Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM EKONOMI PRODUKSI PETERNAKAN

Observasi Peternakan Sapi Perah Rakyat

Disusun Oleh:

Eko Sentiko : 105050113111013 Kelas : A

FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2011

DAFTAR ISI

Daftar Isi......................................................................................................................................i BAB I.PENDAHULUAN..........................................................................................................1 1.1 Latar Belakang.........................................................................................................1 1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................................2 1.3 Tujuan.......................................................................................................................2 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................................3 BAB III. DATA DAN PEMBAHASAN............................................................................... ....6 3.1 Identitas peternak.....................................................................................................6 3.2 Perkandangan...........................................................................................................6 3.3 Peralatan kandang dan tenaga kerja.........................................................................6 3.4 Pemberian pakan dan minum...................................................................................6 3.5 Pemerahan................................................................................................................7 3.6 Biaya produksi.........................................................................................................7 3.7 Penerimaan dan pendapatan.....................................................................................8 3.8 Break Even Point......................................................................................................9 3.9 B/C Ratio..................................................................................................................9 3.10 Analisa Penadpatan.............................................................................................10 BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN................................................................................11 4.1. Kesimpulan...........................................................................................................11 4.2. Saran......................................................................................................................11 DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................12 LAMPIRAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peternakan merupakan subsektor pertanian yang berperan dalam pembangunan di Indonesia yaitu menyediakan pangan hewani yang bernilai gizi tinggi. Pembangunan peternakan juga bertujuan untuk meningkatkan pendapatan serta menambah devisa dan memperluas kesempatan kerja. Proses produksi, pendapatan dan konsumsi dalam rumahtangga peternak sapi perah merupakan satu unit kesatuan yang saling terkait, sehingga setiap terjadi perubahan dalam kebijakan yang mengatur aktivitas usaha ternak sapi perah akan berpengaruh terhadap produksi, pendapatan, konsumsi dan penggunaan tenaga kerja. Rumah tangga peternak sapi perah harus bisa hidup dari hasil produksinya sehingga harus bekerja keras untuk memperoleh tambahan produksi yang diharapkan. Tambahan produksi yang diperoleh meskipun sedikit tampaknya tidak menjadi persoalan. Susu sapi perah merupakan salah satu bahan pangan yang sangat penting dalam mencukupi kebutuhan gizi masyarakat, karena susu bernilai gizi tinggi dan mempunyai komposisi zat gizi lengkap dengan perbandingan gizi yang sempurna, sehingga mempunyai nilai yang sangat startegis. Susu sebagai salah satu sumber protein hewani yang dibutuhkan oleh generasi muda terutama usia sekolah. Penduduk Indonesia pada usia wajib sekolah cukup besar yaitu 38% dan laju pertumbuhan 1,49% per tahun, sehingga diperkirakan tahun 2010 penduduk Indonesia akan mencapai 240 juta orang. Dari jumlah penduduk tersebut, sebanyak 91,2 juta merupakan generasi muda usia wajib sekolah. Diperkirakan kebutuhan susu untuk memenuhi konsumsi generasi usia wajib sekolah tersebut sebanyak 4,6 juta ton per tahun, sedangkan penyediaan susu baru dapat mencapai 2,1 juta ton. Hal ini merupakan indikasi bahwa peluang untuk mengembangkan industri persusuan di masa mendatang cukup baik. Namun demikian produksi susu sapi perah sampai saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan susu dalam negeri, sehingga masih mengimport susu sebanyak 60 70%. Belum terpenuhinya kebutuhan susu diakibatkan dari rendahnya produktivitas sapi perah (Anggraeni et al., 2001). Menurut Schmidt et al (1988), bahwa produktivitas sapi perah yang masih rendah disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kualitas genetik ternak,

tatalaksana pakan, umur beranak pertama, periode laktasi, frekuensi pemerahan, masa kering kandang dan kesehatan. Penyebab rendahnya produksi susu adalah pakan (kualitas dan kuantitas), tata cara pemerahan, sistem perkandangan, sanitasi dan penyakit terutama mastitis (Sudarwanto, 1999). Pemeliharaan sapi perah di Desa Mbian Kecamatan Pujon dilakukan secara tradisional dan produksi susu rata-rata di desa tersebut juga masih rendah, oleh karena itu diperlukan upaya peningkatan kapasitas produksi. Selain itu juga perlu dianalisis apakah usaha ternak perah tersebut menguntungkan atau tidak, sehingga langkah selanjutnya akan mudah untuk memperkirakan hasil produksinya. 1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana analisis ekonomi usaha ternak sapi perah pada peternakan rakyat

1.3 Tujuan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menganalisis ekonomi produksi sapi perah dalam sekala usaha ternak rakyat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Produktivitas Produktivitas adalah perbandingan antara (output) yang dihasilkan dengan masukan (input) yang digunakan. Shobarudin, Wijaya, Atmaja dan Muhammad (1997) menambahkan dimana input bisa berupa tenaga kerja, biaya produksi dan teknologi sedangkan output berupa produk tertentu. Pengukuran produktivitas sapi perah dalam suatu usaha adalah penting baik ditinjau dari segi ekonomi maupun dari segi fisik (Sitorus, Basya dan Nuraini, 1980). Mubyarto (1993) menyatakan produktivitas suatu usaha dibedakan menjadi dua yaitu produktivitas fisik dan produktivitas ekonomi. Produktivitas fisik dalam usaha ternak sapi perah diukur dari produksi rata-rata sapi laktasi dan efisienasi pakan. Produktivitas ekonomi diukur dari nilai produksi susu pernilai penyusutan sapi dan nilai efisiensi pakan (Kay, 1986). Produktivitas ekonomi ransum dihitung berdasarkan nilai produksi susu per nilai pemberian ransum untuk jangka waktu tertentu. Produktivitas ekonomi ransum adalah nilai usaha per rupiah harga ransum yang diberikan. Produktivitas ekonomi sapi diukur dari perbandingan antara nilai produktivitas fisik sapi dengan nilai penyusutan (Kusnadi, 1999). 2.2 Analisis Data Analisis terhadap produktivitas usaha ternak sapi perah dilakukan penelitian terhadap aspek-aspek finansial sebagai berikut: 1. Biaya Total (Bishop dan Tossaint,1979 yang disitasi oleh M.B. Hariyono, 2007): TC = FC + VC Dimana TC = Total Cost (Biaya Total) FC = Fixed Cost (Biaya Tetap) VC = Variable Cost (Biaya Tidak Tetap) 2. Penerimaan Total (Bishop dan Tossaint,1979 yang disitasi oleh M.B. Hariyono, 2007)

TR = Pq x Q Dinama TR = Total Revenue (Penerimaan Total)

Pq = Price Of Quanlity (Harga Satuan) Q = Quantity (Output) 3. Pendapatan (Bishop dan Tossaint,1979 yang disitasi oleh M.B. Hariyono, 2007) = TR TC Dimana : TR TC = Pendapatan (Rp/th)

= Total Revenue (Rp/th) = Total Cost (Rp/th)

4. Break Even Point (BEP) Adalah suatu keadaan dimana seluruh penerimaan (total revenues) secara persis hanya mampu menutup seluruh pengeluaran (total cost) atau Suatu kondisi dimana perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak pula menderita rugi. Menurut Soekartawi (1995), Analisis break even point bertujuan menemukan satu titik baik dalam unit maupun rupiah yang menunjukkan biaya sama dengan pendapatan. Dengan mengetahui titik tersebut, berarti dalam padanya belum diperoleh keuntungan atau dengan kata lain tidak untung tidak rugi. Sehingga ketika penjualan telah melewati angka BEP maka mulailah keuntungan diperoleh. BEP produksi BEP harga (Sutama, 2009) 5. B/C ratio Menurut Soekartawi (1995), analisis benefit-cost ratio (B/C) ini pada = TC / Harga Jual = TC / Total Produksi

prinsipnya sama saja dengan analisis R/C (revenue-cost ratio), hanya saja pada analisis B/C ratio ini data yang diperhitungkan adalah besarnya manfaat. Secara teoritis manfaat ini dihitung dengan rumus sebagai berikut: B/C = Revenue/Cost

Kriteria yang dipakai adalah: B/C > 1 Jika B/C > 1, maka suatu usaha ternak dikatakan memberikan manfaat bagi pelaku usaha atau layak untuk diusahakan. B/C = 1 Jika B/C = 1, maka suatu usaha ternak dikatakan impas atau tidak memberikan keuntungan dan tidak memberikan kerugian, dalam analisis kelayakan dikatakan tidak layak. B/C < 1 Jika B/C < 1, maka suatu usaha ternak dikatakan tidak memberikan manfaat bagi pelaku usaha atau tidak layak untuk diusahakan. (Adisarwanto, 2009).

BAB III PEMBAHASAN

5.1 Identitas Peternak Nama peternak Alamat rumah Umur : Bpk. Islam : Ds. Mbian Kec. Pujon : 71 tahun

Jenis komoditi ternak : Sapi Perah Jumlah kepemilikan : 4 ekor (pedet 1, bunting 1 dan laktasi 2)

5.2 Perkandangan Pada umumnya kandang berada di sekitar rumah tempat tinggal peternak, karena terlalu besarnya kewaspadaan peternak terhadap pencurian ternak dan memudahkan peternak untuk mengontrol ternaknya. Lokasi kandang responden berarti tidak sesuai pendapat Siregar (1995) yang menyatakan bahwa lokasi kandang tidak berdekatan dengan pemukiman penduduk. Luas area kandang sekitar 15m2 dengan umur ekonomis kandang sekitar 50 tahun. Lahan atau tanah yang digunakan adalah milik sendiri. 5.3 Peralatan Kandang dan Tenaga Kerja Peralatan kandang yang digunakan oleh peternak antara lain adalah: bak/baskom, skop, sabit, sack, milkcan, dll. Diperkirakan biaya yang dikeluarkan untuk membeli peralatan tersebut sebesar Rp. 300.000,- sedangkan masa pakai atau umur ekonomisnya rata rata selama 36 bulan. Tenaga kerja yang dimiliki hanya satu orang yang tidak lain adalah anak menantunya sendiri, sehingga tidak ada biaya yang dikeluarkan untuk menggaji tenaga kerja secara langsung. 5.4 Pemberian Pakan dan Minum Pemberian pakan berupa hijauan segar dan pakan jadi atau complete feed. Jumlah pakan yang diberikan sebanyak 6kg pakan komplet dan sekitar 45kg hijauan segar untuk setiap ekor ternak per hari. Harga pakan jadi per kilogrm sebesar Rp.2.340,- sedangkan untuk hijauan segar diperoleh dengan cara mencari rumput sendiri di ladang sehingga biaya tidak diperhitungkan. Minum diberikan setiap siang dan sore hari.

5.5 Pemerahan Pemerahan dilakukan pada pagi dan sore hari. Produksi rata-rata sebesar 20 liter per ekor per hari. Jumlah ini terbilang cukup baik jika dibanding dengan produksi susu sapi perah rata-rata di Jawa Timur. Maharsi (1994) mengatakan bahwa produksi susu sapi perah yang dikelola koperasi di Jawa Timur rata-rata per ekor 8,6 liter/hari. 5.6 Biaya Produksi Biaya produksi adalah biaya-biaya yang timbul dari penyelenggaraan proses produksi, karena sifat-sifatnya digolongkan menjadi dua macam yaitu, (Rosyidi, 1991; Makeham dan Malcolm, 1990; Siregar, 1995): 1. Biaya Tetap atau fixed cost Adalah umur biaya atau pengeluaran yang ditanggung oleh pengelola selalu tetap, walaupun terjadi perubahan dalam usahaternak sapi perah. 2. Biaya Tidak tetap atau variabel cost Adalah biaya yang dikeluarkan oleh pengelola dalam usahaternak dengan adanya suatu hasil atau output. Tabel 1. Fixed Cost
No 1 2 3 Komponen Biaya kandang Peralatan Ternak (3) TOTAL Harga Satuan Rp2.000.000 Rp300.000 Rp13.000.000 Rp Rp Rp Rp Jumlah (Rp) 2.000.000 300.000 36.000.000 38.300.000 Masa Pakai (bl) 600 36 Penyusutan per bulan (Rp) Rp Rp 3.333 8.333 71.429 83.095

168 Rp Rp

Harga beli sapi perah per ekor sekitar Rp 13.000.000, umur ekonomis sapi perah kirakira 14 tahun (168 bulan). Sedangkan untuk harga jual sapi perah afkir sekitar Rp20.000 per kilogram bobot hidup, jika estimasi berat badan hidup sapi perah afkir sekitar 400kg maka hasil yang diperoleh dari penjualan sapi perah afkir sebesar Rp8.000.000.

Tabel 2. Variable Cost


Jumlah per ekor No Komponen 1 Pakan komplet 2 Pakan rumput 3 Listrik TOTAL Rp62.370 (kg) 6 45 Harga satuan Rp2.340 Rp150 Jumlah ternak 3ekor 3ekor Total per hari Total per bulan Rp42.120 Rp20.250 Rp1.263.600 Rp607.500 Rp10.000 Rp1.881.100

Berdasarkan tabel 1 dan 2 dapat dilihat bahwa masih banyak komponen baik dari Fixed Cost maupun Variable Cost yang tidak dicantumkan atau tidak masuk dalam perhitungan peternak yaitu biaya tenaga kerja. Total pengeluaran (TC) peternak dalam setiap bulannya adalah sebesar Rp. 1.964.195,- (VB+biaya penyusutan perbulan). 5.7 Penerimaan dan Pendapatan Penerimaan dari usaha sapi perah terdiri dari penjualan susu dan penjualan pedet yang tidak digunakan sebagai peremajaan. Sumber penerimaan terbesar dan utama adalah dari penjualan susu sehingga besar kecilnya penerimaan usaha sapi perah sangat tergantung pada jumlah susu yang di produksi (Siregar, 1995). Tabel 3. Penerimaan Total Revenue (TR)
No Komponen 1 Susu 2 Pedet TOTAL Rp125.000 Rp3.750.000 Jumlah 40 lt Harga per liter Rp3.125 Jumlah total Rp125.000 Jumlah per bulan Rp3.750.000

Pendapatan Pendapatan : TR TC : Rp. 3.750.000 - Rp. 1.964.195 : Rp. 1.785.805,-/ bulan

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa penerimaan perbulan peternak responden sebesar Rp. 3.750.000. Pendapatan usaha adalah selisih antara peneriman dengan

biaya produksi. Pendapatan per bulan adalah sebesar Rp. 1.785.805. pendapatan tersebut

belum dikurangi dengan biaya listrik perbulan, air, tenaga kerja dan biaya lain-lain. Kemudian pendapatan tersebut juga belum termasuk biaya keuntungan dari limbah kotoran yang dijadikan biogas dan digunakan untuk keperluan memasak sehari-hari. Sehingga dengan demikian usaha peternak tersebut masih tergolong sebagai usaha yang menguntungkan dan layak untuk dilanjutkan dan dikembangkan.

5.8 Break Even Point (BEP) 1. BEP produksi = TC / Harga Jual = Rp. 1.964.195 / Rp3.125
= 628,54 Lt

Artinya, peternak akan mendapatkan keuntungan setelah produksi susu ternaknya mencapai 628,54 liter. Dengan kata lain peternak tidak

mendapatkan untung dan juga tidak rugi ketika produksi susunya mencapai 628,54 liter sehingga keuntungan baru dapat diperoleh saat produksi susunya sudah lebih dari 628,54 liter. 2. BEP harga = TC / Total Produksi (dalam 1 bulan) = Rp. 1.964.195 / (40 x 30) = Rp. 1.637,Artinya, peternak akan mengalami keuntungan jika harga susu per liternya lebih dari Rp. 1.637. Ketika harga susu per liternya sebesar Rp. 1.637 maka peternak tidak mendapatkan untung dan juga tidak rugi, sehingga jika harga susu di KUD tempat peternak menjual susu sebesar Rp3.125 maka keuntungan
peternak sebesar Rp1.488 untuk setiap leter susu.

5.9 B/C Ratio B/C = Revenue/Cost = Rp3.750.000 / Rp. 1.964.195 = 1,90 Artinya, setiap Rp 1 yang dikeluarkan akan menghasilkan keuntungan Rp0,90. Sehingga usaha ternak sapi perah rakyat milik Bpk Islam tersebut layak untuk di lanjutkan dan dikembangkan.

5.10 Analisa Pendapatan


Modal Usaha Penerimaan Per Bulan Per Tahun Rp450.000.000 Pengeluaran / bl Keuntungan / bl BEP Produksi Harga 628,54 Lt Rp. 1.637 B/C Ratio 1,9

Rp38.300.000 Rp3.750.000

Rp1.964.195 Rp. 1.785.805

Keterangan: dari hasil analisis diatas dapat dilihat bahwa usaha ternak sapi perah milik Bpk Islam mempunyai keuntungan yang cukup besar dan B/C Ratio yang positif, itu artinya usaha tersebut layak untuk dilanjutkan dan dikembangkan.

BAB IV PENUTUP

Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan di usaha ternak sapi perah milik Bpk. Islam yang beralamatkan di Ds. Mbian Kec. Pujon dapat disimpulkan sebagai berikut: pendapatan per bulan yang diterima oleh peternak tersebut adalah sebesar Rp. 1.867.234. Pendapatan tersebut masih cukup besar karena selain itu peternak juga mendapatkan keuntungan dari pengolahan limbah kotoran menjadi biogas, sehingga keperluan gas untuk memasak sudah bisa tercukupi dengan biogas tersebut. Hal ini akan mengurangi biaya pengeluaran dalam kelurga, sehingga margin keuntungan lebih besar.

Saran Disarankan agar peternak dapat meningkatkan produksi ternaknya dengan jalan memperbaiki manajemen pemeliharaan, serta mencatat semua arus keuangan yang terjadi dalam usaha ternak sapi perahnya tersebut, sehingga dapat diketahui dengan jelas berapa keuntungan yang diperoleh dalam setiap bulannya.

DAFTAR PUSTAKA

Adisarwanto, T., 2009. Budidaya Kedelai Tropika. Penebar Swadaya, Jakarta. Anggraeni, A., K. Diwiyanto, L. Praharni, A. Soleh dan C. Talib. 2001. Evaluasi mutu genetik sapi perah induk FH didaerah sentra produksi susu. Prosiding Hasil Penelitian bagian proyek Rekayasa Teknologi Pertanian/ARMP II. Puslibangnak. Bogor. Bishop, C.E. dan W.D. Toussant. 1979. Pengantar Analisa Ekonomi Pertanian. Diterjemahkan oleh Wisnuaji, Harsono dan Suparnoko. Mutiara Jakarta. Haryono M.B,. 2007. Produktivitas Usaha Sapi Perah Rakyat Di Desa Bocek Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang. Jurnal Protein Kay, RD. 1986. Farm Management : Planning, Control and Implementation. Second Edition. Mc Graw-Hill International Editions. Mc Graw-Hill Book Company. Singapore. Kusnadi. 1999. Akuntansi Biaya (Tradisional dan Modern). Fakultas Ekonomi. Universitas Jendral Ahmad Yani. Bandung. Mubyarto. 1993. Pengantar Ekonomi Perusahaan. LP3ES. Jakarta. Schmidt, G.H., L.D. Van Vleck and M.F. Hutjunes. 1988. Principles of Dairy Sciences. 2 nd ed. Prentice Hill, Engglewood Cliffs, New Jersey. Shobarudin, A.T., Wijaya, D., Atmajaya. Dan Muhammad. 1997. Produktivitas Pelayanan Publik di lembaga Pemerintah Desa Studi Banding desa Ngadri dan Tumpak Kepuh di kabupaten Dati II Blitar. Fakultas Adsministrasi. Universitas Brawijaya Malang Sitorus, P., Basya dan Nuraini. 1980. Daya Produksi Susu Sapi Perah di daerah Soekartawi, 1995, Analisis Usaha Tani, UI-Press, Jakarta Sudarwanto, M. 1999. Usaha peningkatan produksi susu melalui program pengendalian mastitis subklinis, Orasi Ilmiah, FKH. IPB. Bogor. Sutama, I-Ketut dan IGM Budiarsana. 2009. Panduan Lengkap Kambing dan Domba. Penebar Swadaya: Depok

Lampiran

Gambar 1. Foto dengan pemilik ternak