Anda di halaman 1dari 20

BAB 3.

PEMBAHASAN

3.1 Macam-macam Penelitian Epidemiologi 3.1.1 Penelitian Epidemiologi Observasi 1. Deskriptif Konsep Penelitian Deskriptif Metode penelitian deskriptif ialah metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif. Metode penelitian deskriftif digunakan untuk memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang. Penelitian ini dilakukan dengan menempuh langkah-langkah pengumpulan data, klasifikasi, pengolahan atau analisis data, membuat kesimpulan dan laporan. Metode deskriftif biasanya digunakan untuk menelaah terhadap masalah yang mencakup aspek yang cukup banyak (populasi) dan menelaah suatu kasus tunggal (individu), mengadakan perbandingan antara suatu hal dengan yang lain, ataupun untuk melihat hubungan antara suatu gejala dengan peristiwa yang mungkin muncul akan timbul dengan munculnya gejala tersebut. Langkah langkah penelitian epidemiologi deskriptif : 1. Memilih masalah yang akan diteliti 2. Merumuskan dan mengadakan pembatasan masalah, kemudian berdasarkan masalah tersebut diadakan studi pendahuluan untuk menghimpun informasi dan teori-teori sebagai dasar menyusun kerangka konsep penelitian. 3. Membuat asumsi atau angapan-anggapan yang menjadi dasar perumusan hipotesis penelitian. 4. Merumuskan hipotesis penelitian. 5. Merumuskan dan memilih teknik pengumpulan data. 6. Menentukan kriteria atau kategori untuk mengadakan klasifikasi data. 7. Menentukan teknik dan alat pengumpul data yang akan digunakan. 8. Melaksanakan penelitian atau pengumpulan data yang akan digunakan.

9. Melakukan pengolahan dan analisis data (menguji hipotesis). 10. Menarik kesimpulan atau generalisasi. 11. Menyusun dan mempublikasikan laporan penelitian.

Jenis Penelitian Deskriptif Bentuk pelaksanaan penelitian deskriftif ini ada berbagai jenis, antara lain sebagai berikut : 1. Individu (Case report, case series, cross sectional ) A. Penelitian Case Report Penelitian ini merupakan studi kasus yang menggambarkan pengalaman kasus / pasien, sehingga rancangan case report ini disebut rancangan kuno dan jarang digunakan lagi. Studi kasus dilakukan dengan cara meneliti suatu permasalahan melalui suatu kasus yang terdiri dari unit tunggal. Unit tunggal disini dapat berarti satu orang, sekelompok penduduk yang terkena suatu masalah, misalnya keracunan, atau sekelompok masyarakat di suatu daerah. Unit yang menjadi kasus tersebut secara mendalam dianalisis baik dari segi yang berhubungan dengan keadaan kasus itu sendiri, faktorfaktor yang mempengaruhi, kejadian-kejadian khusus yang muncul sehubungan dengan kasus, maupun tindakan dan reaksi kasus terhadap suatu perlakuan atau pemaparan tertentu. Meskipun di dalam studi kasus ini yang diteliti hanya berbentuk unit tunggal, namun dianalisis secara mendalam, meliputi berbagai aspek yang cukup luas, serta penggunaan berbagai aspek yang cukup luas, serta penggunaan berbagai teknik secara integratif. Kegunaan Penelitian Case Report : a. Dapat sebagai petunjuk pertama dalam mengidentifikasi suatu penyakit. b. Dapat untuk memformulasikan suatu hipotesa. Kelemahan Penelitian Case Report : a. Tidak dapat digunakan untuk mengetes hipotesa karena tidak ada kelompok pembanding.

b. Terdiri dari satu kasus dan tidak ada kelompok pembanding sehingga tidak dapat untuk mengetes suatu hubungan asosiasi secara statistik.

B. Penelitian Case Series Penelitian ini merupakan suatu rancangan penelitian yang menggambarkan sekelompok kasus dengan diagnosa yang sama. Rancangan penelitian ini juga tergolong rancangan yang kuno sehingga jarang digunakan lagi. Kegunaan Penelitian Case Series : a. Sebagai petunjuk pertama dalam mengidentifikasi suatu penyakit baru. b. Untuk memformulasikan suatu hipotesa atau dugaan. Kelemahan Penelitian Case Series : a. Studi ini tidak dapat digunakan untuk mengetes hipotesa karena tidak ada kelompok pembanding. b. Ada Case Series terdiri lebih dari satu kasus akan tetapi tidak ada kelompok pembanding sehingga tidak dapat untuk mengetes suatu hubungan asosiasi yang valid secara statistik.

C. Penelitian Cross Sectional Penelitian ini merupakan suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara factor-faktor resiko dengan efek, dengan carapendekatan observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat ( poin time approach ). Artinya, tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variable subjek pada saat pemeriksaan. Hal ini tidak berarti semua subjek penelitian diamati pada waktu yang sama. Pengertian-pengertian yang perlu dipahami dalam penelitian cross sectional, dan juga untuk penelitian analitik yang lain, di antaranya ialah : a. Penyakit atau efek b. Faktor resiko untuk terjadinya penyakit tersebut c. Agen penyakit (penyebab penyakit)

Contoh : Ingin mengetahui hubungan antara anemia besi pada ibu hamil dengan Berat Badan Bayi Lahir (BBL), dengan menggunakan rancangan atau pendekatan cross sectional. Tahap pertama : Mengidentifikasi variabel-variabel yang akan diteliti dan kedudukanya masing-masing. - Variabel dependen (efek ) : BBL - Variebel independen (risiko ) : anemia besi. - Variabel independent (risiko) yang dikendalikan : paritas, umur ibu, perawatan kehamilan, dan sebagainya. Tahap kedua : menetapkan subjek penelitian atau populasi dan sampelnya. Subjek penelitian : ibu-ibu yang baru melahirkan, namun perlu dibatasi daerah mana ereka akan diambil contohnya lingkup rumah sakit atau rumah bersalin. Demikian pula batas waktu dan cara pengambilan sampel, apakah berdasarkan teknik random atau non-random. Tahap ketiga : Melakukan pengumpulan data, observasi atau pengukuran terhadap variabel dependen-independen dan variabel-variabel yang

dikendalikan secara bersamaan (dalam waktu yang sama). Caranya mengukur berat badan bayi yang sedang lahir, memeriksa Hb ibu, menanyakan umur, paritas dan variabel-variabel kendali yang lain. Tahap keempat : Mengolah dan menganalisis data dengan cara membandingkan. Bandingkan BBL dengan Hb darah ibu. Dari analisis ini akan diperoleh bukti adanya atau tidak adanya hubungan antara anemia dengan BBL.

Keuntungan penelitian Cross Sectional : Mudah dilaksanakan, sederhana, ekonomis dalam hal waktu, dan hasil dapat diperoleh dengan cepat dan dalam waktu bersamaan dapat dikumpulkan variabel yang banyak, baik variabel resiko maupun variabel efek. Keterbatasan penelitian Cross Sectional : a. Diperlukan subjek penelitian yang besar

b. Tidak dapat menggambarkan perkembangan penyakit secara akurat c. Tidak valid untuk meramalkan suatu kecenderungan d. Kesimpulan korelasi faktor resiko dengan faktor efek paling lemah bila dibandingkan dengan dua rancangan epidemiologi yang lain.

2. Populasi ( Studi korelasi, rangkaian berkala / time series ) A. Studi Korelasi ( Correlation Study ) Merupakan penelaahan hubungan dua variabel suatu situasi atau sekelompok subjek. Hal ini dilakukan untuk melihat hubungan antara gejala satu dengan gejala lainnya. Untuk mengetahui korelasi antara suatu variabel dengan variabel yang lain tersebut diusahakan dengan mengidentifikasi variabel yang ada pada suatu objek, kemudian diidentifikasi pula variabel lain yang ada pada objek yang sama dan dilihat apakah ada hubungan antara keduanya. Dalam uji statistik biasanya dengan menggunakan analisis korelasi yang secara sederhana dapat dilaukan dengan cara melihat skor atau nilai rata-rata dari variabel yang satu dengan skor rata-rata dari variabel yang lain. Koefisien korelasi yang diperoleh selanjutnnya dapat dijadikan dasar untuk menguji hipotesis penelitian yang dikemukakan terhadap masalah tersebut. Dengan membuktikan apakah ada hubungan kedua variabel tersebut, dan sejauhmana hubungan antara keduanya.Misalnya penelitian untuk

mengetahui hubungan berat badan bayi lahir dengan jumlah varitas ibu.

B. Rancangan Rangkaian Waktu (Time Series Design) Rancangan ini seperti rancangan pretes-postes, kecuali mempunyai keuntungan dengan melakukan observasi (pengukuran yang berulangulang), sebelum dan sesudah perlakuan.

2. Analitik a. Penelitian Kohort Konsep Penelitian Kohort : Penelitian Kohort yang merupakan suatu rancangan pengamatan

epidemiologis untuk mempelajari hubungan dan besarnya risiko antara paparan dan penyakit antara tingkat keterpaparan dengan kejadian penyakit. Pengamatannya diikuti kedepan yakni dimulai dengan populasi /kelompok subyek yang bebas dari penyakit, dan secara alami kelompok subyek ini akan terbagi menjadi terpapar dan tidak terpapar,kemudian diikuti sepajang waktu/periode tertentu untuk melihat ada tidaknya efek pada subyek tersebut Jenis Prospektif, penelitian Studi ini mempunyai beberapa Longitudinal, nama Studi lain yakni

Follow Up, Studi

insidensi. arah

Disebut dengan istilah seperti hal tersebut diatas dikarenakan

penelitain ini mengikuti ke kedepan atau ke masa yang akan yang akan di follow up sepanjang masa, dan karena kejadian kasusnya adalah kasus baru terjadi maka studi ini disebut dengan studi insiden. Dalam urutan tingkat kekuatan hubungan sebab akibat desain ini berada dibawah penelitian Eksperimen namun lebih kuat dari cross

sectional dan Case Control.

Analisis kohort mengkaji morbiditas, mortalitas dan factor-faktor resiko terkait berdasarkan usia subkelompok atau jika populaisnya lebih besar, berdasarkan pengelompokan subjek. Periode waktu, pengujian ulang,

evaluasi ulang, dan kegiatan lanjutan dikaji saat kelompok individu menjalani waktu, usia dan kehidupannya. Begitu studi kohort selesai, data harus dianalisis dengan menggunakan rata-rata, rasio, dan tabel yang kemudian disusun dan dipresentasikan. Data morbiditas dan mortalitas perlu dianalisis dan ditabulasi berdasarkan kelompok usia dan kohort, saat mereka menjalani rentang waktu dan kehidupan. Populasi studi mungkin bersifat sementara dan menjadi subjek analisis hanya jika mereka ada dalam populasi studi. Efek kohort, juga disebut ssebagai efek generasi, adalah perubahan dan variasi pada status penyakit atau kesehatan suatu populasi studi ketika kelompok studi tersebut bergerak seiring perjalanan waktu. Setiap pajanan atau pengaruh dari efek lingkungan terhadap perubahan social yang dapat mempengaruhi hasil studi sebagaimana factor tersebut, berarti juga dapat mempengaruhi status kesehatan subjek sebagai suatu kohort. Karena setiap kohort menua, menjalani fase demi fase kehidupannya, dan terpajan pada perubahan dalam hidupnya, efek seperti itu akan terlihat pada setiap orang dalam kohort dan akan berdampak pada hasil studi. Insidensi kohort sebenarnya hanya penerapan konsep insidensi pada kelompok dan subkelompok kohort serta pada populasi srudi. Karena kasus baru penyakit muncul pada anggota sekelompok kohort dalam kuurun waktu tertentu, status kesehatan kelompok menjadi terpengaruh di sepanjang waktu pelaksanaan studi. Angka insidensi dapat mempengaruhi hasil studi kohort, sehingga kasus baru harus ditabulasi dan dianalisis karena berlangsung dalam kohort tersebut. Angka insidensi untuk subkelompok kohort dan untuk populasi studi secara keseluruhan dapat dihitung. Hasil akhirnya adalah insidensi kohort. Variabel Penggangu pada Studi Kohort. Menurut Kelsey, variabel penggangu dapat berpengaruh pada studi kohort. Dalam desain studi apapun, setiap factor yang dapat menyebabkan perubahan atau berpengaruh terhadap hasil harus diperhitungkan. Jika variabel penggangu tidak diperhitungkan, kesimpulan atau informasi yang kelitu dapat diperoleh dan

disajikan dalam laporan. Pengkajian terhadap factor resiko atau derajat pemajanan dilakukan untuk menentukan efeknya terhadap status kesehatan atau tahapan penyakit. Kelebihan penelitian kohort: 1. Studi kohor merupakan desain yang terbaik dalam menentukan insendensi dan perjalanan penyakit atau efek yang diteliti. 2. Dapat dipakai untuk mengetahui ada tidaknya assosiasi antara factor resiko dan penyakit. 3. Memberikan keterangan yang lengkap mengenai factor resiko yang dialami oleh individu dan riwayat alamiah perjalanan penyakit. 4. Dapat sangat mereduksi bias informasi. Tidak akan terjadi masalah recall atau memori. 5. Masalah etika lebih sedikit dibandingkan dengan studi eksperimental. 6. Dapat dipakai langsung untuk mengukur incidence rate dari penyakit dan resiko relative dari factor resiko yang sedang diteliti. 7. Informasi mengenai studi mudah dimengerti oleh orang yang buakn ahli epidemiologi. 8. Karena pengamatan dilakukan secara kontinu dan longitudinal, maka studi kohot memiliki kekuatan yang andal untuk meneliti berbagai masalah kesehatan yang semakin meningkat. Kekurangan Penelitian Kohort: 1. Memerlukan ukuran sampel yang besar, terutama untuk jenis penyakit yang sedikit dijumpai di masyarakat. Hendaklah dihindari dengan memilih kasus yang sering terjadi, atau penyakit yang tidak kompleks. 2. Memerlukan waktu follow up yang cukup lama. Untuk itu perlu dipilih penyakit-penyakit yang mempunyai masa inkubasi singkat.

Langkah-langkah Penelitian Kohort : 1. Merumuskan Hipotesa 2. Menetapkan polulasi penelitian dan sampel.

3. Tahap pengumpulan data. Dengan mengikuti perkembangan faktor risiko sampai terjadi suatu efek. Bentuk instrumen pengukuran :

- Form kuesioner. - Form observasi klinik. - Form observasi non klinik. 4. Analisis data

b. Penelitian Case Control Konsep Penelitian CaseControl : Penelitian kasus control atau disebut juga penelitian case control relative sederhana dan murah untuk dikerjakan dan kini semakin sering diterapkan dalam mencari sebab-sebab dari penyakit, terutama penyakitpenyakit yang jarang ditemukan. Kasus-kasus tersebut meliputi orang-orang yang mengidap sebuah penyakit (atau variable outcome lainnya) yang sedang diamati dan sebuah kelompok control yang sesuai (pembanding atau kelompok acuan) dari oaring-orang yang tidak mengidap penyakit atau variable outcome. Kemudian dibandingkan ada tidaknya faktor yang diperkirakan sebagai penyebab penyakit tersebut kemudian di antara kasuskasus dan control. Data yang menyangkut lebih dari satu titik waktu tertentu kemudian dikumpulkan. Dalam hal ini, penelitian kasus control disebut sebagai penelitian lintas-bagian. Penelitian-penelitian kasus control disebut sebagai penelitian-penelitian retrospektif, karena para peneliti melihat ke belakang, yaitu dari penyakitnya kemudian mencari kemungkinankemungkinan yang menjadi penyebabnya. Hal itu dapat membingungkan, karena istilah-istilah retrospektif dan prospektif itu kini semakin sering digunakan untuk menggambarkan waktu pengumpulan data dalam kaitannya dengan saat sekarang. Dalam hal ini, sebuah penelitian kasus control dapat saja bersifat retrospektif, yaitu bila semua data berasal dari masa-masa lalu, atau bersifat prospektif bila pengumpulan data berlangsung secara berkesinmabungan seiring dengan berjalannya waktu. Sesudah penelitian kasus control dimulai dengan pemilihan kasuskasus, yang seyogyanya mencerminkan sebuah kasus-kasus yang berasal dari sebuah populasi tertentu. Tugas yang paling sulit adalah dalam memilih

kontrol-kontrol untuk memperkirakan prevalensi paparan yang ada di dalam populasi yang menjadi asal kasus-kasus penyakit tersebut. Lebih jauh, pemilihan kontrol dan kasus itu tidak boleh dipengaruhi oleh status pemaparannya, yang seyogyanya ditentukan dengan cara yang sama untuk keduanya. Kasus dan kontrol tidak selalu mencakup subyek dari populasi umum; dalam kenyataan, mereka dapat dibatasi dalam sub kelompok yang lebih khusus, misalnya orang-orang tua, laki-laki atau para wanita. Subyek-subyek yang berperan sebagai kontrol seyogyanya terdiri atas orang-orang yang dipastikan akan dipilih sebagai kasus-kasus penelitian bila mereka menderita penyakit. Idealnya, penelitian kasus kontrol itu menggunakan kasus-kasus (insiden) baru untuk mencegah adanya kesulitan dalam menguraikan faktor-faktor yang berhubungan dengan penyebab dan kelangsungan hidup, meskipun banyak sekali penelitia acapkali dikerjakan dengan menggunakan data prevalensi (sebagai contoh, penelitian kasuskasus kontrol tentang kelainan-kelainan congenital). Satu aspek yang penting tentang penelitian kasus kontrol adalah penentuan awal dan durasi (lama) paparan untuk kasus dan kontrol-kontrol tersebut. Pada rancangan penelit5ian kasus kontrol, status paparan dari kasus-kasus tersebut selalu ditentukan sesuadah penyakit tersebut

berkembang (dana retrospektif) dan selalu dengan menggunakan pertanyaan langsung terhadap orang yang terkena penyakit, terhadap seseorang anggota keluarganya, atau terhadap seorang temannya. Jawaban-jawaban yang b erasal dari pemberi informasi tersebut dapat saja dipengaruhi oleh pengetahuannya tentang hipotesis yang sedang diteliti atau pengalaman sakiytnya itu sendiri. Kadang-kadang paparan itu ditentukan dengan menggunakan pengukuran-pengukuran biokimia (sebagai contoh adalah timah yang berada di dalam darah atau cadmium yang berada di dalam urine) yang dapat dipengaruhi oleh penyakit. Masalah ini dapat dicegah bila data paparan yang akurat dapat diperoleh dari sebuah pencatatan yang sudah mapan (sebagai contoh adalah data pencatatan kepegawaian di dalam industry tertentu) atau bila penelitian kaasus kontrol tersebut dikerjakan

secara prospektif, maka data tentang paparannya dikumpulkan sebelum penyakit berkembang. Salah satu rancangan penelitian untuk tipe ini adalah penelitian kasus kontrol yang dicangkokkan atau the nested case-control study. Contoh Case Control : Contoh klasik tentang penelitian kasus kontrol adalah penemuan tentang adanya hubungan antara thalidomide dan kecacatan-kecacatan anggota badan tang tidak bisa terjadi pada anak-anak yang lahir di Republik Federasi Jerman pada tahun 1959 dan 1960; penelitian itu dilakukan pada tahun 1961, dengan membandingkan antara anak-anak yang menyandang cacat tersebut terhadap anak-anak yang normal (Mellin dan Katzenstein, 1962). Di antara 46 orang ibu yang mempunyai bayi dengan kelainan-kelainan yang tipikal, ternyata 41 orang di antaranya pernah meminum thalidomide di antara bulan ke empat dan kesembilan dari kehamilannya, sementara tidak ada satupun dari 300 ibu-ibu yang dijadikan kontrol, dengan anakanak yang normal itu pernah meminum obat pada masa-masa tersebut. Dalam penelitian kasus kontrol, hubungan antara paparan dan penyakit diperkirakan dengan menghitung rasio odds (odds ratio atau OR), yang merupakan rasio odds dari paparan di antara kasus-kasus terhadap odds yang mewakili paparan di antara kontrol-kontrol. Rasio odds amat mirip dengan besarnya rasio resiko, terutama bila penyakitnya amat jarang ditemui. Kelebihan Studi Case-Control : 1. Tidak mahal untuk dilaksanakan. 2. Mempermudah akses ke lebih banyak subjek karena studi menggunakan data dan identifikasi kasus yang kemudian dibandingkan dengan kontrol yang memiliki karakteristik serupa. 3. Membutuhkan subjek yang lebih sedikit dibandingkan dengan kontrol yang memiliki karakteristik serupa. 4. Bermanfaat dalam studi faktor etiologis pada penyakit yang tidak biasa atau langka karena hanya sedikit kasus yang diperlukan.

5. Memungkinkan perolehan hasil yang cukup cepat karena data siap tersedia. 6. Bermanfaat karena lebih dari satu faktor resiko dapat diidentifikasi di saat yang bersamaan dalam perangkat data yang sama. 7. Bermanfaat dalam studi penyakit yang disebabakan oleh obat-obatan jika pengobatan diduga sebagai penyebab efek samping atau reaksi merugikan yang segera dilihat. Kelemahan Studi Case-Control : 1. 2. Informasi yang dibutuhkan untuk studi mungkin tidak siap tersedia. Informasi yang dibutuhkan untuk studi mungkin tidak dicatat dengan akurat. 3. Jika teknik wawancara yang dipakai, responden mungkin tidak ingat dengan informasi atau fakta lama. 4. Jika dipakai teknik survei/wawancara, responden mungkin tidak ingat dengan informasi atau fakta lama, atau pencacatan mungkin dilakukan dengan tidak tepat. 5. Jika dipakai teknik survei/wawancara, responden mungkin memberikan jawaban yang subjektif atau bias. 6. Pasien dan dokter mungkin tidak ingat pada peristiwa atau keadaan masa lalu atau mungkin mengingatnya dengan cara yang berbeda. 7. Responden mungkin menambah-nambahkan kejadian untuk melengkapi cerita atau memberikan penekanan lebih kepada peristiwa tertentu di masa lalu. 8. Pada penyakit serius atau kasus berat beberapa penyakit, individu yang terjangkit memiliki peluang lebih besar untuk memberikan bias yang kuat. 9. Bias dapat terjadi pada studi kontrol.

10. Keberadaan bias dalam kontrol dapat terjadi akibat kontrol yang diseleksi dari rekam medis . 11. Penyajian yang kurang baik atau keliru dapat terjadi akibat proses seleksi kasus dan kontrol tidak dilakukan dengan cermat.

12. Sifat atau perilaku pribadi dapat memperberat masalah yang berkontribusi pada penyakit, kondisi, ketidakmampuan, atau kematian. b. Penelitian Cross Sectional Konsep Penelitian Cross Sectional : Desain penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan sebuah sample dari populasi dalam suatu waktu. Setelah itu, memeriksa status paparan dan status penyakit pada titik waktu yang sama dari masing-masing individu dalam sample tersebut. Artinya, tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek pada saat pemeriksaan. Penelitian yang mengukur prevalensi penyakit. Oleh karena itu seringkali disebut sebagai penelitian prevalensi. Bertujuan untuk

mempelajari hubungan penyakit dengan paparan dengan cara mengamati status paparan dan penyakit secara serentak pada individu dan populasi tunggal pada satu saat atau periode tertentu. Relatif lebih mudah dan murah untuk dikerjakan oleh peneliti dan amat berguna bagi penemuan pemapar yang terikat erat pada karakteristik masing-masing individu. Data yang berasal dari penelitian ini bermanfaat untuk: menaksir besarnya kebutuhan di bidang pelayanan kesehatan dan populasi tersebut. instrumen yang sering digunakan untuk memperoleh data dilakukan melalui: Survey Wawancara Kuesioner Variabel bebas (faktor risiko) dan variabel tergantung (efek) diobservasi hanya sekali pada saat yang sama. 1. Langkah-langkah Penelitian Cross Sectional : Merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesis yang sesuai Mengidentifikasi variabel penelitian Menetapkan subjek penelitian Melakukan observasi/ pengukuran Melakukan analisis

2. Ciri-ciri Penelitian Cross Sectional Observasi terhadap variabel bebas (faktor risiko) dan terikat (efek) dilakukan satu kali, pada saat yang sama. Dapat untuk deskriptif maupun analitik Dapat diketahui jumlah subyek yg mengalami efek pada kelompok yg mempunyai faktor risiko dan yang tidak. Rasio prevalens menggambarkan peran faktor risiko terhadap terjadinya efek. Paling sering digunakan untuk studi klinik/lapangan 3. Kelebihan : Mudah, ekonomis, hasil cepat didapat Dapat meneliti banyak variabel sekaligus Kemungkinan subjek drop out kecil Tidak banyak hambatan etik Dapat sebagai dasar penelitian selanjutnya. Jenis observasi studi ini bisa digunakan untuk penelitian analitik dalm bidang kesehatan. Contohnya adalah: Penyakit atau masalah kesehatan, atau efek. Faktor resiko untuk terjadinya penyakit tersebut, yakni faktor penyebab terjadinya penyakit atau masalah kesehatan. Agen penyakit. Studi ini representatif dalam mendeskripsikan karakteristik populasi daripada studi case control atau cohort. Selain itu, studi jenis ini juga lebih efisien untuk merumuskan hipotesis baru. 4. Kelemahan : Sulit menetapkan mekanisme sebab akibat Subjek penelitian cukup besar terutama bila variabel banyak dan faktor risk relatif jarang ditemukan Kurang tepat untuk mempelajari penyakit dengan kurun waktu sakit pendek

Kesimpulan korelasi paling lemah dibanding case control atau cohort faktor risiko, diagnosis, prognosis.Tidak dapat menggambarkan perjalanan penyakit studi jenis ini adalah penelitian ini paling mudah untuk dilakukan dan sangat sederhana. Pengujian hipotesis kausal juga tidak seakurat cohort dan case control, karena ketidakpastian sekuensi temporal antara paparan dan penyakit. Diperlukan subjek penelitian yang besar. Tidak dapat menggambarkan perkembangan penyakit secara akurat. Tidak valid untuk meramalkan suatu kecenderungan. Kesimpulan korelasi faktor resiko dengan faktor efek paling lemah bila dibandingkan dengan dua rancangan penelitian cross sectional yang lain. Contoh : Penelitian tentang hubungan bentuk tubuh dengan hipertensi. Maka peneliti memilih suatu populasi untuk dijadikan penelitian, memilih sampel penelitian secara random , kemudian dari masing-masing sampel tersebut diambil data dengan wawancara menderita hipertensi atau tidak (efek), dan pada saat yang sama juga diambil data paparan yaitu bentuk tubuh (gemuk atau kurus) dengan metode observasi. Kemudian dihitung proporsi penderita hipertensi yang gemuk dan yang kurus, serta yang bukan penderita hipertensi yang gemuk dan yang kurus. Maka dapat disimpulkan hubungan antara bentuk tubuh dan hipertensi. Penelitian eksperimen atau percobaan (experiment research) adalah kegiatan percobaan (eksperiment), yang bertujuan untuk mengetahui suatu gejala atau pengaruh yang timbul, sebagai akibat dari adanya perlakuan tertentu. Ciri khusus dari penelitian eksperimen adalah adanya trial. Percobaan itu berupa perlakuan atau intervensi terhadap variabel. Dari perlakuan tersebut diharapkan terjadi perubahan atau pengaruh terhadap variabel yang lain.

Tujuan utama penelitian eksperimen adalah untuk menyelidiki kemungkinan saling sebab akibat dengan cara mengadakan inervensi atau mengenakan perlakuan kepada satu atau lebih kelompok eksperimen, kemudian hasil (akibat) dari intervensi tersebut dibandingkan dengan kelompok yang tidak dikenakan perlakuan (kelompok kontrol). Langkah-langkah dalam melakukan penelitian eksperimen yaitu : a. Melakukan tinjauan literature, terutama yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti. b. Mengidentifikasi dan membatasi masalah penelitian. c. Merumuskan hipotesis-hipotesis penelitian. d. Menyusun rencana eksperimen, yang biasanya mencakup : 1) Menetukan variabel bebas dan variabel terikat 2) Memilih desain eksperimen yang akan digunakan 3) Menentukan sampel 4) Menyusun alat eksperimen dan alat ukur 5) Menyusun outline prosedur pengumpulan data 6) Menyusun hipotesis e. Melakukan pengumpulan data tahap pertama (pretest) f. Melakukan eksperimen. g. Mengumpulkan data tahap kedua (posttest) h. Mengolah dan menganalisis data. i. Menyusun laporan. Pada umumnya penelitian eksperimen ini hanya menggunakan sampel yang relative kecil, bila dibandingkan dengan besarnya populasi . Oleh Karena itu, hasil penelitian eksperimen ini diolah dan dianalisis dengan uji statistic yang cermat, sehingga dapat dilakukan generlisasi yang memadai.

3.1.2 Penelitian Epidemiologi Eksperimen 1. Eksperimen Semu (Quasi Experiment) Tujuan penelitian eksperimental-semu adalah untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang dapat diperoleh

dengan

eksperimen

yang

sebenarnya

dalam

keadaan

yang

tidak

memungkinkan untuk mengontrol dan/atau memanipulasikan semua variabel yang relevan. Si peneliti harus dengan jelas mengerti kompromi apa yang ada pada validitas internal dan validiti eksternal rancangannya dan berbuat sesuai dengan keterbatasan-keterbatasan tersebut. Ciri penelitian eksperimen semu meliputi: a. Penelitian eksperimental-semu secara khas mengenai keadaan praktis, yang di dalamnya adalah tidak mungkin untuk mengontrol semua variabel yang relevan kecuali beberapa dari variabel tersebut. b. Subyek penelitian adalah manusia, misalnya dalam mengukur aspek minat, sikap, dan perilaku. c. Tetap dilakukan randomisasi untuk sampel, sehingga validitas internal masih dapat dijaga. Kelebihan a. Lebih mudah diterapkan b. Lebih murah Kekurangan a. Karena tidak dilakukan randomisasi maka tidk mampu mengendalikan faktor perancu. b. Dapat mengakibatkan bias. Contoh : perubahan denyut nadi pada mahasiswa setelah aktivitas naik turun tangga. Penelitian ini merupakan penelitian Quasi eksperimental dengan design penelitian Pre-Postest design. Populasi target adalah lakilaki dan wanita mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro dengan kelompok umur 19-23 tahun. Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai Juni 2006 dengan menggunakan tangga gedung bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas

Diponegoro yang sebelumnya telah dilakukan pengukuran tinggi tiap anak tangga = 17,5 cm; sudut anak tangga yang satu dengan anak tangga yang lain = 79o; sudut tangga terhadap lantai = 38o. Pengambilan sampel dengan Simple Random. Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa terjadi

peningkatan denyut nadi yang signifikan yang merupakan respon kardiovaskular terhadap adanya kontraksi otot

3. Eksperimental Murni (True Experiment) Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang paling sering dilakukan di laboratorium maupun di klinik dengan randomisasi yaitu setiap individu dalam penelitian tersebut memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai kelompok kasus ataupun control. Yang termasuk dalam kelompok antara lain penelitian laboratorium untuk uji hipotesis tentang penyebab dan factor resiko, percobaan klinis termasuk uji coba pengobatan, dan pencegahan serta intervensi klinis. Di samping itu dpaat juga dilakukan intervensi pada kelompok komunitas tertenu dalam menentukan resiko tinggi (high risk group) dan untuk menilai berbagai kegiatan klinis dalam komunitas tertentu. Keunggulan penelitian ini adalah kita dapat mengontrol kelompok yang kita teliti, baik kelompok studi ekperimental maupun kelompok control. Penelitian ini secara murni dapat menghasilkan factor penyebab dan hubungan sebab akibat yang murni. Beberapa contoh bentuk penelitian true eksperimental: 1. Percobaan laboratorium Percobaan laboratorium ini bertujuan untuk menilai reaksi yang bersifat cepat, baik secara biologis maupun perilaku yang dapat dianggap sebagai factor resiko dalam proses terjadinya penyakit. 2. Percobaan klinis Percobaan klinis adalah suatu penelitian prospektif yang bertujuan untuk membandingkan efek serta besarnya pengaruh suatu perlakuan pada sekelompok objek (kelompok studi) dibandingkan dengan kelompok control, dimana manusia sebagai objek penelitian. Setiap objek diamati pada saat yang bersamaan. Percobaan klinis merupakann bentuk rancangan penelitian eksperimental dimana penderita penyakit tertentu menjadi subjek utamanya. Tujuan

utama penelitian ini adalah untuk mengevaluasi satu atau lebih jenis pengobatan baru terhadap suatu penyakit atau keadaan tertentu. 3. Intervensi lapangan Percobaan lapangan berbeda dengan percobaan klinis karena objeknya adalah orang yang sehat. Bentuk penelitian ini adalah dilakukan di lapangan dan ditujukan pada orang yang mempunyai resiko tinggi terhadap penyakit tertentu untuk dilakukan uji coba pencegahannya. Salah satu contoh bentuk penelitian ini adalah uji coba vaksin di lapangan. 4. Intervensi komunitas Perovaan intervensi komunitas merupakan perluasan dari percobaan intervensi lapangan dengan mencakup sekelompok populasi tertentu atau komunitas tertentu. Perbedaannya terletak pada sasaran intervensinya, apakah dilakukan pada penduduk secara individual atau dalam bentuk missal.

Diagram studi True Eksperimental Populasi

Populasi sampel (randomisasi)

Kelompok studi eksperimental

kelompok control

Pengambilan data awal (sebelum intervensi)

Pengambilan data awal (bersamaan dengan kelompok studi)

Intervensi

tanpa intervensi

Pengumpulan data akhir

pengumpulan data akhir

Bandingkan hasilnya