Anda di halaman 1dari 49

BAB I PENDAHULUAN

Untuk meningkatkan pembangunan nasional, pemerintah dewasa ini terus menggalakkan pembangunan yang mencakup disegala bidang, terutama pembangunan dalam pembangunan perhubungan. Untuk menghubungkan daerah kota dengan daerah terpencil lainnya segala membutuhkan pembangunan prasarana dan sarana perhubungan yang meliputi pembangunan jalan dan jembatan. Tujuan pembangunan ini dilakukan untuk dapat terwujud jalinan hubungan yang erat dan komunikasi yang baik, sehingga dapat meningkatkan perekonomian yang dan taraf hidup masyarakat adil dan makmur berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Khususnya di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, pembangunan dalam bidang perhubungan semakin berkembang, ini menunjukkan bahwa angka pertambahan pembangunan semakin meningkat. Salah satunya pembangunan jembatan pante karya. Konstruksi jembatan tersebut mempunyai panjang bentangan 32 m dan lebar lantai kendaraan 12 m dengan lebar trotoar kiri dan kanan 2 x 1,7 m. Menurut peraturan Bina Marga jembatan krueng bereugang ini digolongkan kelas II dengan pembebanan 70 %.

BAB II DASAR TEORI


Pondasi adalah bagian dari suatu bangunan yang berfungsi meneruskan beban bangunan tersebut ke tanah dimana bangunan didirikan. Pondasi sumuran biasanya digunakan apabila lapisan tanah keras berada pada kedalaman 2-7 meter. Menurut buku karangan Tarzaghi dan RB.Peck,tahun 1991,dengan judul mekanika tanah dalam Praktek, Rekayasa,jilid II,dijelaskan bahwa pondasi sumuran lebih besar dari 5 (DF/B > 5). Berdasarkan penjelasan tersebut, maka untuk memindahkan beban-beban yang berkerja pada jembatan pante karya Ke atas lapisan tanah keras dipakai pondasi sumuran. Untuk mencapai sasaran dalam perencanaan pondasi sumuran, pada bab ini akan dikemukakan beberapa teori dan penggunaan rumus dari beberapa referensi yang berhubugan dengan perecanaan pondasi sumuran. 2.1 Pembebanan Beban-beban yang berkerja pada pondasi merupakan beban-beban yang diteruskan dari bangunan di atasnya. Beban-beban tersebut terdiri dari beban primer, beban sekunder, beban khusus dan kombinasi pembebanan. Beban-beban tersebut dihitung berdasarkan pedoman perencanaan pembebanan jembatan jalan raya ( PPPJR) 1987. 2.1.1 Beban Primer Beban primer merupakan beban utama dalam perencanaan kontruksi jembatan. Beban-beban primer terdiri dari beban mati, beban hidup dan beban kejut. Beban mati adalah semua beban yang berasal dari beban sendiri jembatan yang terdiri dari berat bangunan bawah. Berat bangunan atas terdiri dari beban gelagar, berat lantai kendaraan, berat lapisan aspal dan diafragma serta berat sandara, berat plat injak, berat tembok pengarah, berat aspal diatas plat injak dan beban pipa pembuang. Dan pada konstruksi bangunan bawah, beban-beban yang diperhitungkan adalah berat abutment dan berat tanah di atas abutment.

Beban hidup adalah semua beban yang berasal dari kendaraan-kendaraan yang bergera/lalu lintas atau penjalan kaki yang diangaap berkerja diatas konstruksi. Beban hidup terdiri dari beban T dan D dan beban T merupakan beban terpusat dari lantai kerja yang dihitung berdasarkan beban kendaraan truk roda ganda (dual wheel load) sebesar 10 ton. Sedangkan beban D merupakan beban yang bekerja pada jalur lalu lintas yang terdiri dari beban garis ( P ) dan beban terbagi rata ( q ) Beban terbagi rata yang berkerja pada bentang jembatan yang kurang dari 30 meter di tetapkan sebesar : q = 2,2 t/m.(2.1) Dimana : q = beban terbagi rata (t/m) Perhitungan penggunaan beban D digunakan berdasarkan PPPJR(1987), yaitu untuk jembatan dengan lebar lantai kendaraan lebih besar dari 5,5 meter, beban D sepenuhnya (100 %) dibebankan pada jalur tersebut, sedangkan lebar selebihnya dibebankan setengah (50 %) dari beban D. Dan lebar jalur sama atau lebih kecil dari 5,5 m, beban D sepenuhnya dibebankan pada seluruh lebar jembatan, beban hidup yang bekerja di atas trotoar ditetapkan sebesar 500 kg/m2. Untuk menghitung besarnya beban kejut yang timbul akibat dari pengaruh getaran dan pengaruh dinamis lainnya, digunakan persamaan : 20 ................................................................................ ...(2.2) 50 + L

k=1+

Besar Beban Kejut adalah : K = k x p (2.3) Dimana : K L P k = Koefisien Kejut = Panjang Bentang (m) = Beban Garis (ton) = Beban Kejut (ton)

2.1.2

Beban Sekunder Beban sekunder yang mempengaruhi konstruksi pondasi pada jembatan

yang diperhitungkan melewati beban akibat pengaruh tekanan angin, gaya traksi, gaya rem dan gaya gempa bumi. Beban angin diperhitungkan sebesar 150 kg/m2 yang bekerja tegak lurus dengan sumbu jembatan. Dapat dihitung dengan persamaan : W = P x A ..(2.4) W P A = Besarnya tekanan angin (kg) = Beban angin yang bekerja 150 kg/m2 = Luas bidang yang terkena angin (m2)

Dimana :

Untuk gaya rem yang bekerja pada arah memanjang jembatan setinggi 1,8 m diatas permukaan lantai kendaraan sebesar 5% dari beban D. Menurut PPPJR (1987), besarnya gaya gempa bumi dapat dihitung dengan persamaan : Gh Dimana : Gh E M = Gaya akibat gempa bumi (ton) = Koefisien gempa = Beban mati dari konstruksi (ton) = E x M.(2.5)

Besarnya koefisien gempa tergantung dari jenis tanah dan daerah gempa. 2.1.3 Kombinasi Pembebanan kombinasi pembebanan dihitung untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan timbulnya pengaruh beban yang ada konstruksi jembatan yang bekerja pada konstruksi jembatan.

Tabel 2.1.1 Kombinasi Pembebanan :


Kombinasi Pembebanan Tegangan yang digunakan dalam % terhadap tegangan izin

Kom I M + H + Ta + T Kom II M + Ta + Ah + Gg + A + Sr + Tm Kom III Kom I + Rm + Gg + A + Sr + Tm + S Kom IV M + Gh + Tag + Gg + Ahg + Tu Kom V + Pi Kom VI M + H + K + Ta + S + Tb
Sumber : PPPJR SKBI 1.3.28.1987

100 % 125 % 140 % 150 % 130 % 150 %

Dimana : A Ah Ahg Gg M PI Rm S Sr Tag Tb Tu Ta Tm = Beban Mati = Gaya akibat aliran dan hanyutan = Gaya akibat aliran dan hanyutan pada saat terjadi gempa = Gaya gesek pada tumpuan = Beban mati = Gaya-gaya pada waktu pelaksanaan = Gaya rem = Gaya sentrilpugal = Gaya akibat susut dan rangkak = Gaya tekan tanah akibat gempa = Gaya tumbuk = Gaya angkat = Gaya akibat tekanan tanah = Gaya akibat tekanan suhu

(H+K) = Beban hidup dengan beban kejut

2.2

Analisa Konstruksi Pondasi

Penganalisaan pondasi ini didasari dari bentuk dan ukuran yang telah dihitung oleh konsultan perencana. Analisa yang dilakukan meliputi analisa tekanan tanah pada dinding pondasi dan analisa penulangan, baik tulangan melingkar maupun tulangan vertikal. 2.2.1 Analisa tekanan tanah pada dinding pondasi Dalam merencanakan pondasi, sering didasarkan atas keadaan yang meyakinkan tidak terjadinya keruntuhan atau penurunan total. Dalam menghitung tekanan tanah tersebut diperlukan data berat jenis tanah ( ), nilai kohesi tanah (C) Dan sudut geser dalam ( ). Jika kita tidak memperoleh data tanah dari laboratorium, maka dapat memperolehnya dari data CPT. Unutk mengetahui berat jenis tanah yang berasal dari data CPT dapat dihitung dengan menginterpolasikan harga N dari tabel penafsiran hasil penyelidikan tanah. Menurut Rankine C. H, 1994), koefisien tekanan tanah pasif diperoleh dengan persamaan : 1 Sin .(2.6) 1 + Sin 1 Sin .(2.7) 1 + Sin (Hary.

Ka = Kp =

Untuk tekanan tanah aktif pada dasar dinding dapat digunakan persamaan : Pad = x H x Ka .(2.8)

Maka besarnya tekanan tanah aktif adalah : Pa = H2 x x Ka ....(2.9)

Pada beban terbagi rata besarnya tekanan tanah aktif dinyatakan dalam persamaan berikut ini : Pa = q x Ka x H (2.10)

Dimana : Ka Kp = Koefisien tanah aktif = Koefisien tanah pasir = Sudut geser dalam = Tekanan tanah aktif pada dinding pondasi (t/m2) = Tekanan tanah aktif total (t/m2) = Tekanan tanah aktif total (t/m) = Kedalaman pondasi (m) = Jenis tanah (t/m3) = Beban terbagi rata (t/m)

Pad Pa Pa H q

Dan untuk menghitung besarnya tekanan tanah pasir total digunakan persamaan : Pp = H2 x x Kp .(2.1.1)

Pada beban terbagi rata persamaan yang digunakan untuk tekanan tanah pasif adalah : Pp Dimana : Pp Pp = Tekanan tanah pasif total (t/m) = Tekanan tanah pasif akibat beban terbagi rata (t/m) = q x Kp x H ...(2.1.2)

2.2.2

Analisa Penulangan

Analisa penulangan pondasi sumuran sangat penting dilakukan agar kemampuan dan kekokohan penulangan yang direncanakan mampu menerima dan menyalurkan beban-beban yang bekerja diatasnya dengan baik. Menurut Gideon Kusumo (1994), penulangan sumuran dapat dilakukan dengan persamaanpersamaan berikut ini : Mu (2.13) Pu 2 (Jika 2, Diambil 2) (2.14)

E 01 =

E02 = 1/30 x ht

E 0 = e01 + e02 ..(2.15) lk E1 = C1 x C 2 x ht .(2.16) 100 x ht E 2 = 0,15 x ht ...(2.17) C2 = eo ....(2.18) ht

etot = e0 + e1 + e2 ...(2,19) e Pu x tot ...(2.20) xAg x 0,85 fc' ht Ast = pq x Ag ..(2.21) Dimana : Pu Mu Fc e = Beban Rencana (ton) = Moment Rencana (t.m) = Mutu Beton (mpa) = Eksentrisitas (m) = Faktor Reduksi Tulangan = Luas Tulangan Vertikal (cm2) = Diameter Pondasi = Luas Pondasi Sumuran (cm2)

Ast Ht Ag

Menurut Cha-Kia Wang (1994), unutk menjamin kekuatan tulangan melingkar akan melebihi kekuatan selimut beton dan dengan mengambil kekuatan selimut beton 90 % dari kekuatan inti beton atau 0,75 fc, kama digunakan persamaan : Ps Ps Asp Ac Ag Ag fc ' 1 x = 0,45 x ...(2.23) Ac fy = Asp ...(2.24) Ac

= As x x (Dc db) ...(2.25) = x x Dc2 x S (2.26) = x x D2 (2.27)

Dimana : Ps Asp Ac Ag Fc Fy db Dc As S = Perbandingan antara Volume dari penulangan melingkar dengan volume dari inti untuk panjang S. = Volume dari tulangan melingkar (cm3). = Volume dari inti untuk panjang S (cm2) = Luas pondasi sumuran (cm2) = Mutu beton (Mpa) = Mutu baja tulangan (Mpa) = Diameter tulangan melingkar (cm) = Diameter Inti (cm) = Luas tulangan inti (cm2) = Jarak antara tulangan melingkar (cm) Menuru Margaret dan Gunawan (1990), untuk menentukan tebal dinding sumuran dapat digunakan persamaan : Pr bs 100 x t + (n 1) x A .....(2.28)

bs =

Dimana :

bs
bs
t n A 2.3

= Tegangan beton (Kg/cm2) = Tegangan izin beton (kg/cm2) = Tebal dinding (cm) = Perbandingan elastisitas antara baja dengan beton = Luas penampang (cm2)

Analisa daya dukung pondasi Daya dukung tanah adalah tekanan maksimum yang dapat dipikul oleh

tanah tanpa terjadinya kelongsoran atau penurunan. Kemampuan daya dukung tanah dihitung berdasarkan daya dukung izin dan daya dukung terhadap kekuatan bahan. 2.3.1 Daya Dukung Tanah Berdasarkan Data Menurut Manyerhof (1986), kemampuan daya dukung izin suatu tanah dihitung dengan mengunakan persamaan : Tabel 2.3 Faktor Konfersi F 1 2 3 4 Satuan SI (m) 0,50 0,08 0,30 0,20 Fps (ft) 2,5 4,0 1,0 4,0

Sumber : Bowles, 1991 sifat-sifat fisis dan geoteknik tanah

2.3.2

Daya Dukung Tanah Terhadap Kekuatan Bahan Daya dukung tanah yang dihitung berdasarkan kekuatan dari bahan yang

digunakan sebagai pembentuk pondasi. Menurut Sardjono (1990),besarnya daya dukung tersebut dihitung dengan menggunakan persamaan: = b x A ......(2.30)

Dimana: P b A =Daya dukung tanah (kg) =Tegangan izin bahan (kg/m 2 ) =Luas penampang pondasi (m)

Penampang pondasi dihitung dengan persamaan : A Fb Dinama : Fb N Fe d1 d2 2.4 = Luas penampang dinding pondasi (m2) = Koefisien perbandingan elastisitas = Luas penampang tulangan (m2) = Diameter luas pondasi (m) = Diameter dalam pondasi (m) = Fb x n Fe Dan =
1 4

x x (d12 d22)

Analisa Stabilitas Konstruksi Pondasi Stabilitas kontruksi adalah kemampuan konstruksi dalam menahan beban-

beban yanga bekerja diatasnya tanpa mengalami pergeseran guling dan penurunan. Setiap perencanaan pengamanan. 2.4.1 Stabilitas Terhadap Guling Menurut Margaret dan Gunawan (1990), stabilitas konstruksi terhadap guling dapat dihitung dengan persamaan : konstruksi harus memperhitungkan stabilitas kontruksi terhadap beban yang bekerja agar kontruksi yang direncanakan aman pada tahap

Fk

Mr Fk > 2 ..(2.33) Mo

Mr Mo

= Gaya arah vertikal x lengan.(2.34) =- Gaya arah horizontal x lengan ...(2.35) Mr Mo = Momen penahan (t.m) = Momen guling (t.m)

Dimana :

2.4.2

Stabilitas terhadap geser Menurut Margaret dan Gunawan (1990), stabilitas konstruksi terhadap geser

dapat dihitung dengan persamaan : Er Fk >1,5 ....(2.36) PH

Fk =

Fr = R tg + (c x B) + Pp ...(2.37) Dimana : Pr PH R B = Tegangan geser (t) = Tekanan memanjang (t.m) = Besargaya arah reaksi vertikal (t) = Lebar Abutment = Sudut geser = Kohesif tanah = Tekanan tanah pasif

c Pp 2.4.3

Tegangan kontak Munurut Margaret dan Gunawan (1990), besarnya tegangan kontak dapat

dihitung dengan persamaan : q Mak P 6 x ex 6 x ex = 1 ..(2.3.8) q Min As B B

2.4.4

Penurunan Pondasi

Berdasarkan Ir. Saedjono HS, 1991, penurunan permukaan dapat dihitung dengan persamaan : H PI Log .(2.39) C Po 1,5 P ..(2.40) Po

S = C=

Dimana : S P1 Po C P = Penurunan (cm) = Tekanan tanah setelah ada bangunan (kg/cm2) = Tekanan tanah sebelum ada bangunan (kg/cm2) = Indeks Of Compressibility = Nilai konus (kg/cm2)

Besarnya tekanan tanah setelah bangunan selesai dapat dihitung dengan persamaan:

PI P (2.42) q

= Po + P (2.41) = (B x L ) ( B + 12 htg 30 o ) ( L +
1

htg 30 o )

w (2.43) BxL

Po

I x hI + 2 (h2 1 2 h) ..(2.44)

BAB III

PERHITUNGAN 3.1. Beban Primer Beban primer merupakan beban utama dalam perencanaan konstuksi jembatan. Beban primer terdiri beban mati, beban hidup, beban kejut dan beban akibat tekanan tanah. 3.1.1 Beban Mati Untuk mempermudah perhitungan, maka beban mati pada konstuksi dibagi beberapa bagian : A. Beban Bangunan Atas Beban bangunan atas terdiri yang dihitung terdiri dari : 1. Berat Plat Lantai Kendaraan Dimensi dan pembagian pias pada plat lantai kendaraan dapat dilihat gambar dibawah ini. Panjang plat lantai kendaraan 13,8 m dan lebar 4 m, tebal lantai 0.20 m, Bj beton 2.4 t/m3, Bj aspal 2.2 t/m3.

Maka besarnya beban plat lantai adalah : Bpl = P x L x Tebal lantai x Bj beton = 13.8 m x 4 m x 0.20 m x 2,4 t/m3 = 26.496 t Untuk beban plat lantai yang bekerja pada satu abutmen adalah :

Bpl = x 24.496 t = 25.79 t 2. Berat ASPAL Pengaspalan diatas pias lantai setebal 0.05 m dengan kemiringan 2% dengan lebar jalan 4 m dan berat volume aspal 2,2 t/m.

Maka beban Aspal untuk satu bentang adalah : B As = P x L x T x BJ. Aspal = 13.8 x 4 x 0.05 x 2,2 t/m3 = 6.072 t B Aspal = x B As = x 6.072 t = 3.036 t

3. Beban Tiang Sandaran Sandaran terbuat dari beton bertulang dengan berat jenis 2.4 t/m3. Terdapat di dua sisi jembatan yaitu :

Beban Sandaran Bts = P x L x T x Bj. Beton = 0,16 x 0,1 x 1.10 x 2,4 t/m3 = 0,0422 t Maka berat tiang sandaran adalah: Bts = Bts x 2 x 8 (jumlah tiang sandaran) = 0.0422 t x 2 x 6 = 0.704 t

4. Berat Pipa Sandaran 5. Diameter pipa Tebal pipa Bentangan pipa Jumlah pipa = 75 mm = 6 mm = 13.8 m = 4 buah

Maka berat pipa sandaran adalah : Bps = ( 1/4 x x d2 ) x bentangan pipa x jumlah pipa = ( 1/4 x 3,14 x 0,0752) x 13.8 x 8 = 0.487 t Maka beban pipa dan tiang sandaran adalah : Bpst = Bts + Bps = 0.704 t + 0.487 t = 1.191 t Untuk beban pipa dan tiang sandaran yang bekerja pada satu abotment adalah Bpst = x Bpst = x 1.191 t = 0.595 t

6. Beban Plat Injak Plat injak terbuat dari beton bertulang Bj beton 2.4 t/m3. Panjang 5.32, lebar 1.50 m, tinggi 0.2 m. perhitungan dibagi menjadi beberapa pias :

Maka beban plat injak : P1 = P x L x T x Bj Beton = 1.75 m x 4 m x 0.2 m x 2.4 t/m3 = 3.36 t P2 = P x L x T x Bj Beton = 0.25 m x 4 m x 0.05 m x 2.4 t/m3 = 0.12 t P3 = P x alas x T x Bj Beton = 4 m x (0.05) m x 0.05 m x 2.4 t/m3 = 0.012 t Maka beban total keseluruhan plat injak adalah : Ptotal = P1 + P2 + P3 = 3.36 + 0.12 + 0.012 = 3.492 t

7. Beban Diafragma Diafragma terbuat dari beton bertulang dengan Bj beton 2.4 t/m3 adalah : Bdf = P x L x T x Bj beton x 5 buah = 1.6 m x 0.3 m x 0.5 x 2.4 t/m3 x 5 buah = 2.88 t Beban untuk 1 abutment : Bdf = x 2.88 t = 1.44 t

8. Berat Abutment Dimensi dan pembagian pias pada abutment dapat dilihat gambar dibawah ini. :
25 110 50 25 25

110

85

50 30
4

50
6

170

240

40 65

87.5

75 250

87.5

PIAS ABUTMENT
NON SKALA

No Pias 1 5.32 x 2 5.32 x 3 5.32 x 4 5.32 x 5 5.32 x 6 5.32 x 7 5.32 x 8 5.32 x 9 5.32 x Jumlah abutment P tot
Rumus :

Dimensi (m) 0.25 x 0.25 0.50 x 0.85 1.60 x 0.50 0.25 x 0.30 0.75 x 2.40 0.60 x 0.30 0.87 x 0.40 0.87 x 0.40 2.50 x 0.65 = 1

/ 2 / 2 / 2 / 2 buah

Volume Berat Jenis (m3) (t/m3) 0.333 2.4 2.261 2.4 4.256 2.4 0.200 2.4 9.576 2.4 0.479 2.4 0.926 2.4 0.926 2.4 8.645 2.4

Beban (t) 0.80 5.426 10.214 0.479 22.982 1.149 2.222 2.222 20.748 66.240

Pias = P x L x T x Bj Beton

.......... ( 1 )

Pias = P x a x T x Bj Beton... ( 2 ) Ket : - pada pias 1,2,3,5 dan 9 munggunakan rumus no pada persaman 1 - pada pias 3,6,7 dan 8 munggunaka rumus no pada persamaan 2

9. Beban Wing Wall

Berat Elestomerik Dimensi dan pembagian pias elestomerik dapat dihitung :


No Dimensi Pias (m) 1 0.40 x 0.40 x 0.05 Jumlah elestomerik = 3 buah P tot Beban pada 1 abutment (W) = ( 1/2 Ptot ) Volume Berat Jenis Beban (m3) (t/m3) (t) 0.008 0.96 0.008 0.024 0.012

Rumus : W = P x L x T x Bj karet Ng x 3 buah

Berdasarkan perhitungan diatas, maka diperoleh berat jembatan mati adalah : No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Muatan Muatan Plat lantai Aspal Tiang sandaran Pipa sandaran Plat injak Diafragma Abutment elestomerik Total Beban ( Ton ) 25.79 3.036 0.704 0.595 3.492 1.44 66.240 0.012 101.309

3.1.2. Beban Hidup

Menurut PPPJJR-1987, beban hidup yang bekerja pada jembatan kelas A diperhitungkan sebesar 70 % dari total beban hidup pada jembatan, dibagi dalam beberapa bagian sebagai berikut : 1. Beban T (beban terpusat lantai kendaraan) diambil 12 ton. 2. Beban D (beban jalur lalu lintas) sepenuhnya (100%) harus dibebankan pada seluruh lebar jembatan. 1. Beban Garis ( P ) Menurut PPPJJR-1987, besar beban garis (P) diambil 12 ton diperhitungkan sebesar 70 %. Maka beban P dapat dihitung P = 12 t x 70 % = 8,4 t P = = P x L x100 % 2,75 8,4t x 4mx100 % 2,75

= 12.218 t

2. Beban Terbagi Rata (q) Menurut PPPJJR-1987, beban q untuk L 30 m adalah 2,2 t/m dan besar beban q yang bekerja pada jembatan adalah : p x L x 100% 2,75 2,2t x 4mx100 % 2,75

= =

= 3.2 t/m Maka besarnya beban untuk jalur lintas D adalah :

D = q x panjang bentang = 3.2 t x 13.8 m = 44.16 t Beban D yang dilimpahkan pada satu abutment adalah : Dabutment =D = x 44.16 t = 22.08 t

3. Beban Hidup pada Sandaran Menurut PPPJJR-1987, beban yang bekerja pada sandaran sebesar 100 kg/m2. Maka beban yang bekerja pada trotoar dan sandaran adalah : Bh sandaran = 0.1 t/m x panjang x 2 sisi = 0,1 t/m x 13.8 m x 2 = 2,76 t

Maka besarnya beban hidup yang bekerja pada jembatan adalah : No Muatan 1 Beban Garis 2 Beban terbagi Rata 3 Beban Pada Sandaran Total Beban (Ton) 12.21 22.08 2.79 37.08

3.1.3. Beban Kejut ( K )

Menurut PPPJJR-1987, beban kejut (K) diperoleh dari hasil perkalian beban garis (P) dengan koefisien kejut. K = 1+ = 1+ 20 (50 + L) 20 (50 + 13.8m)

= 1,313 t Maka besarnya beban kejut adalah : K = Koefisien kejut x P = 1,313 x 12.21 t = 16.031 t 3.1.4. Perhitungan Tekanan Tanah Untuk mencari berat jenis tanah (), sudut geser (), pada lapisan tanah yang ditinjau dihitung berdasarkan harga konus (qc), pada kedalaman 3,80 m diperoleh harga konus (qc) = 210 kg/m2 dan jenis tanah pasir padat, maka harga N dapat dihitung berdasarkan persamaan berikut : qc = 210 kg/cm N = X 210 kg/cm = 52,5 kg/cm Berat isi tanah asli : 50 52,5 51

10

23

52,5 50 10 = 51 10 23 10 2,5 41 32,5 =

10 13
442,5 41

= 41 410 =

= 10,792 kg/cm2 = 1,07 t/m Jadi, berat jenis tanah () adalah 1,07 t/m3 (interpolasi) Berdasarkan nilai N = 51 kg/cm2 ,maka diperoleh Sudut geser () sebesar 35o. Untuk tanah timbunan jenis tanah adalah pasir padat berat jenis (1),karena diperoleh nilai qc sebesar 150 kg/cm2 qc = 150 kg/cm N = X 150 kg/cm = 37,5 kg/cm Berat isi tanah timbunan : 31 37,5 50

16

20

37,5 31 16 = 50 31 20 16 6,5 19 26 =

16 4
330 19

= 19 304 =

= 17,368 kg/cm2 = 1,74 t/m Jadi, berat jenis tanah (1) adalah 1,7t/m3 (interpolasi)

Nilai untuk sudut geser () : 31 37,5 50

30 37,5 31 30 = 50 31 40 30 6,5 19 =

40

30 10

6,5 = 19 570 = 17,368 kg/cm2 = 635 19

= 33,42 = 33 Jadi, sudut geser () adalah 33 o (interpolasi) Dari perhitungan diatas diperoleh berat jenis tanah (1) berat jenis tanah (2) sudut geser () sudut geser () lebar abutment (l) tinggi abutment (h1) tinggi sumuran (h2) sumuran = 1,74 t/m3 (interpolasi) = 1,07 t/m3 (interpolasi) = 35 o berdasarkan nilai N = 33 o (interpolasi) = 6,72 m = 5,05 m = 1,5 m = 1,2 m x 1,2 m

a. koefisien tekanan tanah timbunan. Ka1 Kp1 = =


1 sin 1 sin 33 = = 0,295 1+ sin 1 + sin 33 1 + sin 1 + sin 33 = = 3,392 1 sin 1 sin 33

b. koefisien tekanan tanah asli. Ka2 Kp2 = =


1 sin 1 sin 35 = = 0,271 1+ sin 1 + sin 35 1 + sin 1 + sin 35 = = 3,690 1 sin 1 sin 35

Tekanan tanah pada abutment : Pa1 = Ka1 x q x h1 x L = 0,295 x 1 t/m3 x 5,05 m x 6,72 m = 10,011 t Pa2 = x Ka1 x 1 x (h12) x L = x 0,295 x 1,7 t/m3 x (5,05 m)2 x 6,72 m = 42,973 t Pa total = Pa1 + Pa2 = 10,011 t + 42,973 t = 52,984 t

Besarnya momen akibat tekanan tanah adalah : Mpa = Pa1 x Ya1 + Pa2 x Ya2 = 10,011 t x 2,525 + 42,973 t x 1,667 m = 25,278 tm + 71,636 tm = 96,914 tm Tekanan tanah pada sumuran Pa1 = x Ka1 x 1 x (h12) x L = x 0,295 x 1,7 t/m3 x (5,05 m)2 x 6,72 m

= 42,973 t Pa2 = Ka1 x 1 x h1 x h2 x S x 2 = 0,295 x 1,7 t/m3 x 5,05 m x 1,2 m x 2 = 6,078 t

Pa3

= x (Ka2 x 2 x h2 + w x h2) x S x 2 = x (0,271 x 1,07 t/m3 x 1,5 m + 1 t/m3 x 1,5 m) x 1,2 m x 2 = 2,322 t

Pa4

= (Ka1 x q x h1) x L + (Ka2 x q x h2)x S x 2 = (0,295 x 1t/m3 x 5,05 m) x 6,72 m + (0,271 x 1t/m3 x 1,5 m) x 1,2 m x 2 = 10,987 t

P total

= Pa1 + Pa2 + Pa3 + Pa4 = 42,973 t + 6,078 t + 2,922 t + 10,987 t = 62,960 t

Tekanan tanah pasif Pp1 = x (Kp x 2 x w x h2) x h2 x S x 2 = x (3,690 x 2,3 t/m3 x 1 t/m3 x 1,5 m) x 1,5 m x 1,2 m x 2 = 22,915 t Besarnya momen akibat tekanan tanah adalah : Mpa = Pa1 x Ya1 + Pa2 x Ya2 + Pa3 x Ya3 + Pa3 x Ya3 = 42,973 t x 3,183 m + 6,078 t x 0,750 m + 2,922 t x 0,500 m + 10,987 t x 3,275 m = 136,783 tm + 4,559 tm + 1,461 tm + 35,982 tm = 178,785 tm

4.1.5. Tekanan Tanah Akibat Gempa

Dari perhitungan sebelumnya diperoleh tekanan tanah aktif pada abutment sebesar 52,984 t, maka tekanan akibat gempa adalah : Tag = Koefisien gempa x Pa total = 0,14 x 52,984 t = 7,418 t

4.2.

Beban Sekunder Beban sekunder yang diperhitungkan terdiri dari beban angin, beban traksi

dan rem, gaya akibat gempa bumi, gaya akibat tekanan tanah dan gaya gesek akibat perletakan. 4.2.1. Beban Angin Menurut PPPJJR-1987, besarnya beban angin diperhitungkan 150 kg/m2 dan bekerja tegak lurus sumbu memanjang jembatan. WLantai WKendaraan WSandaran = 1,8 m x 12 m x 0,150 t/m2 x 100 % = 2 m x 12 m x 0,150 t/m2 x 100 % = 1 m x 12 m x 0,150 t/m2 x 50 % Wtotal = 3,240 t = 3,600 t = 0,900 t = 7,740 t

Besarnya beban angin yang bekerja pada 1 abutment : W = x Wtotal = x 7,740 t = 3,874 t 4.2.2. Beban Traksi dan Rem Menurut PPPJJR-1987, besarnya beban rem diperhitungkan 5% dari beban D tanpa menghitung koefisien kejut. Gaya rem dianggap bekerja horizontal arah sumbu jembatan dengan titik tangkap 1,8 m dari atas permukaan lantai.

Rm = 5 % x D = 5 % x 63,273 t = 3,164 t Besarnya beban rem untuk 1 abutment adalah : Rabutment = x Rm = x 3,164 t = 1,582 t 4.2.3. Beban Gempa Berdasarkan daerah gempa di Indonesia, konstruksi ini terletak pada lokasi gempa daerah II, sedngkan keadaan tanah atau pondasi untuk jembatan yang didirikan diatas pondasi, selain pondasi langsung. Gh =ExM = 0,14 x 268,938 t = 37,651 t 4.2.4. Beban Gesek Gaya gesek terjadi pada bangunan atas jembatan koefisien beban gesek antara karet dengan beton, menurut PPPJJR-1987 berkisar antara 0,15 0,18. pada perencanaan koefisien beban gesek diambil sebesar 0,16. Gg = Koefisien gesek x P bangunan atas = 0,16 x 45,947 t = 7,352 t

4.2.5. Perhitungan Kombinasi Pembebanan Kombinasi pembebanan pada jembatan dihitung dengan berpedoman pada PPPJJR-1987, dengan beban yang bekerja sebagai berikut :

Beban mati

(M)

= 268,938 t = 42,837 t = 20,200 t = 52,984 t = 1,582 t

Beban Hidup (H) Beban Kejut (K)

Beban Tekanan Tanah (Ta) Beban Angin (A) Beban Rem (Rm)

= 3,422 t = 37,651 t

Beban Gempa (Gh)

Beban Tekanan Tanah Gempa (Tag) = 7,418 t Beban Gesek (Gg) = 7,352 t

Kombinasi I

= M + H +K + Ta + Tu x 100 % = 268,938 t + 42,937 t + 20,200 t + 52,984 t + 0 x 100 % = 385,059 t

Kombinasi II = M + Ta + Ah + Gg + A + SR + Tm x 125 % = 268,938 t + 52,984 t + 0 + 7,352 t + 1,582 t + 0 + 0 x 125 % = 413,570 t Kombinasi III = Kombinasi I + Rm + Gg + A + SR + Tm + S x 140 % = 385,059 t + 3,422 + 7,352 t + 1,582 + 0 + 0 + 0 x 140 % = 556,381 ton Kombinasi IV = M + Gh + Tag + Gg + AHg + Tu x 150 % = 268,938 t + 37,651 t + 7,418 t + 7,352 t + 0 + 0 x 150 % = 482,039 t Kombinasi V = M + PI x 130 % = 268,938 + 0 x 130 % = 349,619 t Kombinasi VI = M + H + K + Ta + S + Tb

= 268,938 t + 42,837 t + 20,200 t + 52,984 t + 0 + 0 x 150 % = 577,439 t Dari keenam perhitungan kombinasi diatas diambil yang terbesar untuk beban pada perencanaan pondasi, yaitu kombinasi VI sebesar 557,439 t 4.3. Perhitungan Momen Momen yang bekerja pada jembatan terjadi dalam 2 arah, yaitu momen dalam arah melintang jembatan (tegak lurus sumbu Y) dan momen dalam arah memanjang (tegak lurus sumbu X).

4.3.1. Momen Melintang (My) 1. Momen Akibat Gaya Angin (MA) Bagian jembatan yang ditinjau untuk menentukan momen akibat gaya angin adalah lantai gelagar, kendaraan dan sandaran. Panjang lengan momen dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

2.000

6.100 5.550 4.575

No Pias 1 2 3

Beban Lantai dan Gelagar Aspal Sandaran Total

Muatan (t) 32,736 3,500 0,466

Lengan Momen ( m) 4,575 5,550 6,100

Momen ( tm ) 149,767 19,425 2,843 172,035

Dari perhitungan diatas diperoleh momen akibat angin sebesar 172,035 tm 2.023
1.799

2.

Momen Akibat Gaya 1.799 Gempa (Mgh)


1.350 1.250 Bagian jembatan yang ditinjau untuk menentukan momen akibat gaya
1

gempa adalah abutment, gelagar, aspal dan sandaran.


3 4 6

0.767

Untuk menenetukan lengan pada abutment, maka harus ditentukan abutment lengan lengan tiap pias abutment. Panjang lengan pias pada dapat dilihat pada 3.750
5

4.373 4.523

3.334

3.334

gambar dibawah ini.


2.029
7 8

0.750 0.325 0.567 1.250 1.933

0.750

No Pias 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Beban (t) 5,292 1,890 12,600 1,050 38,304 1,890 2,142 2,142 27,300 92,610

X ( m) 1,800 2,025 1,350 0,767 1,250 1,800 0,567 1,933 1,250

Y ( m) 4,525 4,375 3,75 3,333 2,075 3,333 0,75 0,75 0,325

Mx ( tm ) 9,526 3,827 17,010 0,805 47,880 3,402 1,215 4,140 34,125 121,930

My ( tm ) 23,946 8,269 47,250 3,500 79,481 6,299 1,607 1,607 8,873 180,830

Xo

121,930t / m = 1,317 m 92,610m = 180,830t / m 5.550 = 1,953 m 92,610 m 4.575


1,953 5.075

Yo Me 1

= 92,610 t x 0,068 m = 6,298 tm

Dari perhitungan diatas didapat lengan momen abutment 1,953m. sedangkan lengan lainnya yang ditinjau dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

No Pias 1 2 3 4

Beban Abutment Gelagar Aspal Sandaran

Muatan (t) 92,610 32,736 3,500 0,466 Total

Lengan Momen ( m) 1,953 4,575 5,075 5,550

Koefisien

Gempa 0,14 0,14 0,14 0,14

Momen ( tm ) 25,321 20,967 2,487 0,362 49,138

3.

Momen Pada Sandaran (Ms) Sandaran diperhitungkan dapat menahan menahan beban horizontal sebesar

100 kg, yang bekerja pada ketinggian 100 cm diatas lantai kendaraan. Psandaran = (0,1 t x 12,8 m x 2) = 1,280 tm Maka besarnya beban melintang adalah : My = MA + Mgh + Ms = 172,035 tm + 49,138 tm + 1,280 tm = 222,471tm

4.3.2. Momen Memanjang (Mx) 1. Momen Akibat Gaya Gempa Dari perhitungan momen melintang diperoleh momen akibat gempa sebesar 49,138 tm. 2. Gaya Rem dan Traksi Beban akibat gaya rem dan traksi sebesar 1,582 t yang bekerja horizontal pada ketinggian 1,8 m diatas permukaan lantai kendaraan. Mrm = 1,582 t x (1,800 m + 5,075 m) = 10,876 tm 3. Momen Akibat Tanah (MTa) Dari perhitungan tekanan tanah diperoleh momen akibat tekanan pada abutment sebesar 57,520 t. Untuk lengan momen dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
0.400 0.300
8 1 2 3

0.683

4.7884.805 3.589
4 10

3.881 3.173

3.256

3.173 1.979 0.852 0.284 2.073 2.215

11

1.979 0.852

No Pias 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Beban (t) 0,857 3,427 0,714 19,906 1,457 0,057 0,457 7,997 1,285 19,906 1,457 57,520

X ( m) 0,400 0,300 0,683 0,425 0,283 2,167 2,350 2,300 1,952 2,075 2,217

Y ( m) 3,833 3,200 3,117 1,925 0,800 4,733 4,750 3,825 3,115 1,925 0,800

Mx ( tm ) 0,343 1,028 0,488 8,460 0,412 0,124 1,074 18,393 2,508 41,305 3,230 77,365

My ( tm ) 3,285 10,966 2,226 38,319 1,166 0,270 2,171 30,589 4,003 38,319 1,166 132,478

Xo Yo Me 2 MTa

= =

77,365t / m = 1,345 m 57,520m 132,475t / m = 2,316 m 57,520 m

= 57,520 t x 0,096 m = 5,521 tm = 57,520 t x 2,316 m = 133,216 tm

Maka besarnya momen memanjang adalah : Mx = MGh + Mrm + MTa Me1 - Me2 = 49,138 tm + 10,876 tm + 133,216 tm - 6,298 tm - 5,521 tm = 181,411 tm 4.4. Perhitungan Daya Dukung Sisi dalam sumuran Sisi luar sumuran = 1,20 m = 1,00 m

Diketahui data :

Tinggi sumuran (H) Tebal dinding sumuran beton betulang beton isian cyclop

= 1,50 m = 0,10 m = 2,50 t/m 3 = 2,20 t/m 3

Dengan menggunakan kemampuan daya dukung tanah akibat pembebanan dihitung sebagai berikut :
2

qa

qc B + F3 50 B

Konstanta yang dipakai (F3) adalah dalam satuan SI. Qc F3 B = 210 kg/m2 = 30 cm = 120 cm
2

qa

210 120 + 30 50 120

= 6,732 kg/cm2 = 60,732 kg/m2 Dalam perencanaan digunakan 2 buah sumuran dengan sisi 1,2 m x 1,2 m, luas sumuran adalah : Ap = Sisi x Sisi x 2 Sumuran = 1,2 m x 1,2 m x 2 = 2,880 m2 Maka daya dukung 2 buah sumuran adalah : Pa = qa x Ap = 68,750 kg/m2 x 2,880 m2 = 198,000 t

= 0,198 t Daya dukung tanah yang dihitung dengan menggunakan metoda Terzhagi, c, deck. qu = 1,3 x C x Nc + Po x Nq + 0,3 x x B x N dan Po = x Df = 1,7 t/m3 x 1,5 m = 2,550 t/m2 Dari hasil di atas didapat harga = 35 o, Nc = 57,8, Nq = 41,4, N = 42,4 qu = (1,3 x C x Nc) +( Po x Nq) + (0,3 x x B x N) = (1,3 x 9,4 x 57,8) + (2,550t/m2 x 41,4) + (0,3x1,7t/m3 x 1,2mx 42,4) = 706,316 + 105,570 t/m2 + 25,949 t/m2 = 837,835 t/m2 qa = qa =
qu Fk

837,835t / m 2 3

qa = 279,278 t/m2 Besarnya daya dukung tanah pada dinding sumuran adalah : Pa = qa x Ap = 279,278 t/m2 x 2,880 m2 = 804,322 t

Berat Dinding sumuran Diketahui : berat jenis beton (b) berat jenis beton cyclop (c) tinggi sumuran (h) luar sumuran = 2,5 t/m3 = 2,2 t/m3 = 1,5 m = 1,2 m x 1,2 m

dalam sumuran

=1mx1m

Wdsumuran

= 2 x ((As1 ) (As2)) x h x b = 2 x ((1,2 m x 1,2 m ) (1 m x 1 m)) x 1,5 m x 2,5 t/m3 = 2 x ((1,440 m2 ) (1m2)) x 1,5 m x 2,5 t/m3 = 2 x 0,440 m2 x 1,5 m x 2,5 t/m3 = 0,825 t

Wisumuran

= 2 x As2 x h x c = 2 x (1 m x 1 m) x 1,5 m x 2,2 t/m3 = 6,600 t

Beban yang diterima sebesar : Beban Mati (M) Beban Hidup (H) Beban Kejut (K) Berat Dinding Sumuran (Wd) Berat Isi Sumuran (Wi) = 268,938 t = 42,837 t = 20,200 t = = 0,825 t 6,600 t

Total = 339,400 t Berdasakan perhitungan diatas tanah pondasi mampu mendukung berat daripada jembatan. Daya dukung tanah lebih besar dari beban yang bekerja pada konstruksi. Pa > Pk 804,322 t > 339,400 t( Aman )

4.4.1. Daya Dukung Berdasarkan kekuatan Bahan Daya dukung pada sumuran berdasarkan kekuatan bahan dihitung dengan menggunakan persamaan, yaitu :

P Ag Ast

= 0,8 (0,85 . fc (Ag Ast) + Ast . fy) = 120 cm x 120 cm = 14400 cm2 = 1610 mm = 12,56 cm2 Ast Ag 125,66cm 2 14400 cm 2

= =

= 0,01 =1%

memenuhi syarat (1 % < g < 8 %)

P = 0,8 (0,85 . fc (Ag Ast) + Ast . fy) = 0,8.0,65(0,85.225 kg/cm2(14400 cm212,566 cm2)+ 12,566 cm2.2400 kg/cm2) = 2781755,153 kg = 2781,755 t P > Pk 2781,755 t > 339,400 t ( Aman ) 4.4.2. Perhitungan Stabilitas Terhadap Konstruksi
Xo Abutment Xo Tanah Xo Pondasi

Stabilitas konstruksi dihitung berdasarkan kestabilan guling dan geser. Untuk lengan momen yang ditinjau dapat dilihat gambar dibawah ini.

No Pias 1 2 3 4

Beban Abutment Tanah pada Abutment Pondasi Beban Vertikal Total

Muatan (t) 92,610 57,520 6,600 331,975 488,705

Lengan Momen ( m) 1,317 1,345 1,250 1,250

Momen ( tm ) 121,967 77,364 8,250 414,969 500,583

Momen penahan P tot Vertikal (R)

= 500,583 tm = 488,705 t

4.4.3. Stabilitas Abutment Terhadap guling Stabilitas guling dapat dihitung dengan persamaan. Fkguling =

Mpenahan Mguling

> 1,5

Diketahui gaya-gaya untuk momen guling diambil berdasarkan kombinasi pembebanan daerah memanjang jembatan, yaitu: Momen guling = MGh + MRm + MTa = 37,651 t + 3,422 t + 52,984 t = 94,054 t Momen penahan = 500,583 tm Maka :

Fkguling

500,583t / m > 1,5 94,054t / m

= 5,322 > 1,5 ...( Aman ) 4.4.4. Stabilitas Terhadap Geser Stabilitas terhadap geser dapat dihitung dengan persamaan : Fk geser =
Fr > 1,5 Ph

Diketahui: R tanah C Kp h abutment Tekanan Tanah (Ta) Beban Rem (Rm) Beban Gempa (Gh) = 488,705 t = 2,3 t/m3 = 9,4 = 35o = 0,271 = 5,05 m = 52,984 t = 3,422 t = 37,651 t

Fk geser

253,131 > 1,5 135,124

= 1,873 > 1,5 . ( Aman )

Pp = 2 c

kp + x x h2 x Kp

= 2 x 9,4 0,2710 + x 2,3 t/m3 x (5,05 m) 2 x 0,271 = 17,734 t Fr = R tan + 0,67 x C x B + Pp

= 488,705 t x tan 35o + 0,67 x 9,4 x 6,72 + 17,734 t = 291,612 t Ph = Rm + Gh + Ta + Gg = 3,154 t + 37,651 t + 52,984 t + 7,352 t = 101,141 t

Maka faktor keamanan terhadap geser adalah : Fk = =


Fr >1,5 Ph

291,612t > 1,5 101,141t

= 2,883 > 1,5.(Aman)

4.4.5. Tegangan Kontak Pada Pondasi Sumuran Tegangan kontak terjadi didasar sumuran, tegangan kotak dapat dihitung dengan data data sepagai berikut : Pa As Mx ex Maka : = 804,322 t = 1,2 m x 1,2 m x 2 = 2,880 m2 = 181,411 tm = 181,411tm Mx = = 0,226m 804,322t P

qmaks P 6ex = x (1 q min As D =

804,322t (1 6 x0,226m 2 x 1,2m 2,880 m

= 279,278t/m2 x (1 0,678) Sehingga qmaks = 279,278 t/m2 x 1,678 = 468,628 t/m2 Maka untuk 2 buah sumuran = x 468,628 t/m2 /2 = 234,314 t/m2 Qmaks Dan qmin = 279,278 t/m2 x 0,322 = 89,928 t/m2 Maka untuk 2 buah sumuran : = x 89,928 t/m2 /2 = 44,964 t/m2 = 4,496 kg/cm2> aman. 0 Dari perhitungan diatas diperoleh tegangan kontak yang sejenis sehingga pondasi < qa 279,278 t/m2 234,314 t/m2 <

4.5.

Penurunan
g =L Es P =L As

Stabilitas konstruksi terhadap penurunan dapat dihitung dengan persamaan.


h
q

Diketahui data sebagai berikut : P gc D Es


g

= x 8,68 t/m2 = 4,34 ton = 150 kg/cm2 = 3,5 m = 6 x 1500 t/m2 = =


p 1 / 4 xxD 2 4,34 1 / 4 x3,14 x (3,5) 2

= 0,451 t/m2
g =L Es 0,451 = 3,5 9000

= 0,000175 < 2 ( 5,08 cm ) = 7,8 x 10 -3 < 2 ( 5,08 cm ) Diketahui data-data sebagai berikut : P =xR = x 488,705 t = 244,353 t S Es = 1,2 m = 120 cm = 2 x qc = 2 x 196 kg/cm2 = 392 kg/cm2
q

244,353 t = 84,845 t/m 2,880 m2

= 8,485 kg/cm2

Maka H

8,485kg / cm 2 = 150 cm x 2 392kg / cm


= 3,247 cm < 2 inchi (5,08 cm)..( Aman )

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan pada bab III maka diambil beberapa kesimpulan antara lain : 4.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari hasil perhitungan perencanaan Pondasi Sumuran tersebut antara lain adalah : 1. Sumuran yang direncanakan dengan mutu beton fc = 22,5 Mpa dan mutu baja fy = 240 Mpa. 2. Berat untuk perencanaaan dipakai kombinasi VI sebesar 557,439 t ton 3. Kestabilan konstruksi terhadap pergulingan, pergeseran, tegangan kontak dan penurunan. 4. Tulangan dengan arah vertikal 10 10 dan tulangan melingkar 10 mm. 4.2 Saran-saran Sebaiknya dalam perencanaan pondasi sumuran hendaknya diperoleh data yang lengkap dan akurat, sehingga mempermudah bagi perencana dalam perhitungan.