Anda di halaman 1dari 5

Izharul Fanany Herbert Blumer merupakan salah satu orang yang

mendefinisikan teori symbolic interactionism. Blumer mengutarakan tentang tiga prinsip utama interaksionisme simbolik, yaitu tentang pemaknaan (meaning), bahasa (language), dan pikiran (thought). Premis ini nantinya mengantarkan kepada konsep diri seseorang dan sosialisasinya kepada komunitas yang lebih besar, masyarakat. Blumer mengajukan premis pertama, bahwa human act toward people or things on the basis of the meanings they assign to those people or things. Maksudnya, manusia bertindak atau bersikap terhadap manusia yang lainnya pada dasarnya dilandasi atas pemaknaan yang mereka kenakan kepada pihak lain tersebut. Premis kedua Blumer adalah meaning arises out of the social interaction that people have with each other. Pemaknaan muncul dari interaksi sosial yang dipertukarkan di antara mereka. Makna bukan muncul atau melekat pada sesuatu atau suatu objek secara alamiah. Makna tidak bisa muncul dari sananya. Makna berasal dari hasil proses negosiasi melalui penggunaan bahasa (language)dalam perspektif interaksionisme simbolik. Di sini, Blumer menegaskan tentang pentingnya penamaan dalam proses pemaknaan. Premis ketiga Blumer adalah an individuals interpretation of symbols is modified by his or her own thought process. Interaksionisme simbolik menggambarkan proses berpikir sebagai perbincangan dengan diri sendiri. Proses berpikir ini sendiri bersifat refleksif. Nah, masalahnya menurut Mead adalah sebelum manusia bisa berpikir, kita butuh bahasa. Kita perlu untuk dapat berkomunikasi secara simbolik. Bahasa pada dasarnya ibarat software yang dapat menggerakkan pikiran kita. Cara bagaimana manusia berpikir banyak ditentukan oleh praktek bahasa. Bahasa sebenarnya bukan sekedar dilihat sebagai alat pertukaran pesan semata, tapi interaksionisme simbolik melihat posisi bahasa lebih sebagai seperangkat ide yang dipertukarkan kepada pihak lain secara simbolik. Komunikasi secara simbolik. 1

Izharul Fanany Herbert Blumer sebagai salah seorang tokoh interaksionisme simbolik menyatakan bahwa organisasi masyarakat manusia merupakan kerangka di mana terdapat tindakan sosial yang bukan ditentukan oleh kelakuan individunya. Menurut blumer istilah interaksionisme simbolik ini menunjuk kepada sifat khas dari interaksi antar manusia. Kekhasannya adalah manusia saling menerjemahkan dan saling mendefinisikan tindakannya. Bukan hanya reaksi belaka dari tindakan orang lain, tapi didasarkan atas makna yang diberikan terhadap tindakan orang lain. Interaksi antar individu, diantarai oleh penggunaan simbol-simbol, interpretasi atau dengan saling berusaha untuk saling memahami maksud dari tindakan masing-masing. Pada teori ini dijelaskan bahwa tindakan manusia tidak disebabkan oleh kekuatan luar (sebagaimana yang dimaksudkan kaum fungsionalis struktural), tidak pula disebabkan oleh kekuatan dalam (sebagaimana yang dimaksud oleh kaum reduksionis psikologis) tetapi didasarkan pada pemaknaan atas sesuatu yang dihadapinya lewat proses yang oleh Blumer disebut self-indication. Menurut Blumer proses self-indication adalah proses komunikasi pada diri individu yang dimulai dari mengetahui sesuatu, menilainya, memberinya makna, dan memutuskan untuk bertindak berdasarkan makna tersebut. Lebih jauh Blumer menyatakan bahwa interaksi

manusia dijembatani oleh penggunaan simbol-simbol, oleh penafsiran, dan oleh kepastian makna dari tindakan orang lain, bukan hanya sekedar saling bereaksi sebagaimana model stimulus-respons. Interaksionisme simbolis cenderung sependapat dengan perihal kausal proses interaksi social. Dalam artian, makna tersebut tidak tumbuh dengan sendirinya namun mucul berkat proses dan kesadaran manusia. Kecenderungan interaksionime simbolis ini muncul dari gagasan dasar dari Mead yang mengatakan bahwa interaksionis symbol memusatkan perhatian pada tindakan dan interaksi manusia, bukan pada proses mental yang terisolasi. Jadi sebuah symbol tidak dibentuk melalui paksaan mental merupakan timbul berkat ekspresionis dan kapasitas berpikir manusia. Pada tahapan selanjutnya, pokok perhatian interaksionisme 2

Izharul Fanany simbolis mengacu pada dampak makna dan symbol terhadap tindakan dan interaksi manusia. Dalam tahapan ini Mead memberikan gagasan mengenai perilaku tertutup dan perilaku terbuka. Perilaku tertutup adalah proses berpikir yang melibatkan makna dan symbol. Perilaku terbuka adalah perilaku actual yang dilakukan oleh actor. Di lain sisi, seorang actor juga akan

memikirkan bagaimana dampak yang akan terjadi sesuai dengan tindakan. Tindakan yang dihasilkan dari pemaknaan symbol dan makna yang merupakan karakteristik khusus dalam tindakan social itu sendiri dan proses sosialisasi. Dalam interaksionisme simbolis, seseorang memberikan informasi hasil dari pemaknaan symbol dari perspektifnya kepada orang lain. Dan orang-orang penerima informasi tersebut akan memiliki perspektif lain dalam memaknai informasi yang disampaikan actor pertama. Dengan kata lain actor akan terlibat dalam proses saling mempengaruhi sebuah tindakan social. Untuk dapat melihat adanya interaksi sosial yaitu dengan melihat individu berkomunikasi dengan komunitasnya dan akan mengeluarkan bahasa-bahasa , kebiasaan atau simbol-simbol baru yang menjadi objek penelitian para peneliti budaya . Interaksi tersebut dapat terlihat dari bagaimana komunitasnya, karena dalam suatu komunitas terdapat suatu pembaharuan sikap yang menjadi suatu trend yang akan dipertahankan , dihilangkan , atau dipebaharui maknanya iak itu terus melekat pada suatu komunitas, interaksi simbolik juga dapat menjadi suatu alat penafsiran untuk

menginterpretaskan suatu masalah atau kejadian. Melalui premis dan proposisi dasar yang ada, muncul tujuh prinsip interaksionisme simbolik, yaitu: (1) Simbol dan interaksi menyatu. Karena itu, tidak cukup seorang peneliti hanya merekam fakta, melainkan harus sampai pada konteks (2) Karena simbol juga bersifat personal, diperlukan pemahaman tentang jati diri pribadi subyek penelitian 3

Izharul Fanany (3) Peneliti sekaligus mengkaitkan antara simbol pribadi dengan komunitas budaya yang mengitarinya (4) (5) (6) (7) Perlu direkam situasi yang melukiskan simbol Metode perlu merefleksikan bentuk perilaku dan prosesnya Perlu menangkap makna di balik fenomena Ketika memasuki lapangan, sekedar mengarahkan pemikiran subyek, akan lebih baik.

Tujuh asumsi karya Herbert Blumer Manusia bertindak terhadap orang lain berdasarkan makna yang diberikan orang lain pada mereka, Makna diciptakan dalam interaksi antar manusia, Makna dimodifikasi melalui sebuah proses interpretif, Individu-individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan orang lain, Konsep diri memberikan sebuah motif penting untuk berperilaku, Orang dan kelompok-kelompok dipengaruhi oleh proses budaya dan sosial, Struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosial.

Blumer sendiri juga terpengaruh oleh pemikiran Herbert Mead tentang interaksionisme simbolik. Karya Blumer yang terkenal dalam perspektif teori ini adalah kumpulan esainya yang berjudul Symbolic Interactionism: Perspective and Method. Tiga prinsip utama interaksionisme simbolik menurut Blumer adalah: 1. Manusia bertindak melalui hal-hal pada makna yang ada di dalamnya. 2. Makna-makna tersebut muncul dari interaksi sosial. 3. Tindakan sosial merupakan hasil dari tindakan-tindakan individu.

Izharul Fanany Teori interaksionisme simbolik beranggapan bahwa masyarakat (manusia) adalah produk sosial. Teori ini mempunyai metodologi yang khusus, karena interaksionisme simbolik melihat makna sebagai bagian fundamental dalam interaksi masyarakat. Dalam penelitian mengenai interaksi dalam masyarakat tersebut, teori interaksionisme simbolik cenderung menggunakan metode kualitatif dibanding metode kuantitatif. Blumer memulai pemikirannya tentang teori ini dengan tiga dasar pemikiran sebagai berikut: Manusia berprilaku terhadap hal-hal berdasarkan makna yang dimiliki hal-hal tersebut baginya. Makna hal-hal tersebut berasal dari atau muncul dari interaksi sosial yang pernah dilakukan dengan orang lain. Makna-makna itu dikelola dalam dan diubah melalui proses penafsiran yang dipergunakan oleh oarng yang berikatan dengan hal-hal yang dijumpai.

Menurut Blumer konsepsi diri berkembang melalui interaksi simbolik melalui apa yang disebut looking-glass-self, yakni gambaran mental tentang self yang dihasilkan dari mengambil peran bagi orang lain. Tanpa bahasa kita tidak dapat mengembangkan konsep diri. Blumer mengatakan bahwa dalam proses sosial yang berlaku bukanlah you become whatever you tell yourself your are tetapi you become whatever those around you tell you your are. Yang berlaku bukan Anda menjadi apapun apa yang Anda katakan tentang diri Anda, tapi Anda menjadi apapun yang orang lain di sekitar Anda katakan mengenai siapa Anda.