Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pemeriksaan laboratorium pada masa kini merupakan suatu kepanjangan tangan para klinis dalam mengeksplorasi seorang pasien dalam menegakkan diagnosis yang tepat, baik dan benar. Hal ini diperlukan mengingat sangat terbatasnya teknik diagnosis fisik dalam menemukan kausa penyakit, yang makin lama makin bervariasi dan memerlukan kecermatan tinggi, dan sering kali memerlukan peralatan yang canggih untuk mendiagnosinya. Kita mengenal berbagai macam tes, mulai dari pemeriksaan yang sangat sederhana, seperti pemeriksaan kadar hemoglobin (yang mempergunakan

spektrofotometer yang cukup canggih), sampai ke pemeriksaan secara otomatis dimana setetes darah yang dimasukan ke alat ini diperiksa secara serial sampai keluar hasil, misalnya : jumlah leukosit, jumlah eritrosit, jumlah trombosit, hematocrit, hemoglobin, prosentase sel monosit, dan sebagainya. Selain itu juga dikenal peralatan otomatis untuk pemeriksaan kimia klinik, yang dengan bantuan computer diatur untuk memeriksa berbagai parameter kimia klinik sampai hasil di print out computer. Bantuan peralatan canggih ini di satu pihak mengurangi human error tetapi di lain pihak juga memerlukan keahlian dan ketelitian yang lebih tinggi dari operatornya. Hal ini dapat diatasi dengan kontinuitas dalam hal pendidikan dan pelatihan disertai quality control yang ketat. Walaupun demikian masih tetap saja terdengar keluhan dari dokter bahwa hasil yang diberikan masih belum memuaskan. Di sini berperanan banyak factor, yang akan dicoba untuk ditelaah guna memperoleh pandangan dari laboratorium tentang baik buruknya hasil yang dikeluarkan oleh suatu laboratorium. Tinjauan ini terutama membahas persoalan yang sering kali muncul dalam pemeriksaan mikrobiologi, yang nota bene berhadapan dengan makhluk hidup yang mempunyai beragam karakteristik. Setiap pembiakan merupakan sesuatu yang unik, dalam arti kata tidak ada dua pembiakan yang sama persis. Cara penanganan yang kurang hati-hati dan teliti, kurangnya pengalaman dalam menghadapi berbagai kuman, anggapan bahwa mengerjakan pembiakan adalah sesuatu kerja rutin akan mempermudah terjadinya human error.

Pemeriksaan mikrobiologi ditujukan untuk menemukan penyebab penyakit dengan cara pemeriksaan langsung dan pembiakan mikroorganisme, yang dilanjutkan dengan penentuan spesies kuman dan jenis obat antimicrobial yang dapat dipakai dalam mengatasinya. Salah satu pemeriksaan mikrobiologi adalah pembiakan urin. Sebagaimana halnya darah, urin diproduksi di ginjal dalam keadaan steril, tetapi akan berkontak dengan kuman pada waktu dikeluarkan melalui uretra. Untuk pembiakan urin, sebaiknya diambil specimen berupa urin midstream. Pasien terlebih dahulu diminta membersihkan bagian luar uretra dengan kertas tissue, sebelum urin dikeluarkan, lalu pasien disuruh kencing dan sambil kencing ditampung porsi tengah dari aliran urin. Tempat penampungan harus bermulut lebar dan steril, dimana terlebih dahulu telah ditempeli identitas pasien, agar tidak tertukar. Sebaiknya bahan segera dibiakan, atau kalau belum dapat langsung dikerjakan boleh disimpan pada suhu 2-8 oC semalaman. Pemeriksaan ditujukan untuk menghitung jumlah kuman/ml urindan spesies kuman isolat. Oleh karena pada saat penampungan terjadi kontaminasi dari uretra yang seringkali mengandung flora normal, maka ditentukan bahwa jika angka kuma <100.000 per ml urin hasil dinyatakan steril (dengan pengertian bahwa jumlah koloni tidak signifikan untuk dapat dinyatakan sebagai penyebab infeksi saluran kemih). Kalau diperoleh koloni murni > 100.000 /ml urin baru dilakukan identifikasi spesies dan tes antibiogram khusus untuk isolate urin. Selain porsi tengah, urin juga dapat diperoleh melalui kateterisasi dan fungsi supra public (terutama pada anak). Kateterisasi untuk pembiakan urin sudah tidak lagi dianjurkan karena akan mengundang kuman ke dalam tubuh. Urin fungsi supra public juga sudah jarang dikerjakan karena resiko penusukan yang dapat menimbulkan komplikasi pada anak. Di dalam laboratorium praktikum populasi bakteri dan penghitungan angka bakteri atau kuman ini sangat penting karena dapat mengisolasi bakteri untuk menjadi kultur murni yang terdiri dari satu jenis yang dapat dipelajari morfologi, sifat dan kemampuan biokimiawinya selain itu dengan praktikum ini kita dapat mengetahui pasien yang terinfeksi saluran kantung kemih.

1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 1.2.2 1.2.3 1.2.4 1.2.5 Bagaimana teknik pengambilan sampel urine ? Bagaimana cara pengenceran sampel urine ? Bagaimana teknik pembiakan sampel pada media ? Bagaimana teknik menghitung kuman menggunakan colony counter ? Bagaimana cara penghitungan jumlah kuman atau bakteri dalam urine ?

1.3 Tujuan 1.3.1 1.3.2 1.3.3 1.3.4 Untuk mengetahui teknik pengambilan sampel urine. Untuk mengetahui cara pengenceran sampel urine. Untuk mengetahui teknik pembiakan sampel pada media. Untuk mengetahui teknik menghitung kuman menggunakan colony counter. 1.3.5 Untuk mengetahui cara penghitungan jumlah kuman atau bakteri dalam urine.

1.4 Manfaat 1.4.1 Manfaat Praktis Sebagai sarana pembimbing atau sebagai literature kepada para paramedis tentang teknik-teknik pengambilan sampel, pengenceran, pembiakan hingga penghitungan untuk mengetahui jumlah kuman atau bakteri dalam sampel urine.

1.4.2

Manfaat Teoritis Sebagai sarana informasi kepada para paramedis tentang teknik pengambilan sampel yang berasal dari urine hingga menghitung jumlah kuman atau bakteri yang terkandung dalam sampel urine.

BAB II DASAR TEORI 2.1 Dasar Teori Waktu ideal untuk memperoleh urine yang digunakan dalam pemeriksaan laboratorium untuk infeksi adalah pagi hari, sebelum atau bersamaan dengan buang air kecil pertama. Pada saat ini, mikroorganisme penginfeksi berada dalam jumlah terbanyak, dan pembedaan antara temuan yang secara klinis bermakna dengan yang tidak bermakna akan lebih mudah. Specimen dapat diperoleh dengan clean-catch, kateterisasi, atau aspirasi suprapubis. Specimen bagged (kantong) dari anak digunakan hanya sebagi cadangan. Specimen dari kateterisasi atau clean-catch dari perempuan dan laki-laki yang tidak disunat memerlukan disinfeksi daerah periuretra sebelum pengambilan specimen. Specimen clean-catch harus diambil dari potrsi tengah (mid-stream) untuk menghindari pencemaran dari flora periuretra transien. Spesimen yang sudah diambil memiliki konsentrasi bakteri atau kumannya sangat besar dan beranekaragam, untuk itu specimen urine tersebut konsentrasinya harus dikecilkan dari sebelumnya. Teknik untuk mengecilkan konsentrasi urine adalah Teknik pengenceran sampel atau penipisan atau Teknik pengenceran bertingkat. Teknik pengenceran bertingkat bertujuan untuk memperkecil atau mengurangi jumlah mikroba yang tersuspensi dalam cairan. Penentuan besarnya atau banyaknya tingkat pengenceran tergantung kepada perkiraan jumlah mikroba dalam sampel. Digunakan perbandingan 1 : 9 untuk sampel dan pengenceran pertama dan selanjutnya, sehingga pengenceran berikutnya mengandung 1/10 sel mikroorganisma dari pengenceran sebelumnya Cara Kerja : 1. Sampel yang mengandung bakteri dimasukan ke dalam tabung pengenceran pertama (1/10 atau 10-1) secara aseptis (dari preparasi suspensi). Perbandingan berat sampel dengan volume tabung pertama adalah 1 : 9 dan ingat akuades yang digunakan jika memakai teknik rinse dan swab sudah termasuk pengencer 10-1. Setelah sampel masuk lalu dilarutkan dengan mengocoknya (pengocokan yang benar dapat dilihat pada gambar disamping)

2. Diambil 1 ml dari tabung 10-1 dengan pipet ukur kemudian dipindahkan ke tabung 10-2 secara aseptis kemudian dikocok dengan membenturkan tabung ke telapak tangan sampai homogen. Pemindahan dilanjutkan hingga tabung pengenceran terakhir dengan cara yang sama, hal yang perlu diingat bahwa pipet ukur yang digunakan harus selalu diganti, artinya setiap tingkat pengenceran digunakan pipet ukur steril yang berbeda/baru. Prinsipnya bahwa pipet tidak perlu diganti jika memindahkan cairan dari sumber yang sama.

Setelah specimen urine diencerkan dalam beberapa skala, selanjutnya specimen dibiakan dalam media menggunakan Teknik penanaman dari suspensi. Teknik penanaman dari suspensi adalah lajutan dari pengenceran bertingkat. Pengambilan suspensi dapat diambil dari pengenceran mana saja tapi biasanya untuk tujuan isolasi (mendapatkan koloni tunggal) diambil beberapa tabung pengenceran terakhir. Selain itu dalam teknik penanaman suspensi juga menggunakan teknik Pour Plate (agar tuang). Pour plate adalah Teknik yang memerlukan agar yang belum padat (> 45oC) untuk dituang bersama suspensi bakteri ke dalam cawan petri lalu kemudian dihomogenkan dan dibiarkan memadat. Hal ini akan menyebarkan sel-sel bakteri tidak hanya pada permukaan agar saja melainkan sel terendam agar (di dalam agar)

sehingga terdapat sel yang tumbuh dipermukaan agar yang kaya O2 dan ada yang tumbuh di dalam agar yang tidak banyak begitu banyak mengandung oksigen. Adapun prosedur kerja yang dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Siapkan cawan steril, tabung pengenceran yang akan ditanam dan media padat yang masih cair (> 45oC) 2. Teteskan 1 ml secara aseptis.suspensi sel kedalam cawan kosong 3. Tuangkan media yang masih cair ke cawan kemudian putar cawan untuk menghomogenkan suspensi bakteri dan media, kemudian diinkubasi

Setelah ditempatkan dalam medium dengan nutrisi lengkap, untuk menumbuhkan bakteri dalam medium, bakteri dalam medium di inkubasi pada suhu 37 oC selama 1824 jam setelah itu bakteri tumbuh lebih besar dan akhirnya membelah menjadi dua sel. Hal ini berkesinambungan dengan produksi populasi vegetative sel yang tidak terdiferensiasi. Dalam perkembangan biakan bakteri, terjadi peningkatan massa sel dan jumlah organisme, tetapi hubungan kedua parameter tersebut tidak konstan. Penelitian kuantitatif perlu dilakukan terhadap pertumbuhan sel, atau jumlah sel per unit volume biakan, dengan kepadatan bakteri, yang didefinisikn sebagai protoplasma total per unit volume. Massa sel ditentukan langsung dalam berat kering. Metode tersebut, memakan waktu, khususnya menggunakan referensi dalam isolasi dan pemurnian dan dalam kalibrasi dasar metode lain. Metode yang sering digunakan untuk menaksir berat atau jumlah biomassa total dalam suspense ialah mengukur densitas optic kultur kaldu dengan spektrofotometer. Teknik tubidimetrik, secara khusus digunakan untuk

menentukan massa sel selama pertumbuhan, sebagai evaluasi terhadap efek zat antibakteri terhadap bakteri. Metode lain untuk menentukan nitrogen dan mengukur volume sel yang telah disentrifugasi. Jumlah bakteri dalam suatu biakan dapat ditentukan dengan menghitung langsung jumlah keseluruhan bakteri atau dengan cara tidak langsung, menghitung jumlah sel yang hidup. Jumlah total bakteri yang hidup dan mati dapat dilakukan dengan menggunakan alat penghitung seperti Petroff-Houser counter, atau cara yang lebih tepat dengan Coulter counter, suatu alat penghitung partikel elektronik yang mengukur penyebaran ukuran dan jumlah dalam suspense bakteri. Untuk menghitung jumlah yang hidup, diperlukan pembiakan pada permukaan lempeng agar. Populasi mikroorganisme diencerkan dalam pelarut nontoksik, dan populasi yang tercampur rata disebarkan dalam atau pada medium padat yang sesuai, jadi setelah inkubasi yang hidup atau cluster yang ada ditentukan dari jumlah koloni dan pengenceran. Sampel yang mengandung mikroorganisme lebih dari 100 sel per milliliter, seperti urin atau dari sumber air minum, memerlukan pemekatan sebelum dilakukan penghitungan. Hal ini dilakukan melalui filter membrane steril dengan ukuran pori yang dapat menahan semua bakteri, selanjutnya membrane dipindahkan ke suatu lapisan absoben yang jenuh oleh kaldu nutrient. Setelah penghitung terhadap kuman dengan menggunakan alat penghitung seperti colony counter, selanjutnya hasil penghitungan dimasukan kedalam rumus untuk mendapatkan angka kuman dalam sampel urine. Rumus yang digunakan sebagai berikut :

Jumlah angka kuman urine =

jumlah angka kuman urine =

Jumlah angka kuman urine = (N1-Nk) x 10 + (N2-Nk) x 100 2 Keterangan : N1 N2 Nk 10 100 2 = jumlah kuman pada pengenceran 1. = jumlah kuman pada pengenceran 2. = jumlah kuman pada media control. = koefisien pada pengenceran 1. = koefisien pada pengenceran 2. = banyaknya tahap pengenceran yang dilakukan.

BAB III METODE

3.1 Tanggal Waktu dan Tempat 3.1.1 3.1.2 3.1.3 Tanggal Waktu Tempat : 2 dan 5 Maret 2012 : 08.00 - 12.00 Wita dan 11.00 13.00 Wita : Laboratorium Bakteriologi Jurusan Analis Kesehatan

3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat : Inkubator 37OC Petri dish Pinset Timbangan electric Label Tabung reaksi Ose atau sengkelit Api bunsen Colony counter

3.2.2

Bahan

: Biakan bakteri dari Urine Air garam fisiologis (Quarter Strength Ringer Solotio 0,58%) Medium Agar

3.3 Langkah Kerja 3.3.1 Pengenceran sampel (penipisan) : 1. 2 buah tabung reaksi disiapkan dan di labeli dengan tulisan P1 dan P2 yang masing-masing diisi 9 ml air garam fisiologis (PZ). 2. Tabung P1 ditambahkan 1 ml sampel urine. 3. Dari tabung P1 diambil 1 ml lalu dimasukan ke tabung P2. Dalam praktikum kali ini pengenceran dilakukan hanya sampai 10-2. 4. Dari masing-masing tabung pengenceran P1 dan P2 diambil 1 ml, lalu ditanam pada media yang sudah disiapkan 5. Lalu diinkubasi pada suhu 37oC selama 18-24 jam.

3.3.2

Penghitungan spesimen : 1. Colony counter disiapkan. 2. Media dari P1 dan P2 yang sudah ditumbuhi bakteri dihitung menggunakan colony counter. 3. Hasilnya dicatat dan dimasukan kedalam rumus untuk

menghitung jumlah bakteri atau kuman. 4. Hasil yang didapat dimasukan ke dalam rumus untuk

mendapatkan jumlah angka kuman dalam sampel urine secara total.

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengamatan Hasil yang diperoleh dari praktikum tentang penghitungan angka kuman dalam 4 sampel urine adalah : Kuman dalam media control Sampel A Pengenceran 1 (N1) Pengenceran 2 (N2) = 83 = 95 = 4

Jumlah angka kuman urine = (N1-Nk) x 10 + (N2-Nk) x 100 2 = (83-4) x 10 + (95-4) x 100 2 = 4945/ml urine Sampel B Pengenceran 1 (N1) Pengenceran 2 (N2) = 190 = 56

Jumlah angka kuman urine = (N1-Nk) x 10 + (N2-Nk) x 100 2 = (190-4) x 10 + (56-4) x 100 2 = 3530/ml urine Sampel C Pengenceran 1 (N1) Pengenceran 2 (N2) = 100 = 59

Jumlah angka kuman urine = (N1-Nk) x 10 + (N2-Nk) x 100 2 = (100-4) x 10 + (59-4) x 100 2 = 3230/ml urine

Sampel D Pengenceran 1 (N1) Pengenceran 2 (N2) = 29 = 68

Jumlah angka kuman urine = (N1-Nk) x 10 + (N2-Nk) x 100 2 = (29-4) x 10 + (68-4) x 100 2 = 3325/ml urine Hasil diatas didapat dengan melakukan pengen 2x atau 10-2 terhadap ke-4 sampel urine.

4.2 Pembahasan Hasil dari praktikum kali ini dari ke-4 sampel yang diperiksa jumlah kumannya menunjukan hasil yang baik atau ke-4 sampel tersebut tidak terinfeksi. Hal ini dapat dikatakan karena dalam pemeriksaan angka kuman dari sampel A hingga D angka kuman yang tunjukan berkisar 3230 sampai 4945/ ml urine. Syarat yang ditentukan untuk dapat mengatakan pasien terinfeksi sebagai berikut 1. Jika jumlah angka kuman (colony count) < 10.000 / ml urine, menandakan tidak terjadi infeksi. 2. Jika jumlah angka kuman (colony count) antara 10.000 hingga 100.000 / ml urine, menandakan pasien mengalami infeksi saluran kemih. 3. Jika jumlah angka kuma (colony count) > 100.000 / ml urine, menunjukan bahwa pasien mengalami infeksi saluran kemih. Dilihat dari persyaratan diatas, jadi hasil untuk ke-4 sampel urine tersebut adalah Negatif terinfeksi saluran kemih. Namun dalam hasil pengamatan di atas terdapat jumlah angka kuman pada pengenceran 1 lebih besar dari pengenceran 2 maupun sebaliknya. Sebenarnya hal yang diharapkan adalah jumlah pengenceran 2 lebih sedikit dibandingkan dengan pengenceran 1 karena selain untuk mengukur jumlah angka kuman teknik ini digunakan untuk mengetahuin jenis kuman atau bakteri apa saja yang terdapat dalam sampel urin tersebut. Pada pengenceran 1 kuman atau bakteri tersebut masih dalam konsentrasi yang banyak dan bercampur, lalu pada pengenceran 2 jumlah bakteri berkurang dan konsentrasinya berkurang jika pengenceran dilanjutkan pengenceran ke 3, ke 4, hingga seterusnya maka jumlah

bakteri semakin sedikit dan kita bisa menentukan jenis kuman atau bakteri yang terdapat dalam sampel urine. Seperti gambar dibawah ini

Terlihat pada gambar pengenceran 1 atau 10-1 memiliki bintik-bintik hitam jauh lebih banyak dibandingkan dengan pengenceran selanjutnya. Namun ada juga yang kebalikan dari hal diatas yaitu pada pengenceran 1 jumlah kuman atau bakteri jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan pengenceran 2, hal ini dapat terjadi karena dalam pengenceran 1 dengan jumlah kuman atau bakteri yang banyak dan jenis bakteri yang beranekaragam jenis saling berlomba memperoleh makanan, sehingga ada beberapa bakteri atau kuman yang tidak dapat memperoleh makan sehingga tidak dapat berkembangbiak, tetapi setelah dilakukannya pengenceran 2 yang mengambil bahan dari pengenceran 1 menyebabkan jumlah kuman atau bakteri di pengenceran 2 lebih sedikit sehingga sedikit pulang persaingan untuk memperoleh makanan. Bakteri atau kuman dengan bebas memakan semua nutrisi yang terdapat dalam media pembiak tanpa adanya persaingan sesame kuman atau berbeda kuman Karena jumlah kuman dalam pengenceran 2 jauh lebih sedikit dan hal ini yang menyebabkan bakteri atau kuman dalam pengenceran 2 lebih cepat untuk

berkembangbiak sehingga secara otomatis jumlah kuman atau bakteri menjadi meningkat. Kedua hal ini sering terjadi dalam pembiakan dan penghitungan angka kuman, tetapi hal ini tidak menjadi masalah dalam melakukan pembiakan dan penghitungan angka kuman. Untuk mendapatkan hasil yang baik dalam menghitung angka kuman sebaiknya dilakukan dengan prosedur yang benar yaitu : Sampel dimasukan ke tabung yang berisi 9 ml aquades untuk pengenceran 1, selanjtunya diencerkan sampai tingkat pengenceran tertentu. Dari 2 atau 3 pengenceran terakhir diplanting (ditanam) ke media NA (Nutrien Agar) atau PCA (Plate Count Agar) sebanyak 1 sampai 2 kali tiap pengenceran. Plating dapat secara Pour plate atau Spread plate Setelah itu di inkubasi pada suhu 30-37oC selama 1 sampai 2 x 24 jam. Setelah ditumbuhi, koloni lalu dihitung dengan persyaratan di atas.

Perhitungan koloni pada cawan sebaiknya dibuat transek atau dibagi-bagi jika koloni yang tumbuh terlalu banyak. Transek dibuat dengan spidol atau marker di bagian bawah cawan petri. Pola transek dapat dibuat bervariasi, tergantung kebutuhan. Penghitungan akan lebih mudah bila memakai Colony Counter.

BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan Simpulan yang didapat dari praktikum bakteriologi adalah : 1. Teknik pengambilan sampel urine adalah menggunakan teknik clean-catch yaitu pengambilan sampel urine harus diambil dari potrsi tengah (mid-stream) untuk menghindari pencemaran dari flora periuretra transien. 2. Teknik yang digunakan untuk mengencerkan sampel urine adalah Teknik Pengenceran Bertingkat karena teknik ini dapat memperkecil atau mengurangi jumlah bakteri atau kuman yang tersuspensi dalam cairan. 3. Teknik pembiakan untuk sampel urine dengan menggunakan media NA (Nutrient Agar) yang dilakukan dengan cara pour plate (agar tuang). Teknik ini dapat akan menyebarkan sel-sel bakteri tidak hanya pada permukaan agar saja melainkan sel terendam agar (di dalam agar) sehingga terdapat sel yang tumbuh dipermukaan agar yang kaya O2 dan ada yang tumbuh di dalam agar yang tidak banyak begitu banyak mengandung oksigen 4. Dalam menghitung jumlah angka bakteri atau kuman digunakan teknik Plate count ditambah dengan penggunaan colony counter. Teknik ini digunakan karena dengan teknik ini menghitng dapat lebih mudah dilakukan karena dibantu dengan colony counter. 5. Setelah mendapatkan jumlah angka kuman dari setiap pengenceran, dilanjutkan

5.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

Entjang, Indan. 2003.Mikobiologi dan Parasitologi untuk Akademi Keperawatan dan Sekolah Tenaga Kesehatan yang Sederajat. Bandung: PT.Citra Aditya Bakti. Radji, Maksum. 2011.Buku Ajar Mikrobiologi Panduan Mahasiswa Farmasi dan Kedokteran.Bandung: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Sacher, Ronald and Richard A. McPherson. 2004. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Edisi II. Philadelphia, Pennsylvania,USA: F.A. Davis Company