Anda di halaman 1dari 56

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

BAB I PENDAHULUAN

A.

Umum Pengadaan pangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh penduduk dan sesuai dengan persyaratan gizi, merupakan masalah terbesar sepanjang sejarah kehidupan manusia. Pertanyaan yang sering timbul ialah Apakah produksi pangan akan mampu mengimbangi ledakan pertambahan penduduk?. Untuk menjawab pertanyaan ini diperlukan informasi mengenai situasi pangan di suatu negara/daerah pada periode tertentu. Hal ini dapat terlihat dari gambaran produksi, pengadaan dan penggunaan pangan serta tingkat ketersediaan untuk konsumsi menurut persyaratan gizi merupakan bahan yang sangat penting bagi Pemerintah untuk menentukan kebijakan program pangan secara menyeluruh, agar kesinambungan antara penyediaan pangan, penggunaan pangan, pendapatan masyarakat dan pendapatan negara dapat terlaksana sebaik-baiknya. Salah satu cara untuk memperoleh gambaran situasi pangan dapat disajikan dalam suatu neraca atau tabel yang dikenal dengan nama Neraca Bahan Makanan (Food Balance Sheet). Di dalam Neraca Bahan Makanan (NBM) disajikan angka rata-rata jumlah jenis bahan makanan yang tersedia untuk dikonsumsi penduduk per kapita per tahun dalam satuan kilogram, serta per kapita per hari dalam satuan gram, pada kurun waktu tertentu. Pengertian tersedia untuk

NBM 2009 sementara

halaman

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

dikonsumsi penduduk disini adalah yang tersedia di tingkat pedagang pengecer (retail level). Selanjutnya untuk mengetahui nilai gizi bahan makanan yang tersedia untuk dikonsumsi tersebut, maka angka ketersediaan pangan untuk dikonsumsi per kapita per hari diterjemahkan ke dalam satuan energi, protein, lemak, vitamin dan mineral per kapita per hari. Seperti kita ketahui, tubuh manusia untuk menjalankan fungsinya membutuhkan zat gizi yang diperoleh dari bahan makanan sehari-hari, yang pada dasarnya terdiri atas tiga unsur utama yaitu energi, protein dan lemak sebagai sumber zat tenaga dan zat pembanguan, serta dua unsur penunjang yaitu vitamin dan mineral sebagai zat pelindung.

B.

Perkembangan Penyusunan Neraca Bahan Makanan (NBM) Penyusunan NBM pertama-tama dilakukan pada masa Perang Dunia II, karena negara-negara yang terlibat perang mengalami krisis pangan yang harus di atasi segera. Tahun 1942, pertama kalinya Inter Allied Committee On Postwar Requirement menggunakan metode Food Balance Sheet untuk meneliti kebutuhan pangan waktu itu. Pada tahun 1943, suatu tim ahli gabungan antara Kanada, Amerika Serikat dan Inggris menerbitkan suatu laporan berjudul Food Consumption Level in The United Sastes and The United Kingdom. Selanjutnya pada tahun 1946. Food and Agriculture Organization (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa mulai menggunakan metode NBM di antara 70 negara anggotanya. Pada sidangnya yang keempat di Washington pada tahun 1948, FAO telah membuat rekomendasi agar semua negara-negara anggota dapat menyusun

NBM 2009 sementara

halaman

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

NBM menurut model yang seragam dan mengirimkannya kepada FAO disertai harapan agar penyusunannya di setiap negara dilakukan setiap tahun. Sebagai kelanjutan dari perhatian dan rekomendasi FAO tentang NBM ini, maka pada tahun 1949 dan 1950 telah berhasil dipublikasikan NBM berbentuk Loose-leat booklet pertama untuk 77 negara yang mencakup periode permulaan peran dunia II dan masa tahun 1947/1948 dan 1948/1949. Loose-leat booklet kedua diublikasikan pada tahun 1950/1951, 1951/1952, 1952/1953 dan 1953/1955, untuk 92 negara. Berdasarkan atas kemungkinan-kemungkinan teknis penyajian, maka pada tahun 1957 diputuskan bahwa penerbitan NBM oleh FAO tidak lagi secara tahunan melainkan periode tiga tahunan. Himpunan pertama periode tiga tahunan yang meliputi periode 1954 1956 dan mencakup 30 negara, diterbitkan pada tahun 1958. Himpunan kedua meliputi periode 1957 1959 dan mencakup 43 negara diterbitkan pada tahun 1963. Himpunan ketiga pada tahun 1966 untuk 63 negara mencakup periode 1960 1962. sedangkan himpunan keempat adalah NBM untuk periode 1964 1966 yang dipublikasikan pada tahun 1971 dan mencakup 132 negara. Di Indonesia, NBM mulai disusun tahun 1963 oleh Biro Pusat Statistik (BPS) dengan bantuan ahli dari FAO untuk keperluan intern BPS. Hasilnya terdiri atas NBM periode 1963 1965, NBM periode 1964 1966 dan NBM tahun 1970. Kemudian secara periodik disusun NBM tahun 1971 dan NBM 1972. Selanjutnya berdasar instruksi Menteri Pertanian Nomor : 12/INS/UM/6/1975 tanggal 19 Juni 1975, dibentuk Tim Penyusun NBM Nasional yang beranggotakan unsur-unsur dari instansi Departemen Pertanian, BPS dan instansi terkait untuk menyusun buku Pedoman Penyusunan NBM serta menyajikan NBM mulai PELITA I sampai dengan sekarang.

NBM 2009 sementara

halaman

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

Menyadari bahwa pengkajian NBM Nasional terlalu bersifat umum, maka pada tahun 1979 Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian atas nama Menteri Pertanian melalui surat Nomor 92/B/1979 tanggal 18 Januari 1979, menginstruksikan seluruh Kepala Kantor Wilayah Departemen Pertanian untuk menyusun NBM Regional/Provinsi dan hasilnya disampaikan kepada Menteri Pertanian melalui Unit Perbaikan Menu Makanan Rakyat (UPMMR) Departemen Pertanian. Pada tahun 1979 telah dikeluarkan pula Instruksi Presiden No 20 tahun 1979 tanggal 8 Oktober 1979 tentang Perbaikan Menu Makanan Rakyat termasuk di dalamnya penyajian NBM, sebagai kelanjutan Instruksi Presiden No. 14 tahun 1974. Pada tahun 1985 Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian atas nama Menteri Pertanian, melalui surat Nomor RC.220/487/B/II/1985 tanggal 20 Januari 1985 menginstruksikan seluruh Kepala Kantor Wilayah Departemen Pertanian untuk mengembangkan Penyusunan NBM Regional dan Provinsi dengan membentuk Tim Penyusun NBM Regional/Provinsi yang bertugas menyusun NBM Regional/Provinsi masing-masing. Dan untuk Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sekarang ditangani oleh Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi DIY yang bekerja sama dengan Dinas/Intansi terkait.

C.

Kegunaan Neraca Bahan Makanan (NBM)

NBM 2009 sementara

halaman

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

Sebagai salah satu alat perencana di bidang pangan dan gizi, NBM dapat memberikan informasi berupa data tentang produksi, pengadaan, serta semua perubahan-perubahan yang terjadi, hingga suatu komoditas tersedia untuk dikonsumsi oleh penduduk suatu negara/daerah dalam satu kurun waktu tertentu. Dengan demikian, NBM merupakan salah satu metode untuk memperoleh gambaran situasi penyediaan pangan yang cukup lengkap dan teliti, namun sederhana dan relatif mudah dikerjakan. Oleh karena itu, suatu NBM yang disajikan secara lengkap tepat waktu dan berurutan dari suatu periode ke periode berikutnya, akan sangat berguna untuk memantapkan kebijakan pangan secara menyeluruh, dan bahkan sangat berguna bagi perencanaan program-program yang berkaitan dengan masalah pangan dan gizi secara umum. Dengan menyusun NBM, dimungkinkan dengan cepat didapatkan gambaran tentang situasi penyediaan pangan per kapita suatu negara/daerah pada suatu kurun waktu tertentu. Sehingga pada pengambil keputusan dengan cepat pula dapat menetapkan kebijakan yang harus ditempuh.

NBM 2009 sementara

halaman

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

BAB II METODOLOGI

A.

Pengertian Neraca Bahan Makanan (NBM) Neraca Bahan Makanan (NBM) adalah suatu tabel yang terdiri atas kolom-kolom yang memuat berbagai informasi berupa data tentang situasi dan kondisi penyediaan bahan makanan bagi penduduk suatu negara/daerah, dalam suatu kurun waktu tertentu. Informasi tersebut dicantumkan dalam 19 kolom sebagai berikut : kolom (1) Jenis Bahan Makanan (Commodity); kolom produksi (production) yang terdiri atas kolom (2) masukan (input) dan (3) keluaran (output); kolom (4) Perubahan stok (changes in stock); kolom (5) impor (imports); kolom (6) Penyediaan Dalam Negeri sebelum Ekspor (Domestic Supplay prior to Export); kolom (7) Ekspor (export); kolom (8) Penyediaan Dalam Negeri (Domestic Utilization) yang terdiri atas : kolom (9) pakan (feed); (10) Bibit (Seed); diolah untuk (Manufactured for) (11) Makanan (food) dan (12) Bukan makanan (non food); (13) Tercecer (Weste) dan (14) Bahan Makanan (Food); Ketersediaan per kapita (per capita availability) terdiri atas kolomkolom (15) kg/thn (kg/year); (16) Gram/hari (gram/day); (17) Energi dalam satuan kalori/hari (cal/day), (18) Protein dalam satuan gram/hari (proteins in gram/day); dan (19) Lemak dalam satuan gram/hari (fats in gram/day).

NBM 2009 sementara

halaman

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

1.

Jenis Bahan Makanan Bahan makanan yang dicantumkan dalam kolom ini adalah semua jenis bahan makanan baik nabati maupun hewani yang lazim/umum tersedia untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Bahan makanan tersebut dikelompokkan menurut jenisnya yang diikuti prosesnya dari produksi sampai dengan dapat dipasarkan/dikonsumsi dalam bentuk belum berubah atau bentuk lain yang berbeda sama sekali setelah melalui proses pengolahan. Pengelompokkan bahan makanan tersebut adalah sebagai berikut : padi-padian, makanan berpati, buah/biji berminyak, buahbuahan, sayuran, daging, telur, susu, ikan serta kelompok minyak dan lemak. a. Padi-Padian Padi-padian adalah kelompok komoditas yang terdiri atas gandum, padi, jagung dan sorghum (canthel) serta produksi turunannya b. Makanan Berpati Makanan berpati adalah bahan makanan yang mengandung pati yang berasal dari akar/umbi dan lain-lain bagian tanaman yang merupakan bahan makanan pokok lainnya. Yang termasuk dalam kelompok komoditas ini adalah ubi kayu, ubi jalar dan sagu, serta produksi turunannya. Contoh gaplek/chips dan tapioka/pellet adalah turunan dari ubi kayu. Kelompok komoditas makanan berpati ini merupakan jenis bahan makanan yang mudah rusak jika disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama bila tidak melalui proses pengolahan.

NBM 2009 sementara

halaman

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

c.

Gula Gula adalah sekelompok komoditas yang terdiri atas : gula pasir dan gula merah (gula mangkok, gula lempengan, gula semut dan lainlain), baik dari hasil olahan pabrik maupun rumah tangga yang merupakan produk olahan dari tanaman kelapa deres, aren, siwalan, nipah dan tebu.

d.

Buah/biji berminyak Buah/biji berminyak adalah kelompok bahan makanan yang mengandung minyak, yang berasal dari buah dan biji-bijian. Komoditas yang termasuk dalam kelompok ini adalah kacang hijau, kelapa, kacang tanah, kacang kedelai, kacang mete, kemiri, pala, wijen, kacang bogor dan lain-lain yang sejenis. Sebagian dari komoditas ini, khususnya kelapa, diolah menjadi kopra yang selanjutnya dijadikan minyak goreng, sehingga produk turunannya tercantum dalam kelompok minyak dan lemak.

e.

Buah-buahan Buah-buahan adalah sumber vitamin dan mineral dari bagian tanaman yang berupa buah. Umumnya merupakan produksi tanaman tahunan yang biasa dapat dikonsumsi tanpa dimasak

f.

Sayuran Sayuran adalah sumber vitamin dan mineral yang dikonsumsi dari bagian tanaman yang berupa daun, bunga, buah, batang atau umbi. Tanaman tersebut pada umumnya berumur kurang dari satu tahun

NBM 2009 sementara

halaman

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

g.

Daging Daging adalah bagian-bagian dari hewan yang disembelih atau dibunuh dan lazim dimakan manusia, kecuali yang telah diawetkan dengan cara lain dari pada pendinginan.

h.

Telur Telur adalah telur unggas. Telur yang dimaksud yaitu telur ayam buras, telur ayam ras dan telur itik dan telur unggas lainnya.

i.

Susu Susu adalah cairan yang diperoleh dari ambing ternak perah sehat, dengan cara pemerahan yang benar, terus-menerus dan tidak dikurangi sesuatu dan/atau ditambahkan ke dalamnya sesuatu bahan lain.

j.

Ikan Ikan adalah komoditas yang berupa binatang air (ikan berkulit halus dan berkulit keras) dan bionata perairan lainnya. Yang dimaksud komoditas ikan disini adalah yang berasal dari kegiatan penangkapan di laut maupun perairan umum (waduk, sungai dan rawa) yang dapat diolah menjadi bahan makanan yang lazim/umum dikonsumsi masyarakat. Berdasarkan banyaknya jenis ikan darat/laut yang dikonsumsi penduduk dirinci menjadi : tuna/cakalang/tongkol, kakap, cucut, bawal, teri, lemuru, kembung, tengiri, bandeng, belanak, mujair, ikan mas, udang, rajungan, kerang darah, cumi-cumi/sotong dan lain-lainnya.

NBM 2009 sementara

halaman

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

k.

Minyak dan Lemak Minyak dan lemak adalah kelompok bahan makanan yang berasal dari nabati seperti : minyak kelapa, minyak sawit, minyak kacang tanah, minyak kedelai dan minyak jagung; serta yang berasal dari hewani yaitu minyak ikan. Sedangkan lemak umumnya berasal dari hewani, seeperti lemak sapi, lemak kerbau, lemak kambing/domba, lemak babi dan lain-lain.

2.

Produksi Produksi adalah jumlah keseluruhan hasil masing-masing bahan makanan yang dihasilkan dari sektor pertanian (Tanaman Pangan, Peternakan, Perikanan dan Perkebunan), yang belum mengalami proses pengolahan maupun yang sudah mengalami proses pengolahan. Produksi dikategorikan menjadi 2 kategori sebagai berikut : a. Masukan (Input) Masukan adalah produksi yang masih dalam bentuk asli maupun dalam bentuk hasil olahan yang akan mengalami proses pengolahan lebih lanjut. b. Keluaran (Output) Keluaran adalah produksi dari hasil keseluruhan atau sebagai hasil turunan yang diperoleh dari kegiatan berproduksi atau hasil utama yang langsung diperoleh dari kegiatan berproduksi yang belum mengalami perubahan. Besarnya output sebagai hasil dari input sangat tergantung pada besarnya derajat ekstrasi dan faktor konversi.

NBM 2009 sementara

halaman

10

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

Angka produksi untuk komoditas tanaman pangan mencakup hasil seluruh panen (tua/muda), baik yang berasal dari lahan sawah maupun lahan kering serta lahan lama maupun baru. Sedang produksi turunannya diperoleh dengan menggunakan faktor konversi dan tingkat ekstrasi dari komoditas yang bersangkutan. Produksi daging dihitung dari jumlam pemotongan resmi (RPH) ditambah dengan perkiraan pemotongan tak resmi. Produksi daging (masukan) dinyatakan dalam bentuk karkas dari semua jenis ternak, sedangkan keluaran dalam bentuk daging murni. Khusus untuk jeroan dihitung dari berat karkas masing-masing jenis dan langsung dimasukkan ke kolom 3 (keluaran). Produksi telur dihitung dari seluruh hasil, baik yang dihasilkan oleh perusahaan peternakan maupun peternakan rakyat, yang langsung dimasukkan ke kolom 3 (keluaran). Produksi susu, dihitung dari populasi ternak betina produktif yang laktasi dikalikan rata-rata produksi per ekor per tahun. Produksi untuk minyak nabati didasarkan pada jumlah yang diolah untuk makanan, kecuali minyak sawit dan inti sawit merupakan produksi asli. Sedang produksi untuk lemak hewani didasarkan pada produksi daging (karkas). Produksi perikanan adalah semua hasil penangkapan ikan/binatang air lainnya/tanaman air yang ditangkap dari sumber perikanan alami atau dari tempat pemeliharaan baik yang diusahakan oleh perusahaan perikanan maupun rumah tangga perikanan yang meliputi hasil penangkapan yang dijual, hasil penangkapan yang dimakan nelayan/petani ikan/rumah tangga perikanan atau yang diberikan kepada nelayan/petani ikan sebagai upah.

NBM 2009 sementara

halaman

11

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

3.

Stok dan Perubahan Stok Stok adalah sejumlah bahan makanan yang disimpan/dikuasai oleh Pemerintah atau Swasta, seperti yang ada di pabrik, gudang, depo, lumbung petani/rumah tangga, dan pasar/pedagang yang dimaksudkan sebagai cadangan dan akan digunakan apabila sewaktu-waktu diperlukan. Data stok yang digunakan adalah data stok awal dan akhir tahun. Perubahan stok adalah selisih antara stok akhir tahun dengan stok awal tahun. Perubahan stok ini hasilnya bisa negatif (-) dan bisa positif (+). Negatif (-) berarti ada penurunan stok akibat pelepasan stok ke pasar. Dengan demikian komoditas yang beredar di pasar bertambah. Positif (+) berarti ada peningkatan stok yang berasal dari komodtas yang beredar di pasar. Dengan demikian komoditas yang beredar di pasar menjadi menurun.

4.

Impor Impor adalah sejumlah bahan makanan baik yang belum maupun yang sudah mengalami pengolahan, yang di datangkan/dimasukkan, diedarkan, atau disimpan. Untuk perhitungan NBM Regional/Provinsi, yang termasuk import adalah : a. Bahan makanan yang didatangkan/dimasukkan dari luar wilayah negara Republik Indonesia langsung ke dalam wilayah daerah yang bersangkutan; dan atau b. Bahan makanan yang didatangkan/dimasukkan dari wilayah daerah administratif lain ke dalam wilayah daerah administratif yang bersangkutan (perdagangan antar pulau atau antar Provinsi).

NBM 2009 sementara

halaman

12

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

5.

Penyediaan Dalam Negeri sebelum Eksport Penyediaan Dalam Negeri sebelum eksport adalah sejumlah bahan makanan yang berasal dari produksi (keluaran) dikurangi perubahan stok ditambah impor

6.

Ekspor Ekspor adalah sejumlah bahan makanan baik yang belum maupun yang sudah mengalami pengolahan, yang dikeluarkan dari wilayah Republik Indonesia. Untuk perhitungan NBM Regional/Provinsi yang termasuk ekspor adalah : a. b. Bahan makanan yang dikeluarkan dari suatu wilayah daerah administratif, langsung ke luar wilayah Negara Republik Indonesia dan atau Bahan makanan yang dikeluarkan dari suatu wilayah daerah administratif ke wilayah daerah administratif lain (perdagangan antar pulau atau antar Provinsi).

7.

Penyediaan Dalam Negeri Penyediaan dalam negeri adalah sejumlah bahan makanan yang dari produksi (keluaran) dikurangi perubahan stok ditambah impor dikurangi ekpor

8.

Pemakaian Dalam Negeri

NBM 2009 sementara

halaman

13

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

Pemakaian dalam negeri adalah sejumlah bahan makanan yang digunakan di dalam negeri/daerah untuk pakan, bibit/benih, diolah untuk industri makanan dan bukan makanan, yang tercecer dan yang tersedia untuk dimakan. a. Pakan Pakan adalah sejumlah bahan makanan yang langsung diberikan kepada ternak pemeliharaan baik ternak besar, ternak kecil, unggas, maupun ikan. b. Bibit/benih Bibit/benih adalah sejumlah bahan makanan yang digunakan untuk keperluan reproduksi c. Diolah untuk Makanan Diolah untuk makanan adalah sejumlah bahan makanan yang masih mengalami proses pengolahan lebih lanjut melalui industri makanan dan hasilnya dimanfaatkan untuk makanan manusia dalam bentuk lain. d. Diolah untuk bukan makanan Diolah untuk bukan makanan adalah sejumlah bahan makanan yang masih mengalami proses pengolahan lebih lanjut dan dimanfaatkan untuk kebutuhan industri bukan untuk makanan manusia, termasuk untuk industri pakan ternak/ikan.

e.

Tercecer

NBM 2009 sementara

halaman

14

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

Tercecer adalah sejumlah bahan makanan yang hilang atau rusak sehingga tidak dapat dimakan oleh manusia, yang terjadi secara tidak disengaja sejak bahan makanan tersebut diproduksi hingga tersedia untuk konsumen f. Bahan Makanan Bahan makanan adalah sejumlah bahan makanan yang tersedia untuk dikonsumsi oleh penduduk suatu negara atau daerah, pada tingkat pedagang pengecer dalam suatu kurun waktu tertentu. 9. Ketersediaan Per Kapita Ketersediaan per kapita adalah sejumlah bahan makanan yang tersedia untuk dikonsumsi setiap penduduk suatu negara/daerah dalam suatu kurun waktu tertentu, baik dalam bentuk natura maupun dalam bentuk unsur gizinya. Unsur gizi utama tersebut adalah sebagai berikut : a. Energi adalah sejumlah kalori hasil pembakaran karbohidrat yang berasal dari berbagai jenis bahan makanan. Energi ini sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk kegiatan tubuh seluruhnya. b. Protein adalah suatu persenyawaan yang mengandung unsur N yang sangat dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan serta penggantian jaringan-jaringan yang rusak/aus. c. Lemak adalah salah satu unsur zat makanan yang dibutuhkan oleh tubuh sebagai tempat penyimpanan energi, protein dan vitamin.

Penyajian NBM sejak tahun 1991 mengalami sedikit perubahan pada rincian kelompok ikan. Kelompok ikan yang semula dibagi 2 sub kelompok yaitu ikan laut dan ikan tawar, maka mulai tahun 1991 dibagi menjadi 17 jenis ikan. Hal ini menimbulkan beberapa sel terisi 0 (nol),

NBM 2009 sementara

halaman

15

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

karena angkanya terlalu kecil untuk disajikan dalam satuan ribu ton. Demikian juga penyajian pada kelompok sayur-sayuran, mulai tahun 1994 untuk komoditi kacang-kacangan dirinci menjadi dua yaitu kacang merah dan kacang panjang.

B.

Syarat-Syarat Penyusunan NBM Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi yaitu : jenis bahan makanan, data penduduk, besaran dan angka konversi, komposisi gizi bahan makanan, serta cara penulisan dan pembulatan angka. 1. Jenis Bahan Makanan Jenis bahan makanan yang dimaksud di sini adalah jenis bahan makanan yang lazim atau umum dikonsumsi oleh masyarakat suatu negara/daerah yang data produksinya tersedia secara kontinyu dan resmi 2. Data Penduduk Data penduduk yang digunakan adalah data penduduk pertengahan tahun yang bersumber dari BPS. Data penduduk tersebut termasuk penduduk asing yang bermukim di wilayah yang bersangkutan minimal selama enam bulan.

3.

Besaran dan Angka Konversi

NBM 2009 sementara

halaman

16

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

Besaran dan angka konversi yang digunakan adalah besaran dan

angka konversi yang ditetapkan oleh Tim NBM Nasional. Untuk

penyusunan NBM wilayah/daerah, sepanjang besaran dan angka konversi tersedia di daerah, dapat digunakan angka tersebut dengan menyebut sumbernya. Bila belum tersedia digunakan besaran dan angka konversi nasional. Angka konversi untuk menghitung produksi menyangkut semua tahapan mulai dari tahap memproduksi, proses pengolahan hingga siap untuk dibeli konsumen, misalnya gabah kering panen gabah kering giling beras. Angka konversi untuk penggunaan pangan menyangkut tingkat pemanfaatan bahan makanan untuk bahan baku industri, kebutuhan pakan, bibit/benih serta tercecer/rusak. Sampai saat ini angka konversi suatu bentuk produk tertentu ke bentuk lain masih banyak menggunakan faktor konversi dari negara lain. Hal ini merupakan salah satu kelemahan data NBM kita, karena angka konversi tersebut mungkin saja sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi sebenarnya di tanah air. Angka konversi harus dilampirkan dalam NBM yang disusun. 4. Komposisi Gizi Bahan Makanan Komposisi gizi bahan makanan yang digunakan adalah yang bersumber dari buku Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKMB), publikasi Departemen Kesehatan dan dari sumber lain yang resmi yaitu Food Composition Table for Use In East Asia dan Food Composition Table for International Use Publikasi FAO. Komposisi gizi tersebut adalah besarnya nilai kandungan gizi dan bagian yang dapat dimakan. 5. Cara Penulisan dan Pembulatan Angka

NBM 2009 sementara

halaman

17

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

Penulisan angka pada Tabel NBM mulai dari kolom (2) sampai dengan kolom (14) dan kolom (17) adalah dalam bilangan bulat, sedangkan untuk kolom (15), kolom (16), kolom (18) dan (19) dalam bilangan pecahan desimal. Bilangan Bulat Semua bilangan di belakang koma yang nilainya kurang dari setengah dibulatkan ke bawah, dan yang nilainya lebih dari setengah dibulatkan ke atas. Semua bilangan di belakang koma yang nilainya sama dengan setengah dan di depannya bilangan ganjil pembulatannya ke atas, dan yang di depannya bilangan genap pembulatannya ke bawah. Contoh : 14,490 26,518 17,5 18,50 dibulatkan 14 dibulatkan 27 dibulatkan 18 dibulatkan 18

Bilangan pecahan (dua desimal) Semua bilangan yang desimal ketiga dan keempat kurang dari 50, desimal kedua dibulatkan ke bawah. Semua bilangan yang desimal ketiga dan keempat lebih dari 50 dibulatkan ke bawah. Semua bilangan yang desimal ketiga dan keempat sama dengan 50 dan desimal kedua ganjil, maka desimal kedua dibulatkan ke atas, dan apabila desimal keduanya genap, maka dibulatkan ke bawah. Contoh : 11,1549 dibulatkan 11,15

NBM 2009 sementara

halaman

18

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

27,1763 15,1350 17,1850

dibulatkan dibulatkan dibulatkan

27,18 15,14 17,18

Di dalam pengisian kolom, agar diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. b. Jika data tidak tersedia/tidak ada hendaknya diisi dengan notasi strip (-) Jika data tersedia tetapi besarnya kurang dari 500 kg hendaknya diisi dengan notasi nol (0), namun jika ada pertimbangan lainnya (sosial, ekonomi, kemasyarakatan) tetap dapat diperhitungkan.

C. Pengumpulan, Pengolahan dan Analisa Data Untuk keperluan penghitungan Neraca Bahan Makanan ini, data ketersediaan bahan makanan diperoleh dari berbagai sumber data, dengan melibatkan petugas pengumpul data dari berbagai Dinas/Instansi Tingkat Provinsi terkait, antara lain ; Dinas Pertanian - Dinas Perikanan dan Kelautan - Dinas Kehutanan dan Perkebunan Dinas Perindagkop dan UKM - Dinas Kesehatan - Bappeda DIY - Bulog - Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi dan BPS. Selain berupa data sekunder dari masing-masing dinas/instansi terkait, data juga diperoleh dari hasil

NBM 2009 sementara

halaman

19

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

wawancara langsung ke berbagai distributor dan pedagang/pengecer bahan makanan dari pasar, pabrik maupun toko swalayan/ supermarket yang ada di wilayah Provinsi D.I.Yogyakarta. Pengolahan dan analisa data hingga penyelesaian akhir, dilaksanakan oleh tim penyusunan Neraca Bahan Makanan (NBM), yang koordinasi pelaksanaannya oleh Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Berbagai data yang masuk, selanjutnya dikompilasikan menurut jenis komoditinya dan dihitung jumlah ketersediaan masing-masing bahan makanan tersebut untuk per kapita per tahun. Sedang untuk mengetahui nilai gizi bahan makanan tersebut, maka dari angka ketersediaan pangan per kapita per hari, diterjemahkan ke dalam satuan energi, protein dan lemak. Akhirnya, dari angka ketersediaan pangan hasil penghitungan Neraca Bahan Makanan yang terdiri dari 12 kelompok/jenis bahan makanan tersebut diringkas lagi menjadi 9 (sembilan) kelompok/jenis bahan makanan untuk keperluan analisa guna dibandingkan dengan angka konsumsi yang didasarkan pada pendekatan Pola Pangan Harapan. Adapun untuk penghitungan angka Pola Pangan Harapan, seluruhnya didasarkan pada ketentuan/pedoman terakhir Pelatihan Neraca Bahan Makanan (NBM) di ciawi Bogor Tahun 2005, kerjasama antara Pusat Studi Kebijakan Pangan dan Gizi (PSKPG) Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan Badan Bimas Ketahanan Pangan (BBPK) Departemen Pertanian.

BAB III

NBM 2009 sementara

halaman

20

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

PENYEMPURNAAN NERACA BAHAN MAKANAN (NBM)

Penyusunan Tabel Neraca Bahan Makanan (NBM) sudah dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sejak tahun 1963. Namun demikian sampai saat ini masih terdapat beberapa kekurangan/kelemahan pada penyusunan Tabel NBM. Kelemahan tersebut diantaranya tidak tersedianya data dasar, besaran-besaran konversi yang digunakan tidak mencerminkan kondisi sekarang, serta jenis komoditas yang dicakup dalam tabel NBM belum mencerminkan komoditas yang dikonsumsi. Dalam rangka memperbaiki Tabel NBM agar informasi yang dihasilkan lebih akurat, telah dilakukan beberapa upaya penyempurnaan secara bertahap. Pada tahun 2002 dan 2003 dilakukan beberapa kegiatan (kajian) yang bertujuan untuk memperbaiki besaran konversi dan besaran tercecer pada sub sektor tanaman pangan, sub sektor peternakan, sub sektor hortikultura, dan sub sektor perkebunan.

A. Hasil Kajian Sub Sektor Peternakan Besaran konversi yang diguanakan pada penyusunan NBM sub sektor peternakan selama ini tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya karena bersumber pada penelitian yang dilakukan pada sekitar tahun tujuh puluhan. Oleh karena itu pada tahun 2002 dilakukan kegiatan Penyempurnaan Neraca Pangan Komoditas Peternakan (Karkas) dalam rangka NBM yang bertujuan untuk mendapatkan besaran konversi :

NBM 2009 sementara

halaman

21

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

karkas ke bentuk daging, jeroan terhadap karkas, dan lemak terhadap karkas. Studi karkas tersebut dilaksanakan di sembilan Propinsi yaitu Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan. B. Hasil Kajian Sub Sektor Tanaman Pangan Penyempurnaan NBM pada sub sektor tanaman pangan, dilakukan melalui kegiatan Penyempurnaan Neraca Pangan Komoditas Jagung dalam rangka NBM pada tahun 2002. kegiatan ini dilakukan di tujuh Provinsi sentra produksi jagung yaitu Sumatera Utara, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah : Mendapatkan besaran susut perontokan, pengeringan, pengangkutan dan penggilingan Mendapatkan besaran konversi jagung dari bentuk jagung ontongan basah tanpa kulit dan tangkai menjadi ontongan kering,

jagung ontongan kering menjadi jagung pipilan kering, jagung pipilan kering menjadi berasan jagung dan pipilan kering menjadi jagung tepung Mendapatkan besaran stok jagung di industri pengolahan.

Hasil kegiatan Penyempurnaan Neraca Pangan komoditas jagung tersebut belum dapat dipergunakan untuk memperbaiki tabel NBM. Hal ini disebabkan tercecer yang diteliti dalam studi tersebut baru mencakup sebagian dari konsep tercecer dalam tabel NBM. Angka tercecer yang terdapat dalam tabel NBM adalah sejumlah bahan makanan yang tercecer pada saat produksi sampai dengan bahan makanan tersebut tersedia pada tingkat

NBM 2009 sementara

halaman

22

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

pedagang pengecer. Tercecer bisa terjadi karena pengangkutan, pewadahan maupun penyimpanan. Tercecer yang dihasilkan dari kegiatan Penyempurnaan Neraca Pangan Komoditas Jagung dalam rangka NBM hanya angka tercecer pada pengangkutan pertama atau pengangkutan dari rumah petani sedangkan tercecer pengakutan pada perdagangan tidak termasuk. Demikian pula dengan tercecer karena pewadahan ataupun penyimpanan. Dengan demikian angka tersebut belum bisa digunakan pada penyusunan tabel NBM.

C.

Hasil Kajian Sub Sektor Hortikultura Salah satu kelemahan dari tabel NBM Sub Sektor Hortikultura sampai saat ini diantaranya adalah pada besaran tercecer dan besaran

konversi. Besaran konversi yang digunakan merupakan hasil penelitian yang telah lampau sehingga sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi saat ini, bahkan untuk besaran tercecer bukan merupakan hasil penelitian tetapi hanya merupakan kesepakatan dari Tim NBM terdahulu. Untuk itu pada tahun 2003 dilakukan kegiatanPerencanaan Neraca Bahan Makanan Komoditas Hortikultura yang bertujuan : 1. Mendapatkan besaran konversi dari kering panen ke kering konsumsi untuk komoditas bawang merah dan bawang putih. 2. Mendapatkan besaran tercecer untuk komoditas sayur- sayuran : bawang merah, bawang putih, kentang, cabe, kubis, tomat dan kacang merah 3. Mendapatkan besaran tercecer untuk komoditas buah- buahan : pisang, jeruk, salak, mangga, durian, pepaya dan nanas.

NBM 2009 sementara

halaman

23

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

Kegiatan penyempurnaan NBM Sub Sektor Hortikultura dilaksanakan di sebelas Provinsi yang merupakan daerah potensi produksi hortikultura yaitu : Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Papua. Studi besaran tercecer pada sub Sektor Hortikultura baru bisa dilakukan terhadap tujuh komoditas buah dan tujuh komoditas sayuran. Sehingga untuk komoditas yang lain masih menggunakan besaran tercecer lama. Demikian pula untuk besaran konversi bawang putih, mengingat pada waktu pencacahan musim panen bawang putih sudah lewat maka sampel untuk studi konversi bawang putih menjadi kurang terwakili. Dengan demikian untuk konversi bawang putih dari kering panen ke kering konsumsi sebaiknya masih menggunakan besaran konversi yang lama.

D.

Hasil Kajian Sub Sektor Perkebunan

Penyusunan NBM untuk Sub Sektor Perkebunan sampai saat ini juga masih mempunyai beberapa kelemahan diantaranya besaran konversi dan besaran tercecer yang sudah tidak sesuai dengan kondisi saat ini. Dalam rangka memperbaiki besaran konversi dan tercecer sub sektor perkebunan dilaksanakan kegiatan Penyempurnaan Neraca Pangan komoditas Perkebunan yang bertujuan untuk : 4. Mendapatkan besaran konversi Tanda Buah Segar (TBS) ke CPO dan inti sawit CPO ke minyak goring sawit

NBM 2009 sementara

halaman

24

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

Inti sawit ke minyak inti sawit Minyak inti sawit ke minyak goreng inti sawit

5. Mendapatkan besaran tercecer untuk komoditas : kelapa daging, minyak goreng kelapa, CPO, minyak goreng sawit, minyak inti sawit, minyak goreng inti sawit dan gula pasir. 6. Mendapatkan parameter distribusi penggunaan kelapa

Kegiatan penyempurnaan Neraca Pangan komoditas Perkebunan ini meliputi sepuluh Provinsi yaitu : Sumatera Utara, Jambi, lampung, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Hasil kegiatan penyempurnaan Neraca Pangan Komoditas Perkebunan sebagai berikut : 1. 2. Besaran konversi beberapa komoditas sub sektor perkebunan Studi ini menghasilkan informasi bahwa komoditas minyak goreng inti sawit tidak dijumpai di lapangan. Produk turunan dari

inti sawit hanya sampai minyak inti sawit yang biasanya digunakan untuk bahan baku industri. Namun demikian karena minyak inti sawit bukan merupakan bahan makanan yang siap dikonsumsi maka sebaiknya dalam penyusunan Tabel NBM, komoditas inti sawit tidak perlu ditampilkan. 3. Besaran tercecer beberapa komoditas sub sektor perkebunan

NBM 2009 sementara

halaman

25

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

Parameter pemakaian kelapa untuk industri makanan dalam NBM adalah jumlah kelapa daging yang dipergunakan untuk kopra yang nantinya akan digunakan untuk menghasilkan minyak goreng (turunan dari kelapa). Dalam penyusunan NBM selama ini minyak goreng kelapa diasumsikan semuanya berasal dari kopra. Namun berdasarkan survey industri besar/sedang yang dilakukan oleh BPS, diperoleh informasi bahwa pembuatan minyak goreng ada yang berasal dari kelapa daging yang disebut sebagai proses basah. Dengan demikian seharusnya ketersediaan minyak goreng kelapa berasal dari kelapa daging/minyak goreng dan kopra/minyak goreng. Besaran parameter pemakaian kelapa daging untuk industri makanan yang digunakan selama ini sebesar 45 % terhadap penyediaan dalam negeri, sedangkan hasil kajian sebesar 34,79 % dari penyediaan dalam negeri (hasil kajian tahun 2003).

E.

Upaya Penyempurnaan dengan Menggunakan Tabel I O

Dari Tabel NBM versi I O yang dipergunakan untuk mengisi kekosongan kolom kolom komponen NBM yang seharusnya ada isian, tetapi tidak tersedia datanya. Komponen komponen tersebut diantaranya : 1. Perubahan Stok (kolom 4) : Selama ini hanya terisi pada komoditi beras dan gula pasir; Dengan menggunakan besaran rasio I O dari tabel I O, perubahan stok dapat terisi pada seluruh komoditi kecuali kelompok

buah, kelompok sayur dan kelompok ikan.

NBM 2009 sementara

halaman

26

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

2. -

Ekspor (kolom 7) : Ekspor pada Tabel NBM selama ini belum termasuk makanan olahan, sementara pada tabel I O sudah termasuk; Dengan menggunakan rasio I O dapat diperoleh ekspor termasuk makanan olahan. Pada saat ini baru 2 komoditi yaitu tepung

gandum dan gula pasir. 3. 4. Pakan (kolom 9) : Pada tabel NBM selama ini baru terisi pada komoditi gabah, jagung pipilan, ubi jalar, ubi kayu, kacang hijau dan susu; Dengan menggunakan rasio I O, kolom pakan juga terisi pada komoditi beras dan kedelai. Bibit (kolom 10) : Pada tabel NBM kolom 10 terisi untuk komoditi gabah, jagung, kentang, kacang tanah lepas kulit, kedelai, kacang hijau, bawang

merah, bawang putih, telur ayam buras dan telur itik; Dengan tabel NBM I O selain komoditi diatas juga ada isian pada kelapa dan kelompok sayur.

5.

Industri Makanan (kolom 11) dan Industri Non Makanan (kolom 12) :

NBM 2009 sementara

halaman

27

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

Data Industri yang selama ini dicakup hanya industri besar/ sedang. Pada tabel NBM I O sumber data industri selain besar/

sedang juga ditambah estimasi pada industri kecil dan rumah tangga; tapioka. 6. Tercecer (kolom 13) Besaran konversi pada tabel NBM yang masih relevandigunakan yaitu komoditi seperti padi, beras, jagung, ubi jalar, ubi kayu, Komoditi yang menggunakan rasio I O untuk data industri makanan (kolom 11) adalah kelapa dan kacang tanah; Dengan menggunakan rasio I O beberapa komoditi dapat terisi pada industri non makanan (kolom 12) kecuali gaplek dan

kacang tanah berkulit, kacang tanah lepas kulit, kedelai, kacang hijau, telur ayam buras, telur ayam ras, telur itik dan susu sapi; Besaran konversi hasil kajian sudah dipakai pada gula pasir, jeruk, mangga, nenas, salak, durian, pisang, pepaya, bawang merah,

bawang putih, kubis, tomat, cabe,kentang, kacang merah, kelapa daging, kopra, minyak goreng kelapa, minyak sawit dan minyak goreng sawit; Besaran tercecer ikan masih menggunakan yang lama sebesar 15 persen; Selain komoditi di atas menggunakan besaran rasio I O.

NBM 2009 sementara

halaman

28

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

F.

Perubahan Tabel NBM

Tabel NBM Tahun 2008 terdapat penyederhanaan dalam hal jumlah jenis bahan makanan meliputi : Pangan Nabati : Pada kelompok Padi-padian mulai tahun 2008 terdapat penambahan jenis bahan makanan jagung muda, sedangkan NBM tahun sebelumnya terdapat jenis bahan makanan Sorgum/Cantel. Kelompok Makanan Berpati mulai tahun 2008 terdapat penambahan Sagu/tepung sagu dan tahun sebelumnya terdapat jenis bahan makanan Talas. Khusus NBM Provinsi DIY untuk kelompok Makanan Berpati tidak ada jenis Gandum (Wheat) dan diganti dengan Mie Instant karena konsumsi Mie Instant cukup tinggi. Kelompok Gula tidak terdapat perubahan. Kelompok Buah Biji Berminyak pada tahun 2007 terdapat jenis bahan makanan Glondong/ Kacang mete, sedang tahun 2008 dan 2009 tidak ada, jenis bahan makanan Kacang mete pada tahun 2008 dan 2009 seharusnya tidak tercantum dalam tabel NBM namun karena Kacang mete merupakan produk unggulan dari Provinsi DIY sehingga perlu untuk dicantumkan. Pada kelompok Buah-buahan terdapat perbedaan dalam jumlah maupun jenis bahan makanan, mulai tahun 2008 terdapat 20 jenis sedangkan tahun sebelumnya ada 22 jenis, perbedaan terdapat pada jenis bahan makanan apel, anggur, jambu air, jambu biji, kelengkeng dan melon yang terdapat pada tahun 2007 sedangkan mulai tahun 2008 jenis jambu adalah gabungan dari jambu biji dan jambu air, juga terdapat penambahan jenis sukun dan markisa. Kelompok Sayuran mulai tahun 2008 terdapat penambahan Jamur sedang tahun sebelumnya tidak ada, selain itu sukun dan nangka sayur juga masuk kelompok sayuran. Kelompok minyak lemak nabati terdapat perbedaan jenis bahan makanan minyak jagung, minyak kedelai dan minyak

NBM 2009 sementara

halaman

29

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

ikan pada tahun 2007 sedang mulai tahun 2008 tidak terdapat jenis tersebut.

Pangan Hewani : Untuk jenis bahan makanan daging, susu dan telur tidak terdapat perbedaan, sedangkan untuk ikan mulai tahun 2008 terdapat 19 jenis ikan sedang tahun sebelumnya dikelompokkan menjadi ikan darat dan ikan laut. Mulai pada tabel 2008 seharusnya tidak terdapat jenis ikan lele dan nila, namun karena jenis tersebut merupakan bahan makanan unggulan dari Provinsi DIY maka perlu untuk dicantumkan.

NBM 2009 sementara

halaman

30

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

BAB IV ANALISIS KETERSEDIAAN PANGAN TAHUN 2009 SEMENTARA

A.

Situasi Ketersediaan Pangan Tahun 2007-2009 Sementara Ketersediaan setiap bahan pangan untuk dikonsumsi berasal dari produksi, stok net impor, kemudian dikurangi penggunaan pakan, bibit, industri dan tercecer. Pada Tabel 1, terlihat bahwa Tahun 2007 total ketersediaan energi per kapita yaitu 3.664 kalori/hari, protein 94,59 gram/hari, dan lemak 97,95 gram/hari. Tahun 2008 total ketersediaan energi per kapita yaitu 3.558 kalori/hari, protein 85,50gram/hari, dan lemak 86,29 gram/hari (Tabel 3). Tahun 2009 sementara total ketersediaan energi per kapita yaitu 3.725 kalori/hari, protein 92,75 gram/hari, dan lemak 96,33 gram/hari (Tabel 5). Keragaan ketersediaan per-kelompok bahan pangan tahun 2007-2009 sementara secara rinci seperti diuraikan berikut ini :

Kelompok Padi-padian Penyediaan energi padi-padian pada tahun 2007 (Tabel 1) mencapai 2.488 kalori/kapita/hari atau 67,90%, protein 59,55 gram/hari atau 62,96% dan lemak 38,45 gram/hari atau 39,25%. Jumlah energi tersebut didominasi oleh beras yang mencapai 1.212 kal/kapita/tahun yang

NBM 2009 sementara

halaman

31

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

berasal dari produksi domestik 430.146 ton beras, sedangkan kontribusi tepung gandum sebesar 119 kal/kapita/tahun yang berasal dari import sebesar 44.625 ton dan jagung mensuplai 589 kal/kapita/tahun (Tabel 2) Tahun 2008 ketersediaan energi per kapita per tahun (Tabel 4) dari padi-padian mencapai 1.864 kalori/kapita/hari atau 53,24%, protein 46,77 gram/hari atau 55,91% dan lemak 10,60 gram/hari atau 12,37%. Suplai energi, protein dan lemak untuk tahun 2008 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2007, hal ini dikarenakan terjadinya kenaikan konsumsi dari jenis padi-padian, khususnya beras (Susenas 2008). Kontribusi energi terbesar masih didominasi oleh beras yang mencapai 1.224 kal/kapita/tahun yang berasal dari produksi domestik 423.139 ton beras. Ketersediaan beras tahun 2008 meningkat dibandingkan tahun 2007, hal ini dipengaruhi adanya peningkatan produksi padi tahun 2008 dibandingkan tahun 2007, dan import sebesar 25.937 ton. Kontribusi jagung tahun 2008 menurun dibandingkan tahun 2007, yaitu 494 kal/kapita/tahun yang berasal dari produksi 285.372 ton dan gandum mensuplai 72 kal/kapita/tahun (turun dibandingkan tahun 2007 yang mensuplai 119 kal/kapita/tahun). Ketersediaan energi dari gandum dari tahun ke tahun cenderung menurun, hal ini membuktikan bahwa pola pikir masyarakat sudah berubah, karena sudah sadar akan produksi dan potensi wilayah yang tidak mengandalkan bahan makanan dari gandum karena produk gandum harus import dari luar negeri (Tabel 2 dan Tabel 4). Hal ini juga didukung data dari Susenas 2008, bahwa konsumsi terigu tahun 2008 mengalami penurunan dari 36,6 gram/kapita/hari (tahun 2007) menjadi 30 gram/kapita/hari (tahun 2008). Tahun 2009 ketersediaan energi per kapita per tahun (Tabel 6) dari padi-padian mencapai 2.058 kalori/kapita/hari atau 55,25%, protein 51,52 gram/hari atau 55,55% dan lemak 11,67 gram/hari atau 12,11%. Suplai energi, protein dan lemak untuk komoditi padi padian pada tahun

NBM 2009 sementara

halaman

32

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

2009 kembali naik dibanding tahun 2008, hal ini dikarenakan terjadi kenaikan produksi padi dari 798.232 ton GKG (tahun 2008) menjadi 837.930 ton GKG (tahun 2009) dan kenaikan produksi jagung dari 285.372 ton (tahun 2008) menjadi 314.937 ton (tahun 2009).. Kontribusi energi terbesar masih didominasi oleh beras yang mencapai 1.395 kal/kapita/tahun yang berasal dari produksi domestik 498.101 ton beras dengan angka impor sebesar 20.948 ton dan ekspor sebesar 6400 ton. Kontribusi energi jagung pada tahun 2009 sebesar 538 kal/kapita/tahun naik dibanding tahun 2008 yaitu sebesar 494 kal/kapita, sedangkan kontribusi gandum tahun 2009 sebesar 56 kal/kapita dan mie instant sebesar 69 kal/kapita cenderung turun dibanding tahun 2008 yaitu untuk gandum sebesar 72 kal/kapita dan mie instan sebesar 72 kal/kapita, ini dimungkinkan adanya kesadaran masyarakat yang sudah tidak mengandalkan gandum dan mie instant sebagai makanan favorit .

2.

Kelompok Makanan Berpati Data NBM tahun 2007 menunjukkan bahwa kelompok makanan berpati mensuplai energi sebesar 246 kalori/kapita/hari (6,71%), mengalami kenaikan di tahun 2008 menjadi 500 kalori/kapita/hari (14,05%) tahun 2009 mengalami penurunan menjadi 421 kalori/kapita/hari (11,30%). Suplai protein dari makanan berpati tahun 2007 sebesar 1,61 gr/kapita/hari (1,70%), naik menjadi 3,27 gr/kapita/hari (3,83%) (tahun 2008) dan 2,75 gr/kapita/hari (2,96%). Kontribusi makanan berpati untuk lemak tahun 2007 sebesar 0,48 gr/kapita/hari (0,49%) mengalami kenaikan menjadi 0,98 gr/kapita/hari (1,14 %) (tahun 2008) (Tabel 4) dan tahun 2009 memberi kontribusi sebesar 0,83 gr/kapita/hari (0,86%). Kontribusi energi makanan berpati terbesar dari tahun ke tahun didominasi oleh ubi kayu, dan ubi jalar. Ketersediaan energi Ubi kayu 241

NBM 2009 sementara

halaman

33

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

kal/kapita/tahun (tahun 2007) naik menjadi 492 kal/kapita/tahun (tahun 2008) dan tahun 2009 turun menjadi 415 kal/kapita/tahun. Ketersediaan energi ubi jalar sebesar 5 kal/kapita/tahun (tahun 2007), naik menjadi 8 kal/kapita/tahun (tahun 2008) dan tahun 2009 turun menjadi 6 kal/kapita/tahun. Ketersediaan energi ubi kayu dan ubi jalar berasal dari produksi dan impor, selain itu ubi kayu juga banyak diekspor keluar daerah. Hal ini mengindikasikan bahwa ketersediaan ubi kayu melebihi dari kebutuhan penduduk baik untuk pakan dan diolah bukan untuk makanan. Ketersediaan bahan pangan ubi-ubian sebenarnya cukup potensi untuk dikembangkan dan dapat merupakan sumber pangan pokok alternatif, hal ini dapat terlihat dari angka produksi sementara dari umbi-umbian yang meningkat dibanding tahun 2007. Sampai saat ini makanan yang berasal dari ubi-ubian ini sudah banyak diolah dengan berbagai jenis olahan pangan sehingga akan lebih menarik untuk mengkonsumsinya. Untuk itu perlu dukungan kebijakan pemerintah dalam mensosialisasikan penganekaragaman konsumsi jenis ubi-ubian dengan dukungan teknologi pengolahan pangan jenis ubi-ubian sehingga nantinya diharapkan konsumsi jenis ubi-ubian meningkat dan konsumsi beras serta konsumsi terigu mengalami penurunan.

3.

Kelompok Gula Angka ketersediaan energi untuk gula tahun 2009 sebesar 165 kal/kapita/tahun (4,43%) mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2008 yaitu sebesar 196 kal/kapita/tahun (5,51%) dikarenakan terjadi penurunan angka produksi baik dari komoditi gula pasir yaitu 33.898 ton (tahun 2008) dan 32.504 ton (tahun 2009), selain itu untuk komoditi gula merah juga mengalami penurunan produksi yaitu pada tahun 2009

NBM 2009 sementara

halaman

34

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

sebesar 267 ton sedangkan produksi tahun 2008 sebesar 700 ton. Penurunan produksi gula dikarenakan adanya penurunan areal tanam tebu. Produksi gula pasir banyak yang diekspor keluar wilayah Provinsi DIY karena produk gula pasir dari PG. Madukismo kurang disukai penduduk di Provinsi DIY, karena warnanya kuning, sehingga gula pasir banyak diimpor dari luar Provinsi DIY. Banyaknya ketersediaan gula di Provinsi DIY dikarenakan tingginya kebutuhan gula pasir baik untuk konsumsi dan industri rumah tangga, dimana produk olahan pangan dari Provinsi DIY sudah dikenal serba manis.

4.

Kelompok Buah Biji Berminyak Kontribusi dari kelompok buah biji berminyak tahun 2007 sebesar 263 kalori/kapita/hari (7,18%) naik sebesar 361 gr/kapita/hari (10,15 %) (tahun 2008) dan naik menjadi sebesar 414 kal/kapita/tahun (11,11%)(tahun 2009). Komoditas yang menyediakan energi per kapita terbesar di tahun 2009 dan tahun 2007 adalah dari kacang tanah kemudian diikuti oleh komoditi kelapa, sedangkan Tahun 2008 sumbangan energi per kapita terbesar dari kacang tanah diikuti oleh kedelai. Ketersediaan kacang tanah berasal dari produksi dan impor sebesar 2.231 ton, sedangkan untuk tahun 2009 dan tahun 2007 hanya berasal dari produksi dan tidak ada impor maupun ekspor, sedangkan tahun 2008 ketersediaan kacang tanah berasal dari produksi dan sedikit ada impor dan untuk kedelai berasal dari produksi dan impor dari luar daerah, selain itu kelapa juga impor dari Jawa Tengah sebesar 23 ton (tahun 2009), namun produksi kacang hijau sedikit mengalami penurunan dibandingkan tahun 2009 sebesar 473 ton dengan impor sebesar 640 ton dan tahun 2008 sebesar 514 ton dengan import sebesar 484 ton,

NBM 2009 sementara

halaman

35

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

sehingga memberikan kontribusi untuk peningkatan angka ketersediaan energi untuk jenis buah/biji berminyak. Produksi kacang mete mengalami kenaikan untuk tahun 2009 sebesar 146 ton, sedangkan tahun 2008 sebesar 71 ton. Ketersediaan protein untuk kelompok buah biji berminyak yaitu 14,85 gr/kapita/hari (tahun 2007) naik menjadi 21,42 gr/kapita/hari (tahun 2008) dan mengalami kenaikan di tahun 2009 sebesar 22,73 gr/kapita/hari. Ketersediaan lemak untuk tahun 2007 sebesar 20,99 gr/kapita/hari naik di tahun 2008 menjadi 29,28 gr/kapita/hari dan tahun 2009 kembali naik menjadi 34 gr/kapita/hari. (Tabel 2 )

5. Kelompok Buah-buahan Pangsa buah-buahan dalam penyediaan energi pada tahun 2007 sebesar 118 kalori/kapita/hari terjadi kenaikan menjadi 155 kalori/kapita/hari (tahun 2008)(Tabel 4) dan tahun 2009 turun menjadi sebesar 140 kalori/kapita/hari (Tabel 6 ). Untuk tahun 2008 dan 2009 dapat dibandingkan bahwa suplai terbesar berasal dari salak sebesar 74 kalori/kapita/hari (tahun 2009) dan 72 kalori/kapita/hari (tahun 2008) diikuti komoditi pisang (28 kalori/kapita/hari) (tahun 2008) dan 25 kalori/kapita/hari (tahun 2009), sedangkan tahun 2007 suplai terbesar berasal dari pisang 35 kalori/kapita/hari diikuti salak sebesar 12 kalori/kapita/hari. Ketersediaan energi yang berasal dari buah-buahan dari tahun 2007 sampai tahun 2009 terus mengalami kenaikan. Untuk kelompok buah-buahan, terdapat beberapa buah yang diimpor dari luar daerah (Jawa Timur) masuk ke Provinsi DIY namun sebagian lagi diekspor kembali keluar daerah Provinsi DIY ke daerah - daerah

NBM 2009 sementara

halaman

36

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

Jawa Tengah seperti Purworejo dan Klaten. Ketersediaan buah-buahan untuk Provinsi DIY pada umumnya sudah dapat dipenuhi dari produksi, seperti mangga, pisang, pepaya, rambutan, salak dan nangka. Namun untuk komoditi jeruk masih mengandalkan impor dari luar daerah (Jawa Timur).

6.

Kelompok Sayur-sayuran Tahun 2007 proporsi energi dari sayuran sebesar 25 kalori/kapita/hari (0,68%) dari total ketersediaan (Tabel 2), mengalami kenaikan

pada tahun 2008 menjadi sebesar 46 kal/kapita/hari (1,29%) dari total ketersediaan namun pada tahun 2009 mengalami penurunan menjadi 43 kal/kapita/hari (1,15%) dari total ketersediaan. Kontribusi kelompok sayur-sayuran diperoleh dari produksi, impor dan sedikit ekspor. Kontribusi energi terbesar untuk komoditi sayuran tahun 2009 berasal dari melinjo yaitu 11 kal/kapita/hari, untuk tahun 2008 dan 2007 kontribusi energi terbesar berasal dari komoditi cabe yaitu 8 kal/kapita/hari (tahun 2008) dan 10 kal/kapita/hari (tahun 2007). Untuk memenuhi konsumsi pangan dari kelompok sayur-sayuran, di Provinsi DIY masih tergantung impor, kecuali untuk komoditi cabe, bawang merah dan melinjo. Dan untuk ketiga komoditi tersebut Provinsi DIY sudah dapat diekspor keluar wilayah. Produksi sayur-sayuran masih belum dapat memenuhi kebutuhan konsumsi penduduk Provinsi DIY. Hal ini dikarenakan adanya persaingan pemanfaatan lahan antara sayur-sayuran dengan komoditi padi palawija. Untuk itu perlu dukungan program dan kebijakan penanaman sayur-sayuran di lahan

pekarangan ataupun dipot pot melalui program tabulampot..

NBM 2009 sementara

halaman

37

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

7.

Kelompok Daging Pasokan energi dari pangan hewani yang cukup besar berasal dari daging. Kontribusi energi, protein maupun lemak dari kelompok daging cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2007, pasokan energi dari kelompok daging sebesar 66 kal/kapita/hari (1,80%). Kontribusi energi yang dominan berasal dari komoditi ayam ras yaitu 38 kal/kapita/hari (57%) dari total ketersediaan daging selanjutnya adalah ayam kampung/ buras sebesar 10 kal/kapita/hari (15,15%) dari total ketersediaan daging. Sedangkan untuk ketersediaan protein dari komoditi daging sebesar 4,31 gram/kapita/hari dan lemak sebesar 5,21 gram/kapita/hari. Pada tahun 2008 pasokan energi dari daging sebesar 53 kal/kapita/hari (1,52 %), menurun dari tahun sebelumnya dikarenakan penurunan produksi pada beberapa jenis daging terutama pada daging unggas, seperti daging ayam buras 4.518 ton (tahun 2007) menjadi 2.706 ton (tahun 2008), ayam ras 16.225 ton (tahun 2007) menjadi 12.189 ton (tahun 2008) dan daging itik 2.390 ton (tahun 2007) menjadi 212 ton (tahun 2008). Sumbangan protein dari kelompok daging sebesar 3,99 gram/kapita/ hari (4,79 %) dan ketersediaan lemak dari daging sebesar 4,03 gram/kapita/hari (4,73%). Suplai energi terbesar dari kelompok daging adalah ayam ras sebesar 29 kal/kapita/hari.(Tabel 4) Ketersediaan energi yang berasal dari daging pada tahun 2009 sebesar 49 kal/kapita/hari (1,32%) dari total ketersediaan energi, ketersediaan energi yang berasal dari daging pada tahun 2009 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2007 dan tahun 2008, hal ini dikarenakan adanya penurunan produksi sebagian besar komoditi daging. Daging babi untuk tahun 2008 terdapat produksi sebesar 70 ton (karkas) dan tahun 2009 tidak terdapat data produksi. Hanya komoditi ayam ras dan itik saja yang sedikit ada peningkatan yaitu untuk ayam

NBM 2009 sementara

halaman

38

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

ras pada tahun 2008 sebesar 21.016 ton dan 28.752 ton (tahun 2009) dan untuk produksi daging itik tahun 2008 sebesar 353 ton naik menjadi 359 ton (tahun 2009) (Tabel 6).

8.

Kelompok Telur Telur merupakan salah satu pangan hewani yang cukup dominan dikonsumsi oleh masyarakat di Provinsi DIY, tahun 2007 suplai energi dari kelompok telur sebesar 22 kal/kap/hari (0,61 %) dari total energi. Kontrtibusinya berasal dari telur ayam kampung sebesar 2 kg/kapita/tahun, telur ayam ras sebesar 17 kg/kapita/tahun dan telur itik sebesar 3 kg/kapita/tahun (Tabel 2). Ketersediaan tersebut sedikit mengalami kenaikan pada tahun 2008. Ketersediaan energi dari kelompok telur sebesar 41 kal/kap/hari (1,15 %) dari total energi. Pasokan ini didominasi oleh telur ayam ras sebesar 34 kal/kap/hari (0,96%) dari total ketersediaan energi (Tabel 4 ). Sedangkan protein dan lemak yang tersedia sebesar 3,17 gr/kapita/hari dan 2,91 gr/kapita/hari (Tabel 4). Kenaikan ketersediaan tahun 2008 dibanding tahun 2007 dikarenakan adanya kenaikan produksi dan impor. Kenaikan tajam terjadi pada produksi telur ayam ras yaitu dari 16.500 ton dengan impor sebesar 425 ton (tahun 2007) naik menjadi 22.615 ton dengan impor sebesar 14.435 ton (tahun 2008). Sehingga peningkatan ketersediaan energi di tahun 2008 didongkrak oleh telur ayam ras. Pasokan energi dari komoditi telur pada tahun 2009 sebesar 29 kal/kap/hari ( 0,78%) dari total energi, angka ini lebih rendah dibanding tahun 2008 walaupun bila dilihat dari produksi komoditi telur ayam ras meningkat namun karena terjadi ekspor yang lebih tinggi dari tahun

NBM 2009 sementara

halaman

39

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

sebelumnya sehingga menyebabkan rendahnya ketersediaan untuk komoditi telur. Ketersediaan energi telur didominasi ayam ras sebesar 24 kal/kap/hari. Ketersediaan protein telur sebesar 2,25 gram/kap/hari menurun dari tahun 2008 dan ketersediaan lemak komoditi telur sebesar 2,08 gram/kap/hari sedikit menurun dibandingkan tahun 2008 (Tabel 6).

9.

Kelompok Susu Ketersediaan energi jenis bahan makanan yang berasal dari susu tahun 2007 sebesar 31 kal/kap/hari (Tabel 2), menurun menjadi 4 kal/kap/hari (0,11%)(tahun 2008), walaupun bila dilihat dari sisi produksi untuk tahun 2008 sedikit meningkat sebesar 7.083 ton (Tabel 4) namun dari sisi impor mengalami penurunan dari tahun sebelumnya, sehingga sangat berpengaruh dalam ketersediaan energi. Sedangkan pada tahun 2009 meningkat menjadi sebesar 5 kal/kap/hari, ini dikarenakan terjadi peningkatan produksi yaitu 8.515 ton, dan tidak terdapat angka impor untuk komoditi susu segar, dan impor untuk susu instant terjadi penurunan dari tahun sebelumnya. Ketersediaan protein sebesar 0,25 gram/kap/hari (tahun 2009)(Tabel 6) naik dibandingkan tahun 2008 (0,22 gram/kap/hari) dan tahun 2007 (1,70 gram/kap/hari). Ketersediaan lemak sebesar 0,27 gram/kap/hari (tahun 2009); 0,24 gram/kap/hari (tahun 2008); 1,86 gram/kap/hari (tahun 2007).

10. Kelompok Ikan.

NBM 2009 sementara

halaman

40

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

Ketersediaan energi, protein dan lemak tahun 2007 untuk kelompok ikan sebesar 45 kal/kap/hari (1,29%) dari total ketersediaan. Produksi ikan dibedakan antara ikan laut dan ikan darat, ketersediaan energi ikan darat sebesar 20 kal/kap/hari dan ikan laut 25 kal/kap/hari. Ketersediaan protein tahun 2007 untuk jenis ikan sebesar 7,97 gram/kap/hari dan lemak sebesar 1 gram/kap/hari (Tabel 2). Ketersediaan energi protein dan lemak tahun 2008 menurun tajam jika dibanding tahun 2007, ketersediaan energi tahun 2008 sebesar 11 kal/kap/hari, protein sebesar 2,15 gram/kap/hari dan lemak sebesar 0,15 gram/kap/hari (Tabel 4). Penurunan ini dikarenakan adanya penurunan produksi (contoh : ikan kakap, kembung, belanak, ikan mas dan lele) dan impor, selain itu juga ekspor ikan laut dari TPI TPI di DIY yang cukup besar. Ketersediaan kelompok ikan, dari tahun ke tahun belum dapat terpenuhi dari produksi sehingga lebih banyak impor dari luar daerah Provinsi DIY. Tahun 2009 ketersediaan energi dari kelompok ikan sebesar 29 kal/kap/hari naik dari tahun 2008. Hal ini dikarenakan adanya kenaikan produksi ikan dan impor ikan dari Jawa Tengah (Klaten) terutama untuk jenis ikan lele. Ketersediaan protein tahun 2009 sebesar 5,46 gram/kap/hari (Tabel 6) meningkat dibanding tahun 2008, namun masih lebih rendah bila dibanding tahun 2007. Ketersediaan Lemak jenis ikan tahun 2009 sebesar 0,56 gram/kap/hari juga lebih tinggi dari tahun 2008 namun lebih rendah dari tahun 2007.

11. Kelompok Minyak/Lemak

NBM 2009 sementara

halaman

41

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

Kelompok minyak/lemak (minyak/lemak nabati dan hewani) memberikan kontribusi cukup besar terhadap ketersediaan energi yaitu yaitu 239 kal/kapita/hari (6,83 % dari total energi) di tahun 2007. Ketersediaan energi dari kelompok minyak/ lemak tahun 2008 sebesar 326 kal/kap/hari (9,16 %) dari total energi, naik dari tahun sebelumnya, hal ini dikarenakan adanya peningkatan produksi dari minyak goreng kelapa dan impor dari minyak sawit. Sedangkan ketersediaan minyak dan lemak tahun 2009 sebesar 373 kal/kap/hari(10%) dari total energi (Tabel 6), meningkat bila dibanding dua tahun sebelumnya.

B.

Kemandirian Pangan Kemandirian pangan dapat diartikan sebagai kemampuan suatu daerah untuk menjamin seluruh penduduk memperoleh pangan dalam jumlah yang cukup, mutu yang layak, aman dan halal, didasarkan pada optimalisasi pemanfaatan dan berbasis pada keanekaragaman sumberdaya domestik. Salah satu indikator yang dapat mengukur kemandirian pangan adalah besaran ketergantungan impor terhadap penyediaan dalam negeri. Dengan ukuran seperti itu, kemandirian beberapa jenis atau komoditas pangan dapat dilihat pada Tabel di bawah:

Produksi (Ton)

Impor (Ton)

Penyediaan dalam negeri (Ton)

Rasio Impor (%)

NBM 2009 sementara

halaman

42

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

Komoditas
I. Pangan Nabati 1. Beras 2. Jagung 3. Kedelai 4. Kacang Tanah 5. Ubi Kayu 6. Ubi Jalar 7. Sayur (Cabe) 8.Buah-buahan(pisang) 9. Minyak Goreng 10. Gula II. Pangan Hewani 11. Daging sapi dan kerbau 12. Daging ayam 13. Telur 14. Susu 15. Ikan

2008
423.139 285.372 34.998 63.240 892.907 7.656 15.063 59.928 16.646 33.898 2.779 14.895 27.556 7.083 17.551

2009
498.101 314.937 40.278 65.893 1.047.684 6.687 17.011 62.572 26.227 32.504 2.430 19.378 28.856 8.515 24.813

2008
25.937 0 2.110 12 900 1.080 4.900 322 31.643 44.126 844 3.819 15.471 2.116 15.060

2009
20.948 512 2.746 2.231 435 571 3.013 897 25.541 48.123 778 1.979 1.055 2.650 41.973

2008
439.514 285.372 35.822 63.252 536.644 8.736 12.431 60.082 44.068 56.273 3.623 15.521 38.228 4.831 23.524

2009
508.109 315.449 40.770 68.116 458.791 7.169 6.415 62.481 51.748 45.757 3.203 16.382 27.535 11.165 64.085

2008
6 0 6 0 0 12 39 1 72 78 23 25 40 44 64

2009
4 0 7 3 0 8 47 1 49 105 24 12 4 24 65

Dari Tabel diatas, dapat dilihat kemandirian pangan wilayah Provinsi DIY. Untuk kelompok pangan seperti beras, jagung, kedelai, kacang tanah, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, buah-buahan (pisang) dan telur ketersediaannya dapat tercapai dari produksi, walaupun masih ada sedikit impor. Sedangkan kelompok pangan seperti sayur-sayuran, gula, minyak goreng, daging (sapi dan kerbau), susu dan ikan ketergantungan ketersediaan masih tinggi terhadap impor (dari luar daerah lain). Komoditi beras walaupun produksi sudah melimpah namun masih terdapat angka impor dari luar daerah terutama dari Jawa Tengah, ratio import beras tahun 2009 sebesar 4 % dan produksi sebesar 498.101 ton, untuk komoditi kedelai tahun 2009 ada impor sebesar 2.746 ton (7%) dan produksi sebesar 40.278 ton sedikit lebih banyak dibanding tahun 2008. Ubi jalar pada tahun 2009 import sebesar 571 ton (8 %), sedang tahun 2008 sebesar 12 % (1.080 ton) dari total produksi

NBM 2009 sementara

halaman

43

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

ubi jalar yaitu 7.656 ton. Kelompok sayur-sayuran (cabe) rasio import tahun 2009 sebesar 47 % lebih tinggi dibandingkan tahun 2008 (39 %). Rasio impor komoditi sayur khususnya cabe sebenarnya produksi sudah mencukupi kebutuhan konsumsi di Provinsi DIY, namun karena produksi cabe banyak diekspor keluar wilayah sehingga mempengaruhi total penyediaan dalam negeri. Adanya impor cabe dari luar wilayah dikarenakan permintaan jenis cabe yang tidak diproduksi di Provinsi DIY. Namun secara umum, produksi sayur-sayuran masih sangat tergantung dari luar wilayah Provinsi DIY. Hal ini dikarenakan adanya persaingan lahan antara komoditi padi palawija dengan komoditi sayuran dan daerah pengembangan untuk komoditi sayuran tertentu (kentang, wortwl, paprika,, kubis, kacang merah dan lobak) hanya dimungkinkan dikembangkan di daerah Sleman. Rasio impor untuk kelompok minyak goreng tahun 2009 (49 %) lebih rendah dibandingkan tahun 2008 (72 %). Rasio ketergantungan impor kelompok gula tahun 2009 sebesar 105 % jauh lebih tinggi disbanding tahun 2008 yaitu sebesar 78 %, hal ini karena sebagian besar produksi gula pasir Provinsi DIY diekspor keluar daerah dan kebutuhan dalam daerah mengimpor sebagian besar dipenuhi dari luar daerah terutama dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Untuk daging (sapi dan kerbau) tahun 2009 ratio ketergantungan terhadap impor lebih tinggi (24 %) dibanding tahun 2008 yaitu sebesar 23 %, sedang untuk kelompok daging sebesar 12 % lebih rendah bila dibandingkan tahun 2008 sebesar 25 %. Ratio impor komoditi telur, tahun 2009 sebesar 4%, lebih rendah bila dibanding tahun 2008 (40%). Rasio impor kelompok susu tahun 2009 menurun dibandingkan tahun 2008, karena rasio impor susu tahun 2009 sebesar 24 %, tahun 2008 sebesar 44 %. Kelompok ikan rasio impor tahun 2009 sebesar 65 %, sedangkan tahun 2008 sebesar 64%. Untuk itu perlu

NBM 2009 sementara

halaman

44

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

adanya program dan kegiatan peningkatan ketersediaan melalui peningkatan produksi dan produktivitas komoditi kedelai, sayur-sayuran, gula, minyak goreng, daging, susu dan ikan. Dengan berdasarkan angka Neraca Bahan Makanan tahun 2009 dan tahun-tahun sebelumnya, dapat dibuat target ketersediaan pangan untuk pemenuhan kebutuhan pangan penduduk seperti ditunjukkan pada Lampiran 4. Ketersediaan pangan dapat dipenuhi dari produksi wilayah maupun dari impor, namun diharapkan untuk pemenuhan kebutuhan pangan penduduk DIY dapat dioptimalkan pemenuhannya dari produksi wilayah Provinsi DIY. Target ketersediaan kelompok padi-padian tahun tahun 2010 (303.300 ton), tahun 2011 (275.800 ton), tahun 2012 (247.600 ton), tahun 2013 (218.700 ton), tahun 2014 (189.000 ton), tahun 2015 (158.600 ton) dan tahun 2020 (424.500 ton). Kelompok umbi-umbian, target ketersediaan tahun 2010 sebesar 391.900 ton, tahun 2011 (368.800 ton), tahun 2012 (345.200 ton), tahun 2013 (321.000 ton), tahun 2014 (296.300 ton), tahun 2015 (271.000 ton) dan tahun 2020 sebesar 138.900 ton. Target ketersediaan kelompok pangan hewani tahun 2010 sebesar 126.400 ton, tahun 2011 (134.800 ton), tahun 2012 (143.300 ton), tahun 2013 (152.000 ton), tahun 2014 (160.700 ton), tahun 2015 (169.500 ton) serta tahun 2020 sebesar 216.100 ton. Target ketersediaan untuk kelompok minyak dan lemak tahun 2010 adalah sebesar 56.700 ton, tahun 2011 (55.100 ton), tahun 2012 (53.400 ton), tahun 2013 (51.700 ton), tahun 2014 (49.900 ton), tahun 2015 (48.100 ton) dan tahun 2020 adalah 38.600 ton. Untuk kelompok buah/biji berminyak, target ketersediaan tahun 2010 adalah 74.500 ton, tahun 2011 (69.100 ton), tahun 2012 (63.600 ton), tahun 2013 (57.900 ton), tahun 2014 (52.200 ton), tahun 2015 (46.300 ton) dan tahun 2020 sebesar 15.400 ton. Target ketersediaan kelompok kacang-kacangan tahun 2010 sebesar 86.300 ton, tahun 2011 (83.300 ton), tahun 2012 (80.400 ton),

NBM 2009 sementara

halaman

45

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

tahun 2013 (77.300 ton), tahun 2014 (74.100 ton), tahun 2015 (70.900 ton) dan tahun 2020 (54.000 ton). Untuk kelompok gula, target ketersediaan tahun 2010 adalah 56.800 ton, tahun 2011 (55.800 ton), tahun 2012 (54.900 ton), tahun 2013 (53.900 ton), tahun 2014 (52.900 ton), tahun 2015 (51.800 ton) dan tahun 2020 sebesar 46.300 ton. Target ketersediaan sayur dan buah untuk tahun 2010 adalah 440.600 ton, tahun 2011 (433.100 ton), tahun 2012 (425.200 ton), tahun 2013 (417.100 ton), tahun 2014 ( 408.700 ton), tahun 2015 (400.000 ton) dan tahun 2020 (355.000 ton).

BAB V KETERKAITAN NERACA BAHAN MAKANAN TAHUN 2009 SEMENTARA DENGAN POLA PANGAN HARAPAN PROPINSI DIY

Ketersediaan pangan secara makro (tingkat wilayah) sangat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya produksi pangan dan distribusi pangan pada daerah tersebut. Sedangkan pada pada tingkat mikro (tingkat rumah tangga) lebih dipengaruhi oleh kemampuan rumah tangga memproduksi pangan,

NBM 2009 sementara

halaman

46

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

daya beli dan pemberian. Dalam hal ini, analisa ketersediaan pangan didekati dengan menganalisa data Neraca Bahan Makanan (NBM) dan data produksi pangan, sedangkan penilaian terhadap pengembangan pola konsumsi pangan tingkat Nasional dan Regional dilaksanakan dengan pendekatan Pola Pangan Harapan (PPH), menggunakan data Survai Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS). Pola Pangan Harapan (PPH) adalah suatu komposisi pangan yang seimbang untuk dikonsumsi guna memenuhi kebutuhan gizi penduduk. PPH dapat dinyatakan dalam bentuk komposisi berat (gram atau kg) aneka ragam pangan yang memenuhi kebutuhan gizi penduduk. Pola Pangan Harapan mencerminkan susunan konsumsi pangan anjuran untuk hidup sehat, aktif dan produktif. Pola Pangan Harapan (Desirable Dictary Pattern) dikenalkan pertama kali oleh FAO-RAPA dalam pertemuan konsultasi FAO-FARA di Bangkok pada tahun 1989. Pola Pangan Harapan (PPH) disarankan untuk digunakan bagi setiap negara di kawasan Asia Pasifik yang dalam penerapannya perlu diadaptasi sesuai pola konsumsi dan kebutuhan gizi setempat. PPH berguna (1) sebagai alat atau instrumen perencanaan konsumsi pangan, ketersediaan pangan dan distribusi pangan; (2) sebagai instrumen evaluasi tingkat pencapaian konsumsi pangan, penyediaan pangan dan produksi pangan baik penyediaan dan konsumsi pangan; (3) sebagai basis pengukuran diversifikasi dan ketahanan pangan; (4) sebagai pedoman dalam merumuskan pesan-pesan gizi. Untuk menjadikan PPH sebagai instrumen dan pendekatan dalam perencanaan pangan dari di sutau wilayah atau daerah diperlukan kesepakatan tentang pola konsumsi energi dan konsumsi pangan anjuran dengan mempertimbangkan (1) pola konsumsi pangan penduduk saat ini; (2) kebutuhan gizi yang dicerminkan oleh pola kebutuhan energi (asumsi dengan makanan aneka ragam pangan, kebutuhan akan zat gizi lain akan terpenuhi); (3) mutu

NBM 2009 sementara

halaman

47

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

gizi makanan yang dicerminkan oleh kombinasi makanan yang mengandung protein hewani, sayur dan buah; (4) pertimbangan masalah gizi dan penyakit yang berhubungan dengan gizi; (5) kecenderungan permintaan (daya beli); (6) kemampuan penyediaan dalam konteks ekonomi dan wilayah. Tingkat konsumsi penduduk Provinsi DIY berdasarkan Susenas 1765,5 kkal/kap/hr, masih dibawah standar ideal sebesar 2000 kkal/kap/hari. Sedangkan pola konsumsi sumber energi penduduk Provinsi DIY sesuai Susenas DIY Tahun 2008, adalah sbb : Padi-padian 61,7%, umbi-umbian 2,2%, pangan hewani 7,7%, minyak dan lemak 7,9%, buah biji berminyak 3,1%, kacang-kacangan 3,8%, gula 6,5%, sayur dan buah 5,4%, dan lain-lain 1,7% (Lampiran 1). Apabila dibuat skor dan diperbandingkan antara skor susenas tahun 2008 dengan skor ideal adalah sebagai berikut : kelompok padipadian skor susenas sebesar 25, angka ini sudah sama dengan skor ideal; kelompok umbi-umbian skor susenas 1 masih dibawah skor ideal sebesar 2,5; kelompok pangan hewani skor susenas 13,5 jauh dibawah skor ideal yaitu 24; kelompok minyak dan lemak skor susenas sebesar 3,5 masih dibawah skor ideal sebesar 5; kelompok buah/biji berminyak skor susenas 1 sama dengan skor ideal; kacang-kacangan skor susenas sebesar 6,8 masih dibawah skor ideal yaitu 10; kelompok gula skor susenas 2,5 sama dengan skor ideal; kelompok sayur dan buah skor susenas sebesar 23,7 masih jauh dibawah skor ideal yaitu 30. Ternyata kelompok pangan hewani, umbi-umbian,minyak dan lemak, kacang-kacangan serta sayur dan buah masih dibawah skor ideal (Gambar 4). Artinya, konsumsi untuk ketiga kelompok pangan tersebut perlu untuk ditingkatkan. Berdasarkan hasil perhitungan Neraca Bahan

Makanan tahun 2009 sementara kondisi ketersediaan pangan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan angka yang jauh di atas angka standart Nasional. Ketersediaan pangan sumber energi tercapai sebesar 3.725 kalori/kapita/hari, sedangkan ketersediaan pangan untuk sumber protein tercapai 92,75 gram/kapita/hari. Angka standar Nasional berdasarkan Pola Pangan Harapan ketersediaan pangan sumber energi adalah 2.200

NBM 2009 sementara

halaman

48

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

kalori/kapita/hari, sedangkan untuk ketersediaan pangan sumber protein sebesar 55 gram/kapita/hari. Dengan demikian maka angka ketersediaan pangan sumber energi dan protein untuk tahun 2009 sementara di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta telah melampaui standart Nasional. Bila dilihat dari sumbangan masing-masing kelompok bahan makanan terhadap ketersediaan energi maka peran padi-padian masih tetap dominan, kontribusinya melebihi angka PPH Nasional. Gambar 5 menunjukkan skor ketersediaan energi menurut kelompok bahan pangan berdasarkan hasil perhitungan NBM Provinsi DIY Tahun 2009 sementara dibanding dengan Skor ideal, Kelompok padi-padian skor tahun 2009 sementara sebesar 25 sama dengan skor ideal sebesar 25. Demikian juga untuk kelompok umbi-umbian, ketersediaan energi Tahun 2009 sementara sebesar 2,5 sama dengan skor ideal 2,5. Ketersediaan energi untuk pangan hewani masih jauh dari harapan, karena skor tahun 2009 sementara mencapai 4,5 sedang skor ideal 24. Padahal skor susenas mencapai 15,3 dan skor idealnya 24,0. Kondisi serupa juga terjadi pada kelompok minyak dan lemak, gula, sayur dan buah. Skor kelompok minyak dan lemak tahun 2009 sementara sebesar 5, Skor minyak dan lemak tahun 2009 sementara sudah diatas skor susenas (3,9), namun masih dibawah skor ideal (5,0). Untuk kelompok gula, skor tahun 2009 sementara sebesar 2,5 lebih rendah bila dibandingkan skor susenas tahun 2009 sementara (3,2) dan skor ideal (2,5). Kelompok sayuran dan buah-buahan, skor tahun 2009 sementara sebesar 23,7, namun masih sedikit dibawah skor susenas (26,9) dan skor ideal (30,0). Rata-rata ketersediaan energi menurut kelompok pangan (kkal/kap/hari) pada tahun 2009 sementara dan sasaran tahun 2010 sebagai berikut : kelompok padi-padian 2.058 kal/kap/hr (2009) dan 1.971 kal/kap/hr (2010); Kelompok umbi-umbian sebesar 422 kal/kap/hr (2009) dan 396 kal/kap/hr (2010); Kelompok Pangan hewani tahun 2009 s sebesar 107 kal/kap/hr dan tahun 2010 yaitu 121 kal/kap/hr; Kelompok minyak dan lemak 46 kal/kap/hr

NBM 2009 sementara

halaman

49

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

(2009) dan 61 kal/kap/hr (2010); Kelompok buah/biji berminyak tahun 2009 sebesar 119 kal/kap/hr dan tahun 2010 adalah 114 kal/kap/hr; Kelompok kacang-kacangan sebesar 70 kal/kap/hr (2009) dan 73 kal/kap/hr (2010); Kelompok Gula tahun 2009 yaitu 45 kal/kap/hr dan tahun 2010 adalah 51 kal/kap/hr; Kelompok sayur dan buah sebesar 182 kal/kap/hr (2009) dan 177 kal/kap/hr (2010). Proyeksi ketersediaan pangan tahun 2010 berdasarkan NBM adalah sebagai berikut : kelompok padi-padian 727.700 ton, kelompok umbi-umbian sebesar 391.900 ton, kelompok pangan hewani sebesar 126.400 ton, kelompok minyak dan lemak adalah 56.700 ton, kelompok buah/ biji berminyak sebesar 74.500 ton, kelompok kacang-kacangan 86.300 ton, kelompok gula sebesar 56.800 ton, kelompok sayur dan buah yaitu 440.600 ton. Ditinjau dari potensi sumberdaya wilayah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sumber daya alam di Daerah Istimewa Yogyakarta masih memiliki potensi ketersediaan pangan yang beragam, baik sebagai sumber karbohidrat maupun protein dan lemak, yang berasal dari kelompok padipadian, umbi-umbian, kacang-kacangan, sayur dan buah serta buah biji berminyak. Potensi sumber pangan tersebut belum seluruhnya dimanfaatkan secara optimal, pola konsumsi pangan rumah tangga masih banyak didominasi oleh beras dan keanekaragaman konsumsi pangan dan gizi yang sesuai dengan kaidah yang seimbang belum terwujud. Potensi sumberdaya wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta bila dimanfaatkan secara optimal diharapkan dapat segera terwujud Pemantapan Ketahanan Pangan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang dicirikan dengan setiap warga mengkonsumsi pangan yang cukup dalam jumlah, mutu, gizi, aman, beragam dan terjangkau. Untuk itu, pengembangan konsumsi pangan dilakukan dengan berbasis pada keanekaragaman baik sumber bahan pangan maupun kelembagaan dan budaya lokal perlu ditingkatkan.

NBM 2009 sementara

halaman

50

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa secara kuantitas ketersediaan bahan pangan sumber energi tahun 2009 sementara telah memenuhi, baik untuk dikonsumsi maupun angka standart nasional, namun secara kualitas masih belum memenuhi keseimbangan gizi masyarakat seperti yang diharapkan, seperti untuk pangan hewani yang masih sangat kurang.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

A.

Kesimpulan Berdasarkan hasil perhitungan Neraca Bahan Makanan tahun 2009 sementara kondisi ketersediaan pangan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan angka yang jauh di atas angka standart Nasional. Ketersediaan pangan sumber energi tercapai sebesar 3.725 kalori/kapita/hari, sedangkan ketersediaan pangan untuk sumber protein tercapai 92,75 gram/kapita/hari. Angka standar Nasional

berdasarkan Pola Pangan Harapan ketersediaan pangan sumber energi adalah 2.200 kalori/kapita/hari, sedangkan untuk ketersediaan pangan

NBM 2009 sementara

halaman

51

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

sumber protein sebesar 55 gram/kapita/hari. Walaupun secara kuantitas ketersediaan energi dan protein sudah terpenuhi, namun secara kualitas masih perlu peningkatan ketersediaan terhadap kelompok bahan makanan, seperti bahan pangan hewani, minyak dan lemak, gula, sayur dan buah-buahan. Tingkat kemandirian pangan wilayah Provinsi DIY untuk kelompok pangan seperti beras, jagung, kedelai, kacang tanah, ubi kayu dan ubi jalar ketersediaannya dapat tercapai dari produksi, sedangkan kelompok pangan seperti sayur-sayuran, gula, daging (sapi dan kerbau), telur, susu dan ikan ketergantungan ketersediaan masih tinggi terhadap impor (dari luar daerah lain), yaitu Kelompok sayur-sayuran 47%, Kelompok gula 105%, kelompok daging (sapi dan kerbau) 24%, kelompok susu 24%, kelompok ikan 65%. Khususnya gula pasir, perlu ada peningkatan kualitas gula yang dihasilkan PG. Madukismo, sehingga produknya tidak diekspor keluar namun dikonsumsi penduduk Provinsi DIY Tingkat konsumsi energi untuk penduduk Provinsi DIY perlu ditingkatkan karena masih dibawah standar ideal. Tingkat konsumsi energy penduduk Provinsi DIY tahun 2008 sebesar 1765,5 kkal/kap/hari, sedangkan tingkat konsumsi ideal sebesar 2000 kkal/kap/hari. Tingkat penganeka ragaman pangan berdasarkan susenas tahun 2008 masih perlu ditingkatkan, karena tingkat keaneka ragaman pangan masih dibawah standar yang ditetapkan. Skor susenas tahun 2008 sebesar 77, sedangkan standar yang ditetapkan adalah 100%. Skor PPH padi-padian 25 (ideal 25), skor PPH umbi-umbian 1 (ideal 2,5), skor PPH pangan hewani 13,5 (ideal 24), skor PPH minyak dan lemak 3,5 (ideal 5), skor PPH buah/biji berminyak 1 (ideal 1), skor PPH kacang-kacangan 6,8 (ideal 10), skor PPH gula 2,5 (ideal 2,5), skor PPH sayur

NBM 2009 sementara

halaman

52

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

dan buah 23,7 (ideal 30). Penganeka ragaman konsumsi pangan perlu ditingkatkan terutama untuk kelompok umbi-umbian, pangan hewani, minyak dan lemak, kacang-kacangan serta sayur dan buah. Target ketersediaan pangan tahun 2010 adalah sbb; - Kelompok padi-padian : 727.700 ton - Kelompok Umbi-umbian : 391.900 ton - Kelompok Pangan Hewani : 126.400 ton - Kelompok Minyak dan Lemak : 56.700 ton - Kelompok Buah/biji berminyak : 74.500 ton - Kelompok Kacang-kacangan : 86.300 ton - Kelompok Gula : 56.800 ton - Kelompok Sayuran dan buah : 440.600 ton - Lain lain : 1.900 ton Sasaran ketersediaan pangan untuk tahun 2010 yaitu : Padi-padian
NBM 2009 sementara

: 1.971 kalori terdiri dari: Beras : 1.335,92 kalori


halaman

53

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

Umbi-umbian : 396 kalori terdiri dari:

Jagung : 515,50 kalori Tepung Terigu : 119,52 kalori

Ubi Kayu : 388,86 kalori Ubi Jalar : 5,75 kalori Kentang : 1,22 kalori

Pangan hewani

: 121 kalori tersiri dari :

Daging Ruminansia : 7,81 kalori Daging Unggas : 42,30 kalori Telur : 32,86 kalori Susu : 5,32 kalori Ikan : 32,77 kalori Minyak dan lemak : 61 kalori

NBM 2009 sementara

halaman

54

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

Buah/biji berminyak : Kacang-kacangan Gula Sayur dan buah : : :

114 kalori 73 kalori 51 kalori 177 kalori

B. Saran 1. Pendataan NBM perlu disempurnakan seperti; cakupan data perubahan stok, yang hanya terbatas pada stok yang dikuasai oleh pemerintah yang bersumber pada Bulog/Dolog, perlu diperluas dengan sumber-sumber data dari pedagang/pedagang besar atau penggilinganpenggilingan. 2. Ketersediaan data ekspor/import dari/ke wilayah administratif daerah lain belum ada institusi yang menanganinya, sebaiknya diperdayakan atau dibentuk lembaga atau institusi yang menangani demi keakuratan data Necara Bahan Makanan di tahun-tahun mendatang.

NBM 2009 sementara

halaman

55

Neraca Baham Makanan Tahun 2009 sementara

3.

Ketersediaan pangan di Provinsi DIY perlu ditingkatkan dari peningkatan produksi dan produktivitas dengan memanfaatkan potensi wilayah, sehingga dapat menekan impor dan diharapkan nantinya dapat menyerap tenaga kerja di bidang pertanian. Beberapa komoditi yang ketergantungan dengan impor masih tinggi yaitu sayur-sayuran, gula, susu dan ikan, demikian juga daging. Khusus gula pasir perlu ditingkatkan kualitas produk dari PG. Madukismo.

4.

Perlu dianalisis lebih lanjut penyebab ketidaktercapaian tingkat konsumsi masyarakat Provinsi DIY, sehingga dari hasil analisis tersebut dapat dijadikan dasar dalam penentuan kebijakan untuk meningkatkan konsumsi penduduk DIY.

5.

Konsumsi kelompok padi-padian terutama beras perlu ditekan lajunya melalui sosialisasi, sentuhan teknologi dan penganekaragaman konsumsi dari pangan lokal (ubi-ubian) sehingga akan menekan kebutuhan beras dan terigu setiap tahunnya. Dan diharapkan penurunan konsumsi beras tidak beralih pada terigu namun pada komoditi sumber pangan karbohidrat yang lain yang dapat diproduksi di Provinsi DIY.

6.

Perlunya koordinasi lintas sektor untuk pencapaian target konsumsi dan penganekaragaman konsumsi berdasarkan PPH serta pencapaian target ketersediaan pangan di wilayah.

NBM 2009 sementara

halaman

56