Anda di halaman 1dari 11

Duka Orangutan dari Kebun Kelapa Sawit

Pipin Noviati Sadikin Januari 2012

Duka Orangutan dari Kebun Kelapa Sawit


Empat puluh tahun sudah berlalu semenjak konferensi PBB tahun 1972 di Stockholm, Swedia yang mengusung tema Lingkungan Hidup. Pada saat itu disepakati bersama oleh para kepala negara dan perwakilannya mengenai Hari Lingkungan Hidup yang jatuh pada tanggal 5 Juni. Pada kesempatan itu pula, dideklarasikan asas-asas lingkungan hidup agar menjadi kerangka acuan bagi setiap negara yang hadir dan turut berpartisipasi mendeklarasikannya. Kini memasuki tahun ke-40, kenyataan berkata lain. Kerusakan lingkungan hidup masih kerap ditemui di berbagai belahan dunia. Termasuk di Indonesia. Indikasi yang signifikan terlihat dari gangguan dan kerusakan ekosistem pada berbagai tingkatan yang menyebabkan komponen-komponen ekosistemnya juga turut terganggu. Komponen tersebut adalah keanekaragaman varietas (genetic,

variety, atau subspecies diversity), keanekaragaman jenis (species diversity).


Meskipun Indonesia adalah negara mega-biodiversity, tetapi tentu saja tetap ada konsekuensi yang harus dibayar, yaitu keanekaragaman hayatinya yang terancam punah. Secara langsung maupun tidak langsung, manusia memang tergantung kepada alam dan lingkungan hidup. Akan tetapi, karena berlaku tidak bijaksana terhadap ekosistem, maka manusia juga lah yang akan menerima akibatnya. Dari penelitian yang dilakukan dari tahun 1997 hingga 2010 diperoleh hasil bahwa populasi orangutan mengalami penurunan yang sangat serius. Bahkan di salah satu hutan lokasi habitat orangutan dimana ditemukan sarang orangutan 20-57 sarang, ternyata sudah beralih menjadi perkebunan kelapa sawit. (Yuliani, et al.) Orangutan adalah primata khas Indonesia yang dilindungi, dan tercantum dalam UU Pemerintah no 5 dan tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya alam, keanekaragaman hayati dan ekosistem. Secara langsung, tidak ada manfaat ekonomi dari orangutan. Akan tetapi, banyak manfaat lainnya. Orangutan merupakan spesies dasar bagi konservasi. Spesies ini memegang peran yang penting bagi generasi hutan melalui buah-buahan dan biji-bijian yang mereka makan. Hilangnya orangutan

pg. 1

mencerminkan hilangnya ratusan spesies tanaman dan hewan pada ekosistem hutan hujan. Selain fungsi ekologisnya yang penting, orangutan mempunyai fungsi pendidikan dan kebudayaan, yang juga penting. Yaitu sebagai media belajar, bagi generasi mendatang rakyat Indonesia yang kelak diharapkan menghargai, mencintai dan menjaga aset bangsanya sendiri. Penyebaran orang utan dan perkiraan populasinya adalah sebagai berikut: di Sumatra, spesies Pongo abelii berjumlah 6.624 ekor. Di Kalimantan bagian Barat Laut orangutan jenis Pongo pygmaeus subsp pygmaeus berjumlah 3000-4500 ekor. Di Kalimantan Tengah orangutan spesies Pongo pygmaeus subsp wurmbii 34.975 ekor. Sementara di Kalimantan bagian Timur Laut adalah jenis Pongo pygmaeus

subsp morio berjumlah 15.800 ekor. (Yuliani, et al.)


Pada tahun 1994, jumlah orangutan ada sekitar 12.000 ekor, dan pada tahun 2003 jumlah orangutan menjadi 7.300 ekor - news. okezone. com (27 Desember 2011)

Tahun yang Berat Bagi Orangutan


Sudah ada hukum perlindungan primata orangutan ini berupa peraturan pemerintah, yang dimulai sejak pemerintahan kolonial Belanda. Kemudian, pemerintah Indonesia mengeluarkan peraturan pemerintah no 5/1990 tentang Konservasi sumber kehidupan dan ekosistem orangutan, dengan pelaksanaan peraturan pemerintah yang mengatur tentang konservasi jenis-jenis flora fauna yang terancam punah, yaitu peraturan pemerintah no 7/1999, eksploitasi jenis-jenis flora fauna yang terancam punah, yaitu peraturan pemerintah no 8/1999. Peraturan pemerintah no 41/1999 tentang kehutanan yang melaksanakan peraturan-peraturan tentang perlindungan hutan PP no. 45/2004 tata kelola hutan, perencanaan, dan eksploitasi hutan PP no 6/2007 dan peraturan menteri tentang panduan mengelola konflik antara manusia dan kehidupan alam liar. P no 48/Menhut-II/2008. Peraturan no 27/2007 tentang Perencanaan Ruang. Sementara Strategi Nasional dan Rencana Aksi untuk orangutan, pelaksanaannya sudah disahkan melalui peraturan Menteri Kehutanan P no 53/Menhut-IV/2007.

pg. 2

Di Kalimantan Tengah ditemukan 4 tengkorak orangutan dalam kawasan perkebunan PT Sarana Titian Permata, anak perusahaan Wilmar Group dari Singapura, sementara 1 orangutan masih tersangkut di atas pohon dan diduga mati karena ditembak. Berdasarkan database Kehutanan, dalam satu tahun 75 orangutan dievakuasi. Satu tahun sebelumnya 1 bayi orangutan dievakuasi. Orangutan yang berhasil diselamatkan segera dievakuasi, dan yang tidak selamat tewas digebukin atau jarinya dipotong. Kasus ini baru mencuat setelah beritanya dimuat di koran lokal pembantaian di Desa Puan Cepak tahun 2009-2010. Pada bulan Januari-Oktober 2011, sejumlah 691 orangutan tewas dibantai di wilayah PT Khaleda Agroprima Malindo, perusahaan kelapa sawit milik Malaysia. Selain tewas, ditemukan pula orangutan dengan kondisi mengenaskan karena diburu dan dibantai di perbatasan hutan dan perkebunan. Sementara, data yang dipublikasikan Washington Post jumlah orangutan yang tewas dibunuh oleh warga desa di Kalimantan berjumlah 750 ekor. National Geographic Indonesia.com (23 Desember 2011) Peraturannya sudah cukup lengkap, akan tetapi berkurangnya populasi orangutan terus meningkat tajam. Sejak tahun 1900, populasi orangutan terus menurun, maka kini populasi yang tinggal hanya sekitar 7% Orangutan Borneo dari spesies Pongo Pygmaeus. Dan sekitar 14% Orangutan Sumatra Pongo Abelii di abad ke-20. (Yuliani, et al.) Meskipun banyak bukti berupa tengkorak, kulit dan bagian tubuh orangutan tergeletak dan berserakan, serta orangutan tergeletak di hutan dan area perkebunan, namun tidak ada tindakan serius dari aparat pemerintahan, sementara pihak kementerian mengaku lambat bertindak karena sulitnya memperoleh saksi . news.okezone.com (27 Desember 2011) Hutan Indonesia merupakan rumah bagi 90% spesies orangutan liar yang masih tersisa. Namun, manusia adalah ancaman yang serius bagi orangutan. Selama limapuluh tahun ini, hutan Indonesia banyak berkurang bagi kepentingan ekonomi sebagian kelompok kecil saja. Rusaknya kualitas dan kuantitas hutan ini terjadi karena pembalakan liar (deforestasi) atau illegal logging serta pembukaan lahan hutan menjadi lahan sawit / industri kertas dan bubur kertas/ industri perkebunan

pg. 3

kayu, atau pertambangan, pembangunan infrastruktur, dan juga kebakaran hutan. Kemudian terjadi pula penangkapan dan penjualan orangutan secara ilegal. Akibatnya habitat orangutan rusak, orangutan kehilangan rumah, orangutan berebutan lahan dengan manusia dan terjadi konflik yang menimbulkan penganiayaan orangutan. Maka ketika pepohonan tinggi yang menjadi habitat dan tempat pendakian orangutan diganti sawit atau lainnya, mereka tidak lagi bisa menemukan bahan-bahan makanan yang biasa mereka peroleh di hutan, dan kemudian mereka masuk ke perkebunan sawit dan merambah sawit. Orangutan pun dianggap mengganggu dan merupakan hama yang harus dibasmi.

Sebuah survey yang digagas oleh The Nature Conservacy, pihak swasta, WWF dan Asosiasi Ahli Primata Indonesia, dengan 6983 responden, diperoleh hasil bahwa lebih dari setengah responden memakan daging orangutan setelah membunuhnya. Pelaku pembunuhan orangutan, selain orang dewasa juga para remaja usia lima belasan tahun. Dan mereka umumnya sudah tahu bahwa orangutan adalah hewan langka yang dilindungi pemerintah. Atas perintah perusahaan (PT KAM) , warga dan oknum berlomba-lomba memukuli dan membunuh orangutan dengan imbalan hadiah Rp 500.000 hingga Rp 1.000.000. news.okezone.com (27 Desember 2011)

Semua permasalahan ini secara tidak langsung bersumber dari lemahnya penegakan hukum bagi pelanggaran undang-undang dan peraturan, tata kelola yang buruk, kebijakan yang membingungkan karena di satu sisi melindungi spesies terancam punah namun di sisi lain tidak melindungi habitat tempat tinggalnya, kurangnya kesadaran terhadap hukum-hukum perlindungan flora dan fauna yang terancam punah, koordinasi dan komunikasi yang lemah diantara para pihak yang berperan dan mempunyai kepentingan tertentu, kemiskinan, serta yang terakhir adalah adanya konflik dengan manusia. Penyebab teknis yaitu tidak adanya survey yang menyeluruh, serta tidak adanya studi kelayakan yang benar dan akurat. Penyiksaan, pembunuhan dan pembantaian orangutan yang terus menerus terjadi tanpa adanya penegakan hukum merupakan tindakan pidana, sebuah kejahatan terorganisir yang melibatkan perusahaan dan pegawai pemerintah yang seharusnya melindungi orangutan dan habitatnya - bbc.co.uk (6 Desember 2011)

pg. 4

Dalam sebuah penelitian, didapatkan hasil bahwa permasalahan ini bersumber dari (1) tidak konsistennya peraturan nasional dan regional; (2) gagal melibatkan masyarakat lokal dalam upaya-upaya konservasi; (3) gagal melaksanakan hak-hak, peran, kewajiban dan tanggung jawab para pihak secara jelas; (4) kurangnya komunikasi dan koordinasi; (5) tidak jelasnya akses dan alokasi pendanaan. Tidak konsistennya kebijakan nasional dan regional, artinya ada pengakuan mengenai pentingnya melindungi spesies orangutan (dan spesies lainnya) yang terancam punah. Akan tetapi, peraturan ini tidak pernah tergambarkan dalam kebijakan-kebijakan dan program-program pemerintah. Strategi nasional dan rencana aksi tentang perlindungan orangutan telah diluncurkan oleh presiden pada bulan Desember tahun 2007, tetapi baik pemerintah lokal maupun nasional tidak mengadopsi strategi tersebut. Misalnya dalam strategi tersebut melindungi orangutan adalah dengan tercantum bahwa cara terbaik untuk melindungi habitat orangutan. Pada

kenyataannya, perencanaan penggunaan lahan nasional dan daerah justru dengan memperluas area pertambangan, memprioritaskan perkembangan perkebunan sawit dalam area luas yang berarti menghilangkan hutan habitat orangutan. Contoh lain adalah pemindahan lokasi habitat orangutan baru akan dilakukan, apabila pemulihan habitat asal tidak bisa dilakukan. Kenyataannya lembaga-lembaga konservasi pemerintah menganggap bahwa penempatan kembali atau pemindahan lokasi habitat orangutan adalah satu-satunya pilihan untuk menyelamatkan orangutan yang tersisa di daerah-daerah yang tak terlindungi, karena lembaga-lembaga ini tidak mampu menghentikan deforestasi dan tidak mendapat dukungan sama sekali dari sektor lainnya. Kegagalan melibatkan masyarakat lokal juga menjadi salah satu kendala. Upaya dan implementasi untuk melibatkan masyarakat lokal terus berkembang. Akan tetapi, selama ini komunikasi hanya berjalan satu arah dan tidak mencanangkan perbaikan sosial ekonomi masyarakat. Misalnya menginformasikan tentang program konservasi orangutan kepada masyarakat lokal, atau mengeluarkan larangan tanpa dialog atau konsultasi dalam proses kesetaraan. Perilaku yang umum dilakukan adalah memperlakukan masyarakat lokal sebagai ancaman terhadap upaya konservasi, dan bukannya menganggapnya sebagai mitra kerja yang berpotensi

pg. 5

untuk mendukung konservasi. Selain itu, kurangnya kapasitas kemampuan dan pengetahuan lembaga-lembaga kunci tentang ekologi orangutan dan konteks sosial budaya tentang masyarakat lokal. Yang juga menjadi masalah bagi lembaga konservasi adalah tidak dipahaminya dengan baik pengertian dasar tentang pengelolaan atau manajemen partisipasi / kolaborasi. Tidak jelasnya peran, hak dan tanggung jawab para pihak masing-masing menjadi persoalan tersendiri. Konservasi merupakan tanggung jawab seluruh warga negara dengan peran-peran dan tugas-tugas yang spesifik. Bagaimana pun juga kelompok-kelompok mitra (stakeholder) perlu mempertimbangkannya sebagai bentuk tanggung jawab untuk perlindungan alam. Hukum sudah ada, tapi tidak ada penegakan hukum. Pemerintah hanya sibuk berdebat untuk menghasilkan peraturanperaturan baru, daripada melaksanakan peraturan yang sudah ada. Aksi-aksi pemerintah seharusnya secara ketat mengikuti hukum dan tata ruang. Masalah krusial lainnya adalah tidak siapnya ketersediaan anggaran yang menyebabkan tidak adanya kegiatan selama masa gawat. Masalah lain adalah kesenjangan komunikasi dan koordinasi di antara sektorsektor pemerintah. Ketika menghadapi suatu persoalan, struktur pemerintah yang ada tidak memiliki wewenang untuk mengkoordinasi sektor-sektor lainnya dan pada berbagai tingkatan pemerintahan. Upaya membangun komunikasi dan koordinasi untuk membangun kepercayaan berlangsung terlalu formal, terlalu kaku, terlalu fokus kepada dokumen-dokumen yang formal, dan tidak adanya proses-proses bersama, pemahaman dan komunikasi yang mendalam. Dalam masalah pendanaan konservasi, dana didapat dari berbagai donor dan pemerintah. Dari lembaga donor, dana untuk orangutan lebih besar daripada untuk spesies lainnya. Akan tetapi jangka waktu yang pendek menyebabkan kesulitan untuk mengambil tindakan rencana jangka panjang. Pada suatu kasus besarnya pendanaan dikoordinasi hanya oleh satu organisasi, tapi siapa yang dapat mengaplikasikannya dan aktivitas apa yang dapat didanai tidak begitu jelas. Anggaran pendanaan dari pemerintah umumnya sangat kecil , sebagian besar hanya untuk biaya-biaya operasional rutin dan gaji. Alokasi pendanaan yang kaku dan terkotak-kotak serta birokrasi menjadikan pendanaan ini tidak cukup untuk suatu kegiatan gawat darurat, program-program peningkatan kesadaran, program

pg. 6

peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta peningkatan capacity building dan monitoring.

The Last Stand of Orangutan


Dengan berbagai persoalan yang saling berkaitan dan kompleks dalam konteks konflik antara orangutan dan perusahaan kelapa sawit, maka ada beberapa usulan pendekatan bagi penyelesaian masalah. Usulan pendekatan yang penting yang diajukan oleh lembaga CIFOR adalah sebagai berikut: Menempatkan masyarakat lokal agar berperan sebagai kader konservasi. o Menyelenggarakan program peningkatan kesadaran dan capacity

building yang mandiri, berakar kepada pengetahuan, kebudayaan dan


kearifan lokal, serta norma tradisional, untuk tujuan pemberdayaan dan pengembangan motivasi masyarakat lokal. Memadukan peraturan pemerintah sebagai hukum formal, dengan peraturan adat istiadat (kearifan lokal). o Mengintegrasikan, misalnya peraturan pemerintah dengan hukumhukum adat dalam zonasi area perlindungan dengan menggunakan sistem penggunaan lahan tradisional. o Mengembangkan proses yang membentuk komunikasi mendalam, kepercayaan, kesetaraan dan pemahaman. o Mengadakan rangkaian pelatihan dan lokakarya tentang penegakan hukum. Mengembangkan mekanisme pemberian penghargaan yang cocok bagi warga setempat dan model jasa lingkungannya. o Mengembangkan metode perolehan keuntungan jangka panjang yang adil. o Mengembangkan kesetaraan gender. o Membangun kesetaraan para pihak dengan menghilangkan pemberian hak-hak istimewa bagi elit. o Membangun ketahanan kemandirian ketimbang ketergantungan o Bentuk dan prakteknya misalnya:

pg. 7

Mengembangkan fasilitas pendidikan dan kesehatan, akses terhadap air bersih dan sanitasi, rumah ibadat dan kekuatan perairan mikro. Membangun hubungan dengan pasar NTFP (Non Timber Forest

Product), sebuah program pemasaran bagi produk non kayu.


Pengembangan kapasitas untuk memperbaiki kualitas dan mendapatkan sertifikasi, serta turut dalam asosiasi untuk menstabilkan harga NTFP. Dengan demikian, warga akan mendapatkan nilai tambah NTFP berupa uang dan manfaat. Memanfaatkan media dan jaringan dengan masyarakat sipil yang bertujuan meningkatkan pengunjung untuk mendapatkan relasi dan tambahan pendapatan. Mengembangkan etos kerja yang baik dimana ada institusi lokal yang kuat dan bersih, dengan kepemimpinan yang baik. Mengembangkan proses kolaboratif multi-pihak yang bermakna melalui komunikasi dan relasi, dalam semangat berbagi pengetahuan, dan bukan birokrasi dan penciptaan dokumen-dokumen formal. o Membangun semangat untuk memfokuskan perhatian pada solusi dan potensi yang ada ketimbang hanya fokus pada permasalahan saja. o Membangun proses menggugah rasa memiliki dan kebanggaan

stakeholder kunci dan bukan hanya mengejar keuntungan materi


semata dengan target-target proyek. o Memanfaatkan perangkat organisasi demi percepatan pembelajaran, proses fasilitasi yang dinamis dll. Memperhatikan Kaidah / aturan pengembangan kebun sawit semacam ISO / SOP-nya, berupa RSPO (Round Table Sustainable Palm Oil - 2008), serta TBT (Technical Barrier Trade) yang isunya biasanya dikaitkan dengan isu lingkungan. Yang terbaru adalah RRPO (Round Table and Resistable Palm Oil). Di Indonesia yang baru diimplementasikan adalah Round Table, yang hanya berupa konsensus-konsensus. Indonesia pun mengembangkan kaidah sendiri, yang menandai bahwa Indonesia sebagai produsen sawit terbesar tidak ingin diatur orang lain, yaitu ISPO - Indonesia Sustainable Palm Oil. ISPO memuat

pg. 8

berbagai isu lingkungan perkebunan kelapa sawit, seperti bagaimana cara sawit ditanam, diproduksi, diproses dan digunakan, karena sawit dianggap merusak atau menjadi ancaman terhadap ekosistem hutan hujan tropis. Sementara itu, menurut Moeliono (2010), di dalam sengketa sumberdaya alam, perlu adanya: Pemberdayaan semua pihak ; kemampuan nyata untuk mengelola kegiatan dan ini yang terpenting kemampuan untuk membangun kerjasama melalui perundingan dan perencanaan kolaboratif. Hal ini tentunya penting untuk semua pihak, tetapi terutama untuk masyarakat. Artinya perlu upaya persiapan kelembagaan masyarakat, termasuk pemerintah desa, yang selama ini terabaikan (Moeliono, Juli 2010) Pengelolaan Sengketa; Sengketa yang berlanjut adalah pertanda hubungan buruk antara para pemangku kepentingan dan menjadi hambatan dalam pengembangan kerjasama antara mereka. Karenanya diperlukan upaya untuk mengelola sengketasengketa yang ada dan sejauh mungkin menyelesaikannya. Lebih ideal lagi mekanisme pengelolaan sengketa itu semestinya terlembagakan sebagai bagian dari kerjasama antara para pemangku kepentingan (Moeliono, Juli 2010)

Sumber: (Moeliono, Juli 2010)

pg. 9

Berdasarkan uraian diatas, ada tambahan wawasan bahwa hutan primer dunia yang tersisa merupakan dasar kesejahteraan manusia. Dan kunci dari planet yang sehat adalah keanekaragaman hayati. Dengan demikian, menyelamatkan orangutan berarti turut menolong mamalia, burung, reptil, amfibi, serangga, tanaman dan berbagai spesies lainnya yang hidup di hutan hujan Indonesia agar lestari dan kekayaan negeri ini bisa dinikmati oleh manusia generasi mendatang. ***

Daftar Pustaka
Moeliono, I. (Juli 2010). REDD Bagi Masyarakat Setempat: Ancaman atau Peluang. Warta Tenure no. 8 . Yuliani, E. L., Moeliono, M., Adnan, H., Bakara, D., Bujani, A., Suriansyah, B., et al. (n.d.). The Fate of Orangutan Conservation in Indonesia and Strategies for Improvement. Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Yuwono, E. H., Susanto, P., Saleh, C., Andayani, N., Prasetyo, D., & Atmoko, S. S. (2007). Petunjuk Teknis Penanganan Konflik Manusia Orangutan di Dalam dan Sekitar Perkebunan Kelapa Sawit. Jakarta: WWF Indonesia. SHAA - 10C. Tolong menyelamatkan harimau-harimau Sumatra dan orangutan! http://bbc.co.uk http://nationalgeographic.co.id/lihat/berita/2312/pembantaian-orangutan-diselidiki http://news.okezone.com

pg. 10