Anda di halaman 1dari 18

BAB II LANDASAN TEORI

A. 1. Pengertian

Lanjut usia ( Lansia )

Menurut WHO Lansia adalah orang yang berumur 60-74 tahun. Proses menua merupakan proses yang terus menerus berlanjut secara alamiah, dimulai sejak lahir dan umumnya dialami pada semua makhluk hidup. Menua bukan suatu penyakit tetapi merupakan proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun dalam luar tubuh. (Wahjudi Nugroho, 2000 : 13). Menurut UU No.13 tahun 1998 BAB I Pasal 1 ayat 2 Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai umur 60 tahun keatas.

2.

Batas-batasan Lanjut Usia Menurut WHO batas batas Lanjut Usia : a. Middle age atau usia pertengahan adalah usia 45-59 tahun. b. Elderly atau lanjut usia adalah usia 60-74 tahun. c. Old atau lanjut usia tua adalah usia 75-90 tahun. d. Very old atau usia sangat tua adalah usia lebih dari 90 tahun.

3.

Macam Pelayanan Kesehatan kepada Para Lansia Menurut T. Yacob, dkk (2001 : 21) macam pelayanan kesehatan kepada para lansia adalah : a. Rumah Sakit khusus Geriatri (Geriatri Hospital) b.Bagian atau unit Geriatri Khusus (Klinik, poli, aktivitas dan ekstramural) c. Panti Wreda atau perumahan lansia (Old People Home) d.Nursing Home e. Karang Wreda (day Care Center) f. Home Care Servise atau Respital Care (Home Care Nursing) g.Meal on Wheels h.Eldenly Clubs atau Paguyuban Lansia i. Posyandu Lansia

4.

Perubahan-perubahan yang terjadi pada lanjut usia Menurut Wahjudi Nugroho, (2000 : 21) perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada lanjut usia adalah :

a. 1)

Perubahan-perubahan fisik Sel a) Sel lebih sedikit jumlahnya. b) Sel lebih besar ukurannya. c) Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intraseluler. d) Menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah dan hati. 6

e) Jumlah sel otak menurun. f) 2) Sistem Persarafan a) Berat otak menurun 10-20%. (Setiap orang berkurangnya sel saraf otaknya dalam setiap harinya). b) Cepatnya menurun hubungan persarafan. c) Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stres. d) Mengecilnya saraf panca indera. Berkurangnya penglihatan, Terganggunya mekanisme perbaikan sel.

hilangnya pendengaran, mengecilkan syaraf pencium dan perasa, lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin. e) Kurang sensitifnya terhadap sentuhan. 3) Sistem pendengaran a) Presbiakusis (gangguan pada pendengaran). Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50 % terjadi pada usia di atas 65 tahun. b) Membrana timpani menjadi atrofi menyebabkan otosklerosis. c) Terjadinya pengumpalan cerumen dapat mengeras karena

meningkatnya keratin. d) Pendengaran bertambah menurun pada lanjut usia yang mengalami ketegangan jiwa/stres. 7

4)

Sistem penglihatan a) Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar. b) Kornea lebih berbentuk sferis (bola). c) Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa) menjadi katarak, jelas menyebabkan gangguan penglihatan. d) Meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat dan susah melihat dalam cahaya gelap. e) Hilangnya daya akomodasi. f) Menurunnya lapangan pandang : berkurang luas pandangnnya.

g) Menurunnya daya membedakan warna biru atau hijau pada skala. 5) Sistem kardiovaskuler a) Elastisitas, dinding aorta menurun. b) Katup jantung menebal dan menjadi kaku. c) Kemampuan jantuing memompa darah menurun 1 % setiap tahun sesudah berumur 20 tahun, hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya. d) Kehilangan elastisitas pembuluh darah, kurangnya efektivitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi, perubahan posisi dari tidur ke duduk ( duduk ke berdiri ) bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg (mengakibatkan pusing mendadak). e) Tekanan darah meninggi diakibatkan oleh meningkatnya resistensi dari pembuluh darah perifer, sistolis normal kurang lebih 170 mmHg. Diastolis normal kurang lebih 90 mmHg. 8

6)

Sistem Pengaturan Temperatur Tubuh Pada pengaturan suhu, hipotalamus dianggap bekerja sebagai suatu termostat, yaitu menetapkan suatu suhu tertentu, kemunduran terjadi berbagai faktor yang mempengaruhinya. Yang sering ditemui, antara lain : a) Temperatur tubuh menurun (hipotermia) secara fisiologik 35 C ini akibat metabolisme yang menurun. b) Keterbatasan refleks menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi rendahnya aktivitas otot.

7)

Sistem respirasi a) Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku. b) Menurunnya aktivitas dari silia. c) Paru-paru kehilangan elastisitas, kapasitas residu meningkat, menarik nafas lenih berat, kapasitas pernafasan maksimum menurun dan kedalaman bernafas menurun. d) Alveoli ukurannya melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang. e) Oksigen pada arteri menurun menjadi 75 mmHg. f) Karbondioksida pada arteri tidak berganti.

g) Kemampuan untuk batuk berkurang. h) Kemampuan pegas, dinding, dada dan kekuatan otot pernapasan akan menurun seiring dengan pertambahan usia. 8) Sistem Gastrointestinal

a) Kehilangan gigi, penyebab utama adanya Periodental disease yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk. b) Indera pengecap menurun, adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir, atropi indera pengecap, hilangnya sensitifitas dari saraf pengecap di lidah terutama rasa manis dan asin, hilangnya sensitifitas dari saraf pengecap tentang rasa asin, asam dan pahit. c) Esofagus melebar. d) Lambung, rasa lapar menurun (sensitifitas lapar menurun), asam lambung menurun, waktu mengosongkan menurun. e) Peristaltik lemah dan timbulnya konstipasi. f) Fungsi absorpsi melemah (daya absorpsi terganggu).

g) Liver (hati) makin mengecil dan menurunnya tempat penyimpanan dan berkurangnya aliran darah. 9) Sistem reproduksi a) Menciutnya ovari dan uterus. b) Atrofi payudara. c) Pada laki-laki testis masih dapat memproduksi spermatozoa, meskipun adanya penurunan secara berangsur-angsur. d) Dorongan seksual menetap sampai usia di atas 70 tahun (asal kondisi kesehatan baik). e) Kehidupan seksual dapat diupayakan sampai masa lanjut usia.

10

f)

Hubungan seksual secara teratur membantu mempertahankan kemampuan seksual.

g) Tidak perlu cemas karena merupakan perubahan alami. h) Selaput lendir vagina menurun, permukaan menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifatnya menjadi alkali dan terjadi perubahan-perubahan warna. 10) Sistem Genitourinaria a) Ginjal, mengecil dan nefron menjadi atrofi, aliran darah ke ginjal menurun sampai 50 %, fungsi tubulus berkurang akibatnya kurang kemampuan mengkonsentrasikan urin, berat jenis urin menurun proteinuria (biasanya + 1), BUN (Blood Urea Nitrogen) meningkat sampai 21 mg meningkat. b) Vesika urinaria (kandung kemih), otot-otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekuensi buang air seni meningkat, vesika urinaria susah dikosongkan pada pra lanjut usia sehingga mengakibatkan meningkatnya retensi urin. c) Pembesaran prostat kurang lebih 75 % dialami oleh pria usia di atas 65 tahun. d) Atrofi vulva. e) f) Vagina. Orang-orang yang makin menua sexual intercourse masih juga membutuhkannya, tidak ada batasan umur tertentu, fungsi seksual 11 % dan nilai ambang ginjal terhadap glukosa

seseorang berhenti, frekuensi sexual intercourse cenderung menurun secara bertahap tiap tahun tetapi kapasitas untuk melakukan dan menikmati berjalan terus sampai tua. 11) Sistem endokrin a) Produksi dari hampir semua hormon menurun. b) Fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah. c) Pituitari. d) Pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan hanya didalam pembuluh darah, berkurangnya produksi dari ACTH, TSH, FSH dan LH. e) Menurunyan aktifitas tiroid, menurunnya BMR (Basal Metabolic Rate) dan menurunnya daya pertukaran zat. f) Menurunnya produksi aldesteron. g) Menurunnya sekresi hormon kelamin, misalnya progesteron, estrogen dan testeron. 12) Sistem kulit a) Kulit mengerut atau keriput akibat kehilangan jaringan lemak. b) Permukaan kulit kasar dan bersisik ( karena kehilangan proses keratinasi serta perubahan ukuran dan bentuk- bentuk sel epidermis). c) Menurunnya respon terhadap trauma. d) Mekanisme proteksi kulit menurun. e) Produksi serum menurun. f) Penurunan vaskularitas kulit. 12

g) Gangguan pigmentasi kulit. h) Kulit kepala dan rambut menipis berwana kelabu. i) Rambut dalam hidung dan telinga menebal. j) Berkurangnya elastisitas akibat dari menurunnya cairan dan vaskularisasi. k) Pertumbuhan kuku lebih lambat. l) Kuku jari menjadi keras dan rapuh. m) Kuku kaki tumbuh secara berlebihan dan seperti tanduk. n) Kelenjar keringat berkurang jumlahnya dan fungsinya. o) Kuku menjadi pudar, kurang bercahaya. 13) Sistem muskuloskeletal a) Tulang kehilangan density (cairan) dan makin rapuh. b) Kifosis. c) Pinggang, lutut dan jari-jari pergelangan terbatas. d) Diskus intervertebralis menipis dan menjadi pendek. e) Persendian membesar dan menjadi kaku. f) Atropi serabut otot (otot-otot serabut mengecil) sehingga seseorang bergerak menjadi lambat, otot-otot keram dan menjadi tremor. g) Otot-otot polos tidak begitu berpengaruh. 14) Perubahan-perubahan mental Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental : a) Perubahan fisik, khususnya organ perasa. b) Kesehatan umum. 13

c) Tingkat pendidikan. d) Keturunan (hereditas). e) Lingkungan. 15) Perubahan kepribadian yang drastis, keadaan ini jarang terjadi. Lebih sering berupa ungkapan yang tulus dari perasaan seseorang, mungkin terjadi kekakuan karena faktor lain seperti penyakit-penyakit. 16) I.Q (Intellgentia Quantion) Berkurangnya penampilan, persepsi dan ketrampilan. Terjadi perubahan pada ingatan karena tekanan-tekanan dari faktor-faktor waktu. 17) Perubahan-perubahan psikososial Pensiun, nilai seseorang sering diukur oleh produktivitasnya dan identitas dikaitkan dengan peranan dalam pekerjaan. Bila seseorang pensiun (purna tugas), ia akan mengalami kehilangan-kehilangan, antara lain : a) b) c) d) e) f) Kehilangan finansial. Kehilangan status. Kehilangan teman, kenalan atau relasi. Kehilangan pekerjaan. Merasakan atau sadar akan kematian. Ekonomi akibat pemberhentian dari jabatan menurun.

B.

Hipertensi 1) Pengertian 14

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang mengakibatkan peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas) ( Arief Irfan,2008 ) Hipertensi merupakan penyakit yang terjadi akibat peningkatan tekanan darah. Berdasarkan ISH/WHO dan JNC 7 Report 2003, seseorang dikatakan menderita hipertensi apabila memiliki tekanan darah > 140/90 mmhg. Kebanyakan penderita hipertensi tidak memberikan gejala sehingga dikenal juga sebagai Silent Disease. ( Hipertensi Blog Dokter, 2007 )

2) Klasifikasi hipertensi Kategori Normal Normal tinggi Stadium1 (hipertensi ringan) Stadium 2 (hipertensi sedang) Stadium 3 (hipertensi berat) Stadium 4 (hipertensi maligna) 210 mmhg atau lebih 120 mmhg atau lebih 180-209 mmhg 110-119 mmhg 160-179 mmhg 100-109 mmhg Tekanan Darah Sistolik Dibawah 130 mmhg 130-139 mmhg 140-159 mmhg Tekanan darah sistolik Dibawah 85 mmhg 85-89 mmhg 90-99 mmhg

15

( Medicastore, 2006) Tanda dan gejala hipertensi Pada sebagian penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi. Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal. Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut : a. b. c. d. e. f. g. sakit kepala kelelahan mual muntah sesak nafas gelisah pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung, ginjal Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati hipertensif, yang memerlukan penanganan segera. ( Wikipedia,2008 ) Factor resiko hipertensi a. b. c. d. e. Obesitas ( kegemukan) Stress Faktor keturunan (genetic) Jenis kelamin (gender) Usia 16

f. g.

Asupan Garam Gaya hifdup yang kurang sehat

Adapun gejala klinis yang dialami oleh para penderita hipertensi biasanya berupa: 1) Pusing 2) Mudah marah 3) Telinga berdengung 4) Sukar tidur 5) Sesak napas 6) Rasa berat di tengkuk 7) Mudah lelah 8) Mata berkunang kunang 9) Mimisan ( jarang dilaporkan ) Komplikasi hipertensi Organ yang paling sering menjadi target kerusakan akibat hipertensi adalah: a. b. c. d. otak, dapat menyebabkan stroke Jantung, dapat menyebabkan PJK dan Gagal Jantung. Ginjal,dapat menyebabkan Penyakit Gagal Ginjal Kronik dan Gagal Ginjal Terminal. Mata, dapat menyebabkan Retinopati Hipertensi dan dapay menimbulkan kebutaan. ( Hipertensi Blog Dokter, 2007 ) Penanganan/ pengobatan hipertensi a. Pengobatan Non- farmakologis. Terkadang dapat mengontrol tekanan darah sehingga pengobatan farmakologis tidak diperlukan, atau minimal ditunda. b. Pengobatan Farmakologis. Pengobatan dengan menggunakan obat obatan kimiawi. 17

c.

Penatalaksanaan faktor risiko dilakukan dengan cara pengobatan secara non farmakologis, antara lain: 1. Mengatasi obesitas. Dengan melakukan diet rendah kolesterol, namun kaya serat dan protein. Dianjurkan pula minum suplemen otassium dan kalsium. Minyak ikan yang kaya dengan asam lemak omega 3 juga dianjurkan. Diskusikan dengan dokter ahli/ ahli gizi sebelum melakukan diet. 2. Mengurangi asupan garam kedalam tubuh harus memperhatikan kebiasaan makan penderita hipertensi. Pengurangan asupan garam secara drastis akan sulit dilaksanakan, jadi sebaiknya dilakukan secara bertahap dan tidak dipakai sebagai pengobatan tunggal. 3. Menghindari stress. Ciptakan suasana yang menenangkan bagi pasien penderita hipertensi. Perkenalkan berbagai metode relaksasi seperti yoga atau meditasi, yang dapat mengontrol sistem syaraf yang akhirnya dapat menurunkan tekanan darah. 4. Memperbaiki gaya hidup yang kurang sehat. 5. Anjurkan pada pasien penderita hipertnsi untuk melakukan olahraga seperti senam aerobic atau jalan cepat selama 30 45 menit sebanyak 3 4 kali seminggu. Selain itu menghentikan kebiasaan merokok dan mengurangi minum minuman beralkohol sebaiknya juga dilakukan. (Arief irfan,2008)

Pemeriksaan penunjang a. Panel Evaluasi Awal Hipertensi Bermanfaat untuk mencari kemungkinan penyebab hipertensi, menilai adanya risiko kerusakan organ target dan menentukan adanya faktor-faktor lain yang mempertinggi risiko PJK dan Stroke.

18

Pemeriksaan panel ini dilakukan setelah didiagnosis hipertensi dan sebelum memulai pengobatan a) Hematologi rutin b) Urine rutin c) Glukosa puasa d) Glukosa 2 jam total e) Cholesterol total f) Cholesterol HDL g) Cholesterol LDL Direk h) Trigliserida i) Apo B j) Status Antioksidan Total k) Hs-CRP l) Urea-N m)Kreatinin n) Asam Urat o) Mikroalbumin p) Kalium q) Natrium b. Panel Pengelolaan Hipertensi Bermanfaat untuk memantau keberhasilan terapi dan memperkirakan prognosis penyakit. 1) Urine rutin 2) Glukosa puasa 3) Cholesterol Total 4) Cholesterol HDL 5) Cholesterol LDL Direk 6) Trigliserida 7) Apo B

19

8) Urea-N 9) Kreatinin 10) Asam Urat 11) Mikroalbumin 12) Kalium 13) Natrium c. Panel Fungsi Ginjal Bermanfaat untuk menilai fungsi ginjal secara umum 1) Urine rutin 2) Kreatinin 3) Urea-N 4) Cystatin C 5) Mikroalbumin ( Hipertensi Blog Dokter,2007 ) Pengkajian Keperawatan a. Aktivitas/istirahat Gejala : kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton. Tanda : Frekuensi jantung meningkat. Perubahan irama jantung, takipnea. b. Sirkulasi Gejala : Riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/ katup dan Penyakit cebrocaskuler, episode palpitasi. Tanda : Kenaikan TD, Nadi denyutan jelas dan karotis, jugularis, radialis, takikardi, murmur stenosis valvular, distensi vena jugularis, kulit pucat, sianosis, suhu dingin ( vasokontriksi perifer) pengisian kapiler mungkin lambat / tertunda. c. Integritas Ego Gejala : riwayat perubahan kepribadian, ansietas, faktor stress multiple ( hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan)

20

Tanda : Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan continue perhatian,tangisan meledak, otot muka tegang, pernafasan menghela, peningkatan pola bicara. d. Eliminasi Gejala : gangguan ginjal saat ini atau ( seperti obstruksi atau riwayat penyakit ginjal pada masa yang lalu) e. Makanan / cairan Gejala : makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi garam, lemak. Serta kolesterol, mual, muntah, dan perubahan BB akhir akhir ini ( meningkat/menurun). Riwayat penggunaan diuretic. Tanda : berat badan normal atau obesitas, adanya edema, glikosuria f. Neurosensori Gejala : Keluhan pening/ pusing, berdenyut, sakit kepala, sub oksipital ( terjadi saat bangun dan menghilang secara spontan setelah beberapa jam) gangguan penglihatan (diplobia, penglihatan kabur, epistakis) Tanda : Status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola/ isi bicara, efek, proses piker, penurunan kekuatan genggaman tangan.

g. h.

Nyeri / ketidaknyamanan Pernafasan Gejala : dispnea yang berkaitan dari aktivitas/ kerja takipnea, ortopnea, dispnea, batuk dengan tanpa pembentukan sputum, riwayat merokok. Tanda : Disterss pernafasan/ penggunaan otot aksesori pernafasan bunyi nafas tambahan (krakties/ mengi), sianosis.

Gejala : angina ( penyakit arteri koroner/ keterlibatan jantung), sakit kepala.

i. j.

Keamanan Pembelajaran / penyuluhan

Gejala : gangguan koordinasi/ cara berjalan, hipertensi postural.

21

Gejala : faktor resiko keluarga : hipertensi, aterosporosis, penyakit jantung, DM Faktor etnik seperti : orang Afrika-Amerika, Asia Tenggara, penggunaan pil KB atau hormone lain, penggunaan alcohol/ obat Rencana pemulangan : bantuan dengan memantau diri TD/ perubahan dalam terapi obat ( Doengoes, E Marilyn,2000) Diagnose keperawatan a. b. c. d. e. f. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan vasokontriksi pembuluh darah. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2. Gangguan rasa nyaman nyeri ; sakit kepala berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler cerebral. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi in adekuat, keyakinan budaya, pola hidup monoton. Inefektif koping individu berhubungan dengan mekanisme koping tidak efektif, harapan yang tidak terpenuhi, persepsi tidak realistis. Kurang pengetahuan mengenai kondisi penyakitnya, berhubungan dengan kurangnya sumber informasi. ( Doengoes, E Marilyn,2000)

22