Anda di halaman 1dari 30

Bab III Tinjauan Geoteknik III-1

3. TINJAUAN GEOTEKNIK DALAM PERENCANAAN DED


AIR BAKU DANAU TANJUNG PUTUS KABUPATEN
PELALAWAN
3.1. Tinjauan Umum
Analisa geoteknik dilakukan untuk memberikan informasi karakteristik geoteknik di
area perencanaan danau buatan. Hal yang paling utama adalah untuk memberikan
informasi bentuk timbunan yang akan dilaksanakan. Analisa akan dilakukan dengan
mengikuti langkah-langkah di bawah ini :
Analisis dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
1. Tinjauan Umum
2. Teori dasar perhitungan keamanan lereng timbunan dan penurunan pada timbunan.
3. Interpretasi Kondisi Geoteknik
a. Hasil Penyelidikan Lapangan dan Pengujian Laboratorium
Hasil-hasil penyelidikan geoteknik lapangan dan hasil pengujian laboratorium
diperlihatkan berupa ringkasannya.
b. Evaluasi Parameter geoteknik
Evaluasi kondisi geoteknik dimaksudkan untuk mengetahui kondisi geoteknik
di area pekerjaan dengan cara mengevaluasi hasil-hasil data penyelidikan di
lapangan dan pengujian di laboratorium. Hal ini dilakukan juga untuk menguji
keandalan data hasil pengujian laboratorium.
c. Zonasi Lokasi Pekerjaan
Interpretasi hasil penyelidikan tanah dan profil lapisan tanah dibuat
berdasarkan kesamaan/kemiripan sifat geoteknik tanah, seperti: jenis tanah, dan
derajat kekerasan tanah. Profil tanah mencakup pembagian lapisan tanah,
kondisi geologi, perkiraan parameter kuat geser tanah, index properties,
parameter konsolidasi tanah, elevasi muka air tanah, dan uji CPT maupun SPT
yang digunakan sebagai dasar pembuatan profil.
Bab III Tinjauan Geoteknik III-2
4. Parameter Desain Geoteknik
Setelah melakukan point 1 hingga 3, untuk keperluan analisa dilakukan penentuan
parameter geoteknik.
5. Analisa Geoteknik
a. Analisis stabilitas timbunan
Perhitungan stabilitas timbunan yang akan dilakukan mengacu pada
perhitungan-perhitungan secara manual menggunakan teori perhitungan Bishop
Methods dan Spencer Methods dan dibantu dengan program XSTABL untuk
menentukan nilai keamanan (Safety Factor).
b. Analisa Penurunan (consolidation analysis)
Penurunan pada timbunan akan dilakukan dengan menggunakan perhitungan
manual menggunakan teori Terzaghi. Perhitungan ini akan memberikan
informasi penurunan timbunan terhadap waktu penurunan.
6. Rekomendasi Hasil Analisa
Setelah dilakukan analisa, maka akan dikeluarkan rekomendasi rencana timbunan
sesuai rencana pembangunan danau.
3.2. Teori Dasar Prediksi Penurunan Dan Stabilitas Lereng
Dalam perencanaan, batasan kondisi yang paling penting adalah stabilitas dan
penurunan yang diijinkan; keduanya merupakan fungsi dari waktu. Ketika suatu
beban (contohnya timbunan jalan) diterapkan secara cepat pada suatu lapisan tanah
dengan daya dukung yang rendah, akan timbul suatu tekanan ekses air pori karena
dalam tahap awal beban tersebut dipikul oleh tekanan air pori. Tekanan ekses air pori
tersebut akan mengurangi tegangan efektif lapisan tanah, oleh karenanya kuat geser
tanah juga akan menurun. Pada level beban rendah deformasi yang terjadi relatif kecil
dan tanah dasar masih bersifat elastis, dengan meningkatnya beban bukan hanya
deformasi yang bertambah tetapi tanah mulai bersifat plastis dan akhirnya akan timbul
keruntuhan. Pada tahap ini stabilitas timbunan menjadi faktor yang paling kritis.
demikian kondisi tanah dasar pada interval ini relatif baik sehingga tidak
menimbulkan masalah penurunan.
Ketika tekanan ekses air pori mulai terdisipasi, tegangan efektif akan meningkat dan
tanah dasar mengalami konsolidasi sehingga stabilitas timbunan akan bertambah.
Tetapi waktu yang dibutuhkan tekanan ekses air pori untuk terdisipasi sangat
tergantung dari permeabilitas setiap jenis tanah dan ketebalannya. Oleh karena itu
Bab III Tinjauan Geoteknik III-3
dibutuhkan pengaturan laju penimbunan agar dapat menjamin stabilitas selama masa
konstruksi.
Contoh beberapa jenis metode teknologi untuk tanah lunak antara lain adalah:
- Penggunaan material timbunan ringan
- Metode percepatan konsolidasi (contoh PVD, kolom pasir dll)
- Metode timbunan bertahap & vertikal drain
- Metode displacement dan replacement
- Metode struktural (piled embankment, mini pile)
3.2.1. Prediksi Penurunan
Prediksi penurunan dapat dilakukan dengan cara konvensional (Terzaghi) dan dengan
analisis coupled dengan menggunakan program metode elemen hingga (finite element
method). Analisis penurunan menggunakan metode elemen hingga lebih akurat
dibandingkan metode konvensional karena pada metode yang disebutkan pertama
sifat-sifat tanah yang non-linear dan bergantung pada waktu (time dependent) dapat
disimulasikan dengan baik.
3.2.1.1 Metode Konvensional Terzaghi
Pada metode konvensional perhitungan penurunan dibagi menjadi dua yaitu
penurunan segera (immediate settlement) yang tidak tergantung waktu dan penurunan
konsolidasi. Pada deformasi yang relatif kecil atau ketika perubahan tergangan yang
terjadi relatif kecil tanah dianggap sebagai material linear elastis baik ketika diberi
beban atau ketika beban dihilangkan. Perilaku elastis tersebut dapat berarti bahwa
butiran tanah tertekan tanpa adanya slip relatif antara partikel. Untuk perhitungan
penurunan segera si digunakan formula sebagai berikut:
2
(1 )
u
i e
u
qB I
s
E
v


= =
di mana:
q = beban luar yang bekerja
B = lebar beban
I = faktor pengaruh yang tergantung pada bentuk fondasi
E
u
= modulus Young tak terdrainase (undrained)

u
= rasio Poisson undrained (biasanya diambil 0,5)
Bab III Tinjauan Geoteknik III-4
Menurut CIRIA (1983), untuk tanah lunak, s
i
dapat diestimasi sebesar 10% dari
penurunan konsolidasi yang parameter-parameter tanahnya didapat dari uji
oedometer.
Penurunan konsolidasi merupakan perilaku yang tergantung waktu (time dependent
behavior). Penurunan konsolidasi juga terbagi menjadi penurunan primer yang
merupakan hasil dissipasi ekses air pori dan penurunan sekunder yang terjadi pada
tegangan efektif konstan. Penurunan sekunder terjadi setelah periode hidrodinamik
berakhir dan berhubungan dengan perilaku rangkak (creep) tanah. Pada tanah lunak,
terutama yang mengandung kadar organik yang relatif tinggi, penurunan sekunder
sangat dominan.
Penurunan konsolidasi primer dihitung dengan teori Terzaghi sebagai berikut:
0
'
log
1 '
c
Cc h P P o
s
e P o
A + | |
=
|
+
\ .
di mana:
s
c
= penurunan primer (m)
h = tebal lapisan tanah (m)
Cc = indeks kompresi
e
0
= angka pori awal
P = Perubahan tegangan disebabkan timbunan
Po= tegangan efektif awal
Sedangkan penurunan sekunder dihitung dengan persamaan di bawah ini:
log
s
d
t
s C h
t
o
| | A
=
|
A
\ .
di mana:
ss = penurunan sekunder (m)
Co = indeks kompresi sekunder
t = waktu pengamatan (masa layan) timbunan (hari)
td = waktu yang diperlukan sampai penurunan konsolidasi
primer selesai (hari)
Bab III Tinjauan Geoteknik III-5
Penurunan total pada metode konvensional merupakan gabungan dari immediate
settlement (s
i
), primary consolidation settlement (s
c
) dan secondary settlement (s
s
)
atau bila dinyatakan dalam bentuk formula:
s
t
= s
i
+ s
c
+ s
s
3.2.2. Dasar Teori Stabilitas Lereng
Perhitungan stabilitas suatu timbunan pada intinya adalah menghitung faktor
keamanan (factor of safety) FS yang bisa didefinisikan sebagai perbandingan antara
kuat geser yang tersedia t
ff
dengan tegangan geser yang dibutuhkan untuk menjaga
keseimbangan t
m
atau bila dalam bentuk persamaan:
' ' tan '
ff ff
m
c
FS
t o |
t
= +
=
Untuk analisis tegangan total (TSA) yang merupakan analisis yang
mempertimbangkan kondisi yang paling kritis untuk timbunan baru, kuat geser yang
tersedia merupakan kuat geser tak terdrainase (undrained) c
u
atau dalam bentuk
persamaan:
u
m
c
FS
t
=
Suatu timbunan dianggap berada pada titik keruntuhan jika FS sama dengan satu,
serta berada pada kondisi stabil jika FS yang dimiliki lebih besar dari satu (FS>1) atau
dengan kata lain memiliki kekuatan yang lebih (reserve strength). Nilai FS untuk
timbunan pada masa konstruksi adalah FS=1,3 dan untuk jangka panjang nilai FS=
1,5 (Panduan Geoteknik). Metode analisis stabilitas secara umum dapat dibagi
menjadi dua yaitu metode limit equlibrium (Taylor, Janbu, Bishop, Spencer,
Morgenstrern-Price dan lain-lain) dan metode elemen hingga.
3.2.2.1 . Metode Tinggi Kritis
Sebagai penilaian awal stabilitas timbunan dapat dihitung sebagai berikut (Panduan
Geoteknik):
1. Hitung nilai kuat geser tak terdrainase (undrained) representatif dari
permukaan sampai dengan kedalaman 5 m atau setebal lapisan lempung lunak
bila kurang dari 5 m;
Bab III Tinjauan Geoteknik III-6
2. Ambil berat isi
m
maksimum material timbunan;
3. Tinggi timbunan maksimum yang aman tanpa perbaikan tanah dapat dihitung
berdasarkan persamaan:
4
u
m
c
H

=
Seperti yang telah dibahas senelumnya bahwa kondisi kritis timbunan adanlah nilia
FS=1, maka metode tinggi kritis ini dapat digunakan sebagai perkiraan awal rencana
timbunan. Nilai tinggi kritis ini dapat dibagi dengan nilai FS rencana sehingga
rencana timbuan akan dapat diperkirakan lebih awal. Analisis di atas dilakukan tanpa
mempertimbangkan kontribusi kuat geser material timbunan. Bila data-data tanah
sudah lengkap analisis stabilitas harus dilakukan menggunakan metode Bishop,
Spencer atau lainnya yang lebih tepat. Pemakaian program komputer untuk analisis
stabilitas sangat dianjurkan, namun apabila tidak tersedia pemakaian spreadsheet juga
dapat diterapkan dalam perhitungan.
3.2.2.2 Metode Simplified Bishop
Metode simplifikasi Bishop tergolong metode limit equilibrium. Metode ini sangat
populer karena memberikan hasil perhitungan yang relatif mendekati metode-metode
lain yang dianggap lebih akurat (Spencer dan Morgenstern-Price). Pada perhitungan
stabilitas suatu lereng, tegangan efektif yang bekerja sepanjang bidang gelincir (slip
surface) harus diketahui sebagai syarat untuk kelengkapan analisis. Hal ini dapat
dilakukan dengan membagi-bagi masa tanah yang mengalami keruntuhan ke dalam
potongan-potongan (slices) yang representatif. Metode simplified Bishop
mengasumsikan gaya-gaya geser yang bekerja pada bidang pertemuan antar potongan
dapat diabaikan sehingga hanya gaya-gaya horizontal yang dihitung. Selain itu, pada
metode ini bidang gelincir berbentuk silinder lingkaran. Dengan mengambil momen
kesetimbangan keseluruhan di sekitar O (lihat gambar....) persamaan yang
menghasilkan suatu faktor keamanan dapat diperoleh.
Bab III Tinjauan Geoteknik
Gambar 3. 1 Potongan pada
Persamaan akhir dari metode ini adalah:
( ' ( ) tan ')
sin
c l P ul
F
W o
E +
=
E
di mana:
1
( ' sin tan ' sin W c l ul
F
P
m
o
o o
| |

|
\ .
=
cos 1 tan m
o
o o
| |
= +
|
\ .
Karena substitusi persamaan
mengandung konstanta F pada kedua sisi maka persamaan tersebut harus diselesaikan
melalui iterasi. Untuk mencapai konvergensi, iterasi yang dilakukan biasanya tidak
terlalu banyak sehingga metode ini cocok untuk dila
maupun dengan pemrograman komputer.
III-7
Potongan pada Metode Mimplified Bishop (Nash, 1987).
akhir dari metode ini adalah:
( ' ( ) tan ')
sin
c l P ul
o
E +
( ' sin tan ' sin W c l ul o o
| |

|
\ .
tan '
cos 1 tan
F

o o
| |
= +
|
\ .
Karena substitusi persamaan di atas akan menghasilkan suatu persamaan yang
mengandung konstanta F pada kedua sisi maka persamaan tersebut harus diselesaikan
melalui iterasi. Untuk mencapai konvergensi, iterasi yang dilakukan biasanya tidak
terlalu banyak sehingga metode ini cocok untuk dilakukan baik secara manual
maupun dengan pemrograman komputer.
implified Bishop (Nash, 1987).
akan menghasilkan suatu persamaan yang
mengandung konstanta F pada kedua sisi maka persamaan tersebut harus diselesaikan
melalui iterasi. Untuk mencapai konvergensi, iterasi yang dilakukan biasanya tidak
kukan baik secara manual
Bab III Tinjauan Geoteknik III-8
PEMODELAN
STRATIGRAFI
PENYELIDIKAN
LAPANGAN DAN
PENGUJIAN
LABORATORIUM
PENENTUAN
PARAMETER DESAIN
MENENTUKAN
BEBERAPA
ALTERNATIF
PERENCANAAN
MEMENUHI
STABILITAS
YA
MEMENUHI SYARAT
DEFORMASI
BANGUNAN
SEKITAR
TIDAK ADA
BANGUNAN
SEKITAR
DEFORMASI
DIPENUHI
TIDAK
TIDAK
YA
TIDAK
YA
DIUJI SESUAI
DENGAN
KEBUTUHAN?
TIDAK
YA
ALTERNATIF
PERENCANAAN
MEMENUHI
SYARAT
Gambar 3. 2 Diagram Alir Analisis Geoteknik
Bab III Tinjauan Geoteknik III-9
3.3. Interpretasi Kondisi Geoteknik
Data hasil pengujian lapangan dan laboratorium harus dinilai keandalannya dengan
membandingkannya terhadap nilai kisaran normal serta terhadap korelasi dengan data
lain pada lokasi tersebut.
Acuan untuk menilai keandalan data adalah Pedoman Geoteknik Indonesia 2002, dan
Building on Soft Soil (CUR, 1996). Kisaran nilai normal dari parameter tanah
sebagian diperlihatkan pada Tabel 3. 1 Kisaran Nilai Normal (Sumber: CUR, 1996).
Tabel 3. 1 Kisaran Nilai Normal (Sumber: CUR, 1996)
Jenis
Tanah
Campuran Konsistens
i

(kN/m3)

sat
(kN/m3
)
q
c
(MPa
)
c
c
E
(MPa)
c
u
(kPa)
|
(deg)
Pasir Bersih Lepas 17 19 5 0.021 25 30
Medium 18 19 15 0.006 75 32.5
Padat 19-20 20-21 25 0.002-
0.003
125-
150
35-40
Sedikit
kelanauan,
kelempungan
- 18-19 20-21 5-20 0.005-
0.008
25-35 27-32.5
Sangat
kelanauan,
kelempungan
- 18-19 20-21 2-15 0.009-
0.019
20-30 25-30
Lempung Bersih Lunak - 14 0.5 1.4 1 25 17.5
Medium - 17 1 0.4 2 50 17.5
Kaku - 19-20 2 0.2 4-10 100-200 17.5-25
Agak
kepasiran
Lunak - 15 0.7 0.8 1.5 40 22.5
Medium - 18 1.5 0.2 3 80 22.5
Kaku - 20-21 2.5 0.1 5-10 120-170 22.5-27.5
Sangat
kepasiran
- - 18-20 1 0.2 2-5 0-10 27.5-32.5
Organik Lunak - 13 0.2 1.7 0.5 10 15
Medium - 15-16 0.5 0.8 1-2 25-30 15
3.3.1. Resume Hasil Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium
Penyelidikan lapangan dilakukan menggunakan sondir sebanyak 9 (sembilan) titik.
3.3.1.1 Sondir
Penyondiran untuk mengetahui kedalaman tanah keras, serta homogenitasnya dalam
arah lateral dan untuk mengetahui kepadatan relatif. Dengan di ketahuinya nilai
perlawanan konis dan geseran lokal dari data sondir, maka akan dapat dihitung
Bab III Tinjauan Geoteknik III-10
besarnya tekanan tanah yang diizinkan. Penyondiran dilakukan hingga mencapai
perlawanan konis (qc) mencapai > 150 kg/cm2.
Data hasil pembacaan manometer pada alat sondir yaitu perlawanan ujung/konus
(end resistance/cone resistant) dengan CR dinyatakan dalam kg/cm2 dan total
perlawanan (total resistant ) dinyatakan dalam kg/cm2, maka dilakukan perhitungan
hambatan lekat (skin friction) symbol SF dinyatakan dalam kg/cm dan jumlah
hambatan lekat (total skin friction) symbol TSF dinyatakan dalam kg/cm dan
selanjutnya digambarkan dalam bentuk grafik sondir (graphic sondering test) yaitu
hubungan perlawanan penetrasi konus (cone resistant) dengan kedalaman (depth)
dan hubungan jumlah hambatan lekat (total skin friction) dengan kedalaman (depth).
Hasil pengujian berupa data dan perhitungan serta grafik sondir dapat dilihat pada
lampiran.
Tabel 3. 2 Resume Hasil Uji Sondir
No. Sondir Tekanan Ujung qc
(kg/cm
2
)
Kedalaman (m)
1. 150 12.80
2. 165 17.20
3. 155 13.60
4.
5. 125 16.40
6. 105 12.00
7. 135 12.20
8. 150 17.20
9. 155 9.80
10. 158 13.00
Bab III Tinjauan Geoteknik III-11
S-1 S-2
S-3 S-5
0 250 500 750 1000 1250 1500
0.00
1.00
2.00
3.00
4.00
5.00
6.00
7.00
8.00
9.00
10.00
11.00
12.00
13.00
14.00
15.00
16.00
17.00
18.00
19.00
20.00
0 2500 5000 7500 10000 12500 15000
Jumlah Hambatan Lekat (tf ) kN/m
K
e
d
a
l
a
m
a
n
(
m
e
t
e
r
)
Nilai Konus (qc) kPa
qc tf
0 250 500 750 1000 1250 1500
0.00
1.00
2.00
3.00
4.00
5.00
6.00
7.00
8.00
9.00
10.00
11.00
12.00
13.00
14.00
15.00
16.00
17.00
18.00
19.00
20.00
0 2500 5000 7500 10000 12500 15000
Jumlah Hambatan Lekat (tf ) kN/m
K
e
d
a
l
a
m
a
n
(
m
e
t
e
r
)
Nilai Konus (qc) kPa
qc tf
0 250 500 750 1000 1250 1500
0.00
1.00
2.00
3.00
4.00
5.00
6.00
7.00
8.00
9.00
10.00
11.00
12.00
13.00
14.00
15.00
16.00
17.00
18.00
19.00
20.00
0 2500 5000 7500 10000 12500 15000
Jumlah Hambatan Lekat (tf ) kN/m
K
e
d
a
l
a
m
a
n
(
m
e
t
e
r
)
Nilai Konus (qc) kPa
qc Tf
0 250 500 750 1000 1250 1500
0.00
1.00
2.00
3.00
4.00
5.00
6.00
7.00
8.00
9.00
10.00
11.00
12.00
13.00
14.00
15.00
16.00
17.00
18.00
19.00
20.00
0 2500 5000 7500 10000 12500 15000
Jumlah Hambatan Lekat (tf ) kN/m
K
e
d
a
l
a
m
a
n
(
m
e
t
e
r
)
Nilai Konus (qc) kPa
qc tf
Bab III Tinjauan Geoteknik III-12
S-6 S-7
S-8 S-9
0 250 500 750 1000 1250 1500
0.00
1.00
2.00
3.00
4.00
5.00
6.00
7.00
8.00
9.00
10.00
11.00
12.00
13.00
14.00
15.00
16.00
17.00
18.00
19.00
20.00
0 2500 5000 7500 10000 12500 15000
Jumlah Hambatan Lekat (tf ) kN/m
K
e
d
a
la
m
a
n
(
m
e
t
e
r
)
Nilai Konus (qc) kPa
qc tf
0 250 500 750 1000 1250 1500
0.00
1.00
2.00
3.00
4.00
5.00
6.00
7.00
8.00
9.00
10.00
11.00
12.00
13.00
14.00
15.00
16.00
17.00
18.00
19.00
20.00
0 2500 5000 7500 10000 12500 15000
Jumlah Hambatan Lekat (tf ) kN/m
K
e
d
a
la
m
a
n
(
m
e
t
e
r
)
Nilai Konus (qc) kPa
qc tf
0 250 500 750 1000 1250 1500
0.00
1.00
2.00
3.00
4.00
5.00
6.00
7.00
8.00
9.00
10.00
11.00
12.00
13.00
14.00
15.00
16.00
17.00
18.00
19.00
20.00
0 2500 5000 7500 10000 12500 15000
Jumlah Hambatan Lekat (tf ) kN/m
K
e
d
a
la
m
a
n
(
m
e
t
e
r
)
Nilai Konus (qc) kPa
qc tf
0 250 500 750 1000 1250 1500
0.00
1.00
2.00
3.00
4.00
5.00
6.00
7.00
8.00
9.00
10.00
11.00
12.00
13.00
14.00
15.00
16.00
17.00
18.00
19.00
20.00
0 2500 5000 7500 10000 12500 15000
Jumlah Hambatan Lekat (tf ) kN/m
K
e
d
a
la
m
a
n
(
m
e
t
e
r
)
Nilai Konus (qc) kPa
qc tf
Bab III Tinjauan Geoteknik III-13
S-10
Gambar 3. 3 Plot Grafik Uji Tekan Sondir
3.4. Evaluasi Parameter Geoteknik
Berdasarkan hasil pengujian lapangan (sondir dan pemboran) serta pengujian
laboratorium, deposit alluvium di lokasi penyelidikan terdiri dari lapisan lempung
dengan konsistensi sangat lunak. Lapisan atas dari lokasi pekerjaan didominasi oleh
lempung konsistensi sangat lunak hingga lunak, setelah itu ditemui lapisan pasir lepas
dan terakhir adalah gravel.
3.4.1. Kuat Geser Tanah
Berdasarkan nilai sondir, kuat geser undrained tanah lempung diperoleh dengan
pendekatan sebagai berikut:
Cu =
20
qc
(kPa)
Dengan persamaan tersebut, tanah lempung dapat diklasifikasikan sebagai tanah
sangat lunak dan tanah lunak karena mempunyai kuat geser undrained lebih kecil dari
20kPa.
0 250 500 750 1000 1250 1500
0.00
1.00
2.00
3.00
4.00
5.00
6.00
7.00
8.00
9.00
10.00
11.00
12.00
13.00
14.00
15.00
16.00
17.00
18.00
19.00
20.00
0 2500 5000 7500 10000 12500 15000
Jumlah Hambatan Lekat (tf ) kN/m
K
e
d
a
la
m
a
n
(
m
e
t
e
r
)
Nilai Konus (qc) kPa
qc tf
Bab III Tinjauan Geoteknik III-14
Tabel 3. 3 Klasifikasi Kuat Geser Undrained (Panduan Geoteknik)
Konsistensi Kuat geser undrained (kPa)
Very stiff to hard >150
Stiff 100-150
Firm to stiff 75-100
Firm 50-75
Soft to firm 40-50
Soft 20-40
Very soft <20
Berdasarkan klasifikasi kuat geser pada tabel di atas, plot kuat geser berdasarkan hasil
sondir menunjukan lapisan tanah dengan konsistensi sangat lunak berada pada
kedalaman 0.00 - 12.00 meter yang memiliki nulai cu = 0-20 kPa, seperti
diperlihatkan pada gambar di bawah ini.
Gambar 3. 4 Plot Kuat Geser Tanah Terhadap Kedalaman
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
20
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200
D
e
p
t
h
(
m
)
Cu(kPa)
Kuat Geser Undrained
S-1 S-2 S-3 S-5 S-6
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
20
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200
D
e
p
t
h
(
m
)
Cu(kPa)
Kuat Geser Undrained
S-7 S-8 S-9 S-10
Bab III Tinjauan Geoteknik III-15
3.4.2. Sifat Kompresibilitas Tanah
Nilai kompresibilitas tanah (Cc) dapat diambil dari nilai kisaran pada Tabel 3. 1
Kisaran Nilai Normal (Sumber: CUR, 1996). Menggunakan nilai sensitivitas hasil uji
tekan sondir dan interpretasi hasil uji sondir, menunjukan bahwa kondisi tanah dasar
pada rencana pembangunan Danau Tanjung Putus memiliki nilai qc sondir 0.20
Mpa dan berarti dapat dikategorikan tanah gambut sangat lunak dan memiliki nilai
kompresibilitas Cc 1,80.
3.5. Zonasi Lokasi Pekerjaan
Sesuai dengan urutan metode yang dilakukan sesuai Panduan Geoteknik, di bagi
menjadi beberapa zonasi pekerjaan. Zonasi yang dilakukan biasanya dibedakan
berdasarkan kondisi lapisan tanah atau perbedaan konstruksi yang akan dilakukan..
Perkiraan jenis tanah dari sondir dilakukan dengan menggunakan kurva Searle (CUR,
1996). Salah satu contoh penggunaan kurva Searle di Sondir -3 Seperti yang
diperlihatkan pada Gambar...
Kurva Searle Pada Sondir -1
100
1,000
10,000
100,000
0.1 1 10 100
C
o
n
e
R
e
s
i
s
t
a
n
c
e
(
k
P
a
)
Friction Ratio (%)
Interpretasi Graf ik Searle Pada Sondir -1
0 - 6.60 Very Soft si lty clay
6.60 - 7.40 Loose Clay Siltysand
7.40 - 12.20 Very soft silty clay
12.20 - 12.80 Med-dense sany
gravell
Bab III Tinjauan Geoteknik III-16
Berdasarkan gambar di atas, lapisan yang teridentifikasi adalah lanau lempungan
dengan konsistensi sangat lunak berada pada kedalaman 0.00 hingga 12.20 meter
dengan nilai kuat geser |= 21
o
dan c
u
= 10 kPa dan terdapat sisipan berupa pasir lepas
setebal 80cm antara kedalaman 6.60 hingga 7.40 m Lapisan terkahir yang
teridentifikasi adalah kerakal kerapatan sedang hingga padat kuat geser | = 40
o
dengan tingkat kerapatan mencapai 55%. Hasil stratifikasi lapisan tanah pada lokasi
pekerjaan diperlihatkan pada gambar...
Stratifikasi berdasarkan persamaan nilai kuat tekan sondir dilakukan untuk
menyederhanakan dalam pemodelan analisa. Kuat tekan yang hampir sama
diperlihatkan menjadi 3 (tiga) bagian atau zona. Maka analisa yang akan dilakukan
berdasarkan pada tiga kondisi dilapangan seperti diperlihatkan pada Gambar 3. 5
Jenis dan sifat tanah mekanis tanah pada Sondir -1 dan Gambar 3. 6 Pembagian
Pemodelan Stratifikasi Lapisan Tanah.
Bab III Tinjauan Geoteknik
Gambar 3. 5
0
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
0 2500
K
e
d
a
l
a
m
a
n
(
m
e
t
e
r
)
III-17
5 Jenis dan sifat tanah mekanis tanah pada Sondir -1
250 500 750
5000 7500 10000
Jumlah Hambatan Lekat (tf ) kN/m
Nilai Konus (qc) kPa
DEDAIR BAKU
STRATIFIKASI PADASONDIR1
1
1000
12500
Bab III Tinjauan Geoteknik III-18
Zona 1 Zona 2 Zona 3
Gambar 3. 6 Pembagian Pemodelan Stratifikasi Lapisan Tanah
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
20
0 2500 5000 7500 10000 12500 15000
D
e
p
t
h
(
m
)
Zona-1
S-2 S-5 S-8
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
20
0 2500 5000 7500 10000 12500 15000
D
e
p
t
h
(
m
)
Zona-2
S-6 S-7 S-10 S-1 S-3
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
20
0 2500 5000 7500 10000 12500 15000
D
e
p
t
h
(
m
)
Zona-3
S-9
III-19
Berdasarkan pembagian zonasi di atas maka lapisan tanah yang digunakan dalam
pemodelan perencanaan adalah sebagai berikut :
Tabel 3. 4 Stratifikasi Pemodelan Analisa
Zona -1
No Jenis Lapisan Kedalaman (m) ID Lapisan
1 Very Soft Silty Clay 0.00 5.00 1
2 Soft Clay Sandy Silt 5.00 10.50 2
3 Loose Clay Silty Sand 10.50 13.50 3
4 Medium Dense Silty Sand 13.50 15.50 4
5 Dense Gravelly Sand 15.50 20.00 5
Zona -2
No Jenis Lapisan Kedalaman (m) ID Lapisan
1 Very Soft Silty Clay 0.00 6.00 1
2 Soft Clay Sandy Silt 6.00 7.20 2
3 Very Soft Silty Clay 7.20 11.50 1
4 Soft Clay Sandy Silt 11.50 13.50 2
5 Dense Gravelly Sand 13.50 20.00 5
Zona -3
No Jenis Lapisan Kedalaman (m) ID Lapisan
1 Soft Clay Sandy Silt 0.00 2.00 2
2 Loose Clay Silty Sand 2.00 6.00 3
3 Medium Dense Silty Sand 6.00 10.00 4
4 Dense Gravelly Sand 10.00 20.00 5
3.6. Parameter Tanah
Parameter desain diperoleh dengan merata-ratakan nilai-nilai parameter yang
representatif pada suatu lapisan tanah yang sama. Nilai kompresibilitas diperoleh dari
uji oedometer. Parameter desain c dan | merupakan rata-rata dari uji triaksial CU,
sondir serta korelasi dengan indeks plastisitas. Parameter-parameter tanah yang
diperlukan dalam pemodelan perhitungan manual maupun elemen hingga sebagai
berikut :
III-20
Tabel 3. 5 Parameter Tanah
3.7. Analisa Geoteknik
3.7.1. Penentuan Tinggi Timbunan Rencana
Timbunan direncanakan berdasarkan desain rencana tanggul yang direncanakan,
tinggi timbunan maksimum adalah 6 meter pada timbunan. Untuk keperluan desain
posisi muka air tanah dianggap sejajar permukaan tanah mengingat lokasi rencana
No.
Lapisan
Jenis Lapisan
Model
Lapisan
Type
sat (kN/m
3
) =
18
unsat (kN/m
3
) =
18
c (kPa) =
5
(deg) =
30

sat
(kN/m3) = 12
unsat (kN/m
3
) =
11
c (kPa) = 2.5
(deg) = 15
e
0
1.99
Cc 1.800
Cs 0.036
Cv (cm2/detik) 4.200E-03

sat
(kN/m3) = 14
unsat (kN/m
3
) =
13.5
c (kPa) = 1
(deg) = 25
e
0
0.49
Cc 0.900
Cs 1.800E-02
Cv (cm2/detik) 4.200E-02

sat
(kN/m3) = 15
unsat (kN/m
3
) =
14
c (kPa) = 2.5
(deg) = 25
e
0
1.01
Cc 0.100
Cs 2.000E-03
Cv (cm2/detik) 1.050E-02

sat
(kN/m3) = 17
unsat (kN/m
3
) =
17
e
0
0.2
c (kPa) = 5
(deg) = 35
E
ref
(kN/m
2
) = 30000

sat
(kN/m3) = 19
unsat (kN/m
3
) =
19
c (kPa) = 5
e
0
0.1
(deg) = 38
Parameter
a Timbunan Tanah MC Drained
1 Very Soft Silty Clay SS
Undrained
2 Soft Clay Sandy Silt SS
Undrained
5 Dense Gravell sand MC Drained
3 Loose Clay sandy silt SS
Undrained
4 Med - Dense Silty Sand MC
Drained
III-21
jaluir kereta api termasuk wilayah pasang surut air laut. Berikut rencana ketinggian
timbunan di setiap zonasinya :
- Zona -1 : 1 6 meter
- Zona -2 : 1 6 meter
- Zona -3 : 1 6 meter
3.7.2. Analisa Stabilitas Timbunan
3.7.2.1 Metode Tinggi Kritis
Seperti dijelaskan pada bab sebelumnya, nilai kuat geser undrained dari hasil
pengujian lapangan dan laboratorium berkisar antara 1020 kPa. Berdasarkan
persamaan :
4
u
m
c
H

=
Asumsi berat isi timbunan mengambil
m
=20kN/m3, dan nilai kuat geser undrained
diambil pada rata-rata kedalaman 5 meter pada lapisan di permukaan. Metode tinggi
kritis dapat digunakan sebagai indikasi awal rencana timbunan yang berarti tinggi
kritis memiliki nilai faktor keamanan FS =1.0, maka tinggi rencana awal pun dapat
diketahui jika FS rencana =1.3, tinggi kritis dibagi dengan FS rencana. Hasil
perhitungan tinggi kritis dapat disimpulkan sementara daerah rancana kajian memiliki
timbunan yang sangat rendah bahkan tidak mungkin dilakukan seperti terlihat pada
tabel di bawah ini:
Tabel 3. 6 Tinggi Kritis Timbuan
Kuat Geser Cu HKritis Haman
(kPa) (m) (m)
Zona -1 11 2.2 1.69
Zona -2 16 3.2 2.46
Zona -3 93 18.6 14.31
Zonasi
J
i
k
a
m
i
n
i
m
a
l
F
S
=
1
.
3
,
m
a
k
a
H
y
a
n
g
D
i
i
z
i
n
k
a
n
III-22
3.7.2.2 Analisa Stabilitas Timbunan
Perhitungan stabilitas timbunan menggunakan metode Bishop untuk mencari bidang
gelincir timbunan, setelah diketahui bidang gelincir dengan metode Bishop akan
dihitung ulang dengan metode Spencer untuk mengetahui spesifik dari gaya-gaya
yang bekerja pada bidang gelincir. Kondisi tanah lunak yang tebal di zona 1 dan 2
yang mengindikasikan nilai faktor keamanan FS akan mirip atau mungkin sama
untuk setiap tinggi timbunan di setiap zonasi. Resume hasil perhitungan faktor
keamanan FS diperlihatkan pada tabel...........Plot grafik keruntuhan pada zona 1
dan 2 diperlihatkan pada gambar-gambar di bawah ini :
Tabel 3. 7 Resume Hasil Perhitungan Stabilitas Lereng
Htimbunan Metode Bishop Htimbunan Metode Bishop
(m) FS (m) FS
1.00 1.073 1.00 1.344
2.00 0.966 2.00 1.248
3.00 0.901 3.00 1.182
3.50 0.88 3.50 1.169
4.00 0.848 4.00 1.189
4.50 0.832 4.50 1.26
5.00 0.817 5.00 1.241
5.50 0.807 5.50 1.139
6.00 0.797 6.00 1.11
1.00 1.073
2.00 0.966
3.00 0.901
3.50 0.88
4.00 0.848
4.50 0.832
5.00 0.817
5.50 0.807
6.00 0.797
Zona Zona
1
2
3
III-23
Zona -1 dan 2 (Tinggi Timbunan 1 meter), FS= 1.073 Zona -1 dan 2 (Tinggi Timbunan 2 meter), FS= 0.988
Zona -1 dan 2 (Tinggi Timbunan 3 meter), FS= 0.901
Zona -1 dan 2 (Tinggi Timbunan 3.5 meter), FS= 0.880
III-24
Zona -1 dan 2 (Tinggi Timbunan 4 meter), FS= 0.848
Zona -1 dan 2 (Tinggi Timbunan 4.5 meter), FS= 0.832
Zona -1 dan 2 (Tinggi Timbunan 5 meter), FS= 0.817
Zona -1 dan 2 (Tinggi Timbunan 5.5 meter), FS= 0.807
III-25
Zona -1 dan 2 (Tinggi Timbunan 6 meter), FS= 0.797
Gambar 3. 7 Plot Grafik Pola Keruntuhan Pada Timbunan
3.7.3. Analisa Penurunan Timbunan
Analisis Penurunan dengan Metode Konvensional (Terzaghi)
Analisis penurunan dilakukan dengan menggunakan metode konvensional, dengan
menerapkan metode Terzaghi. Hasil perhitungan tersebut berupa penurunan timbunan
terhadap waktu untuk berbagai macam tinggi timbunan. Adapun variasi tinggi
timbunan berkisan dari 1m sampai 6m.
Karena pada setiap zonasi terdapat beberapa lapisan tanah, maka digunakan nilai C
v,
eq.
dengan persamaan sebagai berikut:
2
1
2
1
, .
n
i
n
i
i
hi
Cv eq
hi
Cv
=
=
(
(

=
(
(
(

dimana:
hi = tebal lapisan tanah ke-i (m)
cv
i
= koefisien konsolidasi (m2/tahun)
III-26
Dalam analisis, muka air tanah diasumsikan berada pada permukaan tanah asli.
Timbunan yang digunakan menggunakan pasir dengan berat jenis () = 20 kN/m
3
.
Kemiringan timbunan menggunakan perbandingan 1 : 1 dan tinggi timbunan
dihitungan mulai pada ketinggian 1 meter hingga 6 meter. Bentuk pemodelan
timbunan untuk penurunan konsolidasi diperlihatkan pada gambar di bawah ini L
Gambar 3. 8 Pemodelan Timbunan Jalur Kereta Api
3.7.3.1 Analisa Penurunan Zona -1
Penurunan tanah timbunan pada Zona -1 diprediksi akan berlangsung selama 1650
hari hingga penurunan mencapai 100%. Timbunan di zona -1 direncanakan masing-
masing 1 hingga 6 meter diperlihatkan pada Gambar 3. 9 Plot Grafik Penurunan
Konsolidasi Pada Zona -1. Resume perhitungan penurunan pada zona -1
diperlihatkan pada Tabel 3. 8 Resume Penurunan Pada Zona -1:
Gambar 3. 9 Plot Grafik Penurunan Konsolidasi Pada Zona -1
Timbunan
Tanah dasar
H
7 meter
1
1
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
0 250 500 750 1000 1250 1500 1750
p
e
n
u
r
u
n
a
n
(
m
)
Waktu (Hari)
Penurunan Total vs Waktu
Zona -1
1m 2m 3m 3.5m 4m
4.5 6m 5.5m 5m
III-27
Tabel 3. 8 Resume Penurunan Pada Zona -1
3.7.3.2 Analisa Penurunan Zona -2
Penurunan tanah timbunan pada Zona -1 diprediksi akan berlangsung selama 1650
hari hingga penurunan mencapai 100%. Timbunan di zona -1 direncanakan masing-
masing 1 hingga 6 meter diperlihatkan pada Gambar 3. 10 Plot Grafik Penurunan
Konsolidasi Pada Zona -2. Resume perhitungan penurunan pada zona -1
diperlihatkan pada Tabel 3. 9 Resume Penurunan Pada Zona -2:
Gambar 3. 10 Plot Grafik Penurunan Konsolidasi Pada Zona -2
Zona Tinggi Timbunan (m) Penurunan (m)
1.00 0.965
2.00 1.596
3.00 2.084
3.50 2.292
4.00 2.483
4.50 2.659
5.00 2.822
5.50 2.974
6.00 3.115
1
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
4
4.5
0 500 1000 1500 2000 2500 3000
p
e
n
u
r
u
n
a
n
(
m
)
Waktu (Hari)
Penurunan Total vs Waktu
Zona -2
1m 2m 3m 3.5 4m
4.5 5m 5.5m 6m
III-28
Tabel 3. 9 Resume Penurunan Pada Zona -2
3.7.3.3 Analisa Penurunan Zona -3
Penurunan tanah timbunan pada Zona -3 diprediksi akan berlangsung selama 1650
hari hingga penurunan mencapai 100%. Timbunan di zona -1 direncanakan masing-
masing 1 hingga 6 meter diperlihatkan pada Gambar 3. 10 Plot Grafik Penurunan
Konsolidasi Pada Zona -2. Resume perhitungan penurunan pada zona -1
diperlihatkan pada Tabel 3. 9 Resume Penurunan Pada Zona -2:
Gambar 3. 11 Penurunan Total Zona -3
Zona Tinggi Timbunan (m) Penurunan (m)
1.00 1.184
2.00 2.025
3.00 2.703
3.50 2.999
4.00 3.273
4.50 3.526
5.00 3.763
5.50 3.985
6.00 4.193
2
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1
0 50 100 150 200 250
p
e
n
u
r
u
n
a
n
(
m
)
Waktu (Hari)
Penurunan Total vs Waktu
Zona -3
1m 2m 3m 3.5 4m
4.5m 5m 5.5m 6m
III-29
Tabel 3. 10 Resume Penurunan Pada Zona -2
3.8. Analisa Rekomendasi
3.8.1. Alternatif Penanganan
Analisa rekomendasi penanganan timbunan di atas tanah lunak dapat dilakukan
dengan beberapa alternatif penanganan diantaranya adalah :
A. Pengananan Stabilitas Timbunan :
1. Perkuatan stabilitas timbunan menggunakan geosintetis
2. Perkuatan stabilitas timbunan menggunakan cerucuk gelam
3. Perkuatan berm pada kaki timbunan
4. Perkuatan stabilitas timbunan menggunakan mini pile
B. Penanganan Penurunan Konsolidasi :
a. Percepatan Konsolidasi menggungakan prefabricated vertical drain
b. Percepatan konsolidasi menggunakan sand vertical drain
c. Percepatan konsolidasi menggunakan preloading
d. Menghilangkan penurunan (zero settlement) pada timbunan menggunakan
tiang dan matras (beton atau kayu)
Pemilihan analisis yang dipilih bergantung kepada identifikasi awal proses
pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan yang diambil merupakan
pertimbangan atas faktor-faktor teknis maupun non teknis. Faktor pembiayaan
pelaksanaan yang sangat dipengaruhi juga dengan kondisi lapangan pekerjaan.
Beberapa kondisi tidak bisa diabaikan dari mulai desain awal sampai kepada kajian
ulang terhadap desain untuk mengidentifikasi biaya.
Selain segi biaya, hal-hal yang sangat berkaitan seperti dampak lingkungan, sosial,
dan resiko yang kemungkinan akan terjadi pada saat dan setelah pelaksanaan perlu
dipertimbangkan. Untuk hal itu perlu diambil keputusan yang cocok dalam
Zona Tinggi Timbunan (m) Penurunan (m)
1.00 0.400
2.00 0.598
3.00 0.733
3.50 0.787
4.00 0.835
4.50 0.878
5.00 0.917
5.50 0.953
6.00 0.986
3
III-30
pengambilan keputusan untuk pembangunan jalan dengan kondisi sekarang
khususnya di Indonesia dalam hal-hal laju penurunan kualitas jalan, biaya penundaan,
biaya perawatan dan yang lainnya yang merupakan hal yang cukup besar.
Pengambilan keputusan yang terbaik merupakan hasil identifikasi pilihan dengan
biaya-biaya yang berbeda-beda dengan dampak-dampak berbeda pula. Untuk itu perlu
pendekatan secara subyektif karena biaya yang dikeluarkan sulit untuk diterka dengan
kondisi ekonomi yang dinamis, maka perlu penskalaan biaya untuk
mengidentifikasinya.
3.8.2. Rekomendasi Penanganan
Pengananan timbunan yang