Anda di halaman 1dari 15

1

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan hak-hak yang dimiliki manusia sejak ia lahir yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu gugat siapapun. Hak-hak ini berisi tentang kesamaan atau keselarasan tanpa membeda-bedakan suku, golongan, keturunanan, jabatan dan lain sebagainya antara setiap manusia yang hakikatnya adalah sama-sama makhluk ciptaan Tuhan. Jika kita melihat perkembangan HAM di negara ini, ternyata masih banyak pelanggaran HAM yang sering kita temui. Mulai dari pelanggaran kecil yang berkaitan dengan norma hingga pelanggaran HAM besar yang bersifat kriminal dan menyangkut soal keselamatan jiwa. Untuk menyelesaikan masalah ini perlu adanya keseriusan dari pemerintah menangani pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dan menghukum individu atau oknum terbukti melakukan pelanggaran HAM. Selain itu masyarakat juga perlu mengerti tentang HAM dan turut menegakkan HAM mulai dari lingkungan sosial tempat mereka tinggal hingga nantinya akan terbentuk penegakan HAM tingkat nasional. Adapun contoh dari pelanggaran HAM di Indonesia adalah Pelanggaran HAM pada Tenaga Kerja Indonesia. Tenaga kerja Indonesia adalah orang yang rela berkerja diluar negri untuk memenuhi kebutuhan keluarganya selain memenuhi kebutuhan keluarganya negara juga mendapati devisa atas jasa yang diberikan mereka dinegri yang membutuhkan tenaga kerja untuk membantu negara negara yang kekurangan tenaga kerja seperti malaysia, singapura dan beberapa negara lainnya. Kasus ini menjelaskan bahwa hak warga negara untuk memperoleh kebenaran belum dipenuhi oleh pemerintah. Oleh karena itu, kelompok kami mengambil judul Pelanggaran Hak Asasi Manusia terhadap Tenaga Kerja Indonesia. 1.2. Tujuan Penulisan 1. Memenuhi tugas yang diberikan pada mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. 2. Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pelanggaran HAM terhadap TKI. 3. Mengetahui macam-macam pelanggaran HAM yang dialami oleh TKI.

4. Mengetahui siapa pihak yang bertanggung jawab dalam menyelesaikan permasalahan pelanggaran HAM terhadap TKI. 5. Mengetahui bagaimana cara penanggulangan pelanggaran HAM terhadap TKI. 1.3. Kegunaan 1.3.1. Praktis Kita sebagai mahasiswa dapat menjadi sistem kontrol terhadap segala kebijakan tentang HAM khususnya bagi TKI terhadap implementasinya dan dapat mengajukan aspirasi masyarakat terhadap masalah- masalah HAM Tenaga Kerja Indonesia. 1.3.2. Teoritis Sebagai langkah awal memahami segala penyebab pelanggaran HAM dan untuk dapat mencari solusi tentang permasalahan HAM terhadap TKI di Indonesia. 1.4. Metode Penulisan Makalah Dalam menyelesaikan makalah ini, penulis melakukan metode penelaahan melalui studi pustaka untuk melengkapi materi atau data-data dalam penyusunan makalah ini. Penyusun melakukan studi pustaka dari berbagai sumber buku. Metode penulisan dalam rangka penulisan untuk mengumpulkan data-data dan bahan-bahan untuk penyusunan makalah ini menggunakan Library Research (Metode Kepustakaan). Dalam hal ini, bahan-bahan dan data-data tersebut diperoleh dari berbagai Text Book (Buku Teks), dokumen resensi, bulletin, jurnal serta artikel-artikel dari berbagai maxs media (Cetak maupun Elektronik) yang semuanya itu dimaksudkan untuk memperoleh data yang sifatnya teoritis yang digunakan sebagai pedoman dalam penelitian dan menganalisa permasalahan yang dihadapi.

BAB II PERMASALAHAN
2.1. Apakah faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pelanggaran HAM terhadap TKI? 2.2. Mengapa masih banyak orang yang menjadi TKI termasuk menjadi TKI illegal, sedangkan telah banyak diketahui pelanggaran HAM terhadap TKI? 2.3. Apa saja pelanggaran HAM yang dialami oleh TKI? 2.4. Siapa pihak yang bertanggung jawab dalam menyelesaikan permasalahan pelanggaran HAM terhadap TKI? 2.5. Bagaimana cara menanggulangi pelanggaran HAM yang terjadi terhadap TKI ?

BAB III PEMBAHASAN


3.1. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Terjadinya Pelanggaran HAM terhadap TKI Penyebab terjadinya pelanggaran HAM yang terjadi di Daerah, yaitu sebagai berikut : Salah satu faktor penyebab kompleksitas permasalahan yang terus silih berganti menimpa Tenaga Kerja Indonesia (TKI) adalah penipuan, tindak kekerasan, over worked, pelecehan seksual/pemerkosaan dan sebagainya. Salah satu penyebabnya adalah Kebijakan Pemerintah yang mengizinkan calon majikan merekrut langsung TKI di Indonesia. Selain itu, faktor-faktor penyebab lainnya adalah : 1. Kurangnya menghormati hak asasi orang lain, moral, etika, dan tata tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 2. Sumber Daya Manusia yang masih rendah. 3. Interprestasi dan penerapan yang salah dari normanorma agama dan perintah (intruksi) 4. Good Governence masih bersifat retorika. 5. Corporete Governence masih bersifat retorika. 3.2. Alasan Banyak Orang yang Menjadi TKI Termasuk Menjadi TKI Ilegal Dasar hukum keberadaan TKI di luar negeri adalah pasal 27 ayat (1) dan (2) UU No. 39 Tahun 2004 tentang penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri. Dalam ayat (1) ditegaskan bahwa penempatan TKI di luar negeri hanya dapat dilakukan ke negara tujuan yang pemerintahannya telah membuat perjanjian tertulis dengan pemerintah Republik Indonesia atau ke negara tujuan yang mempunyai peraturan perundang-undangan yang melindungi tenaga kerja asing. Jadi secara legal formal (hukum) keberadaan TKI di luar negeri sah adanya. Artinya hal tersebut diketahui dan diterima oleh kedua belah pihak baik si pemasok tenaga kerja maupun si pengguna tenaga kerja tersebut. Adapun kemudian terjadi berbagai kasus yang menimpa TKI, misalnya ada TKI melarikan diri dari tempat kerja, majikan menyiksa TKI, bahkan memperkosanya atau sebaliknya TKI membunuh majikan, istri majikan atau anak majikan. Hal itu sebenarnya tidak perlu terjadi manakala kedua belah pihak saling mematuhi perjanjian yang mereka buat dan sepakati bersama.

Secara substansial ada 3 (tiga) faktor yang mendorong seseorang menjadi TKI yaitu: (1) motivasi, (2) berpola pikir prakmatisme, dan (3) ketatnya persaingan mencari lowongan kerja. 1. Motivasi Salah satu alasan utama mengapa seseorang terobsesi menjadi TKI adalah ingin merubah nasib yaitu dari serba kekurangan menjadi berkecukupan, baik papan, sandang dan pangan. Namun sayang apa yang mereka impikan tersebut belum 100% terealisasi karena banyaknya prosedur dan aturan yang harus mereka tempuh. Ironisnya hal tersebut tidak menjadikan mereka putus asa, justru sebaliknya mereka semakin giat dan yakin bahwa mereka akan berhasil. Semangat hidup yang menyala-nyala itu sedikit banyak terinspirasi oleh Firman Tuhan dalam Al Quran yang artinya sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri (QS 13:11). Namun sayang mereka (TKI) terutama yang ilegal pada umumnya miskin pengetahuan dan keterampilan sehingga sering menjadi masalah di kemudian hari. 2. Pola pikir pragmatis Dalam bukunya yang berjudul Pragmatism (1907) William James mengetengahkan bahwa inti ajaran prakmatisme adalah sesuatu itu baru dianggap bernilai bila ia bermanfaat. Asal bermanfaat untuk dirinya dan orang lain, apa saja bisa dilakukan termasuk menipu, menyuap, memanipulasi dan sebagainya. Seperti yang dilakukan oleh sebagian besar calon TKI beserta beberapa instansi yang melindungi mereka. Juga tidak ketinggalan para calonya. Mereka (para TKI) tidak segan-segan utang sana utang sini, jual ini jual itu, bila perlu tipu sana tipu sini termasuk memanipulasi identitas diri dalam hal ini soal umur sebagaimana yang dilakukan Ruyati dan para TKI lainnya. Mereka yakin dengan bekerja sebagai TKI hidup mereka akan bermanfaat tanpa berpikir cara yang mereka tempuh yang penting sukses titik. 3. Persaingan yang ketat Sebagai konsekuensi logis dari era globalisasi dan informasi, individu harus pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan. Segalanya serba cepat dan tepat termasuk dalam mencari lowongan kerja. Tidak cukup mengandalkan ijazah SMA, SMK atau PT (Perguruan Tinggi) tetapi mereka (pencari kerja) harus memiliki ketrampilan tertentu yang bernilai tambah. Jika tidak, mereka akan terlibas begitu saja oleh pesaing lain. Selanjutnya mereka akan jadi pengangguran abadi. Yang lebih menyedihkan lagi jumlah perusahaan di sektor industri saat ini semakin kecil. Sebagaimana harian Kompas tulis dalam tajuk rencananya berjudul Bahaya Deindustrialisasi (Kompas, 21 Mei 2011).

Dengan mengecilnya jumlah perusahaan di sektor industri otomatis akan memperbesar jumlah orang miskin dan pengangguran. Bila hal ini terus dibiarkan, maka berpotensi mendorong orang ingin bekerja ke luar negeri sebagai buruh migran alias TKI, meskipun dengan bekal pengetahuan sekedarnya. Akibatnya mereka kebanyakan hanya bisa bekerja di ranah domestik, yaitu menjadi Pembantu Rumah Tangga (PRT). Adapun upaya pencegahan yang telah dilakukan antara lain : a. Bekerja sama dengan stake holder (PJTKI/APJATI Jatim, LSM, Kepolisian, Dinas Infokom Jatim, Pemerintah Kab/Kota) untuk mengoptimalkan kegiatan sosialisasi kepada seluruh masyarakat Jawa Timur, tentang prosedur resmi bekerja keluar negeri. b. Secara khusus pada tahun 2008 Disnakertransduk Prov. Jatim, APJATI Jatim dan Polda Jatim telah sepakat membuat dan menindak lanjuti MOU tentang penertiban penempatan TKI ke luar negeri, termasuk memberantas calo TKI dan traffiking. c. Melalui UPTP3TKI Disnakertransduk Prov. Jatim secara khusus, secara kontinyu setiap tahun melaksanakan sosialisasi penempatan TKI ke luar negeri ke Kabupate/Kota se Jawa Timur, bahkan sampai ke tingkat kecamatan, yang dihadiri oleh pencaker dan tokoh-tokoh masyarakat, terutama di kantorkantor TKI ilegal. d. Untuk program ke depan Disnakertransduk Jatim merencanakan kegiatan pembentukan wira usaha baru, yang merupakan alternatif perluasan kesempatan kerja bagi TKI yang telah dideportasi. Untuk penanganan TKI ilegal memang membutuhkan keseriusan dan keterpaduan antara stake holder yang berkepentingan baik di pemerintahan Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota disamping itu perlu ada kebijakan yang lebih menyeluruh dan terpadu dalam Reformasi Penempatan dan Perlindungan TKI terutama dalam prosedur penempatan secara legal. 3.3. Kasus Pelanggaran HAM yang Dialami oleh TKI 3.3.1. TKI dipancung di Arab Saudi Seorang TKI bernama Ruyati binti Satubi (54) meregang nyawa di tangan algojo pemerintah Arab Saudi. Ruyati dijatuhi hukuman pancung setelah ia divonis bersalah membunuh Khairiya Hamid binti Mijlid majikannya. Ironisnya, hukuman pancung itu dilakukan hanya empat hari setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berpidato tentang perlindungan pemerintah terhadap TKI di luar negeri, di sidang ILO (International Labour Organization) ke-100, 14 Juni lalu. Dalam pidatonya SBY bertutur tentang perlindungan TKI yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT).

Kasus pembunuhan yang akhirnya menjerat Ruyati sebagai tervonis itu dimulai pada 10 Januari 2010. Ruyati, dituduh membunuh majikannya dengan menggunakan sebilah pisau dapur. Persidangan perdana kasus pembunuhan tersebut digelar pada Mei 2010. Selanjutnya, sidang pembacaan vonis digelar pada Mei 2011. Hakim pengadilan setempat menjatuhkan hukuman qisas kepada Ruyati sesuai dengan kejahatan yang telah diperbuat. Ruyati dijatuhi vonis hukuman mati karena dia telah membunuh. Sebenarnya, Ruyati bisa mendapatkan pengampunan. Syaratnya, ia memperoleh ampunan dari keluarga yang telah ia bunuh. Sayang, hingga pembacaan vonis, pihak keluarga belum mau memafkan Ruyati. Ruyati sebelumnya pernah bekerja di Arab Saudi sebanyak dua kali. Pada September 2008 lalu, dia berangkat lagi ke Arab Saudi menggunakan jasa Perusahaan Pengerah Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) PT Dana Graha Utama Sejatinya, pada waktu itu secara syarat administrasi Ruyati sudah tidak bisa bekerja sebagai TKI. Tapi, oleh pihak PPTKIS, keterangan umur dalam paspor Ruyati dimudakan sembilan tahun. Sejatinya ia lahir pada 7 Juli 1957 kemudian dirubah menjadi 12 Juli 1968. Dalam laporannya ke Migrant Care, Een Nuraeni, anak sulung Ruyati, mengatakan jika pada awal-awal bekerja ibunya tidak pernah mengeluh. Gaji sering dikirim setelah dirapel beberapa bulan. Tapi akhirnya muncul keluhan jika pembayaran gaji kerap telat hingga tujuh bulan. Kalaupun mau bayar gaji, harus direbut dulu, kata perempuan 36 tahun itu. Selain itu, Een juga mengatakan ibunya kerap dipukuli majikannya. Sejak penghujung Desember 2009, komunikasi Ruyati dengan keluarga di Bekasi terputus. Kabar Ruyati tersangkut pidana pembunuhan dan terancam hukuman pancung sampai juga ke keluarga. Pihak keluarga diwakili Een melapor ke pemirintah. Mulai dari Kementerian Luar Negeri hingga Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Dia juga melapor kasus ini ke Migrant Care. Een mengatakan mendapatkan kabar kematian ibunya akibat divonis pancung. Kabar itu resmi, diberitahukan Kementerian Luar Negeri, tandasnya.

Een mengatakan, pihak keluarga berharap jenazah Ruyati bisa dimakamkan di kampung halaman. Untuk proses ini, Een menyerahkan ke Migrant Care. Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah mengaku cukup terpukul dengan eksekusi yang dijatuhkan kepada Ruyati. Dia menilai, kasus ini merupakan keteledoran diplomasi antara pemerintah RI dengan Arab Saudi. Keteledoran ini harus diusut tuntas, tandasnya. Kasus yang dialami Ruyati menodai pidato Presiden SBY di sidang ILO (International Labour Organization) ke-100 (14/6). Anis menuturkan, saat itu, dalam pidatonya SBY bertutur tentang perlindungan TKI yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT). Rekaman Migrant Care, isi pidato itu diantaranya, Presiden SBY menyatakan bahwa di Indonesia mekanisme perlindungan teradap TKI yang bekerja sebagai PRT sudah berjalan. Bahkan, sudah tersedia institusi lengkap dengan regulasinya. Tentu pidato ini saat itu menyejukkan dan menjanjikan, paparnya. Anis menilai pidato SBY terkesan bualan. Kasus ini semakin menunjukkan diplomasi luar negeri Indonesia tumpul, ucap Anis. Kepala Badan Nasional Penempatan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Jumhur Hidayat menilai kasus yang menimpa Ruyati ini lebih cenderung persoalan pidana. Dibanding perselisihan perburuhan, tandasnya. Meskipun ia tidak menampik jika Ruyati kerap dianiaya majikannya. Perlakuan itu, diduga menjadi motif Ruyati membunuh majikannya. Jumhur juga meminta masyarakat supaya tidak mengkaitkan kasus ini kepada pidato Presiden SBY di Sidang ILO. Sebab, dalam masalah ketenagakerjaan pemerintah benar telah melakukan perbaikan. Termasuk juga di Arab Saudi, paparnya. Perbaikan tersebut meliputan proses perekrutan, pelatihan, hingga penempatan. Dia juga mengatakan, pihak RI dan Arab Saudi akan meneken MOU perlindungan TKI tahun ini. Tapi, untuk sementara ia belum bisa menjabarkan poin-poin yang bakal diteken dalam MOU tersebut. Jumhur juga tidak mau disebut jika pihaknya tidak mengadakan perlidungan dan pendampingan hukum terhadap kasus yang menimpa Ruyati. Sebelum dieksekusi, Konsulat Jendral RI di Jeddah telah berupaya keras agar Ruyati tidak dihukum mati. Caranya, dengan meminta bantuan Lajnatul Afwu atau lembaga pemaafan untuk membebaskan Ruyati dari ancaman hukuman mati.

Sayang, Lajnatul Afwu tidak berhasil mendesak keluarga korban majikan Ruyati untuk mengeluarkan pernyataan pemberian maaf. Keluarga korban bersikeras tetap tidak mau memaafkan, papar Jumhur. Di sisi lain. permintaan pihak keluarga untuk mengupayakan pemulangan jenazah Ruyati ke tanah air, sepertinya bakal menemui dinding tebal. Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia (WNI dan BHI) Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Tatang Budie Utama Razak menjelaskan permintaan tersebut terbentur aturan hukum yang berlaku di Arab Saudi. Pada kasus yang menimpa Ruyati ini, Tatang mengatakan jika pemerintah Arab Saudi sudah menegaskan jenazah warga asing yang divonis hukuman mati harus dikubur di Arab Saudi. Kondisi memang seperti ini. Langsung dimakamkan, tutur Tatang. Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq mendesak Pemerintah menghentikan sementara pengiriman tenaga kerja sektor informal. Pemerintah harus membenahi persoalan TKI di sektor hulu maupun hilir, kata Mahfidz dalam pesan singkatnya. Mahfudz menyatakan, dua negara penyerap TKI terbesar, Malaysia dan Arab Saudi, selama ini tidak mau membuat nota kesepakatan G to G atau antar pemerintah. Kasus tenaga kerja yang dihukum pancung ini menggambarkan kompleksitas permasalahan terkait tenaga kerja Indonesia. Seharusnya jika tidak ada kesepakatan G to G, pengiriman TKI dihentikan, tegasnya. Persoalan yang menonjol di sisi hilir adalah diplomasi dan perlindungan TKI yang masih lemah. Sementara di sisi hulu, ada permasalahan pada lemahnya sistem rekrutmen dan penempatan. Lembaga pemerintah terkait selama ini tidak pernah menjadikan isu tersebut sebagai agenda utama. Kementerian Tenaga Kerja, BNP2TKI, dan Kementerian Luar Negeri, harus dievaluasi, ujar Mahfudz. 3.3.2. Kasus Sumiati Penganiyaan sadis yang dilakukan warga Arab Saudi terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Sumiati Binti Salam Mustafa tergolong pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat. Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar menegaskan hal ini usai melakukan pelepasan relawan untuk korban Merapi. "Di dunia ini, penganiayaan seperti itu tergolong pelanggaran HAM berat," tegas Patrialis. Pemerintah, menurutnya, telah bertemu pihak keduataan besar

10

Arab Saudi di Indonesia. Mereka berjanji menindaklanjuti kasus tersebut dan akan memproses majikan Sumiati sesuai hukum yang berlaku. "Kita sudah ketemu dengan Dubes Arab Saudi di sini. Dubes Arab Saudi mengutuk habis perbuatan kejam dan zalim itu. Kita bersyukur pemerintah Arab Saudi berjanji akan menindaklanjuti proses hukum," papar Patrialis. Sebagaimana diberitakan, TKI asal Dompu, Nusa Tenggara Barat itu dibawa ke RS King Fahad pada 8 November 2010 setelah mengalami penyiksaan oleh majikannya. Kondisi TKI malang tersebut sangat memprihatinkan dan sangat lemah. Seorang petugas rumah sakit itu mengungkapkan, kedua kaki Sumiati nyaris lumpuh, kulit tubuh dan kepalanya terkelupas, jari tengah retak, alis matanya rusak. Yang lebih parah, bibir bagian atasnya hilang. Diduga majikan wanita Sumiati kerap kali melakukan kekerasan terhadapnya, sebab terdapat banyak luka di sekujur tubuhnya. Antara lain luka bekas setrika panas. Sumiati diketahui tidak bisa berbahasa Arab maupun Inggris. 3.3.3. Kasus TKI yang Ditembak Polisi Malaysia Wakil Ketua DPR Pramono Anung, menilai kasus penembakan yang dilakukan polisi Malaysia terhadap tiga tenaga kerja Indonesia (TKI) layak diadukan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sebab penembakan tersebut, kata Pramono merupakan pelanggaran HAM berat. "Ya penembakan terhadap tiga orang itu pelanggaran HAM berat, tak hanya tiga orang, satu orang pun layak (dibawa ke PBB)," kata Pramono kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta (25/4/2012). Menurutnya, yang terjadi dengan ketiga TKI asal NTB adalah pelanggaran HAM berat. Oleh karena itu, ia mendukung jika ada pihak yang akan mengadukan kasus ini ke PBB. Promono juga menyayangkan buruknya kinerja pemerintah dalam melindung TKI. Padahal, menurutnya, Indonesia sudah meratifikasi semua konvensi tentang perburuhan. "Ini semakin menunjukkan bahwa penanganan pemerintah soal TKI sering tergagap-gagap, lambat, dan baru terjadi hiruk pikuk ketika sudah terjadi. Kita tahu sama-sama, indonesia sudah meratifikasi semua konvensi soal perburuhan. Tapi Malaysia belum, ini kan tidak adil. Saya termasuk yang simpatik dengan apa yang disampaikan Gubernur NTB yang protes keras terhadap pemerintah soal penanganan ini," imbuhnya.

11

Sebelumnya, berdasarkan keterangan resmi yang diterima Migrant Care dari Rumah Sakit di Malaysia, 3 TKI asal Lombok yang diduga menjadi korban perdagangan organ tubuh tewas ditembak. 3 TKI bernama Herman, Abdul Kadir dan Mad Noon itu diketahui bekerja sebagai buruh kasar di Malaysia. 3.3.4. Kasus Penyiksaan TKI A.n. Susilawati oleh Majikannya di Melaka, Malaysia Pada hari Senin, 1 Maret 2010, Satuan Tugas Pelayanan Perlindungan Warga Negra Indonesia (Satgas PPWNI) KBRI Kuala Lumpur telah menerima laporan dari masyarakat mengenai adanya seorang TKI yang bekerja sebagai pembantu mengalami penyiksaan oleh majikannya di Melaka. Berdasarkan informasi tersebut, pada tanggal 1 Maret 2010, Satgas PPWNI KBRI Kuala Lumpur telah menugaskan staf untuk bertemu dengan TKI a.n. Susilawati dan melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait di Melaka. Satgas PPWNI telah bertemu dengan Susilawati yang mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Besar Melaka. Kondisi yang bersangkutan dalam keadaan stabil dan terdapat luka lebam di bagian tangan kiri dan kanan serta kulit yang rusak akibat sabun cuci. Berdasarkan informasi dari Dokter Harest yang menangani Susilawati, kondisi fisik Susilawati dalam kondisi baik dan stabil namun yang bersangkutan mengalami depresi dan sempat mengalami pingsan dua kali dan kejang-kejang (epilepsi). Susilawati masih memerlukan rawatan lebih lanjut dan pada hari Selasa 2 Maret 2010, Dokter akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap Susilawati. Satgas juga bertemu Asp. Zahrini dan Inspektur Lee dari Polisi Melaka Tengah yang menangani kasus Susilawati dan berdasarkan informasi dari pihak Polisi, saat ini 4 (empat) anggota keluarga majikan telah ditahan oleh pihak Polisi untuk dimintai keterangan. Polisi juga telah meminta pihak Rumah Sakit untuk melakukan pemeriksaan terhadap Susilawati atas kemungkinan terdapat kejahatan seksual. Berbagai pihak terkait di Melaka memberikan perhatian yang serius terhadap kasus penyiksaan yang dialami oleh TKI Susilawati ini. Hal ini dibuktikan dengan kehadiran dari pihak Polisi, Jabatan Tenaga Kerja Malaysia di Melaka serta hadirnya 3 (tiga) staf dari Kantor Menteri Besar Melaka di Rumah Sakit Besar Melaka. Perhatian besar ini diberikan karena pihak-pihak terkait tersebut tidak menginginkan adanya kembali TKI yang disiksa oleh majikan apalagi sampai meninggal seperti kasus Nurul Aidah, korban pembunuhan majikan di Melaka pada tanggal 21 Januari 2010. Pihak Kepolisian Malaysia

12

berjanji akan mengusut sampai tuntas kasus Susilawati sehingga dapat segera dilimpahkan ke Pengadilan. Satgas PPWNI KBRI Kuala Lumpur akan terus memantau dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait di Melaka. 3.3.5. Pemerkosaan dan Pelecehan Seksual terhadap TKI Tuti Tursilawati di Arab Saudi Tuti Tursilawati adalah TKI yang menjadi pekerja rumah tangga asal Cikeusik, Sukahaji, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Berangkat ke Arab, pada 5 September 2009, bekerja di Kota Thaif, Provinsi Mekkah Barat. Selama bekerja, menurut Nisma Abdullah, yang ikut dalam jumpa pers itu, Titi kerap mendapatkan pelecehan seksual. Pada 11 Mei 2010, Titi wanita berparas cantik ini, hendak diperkosa oleh sang majikan. Titi melawan, memukul majikannya dengan tongkat untuk membela diri. Dalam pergulatan itu, sang majikan meninggal. Tuti kemudian melarikan diri. Namun, saat pelarian , Tuti malah diperkosa oleh sembilan orang Arab. Tuti ditangkap oleh pihak kepolisian di Thaif Arab Saudi. Namun, tak ada investigasi yang dilaporkan, telah terjadi perkosaan. Pengadilan Arab Saudi kemudian memutuskan Tuti bersalah, dihukum qisas (pancung), bulan Juni lalu. Selama menjalani persidangan, Tuti tak didampingi pengacara. "Seharusnya, negara wajib memberikan pengacara kepada para TKI yang bermasalah. Yang ada, hanya seorang penterjemah," kata Rieke. Rieke kemudian berharap, Komnas HAM dan Komnas Perempuan ikut menyuarakan secara lantang atas terhadap nasib Tuti Tursilawati yang tinggal menunggu vonis pansung. "Pihak keluarga Tuti, sudah dijanjikan oleh pemerintah, melalui Kepala BNP2TKI Jumhur Hidayat bisa bertemu Tuti sebelum vonis dilakukan. Harapan kami, tentunya harapan keluarga, janji itu terealisasi. Jangan hanya sekedar janji, atau berdalih, negara tak punya dana memberangkatkan keluarga TKI bermasalah ke Saudi Arabia," Rieke mengingatkan.

13

3.4. Pihak yang Bertanggung Jawab dalam Penyelesaian Pelanggaran HAM terhadap TKI

Masalah

3.4.1. Pemerintah Berikut ini adalah kewajiban dan tanggung jawab Pemerintah menurut UU No. 39 Tahun 1999, yaitu sebagai berikut: 1. Pemerintah Wajib dan bertanggung jawab menghormati, melindungi, menegakkan dan memajukan hak asasi manusia yang diatur dalam undang-undang ini, peraturan peundang-undangan lain dan hukum internasional tentang hak asasi manusia yang diterima oleh negara RI. 2. Kewajiban dan tanggung jawab pemerintah sebagaimana dimaksud meliputi langkah implementasi yang efektif dalam bidang hukum, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan keamanan negara dan bidang lain. 3. Hak dan kebebasan yang diatur dalam undang-undang ini hanya dapat dibatasi oleh dan berdasarkan undang-undang, semata-mata untuk menjamin pengakuan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia serta kebebasan dasar orang lain, kesusilaan, ketertiban umum dan kepentingan bangsa. 4. Tidak satu ketentuan pun dalam undang-undang ini boleh diartikan bahwa pemerintah, partai, golongan atau pihak manapun dibenarkan mengurangi, merusak atau menghapuskan hak asasi manusia atau kebebasan dasar yang diatur dalam undang-undang ini. 3.4.2. Masyarakat 1. Memperluas pengetahuan dan mengasah ketrampilan dengan sebaiksebaiknya untuk bisa mendorong kemajuan industri di daerahnya masing-masing. 2. Mengantisipasi adanya anggota keluarga yang menjadi TKI. 3.5. Penanggulangan Pelanggaran HAM terhadap TKI Berikut ini adalah Cara penanggulangan pelanggaran HAM terhadap TKI, yaitu sebagai berikut : 1. Membawa kasuskasus pelanggaran hak asasi manusia ke pengadilan hak asasi manusia dengan tetap menerapkan asas praduga tak bersalah. 2. Membangun budaya hak asasi manusia. 3. Berdayakan mekanisme perlindungan hak asasi manusia yang ada dan membentuk lembagalembaga khusus yang mengenai masalah masalah khusus.

14

4. Mempergiat sosialisasi hak asasi manusia kepada semua kelompok dan tingkat dalam masyarakat dengan mengikut sertakan LSM dalam kemitraan dengan pemerintah. 5. Mencabut dan merivisi semua undangundang peraturan yang bertentangan dengan hak asasi manusia. 6. Memberdayakan aparat pengawas. 7. Mengembangkan managemen perlindungan hak asasi manusia. konflik oleh lembagalembaga

8. Memprioritaskan penyusunan prosedur pengaduan dan penanganan kasuskasus pelanggaran hak asasi manusia. 9. Membentuk lembagalembaga yang membantu korban pelanggaran hak asasi manusia dalam mengurus kompensasi dan rehabilitasi. 10. Mengembangkan lembaga-lembaga dan programprogram yang
melindungi korban dan saksi pelanggaran hak asasi manusia.

11. Kerjasama dalam hal pembangunan antara Pemerintah daerah dan warga masyarakat Daerah perlu ditingkatkan. Sehingga bisa memberikan lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya. 12. Pemerintah harus bisa bekerjasama mewujudkan kesejahteraan rakyat. dengan masyarakat dalam

13. Pelanggaran hak asasi manusia terhadap TKI seharusnya ditanggapi dengan cepat dan tanggap oleh pemerintah dan disertai peran serta masyarakat.

15

BAB IV PENUTUP
4.1. Kesimpulan 1. Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan hak-hak yang dimiliki manusia sejak ia lahir yang berisi tentang kesamaan atau keselarasan tanpa membedabedakan suku, golongan, keturunanan, jabatan dan lain sebagainya antara setiap manusia yang hakikatnya adalah sama-sama makhluk ciptaan Tuhan. 2. Penyebab utama dari pelanggaran Hak Asasi Tenaga Kerja Indonesia adalah Interprestasi dan penerapan yang salah dari perintah (intruksi) serta kurangnya menghormati hak asasi orang lain, moral, etika dan tata terbit berkehidupan yang berlaku 3. Pihak yang bertanggung jawab dalam penyelesaian masalah pelanggaran HAM terhadap TKI adalah Pemerintah yang kewajiban dan tanggung jawab Pemerintah tercantum dalam UU No. 39 Tahun 1999 dan peran aktif masyarakat untuk berkerja sama dalam mencegah dan mengatasi pelanggaran Hak Asasi Manusia terhadap Tenaga Kerja Indonesia 4.2. Saran Pelanggaran HAM pada para TKI Indonesia telah terjadi berulang kali, seharusnya ini menjadi pelajaran bagi kita semua supaya lebih berhatihati.Dengan itu kita sebaagai sesama manusia harus mempunyai rasa kemanusiaan terhadap sesama manusia misalnya kita sebagai lembaga penyalur TKI tidak boleh hanya mencari keuntungan semata tanpa melihat keahlian dari para TKI dan TKW itu sendiri,lembaga penyalur TKI tidak boleh mengirim TKI yang belum teruji benar kemampuanya karena ini merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya penyiksaan serta pembunuhan karena majikan dinegara tersebut merasa emosi apabila TKI tersebut tidak becus dalam bekerja.Terutama dalam penerjemahan bahasa merupakan alat komunikasi terpenting antara majikan dan TKI tersebut.Apabila bahasa saja belum dikuasai bagaimana terjadi hubungan yang baik antara majikan dan TKI. Ini menjadi salah satu pemicu peningkatan kasus penganiayaan dan pembunuhan terhadap TKI dari Negara kita.Dan perlu ada penindakan yang tegas dari presiden dan pemerintah agar kasus ini tidak terus bertambah jumlahnya.presiden dan pemerintah harus bias menjamin kehidupan para TKI dan TKW karena ini menyangkut nyawa seseorang.selain itu pemerintah harus memfasilitasi para TKI yang akan berangkat keluar mulai dari pengawasan dan perlindungan terhadap TKI maupun fasilitas untuk berkomunikasi dengan sanak keluarga mereka diIndonesia sehingga dapat mencegah kasus penganiayaan dan pembunuhan yang terjadi di luar negeri.serta adanyan pengawasan pemerintah dalam pengrekutan TKI yang akan ke luar negeri.