongkat, tangan kiri Dewi Neraka

itu bergerak naik turun. Tiba-tiba tebaran daun2 kumala itu melekat panjang, menjadi semacam puluhan batang jwan-pian atau cambuk ruyung yang menyerang Siau-liong. Siau-liong tertawa melengking. Ia sudah siap menyambut dengan tenaga sakti Bu-kek-sin-kang. Namun ia tenang2 saja menunggu serangan. Dewi Neraka terkejut. Serangan ruyung dari daun kumala itu seolah-olah terpancang oleh sekeping dinding baja yang tak kelihatan. Dan bukan melainkan itu saja, pun ketika Dewi Neraka gerakkan tangan hendak menarik balik ruyung daun tu, ternyata tak mudah. Ruyung2 daun itu seperti tersedot oleh suatu hawa yang amat kuat. Dewi Neraka menambahi tenaga saktinya. tampak amat tegang. Dahinya penuh butir keringat. Setelah mengerahkan seluruh tenaganya sampai beberapa saat, barulah ia berhasil menarik balik ruyung daunnya. Sekonyong-konyong daun2 kumala itu mengelompok dan membentuk diri menjadi 16 bunga teratai. Setelah berjajar menjadi sepasang barisan "Pa-kwa-tin, lalu mulai bergerak menyerang Siau-liong. Ternyata Dewi Neraka telah gunakan ilmu tenaga dalam Thay-im-ki-bun-kang dan ilmu hitam ajaran aliran agama Pekliankau, untuk membentuk barisan Lian-hoa-pat-kwa-tin atau barisan bunga teratai yang berbentuk pat-kwa. 231 Kali ini jika Siau-liong tetap gunakan tenaga-sakti Bu-keksinkang, tentu celakalah ia, ternyata keistimewaan dari barisan bunga Teratai itu ialah kalau dilawan dengan tenaga. Sekali terlanda oleh tenaga, betapapun kecil tenaga hantaman itu, barisan Teratai akan pecah berhamburan menyerang seluruh jalan darah pada tubuh orang. Suatu hal yang tak mungkin Siau-liong mampu menjaga. Sesungguhnya Siau-liong tak tahu hal itu. Namun ia pun tak mau menggunakan tenaga sakti Bu-kek-sin-kang untuk menangkis. Melainkan menaburkan lengan jubahnya kian kemari. Dengan gerakan itu dapatlah ia melepaskan barisan Teratai dari kekuasaan tangan Dewi Neraka. Dewi Neraka terkejut sekali. Buru-buru tarikan tangannya lebih gencar. Dengan usaha itu dapatlah ia mengambil kembali kekuasaan pada bunga Teratainya. Tetapi hal itu hanya berlangsung tak lama, beberapa saat kemudian kembali Teratai2 itu lolos dari kekuasaannya dan ikut ber-putar2 menurut jubah lengan Siau-liong. Dewi Neraka makin penasaran. Ia pusatkan lagi tariannya dan berhasil menguasai bunga Teratai tetapi beberapa saat kemudian, lepas lagi. Dengan demikian terjadilah perpindahan beberapa kali. Setelah mencapai perpindahan sampai delapan kali, Siauliong dapat menguasai teratai2 itu agak lama. Dewi Neraka

mandi keringat berjuang untuk merebut. Tetapi tampaknya ia sudah tak mampu lagi. Melihat isterinya menderita kekalahan, sepasang mata Iblis Penakluk dunia ber-kilat2 memancarkan api. Benaknya mulai menimang-nimang untuk menggunakan siasat yang sangat ganas. 232 Kebalikannya, Mawar Putih berseri-seri girang atas kemenagan Siau-liong. Saat itu Siau-iioug hendak berputar tubuh dan loncat turun dan puncak pohon. Tiba-tiba Mawar Putih melengking keras, Awas!" Siau-Jiong mendengus dingin. Cepat ia berputar lagi dan lepaskan pukulan Menjungkir-balik-gunung-sungai. Iblis Penakluk-dunia yakin bahwa serangannya dari belakang itu tentu akan berhasil menghancurkan Pendekar Laknat. Maka ia gunakan jurus Menghancurkan-gunung-Hoasan yang diLancarkan dengan kilat. Setitikpun ia tak menduga bahwa Pendekar Laknat dapat bergerak lebih cepat. Jika adu kekerasan, tentulah kedua-duanya akan sama2 terluka.... Tempo hari ketika dibagian lembah, ia pernah adu pukulan dengan Siau-liong dan menderita. Ia tak mau menderita untuk yang kedua kalinya. Cepat ia menarik pulang tangannya dan loncat menghindar kesamping. Siau-liong tertawa mengejek, Ho, kiranya engkau juga hanya bangsa anjing buduk yang suka menyerang dari belakang.... Belum selesai memaki, Iblis Penakluk dunia dan Dewi Neraka sudah menyerbunya. Siau-liong songsongkan kedua tangannya dengan pukulan Tay-lo-kim-kong. Demikian ketiga orang itu bertempur di atas pohon. Suatu pertempuran yang hanya dilakukan oleh jago2 yang sudah tinggi ilmu meringankan tubuhnya. 233 Siau-liong diserang dari muka dan belakang oleh kedua suami isteri durjana itu. Dalam suatu adegan, Siau-liong berhasil menggunakan siasat. Ketika Iblis Penakluk-dunia menghantam dari belakang dan Dewi Neraka memukul dari muka, Siau-liong loncat melambung ke udara. Kedua suami isteri itu terkejut. Mereka buru-buru berusaha sekuat-kuatnya untuk menarik pulang pukulannya agar jangan saling berhantam sendiri. Pada saat itulah, Siau-liong gunakan pukulan Siu-lo-panchia menghantam mereka. Pemuda itu benar-benar cerdik sekali. Kalau hanya pukulan Siau-liong itu saja, tentu kedua suamiisteri iblis itu tak sampai menderita bahaya. Tetapi kedua suami isteri itu sedang menarik pulang pukulannya. Pada saat

itulah Siau-liong menyusuli dengan hantaman. Kedua durjana itu terdampar ke belakang sampai belasan langkah dan terhuyung-huyung mau jatuh. Namun kedua suami isteri itu adalah dua dari Lima Durjana yang paling ditakuti dunia persilatan. Kepandaian mereka memang bukan olah2 hebatnya. Pukulan Siau-liong itu tak sampai membuat mereka kalah. Pada saat tubuh berayun-ayun mau jatuh, mereka malah enjot tubuhnya ke udara seraya lepaskan hantaman ke arah kepala Siau-liong. Suatu gerakan yang tak terduga-duga dan luar biasa. Melihat itu Mawar Putih kucurkan keringat dingin. Ia terkejut dan hampir saja menjerit karena mengira Siau-liong pasti celaka. Tetapi ternyata Siau-liong memiliki jurus istimewa dalam ilmu pukulan Thay-siang-ciang. ilmu pukulan sakti ajaran 234 mendiang Pengemis Tengkorak Song Thay-kun itu mempunyai sebuah jurus yang disebut Dewa-menderita-berkelana. Justeru dalam keadaan yang berbahaya, jurus itu dapat mengembangkan kedahsyatannya. Tampak pemuda itu bergeliatan seperti orang yang hampir tenggelam dalam air. Tahu2 ia sudah lancarkan jurus istimewa Dewa-menderita-berkelana.... Seketika kedua suami isteri durjana itu rasakan darahnya bergolak keras. Mereka terkejut sekali. Buru-buru mereka meluncur setombak jauhnya dan hinggap di atas sebatang dahan. Jelas mereka sudah kehabisan tenaga. Tetapi kedua suami isteri iblis itu selain licik dan penuh akal muslihat, juga memiliki ilmu Hitam yang tinggi. Iblis Penakluk dunia mendahului loncat turun kebumi seraya menantang . "Hai, Laknat. Bertempur di atas pohon sudah kuakui kepandaianmu. Hayo, kita bertempur dibawah lagi!" Saat itu Dewi Neraka pun menyusul turun dan berdiri disamping suaminya. Sambil menunggu Siau-liong, mereka cepat menggunakan kesempatan untuk menyalurkan darah, memulangkan tenaga. Siau-liong tertawa nyaring, serunya, Tetamu harus menurut kemauan tuan rumah. Terserah kalian hendak memilih acara apa sajalah." Setelah menyalurkan darah itu, tenaga Iblis Penakluk dunia kembali segar. Ia tersenyum, Laknat tua.... "Bukan, panggillah Pendekar ksatrya!" cepat Siau-liong menukas. 235 Iblis Penakluk-dunia tertawa gelak2, Ho, tak kira engkau si tua bangka ini juga gila nama kosong." setelah berhenti sejenak ia melanjutkan pula, "Masih ingatkah engkau akan

peraturan lama ketika kita bertempur sampai 50 jurus dahulu?" Sudah tentu Siau-liong tak tahu. Namun ia tak mau diketahui orang. Sambil tertawa hambar ia menyahut, Aku belum pikun, masakan lupa!" Bagus!" teriak Iblis Penakluk dunia, "sekarang engkau menurut lagi peraturan lama itu. Terima dulu lima puluh jurus seranganku, baru nanti kita bicara lagi!" Sungguh licin sekali iblis tua itu. Dengan peraturan itu, ia bebas menyerang Siau-liong sampai 50 jurus tanpa memberi hak pada Siau-liong untuk balas menyerang. Siau-liong terpancing. Karena malu mengatakan tak tahu tentang peraturan lama antara Pendekar Laknat dengan Iblis Penakluk dunia, ia segera tertawa menghina, Silahkan, aku siap menanti serangamu!" Iblis Penakluk-dunia tak mau banyak bicara lagi. Cepat ia sudah lancarkan jurus Lima gunung-menindih-kepala. Dan serempak dengan itu Dewi Neraka pun gerakkan tongkatnya, menyapu pinggang Siau-liong dalam jurus Bumi-merekahgunungmeletus.... Serangan kedua durjana itu merupakan kombinasi serangan yang serasi. Dahsyatnya bukan alang kepalang. Tokoh2 paling sakti dari kalangan partai yang manapun, jika menghadapi serangan kedua suami isteri durjana itu, tak boleh tidak tentu akan remuk! 236 Kedua suami isteri durjana itu diam-diam memperhatikan bahwa kesaktian Pendekar Laknat sekarang ini, jauh melebihi dari 2o tahun yang lalu. Kuatir kalau kalah, maka Iblis Penakluk-dunia lalu menggunakan cara licik itu. Siau-liong terkejut. Ia masih asing dengan jurus serangan dari kedua iblis itu. Maka ia berlaku hati2 sekali.... Lebih banyak menjaga diri dari pada menyerang. Demikian cepat sekali serangan itu sudah berjalan sepuluh jurus. Tiba-tiba kedua momok itu merobah gaya serangannya. Mereka menyerang sederas hujan mencurah dan sedahsyat badai melanda. Melihat itu Mawar Putih gelisah sekali. seperti semut di atas papan besi panas. Sampai2 ia tak berani bernapas karena pikirannya amat tegang sekali. Diam-diam ia memanjatkan doa semoga Siau-liong berhasil selamat dari ke lima puluh jurus serangan kedua iblis itu. Seluruh perhatian dara itu tercurah akan jalannya pertempuran. Setiap jurus dihitungnya dengan cermat sekali Setiap jurus, membuat jantungnya mendebur keras. Ketika sudah sampai hitungan ke 40, diam-diam hatinya merekah girang. "Sudah 40 jurus, tinggal 10 jurus lagi, ah, dia berhasil dengan selamat," pikirnya.

Tetapi, ah.... pada saat ia mulai menghitung jurus yang ke 41 dan menyusul akan tiba jurus yang ke 42, diam-diam ia mengeluh. Mulai jurus yang ke 41 itu, gerakan kedua iblis itu tiba-tiba menjadi lambat. Hanya gerakannya yang tampak lambat tetapi kedahsyatan dan keganasannya serta perobahannya, benarTiraikasih Website http://kangzusi.com/ 237 benar belum pernah terjadi jurus ilmu serangan semacam itu, dalam sejarah dunia persilatan selama 20 tahun yang terakhir ini. Pada 20 tahun yang lalu, Pendekar Laknat memang jatuh dibawah 10 jurus serangan kedua suami isteri iblis itu. Walaupun karena mendapat rejeki luar biasa, minum darah biawak tua, makan buah Im-yang-som dan disaluri tenagadalam oleh Koay suhu atau Pendekar Laknat, Siau-liong menjadi pemuda gemblengan. Tetapi dalam pengalaman bertempur menghadapi tokoh2 sakti semacam suami isteri iblis itu, ia masih kurang. Oleh karenanya, saat itu ia kelabakan dan terdesak di bawah angin. Mulai dari jurus yang ke 41 itu, baik gerakan suami isteri iblis itu menggunakan tenaga berat atau ringan, tetap membuat Siau-liong groggy atau sempoyongan. Kepalanya pening, mata berkunang dan darah bergolak-golak. Ia seperti seorang mabuk yang tak tahu arah penjuru lagi.... Mawar Putih benar-benar bingung sekali. Hatinya seperti disayat sembilu dan air matanya pun berderai-derai turun.... Namun dara itu tak dapat berbuat suatu apa. Dalam peraturan dunia persilatan, pada setiap adu kepandaian walaupun dengan cara yang bagaimana tak adilnya, orang lain tak boleh ikut campur membantu. Itulah sebabnya ia seperti seorang gagu yang sakit ketulangan. Tahu sakit tetapi tak dapat menyatakan dan berbuat apa-apa.... Pada jurus yang ke 45, sekonyong-konyong Siau-liong memekik kaget. Mawar Putih pun tersentak kaget dan kucurkan keringat dingin. Serangan jurus ke 45 itu merupakan serangan maut yang berbahaya sekali. Siau-liong terkejut sekali dan sampai 238 menjerit kaget. Ia gunakan gerak-langkah Thay-siang bu-kekpohhwat untuk menghindar dari serangan maut itu. Ah.... ia berhasil lolos dari lubang jarum. Tubuhnya basah kuyup bersimbah peluh! Sejak keluar dari pusar bumi dan mendapat ilmu kesaktian dari Pendekar Tengkorak Song Thay-kun serta Pendekar Laknat, baru pertama kali itu Siau-liong menghadapi pertempuran yang membuat semangatnya serasa terbang! Suami isteri iblis itu tak memberi ampun lagi, Mereka melancarkan serangan maut lagi.

Jurus ke 46 dapat dihadapi Siau-liong dengan selamat. Tetapi pada jurus yang ke 47, ia terdesak lagi dan pontang panting tak keruan.... ---ooo0dwooo--Jilid 05 Pertempuran Dalam Air KELEDAI-MALAS-BERGULING-GULING, demikian jurus yang digunakan Siau-liong ketika diburu serangan dari empat penjuru oleh kedua suami isteri Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka. Dengan menjatuhkan diri berguling-guling di tanah dapatlah Siau-liong menyelamatkan diri dari serangan yang ke 47. Jubahnya menderita robek beberapa tempat. Waktu suami isteri ganas itu melancarkan serangan pada jurus ke 48, si dara Mawar Putih tak dapat menahan diri lagi. 239 Ia tak peduli lagi segala peraturan dunia persilatan. Secepat mencabut pedang, ia terus hendak loncat maju membantu pemuda itu.... Untunglah Siau-liong ternyata dapat lolos dari serangan lawan. Pemuda itu hanya menderita napas sesak karena tekanan angin pukulan suami isteri-iblis. Jurus ke 49 membuat tubuh Siau-liong basah kuyup mandi keringat. Ia segera kerahkan tenaga murni untuk menghantam dinding kepungan musuh. Dess.... terdengar desus benturan angin yang amat keras ketika ia lancarkan pukulan Thay-siang-ciang. Ia gunakan sisa tenaganya dalam pukulan itu. Dahsyatnya bukan alangkepalang sehingga debu dan pasir bertebaran keempat penjuru. Tetapi sayang. Karena tenaga dalamnya sudah habis digunakan untuk menghadapi 48 jurus serangan maut dari suami isteri iblis, maka sekalipun pukulannya itu masih mengunjuk perbawa, tetapi tak berisi. Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka hanya tersurut mundur dua langkah. Tetapi Siau-liong masih terkurung dalam lingkaran tenaga dalam yang dipancarkan kedua suami isteri iblis itu. Pada jurus ke 50 atau jurus yang terakhir, Iblis Penaklukdunia dan Dewi Neraka telah gunakan seluruh tenaga sakti untuk melancarkan pukulan maut Thay-im-ki-bun-kang. Dua macam tenaga sakti digabungkan menjadi satu dalam gerak serangan yang serempak. Siau-liong sudah kehabisan tenaga untuk menolak serangan itu. Ia rasakan dirinya seperti ditimpah gunung Himalaya yang rubuh! Tak boleh tidak, dia tentu hancur lebur.... 240 Tetapi berkat bahan2 tulang Siau-liong yang bagus apalagi

telah makan buah Im-yang-som dan menghisap darah binatang dalam pusar bumi, makin terjepit dalam bahaya makin ia dapat memancarkan tenaga sakti. Semangat ingin hidup, tambah memperhebat daya kekuatan tenaganya. Dalam jepitan dua macam aliran tenaga sakti dari suami isteri iblis itu, sekonyong-konyong anak muda itu mencelat ke udara sampai dua tiga tombak tingginya. Sambil bergeliatan ia melayang hinggap di atas sebatang pohon, lalu duduk memejamkan mata untuk memulangkan napas. Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka benar-benar terlongong2 melihatnya.... Serangan 50 jurus tadi, bagi kedua suami isteri itu merupakan ilmu simpanan yang paling diandalkan. Dan yang mengherankan, Pendekar Laknat menghadapinya dengan jurus2 permainan ilmu silat yang baru. Seharusnya, apabila Pendekar Laknat tetap mengunakan jurus seperti dalam pertempuran dahulu tak mungkin dia sampai begitu pontang panting keadaannya. Sudah tentu kedua suami isteri itu tak tahu bahwa Pendekar Laknat yang dihadapi saat itu bukanlah Pendekar Laknat pada 20 tahun berselang, melainkan hanya seorang anak muda yang baru berumur belasan tahun. Sudah tentu Siau-liong tak tahu cara menghadapi ke 50 serangan suami isteri itu. Oleh karena masih kurang pengalaman bertempur, apalagi dikeroyok dua musuh yang sakti, ia menjadi kelabakan setengah mati. Darahnya bergolak-golak keras. Walaupun ia dapat menyelamatkan diri dari 50 serangan itu, tetapi ia memerlukan beristirahat untuk menenangkan darahnya. 241 Tetapi Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka itu menganggap Pendekar Laknat sebagai musuh bebuyutan yang menjadi duri mata mereka. Cepat mereka loncat ke atas menyerang Siau-liong lagi. Siau-liong pun sudah menjaga kemungkinan itu. Begitu serangan tinju dan tongkat tiba, mendadak ia menghilang. Tahu2 ia sudah berdiri dimuka Mawar Putih. Kedua suami isteri itu makin panas. Mereka malayang turun dan sambil menggerung terus menghampiri Siau-liong. Siau-liong siap sedia. Tiba-tiba Mawar Putih menyelinap kemuka pemuda itu. Ia kira Siau-liong tentu menderita luka. Tanpa menghiraukan suatu apa, dara itu terus melindunginya. Siau-liong terkejut. Ia tahu Mawar Putih tak mungkin mampu menerima serangan kedua momok itu. Kepandaian dara itu masih belum memadai. Pada saat itu Iblis Penakluk dunia dan Dewi Neraka sudah mulai lancarkan pukulan dengan sepenuh tenaga. Celaka....! Siau-liong gugup. Untuk maju melindungi dimuka dara itu, jelas sudah tak keburu lagi. Satu-satunya

jalan, ia menarik pinggang dara itu terus diseret lari! Kedua iblis itu meraung-ruang dan mengejarnya. Saat itu hari sudah terang tanah. Keadaan dalam lembah makin jelas. Tiba-tiba Siau-liong tak jauh disebelah muka terdapat sebuah kolam besar seluas seratusan tombak bahu. Hingga menyerupai sebuah telaga besar. Pikir Siau-liong, kedua momok itu tinggal di daerah pegunungan, mereka tentu kurang mahir berenang dalam air. 242 Maka cepat2 pemuda itu menyempal dua batang dahan pohon. Setelah dilempar ke dalam telaga, mereka apungkan diri hinggap di atas dahan itu, meluncur ketengah telaga. Begitu tiba, kedua iblis itupun mencontoh tindakan Siauliong, menggunakan dahan pohon untuk meluncur dipermukaan air. Siau-liong tenang saja. Sambil bergandengan tangan dengan Mawar Putih mereka meluncur dengan bebas, berlenggang lenggok ke kanan kiri. Memang perhitungannya tepat. Ilmu air kedua momok tak selihay di atas daratan. Setelah beberapa putaran mengejar, mereka berteriak-teriak seperti kalap yang kehabisan napas. Akhirnya kedua iblis itu mencari akal. Tak mau mereka bersama mengejar melainkan memencar diri. Iblis Penakluk dunia tetap mengejar diair sedang Dewi Neraka naik ke darat dan berlarian mengelilingi telaga. Begitu kedua anak muda itu lari ke arah mana saja, cepat Dewi Neraka loncat ke dalam telaga untuk menghadang. Dengan cara itu dapat kedua iblis itu menarik keuntungan dari cara pengejaran itu. Keadaan Siau-liong makin lama makin berbahaya. Kedua iblis itu makin lama makin dapat mempersempit lingkaran gerak Siau-liong berdua. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Siau-liong rasakan suatu sambaran angin melanda belakangnya. Ternyata kedua suami isteri yang ganas itu tak sabar lagi. Dari jarak jauh mereka sudah lantas mengirim pukulan. 243 Pada saat keadan makin bahaya dimana kedua suami isteri itu makin mendekat, cepat Siau-liong membuka jubah luarnya sehingga dalam pakaian dalam yang ringkas, tubuhnya tampak tegap kekar. Iblis Penakluk dunia dan Dewi Neraka terbeliak heran melihat tingkah laku Pendekar Laknat itu. Apa perlunya dia membuka jubah? Kuatir kalau musuh akan melarikan diri, kedua suami isteri iblis itu segera pesatkan serangannya. Setiap kesempatan pukulannya dapat mencapai, mereka segera lontarkan hantaman!

Sambil mengandeng Mawar Putih, Siau-liong tamparkan jubahnya untuk menangkis. Jubah itu mempunyai dwi-fungsi atau dua macam daya kegunaan. Pertama, untuk menangkis. Dan kedua, dengan meminjam tenaga tamparan itu, Siau-liong dapat bergerak dengan pesat. Kembali kedua suami isteri iblis itu terbeliak. Sesaat mereka kehilangan faham. Cara memutar jubah untuk meminjam tenaga mempercepat gerakan tubuh, sungguh suatu cara yang cerdik sekali. Kedua iblis itu bingung. Mereka tak berani mendesak maju tetapi pun tak mau melepaskan kurungannya. Karena sekali lepas, sukarlah untuk memperoleh kesempatan sebagus itu lagi. Mengapa kedua iblis itu juga tak mau meniru perbuatan Siau-liong saja? Ah, kiranya memang berlainan tujuan kedua fihak itu. Siau-liong hanya ingin menghindarkan diri dengan ber-putar2 dipermukaan telaga. Sedangkan Kedua iblis itu bertujuan untuk membunuh. Jika mereka menggunakan cara seperti Siau-liong, tentu tenaga pukulan mereka akan berkurang. 244 Kejar mengejar itu berlangsung cukup lama. Tiba-tiba diluar kesadaran, Siau-liong berdua telah menempatkan diri dalam lingkaran kemampuan pukulan lawan mengenainya. Seketika kedua iblis itu meluncur sambil tertawa lepas. Pada lain saat mereka menghantam dengan tiba-tiba. Dipermukaan telaga seketika melambung dua gunduk gelombang dahsyat yang muncrat ke atas dengan amat tingginya Kemudian jatuh berhamburan menimpah Siau liong dan Mawar Putih. Sesosok jubah hitam terdampar ke atas dan pada lain saat Siau-liong dan Mawar Putih lenyap. "Kurang ajar, dia menghilang ke dalam telaga!" gerutu Iblis Penakluk-dunia, Ia bersama isterinya menyurut mundur. Tetapi disekeliling penjuru tak tampak bayangan Siau-liong dan Mawar Putih. Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka hampir tak percaya apa yang dilihatnya. Mereka heran mengapa Pendekar Laknat dan Dewi Ular Ki Ih secepat itu dapat meloloskan diri. Mereka tentu menyelam ke dalam air atau bersembunyi dibalik batu. Cepat mereka menyelam ke dalam air dan memeriksa gundukan batu di dasar telaga. Walau pun mereka mempunyai indera penglihatan yang tajam sekali tetapi karena berada di dalam air, mereka tak dapat melihat dengan jelas. Tiba-tiba Iblis Penakluk-dunia melihat di balik sebuah batu besar, dua sosok tubuh mendekam. Cepat ia menyerbunya. Pyah, pyah. pyah.... terdengar air beriak keras dan gelombang muncrat ke atas. Siau-liong dan Mawar Putih unggul dalam air. Mereka cepat menyongsong iblis itu dengan

245 pukulan. Iblis Penakluk dunia terpaksa berhenti dan menangkis dengan kedua tangannya. Tetapi iblis itu kalah unggul dalam air. Gelombang air yang selaju kuda lari mendamparnya sehingga ia terpaksa gunakan ilmu Cian-kin-tui atau Kaki-seribu-kati dan meramkan mata untuk bertahan diri. Pada saat ia membuka mata, Pendekar Laknat dan Ki Ih sudah lenyap lagi. Tetapi ia mendengar air disebelah muka beriak keras. Tentulah Pendekar Laknat dan Ki Ih sedang dikejar Dewi Neraka. Cepat iapun meluncur kemuka. Baru tiga empat tombak berenang, tampak isterinya sedang bertempur dengan Pendekar Laknat dan Ki Ih. Secepat kilat ia segera menyambar pergelangan tangan Pendekar Laknat. Pertempuran itu telah menyebabkan air beriak seperti diaduk-aduk sehingga sukar untuk melukai lawan. Satusatunya jalan ialah mencengkeram tangan Pendekar Laknat. Tetapi Siau-liong diam saja. Baru ketika tangan iblis itu hampir menyentuh pergelangan tangannya, ia segera menjejak lawan. Tetapi Iblis Penakluk-dunia itu juga sakti. Cepat ia mengendap ke bawah dan gunakan jarinya untuk menutuk telapak kaki Siau-liong. Untuk menghindari ancaman itu, Siau-liong melambung ke atas, berjumpalitan dan menghantam dengan kedua tangannya. Setelah dapat mengundurkan kedua lawan. cepat ia menarik Mawar Putih dan laksana anak panah, mereka meluncur kemuka. Kedua suami isteri itu bergegas mengejar. Tetapi baru lima enam tombak, mereka sudah kehilangan jejak Siau-liong dan Mawar Putih. Terpaksa kedua iblis itu meluncur ke atas 246 permukaan air lagi. Mereka memutuskan menggunakan siasat "menjaga kelinci keluar dari gerumbul'. Memang benar perhitungan mereka itu. Betapapun pandainya berenang, namun Siau-liong dan Mawar Putih tentu tak mungkin terus menerus menyelam dalam air. Dengan perhitungan itu, Iblis Penakluk dunia menunggu dalam air, Dewi Neraka didaratan. Cara itu membuat Siau-liong dan Mawar Putih mati kutu. Keduanya berusaha diam-diam mendekati tepi pantai. Pikirnya, sewaktu kedua iblis lengah, mereka terus hendak loncat ke daratan dan meloloskan diri. Tetapi pada saat menyembul ke permukaan air Iblis Penakluk-dunia cepat melihatnya. Buru-buru kedua pemuda itu menyelam lagi ke dalam air. Marah karena dipermainkan Siau-liong dan Mawar Putih, kedua suami isteri iblis itu segera terjun mengejar ke dasar telaga. Siau-liong terkejut ketika melihat kedua iblis itu

menggunakan siasat Barisan-dua-muka untuk mencegat. Karena sukar untuk menembus, Siau-liong menarik Mawar Putih kesisinya dan siap menghadapi musuh. Mawar Putih heran mengapa Siau-liong diam saja. Ia salah duga kalau pemuda itu hendak menyerah. Pada saat itu, Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka makin mendekat. Sekonyong-konyong Siau-liong lancarkan tenagasakti Bu-kek-sin-kang. Hawa panas yang memancar dari tenaga-sakti itu mampu memanaskan air dan menimbulkan gelombang besar. 247 Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka terkejut. Buru-buru mereka berhenti dan melancarkan menyalurkan tenaga dalam. Tenaga dalam Thay-im-ki-bun-kang dari Iblis Penaklukdunia dan tenaga dalam Thay-im-bu wi-kang dari Dewi Neraka serentak memancar ber-sama2. Air telaga yang panas itu segera dingin lagi. Dengan begitu kedua belah fihak sama2 tak menarik keuntungan apa2. Tetapi bagi Siau-liong hal itu tidak menguntungkan. Ia harus lekas-lekas mencari kesempatan lolos. Tak berapa lama, kedua iblis itu tak tahan lagi berendam dalam dasar air. Iblis Penakluk-dunia segera melambung ke permukaan air. Dengan begitu serangannya pun buyar. Menggunakan kesempatan itu, Siau-liong cepat menarik Mawar Putih diajak meluncur kelain tempat. Dalam sekejab saja keduanya sudah mencapai 7-8 tombak jauhnya. Merekapun memerlukan bernapas.... Tetapi begitu keduanya muncul di permukan telaga, suami isteri iblis yang sudah lebih dahulu berada di permukaan air cepat mengejarnya. Siau-liong lepaskan Mawar Putih dan siap melontarkan pukulan Bu-kek-sin-kang. Sekalipun tak mati tetapi sekurangkurangnya kedua iblis itu pasti akan menderita. Dengan menggembor keras, tiba-tiba Siau-liong melambung ke udara dan lepaskan pukulan Dewa menderitadalamberkelana. 248 Iblis Penakluk dunia dan Dewi Neraka menyurut mundur satu tombak lalu loncat ke atas potongan dahan kayu dan maju menyerang lagi dengan tongkat dan pukulan. Mereka mencegah agar Siau-liong jangan sampai mendekati Mawar Putih lagi. Memang Mawar Putih tak menang melawan Dewi Neraka. Tetapi berkat ilmunya berenang yang tinggi, ia dapat melampaui kedua iblis itu. Bahkan menang dibanding dengan Siau-liong. Begitu melihat Dewi Neraka maju menerjang, mendadak

dara itu lenyap. Pada saat Siau-liong meluncur turun ke air lagi, ia terkejut karena tak melihat Mawar Putih. Tetapi ia tak sempat mencarinya lagi karena saat itu Iblis Penakluk-dunia sudah menyerangnya. Dalam kemurkaannya, Siau-liong balas menghantam lawan. Beberapa saat kemudian tiba-tiba Siau-liong mendengar bunyi senjata beradu. Ia duga Mawar Putih tentu benempur di atas daratan dengan Dewi Neraka. Ia cemas. Sekalipun takkan kalah tetapi Mawar Putih tentu tak kuat bertempur lama. Dengan gugup, Siau-liong bersuit nyaring lagi loncat ke udara lagi. Kuatir lawan akan melontarkan pukulan sakti lagi, buruburu Iblis Penakluk-dunia menyelam ke dalam air. Kesempatan itu digunakan Siau-liong untuk melayang dua tiga tombak jauhnya. Selekas tiba di air, ia cepat berenang ke daratan. Tetapi belum Siau-liong mencapai daratan, Mawar Putih sudah meluncur ke dalam air lagi dengan potongan dahan 249 kayu. Ternyata dara itu juga menguatirkan keselamatan Siauliong. Setelah berhasil melepaskan diri dari serangan Dewi Neraka, cepat ia loncat ke dalam telaga lagi. Siau-liong meneriakinya dan dara itupun segera lemparkan dua batang dahan kayu. Siau-liong loncat ke atas dahan kayu lalu meluncur bersama dara itu. Suami isteri iblis mengkal sekali. Mereka gunakan siasat untuk menyerang dari muka dan belakang. Siau-liong terpaksa menghadapi mereka. Dalam beberapa kejab saja, mereka sudah bertempur sampai berpuluh-puluh jurus. Tetapi tetap belum ada yang menang atau kalah. Rupanya Siau-liong tak sabar lagi. Tiba-tiba ia memekik keras, Berhenti " Kedua suami isteri iblis itu tertegun dan hentikan serangannya. Siau-liong tertawa keras. Pada saat Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka tertegun, Siau-liong cepat menarik tangan Mawar Putih meluncur kedaratan. Dalam beberapa loncatan saja, keduanya sudah mencapai 20-an tombak jauhnya. Dewi Neraka bersuit nyaring. Sambil bolang-balingkan tongkat, ia hendak mengejar. Tetapi dicegah suaminya, Sudahlah. biarkan mereka lolos!" "Tolol! Apa engkau gila? Terang mereka sudah hampir kalah mengapa engkau lepaskan lagi?" Iblis Penakluk dunia tertawa. "Isteriku, apakah engkau melihat arah mereka lari?" tanyanya. 250

Sepasang mata wanita iblis itu mengeliar, serunya, Apa hubungannya dengan orang itu?" Sambil mengurut jenggotnya yang hampir mencapai lutut. iblis pendek itu berkata dengan gembira, Mereka menuju ke arah selat Tujuh maut yang menembus keujung buntu. Sebelumnya sudah kusuruh murid2 dan puteri kita supaya bersiap disana. Sekalipun dewa turun kesitu, tak mungkin mampu lolos dari bencana kebinasaan!" Dewi Neraka menghunjamkan tongkat dan tertawa mengekeh, Heh, heh, aku memang seorang nenek linglung. Tetapi si tua Laknat itu masih membawa separoh Giok-pwe, jika.... "Jangan kuatir, isteriku," Iblis Penakluk-dunia menukas, "dalam waktu tiga jam kemudian kutanggung benda itu tentu akan jatuh ditangan kita dalam keadaan utuh!" Kedua suami isteri itu saling berpandang. Serempak mereka tertawa keras. Kemudian berkatalah Dewi Neraka dengan berseri gembira, Asal benda itu jatuh ketangan kita, dunia persilatan pasti kita kuasai!" Kembali kedua suami isteri iblis itu tertawa nyaring. "Tetapi sebelum benda itu jatuh ketangan kita, aku kuatir kedua manusia itu akan muncul menghalangi urusan ini!" tibatiba Iblis Penakluk-dunia berseru. Apakah engkau maksudkan si Naga-laknat dan Harimau.... 251 "Si Naga dan si Harimau kedua iblis itu hanya mengandalkan keberanian. Tak perlu kita cemaskan!" cepat Iblis Penakluk dunia menukas. Dewi Neraka deliki mata dan membentak suaminya, Jangan jual lagak! Lekas katakan siapakah manusia itu!" Dengan wajah bersungguh, Iblis Penakluk dunia berkata, Yang kukuatirkan bukan lain adalah si Tabib sakti jenggot naga Kongsun Sin Tho dari gunung Hongsan dan puncak Sinlihong gunung Busan.... Tolol!" Dewi Neraka menukas tertawa, "mengapa makin tua engkau makin bernyali kecil? Engkau takut kepada tabib yang jual resep jamu dan janda yang tak berani ketemu orang itu? Ha, ha.... Iblis Penakluk-dunia menyingkirkan hidungnya yang melengkung seperti kait, ujarnya, Benar, si tabib tua Kongsun Sin Tho memang hanya termasyhur dalam ilmu pengobatan dan selama itu orang tak pernah melihat kepandaian silatnya. Orang menganggapnya dia tak mempunyai ilmu kepandaian silat yang berarti. Tetapi sesungguhnya hanya aku seorang yang tahu. Dua puluh tahun yang lalu ketika di gunung Tongpiksan, aku pernah menderita kekalahan dari orang itu. Kepandaian tabib itu.... ia berhenti menghela napas.

"Jauh di atas kita berdua." katanya kemudian, "dan tentang janda yang tinggal di puncak Sin-li-hong itu, bahkan lebih sukar lagi dihadapi." Wajah Dewi Neraka berobah seketika, katanya, Kalau begitu, kita terpaksa harus melepaskan si tua Jong Ling untuk menghadapi mereka!" 252 Iblis Penakluk-dunia merenung. Beberapa jenak kemudian ia berkata, Melepas si Jong Ling memang menguntungkan tetapi juga akan berbahaya.... ah, tetapi mungkin akulah yang berbanyak kecemasan. Selama ini kedua orang itu tak pernah mencampuri urusan orang lain. Kemungkinan dalam urusan kita ini, mereka pun takkan menyimpang dari adat kebiasaannya itu." Dewi Neraka deliki mata, Tolol.... tiba-tiba ia tertawa mengekeh, Nadanya macam burung hantu mengukuk ditengah malam. Iblis Penakluk dunia memandang isterinya, lalu ikut tertawa nyaring: Isteriku paling lama hanya sehari semalam, kita bakal memperoleh pusaka yang dibuat incaran oleh be-ribu2 manusia dari dahulu sampai sekarang. Pada saat itu, ho, pada saat itu tak ada manusia di dunia yang mampu melawan aku dan engkau!" Pada saat kedua suami isteri iblis itu sedang ber-cakap2, Soh-beng Ki-su dan nona pemilik lembah bersama anak buahnya muncul. Dengan sikap manja, nona itu jatuhkan diri kedada Dewi Neraka, tanyanya, Ma, apakah engkau bersama ayah sudah menenggelamkan mereka ke dalam air?" Sambil mem-belai2 rambut puterinya, wanita iblis itu berkata, Anak tolol.... kemudian ia tertawa mengekeh.... Tangan kanan mencekal tongkat, tangan kiri memegang bahu si nona, ia berjalan terhenyak-henyak menuju ke dalam lembah. Setelah memandang ke arah Siau-liong dan Mawar Putih lari tadi. Iblis Penakluk dunia segera memanggil muridnya, Soh-beng Ki-su. 253 "Cepat putuskan semua jalan yang menghubungi selat Tujuh-maut. Lalu suruh anak buah dalam lembah berkumpul untuk menunggu perintah!" Soh-beng Ki-su mengiakan dan terus pergi. Iblis Penakluk dunia masih tertegun di tempat itu, Wajahnya sebentar gelisah sebentar berobah girang. Setelah Soh-beng Ki-su lenyap, barulah bergegas menyusul isterinya. Dilain pihak, setelah lari satu li jauhnya dan tak melihat kedua iblis itu mengejar barulah Siau-liong dan Mawar Putih berhenti. Napas Mawar Putih ter-engah2. Ia duduk disebuah batu

besar dan menghela napas panjang-pendek. Siau-liong sejenak memandang kesekeliling penjuru. Diam-diam ia kerutkan dahi. Empat penjuru merupakan karang tinggi yang landai, penuh ditumbuhi pakis (lumut) sehingga tak mungkin dipanjat. Disebelah muka tampak jalan kecil yang menyerupai pematang sawah, berkelak-keluk melingkar-lingkar. Dan memandang ke atas hanya langit biru. Tampaknya sepanjang hari lembah itu tak terkena sinar matahari, pula tak pernah didatangi orang.... Ujung mulut selat lembah itu, menembus ke telaga. Hanya itu, tak ada lain-lain jalanan lagi. Diam-diam Siau liong menimang dalam hati, Tampaknya selat ini masih dalam lingkungan Lembah Semi. Anak murid kedua suami isteri iblis itu kemungkinan tentu bersembunyi disekitar situ. Ah, aku harus hati2. Kecuali alat-alat rahasia yang hebat, pun kedua suami isteri itu amat ganas dan banyak tipu muslihat.... 254 Ilmu kepandaian Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka yang tergolong pada aliran Hitam itu telah mencapai peyakinan yang tinggi. Mau tak mau Siau liong harus mengakui bahwa baru pertama kali itu ia bertemu dengan musuh yang tangguh. Apalagi kedua suami isteri itu menyerang dengan serempak untuk saling mengisi. Apabila bertempur lama, tentu bahaya. Diam-diam hati Siau-liong tergetar. Masuknya ke dalam lembah Semi, walaupun bertujuan hendak melenyapkan Iblis Penakluk dunia dan Dewi Neraka, tetapi yang penting ialah membunuh Toh Hun-ki dan keempat Su-lo. Dengan begitu dapatlah ia meminta Mawar Putih untuk membawanya menemui ibunya diluar lautan. Tetapi ternyata Toh Hun-ki dan rombongannya tak kelihatan. Yang ada adalah kedua suami isteri ganas. Diamdiam Siau-liong menghela napas. Bagaimana sekarang kita ini?" Mawar Putih bangkit dari duduk dan menghampiri Siau-liong. Siau-liong merenung. Katanya sesaat kemudian, Turut pendapatku, Toh Hun-ki dan keempat Sulo itu tentu sudah ikut rombongan It Hang to-tiang untuk menggempur Lembah Semi. Ah, bagaimana nasib mereka, sukar diramalkan.... Kemudian ia berpaling memandang ke arah telaga, katanya lebih lanjut, Lebih dulu kita harus mencari tempat beristirahat yang tersembunyi. Biarlah aku kembali menyelidiki lembah. Apabila Toh Hun-ki dan rombongannya sudah blnasa ditangan kedua suami isteri iblis itu, tetap akan kupotong batang kepalanya dan kubawa kemari! " Mawar Putih merenung sampai beberapa saat.

255 "Siau.... liong," dara itu berseru pelahan. Siau-liong terkejut, Ada sesuatu?" Mawar Putih tersenyum, Bukalah kedokmu itu, ah, memuakkan.... sekali!" Tiba-tiba Siau-liong mendapat pikiran. Jika ia dan Mawar Putih berganti rupa dan tidak lagi sebagai Pendekar Laknat Ki Ih, kedua suami isteri iblis itu tentu akan bingung. Segera ia menarik tangan dara itu ke balik gerumbul pohon alang-alang. Alang2 itu setinggi orang, menjaluri disepanjang jalan yang berkelak-kelok sampai beberapa tombak jauhnya. Suatu tempat persembunyian yang bagus. Setelah sejenak memandang kesekeliling dan yakin tiada orang, barulah kedua anak muda itu melepas kedok dan pakaian penyamaran mereka. Setelah itu mereka berjalan menyusur ujung jalan kecil itu. Kira2 sepeminum teh lamanya, barulah mereka keluar. Kini mereka tiba disebuah selat yang dikelilingi karang dan batu raksasa. Setelah mengamati sekeliling, barulah Siau-liong mengajak Mawar Putih berjalan menurut jalan pematang ditengah selat itu. Karang dikedua samping jalan amat berbahaya sekali. Menjulang tinggi dengan lempang dan penuh pakis. Tak mungkin dapat dikaki orang. "Makin berjalan makin tak tampak jalanan. Hendak kemanakah engkau ini?" akhirnya karena tak tahan, Mawar Putih bertanya. 256 Harap bicara pelahan2 saja. Lembah karang ini dapat memantul gema suara sejauh dua li," kata Siau-liong. Sesungguhnya ia sedang mencurahkan seluruh perhatiannya untuk mengamati keadaan disekeliling dan jalan kecil yang dilewati itu. Maka ia tak jelas yang dikatakan Mawar Putih. Mawar Putih mendengus dan terpaksa diam. Karena kuatir selat itu mengandung alat rahasia lagi, terpaksa Siau-liong berjalan dengan pelahan-lahan. Maka hampir sepenanak nasi lamanya, mereka baru mencapai satu li jauhnya. Jalanan selat lembah itu lurus menuju kemuka. Tampak pada ujung jalan disebelah muka, menjulang sebuah puncak gunung. Sebenarnya apabila sudah tiba di ujung jalan, akan terdapat sebuah jalan tembusan lagi. Tetapi karena tak tahu, Siau-liong berhenti di tengah jalan. Tengah ia menimang-nimang baik melanjutkan perjalanan lagi atau tidak, tiba-tiba Mawar Putih menjerit kaget. Cepat ia berpaling. Ah, ternyata dara itu tengah ayunkan pedangnya menabas seekor ular besar sepanjang 6-7 meter. Betapapun Mawar Putih itu seorang anak perempuan yang

mempunyai sifat pembawaan bernyali kecil. Sekalipun sudah menabas kutung ular, tetapi wajahnya masih tampak ketakutan. Ular itu tubuhnya berwarna hijau tetapi ekornya merah. Kepalanya mempunyai sebuah tengger warna hitam. Tubuhnya yang terkutung itu masih bergeliatan tak hentihentinya. Jelas binatang itu tentu seekor ular yang amat berbisa. 257 Siau liong tak menghiraukan. Ia anggap ular itu binatang yang biasa terdapat dipegunungan. Segera ia menarik tangan si dara lagi untuk diajak berjalan menuju keujung jalan. Tiba disitu, disebelah kiri terbentur sebuah selat gunung yang agak lebar. Merupakan sebuah tanah Iapang seluas beberapa bahu, dikelilingi oleh deretan puncak gunung yang berjajar rapi. Pohon2 layu, mengesankan pemandangan musim rontok yang sayu. Jauh sekali bedanya dengan alam kesegaran dalam Lembah Semi. Siau-liong berjalan dimuka. Ia berjalan dengan hati2. Tibatiba Mawar Putih yang berada dibelakangnya menjerit kaget lagi. Jeritan itu menimbulkan gema suara yang berkumandang sampai beberapa li jauhnya. Ketika berpaling. Siau-liong melihat berpuluh ekor ular besar tengah merayap mendatangi. Mawar Putih siapkan tenjata rahasia Hwe-hun-tun terus ditaburkan ke arah kawanan ular itu. Binatang itu bergeliatan susul menyusul mati. Kini barulah Siau-liong menyadari bahwa kawanan ular itu bukanlah suatu hal yang kebetunan melainkan tentu suatu perangkap musuh yang sengaja dipersiapkan. Ia memandang lebih jauh. Dilihat pada celah2 batu dalam gerumbul rumput, penuh dengan benda2 yang bergelitan. Selain ular berbisa, pun terdapat juga binatang kadal, kelabang dan lain-lain serangga berbisa. Siau-liong cepat suruh Mawar Putih berjalan dimuka dan ia melindungi dibelakangnya. Ia menimang. Jika menggunakan 258 tenaga sakti Bu-kek-sin-kang atau Thay-siang-ciang, tentulah dirinya akan ketahuan. Akhirnya terpaksa ia gunakan akal. Memukul dengan diamdiam menyaluri tenaga sakti Bu-kek-sin-kang secara perlahan. Walaupun cara memukul itu terpaksa hanya menggunakan tiga bagian tenaga sehingga tak dapat menghancurkan binatang2 itu seluruhnya. Tetapi hawa panas yang memancar dari tenaga sakti Bu-kek-sin-kang itu memaksa kawanan binatang itu tak berani maju lagi. Begitulah dengan jalan bersama si dara, Siau-liong tetap

siap siaga menjaga kawanan binatang beracun. Kemudian ia meminta si dara supaya menyimpan pedang dan senjata rahasia Hwe-hun-tui. Mawar Putih salah paham dan deliki mata: Mengapa? Apakah karena kepandaianku tak menyamai engkau?" Siau-liong tertawa hambar, Saat ini dirimu bukan sebagai Ki Ih, jangan sampai menimbulkan kecurigaan orang." "Uh, aku memang tolol!" si dara tertawa lalu melakukan perintah Siau-liong. Tiba di tanah lapang, tampak empat penjuru dikelilingi batu karang yang tinggi sekali sehingga tempat itu menyerupai dasar sebuah sumur. Tempat itu seluas 10 an bahu. Ditengah terdapat segerumbul rimba yang ditumbuhi betasan pohon cemara. Benar-benar merupakan sebuah tempat bersembunyi yang bagus sekali. Siau-liong mengajak Mawar Putih cepat2 menuju ke rimba cemara itu. Mereka terkejut ketika menemukan dua orang 259 lelaki dalam rimba itu. Seorang lelaki berumur 50-an tahun, memelihara rambut panjang sampai ke bahu. Mengenakan pakaian pertapaan, bukan sebagai imam pun bukan sebagai orang biasa. Dia duduk bersila sambil memegang sebatang kebut pertapaan. Mulutnya kemak-kemit seperti tengah menghapal. Sedang yang seorang lagi, seorang tua bertubuh kurus tinggi. Mata ber-kilat2 tajam. Begitu melihat Siau-liong dan Mawar Putih muncul dia terkejut lalu tebarkan kipas Kim-kutsan atau kipas berkerangka emas. Selagi Siau-liong belum berdiri tegak, cepat orang tua itu menyerang dadanya dengan jurus Mengusir-angin-memburu-awan. Siau-liong ingat2 lupa orangtua itu. Dia seperti pernah bertemu tetapi entah dimana. Ia marah karena orang tua itu amat kasar. Cepat ia kerahkan tenaga-sakti Bu-kek-sin-kang kelengannya. Begitu kipas Kim-kut-san melayang, ia segera menyongsongnya. Rupanya orangtua itu menyadari bahaya. Secepat kedua tenaga beradu, ia terus menyurut mundur. Siau-Kong tak mau memburu melainkan membentaknya, Apakah kalian berdua ini kaki tangan suami isteri iblis itu?" Lelaki yang duduk bersila di tanah itu sejenak berpaling samping memandang ke arah Siau-liong dan Mawar Putih, lalu melanjutkan menghapal lagi. Sedangkan orang tua yang mencekal kipas Kim-kut-san tadi mengeliarkan matanya beberapa jenak lalu bertanya kepada Siau-liong, Apakah saudara bukan cousu dari partay Kaypang?" 260 Siau-liong mengamati kedua orang tua itu lagi dan

teringatlah ia bahwa mereka itu tokoh2 yang ikut hadir dalam pertemuan di puncak Ngo-siong-ngai dipimpin It Hang totiang. "Saudara dengan Iblis Penakluk dunia dan Dewi Neraka.... Belum orang tua itu selesai bertanya Siau-liong tertawa menukas, Aku dan paman berdua, satu kubu ialah tak mau hidup dalam dunia persilatan bersama kedua suami isteri iblis itu.... Serentak Siau-liong teringat akan sikap It Hang, Ti Gong taysu, Lam Leng lojin dan lain-lain orang terhadap dirinya tempo hari. Seketika meluaplah kemarahannya, Tetapi karena It Hang totiang dan lain-lain orang mencurigai diriku maka terpaksa aku bersama nona ini masuk sendiri ke dalam Lembah Semi.... Orangtua yang memegang kipas buru-buru menjurah memberi hormat, Lebih dulu kuwakili It Hang totiang dan beberapa saudara, menghaturkan maaf kepadamu. Sukalah saudara berlapang dada.... - sejenak berhenti, ia berkata pula, "Aku Cu Kong-leng yang oleh dunia persilatan digelari sebagai Im-yang-san (si Kipas tenaga Positip dan Negatip), berkat kepercayaan dari para sahabat himpunan Tong-thingpang, telah diangkat sebagai ketua dari perhimpunan itu.... Kemudian ia menunjuk kepada lelaki yang duduk bersemedhi di tanah, berkata lagi, Dan saudara itu adalah Tan Ih-hong, ketua perkumpulan Ji-tok-kau.... dia tengah mengobati lukanya dari gigitan binatang beracun!" Lelaki yang duduk bersila itu atau Tan Ih-hong tetap berkomat-kamit mulutnya. Ia tak menghiraukan orang. 261 Siau-liongpun tak mempedulikannya. Ia bertanya lagi kepada Cu Kong-leng, Apakah saudara ikut dalam rombongan It Hang totiang menyerbu ke Lembah Semi? Apakah saudara tahu dimana Toh-Hun-ki dan keempat Su-lo dari Kong-tongpay itu?" Ketua Tong-thing-pang itu menghela napas panjang, ujarnya, Kemarin setelah saudara dan Dewi Ular Ki Ih tinggalkan puncak Ngo-siong-nia. Harimau Iblis muncul kembali dan bertempur sengit lawan It Hang totiang dan kawan2. Kesudahannya ketua Go bi-pay Ki Ceng siansu dan Lam Leng lojin menderita luka parah. Karena terpaksa, kami be-ramai2 mengeroyoknya barulah pertempuran berimbang. Tetapi kalau perempuran itu berlangsung lama, kedua pihak pasti akan sama2 remuk. Untunglah si Naga Haram muncul.... "Engkau maksudkan Naga Haram dan gunung Kengsan itu?" Mawar Putih menyeletuk. Cu Kong-leng mengiakan. Mawar Putih menyeringai, Kabarnya Harimau Iblis dan Naga Haram itu sebenarnya dua orang bersaudara. Kalau dia muncul, kalian tentu celaka karena masakan dia takkan

msmbantu saudaranya si Harimau Iblis itu?" Cu Kong-leng tak kenal siapa Mawar Putih itu. Ia tak senang karena dara itu kasar nada bicaranya. Tetapi mengingat dara itu kawan Kong-sun Liong (Siau-liong), terpaksa ia mengangguk, Benar, tetapi kemunculan Naga Haram saat itu ternyata tak menyusahkan rombongan orang gagah. Bahkan dia malah menganjurkan supaya jangan memusuhi rombongan orang gagah. Setelah tukar bicara dengan gunakan ilmu Menyusup suara, mereka segera tinggalkan puncak gunung.... 262 Cu Kong-leng berhenti sejenak. Memandang kesekeliling penjuru lalu berkata pula, Setelah terjadi kehebohan dari saudara dan Ki ih lalu Harimau Iblis, para orang gagah yang hadir dipuncak Ngo-siong-nia itu hampir saja bubar. Untunglah It Hang teguh pendirian. Ia tetap berkeras hendak melakukan penyerbuan ke Lembah Semi,akhirnya para orang gagah 'menunjang keputusan ketua Bu-tong pay itu dan pada tengah malam mereka telah tiba diluar Lembah Semi.... Cu Kong-leng berhenti untuk menghela napas. Sesaat kemudian ia berkala pe-lahan2, Rombongan orang gagah dipecah menjadi dua kelompok yang akan masuk dari muka dan belakang lembah. Karena aku dan ketua Tiam-jong-pay yakni saudara Shin Bu-seng agak mengerti tentang ilmu Ngoheng, maka kami berdua ditempatkan secara terpisah dalam kedua kelompok itu. Aku termasuk dalam kelompok Ti Gong taysu, Kun-lun Sam-cu dan Tan Ih-hong yang masuk dari belakang lembah. Sedang ketua Tiam-jong-pay Shin Bu-seng ditempatkan pada kelompok kedua yang terdiri dari ketua Kaypang To Kiu-kong ketua Kong-tong-pay Toh Hun-ki dan It Hang totiang yang masuk dari sebelah muka.... Cu Kong-leng berhenti untuk menyelidiki kesan Siau-liong dan Mawar Putih. "Diputuskan pula bahwa pada kurang lebih pada pukul satu malam supaya kedua kelompok itu bertemu di dalam lembah. Jika sampai terjadi pencegatan oleh suami isteri iblis dan anak buahnya, supaya melepaskan anak panah yang berbunyi untuk memberi berita. Agar bisa cepat memberi bantuan.... Kembali ketua Tong-thing-pang itu berhenti sejenak lagi untuk menghela napas. 263 Rupanya Mawar Putih tak sabar, tegurnya, Ih, mengapa engkau begitu loyo? Apakah engkau dapat menutur dengan lancar?" Cu Kong-leng kerutkan dahi, ber-batuk2 lalu melanjutkan pula, setelah masuk dari belakang lembah, disepanjang jalan kami tak menemui suatu rintangan apa2. Karena aku agak faham tentang segala jenis alat perangkap. kelompok kami

dapat melewati beberapa persiapan musuh. Tetapi dikala hampir mencapai tengah lembah, ketua Siau-lim-si Ti Gong taysu karena tak hati2 secara tak sengaja telah menyentuh tombol sebuah perkakas rahasia.... '" Mawar Putih mendengus, Uh, lagi2 paderi tua itu!" Cu Kong-leng tertawa menyeringai, katanya, Untunglah saat itu Ti Gong taysu dan aku cepat2 dapat menghadapi perobahan. Sebelum terjerumus ke dalam perangkap, kami dapat menghindar Tetapi celakanya Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka segera mengetahui tentang kedatangan kami Segera terjadilah pertempuran seru.... Sesaat merenung, Cu Kong leng menyambung penuturannya lagi, Walaupun saat itu Iblis Penakluk dunia dan Dewi Neraka tak muncul, tetapi Soh-beng Ki-su dan nona pemilik lembah memimpin anak buahnya untuk menyerang. Karena faham akan keadaan tempat dan berjumlah lebih banyak pula karena.... Kembali Cu Kong-leng menghela napas lagi, lalu katanya, Kepandaian kami tak memadai untuk menghadapi ilmu setan mereka, maka tak berapa lama bertempur, kami telah tercerai berai. Aku dan saudara Tan Ih-hong terdesak mundur sampai ke dalam selat lembah sini. Sebelumnya kami telah melepaskan anak panah suitan, tetapi dari kelompok It Hang totiang, tak muncul barang seorang bala bantuanpun juga.... 264 "Toh Hun-ki dan keempat Su-lo itu sudah mati atau masih hidup!" teriak Mawar Putih tak sabar lagi. Cu Kong-leng memandang si dara dengan pandang tak mengerti, katanya, Sejak terdesak ke dalam selat ini, kami telah kehilangan hubungan dengan kawan2. Kami tak jelas lagi bagaimana keadaan mereka. Tetapi menurut hematku.... Untuk kesekian kali, Cu Kong-leng menghela napas lagi, Termasuk It Hang totiang, To Kiu kong, Shin Bu seng dan beberapa tokoh lain kemungkinan besar tentu mengalami nasib jelek!" Dalam pada itu diam-diam Cu Kong-leng heran mengapa Kongsun Liong dan dara yang dianggap liar itu, begitu memperhatikan sekali akan diri Toh Hun-ki dan keempat Su-lo dari partai Kong-tong-pay. Mawar Putih banting2 kaki lalu menegur Siau-liong, Bagaimana tindakan kita? Pergi atau mengobrak-abrik Lembah Semi?" Siau-liong juga kehilangan faham. Sesaat ia termangumangu. Cu Kong-leng batuk2, kemudian berkata, Bermula kami heran mengapa orang Lembah Semi tak mengejar kesitu. Tetapi setelah memeriksa keadaan tempat ini, barulah aku tersadar.... "Bagaimana?" tukas Mawar Putih pula. Cu Kong-leng tertawa masam, jawabnya, Tempat ini

merupakan tempat buntu. Meskipun aku faham akan ilmu 265 perkakas rahasia dan ilmu barisan, tetapi sungguh aku tak mengerti barisan mereka ini!" Siau-liong memandang kesekeliling penjuru. Memang benarlah. Karang2 yang memagari sekeliling tempat itu menjulang tinggi dengan landai sekali atau tegak lurus. Sukar untuk dipanjat. Pun andaikata dapat memanjat ke atas, dikuatirkan di atas karang itu sudah disiapkan alat atau barisan anak buah Lembah Semi. Hutan pohon siong itu berada ditengah2 tanah buntu. Rupanya memang dibuat oleh orang2 Lembah Semi. Karang2 tinggi itupun juga disempurnakan dangan lubang2 gua yang dilengkapi dengan perkakas rahasia dan barisan pendam. Tengah Siau-liong merenungkan keadaan tempat itu, tibatiba Mawar Putih menjerit kaget dan cepat bersembunyi di belakangnya seraya menunjuk ke arah Tan Ih-hong ketua perkumpulan Ji-tok-kau, Lihatlah, dia.... Ketika Siau-liong berpaling, tampak ketua Ji-tok-kau itu itu sedang menampar-namparkan kebud hud-tim. Dari kebud hud-tim itu menghambur bubuk putih yang halus. Sedang tangan kirinya mencekal seekor ular berbisa dan dimasukkan ke dalam mulutnya, kresss. Kepala ular itu remuk dikunyahnya terus ditelan ke dalam perut. Darah bercucuran dari mulut membaurkan bau anyir yang memuakkan sekali.... Tetapi ketua Ji-tok-kau atau perkumpulan Pemakan Racun, makan dengan lahapnya. Dikunyah ular beracun sepanjang setengah meter itu seperti orang makan kuweh untir2 atau baling2. Siau-liong, Mawar Putih dan Cu Kong-leng serasa diiris-iris hatinya karena ngeri.... 266 "Tan kaucu itu memang biasa makan ular beracun. Dia mendirikan perkumpulan Pemakan racun. Pengaruhnya besar sekali didaerah Selam. Cu Kong-leng menerangkan. Dalam beberapa saat Tan Ih-hong sudah memakan habis ular itu. Setelah mendehak dua kali sambil mengusap mulut ia berbangkit. "Kawanan ular berbisa itu sudah kutindak dengan jimat (tumbal). Tak mungkin mereka berani datang lagi. Tetapi kalau orang Lembah Semi yang mahir menguasai ular itu menyuruh binatang beracun itu menyerang lagi, akupun tak dapat berbuat apa2!" kata ketua perkumpulan Pemakan Ular itu. Ketua Pemakan-ular itu memelihara rambut panjang sampai kebahu. Wajahnya berwarna hijau kehitam-hitaman. Tentulah hal itu disebabkan karena gemar makan ular beracun. Pakaiannya betapa compang camping, kaki telanjang

dan kotor. Pertapa bukan. pengemispun tidak. Ketua Pemakan Ular itu tak menghiraukan Siau-liong dan Mawar Putih. Tetapi agaknya ia jeri juga terhadap kedua anak muda itu. Ia berjalan mengitar dan menuju ketempat Cu Kong-leng, serunya, Bagaimana? Apakah engkau sudah dapat menemukan jalan keluar dari lembah ini?" Karena ngeri melihat demonstrasi Tan Ih-hong makan ular beracun tadi, Mawar Putih masih gemetar dan bersembunyi di belakang Siau-liong. Saat itu sekali pun dalam gerumbul semak yang sedang diluar hutan pohon siong itu masih terdengar suara gemersik dari kawanan ular berbisa, tetapi mereka tak berani bergerak. Rupanya apa yang dikatakan katua Pemakan Ular itu memang benar. 267 "Barisan ini memang amat aneh sekali. Sampai saat ini aku belum dapat mengetahui namanya," sahut Cu Kong-leng ketua himpunan Tong-thing-pang itu. Mendengar itu marahlah Tan Ih-hong, bentaknya, Ho, engkau menipu aku! Aku sudah makan dan menundukkan kawanan ular beracun itu tetapi engkau tak mampu mengetahui barisan yang begitu sederhana! Uh, sampai dimanakah pengetahuanmu tentang ilmu barisan itu.... Ia berhenti sejenak lalu berkata lebih lanjut, Ketahuilah, sekalipun terkurung disini sampai 28 tahun pun takkan kelaparan mati." Aku dapat makan ular. Tetapi bagaimana dengan kalian? Bukankah kalau tak makan setengah bulan saja kalian tentu sudah tak kuat? Apalagi kawanan ular berbisa itu.... Ia melirik ke arah Siau-liong dengan pandang yang jeri lalu tak melanjutkan kata2nya. Cu Kong-leng tertawa dingin, Sama sekali aku tak menipu saudara supaya mengusir ular beracun itu. Harap tahu bahwa meskipun untuk saat ini aku belum dapat mengetahui barisan mereka tetapi sedikit telah kuselami gerak perobahannya. Mungkin tak lama lagi tentu sudah kuketahui rahasia barisan mereka itu. Sekalipun saudara dapat hidup dengan makan ular beracun tetapi tempat ini penuh dengan alat rahasia pembawa maut. Benar memang kedua suami isteri iblis itu tak mengejar kesini tetapi jika tak kutunjukkan jalaninya, sekali salah langkah tentu akan tertimpah bahaya maut!" Agaknya ketua perkumpulan Pemakan Ular itu memang singkat sekali pikirannya. Mendengar bantahan Cu Kong-leng, ia menjadi bungkam. 268 Kemudian Cu Kong-leng menunjuk kesekeliling penjuru dan berkata kepada Siau-liong, Sekalipun pengetahuanku picik, tetapi aku pernah meyakinkan sampai berpuluh tahun tentang

ilmu perkakas rahasia dan barisan. Dalam 200 macam barisan yang pernah kupelajari, tak ada satupun yang sama dengan barisan itu!" Menurut arah yang ditunjuk Cu Kong-leng, Siau-liong melihat deretan karang tinggi itu seperti menyerupai bentuk delapan tanduk runcing. Berkata Cu Kong-leng pula, Jika menurutkan keadaan alam, jelas barisan mereka mengandung unsur perobahan Patkwakiu-kong. Tetapi.... Ia menunjuk ke arah gua2 yang besar kecil dan tinggi rendah pada kaki karang itu, lalu berkata pula, Yang tak kumengerti ialah tentang ke 7 buah gua yang tersebar diempat penjuru itu. Yang 6 buah, jelas gua alam. Tetapi yang satu tentu dibuat orang.... ia berhenti dan merenung. "Kabarnya suami isteri iblis itu mahir menggunakan tipu siasat untuk menjebak orang. Mungkin tempat ini tiada terdapat perkakas rahasianya. Mereka memang sengaja membuat lubang gua untuk menimbulkan kecurigaan orang!" kata Siau-liong yang tak sabar menunggu. Tetapi ketua Tong-thing-pang itu gelengkan kepala, Tempat itu amat berbahaya dan merupakan ciptaan alam yang menyerupai bentuk barisan Pat-kwa-tin. Sudah tentu kedua iblis itu takkan menyia-nyiakannya. Kalau tak percaya, cobalah saudara cari jalan yang saudara lalui ketika datang kesini tadi. Apakah saudara mampu menemukannya lagi atau tidak!" 269 Siau-liong terkejut. Cepat ia melakukan perintah itu. Ah, memang keadaan empat penjuru hampir sama. Dan belasan batang pohon siong yang tumbuh ditengah hutan itupun hampir sama semua sehingga sukar menemukan dari jalan mana tadi ia masuk kesitu. Bukan kepalang kejut Siau-liong. Kedatangannya kehutan situ adalah untuk mencari tempat bersembunyi. Setelah memulangkan tenaga, ia hendak keluar untuk menempur kedua suami isteri iblis itu lagi. Lalu mencari Toh Hun-ki dan keempat Su-lo. Maka bermula ia tak menghiraukan Cu Kongleng yang sedang mempelajari keadaan tempat situ. Tetapi setelah melakukan apa yang dikatakan Cu Kong-leng tadi, gelisahlah ia. Benar-benar ia tak mampu menemukan jalan yang ia masuki tadi. "Jika barisan Pat-kwa digabung dengan robahan barisan Bintang-tujuh, benar-benar sebuah barisan yang luar biasa hebatnya. Sejak dahulu belum pernah orang melakukan hal itu. Mengingat Iblis Penakluk dunia dan Dewi Neraka itu memiliki kecerdasan yang hebat, tidak mustahil kalau mereka dapat menyatukan kedua bentuk barisan itu. Kecuali.... Plak, tiba-tiba ketua Tong-thing-pang itu menampar pipinya sendiri, Benar! Ah, tentu bukan ciptaan kedua iblis itu sendiri.

Orang yang menciptakan barisan itu, karena berani memaksa nyalahi perhitungan alam, tentulah sudah mati dalam barisan!" Siau-liong dan Mawar Putih setengah mengerti setengah tidak. Tetapi melihat sikap ketua Tong Thing-pang itu, terang kalau dia benar-benar memeras otak. Saat itu agaknya Cu Kong-leng sudah menemukan titik2 terang. Segera ia melangkah maju kehadapan Siau-liong, Jika orang yang meciptakan barisan itu tidak dibunuh kedua suami isteri iblis, dia adalah seorang ahli pikir yang cemerlang sekali. 270 Tetapi kemungkinan besar, orang itu tentu sudah mati dalam barisan yang diciptakannya itu sendiri.... Ia menghela napas, katanya pula, Karena ia menciptakan barisan ini terlampau ganas, dalam ke 7 lubang barisan itu sama sekali tidak diberi pintu hidup. Oleh karenanya, sekalipun ia mampu balik keluar dari barisan, tentu juga akan mendapat kutukan.... Siau-liong hanya menganggukkan kepala. Penilaian saudara memang tepat," kata Siau-liong, tetapi tentulah ada sebab lain mengapa orang itu mau menciptakan barisan semacam ini!" "Maksudmu?.... Siau-liong tertawa, Orang itu tentu sudah linglung atau memang sudah gila!" Tiba-tiba ketua Tong-thing-pang itu bertepuk tangan, Bagus, Pendapat saudara memang hebat. Memang orang linglung atau gila sering menonjolkan kepandaiannya. Menilik ciptaan yang begitu ganasnya, memang hanya seorang gila yang dapat melakukannya. Tetapi.... ia menunduk berpikir lagi. Beberapa saat kemudian ia berkata, Tokoh2 yang ahli dalam ilmu barisan dan alat-alat rahasia, sebagian besar aku tahu. Tetapi aneh, mengapa aku tak dapat menemukan siapakah pencipta barisan itu?" Tan Ih-hong mondar-mandir mendukung tangan. Tiba-tiba ia menarik tubuh Cu Kong-leng, serunya, Kawanan ular berbisa itu dalam waktu sejam lagi tentu akan liar kembali. Lekaslah cari jalan keluar!" 271 Cu Kong-leng geleng2 kepala, Tempat ini merupakan tanah mati. Sama sekali tiada jalan keluar.... Namun ketua Tong-thing-pang itu tetap membuat penilaian. Tiba-tiba ia menunjuk sebuah gua yang paling besar, serunya, Jika terpaksa, kita hanya dapat menggunakan jalan ini untuk keluar. Tetapi adakah gua itu menembus keluar atau masih dalam bagian lembah, aku tak berani memastikan. Pula mungkin di dalam gua terdapat banyak ular dan serangga berbisa....

Jangan kuatir, serahkan kawanan binatang beracun itu padaku!" seru ketua Pemakan Ular. Cu Kong-leng tertawa, Kecuali binatang beracun, mungkin masih terdapat bahaya air dan api serta lubang2 jebakan yang tak dapat kita duga-duga. Jika hanya seorang saja, kemungkinan tentu binasa.... Semua ancaman alat rahasia dan lain-lain perangkap, menjadi tanggunganmu!" teriak Tan Ih-hong. Kemudian Cu Kong-leng menanyakan pendapat Siau-liong. Pemuda itu memandang sejenak kepada Mawar Putih lalu menjawab, Dari pada disini menunggu kematian, lebih baik kita coba2 menempuh bahaya!" Baru Siau-liong berkata begitu, tiba-tiba terdengar suara orang bersuit pelahan. Sudah tentu sekalian orang terperanjat. Suitan itu seperti bunyi seruling tetapi pun mirip dengan batang pohon yang berderak-derak tertiup angin. Menyusul dengan itu, karang yang mengelilingi empat penjuru, menghambur kabut tipis. Dibawa kesiur angin, kabut itu makin lama makin tebal dan pelahan-lahan mengumpul 272 ditengah. Saat itu alam disekeliling penjuru tampak meremang tak jelas lagi. Suara suitan itupun kedengaranya makin rendah nadanya sehingga sukar diketahui berasal dari benda apa. Suaranya mirip dengan kawanan setan yang merintih-rintih ditengah malam. Suasana dalam hutan ditengah tanah lapang buntu itu makin terasa seram. Seketika berobahlah wajah Cu Kong-leng ujarnya, Rapanya barisan mereka sudah mulai bergerak. Harap saudara sekalian mengikuti aku, jangan bergerak sendiri!" Tiba-tiba Tan Ih-hong berteriak, Awas! Kawanan ular berbisa itu mulai menyerang lagi!" Memang benar. Dari sekeliling penjuru hutan, ribuan ular dan binatang berbisa serempak merayap datang. Sambil gerakkan kebut hudtimnya kekanan kiri, Tan Ih-hong membaca doa. Tetapi rupanya kawanan binatang beracun itu telah mendapat tekanan dari ilmu sihir yang lebih kuat. Mereka tak mengacuhkan Tan Ih-hong dan terus menyerbu. Karena kebudnya tak memberi hasil, Tan Ih hong bingung juga. Tiba-tiba ia menyambar seekor ular besar terus digigit kepalanya. Setelah meminum darah ular itu, ia segera menyemburkan kesekeliling penjuru. Serangan istimewa itu memaksa kawanan binatang beracun tak berani maju lagi. Tetapi mereka tetap bergeliatan disekeliling hutan. 273

Dalam pada itu kabutpun makin tebal sehingga mata sukar memandang kemuka. Dan yang lebih mengejutkan. Tiba-tiba belasan batang pohon siong bergetaran! Makin lama makin keras seperti terjadi gempa bumi. Keempat orang itu seperti berada dalam perahu yang tengah diamuk badai. Kepala mereka pening, mata berkunang2.... Cu Kong-leng berseru gugup, Tempat ini merupakan poros tengah barisan. Jika terjadi suatu perobahan, semua benda disini tenju hancur ludas. Lekas ikut aku!" Kembali Tan Ih-hong mencengkeram seekor ular besar lalu digigit kepalanya. Setelah itu ia semburkan darah ular tadi ke arah yang ditunjukkan Cu Kong-leng. Kawanan binatang berbisa yang berada ditempat itu segera menyingkir memberi jalan. Cu Kong-leng berjalan lebih dulu, ketiga orang lainnya mengikut dibelakangnya. Beberapa kali Cu Kong-leng berhenti untuk membuat penyelidikan. Dengan begitu jalannya amat pelahan sekali. Untunglah selama itu Tan Ih-hong dapat menggigit mati 7-8 ekor ular besar dan setiap kali tentu menyemburkan darah ular itu untuk membuka jalan. Dengan demikian amanlah perjalanan mereka. Kira2 sepenanak nasi lamanya. tiba-tiba Cu Kong-leng berseru, Sudah sampai!" "Sampai dimana?" Tan Ih-hong bertanya penuh ketegangan. Cu Kong-leng tertawa hambar, Tiada nama yang lebih tepat untuk tempat itu kecuali kita sebut sebagai Pintu Akhirat," 274 Ketika Siau-liong mengawasi kemuka, ternyata yang disebut Pintu Akhirat oleh ketua Tong-thing-pang itu adalah gua paling besar yang tadi ditunjuk oleh Tan Ih-hong. Gua itu setinggi satu tombak, lebar empat-lima meter. Disebelah dalam hitam pekat tak tampak suatu apa. Sepintas pandang gua itu seperti buatan alam. Gerumbul rumput alang2 yang tumbuh di pintu gua, hampir setinggi orang. Sarang labah2 dan galagasi memenuhi lubang pintu. Memberi kesan bahwa gua itu tak pernah dikunjungi manusia. Siau-liong memandang lekat kepada Cu Kong-leng. Diamdiam pemuda itu muiai meragukan keterangan Cu Kong-leng. Sedang Tan Ih-hong pun melongok ke dalam gua lalu melengking, Hm, jelas sebuah gua yang tak pernah diinjak manusia mengapa engkau katakan sebagai jalan keluar?" "Mataku belum rabun. Kuyakin takkan salah lihat!" jawab Cu Kong-leng. Tan Ih-hong tak membantah tetapi pun tak berani gegabah masuk. Saat itu kabut tebal sudah merata menyelimuti hutan siong. Hanya suara bergetaran tadi sudah berhenti.

Setelah memasang pendengaran, berkatalah Cu Kong-leng, Jika penilaianku tak salah. Gua ini setengahnya memang ciptaan alam tapi setengahnya juga dibuat manusia. Kupercaya gerak-gerik kita ini tentu sudah diawasi musuh." Bagaimana engkau tahu?" seru Tan Ih-hong kurang puas. 275 "Tadi barisan itu jelas sudah bergerak. Jika kita masih berada dalam hutan, tentu sudah mati ditangan mereka.... kata Cu Kong-leng, "bahwa kemudian barisan itu berhenti, menandakan kalau mereka mengetahui bahwa kita sudah tinggalkan hutan itu!" Kemudian sambil menunjuk ke dalam gua, ketua Tongthingpang itu berkata pula, Walaupun kuyakin gua itu merupakan satu-satunya jalan keluar. Tetapi aku tak berani memastikan adakah kita nanti mampu keluar dengan selamat atau tidak. Karena dalam gua itu tentu penuh bahaya maut!" Karena tak mengerti ilmu barisan dan ilmu segala macam alat rahasia, Siau-liong diam saja.... Demikian pun dengan Mawar Putih. Cu Kong-leng melangkah masuk ke dalam gua. Beberapa langkah kemudian, ia berseru memanggil ketiga orang itu supaya lekas masuk juga. Keiika Siau-liong bertiga masuk, ternyata gua itu merupakan sebuah terowongan alam. Tetapi bagian lantai dan langit2 serta dinding gua terdapat bekas2 dibuat manusia. Kembali Cu Kong-leng menyatakan keyakinannya bahwa gua itu pasti merupakan satu2nya jalan keluar. Tetapi ia masih belum mengetahui alat rahasia apa saja yang dipasang dalam gua itu. Mereka melanjutkan langkah. Makin ke dalam lorong gua itu makin sempit. Juga sinar penerangannya, makin gelap. Jika mereka berempat tak memiliki ilmu silat tinggi, pasti tak mampu melihat keadaan disekeliling. Kira2 sepuluh tombak jauhnya, tibalah mereka di ujung gua. Setelah menyelidiki kian kemari, akhirnya Cu Kong-leng 276 menunjuk pada sebuah batu hijau yang menonjol di sebelah kiri, Itulah alat penggerak pesawat rahasia.... Tampak ketua Tong-thing-pang itu yakin akan penemuannya. Setelah memandang bergantian pada Siauliong, Mawar Putih dan Tan Ih-hong, ia berkata pula, jika memutar aiat itu, akan terjadi dua kemungkinan. Kesatu, akan terbuka sebuah jalan hidup. Dan yang kedua akan terjadi suatu perobahan yang tak terduga-duga.... "Serangan ular dan binatang berbisa?" tanya Tan Ih-hong. Cu Kong-leng gelengkan kepala, Sukar dipastikan. Semburan api mungkin bencana air atau mungkin pula letusan gunung dan mungkin kita akan terperosok ke dalam lubang

penjara tanah!" Tan Ih-hong terkejut, Apakah tak ada lain pesawat penggerak lagi?" Pun Mawar Putih mendesak juga supaya Cu Kong-leng memeriksa lagi lebih cermat. Ketua Tong-thing-pang itu menurut. Ia menyelidiki sekitar tempat itu dengan seksama. Tapi tetap tak menemukan suatu apa. Ah tak ada lain kecuali yang itu!" katanya. Siau liong tak dapat berkata apa2. Demikian pun Mawar Putih dan Tan Ih-hong. "Kita akan menurut saja apa yang dikatakan saudara Kongsun Liong," kata Cu Kong-leng seraya memandang Siauliong. 277 Karena hal itu menyangkut keselamatan jiwa mereka berempat, Siau-liong tak berani gegabah mengambil keputusan. Sesaat ia memandang wajah Mawar Putih tetapi dara itupun tak punya pendapat apa2. Ia tertegun diam. "Saat ini musuh sudah mengamati gerak-gerik kita. Sekalipun kita diam saja disini, mereka tetap menyerang. Daripada mati konyol, lebih baik kita putar alat itu. Untunguntunganlah, mungkin bencana mungkin kebebasan!" akhirnya Cu Kong-leng menyetujui. Karena Mawar Putih diam saja dan ketua Pemakan Ular itu juga hanya celingak-celinguk, akhirnya Siau-liong menyetujui. Cu Kong-leng mulai mengangkat tangan kanannya. Tangannya agak gemetar, butir2 keringat mengucur dari dahinya. Hatinya tegang sekali. Tiba-tiba ketua Pemakan Ular Tan Ih-hong mendesah pelahan lalu menarik jubahnya yang penuh tambalan itu ke atas untuk menutup mukanya. Dalam pada itu tangan Cu Kong-leng makin menggigil keras. Setelah berhenti sejenak, akhirnya ia menjamah batu hijau dan menekannya. Batu marmar hijau itu hanya sebesar mangkuk, Sekali ditekan terus menyurut masuk. Keempat orang itu menahan napas untuk menunggu apa yang akan terjadi. Tiba-tiba terdengar suara bergetar dahsyat sehingga tanah dalam gua itu bergoncangan. Mawar Putih menjerit terus memeluk dada Siau-liong. Dalam keadaan yang sedemikian tegangnya, dara itu lupa akan segala susila dan rasa malu. 278 Tetapi sampai beberapa saat, belum terjadi sesuatu. Goncangan itupun makin reda. Rupanya berasal dari luar gua. Setelah itu terdengar suara berderak-derak. Ah, dinding gua sebelah muka tiba-tiba merekah dan terbuka sebuah jalan lebar.

Cu Kong-leng menghela napas longgar dan berseru gembira, Hola, bahaya telah lalu. Hayo kita keluar " Mawar Putih lepaskan pelukannya.... Dengan wajah tersipusipu merah ia memandang Siau-liong lalu berputar tubuh. Tan Ih-hong pun membuka tutup mukanya lalu cepat2 mengikuti langkah Cu Kong-leng. Cu Kong-leng melangkah dengan hati2 sekali. Siau-liong cepat menarik Mawar Putih diajak mengikuti orang she Cu itu. Lorong jalan itu makin lama makin lebar dan terang. Kira2 tiga tombak jauhnya, merupakan sebuah gua besar menyerupai sebuah ruangan di bawah tanah. Setelah memandang kesekeliling Cu Kong-leng berkata, Penilaianku tadi banyak yang meleset. Pencipta barisan itu ternyata bukan orang ganas karena masih memberi jalan hidup.... Tampaknya Cu Kong-leng amat gembira. Kipas disusupkan kepunggung lagi lalu me-ngurut2 jenggot. katanya pula, Kini aku pun sudah jelas akan bentuk barisan ini. Tak lain hanya gabungan antara barisan Pat-kwa dan Thay-kek. Sama sekali bukan seperti yang kukatakan tadi ialah barisan Tujuhmaut.... 279 Sambil menunjuk pada kedua samping dinding gua, ia menerangkan bahwa asal tidak menyentuh dinding itu, barisan tentu takkan bergerak. Lalu ia menghampiri kemuka dinding gua dan menunjuk sebuah batu menonjol sebear telur, serunya, Inilah alat pembuka dari jalan ke luar!" Dengan wajah berseri tawa, ia segera menekan batu itu. Siau-liong dan Tan Ih-hong sudah mulai menaruh kepercayaan kepada Cu Kong-leng Mereka merasa lega. Setelah batu ditekan, dari bawah tanah terdengar suara macam kerbau menguak. Sambil tersenyum simpul, Cu Kongleng berpaling" "Suara itu berasal dari pergantian antara Patkwa dengan Thay-kek. Begitu peralihan tempat itu selesai, pintu keluar tentu akan terbuka.... Baru ia berkata begitu, se-konyong2 terjadi ledakan dahsyat. Kedua dinding gua ber-derak2 merekah. Batu2 berguguran seperti hujan mencurah sehingga keempat orang itu tak dapat berdiri tegak. "Barisan Tujuh Maut.... serentak Cu Kong-leng menjerit keras. Tetapi ia tak dapat melanjutkan kata2nya karena saat itu dari kedua samping dinding gua yang pecah itu, gelombang air bah melanda dahsyat, Siau-liong berempat pontangpanting tak dapat berdiri tegak. Beberapa kali Siau-liong berusaha untuk mempertahankan keseimbangan tubuh tetapi selalu gagal. Air bah yang membawa pecahan batu melandanya hebat sekali sehingga ia hampir pingsan. Samar2 ia masih mendengar Mawar Putih menjerit memanggilnya, Siau.... liong.... Siau.... liong....

280 Tetapi jeritan dara itu lenyap ditelan gelombang air bah yang mengamuk dahsyat. Tak mungkin Siau-liong dapat mendekati Mawar Putih. Yang terdengar tak lain suara teriakan Cu Kong-leng yang masih me-mekik2 seperti orang gila, Barisan Tujuh Maut.... pintu celaka.... air bah.... Jeritan ketua Tong-thing-pang itu terputus oleh sebuah ledakan yang dahsyat lagi. Tanah ruang gua itu segera amblong ke bawah. Keempat orang itu laksana orang yang terlempar ke bawah jurang. Siau-liong yang memiliki tenaga sakti hebat, tetap tak mampu berbuat apa2. Siau-liong merasa bahwa dirinya pasti mati dalam barisan Tujuhy Maut itu. Dari ketinggian 20-an tombak, ia dihempaskan oleh gelombang air terjun. Ia rasakan sendi tulangnya seperti remuk dan pada lain saat ia tak ingat apa2 lagi.... Entah selang berapa lama ia dalam keadaan pingsan itu. Hanya ketika ia membuka mata ia sasakan tulang belulangnya seperti pecah dan tenaganya lenyap sehingga tak kuat untuk mengangkat tangannya. Otaknya masih ber-binar2 sehingga tak dapat mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya. Ia pun tak tahu dimanakah saat itu ia berada. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba ia mendengar langkah kaki orang berjalan mendatangi. Ia terkejut. Cepat ia loncat bangun. Uh.... kaki dan tangannya serasa tak bertulang lagi. Ia meronta dan berusaha untuk menggeliat bangun namun tetap sia2. Pada lain saat ia merasa dahinya telah di-elus2 oleh sebuah tangan yang halus. Sebuah helaan napas ringan terdengar dan 281 hidung Siau-liong serentak terbaur oleh bau yang harum semerbak. Dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk merentang sepasang mata memandang kemuka. Tetapi pandang matanya masih ber-kunang2, tak dapat melihat jelas kecuali hanya sesosok bayangan beraneka bunga. Tak berapa lama, derap langkah kaki orang tadi kedengaran pula. Jelas yang datang itu tentu bukan seorang saja. Tangan halus itu kembali menjamah keningnya dan terdengarlah suara yang lemah-lembut, Hatilah engkau mengangkatnya bangun!" Siau-liong rasakan punggungnya diangkat oleh dua lengan yang halus untuk didudukkan. Karena masih lemah tenaga dan pikirannya. Siau-liong membiarkan saja dirinya diangkat itu. Kemudian mulutnya seperti dingangakan tangan orang lalu

dimasuki sebutir pil. Mau tak mau Siau-liong menelan pil itu juga. "Hati2lah merawatnya! Jika sudah sadar, panggillah aku," kata orang yang berkata tadi. Siau-liong dibaringkan lagi di atas ranjang. Terdengar langkah orang meninggalkan ruang itu. Beberapa kali orang itu berhenti. Agaknya seperti tak tega meninggalkan Siauliong. Pil itu memancarkan aliran tenaga keseluruh tubuh Siauliong sehingga ia merasa semangat dan tenaganya pulih kembali. Cepat ia mengambil napas dan menyalurkan tenagaTiraikasih Website http://kangzusi.com/ 282 murni. Berkat memiliki dasar tenaga dalam yang kokoh, tak berapa lama tenaga dalamnya sudah pulang kembali. Segera ia hentikan penyaluran tenaga dalam lalu membuka mata. Ah.... kiranya dirinya saat itu berada dalam sebuah ruang tidur yang indah dan berbaring di atas sebuah ranjang yang harum baunya. Kamar tidur itu tentu milik seorang gadis. Ia terkejut sekali. Ia heran mengapa diriny, tiba-tiba berada disitu. Buru-buru ia tenangkan perasaannya untuk mengenang kembali apa yang telah dialaminya. Akhirnya berhasillah ia mengingat semua peristiwa. Diam-diam ia menggigit lidahnya sendiri sehingg| kesadaran pikirannya bertambab terang. Ah, ternyata ia belum mati. Tetapi serempak itu, pikirannya kacau tak karuan, hatinya amat cemas sekali. Dimanakah gerangan dua orang itu? Kegelisahan Siau-liong itu selain karena hubungannya dengan Mawar Putih yang makin erat, pun juga karena ia memerlukan sekali tenaga dara itu. Jika Mawar Putih sampai mati, bukankah selamanya ia bakal tak bertemu dengan ibu kandungnya Dewi Ular Ki Ih? Cepat2 ia memeriksa pakaiannya. Ah, ternyata perlengkapan untuk menyaru menjadi Pendekar Laknat masih berada di dalam baju. Demikianpun separoh Giok-pwe yang diberikan Toh Hun-ki itu, juga masih ada. Setelah menenangkan diri, Siau-liong lalu loncat bangun. Ruangan itu sunyi senyap. Dibawah ranjang terdapat dua orang pelayan perempuan duduk bersila. Begitu melihat SiauTiraikasih Website http://kangzusi.com/ 283 liong loncat turun dari ranjang, kedua bujang gadis itu terkejut. Mereka tersipu-sipu menyongsong. Siau-liong tetap tak tahu dimanakah tempat beradanya saat itu. Tetapi ia duga tentulah dirinya ditolong oleh pemilik ruang tidur itu. Melihat. kedua bujang itu menghampiri, Siau-liong segera memberi hormat, Entah siapakah yang telah menolong diriku?"

Kedua bujang dara itu baru berumur 1516 tahun. Rambutnya dikuncir, mengenakan baju dan celana hijau daun. Pinggangnya bersabuk sutera hijau gelap. Kedua bujang dara itu tertawa dan serempak berseru, Sudah tentu nona majikan kami!" Siau-liong terbeliak, Apakah nonamu itu.... "Nanti engkau tentu tahu sendiri!" tukas salah seorang gadis pelayan. Siau-liong tak mau bertanya lebih jauh. Ia lebih memikirkan keselamatan Mawar Putih dan kedua orang itu. Maka ditanyakanlah hal itu kepada kedua gadis pelayan. "Tolol! Perlu apa nona kami menolong lain orang? Yang penting hanya menolong engkau!" kedua gadis pelayan itu tertawa mengikik. Diam-diam Siau-liong terkejut. Tentulah Mawar Putih dan kedua orang itu mengalami bahaya. Salah seorang gadis pelayan itu segera mengajak kawannya keluar. Tak berapa lama mereka mengiring seorang 284 nona yang mengenakan pakaian merah menyala. Dandanannya amat mewah, tak ubah seperti puteri istana. Ketika Siau-liong mengawasi dengan seksama, ia terbeliak kaget. Nona baju merah itu bukan lain adalah gadis pemilik Lembah Semi atau puteri tunggal dari suami isteri Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka. Waktu melihat Siau-liong sudah berdiri didepan ranjang, nona itu tertawa gembira, serunya, Eh, engkau masih harus beristirahat dulu, mengapa turun dari tempat tidur?" Diam-diam Siau-liong kerahkan tenaga dalam siap akan dihantamkan. Nona itu terkejut. Tetapi pada lain saat ia tertawa, Eh, engkau ini bagaimana? Dengan maksud baik kuselamatkan jiwamu, mengapa engkau memandangku begitu menyeramkan? Apakah.... ah, aku memang tolol," nona itu menepuk-nepuk dahinya sendiri, "mungkin pikiranmu masih goncang akibat barisan Tujuh Maut itu. Tetapi jangan kuatir. Engkau sekarang sudah selamat dan tak ada orang yang berani menganggumu disini.... Nona itu maju selangkah dan bertanyakan nama Siau-liong. Siau-liong hendak meledak kemarahannya. Untunglah saat itu ia menyadari bahwa dirinya bukan lagi sebagai Pendekar Laknat. Seharusnya ia bersikap seperti tak kenal dengan nona itu. Begitu pula ia harus menyadari kedudukannya saat itu. Mawar Putih belum ketahuan nasibnya. Kalau andaikata masih hidup tentulah menjadi tawanan orang Lembah Semi. Demikian pula dengan rombongan orang gagah yang dipimpin It Hang to-tiang. Mereka belum diketahui nasibnya! Mengingat akan nasib mereka, seketika Siau-liong merasa beban yang dipikulnya makin berat. Bukan saja melaksanakan dendam terhadap Toh Hun-ki dan keempat Su-lo, merehabilitir

285 nama baik mendiang Pendekar Laknat, mencari ibunya. Pun sekarang tambah lagi dengan tugas untuk membasmi Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka demi menyelamatkan dunia persilatan. Timbullah serentak pikiran Siau liong. Ia harus menggunakan siasat untuk pura-pura bersikap baik terhadap nona pemilik lembah itu. Pe-lahan2 ia akan menunggu kesempatan untuk bertindak. Melihat pemuda itu termenung-menung, nona itu menafsirkan Siau-liong tentu masih belum hilang kegoncangan hatinya akibat malapetaka barisan Tujuh Maut. Ia maju dua langkah lagi, mendorong Siau-liong, Eh, mengapa engkau ini? Apakah masih gentar?" Siau-liong terkejut. Buru-buru ia menyurut selangkah ke belakang, Ah.... no.... na.... Nona pemilik lembah itu tertawa mengikik, tanyanya pula, Siapakah namamu?" "Kongsun Liong!" Dengan mata memancar asmara, nona itu memandang lekat, ujarnya, Ih. engkau benar-benar seperti seekor naga.... naga yang indah." Tiba-tiba nona itu tempelkan lengannya ke bahu Siau-liong Pemuda itu terkejut dan mundur selangkah lagi dengan wajah kemerah-merahan. 286 "Eh. engkau malu2?" nona itu tertawa. Ia terus berpaiing dan menyuruh bujang kedua pergi. Setelah itu ia menarik lengan baju Siau-liong, Mari kita duduk bercakap-cakap." Siau-liong terpaksa menurut saja. Tahukah engkau siapa namaku?" tanya nona itu dengan memandang lekat. Siau-liong paksakan tertawa, Justeru itu yang hendak kutanyakan." Nona itu cibirkan bibirnya tertawa, Namaku Po Ceng-in, pemilik Lembah Semi ini. Lembah Semi ini pemberian dari ayah bundaku. Mereka berdua jarang datang kemari!" Siau-liong hanya mengangguk saja. "Karena aku suka memakai warna merah, ayah bundaku senang memanggilku Siau-hong kata nona itu dengan sikap manja lalu mendekat dan tempelkan tangannya ke bahu Siauliong, Jika engkau suka, panggillah aku Siau-hong saja.... "Hm, baiklah!" sahut Siau-liong terpaksa. Sambil kicupkan ekor matanya dengan tingkah yang genit, nona itu mendesak, Nah, panggillah aku ia terus rapatkan tubuh ke tubuh Siau-liong. Karena dua kali didesak, Siau-liong terdesak ketepi ranjang dan tak dapat menghindar lagi. Untuk serentak berdiri, ia sungkan. Bingung saat itu hatinya. Sebesar itu, belum pernah

ia duduk merapat begitu rupa dengan seorang gadis. Wajah Siau-liong merah padam, mulutnya serasa terkancing tak dapat berkata apa2. 287 Diluar dugaan sikap malu dari Siau-liong itu malah makin menimbulkan nafsu si nona lebih berkobar. Panggillah.... desaknya dengan pandang penuh asmara. "Siau.... nona Siau-hong.... akhirnya Siau-liong paksakan diri memanggil. Nona itu tertawa mengikik. "Siau-hong cukup Siau-hong saja, tak perlu pakai nona. Mengapa nadamu begitu janggal?" Sejenak ia keliarkan ekor matanya yang genit lalu menanyakan umur Siau-liong. "Tujuh belas tahun!" sahut Siau-liong. "Ih, sebaya dengan aku.... tiba-tiba nona itu merah mukanya dan tak melanjutkan berkata lagi. Diam-diam Siau-liong gelisah. Ia kuatir nona itu akan tanya ini itu sehingga tiba pada pertanyaan yang ia tak dapat menjawab. Terlintas pada diri Mawar Putih, cepat ia alihkan pembicaraan. "Boleh kuketahui bagaimana. nona telah menolong jiwaku?" tanyanya. "Sebenarnya bukan menolong dalam arti yang sesungguhnya. Lebih tepat kalau meminta dirimu dari tangan ayahku!" Karena tak leluasa untuk langsung menanyakan diri Mawar Putih, maka Siau-liong bertanya dengan cara memutar, Selain diriku, siapa lagi yang nona tolong!" 288 Nona itu tertawa mengikik, Cukup engkau seorang saja. Aku tak peduli lain orang!" Karena tak berhasil menanyakan diri Mawar Putih, maka Siau-liong, bertanya pula, Selain aku masih ada beberapa orang yang terjerumus dalam barisan itu. Entah bagaimana mereka sekarang ini.... Nona itu mendengus hambar, Hm, dalam sehari semalam itu telah tertangkap empat lima puluh orang. Siapakah yang engkau tanyakan itu?" Terpaksa Siau-liong menerangkan juga. "Yang seorang adalah Cu Kong-leng ketua Tong-thing-pang, seorang Tan Ihhong ketua Pemakan ular dan masih ada lagi seorang gadis bernama.... Seketika berobahlah wajah nona pemilik lembah, tukasnya, Mengapa engkau begitu menaruh perhatian kepada mereka?" Ditatapnya wajah Siau-liong lekat2 lalu bertanya pula, Apakah engkau datang bersama anak perempuan itu? kalian....

"Aku hanya berjumpa ditengah jalan. Sebelum itu tak kenal mengenal!" buru-buru Siau-liong menukas. Nona pemilik lembah itu mengangguk puas. Namun wajahnya tetap dingin, ujarnya, Sekali pun gadis dengan kedua ketua perkumpulan itu tidak mati tetapi mereka dijebloskan ayah ke Lembah Maut. Barang siapa tak mau menjadi anak buah ayah, tentu akan mengalami nasib begitu!" 289 Mendapat keterangan itu agak legalah hati Siau-liong. Asal Mawar Putih belum meninggal, ia masih mempunyai harapan untuk menolong. Kembali mata nona pemilik lembah itu berkilat!, serunya, Karena sekarang kita bertemu tentulah dalam penitisan dahulu kita memang berjodoh. Asal engkau tak memusuhi orang tuaku, kita tentu dapat.... Sekalipun nona itu seorang gadis yang cabul dan tak punya malu, tetapi pada saat mengucap soal2 perkawinan, agaknya masih kikuk juga. Kembali ia memberi kicupan mata kepada Siau-liong lalu berkata dengan nada gembira, Dewasa ini ayah-ibuku sudah merajai dunia persilatan. Hari depan kita tentu penuh kesenangan. Tak ada seorang manusia dalam dunia yang berani mengganggu kita!" Siau-liong tak leluasa menjawab tetapi hatinya amat muak. Pada saat yang sulit itu, tiba-tiba terdengar suara langkah orang berhenti didepan pintu. Setelah batuk2, orang itu berseru, Nona, nyonya besar datang!" Siau-liong terkejut. Yang dimaksud dengan nyonya besar tentulah Dewi Neraka, ibu dari nona pemilik lembah itu. Diamdiam ia gelisah. Nona pemilik lembah itu tertawa riang, Ah, ibu datang.... Baru ia berkata begitu, muncullah seorang wanita tua ke dalam ruang situ. 290 Mah....!" nona itu cepat berseru seraya menghampiri. Ia pun memberi isyarat kepada Siau-liong, Lekas, menyambut ibuku!" Sesaat Siau-liong tak tahu bagaimana harus bertindak. Untuk membungkuk tubuh memberi hormat kepada Dewi Neraka, ia muak. Namun kalau tak mempedulikan. ia kuatir akan menimbulkan kecurigaan orang. Akhirnya terpaksa ia memberi hormat dengan segan dan mengucap beberapa patah kata yang tak lampias. Sejak masuk ke dalam ruangan, Dewi Neraka memperhatikan sekali diri Siau-liong. Ditatapnya wajah pemuda itu lekat2, kemudian berpaling kepada puterinya, Nak apakah engkau sungguh2 suka kepadanya?" Nona itu menyahut bisik2, Jika tak suka, masakan kuminta

dia dibebaskan.... kemudian dengan suara agak keras, ia berseru, Asal mamah meluluskan, kami segera.... Baik, mamah tak keberatan, asal.... tiba-tiba Dewi Neraka menghampiri Siau-liong dan menghantam kepala pemuda itu dengan jurus Menghantam-gunung Hoa-san. Bukan kepalang kejut Siau-liong. Jurus itu bukan main dahsyatnya dan dilancarkan dalam jarak dekat secara tak terduga-duga. Tetapi untunglah Siau-liong cerdas sekali. Cepat ia dapat mengetahui apa maksudnya. Maka bukan saja tak menghindar atau menangkis, bahkan ia malah pura-pura terkejut dan terhuyung-huyung mundur sampai beberapa langkah. "Mah, mengapa engkau ini? apakah....!" secepat kilat nona pemilik lembah itupun loncat menghadang ditengah. 291 Dewi Neraka memang sudah menghentikan tangannya. Ia membelai-belai rambut anaknya seraya tertawa mengutuk, Anak tolol! mamah kan hanya hendak mengetahui asalusulnya saja!" Sambil menyandarkan kepalanya kedada sang ibu dengan sikap kemanja-manjaan, nona pemilik lembah itu berkata, Ah, tetapi mamah hampir membikin orang kaget setengah mati, sungguh.... Dewi Neraka memandang Siau-liong lagi. Tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah botol kecil diberikan kepada putrinya, mamah takkan mencampuri urusanmu pribadi, tetapi.... Tiba-tiba wajah Dewi Neraka berobah dingin, Dia bersama rombongan orang2 yang memusuhi kita. Harus diberi minum sebutir pil ini dulu.... "Tidak mah!" nona itu menolak, aku tak ingin dia menjadi seorang yang tolol dan linglung pikiran. Akulah yang menanggung bahwa kelak dia tentu takkan memusuhi ayah dan mamah lagi!" Dewi Neraka amat menyayang sekali kepada puterinya itu. Maka ia hanya dapat geleng2kan kepala dan menghela napas lalu menyimpan botol itu lagi. Baru ia hendak berkata apa2, tiba-tiba terdengar suara genderang berbunyi gencar. "Ah, ayahmu mencari aku. Tentulah sudah mendapat laporan tentang jejak Pendekar Laknat dan wanita Ular itu.... habis berkata lalu keluar. 292 Setelah Dewi Neraka pergi, berkatalah si nona dengan mengulum senyum, Jangan takut kepada ibuku yang berwajah seram itu. Sesungguhnya dia baik hati." Siau-liong mengiakan. Kemudian ia berkata dengan nada selembut mungkin, Sudah lama kudengar cerita orang tentang Pendekar Laknat muncul di dunia persilatan lagi.

Sungguh aku ingin sekali melihat bagaimana perwujutan momok itu. Tadi karena ibumu mengatakan telah menemukan jejak Pendekar Laknat dan Ki Ih, apakah engkau setuju kalau secara diam-diam kita ikuti ibumu agar dapat melihatnya?" Nona itu kerutkan dahi. Sesaat kemudian ia menjawab, Eh, mengapa nyalimu mendadak berobah begitu besar? Pada hal sesungguhnya Pendekar Laknat itu tak lain hanya seorang tua buruk yang memuakkan!" Siau-liong mengeluh tetapi untunglah pada saat itu juga si nona menyusuli kata2 lagi, Tetapi baiklah. Ini merupakan permintaanmu yang pertama kepadaku. Sudah tentu aku tak dapat menolak." Nona itu menarik tangan Siau-liong terus diajak keluar. Sudah dua kali Siau-liong masuk ke dalam Lembah Semi itu. Tetapi tempat2 yang dilalui saat itu, sama sekali belum pernah didatanginya. Setelah melintasi tiga buah jalanan naik turun dan beberapa deret bangunan perumahan, tibalah mereka disebuah halaman gedung yang luas. Selama dalam perjalanan itu, Siau-liong selalu memperhatikan dengan seksama. Diam-diam ia merasa kagum atas bangunan yang diciptakan dalam lembah itu. Tiba-tiba nona itu menarik lengan baju Siau-liong suruh pemuda itu berjalan pelahan dulu. Siau-liong terkejut. Segera 293 ia hentikan langkahnya. Dari dalam ruang besar terdengar suara orang tertawa. "Itulah ayahku," si nona membisiki kedekat telinga Siauliong. Pada hal Siau-liong memang sudah mengetahui hal itu. "Ih, agaknya mereka tidak membicarakan soal Pendekar Laknat dan Ki Ih," kata nona itu pula seraya berjingkat-jingkat menghampiri ke bawah jendela belakang. Saat itu menjelang sore hari. Dibagian ruang belakang penuh ditumbuhi pohon yang-liu. Dengan hati2 Siau-liong mengikuti si nona yang saat itu sudah mengintip dari lobang jendela. Ternyata dalam ruang gedung itu terdapat beberapa orang. Kecuali suami isteri Iblis Penakluk dunia dan Dewi Neraka, terdapat pula dua orang tetamu. Ketika melihat wajah kedua tetamu itu, kejut Siau-liong bukan alang kepalang. Ternyata kedua tetamu itu bukan lain adalah Harimau Iblis dan si Naga Terkutuk. Saat itu kedengaran Naga Terkutuk berkata, Kemunculan saudara ke dunia persilatan, rupanya tiada mempunyai maksud memusuhi kami berdua saudara. Tetapi.... Naga Terkutuk yang bertubuh tinggi kurus dan mengenakan jubah warna kuning, pinggang menyelip sebatang ruyung lemas itu, sejenak melirik ke arah saudaranya, Harimau Iblis.

Kemudian ia menatap pula tuan rumah dengan pandanng mata penuh keserakahan, Asal saudara suka membagi harta pusaka itu kepada kami, kami tentu akan membantu cita2 saudara untuk menguasai dunia persilatan!" 294 Iblis Penakluk-dunia serentak berbangkit lalu berjalan mondar-mandir sambil mendukung kedua tangannya. Wajahnya yang seram tampak makin menyeramkan.... "Memang tak sukar untuk membagi harta pusaka itu," akhirnya ia menjawab. Setelah berbatuk-batuk sejenak, ia melanjutkan pula, Tetapi.... ia paksakan tertawa menyeringai. "Tetapi bagaimanakah cara kita membagi kitab pusaka peninggalan Tio Sam hong itu?" Tio Sam-hong adalah pendiri dari partai Bu-tong-pay. Apabila kitab pusaka itu benar buah karya Tio Sam-hong, tentulah merupakan kitab yang memuat ilmu pelajaran pedang sakti. Merupakan sebuah kitab pusaka yang tiada keduanya dalam dunia persilatan! Harimau Iblis yang sejak tadi hanya diam saja, saat itu sekonyong-konyong berteriak menggeledek, Masing-masing mendapat separoh bagian, apakah sukarnya?" Seketika berobahlah wajah Iblis Penakluk-dunia. Hampir meledaklah kemarahannya tetapi pada lain saat ia dapat menindas lagi emosinya. Ia mengulum senyum tetapi tak berkata apa2. Adalah Dewi Neraka yang serentak berbanngkit dan berkata dengan nada dingin, Jika saat ini merundingkan tentang cara membagi harta pusaka, rasanya masih terlalu pagi.... Sejenak memandang ke arah kedua tetamunya, wanita itu melanjutkan, Separoh bagian dari Giok-pwe itu masih berada ditangan Pendekar Laknat. Jika tak dapat menemukan 295 jejaknya, tak mungkin kita membicarakan soal pembagian harta itu. Ibarat orang melihat rembulan dalam air alias omong kosong belaka!" Tiba-tiba Naga Terkutuk tertawa gelak2, Bukankah Pendekar Laknat dan Dewi Ular Ki Ih sudah terperangkap dalam barisan Tujuh Maut lembah ini? Masakan mereka mempunyai sayap terbang ke angkasa?" Iblis Penakluk-dunia gelengkan kepala; Berbicara tentang peristiwa itu tentulah saudara berdua takkan percaya. Bahkan kami berdua suami isteri pun benar-benar tak mengerti!" Sejenak berhenti ia melanjutkan pula, Seluruh penjuru, setiap pelosok dan segenap ujung dari barisan Tujuh Maut itu telah kami periksa dan selidiki, tetapi kedua orang itu hilang tiada berbekas."

Mendengar itu Harimau Iblis hanya tertawa dingin, Ho, benar-benar suatu hal yang tak mungkin!" Tiba-tiba Iblis Penakluk-dunia pun tertawa, Sekali pun Pendekar Laknat dan Dewi Ular lenyap tetapi diantara sekian banyak tokoh persilatan yang tertangkap itu, terdapat seorang pemuda dan seorang gadis!" Mendengar itu Naga Terkutuk dan Harimau Iblis serempak berbangkit. "Siapakah kedua muda mudi itu?" tanya Naga Terkutuk seraya memandang tuan rumah dengan tajam. Iblis Penakluk-dunia tertawa, Kalau kukatakan, saudara berdua tentu akan kecewa. Mereka berdua tak lebih dari anak2 muda yang masih ingusan!" 296 Naga Terkutuk mendengus lalu duduk lagi. Sementara Harimau Iblis tampak merenung dan berkata seorang diri, Ah, tetapi masa ini tak boleh disamakan dengan masa 20 tahun yang lalu. Diantara kalangan muda, terdapat juga yang sakti.... "Dimanakah mereka sekarang?" tanyanya kepada Iblis Penakluk-dunia. Jawab Iblis Penaklak-dunia, Yang perempuan sudah dimasukkan dalam Lembah Maut dan yang lelaki.... tibatiba ia melambai ke arah luar jendela dan berseru keras, Hai, masuklah kalian!" Mendengar itu Siau-liong terbeliak kaget. Tetapi karena jejaknya sudah ketahuan, apa boleh buat, terpaksa ia melangkah masuk. Nona pemilik lembah pun segera mengikuti dibelakangnya. Ada keperluan apakah ayah memanggil kami berdua?" begitu masuk si nona segera berseru kepada ayahnya, Iblis Penakluk-dunia. Mata Iblis Penakluk-dunia. ber-kilat2 memandang Siauliong. Melihat itu si nona menjadi gelisah. Buru-buru ia berseru kepada ibunya, Dewi Neraka, Mah.... Dewi Neraka tersenyum, Budak tolol! Mamah kan berada disini, mengapa engkau kuatir?" Naga Terkutuk loncat dari tempat duduknya dan menghampiri Siau-liong diamatinya pemuda itu dari ujung kaki sampai ke atas kepala Kemudian ia tertawa gelak2; "Ho, kami tak tahu kalau saudara sudah mendapat menantu.... 297 Naga Terkutuk alihkan pandang matanya ke arah nona pemilik lembah lalu berseru dengan nada mengejek, Nona Po. ilmumu merawat diri benar-benar luar biasa hebatnya. Meskipun engkau sudah berumur lebih dari 40 tahun, tetapi kelihatannya.... seperti seorang gadis yang baru berumur 20an tahun. Benar-benar sepadan menjadi pasangan dari

engkoh kecil ini.... Seketika berubahlah wajah Po Ceng-in, nona pemilik lembah itu. "Siapakah yang memberitahukan umurku kepadamu?" tariaknya melengking. Naga Terkutuk tertawa nyaring, Kuingat dahulu ketika pertama kali datang ke lembah ini, engkau mengaku berumur 20 tahun. Sekarang setelah dua puluh tahun lagi aku kemari, masakan salah kalau kukatakan engkau berumur 40 tahun itu?" Merah padamlah selebar muka Po Ceng-in. Dipandangnya Naga Terkutuk itu dengan mata berapi-api dan tubuh menggigil. Seolah-olah hendak menelannya.... Dewi Neraka serentak berdiri seraya. menghujamkan tongkatnya kelantai. Wajahnya membesi. Tetapi ketika melangkah dua tindak, ia mendengus untuk menekan kemarahannya. Ditariknya tubuh Po Ceng-in kesisinya dan dihiburnya, Kemarilah anakku, jangan pedulikan iblis tua itu!" Naga Terkutuk cepat mengangkat kedua tangannya menghaturkan maaf kepada kedua suami isteri seraya tertawa, Maafkan, maafkan!" 298 Se-konyong2 wajahnya membengis dan berpaling membentak Siau-liong, Budak, siapa namamu? Berapa umurmu sekarang?" Demi menyelamatkan keadaan, sudah beberapa kali Siauliong harus menekan kemarahan. Tetapi kali ini karena diperlakukan begitu oleh Naga Terkutuk, ia tak dapat menahan diri lagi. "Meskipun umurku baru belasan tahun tetapi aku sudah dewasa. Siapa yang engkau sebut 'budak' itu!" ia balas membentak. Naga Terkutuk seorang momok yang garang dan congkak. Entah beberapa sudah tokoh2 persilatan yang jatuh ditangannya. Sudah tentu ia tak dapat menerima perlakuan yang diunjuk Siau-liong, seorang anak muda yang dianggapnya masih ingusan. Dipandangnya Siau-liong dengan tertawa dingin, Umurku sudah 88 tahun. Jika mempunyai cucu, tentu juga lebih besar dari engkau. Pula dalam kedudukanku dikalangan persilatan, bukanlah suatu hinaan kalau kupanggilmu dengan sebutan budak!" Habis berkata ia segera menampar bahu Siau-liong. Tampaknya tamparan itu amat pelahan dan sepintas pandang hanya sebagai suatu peringatan dari orang tua terhadap anak muda. Tetapi sesungguhnya tepukan itu merupakan gerak Naga-sakti-mencakar yang dahsyat. Siau-liong tegak termangu-mangu.... ---ooo0dw0ooo---

299 Jilid 06 Telur di ujung tanduk Pada saat tangan Naga Terkutuk hampir mencengkeram bahu Siau-liong, tiba-tiba Harimau Iblis meluncur kesamping saudaranya dan mencekal tangan Naga Terkutuk. Sudah tentu Naga Terkutuk terperanjat, tegurnya, Dinda, engkau.... Harimau Iblis tertawa, Gerakan Naga-sakti-mencengkeram kanda itu, belum tentu dapat mengenai budak itu!" Sekalian orang terkejut mendengar kata2 itu. Bahkan Naga Terkutuk pun deliki mata kepada adiknya itu lalu membentaknya, Apakah maksudmu?" Hampir ia tak percaya apa yang dikatakan Harimau Iblis itu. Kata Harimau Iblis, Kemarin tatkala dipuncak Ngo-siongnia, aku pernah adu kepandaian dengan dia, tetapi akhirnya.... ia terlawa menyeringai, akhirnya kami sama2 terluka!" Mendengar itu Iblis Penakluk-dunia dan isterinya, Naga Terkutuk dan Po Ceng-in terbeliak kaget. Semua mata tertumpah ke arah Siau-liong. Benar-benar suatu hal yang mustahil. Tetapi karena mulut Harimau Iblis sendiri yang mengatakan, mau tak mau harus percaya. 300 Reaksi pertama timbul dari Po Ceng-in. Nona pemilik lembah itu kejut girang lalu memegang lengan Siau-liong dan bertanya lembut, Apakah yang dikatakan itu benar?" Siau-liong mendengus lalu menyurut mundur selangkah, menghindarkan lengannya. Naga Terkutuk dan Harimau Iblis tertawa mengekeh menyaksikan penolakan Siau-liong. Po Ceng in tertegun. Tanpa menghiraukan ejek tertawa kedua momok serta sikap Siau-liong dingin, ia melesat kesamping pemuda itu seraya berseru cemas, Jangan percaya omongan iblis tua itu. Aku memang baru berumur.... Ia tak lanjutkan kata-kata melainkan menatap wajah Siauliong dan dengan nada meratap ia berkata; "Tanpa kukatakan engkau tentu dapat melihat sendiri apakah aku ini mirip dengan wanita yang berumur 40 tahun?" Kembali Po Ceng-in tertawa mengikik tetapi jelas tertawa yang dibuat-buat untuk menutupi rasa malunya. Siau-liong terpaksa memandangnya.... wajah wanita itu memang menimbulkan rasa kasihan tetapi pancaran matanya penuh dengan nafsu kecabulan. Memang andaikata Naga Terkutuk tak membuka rahasianya, Siau-liong tentu percaya nona itu masih berumur 20-an tahun. Beberapa saat Siau-liong tergugu kehilangan faham. Ia tak

tahu bagaimana harus bertindak. Namun ia menyadari bahwa saat itu dirinya berada dalam sarang harimau buas. Juga ia menginsyafi akan beban kewajibannya yang berat. Ia harus menolong Mawar Putih, merebut kembali separoh bagian dari Giok-pwe, menyelamatkan dunia persilatan, membalas dendam dan mencari ibunya.... 301 Ia menimang lebih lanjut Dalam lembah Semi yang penuh dengan perkakas rahasia, musuh lebih menang tempat. Begitu pula jumlah mereka jauh lebih besar. Untuk mengahadapi keempat momok itu, jelas bukan hal yang mudah. Demi menyelamatkan kesemuanya itu, terpaksa ia harus bermain sandiwara Walaupun sesungguhnya ia muak terhadap wanita itu, namun terpaksa ia memandangnya dengan pandang mata lemah lembut dan mesra. Po Ceng-in menyambut pandangan itu dengan semangat terbuai-buai. Tiba-tiba ia berkata kepada ibunya, Mah, ijinkan kami pergi!" ia terus menarik tangan Siau-liong diajak keluar. Tunggu!" tiba-tiba Iblis Penakluk-dunia membentak. Po Ceng-in terbeliak. Belum pernah selama ini ayahnya membentaknya sedemikian bengis. Dewi Neraka berobah wajahnya dan melengking kepada suaminya, Tolol! Mengapa engkau menakuti anak kita begitu rupa!" Plak, Iblis Penakluk-dunia mendebur meja, dengusnya, Jika aku terus menerus menuruti engkau saja. Bukan saja usaha menguasai dunia persilatan akan hancur berantakan. Pun kemungkinan kita akan menelan pahitnya kekalahan seperti 20 tahun berselang itu lagi. Aku.... Dewi Neraka hunjamkan tongkatnya kelantai lalu berbangkit, teriaknya, Tolol! Jika banyak tingkah, lebih baik kita berpisah dan bekerja sendiri-sendiri saja! Apa engkau kira aku hanya mengandalkan engkau saja?" 302 Habis berkata wanita bengis itu melangkah kehadapan Po Ceng-in, ujarnya, Tanyalah pada anak itu. Jika dia benarbenar bersungguh hati kepadamu, mari kita berangkat sekarang juga. Mamah akan membawamu pulang ke Sepak. Tak perlu kita hiraukan lagi soal harta pusaka dan segala macam kekuasaan dunia persilatan!" Po Ceng-in memandang ibunya dengan penuh rasa syukur. Tetapi pada saat hendak bertanya penegasan kepada Siauliong, tiba-tiba Naga Terkutuk dan Harimau Iblis tertawa gelak. Kemudian berserulah Harimau Iblis dengan suara nyaring, Aha, nyata perangai saudara masih belum berubah seperti dahulu.... Dan Naga Terkutuk pun menumpangi, Hubungan saudara

suami isteri berdua yang berkumpul dan berpisah tak menentu itu benar-benar menjadi buah pembicaraan indah dalam dunia persilatan. Hari ini bercerai entah kapan akan bertemu pula" Demikianlah kedua saudara momok itu bergantian saling memberi komentar. Bukan melerai dan mendamaikan kedua suami isteri itu tetapi kebalikannya menyiram minyak pada api kemarahan Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka supaya putus hubungan. Seketika berobahlah wajah Iblis Penakluk-dunia. Sepasang alisnya yang panjang melekat satu sama lain dan sejenak melirik ke arah kedua tetamunya, cepat ia melesat kemuka Dewi Neraka. Isteriku, jangan marah. Hal ini menyangkut kepentingan kita berama. Sekali salah langkah, kita pasti kalah. Oleh karena itu aku perlu berhati-hati.... Lalu ia menunjuk Siaulioug, serunya, Budak itu bukan pemuda biasa. Janganlah engkau sampai kena dikelabuhinya!" 303 Dewi Neraka mendengus, Sampai dimanakah kemampuan seorang anak yang baru berumur belasan tahun itu? Bukankah kalian sendiri yang ketakutan dan menduga yang bukanbukan.... Namun sekali pun mulut mengatakan begitu tetapi diamdiam Dewi Neraka mengingat juga akan keterangan Harimau Iblis tentang pertempurannya dengan Siau-liong. Maka ia tak mau ayunkan langkah melainkan masih mengamati Siau-liong denga teliti. Iblis Penakluk-dunia paksakan tertawa, Munculnya budak itu bersama seorang budak perempuan ke dalam barisan Tujuh Maut, menandakan bahwa mereka tentu ikut dalam rombongan It Hang si imam hidung kerbau itu. Kalau malam gelap, anak buahku tak dapat melihatnya, tetapi.... Ah, soalnya sederhana sekali," Naga Terkutuk menyelutuk, kalau saudara tak sampai hati turun tangan kepada menantu yang tercinta, perintahkan orang supaya menyiksa budak perempuan itu. Dia tentu akan mengaku semua." Iblis Penakluk-dunia alihkan pandang matanya ke arah Naga Terkutuk, ia tertawa iblis; Ah, saudara memang pintar. Tetapi, Akupun memang sudah mempunyai pikiran begitu. Bahkan sebelum saudara datang kemari, aku sudah suruh orang untuk memeriksa budak perempuan itu. Tetapi diluar dugaan.... Ia berhenti sejenak untuk mengelus jenggotnya yang memanjang sampai kelutut, lalu melanjutkan, Diluar dugaan budak perempuan itu lenyap." Sekalian orang tersentak kaget. Dan yang paling kaget sendiri adalah Siau-liong. Kemanakah gerangan Mawar Putih itu.... 304

Naga Terkutuk keliarkan biji matanya beberapa kali lalu berkata, Tujuh Maut itu merupakan barisan yang paling ketat dan rapat. Sampai pun bangsa binatang dan burung tak dapat keluar masuk dalam barisan itu. Maka betapa lihaynya kepandaian seseorang, pun tak mungkin dapat masuk keluar menurut sekehendak hatinya.... Dia geleng2 kepala dan berkata seorang diri, Pendekar Laknat dan Dewi Ular Ki Ih sudah terperangkap dalam barisan Tujuh Maut tetapi dapat melenyapkan diri. Sebagai gantinya dalam barisan itu terdapat tawanan sepasang muda mudi. Sianak perempuan sudah dimasukkan ke dalam Lembah Maut tetapi lenyap lagi.... Tiba-tiba ia tertawa keras, Ha, ha, apakah kita .sedang melihat hantu?" Dewi Neraka segera gunakan ilmu menyusup suara bertanya kepada Iblis Penakluk-dunia, Tolol, apakah keteranganmu itu sungguh2?" Iblis Penakluk-dunia kerutkan dahi lalu menyahut dengan ilmu menyusup suara juga, Sudah tentu sungguh2.... Ia memberi isyarat kicupan mata kepada isterinya lalu berkata, Soal hilangnya budak perempuan yang baru berumur belasah tahun itu tak perlu kita cemaskan. Dan budak laki itu, jika engkau suka, ambillah sebagai menantu. Tetapi menurut hematku, saat ini Lembah Semi sudah kemasukan seorang tokoh yang sakti. Hilangnya budak perempuan itu merupakan salah satu bukti.... Kembali Iblis Penakluk-dunia berhenti. Diam-diam ia memperhatikan Naga Terkutuk dan Harimau Iblis lalu berkatu lagi, Si tua Naga dan Harimau itu tamak akan harta pusaka 305 dan menghendaki separoh bagian. Sudah tentu di dunia tiada hal yang semurah itu. Sekarang baiklah kita gunakan keserakahan mereka itu untuk mengadu mereka dengan orang sakti yang menyelundup ke dalam lembah ini. Atau kalau perlu, kita dapat gunakan alat-alat rahasia dalam barisan Tujuh Maut untuk melenyapkan kedua iblis itu!" "Apakah engkau kira mereka mau tunduk pada perintahmu?" tanya Dewi Neraka. Sahut Iblis Penakluk-dunia dengan gembira, Mereka berdua hanya mengandalkan pada kegagahan saja. Jika engkau tak mudah naik pitam dengan gunakan siasat saja mereka tentu suka melakukan perintahku!" Dewi Neraka mendengus lain melengking, Tolol! Kalau memang bisa, silahkan engkau kerjakan Perlu apa aku harus mengadu biru?" Percakapan kedua suami isteri itu menggunakan ilmu menyusup Suara. Dengan begitu lain orang tiada dapat mendengarnya. Hanya bibir mereka yang tampak bergerakgerak, tetapi sama sekali tak mengeluarkan suara apa2.

Beberapa saat kemudian, Naga Terkutuk memekik keras, Budak perempuan itu lenyap, tak jadi apa. Kita dapat memeriksa budak laki ini!" Habis berkata iblis itu terus tebarkan kesepuluh jari tangannya. Sekali tubuh bergerak. ia gunakan jurus Nagasaktimengambil-air. Kesepuluh jarinya itu mengeluarkan desis angin lalu mencengkeram kedua bahu Siau-liong. Siau-liong benar-benar tak mau berkelahi. Buru-buru ia mundur dua langkah kesamping. Tetapi serangan kedua dari Naga Terkutuk sudah menyusul.... Tanpa menarik pulang 306 jarinya, tiba-tiba ditengah jalan jarinya itu dirobah dalam jurus Menyapu-buyar-awan. Cengkeraman diganti dengan tabasan. Kedua tangannya susul menyusul menyerang Siau-liong. Melihat calon menantunya diserang seganas itu, Dewi Neraka melengking tajam. Sekali hujamkan tongkataya kelantai, kepala tongkat yang merupakan pangkal kepala naga, meluncur lepas dari batang dan melayang kelambung Naga Terkutuk! Serempak dengan itu, kepala naga-nagaan tongkat itu hidungnya mengeluarkan beberapa lembar kumis sepanjang 15 senti. Kumis itu terbuat dari pada kawat baja yang halus dan runcing. Warnanya berkilat kebiru-biruan. Jelas kalau dilumuri racun. Naga Terkutuk terkejut sekali dan cepat menarik pulang serangannya seraya menyurut mundur. Dengan demikian terluputlah ia dari bahaya maut. Dewi Neraka tertawa dingin. Sekali gentakkan tongkatnya kelantai, kepala naga itu melayang balik dan ninggap pada hulu tongkat lagi. Juga kumis naga yang memancar keluar tadi, segera menyusup masuk pula. Ternyata kepala tongkat yang diukir seperti kepala naga itu, diikat dengan kawat halus yang ulet sekali. Dapat dipijat keluar untuk menyerang musuh. Naga Terkutuk tak mau balas menyerang melainkan berseru keras, Apakah benar-benar engkau hendak memusuhi kami berdua saudara?" Tetapi Dewi Neraka tak mau menyahut. Sedang Iblis Penakluk-dunia segera mengangkat kedua tangannya, 307 Maafkan, maafkan! Harap saudara berdua jangan mengambil dihati. Kita sedang berunding mengatur siasat!" Merah padam selembar muka Naga Terkutuk. Pada saat ia hendak lampiaskan kemarahannya, tiba-tiba Harimau Iblis gunakan Ilmu menyusup suara mencegahnya, Harap toako jangan cari gara2! Jika bertempur, mereka menang orang dan tempat. Belum tentu kita menang.... Naga Terkutuk mendengus lalu menjawab dengan ilmu

Menyusup Suara, Apakah adik takut?" Harimau Iblis tak menghiraukan dan berkata pula, Apalagi masih ada budak lelaki itu yang jelas memiliki kepandaian sakti. Menurut pengakuannya dia murid pewaris dari Pengemis Tengkorak dan sudah memahami ilmu pukulan Thay-siangciang. Pada waktu aku bertanding melawannya, ternyata dia masih memiliki lain ilmu sakti.... Sejenak berhenti ia berkata pula, Ilmu saktinya itu, rasanya aku kenal Tetapi sampai saat ini masih belum kuketahui termasuk perguruan mana. Seperti tenaga-sakti Moyakong-lat dari paderi Liau Hoan gunung Thian-san, tetapipun seperti tenaga Bu-kek-sin-kang dari Pendekar Laknat. Jadi bukan Mo-ya-kong-lat pun bukan Bu-kek-sinkang. Tetapi yang jelas, budak itu tentu mempunyai latar belakang yang hebat. Jika dia bersatu dengan suami isteri iblis, tentu akan makin menyulitkan kita. Memang diketemukannya sepasang muda mudi dalam barisan Tujuhmaut itu tentulah hanya omong kosong Dan tentang lenyapnya budak perempuan dalam Lembah Maut itu, benarbenar juga tak mungkin terjadi." Naga Terkutuk mendengarkan dengan termangu. Rupanya ia tak pernah memikir sampai disitu. 308 Setelah termenung sejenak, Harimau Iblis melanjutkan lagi, Turut pendapatku kita menghadapi dua kemungkinan. Pertama, mungkin Pendekar Laknat dan Dewi Ular Ki Ih memang sudah bersekutu dengan suami isteri iblis itu.... It Hang dan rombongan tokoh2 partai persilatan sudah terjaring dalam perangkap mereka. Tujuan keempat iblis itu tak lain karena hendak menghadapi kita berdua " Kemungkinan kedua, Pendekar Laknat dan Dewi Ular Ki Ih telah binasa ditangan suami isteri iblis itu. Separoh bagian dari Giokpwe pun sudah jatuh ketangan mereka. Bahwa Pendekar Laknat dan Dewi Ular Ki Ih terjebak dalam selat buntu tetapi dapat melenyapkan diri, hanyalah cerita karangan kedua suami isteri iblis itu saja, Suatu siasat untuk menghapus perhatian orang.... Harimau Iblis sejenak melirik ke arah Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka lalu berkata lagi kepada Naga Terkutuk; "Salah satu dari kedua kemungkinan itu atau kedua-duanya tak mungkin terjadi, tetapi tetap tak menguntungkan bagi kita kakak beradik?" Iblis Penakluk-dunia dan isterinya tahu juga bahwa kedua saudara iblis itu tengah melakukan pembicaraan dengan gunakan ilmu Menyusup Suara. Tetapi mereka pura-pura tak tahu. Melanjutkan pula percakapan Harimau Iblis kepada Naga Terkutuk, Keadaan yang kita hadapi saat ini, betapapun kedua suami isteri itu memainkan siasat apa saja, kita tak

boleh mengundurkan diri karena ketakutan. Jika kedua suami isteri itu benar telah berhasil mendapat kitab pusaka peninggalan Tio Sam-hong, mereka tentu takkan membiarkan kita berdua hidup di dunia. Maka kalau hari ini kita tak membereskan mereka, kelak tentu akan lebih sukar lagi!" 309 "Benar!" dengus Naga Terkutuk. Ia merenung sesaat lalu berkata pula, Karena aku tak dapat mengawasi siasat mereka, harap adik yang waspada terhadap gerak-gerik mereka!" Harimau Iblis mengangguk, kemudian ia berpaling ke arah kedua suami-isteri iblis. memberi hormat seraya berseru, Karena tengah merundingkan urusan peribadi maka kami telah ber-cakap2 dengan ilmu Menyusup suara. Harap saudara berdua jangan salah faham!" Iblis Penakluk-dunia hanya ganda tertawa mengiakan. Lalu ia menanyakan pendapat kedua kakak beradik itu mengenai situasi yang dibadapi saat itu. "Kami berdua saudara termasuk orang bodoh. Sudah tentu kami hanya menurut keputusan saudara saja. Kami bersedia membantu! sahut Harimau Iblis. "Ah, saudara keliwat merendah diri, "kata Iblis Penaklukdunia. Sejenak keliarkan mata, berkatalah ia, Peristiwa lenyapnya Pendekar Laknat dan Dewi Ular Ki Ih dari barisan Tujuh Maut itu adalah berdasar laporan dari anak buahku. Aku sendiri belum memeriksa hal itu.... ia melirik ke arah Harimau Iblis dan Naga Terkutuk lalu melanjutkan, Kami berdua suami isteri hendak menyelidiki barisan Tujuh Maut, saudara berdua.... " "Sudah tentu kami akan ikut juga!" cepat2 Harimau Iblis menukas. Diam-diam Iblis Penakluk-dunia terkejut mendengar pernyataan itu. Ia merasa heran kalau kedua kakak beradik itu tak tahu bahwa dalam barisan Tujuh Maut penuh dilengkapi dengan alat rahasia dan jebakah2 yang berbahaya. 310 Namun ia menghapus rasa herannya dengan mengulum senyum dan menganggukkan kepala. Lalu bertepuk tangan tiga kali. Dari luar gedung masuklah 16 oranng laki perempuan menghadap dan memberi hormat kepada Iblis Penakluk-dunia. Mereka mengenakan pakaian ringkas dan menyelinap senjata. Lekas beritahukan kepada Soh-beng Ki-su bahwa aku beramai-ramai hendak memeriksa ke dalam barisan Tujuh Maut!" Sepasang lelaki dan perempuan memberi hormat lalu melangkah keluar. Yang lain-lain segera berbaris pada kedua tepi pintu.

Iblis Penakluk-dunia segera mempersilahkan kedua tetamunya ikut.... Naga Terkutuk melirik ke arah Harimau Iblis dengan pandang penuh kesangsian. Harimau Iblis tertawa gelak2, Ah, sebagai tetamu, aku tak boleh berlaku kurang hormat terhadap tuan rumah. Silahkan saudara berjalan lebih dulu." Iblis Penakluk-dunia tertawa hambar. Diam-diam ia menertawakan kedua tetamunya itu. Sekalipun mereka mempunyai rencana bagaimana, pun takkan terlepas dari genggamannya. Maka ia memberi isyarat kicupan mata kepada isterinya. Dan kedua suami isteri lalu melangkah keluar. Pada saat keempat durjana itu sedang siapkan rencana masing-masing secara diam-diam, adalah Siau-liong tetap mengawasi gerak-gerik mereka dengan tak acuh. Diam-diam ia sudah dapat menyelami apa isi hati keempat orang itu. 311 Pikirnya, asal keempat iblis itu masing-masing mempunyai kecurigaan dan saling tak percaya, ia tentu mendapat kelonggaran dan kesempatan untuk mengadu domba mereka. Setelah keempat iblis itu pergi, buru-buru Siau-liong bermain sandiwara. Dengan mesra ia menarik tangan Po Ceng-in dan membisiki kedekat telinganya, Hayo, kita ikut melihat juga." Melihat Siau-liong begitu mesra kepadanya, Po Ceng-in menjadi lupa daratan. Setelah memberi tatapan mata yang penuh arti, tanpa banyak pikir lagi ia segera menggandeng tangan Siau-liong dan melangkah keluar untuk mengikuti gerak gerik keempat iblis itu. Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka berhenti dan berpaling. Ketika melihat anak perempuannya bergandengan tangan Siau-liong, mereka tersenyum lalu melanjutkan perjalanan lagi. Harimau Iblis dan Naga Terkutuk berjalan di belakang sendiri Seolah-olah tanpa disengaja Naga terkutuk berjalan disamping Po Ceng-in. jaraknya hanya lebih kurang setengah meter sehingga jika mengulurkan tangan tentu dapat mencapai. Siau-liong sudah siap siaga menghadapi keempat iblis itu. Diam-diam dia sudah membentengi tubuhnya dengan saluran Bu-kek-sin-kang. Maka tenang-tenang saja ia mengikuti di belakang mereka. Memang bangunan dalam Lembah Semi itu dicipta sedemikian hebat. Jalanan ditengah halaman berbelak-bilok. Loh-gik-thia atau pagoda termpat beristirahat penuh bertaburan disana sini. 312 Bangunan pada setiap tempat selalu disusun menurut

bentuk Pat-kwa dan Kiu-kong. Bahkan setiap po-hon dan setiap batang bunga, pun ditanam menurut aturan barisan. Selama berjalan itu diam-diam Siau-liong memperhatikan dan mencatat dalam hati semua yang dilihatnya. Tetapi ternyata kedua suami isteri iblis itu sengaja berjalan berputarputar kian kemari sehingga sesudah delapan kali membelok, sukar bagi orang untuk mengenal arah lagi. Kira2 sepeminum teh lamanya, tibalah mereka dimulut sebuah selat lembah yang sempit. Iblis Penakluk-dunia berhenti. Sambil tertawa ia menerangkan, Itulah mulut Lembah Maut. Didalamnya penuh dengan berbagai perkakas rahasia. Sekali salah langkah, sukar dibayangkan akibatnya.... Memandang ke arah kedua saudara iblis, ia berkata pula, Misalnya kalau keliru melangkah ke Pintu-mati, tentu akan terjerumus ke dalam liang dan pasti akan hancur lebur. Aku sendiripun tak berdaya menolong. Saudara berdua hendaknya ikut saja di belakang kami, jangan bergerak sembarangan!" Jelas ucapan Iblis Penakluk-dunia mengandung ancaman untuk menakuti hati orang. Harimau Iblis tertawa gelak, serunya, Jangan kuatir, andaikata kami sampai mengalami nasib sial keluar menginjak tempat maut. pun takkan meminta ganti jiwa kepada saudara berdua'" Iblis Penakluk dunia tertawa sinis lalu melanjutkan berjalan lagi. Harimau Iblis pun memberi isyarat mata kepada saudaranya. Mereka tetap berjalan di belakang Po Ceng-in dengan mengambil jarak dekat. 313 Belasan anak buah lembah yang terdiri dari lelaki dan perempuan dan bersenjata pedang tadi, bertindak sebagai pelopor dimuka. Begitu masuk ke dalam selat, mereka berjalan pelahan-lahan dan tak henti-hentinya menggerakkan tubuh kekanan dan kiri. Mirip seperti kupu2 yang berterbangan menerobos gerumbul bunga. Selama memperhatikan keadaan tempat yang dilaluinya itu, diam-diam Siau-liong heran juga. Jelas semalam ketika bersama Mawar Putih, ia dikejar suami isteri Iblis Penaklukdunia dan Dewi Neraka masuk ke dalam selat lembah itu, disitu terdapat sebuah telaga yang besar. Tetapi mengapa saat ini ia tak melihat telaga itu lagi? Heran, adakah Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka itu mempunyai ilmu untuk memindah gunung dan menyingkirkan laut? Tak berapa lama rombongan itu telah keluar dari jalanan selat yang sempit Kini mereka berhadapan dengan sebuah tanah lapang yang luas. Tanah lapang yang merupakan tanah rendah mirip seperti dasar sumur. Kedua barisan peloror lembah Semi itu, tiba-tiba cepatkan langkahnya menuju ke kaki batu karang disebelah bawah. Kemudian mereka lalu menyusup ke dalam gerombol pohon.

Kini barulah Siau-liong mengetahui jelas bahwa jalan keluar dari lembah Tujuh Maut itu bukan hanya satu saja. Kemarin ia datang dan masuk dari salah sebuah jalan. Tampak hutan pohon siong itu berada ditengah tanah lapang. Tetapi ia tak dapat menentukan arahnya yang tepat. Ke 16 barisan lelaki perempuan dari lembah Semi tadi muncul dari tempat masing dalam gerumbul semak sambil mencekal bendera warna hijau yang dilambaikan ke arah kiri. Setelah itu mereka menyelinap bersembunyi lagi. 314 Dari empat penjuru kaki karang, sayup2 terdengar suara menderu pelahan dan menyusul mulailah kabut tipis bertebaran keluar. Tak berapa lama ke 7 gua dan sekeliling penjuru segera tertutup kabut. "Apakah maksud saudara?" tanya Harimau Iblis kepada tuan rumah. Iblis Penakluk-dunia tertawa, Agar barisan Tujuh Maut tetap aktif. Menjaga kemungkinan musuh menyusup kemari!" Harimau Iblis tertawa keras; Bagus saudara sungguh cermat sekali!" Iblis Penakluk dunia saling berpandang mata dengan isterinya lalu mereka melangkah ke arah hutan. Begitu masuk ke dalam hutan, Iblis Penakluk-dunia berhenti dan memandang kesekeliling.... Sesaat kemudian ia berkata kepada kedua tetamunya, Barisan Tujuh Maut itu diciptakan oleh seorang cianpwe yang sakti. Lebih dari setahun lamanya barulah aku dapat mempelajari rahasia2 perobahan dalam barisan itu. Sungguh suatu ciptaan yang luar biasa hebatnya.... Habis berkata ia lekatkan pandang mata kepada Harimau Iblis, lalu katanya, Sayang barisan hebat ini sudah berpuluh tahun tak pernah digunakan. Kecuali kemarin malam itu, barulah barisan itu bekerja untuk menangkap rombongan It Hang sihidung kerbau. Sejak ini.... Tanpa menunggu tuan rumah menyelesaikan kata2nya, Harimau Iblis cepat menukas dengan tertawa nyaring. Nadanya ngeri menusuk telinga, tak ubah seperti raung singa kelaparan sehingga daun2 dalam hutan itu bergetaran. 315 Cukup lama tertawa, barulah ia berhenti, serunya, Sayang karena barisan itu sudah lama tak digunakan, kemungkinan tentu tak begitu lancar. Kalau tidak, tentu tak mungkin Pendekar Laknat dan Dewi Ular Ki Ih serta budak perempuan baju putih itu dapat melenyapkan diri!" Iblis Penakluk-dunia tahu bahwa Harimau Iblis sedang berusaha untuk membakar hatinya. Merahlah selebar muka iblis itu. Sinar matanya mulai memancarkan sinar pembunuhan.

Beberapa saat kemudian, wajah Iblis Penakluk-dunia itu mulai tenang lagi. Ia tertawa seram, Barisan Tujuh Maut mempunyai 72 perobahan. Asal masuk ke dalam selat, berarti sudah masuk perangkap. Sekalipun faham akan ilmu Ngoheng, Pat-kwa dan Kiu-kiong, tetap tak mungkin dapat keluar dari barisan itu!" Seketika berobahlah wajah Harimau Iblis, serunya, Maksud saudara hendak mengatakan bahwa kami berdua saudara saat ini pun sudah masuk dalam perangkap?" Iblis Penakluk-dunia tertawa, Saudara berdua sedang menjadi sekutu kami. Menguasai dunia persilatan dan menikmati harta karun yang tak ternilai harganya itu Sudah tentu kami tak mempunyai maksud hendak mencelakai saudara berdua!" Harimau Iblis balas tertawa dengan nada dingin, Mm. sesungguhnya kami berdua ini sudah tak berguna lagi. Adakah saudara masih tetap hendak mengajak kami kerja-sama dan membagi rata harta karun itu?" Iblis Penakluk-dunia tertawa keras, Ah, jangan memikirkan yang bukan2. Saat ini.... 316 "It Hang dan rombongan orang gagah sudah masuk dalam perangkap. Dewasa ini dunia persilatan tentu memerlukan seorang pemimpin. Kalau Pendekar Laknat dan Dewi Ular Ki Ih pun sudah jatuh ke dalam tangan saudara, tentulah harta karun yang dapat dibelikan sebuah negara itu, mudah engkau dapatkan. Dapat menguasai dunia persilatan dan memperoleh harta karun yang ber-limpah2.... Berhenti sejenak ia melanjutkan pula, Masakan saudara masih rela membagi rejeki dengan lain orang lagi?" Dewi Neraka getarkan tongkat berkepala naga, lalu berteriak sengit, Kalian sungguh cerdik sekali!" Namun seperti tak tersinggung oleh sindiran tajam dari wanita iblis itu, Harimau Iblis berseru pula, Jika tak pintar, kami berdua tentu tak berani masuk mencari kematian ke dalam barisan ini!" Harimau Iblis menutup kata2nya dengan tersenyum. Sepintas pandang seperti orang yang sudah yakin pada dirinya. Iblis Penakluk-dunia kerutkan alis. Setelah keliarkan pandang mata kesekeliling, ia melangkah ketengah Naga Terkutuk dengan Po Ceng-in. Ia memandang kelain tempat se-olah2 tak mengacuhkan Po Ceng-in. Melihat tindakan tuan rumah itu, diam-diam Harimau Iblis memberi isyarat mata kepada kakaknya, Naga Terkutuk. Naga Terkutuk tersenyum tetapi tak berkata apa2. 317

Pada saat Iblis Penakluk-dunia akan tiba ditengah-tengah Po Ceng-in dengan dirinya, tiba-tiba Naga Terkutuk menggembor keras dan dengan sebuah jurus Naga-saktimencengkeram dengan secepat kilat tangan kanannya menyambar siku lengan kiri dari Po Ceng-in.... Saat itu Po Ceng-in sedangn terbuai dalam lamunan asmara. Tangan kinannya mencekal tangan kanan Siau-liong erat2. Seolah-olah. ia takut kehilangan pemuda itu. Nona pemilik lembah itu benar-benar sedang dimabuk kepayang sehingga lupalah ia akan keadaan saat itu. Hampir ia tak mengetahui serangan mendadak dari Naga Terkutuk itu. Barulah setelah pergelangan tangannya tercengkeram, ia tersadar kaget. Aih.... buru-buru ia salurkan tenaga-sakti Thay-kek-bu-wi-sin-kang kelengan kiri untuk menolak serangan orang. Tetapi tenaga-dalam Naga Terkutuk itu hebat sekali. Dan memang rencananya, ia hendak mencekal Poh Ceng-in untuk dijadikan sandera sebagai alat penekan Ibiis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka. Oleh karena itu maka ia harus dapat menguasai Po Ceng-in. Dengan tertawa dingin, ia tambahkan tenaga dalam ketangannya. Po Ceng-in rasakan tangannya seperti terjepit kait baja. Tenaga sakti Thay-kek-bu-wi-sin-kang yang dipancarkan itu, bukan saja tak mampu menghalau tenaga lawan, bahkan malah terdesak masuk kembali dan hampir menyerang jatungnya. Seketika ia rasakan lengan kirinya seperti patah, wajahnya pucat, gerahamnya mengerat kencang dan meringislah ia hendak menangis. Lepaskan!" teriak Dewi Neraka seraya gentakkan tongkatnya. 318 Naga Terkutuk memandang kelain jurusan, sahutnya, Asal berani maju selangkah lagi, urat jantung puterimu tentu akan kuremukkan." Dewi Neraka mengerenyutkan gigi seperti hendak menelan si Naga Terkutuk. Tetapi apa daya, ia terpaksa harus menurut perintah orang. Iblis Penakluk-dunia tertawa tawar, Tindakan saudara itu tentu saudara anggap pintar. Tetapi sesungguhnya tolol sekali." Harimau Iblis tertawa mengejek, Ah, tujuan saudara kan hanya menguasai dunia persilatan dan mendapat harta karun. Masakan saudara.... ingat akan puteri saudara. Asal sudah mendapat tujuan yang saudara cita-citakan, peduli apa dengan yang lain-lain hal. Hanya saja.... Ia berhenti sejenak untuk beralih memandang Dewi Neraka, serunya pula, Tetapi berbeda dengan nyonya. Tentulah lebih mencintai anak daripada segala kekuasaan dan

kekayaan. bukan?" Dewi Neraka tertegun. Buru-buru ia berseru kepada suaminya, Tolol! Jika engkau nekad turun tangan dan sampai menyebabkan jiwa anak kita celaka. aku tentu akan mengadu jiwa denganmu!" Ternyata Harimau Iblis sudah dapat menyelami hubungan antara kedua suami isteri itu.... Dewi Neraka amat mencintai sekali anaknya. Diperhitungkan. wanita itu tentu lebih sayang anak dari pada segala apa di dunia. Psikologi atau perasaan hati wanita itu, dapat dimanfaatkan oleh Harimau Iblis. Ia suruh Naga Terkutuk membekuk Po Ceng-in agar dapat dijadikan alat penekan kedua suami isteri iblis itu. 319 Iblis Penakluk-dunia melambaikan tangannya, Jangan kuatir isteriku. Kutanggung anak kita tentu takkan menderita apa2.... Ia menutup kata2 sambil mengangkat jari ke atas. Serangkum api merah segera meluncur ke udara. Harimau Iblis tertegun, teriaknya, Hai, jangan main gila dihadapanku! Ketahuilah.... Ah, harap saudara jangan banyak curiga," Iblis Penaklukdunia tertawa, aku hanya memberi perintah kepada anak buah barisan supaya melakukan penyelidikan yang lebih cermat lagi.... Sejenak keliarkan mata, ia melanjutkan, Terus terang kuberitahukan kepada saudara bahwa saudara berdua memang sudah masuk ke dalam barisan Tujuh Maut Dengan cara dan siasat apapun, jangan harap saudara dapat menghindar.... Tetapi paling tidak juga akan bersama mati dengan puterimu!" tukas Naga Terkutuk. Tetapi acuh tak acuh Iblis Penakluk-dunia mengurut jenggotnya yang panjang dan berkata pula, Sesungguhnya aku tak mengandung sikap bermusuhan dengan saudara. Paling tidak dalam saat kita perlu bekerja-sama untuk menghadapi musuh yang sakti." Harimau Iblis tertawa, Sudahlah, jangan banyak bermain lidah, kami berdua tiada waktu mendengarkan Lekas beritahukan apa yang sesungguhnya telah terjadi. Apakah Pendekar Laknat itu bersekongkol dengan kalian berdua atau 320 memang benar-benar sudah mati dalam barisan Tujuh Maut. Dimanakah sekarang Giok-pwe yang separoh bagian itu?" ' Wajah Iblis Penakluk-dunia mengerut gelap, sahutnya, Jika saudara tetap tak mau percaya, akupun tak dapat berbuat apa2. Pendekar Laknat dan wanita Ki Ih itu benar-benar memang telah tertangkap dalam barisan Tujuh-maut, tetapi mereka dapat melenyapkan diri tanpa meninggalkan suatu

jejak apapun juga.... Berhenti sejenak, ia melanjutkan, Setelah menghilang selama 20 tahun, Pendekar Laknat memang makin tinggi ilmu kesaktiannya. Berapa kali mengadu kepandaian, kami berdua suami isteri hampir celaka ditangannya. Tetapi jika dia dan Ki Ih mampu menghilang dari barisan Tujuh Maut aku benarbenar tak percaya sama sekali! Taruh kata mereka mempunyai sayap dapat terbang, pun tentu tetap diketahui oleh anak buah barisan. Oleh karena itu.... wajah iblis itu makin berobah gelap, "berani pastikan bahwa dalam barisan Tujuh Maut ini tentu sudah kedatangan lagi seorang sakti yang luar biasa!" Bermula kedua saudara Harimau dan Naga hanya tertawa sinis. Tetapi demi melihat sikap Iblis Penakluk-dunia begitu bersungguh-sungguh, tergerakklah hati mereka. Naga Terkutuk mendengus, Lalu siapakah kiranya orang yang menyelundup ke dalam barisan Tujuh Maut itu?" Dan tanpa menunggu jawaban Iblis Penakluk dunia, ia melanjutkan lagi, Apakah tidak mungkin paderi Liau Hoan dari gunung Thian-san.... atau Kiu Tiong-beng si Manusia Aneh dari Pak-ciang?.... atau Sepasang Imam dari gunung Mosan.... atau Empat Manusia Buruk dari gunung Imsan....?" Iblis Penakluk-dunia berturut-turut gelengkan kepala. 321 "Orang2 itu adalah tokoh2 aneh yang sakti pada jaman ini. Mereka telah mencapai tataran yang tinggi sekali. Tetapi kalau mereka dapat keluar masuk ke dalam barisan Tujuh Maut tanpa diketahui orang, benar-benar tak mungkin!" Hampir saja Siau-liong tertawa geli mendengar percakapan mereka. Betapa tidak! Kalau mereka tahu bahwa yang menjadi Pendekar Laknat dan Ki Ih bukan lain adalah dirinya dan Mawar Putih. bukankah mereka akan ditelan bulat2 oleh kawanan iblis durjana itu? Tetapi ketika teringat akan Mawar Putih yang nasibnya belum ketahuan, seketika hatinya pilu dan rawan. Ia gelisah sekali. Jika budak perempuan baju putih itu benar-benar lenyap seperti yang dikatakan Iblis Penaklukdunia, jelas kalau Mawar Putih sudah lolos dari barisan Tujuh Maut. Lalu kemanakah nanti ia hendak mencari dara itu....? Saat itu kabut dari keempat dinding karang makin tebal dan mulai merembes ketengah. Persis seperti kemarin malam ketika Siau-liong berada disitu. Mata si Naga Terkutuk tak henti-hentinya berkeliaran memperhatikan keadaan kesekeliiing. Sedang tangan kanannya tetap mencengkeram bahu kanan Po Ceng-in erat2. Sementara tangan kiri nona itu menggandeng tangan kanan Siau-liong, sehingga mereka saling gandeng menggandeng tangan. Tetapi po Ceng-in tenang2 saja. Rupanya ia sudah dapat

menangkap isyarat kedua orang tuanya supaya tak usah berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman Naga Terkutuk. 322 Dewi Neraka bersiap-siap dengan tongkat kepala ular naganya. Ia memandang lekat2 ke arah Naga Terkutuk. Bagaikan seekor burung rajawali yang menunggu saat2 si ular naga lengah mencengkeram korbannya. Iblis Penakluk-dunia kebalikannya malah memandang kian kemari dengan sikap acuh tak acuh. Seolah-olah seperti menunggu sesuatu dari lingkaran kabut tebal itu. Suasana- tampak sunyi. Rupanya Harimau Iblis tergerak hatinya mendengar kata2 Iblis Penakluk-dunia tadi. Matanya bergantian memandang Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka. Sekonyong-konyong dari jauh terdengar beberapa suitan nyaring. Dan sayup2 dari dalam kabut tebal itu meluncur tiga larik sinar api berwarna hijau kebiru-biruan ke atas angkasa. Diperkirakan, api itu tentu berasal dari tengah dinding karang yang terpisah 1O tombak lebih jaraknya. Apakah sudah ada hasil dari penyelidikan anak buah saudara?" tanya Harimau Iblis. Iblis Penakluk-dunia gelengkan kepala, Aneh, masih belum ketemu apa-apa.... tiba-tiba ia menunduk kepala dan berjalan beberapa langkah lalu berhenti. Memandang ke arah Naga Terkutuk dan Harimau Iblis, ia berkata pula, Sudah tiga kali menyelidiki, hasilnya tak menemukan apa-apa. Baik Pendekar Laknat, Ki Ih, budak perempuan baju putih dan lainlain orang yang diduga menyelundup ke dalam barisan itu!"' Naga Terkutuk dan Harimau Iblis saling berpandangan dengan heran. Kedua saudara itu benar bingung menghadapi gerak-gerik Iblis Penakluk-dunia yang sukar diraba itu. Sesaat kedua saudara itu kehilangan faham. 323 Tetapi mereka tetap tak lepaskan pendirian semula. Asal masih dapat menguasai Po Ceng-in, bagaimanapun kedua suami isteri iblis itu hendak bermain siasat, tentu tetap dapat diatasi. Iblis Penakluk-dunia berjalan lagi. Tiba-tiba ia lontarkan pertandaan api lagi. Api itu terbuat daripada bahan phosporus sehingga sinarnya amat kuat sekali. Paling tidak tentu dapat dilihat sampai jarak satu li jauhnya. Timbul pula kecurigaan Harimau Iblis terhadap gerak-gerik tuan rumah. Cepat ia berseru menegur, Apa lagi itu?" Tawar2 saja Iblis Penakluk-dunia memandang Harimau Iblis. Dan berkatalah ia tanpa menyinggung pertanyaan tadi, Kini setelah jelas tiada orang yang menyusup ke dalam barisan Tujuh Maut, untuk sementara waktu ini tak perlu

kuminta bantuan saudara berdua. Lebih dahulu kami suami isteri menghaturkan terima kasih kepada saudara berdua.... Harimau Iblis dan Naga Terkutuk terbeliak kaget. Sepasang mata Harimau Iblis yang bundar besar, melingkar-lingkar memandang Iblis Penakluk-dunia lalu membentak keras, Jangan main gila dihadapanku.... Lalu beralih memandang Dewi Neraka, ia mengancam, Awas, jiwa puterimu yang engkau sayangi itu!" Diluar dugaan, Dewi Neraka tak menghiraukan ancamannya. Ia tetap lekatkan pandang matanya kepada Naga Terkutuk. Sejenak berhenti, Iblis Penakluk-dunia berkata pula, Sesungguhnya cita-citaku hanyalah untuk mendapat harta pusaka itu dan menguasai dunia persilatan. Walaupun It Hang dan rombongannya sudah terperangkap ke dalam barisan 324 Tujuh Maut, tetapi si Pendekar Laknat itu masih belum ketahuan jejaknya. Rasanya jalan untuk mencapai cita2 itu masih banyak rintangannya.... Ia menghela napas lalu memandang ke arah Harimau Iblis, Saudara berdua memiliki ilmu kesaktian yang jarang tandingannya. Maka kami hendak mengadakan hubungan kerja-sama dengan saudara dalam jarak waktu yang lama. Setelah mendapat harta pusaka dan menguasai dunia persilatan.... Yang penting bagaimanakah sikap saudara dalam kerjasama itu." karena tak sabar mendengar bicara orang yang berbelit-belit, Harimau Iblis cepat menukas. Iblis Penakluk-dunia tertawa gelak2. serunya, Bukan aku segan kerjasama itu, melainkan yang kuminta janganlah saudara terlalu memperhitungkan balas jasa dan janganlah menanyakan sebab-sebabnya. Lakukanlah perintah kami tanpa syarat." Naga Terkutuk dan Harimau Iblis terbeliak. "Ngaco! Jangan bicara ngelantur!" teriak kedua saudara itu serempak. Iblis Penakluk dunia hanya ganda tersenyum,tiba-tiba ia berputar tubuh terus melangkah pergi. Kedua saudara Naga dan Harimau itu benar-benar tak mengerti apa yang sedang dilakukan tuan rumah. Naga Terkutuk segera memperkeras cekalan tangannya pada lengan Po Ceng-in. Aih.... Po Ceng-in mengerang kesakitan namun terpaksa ditahannya juga. ia berpaling memandang Siau-liong dengan sinar mengharap. 325 Siau-liong memang sedang menunggu suatu peluang yang baik. Oleh Karena ia juga tak mengerti apa yang terkandung dalam ucapan Iblis Penakluk-dunia, maka sampai saat itu ia

beium berani bertindak. Tiba-tiba bau harum berhembus ketempat situ dan berserulah Harimau Iblis, Huh, apakah ini?" Masakan saudara tak mengetahui bahwa sepanjang tahun lembah ini selalu berada dalam suasana musim semi. Pabila angin berhembus, tentu mengantar bau bunga yang harum membuai semangat orang." Setelah menyedot bau itu sejenak, berobahlah seketika wajah Harimau Iblis dan segera ia menggembor marah, Aku tak tahan lagi melihat permainan ini.... ia berpaling kepada Naga Terkutuk dan suruh memaksa Po Ceng-in berjalan menunjukkan jalan keluar dari situ. Naga Terkutuk pun menyadari sesuatu yang tak menguntangkan. Maka cepat ia menyeret Po Ceng-in supaya berjalan. Karena tangan nona itu masih tetap mencekal tangan Siau-liong maka Siau-liong pun ikut terseret bangun. Melihat Naga Terkutuk dan Harimau Iblis sudah mulai bertindak dan mengingat bahwa bau harum itu tentu mengandung obat bius, Siau-liong mengambil putusan untuk turun tangan saat itu juga. Sekali kaki mengisar, ia segera membentak Naga Terkutuk, Lepas!'" Naga Terkutuk tertegun, bentaknya, Ho, budak, apakah engkau juga sudah bosan hidup?" 326 Siau-liong tertawa keras. Nadanya laksana guntur berkumandang ditengah musim semi. Naga Terkutuk terbeliak kaget sekali. Dari nada tertawanya, jelas diketahui bahwa pemuda itu memiliki tenaga dalam yang sakti. Mendengar tertawa itu, cepat2 Harimau Iblis memberi peringatan kepada saudaranya, Awas, budak itu.... Tetapi peringatannya itu sudah terlambat datangnya. Pada saat Naga Terkutuk masih terpukau, Siau-liong sudah segera pancarkan tenaga saktinnya ke tubuh Po Ceng-in. Setitikpun Naga Terkutuk tak mimpi bahwa pemuda yang baru berumur belasan tahun itu, mampu menyalurkan tenaga dalamnya untuk membantu Po Ceng-in menolak tekanan tangan Naga Terkutuk. Seketika Naga Terkutuk rasakan tangannya yang mencengkeram lengan Po Ceng-in itu seperti dilanda oleh gelombang tenaga sakti yang dahsyat sehingga tangannya terasa linu kesemutan dan lemah lunglai. Po Ceng-in pun mengetahui peristiwa itu. Ia rasakan tubuhnya dilanda oleh arus tenaga sakti dan tahu2 dilihatnya Naga Terkutuk menarik pulang cengkeramannya. Nona itu kejut2 girang. Tanpa me-nyia2kan kesempatan lagi, ia segera mendorong iblis itu. Karena Naga Terkutuk sedang terpukau oleh peristiwa yang mengejutkan tadi, ia tak sempat lagi mengerahkan tenaga dalam untuk menolak dorongan Po

Ceng-in. Maka terhuyung-huyunglah iblis itu sampai beberapa langkah jauhnya. Melihat itu dengan meraung keras. Harimau Iblis segera menyerbu. Tetapi Dewi Neraka yang sejak tadi sudah siap siaga, cepat menghantamkan tongkatnya ke arah Harimau Iblis. 327 Harimau Iblis terpaksa berputar menghindarkan diri. Tetapi Dewi Neraka tak mau berhenti. Dengan mangukuk seram seperti seekor burung hantu, wanita tua itu putar tongkatnya membabat perut Harimau Iblis. Sementara Naga Terkutuk, setelah menyalurkan tenagadalam, tangannya yang kesakitan tadi sudah pulih kembali. Lalu ia gunakan jurus Naga-sakti-bermain-diair, menyerang Po Ceng-in dengan kalap. Iblis Penakluk-dunia tertawa mengekeh. Begitu tangan Naga Terkutuk hendak menyambar lengan Po Ceng-in, Iblis Penakluk dunia segera menyongsong dengan sebuah hantaman. Naga Terkutuk terpaksa hentikan serangan untuk turun ke tanah seraya dorongkan kedua tangan menyambut pukulan iblis Penakluk-dunia. Bum.... terdengar letupan keras dan keduanya masingmasing menyurut mundur tiga langkah. Saat itu pecahlah pertempuran seru antara sepasang suami isteri lawan sepasang saudara. Angin pukulan mereka menderu-deru memancarkan sambaran dahsyat. Mereka bertempur amat sengit sehingga sukar dikenal ciri2 orangnya. Siau-liong mengawasi pertempuran keempat iblis dengan tersenyum dingin. Sementara kabut yang bertebaran dari empat penjuru karang makin tebal. Kecuali diluar hutan, digelanggang pertempuran itu terbungkus oleh kabut tebal sehingga sejauh dua meter saja, orang tak dapat melihat apa2 lagi. Bau wangi dari kabut itu makin keras juga. 328 Tiba-tiba Siau-liong rasakan kepalanya agak pening. Ia terkejut dan buru-buru salurkan tenaga-dalam untuk melindungi diri. Sekalipun sudah bebas dari cengkeraman Naga Terkutuk namun Po Ceng-in tetap rasakan lengan kirinya tak dapat diangkat ke atas. Lentuk dan lunglai. Tentulah Naga Terkutuk telah gunakan tenaga untuk mencengkeram lengan nona itu sampai patah. Ia bahagia sekali karena merasa telah diuruturut oleh Siau-liong. Tetapi ketika melirik, dilihatnya pemuda itu tengah memandang kesekeliling penjuru. Sedikitpun tak mengacuhkan dirinya. Diam-diam nona itu heran atas sikap pemuda itu. Aneh, benar-benar aneh. Setempo ia merasa Siau-liong menyambut cintanya. Tetapi setempo ia dapatkan

pemuda itu bersikap dingin padanya. Sejenak menghela napas, ia gerak-gerakkan lengannya bekas yang dicengkeram Naga Terkutuk tadi. Setelah terasa agak baik, barulah ia menghampiri kesamping Siau-liong dan menegurnya dengan mesra, Engkoh.... Liong!" Siau-liong terpaksa berpaling, Mengapa?" habis mengucap, hatinya terasa amat muak. Dengan pancaran mata yang berkilat-kilat, Po Ceng-in memandang Siau-liong lalu berseru, Hatimu amat ganas benar!" Siau-liong tertegun. Tetapi saat itu ia sedang menimangnimang tindakan yang akan dilakukan setelah pertempuran diantara keempat iblis itu selesai. Maka acuh tak acuh, ia hanya menjawab singkat saja; "Benarkah begitu?" Po Ceng-in berkata pula, Ternyata engkau memiliki ilmu kepandaian yang begitu sakti. Tetapi mengapa engkau tak 329 lekas menolong aku dan membiarkan diriku disiksa sampai setengah hari oleh iblis terkutuk itu....?" Siau-liong kerutkan alis, Setiap tindakan harus disesuaikan dengan saat dan keadaan, Jika tidak.... mungkin akan runyam!"' Sekali pun mulut menjawab Po Ceng-in tetapi mata Siauliong terus memperhatikan lekat2 pada jalannya pertempuran keempat iblis itu. Dengan geram Po Ceng-in ulurkan lengan kirinya kemuka Siau-liong, Nih, lihatlah.... Siau-liong terpaksa memandangnya juga lalu paksakan diri bertanya, Apa masih sakit?" Po Ceng-in tempelkan tubuhnya kebahu Siau-liong dan menyahut dengan manja, Sakitnya hampir tak tertahan lagi, lho....!" Siau-liong hanya mendengus, Sayang saat ini aku tak membawa obat maka tak dapat berbuat apa2." Tiba-tiba Po Ceng-in menarik pulang lengannya dan tertawa mengikik, Tak apa, aku sudah membawa obat sendiri. Tetapi obat itu harus dimakan kita berdua!" Siau-liong terbeliak. Baru hendak membuka mulut. tiba-tiba ia rasakan darahnya bergolak keras. Mata berpudar-pudar dan hampir ia rubuh. Saat itu Po Ceng-in sudah mengeluarkan sebuah botol kecil dari bahan kumala dan menuang dua butir pil berwarna merah darah. Yang sebutir ditelannya dan yang sebutir disusupkan ketangan Siau-liong. serunya, Lekas telanlah " 330 Siau liong cepat dapat menduga bahwa pil ilu tentulah sebuah obat anti racun. Maka tanpa berayal lagi terus menelannya.

Pil itu pahit rasanya tetapi setelah masuk ke kerongkongan, terasa menyegarkan tubuh. Rasa pusing dan darah yang bergolak tadi, pun segera lenyap. Saat itu pertempuran antara suami isteri Iblis Penaklukdunia dan Dewi Neraka lawan Harimau Iblis dan Naga Terkutuk kuatir akan alat-alat rahasia dalam barisan Tujuh Maut. Maka keduanya bertempur dengan hati2 dan sejengkal pun tak mau keluar dari hutan siong itu. Tetapi suami isteri Dewi Neraka dan Iblis Penakluk-dunia pun tak dapat berbuat apa2 terhadap kedua lawannya itu. Po Ceng-in yang masih menyandarkan tubuhnya kebahu Siau-liong, tiba-tiba menunjuk ke arah gelanggang pertempuran dan tertawa, Naga dan Harimau kedua Iblis itu sudah tamat riwayatnya." Siau-liong terkejut. Ketika memperhatikan, memang kuda2 kaki kedua iblis itu sudah ter-huyung2 tak mantap lagi. Begitu pula jurus serangannya sudah tak bertenaga lagi. Jelas mereka tentu akan remuk ditangan Iblis Penakluk dunia dan isterinya. Siau-liong terkesiap. Ia tahu bahwa kedua iblis itu terkena kabut beracun. Kalau tidak tak mungkin begitu keadaannya. Bermula ia kira kepandaian iblis bersaudara itu seimbang dengan suami isteri Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka. Jika kedua fihak bertempur. ke-dua2nya tentu akan menderita luka. Walau pun karena menang tempat dan orang, tuan 331 rumah dapat mengalahkan tetamunya tetapi paling tidak pihak tetamu pun tentu dapat membuat Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka terluka parah. Tetapi tak terduga ternyata Iblis Penakluk-dunia dapat menggunakan siasat licik, menebarkan kabut beracun sehingga kedua saudara Naga dan Harimau itu mengalami kekalahan dengan cepat. Melihat keadaan itu mau tak mau Siau-liong harus merobah lagi rencananya. "Sejak saat ini Naga dan Harimau kedua iblis tua itu tentu akan berganti nama menjadi anak buah ayah bundaku!" Po Ceng-in tertawa riang. Siau-liong terbeliak tetapi ia pura-pura bertanya, Tetapi menilik watak mereka, masakan mereka mau tunduk?" Po Ceng-in tertawa, Tolol, biar mereka tak mau tetapi mereka pun terpaksa harus mau juga, Pil buatan ayah yang disebut Pian-sing-ih-sin (merobah watak, melenyapkan perasaan) akan membuat mereka lupa se-gala2nya.... Tiba-tiba ia berhenti berkata. Rupanya menyadari kalau kelepasan omong. Dipandangnya anak muda itu tanpa berkata sepatah pun juga. Saat itu keadaan Naga Terkutuk dan Harimau iblis makin pontang-panting. Mereka terus menerus main mundur saja sehingga hampir terdesak keluar hutan.

Melihat itu gelisahlah Siau-liong. Jika menunggu sampai kedua suami isteri iblis itu mendapat kemenangan, tentulah sukar baginya hendak meloloskan diri. Usaha untuk menyelidiki Mawar Putih tentu gagal. 332 Segera ia berpaling ke arah Po Ceng-in, katanya, Alat perkakas rahasia dalam barisan Tujuh Maut itu, kiranya nona tentu paham semua, bukan?" Po Ceng-in terbeliak, serunya, Eh, perlu apa engkau menanyakan hal itu?" Tak dapat disangsikan lagi kedua locianpwe ayah-bunda nona itu tentu akan menang. Kita tak perlu menguatirkan mereka. Maka.... inginlah kugunakan kesempatan saat ini untuk menambah pengalaman!" Po Ceng-in tertawa mengikik, Tolol, mengapa engkau begitu terburu nafsu? Kan besok masih banyak waktu. Engkau boleh me-lihat2 sepuas-puasmulah. Perlu apa harus sekarang?" Tiba-tiba dari keempat iblis yang sedang bertempur itu terdengar suara erang tertahan. Menyusul terdengar getaran keras dari tubuh seseorang yang terhantam mencelat sampai satu tombak jauhnya. Tanpa berpaling melihatnya, Siau-liong sudah dapat menduga bahwa yang rubuh itu tentulah Harimau Iblis. Wajah pemuda itu makin menggelap, ia mendesak Po Ceng-in, Kalau aku ingin me-lihat2 sekarang, apakah nona suka menemani?" Po Ceng-in memandang penuh tanya ke arah pemuda itu, Eh. engkau ini mengapa.... tiba-tiba ia menyurut mundur dengan wajah gelisah, serunya, kalau mau kesana. pun harus mendapat ijin dari ayah-bundaku dulu. Karena.... karena perkakas rahasia dalam barisan itu rumit dan pelik sekali. Bahkan aku sendiri pun ada beberapa tempat yang tak mengetahui kegunaannya!" 333 Saat itu pertempuran sudah mendekati penyelesaian. Harimau Iblis kena terhantam lengannya oleh Iblis Penaklukdunia dan terlempar di tepi hutan, tak ingat diri lagi Sedangkan Naga Terkutuk walaupun masih dapat bertahan mati2an tetapi saat itu sedang diserang dari muka belakang oleh kedua suami isteri iblis. Paling banyak dalam tiga empat jurus lagi, dia tentu akan mengalami nasib serupa dengan Harimau Iblis tadi. Dalam detik2 yang mendesak itu, Siau-liong cepat bertindak. Ia mendengus lalu tiba-tiba mencengkeram lengan kiri Po Ceng-in yang masih sakit tadi seraya berseru dingin, Sebagai pemilik lembah ini, jika engkau tak tahu jelas akan perobahan barisan itu, bukankah berarti engkau hendak

membohongi orang saja?" Walaupun hanya menggunakan seperlima bagian tenaganya, tetapi karena yang dicengkeram Siau-liong itu tepat pada bagian luka akibat bekas cengkeraman Naga Terkutuk tadi. menjeritlah Po Ceng-in dengan amat kesakitan sekali. Siau-liong kendorkan sedikit tekanannya sambil membentak, Apakah sekarang mau meluluskan?" Po Ceng-in tegakkan tubuhnya yang meliuk kesakitan tadi dan mendamprat geram, Memang kutahu engkau hanya berpurapura suka kepadaku.... dari kedua matanya, turunlah beberapa titik air mata. Rupanya tindakan Siau-liong itu benar-benar menyakitkan lengan dan hatinya. Melihat itu Siau-liong hampir tak sampai hati. Namun terpaksa ia berkata menerangkan, Karena keadaan terdesak, 334 terpaksa kuharus membuat nona menderita sedikit. Kelak dikemudian.... "Apa yang engkau maksudkan dengan keadaan terdesak itu kalau bukan karena enekau hendak buru-buru mencari jejak nona baju putih itu!" Tiba-tiba ia tertawa rawan dan banting2 kaki, serunya, Baik, akan kutemani engkau kesana!" Karena sudah berpengalaman, maka Siau-liong tak mudah mempercayai mulut orang. Ia tetap mencekal lengan nona itu sembari diajak berjalan bersama. --ooo0dw0ooo-MANUSIA DALAM TANAH Diluar hutan kabut amat tebal. Memandang ke belakang, hutan itu hilang lenyap ditelan kabut tebal. Po Ceng-in tak menghiraukan keadaan disekelilingnya. Ia biarkan dirinya ditarik Siau-liong.... Adalah pemuda itu sendiri yang gelisah. Pikirnya, jika wanita itu nekad hendak mati bersama-sama, bukankah akan runyam akibatnya nanti? "Ceng-in! Ceng.... in....!" sekonyong-konyong dari arah hutan terdengar Dewi Neraka berseru memanggil puterinya. Po Ceng-in tertegun dan berhenti. Katanya, Ayah seorang berhati besi. Jika mengetahui kecuranganmu, walaupun ada aku disampingmu, tetap dia akan menggerakkan alat rahasia dalam barisan Tujuh Maut!" 335 Siau-liong tertawa hambar, Jika tak masuk ke dalam sarang harimau, masakan mampu memperoleh anaknya. Dalam keadaan seperti sekarang, tak ada lain pilihan lagi!" Po Ceng-in ayunkan langkah lagi. ujarnya, Nona yang datang bersamamu itu tentulah benar-benar sudah

menghilang. Karena ayah tentu tak bohong. Begitu pula setelah dilakukan penyelidikan ke dalam barisan Tujuh Maut dan Lembah Maut, tetap tak dapat menemukan jejak nona itu." Siau-liong tak saba, Aku melakukan amal kemanusiaan tetapi terserah saja pada nasib. Tak dapat menemukannya, pun tak apalah." Bukankah kalian berdua.... baru Po Ceng-in berkata sampai disitu. Siau-liong cepat menukas, Lebih baik jangan membuang waktu!" Po Ceng-in menghela napas panjang. Sambil menggulap peluh dimukanya. ia segera berjalan. Bahkan kali ini jalannya lebih cepat. Siau-liong tetap siap siaga menghadapi segala kemungkinan. Tiba-tiba dalam selimut kabut tebal itu samar2 tampak sebuah dinding batu menghadang ditengah jalan Kiranya mereka sudah tiba diujung tanah bengkah. Po Ceng-in berhenti dimuka sebuah gua. Gua itu tingginya hampir 2 meter, mulut gua tertutup sarang labah2 dan gerumbul semak. Jelas bukan gua yang kemarin Siau-liong masuki. 336 Setelah memeriksa beberapa saat, Po Ceng-in mengatakan salah jalan. Bukan kesitu tetapi seharusnya belok kekiri, Siauliong tak dapat berbuat apa2 kecuali mengikuti nona itu menuju kesebelah kiri". Setelah melalui tiga buah gua, akhirnya Po Ceng-in berhenti lagi, Disinilah! Hanya disini terdapat satu-satunya jalan keluar!' Gua itu hanya satu setengah meter tingginya hingga orang harus menundukkan kepala kalau melangkah masuk. Tiba-tiba Po Ceng-in menampar ke arah gua itu. Dari samping mulut gua yang gelap, melesat keluar seorang lelaki tinggi besar menghunus pedang. Dia adalah salah seorang anggauta barisan Lembah Semi yang menunjukkan jalan pada rombonpan tetamu kemarin. Saat itu wajahnya membesi. Tegak melintang dipintu gua dengan mata tak berkesiap memandang Po Ceng-in dan Siauliong. Po Ceng-in menghela napas pelahan lalu lambaikan tangan memanggil orang itu, Kemarilah!" Tetapi orang itu tetap tegak seperti patung dan tak menyahut. "Kemarilah engkau! Thian-cun akan segera datang!" seru Po Ceng-in tertawa tawar. Thian-cun adalah sebutan kehormatan bagi Iblis Penakluk dunia. Setiap anak buah Lembah Semi memangggil Iblis Penakluk-dunia dengan sebutan Thian-cun.

337 Orang itu terkesiap lalu maju menghampiri. Waktu tiba pada jarak satu meter dihadapan Po Ceng-in, sekonyongkonyong nona pemilik Lembah Semi itu ayunkan tangan kanannya, menghantam dada orang itu. Bluk.... tubuh penjaga gua yang tinggi besar itu, bagaikan layan-layang putus tali, melayang ke belakang dan membentur batu karang.... Siau-liong terkejut. Setitikpun ia tak mengira bahwa Po Ceng-in akan menghantam mati anak buahnya sendiri. Ia hendak menolong tetapi sudah terlambat. Orang itu pecah kepalanya. Benak berhamburan dan nyawanya melayang.... Kata Po Ceng-in dengan napas agak terengah, Apa boleh buat, tak ada lain jalan lagi." Kemudian memandang Siauliong, ia berkata pula, Dia adalah anak buah ayah. Kecuali ayah, dia tak mau mendengar perintah dari siapa saja. Jika tak dilenyapkan, dia tentu akan menggerakkan perkakas rahasia sehingga kita berdua tentu mati." Tanpa menunggu tanggapan Siau-liong, nona itu terus masuk ke dalam gua. Bermula memang sempit tetapi setelah melangkah setombak jauhnya, keadaannya makin lebar dan tinggi sehingga tak perlu berjalan dengan kepala menunduk. Kira2 dua puluh tombak jauhnya, barulah mereka tiba disebuah persimpangan tiga. Sejenak merenung, Po Ceng-in memilih jalan sebelah kanan. Tak lama mereka tiba di ujung jalan terdapat sebuah kamar batu. Tak ada perkakas apa2 dalam kamar itu. Hanya pada dinding tengah, terdapat 5 buah tombol dari baja. Po Ceng-in menghampiri lalu menekan salah sebuah tombol itu. Segera terdengar bunyi berderak-derak. Dinding bagian 338 tengah dan kanan kirinya pelahan-lahan berkisar dan tampaklah tiga buah pintu berjajar-jajar rapi. Siau-liong memandang cermat. Pintu yang tengah lebar dan bersih. Disebelah dalam samar2 tampak penerangannya. Sedang pintu yang sebelah kanan, sempit kecil tetapi cukup dimasuki seseorang. Sedang pintu yang kiri, hanya semeter tingginya. Bagian dalam gelap dan lembab. Bau yang busuk menghambur keluar dari pintu itu, memuakkan sekali. Sejenak berdiri merenung, Po Ceng-in segera masuk ke dalam pintu sebelah kanan, ialah pintu yang terkecil. "Eh, apakah nona tak keliru?" karena curiga, Siau-liong cepat menarik nona itu. Po Ceng-in tertawa dingin, Jika aku memang bermaksud mencelakaimu, tentu akan kubawamu masuk ke dalam pintu yang lain.... Tiba-tiba nada suara nona itu berobah rawan2 gemas, Tak apa untuk menemani engkau mati! Hanya dengan cara itu

barulah hatiku tenteram. Tetapi ah, sayang. Hatiku tetap tak sampai.... Seketika ngerilah hati Siau-liong. Dengusnya dalam hati, Huh, wanita yang cabul ini ternyata bisa jatuh cinta matimatian padaku.... Pada lain saat Po Ceng-in segera menerobos ke dalam pintu kecil itu. Siau-liong terkejut. Karena pintu amat sempit sekali maka ia terpaksa lepaskan cekalan pada tangan Po Ceng-in. Nona itu terus melangkah maju dengan cepat. 339 Siau-liong terkesiap. Diam-diam ia memaki dirinya mengapa begitu lengah. Bagaimana kalau nona itu menipunya agar dapat lolos? Buru-buru ia menyusul. Untunglah tak berani jauh, lorong dalam gua itu mulai melebar dan beberapa saat kemudian tibalah mereka disebuah tanah yang luas. Ditengah tanah seluas lima tombak itu, terdapat sebuah pintu batu yang kecil. Tiba-tiba Po Ceng-in berputar tubuh dan tertawa mengikik sembari angsurkan lengan kirinya ke arah Siau-liong, Peganglah lagi erat2! Supaya jangan sampai aku dapat lari atau menggerakkan perkakas rahasia disini!" Siau-liong tersipu-sipu malu dan menolak, Sudah cukup kusuruh nona menderita tadi. Hal itupun karena terpaksa juga!" Po Ceng-in pun menarik pulang tangannya lalu menunjuk pada pintu batu itu, Melalui pintu itu berjalan 10-an tombak, sudah keluar dari barisan Tujub Maut, masuk ke dalam Lembah Maut.... Ia berhenti sejenak lalu melanjutkan lagi, Sekalipun dalam Lembah Maut itu tiada dipasang perkakas rahasia, tetapi lembah itu merupakan tempat berbahaya sekali. Sekali masuk tak mungkin orang mampu keluar lagi!" Siau-liong diam saja. Sudah hampir setengah hari ia mengikuti nona itu menerobos keluar dari barisan Tujuh Maut, tetapi yang dilaluinya selama itu hanyalah lorong gua saja. Dan lagi perjalanan itu mengalami berpuluh2 tikungan yang berbelok-belok. Selama itu ia tak berjumpa dengan seseorang pun juga. 340 Setelah meragu sebentar, Po Ceng-in tiba-tiba ulurkan tangan menekan batu marmar hijau yang menonjol di tepi pintu. Pintu berderak-derak berkisar. Begitu terbuka separoh bagian, Po Ceng-in terus menarik tangan Siau-liong diajak menerobos masuk. Heran Siau-liong dibuatnya mengapa Po Ceng-in begitu tergopoh-gopoh sekali. Tetapi ia duga tentu ada sebabnya. Ia diam saja dan hanya mengikuti di belakang si nona. Terowongan dalam pintu itu, lurus membujur kemuka. Tak

berapa jauh dari pintu, terdapat sebuah kamar yang melekuk masuk. Siau-liong hanya memperhatikan untuk mengikuti di belakang Po Ceng-in. Ia tak sempat memperhatikan apa yang berada dalam kamar itu. Kira2 lari sejauh dua tombak dari kamar itu, terdengarlah suara orang berteriak, Kembali!" Suara itu amat lemah sekali seperti dilontarkan dari mulut seseorang yang tengah meregang jiwa. Tetapi sekalipun begitu, nadanya memiliki perbawa yang amat kuat. Seketika Po Ceng-in tampak menggigil dan seperti anak kecil, ia menurut untuk berhenti. Dengan menghela napas, nona itu berseru, Jong Leng lojin....!" Siau-liong tak tahu siapakah Jong Leng lojin itu. Tetapi dari nada suaranya tadi, dapatlah ia menduga orang itu tentu seorang tua yan sakit parah. Seketika timbullah rasa herannya. Mengapa dalam ruang gua dibawah tanah yang tak pernah diinjak manusia, terdapat seorang manusia, seorang 341 tua yang sakit? Dan apa pula sebabnya, Po Ceng-in begitu takut sekali kepada orang itu? Berkata Po Ceng-in dengan setengah berbisik, Orangtua itu menjaga dijalan tembusan Lembah Maut sini. Selamanya, ia terus tidur. Setiap setengah bulan baru terjaga sekali. Ah, mengapa hari ini kebetulan dia sedang bangun?" Siau-liong pun berputar tubuh. Dilihatnya bagian dinding gua yang cekung ke dalam itu merupakan sebuah kamar. Tetapi orang yang berteriak tadi tak muncul sehingga tak dapat diketahui bagaimana perwujutannya! Siau-liong ingin lekas keluar dari Lembah Maut untuk mencari Mawar Putih dan lain-lain tokoh yang belum ketahuan jejaknya itu. Serunya, Tak perlu menghiraukannya, aku hendak lekas2.... Tidak bisa!" wajah Po Ceng-in berobah tegang kemudian berkata dengan bisik2:.... Kecuali engkau tak ingin hidup." Habis berkata ia terus melangkah ke dalam ruang itu. Siauliong tertegun tetapi terpaksa ia mengikuti juga. Bukan kepalang kejutnya ketika masuk ke dalam ruangan itu. Ditengah ruangan duduk seorang tua yang kurus kering seperti tinggal tulang terbungkus kulit saja. Rambutnya panjang kusut masai menutup dahi. Orang itu tengah duduk bersila. Yang luar biasa adalah sepasang matanya yang berkilatkilat tajam sekali. Po Ceng-in dan Siau-liong berganii-ganti ditatapnya. Entah berapa umurnya tetapi yang jelas dia seorang yang sudah lanjut sekali umurnya. Dia hanya mengenakan baju tipis dan tidak bersepatu. Sepintas tak ubah seperti sesosok mayat hidup yang menyeramkan.

342 "Maju sedikit kemari!" seru orang tua kurus itu dengan nada gemetar. Po Ceng-in memberi isyarat ekor mata kepada Siau-liong lalu melangkah maju tiga langkah kemuka. Diam-diam Siau-liong menimang. Kecuali sepasang matanya yang masih memancarkan sinar, orang aneh itu sudah tak ubah seperti orang mati. Tetapi mengapa masih begitu bengis? Sikap orang tua itu mengurangkan rasa kasihan Siau-liong kepadanya. Setelah mengawasi Po Ceng-in beberapa saat, orang itu tertawa ketolol-tololan, Ho, aku kenal padamu!" -lalu ia menuding Siau-liong, serunya, Kemarilah engkau!" Saat itu barulah Siau-liong menyadari bahwa orang tua itu seorang gila. Ia segera melangkah maju dan memberi hormat....Karena ada urusan penting, maaf aku tak dapat lama2 disini. Dan lagi.... saat ini aku sendiri masih dalam bahaya sehingga tak dapat menolong locianpwe!" Berulang kali Po Ceng-in mengisar tubuh memberi isyarat mata kepada Siau-liong. Nona itu gelisah sekali tampaknya. Tetapi Siau-liong tak mengerti apa sebab nona pemilik lembah sedemikian ketakutan terhadap orang tua gila itu. Setelah memandang lekat2 pada Siau-liong tiba-tiba orang tua itu ayunkan tangannya mencengkeram kemuka. Gerakannya lamban tiada bertenaga. Siau-liong mengira kalau memang begitu kebiasaan orang gila, suka menggerakgerakan tangan dan kaki sekehendak hatinya. Apalagi gerak mencengkeram itu sama sekali tak mengeluarkan suara dan ditujukan tempat kosong. 343 Tetapi alangkah kejut Siau-liong ketika tahu2 ia rasakan tubuhnya seperti tersedot oleh segelombang tenaga yang amat dahsyat. Tak sempat lagi ia hendak melawan dan diluar kehendaknya, tubuhnya meluncur maju kehadapan orang tua aneh itu.... Siau-liong gelagapan seperti orang disiram air dingin. Dipandangnya orang tua itu. Ah, benar-benar seorang tengkorak hidup. Tetapi mengapa orang tua itu memiliki ilmu tenaga yang sedemikian saktinya? Apakah dia pandai ilmu sihir? Tetapi Siau-liong tak sempat lagi membuat penilaian karena saat itu si orang tua kurus tertawa mengikik, Budak, ho, engkau takut padaku atau tidak?" Merahlah muka Siau-liong. Ia menundukkan kepala tak menjawab. Ia sudah menerima saluran tenaga sakti dari Pendekar Laknat. sudah pula mendapat pelajaran ilmu pukulan Thaysiangciang dari Pengemis Tengkorak ketua Kay-pang, makan

buah Im-yang-som dan minum darah binyawak purba dari pusar bumi. Dalam dunia persilatan kepandaiannya dapatlah digolong dalam tingkatan jago kelas satu. Tetapi setitik pun tak pernah ia mengira bahwa gerak cengkeraman ke udara dari orang tua yang dianggap gila itu telah membuatnya tak berdaya sama sekali. Hal itu membuatnya terlongong-longong kecewa dan putus asa.... Aku muncul di dunia persilatan sebagai Pendekar Laknat. Tetapi ternyata kepandaianku masih begini tak berguna. Hanya akan mencemarkan nama baik Pendekar Laknat saja!" pikirnya. 344 Budak, engkau takut kepadaku atau tidak!" kembali orangtua aneh itu berseru. Sudah tentu takut," buru-buru Po Ceng-in mewakili untuk menjawab, siapa orang di dunia yang tak gemetar mendengar nama Jong Leng lojin?" Siapa suruh engkau usil mulut!" bentak orang tua aneh yang bernama Jong Leng lojin seraya tamparkan tangannya. Uh.... Po Ceng-in terlempar dua tiga meter ke belakang.... Nona itu terpaksa merangkak bangun. Jong Leng lojin terbahak-bahak dan membentak Siau-liong lagi, Hai, budak! Lekas bilang, engkau takut kepadaku atau tidak!" Sikap dan tingkah laku Jong Leng lojin yang bengis itu menimbulkan kemarahan Siau-liong, Anak muda itu tengadahkan kepala dan tertawa keras, Aku merasa kasihan kepadamu!" Jong Leng lojin deliki mata kepada Siau-liong. Tiba-tiba sinar matanya padam dan iapun menghela napas, Budak, engkau benar, aku.... aku.... memang mengenaskan sekali!" Po Ceng-in terbeliak. Ia tak duga kalau Jong Leng lojin dapat berobah sedemikian merawankan. "Ya. sesungguhnya tak perlulah engkau takut kepadaku.... tiba-tiba Jong Leng lojin berbangkit. Tring, tring.... terdengar bunyi bergemerincingan yang nyaring melengking memekak telinga. Dan terkejutlah Siauliong. Ternyata bunyi bergemerincing itu berasal dari dua utas rantai baja yang diikatkan pada lutut kaki orang aneh itu. 345 Rantai masuk ke dalam tulang lutut dan tembus keluar, dimasukkan ke dalam lubang tanah. Karena sudah bertahun-tahun rantai itu masuk ke dalam tulang. maka sudah seolah-olah menjadi satu dengan daging. Ngeri, benar-benar suatu siksaan yang menegakkan bulu roma....! Siau-liong bergidik juga. Dengan geram ia memandang pada Po Ceng-in. Tetapi nona itu cepat2 memalingkan muka

kesamping. tak berani menghadapi pandang mata menuntut dari pemuda itu. Kini Siau-liong cepat dapat menduga bahwa tentulah Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Nerakalah yang mengikat orang itu. Tetapi iapun merasa heran mengapa Jong Leng lojin yang memiliki kepandaian bagitu sakti, tak mampu memutuskan rantai yang hanya sebesar jempol tangan saja? Dan mengapa orang tua sakti itu sampai dapat dirantai oleh suami isteri iblis. "Mengapa locianpwe rela dirantai disini?" segera ia bertanya. Mata Jong Leng lojin berkeliar sejenak lalu menyahut, S:apa bilang?" "Dengan kesaktian yang locianpwe miliki, masakan tak mampu memutus rantai yang hanya sejempol tangan besarnya itu?" tanyanya pula. Jong Leng lojin gelengkan kepala, Rantai ini terbuat dari baja murni. Merupakan logam yang paling lemas tetapi ulet sekali. Tak mungkin kudapat memutuskannya kecuali engkau bisa mendapatkan semacam obat untukku!" 346 Siau-liong menghela napas. Dia sendiri masih dalam bahaya. Entah dapat selamat entah tidak. Bagaimana ia dapat mencarikan obat untuk orang tua itu? Sekali pun aku senang sekali membantu locianpwe, tetapi pasti hanya akan mengecewakan harapan locianpwe saja. Karena aku benar-benar tak mempunyai kemampuan begitu besar!" Jong Leng lojin tampak kecewa. Tiba-tiba ia berkata kepada Siau-liong, Takkan kusuruh engkau mencari obat itu dengan sia-sia. Akan kuberimu sebuah hadiah!" Siau-liong tertawa tawar, Bukan aku menginginkan hadiah locianpwe, tetapi pada saat dan tempat seperti sekarang ini, tenagaku benar-benar tak mencapai. Kecuali.... ia berhenti sejenak lalu, kecuali aku mempunyai peta dari barisan Tujuh Maut." Jong Leng lojin bertepuk tangan, Tepat sekali permintaanmu itu, budak! Barisan Tujuh Maut itu memang aku yang menciptakan. Dan justeru peta barisan itulah yang hendak kuberikan kepadamu!" Girang Siau-liong bukan buatan. Bergegas ia bertanya, Apakah ucapan locianpwe itu sungguh2?" Jong Leng lojin mendengus lalu mengambil sebuah lipatan kain warna kuning yang sudah kumal, diberikan kepada Siauliong, Ambillah!" Dan serentak iapun mengeluarkan selembar bungkusan kain sebesir jari tangan, katanya, Resep! Jangan lupa, paling lama sebulan, engkau harus mengantarkan obat itu kemari!" 347

Siau-liong buru-buru menyambuti dan menyimpannya baik2 dalam baju, Harap locianpwe jangan kuatir. Tentu akan kulaksanakan sebaik-baiknya." Orang tua kurus itu pejamkan mata. Dari kedua lekuk pipinya yang cekung tinggal tulang itu, tampak menampil senyum gembira. Siau-liong pun segera ayunkan langkah pelahan-lahan keluar dari ruang itu. Po Ceng-in tetap mengikuti dibelakangnya. Beberapa saat kemudian nona itu menarik tangan Siau-liong, "Karena sudah mempunyai peta dari Jong Leng lojin, kiranya engkau tentu tak memerlukan bantuanku lagi sebagai penunjuk jalan. Siau-liong berhenti memandangnya sejenak katanya, Jika nona hendak pulang, silahkan. Hanya kuharap janganlah nona memberitahu urusanku ini kepada ayah-bunda nona.... Siau-liong berhenti sejenak lalu tertawa, Dengan cara apapun juga. sesungguhnya aku harus menghaturkan terima kasih kepada nona." Tak perlu," sahut Po Ceng-in rawan. Dengan menahan haru air matanya yang hendak mengucur, ia berkata dengan sekat, Ada sebuah hal yang harus kuberitahukan kepadamu." Siau-liong mengangguk, Silahkan." Memang sebelumnya aku sudah merasa, tak mungkin engkau menaruh cinta sesungguhnya kepadaku. Oleh karena itu.... ia berhenti untuk menenangkan diri lalu dengan nada gemetar ia berkata pula, kuberimu minum racun Jong-tok!" Siau-liong seperti disamber petir kejutnya, Perempuan siluman, engkau!" teriaknya marah. 348 Tetapi Po Ceng-in tenang2 saja menyahut, Sekarang terserah saja engkau hendak mengapakan diriku. Tetapi kukatakan, percuma saja. Karena racun Jong-tok itu tiada obatnya lagi.... Tetapi jika engkau ingin hidup, masih ada sebuah jalan.... kata wanita itu pula. "Bagaimana?" "Menjadi suami isteri dengan aku.... sahut Po Ceng-in tenang sekali. Hati Siau-liong seperti disayat sembilu. Geram, dan marah sekali sehingga untuk beberapa saat ia termangu-mangu seperti patung. Tiba-tiba Po Ceng-in meramkan mata dan berkata dengan rawan, Aku sendiri pun minum racun itu. Dengan begitu kita menjadi dua nyawa satu badan. Hidup sama hidup, mati ikut mati!" Siau-liong terpaku. Sekonyong-konyong ia menggerung sekeras -kerasnya, Perempuan siluman, serahkan nyawamu lebih dulu!" Dengan pukulan Tay-lo-kim-kong, Siau-liong hantamkan tangan kanannya kedada Po Ceng-in. Tetapi wanita itu tenang

sekali sikapnya. Tidak mau menangkis, pun tak mau menghindar. Bahkan pejamkan kedua mata sambil menyungging senyum. Seolah-olah menghadapi kematian seperti hendak pulang kerumah.... Pada saat tinju hendak tiba di dada, entah bagaimana, tibatiba Siau-liong menariknya kembali. 349 Pukullah! Jika tak mau memperisteri aku, bunuh sajalah!" Po Ceng-in menentang. Dada Siau-liong serasa meledak. Ia memakinya, Perempuan siluman, engkau perempuan iblis yang buta....!" Po Ceng-in menatapnya, mendadak ia tertawa nyaring macam orang-utan meraung-raung, nadanya. Dengan mahluk macam apa saja engkau hendak mempersamakan diriku, siluman perempuan atau iblis perempuan.... pokok nasib hidupmu sudah ditentukan tak dapat berpisah dengan diriku " Wanita pemilik lembah itu berhenti sejenak, menghela napas lalu melanjutkan kata-katanya, Jika engkau membunuh aku, engkau pun takkan dapat hidup lebih lama dari tiga hari. Begitu racun Jong-tok itu bekerja, sekalipun dewa tak mungkin dapat menolongmu!" Jong-tok adalah ramuan racun dari segala jenis binatang berbisa. Siau-liong menggemeretakkan gigi. Namun tak dapat berbuat apa2. Ia percaya perempuan itu tentu tak bohong. Dengan minum racun Jong-tok yang ganas, setiap saat jiwanya dapat diputuskan menurut kekehendak perempuan itu! Siau-liong menghela napas dalam.... Dia tak takut mati. Hanya tugas yang dibebankan pada dirinya masih banyak yang belum selesai. Jika mati ditangan perempuan siluman itu. bukanlah suatu kematian yang teramat sia-sia....? 350 Teringat ia akan kematian ayahnya ditangan Toh Hun-ki. ibunya yang sedang mengidap sakit disebrang lautan, gurunya Kongsun Sin-tho yang telah merawatnya belasan tahun, Pendekar Laknat yang telah memberi saluran tenaga dalam kepadanya serta Pengemis Tengkorak yang telah menurunkan ilmu pukulan Thay-siang-ciang.... Mereka masing-masing menumpahkan harapannya kepada dirinya. Walaupun permintaan mereka itu berlainan satu sama lain, tetapi ia merasa telah menerima budi mereka. Budi yang wajib ia balas dengan jiwa raga. Jika ia sampai mati dilembah situ, bukankah ia akan mengecewakan harapan mereka.... Dan juga masih ada Tiau Bok-kun serta Mawar Putih.... ah, teringat akan kesemuanya itu, hatinya amat pilu sekali.

Bahkan timbul juga perasaan tak puas atas keadilan Yang Maha Kuasa, mengapa menggariskan suratan nasibnya dalam keadaan yang sedemikian rumit.... Diam-diam Po Ceng-in melirik ke arahnya lalu tertawa pelahan, Sesungguhnya engkau tak perlu bersedih begitu rupa. Apakah kerugianmu mengambil aku sebagai isteri? Bukankah tak lama lagi ayahku bakal menjadi pemimpin dunia persilatan? Pada saat itu, dikolong dunia ini.... Tutup mulutmu!" bentak Siau-liong. Po Ceng-in mendengus, Hm, dalam hal apakah aku tak dapat dibandingkan dengan budak perempuan baju putih itu? Mengapa hatimu begitu kemati-matian terpikat padanya? Budak perempuan hina itu kemungkinan sudah mati!" Memang Po Ceng-in berani mengatakan begitu karena ada kenyataannya. Walaupun umurnya sudah 40-an tahun, tetapi wajahnya masih berseri secantik gadis2 remaja. Terutama sepasang sepasang mata dan bibirnya, benar-benar 351 mengandung daya tarik yang hebat. Tak kalah menariknya dengan wajah Mawar Putih mau pun Tiau Bok-kun. Tetapi Siau-liong tetap muak terhadap perempuan itu. Ingin ia menghantamnya hancur lebur. Dengan menahan kegeraman, ia paksakan menegur, Berapa lamakah racun itu akan bekerja?" Sambil memandang pemuda itu, Po Ceng-in menjawab, Hal itu tergantung padamu sendiri Setiap saat dapat bekerja. Mungkin seumur hidup racun takkan bekerja. Syaratnya asal engkau memperisteri aku, tentu selamat selama-lamanya!" Siau-liong tertawa dingin, Hapus saja impianmu itu!" Po Ceng-in menghela napas, Terserah saja padamulah! Karena hal itu memang tak dapat dipaksakan." Dengan tajam ia melirik anak muda itu lalu berkata pula, Begini sajalah! engkau tak sudi mengambil isteri aku, tetapi pun jangan dengan budak baju putih itu. Paling tidak, takkan bersatu seumur hidup.... Habis berkata ia tertawa keras. Tetapi nadanya mengandung rintihan hati yang putus asa. Siau-liong menghela napas. Benar-benar ia tak dapat berbuat apa2 terhadap wanita yang sudah diamuk dendam asmara itu.... Puas tertawa, Po Ceng-in berseru dengan terengah-engah, Apa yang tak dapat kuperoleh. Lain orang pun jangan harap bisa mendapatkannya!.... lekas, lekaslah bunuh aku.... bunuhlah....!" 352 Dengan kalap ia menyongsong Siau-liong seraya herteriakteriak.... Kalau engkau tak mau membunuhku, tak apalah. Aku dapat bunuh diri sendiri. Tetapi kalau aku mati, engkau pun

hanya dapat hidup 3 hari lagi. Pergilah silahkan kalau mau pergi....!" Entah bagaima mendadak Siau-liong kasihan juga. Lepas bagaimana peribadi wanita itu tetapi yang nyata ia begitu mencintainya kemati-matian. Kalau tidak masakan dia sampai nekad makan racun ganas berdua supaya dapat sehidup semati dengannya. Segera Siau-liong mencengkeram bahu Po Ceng-in dan menguncang-guncangkannya; Nona.... nona.... Po Ceng-in agak tenang, sambil mengangkat muka ia bertanya, Bagaimana? Apakah engkau sudah menyadari....?" Siau-liong tertawa masam, Aku tak dapat membohongi engkau. Tetapi memang benar-benar aku tak dapat memperisteri engkau, hanya.... Tak perlu mengatakan!" tukas Po Ceng-in. Hanya aku dapat meluluskan, untuk mati bersama-sama engkau!" kata Siau-liong tanpa peduli. Engkau meluluskan atau tidak, tetap sama saja. Racun Jong-tok itu tiada obatnya!" Siau-liong mengangguk, Kutahu.... hanya saja marilah kita cari tempat yang bagus untuk membuat liang dan mati dalam satu lubang kubur!" 353 Po Ceng-in tertawa rawan. Itulah liang kubur 'Mati bersama hidup berbeda' ditatapnya Siau-liong, tanyanya, Apakah engkau benar-benar sudah memutuskan begitu?" Siau-liong mengangguk, Sekali sudah memutuskan, tak nanti aku menyesal. Tetapi engkau harus meluluskan sebuah hal dulu." "Katakanlah!" "Dalam waktu setahun lamanya, harap engkau jangan membuat racun Jong-tok itu bekerja dulu Dan jangan bertanya apa yang akan kulakukan. Apapun juga tindakanku, jangan sekali-kali engkau turut campur.... , ." Po Ceng-in menolak, Tidak, bagaimana kalau engkau mencari budak baju putih dan bercumbu-cumbuan dengannya?" Siau-liong banting2 kaki menghela napas jengkel, Percaya atau lidak, terserah. Tetapi aku tak punya hati apa2 terhadap nona itu. Dan lagi aku masih mempunyai tugas berat yang belum kuselesaikan. Mana aku mau menyeleweng untuk bermain cinta." Setelah merenung beberapa jenak, Po Ceng-in menyatakan setuju. Siau-liong menghela napas panjang, katanya, Kalau begitu pada nanti hari raya Musim Rontok tahun depan, harap engkau menunggu aku dipuncak Sin-li-hong gunung Busan!" Po Ceng-in tertegun; Lembah Semi mempunyai alam musim semi sepanjang tahun. Benar-benar merupakan tempat

peristirahatan selama-lamanya yang bagus. Mengapa harus menuju kegunung Busan?" 354 Tetapi Siau-liong berkeras, Hal itu termasuk salah satu syarat perjanjian. Kalau tak setuju, katakan sekarang juga!" Po Ceng-in tak dapat berbuat apa2 kecuali menyetujui juga, Baiklah, akan kutunggu engkau dipuncak Sin-li-hong pada nanti pertengahan musim rontok. Jika engkau tak datang. jangan salahkan aku berhati ganas.... terpaksa akan ku buatmu supaya mati secara pelahan-lahan dengan tubuh membusuk!" Siau-liong paksakan tertawa, Aku bukan orang yang suka ingkar janji. Asal engkau benar-benar melaksanakan perjanjian setahun itu, aku pasti datang!" Tiba-tiba Po Ceng-in menatap pemuda itu dengan mesra, ujarnya, Mungkin tak lama lagi aku akan ke Sin li-hong. Lebih dulu hendak kubangun makam itu seindah-indahnya agar kelak hatimu puas.... Berhenti sebentar, ia melanjutkan kata2nya lagi, Kita dapat tinggal disana, mengasingkan diri dari keramaian dunia. Tetapi kalau niatmu tetap tak berobah, kitapun dapat mati berkubur di makam itu!" Siau-liong tertawa masam, Terserah! Tetapi menurut pendapatku, baiklah makam itu jangan diberi payon. Biarkan saja terbuka. Memang lebih baik kalau engkau dapat secepatnya membangun makam itu kesana!" Po Ceng-in diam beberapa saat. Kemudian ia mengangkat muka memandang Siau-liong. Tiba-tiba ia mengambil sebuah botol kecil dari batu kumala lalu diserahkan kepada Siau-liong. "Obat ini untukmu. Sekeluarnya dari lembah mungkin ada gunanya.... berputar tubuh, ia terus lari menyusuri lorong terowongan yang panjang. 355 Siau-liong tegak mematung sambil mencekal botol obat itu. Dia seperti tersadar dari mimpi buruk. Ia merasa seperti habis keluar dari Neraka. Hatinya segelap terowongan dibawah tanah yang baru saja disusurinya tadi. Kini nasibnya sudah ditentukan. Ia bakal hanya dapat hidup selama satu tahun saja.... Dalam waktu setahun itu, ia harus sudah dapat menyelesaikan budi dan dendam. Mengajak Mawar Putih menemui ibunya diseberang laut. Kemudian pada musim rontok tahun muka, harus mewakili Pendekar Laknat memenuhi tantangan digunung Busan. Dan terakhir baru menunaikan perjanjiannya dengan Po Ceng-in. Tiba-tiba saja pada saat itu ia merasa bahwa tempo amat berharga sekali. Tak boleh ia mensia-siakan setiap detikpun juga. Maka segera ia menyimpan botol obat lalu mengeluarkan

peta pemberian Jong Leng lojin. Peta itu tenyata dibuat dengan cermat tetapi amat jelas sekali. Ditambah dengan kecerdasan otaknya, setelah meneliti beberapa saat, Siau-liong segera dapat mengingat semua jalan tembusan serta tembusannya. Ujung dari jalan tembusan yang terbentang dihadapannya saat itu, merupakan sebuah dinding batu. Menurut petunjuk dalam peta, Siau-liong dapat menemukan sebuah tombol pembuka pintu. Sekali tekan, pintu batu itupun segera terbuka. Ternyata diluar pintu itu adalah daerah Lembah Maut. Segera ia melangkah keluar. Sambil berjalan ia merangkai rencana. Lebih dulu ia hendak mencari Mawar Putih, kemudian mencari Toh Hun-ki serta keempat Su-lo, membunuh mereka 356 lalu mengambil batang kepala mereka untuk diserahkan kepada Mawar Putih. Rencana kedua, ia akan menuju kekota Siok-ciu mencari Tiau Bok-kun, sekalian membelikan obat untuk Jong Leng lojin. Setelah itu akan masuk ke dalam Lembah Semi lagi. Menyerahkan obat kepada Jong Leng lojin lalu membunuh Soh-beng Ki-su untuk membalaskan dendam kematian Pendekar Laknat. Tiba-tiba terdengar seekor burung gagak terbang di atas kepalanya seraya berbunyi nyaring. Siau-liong terkejut. Saat itu sudah menjelang magrib. Suasana dalam Lembah Maut makin menyeramkan. Siau-liong mempertinggi kewaspadaannya, siap menghadapi setiap kemungkinan. Sekonyong2 dari balik beberapa gunduk batu yang berserak-serak kira2 lima tombak jauhnya disebelah muka, melurcur seuntai sinar berkilat kemilau menyambar ke arah burung gagak itu. Dan serempak pun terdengar suara bentakan yang nyaring seperti memecah angkasa. "Binatang, engkau berani jual lagak dihadapanku.... ---ooo0dw0ooo--Jilid 07 Menyusun tenaga HUAK.... burung gagak itu bergaok dan miringkan tubuh menghindar. Setelah berputar-putar, burung itu balik ke dalam lembah lagi. 357 Jelas benda berkilat itu adalah senjata rahasia yang dilepaskan oleh seorang ahli. Tetapi ternyata burung itu dapat menghindari.... Terang burung itu bukan burung biasa. Tiba-tiba dari balik gundukan batu terdengar suara orang berseru, Lo-siansu, harap sabarkan diri. Saat ini kita berada dalam perangkap musuh. Hendaknya jangan mempertunjukan diri."

Mendengar kata2 itu, Siau-liong terkejut girang. Jelas ia kenal nada orang itu sebagai To Kiu-kong dan Ti Gong taysu. Ti Gong mendengus, Huh, pengemis busuk, engkau juga berani mencampuri urusanku?" To Kiu-kong pun marah juga. Sahutnya dengan tajam, Losiansu, tak perlu lo-siansu mengagulkan diri. Sekalipun aku seorang pengemis tua, tetapi juga merupakan salah sebuah aliran Putih dalam dunia persilatan. Rasanya tak lebih rendah dari lo-siansu!" Mendengar percakapan yang tajam itu, Siau-liong tak dapat mengendalikan diri lagi. Dengan gunakan gerak Nagamelingkar18-kali, ia apungkan tubuh ke arah tempat persembunyian mereka. Ternyata dibalik gundukan batu itu terdapat tak kurang dari 10-an orang. Ada yang rebah, ada yang duduk tersebar diantara semak rumput.... Mereka adalah ketua Siau-lim-si Ti Gong taysu, To Kiu-kong dan Pengemis-tertawa Tio tay-tong serta si Pincang-kanan dan si Pincang-kiri. Dan yang membangkitkan semangat Siauliong, ternyata ketua Kong-tong-pay Ton Hun-ki dan keempat Su-lo pun berada diantara mereka. 358 Pakaian mereka compang-camping, sekujur tubuh berlumuran darah dan kotoran. Jubah Ti Gong taysu rompal2 tak keruan. Kemunculan Siau-liong, mengejutkan sekalian orang. Ti Gong taysu yang hendak bertindak terhadap To Kiu-kong, pun terpaksa berhenti. Secepat berputar tubuh ia menghantam Siau-liong. To Kiu-kong dan kawan-kawannya terkejut girang sekali. Kehadiran ketua mereka pada tempat dan saat seperti itu, benar-benar membuat mereka tercengang heran sehingga tak dapat berkata apa2. Setelah lepaskan pukulan, Ti Gong taysu menggembor dan hendak menyerang. Tetapi dicegah oleh Toh Hun-ki, Harap bersabar dulu. Jika memang harus berkelahi, nanti saja setelah persoalan sudah jelas!" Ti Gong terpaksa tarik pulang tinjunya dan membentak, Apanya yang perlu dijelaskan lagi? Budak itu jelas anak buah Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka! Bukankah ketika dipuncak Ngo-siong-nia tempo hari engkau juga melihatnya menolong Dewi Ular Ki Ih?" Benar," sahut Toh Hun-ki, "tetapi aku pun juga menyaksikan dia menempur Harimau Iblis!" Toh Hun-ki tak mau melayani ketua Siau-lim-si itu lagi. Ia terus berpaling memberi hormat kepada Siau-liong, Ah, Kongsun hiapsu.... Siau-liong hanya mengangguk dan mendengus. Matanya berkilat-kilat memandang orang2 disitu, lalu bertanya,

Dimanakah It Hang totiang dan romhongannya?" 359 Toh Hun-ki menghela napas, It Hang totiang, Kun-lun Sam-cu dan rombongannya, belum ketahuan jejaknya. Turut pendapatku, kemungkinan mereka.... tertimpah kemalangan.... Siau-liong terbeliak, serunya, Apakah kalian melihat ketua Tong-thing-pang Cu Kong leng dan ketua Ji-tok-kau Tan Ihhong serta seorang gadis baju putih?" Toh Hun-ki gelengkan kepala, Sejak masuk ke dalam Lembah, Tan Ih-hong dan Cu Kong-leng sudah tak ada berita. Kami sekalian didesak ke dalam Lembah Maut sini dan tak pernah melihat si dara baju putih itu!" Siau-Liong gelisah. Jika Mawar Putih benar-benar masuk ke dalam Lembah Maut, tak mungkin dia menghilang. Sekalipun benar ada seorang sakti yang menyelundup ke dalam lembah seperti yang diduga Iblis Penakluk-dunia itu tetapi tanpa memiliki peta dari Jong Leng lojin, tak mungkin bisa keluar. Apalagi disekeliling penjuru lembah itu dijaga ketat oleh anak buah Ibiis Penakluk-dunia.... Rupanya Ti Gong taysu masih membekal dalam tentang peristiwa dipuncak Ngo-siong-nia tempo hari. Tetapi karena ia menyadari takkan mampu mengalahkan Siau-liong, maka ia mau juga dicegah Toh Hun-ki tadi. Ia berdiri disamping tak bicara apa. Tetapi matanya tetap memandang Siau-liong dengan gusar. Melihat Siau-liong termenung diam, Toh Hun-ki berkata pula, Pertemuan dipuncak Ngo-siong-nia telah dihadiri oleh 200 tokoh2 persilatan ternama. Tetapi ternyata kedua suami isteri iblis itu telah mempersiapkan jaring2 perangkap yang hebat sekali. Dalam pertempuran di lembah mereka, kami telah kehilangan banyak sekali kawan2 sehingga yang masih hidup hanya tinggal beberapa orang ini!" 360 Siau-liong tindas ketegangan hatinya, menyahut, Lembah Maut ini memang berhubungan dengan barisan Tujuh Maut. Penuh dilengkapi dengan alat-alat rahasia dan barisan pendam. Iblis Penakluk-dunia menggunakan tempat ini sebagai tempat tawanan. Kemungkinan saudara2 memang sukar untuk lolos dari sini!" Toh Hun-ki mengangguk, Ya, memang hal itu sudah kuduga, tetapi.... betapapun juga. Kebenaran pasti akan mengalahkan kejahatan. Memang untuk sementara ini Iblis Penakluk-dunia menang, tetapi akhirnya dia tentu takkan lolos dari kekalahan juga! Pengorbanan It Hang totiang dan ke 200 orang gagah itu, pasti takkan sia2. Tentu akan menggugah hati nurani segenap kaum persilatan untuk serentak berbangkit menentang kedua suami isteri iblis!"

Siau-liong tertawa dingin, Ucapan saudara memang benar. Suami isteri Ibiis Penakluk-dunia dengan gerombolannya berusaha dengan sekuat tenaga dan kemampuannya untuk menguasai dunia persilatan. Tetapi betapapun, usaha mereka yang ganas itu pasti akan menemui kegagalan. Namun kehancuran dari rombongan orang gagah yang dipimpin It Hang totiang itu, benar-benar merupakan pukulan berat bagi kubu kekuatan dunia persilatan. Dalam beberapa waktu, kiranya sukar untuk menyusun tenaga, menghadapi ancaman kedua iblis itu. Dunia persilatan pasti akan menderita kekosongan tokoh sehingga mudah dikuasai mereka. Dengan demikian dunia persilatan pasti akan mengalami suatu kehancuran banjir darah yang belum pernah terjadi selamanya!" Jika tak timbul suatu keajaiban, memang banjir darah itu tak mungkin dapat dihindari lagi," sahut Toh Hun-ki. 361 Apakah yang engkau maksudkan dengan keajaiban itu?" tanya Siau-liong. Sepasang mata ketua Kong-tong-pay itu berkilat-kilat memancar api. Sambil mengurut-urut jenggotnya yang panjang sampai kedada, ia berkata pelahan-lahan, Sejak dunia persilatan tenteram kembali dari pengacauan keempat momok Iblis Penakluk-dunia. Dewi Neraka, Harimau Iblis dan Naga Terkutuk, banyaklah sudah para cianpwe persilatan yang berilmu sakti sama mengasingkan diri dari dunia ramai. Misalnya, Ketua partai Kun-lun-pay yang dahulu yakni Ceng Hi totiang, Liau Hoan siansu paderi sakti dari gunung Thian-san, Sepasang imam dari gunung Busan dan lain-lain.... Mereka termasuk tokoh2 yang telah mencapai kesempurnaan dalam ilmu silat. Jika mendengar gerombolan iblis itu muncul dan mengacau lagi, kemungkinan besar para cianpwe itupun tentu akan keluar lagi untuk menentramkan suasana. Selain itu.... Ia berhenti sejenak lalu berkata pula, Masih ada seorang yang dapat diandalkan ialah.... Siapa?" Siau-liong menyelutuk. "Orang itu bukan lain adalah momok yang sejajar tingkatannya dengan keempat iblis lainnya, ialah Pendekar Laknat! Walaupun dia berwatak sombong dan dendam, malang melintang di dunia persilatan seorang diri, namun setelah beberapa kali bertemu dengannya, kutahu dia ternyata amat baik hati budinya.... Toh Hun-ki berhenti mencari kesan pada sekalian orang. Kemudian menyambung pula, Dan lagi dia sudah mau menerima permintaanku! Kemungkinan setiap saat dia akan muncul membantu perjuangan kita melawan kedua suami isteri iblis itu. Maka pada hematku, walaupun keadaan saat ini 362

memang teramat buruk, tetapi belum berarti kalau sudah hancur lebur!" Toh Hun-ki berbicara dengan sikap seorang ketua partai persilatan yang berwibawa. Jelas ia masih menaruh kepercayaan penuh pada Pendekar Laknat. Diam-diam malulah Siau-liong pada dirinya sendiri. Sebenarnya saat itu ia hendak membunuh Toh Hun-ki dan keempat Su-lo, lalu menyerahkan batang kepala mereka kepada Mawar Putih dan bersama dara itu pulang ke seberang laut menemui ibunya. Tetapi sikap Toh Hun-ki yang mengunjukkan pribadi seorang tokoh aliran Putih yang tak kenal takut, diam-diam telah menggerakkan hatinya. Bukan saja tak sampai hati untuk membunuhnya, pun tak sampai pula ia untuk berpeluk tangan mengawasi bencana berdarah yang akan menimpah dunia persilatan. Tanpa disadari, tangannya merabah baju dan terjamahlah separoh Giok-pwe yang diberikan Toh Hun-ki kepadanya. Pikirannya makin kabur dan hilanglah fahamnya untuk bertindak. Sampai beberapa saat ia termenung-menung. Akhirnya ia menghela napas, Kalau Pendekar Laknat itu sejajar tingkatannya dengan Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka, terang kalau dia tidak lebih sakti dari kedua suami isteri itu. Sekalipun dia muncul membantu rombongan orang gagah, juga belum tentu dapat mengalahkan suami isteri iblis itu!" Pada saat Toh Hin-ki hendak menyahut, Ti Gong taysu rupanya tak sabar menunggu lagi. Ia menyelutuk nyaring, Perlu apa engkau meributi orang itu! Pendekar Laknat sejenis dengan Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka, Bagaimana 363 mungkin dia akan berbalik haluan membantu kita? Dan lagi ia mendengus. lalu melanjutkan, "kalau hasil kemenangan terhadap suami isteri iblis itu berkat bantuan Pendekar Laknat, rasanya juga merupakan suatu hal yang menghilang muka seluruh kaum persilatan golongan Putih!" Siau-liong meluap tetapi ia masih paksakan diri untuk menekan kemarahannya. Serunya dengan tertawa dingin, Andaikata Pendekar Laknat benar-benar muncul disini dan menolong sekalian saudara dari lembah ini. Entah apakah losiansu akan ikut atau tetap tinggal seorang diri disini!" Ti Gong terkesiap, bentaknya, Suatu hal yang mustahil terjadi! Dan lagi aku tetap tak percaya bahwa seorang iblis ganas yang gemar membunuh orang, dapat berobah seratus derajat pendiriannya....!" Habis berkata ketua Siaulim-pay itu maju selangkah dan membentak, Budak, katakanlah engkau sendiri datang dari mana?" "Apa engkau berhak mengurus aku?" sahut Siau-liong

marah. "Omitohud!" seru Ti Gong taysu. Lalu ia berpaling kepada Toh Hun-ki, Budak itu jelas menjadi anak buah Iblis Penakluk-dunia! Coba bayangkanlah. Sedang kita yang berjumlah puluhan orang tetap sukar menghadapi serangan Iblis Penakluk-dunia dan akhirnya digiring masuk ke dalam lembah ini, mengapa dia seorang diri dapat muncul lenyap sekehendak hatinya?" Sejenak ketua Siau-lim-si itu memandang sekalian orang lalu berseru lantang, Turut hematku, lebih baik kita bersatu untuk membasmi budak itu!" 364 Benar-benar dada Siau-liong seperti hendak meledak. Marah dan kecewalah ia. Jika setiap kaum persilatan golongan Putih mempunyai pendirian semacam Ti Gong, bersikap bengis dan keras kepala seperti paderi itu, terang dunia persilatan pasti akan kiamat! Toh Hun-ki kerutkan alis memandang Ti Gong, Harap losiansu suka redakan nafsu amarah lo-siansu. Pada saat dan tempat seperti sekarang ini bagaimana kita hendak menambah musuh lagi? Walaupun memang sepak terjang Kongsun haipsu ini dapat menimbulkan kecurigaan orang tetapi menurut pengamatanku, dia bukanlah golongan orang semacam Iblis Penakluk-dunia dan rekan-rekannya itu.... Kemudian ketua Kong-tong pay itu memandang Siau-liong dan memberi sebuah senyuman, Entah begaimanakah cara Kongsun haipsu dapat masuk ke dalam lembah ini, apakah.... Terlalu panjang kalau diceritakan," tukas Siau-liong tak sabar, "saat ini tiada waktu lagi untuk bercerita. Tetapi memang aku sendiri juga terjebak dalam barisan Tujuh Maut itu. Jika Cu Kong-leng dan Tan Ih-hong belum mati, mereka tentu dapat memberi kesaksian.... Ia menghela napas, sambungnya, Jika tidak bertemu seorang cianpwe yang aneh, saat ini aku tentu tak dapat berada disini!" Ti Gong mendengus, Hm, keterangan yang sukar dipercaya!" Ketua Siau-lim-si itu walaupun bengis dan keras kepala tetapi ia agak gentar juga terhadap Siau-liong. Oleh karena itu ia pun tak berani bertindak apa2 kecuali hanya memandang anak muda itu dengan mata penuh kemarahan. 365 Siau-liong tertawa dingin. Ia tak mempedulikan ketua Siaulimsi itu dan berpaling ke arah To Kiu-kong, Kiu kong!" Cousu-ya!" buru-buru tokoh pengemis itu menyahut. Siau-liong tertawa masam, Saat ini diriku sedang dicurigai orang. Apakah kalian masih tetap menganggap diriku sebagai cousu-ya?"

Dengan masih menundukkan kepala To Kiu-kong menyahut, Bagaimanapun halnya adalah pewaris dari kakek guru kami Pengemis Tengkorak Selama-lamanya tetap menjadi cousu-ya partai kami. Aku dan sekalian anak murid.... Tokoh Kay-pang itu menghela napas. Sepasang matanya berlinang-linang dan dengan suara rawan melanjutkan kata2 lagi; "Bertahun-tahun ini pamor partai kita makin menyuram. Kami harap cousu-ya suka mengembalikan cahaya gemilang dari partai kita. Jika benar-benar cousu-ya sampai tersesat dan mau bersekutu dengan kedua suami isteri iblis itu, itupun memang sudah menjadi kehendak Allah untuk melenyapkan Kay-pang. Setitik pun aku dan sekalian anak murid Kay-pang takkan mendendam kepada cousu-ya!" Mendengar pernyataan tokoh Kay-pang yang penuh bernada kesungguan dan kesetyaan hati itu, mau tak mau hati Siau-liong pilu juga. Kemudian ia melolos lencana Tengkorak yang tergantung pida lehernya lalu diserahkan kepada To Kiu-kong, Ambillah lencana ini. Sejak saat ini aku bukan lagi cousu-ya dari Kaypang!" To Kiu-kong terkejut sekali. Ia menyurut mundur dan berseru gugup, Mengapa begitu? Bagaimana nanti 366 pertanggungan jawabku kepada sekalian anak murid Kay pang yang berjumlah puluhan ribu itu?" Siau-liong menghela napas. "Memang aku sudah mererima budi dari Pengemis Tengkorak yang telah memberikan ilmu pukulan sakti Thay-siang-ciang. Tetapi sedikitpun aku belum dapat membalas.... Ia berhenti merenung.... Tiba-tiba dengan nada tegas ia berseru, Pilihlah diantara anak murid Kay-pang seorang yang berbakat bagus. Akan kuberinya pelajaran ilmu Thay-siangciang itu kepadanya agar dapat melanjutkan usaha untuk mengembangkan pamor partai Kay-pang.... Ini.... ini.... To Kiu-kong makin bingung dan tak mengerti maksud Siau-liong. Sampai beberapa saat ia tergugu tak dapat berkata yang jelas. Siau-liong tahu isi hati tokoh Kay-pang itu. Dengan tersenyum ia berkata, Kiu-kong, jangan meragu. Aku akan bersumpah takkan memberikan ilmu pelajaran itu kepada lain orang lagi. Tentang diriku.... Ditatapnya To Kiu-kong lekat2, lalu berkata pula dengan tenang, Setelah urusan itu selesai, aku hendak pergi jauh keseberang lautan. Mungkin dalam kehidupan sekarang, aku takkan kembali lagi. Dengan begitu ilmu pukulan Thay-siangciang, tetap menjadi milik partai Kay-pang." Oleh karena tak mau menceritakan tentang perjanjian mati dengan Po Ceng-in pemilik lembah Semi, maka Siau-liong hanya menggunakan alasan hendak pergi jauh keluar lautan.

To Kiu-kong benar-benar dicengkam oleh rasa keheranan dan tak mengerti atas ucapan cousu-ya mereka. Ia berpaling 367 dan bertukar pandang mata dengan kedua pengemis Pincang, lalu mengiakan. "Karena begitu yang menjadi kehendak cousu-ya, akupun tak berani menolak. Tetapi hal itu mempunyai akibat besar. Apabila kami beruntung dapat keluar dari bahaya maut saat ini, pun harus mengundang seluruh anak murid Kay-pang dalam sebuah pertemuan besar. Lalu memilih calon yang tepat untuk melaksanakan perintah cousu-ya tadi. Kemudian barulah kami dapat mengundang cousu-ya untuk memberi ilmu pelajaran." Siau-liong mengangguk, Baiklah, tetapi hal itu harus segera terlaksana secepat mungkin. Karena aku benar-benar ingin lekas tinggalkan tempat ini!" Perintah cousu-ya pasti akan kulaksanakan, tetapi.... saat ini kita sekalian sedang terkurung dalam Lembah Maut. Dapatkah lolos dari sini, masih sukar diramalkan.... Siau-liong hendak membuka mulut, tetapi Ti Gong taysu dan Toh Hun-ki kedengaran mendesah pelahan. Rupanya mereka telah mencium sesuatu hawa yang harum. Ini tentulah gerombolan siluman itu yang mengacau. Bau ini bukan sewajarnya!" seru Ti Gong dengan geram. Memang saat itu Siau -liongpun terbaur oleh angin yang mengantar bau harum. Diam-diam ia heran. Jelas diketahui dalam lembah itu hanya terdapat pakis yang tak enak baunya. Dari manakah datangnya bau harum itu? Awas!" tiba-tiba Toh Hun-ki berseru, "bau harum ini tentu mengandung racun. Kemarin pun aku sudah terkena. Harap saudara lekas menutup pernapasan!" 368 Tetapi bau itu makin lama makin keras. Sedang menutup pernapasan pun tak dapat berlangsung lama. Saat itu mereka benar-benar menyerupai kawanan ikan dalam jaring yang tak dapat lolos. Tak lama mereka pasti akan rubuh. Kira2 tak sampai sepeminum teh lamanya, Su-lo dari Kongtongpay, Pengemis Tertawa Tio Tay-tong serta kedua pengemis pincang tampak tak kuat. Mereka terus menerus batuk2 dan tubuhnya terhuyung-huyung.... Saat itu hari makin malam. Suasana dalam lembah itu makin menyeramkan. Ditambah pula dengan tebaran kabut, benar-benar menyerupai sebuah tempat di Neraka. Ti Gong taysu, To Kiu-kong dan Toh Hun-ki yang lebih tinggi ilmu lwekangnya, masih lebih dapat bertahan. Tetapi makin lama kepala mereka makin pusing, mata makin berkunang-kunang dan lalu makin kantuk. Apabila setiap saat musuh datang menyerang, habislah

tentu riwayat mereka.... Siau-liong amat gelisah. Tiba-tiba ia teringat akan botol obat pemberian Po Ceng-in. Nona itu mengatakan bahwa botol itu mungkin berguna dalam perjalanan keluar lembah. Ah, kemungkinan yang dimaksudkan itu tentulah kabut beracun. Segera ia mengeluarkan botol itu dan segera menuang sebutir lalu menelannya sendiri. Ternyata khasiatnya hebat sekali. Ia rasakan semangatnya segar lagi. Rasa lemas dan pening akibat kabut itu hilang seketika. Setelah mengetahui khasiatnya, segera ia membagikan pil itu kepada To Kiu-kong, kedua pengemis pincang, Toh Hun-ki serta keempat Su-lo. Tak lama mereka segar kembali. 369 Ti Gong yang menggeletak di tanah. Melihat orang2 sudah segar lagi, ia paksakan diri bangun dan berseru, Hai, mengapa aku tak diberi pil?" Dalam pakaian jubah yang sudah compang camping dan sekujur badan berlumur noda darah, ketua Siau-lim-si itu tampak tak karuan keadaannya. Mau tak mau orang tentu geli melihatnya. Toh Hun-ki benar-benar amat berterima kasih sekali kepada Siau-liong. Rasa kesangsiannya terhadap pemuda itu lenyap sama sekali. Serta-merta ia menghaturkan terima kasih. Tetapi Siau-liong mengatakan, yang penting saat itu harus segera bersiap menghadapi kemungkinan lain. Musuh tentu akan segera datang menyergap. "Lebih baik kita pedayakan mereka. Jangan sampai mereka mengetahui bahwa kita tak kurang suatu apa.... katanya, "begitu mereka datang, kita basmi habis dan terus keluar dari lembah celaka ini!" Toh Hun-ki memuji buah pikiran pemuda itu. Ia menyatakan akan menurut apa yang direncanakan pemuda itu. Selain itu ia pun memintakan obat juga untuk Ti Gong Taysu. Karena walau pun ketua Siau-lim-si itu berwatak kasar dan bengis tetapi dia tetap seorang tokoh golongan Putih yang menentang kejahatan. Siau-liong mendengus lalu menghampiri Ti Gong, serunya tertawa, Tadi lo-siansu menuduh aku seorang kaki tangan Iblis Penakluk-dunia. Dengan begitu pil ini tentu mengandung racun. Apakah lo-siansu tak kuatir?" 370 Ketua Siau-lim-si itu paksakan membuka mata dan hendak berkata. Tetapi baru bibirnya bergerak, ia sudah tak kuat. Siau-liong tak sampai hatinya. Segera ia menyusupkan sebutir pil kemulut paderi itu. Tak berapa lama paderi itu dapat merangkak bangun. Sejenak memandang ke arah Siauliong, ia duduk kembali. Walaupun tak membuka mulut tetapi

wajahnya menunjukkan bahwa ia menyesal dengan tuduhannya terhadap Siau-liong. Saat itu sesuai dengan rencana Siau-liong lalu mereka semua menggeletak di tanah, pura-pura pingsan seperti terkena racun. Tiba-tiba Siau-liong mendapat pikiran. Segera ia mengatakan kepada To Kiu-kong yang berada disebelahnya, Aku hendak menyelidiki keadaan lembah ini.... siapa tahu aku dapat menemukan jalan keluar dari lembah ini. Pada saat itu kalian harus lekas2 menerobos keluar tak perlu tunggu aku!" Baik cousu-ya!" kata To Kiu-kong yang saat itu sudah pulih seratus persen kepercayaannya terhadap Siau-liong. Setelah memberi pesan supaya berhati-hati. Siau-liong melesat lenyap ditelan kabut. Dalam tempat yang penuh dengan pohon dan saat itu sedang terbungkus kabut tebal, jika tak memiliki mata yang amat tajam, tentu akan celakalah. Toh Hun-ki dan lain-lain orang, menghela napas. Mereka benar-benar tak mengerti akan sepak terjang Siau-liong. Tetapi yang jelas, kini mereka sudah yakin bahwa pemuda itu bukanlah kaki tangan Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka. Hanya To Kiu-Kong yang paling bingung. Ketika dipuncak Ngosongnia, ia melihat Siau-liong menolong Dewi Ular Ki Ih yang 371 terluka. Lalu sekarang cousu-ya itu hendak mancari sigadis baju putih serta Tiau Bok-kun. Mengapa cousu-ya itu dimanamana tempat selalu terlibat dengan wanita saja? Sepeminum teh dari kepergian Siau-liong, suasana dalam Lembah Maut makin sunyi. Hanya hawa wangi itu tetap berhamburan memenuhi lembah. Tetapi karena sudah minum pil pemberian Siau-liong, mereka tak kurang suatu apa. Bahkan mereka merasa segar semangatnya karena menghirup hawa wangi itu. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara suitan pelahan. Seperti suitan dari mulut orang tetapi juga mirip tiupan seruling. Tak berapa lama sepetik api kehijau-hijauan meluncur ke udara. Sekalian orang gagah segera bersiap-siap. Mereka berbaring di tanah, pura-pura pingsan. Tak berapa lama, mereka mencuri lirik. Tampak seorang tua bermuka kurus, rambut dikucir, tubuhnya kurus kering seperti tulang terbungkus kulit, mengenakan pakaian pertapaan. Dandanannya mirip imam bukan imam, orang biasapun juga bukan. Punggung menyanggul sebuah senjata yang aneh. Orang itu bukan lain adalah murid tunggal dari Iblis Penakluk-dunia yakni Soh-beng ki-su atau Pertapa-percabutnyawa. Setelah memandang kesekeliling penjuru dan melihat rombongan Ti Gong dan Toh Hun-ki menggeletak pingsan di

tanah, tiba-tiba ia kebutkan lengan jubahnya melambai Anak2, lekas kemari!" 372 Lebih dari 20 orang berpakaian hitam, muncul dan memberi hormat dihadapan Soh-beng Ki-su, menunggu perintah. Sikap dan gerak-gerik rombongan baju hitam itu seperti tak wajar. Seperti orang tolol. Mereka masing-masing memandang ke ujung kakinya. "Ikatlah tulang bahu mereka dengan rantai besi dan terus bawa ke dalam lembah!" seru Soh-beng Ki-su dengan nada macam iblis merintih. Ke 20 orang baju hitam itu gemuruh mengiakan. Beberapa orang diantaranya segera mengeluarkan rantai besi terus hendak mengikat Toh Hun-ki dan rombongannya. Yang paling tak tahan hatinya adalah Ti Gong taysu. Diamdiam ia gunakan ujung kaki untuk menjejak Toh Hun-ki, lalu tiba-tiba menggembor keras dan loncat menghantam dengan jurus Air-terjun-membuka-gunung kepada Soh-beng Ki-su. Soh-beng Ki-su tersentak kaget. Benar-benar ia tak menduga akan serangan mendadak itu. Sekali kaki menekan tanah, ia loncat sampai dua tombak ke udara menghindari pukulan Ti Gong taysu. Melihat ketua Siau-lim-si sudah bergerak, Toh Hun-ki dan lain-lain orang gagah segera loncat bangun. Toh Hun-ki, To Kiu-kong serempak menyerang Soh-beng Ki-su. Pengemistertawa Tio Tay-tong. kedua pengemis Pincang dan Su-lo Kong-tong-pay, mengamuk ke-20 orang anak buah Soh-beng Ki-su. Terdengar jeritan ngeri berkumandang memenuhi lembah. Ke 20 orang baju hitam itu hanya bertindak dari komando Soh-beng Ki-su, Karena Soh-beng Ki-su pontang panting sendiri sehingga tak dapat memberi komando, ke 20 orang 373 berpakaian hitam itupun kacau balau. Mereka mundur kegunduk batu. Ketika Soh-beng Ki-su melayang turun ke tanah. To Kiukong dan Toh Hun-ki serentak menyerangnya. Mereka gunakan jurus dahsyat dari ilmu simpanan partai masingmasing. Brett.... Soh-beng Ki-su dapat menghindari tongkat Kumala Hijau To Kiu-kong tetapi tak urung pakaianya robek sampai panjang. Sedangkan Toh Hun-ki lebih beruntung. Ia dapat menghantam lengan kiri pertapa pencabut nyawa itu sehingga Soh-beng ki-su menguak-uak karena kesakitan. Soh-beng Ki-su murka. Setelah mundur beberapa langkah ia menekuk kedua tangannya. Krek, krek.... So-beng Ki-su rentangkan kesepuluh jarinya. Dari ujung jari itu menghambur asap putih mirip dengan ribuan ekor ular

meluncur ke arah Toh Kun-ki dan kawan-kawannya. Ti Gong taysu dan To Kiu-kong segera berkumpul merapat. Belum asap putih itu melanda datang, sekonyong-konyong ketiga orang itu dilanda oleh semacam hawa dingin sekali. "Awas, dia sedang melancarkan ilmunya Pek-kut-kang! " teriak Toh Hun-ki. Ti Gong taysu baru pertama kali itu bertempur lawan SohbengKi-su sehingga ia tak tahu pertapa Pencabut-nyawa itu memiliki ilmu tenaga sakti luar biasa, yakni tenaga Tulang Putih atau Pek-kut-kang. Ketua Siau-lim-si itu merganggap ilmu tenaga dalamnya mampu menghadapi. 374 Ketua Siau-lim-si itu segera mendorongkan kedua tangannya untuk menghalau kabut. Tetapi diluar dugaan, begitu terkena angin pukulan, asap putih itu malah bergulunggulung melanda Ti Gong taysu. Seketika Ti Gong seperti didampar oleh hawa yang luar biasa dinginnya sehingga ia menggigil kedinginan. Darahnya serasa membeku. Melihat serangannya berhasil, Soh-beng Ki-su loncat mundur lalu taburkan segumpal asap merah dan tertawa nyaring, Tengkorak menari!" Saat itu Ti Gong berusaha untuk mengerah tenaga dalam melawan hawa dingin. Tetapi tenaganya lenyap, tulang serasa berhamburan lepas dari sendinya. Ia benar-benar telah kehilangan tenaga untuk melawan. Teriakan Soh-beng Ki-su itu mengejutkan sekalian orang gagah. Jelas pertapa pencabut nyawa itu tentu melepaskan pertandaan ke arah lembah Semi. Hal itu diinsjafi oleh Toh Hun-ki dan kawan2nya. Lembah Semi tentu akan mengirim bala bantuan. Kemungkinan malah Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka sendiri akan datang. Tetapi kekuatiran Toh Hun-ki dan rombongannya itu, tidak tepat. Ternyata buka bala bantuan dari Lembah Semi yang muncul, melainkan berpuluh-puluh kerangka tengkorak yang berloncatan menyerbu rombongan Toh Hun-ki. Selama berpuluh tahun berkecimpung dalam dunia persilatan, tak pernah Ti Gong menyaksikan peristiwa seaneh itu, bahwa kerangka tengkorak dapat diperintah untuk menyerang. Tetapi karena saat itu ia sudah kehilangan 375 tenaga, maka ia tak dapat berbuat suatu apa lagi kecuali hanya menghela napas, Omitohud! Habislah riwayatku sekarang!" Ia segera duduk bersemedhi di tanah. Pejamkan mata menunggu ajal. "Barisan tengkorak!" teriak Toh Hun-ki dan To Kiu-kong

serempak. "Im dan Yang silang menyilang!" terdengar pula Soh-beng Ki-su berseru nyaring. Berpuluh kerangka tengkorak itu segera menari-nari dan berbondong-bondong menyerbu sekalian orang. Toh Hun-ki dan kawan2 menyadari bahwa saat itu mereka terancam bahaya maut. Tetapi mereka sudah bertekad bulat, lebih baik pecah sebagai ratna daripada menyerah. Mereka segera mengelompok menjadi sebuah lingkaran. Bahu membahu mereka lancarkan pukulan ke arah barisan Tengkorak itu. Sekalipun barisan tengkorak itu tak dapat main silat tetapi gerakan mereka menghamburkan angin dingin dan bau busuk yang memuakkan sekali. Karena tak bernyawa, barisan tengkorak hanya bergerak menurut perintah So-beng Ki-su. Selama tidak diperintah mundur, mereka tetap maju. Sekalipun separoh dari kerangka tubuhnya hancur terkena pukulan, atau bahkan hanya tinggal sebuah kaki dan tangan saja, mereka tetap berloncatan menyerang. Pendek kata, kalau tak hancur sama sekali, mereka takkan berhenti. 376 Beberapa saat kemudian, serangan barisan Tengkorak itu makin menghebat. Lingkaran kepungan mereka pun makin menyempit. Keadaan rombongan Toh Hun-ki makin gawat. Soh-beng Ki-su tak henti-hentinya berteriak dan tertawatawa. Sekonyong-konyong terdengar sebuah suara raungan yang dahsyat. Dan menyusul terdengar suara tertawa panjang yang tak kalah congkak perbawanya dengan tertawa Soh-beng Kisu. Sekalian orang gagah terkejut sekali. Ketika mencuri kesempatan melirik, mereka makin terkejut. Soh-beng Ki-su tampak terhuyung-huyung ke belakang. Tak jauh disebelah mukanya, muncul seorang aneh berpakaian biru. Rambutnya memanjang sampai kebahu. Mata sebesar kelinting, mulut besar dan merah, jenggotnya berserabutan lempang seperti duri. Amboi.... itulah Pendekar Laknat! Sudah beberapa kali Soh-beng Ki-su menderita kekalahan dari Pendekar Laknat. Sudah tentu ia kaget setengah mati ketika mendadak momok yang ditakuti itu muncul. Ia terhuyung-huyung mundur mencari jalan untuk lolos. Karena tak diberi komando lagi, barisan Tengkorak pun macet. Mereka tertegun diam. "Pendekar Laknat!" serentak Toh Hun-ki berteriak girang. Ia segera bersama To Kiu-kong menghantam barisan tengkorak itu hingga hancur lebur berhamburan ke dalam semak. 377

Pendekar Laknat yang muncul itu sudah tentu Siau-liong yang menyamar. Kiranya, kepergiannya untuk menyelidiki keadaan lembah itu tadi hanya suatu alasan untuk berganti sebagai Pendekar Laknat. Tetapi memang tadi ia telah menyelidiki juga. Berkat bantuan peta pemberian Jong Leng lojin, dapatlah ia dengan leluasa mengetahui seluk beluk keadaan lembah itu. Tetapi, ah.... si dara Mawar Putih tetap tak dapat diketemukannya. Kemanakah gerangan lenyapnya dara itu? Akhirnya ia terpaksa kembali lagi untuk menyelamatkan rombongan orang gagah. Tetapi alangkah kagetnya ketika ia mendengar teriakan Soh-beng Ki-su memberi komando kepada barisan Tengkorak. Cepat ia menyamar lagi sebagai Pendekar Laknat. "Tua bangka Laknat.... dari mana engkau masuk ke dalam lembah ini!" seru Soh-beng Ki-su seraya mundur beberapa langkah. Sambil maju menghampiri, Siau-liong tertawa liar, Disegala tempat, baik di puncak gunung mau pun dilembah belantara, aku bebas pergi dan datang menurut sekehendak hatiku.... Diam-diam Siau-liong teringat akan nasib Koay suhu atau Pendekar Laknat asli, yang dianiaya pertapa Pencabut-nyawa itu. Geramnya, Hm, kalau saat ini tak kubunuhnya, sampai kapan lagi....?" Serentak ia salurkan ilmu tenaga sakti Bu-kek-sin-kang ke lengannya. Setelah telapaknya merah membara ia segera menghantam Soh-beng Ki-su sekuat tenaganya. Dalam 378 penyamaran sebagai Pendekar Laknat, Siau-liong bebas menggunakan tenaga sakti Bu-kek-sin-kang. Tahu kelihayan ilmu pukulan itu, Soh-beng Ki-su tak berani menangkis. Cepat ia berputar tubuh terus lari ngiprit. Tanpa menghiraukan gundukan batu yang tajam dan runcing, ia nekad berguling-guling sampai beberapa belas langkah jauh. Dengan cara nekad itu, barulah ia dapat terhindar dari pukulan maut. Tubuh pertapa itu berlumuran darah. Pakaian robek2 kulit lecet2 berdarah!" SecepaT kilat Siau-liong memburu tiba dan hendak menyusuli hantaman lagi. Soh-beng Ki-su sudah tak mungkin dapat menghindar lagi. Dia pasti mati! Tetapi tiba-tiba pertapa ganas itu berteriak sekuat-kuatnya, Tunggu!" Entah bagaimana Siau-liong mau juga menahan pukulannya, Apa engkau masih mau bicara lagi?" "Ada sebuah hal yang aneh, mungkin engkau ingin mengetahui?!" "Soal apa? Lekas katakan!" Soh-beng Ki su sengaja bersikap ayal memberi jawaban, Engkau datang bersama Dewi Ular Ki Ih.... - ia berhenti

memandang reaksi Siau-liong lalu melanjutkan pelahau-lahan, apakah engkau tahu kemanakah ia sekarang?" Siau-liong terkesiap. Pikirnya, Kemungkinan merasa benar Mawar Putih menyamar lagi sebagai Ki Ih" Melihat Siau-liong tertegun. Soh-beng Ki-su dapat menduga kalau orang itu sudah mulai tertarik perhatiannya. Ia tertawa 379 mengekeh dan berkata pula dengan lambat2, Malah akulah yang pernah melihat ia muncul dalam lembah ini tetapi kemudian dibawa oleh seorang wanita baju Hitam melintasi puncak gunung itu!" -ia menunjuk ke arah sebuah puncak gunung yang landai. Menurut arah yang ditunjuk itu, Siau-liong dapatkan puncak gunung itu tegak melandai. Jika disitu memang tiada alat perangkap, Sia-liong sanggup untuk mencapai ke atas. Hanya keterangan Soh-beng Ki-su bahwa Mawar Putih telah dibawa oleh wanita baju hitam melintasi puncak gunung itu, rasanya tak mungkin terjadi. Tetapi tiba-tiba ia teringat akan kekuatiran yang dinyatakan Iblis Penakluk-dunia bahwa seorang sakti yang tak dikenal telah menyelundup masuk ke dalam Lembah Maut. Apakah engkau melihat sendiri?" akhirnya ia menegas dengan penuh kesangsian. Bukan melainkan melihat sendiri, pun dibawah puncak itu terdapat tusuk kundai Kumala yang dipakai oleh Dewi Ular Ki Ih. Kalau tak percaya, bolehlah kubawa engkau kesana!" sahut Soh-beng Ki-su. Siau-liong merenung.... Dari sikap dan nadanya, rupanya Soh-beng Ki-su itu tak bohong. Cepat ia mencengkeram leher baju orang itu dan mengancamnya, Bawalah aku kesana.... tetapi kalau engkau berani menipu aku, hm, tulang belulangmu pasti kuhancur leburkan!" Soh - beng Ki Su tergugu mengiakan lalu berjalan karena didorong Siau-liong. "Pendekar Laknat, jangan termakan siasatnya!" Toh Hun-ki berseru memberi peringatan. 380 Siau-Long tertegun sejenak. Tetapi pada lain saat ia tertawa meliar lalu tanpa berpaling ke arah Toh Hun-ki, ia terus menyeret Soh-beng Ki-su lari ke arah puncak itu. Walaupun puncak itu berbahaya sekali keadaannya tetapi dalam Lembah Maut. puncak itu termasuk satu-satunya tempat yang dapat ditempuh. Tak berapa lama tibalah mereka dikaki puncak. Soh-beng Ki-su melirik Siau-liong, katanya, Aku toh sudah berada dalam genggamanmu, masakan mampu lolos? Tetapi dengan cara menyeret dan menggusur seperti ini, bagaimana aku mampu mencari tusuk kundai Kumala itu?"

"Hm, tak mungkin engkau lolos dari tanganku!" Siau-liong lepaskan cengkeramannya. Setelah menghela napas untuk melonggarkan lehernya yang sesak ia pura-pura seperti mulai mencari. Dihampirinya sebuah semak belukar. Tetapi pada saat Siau-liong tak waspada, ia terus loncat menyusup ke belakang sebuah batu disebelah kiri. Ternyata di belakang batu itu terdapat sebuah gua rahasia yang tembus ke Barisan Tujuh Maut dan Lembah Semi. Sesungguhnya dalam peta pemberian Jong Leng lojin, tempat itu memang disebut. Tetapi karena Siau-liong sedang terbenam memikirkan Mawar Putih, ia sampai tak ingat lagi sehingga Soh-beng Ki-su dapat lolos. Tetapi Soh beng Ki-su masih tongolkan kepalanya dari balik batu dan tertawa mengekeh, Heh, heh, tua bangka Laknat! Aku tak mau seratus persen membohongimu. Memang ada seorang wanita baju hitam menolong seorang wanita.... tetapi 381 bukan Dewi Ular Ki Ih, melainkan seorang gadis baju putih.... Ki Ih mungkin sudah binasa dalam barisan Tujuh Maut!" Siau-liong tertegun dan lupalah ia untuk menghantam pertapa itu. Pada lain saat ketika tersadar, ternyata Soh-beng Ki-su sudah lenyap. Ia marah karena ditipu mentah2 oleh Sohbeng Ki-su. Tetapi ia terhibur juga hatinya karena nyata Mawar Putih telah ditolong orang. Terpaksa ia kembali ketempat rombongan Toh Hun-ki lagi. Ketua Kong-tong-pay itu amat girang sekali melihat Pendekar Laknat kembali. Cepat ia memberi llormat, Pendekar Laknat, dua kali sudah engkau telah memberi pertolongan. Budimu itu takkan kulupakan selama-lamanya!" Tawar2 Siau-liong menyahut, Perlu apa engkau ribut2? Aku dapat memberi hidup tetapi pun dapat membunuh, ditatapnya ketua Kong-tong-pay itu dengan mata berapi-api lalu tertawalah ia senyaring-nyaringnya. Tetapi Toh Hun-ki sudah biasa mendengar tertawa yang penuh kecongkakan itu. Kemudian ia berkata, Pesanmu ketika di Lembah Semi tempo hari, telah kulaksanakan. Racun pada luka nona Tiau Bok-kun sudah terobati. Ketika kutinggalkan Siok-ciu, dia masih beristirahat di rumah penginapan. Tetapi saat ini dia tentu sudah sembuh!" Tahu!" sahut Siau-liong hambar, lalu menghampiri Ti Gong taysu. To Kiu-kong, Pengemis-tertawa Tio Tay-tong dan kedua pengemis Pincang, diam-diam terkejut menyaksikan Pendekar Laknat dapat muncul dan lenyap di Lembah Maut. Sekalipun Toh Hun-ki telah memperlakukan Pendekar Laknat sebagai seorang pendekar budiman, tetapi orang2 Kay-pang itu tetap gelisah. Maka mereka menjauhkan diri dan tak ikut bicara.

382 Sikap Ti Gong taysu tampak lucu. Wajahnya menampil kejut dan ketakutan. Ia terlongong-longong memandang Siauliong. Dua puluh tahun berselang, ia ikut dalam rombongan yang dipimpin Ceng Hi totiang ketua Kun-lun-pay untuk membunuh kelima momok. Sudah tentu saat itu ia melihat Pendekar Laknat juga. Seingatnya Pendekar Laknat itu tak setinggi yang di hadapannya sekarang. Begitupun suaranya yang menggeledek itu, tak sama dengan dahulu. Tetapi memang pakaian, wajah dan dandanannya tiada beda dengan Pendekar Laknat dahulu. Karena kuatir nanti timbul salah faham sehingga terjadi perkelahian antara Pendekar Laknat dengan Ti Gong taysu, buru-buru Toh Hun-ki menyelinap ke tengah mereka dan memperkenalkan....Inilah ketua Siau-lim-si Ti.... Sahabat lama pada 20 tahun yang lalu, masakan perlu engkau perkenalkan!" bentak Siau-liong. Memang untuk menyempurnakan penyamarannya sebagai Pendekar Laknat, diam-diam Siau-liong menyelidiki tentang peristiwa kelima momok mengadu biru di dunia persilatan pada 20 tahun berselang. Diketahuinya bahwa Ti Gong taysu termasuk salah seorang tokoh yang ikut gerakan membasmi kelima momok itu. Ti Gong taysu menyebut 'Omitohud' lalu memalingkan muka. Sudah tentu Toh Hun-ki gugup dan kuatir Pendekar Laknat marah. Buru-buru ia berkata lagi kepada Siau-liong: Demi memberantas gerakan Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka yang hendak mencengkeram dunia persilatan, maka It 383 Hang totiang telah memimpin rombongan orang gagah menyerang ke Lembah Semi. Tetapi ternyata rombongan gagah banyak yang gugur dan sekarang hanya tinggal kami beberapa orang ini....-ia menghela napas dan mata berlinanglinang. "Menilik kenyataan sekarang ini, tentulah kedua suami isteri durjana itu segera akan bergerak. Keamanan dunia persilatan jiwa para tokoh2 persilatan. menghadapi ancaman. Satusatunya harapan, hanya terletak pada Pendekar Laknat seorang saja!" kata ketua Kong-tong-pay itu lebih lanjut. Memang agak berkelebihanlah ucapan Toh Hun-ki itu. Tetapi sesungguhnya hal itu memang suatu fakta. Makin mengindahkanlah Siau-liong terhadap pribadi ketua Kong-tong-pay itu. Namun ia terpaksa deliki mata dan berseru, Aku tak sanggup menyanggul beban seberat itu dan tak ingin mencampuri urusan yang tiada sangkut pautnya dengan diriku!" Berdiam sebentar, Siau-liong tertawa keras dan menegur Ti Gong taysu, Paderi tua, Siau-lim-si termasyhur diseluruh dunia. Ilmu pukulan Tat-mo -kim-kong merajai dunia persilatan dan engkau pun seorang ketua. Terapi mengapa

engkau dapat dikurung dalam Lembah Maut sini?" Ti Gong taysu mendengus, Aku memang merasa malu karena kepandaianku masih rendah. Dan lagi memang suami isteri iblis itu licin sekali memasang jerat.... tetapi, ah, hal itu bukanlah sesuatu yang memalukan. Paling banyak kan mati!" Ucapan itu menunjukkan keperibadian seorang ketua partai persilatan seperti Siau-lim-si Keras, pantang mundur. Semula Siau-liong tak puas melihat sikap congkak dari ketua Siau-limsi itu. 384 Tetapi setelah mendengar pernyataannya itu, kemarahannya pun agak reda. Toh Hun-ki makin gelisah. Pada saat ia hendak membuka mulut melerai, tiba-tiba dari arah barisan Tujuh Maut dan terowongan yang tembus ke Lembah Maut, terdengar suitan pelahan. Siau-liong mendengarkan dengan seksama, lalu berkata dingin, Hendak kubawa kalian keluar dan Lembah Maut ini, tetapi entah....-ia memandang Ti Gong taysu, berkata pula, "Apakah kalian percaya padaku?" Ti Gong taysu tetap membisu. Adalah Toh Hun-ki yang cepat menghampiri dan berkata tegang, Musuh kuat segera datang, jika Pendekar Laknat dapat membawa kami keluar dari lembah ini, itulah yang paling bagus.... Siau-liong tertawa. Sejenak memandang sekalian orang, ia berputar tubuh lalu ayunkan langkah. Berkat peta dari Jong Leng lojin, dapatlah ia mengetahui keadaan lembah itu dengan jelas. Ternyata Lembah Maut itu mempunyai 10 buah jalanan yang tembus keluar. Tetapi hampir seluruhnya akan tembus ke dalam Barisan Tujuh Maut. Hanya ada sebuah jalan yang dapat menembus keluar Lembah Semi. Siau-liong menyadari bahwa tak lama lagi Iblis Penaklukdunia dan isterinya tentu akan datang membawa anak buahnya. Maka cepat ia menuju kejalan tembusan yang gelap. Berpaling ke belakang, dilihatnya Toh Hun-ki dan keempat Sulo dari Kong-tong-pay mengikuti dibelakangnya, lalu To Kiukong, Pengemis-tertawa Tio Tay-tong, kedua pengemis Pincang dan paling akhir Ti Gong taysu. 385 Ketua Siau-lim-si itu berjalan dengan kepala menunduk. Sikapnya seperti orang yang puas. Jalan tembusan itu berada di kaki sebuah dinding karang. Siau-liong berhenti lalu menghantam segerumbul semak belukar setinggi orang. Toh Hun-ki terkejut karena mengira Pendekar Laknat tentu menemukan jejak musuh. Mereka buru-buru berpencar dan siap2.

Terdengar bunyi berderak-derak lalu berhamburan pecahan batu dari balik semak itu. Dan pada dinding karang segera terbuka sebuah lubang terowongan yang cukup untuk seorang. Tanpa bersangsi lagi, Siau-liong terus menerobos masuk. Toh Hun-ki dan rombongannya pun segera mengikuti. Karena tubuhnya tinggi besar, terpaksa Ti Gong taysu harus agak menunduk baru dapat masuk. Terowongan itu memang terowongan alam. Penuh liku2 dan berlekuk-lekuk jalannya Selain lembab, pun amat licin sekali. Agaknya dinding langit terowongan itu mengucurkan air ke bawah. Untung makin ke dalam terowongan itu makin lebar. Berkat makan buah Im-yang-som dan minum darah biawak purba dalam pusar bumi, mata Siau-liong luar biasa tajamnya. Walau pun terowongan amat gelap, ia dapat berjalan pesat. Toh Hun-ki dan kawan2nya, walaupun memiliki tenaga dalam yang tinggi, namun tetap kalah awas dengan mata Siau-liong. Terpaksa mereka harus jalan dengan hati-hati. 386 Terowongan itu ternyata amat panjang. Kira2 satu li jauhnya, barulah tiba dimulut gua sebelah luar. Siau-liong cepat loncat keluar. Disekeliling tempat situ merupakan sebuah lamping gunung yang jauh dari Lembah Semi. Ia menghela napas longgar. Diperhatikan keadaan empat penjuru. Ternyata sekeliling penjuru merupakan jajaran puncak gunung yang saling bergandengan. Lembah Semi berada ditengah lingkup jajaran puncak gunung itu.... Tiba-tiba ia terperanjat. Dibalik sebatang pohon pada jarak beberapa tombak jauhnya, tampak sesosok bayangan berkelebat. Gerakannya amat cepat sekali. Sekejab saja bayangan itu sudah menghilang dalam kegelapan. Saat itu baru menjelang tengah malam. Setelah menunggu sebentar, ternyata tak tampak sesuatu yang mencurigakan lagi. Diam-diam ia menertawakan dirinya sendiri yang begitu keliwat perasa. Bukankah dalam hutan tentu banyak binatang2 yang menghuni? Saat itu Toh Hun-ki dan lain-lain orang pun sudah keluar dari terowongan gua. Pakaian dan tubuh mereka kumal dan kotor. Tetapi mereka tak menghiraukan hal itu. Mereka lebih tercengkeram oleh kegirangan yang meluap-luap karena sudah terlepas dari Lembah Semi. Semua mata terarah kepada Siau-liong dengan pandang terima kasih yang tak terhingga. Ti Gong taysu menghela napas panjang. Tiba-tiba ia melangkah kehadapan Siau-liong dan memberi hormat. "Aku selalu menjunjung budi dan dendam. Sejak saat ini seluruh

anak murid Siau-lim-si akan menghormat saudara sebagai 387 seorang pendekar budiman, bukan tokoh golongan Hitam lagi!" Siau-liong hanya tertawa hambar; Aku tak memusingkan hal itu. Terserah saja kepadamu!" Tiba-tiba To Kiu-kong banting2 kaki, serunya, Walaupun aku dapat lolos keluar tetapi cousu-ya kami masih berada dalam Lembah Maut. Jika kedua suami isteri iblis itu melakukan serangan besar-besaran, cousu-ya tentu terancam bahaya!" Diam-diam Siau-liong geli dalam hati. Lalu berkata, Tokoh perwira Kongsun Liong itu. seorang pendekar muda yang paling kuindahkan. Dia dapat muncul lenyap secara aneh. Siapa tahu saat ini dia pun sudah lolos dari Lembah Maut. Harap kalian jangan gelisah!" Sekalian orang terbelalak. Belum pernah terdengar bahwa Pendekar Laknat mau menghargai sebagai itu. Lebih2 terhadap seorang pemuda tak terkenal. Melihat sekalian orang mengawasi dirinya. karena kuatir akan terbuka kedoknya, Siau-liong tertawa nyaring lalu berkata kepada Toh Hun-ki, Bagaimana tujuan kalian?" Ketua Kong-tong-pay menghela napas panjang. Memandang Ti Gong taysu dan Tio Kiu-kong, lalu berkata, Saat ini di Siok-ciu tentu masih banyak tokoh2 persilatan yang berbondong-bondong datang. Kemungkinan mereka tentu belum mendengar tentang kekalahan yang kami derita dalam penyerangan ke Lembah Semi kali ini. Tiada jalan lain lagi kecuali hanya menyusun kekuatan dengan sahabat2 persilatan itu.... 388 Memandang Siau-liong, ia berkata setengah meminta, Jika Pendenar Laknak tak tega melihat kehancuran dunia persilatan, maka.... Baik, aku bersedia membantu gerakan kalian untuk membasmi Iblis Penakluk dunia dan isterinya. Tetapi.... Siauliong berhenti menatap wajah Toh Hun-ki lekat, serunya pula:.... Setelah kedua iblis itu dapat ditindas, aku hendak minta beberapa barang kepadamu sebagai upahnya!" Asal kami mampu saja, tentu akan memberikan," Toh Hun-ki menyahut gopoh. Siau-liong tertawa dingin, "Mungkin barang yang hendak kuminta terlampau berharga sekali sehingga tak mungkin engkau mau memberikan!" Sambil menunjuk kelangit. Toh Hun-ki bersumpah, Apapun yang hendak engkau minta, aku takkan sayang memberikan. Sekali pun jiwaku juga akan kuserahkan!" Siau-liong mendengus, Toh Hun-ki, engkau benar. yang

kuminta justeru batang kepalamu dan keempat Su-lo Kongtongpay!" Sekalian orang tersentak kaget. Toh Hun-ki termenung lama. achirnya ia mengangguk. Serunya tertawa, Jika memang itu yang engkau kehendaki, akupun setuju. Begitu kedua suami isteri iblis itu sudah dibasmi, terserah kapan saja engkau hendak mengambilnya.... Ketua Kong tong-pay itu berpaling ke belakang dan memandang keempat Su-lo, lalu berkata dengan tenang, Tentang batang kepala dari keempat suteku ini, aku pun dapat memberi keputusan. Akan kami serahkan ber-sama2 sekaligus!" 389 Keempat Su-lo itu tenang2 saja wajahnya, Se-akan2 mereka sudah pasrah nasib pada ketuanya. Sikap dan ucapan yang perwira dari ketua Kong-tong-pay itu mengharukan hati Siau-liong. Tetapi terpaksa ia paksakan diri tertawa dingin, Perjanjian telah kita setujui, pada saat itu harap engkau jangan menyesa!." Wajah Toh Hun-ki mengerut sarat dan tertawalah ia selapang2nya, "Aku bukanlah manusia yang suka menjilat ludah. Asal dapat menyelamatkan dunia persilatan, aku tak menghiraukan nasibku!" Siau-liong termenung. Pada lain saat ia mempersilahkan rombongan tokoh persilatan itu lanjutkan perjalanan. Baru beberapa langkah menuruni gunung, tiba-tiba Toh Hun-ki berhenti dan berpaling, Apakah Pendekar Laknat hendak.... Siau-liong mendengus, Aku pun tak pernah ingkar janji. Tiga hari lagi aku tentu datang ke Siok-ciu untuk berunding dengan kalian." Demikian Toh Hun-ki dan rombongan, segera menuruni gunung menuju ke Siok-ciu. Setelah mereka jauh, Siau-liong menghela napas terharu. Beberaoa butir air mata menitik turun.... Dia sendiri tak tahu mengapa ia begitu terharu perasaannya dan sampai menangis. Keharuan itu sama sekali bukan karena umurnya tinggal setahun ia serahkan pada nasib. Apalagi dalam waktu setahun itu, cukuplah baginya untuk bertemu dengan ibunya, melaksanakan balas dendam dan lain-lain, habis itu, mati pun ia tak menyesal. 390 Tengah hatinya dirundung kepiluan, tiba-tiba dari balik pohon besar disebelah muka tadi, bayangan itu mulai muncul lagi. Siau-liong terkejut. Terang bayangan itu bukan binatang liar melainkan seorang persilatan yang memiliki gerakan tangkas sekali. Dari potongan tubuhnya yang langsing,

tentulah dia seorang wanita. Ketika memandang dengan seksama, makin besarlah rasa kejut Siau-liong. yang datang itu ternyata si dara baju hijau tua, ialah dara dari gubuk keluarga pemburu yang pernah Siau liong dan Mawar Putih datangi tempo hari. Tiba dihadapan Siau-liong, dara itu memandang lekat2 kepadanya dan bertanya dengan geram, Tua bangka, siapa namamu?" Semula Siau-liong hendak menegurnya. Tetapi ketika menyadari bahwa saat itu ia masih dalam penyamaran sebapai Pendekar Laknat, ia batalkan niatnya. Tentulah dara itu takkan mengenalinya. Nona kecil, mengapa tengah malam engkau berjalan-jalan di puncak gunung sini?" Siau-liong balas bertanya. Dara itu kerutkan alis lalu melengking, Apakah engkau tuli? Tak mendengar apa yang kutanyakan?" Siau-liong tertegun. Diam-diam ia memuji dara itu benarbenar bernyali besar. Tengah malam di tempat sunyi bertemu dengan Pendekar Laknat yang berwajah seram, namun dara itu setitik pun tak takut! 391 Saat itu mereka berada disebuah belantara yang tak pernah didatangi orang. Siau-liong anggap tak perlu ia bertingkah seperti Pendekar Laknat lagi. "Nona kecil, pernahkah engkau mendengar nama Pendekar Laknat?" serunya. Dara itu menyahut dengan berteriak nyaring. "Apakah engkau Pendekar Laknat itu?" Siau-liong memandang wajah si dara yang masih kekanakkanakan, tertawa, Benar aku memang Pendekar Laknat!" Diluar dugaan, dara itu malah membentak, Bagus, setan tua! Akhirnya aku dapat menemukan engkau!" -wut.... ia terus ayunkan tangan menampar. Siau-liong benar-benar tak mengerti mengapa dara itu sedemikian bengisnya. Terhadap tamparannya, ia tak menaruh kekuatiran, Diluar dugaan, hampir saja ia celaka! Tampaknya biasa saja gerak tamparan dara itu sehingga Siau-liong sama sekali tak berjaga-jaga. Pikirnya, tak apalah andaikata sampai mengenai bagian jalan darah yang penting. Tentu takkan menderita. Adalah pada saat tenaga tamparan itu hampir tiba, barulah Siau-liong kaget setengah mati. Ia sudah tak sempat menangkis lagi. Terpaksa ia kerahkan tenaga dalam untuk melindungi tubuhnya.... Ternyata tamparan dara itu mengandung tenaga dalam lunak yang istimewa. Tampaknya lemah sekali tetapi hebatnya bukan kepalang. Dapat menghancurkan tulang2 dari sendinya. Dan yang istimewa lagi, pukulan itu sama sekali tak bersuara.

392 Dess.... dada Siau-liong terkena pukulan si dara dengan tepat sekali. Walaupun ia sudah kerahkan lima bagian tenaga dalamnya, namun dadanya seperti dihantam dengan palu godam. Darah bergolak keras, mata berkunang-kunang dan tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang sampai tujuh delapan langkah baru ia dapat paksakan diri berdiri tegak. Melihat pukulannya berhasil dara itu melengking dan secepat kilat loncat maju ia menghantam dengan kedua tangannya lagi! Sudah tentu Siau-liong kejut bukan kepalang. Menurut penilaiannya, tenaga dalam dari pukulan si dara serta gerakannya dalam ilmu meringankan tubuh, tidak dibawah kedua suami isteri Iblis Penakluk dunia. Kalau ia tak balas menyerang, terang tentu akan terluka berat. Tiba-tiba Siau-liong menggembor keras. Dengan salurkan delapan bagian dari tennga sakti Bu-kek-sin-kang, iapun menyongsong dengan kedua tangannya. Ketika dua tenaga sakti saling beradu sama sekali tak mengeluarkan suara. Kiranya tenaga sakti yang dilepas Siau-liong itu bersifat Keras. Sedang tenaga sakti si dara merupakan tenaga sakti lunak. Keras beradu Lunak, hilang sirna kedua-duanya! Siau-liong mendengus. Ia hendak menarik pulang tenaga pukulannya. Tetapi diluar dugaan si dara menyerang lagi. Dara itu juga seorang pemarah. Melihat pukulannya tak mampu merubuhkan Siau-liong. marahlah ia Dorongkan kedua 393 tangan kemuka, ia pancarkan seluruh tenaga saktinya ke arah Siau-liong. Siau-liong pucat seketika. Ia menyadari bahwa apabila dua jenis tenaga sakti saling beradu, salah satu atau mungkin kedua-duanya. tentu akan menderita luka parah. Bahkan mungkin binasa. Dara itu tak mempunyai dendam permusuhan dengan dirinya. Tetapi mengapa begitu kalap hendak mengadu jiwa? Juga dara itu tak mau memberi kesempatan kepadanya untuk bicara. Dan celakanya, ternyata dara itu memiliki kepandaian yang sakti. Dua kali dara itu menyerang hebat. Dan kalau sekarang dibiarkan juga, kemungkinan ia tentu celaka. Dengan mengerat gigi, terpaksa Siau-liong kerahkan tenaga sakti untuk menyongsong serangan si dara. Tetapi alangkah kejut Siau-liong. Sudah delapan bagian dari tenaga saktinya yang ia lancarkan namun tetap berimbang dengan tenaga sakti si dara. "Celaka," keluhnya dalam hati, aku tak kenal dan tak mempunyai dendam suatu apa kepada budak perempuan

ini.... Kalau sampai binasa ditangannya, bukankah amat penasaran?" Dan tak habislah heran Siau-liong. Ia sudah menerima penyaluran tenaga sakti dari Pendekar Laknat, sudah makan buah Im-yang-som dan sudah pula minum darah binyawak dalam pusar bumi. Karena hal2 yang luar biasa itu, barulah ia memiliki kesaktian seperti saat itu. Tetapi dara itu? Ya, dara itu tentu lebih muda dari dia. Tetapi mengapa kepandaiannya begitu hebat, tak dibawah kepandaiannya? 394 Tengah pikirannya melayang, tiba-tiba Siau-liong rasakan tekanan tenaga lawan makin bertambah keras sehingga tubuhnya mulai terdorong ke belakang. Siau-liong gelagapan kaget. Buru-buru ia menambahkan tenaga dalamnya lagi. Namun rupanya dara baju hijau itu amat penasaran sekali. Kalau dapat, hendak dihancurkan saja Siau-liong saat itu juga. Melihat Siau-liong menambahkan tenaga saktinya, dara itu geregetan sekali. Se-konyong2 data itu gentakkan kedua kakinya menekan tanah. Dengan segenap tenaga ia memberi tekanan kepada Siau-liong. Siau-liong gelagapan sekali ia tak kira kalau dara itu begitu kalap hendak mengadu jiwa kepadanya. Apabila terjadi benturan, tak dapat tidak keduanya akan celaka semua. Namun untuk menghindari, Siau-liong sudah tak sempat lagi. Dan terjadilah getaran dahsyat. Siau-liong dan dara itu sama2 terpental setombak dan rubuh ke tanah! Aduh.... dara itu mengerang pelahan lalu tak bersuara lagi. Tampaknya tentu menderita luka parah dan mungkin sudah binasa, mungkin hanya pingsan. Siau-liong walaupun masih sadar tetapi juga sudah terlongong2. Darah dalam tubuhnya bergolak keras sehingga kepalanya pening mata pudar. Kemungkinan setiap saat ia akan pingsan dan mati. Dengan kuatkan diri Siau-liong kerahkan tenaga murni untuk memulihkan peredaran darahnya. Tetapi begitu 395 kerahkan tenaga murni, darahnya melancar keras, meluap kemulut dan "huak".... ia muntah darah sampai dua kali.... Mata Siau-liong mulai kabur. Sekeliling alam terasa berputar2. Dalam keadaan antara sadar tak sadar iiu, ia masih dapat menghela napas. Kalau ia harus mati saat itu, sungguh mengenaskan sekali.... Sekonyong-konyong dari jauh terdengar orang berseru memanggil-manggil, Leng-ji! Leng-ji.... Walaupun Siau-liong mendengar juga suara itu. tetapi ia sudah seperti terbuai dalam keadaan mabuk. Pikirannya tak

dapat lagi mengetahui keadaan disekelilingnya. Suara itu makin lama makin dekat. Nadanya mengunjuk rasa kegelisahan. Tak lama kemudian sesosok bayangan meluncur pesat kesamping dara itu. Dia menjerit lalu berjongkok memeriksa si dara. Ternyata pendatang itu ada wanita dari gubuk keluarga pemburu atau ibu dari dara itu. ialah nyonya rumah yang menemui Siau-liong ketika pemuda itu bersama Mawar Putih mencari tempat bermalam dihutan. Wanita baju hitam itu mendukung si dara s-raya mengiangngiang: ,,Anakku, oh, anakku.... Dara itu sudah pingsan. Kaki tangannya lunglai, mata meram seperti orang mati. Wanita itu lekatkan telinganya kedada puterinya. Didengarnya jantung dara itu masih mendebur. Cepat ia mengambil sebutir pil lalu disusupkan kemulut si dara. 396 Terdengar perut dara itu kerucukan. Tak lama kemudian bibirnya bergetar lalu "huak" mulutnya muntahkan segumpal darah hitam! Ketegangan wajah wanita baju hitam itu agak menurun. Sambil membopong tubuh si dara, ia pe-lahan2 menghampiri ketempat Siau-liong. dengan mata berkilat-kilat gusar ia membentak Siau-liong, Tua bangka laknat!" Siau-liong walaupun masih sadar tetapi juga sudah terlongong2. Darah dalam tubuhnya bergolak keras sehingga kepalanya pening mata pudar. Kemungkinan setiap saat ia akan pingsan dan mati. Dengan kuatkan diri Siau-liong kerahkan tenaga murni untuk memulihkan peredaran darahnya. Tetapi begitu kerahkan tenaga murni, darahnya melancar keras, meluap kemulut dan "huak".... ia muntah darah sampai dua kali.... Mata Siau-liong mulai kabur. Sekeliling alam terasa berputar2. Dalam keadaan antara sadar tak sadar itu, ia masih dapat menghela napas. Kalau ia harus mati saat itu, sungguh mengenaskan sekali.... Siau-liong pikirannya masih sadar. Baru ia gerakkan mulut hendak memberi keterangan, wanita baju hitam itu sudah membentaknya, Walaupun aku sudah mengasingkan diri dan sudah cuci tangan, tetapi engkau sendiri yang cari mati.... Wajah wanita itu tiba-tiba berobah pilu. Matanya berlinang2. Setelah termenung beberapa saat ia berkata pula, Karena engkau berani mencelakai puteriku. Terpaksa aku pun harus berlaku kejam kepadamu!" 397 Ia menutup kata2nya dengan mengangkat kaki kanannya. Sekali tendang, tubuh Siau-liong berguling-guling beberapa langkah.

Hai, tua bangka Laknat! Apakah engkau dengar kata2ku tadi?" serunya. Tendangan wanita itu membuat Siau-liong meregang setengah mati Tulang belulangnya serasa copot dari persendiannya. Ia hanya mengerang, tertahan. Wanita baju hitam itu tertegak diam. Pada lain saat ia menghela napas panjang. memandang Siau-liong yang menggeletak tak berkutik dilanah, ia berkaa seorang diri, Pada saat dan tempat sekarang ini, kuampuni jiwamu. Tetapi besok pada pertengahan hari.... Habis berkata wanita itu terus membawa si dara baju hijau pargi. Tak berapa lama lenyap dalam kegelapan. Siau-liong dalam keadaan sadar tak sadar. Semangatnya seperti melayang-layang di angkasa. Ia tak berani mengerahkan hawa murni untuk menjalankan peredaran darah. Karena dengan berbuat begitu bahkan akan membuat darahnya sungsal sumbal. Dan pasti matilah ia saat itu. Apa boleh buat ia biarkan saja apa yang terjadi dalam tubuhnya. Ia pasrahkan dirinya pada kehendak Nasib. Rasa sakit telah menyebabkan kesadaran pikirannya hilang. Seolah olah anggauta badannya, bukan lagi menjadi miliknya. Malam merayap panjang, Sudah hampir tiga jam lamanya Siau-liong dalam keadaan sedemikian itu. Saat itu haripun hampir terang tanah. Angin di malam musim rontok yang dingin membuat Siau-liong tersadar. Mulai ia gelisah. Tenaganya lemah lunglai tak dapat bergerak lagi. 398 Saat itu ia masih berada tak berapa jauh dari mulut gua tembusan. Jika suami isteri Iblis Penakluk dunia dan Dewi Neraka muncul, tentu ia akan diseret ke dalam lembah lagi. Namun apa daya. Ia benar-benar tak kuat untuk menggerakkan tubuhnya. Kembali ia harus menyerah pada nasib. --ooo0dw0ooo-MAWAR dan MELATI Sekonyong - konyong terdengar derap langkah orang. Bermula lapat2 tetapi makin lama makin dekat. Dan beberapa saat kemudian tiba di belakang Siau-liong. Diam-diam Siau-liong mengeluh. Jelas Toh Hun-ki dan rombongannya sudah pergi. Yang mungkin datang tentulah suami isteri Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka. Atau anak buah Lembah Semi. Tetapi pada lain kilas ia anggap dugaannya itu kurang tepat. Karena baik Iblis Penakluk-dunia atau Dewi Neraka, mau pun Soh-beng Ki-su tentu tak mungkin datang seorang diri. Pada hal jelas yang datang itu adalah seorang. Dengan telinganya yang tajam apalagi keadaan sekeliling tempat itu sunyi senyap, dapatlah ia mengikuti gerak-gerik pendatang itu. Setelah tiba dibelakangnya, orang itu tertegun

diam. Pada lain saat tiba-tiba orang itu berjongkok dan berteriak cemas, Lo-cianpwe, lo-cianpwe.... engkau.... 399 Siau-liong tak asing lagi dengan nada suara itu. Ya, itulah Tiau Bok-kun. Tak mungkin salah. Dengan paksakan diri, Siau-liong bergeliat berseru. "Tiau.... nona.... Tiau....!" Luka dalam yang dideritanya benar-benar parah. Setelah berseru tiga patah kata, napasnya terengah dan tak dapat melanjutkan lagi. Darahnya bergolak sehingga ia hampir pingsan. Lo-cianpwe, mengapa engkau menderita luka yang begitu parah?.... tanya Tiau Bok-kun cemas. Setelah ditolong oleh Pendekar Laknat dari Lembah Semi, Tiau Bok-kun merasa berhutang budi kepada orang tua yang berwajah seram iiu. Siau-Liong hanya tersenyum hambar tetapi tak menjawab. Diam-diam ia cemas juga mengapa pada waktu larut malam begini, Tiau Bok-kun datang kesitu. Apabila orang Lembah Semi keluar, bukankah nona itu akan celaka! Sejenak memandang keempat penjuru, Tiau Bok-kun berkata, Lo-cianpwe, lekaslah engkau salurkan tenaga dalam. Kita.... kita harus lekas2 tinggalkan tempat ini!" Aku.... sudah tak ada harapan lagi! Lekaslah engkau.... pergi.... jangan . , .jangan pedulikan aku!" Tampak mata Tiau Bok-kun berlinang-linang, katanya meratap, "Jika tak ketemu, itu lain soal. Tetapi sekali aku berjumpa dengan locianpwe, tak mungkin aku tak mempedulikan.... Tempo hari jika tak ditolong locianpwe, aku tentu sudah mati dalam Lembah Semi!" 400 Melihat nona itu berkeras kepala, Siau-liong gugup dan membentaknya, Pergi.... engkau! Aku.... Karena hatinya goncang, darah meluap dan pingsan lagilah ia. Tiau Bok-kun gugup sekali. Setelah bersangsi sejenak, ia terus memanggul tubuh Pendekar Laknat lalu dibawanya turun gunung. Kira2 setengah li jauhnya, mereka tiba di kaki puncak. Tiau Bok-kun memilih sebuah tempat yang tersembunyi dan meletakkan tubuh Siau-liong. Setelah menyandarkan tubuh Siau-liong pada batu, Tiau Bok-kun mulai lekatkan kedua tangannya pada perut Siau-liong untuk menyalurkan tenaga dalamnya. Berkat makan buah Im-yang-som dan minum darah binyawak dalam pusar bumi, Siau-liong memiliki dasar ilmu tenaga dalam yang lebih tinggi dari orang biasa. Maka begitu

mendapat saluran tenaga dalam dari Tiau Bok-kun, cepat sekali darah Siau-liong yang bergolak keras itu dapat ditenangkan kembali. Setelah beberapa waktu lamanya, Siau-liong membuka mata. "HuaK", ia muntahkan segumpal darah hitam. Tetapi dengan begini, napasnya agak longgar, semangat lebih segar. Tiau Bok-kun hentikan penyalurannya dan berkata dengan ter-engah2, Locianpwe, lekas salurkan tenagamu. Engkau sudah makin baik!" Tetapi Siau-liong tersenyum tawar dan gelengkan kepala, Percuma! Tak mungkin aku sembuh! Aku dapat merasakan sendiri.... Nona Tiau.... ia berkata pula. 401 "Lo-cianpwe.... "Mengapa tengah malam begini engkau datang kemari?" "Aku hendak mencari seseorang!" Siau-liong tergetar hatinya, Siapa?" Nona itu menghela napas panjang. Sampai lama ia tak berkata. Apakah bukan pemuda yang bernama Kong-sun Liong itu.... Tiau Bok-kun teringat ketika dalam Lembah semi ia pernah minta tolong kepada Pendekar Laknat supaya menyampaikan pesan kepada Kong-sun Liong. Wajah nona itu tersipu merah ketika mengangguk, Kutahu dia tentu sudah masuk ke dalam Lembah Semi, maka.... Diam-diam Siau-liong mengucurkan dua titik air mata. Lalu dengan halaukan rasa haru, ia barkata, Harap nona suka mendengar nasehatku. Lebih baik nona jangan mencarinya!" Mengapa? Apakah lo-cianpwe pernah melihatnya?" tanya Tiau Bok-kun gugup. Siau-liong tidak menyahut melainkan melanjutkan kata2nya lagi, Nona takkan dapat menemukannya se-lama2nya!" "Mengapa?" Tiau Bok-kun makin tegang Siau-liong menghela napas, Mungkin dia sudah pergi keseberang lautan dan takkan kembali lagi.... Tiau Bok-kun meregang kedua matanya lebar2 memandang Siau-liong. Dua butir air mata bercucuran dari pelupuknya. 402 Beberapa saat kemudian ia membesut air matanya lalu berkata dengan tersekat, Tidak, tidak mungkin dia berbuat begitu. Paling tidak dia tentu akan membawaku pergi!" Berhenti sejenak ia berkata pula, Dia tahu bahwa diriku senasib dengan dia. Tiada ayah-bunda, hidup sebatang kara!" Hati Siau-liong seperti disayat sembilu. Batinnya, Ah, tahukah engkau bahwa Kongsun Liong yang engkau cari itu berada dihadapanmu? Tahukah pula engkau bahwa aku hanya dapat hidup dalam satu tahun saja?"

Sau-liong termangu tegak seperti patung. Perasaannya melayang2 tak keruan. Nasib malang tak putus2nya merundung dirinya. Poh Ceng-in si wanita pemilik Lembah Semi telah memberinya minum racun Jong-tok. Dalam waktu satu tahun ia tentu mati. Belum sempat ia melakukan tujuan mencari ibu dan membalas musuh2, diluar dugaan ia bertemu dengan si dara baju hujau yang menyerangnya sehingga sama2 menderita luka parah.... "Lo-cianpwe, mengapa engkau.... juga tampak bersedih?" tiba-tiba Tiau Bok-kun bertanya cemas seraya mengeluarkan sapu tangan. Ternyata Siau-liong tak dapat mengendalikan kesedihan hatinya sehingga menitikkan air mata juga. Setelah Tiau Bok-kun menyeka air matanya, barulah ia tersadar. Ia paksakan tertawa. "Dengan Kongsun Liong itu, aku memang pernah bertemu.... Oh.... desis Tiau Bok-kun tegang, Dimanakah dia? Locianpwe. dimanakah dia sekarang?" 403 Sejenak merenung Siau-liong menyahut, Pada waktu berjumpa dia sedang siap2 hendak pergi jauh kelain tempat. Dia tentu dicelakai secara licik oleh orang dengan racun yang ganas. Menurut keterangannya, dia hanya dapat hidup selama setahun lagi.... "Lo-cianpwe!" Tiau Bok-kun menjerit, "Apakah keteranganmu itu benar?" Siau-liong menghela napas, Menurut keterangannya pula, dia masih mempunyai seorang keluarga yang tinggal diseberang laut. Sebelum mati dia hendak bertemu muka dengan keluarganya itu. Maka ia bergegas-gegas menuju keseberang laut!" "Tahukah lo-cianpwe letak tempatnya diseberang lautan itu?" Tiau Bok-kun mendesak. Siau-liong gelengkan kepala, Ini.... aku tak mendengar jelas!" Sejenak melirik pada Tiau Bok-kun, kembali Siau-liong melanjutkan kata2, Pada saat pergi, Kongsun Liong telah minta tolong kepadaku supaya menyampaikan sebuah pesan kepada nona!" Dengan ber-linang2 air mata Tiau Bok-kun bergegas menanyakan. Tetapi Siau-liong tak tahan berhadapan mata dengan si nona. Cepat palingkan muka dan berkata, Dia mengatakan.... supaya nona lupakan saja kepadanya. Anggaplah nona tak pernah bertemu dengannya!" Hampir saja ia tak kuat menahan air matanya tetapi dengan kuatkan hati ia menahan diri. 404 Tiau Bok-kun terpukau lalu berkata seorang diri,

Melupakannya? Seperti tak pernah kenal padanya....? Enak sekali ia mengucap kata-kata itu.... Serentak berpaling menatap Siau-liong, Tiau Bok-kun membentaknya, Bohong! Tak mungkin dia mengatakan begitul Kutahu isi hati dan peribadinya. Dia bukanlah seorang pemuda yang mudah melupakan budi dan cinta.... Berhenti sejenak untuk menekan haru penasarannya, Tiau Bok-kun melanjutkan berkata pula, Tentu karena tak dapat menyembuhkan racun itu maka ia lantas tak mau bertemu dengan aku lagi....!" Siau-liong menghela napas panjang. "Rasanya itu lebih baik agar nona dan dia jangan sampai menderita!" "Tetapi tak bisa begitu! Sekalipun dia hanya dapat hidup satu tahun, satu tahun aku akan menemaninya. Kemudian.... aku rela menemani mati bersamanya!" Diam-diam Siau-liong terkejut, serunya, Nona, tindakan nona itu bodoh sekali. Sekalipun nona rela berkorban tetapi baginya, tentu akan lebih menambah penderitaan batin!" Ditatapnya Siau-liong dan berkatalah Tiau Bok-kun, Bagaimana lo-cianpwe tahu kalau dia akan menderita....?" Ia tenangkan ketegangan hati dan menghela napas, ujarnya, Tak peduli dia hendak pergi kemana, aku tetap akan mencarinya!" Siau-liong terpukau. Tak tahu ia bagaimana harus berkata.... Ia kehilangan faham. 405 Saat itu sudah hampir menjelang fajar. Angin pagi mulai berhembus menggigit tulang. Tiau Bok-kun memandang kesekeliling penjuru lalu berkata, Lo-cianpwe, mari kubawa lo-cianpwe ke Siok-ciulah!" Siau-liong gelengkan kepala, Percuma, lukaku ini tak mungkin sembuh lagi. Biarlah aku menggeleiak disini saja!" "Dikota Siok-ciu banyak tabib yang pandai. Tentu dapat menyembuhkan luka lo-cianpwe!" Tanpa menunggu persetujuan Siau-liong lagi, Tiau Bok-kun terus memanggul tubuh pemuda itu dan mulai ayunkan langkah. Siau-liong hendak meronta tetapi dia sudah tak bertenaga lagi. Terpaksa ia menghela napas dan pasrah bongkokan. Hatinya gundah kelana tak keruan. Sedih bahagia, pedih dan gembira bercampur aduk jadi satu dalam sanubarinya. Mati tak dapat, hidup pun tak bisa.... Kira2 sepeminum teh lamanya, mereka tiba di jalan besar. Tengah Tiau Bok-kun berjalan, sekonyong-konyong terdengar suara orang membentak bengis, Berhenti!" Tiau Bok-kun terkejut dan berhenti, Dari balik sebuah batu di tepi jalan, melesat keluar seorang dara. Dara itu memandang lekat2 pada Pendekar Laknat yang

dipanggul Tiau Bok-kun lalu mendengus tajam; Bagus! Kiranya kalian begitu mesra sekali!" Setelah menenangkan kegoncangan hatinya, Tiau Bok-kun menyahut, Apakah engkau bukan taci Mawar Putih?" 406 Kiranya dara itu memang si Mawar Putih. Ketika dirumah penginapan dalam kota Siok-Ciu, tempo hari mereka memang pernah berjumpa. Mawar Putih tak menghiraukan teguran Tiau Bok-kun. Menunjuk pada Pendekar Laknat, Mawar Putih melengking, Perlu apa engkau memanggulnya?" Habis berkata ia terus hendak merebut. Tiau Bok-kun menghindar seraya berteriak, Jangan, dia sedang terluka berat!" Mawar Putih tertegun. Mengapa terluka?" "Menurut keterangannya, lukanya sudah tak ada harapan lagi!" Mawar Putih memandang tajam2. Ah. benar. Wajah Siauliong pucat lesi, napasnya lemah. Dara itu terkejut sekali. Tetapi karena Tiau Bok-kun memanggil Siau-liong sebagai Pendekar Laknat, ia duga nona itu belum tahu kalau yang dipanggulnya itu bukan lain adalah Kongsun Liong. Diam-diam Mawar Putih legah hatinya. Kini ia tersenyum, Baik, harap serahkan dia kepadaku!" Tiau Bok-kun meragu. Dipandangnya wajah Siau-liong. Kedua matanya memejam, rupanya pingsan. Nona itu cemas, serunya; "Beliau orang tua ini menderita luka dalam. Harus cepat2 diobati, kalau tidak.... Kutahu!" Mawar Putih tertawa dingin, masakan aku sampai hati membiarkannya mati!" Walaupun heran mengapa dara itu menghendaki Pendekar Laknat yang sedang terluka parah, namun karena melihat dara 407 itu begitu bersungguh-sungguh, terpaksa ia menyerahkannya juga. Sesungguhnya Siau-liong tidak pingsan. Ia tahu kalau dirinya dibuat rebutan oleh kedua gadis itu. Namun kalau membuka mulut, ia kuatir akan menimbulkan salah faham diantara kedua dara itu. Maka ia pura-pura pingsan. Setelah membopong Siau-liong, Mawar Putih lalu berkata; Kami hendak berangkat, silahkan engkau melanjutkan perjalananmu sendiri!" Tiau Bok-kun mengangguk, Baiklah, ah, membikin repot taci saja.... Tak apa," sahut Mawar Putih tersenyum. Lalu berputar diri dan melangkah pergi. Tiau Bok-kun memandang bayangan dara itu sampai beberapa saat. Tiba-tiba ia berteriak memanggilnya, Taci

Mawar Putih!" Mawar Putih berhenti dan menanyakan apalagi yang hendak dikehendaki nona itu. Apakah taci pernah mendengar tentang diri.... Kongsun.... liong?" Mawar Putih kerutkan alis, Mengapa engkau menanyakannya?" Tiau Bok-kun menghela napas, Kabarnya dia telah menderita luka akibat diracuni secara licik oleh seseorang. Mungkin.... hanya dapat hidup sampai satu tahun saja!" Mawar Putih tertegun, Siapa bilang?" 408 "Lo-cianpwe ini," kata Tiau Bok-kun menunjuk Siau-liong. Dua butir air matanya menitik turun dan berkata lagi, "Dan lagi, katanya dia sudah berangkat keseberang laut.... Taci Mawar, tahukah engkau seberang lautan yang ditujunya itu?" Tiau Bok-kun menyusuli pertanyaan pula. "Tidak tahu," sahut Mawar Putih dingin. Ditatapnya Tiau Bok-kun tajam2 lalu menegur, Eh, mengapa engkau terus menerus menanyakan tentang dirinya?.... Kukasih tahu padamu. Sekalipun andaikata dia tak jadi menuju keseberang lautan, tak nanti dia mempedulikan dirimu!.... Lekas engkau lanjutkan perjalananmu, dan jangan bertanya atau menyelidiki beritanya lagi!" Dengan rawan kepiluan, Tiau Bok-kun menyahut, Tak apa dia akan mempedulikan aku atau tidak. tetapi dia telah menolong jiwaku.... "Dia banyak sekali menolong orang!" tukas Mawar Putih, "mungkin itu hanya merupakan suatu kewajiban baginya, Tetapi jelas dia tentu tak menghendaki engkau membalas budinya.... mungkin dia sudah melupakan dirimu!" Tiau Bok-kun menghela napas lalu pamitan dan terus melangkah pergi. Tampak langkahnya agak terhuyunghuyung. Jelas nona itu telah menderita pukulau batin yang berat! Diam-diam Siau-liong mencuri lirik. Dilihatnya nona itu menuju ke Siok-ciu. Ia menghela napas panjang.... Setelah Tiau Bok-kun lenyap dari pandangannya, Mawar Putih segera bertanya kepada Siau-liong, Apakah engkau benar-benar terluka parah? Apakah engkau dilukai Iblis 409 Penakluk-dunia dan isterinya ketika dalam barisan Tujuh Maut?" Siau-liong hanya menghela napas rawan dan minta nona itu supaya meletakkan dirinya. Tidak boleh membuang waktu. Aku akan mencari orang supaya mengobati lukamu!" kata Mawar Putih, terus melangkah pesat.

Percuma! Jangan buang waktu dan tenaga sia-sia!" teriak Siau-liong gugup. Tetapi dengan yakin Mawar Putih mengatakan Betapa berat lukamu itu, aku kenal seseorang yang dapat menghidupkan orang yang sudah meregang jiwa!" Siau-liong kenal watak dara yang keras kepala itu. Apalagi ia lemah lunglai tak bertenaga. Terpaksa ia membiarkan saja dibawa Mawar Putih. Tetapi ia yakin, lukanya itu tak mungkin diobati lagi. Kalau engkau berkeras hendak mencari penolong, harap tolong bukakan kedok muka dan jubahku.... aku tak ingin dikabarkan orang bahwa Pendekar Laknat terluka berat dan mati.... Habis berkata karena kehabisan tenaga murni, Siau-liong pingsan pula. Mawar Putih memaki dirinya sendiri yang begitu tolol. Ia segera mengerjakan permintaan pemuda itu. Membuka kedok muka dan jubah Pendekar Laknat sehingga menjadi Siau-liong lagi. Mawar Putih lalu memanggulnya dan lanjutkan perjalanan. 410 Tak berapa lama ia tiba disebuah gubuk dilereng gunung. Gubuk itu adalah tempat Mawar Putih dahulu dibawa Siauliong untuk merawat lukanya. Siau-liong masih pingsan sehingga tak tahu apa yang terjadi saat itu. Setelah mendebur pelahan-lahan tiga kali pada pintu, ia segera mendorong daun pintu. Wanita baju hitam sudah berdiri tegak dalam ruang. Matanya berkilat-kilat memandang Mawar Putih dan Siau-liong. Kemana engkau?" tegurnya. Dengan tersipu-sipu malu. Mawar Putih memberi keterangan, Tadi ketika aku berjalan-jalan disekitar gunung, tak terduga telah menemukannya!" Siapa? Apakah anak itu?" Ya, benar dia. Putera dari guruku!" sahut Mawar Putih. Wanita baju hitam itu mendesah lalu suruh Mawar Putih masuk. Sambil mengikuti di belakang wanita itu, Mawar Putih berkata setengah meratap, Bibi, harap suka menolongnya, kalau tidak dia tentu mati!" Wanita baju hitam itu berhenti, menghela napas, Ai, adikmu si Ling juga menderita luka dalam yang parah. Sampai saat ini masih berbahaya keadaannya!" "Hai, mengapa....!" Mawar Putih terkejut. Wanita baju hitam itu gelengkan kepala dan merghela napas, Seperti engkau, diapun tengah malam keluyuran 411 dalam hutan.... jika aku tak datang pada saat yang tepat,

mungkin dia tentu sudah mati ditangan Pendekar Laknat!" Kejut Mawar Putih bukan alang kepalang, serunya: Pendekar Laknat? Adik Ling terluka ditangan Pendekar Laknat?" Wanita baju hitam itu menatap Mawar Putih, Mengapa? Apa engkau anggap hal itu mustahil terjadi?" Mawar Putih gugup, Tidak, Tidak begitu.... ku maksudkan mengapa adik Ling sampai bertempur dengan Pendekar Laknat. Apakah dia mempunyai dendam permusuhan dengan orang itu?" Wanita baju hitam hendak membuka mulut tetapi tak jadi. Ia menghela napas lalu mengeluh, Ah, sukar dikatakan." Saat itu perasaan Mawar Putih benar-benar tak keruan rasanya. Jika wanita baju hitam itu sampai mengetahui bahwa yang menjadi Pendekar Laknat itu tak lain adalah Siau-liong, apakah dia masih mau menolongnya? Ia berusaha untuk menenangkan kegelisahan dan mengikuti di belakang wanita itu. Ketika berada di dalam ruangan, dilihatnya si dara baju hijau memang sedang rebah di atas ranjang. Serupa dengan Siau-liong, dara itupun sedang pingsan. Wanita baju hitam memeriksa dan meraba-raba dahi puterinya, kemudian berkata, Mungkin tak berbahaya. Tetapi paling tidak harus beristirahat 10 hari baru sembuh.... ah, dengan peristiwa ini mungkin akan mengabaikan urusanku yang penting! 412 Melihat betapa sayang wanita itu kepada puterinya dan kuatir Siau-liong akan diketahui sebagai Pendekar Laknat, Mawar Putih tak mau mendesak wanita itu supaya cepat2 mengobati Siau-Liong. Wanita itu gelengkan kepala lalu menghela napas dan menatap Mawar Putih, Mari kita lihat anak itu!" Demikian Mawar Putih segera mengikuti masuk ke dalam ruangan. Tetapi apa yang disaksikan saat itu benar-benar membuatnya terbelalak kaget seperti melihat hantu! Ranjang dimana Siau-liong berbaring tadi, ternyata kosong melompong. Siau-liong lenyap! "Mana orangnya?" wanita baju hitam itu pun bertanya kaget. Mawar Putih berdiri terlongong-Longong. ia gelagapan mendapat pertanyaan itu lalu sibuk mencari kian kemari. Bahkan sampai kekolong ranjang dan meja pun diperiksanya. Namun Siau-liong tetap menghilang seperti ditelan bumi.... Geli2 mengkal wanita baju hitam itu berkata, Tolol, dengan caramu itu bagaimana engkau mampu menemukannya?" Mawar Putih tertegun, Dia terluka parah sampai tak sadarkan diri. Bagaimana mampu pergi.... berhenti sejerak

memandang wanita baju hitam, Mawar Putih berkata pula, pula tak mungkin tanpa sebab dia melarikan diri!" Wanita baju hitam tertawa hambar, Sekali pun dia tak dapat berjalan tetapi lain orang kan bisa membawanya lari!" 413 Mawar Putih terbeliak kaget, Bibi mengatakan.... dia dilarikan orang?" "Mungkin diculik.... mungkin hendak ditolong. Sekarang masih sukar dikatakan!" kata wanita baju hitam itu. Mawar Putih seperti orang tidur disiram air dingin. Dia gelagapan terus loncat lari keluar. Tepat pada saat tubuh Mawar Putih melambung di udara, wanita baju hitam itu pun balikkan tangannya ke belakang. Serangkum angin keras melanda Mawar Puiih. Ternyata angin dari gerakan tangan wanita itu mengandung tenaga sakti menyedot. Mawar Putih seperti terlibat tali yang tak kelihatan dan pada lain saat tubuhnya ditarik ke belakang. Dara itu berusaha untuk berdiri tegak pada saat kakinya menginjak tanah. Kemudian menatap wanita itu dengan cemas, Bibi.... Tak perduli pendatang itu hendak menculik atau hendak menolongnya. Tetapi dia mampu datang kemari tanpa kuketahui sama sekali, jelas bukan orang sembarangan. Saat ini tentu sudah jauh, percuma engkau hendak mengejarnya.... wanita baju hitam itu mondar-mandir beberapa saat. Pada lain saat ia berkata seorang diri, Tetapi, siapakah dia.... Mawar Putih yang ter-longong2 memandang wanita itu, tak sabar lagi terus bertanya, Tentulah perbuatan kedua suami isteri Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka itu. Selain mereka, rasanya tiada lain orang lagi.... ah, kasihan dia.... 414 Mawar Putih menangis terisak, Kasihan dia sedang menderita luka yang amat parah, tentu akan mati!" "Engkau tahu apa!" bentak wanita itu, "meskipun kedua suami iuteri iblis itu hendak menguasai dunia persilatan tetapi mereka setempo juga terpaksa datang kemari. Mungkin perbuatan Pendekar Laknat.... "Tidak mungkin Pendekar Laknat, dia.... tiba-tiba Mawar Putih merasa telah kelepasan omong. Buru-buru ia diam. "Bagaimana engkau tahu kalau bukan Pendekar Laknat?" tegur wanita itu dengan tajam. Dengan tersekat-sekat Mawar Putih imenyahut, Karena.... karena dia dengan adik Ling." "Benar, Pendekar Laknat dan Ling-ji sudah sama2 terluka, tak mungkin dia. Lalu siapakah orang itu? Apakah.... tiba-tiba wanita baju hitam itu tertawa dingin, Ya, tentulah dia!"

"Siapakah yang bibi maksudkan?" Kukatakan pun engkau tak tahu. Tetapi.... wanita itu berhenti, menarik Mawar Putih duduk di atas ranjang lalu melanjutkan kata-katanya, Aku mengerti Ilmu meramal. Anak itu tak mengunjuk pendek usia. Sekalipun menderita berbagai kesulitan dan siksaan tetapi tetap tak berbahaya. Hanya engkau dengan dia.... -wanita itu memandang beberapa kali wajah Mawar Putih tetapi tak berkata apa2. "Apakah bibi sudah meramalkan wajah kami?" tanya Mawar Putih terkejut. "Tak perlu melihat dengan teliti. Cukup melihat sebentar saja sudah tahu!" 415 Wajah Mawar Putih tersipu merah. Dengan tersendatsendat ia bertanya, Tadi bibi mengatakan.... aku dan dia.... -oooo0dw0oooJilid 08 Panca Sakti Wanita baju hitam itu menghela napas. Masalah manusia hidup itu semua tergantung pada jodoh. Misalnya kutolong engkau dari Lembah Maut dan kemudian engkau mengangkat aku sebagai ibu-angkat, itu juga jodoh. Dan jodoh itu rupanya sudah digariskan dalam kehidupan kita. Sejenak memandang Mawar Putih, ia berkata pula, Tentang perhatianmu terhadap pemuda itu, aku pun sudah mengetahui jelas. Hanya aku mempunyai dua buah kata pesan kepadamu. Engkau dan dia tak mempunyai keberuntungan untuk terangkap sebagai suami isteri. Dan itu sudah menjadi garis hidupmu! Seketika pucat lesilah wajah Mawar Putih. Tubuhnya menggigil dan dengan suara tersendat-sendat ia berkata, Aku tak mampunyai pikiran sejauh itu.... Hanya karena aku telah dirawat dan dianggap sebagai anak sendiri oleh guruku atau ibu dari pemuda itu, maka aku pun merasa terikat kewajiban untuk mencari putera guruku itu. Sekarang setelah dapat menemukannya tetapi tak dapat membawanya kehadapan guruku, bagaimanakah pertanggungan jawabku kepada guru?" 416 Habis berkata air mata dara itu ber-derai2 mengucur. Ia mendekap tempat tidur dan menangis terisak-isak. Wanita baju hitam itu menepuk pelahan bahu Mawar Putih, Hal itu tergantung dari rejeki atau jodoh ibu dan anak itu. Jika jodoh belum terputus, tentu akan dapat bertemu. Tetapi kalau memang sudah tiada jodoh lagi, bagaimanapun dipaksa. tetap tak dapat!" Puas menangis, Mawar Putih mengusap air matanya lalu mengangkat muka bertanya, Bi, apakah aku masih dapat

bertemu dengan dia." Wanita baju hitam itu mengangguk, Sudah tentu bisa!" Asal bisa ketemu lagi, aku tentu segera membawa keseberang laut!" katanya seorang diri. Wanita itu menghela napas pelahan tetapi tak berkata apa2 lagi. Tiba-tiba terdengar suara orang pelahan dari si dara baju hijau Wanita baju hitam cepat masuk ke dalam ruangan. Kemanakah sebenarnya Siau-liong? Sesungguhnya ketika Mawar Putih meletakkan Siau-liong ke atas tempat tidur dan siwanita baju hitam pun ikut masuk, saat itu Siau-liong sudah tersadar. Diam-diam ia melirik bayangan wanita baju hitam itu. Sesaat Mawar Putih dan wanita baju hitam keluar, tiba-tiba Siau-liong melihat sesosok bayangan melesat dari tepi pintu lalu seperti sesosok hantu, muncullah di dalam ruang itu seorang lelaki bertubuh tinggi besar. 417 Orang itu mengenakan pakaian biru, mukanya ditutup kain kerudung hitam. Siau-liong terkejut. Diingatnya orang itu pernah muncul ketika dibiara Tay-hud-si dan barisan pohon bunga dalam lembah Semi, untuk memberi petunjuk dan mengajaknya keluar dari bahaya. Siau-liong kejut2 girang. Ketika ia hendak bergerak dan membuka mulut, orang aneh baju biru itu secepat kilat telah menutuk jaland arahnya. Kemudian dengan kecepatan yang sukar dipercaya. orang itu segera mendukung Siau-liong. Selain perakannya amat cepat sekali, sedikitpun tak mengeluarkan suara apa2. Tutukan itu telah membuat Siau-liong pingsan. Sejak itu ia merasa seperti bermimpi. Sesaat ia rasakan sekujur Tuhuhnya sakit sekali seperti digigiti ribuan ekor ular. Sesaat lagi ia merasa lubuhnya lemas lunglai. Entah berselang berapa lama, barulah ia dapat sadar lagi. Ketika membuka mata ia dapatkan dirinya terbaring disebuah biara rusak. Orang aneh baju biru sedang duduk dihadapannya. Siau-liong hampir tak percaya kepada matanya. Ia kira masih bermimpi. Kemudian ia mengigit lidahnya sendiri ah.... ternyata sakit. Jelas ia tak bermimpi, Apa yang disaksikan saat itu, benar suatu kenyataan. Girangnya bukan alang kepalang! Ternyata orang aneh baju biru sudah melepas kerudung mukanya. Dan tampaklah wajah yang sebenarnya. Dia bukan lain adalah guru yang sejak kecil merawat dan mendidiknya.... Tabib-sakti-jenggot-naga Kongsun Sin-to! Buru-buru Siau-liong merangkak bangun dan berlutut memberi hormat dihadapan gurunya, Suhu.... 418

Ia tak dapat melanjutkan kata-katanya. Lupa rasa girang dan haru telah membanjirkan air matanya mengalir turun.... Seketika teringatlah ia mengapa luka berat yang dideritanya dalam pertempuran lawan si dara baju hijau kemarin, saat itu sama sekali sudah terasa sembuh. Ditatapnya Kongsun Sin-to dengan mata melongong, kemudian dengan nada haru sesal ia berkaia; Terima kasih atas pertolongan suhu.... Dengan wajah membesi, Kongsun Sin-to memberi isyarat tangan, Lukamu baru saja sembuh, perlu beristirahat. Jangan pikirkan apa2, lekas bersemedhi salurkan tenaja murnimu.... Kemudian tabib sakti itu menghela napas pelahan dan berkata pula, Tenaga sakti dari Janda gunung Busan, termasuk salah satu ilmu dari Panca sakti. Jika engkau tak makan buah Im-yang-som dan darah binyawak purba, aku pun tak dapat menolongmu!" Siau-liong tak berani berkata apa2. Buru-buru ia melakukan perintah suhunya. Duduk bersemedhi mengosong pikiran dan melakukan penyaluran hawa murni. Oleh karena lukanya sudah disembuhkan Kongsun Sin-to, maka setelah melakukan persemedian beberapa waktu, ia rasakan tubuhnya segar dan nyaman. Tak lama kemudian tenggelamlah ia dalam kehampaan.... Tak terasa empat jam telah berlalu dan Siau-liong pun segera menyudahi persemedhiannya. Ia dapatkan semangatnya segar, lukanya sembuh sama sekali. Saat itu hari pun sudah malam. Sinar rembulan memancar masuk ke dalam jendela. Melihat Siau-liong sudah sadar, 419 Kongsun Sin-to yang sejak tadi pun bersemedhi disampingnya, segera bangun dan memberi senyuman. Tetapi Siau-liong tampak terpaku memandang rembulan bundar. Seingatnya, saat itu baru permulaan bulan delapan. Tetapi mengapa bulan sebundar purnama? Kongsun Sin-to menyulut lilin dan membawakan senampan makan. Melihat Siau-liong terlongong, ia tertawa, Malam ini memang sudah bulan delapan tanggal empat belas. Liong-ji, engkau sudah tertidur selama 12 hari!" Siau-liong tersentak kaget. Yang dirasakan hanya sehari semalam, tetapi mengapa ia sampai tidur selama 12 hari! Setelah meletakkan makan dihadapan Siau-liong Kongsun Sin-to berkata pula, Sudah 10-an hari tak makan, tentulah engkau lapar sekali. Hayo, lekas makanlah!" Memang Siau-liong merasa lapar sekali. Segera ia melahap hidangan itu sampai habis. Wajah Kongsun Sin-to tampak mengerut gelap, Walaupun tidak marah, tetapi nyata orang tua itu tidak senang hati. Setelah Siau-liong habis makan, ia memanggilnya, "Liong-ji!" Tersipu-sipu Siau-liong berlutut dihadapan gurunya itu dan

berkata dengan tersendat, Su-hu.... murid telah melanggar pesan suhu masuk ke belakang gunung. Karena itu.... "Yang sudah lalu. jangan diungkat lagi....!" tukas Kongsun Sin-to. Kemudian dengan tertawa ia berseru.... Pendekar Laknat dan Pengemis Tengkorak. kini sudah terikat guru dengan engkau. Sekarang engkau bukan lagi mempunyai suhu aku seorang!" 420 Siau-liong gugup dan cepat menganggukkan kepala, Pada saat itu murid dalam keadaan terpaksa. Tetapi dalam hati kecil murid, tetap hanya mempunyai seorang guru yakni suhu.... Dalam mengucap kata2 terakhir itu, Siau-liong amat terharu sehingga matanya berlinang-linang. Ia teringat akan dirinya yang telah diracuni wanita pemilik Lembah Semi dan janji kepada wanita itu akan mati bersama2 pada nanti pertengahan musim rontok tahun depan. Ia merasa dirinya telah menyia-nyiakan budi kebaikan dari Kongsun Sin-to selama belasan tahun. Kongsun Sin-to menghela napas. Mati hidup dan kumpul berpisah itu sudah menjadi garis hidup manusia. Siapapun tak mungkin dapat mengubah garis hidup itu. Memang pada saat kutinggalkan gunung untuk mencari obat, sudah kuduga engkau tentu akan mengalami peristiwa2 itu. Tetapi kutak tahu apakah peristiwa2 itu akan merupakan malapetaka atau keberuntungan bagimu. Kesemuanya tergantung pada tindakanmu sendiri dikemudian hari.... Tabib-sakti itu berhenti sejenak untuk memandang wajah Siau-liong. Gurumu ini dikenal dalam dunia persilatan sebagai seorang ahli pengobatan yang sukar dicari tandingnya. Sedikit sekali orang persilatan yang tahu sampai dimana kepandaianku dalam ilmu silat. Bahkan pelajaran silat yang kuberikan kepadamu itu, hanyalah semata-mata sebagai pelajaran dasar saja. Sedang sebenarnya ilmu kepandaian yang kumiliki itu sudah tak berbekas dalam dunia persilatan itu, sesungguhnya termasuk salah satu dari ilmu Panca-sakti.... 421 Mendengar penjelasan itu diam-diam Siau-liong terkejut. Serentak ia teringat akan ilmu pelajaran silat yang diberikan gurunya dahulu. Rasanya ilmu silat itu hanya biasa saja. Ternyata gurunya memang belum menurunkan ilmu saktinya kepadanya. Tentang tenaga sakti Bu-kek-sin-kang yang engkau miliki saat ini serta tenaga sakti Thay-kek-buwi dari Iblis Penakluk dunia, tenaga sakti Thay-im-ki-bun-kang dari Dewi Neraka itu, walaupun amat dahsyat dan ganas sekali, tetapi tenaga sakti mereka itu hanya termasuk golongan ilmu liar. Hanya dapat

mencapai pada tingkat tataran tertentu saja. Tidak demikian dengan Panca-sakti yang tergolongan dalam ilmu sejati aliran Ceng cong-bu-hak. Ilmu itu luasnya tak terbatas.... Kongsun Sin-to berhenti sejenak dan menghela napas, lalu melanjutkan lagi. "Pada ketika itu kutaruh harapan besar sekali kepada dirimu. Sebenarnya segera hendak kuajarkan ilmuku yang disebut tenaga sakti Thian-jim-sin-kang (tenagasakti lemas tapi ulet) kepadamu. Agar engkau menjadi satusatunya murid pewarisku.... Untuk keperluan itulah maka aku pergi untuk mencari daun obat, agar dapat merobah sifat tubuhmu.... ah, tetapi tak terduga ternyata engkau mempunyai lain rejeki sehingga harapanku menjadi hampa. Terpaksa dalam sisa hidupku sekarang ini, aku harus mencari lagi seorang tunas yang berbakat.... Agak terharu nada Kongsun Sin-to dalam mengucapkan kata2 terachir itu. Setelah berhenti sejenak iapun meneruskan lagi, Hanya tunas yang benar-benar berbakat itu sukar didapatkan. Adakah nanti aku berhasil mendapatkan murid pewaris atau tidak, juga masih sukar dikata!" Kata-kata Kongsun Sin-to yang bernada menyesali Siauliong itu, dirasakan sepatah demi sepatah seperti sembilu yang menyayat hati Siau-liong. 422 Siau-liong hanya dapat tundukkan kepala penuh dengan rasa sesal. Setelah mengurut jenggot yang terurai kedada. Kongsun Sin-to melanjutkan pula, Telah kukatakan tadi, jodoh dan peruntungan orang itu sudah ada garisnya sendiri2.... Barang siapa hendak melanggarnya. tentu tertimpah kemalangan. Sekali pun sejak saat ini engkau tak berjodoh lagi untuk menerima pelajaran ilmu tenaga sakti Thian-jin-sin-kang itu, tetapi.... Kongsun Sin-to kembali berhenti lagi. Matanya berkilat-kilat memandarjg Siau-liong. "Bukankah separoh dari peta Giokpwe itu berada dalam tanganmu?" tanyanya. Buru-buru Siau-liong meraba bajunya. Ah, peta itu memang masih disimpannya. Buru-buru ia menjawab, Separoh dari Giok-pwe itu sebenarnya Toh Hun-ki.... Kongsun Sin-to mengangguk. "Hai itu sudah kuketahui semua. Kabarnya harta pusaka yang terpendam dalam tempat itu adalah Tio Sam-hong pendiri partai Bu-tong-pay sendiri yang memendamnya sebelum ia menutup mata, Harta pusaka itu ratusan tahun telah menjadi pembicaraan hangat dan diidam-idamkan oleh setiap kaum persilatan. Tetapi karena peta yang dilukis pada Giok-pwe itu dipecah dua bagin maka sampai sekarang belum ada seorang pun yang mampu mendapatkan harta pusaka itu. Kongsun Sin-to terpaksa berhenti karena tersekat batuk2, "Diantara harta pusaka itu yang paling berharga adalah

sebuah kitab pusaka yang ditulis oleh Tio Sam-hong sendiri.... Ketahuilah, yang kusebut sebagai tenaga sakti Panca sakti itu, selain tenaga sakti Thian-jim-sin-kang yang kumiliki dan Ya-lusinkang (tenaga sakti mengenal suara) dari si Randa gunung 423 Busan itu, masih terdapat lagi tiga jenis tenaga sakti lainnya ialah: Cek-kui-sin-kang (tenaga-sakti Gema-merah). Jit-huasinkang (tenaga sakti Tujuh Robah) dan Thian-kong-sinkang.... Mendengar itu hati Siau-liong tak keruan rasanya. Semula ia mengira bahwa ia telah memiliki ilmu kepandaian sakti dari Pendekar Laknat dan Pengemis Tengkorak. Siapa kira ilmu kepandaian itu bukanlah tergolong ilmu sejati yang tiada tandingannya di dunia persilatan. Bahkan termasuk ilmu liar atau ilmu samping-pintu yang tak mungkin akan mencapai tataran kesempurnaan. Takkala ia bertempur dengan Randa Busan, hampir saja ia kehilangan nyawa. Diam-diam ia mengakui kebenaran ucapan suhunya itu. Serentak timbullah penyesalannya yang amat mendalam kepadanya dirinya yang tempo hari karena menuruti hawa nafsu, telah melanggar perintah gurunya dan gegabah masuk ke dalam belakang gunung. Bukan saja ia telah kehilangan kesempatan mewarisi kepandaian sakti dari gurunya. Pun karena kesalahan itu ia harus menebus mahal. Menderita peristiwa dan Pengalaman yang serba aneh dan hebat dan akhirnya harus menderita keracunan dari wanita pemilik Lembah Semi. Akibatnya, ia hanya dapat hidup setahun lagi.... Dengan wajah serius Kongsun Sin-to melanjutkan keterangannya pula, Pewaris terakhir dari ilmu sakti Cek-kuisinkang adalah Rahib sakti dari Lam-hay ialah To Teng nikoh.... Sedang pewaris dari ilmu sakti Jit-hua-sin-kang adalah Jong Ling lojin yang bergelar orang-sakti terpedam dari Su-jwan. Kedua orang itu sudah berpuluh tahun tak muncul lagi di dunia persilatan. Entah apakah mereka sudah mempunyai murid pewaris lagi. Atau apakah mereka memang sudah muksah, tiada seorangpun dalam dunia persilatan yang mengetahui.... 424 Tergeraklah hati Siau-liong. Segera ia teringat akan orang tua yang dirantai dalam penjara dibawah tanah dalam barisan Tujuh Maut. Serentak ia berseru, Jong Ling lojin itu, murid pernah.... Tetapi tampaknya Kongsun Sin-to tak menghiraukan kata2 Siau-liong dan sambil memberi isyarat tangan supaya anak itu diam, ia melanjutkan keterangannya lagi. "Cek-kui Jit-hua, Thiam-jim dan Je-In keempat ilmu sakti itu, sudah berpuluh tahun tak muncul lagi di dunia persilatan. Tentang diriku, walaupun telah memiliki salah satu dari ilmu

Panca Sakti itu, tetapi karena selama ini aku tak mau menonjolkan diri, maka orang persilatan pun tak mengetahui. Tetapi.... keempat ilmu sakti yang kukatakan tadi, berpangkal pada pengutamaan Hawa murni.... Sedang Thian-kong-sinkang mengutamakan kesempurnaan Sin atau Semangat.... Tiba-tiba mata Kongsun Sin-to berkilat-kilat memandang Siau-liong lalu berkatalah ia dengan serius, Semangat dapat mengambil Hawa, Hawa tak dapat menguasai Semangat. Oleh karena itulah maka Thian-kong-sin-kang termasuk yang paling unggul diantara keempat ilmu sakti itu. Sayang sejak Tio Samhong cousu meninggal dunia, tiada muncul lagi pewarisnya.... Sementara orang persilatan sama menduga bahwa dalam kitab pusaka yang tersimpan dalam harta karun rahasia itu, terdapat tulisan tentang ilmu sakti Thian-kong-sin-kang itu.... Siau-liong mendengarkan seperti orang mabuk. Diam-diam ia terkejut. Apabila kitab pusaka itu sampai jatuh ketangan suami isteri Iblis Penakluk dunia dan Dewi Neraka, setelah mereka berhasil memahami ilmu sakti Thian-kong-sin-kang, siapa lagikah tokoh persilatan yang mampu menandingi mereka? Bukankah dunia persilatan akan mengalami banjir darah dan penjagalan besar-besaran....? 425 Kongsun Sin-to menghela napas pelahan. "Engkau telah kemasukan ilmu sakti Samping. Sekalipun engkau tak mungkin dapat mempelajari ilmu sakti yang kumiliki yang mendasarkan pada Hawa, tetapi engkau masih ada harapan untuk mempelajari ilmu Thian-kong-sin-kang yang mendasarkan pada Semangat. Oleh karena itu jika engkau berhasil menemukan Giok-pwe yang separoh bagian lainnya dan menemukan harta pusaka itu, engkau tetap masih ada harapan untuk menjadi tokoh utama dalam dunia persilatan. Tetapi sejak ini jodoh kita sebagai murid dan guru, akan berakhir. Sejak saat ini hanya tergantung pada dirimu sendiri bagaimana akan mengatur langkah hidupmu!" Hati Siau - liong seperti disayat sembilu rasanya. Menyahutlah ia dengan nada pilu, Murid sudah tiada mempunyai harapan apa2 lagi. Kecuali hanya ingin lekas2 dapat bertemu muka dengan ibu yang sedang menderita sakit diseberang laut. Hanya saja, murid terpaksa harus tinggal ditempat ini lagi untuk beberapa hari." Ia tenngat dalam penyamarannya sebagai Pendekar Laknat telah menolong Toh Hun-ki dan rombongannya dari Lembah Maut lalu berjanji untuk bertemu dengan mereka di Siok-ciu nanti tiga hari kemudian. Dimana dia akan ikut dalam pemusyawarahan untuk membasmi Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka. Tetapi ah.... saat itu karena tertidur selama 12 hari, entah bagaimana dengan keadaan mereka. Adakah rombongan Toh Hun-ki masih berada di Siok-ciu menunggunya? Apakah

tindakan baru dari suami isteri Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka dalam langkah mereka untuk menguasai dunia persilatan? 426 Memikirkan hal2 itu, hati Siau-liong resah gelisah. Dia harus menepati janji, membantu Toh Hun-ki dan rombongan orang gagah, untuk melenyapkan kedua suami isteri durjana itu. Kemudian baru ia mengambil batang kepala Toh Hun-ki dan keempat Su-lo untuk bersama-sama Mawar Putih menhadap ibunya diseberang laut. Tetapi saat itu setelah mendengar penjelasan dari Kongsun Sin-to, ia merasa menyesal. Apa yang hendak dilakukan itu, terasa sukar. Maka menegurlah Kongsun Sin-to, Liong-ji, rupanya hatimu amat resah. Adakah karena memikirkan ibumu atau.... Hati Siau-liong makin pilu. Air matanya berderai-derai turun. Sejak kecil ia diasuh dan dididik Kongsun Sin-to. Dalam perasaannya Kongsun Sin-to itu sudah seperti orang tuanya sendiri. Pada saat mendengar bahwa mereka sudah tak berjodoh atau sudah putus hubungan, apa lagi dirinya sudah terkena racun Jong-tok dan hidupnya hanya tinggal setahun. Maka pecahlah beteng pertahanan hatinya. Ia menangis pilu dibawah kaki sang guru. Lalu menuturkan apa yang telah dialaminya selama di dalam Lembah Semi, diracuni Poh Ceng-in dan hidupnya yang hanya tinggal setahun itu. Selesai mendengar, sambil mengurut jenggot Kongsun Sinto berkata, 0, makanya ketika kuobati, kudapatkan semua jalan darah ditubuhmu terdapat perobahan yang tak wajar. Semula kukira akibat dari makan buah Im-yang-som dan darah binyawak purba itu, kiranya.... Tabib sakti itu menghela napas, ujarnya pula, Memang perempuan siluman itu benar. Setelah racun jong-tok itu 427 menyerap keseluruh jalan darah ditubuh, di dunia tiada terdapat obatnya lagi. " Ditatapnya wajah anak itu, mau berkata tetapi tak jadi. Bermula Siau-liong masih mengandung harapan bahwa gurunya itu tentu mampu mengobati. Tetapi melihat nada kata2nya, habislah sudah harapan Siau-liong. Ia pun hanya memandang pada Kongsun Sin-to dengan longong kehampaan. Setelah merenung beberapa saat, Kongsun Sin-to berkata pelahan-lahan, Boleh dikata seluruh hidupku kuabdikan pada ilmu pengobatan. Sekali pun tidak sesakti tabib Hoa To pada jaman Sak Kok dahulu, tetapi kepandaianku termasuk jarang terdapat tandingannya. Menurut pengetahuanku masih dapat juga racun Jong-tok itu diobati, tetapi....

Mendengar masih ada setitik harapan. seketika menyalalah harapan Siau-liong.... Buru-buru ia mencurahkan seluruh perhatiannya. Karena perempuan siluman itu juga meminum racun, maka racun Jong tok itu tentu terdiri dari dua jenis racun Im dan Yang. Sekalipun engkau terpisah jauh sekali dengan dia, tetapi apabila ada salah seorang yang mati, yang seorangpun tentu ikut mati. Kecuali.... "Kecuali bagimana?" Siau-liong mulai tegang perasaannya. "Kecuali engkau minum habis darahnya!" sahut Kongsun Sin-to, atau dengan gunakan darah anjing atau ayam hitam untuk ,memikat darahnya, mengorek keluar hatinya lalu memakannya mentah2. Hanya dengan jalan begitu, dapatlah racun dalam tubuhmu itu hilang. Selain itu, tiada lain obat yang dapat menyembuhkan lagi. 428 Siau-liong menghela napas rawan, "Sekalipun cara itu dapat menyelamatkan jiwaku tetapi.... aku tak tega menggunakannya.... Kutahu engkau tentu tak mau. Engkau berhati welas asih sekali, ah.... semuanya terserah saja kepada nasibmu.... Kongsun Sin-to berbangkit dan ayunkan langkah pelahanlahan seraya berkata, Kini engkau sudah dewasa. Segala apa harus dapat menjaga diri sendiri. Dewasa ini Iblis Penakluk dunia dan Dewi Neraka sedang berusaha untuk menguasai dunia persilatan. Tokoh2 persilatan dari berbagai aliran dan partai telah bersiap-siap menyusun kekuatan. Suatu pertempuran antara golongan Putih dan Hitam pasti akan terjadi, sesungguhnya.... Ia berhenti sejenak menghela napas, ujarnya lebih lanjut, "Pada umumnya mereka bertujuan hendak mendapatkan harta pusaka terutama kitab pusaka tulisan Tio Sam-hong. Siapa yang mendapatkan pusaka itu, dialah yang akan dapat menguasai dunia persilatan!" Timbullah pikiran Siau-liong. Separoh bagian dari Giok-pwe itu masih berada ditangan suami isteri Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka. Untuk merebutnya tentu sukar sekali. Hidupnya hanya tinggal setahun. Segala kitab pusaka tak berguna lagi baginya. Dan apabila separoh bagian Giok-pwe yang disimpannya itu sampai jatuh ketangan Iblis Penakluk dunia dan Dewi Neraka, bukankah akan hebat sekali akibatnya bagi keselamatan dunia persilatan! Seketika tergugahlah pikirannya. Serentak ia mengeluarkan separoh Giok-pwe dari dalam bajunya lalu diserahkan kepada Kongsun Sin-to. 429 Oleh karena murid sudah terkena racun jong-tok, hidup murid pun takkan lama. Sekalipun dapat merebut yang

separoh bagian lagi dan menemukan kitab pusaka ilmu sakti Thian-kong-sin-kang, bagi murid pun sudah tak berguna lagi. Oleh karena itu.... Dengan tahankan kepiluan hatinya, Siauliong lanjutkan kata-katanya, Hendak murid persembahkan separoh bagian Giok-pwe ini kepada suhu, agar suhu dapat memberikan kepada orang yang benar-benar berjodoh.... Kongsun Sin-to tertawa gelak2, Muridku, aku sudah cukup puas karena telah memiliki salah satu ilmu sakti dari Panca Sakti. Dan selama ini belum pernah kuunjukkan kesaktianku itu di dunia persilatan. Begitupun dalam sisa hidupku yang tak berapa banyak itu. takkan kutonjolkan kepandaianku itu. Maka kitab pusaka Thian-kong sin-kang itu, juga tak penting bagiku. Soal aku hendak menjadi lain orang untuk menjadi pewaris, tak lain tak bukan hanyalah sekedar agar ilmu sakti Thian-jimsinkang itu jangan sampai lenyap ditanganku!" Setelah mengetahui bahwa gurunya tak mau menerima Giok-pwe, Siau-liong berkata, Kalau begitu biarlah murid pendam kitab pusaka itu selama-lamanya agar jangan ada orang yang mengganggu usik!" Tanpa menunggu persetujuan Kongsun Sin-to. Siau-liong terus meremas Giok-pwe itu hingga hancur lebur, lalu dibuang ke tanah. Siau-liong termenung-menung dalam kepekaan. Ia tersenyum getir karena dapat menghamburkan kesesakan dadanya. Ada dua sebab yang mendorongnya menghancurkan separoh Giok-pwe itu. Pertama, dengan lenyapnya ilmu Thiankongsin-kang dalam kitab pusaka itu berarti ilmu sakti Thianjimsin-kang dari gurunya itu bakal merajai di dunia 430 persilatan.... Kedua, menjaga jangan sampai ilmu sesakti Thian-kong sin-kang itu sampai jatuh ketangan orang yang tak bertanggung jawab, misalnya Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka. Setelah memandang beberapa jenak pada hancuran Giokpwe yang berhemburan di tanah, Kongsun Sin-to menghela napas, Walaupun tindakanmu terdorong dari rasa kesungguan tetapi membuat ilmu sakti terpendam selamalamanya di tanah, merupakan perbuatan yang melanggar hukum alam!" Siau-liong diam tak menyahut. Saat itu malam makin larut. Sisa lilin yang menerangi tempat itu sudah habis. Untung rembulan memberi cukup penerangan. Guru dan murid duduk saling berhadapan dalam suasana yang merawankan. Tak berapa lama, Kongsun Sin-to berkata; Siau-liong aku akan berangkat!" "Suhu, engkau.... Siau-liong tak dapat melanjutkan kata2nya karena dicengkam oleh isak keharuan. Belasan tahun ia berkumpul dengan guru yang tercinta itu.

Baru berjumpa lagi terus akan berpisah. Air mata anak itu berderai-derai. Dalam berkata-kata tadi. Kongsun Sin-to sudah tiba diambang pintu. Ia berpaling dan tertawa tenang, Di dunia tiada perjamuan yang takkan bubar. Ada waktu berkumpul, pun ada waktu berpisah. Sekalipun ikatan guru dan murid sudah habis, tetapi bukan berarti kita takkan berjumpa lagi. Siapa tahu.... 431 Entah bagaimana Kongsun Sin-to tak melanjutkan kata2nya. Sekali bahunya bergetar, tabib sakti itu sudah melayang keluar. Ketika Siau-liong memburu keluar, ternyata gurunya itu sudah lenyap. Dia terlongong-longong. Masih diingat-ingatnya kata2 terakhir dari gurunya itu Siapa tahu.... ah, mengapa tak dilanjutkan lalu terus pergi? Angin berhembus dan keresahan pikiran Siau-liong pun agak reda. Memandang kesekeliling, didapatinya biara itu sudah rusak semua. penuh ditumbuhi semak rumput. Ia segera melangkah keluar. Empat penjuru tegak berjajar puncak gunung. Dia tak tahu saat itu berada dimana. Setelah memeriksa bekalannya, kecuali separuh bagian Giok-pwe yang telah dihancurkan. semuanya masih lengkap, antara lain peta dan resep obat pemberian Jong Leng lojin, botol berisi pil dari Poh Ceng-in dan kedok serta pakaian dari Pendekar Laknat. Setelah termenung beberapa saat, akhirnya ia menyamar lagi sebagai Pendekar Laknat, lalu ayunkan langkah. Ia tak tahu yang akan dituju, langkahnya hanya ditujukan pada puncak gunung yang paling rendah sendiri. Dari situ ia hendak ke Siok-ciu. Menjenguk Toh Hun-ki dan rombongannya lalu membelikan obat untuk Jong Leng lojin. Menurut Perhitungannya, saat itu tepat kurang setahun dengan pertengahan musim rontok tahun muka. Suatu hal yang membuatnya menyadari betapa berhargalah waktu itu. Setiap detik dan setiap saat, harus digunakan dengan sebaikbaiknya. Riwayat dirinya yang menyedihkan ditambah pula dengan peristiwa2 yang selalu merundung dirinya dengan kesialan dan malapetaka. membuat hatinya serasa tertindih oleh sebuah batu besar. 432 Sekonyong-konyong ia mengadah dan tertawa nyaring sekali! Nadanya bergema menembus awan. Dalam malam sunyi dan ditengah alam pegunungan yang lelap, tertawa itu benar-benar menyerupai suara raksasa tengah mengumbar tertawa.... Puas tertawa ia terus menyusur sepanjang hutan yang panjang. Tiba-tiba ia terhenti. Cepat2 ia gunakan gerak Nagamelingkar18 kali, melayang ke atas sebatang pohon setinggi

beberapa tombak. Tak berapa lama tampak beberapa sosok bayangan lari mendatangi. Dari atas pohon dapatlah Siau-liong melihat dengan jelas. Orang2 itu mengenakan pakaian persilatan dan menghunus senjata. Begitu tiba di tepi hutan mereka berhenti lalu berjalan pelahan-lahan masuk ke dalam hutan. Sikap mereka seperti menghadapi seorang musuh berbahaya. Salah seorang dari kawanan orang itu, berseru:.... Aneh! Mengapa mendadak hilang?" "Sekalipun ilmu meringankan tubuhnya hebat sekali tetapi tak mungkin ia dapat terbang kelangit!" sahut kawannya. Setiap jalan keluar dari lembah, telah dijaga ketat. Karena dari kawan2 kita tiada memberi tanda apa2, tentulah orang itu masih berada dalam hutan ini. Hayo, kita cari lagi yang teliti." kata orang yang pertama tadi.... Huh, tahukah kalian siapa orang yang hendak kita tangkap itu? kalau nada suara tertawanya, tentulah Pendekar Laknat. Momok itu amat ganas sekali. Lebih baik kita lapor saja pada Iblis Penakluk-dunia dan Dewi Neraka!" 433 Kawan-kawannya menyetujui. Mereka segera berputar tubuh terus lari keluar hutan. Siau-liong hendak loncat turun, tetapi tiba-tiba dari belakang terdengar kesiur angin tajam menyambar dirinya. Siau-liong terkejut sekali. Itulah serangan gelap dari suatu senjata rahasia. Dengan ilmu Thing-hong-pian-wi atau Mendengar-suara-menentukan-letak, cepat ia gerakkan tangan kirinya dan berhasillah ia menjepit sebuah senjata rahasia dengan dua buah jari! Tetapi seketika ia melongo. Ternyata yang dijepit itu bukanlah senjata rahasia, melainkan sehelai daun yang kering. Pada saat ia kesima, telinganya terngiang suara orang tertawa pelahan. Cepat ia memandang ke arah suara tertawa itu dan dapatkan pada puncak sebatang pohon setinggi lima tombak duduk dengan rapi seorang rahib berjubah kuning. Sepasang mata rahib itu berkilat-kilat memancar ke arah Siauliong. Dari jarak lima tombak dapat melontarkan sehelai daun kering menjadi seperti senjata rahasia dan gerakan daun kering itu dapat menimbulkan desis angin yang begitu tajam, benar-benar suatu ilmu kesaktian yang bukan olah-olah hebatnya! Tetapi masih ada lagi hal yang membuat Siau-liong lebih terkejut. ialah suara ketawa rahib itu. Tertawa itu kedengarannya pelahan dan lirih tetapi nyatanya telinga Siauliong seperti mau pecah Rahib itu hentikan tertawanya, berseru, Apakah engkau Pendekar Laknat?" Ya, akulah!" sahut Siau-liong.

434 "Berapakah umurmu sekarang?" tanya rahib itu pula. Siau-liong tertegun. Hampir ia tak dapat menjawab pertanyaan itu. Karena ia memang tak tahu umur Pendekar Laknat itu. Setelah meragu beberapa saat, ia menyahut agak tersendat, Perlu apa harus menghitung umur, pokok aku sudah tua sekali!" Tiba-tiba ia teringat. Sebagai Pendekar Laknat ia harus membawa sikap yang sesuai. Maka setelah mejawab, iapun terus tertawa mengekeh. Karena terpisah pada jarak lima tombak, ia tak dapat melihat jelas wajah dan sikap rahib itu. Tetapi ia dapat melihat bagaimana tajam kilat mata rahib itu memancarkan sinar. Engkau hendak membanggakan ketuaanmu dihadapanku?" bentak rahib itu. Siau-liong tertawa lepas, sahutnya, Tidak, tidak!" Rahib tua itu tidak marah melainkan tertawa dalam, Apakah engkau juga hendak mencari pusaka itu?" Siau-liong tertegun. pikirnya, Menurut nada katanya, tentulah dia datang untuk mencari pusaka itu. Tetapi dia tentu tak mungkin mengira bahwa peta pusaka itu telah kuhancurkan sehingga pusaka itu akan terpendam selamalamanya!" Maka tertawalah ia dengan dingin, Aku seorang tua bangka yang sudah menjelang masuk kubur. Segala harta pusaka di dunia tak mungkin menggerakan hatiku lagi.... 435 Tiba-tiba rahib tua itu berteriak pelahan dan tahu2 tubuhnya dalam keadaan tetap duduk melayang kebatang pohon dihadapan pohon tempat Gak Lui. Caranya rahib melayang itu tak ubah seperti sekuntum awan yang 'terbang' melayang tertiup angin. Siau-liong terbeliak. Pikirnya, Ah, ternyata di dunia ini memang penuh dengan orang sakti. Di atas gunung terdapat awan dan di atas awan masih terdapat langit yang luas.... Pada saat ia masih tercengang, tiba-tiba rahib itu membentaknya, Kalau tak mencari pusaka, perlu apa engkau datang kemari?" Siau-liong tertawa hambar. Tanpa menyahut apa yang ditanyakan, ia berkata, Pusaka itu tak mudah didapat!" Rahib tua tersenyum, Sukar atau tidak, asal benar-benar di dunia ini terdapat pusaka itu, aku tentu dapat menemukannya!" Nadanya penuh dengan keyakinan atas kemampuannya. Walaupun dahinya berhias keriput usia tua tetapi matanya masih bersinar terang, seri wajahnya pun masih berseri. Terutama ketika tertawa, tampak dua baris giginya yang putih mengkilap. Sepintas pandang memang sukar untuk menaksir umurnya. Lebih2 tak mudah untuk mcngetahui asal-usul

dirinya.... Sejenak tertegun, berkatalah Siau-liong; "Untuk mencari pusaka itu. Pertama-tama. harus dapat memperoleh sepasang Giok-pwe.... Giok-pwe itu merupakan peta dari tempat penyimpanan pusaka. Sengaja dijadikan dua buah Giok-pwe 436 agar orang sukar untuk mengumpulkan. Tanpa peta dari Giokpwe itu tak mungkin engkau tahu tempat pusaka itu!" Kalau begitu akan kucari kedua Giok-pwe itu lebih dulu baru nanti mencari pusaka!" kata si rahib tua. Dari kerut dahinya menampilkan sinar kemauan ambisi yang besar. Diam-diam Siau-liong muak melihat wajah rahib itu. Setelah sejenak mengeliarkan pandang matanya, rahib itu berkata dengan lembut, Apakah engkau sungguh2 tahu jelas bahwa peta itu terbagi menjadi dua buah Giok-pwe?" Diam-diam Siau-liong mendapat kesimpulan bahwa rahib itu memang tak tahu sama sekali tentang Giok-pwe. Tetapi disamping itu iapun diam-diam menertawakannya karena tak mungkin lagi orang dapat mencari Giok-pwe itu. Yang satu telah dihancurkannya! Ya," sahutnya. "Tahukah engkau ditangan siapakah Giok-pwe itu sekarang?" tanya sirahib dengan lembut. Tergerak hati Siau-liong, serunya. "Yang separoh bagian berada ditangan Iblis penakluk-dunia dan Dewi Neraka!" "Iblis penakluk-dunia.... Dewi Neraka.... rahib tua itu berkata seorang diri. Kemudian ia tersenyum, Itu mudah, akan kutanyakan kepada mereka!" Melihat betapa yakin dan congkak sikap rahib tua itu, diamdiam Siau-liong geli dalam hati. "Dan yang separoh lainnya?" tiba-tiba rahib itu bertanya. 437 Siau-liong tertawa keras, Yang separoh bagian itu.... mungkin sukar dicari!" Seketika membesilah wajah sirahib tua. Serunya dengan kurang senang, Mengapa sukar dicari?" "Mungkin sudah dihancurkan orang!" Rahib itu tertegun. Tiba-tiba ia juga tertawa keras, Tolol! Siapa yang memiliki benda itu tak mungkin rela menghancurkan!" Siau-liong hanya ganda tertawa terus. Tutup mulutmu.... bentak sirahib. Siau-liong tertegun dan hentikan tertawanya. Tampak rahib itu tengah pasang telinga. Pun telinga Siau-liong yang tajam segera mendengarkan suara orang berjalan dari kejauhan. Tak berapa lama, berpuluh-puluh sosok bayangan menerobos ke dalam hutan. Jumlahnya tak kurang dari empat

sampai lima puluh orang. Rahib tua mengicupkan ekor mata kepada Siau-liong dan tertawa, Tuh, Dewi Neraka dan Iblis Penakluk-dunia telah datang." Siau-liong hanya tertawa dingin. Dipandangnya kawanan orang yang datang itu. Ternyata dua orang yang memimpin rombongan itu adalah Iblis penakluk-dunia dan Dewi Neraka sendiri. Tetapi Soh-beng Ki-su dan Poh Ceng-in tak tampak ikut serta. 438 Tak berapa lama rombongan Iblis penakluk-dunia itu tiba diluar hutan. Iblis penakluk-dunia bertanya kepada salah seorang anak buahnya, Apakah kalian tak salah dengar?" Orang itu tersipu-sipu menyahut, Hamba mendengar jelas, suara tertawa itu adalah tertawa Pendekar Laknat!" Iblis penakluk-dunia memberi isyarat. Rombongan anak buahnya segera pencar diri, mengepung hutan itu. Beberapa saat kemudian, Iblis penakluk-dunia berteriak nyaring Hai tua bangka Laknat! Lekas keluar! Tak mungkin engkau mampu lolos lagi!" Bentakan itu nyaring sekali sehingga daun-daun pohon sama bergetaran. Memandang Siau-liong, rahib tua itu tertawa, Mari.... tahu-tahu tubuhnya yang sedang duduk bersila di atas puncak pohon, terbang melayang keluar hutan. Iblis penakluk-dunia dan Dewi Neraka mengira kalau yang muncul itu Pendekar Laknat. Buru-buru mereka lari menghampiri. Begitu Pendekar Laknat belum sempat berdiri di tanah, mereka hendak mendahului menyerangnya. Tetapi ketika melihat yang muncul itu bukan Pendekar Laknat, mereka terbelalak kaget. Iblis penakluk-dunia menyurut mundur lima langkah. Mata menatap rahib tua itu dan serentak ia mengangkat kedua tangan memberi hormat. "Ah, aku telah keliru menerima laporan dari anak buah. Ternyata sin-ni yang berkunjung!" serunya dengan hormat. Ih, engkau masih kenal aku?" seru rahib itu tertawa gembira. 439 Sin-ni termasyur diempat samudera. Walaupun sudah berpuluh tahun tak berjumpa tetapi aku tak pernah melupakan sin-ni!" buru-buru Iblis-penakluk-dunia berseru. Sin-ni artinya rahib sakti. Siau-liong yang masih bersembunyi di atas pohon, diamdiam terkejut. Segera ia menyadari bahwa rahib itu adalah rahib sakti To Teng yang dikatakan gurunya (Kongsun Sin-to). Rahib yang memiliki ilmu sakti Tek-ki-sin-kang, salah sebuah ilmu sakti dari Panca Sakti. Kongsun Sin-to dengan ilmu sakti Thiau-jim-sin-kang.

Randa Busan dengan Ya-ih-sin-kangnya, Jong Leng lojin dengan Jit-hua-sin-kang serta rahib sakti dari Lamhay dengan Cek-ci-sin-kang. Merupakan empat datuk dari Panca Sakti. Yang masih kurang adalah Thian-kong-sin-kang, ilmu sakti yang masih terpendam dalam suatu tempat seperti terlukis pada peta pusaka Giok-pwe. Mungkin ilmu sakti Thian-kongsinkang itu tak mungkin didapat orang lagi untuk selamalamanya!. seperti terlukis pada peta pusaka Giok-pwe. Dan mungkin ilmu sakti Thian-kong-sin-kang itu tak mungkin didapat orang lagi untuk selama-lamanya.... Sambil tersenyum rahib tua itu memandang Dewi Neraka, tegurnya, Apakah selama ini kalian baik-baik saja?" "Terima kasih, berkat restu sin-ni kami berdua tak kurang suatu apa", sahut kedua suami istri Iblis penakluk-dunia. Setelah berdiam beberapa saat, Iblis penakluk-dunia cobacoba menyelidiki, tanyanya, Sudah berpuluh tahun sin-ni mensucikan diri digunung Bu-ih-san, tetapi kali ini.... 440 Lam-hay-sin-ni tertawa mengekeh, Kabarnya kitab pusaka yang ditulis Tio Sam-hong telah diketahui orang terpendam dalam Lembah Semi dipegunungan Tay-liang-san sini. Benarkah itu?". Iblis penakluk-dunia kerutkan alis. "Kudengar juga begitu". Dan orang mengatakan pula bahwa separoh dari Giok-pwe itu berada ditanganmu, apakah benar?" Iblis penakluk-dunia berdiam beberapa saat, lalu berkata tersendat-sendat; "Ini..... "Bilanglah!" tiba-tiba rahib sakti dari Lam-hay itu berubah wajahnya. Buru-buru Iblis penakluk-dunia tertawa, Benar, tetapi yang separoh lagi..... Lam-hay-sin-ni maju selangkah, Yang separoh itu, nanti akan kuusahakan sendiri. Yang berada padamu. lekas berikan kepadaku!" Sesungguhnya wajah Iblis penakluk-dunia sudah mendelik seperti dicekik setan. Tetapi dia tetap paksakan diri tertawa kecut, Ini.... ini.... Hm, tidak mau memberikan?" wajah rahib sakti mengkerut gelap. Sepasang alis Iblis-penakluk-dunia makin merapat. Tibatiba ia melirik kepada isterinya lalu tertawa-tawa, Karena sinni menghendaki, sudah tentu akan kuberikan, tetapi.... ia berhenti sejenak, lalu, Giok-pwe itu sesungguhnya tak berada padaku melainkan disimpan dalam sebuah tempat rahasia di 441 Lembah Semi. Adakah sin-ni bersedia bersama kami mengambil kesana atau sin-ni sendiri yang akan mengambilnya?"

Dengan mata berkilat berserulah rahib sakti itu tajamtajam, Bukankah kalian bermaksud hendak menipu aku?" "Sin-ni adalah satu-satunya lo-cianpwe dunia persilatan yang paling kuindahkan. Masakan aku berani berbuat kurang ajar terhadap sin-ni?". buru-buru Iblis penakluk-dunia menyanggapi. Wajah Lam-hay-sin-ni berseri girang, Baik, aku akan ikut kalian mengambilnya!" Iblis-penakluk-dunia tertawa sinis, Kalau begitu silahkan sin-ni ikut kami!" Bersama isterinya, Iblis penakluk- dunia segera berputar diri dan ayunkan langkah. Rombongan pangawal suami isteri Iblis-penakluk-dunia pun segera memberi isyarat kepada sekalian anak buah Lembah Semi untuk kembali ke dalam lembah. Rahib sakti dari Lam-hay mengikuti di belakang Iblis penakluk-dunia dan Dewi Neraka dengan wajah berseri girang. Tetapi ketika rombongan Iblis penakluk-dunia itu baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara bentakan. Berhenti....!" Iblis penakluk-dunia berhenti seraya balas membentak marah, Siapa!" 442 Dari balik sebatang pohon di tepi jalan muncul dua orang. Iblis penakluk-dunia dan rombongannya terkejut sekali. Bahkan Siau-liong yang masih bersembunyi di atas pohon pun tersentak kaget sehingga hampir terpelanting jatuh. Ternyata kedua orang yang muncul dari balik pohon itu adalah Randa Busan dan puterinya. Dengan lincah dara baju hijau itu mengikuti di belakang ibunya. Jelas lukanya ketika bertempur dengan Siau liong tempo hari, sudah sembuh. Teringat seketika Siau-liong akan pertempurannya dengan dara itu. Betapa gemas dan mati-matian dara itu menyerangnya ketika menganggap Siau-liong itu Pendekar Laknat. Hm, mengapa dia begitu membenci kemati-matian kepada Pendekar Laknat? diam-diam Siau-liong menimang. Begitu juga ia masih teringat pada saat dalam keadaan sadar tak sadar karena menderita luka dan dibawa Mawar Putih ke pondok janda itu, samar2 ia mendengar janda itu berkata dengan geram Hm, Besok pada pertengahan musim rontok tahun depan, takkan kuampuni jiwamu lagi.... Siau-liong pun teringat akan pesan dari tulisan Pendekar Laknat yang diguratkan pada dinding gua. Dalam pesan itu, Pendekar Laknat memintanya supaya mewakili datang kepuncak Sinlihong gunung Busan guna memenuhi undangan pada pertengahan musim rontok tahun depan.

Tak tahu Siau-liong undangan apa yang dimaksud oleh Pendekar Laknat itu. Yang jelas tentu undangan untuk mengadu kesaktian. Tetapi mengadu kesaktian dengan siapa? 443 Pikiran Siau-liong melayang lebih lanjut. Ia teringat, pada waktu berada di Lembah Maut, Soh-beng Ki-su pernah mengatakan bahwa Mawar Putih telah ditolong oleh seorang perempuan baju hitam. Oleh karena Mawar Putih membawanya dirinya kepondok janda itu, apakah tidak mungkin perempuan baju hitam yang dimaksud Soh-beng Kisu itu bukan Randa gunung Busan itu? Tetapi mengapa yang muncul dihutan situ hanya sijanda dan puterinya? Dimanakah Mawar Putih sekarang? Apakah dara itu disuruh jaga pondok atau sudah pergi kelain tempat lagi? Sebelum semua pertanyaan yang menghuni benak Siauliong itu terjawab. tiba-tiba Randa Busan kedengaran berseru kepada rombongan Iblis pe-nakluk-dunia, Apa kenal pada kami ibu dan anak?" Belum Iblis-penakluk-dunia sempat menyahut, Lam-hay Sin-ni sudah melangkah maju dan membentak Tidak kenal! Lekas enyah!" Randa Busan tertawa dingin, serunya, He, rupanya engkau cepat-cepat menjadi jompo! Sekali mengangkat tangan kirinya, Randa Busan menampar pelahan-lahan sebuah batu besar yang berada dimukanya, Tamparan itu pelahan sekali dan batu itupun tampaknya tak kurang suatu apa. Tetapi ketika Randa Busan menyepak dengan kaki kanannya, batu besar itu sudah berguguran remuk bubuk.... Iblis-penakluk-dunia dan Dewi Neraka terkejut bukan kepalang. 444 Lam hay Sin-ni pun belalakkan kedua matanya dan melengking tajam, Ye-ih-sin-kang.... Randa Busan tersenyum, Sekarang sudah kenal padaku? Lam-hay Sin ni tercengang-cengang, serunya, Ye li, Thianjim dan Jit-hua-sin-kang. Bukankah sudah lama lenyap dart dunia persilatan? Engkau.... Randa Busan menghela napas, Kecuali Thian-kong-sinkang, keempat ilmu sakti itu masih terdapat di dunia persilatan.... Tiba-tiba rahib sakti itu membentak, Kalau begitu engkau.... ,engkau juga hendak mencari pusaka itu! Untuk apakah itu? Randa Busan heran. Randa Busan membentak, Aku tak mencari pusaka, tetapi pun tak mengijinkan orang untuk mencarinya! Mengapa? tanya Lam-hay Sin-ni heran.

Bentak Randa Busan pula, Kukatakan sebabnya pun engkau takkan mengerti.... Hanya saja.... Tiba-tiba ia alihkan pertanyaan, Mengapa engkau bersama mereka! Lam-hay Sin-ni merenung sejenak lalu menyahut, Engkau tak perlu mengurus! Tiba-tiba Randa Busan tertawa panjang. Nadanya dingin sinis. Beberapa saat kemudian baru ia berhenti lalu berkata, Sebenarnya aku memang tak perlu mengurus. Tetapi aku tak tega melihat engkau kesana mengantar kematian. Janganlah engkau hanya mengandalkan ilmu saktimu Cek-ci-sin-kang tak 445 ada yang menandingi. Tanggung engkau bisa pergi kesana tetapi jangan harap bisa kembali.... Randa dari Busan itu menghela napas rawan lalu berkata pula Jong Leng lojin itu salah satu contoh!. Mata Lam-hay Sin-ni terbeliak, Siapakah Jong Leng lojin itu? Sahut Randa Busan dingin2, Pewaris dari ilmu sakti Jit-hua sin-kang! Terdiam sejenak Lam-hay Sin-ni tertawa; Memang lama sekali aku menyembunyikan diri. Beberapa peristiwa memang tak kuketahui. Tetapi mengapa mencari pusaka engkau bisa mengetahui? tegur Randa Busan. Wajah rahib dari Lam-hay mengerut gelap. Tampaknya hendak marah. Dipandangnya randa dari Busan itu lalu diam lagi. Suami isteri Iblis-penakluk-dunia dan Dewi Neraka yang sejak tadi hanya mendengar saja. Merasa saat itu mendapat kesempatan baik. Buru-buru Iblis penakluk-dunia menjurah memberi hormat kepada Randa Busan. Ucapan nyonya tadi ada beberapa bagian yang tak kumengerti. Tetapi kami suami isteri berdua sungguh merasa beruntung sekali karena hari ini dapat melihat wajah nyonya, salah seorang pewaris dari ilmu Panca Sakti! Habis berkata, bersama isterinya ia memberi hormat lagi kepada Randa dari Busan itu. 446 Muak tampaknya Lam-hay Sin-ni melihat tingkah laku kedua suami isteri itu. Ia mendengus dingin. Iblis-penakluk-dunia segera berputar diri menghadap Lamhay Sin-ni, Kitab pusaka peninggalan Tio Sam-hong, merupakan benda yang sangat diincar oleh ribuan kaum persilatan. Untuk menghormat kepada Sin-ni, kami berdua rela menyerahkan peta Giok-pwe itu kepada Sin-ni, te-tapi.... Ia berhenti lalu berpaling ke arah Randa Busan, dengan muka cemas, katanya, Tetapi kami pun amat menghormat juga

kepada wanita pewaris Ye-li-sin-kang ini. Oleh karena itu kami merasa bingung, hendak kami serahkan kepada siapakah peta Giok-pwe itu.... Randa Bu-san menatap tajam pada Iblis penakluk-dunia lalu membentaknya, Huh, licik sekali siasatmu! Tiba-tiba Lam-hay Sin-ni maju selargkah kemuka Randa Busan lalu membentaknya geram, Engkau kira dengan ilmu Ya-li-sin-kangmu itu dapat menggertak aku? Kitab pusaka itu setiap hidung tentu menginginkan. Jika tidak karena kitab pusaka itu, perlu apa engkau datang kemari?.... huh, engkau anggap aku orang tolol! Rahib itu serentak bersiap seperti hendak menyerang. Randa Busan tertawa dingin lalu berkata kepada Iblis penakluk-dunia, Jika saat ini aku benar-benar melayani dia berkelahi, bukankah sesuai dengan tujuan hatimu.... Wanita dan Busan itu gentakkan kakinya ke tanah dan menghela napas lalu berkata seorang diri, Untung atau celaka itu, memang sudah suratan takdir.... perlu apa aku bersitegang hendak melanggar Kodrat alam untuk mempertahankan nasib orang? 447 Dara baju hijau yang sejak tadi selalu berada disisi ibunya, saat itu segera mengajak ibunya pergi. Randa Busan mengangguk, Baiklah, biar mereka ramairamai sendiri! ia terus berputar diri lalu melangkah pergi. Setelah bayangan ibu dan anak itu lenyap Lam-hay Sin-ni tiba-tiba tertawa keras. Apa yang telah terjadi tadi, Siau-liong dapat melihat jelas. Diam-diam ia mencemaskan keselamatan rahib dari Lam-hay itu. Walaupun rahib itu memiliki ilmu sakti Cek-ci-sin-kang tetapi ia tentu tak dapat menghadap kelicikan kedua suami isteri iblis. Apalagi Siau-iong mendapat kesan bahwa rahib itu tampaknya seperti seorang yang ketolol-tololan. Teringatlah saat itu Siau-liong akan Jong Leng lojin yang dipenjara dibawah tanah oleh Iblis penakluk dunia dan Dewi Neraka. Kedua kaki orang tua sakti itu diikat dengin rantai besi.... Jika Lam-hay Sin-ni masuk ke dalam Lembah Semi, kemungkinan besar nasibnya tentu akan serupa dengan Jong Leng lojin! Ngeri seketika Siau-liong membayangkan hal itu. Ia bingung apakah saat itu ia harus bertindak mencegah perbuatan Iblis penakluk-dunia dan Dewi Neraka yang hendak mencelakai rahib Lam-hay. Ataukah ia tinggal diam saja. Belum sempat ia mendapat keputusan, tiba-tiba dari ujung tikungan gunung jauh disebelah muka tampak tiga sosok benda warna biru meluncur ke udara.

448 Dan cepat laksana anak panah meluncur, beberapa sosok tubuh manusia berhamburan tiba terus menyerbu Iblis penakluk-dunia dan isterinya. --oooo0dw0ooo-PEREBUTAN GIOK-PWE Pada saat Iblis-penakluk-dunia dan Dewi Neraka sedang mengipikan rencananya untuk menjebak Lam-hay Sin-ni akan berhasil, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh munculnya beberapa sosok bayangan itu. Cepat sekali beberapa orang itu sudah tiba dihadapan Iblispenaklukdunia. Ternyata mereka berjumlah empat orang, mengenakan pakaian ringkas, menyanggul senjata dipunggung. Keempat orang itu memberi hormat kepada Iblis-penaklukdunia. Salah seorang segera berkata, Memberi laporan kepada bapak pemimpin, pada beberapa tempat diluar gunung, diketemukan jejak musuh!" Apakah sudah diselidiki orang2 dari mana?" tanya Iblispenaklukdunia. "Kebanyakan kami dan para anak buah tak kenal mereka. Tetapi diantaranya terdapat ketua Siau-lim-pay paderi Ti Gong ketua Kong-tong-pay Toh Hun-ki, ketua Kay-pang To Kiu-kong dan lain-lain. Dan lagi.... Anak buah Lembah Semi itu berhenti sejenak, lalu melanjutkan keterangannya, Menurut penyelidikan yang kami peroleh, kali ini rombongan musuh dipimpin oleh imam tua Ceng Hi, ketua Kun-lun-pay yang lama!" 449 Iblis Penakluk - dunia berpaling dan tersenyum kepada isterinya, Sungguh tak meleset dugaanku. Hidung kerbau tua Ceng Hi itu dengan mengandalkan dirinya pada 20 tahun jang lalu pernah menghalau kita berdua dari Tiong-goan, sekarang keluar lagi dari pertapaannya.... Iblis itu menengadah ke atas dan tertawa gelak2 lalu berkata pula. Tetapi sekarang tidak sama dengan 20 tahun jang lalu. Aku mempunyai rencana untuk menghancar leburkan barisan mereka.... asal pemimpin sudah remuk, pastilah yang lain-lain runtuh nyalinya dan partai2 persilatan itu tentu tak berarti lagi bertingkah hendak menentang aku!" Anak buah Lembah Semi itu menunggu sampai Iblis penakluk-dunia selesai berkata. Setelah itu barulah ia berkata lagi dengan nada gentar, Saat itu disekeliling gunung Tayliangsan telah dikepung musuh. Walaupun kami telah mengadakan hubungan dengan posisi penjagaan "yang tersebar dalam jarak 10 li dari gunung. Tetapi tetap tak dapat mengetahui berapakah jumlah musuh yang datang itu!" Iblis-penakluk-dunia tertegun. Pada lain saat ia tertawa nyaring, Apa guna mengandalkan jumlah banyak?"

Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara teriakan menggemuruh. Teriakan dari suatu penyerbuan. Iblis-penakluk-dunia kerutkan alis lalu memberi perintah, Kasih tahu pada orang dimuka, jangan melawan.... Orang itu mengiakan lalu bersama keliga kawannya segera melesat pergi. Iblis-penakluk-dunia membisiki beberapa patah kata kedekat telinga isterinya. Kemudian ia berpaling ke belakang dan memanggil kepada seorang pengawalnya, Kasih tahu pada semua penjaga diluar gunung dan pos2 penjagaan di lembah, supaya masuk semua ke dalam lembah!" Dengan memimpin belasan anak buah, orang itu pun segera berangkat melakukan perintah. Saat itu Siau-liong hanya terpisah 10-an tombak dari Iblispenaklukdunia. Apa yang dilakukan iblis itu, diketahui semua. Ia merasa girang tetapi pun cemas. Girang karena dunia persilatan masih timbul gerakan lagi untuk menumpas Iblis penakluk-dunia. Bahkan imam Ceng Hi yang Sudan mengasingkan diri bertapa selama 20 tahun, juga ikut serta dalam gerakan itu. Dengan begitu kekuatan mereka tentu lebih besar. Tetapi ia cemas karena Iblis-penakluk-dunia dan Dewi Neraka itu licin sekali dan banyak tipu muslihat. Keadaan Lembah Semi sangat berbahaya, penuh dengan alat-alat jebakan. Dan Iblis penakluk-dunia pun sudah sumbar bahwa kali ini Ceng Hi totiang tentu akan dihancurkan. Jika hal itu terjadi, memang dunia persilatan takkan terdapat pengganti tokoh yang sesuai untuk memimpin gerakan pembasmian itu! Saat itu gemuruh teriakan serbuan tadi sudah berhenti. Memandang jauh kemuka, ia melihat sekelompok bayangan hitam berhamburan menyerbu ke dalam lembah. Tiba-tiba Iblis-penakluk-dunia memberi hormat kepada Lam-hay Sin-ni, ujarnya, Aku masih mempunyai lain urusan. Apakah Sin-ni suka masuk sendiri ke dalam lembah?" Lam-hay Sin-ni tertawa mengekeh, Ah lebih baik kutunggu disini sambil melihat-lihat saja!" 451 Dengan ucapan itu jelas Lam-hay Sin-ni tak mempunyai selera untuk mencampuri urusan yang terjadi di Lembah Semi. Iblis-penakluk-dunia tertawa kecewa lalu lari menuju ke arah tempat yang diserbu musuh itu. Kawanan pengawalnya pun segera mengikuti dengan ketat. Rombongan pendatanq itu terdiri dari belasan orang. Mereka hentikan jalannya ketika melihat Iblis-penakluk-dunia, lalu berjalan menghampiri pelahan-lahan. Dari atas pohon Siau-liong dapat melihat bahwa pemimpin rombongan tetamu itu seorang imam kurus. Jenggotnya yang putih perak, memanjang sampai ke dada Punggung menyanggul sebatang hudtim atau kebut pertapaan. Sikapnya

berwibawa seperti seorang dewa. Rombongan pengikutnya yang mengawal disebelah kanan kiri dan belakang. kebanyakan Siau-liong tak kenal kecuali Toh Hun-ki, keempat Su-lo dari Kong-tong-pay Ti Gong taysu dari Siau-lim-pay. "Imam tua itu tentulah Ceng Hi totiang, ketua lama dari partai Kun-lun-pay!" diam-diam Siau-liong membatin. Saat itu Iblis-penakluk-dunia pun berhenti setombak jauhnya dan rombongan pendatang itu. Lam-hay Sin-ni masih tetap berdiri ditempat semula, ditemani Dewi Neraka. Iblis penakluk-dunia tertawa menyeringai seraya memberi salam kepada imam tua itu, Totiang sudah lama tak berjumpa.... ia berhenti keliarkan mata sejenak, lalu berkata pula, "kudengar sudah lama sekali totiang mensucikan diri dari debu kotoran dunia. Entah mengapa hari ini totiang berkenan datang kelembah gunung belantara sini?" 452 Imam tua itu memang Ceng Hi totiang, ketua Kun-lun-pay yang lama. Ia tersenyum menjawab, Memang sudah hampir 20 tahun aku mengasingkan diri dari keramaian dunia dan sebenarnya tak mau campur tangan dengan urusan dunia persilatan lagi. Tetapi kudengar kalian berdua suami isteri telah mengirim undangan kepada seluruh kaum persilatan supaya menghadiri pertemuan Adu Kesaktian.... Belum selesai imam tua itu bicara, Iblis Penakluk-dunia sudah cepat menukas, Kami suam isteri melihat kenyatakan dunia persilatan yang selalu tak aman dari pergolakan, yang kuat makan yang lemah. Maka terpaksa kami mengambil tindakan, mengundang seluruh kaum persilatan datang kelembah sini. Pertama, untuk mempererat hubungan. Kedua, menggunakan kesempatan adu kesaktian itu, memilih seorang tokoh yang cerdas bijaksana dan pandai dalam ilmu sastera serta silat, menjadi pemimpin dunia persilatan. Dengan demikian dunia persilatan akan mempunyai suatu wadah dan pimpinan. Segala pergolakan mau pun pertikaian dan pertumpahan darah, tentu akan dapat dihentikan. Jika hal itu terlaksana, jerih payah kami berdua, tentu takkan sia2!" Dengan ucapan itu se-olah2 Iblis Penakluk dunia menempatkan dirinya sebagai seorang pahlawan penyelamat dunia persilatan. Ceng Hi totiang mendengar dengan sabar keterangan Iblis Penakluk-dunia itu. Setelah selesai barulah ia tersenyum. "Peristiwa berdarah pada 20 tahun yang lalu rupanya masih membekas dalam hati sekalian kaum persiatan. Sekali pun dalam mulut mereka terpaksa mengiakan tetapi dalam hati mereka tetap masih tak puas. Jika menurut pendapatku kuanjurkan kalian berdua supaya menghapus saja cita2 keAngkaraan itu. Lebih baik hiduplah menyepi dipegunungan yang tenang untuk melewati sisa penghidupan, agar....

453 Iblis Penakluk-dunia tertawa meloroh. "Adakah karena tak menerima undangan maka totiang marah? Jika totiang memang masih mempunyai keinginan untuk menguasai dunia persilatan, kami dengan segala senang hati segera akan menghaturkan surat undangan.... Iblis Penakluk-dunia menutup katanya dengan melirik rombongan pengikut Ceng-hi totiang. Lalu melanjutkan pula, Adu kepandaian akan diselenggarakan besok malam. Karena saudara2 datang lebih pagi sehari, maaf, aku tak siap menyambut. Jika saudara hendak memberi pelajaran, harap datang besok malam saja!" Ketua Siau-lim-si, Ti Gong taysu. tak dapat menahan diri lagi. Setelah menyerukan kata 'omitohud', ia menggembor dengan nyaring, Jangan dengarkan ocehannya! Lembah Semi penuh dipasangi alat-alat jebakan rahasia. Jika tidak.... ditujukan orang, aku dan beberapa saudara mungkin sudah binasa dalam lembah itu. Apa yang disebut sebagai Pertemuan besar Adu Kesaktian itu, tak lain hanyalah suatu perangkap untuk menjerat seluruh kaum persilatan!" Iblis-penakluk-dunia tertawa nyaring, Lem-bah Semi adalah tempat kediaman anakku perempuan. Jika benar terdapat alat-alat rahasia itu tentulah atas perintah dari anakku yang masih gemar bermain-main. Masakan alat-alat semacam itu dapat mengurung para orang gigih. Apakah ucapan lo-siansu itu tak terlalu berlebih-lebihan?" Ti Gong taysu menggerung marah, Kalau begitu. dimanakah beradanya ketua Tiam jong-pay Shin Bu-seng, ketua Bu-tong-pay It Hang totiang. ketua Ji-tok-kau Tan Inhong, ketua Tong-thing-pang Cu Kong-leng serta Kun-lun Sam-cu itu?" 454 Dengan tenang Ibls-penakluk-dunia menjawab, Kami suami isteri dengan hati yang sungguh hendak mengatur dunia persilatan. Tetapi lo-sian-su dan It Hang totiang menggunakan pikiran siau-jin (orang rendah) mengukur hati orang. Diam-diam lo-siansu dan It Hang totiang memimpin rombongan menyelundup ke dalam lembah untuk mencelakai kami. Sudah suatu kesungkanan kalau kami tak menarik panjang urusan itu. Tetapi sayang lo-siansu masih ada muka untuk mengungkat lagi hal itu.... Ti Gong taysu menggerung hendak turun tangan tetapi buru-buru dicegah Ceng Hi totiang. Dengan ilmu Menyusup suara, ketua lama dari partai Kun-lun-pay itu berseru kepada Ti Gong taysu, Menghadapi urusan kecil tak dapat menahan diri. tentu dapat membikin kapiran urusan besar. Harap losiansu suka sabarkan diri." Habis berkata ketua Kun-lun-pay itu memandang ke arah

Lam-hay Sin-ni dengan heran. Iblis-penakluk-dunia tertawa dingin, It Hang totiang dan rombongannya tak kurang suatu apa. Besok pagi kalau datang ke lembah, saudara2 tentu mengetahuinya!" Sambil mengurut jenggotnya yang menutup dada, Ceng Hi totiang berkata, Atas nama wakil dari seluruh partai persilatan, kami menolak undangan saudara. Selain itu, akupun hendak mohon bertanya dua buah hal.... Sejenak menatap pada Iblis penakluk-dunia jago tua itu berkata pula dengan nada mantap, Kesatu, sebelum matahari terbit, besok pagi It Hang totiang dan ke-7 kawan2nya harus sudah dibebaskan. Kedua, lebih baik kalian berdua kembali kedaerah luar perbatasan lagi, jangan mencampuri urusan dunia persilatan di Tiong-goan!" 455 Wajah Iblis penakluk-dunia berobah dingin, serunya, Adakah totiang hendak mengulang cerita pada 20 tahun jang lalu untuk mengusir kami dari Tiong-goan?" Sesungguhnya aku menjunjung perdamaian, harap saudara suka mempertimbangkan semasak-masaknya!" kata Ceng Hi totiang, lalu berpaling ke belakang dan berseru, Kasih tahu pada keempat kelompok kita. Besok pagi sebelum mendapat perintahku, jangan sembarangan bertindak sendiri!" Iblis-penakluk-dunia tertawa mengekeh, "Perintah itu tak perlu disiarkan. Aku sudah memikir masak, besok sore kami akan menyambut kedatangan para tetamu. Kami berdua suami isteri akan bertindak sebagai tuan rumah yang layak. Tetapi kalau hal itu tak mendapat perhatian, jangan salahkan kami akan bertindak ganas!" Ceng Hi totiang menghela napas panjang, Segala apa memang sudah kehendak Takdir. Aku tak dapat menentang takdir. Tetapi sayang, entah berapa banyak korban yang akan berjatuhan dalam pertempuran itu nanti!" Iblis-penakluk-dunia tertawa seram, Sekarang bukanlah sama dengan 20 tahun jang lalu. Jika totiang memang menjunjung kedamaian dan ketenteraman, silahkan totiang masuk ke dalam lembah untuk berunding empat mata dengan kami. Mungkin dapat diperoleh jalan keluar.... Ceng Hi totiang merenung diam. Hanya matanya memandang ke arah rombongannya, dengan pandang meragu. Toh Hun-ki ketua Kong-tong-pay berseru nyaring, Berunding dengan kedua iblis itu, tak ubah seperti berunding dengan harimau mengenai kulit. Totiang memikul tanggung 456 jawab keselamatan dunia persilatan, mana boleh sembarangan menempuh bahaya?" Ceng Hi totiang mengangguk lalu memandang Iblis

penakluk-dunia, serunya, Kata-kataku hanya sampai disini. Tak perlu untuk berunding apa2 lagi. Jika besok sampai matahari menyingsing kami tak melihat It Hang totiang dan kawan-kawan, terpaksa akan kupimpin serangan ke Lembah Semi.... Kebajikan yang utama ialah mengusahakan perdamaian pada umat manusia, katanya pula, "harap kalian suka pikir sekali lagi. Ketahuilah, seluruh kaum persilatan sudah berkumpul disini. Betapa berbahayanya Lembah Semi, namun tetap tak mungkin mampu menghadapi serbuan seluruh kaum persilatan!" Habis berkata imam tua itu terus hendak mengajak rombongannya pergi. Tetapi tiba-tiba terdengar Iblis penakluk-dunia tertawa gelak2 dan menyusul terdengarlah sebuah lengkingan tajam membentak, Hm, macam apakah ini!" Pada saat Ceng Hi totiang memandang kemuka, entah kapan datangnya tahu2 Lam-hay Sin-ni sudah berada dimuka dan memandang tajam kepada rombongan orang gagah. Rahib sakti dari Lam-hay itu memang jarang berkelana di dunia persilatan. Sebagian besar kaum persilatan tak kenal padanya. Tetapi tokoh2 semacam Ceng Hi totiang, Toh Hunki, Ti Gong taysu dan beberapa jago tua, semua sudah pernah melihat rahib itu. Kebanyakan kaum persilatan selalu bersikap menghormat dan menjauhi rahib sakti yang aneh wataknya itu. 457 Segera Ceng Hi totiang memberi hormat, ujarnya, Konon kabarnya Sin-ni mengasingkan diri digunung Bu-ih-san. Tak kira kalau hari ini dapat bertemu disini. Entah apakah maksud kunjungan Sin-ni kemari.... Lam-hay Sin-ni mendengus lalu balas bertanya, Ho, engkau kenal aku juga?" Ceng Hi totiang tertawa, Pada pertemuan ditelaga Leng-ti dahulu, aku beruntung dalam berjumpa sekali dengan Sin-ni. Pada masa itu Sin-ni masih agak muda dan akupun masih seorang pemuda.... Ketua Kun-lun-pay itu berhenti sejenak untuk bersenyum lalu, Menurut perhitungan, peristiwa itu sudah berlangsung 20 tahun yang lalu!" Wajah Lam-hay Sin-ni agak tenang, ujarnya, Benar, ingatanmu masih bagus sekali!" -tiba-tiba wajah rahib itu mengerut tegang lag!, Perlu apa kalian datang kemari? Apakah juga akan mencari pusaka?" Ceng Hi totiang terkesiap, sahutnya, Sudah hampir 20 tahun aku menutup diri dari keramaian dunia. Kali ini terpaksa muncul kedunia persilatan lagi adalah karena hendak mencegah pertumpahan di dunia persilatan. Sama sekali tiada keinginan hendak mencari pusaka. Dan lagi kitab pusaka itu

hanya suatu kabar cerita yang sudah berlangsung beberapa ratus tahun. Adakah kabar itu dapat dipercaya, aku tak berani memastikan!" Tiba-tiba Iblis-penakluk-dunia menggunakan ilmu Menyusup suara kepada Lam-hay Sin-ni, Imam tua itu telah membawa ribuan pengikut untuk mengepung Lembah Semi sini. Jika tindakan itu bukan untuk mencari kitab pusaka, 458 apakah ada lain alasan lagi yang dapat membohongi seorang anak kecil?" Lam-hay Sin-ni mengangguk. "Benar, masakan aku dapat dikelabuhinya.... rahib itu diam sebentar lalu bertanya, Tetapi apakah tujuan Adu Kepandaian di Lembah Semi yang hendak kalian selenggarakan itu?" Iblis penakluk-dunia tetap gunakan ilmu Menyusup suara untuk menyahut, Dewasa ini setiap orang persilatan tentu mengiler akan kitab pusaka itu. Dengan menggunakan keadaan Lembah Semi yang berbahaya ini, aku hendak mencegah tindakan mereka, dan lagi.... Iblis itu tersenyum lalu berkata pula, Yang separoh bagian dari peta Giok-pwe itu menang berada padaku, tetapi yang separoh lagi kemungkinan berada pada mereka. Aku hendak merebut yang separoh itu dari tangan mereka untuk kupersembahkan kepada Sin-ni." Berseri-seri gembiralah wajah Lam-hay Sin-ni. Tetapi pada lain saat. tiba-tiba wajahnya mengerut lagi, Kitab pusaka dari Tio Sam-hong, setiap hidung tentu menginginkan. Masakan kalian suami isteri tak menghendakinya? Apalagi sama sekali aku tak pernah melepas budi kepadamu, mengapa kalian begitu ihlas hendak menyerahkan peta itu kepadaku?" Mata rahib itu berkilat-kilat memandang Iblis-penaklukdunia dengan penuh kecurigaan. Iblis-penakluk-dunia tercengang, Tetapi cepat ia dapat menguasai keadaan. Iapun tertawa sinis.... Memang tak salah kalau Sin-ni menaruh kecurigaan. Aku memang masih mempunyai alasan yang belum kuberitahukan.... 459 Ia merenung sejenak lalu berkata dengan tenang, Pertama, kami berdua suami isteri amat mengagumi sekali akan ilmu sakti Cek-ci-sin-kang dari Sin-ni. Kedua, kami mempunyai sebuah persoalan yang ingin memohon bantuan Sin-ni.... Soal apa? Lekas katakanlah!" Kami suami isteri selalu bersikap baik kepada orang tetapi entah bagaimana kami selalu dimusuhi orang saja. Dua puluh tahun yang lalu, kami telah dikepung dan hendak dibunuh oleh Ceng Hi totiang dan kawan-kawannya sehingga kami terpaksa melarikan diri keluar perbatasan....

Iblis penakluk-dunia menghias tutur ceritanya dengan sebuah helaan napas. "Seperti kali ini, baru beberapa hari kami pulang ke lembah, tokoh2 partai persilatan itu terus berbondong-bondong datang kemari hendak membikin perhitungan kepada kami. Bahkan pada tengah malam begini, mereka tetap masuk ke dalam lembah hendak mencelakai diri kami. Saat ini Ceng Hi totiang kembali membawa rombongannya hendak menghancurkan lembah kami. Rupanya jika kami berdua suami isteri belum mati, mereka tetap tak puas Oleh karena itu, dengan menggunakan kesempatan Adu Kepandaian itu, kami hendak mohon bantuan Sin-ni untuk menundukkan mereka. Bukan karena kami ingin menguasai dunia persilatan, melainkan agar kami dapat hidup disini dengan tenteram. Sudah tentu budi pertolongan Sin-ni itu kami takkan lupa selama-lamanya!" Rupanya Lam-hay Sin-ni mudah sekali percaya omongan manis. Seketika timbullah rasa simpatinya kepada Iblis penakluk-dunia. Berulang kali ia mengangguk-angguk kepala. "Itu mudah saja, aku akan membantumulah." 460 Lebih dulu terimalah persembahan terima kasih kami atas budi pertolongan Sin-ni!" serta-merta Iblis penakluk-dunia menjurah memberi hormat. Dengan wajah berseri, rahib itu berpaling ke arah Ceng Hi totiang. bentaknya, Adu Kepandaian itu akan dilangsungkan besok malam. Mengapa kalian sekarang sudah datang?" Ceng Hi totiang memang tak tahu apa hubungan antara suami isteri iblis itu dengan Lam-hay Sin-ni. Apalagi pembicaraan mereka dilakukan dengan menggunakan ilmu Menyusup-suara. Yang dilihatnya hanya bibir kedua orang itu tak henti2nya bergerak. Ia duga mereka tentu sedang bercakap-cakap. Dan menilik nada serta sikapnya, tahulah Ceng Hi totiang bahwa rahib itu datang karena hendak mencari pusaka peninggalan Tio Sam-hong. Menilik betapa licik manusia Iblis-penakluk-dunia itu dan mengingat betapa picik pengalaman Lam-hay Sin-ni yang jarang keluar kedunia persilatan itu, diam-diam Ceng Hi Totiang gelisah. "Ah, kalau kitab pusaka itu sampai jatuh ketangan orang yang tak bertanggung jawab semacam Iblispenaklukdunia, alangkah ngerinya nasib dunia persilatan nanti.... Toh Hun-ki, Ti Gong taysu dan lain-lain tokoh, cukup mengetahui kelihayan ilmu sakti Cek-ci-sin-kang dari rahib itu.... Mereka gelisah. Kalau rahib itu sampai dipergunakan Iblis penakluk-dunia, tentu hebatlah akibatnya bagi rombongan Ceng Hi totiang. Ceng Hi totiang gelagapan mendengar bentakan rahib itu. Buru-buru ia memberi hormat, sahutnya, Selama ini Sin-ni selalu menjauhkan diri dari pergolakan dunia persilatan yang

kotor. Dan kaum persilatan menaruh perindahan tinggi kepada 461 Sin-ni. Maka heranlah kami mengapa saat ini Sin-ni muncul dan membantu kedua suami isteri durjana itu?" Lam-hay Sin-ni deliki mata, membentak, Apakah engkau hendak memberi nasehat kepadaku?" Pun Iblis penakluk-dunia cepat menambahi kata, Totiang amat termasyhur di dunia persilatan dan sangat diindahkan sekali oleh dunia persilatan. Sekali pun kata2 totiang itu menyinggung perasaanku, tetapi aku rela menerimanya. Tetapi kalau totiang menghina pada Sin-ni, ah, sungguh keterlaluan sekali!" Lam-hay Sin-ni yang polos dan jujur tetapi agak tolol, seketika terbakarlah kemarahannya mendengar ucapan Iblis penakluk-dunia itu. Segera ia ayunkan tangan, melontar pukulan. Bum.... sebuah batu besar hancur bertebaran keempat penjuru! Ternyata pukulan rahib itu ditujukan pada sebuah batu besar yang terpisah beberapa meter dari tempat Ceng Hi totiang. Tetapi tak kecewalah Ceng Hi sebagai seorang datuk persilatan. Ia memiliki toleransi yang besar sekali. Setitikpun ia tak terpengaruh oleh pameran ilmu kesaktian dari rahib itu. Ia tetap tegak dengan tenangnya. Dengan Kekuatan menaklukan orang, tidaklah seindah menaklukkan orang dengan Keluhuran budi. Apalagi dunia persilatan selalu mengutamakan Keadilan dan Kebenaran!" kata imam tua itu dengan tertawa hambar, lalu menghela napas. Seolah-olah menyesalkan tindakan Lam-hay yang 462 karena hendak mencari kitab pusaka telah rela bekerja-sama dengan suami isteri durjana. Lam-hay Sin-ni tertawa mengekeh, Selama mengasingkan diri digunung sepi, aku tak pernah melepaskan diri dari persoalan manusia. Kemungkinan nanti aku pun akan menjajal kepandaian dengan kalian!" Ceng Hi totiang terbeliak. Benar-benar ia tak mengira bahwa seorang rahib tua yang memiliki salah satu dari ilmu Panca Sakti dan sudah berpuluh tahun mengasingkan diri ternyata masih belum mencapai kesadaran. Masih tak dapat membedakan antara Putih dengan Hitam. Masih dikuasai nafsu untuk mengejar nama dan keuntungan. Adakah rahib itu benar-benar kurang waras! pikirannya? Toh Hun-ki dan rombongan serta Ti Gong taysu yang lebih banyak dipengaruhi rasa jerih terhadap kesaktian rahib itu, tak berani ikut bicara. Dengan wajah berseri riang Lam-hay Sin-ni memandang

sekalian orang itu kemudian berpaling kepada Iblis-penaklukdunia, Sekarang mari kita masuk ke dalam lembah untuk mengambil Giok-pwe yang separoh bagian itu?" Iblis-penakluk-dunia mengangguk, Baiklah, mari kuantar Sin-ni!" -ia terus berputar diri dan ayunkan langkah. Dewi Neraka cepat melesat kesamping Lam-hay Sin-ni. Tangan kiri mencekal tongkat kepala naga, tangan kanan memapah lambung Lam-hay Sin-ni. Ceng Hi totiang memandang bayangan rahib itu dengan tak berkata suatu apa. Tetapi ketika Lam-hay Sin-ni baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba dari udara terdengar suara gemboran menggeledek, Sin-ni, berhentilah!" 463 Sesosok tubuh melayang dari atas gerumbul pohon. Gerakannya mirip dengan seekor burung rajawali. Dan tepat orang itu melayang turun beberapa langkah dimuka Sin-ni. Baik rombongan Ceng Hi totiang maupun suami isteri Iblis penakluk-dunia, terperanjat sekali dan buru-buru hentikan langkah. Kiranya yang muncul itu adalah Siau-liong dalam penyamaran sebagai Pendekar Laknat. Ceng Hi totiang dan rombongannya pun tak jadi tinggalkan tempat itu. Sejenak terkejut, Iblis-penakluk-dunia segera tenang kembali. Ia tertawa dingin, Tua bangka Laknat, umurmu benar-benar masih panjang!" Pun Dewi Neraka dengan heran2 kejut, berseru, Bagaimana engkau dapat menemukan jalan rahasia dalam lembah? Asal engkau mau mengatakan, kami takkan menyusahkan engkau lagi!" Siau-liong tertawa; "Sudan kukatakan semula, tempat sebagai Lembah Semi itu, aku senang datang terus datang, senang pergi pun pergi. Segala macam alat perangkap dan tempat yang berbahaya dalam lembah, masakan mampu merintangi kebebasanku?" Pada saat kedua suami isteri Iblis-penakluk-dunia hendak menyahut, Lam-hay Sin-ni cepat mencegahnya. Kemudian rahib itu tersenyum pada Siau-liong, serunya, Uh, hampir saja kulupakan engkau? Apakah engkau tetap bersembunyi di atas pohon itu?" 464 Benar, apa yang Sin-ni dan kedua iblis bicarakan tadi, telah kudengar semua!" Lam-hay Sin-ni memandang wajah Siau-liong, serunya, Ya, omonganmu itu benar sekali.... -ia menunjuk pada suami isteri Iblis -penakluk-dunia, berkata pula; "memang Giok-pwe yang separoh bagian itu berada ditangan mereka dan sekarang hendak kuambil ke dalam lembah!"

Siau-liong berkata dingin, Kukuatir separoh Giok-pwe itu Sin-ni tak dapat memperolehnya dan lagi. Jangan masuk ke dalam lembah!" Mengapa?" bentak rahib itu dengan marah. Selama ini Sin-ni hanya tinggal menyepi digunung dan tak menghiraukan urusan dunia. Kali ini kedatangan Sin-ni untuk mencari kitab pusaka Tio Sam-hong, kurasa bukanlah dikarenakan hendak memburu harta permata yang tak ternilai jumlahnya itu!" "Sudah tentu," sahut Lam-hay Sin-ni, "aku tak butuh dengan segala harta kekayaan dunia!" Karena tak menginginkan harta permata, jelas tentulah hanya untuk Kitab pusaka itu saja.... Siau-liong berhenti sejenak memandang sekalian orang yang tegak berdiri diam, lalu berseru nyaring, Walaupun ilmu Thian-kong-sin-kang itu tergolong salah satu dari Panca Sakti, tetapi hanya ilmu itulah yang mendasarkan pada Sin (semangat). Jadi jauh di atas ilmu sakti Thian-jim-sin-kang, Jit-hua-sin-kang, Yi-li-sin-kang dan ilmu Cek-ci-sin-kang yang Sin-ni miliki. Maka apabila ilmu Thian-kong-sin-kang yang tertera pada kitab pusaka itu sampai jatuh ketangan lain orang, Sin-ni pasti akan tergeser dalam kedudukan sebagai 465 tokoh kelas dua. Jika Sin-ni dapat memperoleh ilmu Thiankong sin-kang itu, Sin-ni akan memiliki dua buah ilmu sakti yang tiada taranya dan dengan sendirinya Sin-nilah satusatunya tokoh nomor satu dalam dunia persilaran.... Ceng Hi totiang dan sekalian orang mendengarkan dengan penuh perhatian. Sekalipun ilmu Panca Sakti itu sudah tersiar dalam dunia persilatan sejak berpuluh-puluh tahun tetapi karena sudah lama sekali tak pernah muncul tokoh yang menggunakan ilmu sakti itu, maka orang menganggapnya hanya sebagai khayalan saja. Maka pada saat Pendekar Laknat Siau-liong mengungkapkan lagi tentang kelima ilmu sakti itu dengan jelas, sekalian tokoh2 yang hadir disitu sama tercergang-cengang.... Lam-hay Sin-ni tertawa mengekeh, Meskipun kata-katamu itu tak sedap, tetapi memang kenyataannya bcgitulah, aku Lam-hay Sin-ni memang tak mau campur tangan urusan dunia persilatan tetapi aku pun tak rela kalau ada orang yang lebih unggul kepandaiannya dari diriku!" Siau-liong memandang kedua suami isteri Iblis-penaklukdunia lalu tertawa hambar, "Selama ini Sin-ni hanya mengabdikan diri pada ajaran suci dan tak mau mergotorkan diri pada kejahatan dunia. Jika kitab pusaka yang berisi Thiankongsin-kang itu akan menjadikan seseorang melonjak dalam kedudukan sebagai tokoh persilatan nomor satu, masakan kedua Suami isteri itu mau begitu rela menyerahkan pada Sinni? Dalam hal itu tentulah....

Iblis-penakluk-dunia cepat menukas dengan tertawa melengking nyaring, Betapapun engkau hendak menggunakan lidahmu yang tajam tetapi tak mungkin dapat memecah belah Sin-ni dengan aku.... 466 Jangan mengerat omongan orang! Biarkan dia bicara sampai habis dulu!" bentak Lam-hay Sin-ni. Siau-liong mendengus ejek lalu melanjutkan kata-katanya, Jelas kedua suami isteri iblis itu mengandung hati durjana. Jika Sin-ni sampai terjebak masuk ke dalam lembah, berarti Sin-ni akan terjerumus ke dalam liang naga. Bukan saja separoh Giok-pwe itu takkan Sin-ni peroleh, bahkan Sin-ni sendiri tentu sukar akan keluar dari situ.... Siau - liong berhenti sejenak untuk mengatur kata2. Setelah itu berserulah ia dengan keras, Jong Leng lojin adalah contohnya!" "Siapakah Jong Leng lojin itu?" tanya Lam -hay Sin-ni. Jong Leng lojin adalah salah seorang tokoh yang memiliki ilmu sakti Jit-hua-sin-kang!" teriak Siau-liong, "dia sekarang berada dalam penjara dibawah tanah dengan kedua kakinya dirantai!"' Lam-hay Sin-ni maju selangkah dengan mata berkilat-kilat tajam, serunja; "Benarkah itu?" "Aku menyaksikan sendiri!" sahut Siau liong. Wajah Lam-hay Sin-ni tampak membeku lalu berpaling ke arah Iblis-penakluk-dunia. Juga Ceng Hi toting dan sekalian orang terperanjat mendengar keterangan Pendekar Laknat Siau-liong itu.... Jika hal itu benar, sungguh suatu peristiwa yang tiada tara ngerinya. Jong leng lojin sudah berpuluh-puluh tahun tak muncul di dunia persilatan. Orang mengira dia tentu sudah mati atau sudah lenyap. Tetapi mengapa ternyata dipenjarakan Iblis penakluk-dunia dalam Lembah Semi? 467 Sekalian orang setengah meragukan keterangan Siau-liong itu. Diantara sekian banyak orang, hanya Ceng Hi totianglah yang paling rapat hubungannya dengan Pendekar Laknat. Sudah beberapa kali ia bertemu dengan momok itu maka tahulah ia bagaimana watak dan pribadi momok itu. Sejauh ingatan Ceng Hi totiang, dahulu Pendekar Laknat itu seorang manusia yang sukar diraba pendiriannya. Malang melintang di dunia persilatan menurut sekehendak hatinya yang angkuh dan ganas. Tetapi mengapa sekarang, dua puluh tahun kemudian, momok itu tiba-tiba berobah begitu sadar, dapat membedakan mana yang lurus dan mana yang jahat? Dan yang paling tak dimengertinya ialah dua puluh tahun yang lalu Pendekar Laknat itu bertubuh pendek tetapi

mengapa sekarang berobah begitu tinggi besar? Masakan makin tua makin bertambah tinggi! Saat itu suasana makin bertambah tegang. Sekalian orang memandang ke arah Lam-hay Sin-ni. Rupanya rahib yang memiliki salah satu dari ilmu Panca Sakti, hendak berbalik memusuhi Iblis penakluk-dunia. Tetapi Iblis-penakluk-dunia tetap mengulum senyum dan memberi homat kepada rahib itu, Adakah Sin-ni percaya akan omongan itu?" "Kalau melihat dengan mata kepala sendiri, tentulah tak bohong!" sahut Sin-ni. Iblis penakluk-dunia tertawa nyaring, Jong Leng lojin memiliki ilmu sakti Jit-hua-sin-kang. Dalam dunia persilatan kedudukannya sama dengan Sin-ni. Masakan kami berdua 468 mampu menjebloskannya dalam penjara dibawah tanah? Apalagi.... Ia memandang Siau-liong dan rombongan Ceng Hi totiang. "Si tua Laknat, Toh Hun-ki ketua Kong-tong pay, Ti Gong taysu dari Siau-lim-si, To Kiu-kong ketua Kay-pang dan lainlain pernah masuk ke dalam lembah dan dapat keluar dengan tak kurang suatu apa. Jika lembah itu penuh dengan alat jebakan dan kami mempunyai kemampuan untuk memenjarakan Jong leng lojin, masakan rombongan mereka dapat lolos dari tangan kami? Masakan mereka dapat berdiri disini dan menyerang kami dengan fitnah yang tajam?" Lam-hay Sin-ni mengangguk angguk, Omonganmu benar juga. Hampir saja aku dapat dikelabuhi!" Dengan mata berkilat-kilat rahib itu menatap Siau-liong. Melihat itu Iblis-penakluk-dunia cepat menambah minyak ke dalam api. Serunya, Masih ada sebuah hal penting yang hendak kuberitahukan kepada Sin-ni Giok-pwe yang separoh bagian itu berada pada si tua Laknat!" Seketika berobahlah wajah Sin-ni terkejut girang. Cepat ia menegur Siau-liong, Benarkah itu?" "Benar!" Siau-liong tertawa hambar. "Lekas serahkan padaku!" Siau-liong tertawa dingin, Sekabpun aku ingin menyerahkan Giok-pwe itu, tetapi sekarang sudah tak dapat." Berhenti sejenak, Siau liong mengangkat muka memandang kelangit dan berseru pula dengan nada tawar, Kitab pusaka tulisan Tio Sam-hong dan harta karun yang nilainya dapat dibelikan sebuah kota, sejak saat ini bakal lenyap dan tinggal 469 merupakan sebuah teka-teki saja. Andaikata benar ada pun harta pusaka itu tak mungkin diketemukan orang lagi dan akan terpendam dalam tanah untuk selama-lamanya." Perlu apa engkau mengoceh belo tak keruan itu." bentak

Lam-hay Sin-ni. Siau - Hong tertawa lepas. Dengan tandas ia berkata: .Separoh Giok-pwe itu telah kuremas hancur berkepingkeping.... Seketika berobahlah wajah lblis penakluk-dunia. Tetapi beberapa saat kemudian ia tertawa gelak2; "Omongan semacam itu, anak kecil umur 3 tahunpun tak mungkin percaya!" Lm-hay Sin-ni tertegun lalu melengking, Aku pun juga tak percaya!" Siau-liong menertawakan Iblis-penakluk-dunia, serunya, Aku tak butuh engkau percaya atau tidak! Tetapi jelas kalau separoh bagian Giok-pwe itu sudah kuhancurkan. Dengan begitu yang separoh bagian lagi sudah tak berguna." Dengan murka sekali Lam-hay Sin-ni membentaknya, lekas serahkan separoh bagian Giok-pwe itu. Kalau tidak terpaksa aku turun tangan!" Bentakan itu dilambari dengan tenaga dalam yang hebat sehingga sekalian orang yang hadir disitu seperti mendengar halilintar meletus. Mereka terkejut dan memandang ke arah rahib itu. Dibawah sinar rembulan, tampak dengan mata berapi-api rahib itu memandang Siau-liong seraya pelahan-lahan maju menghampiri.... 470 Tampak jubahnya yang gerombyong itu berkibar-kibar keras. Tanah yang dilaluinya meninggalkan bekas telapak sedalam tiga inci. Dahinya memancar sinar pembunuhan yang buas. Siau-liong memandang gerak-gerik Sin-ni itu dengan penuh perhatian. Diam-diam ia kerahkan seluruh tenaga dalam Bukeksun-kang. Walau pun belum yakin akan menang, namun ia bertekad untuk menghadapi Sin-ni itu. Iblis-penakluk-dunia dan Dewi Neraka berdiri disamping sambil tertawa sinis. Seri wajahnya amat riang karena siasatnya mengadu domba akan berhasil. Tidak demikian dengnn ketua Kong-tong-pay, Toh Hun-ki. Diam-diam ia keluarkan keringat dingin karena mencemaskan Pendekar Laknat Siau-liong. Buru-buru ia gunakun ilmu Menyusup Suara untuk berseru kepada Ceng Hi totiang. "Pendekar Laknat yang sekarang jauh sekali bedanya dengan dahulu. Kami dan kawan2 ketika dikurung dalam lembah, jika tak ada dia yang menolongi, tentulah sudah binasa. Dapatkah totiang membantu sedikit tenaga kepadanya dalam menghadapi keganasan Iblis penakluk-dunia dan Dewi Neraka dan untuk menyelamatkan dunia persilatan, jika bisa mendapatkan tenaganya, tentu sangat berguna sekali" Ceng Hi totiang kerutkan dahi. Mengangguk tetapi tak menyahut apa2. Beberapa langkah dimuka Siau-liong, Lam-hay Si-ni

berhenti, bentaknya pula, Apakah engkau masih tak mau menyerahkan Giok-pwe itu?" 471 Siau-liong deliki mata, Sudah kukatakan, Giok-pwe itu sudah kuhancurkan. Tetapi engkau berkeras tak percaya, apa boleh buat!" Bentak rahib itu, Telah menjadi keputusanku untuk mencari pusaka itu. Dengan menyimpan separoh Giok-pwe itu, bagimu pun tak berguna. Bahkan malah akan menghilangkan nyawamu yang sudah tua itu!" Siau-liong tertawa angkuh, Harap Sin-ni jangan mengagulkan ilmu Cek-ci-sin-kang untuk memandang rendah orang, Jika Sin-ni tak mau makan nasehatku, tentulah Sin-ni akan mengalami nasib serupa Jong Leng lojin yang dipenjarakan dibawah tanah oleh kedua suami isteri iblis itu!" Wajah Sin-ni berobah pucat dan membentaklah ia dengan kalap, Apakah engkau benar-benar tak takut mati!" Tiba-tiba ia mengangkat tangan kanan hendak memukul.... Diam-diam Siau-liong menimang, Mati hidup sudah takdir! Jika aku memang harus mati ditangan rahib ini, mau lari kemana lagi? Hm....?" Siau-liong telah mengambil keputusan. Andaikata sekarang tidak, pun setahun lagi ia pasti akan mati juga. Baginya tiada yang diharap lagi. Pikiran kacau, hatinya pun gundah. Maka tetap tegaklah ia ditempat. Kedua tangan telah disiapkan dengan tenaga sakti Bu-kek-sin-kang dan ia benar-benar hendak mengadu jiwa dengan Lam-hay Sin-ni. Mata Lam-hay Sin-ni memang tajam sekali. Cepat ia melihat bahwa kedua tangan Siau-liong menjadi merah membara. Seketika tertawalah ia mengekeh. Heh, heh, dengan mengandalkan ilmu liar itu, engkau hendak melawan aku?" serunya mengejek. 472 Ucapan itu diserempaki dengan gerakan tangan kanannya yang sudah diangkat tadi.... Seketika terdengar deru angin yang tajam melanda kepala Siau-liong.... Siau Liong memang sudah siap. Ia sudah kerahkan seluruh tenaga sakti Bu-kek-sin-kang. Kedua tangan diangkat kedada lalu pe-lahan2 disongsongkan kemuka. Bam.... terdengar ledakan keras. Tubuh Siau liong bergoyang2 beberapa kali. Wajahnya tetap tak berobah dan tetap tegak ditempatnya. Dan ketika kedua pukulan itu berbentur, berhamburanlah hawa panas kesekeliling. Sekalian orang yang hadir merasakan hawa itu. Ternyata ilmu sakti Cek-ci-sin-kang itu berdasar pada hawa panas dalam tubuh. Sedang tenaga-sakti Bu-kek-sin-kang itu pun juga berdasar pada api dalam tubuh. Kedua tenaga sakti

itu sama2 tergolong tenaga keras yang panas. Hai, Laknat tua, kepandaianmu hebat juga!" seru Lam-hay Sin-ni tertawa. Siau-liong pun tertawa hambar, Ah, Sin-ni keliwat memuji.... Diam-diam Siau-liong heran. Ketika berhadapan dengan Jong Leng lojin di penjara bawah tanah, ia tak mampu berbuat apa2 menghadapi tenaga-sakti Jit-hua-sin-kang tokoh tua itu. Pun dengan Randa gunung Busan yang memiliki tenaga-sakti Ya-li-sin-kang. Walaupun ia belum pernah bertempur, tetapi dari kesaktian anak perempuannya yang adu tenaga dengan dia itu, jelas kalau ilmu Ya-li-sin-kang itu jauh lebih unggul dari Bu-kek-sin-kang. 473 Adalah karena terpaksa, maka ia nekad menghadapi serangan Lam-hay Sin-ni. Tadi dalam adu pukulan ia telah menggunakan 10 bagian tenaga sakti Bu-kek-sin-kang. Sekalipun tak dapat menghalau Lam-hay Sin-ni, tetapi ia juga tak menderita apa2. Seketika timbullah nyalinya. Tiba-tiba Lam-hay Sin-ni tertawa mengekeh, Pukulanku dengan dua bagian Cek-ci-sin-kang tadi dapat membunuh 3 ekor harimau. Tetapi engkau mampu menerimanya, sungguh hebat juga!" Siau-liong terbeliak kaget. Kiranya Sin-ni hanya menggunakan dua bagian dari ilmu sakti Cek-ci-sin-kang. Ah, maka perbawanya tak begitu hebat. Pada saat rasa ngerinya mulai membayangkan bagaimana akibatnya apabila rahib itu memukul dengan tenaga penuh, tiba-tiba terdengar Lam-hay Sin-ni membentak keras. Setan tua, nih cobalah terima pukulan dari empat bagian Cek-ci-sin-kang....! " Anginpun men-deru2 dahsyat sekali.... ---ooo0dw0ooo--Jilid 09 Jika Singa Ketemu Macan 474 Dalam keadaan seperti saat itu, Siau-liong bagaikan seorang yang naik di punggung harimau. Terus naik celaka, turunpun tentu dimakan. Tetapi dari pada turun, lebih baik ia lanjutkan naik terus. Siapa tahu nanti akan terjadi sesuatu yang diluar dugaan. Darah muda Sian-liong meluap. Dan bulatlah sudah tekadnya. Lebih baik pecah sebagai ratna dari pada mati bertekuk lutut.... Tanpa banyak pikir lagi, ia gerakkan kedua tangannya dengan jurus Thay-siang-bu-kek yang dilambari dengan tenaga sakti Bu-kek-sin-kang!

Bum.... Regukan angin yang panas ditaburi pecahan batu dan pasir yang berhamburan ke sekeliling penjuru! Tubuh Siau-liong bergoyang gontai maju mundur beberapa kali. Tetapi masih tetap dapat tegak berdiri di tempatnya. Ternyata dia telah mengkombinasikan ilmu pukulan Thaysiangciang dan tenaga sakti Bu-kek-sin-kang. Oleh karena dia telah makan buah Im-yang-som dan minum darah binyawak purba, maka tenaganya pun lebih unggul dari Pendekar Laknat yang asli. Dengan demikian dapatlah ia bertahan dari pukulan Lam-hay Sin-ni. Di antara sekalian tokoh yang hadir, adalah To Kiu-kong ketua Kay-pang yang paling terkejut sendiri. Dia benar-benar tak mengerti mengapa Pendekar Laknat dapat menggunakan pukulan Thay-siang ciang. Pada hal ilmu pukulan itu adalah milik Pengemis Tengkorak Song Tay-kun yang jelas menjadi musuh dari Pendekar Laknat! 475 Juga Ceng Hi totiang yang luas pengalaman dan pengetahuannya segera dapat mengetahui keanehan pada diri Pendekar Laknat Siau-liong itu. Tokoh tua dari Kun-lun-pay itu memandang Siau-liong dengan saksama. "Aneh!" juga Lam-hay Sin-ni sendiri tertegun memandang Siau-liong seraya mengingau. Rahib itu juga tak habis herannya. Pada waktu ia gunakan dua bagian dari tenaga sakti Cek-cisinkang tadi, jelas diketahuinya bahwa Pendekar Laknat Siauliong itu sudah kepayahan. Dan pada pukulan yang kedua itu ia telah menambahkan empat bagian tenaga sakti Cek-ci-sin-kang. Hal itu pasti akan menghancurkan Siau-liong. Kalau tak mati tentu terluka parah. Tetapi mengapa orang itu masih tetap kuat bertahan seperti yang pertama tadi? Siau-liong yang paling tahu jelas keadaan dirinya. Adalah karena menggunakan ilmu pukulan Thay-siang-ciang yang dikombinasi dengan tenaga sakti Bu-kek-sin-kang maka ia mampu menerima pukulan Lam-hay Sin-ni. Tetapi apabila rahib itu menambahi lagi tenaga saktinya, ia pasti tak kuat! Toh Hun-ki yang menyaksikan adegan pertempuran maut itu, bingung tak karuan. Buruan ia gunakan ilmu Menyusup suara kepada Ceng Hi totiang. Saat ini sudah jelas bagaimana kekuatan kedua tokoh yang adu pukulan itu. Jelas kedua suami isteri iblis hendak menggunakan tangan Lam-hay Sin-ni untuk membinasakan Pendekar Laknat. Jika kita berpeluk tangan membiarkan Pendekar Laknat mati dipukul Lam-hay Sin-ni, sungguh tidak bijaksana!" 476

Ceng Hi totiang menyahut dengan ilmu Menyusup suara juga, Lam-hay Sin-ni itu orang linglung tetapi memiliki ilmu sakti Cek-ci-sin -kang. Harus dilawan dengan kepintaran tak boleh dengan kekerasan. Aku telah menyanggupkan diri untuk menerima beban kewajiban dari kawan2 persilatan. Saat ini kita menghadapi bermacam-macam bahaya. Sekali tak waspada, besar bahayanya. Bukankah hal itu akan memberi keuntungan pada kedua suami isteri iblis untuk menguasai dunia persilatan.... Sejenak berhenti ketua Kun-lun-pay itu melanjutkan pula, Pendekar Laknat pada 20 tahun yang lalu dengan sekarang, sungguh berbeda sekali. Begitu pula ucapannya sekarang ini tiadalah sesombong dan seliar dahulu, tetapi penuh dengan nalar yang tepat. Tetapi dia tetap berhati keras karena walaupun jelas tak bisa melawan Lam-hay Sin-ni namun dia tetap berani menghadapinya. Apakah itu bukan berarti dia mancari mati sendiri? Sekalipun aku ingin menolongnya tetapi tenagaku tak mampu!" Toh Hun-ki tahu jelas bahwa tujuan dari Lam-hay Sin-ni itu adalah untuk memperoleh Giok-pwe dan bukan hendak bermusuhan dengan partai2 persilatan. Jika karena hendak membantu Pendekar Laknat sampai menimbulkan kemarahan rahib itu, tentu celakalah sekalian rombongan orang gagah. Diam-diam ketua Kong-tong-pay itu mengakui kebenaran ucapan Ceng Hi totiang. Ia makin gugup tetapi tak dapat menemukan suatu akal. Kebalikannya, Siau-long saat itu malah makin tenang. Hatinya bulat, pikiran mantap. 477 Menggunakan kesempatan lawan sedang tertegun, diamdiam ia kerahkan lagi tenaga sakti Bu-kek-sin-kang, siap menunggu serangan yang ketiga.... Setelah beberapa saat memandang Siau-liong dengan heran. tiba-tiba mata Sin-ni itu menyala lagi. Tangan kanannya pelahan-lahan diangkat dan berserulah ia nyaring. "Kali ini akan kugunakan delapan bagian tenaga sakti Cekcisin-kang untuk menghancurkan dirimu!" Siau-liong diam saja. Hatinya sudah bulat untuk mati. Sepasang tangannya segera bergerak menyongsong kemuka. Tangan kanan gunakan jurus Ki-lok-po-ti dan tangan kiri dengan jurus Siu-lo-pan-cha. Dua jurus dahsyat dari ilmu pukulan Thay-siang-ciang! Gerakan tangan Lam-hay Sin-ni itu tampaknya lebih pelahan dari yang tadi. Tetapi melihat wajahnya yang begitu membesi, tahulah sekalian orang bahwa pukulan rahib itu dahsyatnya bukan alang kepalang. Sedang kedua tangan Siau-liong tadi bergerak dengan keras. Tetapi begitu berbentur dengan tenaga sakti Cek-ci-sinkang, sirnalah tenaga Bu-kek-sin-kang itu seperti tenggelam

ke dalam laut. Lam -hay Sin-ni tertawa mengekeh, bentaknya, Tua bangka Laknat, serahkan jiwamu!" Dan serempak dengan itu tangannya pun bergerak cepat. Angin mendesis tajam, melanda ke arah kepala Siau-liong. Siau-liong terkejut tetapi tak berdaya. Ia meramkan mata menunggu kematian.... 478 Tetapi pukulan maut Sin-ni itu tak kunjung datang. Bahkan saat itu ia mendengar jeritan kaget dari sekalian orang termasuk Iblis penakluk-dunia dan Dewi Neraka. Buru-buru ia membuka mata. Ketika memandang kemuka, dilihatnya wajah Lam-hay Sin-ni pucat seperti kertas dan tubuhnya terhuyung-huyung mau jatuh. Jelas rahib itu telah menderita luka.... Siau-liong cepat dapat menyadari bahwa tentu ada seorang sakti yang menolong jiwanya. Buru-buru ia berpaling. Ah, beberapa langkah disampingnya, tampak seorang wanita berpakaian hitam tegak berdiri dengan tenang. Randa gunung Bu-san! Di belakang wanita itu tampak si dara baju bijau yang pernah adu pukulan dengan dia (Siau-liong). Dara itu memandangnya dengan mata penuh dendam kebencian.... Juga tubuh janda dari Bu-san itu agak gemetar, wajahnya pun pucat. Kiranya pada saat pukulan maut Lam-hay Sin-ni akan mencabut nyawa Siau-liong, tiba-tiba muncullah Randa Bu-san yang segera ayunkan tangan menangkis pukulan Sin-ni. Ya-li-sin-kang dari Randa Bu-san yang semula keras itu tiba-tiba berobah menjadi lunak. Dan hapuslah tenaga sakti Cek-ci-sin-kang dari Lam-hay Sin-ni. Adalah karena kedua wanita itu berimbang kesaktiannya maka kedua-duanya pun menderita luka kecil. Setelah mengetahui siapa penolongnya, buru-buru Siauliong memberi hormat, Terima kasih atas pertolonganmu, aku.... 479 Randa Bu-san mendengus. Tanpa menunggu orang selesai bicara, ia terus berpaling ke arah Lam-hay Sin-ni. Siau-liong tersipu-sipu malu. Untunglah saat itu perhatian orang tertumpah pada Randa Bu-san sehingga kekikukan Siau-liong itu tak ada yang memperhatikan. Menatap tajam kepada wanita Bu-san, melengkinglah Lamhay Sin-ni Mengapa engkau membantunya?" "Hanya kebetulan jalan disini dan melihat hal yang ganjil!" sahut Randa Bu-san dengan dingin. Lam-hay Sin-ni membentak tajam, Apakah bukan karena hendak mencari pusaka....?"

Mata rahib itu berkeliaran beberapa kali. Tiba-tiba ia kerahkan tenaga dalam lalu berteriak, Hari ini terpaksa aku harus adu jiwa dengan engkau!" Randa Bu-san hanya tertawa dingin. "Dalam adu jiwa, duadua tentu sama terluka, Ketahuilah, Ya-li-sin-kang tidak dibawah Cek-ci-sin-kang!" Sepasang tangan Lam-hay Sin-ni yang sudah diangkat ke atas itu kembali diturunkan. Ia deliki mata kepada wanita itu, Baik dalam mencari Giok-pwe, engkau dan aku masingmasing mendapat separoh. Besok pagi pada saat ini, akan kutunggumu disini. Kita tentukan siapa yang berhak memiliki kitab Thian-kong-sin-kang itu!" Randa Bu-san tertawa dingin, Tamak menginginkan barang yang bukan miliknya, menjadi penyebab kematian. Rupanya engkau memang takkan lama hidup di dunia ini!" 480 Siapa yang mati dan hidup, besok pagi pada saat ini. baru diketahui!" sahut Lam-hay Sin-ni. Randa Bu-san menghela napas, Apakah engkau tetap hendak ke dalam lembah?" Kalau aku tak pergi masakan kubiarkan engkau yang pergi!" bentak Lam-hay Sin-ni. Randa Bu-san gelengkan kepala dan berkata dengan nada kecewa, Silahkan pergi ia terus berputar tubuh dan melangkah pergi. Kesempatan itu cepat digunakan Iblis penakluk-dunia untuk melangkah kesamping Lam-hay Sin-ni dan membisiki beberapa patah kata. Wajah rahib itu berseri girang. Dipandangnya Randa Busan, Siau-liong dan rombongan Ceng Hi totiang. Tiba-tiba ia berputar tubuh terus ayunkan langkah diikuti oleh suami isteri iblis dan rombongan anak buah Lembah Semi. Siau-liong melangkah maju dan berkata kepada Randa Busan, Lam-hay Sin-ni seperti orang linglung ia pasti celaka ditangan Iblis-penakluk-dunia. Mungkin nasibnya seperti Jong Leng lojin.... Seretlah ia supaya jangan kesana!" Randa Bu-san deliki mata. Siau-liong tercengang. Setelah deliki mata, Randa Bu-san segera melangkah pergi sambil menggandeng puterinya. Tetapi dua langkah kemudian. ia berhenti pula dan menghela napas, Segala hal memang sudah suratan takdir yang tak dapat dilawan....!" 481 Ucapan itu bernada rawan dan tanpa berpaling ke arah Siau-liong. Sesaat kemudian ia menghela napas lagi. Sementara si dara baju hijau tetap memandang Siau-liong dengan sinar mata penuh kebencian, seolah-olah hendak

menelannya. Saat itu rembulan purnama. Adalah karena kata2 Randa Bu-san tentang takdir itu, perasaan Siau-liong tersinggung. Beberapa tetes air mata menitik keluar.... Tetapi ketika ia menyadari pandang mata si dara baju hijau yang penuh dendam itu, ia tersentak kaget dan buru-buru membungkukkan tubuh memberi hormat kepada Randa Busan, Atas pertolongan tadi, aku merasa menyesal karena tak dapat membalas.... Ia tak dapat melanjutkan kata2 karena tersekat oleh rasa haru yang hampir menitikkan air mata. Randa Bu-san hanya mendengus, Bermula aku hendak membunuhmu! Tak kira kalau menolongmu.... ah " Nadanya juga penuh dengan kedukaan. Siau-liong teringat memang si dara baju hijau itu begitu melihat dirinya sebagai Pendekar Laknat, terus menyerangnya mati-matian. Dan ketika ia pingsan, lapat2 ia mendengar wanita itu mengatakan hendak membunuhnya. Tetapi mengapa tadi wanita itu menolongnya? Beberapa saat kemudian, Randa Bu-san berpaling pelahanlahan. Sepasang matanya berapi-api menatap wajah Siauliong yang berlinang-linang, serunya, Apakah saat ini engkau juga mempunyai perasaan menyesal?" 482 Siau-liong tak mengerti apa maksud pertanyaan wanita itu. Pikirnya; Aku tak kenal pada kalian ibu dan anak. Tak pula terikat dendam permusuhan. Mengapa engkau berkata begitu?" Tetapi segera ia menyadari bahwa dirinya saat itu sedang dalam penyamaran sebagai Pendekar Laknat. Sudah tentu Randa Bu-san itu tak tahu siapa dirinya yang asli. Siau-liong terlongong-longong. Peristiwa apakah yang terjadi dahulu antara Randa dengan Pendjekar Laknat mempunyai hubungan bagaimana sehingga wanita itu membenci setengah mati. Tetapi anehnya, dalam saat Pendekar Laknat Siau-liong dalam bahaya. wanita itu cepat manolongnya? Randa Bu-san itu menganggap Siau-liong atau Pendekar Laknat telah menyesal. Dengan begitu kemungkinan dahulu Pendekar Laknat aseli itu tentu telah melakukan sesuatu yang menyalahi ibu dan puterinya itu. Siau-liong teringat. Bahwa pada dinding batu tempat Pendekar Laknat dahulu, hanya terdapat tulisan yang manyatakan supaya ia (Siau-liong) suka mewakili Pendekar Laknat datang kepuncak Sin-li-hong untuk memenuhi sebuah janji. Begitupun pernyataan yang diucapkan Randa Bu-san ketika Siau-liong pingsan dan dibawa oleh Mawar Putih kepondok kediaman wanita itu. Rangkaian kejadian itu, memberi kesimpulan kepada Siauliong

bahwa dahulu semasa hidupnya, Pendekar Laknat aseli itu tentu pernah mengikat dendam dengan Randa Bu-san. Tetapi ia tak tahu, dendam pertikaian apa yang telah terjadi diantara mereka. 483 Menilik umurnya, Rauda Bu-san itu seorang wanita serengah tua. Sedang Pendekar Laknat paling tidak tentu sudah berumur 70 tahun. Dan menilik pula pada wajah Pendekar Laknat yang begitu menyeramkan, tak mungkin dendam dengan Randa Bu-san itu mengenai soal Asmara. Tetapi kalau mengingat betapa gemas sikap Randa Bu-san yang hendak membunuh Pendekar Laknat tetapi pun mau menolongnya dan kerut wajahnya yang menampilkan kemesraan walau pun mulutnya selalu mengucap kata2 yang tajam dan membenci, kemungkinan pertikaian antara kedua orang itu tentulah akibat dari hubungau asmara.... Siau-liong teringat pula bahwa selama hidupnya, Pendekar Laknat itu hanya seorang diri. Tiada sanak kadang, tiada handai taulan. Ia malang melintang di dunia seorang diri. Tetapi mengapa kini tahu2 terdapat seorang janda yang mempunyai dendam kesumat kepadanya? Sampai beberapa lama, belum juga Siau-liong dapat memecahkan teka teki itu. Akhirnya ia berkata kepada Randa Bu-san; Dahulu.... Randa Bu-san menghela napas rawan, ujarnya, Peristiwa yang lampau, ternyata engkau masih mempunyai muka untuk mengatakan lagi, engkau.... Ia hentikan kata-katanya. Sejenak keliarkan mata, ia melanjutkan pula, Hal itu juga termasuk Karma. Kalau tidak begitu, aku pun takkan menjadi pewaris dari ilmu sakti Ya-lisinkang. Tetapi aku tetap tak dapat mengampuni Engkau hanya karena hal itu.... " 484 Ketika Siau-liong menatap kemuka, dilihatnya Wajah Randa Bu-san berlinang-linang air-mata. Sambil menepuk bahu puterinya, wanita dari Bu-san itu berkata pula, Andaikata aku dapat mengampunimu, anak kita ini tentu tak mau melepaskan engkau!" Siau-liong terkejut. Tetapi ia tak mau banyak bicara karena kuatir akan ketahuan penyamarannya. Untung Randa Bu-san pun tak menaruh kecurigaan kepadanya. Kembali Randa Bu-san gentakkan kakinya ke tanah, serunya; Ingatlah, besok pertengahan musim Rontok tahu muka, datanglah ke puncak Sin-li-hong untuk menerima kematian. Dalam waktu setahun ini, engkau boleh mengatur pesanan2 yang perlu engkau tinggalkan!" Siau-liong tertawa hambar dan berkata seorang diri;

Benar, tak peduli bagaimanapun juga, aku toh takkan hidup lebih dan waktu pertengahan musim rontok itu.... Randa Bu-san memandangnya dengan heran. Ia hendak membuka mulut tetapi tak jadi. Menarik tangan puterinya, tanpa berpaling ke belakang lagi, ia terus ayunkan langkah. Siau-liong memandang terlongong-longong akan bayangan kedua ibu dan anak itu lenyap dalam gerumbul pohon. Tiba-tiba ia teringat sebuah hal yang penting. Ia harus menyelidiki jejak Mawar Putih. Maka ia hendak menyusul Randa Bu-san. Tetapi baru kaki hendak diangkat, tiba-tiba terdengar orang berteriak gugup, Pendekar Laknat....!" Siau-liong terpaksa batalkan langkahnya dan berpaling. Ternyata Toh Hun - ki ketua Kong-tong-pay sedang berdiri sambil memberi hormat dengan tersenyum simpul. 485 Apakah hendak menegur aku mengapa tak mendatangi perjanjian?" Toh Hun-ki terkesiap. Buru-buru ia berkata, Ah, bukan. Pendekar Laknat tentu mempunyai lain urusan yang penting sehingga tak dapat hadir!" Siau-liong menghela napas rawan, Memang aku mempunyai urusan penting. Tetapi aku bukan orang yang tak pegang janji. Dalam penyerangan kesarang suami isteri iblis nanti, aku akan membantu sedikit tenaga!" Sikapnya yang dingin kepada ketua Kong-tong-pay itu disebabkan: Kesatu, ia harus membawa sikap seperti Pendekar Laknat yang angkuh dan dingin. Agar jangan diketahui Toh Hun-ki, Ceng Hi totiang dan lain-lain orang. Kedua, Toh Hun-ki itu adalah pembunuh ayahnya. Kelak pada suatu saat ia harus membunuhnya. Ketiga, hatinya sedang resah gelisah. Penuh dendam dan kemarahan. Maka nada ucapannya pun ketus dan angkuh seperti Pendekar Laknat yang asli. Tetapi betapa pun, dia bukanlah Pendekar Laknat, melainkan Siau-liong yang menjunjung Keadilan dan Kebenaran. Demi membalas budi Pendekar Laknat maka ia menyaru menjadi tokoh itu tetapi dengan sepak terjang yang berlainan agar dapat mengembalikan nama baiknya. Terhadap Toh Hun-ki, musuh yang telah membunuh ayahnya, diam-diam ia mempunyai kesan lain. Ia tertarik akan peribadi ketua Kong-tong-pay yang tak gentar menghadapi ancaman dan tekanan. Ketua itu tetap berani membela Kebenaran. Adakah dia sampai hati untuk membunuh seorang tokoh yang begitu lurus peribadinya? 486 Dan pula Toh Hun-ki itu bersikap mengindahkan dan melindungi Pendekar Laknat. Baik dengan ucapan mau pun dengan tindakan yang nyata. Dan yang paling hebat, ketua

Kong-tong-pay itu dengan serta-merta telah rela menyerahkan sebagian Giok-pwe itu kepada Pendekar Laknat! Merenung kesemua itu, timbullah rasa sesal dalam hati Siau-liong. Tertawalah ia dengan rawan, Separoh Giok-pwe yang engkau berikan kepadaku tempo hari, memang benarbenar sudah kuhancurkan!" Tetapi Toh Hun-ki tak terkejut. Dengan tenang ia menyahut, Begitupun juga baik! Jika kitab pusaka itu jatuh ketangan orang baik, tentu merupakan suatu berkah bagi dunia persilatan. Tetapi jika sampai ketangan manusia jahat, dunia persilatan tentu celaka!" Sejenak memandang ke arah Ceng Hi totiang, To Kiu-kong dan beberapa orang, berkatalah Siau-liong kepada ketua Kong-tong-pay itu, Aku masih mempunyai lain urusan, untuk sementara terpaksa akan pergi!" -habis berkata ia segera ayunkan langkah menyusul Randa Busan dan puterinya tadi. Pendekar Laknat!" tiba-tiba Toh Hun-ki berseru memanggil. Siau-liong terpaksa berhenti, bentaknya, Mengapa?" "Saat ini disekitar gunung Tay-liang-san penuh dengan tokoh2 dari partai2 persilatan. Dengan pergi begitu saja, kemungkinan Pendekar Laknat.... akan bersua dengan beberapa hal yang tak leluasa.... -kata Toh Hun-ki lalu menyerahkan sehelai sutera kuning kepada Siau-liong, sutera ini merupakan pertandaan bagi kawan2 kita. Baiklah engkau membawanya agar jangan terjadi salah faham." 487 Siau-liong menyambuti dan menghaturkan terima kasih. Tetapi ketika ia hendak berjalan, tiba-tiba Ceng Hi totiang, Ti Gong taysu dan beberapa orang menghampiri kemukanya. Siau-liong kerutkan alis. Ia terpaksa memberi hormat, serunya, Saudara2.... Ti Gong taysu menyerukan Omitohud lalu melangkah maju dan memberi hormat, Aku hendak menghaturkan terima kasih atas pertolongan saudara!" Siau-liong tertawa, Ah, hanya soal kecil, usah taysu ingat lagi!" Juga To Kiu-kong dan Pengemis-tertawa Tio Tay-tong dan kedua pengemis pincang, maju menghampiri kehadapan Siau -liong. Memberi hormat lalu mundur lagi tanpa berkata suatu apa. Kiranya To Kiu-kong masih meragu. Jelas ketika bertempur dengan Lam-hay Sin-ni tadi, Pendekar Laknat telah gunakan pukulan Thay-siang-ciang. Ceng Hi totiang memandang beberapa saat kepada Siauliong lalu berkata, Bahwa Pendekar Laknat telah kembali kejalan yang terang, sungguh merupakan suatu berkah bagi dunia persilatan. Ijinkan kuwakili seluruh kaum persilatan untuk menghaturkan terima kasih kepada saudara. Kali aku

menyanggupkan diri turun gunung untuk memimpin rombongan kawan2, sesungguhnya aku merasa malu dalam hati karena kepandaianku masih belum cukup.... Ia berhenti bejenak, menghela napas lalu melanjutkan pula, Pula suasana saat ini tak sama dengan 20 tahun yang lalu. Adakah kami dapat menumpas gerakan kedua suami isteri iblis itu atau tidak, masih belum dapat dipastikan!" 488 Siau-liong tahu bahwa pada 20 tahun yang lalu imam tua itulah yang paling sering berhubungan dengan Pendekar Laknat. Maka jika ia tak berhati-hati, tentulah mudah diketahui oleh imam itu. Maka ia hanya mendeham pelahan dan tak menjawab. Berkata pula Toh Hun-ki, Sekembalinya ke Siok-ciu, ternyata banyak tokoh2 persilatan dari segala penjuru berbondong-bondong datang. Mereka hendak menggabungkan diri pada gerakan kami untuk menumpas suami isteri iblis itu. Dalam waktu 10 hari saja, telah berkumpul ribuan tokoh2. Apalagi kami beruntung dapat mengundang Ceng Hi totiang untuk memimpin gerakan itu. Saat ini Lembah Semi telah dikurung ketat oleh rombongan orang gagah.... Berhenti sejenak memandang ke arah sekalian orang, ketua Kong-tong-pay itu berkata pula. "Hanya saja kalau kali ini sampai menemui kegagalan akibatnya sukar dibayangkan bagi dunia persilatan!" Siau-liong ikut prihatin, ujarnya, "Lembah Semi mengandalkan kehebatan keadaan alamnya dan kehebatan perlengkapan alat-alat rahasia, barisan pedang. Sekalipun rombongan orang gagah itu terdiri dari jumlah yang besar, tetapi dikuatirkan.... "Akupun mencemaskan hal itu, oleh karena itulah.... Ceng Hi totiang hentikan kata?nya. Siau-liong tertegun. Tanyanya sesaat kemudian, Apakah totiang hendak menggunakan api untuk menggempur sarang mereka.... 489 Wajah Ceng Hi totiang berobah seketika. Diam-diam ia terkejut. Katanya dengan nada berat, Benar, memang aku mempunyai rencana begitu. Dengan mengandalkan jumlah orang yang begitu banyak kalau kita gunakan api untuk membakar lembah ini, tentulah dapat membasmi kedua suami isteri iblis.... Sejenak berhenti ia melanjutkan pula, Kumohon Pendekar Laknat jangan membocorkan rencanaku ini, agar.... Siau-liong tertawa, Harap totiang jangan kuatir, aku tentu akan menyimpan rahasia itu!" Tiba-tiba pikiran Siau-liong melayang. Memang dengan cara

penyerangan api itu, tentulah kemungkinan besar rombongan Ceng Hi totiang akan berhasil membasmi Lembah Semi. Tetapi dengan pembasmian itu, pemilik lembah ialah Poh Ceng-in tentu akan ikut binasa. Bukankah ia telah diberi minum racun Jong-tok oleh wanita itu. Dengan racun itu, apabila salah seorang mati, yang lainpun akan mati juga. Maka jika Poh Ceng-in mati, iapun tentu akan ikut mati! Begitu pula dengan Jong Leng lojin yang dipenjara dibawah tanah dengan kaki dirantai. Kalau Ceng Hi totiang melakukan serangan pembakaran itu, bukankah Jong Leng lojin akam mati terbakar hidup-hidup? Sesaat Siau-liong tertegun gelisah. Melihat itu, agak curiga juga Ceng Hi totiang, segera ia batuk2 lalu menegurnya Apakah saudara tak setuju dengan rencana seranganku itu?" Siau-liong terkejut dan buru-buru berseru, Tidak, tidak! rencana totiang itu memang yang paling sempurna, tentu 490 akan berhasil.... ia menghela napas pelahan, "bilakah totiang hendak melaksanakannya?" Setengah meragu, menyahutlah Ceng Hi totiang; Telah kuberi waktu kepada lblis-penakluk-dunia agar membebaskan It Hang totiang dan rombongan sampai besok pagi. Apabila dia tak melaksanakan permintaanku itu, segera akan kulakukan serangan itu!" Memandang kelangit, Siau-liong memperkirakan saat itu sudah menjelang magrib.... Jadi tinggal lebih kurang dua jam dari batas waktu yang diberikan Ceng Hi totiang kepada Iblispenaklukdunia. Berkata Ceng Hi totiang pula, Dalam waktu satu hari untuk menghancurkan anak buah dan semua alat perangkap dalam lembah. Tiga hari untuk meratakan seluruh isi lembah. Dalam waktu empat hari itu tentulah dapat diketahui berhasil tidaknya rencanaku itu!" Sejenak merenung, Siau-liong lalu mengambil resep obat dari bajunya, diberikan kepada To Kiu-kong, katanya, Aku hendak minta tolong supaya suka menyuruh anak buah saudara ke Siok-ciu membelikan. resep ini!" Buru-buru To kiu-kong menyambut, tanyanya Bilakah Pendekar Laknat hendak memerlukan obat ini?" Diam-diam ketua Kongtong-pay itu heran mengapa Pendekar Laknat tak minta tolong pada Ceng Hi totiang melainkan kepadanya. "Secepat mungkin, paling lambat jangan sampai besok malam," sahut Siau-liong. 491 To Kiu-kong mengiakan dan menyatakan besok sebelum tengah hari tentu obat itu sudah datang.

Kemudian Siau-liong menyatakan kepada Ceng Hi totiang dan Toh Hun-ki bahwa ia masih ada lain urusan penting. Tetapi besok sebelum tengah hari ia pasti akan kembali kesitu lagi. Demikianlah Siau-liong segera melangkah pergi. Ia lari secepat-cepat mengejar Randa Bu-san dan puterinya tadi. Cepat sekali ia sudah melintasi hutan dan tiba dimulut jalan keluar. Tetapi karena cukup lama tadi ia bercakap-cakap dengan Ceng Hi totiang dan Toh Hun-ki, maka ia tak berhasil menemukan jejak ibu dan anak itu. Siau-liong bingung dan gelisah sekali. Ia harus menemukan Randa Busan untuk meminta keterangan tentang diri Mawar Putih. Dan setelah itu ia harus kembali menggabungkan diri dengan rombongan Ceng Hi totiang untuk melakukan serangan pada Lembah Semi. Untuk menggempur Lembah Semi, bukanlah sukar. Tetapi yang menyulitkan dirinya ialah ia harus secara diam-diam melindungi keselamatan Poh Ceng-in. Karena jika pemilik lembah itu sampai mati, ia sendiri pun tentu ikut mati juga! Dalam pada itu ia sudah keluar dari mulut tikungan gunung. Tampak beberapa puluh sosok bayangan sedang bersembunyi ditempat gelap. Tergeraklah hatinya, ia kembali balik tak jadi melanjutkan perjalanan lagi. Pikirnya: Kedua ibu dan anak itu tentu tak mengambil jalan besar karena tak mempunyai tanda jalan. Tentu mereka tak mau bentrok dengan tokoh2 persilatan yang sedang siap mengepung lembah itu. 492 Siau-liong gunakan gerak Naga melingkar-18 kali. Ia melambung dan berjumpalitan beberapa] kali di udara. Dengan gunakan ilmu itu dapatlah dalam waktu singkat ia mencapai sebuah puncak. Dari atas puncak itu ia dapat memandang lepas keseluruh penjuru. Kiranya jalanan yang dilaluinya tadi terletak disamping kanan mulut lembah. Pada ujung jalanan itu penuh dijaga ketat oleh tokoh2 persilatan. Siau-liong menduga kedua ibu dan anak itu tentu sudah pulang kepondoknya. Asal ia kesana, tentu dapat menjumpai mereka. Setelah menentukan arah, ia turun dan lari menyusur tepi lembah, menuju kepondok Randa Busan Disepanjang jalan ia harus berjalan hati2 agar Jangan sampai kepergok dengan patroli rombo-ngan orang gagah. Dan disamping, iapun harus cermat menentukan arah agar jangan sampai tersesat. Seluruh semangat dan perhatian ditumpahkan dalam gerak Naga-melingkar-18 kali untuk berloncatan melintasi hutan dan mendaki puncak. Seperti telah diterangkan, Lembah Semi itu dikelilingi oleh puncak gunung yang curam dan landai sehingga merupakan

sebuah tempat yang amat strategis sekali. Sewaktu Siau-liong mencapai satu li, rembulan makin terang benderang sehingga ia dapat melihat bebas keempat penjuru. Ia kendorkan langkah lalu berhenti. Dilihatnya dari barisan pohon bunga Lembah Semi itu jaraknya teraling sebuah puncak. Asal ia berputar arah mengambil jalan dari belakang 493 lembah, tentulah ia dapat mencapai tempat kediaman wanita janda itu. Tetapi ia mendapat kesukaran. Karena seluas berpuluh tombak, tempat itu dijaga ketat oleh rombongan orang gagah. Sekalipun membawa Tanda pengenal pemberian Toh Hun-ki, tetapi ia tak mau menggunakannya. Ia tetap hendak mecari akal untuk menghindari kelompok orang gagah itu. Tengah ia termenung mencari pikiran, tiba-tiba dari arah belakang terdengar desir lambaian pakaian orang mendesis. Semula ia kira tentulah rombongan orang gagah yang dipimpin Ceng Hi totiang. Tetapi telinganya yang tajam segera mengetahui bahwa orang itu pelahan-lahan menghampiri ketempatnya. Sekalipun suara itu pelahan sekali namun telinganya yang tajam dapat menangkap bahwa orang itu tengah pelahanlahan menghampiri ketempatnya. Semula ia kira tentu salah seorang anggauta rombongan Ceng Hi totiang maka ia tak begitu menaruh perhatian. Tetapi pada lain saat ia cepat menyadari sesuatu yang tak wajar. Ia teringat bahwa Ceng Hi totiang sudah mengeluarkan perintah bahwa anggauta rombongannya tak boleh gegabah bertindak sendiri. Kecuali memang ada orang yang hendak menerjang kepungan itu barulah mereka dapat bertindak. Siau-liong jelas mengetahui bahwa pendatang itu mengandung maksud hendak menyerangnya secara gelap. Siau-liong pasang jebakan. Sengaja ia pura-pura tak tahu dan berjalan pelahan. tetapi diam-diam ia sudah siapkan tenaga-sakti Bu-kek-sin-kang. 494 Tetapi dugaannya itu ternyata tak benar. Pendatang itu bukan bermaksud menyerangnya. Dia berhenti di belakang Siau-liong lalu membentak garang Tua bangka Laknat! Siau-liong terkejut. Cepat ia berputar. Ah! ternyata yang muncul itu adalah suami isteri Iblis penakluk-dunia dan Dewi Neraka. Iblis-penakluk-dunia tertawa mengekeh, Laknat tua, sekarang rasanya tiada si janda Bu-san. yang akan menolongmu lagi?" Siau-liong tak gentar kepada suami isteri iblis itu tetapi hanya terhadap Lam-hay Sin-ni ia agak takut. Dan lagi saat itu

ia memang tak mempunyai selera untuk bertempur dengan suami isteri iblis itu. Maka sejenak memandang mereka, ia terus hendak melangkah pergi. Tetapi baru kaki hendak dilangkahkan, dari belakang terdengar orang tertawa, Ho, engkau tak mungkin lolos lagi!" Ternyata entah kapan dan bagaimana caranya, tahu2 Lamhay Sin-ni sudah berdiri dibelakangnya. Siau-liong paksakan tertawa dan hentikan langkahnya. Melangkah kehadapan Siau-liong, rahib itu ulurkan tangan, Berikan kepadaku! Jika engkau sudah serahkan Giok-pwe itu kepadaku, kujamin jiwamu pasti selamat!"' Siau-liong kerutkan alis lalu tertawa dingin, Dengan meminta secara paksa itu apakah Sin-ni tak takut kehilangan nama harum? Apakah tak kuatir Sin-ni akan ditertawai dunia persilatan?" 495 Lam-hay Sin-ni membentak bengis, Siapakah tokoh persilatan yang berani menertawakan aku?" Sekalipun tak berani terang-terangan, tetapi diam-diam mereka tentu menghina Sin-ni!" sahut Siau-liong dengan tertawa hina. Dimana ia mengatur rencana untuk melolos diri dari tekanan rahib itu. Tetapi Iblis-penakluk-dunia yang licin segera dapat mencium siasat Siau-liong. Buru-buru ia maju selangkah dan berkata kepada Lam-hay Sin-ni. "Si tua Laknat itu banyak akal muslihatnya. Dia licin seperti belut. Harap Sin-ni jangan kena diselomoti. Biar dia bicara apa saja, yang penting ringkus dulu agar kita dapat merampas Giok-pwenya!" Benar!" Lam-hay Sin-ni tertawa. Tiba-tiba ia ayunkan tangan kanannya dalam jurus Bunuh-naga-memotongcenderawasih. Kelima jarinya mengeluarkan bunyi mendesisdesis tajam, mencengkeram dada Siau-liong. Jurus itu dahsyatnya bukan main, cepatnya bukan kepalang. Siau-liong terkejut. Buru-buru ia menyurut mundur seraya berseru, Tunggu dulu....!" Lam-hay Sin-ni hentikan serangannya dan berseru, Lebih baik engkau serahkan sajalah!" Siau-liong sengaja menghela napas dengan sikap kecewa, katanya, Baiklah!" Ia merogoh baju dan mengeluarkan sebuah bungkus kecil dari kain sutera. 496 Melihat itu girang Lam-hay Sin-ni bukan kepalang. Segera ia ulurkan tangan hendak menyambuti. Tetapi Siau-liong cepat menyurut mundur. Jika engkau berani maju selangkah lagi, Giok-pwe ini tentu akan kuremas hancur!"

Lam-hay Sin-ni tertegun. Dia tak berani maju lagi. Demikianpun kedua suami isteri iblis itu. Mereka percaya, seorang momok seperti Pendekar Laknat tentu akan melakukan ancamannya itu kalau keliwat didesak. Lam-hay Sin-ni bingung dan beberapa kali lambaikan tangannya, Jangan dihancurkan, jangan dihancurkan, mari kita berunding dengan baik!" Siau-liong tertawa dingin, Tak ada yang perlu dirundingkan lagi. Kecuali.... engkau mau meluluskan dua buah syaratku!" "Katakanlah!" buru-buru Lam-hay Sin-ni berseru. Sejenak merenung, berkatalah Siau-liong, Pertama, Iblispenaklukdunia dan Dewi Neraka harus tinggal disini. Kedua, harap Sin-ni suka mengantar aku keluar dari sini satu ii jauhnya. Giok-pwe segera akan kuhaturkan kepada Sin-ni." Boleh, boleh, aku setuju!" seru Lam-hay Sin-ni lalu berpaling membentak suami isteri iblis, Kalian harus tinggal disini, jangan mengikuti aku!" Iblis-penakluk-dunia agak bersangsi, tetapi, terpaksa ia mengiakan juga, Baik harap Sin-ni hati2 saja." Demikian Siau-liong dan Lam-hay Sin-ni segera tinggalkan tempat itu. Kiranya dalam saat itu Siau-liong memang tak 497 punya akal untuk meloloskan diri. Terpaksa ia memutuskan, menghindari dulu kedua suami isteri iblis itu, baru nanti pelahan-lahan cari daya untuk menghadapi tekanan Lam-hay Sin-ni yang tolol. Sesungguhnya sudah bulat dalam hatinya. Andaikata Giokpwe itu belum dihancurkannya, iapun tetap tak mau menyerahkan kepada Sin-ni Sekalipun karena menolak itu ia harus kehilangan jiwanya. Karena ia tahu jelas akan tipu muslihat Iblis-penakluk-dunia yang lihay. Menyerahkan Giokpwe itu kepada Lam-hay Sin-ni berarti menyerahkan kepada suami isteri iblis itu. Dan sekali kedua suami isteri itu mendapatkat Giok-pwe yang lengkap dan berhasil memperoleh kitab pusaka Thian-kong-sin-kang, maka hancurlah seluruh dunia persilatan! Tetapi iapun tahu bahwa sitolol Lam-hai Sin-ni itu tentu berkeras hendak meminta separoh Giok-pwe. Jika tahu kalau ditipu, rahib itu tentu akan membunuhnya. Sambil berjalan pelahan-lahan, pikiran Siau-liong bekerja keras untuk mencari akal. Sekonyong-konyong tak berapa jauh disebelah muka, tampak berkelebat sesosok bayangan dari pada lain saat itu orang itu berseru menegurnya; "Siau.... Laknat tua!" Siau-liong terkejut. Ternyata yang muncul itu adalah si dara Mawar Putih menyaru sebagai Wanita-ular Ki Ih. Pada lain saat Mawar Putih pun lari menghampiri. "Siapa orang itu!" tanya Lam-hay Sin-ni.

Belum ditanya, diam-diam Siau-Liong sudah menimang dalam hati. Dengan kedatangan Mawar Putin itu, berarti akan 498 tambah sebuah jiwa yang akan mati ditangan Lam-hay Sin-ni. Ia gelisah sekali. Tetapi ia tak punya banyak waktu untuk berpikir lagi. Akhirnya ia nekad. Pada saat perhatian Lam-hay Sin-ni sedang tertuju pada Mawar Pulih, cepat ia kerahkan seluruh tenaga dalam lalu dengan sekuat-kuatnya ia mendorong lambung rahib itu! Setitikpun Lam-hay Sin-ni tak menduga kalau ia bakal diserang. Karena tak bersiap, ia terpental dan terhuyunghuyung sampai delapan langkah jauhnya. Sedangkan Siau-liong, habis mendorong terus loncat menyongsong Mawar Putih seraya berseru gugup, Lekas lari!" Mawar Putih tak sempat bertanya apa2. Ia terpaksa mengikuti Siau-liong melarikan diri. Hai, masakan engkau mampu melarikan diri?" teriak Lamhay Sin-ni seraya mengejar. Siau-liong dan Mawar Putih lari sekencang angin tetapi ilmu lari cepat dari rahib itu jauh lebih sempurna. Baru Siau-liong dan Mawar Putih lari dua tombak, rahib itu sudah melayang di atas kepala mereka dan meluncur menghadang disebelah muka. Lam-hay Sin-ni marah sekali sehingga wajahnya pucat. "Lekas serahkan Giok-pwe itu atau kuhancur-leburkan kalian!" Mawar Putih tak kenal Lam-hay Sin-ni dan tak tahu kalau Sin-ni itu memiliki ilmu sakti Cek-ci-sin-kang. Tetapi ia benarbenar ketakutan dan tak dapat membuka mulut melihat wajah dan sinar mata Lam-hay Sin-ni yang begitu bengis dan seram. 499 Siau-liong mengeluarkan lagi bungkusan kain kuning dan berseru, Sebelum engkau turun tangan, ini tentu kuhancurkan dulu!" ia menarik Mawar Putih, berputar diri dan lari lagi. Ancaman Siau-liong itu berhasil Lam-hay Sin-ni tak berani turun tangan. Ia hanya mengikuti kedua orang itu saja. Sekalipun begitu, sudah cukup membuat Siau-liong kelabakan setengah mati. Iblis-penakluk-dunia dan Dewi Neraka pun ikut menyusul. Tetapi mereka pun kuatir kalau Siau-liong sampai menghancurkan Giok-pwe itu. Maka mereka hanya mengikuti dari kejauhan di belakang Lam-hay Sin-ni saja. Siau-liong hanya lari asal lari saja. Ia tak sempat lagi untuk memeriksa tempat yang ditujunya. Ia tak tahu lagi dimana saat itu ia berada. Tiba-tiba dilihatnya disebelah depan tampat sebuah puncak gunung. Dikaki gunung itu terdapat sebuah lorong jalan yang memanjang ke dalam. Tanpa banyak berpikir lagi, Siau-liong terus menarik Mawar Putih masuk

kejalan itu.... Lam-hay Sin-ni menggembor lalu hendak mengejar. Tetapi dicegah Iblis-penakluk-dunia, Biarkan mereka kesana, Sin-ni tak usah mengejar!" Rahib itu hentikan langkah dan bertanya, Apa? Tidak mengejar? Apakah membiarkan Giok-pwe itu hilang?" Iblis-penakluk-dunia buru-buru memberi keterangan, Jalanan itu akan tiba disebuah gua yang tak sampai dua tombak dalamnya dan hanya dua meter tingginya. Bukan saja sebuah jalan buntu pun di dalam situ terdapat beratus ekor ular beracun. Merupakan salah satu dari 10 buah gua yang memang kujadikan tempat memelihara ular.... 500 Ia tersenyum, katanya pula, Andaikata mereka tidak digigit ular, pun mereka pasti akan pingsan karena ketahan hawa yang luar biasa anyirnya!" Habis berkata ia bersama isterinya lalu duduk di tepi sebuah gua.... Setelah merenung sejenak, Lam-hay Sin-ni pun mengiakan. Ia ikut duduk disitu menunggu keluarnya Siauliong dan Mawar Putih. Oleh karena kedua suami isteri iblis duduk dikedua samping mulut gua sedang Lam-hay Sin-ni ditengah. Maka gua itu praktis telah dijaga ketat oleh mereka bertiga. Semula Siau-liong mengira kalau terowongan itu akan tembus kesamping gunung sebelah Sana. Maka dalam keadaan gugup, ia tak banyak berpikir lagi terus menyelundup masuk adalah setelah masuk ke dalam barulah ia menyadari kalau terowongan itu buntu. Dan iapun mendengar juga pembicaraan Iblis-penakluk-dunia dengan Lam-hay Sin-ni. Dan setelah memeriksa keadaan terowongan, memang apa yang dikatakan iblis itu benar. Bukan saja dalamnya hanya kira2 dua tombak pun hawanya lembab dan anyir. Untunglah tidak seseram yang dikatakan Iblis-penakluk. Dan lagi juga tak terdapat kawanan ular berbisa. Siau-liong menghela napas, ujarnya, Mengapa engkau seorang diri datang kemari?" Mencarimu!" kata Mawar Putih, tahukah engkau, ketika engkau lenyap dalam keadaan terluka parah itu, betapa aku merasa.... ah, syukurlah, engkau tak kurang suatu. Malam itu.... 501 Siau-liong menunjuk keluar gua, tukasnya; "Saat ini kita seperti ikan dalam jaring. Kedatangan nona kemari ini hanya berarti tambah mengorban sebuah jiwa saja.... Hanya kasihan ibuku yang sedang mengidap sakit diluar lautan itu. Bukan saja tak dapat mengharapkan kedatangan puteranya, pun mungkin seumur hidup takkan dapat berjumpa lagi!"

Rasa haru akan ibunya, menyebabkan mata Siau-liong berlinang-linang.... Mawar Putihpun ikut terharu dan menangis tertedu-sedu. Sampai lama baru ia berhenti menangis lalu mendekati Siauliong, katanya, Ada sebuah hal yang harus kuberitahukan kepadamu.... Ah, aku sungguh menyesal sekali.... Ia menghela napas panjang lalu melanjutkan, Sudah kupertimbangkan, untuk sementara waktu ini baik dapat atau tidak menuntut balas, kita harus segera menuju keseberang laut mencari guruku. Mungkin begitu melihat engkau, beliau tentu sembuh penyakitnya!" Siau-liong hanya diam saja karena tak tahu bagaimana harus bicara. Ia menyadari keadaan saat itu bagaikan telur diujung tanduk. Sukar bagi kedua pemuda itu untuk lolos dari genggaman Lam-hay Sin-ni. Kembali Mawar Putih menghela napas lagi, katanya, Tempo hari memang akulah yang jahat. Kalau aku tak menekan engkau supaya membunuh Toh Hun-ki dan keempat Su-lo, tentulah saat ini kita sudah berada disisi suhu!" Mawar Putih menyudahi kata-katanya dengan menangis beriba-iba lagi. Hati Siau-liong seperti disayat sembilu.... Tiba-tiba terdengar suara Iblis-penakluk-dunia berkata, Lekas keluar! Asal engkau mau menyerahkan Giok-pwe itu 502 kepada Sin-ni kujamin keselamatanmu untuk meninggalkan Lembah ini!" Lam-hay Sin-ni pun ikut berteriak, Kalau kalian tak mau keluar, tentu akan kuhancurkan gua ini agar kalian mati terkubur hidup-hidupan!" Geram sekali Siau-liong mendengar ancaman itu. Ia menghantam dinding, tetapi hantaman itu.... Bung....!!! terdengar kumandang yang dahsyat. Siau-liong mengulang lagi dengan beberapa pukulan seraya membisiki Mawar Putih, Dengarkanlah! Benar dinding gua ini seperti kosong!" sahut Mawar Putih riang. Siau-liong juga terkejut girang Kalau dinding gua itu kosong tentulah berisi suatu alat perangkap atau sebuah terowongan rahasia. Dia tak takut terperangkap dalam perkakas rahasia karena dengan memiliki peta pemberian Jong Leng lojin, ia tentu dapat keluar dari lembah. Memang dinding gua disitu terbuat daripada campuran pasir dan pecahan batu. Begitu di hantam, dinding itu berguguran rontok. Siau liong tak mau membuang waktu. Tak berapa lama ia berhasil membuat sebuah lubang sedalam setengah meter. Terdengar bunyi menggemuruh dan terbukalah sebuah lubang gua lagi. Setelah mempersihkan lubang pintu itu. ia melongok kesebelah dalam. Ah, ternyata gua disamping itu merupakan sebuah terowongan yang terbuat dari pada batu

marmar putih, Siau-liong cepat menarik Mawar putih diajak masuk. 503 Ternyata ia berada dalam sebuah terowongan, dinding batu marmar putih dan terang benderang, Siau-liong cepat mengeluarkan peta lalu memeriksa dengan teliti. Tetapi sampai sekian lama, masih juga ia belum mengerti Menilik bentuk dan letak terowongan tentu merupakan sebuah tempat yang amat penting. Tetapi anehnya dalam peta tak terdapat tanda2 tentang tempat itu. Terpaksa ia simpan lagi peta itu lalu pelahan-lahan mulai menyelidiki. Terowongan itu condong turun ke bawah. Kira2 tiga tombak jauhnya baru tiba diujung terakhir yang ternyata merupakan sebuah pintu. Sampai beberapa lama Siau-liong berdiri dimuka pintu batu itu. Setelah berpaling kepada Mawar Putih yang berada dibelakangnya, tiba-tiba ia mendorong pintu itu. Pintu terbuka seketika. Dan legalah perasaan Siau-liong karena ternyata dibalik pintu itu tiada terdapat suatu perkakas rahasia. Ia segera melangkah masuk. Apa yang disaksikan dalam ruang itu benar-benar membuatnya terkejut sekali. Pada 4 sudut ruang terdapat sebutir mutiara sebesar telur itik sehingga ruang terang benderang. Ruangpun lengkap dengan meja kursi. Dibawah kaki dinding sebelah kanan, tertumpuk 3 buah peti besi yang besar. Sedang ditengah meja, terdapat sebuah kotak kecil yang terbuat dari pada baja. Besarnya hanya setengah meter. Ketika Siau-liong dan Mawar Putih maju menghampiri kemeja, mata kedua pemuda itu terbeliak seketika. Pada tutup kotak baja itu tertulis 8 huruf besar dengan tinta emas: 504 KITAB PUSAKA THIAN KONG SIN KANG. Siau-liong tertegun. Ia saling tukar pandang mata dengan Mawar Putih tanpa dapat berkata apa2. Tulisan emas pada tutup kotak itu makin berkilauan gemilang tertimpa cahaya mutiara dari empat jurusan. Kini sadarlah Siau-liong bahwa saat itu ia benar-benar berada dalam ruang penyimpan harta pusaka peninggalan Tio Sam-hong, cikal bakal pendiri partai Bu-tong-pay! Apakah kita sedang bermimpi....?" Mawar Putih mengingau tersendat-sendat. Sikapnya amat tegang sekali. Wajahnya menampil rasa kejut2 girang. Siau-liong pun merasa seperti dalam impian sahutnya tersedu, Mungkin tidak....!" --ooo0dw0oo-Pewaris

Siau-liong tercengkam dalam keraguan. Bermula ia anggap kitab pusaka Thian-kong-sin-kang itu hanyalah suatu khajalan belaka. Ia memang tak percaya. Tetapi apa yang dilihat saat itu, benar-benar diluar dugaannya. Ketiga peti besar yang berisi permata ratna mutumanikam yang tak ternilai harganya. Keempat butir mutiara sebesar telur itik yang gilang gemilang dan kotak berisi kitab pusaka ilmu sakti Thian-kong-sin-kang. Kesemuanya saat itu terbentang dihadapannya. 505 Siau-liong benar-benar seperti bermimpi. Entah berapa ribu jago2 persilatan yang membuang waktu dan tenaga berjerih payah mencari harta pusaka itu tanpa berhasil. Tetapi tanpa sengaja, ia karena ketakutan dikejar Lam-hay Sin-ni, malah tersesat masuk ke dalam tempat harta pusaka itu. Adakah itu memang sudah takdir? Ruang itu tampaknya tiada diberi lubang hawa sedikit pun juga. Tetapi anehnya, Siau-liong dan Mawar Putih tak merasa pengap. Dan karena terowongan terbuat daripada batu marmar putih, walaupun Sudah ratusan tahun tetap bersih seperti baru. Dengah begitu peti kitab itu sedikitpun tiada karatan. Dengan gemetar, Siau-liong membuka peti kitab itu. Dalam pada itu otaknya tetap bekerja. Timbul pertanyaan dalam hatinya. Ruang penyimpan harta pusaka hanya terpisah sebuah dinding dari campuran batu, dengan gua. Tetapi mengapa sampai sekian ratus tahun, tiada seorangpun yang mampu menemukan tempat itu? Tiba-tiba siau-liong teringat. Tadi sewaktu masih berada dalam gua, ia dengar Iblis-penakluk-dunia mengatakan kepada Lam-hay Sin-ni bahwa gua itu penuh dengan kawanan ular berbisa. Aneh, mengapa sampai saat itu ia tak melihat barang seekor ular pun juga? Pikirannya melayang lebih lanjut.... Sebagai seorang tokoh luar biasa pada jamannya, sudah tentu Tio Sam-hong membangun tempat penyimpan harta pusakanya sedemikian rupa pelik dan amannya. Kalau tidak, 506 masakan. sampai beratus ratus tahun orang tak mampu menemukannya. Ketika peti dibuka, hatinya mendebur tegang sekali. Di dalam peti itu terdapat sebuah kitab bersampul sutera kuning. Isinya tipis, hanya beberapa lembar. Pada sampul kitab tertulis 4 huruf 'Thian Kong Sin Kang'. Siau-liong membuka lembaran pertama dan membaca bersama Mawar Putih: Kitab pusaka ilmu sakti Tersimpan beribu tahun.

Dua orang masuk keruang Hanya seorang yang berjodoh. Sejak ini dan kemudian hari Hanya seorang pewaris tunggal Basmi Kejahatan dan Kelaliman Jangan congkak jangan serakah. Dibawahnya terdapat sebaris tulisan huruf2 kecil berbunyi: Yang melanggar pasti dikutuk 'Sin-beng' (malaikat sakti). Siau-liong kucurkan keringat dingin. Karena ia terkejut dan ngeri. Adakah Tio Sam-hong itu dahulu seorang yang pandai meramal sehingga kejadian yang belum berlangsung ratusan tahun ia dapat mengetahui? Kalau tidak, mengapa ia dapat menulis secara begitu gamblang? Menilik kenyataan itu. tindakan Tio Sam-hong untuk membagi peta Giok-pwe menjadi dua bagian, maksudnya adalah untuk menyulitkan orang agar kitab pusaka itu tak mudah diketemukan orang! Lebih jauh ia merenungkan tentang kita2 yang berbunyi 'jika dua orang masuk, hanya seorang yang berjodoh'.... Ia meneliti dirinya. Bermula ia mendapat pelajaran dari Tabibsakti Kongsun Sin To. Lalu bertemu dengan Pendekar Laknat, Pengemis Tengkorak sakti. Walaupun tidak langsung, tetapi 507 kedua tokoh itu juga mempunyai hubungan sebagai guru dan murid dengannya. Karena dari kedua tokoh itulah maka ia dapat memiliki ilmu tenaga-sakti Bu-kek-sin-kang dan ilmu pukulan sakti Thay-siang-ciang. Agaknya Tio Sam-hong memang mempuyai perhitungan yang jitu. Jelas tokoh Bu-tong-pay itu tak menghendaki ia (Siau-liong) menjadi pewaris ilmu sakti Thian-kong-sin-kang. Dan pula, ia toh hanya tinggal satu tahun umurnya karena minum racun jong-tok dari Poh Ceng-in. Masakan Tio Samhong akan memilih seorang yang sependek itu umurnya? Kalau begitu yang tepat menjadi pewaris Thian-kong-sinkang itu hanyalah Mawar Putih! Dengan kesimpula. itu cepat ia serahkan kitab pusaka kepada si dara, Nona, kitab pusaka ini Seharusnya engkau yang memiliki!" Mawar Putih menyurut mundur selangkah seraya goyanggoyangkan tangannya; Tidak! Tidak! Aku tak dapat.... Dara itu gugup dan tegang, serunya Kutahu rejekiku tipis dan lagi aku tak sanggup memikul beban seberat itu!" Dengan wajah serius berkatalah Siau-liong, Dalam lembar pertama dari kitab itu jelas dicantumkan. Hanya seorang yang mempunyai jodoh Rasanya yang berjodoh itu hanyalah nona!" Tiba-tiba Mawar Putih menghambur tawa, Bagaimana engkau tahu?" Siau-liong menghela napas, Aku sudah terlanjur mempelajari ilmu aliran Hitam, mungkin tak sesuai lagi untuk mempelajari ilmu sakti dari aliran Putih. Pula.... paling lama aku pun hanya hidup sampai satu tahun lagi. Tio Sam-hong

508 cousu benar-benar dapat meramalkan peristiwa saat ini. Tak mungkin beliau akan memilih diriku untuk menjadi pewaris Thian-kong-sin-kang itu!" Mawar Putih terkejut memandangnya, Engkau mengoceh apa itu? Bagaimana engkau tahu kalau umurmu hanya tinggal setahun saja!" Siau-liong hendak berkata tetapi tak jadi Sukar baginya untuk menuturkan pengalamannya dengan Poh Ceng-in itu. Setelah merenung beberapa saat, barulah ia berkata, Jika engkau tetap berkeras menolak, aku mempunyai cara untuk menentukan!" Mawar Putih tertawa, Katakanlah, apa caramu itu!" "Tio Sam-hong mendirikan ruang rahasia untuk menyimpan harta pusaka dan meninggalkan tulisan pada kitab pusaka itu, seolah-olah sudah mengetahui bahwa kitalah yang akan masuk kemari. Hal itu disebabkan mungkin.... Karena Tio Sam-hong cousu mengerti akan ramalan perbintangan. Oleh karena itu marilah kita gunakan cara ramalan itu untuk meminta kepada arwah Tio Sam-hong cousu supaya memberi petunjuk kepada siapakah kitab itu harus diserahkan.... Siau-liong terus mengeluarkan sebuah uang tembaga lalu diberikan kepada Mawar Putih, Harap engkau berdoa. Katakanlah pilihannya, mau yang bagian muka atau belakang dan lemparkanlah sampai tiga kali." Mawar Putih tak mau berbantah.... Sepera ia menyambuti uang itu lalu bersoja memberi hormat kelangit ssraya berdoa dengan suara lantang, Mohon arwah Tio Sam-hong cousu suka memberi petunjuk mengenai kitab pusaka Thian-kongsinkang itu. Jika harus.... diberikan engkoh Siau-liong. mohon supaya uang ini mengunjukkan bagian muka sampai tiga kali." 509 Habis berdoa, Mawar Putih lalu lemparkan mata uang itu ke atas. Dan ah.... ketika jatuh dilantai ternyata memang bagian mukanya yang tampak diatas. Diulangnya lagi lemparan itu sampai dua kali, tetap dua kali berturut-turut uang itu mengunjuk bagian muka. Mawar Putih tertawa memandang Siau-liong, Tuh lihatlah! Tio Sam-hong cousu benar-benar seperti malaikat. Tiga kali lemparan tiga kali tetap menunjuk engkau!" Siau-liong tak dapat menjawab apa2, Ia memungut mata uang itu lalu berdua dengan suara nyaring, Murid Tong Siauliong, dengan khidmat memohon kepada arwah Tio Sam-hong cousu, Jika benar cousu memilih murid menjadi pewaris Thiankongsin-kang, mohon memberi petunjuk agar uang itu tiga kali ber-turut2 jatuh dengan terbalik!" Setelah memberi hormat kelangit, Siau-liong lalu lemparkan uang itu ke atas....Tring", jatuhlah uang itu dengan

permukaan terbalik ke bawah. Sampai tiga kali ia melemparkan uang, tetap uang itu mengunjuk permukaan bagian belakang. Hola!" Mawar Putih bertepuk tangan, kali ini engkau tentu tak dapat berkutik lagi.... Wajah Siau-liong mengerut gelap. Setitik pun ia tak merasa gembira bahkan malah menghela napas.... Sudah tentu Mawar Putih heran dan menegurnya, Kabarnya Thian-kong-sin-kang itu merupakan ilmu sakti yang nomor satu di dunia. Sudah ratusan tahun ilmu itu merajai dunia persilatan.Maka engkau tentu bakal menjadi jago nomor satu di dunia!" 510 Siau-liong tak mengerti apa maksud dara itu. Tetapi ia menyadari bahwa dirinya memang dalam keadaan gelisah. Dalam kitab pusaka itu ditulis pesanan supaya menggunakan dari kitab Thian-kong-sin-kang dicantumkan amanat 'membasmi Kelaliman dan Kejahatan', Jika ia menerima kitab pusaka itu dan menjadi pewaris dari ilmu Thian-kong-sin-kang, dia harus melaksanakan tugas untuk membasmi kejahatan dan kelaliman termasuk kedua suami isteri Iblis penaklukdunia dan Dewi Neraka. Bukan karena ia tak mau melakukan beban kewajiban itu tetapi adalah karena hidupnya hanya terbatas satu tahun saja, selain melakukan beberapa hal untuk kepentingannya. ia sudah tak mempunyai waktu lagi. Kalau ia sampai terlibat dalam pergolakan dunia persilatan dewasa itu, bukankah berarti ia tak sempat mencari ibunya keseberang lautan lagi?. Dan masih ada lain keberatan lagi. Sebagai sebuah ilmu yang sakti, tentulah tidak mudah untuk mempelajari Thiankongsin-kang. Mungkin sebelum berhasil ia sudah mati. Karena dicengkam oleh berbagai keresahan itu, maka menyahutlah ia agak segan, Manusia yang sakti masih ada yang lebih sakti. Di atas langit masjh terdapat angkasa raya. Maka Tio Sam-hong cousu dahulupun tak berani mengatakan dirinya sebagai tokoh yang tiada tandingnya di dunia. Di dalam rimba belantara dan pegunungan raya, mungkin bersembunyi banyak totoh2 berilmu yang tak mau muncul dimasyarakat ramai. Apa yang disebut tokoh nomor satu itu tak lain hanya tokoh yang paling hebat kepandaiannya dalam dunia persilatan, bukan yang tersakti diseluruh dunia! Dan lagi.... terus terang, aku tak ingin menjadi pewaris ilmu Thiankongsin-kang, karena.... Karena Siau-liong tak mau melanjutkan perkataannya, maka Mawar Putih segera menukas, Kalau begitu, baiklah kita 511 lekas menuju keseberang laut saja! Tak perlu kita hiraukan dunia persilatan dan kedua suami isteri iblis itu lagi!"

Sekali pun mulut mengatakan begitu namun dalam hati, Mawar Putih timbul pertentangan batin sendiri. Mengingat suhunya berulang kali mengharap akan berjumpa dengan puteranya yang hilang (Siau-liong), mungkin suhunya itu bermaksud memberi bisikan halus bahwa ia (Mawar Putih) akan dijodohkan dengan puteranya yang hilang itu. Tetapi kalau teringat akan ramalan Janda Bu-san yang mengatakan bahwa ia tak mempunyai rejeki terangkap suami isteri dengan Siau-liong, maka hati Mawar Putih merasa gundah sekali. Maka jika ia cepat membawa Siau-liong keseberang lautan. tentulah kemungkinan besar suhunya segera akan menikahkan mereka. Dan ramalan Janda Bu-san yang menjadi ibu-angkatnya itupun tentu gugur. Mawar Putih kerutkan alis dan berkata, Hayo, kita segera berangkat keseberang lautan. Soal Toh Hun-ki dan keempat Su-lo kelak kita urus lagi. Apakah engkau tak ingin lekas2 menjenguk ibumu yang sedang menderita sakit itu Sekarang?.... Siau-liong gelengkan kepala; "Tak mungkin kita berangkat sekarang. Paling tidak harus tunggu sampai empat lima hari setelah penyerangan rombongan Ceng Hi totiang itu berhasil. Saat itu barulah aku akan mengambil keputusan!" Dia sudah memberikan janjinya kepada Toh Hun-ki. Tak dapat ia mengingkarinya. Setelah melaksanakan hal itu dan membangun kembali nama baik Pendekar Laknat, barulah ia akan pergi menemui ibunya. Jangankan sekarang ia sudah memiliki amanat dari kitab Thian-kong-sin-kang untuk membasmi Kelaliman dan 512 Kejahatan. Sekalipun tidak begitu, ia tetap tak dapat melihat sambil berpeluk tangan saja akan kejahatan2 yang tengah berkecamuk dalam dunia persilatan dewasa itu. Mawar Putih hanya dapat deliki mata. Tetapi pada saat dara itu hendak membuka mulut, tiba-tiba terdengar suara teriakan orang dari luar gua. Kalau gua ini gua buntu, masakan mereka mampu meloloskan diri?" seru Lam-hay Sin-ni. Iblis-penakluk-dunia menjawab agak pelahan, Harap Sin-ni jangan resah.... Karena kelanjutan Iblis-penakluk-dunia berkata dengan suara amat pelahan maka tak dapat ditangkap lagi pembicaraannya. Siau-liong terkejut. Ia teringat bahwa dinding gua yang dibobolnya tadi masih terbuka. Jika Lam-hay Sin-ni dan Iblispenaklukdunia masuk ke dalam terowongan gua, mereka tentu akan menemukan bobolan dinding itu dan dapat masuk ke dalam ruang disitu. Sekalipun sudah mendapatkan kitap pusaka Thian-kong-sin-kang tetapi ia belum sempat mempelajarinya. Apabila Lam-hay Sin-ni sampai tahu, tentu

kitab itu akan direbutnya. Cepat Siau-liong menyimpan kitab itu ke dalam bajunya lalu kerahkan tenaga dalam bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Tetapi ternyata sampai sekian lama Lam-hay Sin-ni dan Iblis-penakluk-dunia tak tampak masuk ke dalam gua. Dan beberapa saat kemudian terdengar suara pekik bentakan yang riuh disusul dengan suara yang amat hiruk pikuk. 513 Suara hiruk pikuk itu seperti suara orang berbaku hantam. Sepintas mirip Lam-hay Sin-ni sedang menumpahkan kemarahan untuk menghancurkan gua itu. Tetapi sepintas juga mirip seperti rombongan Ceng Hi Totiang yang mengadakan serbuan kepada mereka. Sampai sekian lama, belum juga Siau-liong maupun Mawar Putih dapat menduga apakah suara hiruk pikuk diluar gua itu. Beberapa lama kemudian, suara hiruk pikuk itupun reda dan suasaua sunyi senyap lagi. Kata Siau-liong; Lam-hay Sin-ni dan Iblis-penakluk dunia tak mungkin begitu mudah melepaskan kita berdua. Paling tidak sebelum hari terang tanah, kita tak dapat lolos keluar. Dalam kesempatan ini, harap engkau suka beristirahat tidur dulu.... Sejak hilangnya Siau-liong dari pondok Randa Bu-san pada 10-an hari yang lalu, memang tiap malam Mawar Putih tak dapat tidur nyenyak. Tiga hari kemudian dengan membohongi Randa Bu-san dan si dara baju hijau, diam-diam ia tinggalkan pondok untuk mencari Siau-liong. Selama itu ia kurang tidur kurang makan dan tak kenal letih. Begitu Siau-liong mengingatkan supaya ia tidur, ia segera mengangguk dan minta pemuda itu tidur juga. Selekas membaringkan diri maka tidurlah Mawar Putih dengan nyenyak sekali. Melihat dara itu sudah tidur, Siau-liong menghela napas. Iapun segera duduk menghadap kelubang dinding bobol tadi dan pejamkan mata bersemedhi. Tetapi ternyata pikirannya penuh dengan berbagai persoalan. Lama sekali belum juga ia mampu menenteramkan pikirannya. Sampai saat itu keadaan diluar gua masih sunyi senyap. Tampaknya Lam-hay Sin-ni dan Iblis penakluk-dunia benarTiraikasih Website http://kangzusi.com/ 514 benar sudah tinggalkan tempat itu. Timbul dugaannya. Adakah hiruk pikuk tadi benar-benar disebabkan terjadinya penyerangan kepada Lam-hay Sin-ni dan Iblis-penakluk-dunia sehingga kedua tokoh itu dapat dipikat untuk pergi dari situ? Jika benar demikian, terang orang yang melakukan serangan itu tentu seorang yang berilmu sakti! Tiba-tiba ia mengambil keluar kitab pusaka Thian-kong-sinkang. Tetapi ia bimbang dan tak dapat segera memutuskan

apakah ia perlu membuka halaman kitab itu. Siau-liong menyadari bahwa dirinya takkan berumur panjang. Jika tak membuka kitab itu, ia masih dapat memberikannya kepada tokoh yang dianggapnya pantas menjadi pewaris ilmu sakti itu. Tetapi kalau sekali membukanya, dengan sendirinya dialah yang akan menjadi pewaris Thian-kong-sin-kang. Jika ia sampai tak dapat menunaikan tugas seperti yang diamanatkan dalam kitab pusaka itu, bukankah berarti ia telah mensia-siakan harapan Tio Sam-hong? Ketika matanya tertumbuk pada sampul sutera kuning, entah bagaimana kitab itu seolah-olah mempunyai daya tarik yang hebat. Diluar kehendaknya timbullah keinginannya yang keras untuk membuka kitab itu. "Ah, paling banyak hanya sepenanak nasi, kitab ini tentu sudah dapat kubaca habis. Mungkin Thian-kong-sin-kang itu memang mudah untuk dipelajari.!" pikirnya. Diapun ingat akan hasil lemparan mata uang tadi. Diamdiam ia merasa Tio Sam-hong itu benar-benar seorang pujangga yang dapat meramal dengan jitu. Dan arwah Tio Sam-hong pun tentu tahu bahwa umurnya hanya tinggal satu 515 tahun. Namun kalau Tio Sam hong tetap menghendaki dia yang menjadi pewaris Thian-kong-sin-kang, tentulah hal itu sudah menjadi garis hidupnya. Merenungkan hal itu tanpa ragu2 lagi ia segera membuka lembaran kitab itu dan membacanya. Siau-liong memang berotak cerdas. Kitab Thian-kong-sinkang yang hanya terdiri dari belasan lembar itu, dalam waktu sepenanak nasi Saja telah dapat dihafal semua. Habis membaca, ia termenung agak meragu. Semula ia mengira Thian-kong-sin-kang sebagai ilmu nomor satu di dunia, tentu sukar dan dalam sekali pelajarannya. Tetapi setelah membaca isi kitab itu. ia merasa hambar karena tiada sesuatu yang luar biasa pada isinya. Separoh yang dimuka, berisi pelajaran tentang ilmu Pernapasan yang hampir sama dengan pelajaran dari ilmu lain. yang berbeda hanya pada bagian memusatkan, Semangat, Hati, tujuan, pikiran, ketenangan, gerakan, kekosongan dan kenyataan." Memang ada beberapa bab yang belum dapat ia mengerti antara lain tentang palajaran yang menyebut, Dalam Tenang timbul Gerak, dalam Gerak lahir Tenang.... dan lain baris yang berbunyi: 'Kehendak lahir dari Pikiran. Pikiran berhubungan dengan Hati. Semangat dan Kehendak bersatu, Hati dan Semangat berjalin....-dan lain-lain kalimat yang tak dimengertinya. Separoh bagian yang dibagian belakang, memuat ilmu Pukulan Thian-kong. Terdiri dari sebuah Pukulan, tiga buah

Tamparan dan empat buah Tutukan jari. Diterangkan dengan jelas sekali. Setiap jurus disertai dengan gerak langkahnya. Tetapi semua pelajaran itu tampaknya sederhana sekali. 516 Ilmu pukulan Thay-siang-ciang dari Pengemis Tengkorak dan ilmu pukulan Membalik-langit serta ilmu pukulan Gun-gociang ajaran tabib sakti Kongsun Sin-tho lebih indah dan sukar dari ilmu pukulan Thian-kong-ciang itu. Dalam kekecewaan, diam-diam Siau-liong bersangsi, Apakah ada orang yang sengaja memalsu dan kitab ini bukan tulisan dari Tio Sam-hong cousu?" Kalau tidak, mengapa kitab pusaka Thian-kong-sin-kang yang begitu dimashyurkan kesaktiannya, ternyata begitu biasa sekali? Tetapi pada lain saat ia harus membantah kesangsiannya itu. Kalau memang benar sebelumnya ada orang yang sudah masuk kemari, tentulah empat butir mutiara yang tak ternilai harganya itu akan diambilnya. Nyatanya mutiara itu masih berada ditempatnya! Lenyapnya kesangsian, membuat Siau-liong mencurahkan perhatiannya pada isi kitab itu lagi. Dalam waktu tak lama, ia dapat membaca habis isi kitab itu. Namun ia masih belum dapat menyelami inti daripada kitab Thian-kong-pit-kip yang sudah termashyur ratusan tahun itu. Kemudian ia coba untuk melakukan pernapasan sesuai dengan petunjuk dalam kitab itu. Tetapi karena banyak kata2 yang tak dapat dimengerti, iapun tak dapat mempraktekkan dengan tepat. Suatu hal yang mengejutkan hatinya telah terjadi, setelah satu kali melakukan pelajaran Bernapas, ia dapatkan cara Pernapasan yang tampaknya sederhana itu ternyata mengandung sesuatu yang luar biasa. Ia rasakan dirinya 517 seperti terbenam dalam samudera dan terhanyut dibawa alunan ombak. Setelah itu ia coba untuk melakukan gerak dari pelajaran Pukulan-tamparan-tutukan, Walau pun keterangannya amat jelas sekali tetapi dikala mempratekkan, ternyata sukarnya bukan kepalang. Ada beberapa gerak yang ia anggap tak mungkin dipraktekkan. Ternyata setiap jurus itu mengandung beberapa gerak langkah dan perobahan. Dan dalam keterangan tersebut, perobahan itu sekaligus dilakukan dengan serempak dalam dua atau tiga cara. Sudah tentu hal itu dianggap tak mungkin oleh Siau-liong. Tiba-tiba ia teringat akan kata2 dalam pelajaran ilmu Bernafas. Disitu jelas disebut bahwa 'Dalam tenang timbul Gerak. Dalam Gerak lahir Ketenangan'. Ah, apakah Thian-kong

itu benar-benar begitu islimewa saktinya? tanpa menggerakkan tangan, sudah dapat bunuh lawan? Dengan kecerdasan otaknya. dapatlah Siau-liong menyadari bahwa ilmu pukulan yang terdiri dari sebuah Tinju. tiga Tamparan, empat tutukan jari itu, tentu harus dilembari dengan pelajaran yang pertama yakni ilmu bernafas. Dan setelah melakukan pernapasan beberapa kali, walaupun masih belum dapat keseluruhannya, tetapi makin menambah kepercayaannya.... Untuk yang ketiga kalinya, ia mengulang baca sekali lagi kitab itu.... Saat itu ia merasa telah dapat menghafal isinya diluar kepala. Ah, Thian-kong sin-kang yang tampaknya sederhana itu, ternyata mengandung inti pelajaran yang dalam sekali. Tak 518 mungkin dapat kupelajari dalam waktu sehari semalam saja. Saat ini aku aku masih teramcam bahaya. Walaupun aku masih dapat menghadapi Iblis penakluk-dunia dan Dewi Neraka, ia masih sanggup menghadapi. Tetapi kalau dengan Lam-hay Sin-ni, ia merasa masih kalah. Jika kitab pusaka itu sampai dapat direbut lawan bukankah ia berdosa terhadap pencipta kitab itu? Siau-liong merenung diam. Sekonyong-konyong ia genggam kitab itu lain meremasnya. Thian-kong-pit-kip, kitab pelajaran ilmu Thian-kong-sinkang yang sudah berumur ratusan tahun saat itu hancur lebur berhamburan menjadi abu. Ia menghela napas lalu mencoba lagi untuk mempraktekkan ilmu Bernapas dalam kitab itu. Saat itu ketegangan hatinya sudah banyak reda. Dengan tenang ia melakukan ilmu pernapasan dan tak lama dapatlah pikirannya tenggelam dalam alam kehampaan. Entah berlangsung berapa lama, ia terkejut mendengar desir ujung baju. Ketika membuka mata, tampak Mawar Putih sedang ter-longo2 memandang hamcuran kitab yang bertebaran di tanah. Engkau sudah bangun?" Siau-liong tersenyum. Sambil menuding pada abu kertas yang berserakan dilantai, dara itu bertanya, Apakah itu?" Siau-liong menghela napas kecil, Yah, itulah kitab pusaka Thian-kong-pit-kip.... Engkau menghancurkannya....?" Mawar Putih menjerit kaget tetapi pada lain saat ia tertawa, Jadi engkau sudah 519 memutuskan takkan mencampuri pergolakan dunia persilatan lagi dan bersama aku keseberang lautan menghadap ibumu.... Rupanya perasaan dara itu tegang sekali. Belum Siau liong

menyahut, ia sudah melanjutkan kata2nya, Jika engkau suka kita tinggal saja dipulau itu dan tak menginjak kedunia persilaian se-lama2nya!" Siau-liong menghela napas rawan, Aku bukanlah orang yang bekerja kepaiang tanggung. Selama urusan disini belum selesai, tak dapat kutinggal pergi. Sekalipun kitab pusaka itu sudah hancur tetapi seluruh isinya sudah dapat kuhafal semua. Dengan begitu aku telah tambah sebuah beban yang berat!" Berkata Mawar Putih dengan serak, Semua terserah padamu sajalah! Mungkin ibu angkatku itu benar.... Siapa ibu angkatmu?" Siau-liong terkesiap. Menatap Siau-liong, dara itu memberi jawaban kepada yang bukan ditanyakan, Lebib baik kita lekas tinggalkan tempat ini. Mungkin Lam-hay Sin-ni dan kedua suami isteri iblis itu sudah pergi!" Habis berkata dara itu terus menghampiri ke lubang, bobolan. Sesaat Siau-liong kehilangan faham. Ia tak dapat menghadapi rasa kasih yang dicurahkan dara itu. Tiba-tiba ia tersadar dan cepat loncat mendahului. Kedua suami isteri iblis itu banyak tipu muslibatnya, biarlah aku yang mempelopori jalan!" serunya terus merangkak ke dalam terowongan. Mawar Putih mengikuti dibelakangnya. 520 Tak lama kemudian mereka tiba di dalam gua yang berdinding tanah. Searus hawa busuk dan anyir segera menampar hidung. Gua itu tak berapa dalamnya. Setelah memeriksa, Siauliong yakin tiada terdapat bekas seseorang lain yang Balik kesitu. Pun keadaan diluar gua sunyi senyap. Lam-hay Sin-ni dan kedua suami isteri iblis itu benar-benar sudah pergi. Ketika berpaling. diam-diam Siau-liong terkejut. Ternyata dari dalam gua itu tampak jelas sekali bobolan dinding dan ruang lempat penyimpanan harta pusaka. Sekali Lam-hay Sinni dan kedua suami isteri iblis masuk, tentu dengan cepat mereka mengetahui tempat penyimpanan harta pusaka itu. Diam-diam Siau-liong merasa aneh juga. Menpapa setelah menunggu diluar sampai sekian lama rombongan Lam-hay Sin-ni tak mau memasuki gua dan malah pergi? Melihat Siau-liong terlongong, Mawar Putih mendengus lagi terus melesat keluar. Siau-liong kaget dan cepat2 berseru, Nona" Mawar Putih hentikan langkah, berpaling, Mengapa?" Nadanya sedingin es. Agaknya dara itu masih penasaran. Siau-liong menatap sejenak, tertawa, Jika engkau dalam penyamaran begitu, tentu.... Kiranya saat itu Mawar Putin masih menyaru sebagai Dewi Ular Ki Ih, Tetapi ketika masuk ke dalam gua, terpaksa ia lepaskan kerudung mukanya.

Setelah mengawasi dirinya sendiri, dara itupun tertawa lalu mengenakan kerudung muka lagi. 521 Siau-liong kerutkan alis, ujarnya, Saat ini Ceng Hi totiang sedang memimpin penyerbuan ke Lembah Semi. Banyak tokoh2 persilatan yang sudah tiba. Dahulu ibuku banyak sekali mengikat permusuhan dengan partai2 persilatan, sebaiknya nona.... "Baiklah, kalau begitu aku tak mengenakan pakaian ini!" Mawar Putih tertawa dingin. Karena masih mengkal Siau-liong tak mau diajak ke seberang lautan, dara itu marah. Dua tiga kali gerakan tangan, ia merobek kain kerudung dan pakaian penyamarannya. Siau-liong hanya dapat menghela napas, ujarnya, Adakah sedikit pun nona tak mengerti diriku? Ah.... kembali ia menghela napas dengan penuh kerawanan. Mawar Putih cebirkan bibir. Sikapnya tetap dingin. Ternyata dara itu sedang berjuang keras untuk menahan turunnya air mata. Setelah menguatkan perasaannya lalu sejenak memandang ke arah terowongan, Siau-liong berkata, Harta benda peninggalan Tio Sam-hong masih ada 3 peti besar.... "Isinya tentulah harta karun yang berlimpah-limpah menyamai gudang negara. Bawalah pulang sendiri.... tukas Mawar Putih.... Siau-liong menghela napas; Aku bukan orang yang tamak harta. Hanya saja, kalau harta karun ini sampai jatuh ketangan manusia jahat tentu lebih menambah kejahatannya. Lebih baik diberikan kepada badan amal dan menolong kaum fakir miskin!" 522 Mawar Putih tertawa ewah, 0, kiranya engkau seorang yang berhati mulia.... Siau-liong tahu bahwa dara itu masih penasaran kepadanya. Sejenak merenung, sekonyong-konyong ia dorongkan kedua tangannya kemuka. "Bruk".... terdengar bunyi menggemuruh disusul dengan hamburan debu dan pasir. Langit gua hancur dan rubuh menutup terowongan dengan bobolan dinding ruang penyimpan harta pusaka. Sepintas pandang menyerupai sebuah gua yang rusak tertimbun tanah. Jika tak digali, tak mungkin diketemukan. Mawar Putih membersihkan tanah pada bajunya lalu melangkah keluar. "Nona.... cepat Siau-liong menghadang lagi.... Mengapa lagi?" tanya Mawar Putih. Diluar penuh dengan alat jebakan. Mungkin kedua suami isteri iblis itu belum pergi....

Mawar Putih menukas dengan tertawa keras, Kiranya nyalimu besar sekali! Nah, silahkan engkau tinggal disini selamanya.... tiba-tiba ia berganti nada; "sekarang engkau sudah menjadi pewaris ilmu Thian-kong-sin-kang. Pendekar besar dalam dunia persilatan! Silahkan engkau disini mengunjuk kesaktianmu itu! Aku akan pergi.... Dara itu cepat2 berpaling agar dua titik air mata yang menetes dari sudut pelupuknya, tak terlihat Siau-liong. Kemudian sambil menghunjam-hunjamkan kaki ke tanah, ia menggeram. "Aku segera akan kembali keseberang laut dan takkan datang ke Tionggoan lagi!" 523 Sekali melesat, dara itu sudah loncat keluar gua. Saat itu Siau-liong masih termakan oleh kata2 tajam dari Mawar Putih. Ia terkejut karena dara itu melesat keluar. Cepat ia mengejar. Saat itu ternyata fajar sudah mnlai menyingsing. Angin meniup segar, Mawar Putih lari menuju ke dalam hutan. Tetapi pada lain saat terdengar suara bentakan bercampur bergemerincing senjata beradu! Walau pun teraling pohon yang lebat dan tak dapat melihat jelas, tetapi Siau-liong cepat dapat menduga bahwa Mawar Pulih tentu bentrok dengan rombongan orang gagah anak buah Ceng Hi totiang yang tengah menyerang Lembah Semi. Ketika Siau-liong menerobos masuk ke dalam hutan, tampak Mawar Putih sedang berhantam dengan empat lelaki berpakaian ringkas. Keempat pengeroyok itu menggunakan golok, pedang dan golok pendek. Sedang di tepi tempat pertempuran itu berjajar beberapa belas orang yang menyaksikan pertempuran itu. Rupanya Mawar Putih hendak tumpahkan kemarahannya pada keempat orang itu, pedang Kilat dimainkan laksana hujan mencurah. Ganasnya bukan kepalang. Tetapi keempat orang itupun memiliki kepandaian tinggi. Apalagi mereka maju serempak. Maka buyarlah maksud Mawar Putih hendak mencincang mereka, kebalikannya ia masih terdesak pontang panting. Sejenak tertegun, Siau-liong lalu berseru menghentikan mereka dan secepat kilat ia loncat menghampiri. Tetapi iapun cepat disambut oleh belasan orang bersenjata yang mengepungnya. Selain permainan senjata yang cepat 524 dan gencar, pun mereka dapat menempat diri dalam posisi yang sesuai. Seolah-olah seperti sudah terlatih dalam suatu formasi barisan. Sudah tentu hal itu mengejutkan Siau-liong. Sedang keempat orang yang mengeroyok Mawar Putih itu tak mengacuhkan dan tetap manyerang dengan gencar. Tiba-tiba beberapa tombak jauhnyn, muncul seorang lelaki

bermuka brewok. Bergegas-gegas ia menghampiri, memandang Siau-liong, lalu mencabut panji putih segi tiga yang terpancang di bahunya, melambaikan seraya berseru, Mundur....!" Belasan orang yang mengepung Siau-liong segera menyingkir kesamping. Demikianpun keempat orang yang menyerang Mawar Putih itu, juga loncat mundur. Pendatang yang bermuka brewok itu tertawa gelak2. Ia melangkah maju kehadapan Siau-liong, memberi hormat, Pendekar Laknat!" Seorang lelaki yang bertubuh tinggi besar, alis tebal mata bundar. Sekujur mukanya hampir tertutup oleh brewok. Seorang lelaki yang benar-benar gagah perkasa, mirip dengan Tio Hwi, seorang pahlawan termashyur pada jaman Sam Kok. Siau-liong balas memberi hormat, Saudara ini....?" Dengan suara menggeledek, orang itu menukas, Aku Lu Bu-ki, dunia persilatan menggelari dengan julukan Ruyungbesipelor-sakti. Pemimpin dunia Rimba Hijau daerah selatan.... 525 Kemudian sambil menunjuk kepada berpuluh orang yang mengepung Siau-liong tadi, Lu Bu-ki menerangkan, Mereka adalah jago2 pilihan dari Rimba Hijau!" Dalam membawakan kata2 itu, disertai juga dengan gerakan tangan dan kaki. "Hm, kiranya orang ini seorang benggolan penyamun!" diam-diam Siau liong membatin. Bagaimana saudara kenal padaku?" tanyanya. Jawab sitinggi besar. "Aku datang memenuhi undangan Ceng Hi totiang dan tahu kalau Pendekar Laknat juga ikut serta dalam gerakan membasmi Lembah Semi. Dengan begitu kita ini sekarang menjadi orang sendiri.... Dia berhenti sejenak, menatap wajah Siau-liong lalu tertawa, Dahulu aku tak sempat ikut dalam gerakan Ceng Hi totiang untuk menindas Iblis-penakluk-dunia dan Dewi Neraka. Sekalipun belum pernah bertemu dengan saudara, tetapi sudah mendengar cerita orang. Maka sekali lihat aku sudah dapat mengenal saudara.... Ucapannya gamblang, nadanya nyaring dan tertawanya lepas bebas. Ia maju menghampiri lalu menepuk bahu Siauliong, Aku paling kagum pada saudara. Membunuh manusia yang harus dibunuh, sebagai suatu kesenangan. Selama hidup. aku memang berpendirian begitu juga!" Siau-liong diam-diam membatin, orang itu benar-benar amat kasar tingkahnya. Setelah keempat penyerangnya mundur, Mawar Putih memandang dengan isyarat mata kepada Siau-liong. 526

Maksudnya suruh pemuda itu menyusulnya. Habis memberi isyarat, ia terus loncat lari. Tetapi karena terhalang oleh sitinggi besar Lu Bu-ki, disamping ia memang masih suka membawa kemauan sendiri, Siau-liong tak mau. Ia masih mengkal kepada dara itu. Andaikata saat itu Mawar Putih mau membawanya keseberang laut menemui ibunya, tentulah ia tak usah mengalami penderitaan di Lembah Semi. Tak usah ia harus meminum racun jong-tok dari Poh Ceng-in. Sekarang dirinya sudah menjadi sedemikian rupa, nyawanya tinggal setahun lagi, lalu dara itu bersedia mengajaknya keseberang laut. Huh, apa perlunya? Dengan mendendam perasaan mendongkol itu, Siau-liong tak mempedulikan dara itu dan malah melanjutkan percakapannya dengan Lu Bu-ki. Karena ternyata Siau-liong tak menyusul, tak berapa jauhnya, Mawar Putih pun berhenti dan beristirahat dibawah sebatang pohon. Dalam pada itu teringatlah Siau liong akan Lam-hay Sin-ni dan rombongan Iblis-penakluk-dunia yang tiba- tiba meninggalkan gua. Maka bertanialah ia kepada kepala begal itu, Apakah saudara sejak tadi terus tetap menjaga di tempat ini?" Benar, dilingkungan 50 tombak dari tempat ini semua dijaga oleh anak buahku.... kata Lu Bu-ki.... Kemudian ia menunjuk ke arah kiri, katanya, Yang sebelah kiri itu adalah rombongan Ang-cek-pang, sebelah kanan Siau-lim-pay. Sekeliling Lembah Semi sudah dikepung rapat sekali, Sekalipun seekor burung, tak mungkin dapat terbang keluar dari lembah." 527 Kepala penyamun daerah selatan itu memang seorang yang suka bicara secara blak-blalan. Dan sekali bicara tentu tak kena disetop. Maka ia terus melanjutkan saja kata-katanya, Ceng Hi totiang telah mengeluarkan perintah rahasia. Akan menggunakan api untuk membumi-hanguskan Lembah Semi. Rasanya saat ini tentu sudah akan segera bergerak.... Memandang jauh kemuka, memang Siau-liong melihat dibalik semak dan tempat2 jang pelik, terdapat persiapan2 bahan pembakar serta berkarung-karung obat api. Melihat Lu Bu ki itu seorang kasar yang agak ketololtololan, Siau-liong tak mau mendesak pertanyaannya tentang Lam-hay Sin-ni dan rombongan Iblis-penakluk-dunia lagi. Ia anggap tak berguna. Lalu ia alihkan pertanyaan, Apakah saudara tahu dimana tempat rombongan Kay-pang?" Lu Bu-ki segera menuding, Dari sini kekiri kira2 satu li, melalui tempat rombongan Ang-cek-pang. Go-bi-pay, Tiamjongpay, Ji-tok-kau, disiiulah pos penjagaan rombongan Kaypang!"

Karena anggap tak perlu lebih lama berada disitu, Siauliong segera pamit. Lu Bu-ki benar-benar amat menghormat kepada Siau-liong. Dengan tersipu-sipu ia memberi hormat dan mempersilahkan Siau-liong tinggalkan tempat itu. Baru beberapa langkah Siau-liong berjalan, tiba-tiba dari sebelah kanan hutan muncul seorang baju hitam dengan memegang panji warna merah. 528 Lu Bu-ki cepat maju menyongsong. Orang baju hitam membisiki kedekat telinga Lu Bu-ki lalu bergegas-gegas melanjutkan berjalan kemuka lagi. Sitinggi besar Lu Bu-ki tertawa nyaring. Wajahnya gembira, semangatnya menyala. Sambil gerakkan kedua tangan ke atas, ia berseru nyaring, Anak-anak, kita segera akan bergerak!" Dari dalam hutan, berhamburan keluar berpuluh-puluh lelaki berpakaian ringkas. Kebanyakan mereka berumur antara 30-an tahun. Dipimpin Lu Bu-ki, kawanan anak buah penyamun itu segera membawa kayu bakar, obat pasang dan bahan2 pembakar, menuju kepuncak gunung dari Lembah Semi. Siau-liong memandang cuaca. Saat itu diperkirakan sudah jam 7 pagi. Ia duga Iblis-penakluk-dunia tentu tak mau melepaskan It Hang totiang dan rombongannya. Maka Ceng Hi totiang segera mengeluarkan perintah untuk menyerang Lembah Semi. Tetapi pada saat memandang kepuncak gunung yang mengelilingi Lembah Semi, diam-diam Siau-liong kerutkan alis. Lembah itu luasnya tak kurang dari 10 li. Dengan api, dikuatirkan tak dapat memberi hasil seperti yang diharapkan. Dengan bahan peledak, mungkin dapat menghancurkan alatalat jebakan dalam lembah itu. Tetapi kalau hendak meratakan lembah itu menjadi karang api, benar-benar tak mungkin. Tengah ia merenung, tampak ratusan batang kepala manusia tengah bergerak masuk kemulut lembah. Dan sepanjang kaki puncak gunung pun telah terbakar. Merupakan sebuah gunung yang bersalur jalur api. 529 Apalagi kala itu sedang dalam pertengahan musim rontok. Pohon dan tumbuh-tumbuhan kering semua. Api cepat sekali meranggas besar. Siau-liong memperhatikan dengan seksama. Kecuali melepas api, pun segenap pelosok hutan penuh bersembunyi ratusan tokoh2 anggauta rombongan Ceng Hi totiang yang siap untuk bergerak. Mulut lembah itu merupakan satusatunya jalanan masuk-keluar lembah. Dan mulut lembah itu telah dijaga ketat sekali sehingga tak mungkin orang Lembah

Semi dapat terhindar dari sergapan mereka. Diam-diam Siau-liong memuji kelihayan Ceng Hi totiang mengatur barisan. Rasanya Lembah Semi pasti dapat dihancurkan. Dalam pada itu pikiran Siau-liong masih melekat pada peristiwa digua tadi. Mengapa Iblis-penakluk-dunia tak berani memasuki gua itu dan hanya menunggu diluar saja. Lalu apakah Lam-hay Sin--ni sudah dapat dipikat kedua suami isteri iblis itu masuk ke dalam lembah? Sambil berpikir, kaki Siau-liong tetap berjalan dan saat itu hampir tiba ditempat Mawar Putih menunggu. Dara itu berdiri menghadap kesebelah belakang, tak mau berpaling menyambut Siau-liong. Diam-diam Siau-liong tak puas melihat perangai Mawar Putih yang mau menang sendiri. Maka sengaja ia tertawa dingin dan menegur, Ah, apakah nona masih belum berangkat?" Mawar Putih diam saja. Tetapi kedua bahunya bergetaran seperti orang yang tengah menangis. 530 Melihat itu timbullah rasa penyesalan Siau-liong. Betapa buruk perangai dara itu, namun dia sudah melayani ibu Siauliong bertahun2. Atas dasar kenyataan itu, dapatlah sudah dara itu dianggap sebagai adiknya sehdiri. Apalagi sekarang Mawar Putih seorang diri mengembara di dunia persilatan Tiong-goan, demi melaksanakan pesan ibu Siau-liong untuk menuntut balas dan mencari jejak Siau-liong. Ah, seharusnya ia membalas budi kepada Mawar Putih. Mengapa dikarenakan sedikit percekcokan mulut saja. ia harus memperlakukan dara itu dengan sikap yang dingin? Makin merenungkan, Siau-liong makin berkabut sesal. Dan terbayanglah sikap dan kebaikan, dara itu selama ini. Tanpa disadari Siau-liong air mata berlinang-linang terharu. Adik Mawar....!" serunya pelahan. Serentak dara itu berpaling diri. Tampak mukanya masih membekas air mata. "Adik Mawar, tak seharusnya kuperlakukan engkau begini, aku.... Siau-liong menghela napas, "aku pantas dicincang!" Sepasang mata dara itu berkilat-kilat menatap Siau-liong. Sekonyong-konyong ia lari dan menubruk kedada Siau-liong. Akulah yang salah. Tak seharusnya kubikin panas hatimu.Maafkanlah.... Mawar Putih mengangkat muka memandang muka Siauliong, belasan tahun aku melayani suhu. Tiap kali suhu tentu membicarakan dirimu. Dan tiap kali itu pula ia selalu mengatakan bahwa beliau mengharapkan, kelak kita berdua.... 531

Mawar Putih menghela napas, lalu melanjutkan, Memang aku sendiri yang salah. Jika tempo hari lekas2 kubawa engkau pulang keseberang lautan, segala apa tentu beres! Ho.... aku memang celaka!" Sesaat Siau-liong pun tak dapat berkata apa2. Bayangan maut tetap menghantui dirinya. Paling lama ia dapat hidup setahun lagi. Dan pada saat itu ia masih memikul beban tugas yang banyak dan berat. Sekalipun dapat berjumpa dengan ibunya, tetapi hanya berapa lamakah ia dapat berkumpul dengan ibunya itu? Segala sesuatu memang sudah diatur menurut garis hidup. Ada beberapa hal yang kita manusia tak mampu merobah garis perjalanan hidup itu. Karenanya terpaksa kita pasrah saja," kata Siau-liong dengan rawan. Apakah kita tak dapat pergi sekarang?" Siau-liong gelengkan kepala, Sekarang aku masih mempunyai beberapa kewajiban yang harus kuselesaikan lebih dulu. Tetapi semua itu pun paling lama dalam empat hari tentu sudah rampung.... Berhenti sejenak. Siau-liong berkata pula, Apakah nona mau menunggu aku di siok-ciu?" Mawar Putih deliki mata, Ih, mengapa memanggil 'nona' lagi? Apakah hubungan kita.... Adik Mawar buru-buru Siau-liong menukas. Aku tak mau membiarkan engkau seorang diri menghadapi bahaya disini. Jika engkau tak mau berangkat keseberang laut, aku pun tetap akan menemani engkau disini!" 532 Siau-liong kerutkan alis, Dalam waktu singkat lembah ini akan menjadi gelanggang pertumpahan darah.... maaf, terus terang kukatakan, jika engkau berada disini, bukan saja tak dapat membantu bahkan kebalikannya malah menambah bebanku!" Tetapi Mawar Putih tetap menolak.... ---ooo0dw0ooo--Jilid 10 "Apapun juga dan tak peduli engkau hendak pergi kemana, aku tetap ikut. Sampai kita nanti ke seberang laut menjumpai suhu!" kata Mawar Putih. Siau-liong terpaksa mengiakan. Dilihatnya orang2 yang berada dalam hutan itu menumpahkan perhatian ke arah api yang sedang berkobar di atas gunung. Mereka tak mempedulikan gerak gerik Siau-liong dan Mawar Putih. Berkata pula Mawar Putih, Mulai saat ini aku menurut saja apa perintahmu. Apakah kita akan berangkat sekarang?" Siau-liong tertawa hambar, menarik Mawar Putih terus diajak lari ke arah kiri. Saat itu api makin berkobar besar. Lembah Semi seolah-olah terbungkus oleh gumpalan asap tebal.

Tak dapat disangsikan lagi, gunung itu pasti akan gundul. Adakah pembakaran itu akan dapat menjalar ke dalam Lembah Semi atau tidak, tapi sekurang-kurangnya Iblispenakjukdunia tentu akan getar nyalinya. Dan Lembah Semipun akan terpencil menjadi semacam pulau tersendiri. 533 Dengan begitu mudahlah dikurung dari segenap penjuru oleh barisan orang gagah yang dipimpin Ceng Hi totiang. Apa yang dikatakan Lu Bu-ki tadi memang benar. Sepanjang jalan, Siau-liong melihat rombongan orang2 Angcekpang, Go-bi-pay, Tiam-jong-pay dan Ji-tok-kau mengatur barisan dengan ketat. Seolah-olah merupakan tembok manusia.... Mereka bergerak dengan rapi. Baik melepas api, melakukan penyelidikan, penjagaan dan pekerjaan koordinasi satu sama lain. Agaknya Ceng Hi totiang memang sudah memberitahukan kepada sekalian rombongannya tentang ikut sertanya Pendekar Laknat membantu gerakan mereka, Maka walaupun tanpa membawa pertandaan apa2, hanya dengan melihat wajahnya saja, orang2 itu sudah mengetahui Pendekar Laknat dan membiarkan dia berjalan. Tak berapa lama, tibalah Siau-liong dan Mawar Putih ketempat penjagaan yang dijaga oleh anak buah Kay-pang. Ternyata tempat itu terletak disamping kanan barisan pohon Bunga, di belakang Lembah. To Kiu-kong tampak bersemangat sekali memimpin orangorangnya, menebang pohon dan mengangkuti batu, melepas api membakar gunung. Mereka terkejut serta melihat Siauliong dan Mawar Putih muncul. Menurut anggapan To Kiu-kiong, dara itu mempunyai hubungan istimewa dengan cousu-ya Kay pang yakni Kongsun Liong. Sudah tentu mereka heran melihat Mawar Putih muncul, pada hal jelas Kongsun Liong masih belum ketahuan hasilnya dalam lembah. Dan masih ada sebuah hal yang membuat To Kiu-kong tak habis mengerti. Ketika kemarin malam Pendekar Laknat 534 berbaku hantam dengan Lam-hay Sin-ni, jelas dilihatnya Pendekar Laknat telah menggunakan ilmu pukulan Thaysiangciang. Pada hal ilmu pukulan itu adalah ajaran dari ajaran Pengemis Tengkorak Song Thay kun. Pengemis-tertayya Tio Tay-tong dan kedua pengemis pincang segera menghampiri ke belakang To Kiu-kong. Mereka memandang Siau-liong dan Mawar Putih dengan penuh keheranan. "Pendekar Laknat," tegur To Kiu-kiong dengan menekan keheranan. Siau-liong cepat membalas hormat, Semalam aku minta

tolong padamu untuk membelikan obat, entah apakah ,.... To Kiu-kiong cepat menyambuti, Malam itu juga telah kusuruh orang untuk membelikan ke Siok-ciu.... ," ia kerutkan dahi, katanya pula, mungkin segera datang!" Siau-liong mendesah lalu melanjutkan langkah kemuka. Disebelah muka situ merupakan daerah barisan Pohon Bunga yakni satu-satunya jalan keluar masuk Lembah Semi. Disebelah muka barisan pohon Bunga itu. dijaga oleh para imam tua yang mengenakan jubah warna kuning, menyanggul pedang dipunggung. Ternyata mereka adalah rombongan murid Kun-lun-pay yang dipimpin sendiri oleh Ceng Hi totiang. Ceng Hi totiang yang berperawakan tinggi kurus itu sedang berdiri dimuka barisan pohon bunga. Dibelakangnya dikawal oleh lima imam kecil-menyanggul pedang. Siau-liong dan Mawar Putih segera menghampiri. 535 Ah, Pendekar Laknat benar-benar menepati janji.... seru Ceng Hi totiang seraya memberi salam. Kemudian ia memandang mawar Putih, bertanya, Dan ini.... Nona Putih, Mawar Putih, kenalan lama," buru-buru Siauliong menyambutinya. Lalu tertawa. Sambil mengurut jenggotnya, Ceng Hi totiang pun tertawa, Sungguh mengharukan sekali bahwa nona Putih yang masih muda belia, bersedia ikut juga dalam gerakan membasmi kaum durjana!-' Ah, totiang keliwat memuji, " Mawar Putih merendah lalu tersenyum kepada Siau-liong. Tetapi pemuda itu batuk2 dan cepat palingkan muka agar jangan sampai ketahuan Ceng Hi totiang. Saat itu hutan disekeliling lembah sudah terbakar hanya barisan pohon Bunga dimuka lembah itu yang masih utuh. Sejenak merenung, berkatalah Ceng Hi totiang, Mulut lembah, amat sempit sekali. Hanya dapat untuk seorang berjalan. Rasanya lebih baik mengambil jalan dari belakang lembah!" Siau-liong membenarkan. Ceng Hi totiang segera suruh seorang imam kecil untuk memberitahukan kepada bagian penghubung. Semua pemimpin rombongan supaya datang kesitu untuk berunding. Tak berapa lama dari kepergian imam kecil itu, para pemimpin dari rombongan partai2 datang bersama jago2nya yang tangguh. Tak kurang dari seratus orang jumlahnya. 536 Kebanyakan mereka memang tak kenal dengan Pendekar Laknat. Tetapi menilik dandanan Siau-liong yang aneh itu, mereka dapat menduga tentulah Pendekar Laknat.

Menolong To Hun-ki, Ti Gong taysu dan beberapa tokoh sehingga bentrok dengan Iblis-penakluk dunia serta Lam-hay Sin-ni, cepat sekali membuat Pendekar Laknat dipuja oleh seluruh orang gagah yang ikut dalam gerakan menyerbu Lembah Semi itu. Setelah para tokoh2 mengambil tempat duduk, maka berkatalah Ceng Hi totiang dengan nada serius, Setelah api padam, rintangan disekelihng Lembah Semi menjadi lenyap. Kedua durjana itu hendak menyerang dari sebelah mana, kita tetap dapat mengetahui.... Ceng Hi memandang ke arah hadirin, lalu melanjutkan pula, Kedua suami isteri itu licin sekali. Entah siasat apa yang hendak mereka gunakan nanti tetapi yang jelas kita tentu akan menghadapi suatu pertempuran yang menentukan mati atau hidup!" Kembali ketua dari Kun-lun-pay itu berhenti mengurut-urut jenggotnya. Kemudian menyambung, Menurut hematku, betapapun tinggi ilmu hitam dari kedua suami isteri itu, tetapi rasanya mereka tentu takkan menyerang keluar. Mereka tentu hanya mengandalkan pada keadaan berbahaya dari lembah untuk menghadapi serbuan kita. Menilik keadaan itu, kuputuskan untuk mengambil jalan dari belakang lembah saja. Tetapi kita gunakan api untuk menyerang masuk. Hancurkan setiap rintangan dan alat-alat jebakan dalam lembah itu!" Sekalian hadirin berdiam diri. Beberapa saat kemudian, Toh Hun-ki melangkah maju kemuka Ceng Hi totiang, memberi hormat berkata, Usaha terakhir untuk menghancurkan sarang 537 durjana, terletak di tangan totiang. Silahkan saja totiang memberi perintah. Para hadirin disini tentu akan menurut!" Ketua Kong-tong-pay itu sejenak memandang sekalian hadirin. Tampak sekalian pemimpin partai persilatan mengangguk. Ti Gong taysu dan Lu Bu-ki hampir serempak berseru, Karena kami telah mengangkat totiang sebagai pemimpin, sudah tentu kami akan mentaati perintah totiang!" Ceng Hi totiang terhibur mendapat dukungan luas itu. Dengan tersenyum ia segera mengatur persiapan untuk menyerbu Lembah Semi. Diam-diam Siau-liong memperhatikan cara imam tua itu mengatur barisan. Ternyata Ceng Hi merupakan seorang pucuk pimpinan yang cemerlang dan pandai. Selain dibentuknya barisan pelopor, barisan bala bantuan, induk barisan, barisan sayap kanan kiri serta barisan untuk menjebak musuh. Barisan pelepas api kemudian regu penghubung. Pendek kata, barisan itu telah diatur lengkap dan rapi. Setelah menerima pembagian tugas, maka barisan2 itupun segera mulai bergerak.

Ceng Hi totiang menghampiri Siau-liong katanya dengan palahan, Barisan pohon Bunga itu merupakan satu2nya jalan di belakang lembah. Telah kuperintahkan orang untuk melepaskan api. Setelah terbakar, dapat dipastikan tentu akan terbuka jalan ke dalam lembah. Kukira Iblis-penakluk-dunia dan Dewi Neraka tentu akan memimpin rombongannya keluar. Tetapi jika tidak keluar, tentulah mereka mempunyai persiapan lain dalam barisan pohon bunga itu.... 538 Ia berhenti sejenak lalu berkata pula, Saudara telah menolong Ti Gong taysu dan rombongannya dari lembah itu. Tentulah saudara kenal baik keadaan lembah itu. Mengenai barisan pohon Bunga.... Berkat peta pemberian Jong Leng lojin maka Siau-liong dapat mengetahui alat-alat perlengkapan Lembah Semi dengan baik. Maka iapun anggukan kepala, Selain tertanam puluhan ribu batang pohon bunga yang dapat menyesatkan pikiran orang, dalam barisan pohon Bunga itupun masih terdapat pula Pagar Harimau, Pagar Singa dan Sarang Ular, Liang Serangga beracun dan lain-lain. Tetapi.... Siau-liong merenung sebentar lalu berkata pula; "Segala perlengkapan itu hanya dapat digunakan terhadap musuh yang berjumlah kecil. Kalau barisan besar seperti kali ini sama melepas api, tentulah pohon2 bunga itu akan musnah semua. Juga kalau dibakar dengan bahan peledak, kiranya kawanan binatang buas itu tentu akan mampus juga. Maka menurut hematku.... Sejenak Siau-liong memandang pada Ceng Hi, lalu; "Jika tak mengundurkan diri ke dalam barisan Tujuh Maut dan Lembah Maut, setelah barisan bunga itu dimusnahkan, kedua durjana itu tentu keluar bertempur!" Ceng Hi totiang mengangguk, Pandangan anda sungguh tepat. Yang kukuatirkan adalah kekuatan kedua durjana itu. Kita belum tahu jelas sampai dimana kekuatan mereka. Jika kali ini kita kalah, dunia persilatan pasti akan menderita kehancuran!" Pada saat itu api sudah mulai berkobar ditengah barisan pohon Bunga. Beberapa saat kemudian Ceng Hi berkata, Barisan bunga itu dalam beberapa waktu baru dapat musnah. Selama itu kedua durjana tentu takkan menerobos keluar. 539 Silahkan saudara bersama nona Putih beristirahat dihutan belakang," Memandang wajah Siau-liong, ketua Kun-lun-pay itu menambah pula, Dalam pertempuran untuk menentukan mati hidupnya dunia persilatan ini, harap saudara suka membantu sekuat tenaga!" Habis berkata Ceng Hi totiang hendak mengantar Siau-liong

berdua ke belakang hutan tetapi Siau-liong minta imam itu tinggal disitu saja karena masih mempunyai tugas penting. Siau-liong bersama Mawar Putih menuju ke arah hutan. Di dalam hutan terdapat sebuah kemah. Beberapa imam kecil yang menjaga kemah itu, segera mempersilahkan Siauliong dan Mawar Putih duduk di atas dua lembar permadani dan menghidangkan dua cawan teh wangi. Kedua muda mudi itu duduk beristirahat. Dalam pada itu diam-diam Siau-liong merenung. Setelah barisan pohon bunga itu terbakar habis, tentu akan timbul pertempuran dahsyat. Sekali pun Ceng Hi totiang sendiri yang memimpin dan hampir dikata seluruh tokoh2 persilatan ikut serta dalam barisan, tetapi mengingat kedua suami isteri Iblis penakluk-dunia itu sangat licik dan banyak tipu muslihat, ia masih belum dapat memastikan apakah gerakan orang gagah itu akan berhasil. Tokoh2 Harimau Iblis, Naga Laknat, Jong Leng lojin dan Lam-hay Sin-ni. Jika mereka dapat digunakan oleh Iblis penakluk-dunia, tentulah barisan orang gagah akan menemui kesulitan besar. Saat itu Siau-liong sudah memperoleh kitab pusaka Thian Kong pit-kip. Jika dalam saat2 yang genting dan penting seperti kala itu ia tak dapat memberi bantuan, bukankah ia 540 merasa malu terhadap pencipta kitap pusaka Thian-Kong-Sinkang? Seketika ia kosongkan seluruh pikirannya dan mulai melakukan pernafasan sesuai dengan petunjuk dari kitap pusaka itu. Kemah ini kosong Setelah Siau-liong dan Mawar Putih beristirahat, kawaran imam kecil itu pun segera mengundurkan diri keluar. Mereka hendak melihat jalannya peperangan ke Lembah Semi. Saat itu.... Pada saat Siau-liong sedang asyik melakukan penyaluran tenaga dalam, tiba-tiba ia mendengar suara mendesis tajam melayang ke arahnya. Ia terkejut. Dengan gunakan ilmu Mendengar-suara-membedakan-arah, ia menyambar benda itu. Ah, kiranya bukan senjata rahasia melainkan secarik kertas. Cepat ia loncat melesat keluar. Tetapi kecuali beberapa imam kecil yang tengah menjaga kemah itu, ia tak melihat seorang lain lagi. Terpaksa ia kembali masuk ke dalam kemah. Mawar Putih menyambutnya dengan pandang penuh pertanyaan.... Tetapi Siau-liong tak sempat memberi keterangan. Cepat ia membuka kertas itu. Ah, ternyata tulisan dari gurunya, Tabibsaktijenggot-naga Kangsun Sin-tho. Bunyinya ringkas: Lekas mundur, jangan menyerang. Rencanakan lagi baru bergerak." Siau-liong tertegun. Ia yakin gurunya itu tak mungkin akan

bergurau menggertak dengan ancaman kosong. Jika gurunya 541 menyuruh ia mundur dan jangan lanjutkan penyerbuan, tentulah keadaan tak menguntungkan. Kemungkinan besar suami isteri Iblis penakluk-dunia itu tentu sudah siapkan rencana untuk menghancurkan rombongan Ceng Hi totiang. Ia merasa sulit. Barisan sudah mulai akan menyerang. Bagaimana mungkin diperintahkan mundur dengan seketika. Dan lagi, perintah penarikan mundur itu akan mengakibatkan turunnya semangat para orang gagah. Kemungkinan pula, akan menimbulkan pertikaian diantara sesama kawan sendiri. Pemimpin barisan orang gagah itu adalah Ceng Hi totiang. Dapatkah ia menasehatkan imam tua itu untuk menarik barisannya? Ah.... Lama Siau-liong termangu memandang surat dari gurunya itu. Demikian pun Mawar Putih. Sekonyorg-konyong diluar terdengar suara langkah orang berlari menghampiri. Dan pada lain saat terdengar suara itu bertanya kepada imam kecil penjaga kemah; "Adakah Pendekar Laknat berada di dalam kemah ini?" Cepat Siau-liong melongok keluar. Ah, kiranya yang datang itu adalah Pengemis tertawa Tio-Tay-tong. Dia membawa sebuah bungkusan kecil. Melihat Siau-liong buru-buru pengemis itu berkata, Karena mendapat tugas untuk menyerang Lembah Semi maka pemimpin kami tak dapat datang kemari sendiri dan suruh aku menyerahkan obat ini.... -ia terus menyerahkan bungkusan kecil itu kepada Siauliong. Ia minta maaf kepada Siau-liong karena agak terlambat membawa pulang obat. Hal itu disebabkan karena ada beberapa macam ramuan sukar didapat. 542 Siau-liong menyambuti obat itu seraya mengucap terima kasih.... Tiba-tiba terlintaslah dalam benaknya apa yang harus dikerjakan saat itu. Ah, kemungkinan hal itu akan dapat merobah kekalahan menjadi kemenangan. "Paling sedikit memakan waktu tiga empat jam lagi barulah barisan pohon Bunga itu terbakar habis. Jika dalam waktu yang singkat itu, aku dapat menyelundup ke dalam Lembah Semi untuk membebaskan Jong Leng lojin. Kemungkinan sebelum rombongan orang gagah menyerang ke dalam lembah, aku tentu sudah berhasil meringkus kedua suami isteri durjana itu!" pikirnya. Ya, hanya dengan siasat itulah kiranya ia dapat menyumbangkan tenaga kepada rombongan orang gagah. Karena sedang terbenam dalam renungan, Siau-liong tak mendengar ucapan minta diri dari Pengemis tertawa Tio Taytong. Setelah memasukkan bungkusan surat itu ke dalam pinggangnya. ia berpaling ke arah Mawar Putih, Harap adik

suka menunggu disini, aku hendak mengantarkan obat ini.... Setelah itu barulah kita pulang keseberang laut!" Selesai memberi pesan, Siau-liong terus berputar diri dan pergi. Sudah tentu Mawar Putih terkejut dan buru-buru menghadangnya; Hendak kemana engkau?" "Menyerahkan obat kepada Ti Gong taysu!" Karena tak biasa bohong, maka wajah Siau-liong tersipusipu merah. Untung ia mengenakan kedok muka sehingga tak dapat dilihat Mawar Putih. 543 Bukankah hal itu dapat menyuruh orang lain yang mengantarkan?" Mawar Putih deliki mata kepadanya. Obat ini amat berharga dan sukar dicari. Jika sampai hilang.... Mawar Putih mendengus dingin, Jangan harap engkau dapat mengelabuhi aku. Kalau mau pergi, aku tetap ikut!" Siau-liong terpaksa tak dapat berbuat lain kecuali menghela napas panjang. Terpaksa mengajak dara itu keluar dari kemah dan membeluk kesamping kanan. Oleh karena sudah faham keadaan lembah itu. maka Siau-liong tak ragu-ragu lagi. Saat itu rombongan orang gagah sudah berpusat diluar barisan pohon Bunga yang terletak di belakang Lembah. Penjagaan disepanjang tempat yang dilaluinya, dijaga ketat oleh anak buah partai2 persilatan. Karena lari pesat, tak berapa saat tibalah Siau - liong dimuka jalanan rahasia ke dalam Lembah Semi.... Semak pohon yang menutup mulut jalan, saat itu sudah terbakar habis. Tetapi karena terowongan gua itu rendah sekali, Siau-liong sukar mencari jalan. Siau-liong berputar tubuh tertawa masam, ujarnya, Memang kepergianku ini amat berbahaya sekali tetapi pun amat penting sekali.... Bagaimanapun, aku harus menempuh bahaya itu!" Mawar Putih kerutkan dahi. Tetapi ia menyadari bahwa percuma saja ia akan mencegah pemuda yang keras kepala itu. Maka sengaja ia tertawa, Bukan maksudku hendak mencampuri urusanmu. Tetapi, janganlah engkau meninggalkan aku seorang diri!" 544 Habis berkata dara itu terus menerobos ke dalam terowongan rahasia itu. Karena terowongan itu melalui tempat yang sedang dilanda kebakaran besar. maka terowongan itu pun amat panas sekali. Ditambah pula dengan hawa lembab bercampur bau busuk, setelah berjalan beberapa langkah saja, Mawar Putih rasakan kepalanya pesing, perut mau tumpah. Siau-long tak tahan melihat kelambatan langkah Mawar

Putih. Cepat ia mendahului dimuka. Sambil menutup hidung, ia berjalan bersama dara itu. Terowongan lembab basah dengan air sumber gunung. Tanahnya makin berlumpur sehingga sukar dilalui. Beberapa kali Mawar Putih hampir tergelincir jatuh. Pakaiannya kotor berlumpuran lumpur. Tetapi sedikitpun ia tak mengomel. Dengan tubuh terhuyung-huyung, ia kuatkan diri berjalan disamping Siau-liong. Kurang lebih setengah jam, mereka tiba dimulut Lembah Maut. Tetapi kedaan pintu lembah itu gelap karena ditutup oleh batu besar. Diam-diam Siau-liong menimang. Tempo hari ia menolong Toh Hun-ki dan kawan-kawannya dengan mengambil jalan dari mulut terowongan, tentulah hal itu sudah diketahui oleh Son-beng Ki-su, Iblis penakluk-dunia dan anak buah Lembah Maut. Oleh karena itu maka pintu terowongan ditutup dengan batu.... Dan kalau saat itu gerak geriknya diketahui orang Lembah Semi tentu celakalah. Tak mungkin ia dapat melintasi barisan Tujuh Maut untuk menolong Jong Leng lojin. Setelah merenung beberapa saat, ia membisiki beberapa patah kata ketelinga Mawar Putih. Setelah itu ia kerahkan 545 tenaga dalam lalu mulai mendorong batu penutup pintu terowongan itu. Batu besar berderak-derak bergerak keluar. Selekas batu itu menggelinding keluar, Siau-liong cepat loncat keluar. Ah.... ternyata dugaannya benar. Dua samping pintu terowongan telah dijaga oleh empat orang berpakaian hitam. Mereka terkejut ketika melihat Pendekar Laknat muncul. Siau-hong tak mau membuang waktu. Dengan kedua tangannya ia gunakan jurus, Angin-meniup-daunberhamburan, menyerang keempat penjaga. Tiga orang baju hitam remuk tulangnya. Tanpa dapat menjerit, mereka rubuh binasa. Yang seorang rupanya agak cerdik. Pada saat Siau-liong menghantam ketiga kawannya, ia loncat melarikan diri sembari siapkan panah api untuk memberi tanda kepada markas. Siau-liong terkejut. Jika orang itu sampai dapat melepaskan panah api, tentulah Iblis penakluk-dunia dan rombongan anak buahnya akan menyerbu kesitu. Dengan gerak Harimau-lapar-menerkam-mangsa, ia loncat membayangi orang itu. Sebelum orang itu berhasil meluncurkan panah api, bahunya sudah dapat dicengkeram Siau-liong. Orang itu menjerit ngeri lalu terkulai ke tanah bersama anak panahnya. Siau-liong masih belum puas. Ia tutuk tiga buah jalan darah maut pada tubuh orang itu. Sesaat kemudian ia merasa menyesal juga karena telah membunuh empat jiwa.

546 Saat itu Mawar Putih pun sudah keluar terowongan. Pakaiannya berlumuran lumpur, tubuhnya mandi keringat. Untunglah karena terlindung oleh jajaran gunung, maka Lembah Maut itu tak menderita kebakaran. Hanya saja asap api itu mengerumun penuh dalam lembah, ditambah pula dengan tebaran kabut, lembah itu seolah-olah tertutup oleh lautan asap tebal. Hal itu malah menguntungkan Siau-liong karena jejaknya tentu sukar diketahui orang Lembah Semi. Siau-liong tak mau membuang waktu lagi. Sebelum kebakaran pada barisan pohon bunga itu padam, ia harus sudah dapat membebaskan Jong Leng lojin. Segera ia menggandeng tangan Mawar Putih lalu melintasi lembah yang penuh dengan hutan pohon dan lautan batu2 aneh. Berkat peta dari Jong Leng lojin dan pula tempo hari ia pernah memasuki lembah itu untuk mencari jejak Mawar Putih, maka saat itu ia sudah faham akan keadaan lembah. Tak berapa lama dapat ia mencapai titik jalan yang menghubungkan Lembah Maut dengan barisan Tujuh Maut. Tanpa membuang waktu lagi, Siau-liong terus ajak Mawar Putih menyusup ke dalam terowongan dibawah tanah yang panjang dan dalam itu. Saat itu agaknya Mawar Putih kumat lagi tabiatnya yang manja. Sambil menarik lengan baju Siau-liong ia berseru dengan nada beriba, Engkoh Liong, apakah yang hendak engkau lakukan? Terowongan ini penuh dengan alat jebakau rahasia. Apakah engkau hendak mengantar jiwa?"' Siau-liong berhenti, menghela napas menatap wajah dara itu; Memang kita sedang menempuh bahaya. Tetapi mudahTiraikasih Website http://kangzusi.com/ 547 mudahan langkah kita ini dapat menghentikan pertumpahan darah di dunia persilatan, menyelamatkan beribu jiwa. Tentang alat-alat rahasia yang memenuhi terowongan ini.... Ia berhenti dan tertawa, Kini bagiku, tempat itu tak ubah seperti jalan besar Yang-kwan saja!" Mawar Putih memandangnya dengan heran tetapi tak mau bertanya apa2 lagi. Dara itu sudah percaya penuh kepada Siau-liong. Walaupun tahu bahwa pemuda itu sedang menepuh jalan maut, namun Mawar Putih tetap mengikutinya tanpa ragu2. Siau-liong merabah bungkusan obat yang disimpan dalam pinggang bajunya ia hendak berjalan tetapi berhenti lagi. Teringat ia ketika bertemu dengan Jong Leng lojin, ia tidak menyamar sebagai Pendekar Laknat. Jika saat itu ia masih menyamar sebagai Pendekar Laknat, bukankah akan menimbulkan kecurigaan orang tua itu? Segera ia melepas kedok muka dan pakaian

penyamarannya. Setelah itu baru ia ajak Mawar Putih lanjutkan perjalanan. Saat itu ia tiba didinding batu yang cekung ke dalam. Tetapi apa yang dilihatnya dalam ruang itu, membuatnya terkejut sekali! Ruang itu kosong melompong. Jong Leng lojin lenyap.... Rantai besi yang mengikat kaki orang tua itu kutung menjadi dua dan berhamburan di tanah. Rupanya telah dipapas dengan pedang pusaka yang amat tajam. Disekeliling ruang, tak terdapat djejak yang mencurigakan. 548 Siau-liong menimang. Menilik rantai besi yang putus itu, kemungkinan besar long Leng lo-jin tentu ditolong orang. Tetapi orang tua yang begitu sakti kepandaiannya, pun tak manpu memutuskan rantai borgolannya, lalu siapakah tokoh yang begitu sakti dan memiliki senjata begitu tajam hingga dapat memutuskan rantai borgolan itu? Pikiran Siau-liong melayang lebih jauh. Menurut anggapannya, hanya dua orang yang ada kemungkinan telah menolong Jong Leng lojin. Kesatu, gurunya sendiri ialah Tabib-sakti-jenggot-naga Kongsun Sin-tho. Dan yang lain adalah Randa Bu-san.... Tetapi Siau-liong tetap bersangsi. Karena ditilik dari sudut manapun, kedua tokoh itu tak mungkin dapat mengetahui tempat rahasia itu dan menolong Jong Leng lojin! Ah, lalu siapakah orang itu? Tiba-tiba bulu kuduk Siau-liong meremang tegang. Ia mencemaskan kemungkinan yang ketiga. Jika kedua suami isteri durjana itu dapat memenjarakan Jong Leng lojin disitu, tentulah mereka mampu juga untuk melepaskan orang tua itu. Dan kemungkinan itu memang bukan mustahil. Untuk menghadapi serangan besar-besaran dari rombongan Ceng Hi totiang kemungkinan Iblis-penakluk-dunia hendak menggunakan orang tua itu untuk menghadapi mereka. Menurut perhitungannya saat itu Sudah hampir sejam lamanya barisan pohon Bunga dilanda api. Dua jam lagi, setelah api padam, rombongm Ceng Hi totiang tentu akan menyerbu dan tentulah akan terjadi pertempuran yang dahsyat dan mengerikan! Siau-liong makin gelisah tetapi tak dapat menemukan suatu akal. Akhirnya ia memutuskan, karena sudah memasuki tempat itu, lebih baik ia mengadakan penyelidikan seluasTiraikasih Website http://kangzusi.com/ 549 luasnya. Maka ia segera ajak Mawar Putih lanjutkan perjalanan menyusup terowongan dibawah tanah itu. Pintu keluar dari terowongan itu. sebagian dibuat orang. sebagian memang berasal dari gua alam. Letaknya persis dimuka Barisan Tujuh Maut.

Disebelah muka gua yang menjadi pintu keluar dari terowongan dibawah tanah itu, terbentang sebuah dataran yang ditengahnya terdapat sebuah hutan pohon siong. Pada saat Siau-liong hendak lanjutkan langkah, tiba-tiba dari arah hutan iiu terdengar suara orang tertawa nyaring. Dia tersentak kaget. Tak salah lagi, suara tertawa itu adalah tertawa si Iblispenaklukdunia. Cepat Siau-liong mundur kembali. Tetapi gerumbul pohon dan semak belukar yang mengaling mulut gua itu sedemikian lebatnya hingga ia tak dapat melihat jelas siapa2 yang keluar dari hutan itu. Siau-liong mencari akal. Disebelah kiri gua itu terdapat sebuah batu karang yang menjulang tinggi. Jika bersembunyi disitu tentulah ia dapat melihat keadaan disekeliling penjuru. Adik Mawar, jagalah mulut terowongan ini. Jika musuh muncul, lekas hubungi aku. Aku hendak meninjau keadaan musuh dari atas karang itu!" ia memberi pesan kepada Mawar Puiih lalu merayap ke atas. Setelah mencapai puncak dan memandang ke arah hutan, kejutnya bukan kepalang. Dalam hutan itu tampak berpuluh sosok tubuh manusia, bergerak kian kemari. Ada lelaki ada pula wanitanya. Jumlahnya tak kurang dari seratus orang. 550 Iblis-penakluk-dunia dan Dewi Neraka duduk disebuah tempat yang tinggi. Dibelakangnya dijaga oleh sepuluh gadis baju merah. Iblis itu tengah mencekal sebatang pedang yang berkilau-kilauan cahayanya. Dihadapan iblis Itu tegak berjajar 20 barisan lelaki perempuan yang mengenakan pakaian serba ringkas dan menghunus senjata. Disebelah kanan rombongan orang itu, tampak sebuah kereta tetapi belum dirakit dengan kuda. Dimuka kereta, dua orang baju hilam berdiri disebelah kanan dan kiri. Mereka memegang poros kereta seperti orang yang menarik kereta itu. Selain mengenakan baju hitam, pun kedua orang itu juga membungkus kepalanya dengan kain sampai pada lehernya. Hanya pada kedua matanya yang diberi lubang. Jika pada malam hari, orang tentu mengira mereka adalah setan2 kuburan yang keluyuran keluar. Di belakang kereta dikawal oleh dua buah barisan orang baju hitam. Tetapi kepalanya tidak dibungkus rapat dengan kain hitam melainkan dengan sutera tipis. Setiap barisan terdiri dari lima orang. Kereta itu kosong tiada isinya. Tetapi menurut dugaan, tentulah disediakan untuk Iblis-penakluk-dunia dan Dewi Neraka. Sesungguhnya yang hendak dicari Siau-liong hanyalah Jong Leng lojin. Diawasinya dengan penuh perhatian setiap orang

dan gerak-gerik mereka. Tetapi ia tak melihat kehadiran Jong Leng lojin. Tiba-tiba Siau-liong melihat seorang lelaki baju kelabu berlari-larian dari mulut gunung menuju ketempat Iblis 551 penakluk-dunia. Begitu tiba di tepi hutan, orang itu hentikan larinya lalu menghampiri kehadapan Iblis-penakluk-dunia dan memberi hormat. Melaporkan pada bapak pemimpin, barisan pohon Bunga sudah terbakar separoh bagian. Pagar Singa dan Pagar Harimau, telah diledakkan oleh rombongan Ceng Hi totiang. Kawanan binatang disitu mati hangus semua!" seru orang itu. Iblis-penakluk-dunia bukannya terkeiut, kabalikannya malah tertawa mengekeh, Ah, hal itu memang sudah kuperhitungkan.... -ia melirik ke arah isterinya lalu membentak orang itu, Bagaimana dengan tempat!" Empat penjuru lembah, api sudah padam. Sebagian besar dari anak buah Ceng Hi totiang berkumpul diluar barisan pohon Bunga. Rupanya begitu api padam, mereka tentu akan menyerbu!" jawab orang itu. Iblis-penakluk-dunia mendengus, Hm, aku sudah tahu, pergilah!" Orang itu menjurah lalu angkat kaki. Sambil mengurut jenggotnya yang menjulai sampai kelutut, Iblis-penakluk-dunia gelengkan kepala dan merenung. Beberapa saat kemudian berkatalah ia kepada isterinya, Setelah pertempuran hari ini, lihat saja siapakah tokoh persilatan yang berani menentang aku lagi!" Tolol! Mereka telah kerahkan sejumlah besar tokoh2 persilatan dan mengumumkan hendak meratakan Lembah Semi ini. Adakah engkau mempunyai keyakinan untuk memenangkan mereka?" sahut Dewi Neraka. 552 Iblis-penakluk-dunia tertawa, Sekalipun mereka benar berjumlah puluban ribu orang, aku tetap dapat membereskan mereka.... Kemudian menunjuk pada ke 12 orang baju hitam yang berada dimuka dan belakang Iblis-penakluk-dunia berkata pula dengan beberapa orang itu saja kiranya dapat melayani sepuluh ribu musuh!" Siau-liong terkesikap. Dipandangnya kepada orang baju hitam itu tak bergerak seperti patung. Dewi Neraka mendengus lagi; "Sekalipun nanti akan menang, tetapi bukan berarti tak ada yang perlu dicemaskan lagi.... -ia menatap wajah suaminya lalu melanjutkan, Paderi Kurus dari gunung Thian-san, Manusia Aneh dan Pak-I-ciang, Sepasang imam dari gunung Bu-san, Empat Seram dari gunung Im-san, kelana dari gunung Hong-san, Randa gunung

Bu-san dan masih ada pula Pendekar Laknat.... Iblis perempuan itu tak melanjutkan kata-katanya melainkan hanya menghela napas. Semula Iblis-penakluk-dunia tertegun juga tetapi pada lain saat ia tertawa lepas; Jangan kuatir, isteriku. Berkat kepandaian dan kecerdasan kita berdua, adalah semudah orang membalikkan telapak tangannya jika hendak menguasai dunia persilatan!" Ia lambaikan tangan dan dua orang tua yang masingmasing berumur 50-an tahun segera maju kehadapannya dan menjurah. Beritahukan kepada anak buah kita di belakang barisan panah. begitu api yang membakar barisan pohon bunga itu 553 padam, mereka suruh lepaskan anah panah!" tukas Iblispenaklukdunia. Kemudian kedua orang itu cepat melakukan perintah. tibatiba Iblis-penakluk-dunia berbangkit lalu jalan menghampiri kereta. Siau-liong sedang menumpahkan seluruh perhatian untuk mengawasi gerak gerik Iblis-penakluk-dunia dengan anak buahnya. Sedemikian asyiknya ia mengikuti mereka sehingga tak ingat akan keadaannya sendiri. Tiba-tiba ia mendengar Mawar Putih menjerit kaget. Siau-liong terkejut dan berpaling. Hai.... Mawar Putih yang menjaga dimulut gua tadi, ternyata sudah tak tampak disitu. Adik Mawar! Adik Mawar....!" serunya berbisik. Tetapi tiada penyahutan sama sekali. Cepat Siau-liong meluncur turun dan menghampiri gua. Ternyata apa yang dikuatirkan memang benar. Ketika tiba dimulut gua. sayup2 ia mendengar suara orang tertawa dingin dan pada lain saat muncullah seorang baju merah menyala. Ah.... Poh Ceng-in, nona pemilik Lembah Semi. Mata Siau-liong berkunang-kunang dan hampir jatuh. Tetapi wanita itu malah tertawa mengejek, Merdu sekali engkau memanggilnya. Sayang ia sekarang sudah tak dapat menyahut lagi!" Dada Siau-liong seraya meledak. ingin ia menghancurkannya tetapi dia tahu bahwa hal itu akan membawa akibat pada dirinya sendiri. Terpaksa ia menahan kemarahan dan berseru agak ketus, Engkau apakan dia!" 554 Poh Ceng-in tertawa dingin, Lihatlah sendiri kesini....!" -ia berputar diri dan berseru ke arah terowongan, Suheng, bawalah ia keluar!" Siau-liong buru-buru menghampiri dan memandang ke dalam mulut gua. Dilihatnya Mawar Putih berdiri beberapa

langkah dalam mulut gua tetapi punggung dan mulutnya didekap oleh seorang aneh yang bertubuh amat kurus sekali. Sekurus manusia yang tinggal tulang berbungkus kulit. Dan orang itu bukan lain adalah Soh-beng Ki-su! Marah Siau-liong bukan kepalang. Diam-diam ia kerahkan tenaga dalam dan maju hendak menerjang. Tetapi Soh-beng Ki-su tertawa sinis. Budak, jika engkau berani maju, budak perempuan ini akan kujadikan mayat hidup dengan ilmu tenaga sakti Pekkutkang!" serunya mengancam. Sekalipun Siau-liong mampu menghadapi 10 Soh-beng Kisu, tetapi karena Mawar Putih berada ditangan pertapa itu, terpaksa ia tak berani lanjutkan tindakannya. "Hm, kiranya engkau seorang pemuda hidung belang." seru Poh Ceng-in' siapakah dia?" Karena marahnya, gigi Siau-liong sampai bercaterukan, sahutnya getus, Tak perlu engkau tanya!" jangan lupa, engkau dan aku sehidup semati.... Siau-liong marah dan mengkal. Melirik ke arah rombongan Iblis-penakluk-dunia yang berada dalam hutan, ia membentak wanita itu, Sekali telah kululuskan janji untuk mati bersama setahun nanti, tentu akan kulaksanakan!" 555 Tetapi engkau sudah berjanji dalam setahun ini takkan bergaul dengan perempuan lain!" tukas Poh Ceng-in. Sekali tak dapat berkutik karena ditutuk jalan darahnya oleh Soh-beng Ki-su, tetapi Mawar Putih dapat mendengar pembicaraan Siau-liong dengan wanita baju merah itu dengan jelas. Ia deliki mata kepada Siau-liong lalu meronta sekuat tenaganya untuk melepaskan mulutnya dari dekapan tangan Soh-beng Ki-Su, lalu berteriak, Siau-liong, engkau.... Tetapi belum sempat dara itu berteriak, punggungnya telah ditutuk oleh Soh-beng Ki-su. Hati Siau-liong seperti disayat. Untuk kedua kali ia nekad hendak menerjang lagi. Tetapi dibentak Poh Ceng-in, Diam!" Dengan mata berkilat buas, Soh-beng Ki-su lekatkan tangan kiri kepunggung Mawar Putih, sedang tangan kanan ditebarkan mencengkeram dada dara itu. Rupanya ia hendak melaksanakan rencana ganas. Siau-liong menghela napas dan palingkan muka. Terdengar Poh Ceng-in tertawa dingin, berkata kepada Soh-beng Ki-su, Suheng, bawalah pergi budak perempuan itu....!" -kemudian menuding Siau-liong ia berseru, Dia mempunyai peta terperinci dari keadaan Lembah Semi. Engkau harus mencari tempat lain yang sukar dicari." Soh-beng Ki-su kerutkan dahi, ujarnya, Budak itu hebat sekali, sumoay engkau.... Poh Ceng-in tertawa mengekeh, Tak peduli dia bagaimana saktinya tetapi tak mungkia dia berani membunuh diriku. dan

tak mungkin akan membunuhku," 556 Soh-beng Ki-su tertawa menyeringai. Memanggul Mawar Putih, ia terus menyusup ke dalam terowongan. Dapat dibayangkan betapa perih dan pedih hati Siau-liong melihat Mawar Putih dibawa Soh-beng Ki-su tanpa ia mampu memberi pertolongan. Darahnya bergolak keras, hingga hampir saja ia pingsan. Setelah Soh-beng Ki-su pergi, barulah Poh Ceng-in menghampiri kemuka Siau-liong, katanya, Yang salah adalah engkau sendiri, jangan sesalkan aku berhati kejam.... kini hanya tinggal dua pilihan.... Siau-liong memandang lekat kewajah wanita pemilik lembah itu tetapi tak berkata apa2. Dipandang begitu rupa oleh Siau-liong, bingung juga wanita itu. Ia tak tahu apa yang sedang dipikirkan pemuda itu. Jika engkau mau segera menjadi suami isteri dengan aku, akan kubiarkan engkau sendiri yang melepaskan budak perempuan iiu. Kalau tidak, kita bertiga akan segera mati bersama!" Siau-liong tak mengacuhkan kata2 wanita itu. Ia tetap tegak termangu-mangu memandangnya. Tiba-tiba wajahnya berobah. Apakah benar racun Jong-tok yang engkau berikan kepadaku itu tiada obatnya lagi?" tanyanya. Tidak ada!" sahut Poh Ceng-in," sekalipun engkau makan obat dewa, juga tak berguna!" Dengan wajah beku, Siau-liong maju selangkah, serunya dengan nada sarat, Jika aku tak tahan lagi dan memukulmu 557 mati, lalu kuminum darahmu atau menggunakan darah anjing hitam mulus untuk pengantar, mengorek hatimu lalu kumakan, entah bagaimanakah akibatnya?" Seketika pucatlah wajah Poh Ceng-in sehingga ia teihuyung-huyung mundur dan berseru dengan nada gemetar, Engkau dengar dari siapa cara itu.... oh, engkau kejam sekali.... engkau hendak membunuh aku agar dapat menolong budak perempuan itu lalu engkau menikah dengannya, engkau.... Siau-liong menghela napas. Sayang, aku tak berhati buas seperti engkau. Mungkin sukar melakukan hal semacam itu, Hanya.... Siau-liong berhenti sejenak, sekali gerak cepat ia menutuk jalan darah dibahu kanan Poh Ceng-in. Tepat pada saat itu, dari bejauhan tampak tiga larik sinar api yang cepat sekali mendekati. Dan dari arah hutan terdengarlah Iblis-penakluk-dunia berteriak keras dan serempak terdengarlah suara kereta berjalan berderak-derak.

Kereta yang dikawal oleh barisan orang hitam itu segera berjalan menuju keluar mulut gunung. Siau-liong terkejut. Diperhitungkannya saat itu api yang membakar barisan pohon Bunga masih sejam lamanya. Tetapi mengapa anak buah Lembah Semi sudah memberi pertandaan lebih dulu. Tetapi dia tak sempat berpikir lagi. Sambil mencengkeram bahu Poh Ceng-in, ia segera menyusup ke dalam terowongan. 558 Sekalipun ia faham akan jalan terowongan dan berjalan secepat lari, tetapi ia harus menggunakan waktu setengah jam juga baru dapat menyusur keluar dari terowongan. Selekas keluar, cepat ia lari ke arah barisan pohon Bunga. Sayup2 ia mendengar suara jeritan ngeri dari suatu pertempuran dahsyat. Memandang kemuka, tampak barisan pohon Bunga yang penuh asap tebal itu diserbu oleb berpuluh-puluh sosok tubuh manusia. Siau-liong arahkan larinya kesana. Tiba-tiba beberapa belas orang bersenjata, menghadang jalan. Mereka terdiri dari kaum imam dan orang biasa Kepalanya seorang imam mencekal sebatang golok kwat-to, tanpa berkata apa2 terus menyerang Siau-liong. Siau-liong terkejut dan cepat loncat kesamping seraya membentak, Hai, apakah tak kenal padaku!" Tebasannya luput, imam itu maju membabat pinggang Siau-liong seraya menghardik, Budak keparat, aku tak kenal padamu!" Melihat pemimpinnya menyerang, anak buahnya pun segera ikut menyerang Siau-liong. Siau-liong terkejut. Saat itu baru ia teringat kalau tak menyamar sebagai Pendekar Laknat. Apa boleh buat, terpaksa ia harus menghadapi mereka. Sambil menyikap Poh Ceng -in dibawah ketiak, Siau-liong tak mau balas menyerang, melainkan berloncatan menghindar serangan mereka. 559 Sambil menghindar, berulang kali ia berteriak, Berhenti dulu! Aku membawa Surat Jalan dari Ceng Hi totiang!" Mendengar itu, imam yang menjadi pemimpin rombongan penghadang itu segera membentaknya, Kalau membawa surat jalan, mengapa dari tadi tak lekas mengeluarkan!" Rombongan penyerang itupun hentikan serangannya. Namun masih mengepung Siau-liong. Pemuda itu buru-buru merogoh bajunya. Tetapi yang diketemukan hanya peta pemberian Jong Leng lojin. Buru-buru ia masukan lagi. Lalu merogoh saku. Tetapi yang diketemukan hanyalah beberapa butir pil pemberian Poh Ceng-in.

Sudah tentu Siau-liong gugup tak keruan. Kemanakah gerangan perginya Surat Jalan itu? Merenung sejenak, barulah ia teringat kalau Surat Jalan itu disimpannya dalam baju Pendekar Laknat. Tetapi baju Pendekar Laknat itu sudah dilipat dan dililitkan pada pinggang. Jika mengambil dan membuka pakaian itu tentulah diketahui orang. Berarti juga, rahasianya tentu bocor. Ah.... Siau-liong benar-benar bingung. Apalagi saat itu di dalam barisan pohon Bunga sudah berlangsung pertempuran dahsyat. Jika rombongan Ceng Hi totiang sampai menderita kekalahan, bukankah ia ikut bertanggung jawab karena tak dapat membantu mereka? Dari partai manakah suhu ini?" segera ia bertanya kepada imam itu. Imam bersenjata golok kwat-to mendengus dingin, Akulah yang seharusnya bertanya begitu kepadamu!" Siau-liong paksakan tertawa, Aku bernama Kongsun Liong, juga hendak membantu gerakan Ceng Hi totiang untuk 560 membasmi kedua suami isteri durjana itu. Tentang Surat Jalan.... mungkin karena terburu-buru, telah hilang dijalan!" Ternyata imam itu tak pernah mendengar nama Kongsun Liong. Dengan mata berkilat-kilat ia membentak, Jangan coba mengelabuhi orang! Ceng Hi totiang sudah mengeluarkan perintah. Barang siapa yang tak membawa Surat Jalan, harus diperlakukan sama seperti anak buah Lembah Semi.... Kemudian mata imam itu memandang ke arah Poh Ceng-in Ialu berkata, Jika engkau masih ingin hidup, beritahukan siapa dirimu sebenarnya!" Pada saat Siau-liong mencari Surat Jalan tadi, terpaksa ia letakkan tubuh Poh Ceng-in di tanah. Belasan orang yang mengepungnya itu segera lekatkan ujung pedang keseluruh jalan darah disekujur tubuh kedua anak muda itu. Semula hal itu tak diacuhkan Siau-liong. Pikirnya, begitu mengambil keluar Surat Jalan, segalanya tentu beres. Tak kira kalau Surat Jalan itu disimpan dalam baju Pendekar Laknat. Dalam gugup terpaksa ia berseru nyaring, Aku adalah murid pewaris dari Pengemis Tengkorak Song Thai-kun dan kini diangkat menjadi ketua Kay-pang. Jika taysu tak percaya silahkan suruh memanggil murid Kay-pang untuk dipadu!" Imam itu tertawa memanjang. Kemudian bertanya kepada rombongan, Adakah salah seorang dan saudara yang kenal akan Cousu-ya bayi ini. Sekalian orang tertawa gelak2; "Jangan dengarkan ocehannya! Anak umur 3 tahun pun takkan percaya!" Tuh dengarlah! Jangan lagi tiada seorang pun yang percaya omonganmu. Sekalipun ada yang percaya. pun sukar untuk mencari anak murid Kay-pang yang saat ini sedang ikut

561 Ceng Hi totiang menyerbu ke dalam Lembah Semi.... imam itu berhenti sejenak lalu berkata pula, Terpaksa engkau harus kita tahan. Nanti setelah Lembah Semi beres, dan ternyata engkau memang bukan anak buah Iblis penakluk-dunia, barulah dapat kami lepaskan." Ikat dia dan perempuan baju merah lalu bawa ke markas depan!" imam itu memberi perintah. Selagi imam itu bicara, diam-diam Siau-liong mencari lirik kesekeliling penjuru. Dilihatnya pada setiap puncak pohon dan belakang batu terdapat orang yang siap dengan senjata panah. Diam-diam ia memuji akan kelihayan Ceng Hi totiang mengatur barisan untuk mengepung musuh. Bukannya ia takut akan balasan orang yang mengepungnya itu tetapi ia menyadari bahwa dalam pertempuran, tentu ada korban yang jatuh. Disamping itu sukar dicegah kemungkinan Poh Ceng-in akan terluka bahkan bisa mati. Kalau wanita itu mati, bukankah ia juga akan ikut mati.... Siau-liong termenung gelisah. Tiba-tiba seorang paderi berkepala dan telinga besar, menutuk dada Siau-liong. Ia yakin karena Siau-liong sudah tak berdaya, tentu mudah untuk ditutuk jalan darahnya. Tetapi alangkah kejutnya ketika belum lagi jarinya menyentuh dada Siau-liong, paderi itu sudah menjerit ngeri dan terhuyung-huyung mundur lima enam langkah. la rasakan jarinya seperti terbakar api panas. Kawan-kawannya tersentak kaget. Tetapi karena peristiwa itu berlangsung cepat dan mendadak sekali, mereka tak tahu apa sebab paderi itu sampai pontang panting begitu macam! 562 Imam yang menjadi kepala rombongan pun tak tahu peristiwa itu. Tetapi ia seorang yang banyak pengalaman. Ia duga Siau-liong tentu memiliki kepandaian tinggi. Maka cepat ia memberi perintah untuk menyerang pemuda itu. Bahkan dia sudah mendahului untuk menebas dengan goloknya. Melihat sikap keras kepala dari rombongan itu, terpaksa Siau-liong melayani juga. Sebelumnya ia memang sudah menjaga setiap kemungkinan. Setelah mengundurkan paderi tadi, diam-diam ia salurkan tenaga sakti Bu-kek-sin-kang ketangannya. Begitu belasan orang itu menyerbu, ia pun cepat tamparkan kedua tangannya. Pemimpin dan anggauta rombongan itu memang tak memandang mata kepada Siau -iong. Tetapi alangkah kejut mereka ketika tamparan tangan pemuda itu menghamburkan tenaga dahsyat yang panas. Beberapa jeritan ngeri terdengar dan empat orang telah terlempar menyusur tanah.... Untunglah rombongan pengroyok itu tak punya akal untuk menyerang Poh Ceng-in yang menggeletak di tanah. Andaikata mereka bertindak begitu, tentu Siau-liong sudah

mati kutu. Setelah berhasil mengacau-balaukan musuh, dengan menggembor keras, Siau-liong menyambar tubuh Poh Cengin. Rencananya hendak dibawa lari menerjaug mereka. Tetapi pada saat itu, serangkum angin tajam menyambar punggunguya. Terpaksa ia lepaskan tubuh Poh Ceng-in dan terus berputar diri untuk menghalau penyerangnya. Imam kepala rombongan itu ternyata memang hebat. Walaupun sudah dipukul mundur oleh Siau-liong, tetapi ia tetap maju menyerang lagi. 563 Siau-liong mendongkol sekali. Setelah mendoroog golok kesisih, dengan kerahkan tenaga-sakti Bu-kek-sin-kang ia hendak menghantamnya. Imam itu ternyata murid dari Go-bi-pay. Walaupun kepandaiannya tak lemah tetapi tak mungkin ia dapat menerima pukulan Bu-kek-sin-kang. Dia pasti hancur binasa apabila Siau-liong gerakkan tangannya. Pada saat Siau-liong sudah hendak ayunkan tangannya, tiba-tiba terdengar suara orang membentak, Berhenti." Nada orang itu amat berwibawa. Apalagi Siau-liong memang tak bermaksud hendak melukai orang. Maka cepat2 ia menarik kembali pukulannya. Ketika sekalian orang mencari siapa yang berseru itu tibatiba dari puncak sebatang pohon, melayang turun sesosok tubuh yang kurus. Begitu kurus sehingga seperti daun yang melayang ke tanah. Pada saat tiba di tanah barulah dapat diketahui bahwa orang itu ternyata seorang paderi bertubuh kurus kering. Boleh dikata hanya sesosok kerangka tulang terbungkus kulit.... Tetapi sepasang matanya memancarkan sinar berapiapi, mengandung perbawa yang memaksa orang menaruh keseganan. Ah.... imam pemimpin rombongan tadi mendesus pelahan dan buru-buru merangkap kedua tangan, menyebut "Omitohud" lalu memberi hormat kepada paderi kurus itu dengan khidmat, Murid Li Hun menghaturkan hormat atas kehadiran Seng-ceng!" Paderi kurus itu tersenyum; Telah kupesatkan jalanku tetapi tetap terlambat sedikit.... 564 Sambil memandang ke arah barisan pohon Bunga, ia bertanya pula: ,,Apakah pertempuran sudah berjalan lama?" Imam kepala rombongan yang menyebut namanya Li Hun itu buru-buru menyahut, Baru beberapa saat saja." Paderi tua kurus itu mengangguk lalu memandang Siauliong dan Poh Ceng-in yang menggeletak di tanah. Tampak wajahnya mengerut cemas.

Buru-buru Li Hun melangkah kehadapan paderi tua kurus itu, katanya, Budak ini telah keluar dari Lembah Semi sambil membawa wanita baju merah itu. Enlah apa maksudnya. Tetapi jelas tentu anak buah Iblis-penakluk-dunia. Murid telah mendapat perintah dari Ceng Hi totiang supaya mengatakan tempat ini, karena itu.... "Biarlah kutanyainya," tukas paderi kurus itu. Li Hun mengiakan, lalu memberi isyarat supaya rombongan yang mengepung itu mundur. Siau-liong tertegun memandang paderi kurus itu. Diamdiam ia heran mengapa imam tadi begitu menghormat sekali kepada paderi itu. Pula cara paderi itu muncul memang menunjukan seorang yang sakti. Dan mendengar penibicaraan mereka tadi, rupanya paderi kurus itu datang dari jauh. Siau-liong tak tahu siapa paderi kurus itu. Pikirnya, lebih baik ia tinggalkan tempat itu saja agar jangan terlambat waktunya. Maka ia mundur dua langkah dan hendak mengangkat tubuh Poh Ceng-in. "Ah, jangan begitu tegang," tiba-tiba paderi kurus itu berseru dengan tersenyum; "sekalipun engkau berada satu 565 tombak jauhnya dari tempatku, tetapi rasanya sukar kalau engkau hendak meloloskan diri.... Nadanya angkuh, jelas tak memandang mata pada Siauliong. Siau-liong tertegun dan terpaksa batalkan rencananya. Kenalkah engkau padaku?" tegur paderi kurus itu pula. Siau-liong tak kenal siapa paderi itu. Tetapi menilik dia datang hendak membantu rombongan Ceng Hi totiang, ia duga paderi itu tentu Seorang cianpwe dari sebuah partai persilatan. Maka cepat ia memberi hormat. menjawab, Justeru aku hendak mohon tanya gelaran mulia dari losiansu." "Aku Liau Hoan, selama ini mengasingkan diri digunung Thian-san.... kata paderi itu dengan nada yang penuh welas asih, "memang tak dapat dipersalahkan kalau engkau tak kenal padaku, Menurut perhitungan, aku sudah 40 tahun tak pernah menginjak dunia persilatan lagi. Dan umurmu itu tentu belum seberapa.... Siau-liong terkesiap. Sudah berulang kali ia mendengar orang mengatakan tentang paderi Liau Hoan dari gunung Thian-san itu. Setitik pun ia tak kira bahwa paderi yang termasyhur itu ternyata paderi bertubuh kurus yang berdiri dihadapannya saat itu. Ah, gelar Paderi Kurus yang diberikan kepadanya, ternyata memang tak salah. Beberapa saat Siau-liong tertegun gelisah. Suara teriak jeritan dari barisan pohon Bunga, makin lama makin keras dan gencar. Walaupun belum mengetahui siapa yang menang, tetapi ia tetap teringat akan surat peringatan yang diberikan Kongsun Sin-tho itu.... Jika berlangsung makin lama, akibatnya tentu makin runyam.

566 Ia pikir, paderi kurus Liau Hoan itu tentu akan percaya akan keterangan imam Li Hun, yang mengatakan dirinya (Siau-liong) seorang-anak buah Iblis-penakluk-dunia. Ah, jika ia menempur paderi kurus itu, tentu akan memakan waktu dan tenaga. Dan kemungkinan bahkan akan menderita luka. Usiamu masih muda dan wajahmu juga tak sembarangan tetapi mengapa rela menjadi kaki tangan kedua suami isteri durjana itu?" tegur paderi Liau Hoan. Buru-buru Siau-liong membantah, Hal itu sama sekali tidak benar, aku.... Bukankah engkau habis keluar dari Lembah Semi?" cepat paderi itu menukas. Terpaksa Siau-liong menyahut, Benar, tetapi.... Sambil kebutkan lengan jubahnya. Liau Hoan berkata, Sudahlah, tak perlu membantah.... Kemudian menunjuk pada Poh Ceng-in yang menggeletak di tanah, paderi itu berkata pula, Apakah wanita itu engkau bawa dari Lembah Semi?" "Benar, tetapi.... Wajah Liau Hoan mengerut gelap, bentaknya, Apakah hidupku begini tua hanya hidup perc-ma saja! Apakah perlu engkau jelaskan baru aku dapat mengetahui keadaan yang sebenarnya....?" Mau tak mau Siau-liong mendidih juga darahnya karena di bentak2 itu. ia pun menyahut dengan suara lantang, Jika tak kuterangkan. bagaimana lo-siansu dapat mengetahui persoalannya yang berliku-liku itu.... 567 Tutup mulutmu!" bentak Liau Hoan marah. Lengan jubah paderi itu diangkat ke atas, seperti hendak menyerang. Sudah tentu Siau-liong terkejut dan buru-buru bersiap-siap. Tiba-tiba Liau Hoau tertawa; Anak muda, engkau murid Iblis-penakluk-dunia atau bukan, tetapi aku akan memberimu kesempatan untuk menyerang aku sampai 30 jurus. Jika dalam 30 jurus itu engkau sanggup mengundurkan aku satu langkah saja, aku segera tinggalkan tempat ini!" seru paderi kurus itu. Siau-liong tertawa dingin, Kaki dan tangan tak bermata. Jika berkelahi tentu takkan terhindari dari hal2 yang menimbulkan derita luka!" Dalam 30 jurus aku takkan balas menyerang! Silahkan engkau menyerang sesukamu saja!" bentak paderi itu. Siau-liong anggap paderi kurus itu juga manusia yang membawa kemauan sendiri dan angkuh sekali. Diam-diam ia menimang, Jangan lagi 3o jurus, dalam 3 jurus saja jika tak mampu mengudurkan engkau, aku pun takkan muncul dalam dunia persilatan lagi!"

Maka menyahutlah ia dengan lantang, Karena lo-cianpyye yang memerintah, akupun terpaksa menurut saja. Silahkan locianpwe bersiap!" Habis berkata ia terus mengangkat tangan kanan lalu ditamparkan dengan jurus. Menurut-aliran-air-mendorongsampan, kedada Liau Hoan. 568 Paderi itu tegak diam. Sepasang tangan dirangkapkan kemuka dada. Tiba-tiba serangkum suara lembut seperti kapas memancar dari tangannya, menghapus tenaga pukulan Siauliong, seraya tertawa hambar. Pukulan semacam itu, banyak terdapat dipasar persilatan!" Siau-liong tak mau menyahut melainkan lepaskan lagi sebuah pukulan Tay-lo-kim-kang ke arah kepala paderi itu. Liau Hoan agak terkejut. Cepat ia dorongkan kedua tangannya kesamping untuk 'menarik' tenaga pukulan Siauliong kesamping. Kedua bahunya pun ikut condong kesamping tetapi secepat itu berayun kemuka lagi. Sepasang kakinya tetap tak berkisar sedikitpun jua. Tetapi mau tak mau wajah paderi itu berobah, kaget, serunya, Pukulan Thay-siang-ciang! Adakah engkau benarbenar.... Tetapi tiba-tiba ia hentikan kata2nya dan berganti dengan sebuah bentakan yang bengis Masih ada 28 jurus, lekas teruskan seranganmu!" Diam-diam Siau-liong terkesiap dalam hati. Apa yang disohorkan orang ternyata benar. Kepandaian Liau Hoan memang hebat sekali. Sekali lawan bergerak, segera ia dapat mengetahui nama jurus dan alirannya. Semula Siau-liong mengira dalam 3 jurus,ia tentu dapat mengalahkan paderi itu dengan pukulan Thay-siang-ciang yang dilambari tenaga sakti Bu-kek-sin-kang. Tetapi apa yang disaksikan, benar-benar membuatnya termangu-mangu. Rupanya Liau Hoan tak sabar, ia membentak dengan nyaring; Lekas serang!" 569 Sejenak merenung, Siau-liong tiba-tiba lempangkan tangan kanan mendorong lurus kemuka. Gerakan itu memang aneh. Meninju bukan, tamparan pun bukan. Dan lagi gerakannya amat pelahan sekali. Liau Hoan kerutkan alis. Sesaat ia tak tahu jurus apakah yang sedang dimainkan anak muda itu. Ternyata jurus yang digunakan Siau-liong itu disebut Sebatang-tonggak-menyanggah-langit. Salah sebuah jurus dari apa yang disebut Satu pukulan-Tiga tamparan-Empat tutukan. ialah pelajaran yang termasuk dalam kitap pusaka Thian-kong-sin-kang. Jurus itu mengandung perobahan yang rumit sekali. Oleh karena Siau-liong baru saja satu kali melatih pelajaran itu dan

tak memiliki latihan dasar dari tenaga dalam Thian-kong-sinkang. maka ia tak dapat menggunakannya dengan tepat. Namun karena Liau Hoan sudah berjanji tak balas menyerang, maka timbullah keinginan Siau-liong untuk mencoba pelajaran itu. Maka tanpa menghiraukan adakah latihannya sudah sesuai atau belum, ia segera menggunakan jurus itu. Sambil lepaskan pukulan, diam-diam Siau-liong menumpahkan pikirannya untuk menghafalkan gerak perobahan selanjutnya. Oleh karena itu maka gerakannyapun dilakukan dengan pelahan. Liau Hoan kaget dan meragu. Pukulan Siau-liong dengan ilmu Thay-siang-ciang tadi, sudah membuatnya tak berani memandang rendah pada anak muda itu lagi. 570 Sepintas pandang pukulan anak itu memang tak berharga dan lambat sekali. Tetapi anehnya, Liau Hoan benar-benar tak tahu ilmu apakah pukulan Siau-liong itu. Maka ia terpaksa diam-diam kerahkan semangat dan tenaga dalam untuk bersiap-siap. Pada saat tangan Siau-liong mendorong lurus sekonyongkonyong ia menggembor keras dan tiba-tiba tangan anak itu bergerak cepat sekali. Tahu2 dada Liau Hoan termakan tinju.... Hai....!" mulut paderi kurus itu menjerit aneh dan tubuhnya menyurut mundur selangkah. Imam Li Hun dan anak buahnya terkejut menyaksikan peritiwa itu. Mereka terkesiap memandang Siau-liong. Liau Hoan tak menderita luka berat. Ia menatap Siau-liong sambil mengusap keningnya lalu tundukkan kepala merenung. Siau-liong sendiri juga termangu-mangu. Ia tak menyangka bahwa pelajaran yang masih setengah matang itu ternyata mempunyai perbawa yang sedemikian hebatnya. Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras. Siau-liong terkejut. Memandang ke arah barisan pohon Bunga. ternyata tempat itu penuh dengan gulung asap tebal yang membubung ke udara. Suara itu tentulah berasal dari gerakan rombongan Ceng Hi totiang yang tengah meledakkan semua alat rahasia dan rintangan dalam lembah. Tetapi alangkah kejutnya ketika berpaling, ternyata Poh Ceng-in yang menggeletak di tanah tadi sudah lenyap. Dilihatnya imam Li Hun dan anak buahnya sedang memandang dirinya seraya pelahan-lahan menyurut mundur. 571 Segera ia menduga, tentulah mereka yang melarikan Poh Ceng-in. Kemudian mata Siau-liong beralih memandang ke arah barisan pohon Bunga. Tanpa banyak pikir lagi, ia terus

gunakan gerak loncat Naga-berputar-18-kali, melesat ke arah barisan pohon Bunga. Setelah merenung beberapa saat, tiba-tiba Liau Hoan tersadar dan berseru pelahan, Thian-kong-sin-kang! Tentulah ilmu sakti Thian-kong-sin-kang....!" Memandang ke muka, ternyata Siau liong sudah lari. Paderi itu menggembor keras lalu loncat mengejar. Gerak Naga-berputar-18-lingkaran dari Siau-liong telah mencapai tataran yang tinggi. Dalam dua gerak loncatan saja, ia sudah mencapai belasan tombak jauhnya. Ketika masih melayang di udara, tiba-tiba ia memperoleh akal. Cepat ia meluncur ke arah sebuah semak yang tinggi, terus berganti pakaian sebagai Pendekar Laknat. Tepat pada saat ia selesai menyamar sebagai Pendekar Laknat, paderi Liau Hoan pun tiba. Bagaikan seorang gila, paderi itu memandang ke sekeliling penjuru seraya tak hentihentinya mengingau seorang diri, Thian-kong sin-kang! Tentulah ilmu sakti Thian-kong-sin-kang....!" Paderi itu melihat juga pada Siau-liong. Tetapi karena saat itu Siau-liong sudah berganti dandanan sebagai Pendekar Laknat maka Liau Hoan hanya memandangnya dengan tawar terus menyusup ke dalam gerumbul untuk mencari pemuda tadi. 572 Siau-liong tertawa dingin. Dia tak mau menghiraukan paderi kurus itu melainkan terus melesat ke arah barisan pohon Bunga. Dalam sekejab mata ia sudah berada di tengah puing barisan pohon Bunga. Saat itu suara teriakan, tidaklah sengeri tadi. Dan yang tampak hanya berpuluh-puluh jago silat tengah lari kian kemari. Entah apa yang terjadi dengan pertempuran di sebelah muka. Juga kereta yang dinaiki Iblis-penakluk-dunia dan Dewi Neraka tak tampak bayangannya. Siau-liong menerjang di antara orang2 itu, melintas ke muka Karena sudah menerima penerangan dari Ceng Hi totiang, maka rombongan jago2 silat itu sama menyisih untuk memberi jalan kepada Pendekar Laknat. Tampak ketua Siau-lim-si Ti Gong taysu dengan 20-an paderi lari menghampiri. Ketua Siau-lim-si itu agak tertegun ketika melihat Pendekar Laknat Siau-liong. Buru-buru ia memberi hormat dan berseru nyaring, Pendekar Laknak.... "Di mana Ceng Hi totiang dan rombongannya?" seru Siauliong tegang. Sambil menunjuk ke arah lembah, ketua Siau lim-si itu berseru, Masih memimpin rombongan orang gagah bertempur dengan kedua, durjana. Tetapi gelagatnya tidak menguntungkan fihak kita, kedatangan saudara sungguh kebetulan sekali.... berhenti sejenak ketua Siau-lim-si itu berkata pula, Tadi menerima laporan bahwa ada kaki tangan

musuh yang keluar dari terowongan rahasia. Maka aku mendapat perintah untuk menangkapnya!" Habis berkata, ia memberi salam terus lanjutkan perjalanan lagi. 573 "Ti Gong taysu....!" cepat Siau-liong maju selangkah meneriakinya. Ketua Siau-lim-si itu berhenti dan berpaling, Saudara mempunyai keperluan apa?" Sejak ditolong dari Lembah Maut, ketua Siau-lim-si itu bersikap baik kepada Pendekar Laknat. "Cousu-ya dari Kay-pang yakni Kongsun Liong seorang diri menyelundup ke dalam Lembah Semi dan berhasil menangkap seorang wanita siluman baju merah, tetapi.... ditatapnya wajah paderi itu lalu berkata pula, Kabarnya pada waktu dia ke luar dari Lembah, telah salah faham dengan beberapa rombongan paderi yang bertugas disitu. Wanita baju merah itu disembunyikan oleh rombongan paderi.... ah, wanita baju merah itu penting sekali. Dapatkah aku minta tolong pada taysu untuk memintakan wanita baju merah itu dan serahkan padaku? " Ti Gong menatap wajah Siau-liong, tanyanya, Entah rombongan paderi dari fihak manakah yang menawan wanita itu? Dan lalu kemana saja perginya ketua Kay pang itu?" "Yang kuketahui nama dari kepala rombongan itu adalah paderi Li Hun!" Tay Gong merenung sejenak lalu berkata, Li Hun adalah paderi Go-bi-pay! Baiklah, permintaan saudara pasti akan kulaksanakan.... habis berkata ketua Siau-lim-si itu terus bergegas melangkah pergi dengan rombongannya. Siau-lim-si pun lanjutkan langkahnya ke arah lembah. Barisan pohon Bunga yang lebat, kini hanya tinggal tumpukan puing yang asapnya masih bergulung-gulung tebal, Di sana sini bertebaran mayat manusia dengan tubuh yang 574 mengerikan dan terbakar. Dan mayat berhamburan kemanamana. Menilik keadaannya, pertempuran itu belum berselang berapa lama. Pekik jeritan tak terdengar lagi. Binatang2 buas dan ular beracun serta alat-alat perangkap rahasia dari Lembah Semi, boleh dikata sudah hancur berantakan. Tetapi Ceng Hi totiang pun harus membayar mahal dengan korban2 rombongan orang gagah yang banyak berjatuhan. untuk penghancuran itu. Saat itu menjelang petang hari. Rombongan Ceng Hi totiang tengah menggempur pertahanan di belakang lembah yang dijaga oleh suami isteri Iblis-penakluk-dunia. Masuk dari jalan yang dipertahankan Iblis-penakluk-dunia

itu, akan mencapai pusat lembah. Bangunan betingkat dari lembah itu, tampak menjulang jauh dimuka. Siau-liong maju lagi. Dilihatnya Ceng Hi to-tiang sedang memimpin rombongan untuk menyerbu pos jalanan itu. Jalan itu berbentuk seperti sebuah pintu dari sebuah kota. Tetapi terbuat dari pada batu alam. Hanya cukup dilewati beberapa orang. Dari tempatnya, Siau-liong dapat melihat bahwa di dalam jalan mulut jalan itu, Iblis-penakluk-dunia dan rombongannya tak kelihatan. Rupanya mereka sudah mengundurkan diri. Keadaan didepan mata sudah jelas. Ceng Hi totiang dan rombongannya sudah bertekad untuk membobolkan setiap rintangan. Jika dapat, membasmi kedua suami isteri durjana. Jika gagal, sekurang-kurangnya dapat menghancurkan sarang Lembah Semi. 575 Teringat akan surat peringatan dari gurunya (tabib sakti Kongsun Sin-tho),makin gelisah. Tetapi jika menasehati Ceng Hi totiang supaya menarik mundur rombongannya, jelas tak mungkin. Ceng Hi totiang segera mendapat laporan tentang kedatangan Pendekar Laknat. Cepat tokoh tua itu menyambutnya; Ah, kedatangan saudara sungguh kebetulan sekali.... Memandang kemuka, Siau-liong dapatkan Ceng Hi totiang dikawal oleh berpuluh orang, paderi, imam dan beberapa tokoh2 persilatan segala aliran. Antara lain Toh Hun-ki dan keempat Su-lo dari Kong-tong-pay, ketua Kay-pang To Kiukong serta kepala Rimba Hijau daerah selatan yakni setinggi besar Lu Bu-ki. Dan masih ada lain-lainnya yang Siau-liong tak kenal. Atas penyambutan Ceng Hi totiang. buru-buru Siau-liong balas memberi hormat; "Karena ada sedikit urusan maka sampai terlambat datang, maaf, maaf.... Diam-diam Siau-liong heran. Kalau Ceng Hi totiang dan rombongannya sudah memutuskan untuk menyerbu lembah, mengapa mereka masih berada dimulut jalanan yang tiada dijaga musuh situ?. Menurut peta dari Jong Leng lojin, pada mulut jalanan itu tak terdapat alat-alat rahasia yang berbahaya. Karena alat-alat dan perkakas2 rahasia itu kebanyakan dipasang dalam barisan Tujuh Maut. Jika Iblis-penakluk-dunia tak mau bertempur mati-matian dengan rombongan Ceng Hi, terang mereka tentu akan mengundurkan diri kebarisan Tujuh Maut. Rupanya mereka 576 hendak menggunakan alat-alat jebakan dan perkakas2 maut untuk menghancurkan rombongan orang gagah.

Toh Hun-ki maju menghampiri untuk memperkenalkan tokoh2 yang hadir disitu kepada Pendekar Laknat. Ternyata mereka kebanyakan pada 20 tahun yang lalu pernah melihat Pendekar Laknat. Diam-diam mereka heran dan kagum atas perobahan tingkah laku Pendekar Laknat sekarang. Sungguh seperti langit dengan bumi beda Pendekar Laknat sekarang dengan 20 tahun yang lalu! Agar penyamarannya tak diketabui, terpaksa Siau-liong bersikap sedapat mungkin untuk melayani mereka. Setelah itu cepat2 ia alihkan perhatian kesekeliling penjuru dan bertanya kepada Toh Hun-ki, Iblis itu sudah mundur, mengapa kalian tak menyerbu ke dalam lembah?" Toh Hun-ki menghela napas pelahan, sahutnya, Jika hanya Iblis-penakluk-dunia dan anak buahnya, tentu mudah dihancurkan. Paling tidak tentu terulang seperti peristiwa 20 tahun yang lalu, yang mengusirnya dari wilayah Tiong-goan, tetapi tak kira.... Belum habis ia berkata, tiba-tiba dari dalam mulut jalanan, terdengar sebuah suitan panjang yang nyaring. Wajah Toh Hun-ki berobah seketika. Ceng Hi totiang memberi isyarat dan berseru keras, Iblispenaklukdunia menyerbu lagi, lekas mundur kemudian berpaling ke arah Pendekar Laknat, ujarnya; Dalam pertempuran tadi, telah jatuh beberapa korban sahabat kita, menilik keadaan sekarang ini.... tiba-tiba ia menarik Siauliong terus diajak loncat keujung sebuah batu karang, katanya pula, Menilik gelagatnya sekarang ini, Iblis-penakluk-dunia dapat menggunakan kedua durjana Harimau Iblis dan Naga Terkutuk serta Lam-hay Sin-ni.... 577 Gelombang teriak jeritan melengking disusul dengan bunyi kereta berderak-derak. Beberapa barisan wanita dan pria dan tiap barisan terdiri dari lima orang, muncul dari dalam mulut jalanan itu seraya berteriak-teriak. Iblis-penakluk-dunia dan Dewi Neraka duduk dalam kereta sambil tersenyum-senyum. Kereta ditarik oleh kedua orang yang mukanya bertutupan kain hitam dan dikanan kiri kereta dikawal oleh barisan baju hitam. Tepat seperti yang dilihat Siau-liong ketika mereka mengadakan persiapan dalam hutan itu. Ceng Hi totiang dan rombonpan orang gagah segera membentuk diri dalam formasi seperti sebuah jaring. Bersiap kira2 20-an tombak jauhnya dari mulut jalanan itu. Oleh karena pelengkapan alat-alat rahasia telah diledakkan hancur maka tanah disitu tinggi rendah tak menentu. Kereta Iblis-penakluk-dunia berhenti pada sebuah lekukan tanah. Iblis-penakluk-dunia tertawa sinis lain berteriak nyaring, Hai, Ceng Hi totiang! Apakah engkau sudah mempertimbangkan omonganku tadi?" Ceng Hi totiang melangkah maju dan membentak, Aku

telah menerima permintaan dari para sahabat persilatan untuk memimpin gerakan ini. Selama engkau berdua durjana belum lenyap, dunia persilatan tentu takkan aman. Dalam keadaan seperti saat ini tiada lain pilihan lagi kecuali melanjutkan gerakan ini. Atau kalian mau menyadari kesalahan dan menyingkir jauh keluar perbatasan, gerakan ini akan segera kuhentikan! " Iblis-penakluk-dunia tertawa mengejek, Imam hidung kerbau, maut sudah di depan mata, mengapa engkau masih jual lagak bermulut besar!" 578 Iblis itu menutup kata2nya dengan gerakkan tangan kiri memberi komando, Serang!" Kedua barisan baju hitam yang di belakang kereta segera maju. Salah seorang yang berada paling depan tanpa bicara apa2, terus menyerang Ceng Hi totiang. Gerakan orang itu luar biasa cepatnya. Pukulannya menghamburkan deru angin yang tajam sekali. Dan pukulan itu adalah ilmu pukulan sakti Merampas-jiwa-mengejar-nyawa. Ceng Hi totiang tak berani ayal. Cepat ia menangkisnya. "Plak". terdengar letupan keras. Penyerang itu dan Ceng Hi totiang masing-masing menyurut mundur selangkah. Kiranya baju hitam yang menyerang itu bukan lain adalah salah seorang dari Lima Durjana yang termasyhur, yakni si Harimau Iblis. Entah mengapa tokoh itu mau menjadi kaki tangan Iblis-penakluk-dunia! Tanpa menunggu komando Ceng Hi totiang lagi, belasan orang gagah itu cepat loncat maju menghadang Harimau Iblis. Serangan perlama tertahan. Harimau Iblis maju menyerang lagi. Kain penutup mukanya dari sutera tipis. Tertiup angin, dapatlah diketahui wajahnya yang agak aneh. Terutama sepasang matanya yang ketolol-tololan tetapi sepasang alisnya menampilkan nafsu pembunuhan yang menyala-nyala. Memang Ceng Hi totiang sudah mengetahui perobahan wajah Harimau Iblis yang tidak wajar itu. Ia berputar diri menghindari pukulan Harimau Iblis. Tetapi yang benar-benar mengejutkan orang adalah rombongan barisan baju hitam itu. Diantaranya terdapat juga It Hang totiang dan ketiga tokoh Kun-lun-sam-cu. Mereka 579 mengikuti di belakang Harimau Iblis untuk menyerang Ceng Hi totiang. Iblis-penakluk-dunia barbangkit dan tertawa nyaring. Tibatiba ia gerakkan tangan kanan memberi komando lagi, Serang!" Kembali barisan baju hitam yang lain, menyerbu ke luar, menerjang rombongan orang gagah. Siau-liong diam-diam memperhatikan barisan baju hitam

itu. Yang menjadi pemimpin ternyata si Naga Terkutuk dan anggautanya terdiri dari si Penebang-kayu dari Tiam jong-san Shin Bu-seng, ketua Ji-tok-kau Tan It-hong, ketua Tong-thingpang Cu Kong-leng bergelar Kipas-banci dan seorang yang tak diketahui. Tokoh2 yang hilang dalam Lembah Semi tempo hari ternyata kini menjadi kaki tangan Iblispenakluk-dunia! Karena fihak Iblis-penakluk-dunia mengeluarkan barisan baju hitam yang kedua, maka rombongan orang gagah yang mengepung diluar barisan pohon Bunga pun segera berhamburan keluar, menyongsong mereka. Seketika pecahlah pertempuran yang dahsyat. Naga Terkutuk dan Harimau Iblis memang tak usah dilukiskan kesaktiannya. It Hang totiang, Kun-lun-sam-cu pun tergolong jago kelas satu dalam dunia persilatan Karena pikiran mereka sudah tak normal lagi, mereka pun menyerang dengan sekehendak hati. mengeluarkan jurus2 kepandaiannya yang hebat. Maka dalam beberapa saat saja, difihak rombongan orang gagah telah jatuh 20-an korban yang binasa. 580 Ceng Hi totiang menyadari keadaan itu. Cepat ia mengatur barisannya lagi. Dia bergerak kian kemari dalam pertempuran yang kacau balau itu. Dengan demikian dapatlah keadaan barisan orang gagah itu berkurang bahayanya. Ceng Hi totiang memerintahkan belasan jago2 sjlat untuk mengepung kedua durjana Harimau Iblis dan Naga Terkutuk. Dengan demikian walaupun kedua durjana itu berkaok-kaok seperti singa kelaparan tetapi untuk sementara ruang gerak mereka dapat dibatasi. Yang meresahkan pikiran Ceng Hi totiang adalah tentang diri It Hang totiang dan beberapa tokoh lainnya. Jelas mereka sudah hilang kesadaran pikirannya. Rombongan orang gagah diperintahkan supaya hati2 menghadapi mereka. Jangan sampai dibunuh, cukup kalau dikepung dan dapat ditawan hidup-hidupan. Tetapi sulitnya, mereka memiliki kepandaian yang tinggi. Tinju dan tutukan jari mereka, hebatnya bukan alang kepalang. Untuk menangkap mereka, sukarnya melebihi menangkap seekor harimau buas. Oleh karena terpancang oleh perintah itu, rombongan orang gagah menemui kesulitan juga. Bahkan ada beberapa yang terkena pukulan dan tutukan jari mereka. Selama itu Siau-liong masih tetap berdiri di pinggir belum mau turun tangan. Ia sedang mencari akal untuk mengatasi kekacauan itu. Setelah kekacauan fihak orang gagah dapat diredakan, longgarlah pikiran Ceng Hi totiang. Tetapi ketika melihat It Hang lotiang dan Kun-lun Sam-cu masih belum dapat diatasi, mau tak mau Ceng Hi totiang gelisah juga hatinya.

Ceng Hi totiang sudah kerahkan barisan ko-jiu (tokoh sakti) untuk mengepung kedua durjana Harimau Iblis dan Naga 581 Terkutuk, tetapi ternyata kekuatannya pun hanya berimbang saja. Demikian pun dengan barisan dari tokoh-tokoh kelas satu yang diperintahkan untuk menawan It Hang totiang dan Kun-lun Sam-cu, juga masih belum berhasil. Jika kedua suami isteri Iblis-penakluk-dunia itu menceburkan diri atau menyuruh kedua penarik kereta yang misterius itu turun tangan, bukankah akibatnya akan lebih menderita bagi fihak rombongan orang gagah? Ceng Hi totiang kerutkan alis berpikir keras. Tiba-tiba ia memberi perintah secara rahasia agar rombongan yang mengepung diluar barisan pohon Bunga siapkan obat pasang dan bahan peledak. Setiap waktu, apabila perlu, akan diberi perintah lagi. Setelah ketegangan mereda, barulah Siau-liong loncat turun kesamping Ceng Hi totiang, serunya; Adakah totiang sudah mempunyai rencana yang lengkap untuk menghadapi keadaan saat ini?" Ceng Hi totiang terkesiap, sahutnya, Aku telah berusaha sekuat tenaga, berhasil atau gagal, tak dapat kupastikan. Terserah kepada Allah!" Dari nada penyahutannya, jelas kalau Ceng Hi totiang bersikap dingin kepada Siau-liong. Kiranya memang sejak 20 tahun yang lalu, walau pun tak dipandang sejahat Iblispenaklukdunia dan isterinya, tetapi Ceng Hi totiang memang tak mempunyai kesan baik terhadap Pendekar Laknat. Adalah karena keterangan Toh Hun-ki yang memuji-muji Pendekar Laknat sekarang ini, ditambah pula dengan kenyataan bahwa Pendekar Laknat yang sekarang ini memang telah menolong Ti Gong laysu, Toh Hun-ki dan rombongan To Kin-kong dari Lembah Maut. Kemudian sikap Pendekar Laknat yang terang-terangan memusuhi kedua suami isteri IblisTiraikasih Website http://kangzusi.com/ 582 penakluk-dunia sehingga sampai bertempur dengan Lam-hay Sin-ni, makin menguatkan kepercayaan Ceng Hi totiang bahwa Pendekar Laknat yang sekarang ini benar sudah kembali ke jalan yang terang. Tetapi kepercayaan itu goyah pula ketika Ceng Hi totiang sedang menyusun barisan, Siau-liong tiba-tiba lenyap dan kemunculannya pada saat itu pun tak ubah hanya sebagai penonton saja. Sama sekali tak mau ikut membantu. Siau-liong menatap Ceng Hi totiang dan berkata dengan suara tandas; Aku hendak menghaturkan sepatah kata, entah apakah totiang sudi mendengarkannya atau tidak?" Samhil mengawasi jalannya pertempuran, tanpa berpaling menyahutlah Ceng Hi totiang; Jika anda mempunyai saran.

silahkan mengutarakan. Sudah tentu aku senang mendengarkannya!" Melihat sikap orang yang acuh tak acuh, Siau-liong menghela napas, Suami isteri Iblis-penakluk-dunia itu belum mengerahkan seluruh kekuatannya namun berpuluh-puluh orang gagah telah mengorbankan jiwanya. Andaikata kedua durjana itu benar-benar mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk menempur, mungkin nasib dari beratus-ratus tokoh persilatan tentu akan ludas ditangan totiang!" Mendengar itu serentak berpalinglah Ceng Hi totiang kepada Siau-liong. Ia menghela napas. Keadaan memang begitu, lalu bagaimana kita harus berdaya?" Berkata Siau-liong Menangkap maling harus membekuk benggolannya dulu! Jika tak dapat merencanakan siasat untuk meringkus suami isteri durjana itu tetapi hanya mengadu kekuatan secara begini saja, kita tentu akan menderita kekalahan!" 583 Lalu apakah anda mempunyai saran yang baik?" tanya Ceng Hi totiang. Tak ada lain jalan kecuali menarik pulang barisan dulu dan mengatur rencana yang lebih sempurna lagi!" sahut Siauliong. Ceng Hi totiang terbeliak, Adakah anda maksudkan supaya aku memimpin rombongan Orang gagah meloloskan diri dari sini?" Dengan nada serius Siau-liong menyahut, Seorang ksatrya harus mahir menggunakan kekuasaan dan pandai dalam menghadapi perobahan. Sekalipun menderita sedikit hinaan tetapi asal dapat membentuk dasar dari kemenangan.... Kemenangan akhir tak mungkin orang akan mencela tindakan totiang karena hari ini telah menarik mundur barisan!" Ceng Hi totiang kerutkan alis.... Setelah beberapa kali mengeliarkan mata, ia menghela napas, Saat ini sudah ibarat orang naik dipunggung harimau. Beribu tokoh persilatan sedang menyala semangatnya. Setiap orang tak menghiraukan soal kehilangan jiwa. Sekalipun aku mempunyai kekuasaan untuk menarik mundur barisan tetapi dikuatirkan mereka tak mau tunduk pada perintah itu!" Diam-diam Siau-liong mengakui kebenaran ucapan totiang itu. Maka terpaksa ia tak mau buka mulut lagi. Saat itu kedua suami isteri Iblis-penakluk-dunia dan Dewi Neraka tetap duduk di atas kereta dan mengatasi kedua barisan baju hitam serta berpuluh-puluh anak buahnya pria dan wanita menempur barisan orang gagah. Iblis itu tak hentihentinya tertawa. 584 Tetapi ketika menyaksikan Ceng Hi totiang dapat mengatasi kekalutan barisannya dengan memerintahkan belasan tokoh2

sakti untuk mengepung kedua durjana Harimau Iblis, Naga Terkutuk, Iblis-penakluk-dunia mulai gelisah. Tiba-tiba Iblis-penakluk-dunia itu tertawa dan bicara beberapa patah kata kepada Dewi Neraka lalu lontarkan segulung api. Siau-liong terkejut dan cepat2 meneriaki Ceng Hi totiang, Totiang, hati-hatilah! dengan tipu muslihat mereka! " Memang Ceng Hi totiang sudah dapat menduga bahwa api pertandaan yang dilepas Iblis-penakluk-dunia itu tentu ada tujuannya. Maka ia tumpahban perhatian untuk mengawasi perobahan yang akan terjadi dalam mulut jalanan. Tetapi sampai beberapa lama belum juga tampak tanda2 timbulnya suatu perobahan apa2. Selang sepeminum teh lamanya, tiba-tiba angin berhembus membawa bau yang harum. Bau harum itu bertebaran kemana-mana. Siau-liong yang cepat dapat mencium bau harum itu, banting2 kaki seraya menghela napas, Celaka! Angin ini mengandung bau harum. Tentulah anak buah Iblis-penaklukdunia telah menghamburkan Racun penyesat pikiran! " Buru-buru ia merogoh botol pil pemberian Poh Ceng-in yang tinggal separoh isinya. Hanya tinggal 8 butir saja. Setelah ia sendiri minum sebutir, sisanya lalu diberikan kepada Ceng Hi totiang, Tolong, pil ini berkhasiat menawarkan hawa beracun. Sayang hanya tinggal sedikit!" 585 Setelah menerima, bermula Ceng Hi agak ragu2 tetapi akhirnya ia minum juga sebutir. Sisanya ia bagikan kepada beberapa tokoh yang sedang bertempur dengan Harimau Iblis dan Naga Terkutuk. Bau harum makin lama makin keras dan seketika terjadilah perobahan dalam gelanggang pertempuran. Barisan orang gagah itu mulai lemas. Kebalikannya Harimau Iblis, Naga Terkutuk dan rombongan It Hang totiang makin bersemangat. Serangan mereka makin dahsyat. Kekuatan yang semula berimbang, saat itu berobah. Seketika terdengar jerit pekikan ngeri ketika Harimau Iblis, Naga Terkutuk dan rombongan It Hang totiang mengamuk. Mereka tak ubah seperti gerombolan harimau yang sedang mengganas kawanan anak kambing, Ketika di fihak barisan orang gagah makin bertambah menumpuk. Untunglah karena barisan pohon Bunga itu sudah berobah menjadi sebuah lapangan yang luas maka angin pun meniup agak keras. Bau harum itu tak dapat berkerumun lama dan terus hanyut dibawa tiupan angin. Melihat barisannya banyak yang berguguran, marah dan sedihlah Ceng Hi totiang. Dengan bersuit nyaring ia mencabut kebut pertapaan yang diselipkan di punggungnya lalu loncat melayang ke gelanggang pertempuran. Rupanya jago tua itu

tak tahan lagi melihat banyak jago2 persilatan yang menjadi korban. Sampai saat itu Siau-liong tetap tak mau turun tangan. Ia hanya memandang lekat2 ke arah kedua orang berkerudung hitam yang menarik kereta Iblis-penakluk-dunia itu. 586 Iblis-penakluk-dunia tetap tertawa-tawa dengan congkaknya. Dalam suasana pertempuran yang berhias pekik jelitan ngeri dan gemerincing senjata beradu, suara ketawa iblis itu makin menusuk telinga orang. Pada lain saat Dewi Neraka yang berdri sambil mencekal tongkat Kepala naga itu, tiba-tiba membentak suaminya, Tolol! Mengapa engkau hanya tertawa saja!" Iblis-penakluk dunia hentikan tertawanya. Tiba-tiba ia menarik sebatang kendali lalu memukul punggung salah satu dari kedua orang yang menarik kereta itu. Orang itu mengeluh pelahan lalu berpaling ke belakang dan bertanya kepada Iblis-penakluk-dunia, Apakah perintah Thian cun!" Iblis-penakluk-dunia menunjuk dengan tangkai kendali ke arah Ceng Hi totiang, serunya, Apakah engkau melihat imam tua yang memakai kebut pertapaan itu? Lekas tawan dia hidup-hidupan!" Orang berkerudung kain hitam itu mengiakan. lalu enjot tubuhnya melambung ke udara. Setelah mencapai ketinggian 10-an tombak, ia segera menukik ke bawah. Dalam jurus Menyelam ke dalam laut-menangkap-naga, ia meluncur ke arah Ceng Hi totiang! Semula Ceng Hi memang mencurahkan perhatian untuk mengawasi gerak gerik kedua orang kerudung hitam yang menarik kereta Iblis penakluk-dunia itu. Tetapi karena suasana saat itu makin genting, terpaksa ia tak dapat bersabar lebih lama lalu terjun kegelanggang pertempuran. Memang tak kecewalah Ceng Hi totiang diangkat sebagai pemimpin dari barisan orang gagah. Hanya dalam beberapa 587 gebrak saja, ia sudah dapat menolong keadaan dari belasan orang gagah yang sedang terdesak oleh kedua durjana Harimau Iblis dan Naga Terkutuk. Gerakan kebut pertapaan totiang itu hampir saja berhasil merobohkan kedua durjana itu. Ceng Hi totiang terkejut ketika melihat orang berkerudung muka itu menukik hendak menyerang dirinya. Cepat ia tinggalkan kedua durjana. Sebelum orang berkerudung itu meluncur ke tanah, ia mendahului menyerangnya. Orang berkerudung itu menggembor keras. Sepasang tangannya yang bersikap hendak mencengkeram tadi tiba-tiba diganti menjadi gerak tamparan.

"Plak".... terdengar letupan keras. Ceng Hi totiang terpental sampai lima enam langkah ke belakang Darahnya bergolakgolak dan dengan susah payah barulah ia dapat menjaga keseimbangan tubuhnya jangan sampai rubuh. Kebalikannya orang berkerudung muka itu enak-enak saja meneruskan peluncurannya ke tanah. Secepat kilat ia gerakkan kedua tangannya untuk menampar. Seketika terdengarlah jeritan ngeri dan tiga imam dari Kun-lun pay yang berada didekatnya